Anda di halaman 1dari 102

KALAMSIASI

Jurmal Ilmu Komunikasi dan Ilmu Administrasi Negara


Vol. 4 No.1 Maret 2011

PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL SUAMI-ISTRI TERHADAP MOTIVASI PETANI DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PADI SISTEM JAJAR LEGOWO (KASUS DI DESA JAGUL KECAMATAN NGANCAR KABUPATEN KEDIRI) Lina Arisanti & Sunarru Samsi Hariadi ................................................... LIPUTAN PEMBERITAAN SURAT KABAR HARIAN RIAU POS TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN MURAH BERKUALITAS DAN GANTI RUGI LAHAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU Dewi Sukartik & Ageng Setiawan Herianto ............................................ 15-30 PENERAPAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN UNTUK MEMBANGKITKAN PARTISIPASI MASYARAKAT Dedy Irwandi ................................................................................................ 31-39 EKONOMI POLITIK PENDIRIAN MEDIA PENYIARAN TV LOKAL DI JAWA TIMUR Surokim ........................................................................................................ 41-49 ISLAM IDEOLOGI DAN TERBANGUNNYA PARTAI POLITIK ISLAM (STUDI PADA PARTAI KEADILAN SEJAHTERA) Lusi Andriyani .............................................................................................. 51-62 KEPEMIMPINAN STRATEGIS PADA PELAYANAN PUBLIK BUILDING THE TRUST Isnaini Rodiyah ........................................................................................... 63-78 REVITALISASI (ILMU) KOMUNIKASI Muhtar Wahyudi ........................................................................................... 79-86 MEMPEREBUTKAN LOYALITAS PELANGGAN Didik Hariyanto ........................................................................................... 87-97 1-14

ii

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb. Alhamdulillah puji syukur kehadirat Alloh SWT atas terbitnya jurnal KALAMSIASI, volume 4 nomor 1, Maret 2011 ini. Semoga apa yang tersaji dalam edisi ini dapat menambah wawasan pengetahuan dalam kerangka mengasah dan meningkatkan kualitas keilmuan kita. Dalam edisi ini, Jurnal KALAMSIASI menyajikan beragam topik yang menyangkut perkembangan ilmu-ilmu sosial humaniora, khususnya bidang kajian Ilmu Komunikasi, Ilmu Administrasi Publik dan kajian ilmu-ilmu sosial politik lainnya yang sejalan dengan jurnal KALAMSIASI. Dalam bidang kajian Ilmu Komunikasi Lina Arisanti & Sunarru Samsi Hariadi, mengetengahkan masalah Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri terhadap Motivasi Petani dalam Penerapan Teknologi Padi Sistem Jajar Legowo (Kasus di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri). Sementara itu, Dewi Sukartik & Ageng Setiawan Herianto, menyoroti Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos tentang Program Pendidikan Murah Berkualitas dan Ganti Rugi Lahan Pemerintah Kota Pekanbaru. Sedangkan Dedy Irwandi, meneliti tentang Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan Partisipasi Masyarakat. Dan Muhtar Wahyudi, memperkaya wacana Ilmu Komunikasi dengan menyajikan artikel tentang Revitalisasi (Ilmu) Komunikasi Dalam Kajian Ilmu Politik, ada Surokim, yang membahas Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur. Sedangkan Lusi Andriyani, menyajikan laporan hasil penelitian tentang Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam (Studi pada Partai Keadilan Sejahtera). Dalam konteks Ilmu Aministrasi Publik, Isnaini Rodiyah, memaparkan tentang Kepemimpinan Strategis pada Pelayanan Publik Building the Trust. Sedangkan Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan Akhir kata, saran dan kritik selalu kami nantikan untuk kebaikan jurnal yang kita cintai ini dimasamasa yang akan dating. Selamat Membaca..

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Penyunting

PENGARUH KOMUNIKASI INTERPERSONAL SUAMI - ISTRI TERHADAP MOTIVASI PETANI DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PADI SISTEM JAJAR LEGOWO (Kasus di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri)
Lina Arisanti* Sunarru Samsi Hariadi**
(*Lulusan Program Studi Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, **Guru Besar Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Pertanian Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, alamat: Jalan Teknika Utara Pogung Sleman, Yogjakarta)

ABSTRACT
The research aimed (1) to know the effect of farmer activeness in attending agricultuture extension and spouse attitude on farmer pair-spouse interpersonal communication, (2) to know the effect of farmer activeness in attending agricultuture extension, spouse attitude and spouse interpersonal communication on farmer motivation to apply technology of jajar legowo paddy system, and (3) to know the effect of farmer motivation on applying technology of Jajar Legowo paddy cultivation system. The research employ analytical descriptive method with quantitative approach. Data collected from 50 household applying paddy cultivation technology of jajar legowo system in Jagur village, Ngancar District, Kediri Regency. Multiple regression were performed formerly for testing hypothesis, unfortunately the data were not distributed normally. Finaly, non-parametric statistics Rank-Spearman Test were performed for testing hypothesis (a = 5%). The research showed that farmer activeness, and husband-wife attitude affected on farmer-spouse interpersonal communication with 0.004 and 0.01 level of significance respectively. Concerning farmer motivation to apply Jajar Legowo technology; husband-attitude, wife-attitude and farmer pair-spouse interpersonal communication affected on it to apply such technology with 0.02, 0.04 and 0.006 level of significance respectively. Conversely, the farmer activeness does not affect on farmer motivation to apply it. Furthermore, the research showed that farmer motivation did not affect on application of Jajar Legowo technology (significant level = 0.75). Keywords: interpersonal communication, farmer motivation, application of Jajar Legowo technology.
1

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

PENDAHULUAN
Pembangunan pertanian merupakan bagian penting dari pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Keberhasilan pembangunan pertanian tanaman pangan berkaitan erat dengan peran sumber daya manusia, tingkat pengetahuan dan perubahan perilaku manusia sebagai pelaku pembangunan sangat diperlukan sebagai sarana untuk dapat menerapkan teknologi yang ada. Peningkatan produksi pangan tetap menjadi prioritas dalam pembangunan pertanian, hal ini bertujuan untuk mengimbangi pertambahan penduduk yang terus meningkat. Untuk mengimbangi dan mengatasi kebutuhan pangan yang terus meningkat ini, kita harus meningkatkan dan melipatgandakan produksi bahan pangan padi. Salah satu usaha yang dilakukan adalah melalui pemberian inovasi kepada petani yaitu teknologi padi system jajar legowo melalui kegiatan penyuluhan yang dilakukan di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri Budidaya tanaman padi sistem jajar legowo merupakan rekayasa teknik tanaman padi dengan mengatur jarak tanam antara rumpun dan antar barisan, sehingga terjadi pemadatan rumpun padi di dalam barisan dan melebar jarak antar barisan tanaman. Melalui sistem ini, populasi tanaman menjadi bertambah karena adanya tambahan rumpun padi. Teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo diperkenalkan ke petani melalui

kegiatan penyuluhan yang berlangsung dalam bentuk kegiatan sosialisasi dan pertemuan rutin dengan petani. Arus informasi dalam proses penyebaran inovasi kepada petani telah menjadi kebutuhan mendasar dan sebagai syarat terjadinya perubahan baik itu pengetahuan, sikap, perilaku dan keterampilan. Perubahan tersebut akan mendorong atau memberi motivasi terjadinya penerapan teknologi usahatani padi yang diberikan. Salah satu cara petani untuk mendapatkan informasi adalah dengan melalui komunikasi interpersonal, disamping dapat melalui komunikasi massa. Komunikasi interpersonal itu mempunyai keunikan karena selalu dimulai dari proses hubungan yang bersifat psikologis, dan proses psikologis selalu mengakibatkan keterpengaruhan. Jenis komunikasi ini dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku manusia berhubung prosesnya yang dialogis. Komunikasi interpersonal yang dilakukan petani dapat terjadi dalam lingkup keluarga terutama dengan seorang istri yang secara psikologis mempunyai hubungan kedekatan emosional dibanding dengan anggota keluarga yang lain, seperti orang tua, saudara, dan anak. Komunikasi interpersonal berperan dalam mendapatkan informasi pertanian mengenai inovasi/ teknologi baru, pengetahuan, harga pasar dan pengembangan modal yang diperlukan bagi usahatani untuk kelangsungan hidup keluarganya serta peningkatan produksi budidaya padi.

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

Masyarakat petani di pedesaan lebih cenderung memanfaatkan komunikasi interpersonal dalam memperoleh informasi yang diinginkan, karena lebih mudah dan lebih cepat untuk memperoleh tanggapan balik dan sekaligus bisa memberikan penilaian secara langsung terhadap berbagai kesulitan yang dihadapi oleh petani. Komunikasi interpersonal dalam lingkup keluarga saat ini memang sangat perlu untuk diperhatikan. Bagi petani komunikasi interpersonal terutama melalui interaksi dengan anggota keluarga merupakan cara yang dapat diandalkan selain untuk mendapatkan informasi mengenai inovasi yang diberikan, juga dapat meningkatkan keyakinan atau motivasi dalam diri petani untuk menerapkan inovasi tersebut. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti mengenai pengaruh komunikasi interpersonal antara suami dan istri terhadap motivasi petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur.

KERANGKA TEORETIS 1. Teori Sistem Arus Informasi


Lionberger dan Gwin (1982), menyatakan bahwa untuk memahami bagaimana arus informasi diorganisasikan dalam pemberian suatu inovasi melalui kegiatan penyuluhan salah satunya melalui fungsi-fungsi yang harus ditampilkan sebagai berikut: 1). Inovasi; 2). Validasi; 3). Diseminasi; 4) pengukuhan informasi dan persuasi; 5) integrasi; 6 ) penguatan; 7) penguasaan. Kaitannya teori di atas dengan penelitian ini adalah bahwa proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri dapat terjadi pada tahap persuasi. Dimana pada tahap tersebut seorang petani akan membentuk sikap berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi. Pada tahap persuasi seorang petani lebih terlibat secara psikologis dengan inovasi. Ia akan giat mencari keterangan mengenai ide baru tersebut. Karena itu ia perlu memperkuat sikap terhadap ide baru tersebut dengan melalui komunikasi interpersonal dengan keluarganya yaitu dalam hal ini adalah seorang istri dimana kedudukannya sudah dianggap sama atau homofili (kesetaraan) tidak ditinggikan dan tidak direndahkan karena sudah dianggap mitra. Sehingga akan mempertinggi tingkat kepercayaannya dan termotivasi dalam memutuskan suatu inovasi yang diberikan.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian tersebut, rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh komunikasi interpersonal antara suami dan istri terhadap motivasi petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri?

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

2. Teori Komunikasi Interpersonal


Teori komunikasi interpersonal dalam peneletian ini digunakan model komunikasi dari Wilbur Schramm dan Osgood. Dimana dalam teori ini menjelaskan bahwa ketika komunikan memberikan umpan balik maka ia akan berada pada posisi komunikator (source). Setiap individu dilihat sebagai sumber sekaligus penerima pesan dan komunikasi dilihat sebagai suatu proses sirkular. Dalam penyampaian inovasi mengenai teknologi jajar legowo melalui komunikasi interpersonal antara suami dan istri berada pada posisi komunikator dan komunikan secara bergantian. Dengan demikian pesan dapat tersampaikan secara efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan).

penelitian ini adalah bahwa dalam proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri, sikap seorang istri terhadap teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo dapat mempengaruhi motivasi suami untuk menerapkan teknologi tersebut. Kemudian sikap istri selanjutnya dapat menjadi acuan pengambilan keputusan seorang suami apakah akan menerapkan atau tidak terhadap teknologi tersebut, dan kontrol tingkah laku atau kemampuan yang dimiliki seorang suami apakah benar-benar dapat menerapkan teknologi tersebut atau tidak.

4. Teori Motivasi
Teori motivasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori motivasi proses yaitu teori pengharapan (Expentancy Theory). Teori motivasi pengharapan dapat dilihat dari tiga faktor situasi yaitu;(1) harapan yang menyangkut keyakinan petani untuk dapat menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo; (2) valensi yang menyangkut halhal yang disukai atau tidak disukai setelah petani menerapkan teknologi tersebut dan (3) instrumentalitas yang merupakan persepsi petani terhadap keyakinan petani dalam menerapkan teknologi yang dihubungkan dengan hal-hal yang disukai atau tidak disukai petani setelah menerapkan teknologi tersebut.

3. Teori sikap
Dalam penelitian ini digunakan teori tingkah laku terencana (Theory Of Planned Behavior). Karena, dalam teori ini lebih representatif dan merupakan perkembangan dari teori tindakan yang beralasan, dimana dalam teori tingkah laku terencana terdapat tiga faktor yaitu sikap terhadap tingkah laku, norma subjektif dan kontrol tingkah laku dalam mempengaruhi tindakan seseorang. Kaitannya dengan

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

Kegiatan penyuluhan teknologi budidaya padi sistem jajar legowo

Keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan

Sikap suami dan istri terhadap teknologi budidaya padi sistem jajar legowo

Komunikasi interpersonal antara suami dan istri

Motivasi petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo Penerapan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran

Proses penyampaian inovasi kepada petani dalam kegiatan penyuluhan berlangsung melalui kegiatan sosialisasi dan pertemuan yang rutin. Tidak sedikit ide-ide yang disebarkan itu gagal dan kandas di tengah jalan. Inovasi tidak berhasil disebarkan, ditolak atau diterima tetapi salah penggunaan. Selain itu kegagalan dalam penyampaian inovasi dikarenakan adanya faktor pengetahuan yang dimiliki petani hanya terbatas pada apa yang dapat mereka rasakan secara langsung, biasanya melalui pengamatan dan apa yang bisa mereka pahami dengan konsep mereka sendiri. Salah satu cara petani untuk mendapatkan informasi adalah dengan melalui komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal dapat terjadi dalam lingkup keluarga, salah satunya yaitu dengan seorang istri. Secara psikologis, istri mempunyai hubungan

emosional yang cukup dekat dibanding anggota keluarga lain serta memiliki peranan yang kuat untuk dapat memberi pengaruh kepada suami sehingga akan termotivasi untuk menerapkan inovasi yang diberikan atau bahkan menolak Penerapan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo. Keaktifan petani dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo Keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan Sikap suami dan istri terhadap teknologi budidaya padi sistem jajar legowo Komunikasi interpersonal antara suami dan istri Kegiatan penyuluhan teknologi budidaya padi sistem jajar legowo inovasi tersebut. Sikap seorang istri akan cenderung diterima oleh suami. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi motivasi seorang suami untuk dapat memutuskan dalam menerapkan teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo.

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

HIPOTESIS
1. Diduga keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri. semakin tinggi keaktifan petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan). 2. Diduga sikap suami dan sikap istri mempengaruhi komunikasi interpersonal. 1). Semakin positif sikap suami terhadap teknologi padi sistem jajar legowo maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan). 2). Semakin positif sikap istri terhadap teknologi padi sistem jajar legowo maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan). 3. Diduga keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo. Semakin tinggi keaktifan petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, maka motivasi petani dalam menerapkan

teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi. 4. Diduga sikap suami dan sikap istri mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo. 1). Semakin positif sikap suami terhadap teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi. 2). Semakin positif sikap istri terhadap teknologi budidaya tanaman padi sistem jajar legowo maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi. 5. Diduga komunikasi interpersonal antara suami dan istri mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo. Semakin efektif komunikasi interpersonal (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan) maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi. 6. Diduga motivasi petani mempengaruhi penerapan teknologi padi system jajar legowo. Semakin tinggi motivasi petani maka penerapan teknologi padi system jajar legowo semakin tinggi.

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

METODE PENELITIAN
Penelitian deskripsi kuantitatif ini mengambil lokasi di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri. Sampel penelitian ini sebanyak 50 pasangan suami istri yang mengaplikasikan teknologi budidaya tanaman padi sistem Jajar Legowo. Data diperoleh melalui wawancara dan penyebaran angket kepada responden. Setelah terkumpul dan diolah, data dianalisis dengan statistik non-parametrik yaitu uji Rank Spearman. Syarat-syarat uji rank spearman adalah data tidak berdistribusi normal dan jenis data ordinal atau nominal.

dalam penelitian ini yang berbunyi semakin tinggi keaktifan petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan, maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan) diterima. Selanjutnya berdasarkan teori Rogers Shoemaker, 1971 bahwa keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan mempengaruhi proses komunikasi. 2. Pengaruh Sikap Suami dan Sikap Istri terhadap Komunikasi Interpersonal Antara Suami dan Istri 1). Pengaruh Sikap suami terhadap komunikasi interpersonal antara suami dan istri. Taraf signifikasi 0,01< taraf signifikasi () 0,05, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sikap suami dengan komunikasi interpersonal, yaitu semakin tinggi sikap suami, maka komunikasi interpersonal semakin tinggi. Dengan demikian semakin tinggi sikap suami terhadap teknologi jajar legowo mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin positif sikap suami terhadap teknologi padi sistem jajar legowo maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN


1. Pengaruh Keaktifan Petani Mengikuti Kegiatan Penyuluhan terhadap Komunikasi Interpersonal Antara Suami Dan Istri Tingkat signifikasi yang diperoleh sebesar 0,004 < tingkat signifikasi () 0,05% berarti antara variabel keaktifan petani dengan variabel komunikasi interpersonal mempunyai hubungan yang signifikan, yaitu semakin tinggi keaktifan petani maka komunikasi interpersonal semakin tinggi. Dengan demikian semakin tinggi keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

tersampaikan secara keseluruhan) diterima. 2). Pe n g a r u h s i k a p i s t r i t e r h a d a p komunikasi interpersonal antara suami dan istri Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,001< taraf signifikasi () 0,05, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sikap istri dengan variabel komunikasi interpersonal, yaitu semakin tinggi sikap istri, maka komunikasi interpersonal semakin tinggi. Dengan demikian semakin tinggi sikap istri terhadap teknologi jajar legowo mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin positif sikap istri terhadap teknologi padi sistem jajar legowo, maka proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri semakin efektif (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan) diterima. Berdasarkan teori sikap dari Fishben Dan Azjen dikatakan bahwa sikap mempengaruhi tingkah laku yaitu komunikasi interpersonal. 3. Pe n g a r u h Ke a k t i f a n Pe t a n i Mengikuti Kegiatan Penyuluhan Terhadap Motivasi Petani Dalam Menerapkan Teknologi Jajar Legowo Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,143 > taraf signifikasi () 0,05 berarti

tidak ada hubungan yang signifikan antara variabel keaktifan petani dengan variabel motivasi petani. Dengan demikian semakin tinggi keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan tidak mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin tinggi keaktifan petani dalam mengikuti kegiatan penyuluhan maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo ditolak. 4. Pengaruh Sikap Suami Dan Sikap Istri Terhadap Motivasi Petani Dalam Menerapkan Teknologi Jajar Legowo 1). Pengaruh Sikap suami terhadap motivasi petani dalam menerapkan teknologi jajar legowo Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,027< taraf signifikasi () 0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sikap suami dengan variabel motivasi petani, yaitu semakin tinggi sikap suami, maka motivasi petani semakin tinggi. Dengan demikian semakin tinggi sikap suami terhadap teknologi jajar legowo mempengaruhi motivasi petani dalam penerapan teknologi padi sistem jajar legowo menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin positif sikap suami terhadap teknologi

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

padi sistem jajar legowo maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi diterima. 2). Pengaruh Sikap istri terhadap motivasi petani dalam menerapkan teknologi jajar legowo Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,046 < taraf signifikasi () 0,05 berarti, terdapat hubungan yang signifikan antara variabel sikap istri dengan variabel motivasi petani, yaitu semakin tinggi sikap istri, maka motivasi petani semakin tinggi. Dengan demikian semakin tinggi sikap istri terhadap teknologi jajar legowo mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin positif sikap istri terhadap teknologi padi sistem jajar legowo, maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo diterima. Berdasarkan teori dari Fishben dan Azjen (dalam Azwar, 1995) bahwa, s i k ap mempengaruhi motivasi untuk menimbulkan kekaguman atau motivasi impresi (impression motivation function). Sikap berfungsi sebagai motivasi untuk menimbulkan kesan pada orang lain.

5. Pengaruh Komunikasi Interpersonal Antara Suami dan Istri terhadap Motivasi Petani Dalam Menerapkan Teknologi Jajar Legowo Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,006 < taraf signifikasi () 0,05, berarti terdapat hubungan yang signifikan antara variabel komunikasi interpersonal dengan variabel motivasi petani yaitu semakin efektif komunikasi interpersonal, maka motivasi petani semakin tinggi. Dengan demikian semakin efektif komunikasi interpersonal antara suami dan istri mempengaruhi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo menjadi semakin tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin efektif komunikasi interpersonal (komunikasi berjalan dengan baik dan pesan tersampaikan secara keseluruhan) maka motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi diterima. Berdasarkan teori dari Effendi dalam Liliweri, 1996, mengatakan bahwa komunikasi interpersonal dapat mempengaruhi motivasi.

10

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

6. Pengaruh Motivasi Petani Dalam Menerapkan Teknologi Jajar Legowo Terhadap Penerapan Teknologi Jajar Legowo Taraf signifikasi yang diperoleh sebesar 0,757 > taraf signifikasi () 0,05 berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variabel motivasi petani dengan variabel penerapan teknologi jajar legowo. Dengan demikian semakin tinggi motivasi petani dalam menerapkan teknologi padi sistem jajar legowo tidak mempengaruhi penerapan teknologi padi sistem jajar legowo. Berdasarkan hasil penelitian, hipotesis dalam penelitian ini yang berbunyi semakin tinggi motivasi petani maka penerapan teknologi padi sistem jajar legowo semakin tinggi ditolak. Menurut teori pengharapan bahwa motivasi mempengaruhi usaha seseorang. Petani akan termotivasi menerapkan teknologi jajar legowo, apabila hal tersebut sesuai dengan harapan atau motivasi mereka. Motivasi petani di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri masih tergolong sedang. Hal ini berarti bahwa motivasi petani di dalam penerapan teknologi jajar legowo masih mengikuti atau sekedar ikut-ikutan dengan anggota petani lain yang sudah dianggap berhasil dalam usaha taninya.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN s. Simpulan


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Keaktifan petani di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri dalam mengikuti kegiatan penyuluhan mengenai teknologi jajar legowo mempengaruhi terjadinya komunikasi interpersonal antara suami dan istri. Semakin aktif petani mengikuti kegiatan penyuluhan maka semakin banyak informasi yang diperoleh suami disampaikan kepada istri melalui komunikasi interpersonal. Dalam proses penerimaan suatu inovasi seorang istri dijadikan teman konsultasi yang efektif berhubung kedekatannya secara psikologis. 2. Sikap suami dan sikap istri Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri mempengaruhi komunikasi interpersonal antara suami dan istri mengenai teknologi jajar legowo. Sikap merupakan poin penting dalam komunikasi interpersonal. Sikap positif dari kedua belah pihak dalam komunikasi interpersonal ditunjukkan dalam bentuk sikap yang memberi inisiatif, merespon dengan baik dan memberi informasi yang mendukung teknologi jajar legowo yang diberikan. Semakin positif sikap suami dan istri

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

11

tersebut maka proses komunikasi interpersonal mengenai teknologi jajar legowo akan berjalan lebih efektif dan pesan dapat tersampaikan secara keseluruhan. 3. Keaktifan petani mengikuti kegiatan penyuluhan mengenai teknologi jajar legowo di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri tidak mempengaruhi motivasi petani dalam penerapan teknologi jajar legowo. Mereka lebih cenderung akan melihat hasil dari kegiatan penyuluhan tersebut melalui anggota petani lainnya yang sudah dianggap berhasil dalam setiap kegiatan usahataninya. Kegiatan penyuluhan sendiri pada umumnya bertujuan menyampaikan teknologi dan memberikan soluasi atas permasalahan yang dihadapi petani dalam kegiatan usahataninya. Mereka termasuk dalam golongan penerima mayoritas lambat (late majority) yaitu mereka yang mau menerima ide-ide baru setelah rata-rata anggota petani lainnya menerima dan menerapkan lebih awal. Dengan kata lain, petani akan mengikuti kegiatan penyuluhan jika sudah mengetahui manfaat dari kegiatan tersebut melalui keikutsertaan orang lain. 4. Sikap suami dan sikap istri di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri terhadap teknologi jajar legowo mempengaruhi motivasi petani. Sikap tersebut mempunyai arti bahwa

sikap suami dan sikap istri sudah mulai baik terhadap teknologi yang dianjurkan. Mereka sudah mampu memutuskan untuk mendukung atau tidak mendukung teknologi tersebut. Selanjutnya mereka sudah memiliki kebulatan sikap untuk menerima atau menolak teknologi yang akan diterapkan. Kebulatan sikap tersebut akan meningkatkan keyakinan atau motivasi yang tinggi bagi mereka untuk bisa menerapkan teknologi jajar legowo. 5. Komunikasi interpersonal antara suami dan istri mengenai teknologi padi sisitem jajar legowo di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri mempengaruhi motivasi petani dalam penerapan teknologi jajar legowo. Komunikasi interpersonal merupakan saluran komunikasi yang efektif dalam merubah pendapat, sikap dan perilaku antara suami dan istri. Perubahan perilaku tersebut didorong oleh motivasi yang ada dalam diri mereka untuk melakukan sesuatu sesuai dengan harapan mereka yaitu menerapkan teknologi jajar legowo. 6. Motivasi petani di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri tidak mempengaruhi penerapan teknologi padi sistem jajar legowo. Hal tersebut mengacu pada nilainilai subkultur dari diri petani dalam menerima teknologi yang dianjurkan. Mereka termasuk dalam golongan

12

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

pengikut akhir (Late Majority) yaitu mereka akan mengadopsi ide baru setelah rata-rata anggota sistem sosial menerima. Petani akan melihat dulu anggota petani lainnya yang sudah berhasil menerapkan teknologi jajar legowo, baru kemudian mereka mau untuk menerapkan teknologi tersebut. Dengan kata lain, petani akan termotivasi mengadopsi inovasi yang diberikan apabila hal itu sesuai dengan harapan mereka.

menambah pengetahuan dan pengalaman mereka, sehingga penyuluh mampu menyampaikan materi penyuluhan dengan baik. Peningkatan SDM penyuluh tersebut akan meningkatkan kredibilitas penyuluh di dalam kemampuannya menyebarkan inovasi. Setidaknya memberikan dampak positif kepada aspek konatif (perasaan) petani terhadap inovasi teknologi jajar legowo. 3. Kepada pemerintah melalui dinas pertanian diharapkan membuat media penyuluhan yang lebih bervariasi melalui, foto, gambar, poster, audio visual (vcd), sehingga kegiatan penyuluhan lebih interaktif dan tidak membosankan serta petani akan mengingat lebih banyak mengenai isi pesan yang disampaikan. Media penyuluhan yang ber variasi ini bertujuan agar penyampaian cara tanam teknologi jajar legowo mudah dipahami dan diterapkan oleh petani terutama dalam tahap pemilihan benih, pembibitan, persemaian, pengendalian hama penyakit dan panen. Selanjutnya, agar informasi yang diperoleh petani disampaikan kepada istri melalui proses komunikasi interpersonal dapat berjalan secara efektif. 4. Kepada Dinas Pertanian melalui PPL hendaknya selain memberikan penyuluhan kepada suami, juga

b. Implikasi Kebijakan
Berdasarkan simpulan yang telah dikemukakan, maka penulis ingin merekomedasikan atau menyarankan sebagaimana berikut: 1. Kepada pemerintah melalui dinas pertanian supaya lebih mendorong PPL untuk sering melakukan kunjungan ke petani, dorongan tersebut dapat melalui pemberian insentif bagi kinerja PPL dan tidak terlalu membebani PPL dengan berbagai aturan administrasi pemerintah, sehingga PPL mempunyai banyak waktu untuk melakukan kunjungan dan berdiskusi dengan petani. Setidaknya hal tersebut akan meningkatkan keaktifan petani untuk mengikuti kegiatan penyuluhan. 2. Kepada pemerintah melalui dinas pertanian diharapkan meningkatkan SDM penyuluhnya melalui kegiatan pelatihan, studi banding, kegiatan magang bagi penyuluh yang dapat

Lina Arisanti dan Sunarru Samsi Hariadi, Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri

13

memberikan penyuluhan kepada para istri mereka. Agar di dalam proses penerimaan inovasi dapat diterima oleh kedua belah pihak, proses komunikasi interpersonal antara suami dan istri harus dapat berjalan dengan efektif yang akhirnya dapat meningkatkan motivasi petani dalam penerapan teknologi jajar legowo. Komunikasi lebih diarahkan pada saling keterbukaan, sikap yang positif, saling memahami dan penghargaan satu sama lain.

Gibson, James L. dkk, 1997. Organizations Behavior, Structure, Processes. Chicago: Irwin, Kreitner, Robert. and Kinicki, Angelo, 2003. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat. Liliweri, A. 2004. Wacana Komunikasi Organisasi. Bandung: Mandar Maju. --------------- 1991. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: Alfabeta. Lionberger, Gwin. 1982. Communication Strategis. Missouri: Printers & Publishers. Mulyana, Deddy. 2008. Ilmu Komunikasi. Bandung: Rosdakarya. Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi B i s n i s . S u r a k a r t a : Pe n e r b i t Erlangga. Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofian. 1989. Metode Penelitian Survey. J a k a r t a : P T. P u s t a k a L P 3 R S Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Azwar, S. 1995. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Danim, Sudarwan, 2004. Motivasi kepemimpinan & Efektivitas Kelompok. Jakarta: PT. Rineka Cipta, Devito, A, Joseph.1997. Komunikasi A n t a r M a n u s i a . New York: Professional Books.

14

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 1 - 14

LIPUTAN PEMBERITAAN SURAT KABAR HARIAN RIAU POS TENTANG PROGRAM PENDIDIKAN MURAH BERKUALITAS DAN GANTI RUGI LAHAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU
Dewi Sukartik* Ageng Setiawan Herianto**
(*Lulusan Program Studi Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Jalan Teknika Utara Pogung Sleman Yogjakarta, e-mail: dewi_ suit@yahoo.com,** Staf Pengajar Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada)

ABSTRACT
Daily Newspapers Riau Pos has cooperated with the Pekanbaru government in news coverage in the form of a Memorandum of Understanding (MoU) since 2006, especially in related with the development programs, such as low education quality and redresses the impact of urban development land. The research aims to identify the changes in news coverage of Daily Newspapers Riau Pos reporting bias toward the government or the public. The media studies are conducted by using the combination method of framing the analysis with eight units of analysis. The analyzed news is fourteen news that consist of seven news before the MoU and seven news after the MoU. The results of the study show that Daily Newspapers Riau Pos does not align the news coverage about the group of low-quality education for both the government and the public after the MoU. However, the land compensation news groups as an impact of urban development defends on the government. Key words: coverage of news, daily newspaper riau pos, development program, reporting bias, the MoU framing of news and analysis

PENDAHULUAN
Surat Kabar Harian yang disingkat SKH Riau Pos merupakan media cetak lokal bahkan tertua di Riau, tentunya menjadi salah satu referensi informasi tentang program pembangunan pemerintah.
15

Peran surat kabar daerah yang bebas dan bertanggung jawab ini perlu terus diupayakan dan dikembangkan dalam bentuk interaksi positif antara surat kabar daerah, pemerintah, dan masyarakat sehingga terwujud peran serta aktif

16

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

surat kabar lokal dalam mendukung pembangunan, menyebarkan informasi yang objektif dan edukatif, melakukan kontrol sosial, menyalurkan aspirasi rakyat, memperluas komunikasi dan peran serta positif masyarakat. Dengan demikian dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara untuk hidup layak dan sejahtera. Kenyataan di lapangan dalam melaksanakan fungsi dan perannya sebagai media informasi, komunikasi, dan kontrol sosial, SKH Riau Pos dianggap belum maksimal, sebab SKH Riau Pos masih dianggap lebih banyak menyuarakan kepentingan pemerintah Kota Pekanbaru dibandingkan aspirasi/keluhan masyarakat. Misalnya pemberitaan masalah pembangunan diindikasikan bahwa nuansa berita pembangunan lebih memihak kepada Pemko serta sering menyajikan sosok pejabat dengan keberhasilankeberhasilnnya. Permasalahan yang menjadi fokus penelitian ini adalah bagaimana liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang aktivitas program pendidikan murah berkualitas bagi warga Pekanbaru dan pelaksanaan ganti rugi lahan dampak pembangunan kota. Tujuannya untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan keberpihakan liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang program pendidikan murah berkualitas bagi warga Pekanbaru dan pelaksanaan ganti rugi lahan dampak pembangunan

kota setelah adanya MoU pemberitaan kepada pemerintah Kota Pekanbaru atau kepada masyarakat.

KERANGKA TEORETIS 1. Teori Agenda Setting


Maxwell Mc Combs dan Donald L. Shaw adalah orang yang pertama kali memperkenalkan teori agenda setting. Teori ini muncul sekitar tahun 1973 dengan publikasi pertamanya berjudul The Agenda Setting Function Of The Mass Media (Nurudin, 2007). Teori agenda setting dimulai dengan suatu asumsi bahwa media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat pada gagasan atau peristiwa tertentu. Media mengatakan kepada pembaca apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun mengatur apa yang harus dilihat pembaca dan tokoh siapa yang harus didukung (Nuruddin, 2007). Artinya, media massa (SKH Riau Pos) menyaring berita yang akan disiarkannya. Secara selektif gatekeepers seperti editor atau redaktur bahkan wartawan sendiri menentukan mana yang pantas diberitakan dan mana yang harus disembunyikan. Setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar) dan cara penonjolan (ukuran judul dan letak pada suratkabar). Teori ini menggambarkan isi media berita memiliki pengaruh pada persepsi publik tentang isu-isu penting, menjelaskan

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

17

bahwa apa yang menjadi pemberitaan sebagai sampul berita di media, berita itu akan menjadi agenda publik (khalayak pembaca), dan cara perancangan atau reka bentuk pada sampul berita media tersebut telah menanamkan peranan penting pembentukan opini publik berkenaan dengan apa yang menjadi penting atau tidak penting untuk diberitakan. Teori ini juga mengemukakan bahwa pemberitaan media massa sangat berpengaruh terhadap pembentukan opini, sehingga membuat penguasa dalam suatu pemerintahan merasa perlu mengendalikan media massa, sebab di satu sisi, pemberitaan pers bisa membuat citra pemerintahan terangkat dan sebaliknya di sisi lain pemberitaan pers pun dapat pula menghancurkan citra pemerintahan. Stephen W Littlejohn (Nurudin 2007) mengatakan agenda setting beroperasi dalam tiga bagian yaitu: (1) Agenda media itu sendiri harus diformat. Proses ini akan memunculkan masalah bagaimana agenda media itu terjadi pada waktu pertama kali; (2) Agenda media dalam banyak hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau kepentingan isu tertentu bagi publik. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan, seberapa besar kekuatan media mampu mempengaruhi agenda publik dan bagaimana publik itu melakukannya; (3) Agenda publik mempengaruhi atau berinteraksi ke dalam agenda kebijakan. Agenda kebijakan adalah pembuatan kebijakan publik yang dianggap penting bagi individu. Dengan

demikian, agenda setting memprediksikan bahwa agenda media mempengaruhi agenda publik, sementara agenda publik sendiri akhirnya mempengaruhi agenda kebijakan. Untuk lebih jelas tiga agenda (agenda media, agenda khalayak, dan agenda kebijakan) dalam teori agenda setting. Ada beberapa dimensi yang berkaitan seperti yang dikemukakan Mannheim (Severin dan Tankard Jr, 1992) sebagai berikut: Pertama, agenda media terdiri dari dimensi-dimensi; visibility (visibilitas) yaitu jumlah dan tingkat menonjolan berita; audience salience (tingkat penonjolan bagi khalayak) yaitu relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak; valence (valensi) yaitu menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa. Kedua, agenda khalayak. Terdiri dari dimensi-dimensi; familiary (keakraban) yaitu derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu; personal salience (penonjolan pribadi) yaitu relevansi kepentingan individi dengan ciri pribadi; favorability (kesenangan) yaitu pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita. Ketiga, agenda kebijakan. Terdiri dari dimensi-dimensi; support (dukungan) yaitu kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu; likelihood of action (kemungkinan kegiatan) yaitu kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan; freedom of action (kebebesan bertindak) yaitu nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah. Berdasarkan penjelasan teori agenda

18

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

setting di atas dapat dipahami bahwa teori ini memiliki peran yang sangat penting ketika melakukan penyunting terhadap fakta atau peristiwa yang diliput oleh media atau wartawan di lapangan karena media massa memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial masyarakat dan sebaliknya. Dalam melaksanakan tugas keseharian media bisa saja menonjolkan satu isu dan mengabaikan isu lain. Disinilah letak peran media ketika melakukan agenda setting, media harus benar-benar dapat menyiarkan berita yang berimbang, faktual, dan objektif sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan dengan pemberitaan media. Sebaliknya agenda publik juga bisa menjadi agenda media. Pada penelitian ini teori agenda setting akan menjawab permasalahan bagaimana SKH Riau Pos memahami dan menulis (menyunting) fakta atau peristiwa tentang aktivitas program pembangunan pemerintah Kota Pekanbaru, apakah dengan adanya MoU pemberitaan tersebut akan terjadi penyuntingan fakta yang tidak berimbang antara aspirasi masyarakat dengan kepentingan pemerintah sehingga fakta-fakta penting yang sebenarnya ingin diketahui pembaca menjadi hilang.

moral masyarakat. Dasar pemikiran teori ini adalah kebebasan pers harus disertai tanggungjawab terhadap masyarakat. Dalam prinsip teori tanggungjawab sosial, prinsip kebebasan pers masih diper tahankan, tapi harus diser tai kewajiban untuk bertanggungjawab dalam menyiarkan berita harus bersifat objektif atau tidak menyiarkan berita yang dapat menimbulkan keresahan pada masyarakat (Severin dan Tankard, 1992). Berdasarkan penjelasan teori tanggungjawab sosial di atas, satu sisi masyarakat bebas mengeluarkan pendapat atau mencari kebenaran yang bertanggungjawab melalui media sehingga tidak ada pihak yang dirugikan baik pemerintah maupun masyarakat. Disisi lain pemerintah bisa saja menggunakan lembaga atau organisasi untuk mengontrol sistem penyiaran sebagai kedok untuk mencapai kepentingannya. Media massa (SKH Riau Pos) sebagai lembaga sosial yang berfungsi sebagai fungsi kontrol sosial harus bisa menjalankan teori tanggungjawab sosialnya, sehingga dalam mengakomodasi aspirasi/ keluhan masyarakat dan kepentingan pemerintah dalam pemberitaan yang berimbang, objektif dan faktual dan dapat dipertanggungjawabkan.

2. Teori Tanggung Jawab Sosial (social responsibility theory)


Te o r i t a n g g u n g j a w a b s o s i a l dikembangkan khusus di Amerika Serikat pada abad ke 20 sebagai protes terhadap kebebasan mutlak dari teori libertarian yang telah menyebabkan kemerosotan

3. Teori Media Pembangunan


Menurut Mc Quail (1991) teori media pembangunan dikaitkan dengan negaranegara dunia ketiga yang tidak memiliki ciri-ciri sistem komunikasi yang sudah

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

19

maju. Pada tahun 1967, Press Foundation of Asia menawarkan konsep jurnalisme pembangunan. Beberapa prinsip utama teori media pembangunan menurut Mc Quail adalah (1) pers harus menerima dan ditetapkan secara nasional; (2) kebebasan pers harus terbuka bagi pembatasan sesuai dengan prioritas-prioritas ekonomi dan kebutuhan melaksanakan tugas-tugas pembangunan yang positif sesuai dengan kebijakan kebutuhan pembangunan bagi masyarakat; (3) pers harus memberikan prioritas isinya kepada budaya dan bahasa nasional; (4) pers harus memberi prioritas dalam berita dan informasi untuk menghubungkannya dengan negaranegara berkembang lain yang berdekatan secara geografis, budaya dan politis; (5) para wartawan dan pekerja pers lainnya mempunyai tanggungjawab maupun kebebasan dalam tugas menghimpun dan menyebarkan informasi mereka; (6) demi kepentingan tujuan pembangunan, negara mempunyai hak untuk ikut campur dalam atau membatasi, operasi-operasi media massa, serta penyelenggaraan sensor, pemberian subsidi dan kontrol langsung dapat dibenarkan. Ciri-ciri penting dari teori media pembangunan ini adalah prinsipnya bahwa media harus menerima dan membangun pembangunan yang positif sesuai dengan kebijaksanaan

yang sudah ditetapkan oleh negara dan juga sesuai undang-undang yang berlaku. Dalam arti meningkatkan proses pembangunan yang lebih maju ke depan mengarah pada perubahan sosial untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Media massa yang berkembang menurut teori ini lebih banyak mengedepankan persoalan pembangunan dalam bidang ekonomi, sosial, politik dan budaya. Teori ini merupakan perkembangan dari teori tanggung jawab sosial yang mana lebih mementingkan pembangunan yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya. Berdasarkan teori media pembangunan di atas penelitian ini melihat bagaimana peran SKH Riau Pos sebagai media cetak lokal dalam mendukung aktivitas program pembangunan pemerintah Kota Pekanbaru dengan adanya MoU pemberitaan yang dilakukan dengan pemerintah Kota Pekanbaru, apakah hanya mendukung program pembangunan Pemko Pekanbaru tanpa ber tujuan untuk mensejahterakan masyarakat atau mengakomodasi keduanya sehingga terwujud komunikasi dialogis antara Pemko Pekanbaru dengan masyarakat dalam melaksanakan aktivitas program pembangunan pemerintah Kota Pekanbaru.

20

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

SKH RIAU POS

MoU PEMBERITAAN

PEMERINTAH KOTA PEKANBARU

Berita-Berita Aktivitas Program Pembangunan Pemerintah Kota Pekanbaru Konsep dan Teori yang Relevan untuk Melihat Bagaimana Liputan Pemberitaan SKH Riau Pos tentang Program Aktivitas Pembangunan *) Teori Agenda Setting Teori Tanggungjawab Sosial Teori Media Pembangunan

FUNGSI MEDIA MASSA DALAM PEMBANGUNAN JURNALISME PEMBANGUNAN

*) LIPUTAN PEMBERITAAN SKH RIAU POS TENTANG AKTIVITAS PROGRAM PEMBANGUNAN (PENDIDIKAN MURAH BERKUALITAS, PKL, GANTI RUGI LAHAN DAMPAK PEMBANGUNAN KOTA, PELAYANAN DAN INFRASRUKTUR) DI PEKANBARU SEBELUM DAN SETELAH ADANYA MoU

Detail tentang bagaimana peristiwa dimaknai dan fakta ditulis di analisis melalui delapan unit analisis yaitu: (1) Sumber Berita (Source) (2) Pendenisian Masalah (Dene Problem) (3) Penyebab Masalah (Diagnose Causes) (4) Pembenaran terhadap Peristiwa/isu (Make Moral Judgement) (5) Rekomendasi Penyelesaian Masalah (Treatment Recommendation) (6) Penggunaan Foto/gras dan Letak Berita (Visual Image) (7) Penulisan Judul, Lead dan Kutipan Sumber (Syntacsis) (8) Tipe Pemberitaan (Satu atau Dua Sisi)

KEPENTINGAN PEMKO

ASPIRASI MASYARAKAT

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

21

METODE PENELITIAN
Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan keberpihakan liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang dua aktivitas program pembangunan pemerintah Kota Pekanbaru setelah adanya MoU pemberitaan kepada pemerintah Kota Pekanbaru atau kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode gabungan analisis framing dengan delapan unit analisis yaitu sumber berita utama, pendefinisian masalah (define problems), penyebab masalah (diagnose causes), pembenaran masalah (make moral judgement), rekomendasi penyelesaian masalah (treatment recommendation), visual image meliputi penggunaan foto/ grafis dan letak berita, syntacsis meliputi penulisan judul, lead dan kutipan sumber berita, serta tipe pemberitaannya (satu sisi atau dua sisi). Teknik pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara studi dokumentasi berita-berita tentang aktivitas program pendidikan murah berkualitas bagi warga Pekanbaru dan pelaksanaan ganti rugi lahan dampak pembangunan kota yang dimuat di halaman metropolis SKH Riau Pos. Total berita yang dianalisis sebanyak empat belas. Tujuh berita sebelum MoU dan tujuh berita setelah adanya MoU.

maupun setelah MoU, dilakukan dengan menggunakan delapan unit analisis yaitu sumber berita utama, pendefinisian masalah (define problems), penyebab masalah (diagnose causes), pembenaran masalah (make moral judgement), rekomendasi penyelesaian masalah (treatment recommendation), visual image meliputi penggunaan foto/grafis dan letak berita, syntacsis meliputi penulisan judul, lead dan kutipan sumber berita, serta tipe pemberitaannya (satu sisi atau dua sisi). Berdasarkan hasil analisis aspek liputan pemberitaan SKH Riau Pos yang mengalami perubahan keberpihakan setelah adanya MoU adalah: (1) sumber berita; (2) penggunaan foto/grafis; (3) penulisan lead dan kutipan sumber. Perubahan keberpihakan tersebut cenderung mengarah kepada pemberitaan yang netral, sebelum MoU netral dalam arti mengakomodasi pernyataan Pemko dan aspirasi/keluhan masyarakat secara bersamaan dalam satu berita, sedangkan setelah adanya MoU cenderung netral dalam arti liputan pemberitaan SKH Riau Pos tidak hanya mengakomodasi pernyataan Pemko tapi juga aspirasi/ keluhan masyarakat. Aspek yang sangat menentukan perubahan tersebut adalah sumber berita yang diwawancara. Sumber berita yang diwawancara dalam hal ini hanya dari pihak Pemko. Namun pada masalah ini pihak Pemko tidak hanya sebagai sumber untuk mengklarifikasikan masalah yang terjadi di masyarakat tapi juga membenarkan atau menyuarakan

BERITA-BERITA PENDIDIKAN MURAH BERKUALITAS


Pembahasan berita-berita pendidikan murah dan berkualitas ini, baik sebelum

22

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

aspirasi/keluhan masyarakat sehingga penulisan beritanya tetap mengakomodasi suara kedua belah pihak (Pemko dan masyarakat). Sebenarnya tipe pemberitaan seperti ini kurang baik meskipun pihak Pemko juga membenarkan terjadinya permasalahan di lapangan, akan tetapi mewawancarai sumber berita utama (masyarakat) jauh akan lebih baik dibandingkan hanya diwakili pihak lain (Pemko atau DPRD), sebab dikhawatirkan pernyataan sumber berita tersebut mengandung muatan politis sehingga sulit mencari pemecahan masalahnya. Selain itu pemilihan sumber berita dipengaruhi oleh sudut pandang wartawan ketika melihat permasalahan di lapangan. Dalam hal ini wartawan SKH Riau Pos cenderung melihat dari sisi pelanggaran aturan yang dilakukan Pemko. Sudut pandang wartawan dan sumber berita yang diwawancara turut menentukan penekanan isi berita, Fishman (Eriyanto, 2007), menjelaskan bahwa ada dua kecenderungan bagaimana proses produksi berita dilihat yaitu pertama, seleksi berita (selectivity of news). Seleksi ini dilakukan wartawan di lapangan yang akan memilih mana yang penting dan mana yang tidak, mana peristiwa yang bisa diberitakan dan mana yang tidak. Kedua, pendekatan pembentukan berita (creation of news). Dalam perspektif ini, peristiwa itu bukan diseleksi tapi dibentuk. Wartawanlah yang membentuk berita, mana yang disebut berita mana yang tidak. Peristiwa atau realitas bukanlah diseleksi, melainkan

dikreasi oleh wartawan. Pada perspektif ini fokusnya bagaimana war tawan membentuk berita. Titik perhatian utama difokuskan pada rutinitas dan nilai-nilai kerja wartawan ketika bertemu dengan narasumber. Wartawan bukanlah perekam pasif yang mencatat apa yang terjadi dan dikatakan sumber berita. Melainkan sebaliknya, wartawan adalah perekam yang aktif, wartawan akan berinteraksi dengan dunia (realitas) dan orang yang diwawancarai, hal ini sedikit banyaknya akan menentukan bagaimana bentuk dan isi berita yang dihasilkan. Dilihat dari dua proses produksi berita di atas jelas bahwa peran wartawan sangat menentukan penekanan sebuah berita, hal ini terbuki bahwa meskipun SKH Riau Pos cenderung mewawancarai sumber berita dari Pemko, secara manusiawi dan wujud tanggungjawab sosial dari seorang wartawan pada penulisan lead berita cenderung menghantarkan atau mengungkapkan permasalahan yang terjadi di masyarakat yang dinilai cukup meresahkan orangtua tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos dilihat dari sumber berita yang diwawancara terhadap permasalahan tentang pelaksanaan program pendidikan murah berkualitas di lapangan cenderung berpihak kepada Pemko. Ini disebabkan sumber berita utama (masyarakat) masih enggan untuk mengungkapkan permasalahan yang terjadi secara langsung karena takut mendapatkan ancaman dari pihak

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

23

sekolah. Hal ini diperkuat hasil wawancara peneliti dengan wartawan SKH Riau Pos di bawah ini:
Masalah sumber berita yang diwawancara terkait permasalahan pendidikan murah berkualitas yang tidak langsung mewawancarai pihak masyarakat karena masyarakat merasa takut mengungkapkan langsung apa yang dialami atas kebijakan sekolah berupa pungutan-pungutan yang memberatkan orang tua, karena takut anaknya mendapat ancaman dari pihak sekolah. (Erwan Sani, wartawan SKH Riau Pos, wawancara 7 Mei 2010).

sekolah yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan terhadap pelaksanaan program tersebut. Tipe pemberitaan seperti ini sebenarnya berdampak kurang baik terhadap hak-hak masyarakat dalam menyampaikan aspirasi/keluhannya melalui SKH Riau Pos karena pernyataan sumber berita yang mewakili aspirasi/ keluhan masyarakat tersebut hanya clise belaka dan syarat dengan muatan politis. Aspek lain yang menunjukkan perubahan liputan pemberitaan SKH Riau Pos adalah penggunakan foto/grafis untuk mendukung atau menguatkan pernyataan sumber berita cenderung netral. Dalam arti penggunaan foto/grafis tidak hanya digunakan untuk mendukung atau menguatkan aspirasi/keluhan masyarakat tapi pada beberapa kasus foto/grafis justru tidak digunakan untuk mendukung atau menguatkan pernyataan sumber. Ini disebabkan sumber berita yang diwawancara dari pihak Pemko tidak hanya mengklarifikasikan masalah yang terjadi di masyarakat tapi juga membenarkan dan menyuarakan aspirasi/ keluhan masyarakat, sebab penggunaan foto/grafis cenderung menyesuaikan dengan arah penekanan isi berita. Dari aspek penulisan lead berita yang merupakan tingkat penonjolan berita paling tinggi setelah penulisan judul, hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos cenderung berpihak kepada masyarakat. Ini disebabkan masalah pendidikan

Selain itu wartawan umumnya sering ngepos pada suatu tempat terutama kantor-kantor pemerintahan seperti kantor wali kota, akibatnya sumber berita yang diwawancara hanya terfokus pada satu sumber berita dari pihak pemerintah. Khusus untuk masalah pendidikan murah berkualitas, sumber berita dari pihak Pemko tidak hanya sebagai sumber untuk mengklarifikasikan permasalahan yang terjadi tapi juga membenarkan atau menguatkan aspirasi/keluhan masyarakat. Hal ini diindikasikan bahwa disisi lain SKH Riau Pos dinilai berusaha menaikkan citra kebijakan Pemko melalui pernyataanpernyataan wali kota berupa peringatan atau penegasan kepada pihak sekolah untuk tidak melakukan pungutan di luar kewajaran yang memberatkan orang tua, karena pernyataan wali kota atau pejabat Pemko yang diwawancara tersebut tidak disertai dengan pernyataan tegas tentang sanksi yang akan diberikan kepada pihak

24

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

bagian dari komitmen SKH Riau Pos untuk memajukan pendidikan di Riau dan Pekanbaru pada khususnya. Dilihat dari penulisan lead berita SKH Riau Pos dinilai cukup bagus karena MoU tidak berpengaruh negatif terhadap hak-hak masyarakat untuk menyampaikan aspirasi/ keluhan melalui SKH Riau Pos pada bagianbagian berita yang tingkat penonjolannya paling tinggi. Sementara itu dilihat dari penulisan kutipan sumber cenderung netral. Dalam arti SKH Riau Pos tidak hanya menegaskan pernyataan Pemko tapi juga menegaskan aspirasi/keluhan masyarakat. Ini disebabkan sumber berita yang diwawancara dari pihak Pemko tidak hanya mengklarifikasikan permasalahan yang terjadi tapi juga menyuarakan apa yang menjadi aspirasi/keluhan masyarakat. Pasalnya sumber berita yang diwawancara sangat mempengaruhi penulisan kutipan sumber. Temuan lain menunjukkan bahwa meskipun SKH Riau Pos menulis berita dari dua perspektif dengan menyandingkan aspirasi/keluhan masyarakat dengan pernyataan Pemko secara bersamaan, tapi hanya mewawancarai sumber berita dari pihak Pemko, penulisan kutipan sumber berita hanya dari pihak Pemko. Penulisan seperti ini bertentangan dengan pemberitaan berimbang (netral), menurut Eriyanto (2009) bahwa penulisan kutipan sumber bertujuan untuk membangun objektivitas (prinsip keseimbangan dan tidak memihak). Berdasarkan hasil pembahasan

tentang berita-berita pendidikan murah berkualitas dapat dikatakan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos dinilai cukup bagus dalam menjalankan teori tanggungjawab sosial. Hal ini terbukti bahwa secara umum SKH Riau Pos tidak hanya mengakomodasi kepentingan Pemko tapi juga memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengungkapkan apa yang menjadi aspirasi/keluhan mereka terhadap permasalahan yang terjadi. Bentuk tanggungjawab sosial SKH Riau Pos juga dapat dilihat pada style pemberitaannya. Meskipun sumber berita yang diwawancara hanya dari pihak Pemko, tapi pada penulisan lead berita cenderung menggambarkan atau mengungkapkan permasalahan yang terjadi berupa aspirasi/keluhan masyarakat, baru kemudian memuat pernyataan pihak yang berwenang untuk mengklarifikasikan permasalahan yang terjadi. Hal ini sejalan dengan teori tanggungjawab sosial (Severin dan Tankard, 1992) bahwa kebebasan pers harus disertai tanggungjawab terhadap masyarakat dan dalam menyiarkan berita harus bersifat objektif. Keberpihakan liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang permasalahan pelaksanaan program pendidikan murah berkualitas di lapangan juga sejalan dengan teori media pembangunan. Menurut Mc Quail (1991) salah satu prinsip teori media pembangunan adalah para wartawan dan pekerja pers lainnya mempunyai tanggungjawab maupun kebebasan dalam tugas menghimpun

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

25

dan menyebarkan informasi. Hal ini memberikan penegasan bahwa SKH Riau Pos tidak hanya mengakomodasi kepentingan Pemko tapi juga aspirasi/ keluhan masyarakat. Sementara dilihat dari teori agenda setting, liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang permasalahan pelaksanaan program pendidikan murah berkualitas cenderung mengagendakan aspekaspek pemberitaan yang mengarah kepada netral yaitu agenda media massa ditetapkan tidak hanya sepihak kepada pihak penyokong MoU yaitu Pemko melainkan juga memperhatikan keluhan masyarakat yang juga merupakan agenda masyarakat. Hal ini sesuai dengan teori agenda setting menurut Mc Combs dan Shaw (Nuruddin, 2007) bahwa sebaiknya media mempunyai kemampuan untuk menyeleksi dan mengarahkan perhatian masyarakat dan pemangku kepentingan lain pada gagasan atau peristiwa tertentu dari kedua sisi. Media mengatakan kepada pembaca apa yang penting dan apa yang tidak penting. Media pun mengatur apa yang harus dilihat pembaca dan peristiwa apa yang harus diperhatikan dan siapa yang perlu didukung untuk mendudukkan masalah secara proporsional.

keberpihakan adalah: (1) pendefinisian masalah; (2) penyebab masalah; (3) pembenaran masalah; (4) rekomendasi penyelesaian masalah; (5) penggunaan foto/grafis; (6) penulisan judul dan lead berita; (7) tipe pemberitaan. Perubahan keberpihakan tersebut cenderung mengarah kepada Pemko. Aspek yang sangat menentukan perubahan tersebut adalah sumber berita yang diwawancara. Sumber berita yang diwawancara hanya dari pihak Pemko sehingga apa yang menjadi hak-hak masyarakat tidak tersampaikan dengan baik melalui SKH Riau Pos. Dari aspek pendefisian masalah, hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos cenderung lebih berpihak kepada Pemko setelah MoU ditandatangani. Ini ditunjukkan dengan munculnya sumber berita tunggal yaitu pihak Pemko yang menjadi acuan utama SKH Riau Pos. Sumber berita yang diwawancarai pada masalah ganti rugi lahan dampak pembangunan kota kentara berpihak kepada Pemko. Keberpihakan dirasakan makin jelas apabila ditinjau dari aspek penyebab masalah yaitu liputan pemberitaan SKH Riau Pos cenderung mengungkap kesalahan-kesalahan yang dilakukan warga tanpa menyinggung kesalahan pihak Pemko. Hal ini disebabkan sumber berita yang diwawancara cenderung dari pihak Pemko sehingga pihak Pemko hanya mengungkapkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan warga. Sementara apa

BERITA-BERITA GANTI RUGI LAHAN DAMPAK PEMBANGUNAN KOTA


Aspek liputan pemberitaan SKH Riau Pos yang berkait dengan berita ganti rugi lahan yang mengalami perubahan

26

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

yang dikeluhkan warga tidak terungkap karena SKH Riau Pos tidak memberikan ruang yang cukup kepada warga untuk mengungkapkan apa yang dikeluhkan warga. Fa k t o r s u m b e r b e r i t a y a n g diwawancara pada masalah ganti rugi lahan dampak pembangunan kota berbeda dengan masalah pendidikan murah berkualitas. Walaupun wartawan sama-sama mewawancarai sumber berita dari pihak Pemko, tetapi sumber berita yang diwawancara pada masalah ganti rugi lahan dampak pembangunan kota cenderung menyuarakan kepentingan Pemko. Hal ini disebabkan sumber berita yang diwawancara adalah sumber berita inti yaitu tim sembilan yang dibentuk Pemko untuk mengkaji dan melaksanakan ganti rugi lahan dampak pembangunan kota tersebut. Hal ini membuktikan bahwa kredibilitas sumber berita bukan segalanya. Kredibilitas sumber berita yang lebih penting adalah adanya akurasi berita dan perlunya verifikasi dari kedua subyek pemberitaan. Orang yang memiliki atau dianggap punya kredibilitas, belum tentu memiliki informasi atau data akurat. Sebaliknya orang yang dianggap tidak memiliki kredibilitas, informasinya bisa saja memiliki akurasi tinggi Mathari (2007). Selain itu style pemberitaan SKH Riau Pos juga berbeda pada masalah ganti rugi lahan dampak pembangunan kota. Pada masalah pendidikan murah berkualitas, meskipun tidak mewawancarai

sumber berita dari pihak masyarakat tapi pada penulisan lead berita, SKH Riau Pos memuat apa yang menjadi aspirasi/ keluhan masyarakat. Style pemberitaan tersebut tidak berlaku pada masalah ganti rugi lahan dampak pembangunan kota. Dari aspek pembenaran masalah, hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos cenderung berpihak kepada Pemko dengan mengungkapkan bukti-bukti kesalahan yang dilakukan warga. Hal ini disebabkan sumber berita yang diwawancara cenderung dari pihak Pemko yaitu Tim Sembilan yang ditunjuk pihak Pemko yang menangani persoalan ganti rugi lahan. Akibatnya, pembuktian masalah hanya mengungkap bukti-bukti kesalahan yang dilakukan warga. Dari aspek rekomendasi penyelesaian masalah, hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos juga cenderung berpihak kepada Pemko dengan mengarahkan bahwa yang dapat melakukan penyelesaian masalah hanya apabila warga mengikuti keinginan Tim Sembilan. Padahal jika dilihat dari persoalan yang terjadi di masyarakat, sebenarnya kesalahan tersebut cenderung dilakukan Pemko karena tidak membayarkan nilai ganti rugi lahan warga sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), sementara nilai ganti rugi tersebut selalu menjadi persoalan utama tiap pelaksanaan ganti rugi lahan dampak pembangunan kota. Pemberitaan seperti inilah yang harus diperbaiki SKH Riau

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

27

Pos ke depan sehingga lebih berimbang dalam mengakomodasi aspirasi/ keluhan masyarakat dan kepentingan Pemko tentang pelaksanaan programprogram pembangunan pemerintah yang bersinggungan dengan hak-hak masyarakat. Perlu dicatat bahwa kondisi lapangan menunjukkan bahwa terjadinya masalah tersebut bukan murni hanya disebabkan masyarakat yang menuntut ganti rugi yang lebih tinggi nilainya melainkan ganti rugi yang ditawarkan Pemko tidak sepadan dengan kerugian yang akan ditanggung oleh masyarakat. Hal ini diperkuat hasil wawancara peneliti dengan beberapa pembaca SKH Riau Pos di bawah ini:
Sampai detik ini SKH Riau Pos lebih banyak menyuarakan kepentingan pemerintah dibandingkan suara masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari pemberitaan Riau Pos ketika melakukan per temuan dengan pemerintah tentang sosialisasi ganti rugi lahan pelebaran Jalan Soekarno Hatta. Suara pemilik lahan hanya diberitakan seadanya sehingga apa yang diinginkan pemilik lahan tidak sampai. (Bolloty Alexandre Kimar Sarah, Pembaca SKH Riau Pos, wawancara 1 Mei 2010) Pe m b e r i t a a n S K H R i a u Po s kecenderungan lebih menyuarakan kepentingan pemerintah pada akhirnya. sering tidak tuntas mencarikan solusi yang pro rakyat, akibat tidak independennya media tersebut. (Haris Jumadi, pembaca Riau Pos, wawancara, 3 Mei 2010)

penggunaan fotografis. Hasil analisis menunjukkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos berubah cenderung tidak menggunakan foto/grafis untuk mendukung pernyataan sumber berita baik dari Pemko atau warga. Padahal sebelum MoU cenderung digunakan untuk mendukung pernyataan Pemko. Pendapat ini mengacu pada pendapat anggota redaksi untuk berita lain bahwa penggunaan foto/grafis bukan merupakan salah satu aspek penting dalam penonjolan berita di SKH Riau Pos. Dari aspek lainnya yaitu penulisan judul, SKH Riau Pos tetap berhati-hati agar tetap terlihat netral. Sementara itu dilihat dari aspek penulisan lead berita, SKH Riau Pos tetap cenderung berpihak kepada Pemko. Terjadinya perbedaan arah keberpihak pada penulisan syntacsis (judul dan lead) ini tampak adalah menjadi strategi framing redaksi SKH Riau Pos yang tidak ingin terlihat terlalu memihak pada bagian-bagian berita yang menonjol. Apalagi kondisi lapangan tampaknya disadari juga oleh redaksi bahwa permasalahan ganti rugi lahan akar penyebab masalahnya berasal dari kedua belah pihak yaitu (Pemko sendiri dan masyarakat). Berdasarkan hasil pembahasan tentang berita-berita ganti rugi lahan dampak pembangunan kota dapat ditegaskan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos dinilai belum menjalankan teori tanggungjawab sosial dengan baik, sebab liputan pemberitaan SKH Riau

Aspek lain yang dianalisis adalah

28

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

Pos hanya cenderung mengakomodasi kepentingan Pemko. Hal ini bertentangan dengan teori tanggungjawab sosial (Severin dan Tankard, 1992) bahwa kebebasan pers harus disertai tanggungjawab terhadap masyarakat dalam menyiarkan berita harus bersifat objektif. Keberpihak liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang permasalahan pelaksanaan program ganti rugi lahan dampak pembangunan kota di lapangan juga tidak sejalan dengan teori media pembangunan Mc Quail (1991) bahwa salah satu prinsip teori media pembangunan adalah para wartawan dan pekerja pers lainnya mempunyai tanggungjawab maupun kebebasan dalam tugas menghimpun dan menyebarkan informasi. Hal ini terbukti bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos hanya cenderung mengakomodasi kepentingan Pemko. Padahal jika dilihat dari persoalan yang terjadi di masyarakat, sebenarnya kesalahan tersebut cenderung dilakukan Pemko karena tidak membayarkan nilai ganti rugi lahan warga sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), sementara nilai ganti rugi tersebut selalu menjadi persoalan utama tiap pelaksanaan ganti rugi lahan dampak pembangunan kota. Sementara dilihat dari teori agenda setting, secara umum dapat disimpulkan bahwa liputan pemberitaan SKH Riau Pos tentang permasalahan pelaksanaan program ganti rugi lahan dampak pembangunan kota cenderung mengagendakan aspek-aspek pemberitaan

yang mengarah kepada Pemko (keburukan bagi masyarakat), sebab SKH Riau Pos tidak mengakomodasi apa yang menjadi hak masyarakat dengan baik. Media mengarahkan dan membangun agendanya agar pembaca mengikuti apa yang diinginkan oleh media dan pihak penyokong media tersebut.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN Simpulan


Pemberitaan SKH Riau Pos pada kelompok pendidikan murah berkualitas berhasil menjaga kenetralan pemberitaan yang tetap menawarkan hak jawab kepada pihak yang dipandang akan berseberangan dengan pihak Pemko. Sementara itu pada kelompok berita ganti rugi lahan dampak pembangunan kota, SKH Riau Pos tidak berhasil menjaga kenetralan pemberitaannya, MoU pemberitaan yang dikhawatirkan mempengaruhi keberpihakan SKH Riau Pos akan lebih berpihak kepada Pemko selaku salah satu penyandang dana ternyata terjadi.

Implikasi Penelitian
Kelebihan metode gabungan analisis framing yang digunakan pada penelitian ini adalah tidak hanya dapat melihat keberpihakan pemberitaan pada aspekaspek berita yang sangat menonjol tapi juga pada aspek-aspek yang tersurat. Pemilihan sumber berita harus perlu

Dewi Sukartik & Ageng Setiawan H., Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos

29

pertimbangan untuk mencari kebenaran yang paling benar atas peristiwa yang terjadi. Kredibilitas sumber berita bukan segalanya, yang lebih penting dari kredibilitas adalah akurasi dan verifikasi. Hasil penelitian ini hendaknya juga bisa menjadi pedoman bagi wartawan terutama wartawan pemula. Menulis sebuah berita tidak hanya sekedar melaporkan suatu kejadian atau peristiwa di lapangan apalagi jurnalis pembangunan. Banyak hal yang perlu diperhatikan terutama yang menyangkut hak-hak masyarakat. Diantaranya, bagaimana mengungkap penyebab masalah dan solusi terhadap persoalan yang terjadi. Seorang wartawan yang bijak harus bisa mencari dan jeli mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan pihak berwenang untuk segera mengambil tindakan penyelesaian terhadap persoalan yang terjadi, sehingga setiap berita yang dibuat hendaknya memiliki implikasi terhadap kebijakan yang akan diambil pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Surat Keputusan Perjanjian Kerjasama Pemerintah Kota Pekanbaru dengan Harian Pagi Riau Pos. Nomor 01/KMM-HUMAS/ IV/2010/250/RED/RP/IV/2010 Eriyanto. 2008. Analisis Framing. Yogyakarta: LkiS Nurudin. 2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada Mathari, Rusdi. 2007. Sumber Berita. Diakses dari http://rusdimathari. wordpress.com/2007/11/16/sumberberita/. Tanggal 23 November 2010 Mc Quail, Denis. 1991. Teori Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Edisi Kedua, Jakarta: Erlangga Kovack, Bill dan Tom Rosenstiel. 2006. Sembilan Elemen Jurnalisme. Jakarta: Yayasan Pantau Severin, Werner J. dan James W. Tankard, Jr. (1992). C o m m u n i c a t i o n Theories: Origins, Methods, and Uses in The Mass Media. New York-London: Logman

30

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 15 - 30

PENERAPAN STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN PERTANIAN UNTUK MEMBANGKITKAN PARTISIPASI MASYARAKAT


Dedy Irwandi

(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah Jln. G. Obos Km. 5 Kotak Pos 122 Palangkaraya 73111, e-mail:kalteng_bptp@yahoo.com)

ABSTRACT
Attention so desire to put human based on purpose main of agriculture development problems, claims the development experts and social researcher developed returns to relevant paradigm as community development model. This way important to make approach and acurated communication strategies in overcome problems crusial development which has not sided of farmers and answers various local requisitionings. In this papers presented 3 ( three) agriculture development communication strategies that general assumption places forward participation planning principle, that is more farmers in development activities of agriculture: (1) Strategic Extension Campaign (SEC), (2) Partisipatory Rural Community Appraisal (PRCA), and (3) Partisipatory Communication Strategy Design (PCSD). From third of strategies communication presented indicates that there is no applicable communication strategy method without existence of involvement the role of outsider as faslitator development, difference from third of the strategy lays in purpose, were (the process and approach, the application of his adapted for condition and situation of society. Key word: communicatiion strategies, SEC,PRCA, PCSD, society participation

PENDAHULUAN
Paradigma pembangunan ekonomi (economic growth) yang telah lama mondominasi pembangunan di berbagai negara berkembang, tampaknya perlu diimbangi dengan pembangunan yang berpusat pada rakyat (people centered development) dan harus diintegrasikan
31

dengan paradigma sosial-budaya sebagai keseluruhan proses pembangunan masyarakat (Korten, 1989). Sebagai konsep yang bertumpu pada aspek sosial-budaya, pembangunan pada paradigma ini didefinisikan sebagai strategi pemberdayaan masyarakat yang beorientasi pada nilai-nilai lokal, sosial

32

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 31 - 39

budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Proses pembangunan pertanian tidak saja mengembangkan nilai tambah ekonomis dan keuntungan, tetapi juga nilai tambah sosial secara adil (equaty), setara (equality) dan partisipatif sebagai upaya pengembangan kapasitas petani dan masyarakat perdesaan berdasarkan pada spektrum helping people to help themselves, baik individu, kelompok, maupun sebagai kekuatan civil society. Paradigma ini memandang posisi petani dan masyarakat yang perlu dihargai, dilindungi dan dikembangkan eksistensinya, sehingga apapun bentuk program pembangunan yang dilakukan harus melibatkan peran serta aktif masyarakat. Masyarakat perdesaan dipandang sebagai entitas penting dalam dimensi pembangunan sosial (Dilla S, 2007). Sebagai model yang beorientasi pada masyarakat upaya kegiatan pembangunan, termasuk didalamnya adalah peran komunikasi pembanguan selalu diarahkan pada usaha yang informatif, instruksional, persuasi, edukasi dan advokasi untuk menggali potensi diri dan lingkungan dari komunitasnya, sehingga individu dan komunitas ditempatkan sebagai pelaku sekaligus sasaran dalam proses pembangunan. Proses ini akan memberi kuasa kepada masyarakat menemukan kemandirian dan mengatasi permasalahan yang muncul. Menurut Ndraha. T, (1990) indikator keberhasilan pembangunan masyarakat ditentukan oleh: (1) sejauh mana kondisi

dan taraf hidup masyarakat berhasil diperbaiki dan ditingkatkan, (2) sejauh mana partisipasi masyarakat berhasil digerakan, dan (3) sejauh mana masyarakat untuk berkembang dan mandiri berhasil ditumbuhkan. Untuk mewujudkannya pada tataran aplikatif diperlukan suatu strategi komunikasi yang dapat mendorong partisipasi dan memberdayakan masyarakat, yaitu apakah dalam setiap merencanakan program pembangunan, kita bersama dengan rakyat, melibatkanya atau tidak dengan prinsip with the people, not just for the people, sehingga dapat dikatakan bahwa strategi komunikasi itu baik apabila prinsip tersebut dapat terpenuhi.

PERKEMBANGAN KONSEP STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN


Strategi komunikasi merupakan tahapan penting dari proses pengambilan keputusan untuk bertindak atas sesuatu program pembangunan yang ingin diimplementasikan. Strategi komunikasi akan menentukan langkah-langkah efektif dan cara melakukannya. Setiap strategi memerlukan penekanan yang berbeda dalam proses utamanya, tujuan inter vensinya, dan pendekatannya ( a p p ro a c h ) . S t r a t e g i k o m u n i k a s i pada hakikatnya adalah manajemen perencanaan bagaimana untuk mencapai tujuan (Effendy, 2002) Menurut Rogers dan Shoemaker (1983), fungsi komunikasi pada konteks

Dedy Irwandi, Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan

33

ini dianggap sebagai mekanisme untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan. Ide pembangunan semestinya berasal dan dimulai dari dalam diri masyarakat bagaimana mereka menggali potensi dan membangun kapasitas dirinya. Kesadaran inilah yang akan menuntun pada perubahan yang lebih luas. Unsur utama dari model penggalian dan pengembangan potensi diri dalam strategi komunikasi adalah partisipasi, sosialisasi dan mobilisasi dalam perencanaan pembangunan. Pada batas ini, upaya pengembangan diri masyarakat dimaksudkan untuk memberikan pencerahan, penguatan dan pemberdayaan masyarakat dalam menggali, mengembangkan dan meningkatkan potensi kemampuan mereka. Dengan demikian penekanannya dititikberatkan pada aliran informasi dan pesan yang bersifat bottom-up atau komunikasi yang horizontal diantara masyarakat. Masyarakat harus berdiskusi bersama, mengindentifikasi kebutuhan, keinginan dan harapan termasuk memutuskan tindakan. Strategi komunikasi pembangunan yang menitik beratkan pada partisipasi dan pemberdayaan merupakan dua buah konsep yang saling berkaitan. Untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat diperlukan upaya berupa pemberdayaan. Masyarakat yang dikenal tidak berdaya perlu untuk dibuat berdaya dengan menggunakan berbagai strategi komunikasi. Melalui proses pemberdayaan diharapkan

partisipasi masyarakat meningkat. Pemberdayaan yang memiliki arti sangat luas itu memberikan keleluasaan dalam pemahaman dan juga pemilihan model pelaksanannya. Konsep partisipasi dalam pembangunan mempunyai tantangan yang sangat besar dimana paradigma dominan ternyata tidak memberikan kesempatan pada lahirnya partisipasi masyarakat. Oleh karenanya diperlukan upaya membangkitkan partisipasi masyarakat. Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan memberdayakan masyarakat sehingga masyarakat akan berpartisipasi secara langsung terhadap pembangunan (Ife dan Tesoriero, 2008)

PENERAPAN KONSEP STRATEGI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN


Begitu besarnya perhatian dan keinginan untuk meletakan manusia sebagai dasar, tujuan utama dari permasalahanpermasalahan pembangunan, menuntut para ahli pembangunan dan ilmuan sosial mengembangkan kembali model paradigma yang relevan. Cara ini dianggap penting untuk menghasilkan pendekatan dan strategi komunikasi yang tepat, dalam menangulangi masalah-masalah krusial pembangunan yang belum memihak pada rakyat serta menjawab berbagai permintaan lokal. Dalam makalah ini disajikan 3 (tiga) konsep strategi komunikasi pembangunan pertanian yang secara umum berasumsi mengedepankan

34

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 31 - 39

prinsip-prinsif perencanaan partisipatif, yaitu lebih mengutamakan pelibatan masyarakat dalam kegiatan pembangunan, meliputi: (1). Strategic Extension Campaign (SEC), 2). Partisipatory Rural Community Appraisal (PRCA), dan (3) Partisipatory Communication Strategy Design (PCSD). Untuk kebutuhan analisis, pada bagian ini diawali dengan menjelaskan tiga strategi komunikasi pembangunan pertanian, kemudian dilanjutkan penyajian uraian indikator-indikator penyusunnya. Hal ini dimaksudkan untuk membandingkan beberapa strategi komunikasi yang telah, sedang atau yang akan dilakukan. Dengan begitu kita mampu melihat, menganalisis dan memilih strategi komunikasi yang tepat dan relevan.

dimiliki petani dengan teknologi yang akan direkomendasikan oleh fasilitator, namun setalah program berjalan efeknya banyak organisasi berbasis komunitas terlibat dalam kampanye aksinya, seperti kampanye pengendalian hama tikus, kampanye pembukaan lahan tanpa bakar, kampanye penggunaan varietas unggul yang melibatkan peran masyarakat luas. Pr o g r a m - p r o g r a m S E C l e b i h menitikberatkan pada penguatan peran masyarakat setempat sebagai subyek sejak dari need assesment, perencanaan, pelaksanaan, hasil serta proses evaluasi (evaluasi formatif dan sumatif), dengan prinsip masyarakat yang utama. SEC diawali dengan pendekatan Knowledge, Attitude and Practise (KAP) survey, yaitu pemahaman terhadap pengetahuan, sikap dan keterampilan petani, dengan kata lain memulai dari pengetahuan petani dan membangun dengan apa yang sudah mereka punya. Karakteristik penting dari SEC adalah penggunaan strategi yang menyeluruh, rasional, terencana, pragmatis dan fokus pada permasalah dengan menggunakan saluran dan materi pesan komunikasi multimedia efektif dengan biaya yang terseleksi, serta dikombinasi dengan pendekatan sistem komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok dan komunikasi massa. K arakteristik lain adalah SEC adalah menghasilkan, membina kader perencanaan dan tenaga terlatih yang siap menjadi fasilitator, melalui pelatihan

1. Strategic Extension Campaign (SEC)


SEC adalah metode kampanye penyuluhan strategis yang mengutamakan partisipasi masyarakat dalam strategy planning, management sistematis dan implementasinya di lapangan pada kegiatan penyuluhan pertanian. SEC masih ber tumpu pada komunikasi inovasi yang mengindikasikan bahwa peran fasilitator/outsider/expert (peneliti, penyuluh) masih sangat besar dalam merencanakan program pembangunan. Kegiatan SEC utamanya didesain dan berorientasi kepada kebutuhan petani untuk mempersempit gap antara pengetahuan dan keterampilan yang

Dedy Irwandi, Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan

35

staf (training). Kegiatan mempersiapkan tenaga trainer-trainer ini menjadi penting dalam strategi SEC, karena dirasakanya bahwa program-program pelatihan pembangunan yang diselenggarakan selama ini cenderung kurang relevan, baik dari tujuan, hasil, materi pelatihan, dan dampaknya, SEC hadir untuk mengisi kondisi tersebut dengan melakukan pelatihan staf yang berorientasi pada masalah yang dirasakan oleh petani (farmer centered oriented). Tujuannya adalah memberdayakan petani untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatankegiatan penyuluhan.

partisipasi dan studi sosial kemasyarakatan: Pemahaman Perdesaan Partisipatif atau Participatory Rural Appraisal (PRA), Belajar dan Bertindak atau Partisipatif Participatory Learning and Action (PLA), Pendekatan Kerangka kerja Logis atau Logical Framework Approach (LFP), Perencanaan Proyek Berorientasi Tujuan atau Objective Oriented Project Planning (OOPP), riset kualitatif, kuantitatif, etonografi dan sosial marketing. PRCA juga memanfatkan komunikasi tradisional yaitu media rakyat (folk media) seperti penggunaan dialog, action, musik, lagu dan tarian sebagai media alternatif yang disisipkan pesan pembangunan pertanian, yang tujuannya adalah membangun hubungan kedekatan, pengikat/perekat interaksi sosial, pengakuan/penghargaan identitas diri dan eksistensi budaya masyarakat pada lapisan bawah (grass root). Prinsip yang ditekankan dalam PRCA adalah belajar dari pengalaman, berbuat bersama berperan bersama, mengutamakan kelompok yang terabaikan (marginal), membuka kesadaran baru, membangun rasa percaya diri, memperkaya pengetahuan dan budaya lokal, fleksibel, triangulasi serta menyeimbangkan atau mengurangi bias teknologi Kerangka kerja PRCA dibangun dari dua tipe pendekatan: 1) eksplatori PRCA dan 2). Topical PRCA. Eksplatori adalah proses awal menggali untuk semua permasalahan komunitas dilandasi NOPS (needs, opportunities, problems, solutions)

2. Partisipatory Rural Community Appraisal (PRCA)


PRCA adalah strategi komunikasi pembangunan yang lebih mengutamakan partisipasi dan pemberdayaan, melibatkan peran masyarakat perdesaan secara penuh dalam proses perencanaan program komunikasi yang tepat sejak awal. Aktivitasnya ditandai dengan adanya proses interaktif, komunikasi dua arah yang melihat bahwa semua orang sebagai sumber informasi yang pantas untuk didengarkan, yaitu pertukaran informasi, pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang antara individu dan kelompok. PRCA akan memfasilitasi dialog bersama antara fasilitator dengan masyarakat sasaran, serta membantu memetakan pola jaringan komunikasi yang telah ada. PRCA merupakan strategi yang menggabungkan berbagai pendekatan

36

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 31 - 39

dengan metodologi kualitatif. Hasil dari temuan PRCA kemudian dilanjutkan dengan Baseline Study PRCA dilandasi AKAP (awareness, knowledge, attitudes, practice) pendekatannya kuantitatif yang telah memuat tentang topik spesifik, seperti contoh kekurangan gizi (malnutrition), pertanian tanpa bakar (zerro burning agriculture).

Strategi komunikasi PCSD dilakukan secara sistematik, yang berorientasi rencana dan sistem (plan and system oriented). Langkah yang ditempuh dari partisipatori desain strategi komunikasi PCSD adalah memprioritaskan dan memetakan masalah, sehingga dapat mengidentifikasi pada masalah utama (vocal problem). Pemisahan masalah dengan memanfaatkan temuan PRCA, baseline dan NOPS yang telah dilakukan sebelumnya bersama masyarakat. Dari ketiganya akan membantu kita untuk mengetahui akar masalah. Semua pekerjaan yang dilakukan selama PRCA dan survei baseline ini digunakan untuk merancang strategi komunikasi di PCSD. Agar memudahkan dalam mengenali masing-masing strategi yang akan diterapkan, disajikan matrik indikator pemberdayaan dari model masingmasing strategi komunikasi pembangunan pertanian (Tabel 1)

3. Partisipatory Communication Strategy Design (PCSD)


PCSD adalah suatu metode komunikasi partisipatif yang mempunyai kerangka kerja seperti halnya pada PRCA. PCSD merupakan penyesuain dari konsep PRCA, sebab muncul pemahaman baru bahwa perencanaan pembangunan bottom-up planning masih juga terdapat kekurangan, sehingga dikembangkan metode baru untuk menggabungkan antara perencanaan top-down dengan bottom-up planning

Tabel 1. Matrik Indikator Pemberdayaan dalam Strategi Komunikasi Pembangunan


Strategi Komunikasi Pembangunan SEC - Menyampaikan pesan dan adopsi teknologi TUJUAN - Mempersempit gap KAP (knowledge, attitude, practise) petani dengan teknologi yang direkomendasi - Belajar dari masyarakat PRINSIP - Org luar sebagai faslitator - Pemberdayaan PRCA - mengembangkan potensi & kapasitas diri - dimulai dari Community prole PCSD - mengembangkan kapasitas diri - dimulai dari masyarakat

Indikator Pemberdayaan

- Belajar dari masyarakat - Org luar sebagai faslitator - Pemberdayaan

- Belajar dari masyarakat - Outsider sebagai fasilitator - Interaction group

Dedy Irwandi, Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan Indikator Pemberdayaan Strategi Komunikasi Pembangunan SEC - Komunikasi inovasi - Multimedia murah - Keterlibatan semua kelompok masyakat PRINSIP - Orientasi praktis - Model pengembangan lokal PRCA - Timbal balik, sharing, mengutamakan yg terabaikan (gender) - Santai & informal - Fleksibel & adaptif eldwork, triangulasi - Mengurangi bias tekng. PCSD - Pemberdayaan - Berbagi Pengalaman - Berbuat bersama berperan bersama

37

- Model perencanan Sosial - Sustainable

- Sustainable & integratif - Model perenc. Sosial - Sustainable & integrratif PENDEKATAN PROGRAM PENDEKATAN PARTISIPASI YG DIGUNAKAN PELIBATAN FASILITATOR PROGRAM ACTION CAMPAIGN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN METODOLOGI - Mix approach topdown dan bottom-up planing - Dimulai dari petani Participatory: dalam strategi perencanaan, manajemen, dan implementasi di lapangan Sebagai expert trainer, dan supervisi garis depan Orientasi utamanya pada masyarakat petani KAP (pengetahuan, sikap, keterampilan) Kuantitatif Survey, training, komunikasi kelompok, training for trainers - perencanaan strategi (campaign. Strategic de.v) - Pendekatan system terintegrasi (campaign management planning) Lembaga Pelatihan Fasilitator dan Masyarakat Pergeseran sentralistik ke desentralistik Singkat; ( 18 bulan) Pengalaman keikutsertaan sebagai seseorang sederajat (equal) dalam proses bebagi pengetahuan keterampilan - Bottom-up - Dimulai dari basis community PRA, PLA, LFP,OOPP, etnogra, riset kuantitatif dan kualitatif, periklanan dan pemasaran Sebagai penghubung antara pihak luar dan community setempat Terpadu dan berorientasi pada community - Baseline = AKAP - PRCA = NOPS Kualitatif & kuantitatif Teknik visualisasi, wawancara, kelompok kerja merancang media dan metode komunikasi - Situation Analysis Framework (SAF), - Explatory - Topical - Sumberdaya komunitas lokal - Fasilitator Masyarakat Sendiri Desentralistik (pendelegasian wewenang) Lama: (1 s/d 3 tahun)

- Bottom-up - Dimulai dari masyarakat PRCA, Baseline study, communication objective, strategic communication Pemberi masukan atas keputusan di interaksi group Terpadu dan berorientasi pada interaksi group PRCA dan Baseline Study Mix method - Intervensi komunikasi - Diskusi tema dan desain pesan PRCA + interaksi group dengan analisis sebab akibat

METODE

KERANGKA KERJA

SUMBER INFORMASI PENGAMBILAN KEPUTUSAN PERAN PEMERINTAH WAKTU

Sumberdaya Lokal Masyarakat Sendiri Desentralistik Waktu yang lama (1 s/d 3 thn) Berbagi pengetahuan dan keterampilan yang equal

UKURAN KEBERHASILAN

Berbagi pengetahuan dan keterampilan yang equal

38

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 31 - 39 Indikator Pemberdayaan Strategi Komunikasi Pembangunan SEC - Mudah diterapkan dalam berbagai kampanye pembangunan - Membangun komunikasi dua arah antara masyarakat peneliti, penyuluh. KEKUATAN - Menghasilkan kader penyuluhan - Waktu yang singkat - Panduan/pedoman teknis sudah disiapkan - Focus pada permasalahan yang spesik - Evaluasi formatif dan sumatif dilakukan - Peran expert masih dominan - Partisipasi tidak menyeluruh KELEMAHAN - Bila belum diintegrasikan dalam sistem penyuluhan nasional hasilnya kurang efektif - tidak bisa diterapkan dalam spesik lokasi perlu pengkajian lanjutan untuk pengembangan luas PRCA PCSD

- Partisipasi tinggi (menempatkan msyarakat sebagai pusat pembangunan)

- Mengakomodir jaringan kerjasama sumberdaya dan informasi berbasis komunitas - Sasaran lebih - Menyelesaikan masalah maju dapat secara holistic (menyeluruh) mengindentikasi kebutuhan lokal. - Design program berdasarkan kebutuhan masyarakat - Peran fasilitator dominan setelah - Ealuasi dilakukan setiap identikasi masalah saat untuk memperbaiki ditemukan pelaksanaan program - Multidisiplin

- Apa yang akan dikomunikasikan pada sasaran sudah didesain terlebih dahulu.

- Bingkai framework cenderung mengabaikan - Peran fasilitator terlalu minim permasalahan lain (lemah) - Penerapan strategi - Metode yang rumit, waktu yang sedikit agak lama

akan baik, bila pelaksanaan PRCA dan baseline berjalan dengan lancar.

SIMPULAN
1. Tidak ada strategi komunikasi dapat yang diterapkan tanpa adanya keterlibatan peran orang luar (outsiders) sebagai faslitator pembangunan. Dari ketiga strategi komunikasi pembangunan pertanian yang disajikan semua mengutamakan konsep partisisipasi dan pemberdayaan. Perbedaannya terletak pada tujuan, proses dan pendekatannya, aplikasinya

disesuaikan dengan kondisi dan situasi masyarakat sasaran. 2. Strategi komunikasi yang berorientasi pemberdayaan menekankan pada aspek partisipasi komunitas lokal daripada introduksi dari luar. Sebagai agen pemberdayaan hanya memfasilitasi saja keputusan bahkan alter natif pemecahan masalah merupakan hasil kreasi komunitas itu sendiri.

Dedy Irwandi, Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan

39

3. Keberhasilan strategi komunikasi harus didukung oleh teori komunikasi yang relevan sebagai alat analisisnya, yang memungkinkan terjadinya efek komunikasi, seperti membangkitkan perhatian (attention), menumbuhkan minat (interest), hasrat melakukan (desire), memutuskan (decision) melakukan tindakan (action).

Korten, David C. 1989. Getting to the 21st Century. People Centered Development. USA: Kumrian Press. Ndraha, Taliziduhu. 1990. Pembangunan Masyarakat. Mempersiapkan Masyarakat Tinggal Landas. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta. Nasution, Zulkarimen. 2002. Komunikasi Pembangunan. Pengenalan Teori dan Penerapannya. Edisi Revisi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Participatory Communication Strategy Design (PCSD). 20004. Starting With the People A Handbook second Edition. Italy.Rome. FAO Partisipatory Rural Community Appraisal (PRCA). 2004. Starting With the People. A Handbook Second Edition. Rome. Italy: FAO. Rogers, E.M dan Shoemaker. 1986. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Disarikan dari Communication of Innovations oleh Hanafi. Surabaya: Usaha Nasional

DAFTAR PUSTAKA
Adhikarya, Ronny. 1994. Strategic Extension Campaign. A Partisipatory Oriented Method Agricultural Extension. Rome. Italy: FAO. Dilla, Sumadi. 2007. Komunikasi Pembangunan. Pendekatan Te r p a d u . Bandung: Penerbit Simbiosa Rekatama Media. Effendy, O Uchjana. 2002. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Penerbit Rosdakarya Ife, Jim dan Tesoriero, Frank. 2008 Community Development: A l t e r n a t i f Pe n g e m b a n g a n Masyrakat di Era Globalisasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

40

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 31 - 39

EKONOMI POLITIK PENDIRIAN MEDIA PENYIARAN TV LOKAL DI JAWA TIMUR


Surokim *

(*Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIB, Universitas Trunojoyo, Jln. Raya Telang P Box .O 2, Kamal, Bangkalan 69162, Telp (031) 3011146 Psw. 48. Faks. (031) 3011506 Email : surochiemabdussalam@yahoo.com)

ABSTRACT
Local TVs, as industry and bussiness, grew rapidly. Local TV hopefully had impact both in quantity and in quality for local broadcasting. To build a competitiveness of local tv, we needed a comprehensive planning including technic, content program, and bussiness. In fact, local tv faced a hard competitive with national tv having more advantages of the competiveness. Nevertheless, Local TV had to be main media for local people. Keywords: economy politic media, local tv, bussiness, content program, east java

PENDAHULUAN
Televisi lokal sebagai entitas bisnis berkembang pesat seiring dengan perubahan lanskap penyiaran di tanah air (Sudibyo, 2004). Demokratisasi penyiaran yang membawa dampak pada pertambahan jumlah tv lokal membuat penyiaran di daerah semakin semarak. Jumlah tv lokal di Jawa Timur yang semula pada tahun 2005 hanya ada 7 stasiun, naik drastis menjadi 35 stasiun pada tahun 2010. Pilihan program tayangan tv juga semakin beragam sehingga kompetisi antarstasiun penyiaran juga semakin ketat. Perkembangan ini membawa dampak positif yaitu mampu meningkatkan
41

partisipasi masyarakat lokal dalam penyiaran, tetapi disisi lain juga menyisakan dampak negatif yang tidak kalah pelik, yakni belum profesionalnya tv lokal. Kondisi tv lokal, sebagian besar, belum siap bersaing sehingga tidak mampu bertahan (survive) di tengah kompetisi media tv yang semakin ketat. Pendirian tv lokal banyak didorong oleh euforia politik an sich dan belum dibarengi dengan kesiapan teknis, program siaran, dan bisnis plan yang memadai. Akibatnya, tv lokal hanya terlihat megah pada tahun pertama operasional, sesudah itu tv lokal mulai menghadapi situasi sulit. Dalam kompetisi program siaran,

42

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 41 - 49

tv lokal tidak saja bersaing dengan sesama stasiun lokal, tetapi juga harus berhadapan dengan stasiun nasional yang lebih siap dan mapan dalam segala aspek (program siaran, teknis, dan bisnis) serta sudah lebih dahulu berdiri sehingga memiliki pengalaman mengelola tv secara profesional (best practice). Tidak dimungkiri, pangsa penonton tv nasional juga meliputi pemirsa lokal sehingga mau tidak mau tv lokal harus vis a vis dengan tv nasional.

Penyiaran tv akan sangat ditentukan oleh mutu program siarannya dan kualitas penerimaan signal (reception quality) di masyarakat. (Wahid, 2005). Program yang bermutu jika tidak didukung kualitas teknis yang memadai hasilnya juga tidak bisa dinikmati dengan jelas oleh pemirsa. Demikian juga dukungan teknis yang memadai jika tidak ditopang isi siaran yang memadai juga tidak akan dilirik pemirsa. Program yang bermutu dan teknis yang mendukung diyakini akan menarik atau menghasilkan banyak pemirsa dan pemirsa yang jumlahnya besar akan menarik bagi pemasang iklan di stasiun yang bersangkutan. Situasi ini membuat tv lokal kerapkali gamang menakar perannya sebagai media lokal yang diberi amanat untuk turut menumbuhkembangkan dan memelihara budaya lokal atau mengikuti selera pasar agar bisa tetap survive.

INVESTASI TV LOKAL
Bisnis tv lokal merupakan salah satu bisnis media yang membutuhkan biaya dan investasi awal yang besar. Menurut catatan penulis paling tidak dibutuhkan 10 milyard hingga 75 milyard untuk modal awal pendirian. Biaya itu meliputi pengadaan infrastruktur, peralatan produksi studio dan penyiaran (pemancar dan jaringan transmisi), dan biaya operasional untuk biaya produksi serta pengadaan (pembelian) program. Selain itu, investor juga harus menyediakan cadangan biaya untuk dua tahun berjalan agar tv bisa terus bersiaran dan mampu memroduksi program. Kemampuan suatu stasiun TV untuk memproduksi dan menyiarkan program bermutu, menarik, diminati, dan dibutuhkan masyarakat menjadi tantangan mengingat pada tahun-tahun awal pengoperasiannya tv lokal masih belum bisa menghasilkan keuntungan. Siaran tv komersial dari sisi teknis juga menghadapi tantangan yang ketat.

KONDISI PEMOHON TV LOKAL JATIM


Antusiasme publik lokal dalam mendirikan tv harus diimbangi dengan kesiapan program siaran, teknis, dan bisnis yang memadai. Regulator harus selektif untuk menghadirkan lembaga penyiaran yang sehat secara bisnis mengingat hanya lembaga penyiaran yang sehat secara bisnis yang dapat didorong untuk bisa menyuguhkan program siaran yang berkualitas. Penilaian pendirian tv lokal tidak hanya semata-mata hanya mendasarkan kepada aspek teknis ketersediaan kanal,

Surokim, Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur

43

daya dukung ekonomi dan keberagaman media, tetapi juga melakukan penilaian komprehensif mulai dari aspek legalitas hukum, manajemen, program dan teknis. Diharapkan lembaga penyiaran yang muncul adalah lembaga penyiaran yang berkualitas dan profesional. Dari analisis isi proposal pendirian lembaga penyiaran di Jawa Timur, masih banyak ditemukan kelemahan dalam aspek program dan manajemen-bisnis. Sebagian besar pemohon masih belum mampu menentukan segmentasi dan positioning secara jelas sehingga mereka bisa menentukan dengan jelas bagaimana road map pemirsa yang akan menjadi segmentasi tv mereka. Hal ini juga ditunjang kelemahan dalam menyusun bisnis plan sehingga tidak bisa memberi gambaran bagaimana posisi bisnis mereka hingga 5-10 tahun ke depan. Potret ini jika dicermati lebih dalam menyisakan agenda serius, khususnya bagi regulator penyiaran di daerah. Persoalan tersebut berkutat pada dilema kebijakan untuk menghadirkan lembaga penyiaran tv secara kuantitas atau kualitas. Jika pilihannya adalah kualitas sebagaimana yang diamanatkan undang undang, lalu hendak dikemanakan dan bagaimana nasib pemohon yang tidak dikabulkan perizinannya. Padahal para pemohon tersebut telah menginvestasikan modal yang tidak sedikit. Hal ini membutuhkan jawaban yang tidak mudah sekaligus mengisyaratkan kepada regulator untuk terus melakukan penyadaran kepada

masyarakat bahwa mengelola bisnis tv komersial itu tidak mudah, tidak gampang, dan penuh resiko. Dari pengamatan penulis selama melakukan verifikasi faktual keberadaan lembaga penyiaran tv di berbagai daerah di Jawa Timur terkait dengan kesiapan aspek hukum, manajemen, program dan teknis, sebagian besar besar mereka masih berorientasi asal-asalan. Banyak yang terkesan coba-coba dan mengandalkan peruntungan yakni hanya sekadar bisa bersiaran tanpa di dukung oleh studi kelayakan bisnis yang memadai. Hal ini juga terlihat di proposal permohonan yang sebagian besar lemah di dalam menyusun rencana strategis dan bisnis plan. Dari proposal pemohon 32 tv di Jawa Timur, menurut penilaian penulis tidak lebih dari 30% yang sehat secara bisnis. Belum lagi bisnis tv kini juga harus menghadapi persaingan dengan tv nasional yang secara bisnis memiliki kemampuan untuk menggaet iklan lebih besar ketimbang tv lokal.

KEPEMILIKAN TV LOKAL
Hasil pengamatan penulis, kepemilikan tv lokal di Jawa Timur masih belum merepresentasikan keberagaman pemilik (diversity of owneship) sebagaimana diamanatkan Undang Undang Penyiaran. Pemilik tv lokal pada dasarnya adalah pemain lama dalam media. Biasanya pemilik tv sudah memiliki media penyiaran seperti radio dan menjadikan tv lokal sebagai diversifikasi produk semata.

44

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 41 - 49

Kepemilikan media tv lokal, khususnya swasta masih belum benarbenar ber tumpu pada potensi dan keberdayaan publik lokal. Bahkan tidak jarang, pemain lokal hanya menjadi broker bagi pemilik dana dari Jakarta. Hal ini menarik untuk dicermati mengingat pendirian tv lokal sejatinya adalah untuk memberi peluang bagi publik lokal untuk turut serta merasakan distribusi pendapatan bisnis media.

melawan sesama TV lokal di daerah, tetapi juga harus siap melawan TV Jakarta yang bersiaran nasional. Kendati TV Jakarta sejatinya adalah lawan yang tidak sepadan yang -- mau tidak mau -- harus dihadapi dalam mengelola bisnis TV lokal. Hal yang diperebutkan pun hampir sama yaitu iklan produk nasional yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Publik tidak boleh silau semata-mata pada pencapaian harga iklan TV nasional yang bisa mencapai 30 juta per spot. Riil, mari kita bayangkan pencapaian atau kemampuan TV lokal yang hingga saat ini baru bisa mencapai 300 ribu perspot. Dengan harga iklan ini, sejatinya, bisnis mengelola TV lokal amat berat dan dibutuhkan kecerdasan untuk mampu bersaing di tengah berbagai keterbatasan yang dimiliki. Bisnis TV lokal menuntut profesionalme dan perencanaan yang matang. Manajemen harus memiliki road map dan proyeksi bisnis yang jelas hingga 5 tahun dan jika perlu 10 tahun ke depan. Pengelola TV lokal harus paham bahwa bisnis ini amat ditentukan oleh respon pasar dan lagi-lagi itu adalah kehendak pemasang iklan. Beratnya bisnis TV lokal harus menjadi renungan bersama bagi publik dan regulator penyiaran di daerah. Ada beberapa hal yang patut diperhatikan agar menjadi early warning bagi publik yang akan dan mulai membangun bisnis TV lokal.

PROSPEK BISNIS & TANTANGAN TV LOKAL


TV lokal sebagai entitas bisnis harus ditopang dengan manajemen usaha yang profesional agar bisa menghasilkan keuntungan guna menjamin keberlangsungnya. Membangun tv lokal juga membutuhkan waktu yang tida k pendek. Paling tidak dibutuhkan waktu 4 hingga 5 tahun bagi TV lokal agar bisa mencapai break event point (BEP). Karena itu, selain modal awal pendirian, manajemen TV lokal harus bisa menyediakan cadangan dana hingga 5 kali lipat guna menjamin keberlangsungan bisnis TV lokal. Artinya, dukungan modal menjadi tolok ukur dari performance TV lokal. Sebagai sebuah entitas bisnis, pengelola TV lokal harus mempertimbangkan prinsip-prinsip menjalankan bisnis TV. Selain membangun differensiasi dan posisioning, sedari awal mereka harus membangun jejaring permodalan. TV lokal juga harus siap melawan kompetitor di pasar terbuka. Mereka tidak hanya akan

Surokim, Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur

45

Pertama, TV lokal sejatinya berpacu di lahan sempit dengan biaya/ongkos operasional tetap tinggi. Selain itu, mereka harus melawan kompetitor nasional. Sekadar gambaran bahwa biaya operasional TV lokal rata-rata mencapai 5 juta perjam. Sementara spot iklan baru bisa mencapi 300 ribu perspot. Jika selang 5 menit setiap program diberi iklan maka dalam satu jam TV lokal hanya mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 3,6 juta. Dari angka kasar ini saja TV lokal akan mengalami kerugian hampir Rp.1,4 juta setiap jam. Jika rata-rata TV lokal bersiaran 12 jam sehari maka tinggal mengkalikan saja dan mereka akan mengalami kerugian sebesar 16 juta juta setiap harinya. Mengapa? Hal ini disebabkan masih terlalu rendahnya harga iklan yang bisa dicapai TV lokal. Barangkali logika inilah yang melatarbelakangi mengapa manajemen TV lokal dituntut untuk mampu menyediakan cadangan dana hingga 5 tahun pada saat biaya iklan belum mencapai harapan. Tragisnya, sudah harga iklannya rendah, lahan itu juga diserbu dan diperebutkan TV nasional yang memiliki jangkauan lebih luas. Pemasang iklan pasti akan memilih memasang iklan di TV nasional dengan coverage area lebih luas ketimbang TV lokal yang terbatas. Apalagi sejak bergabungnya TV nasional dalam satu grup membuat daya tawar mereka lebih kuat. Seperti kelompok Media Nusantara Citra (MNC) yang membawahi RCTI,

TPI, dan Global TV. Kelompok kedua grup Bakri yang membawahi ANTV yang kini berbagi saham dengan STAR TV dan Lativi yang kini menjadi TV One. Kelompok ketiga adalah PT Trans Corpora (Grup Para). Grup ini membawahi Trans TV dan Trans-7. Ketiga televisi swasta lainnya, yakni SCTV, Metro TV dan Indosiar, berdiri sebagai perusahaan sendiri. Saat ini, SCTV dan Indosiar dalam proses evaluasi untuk merger dalam grup Surya Citra Media. Kelompok media ini berkonsolidasi membangun konglomerasi media yang mampu menawarkan biaya iklan jauh lebih murah dan efisien ketimbang di TV lokal. Sekadar ilustrasi bahwa dengan 30 juta per spot, pengiklan di RCTI akan mendapat bonus iklan otomastis yang muncul di TPI, Global TV, dan Trijaya Network, di seluruh Nusantara. Konglomerasi media ini akan menjadi tantangan berat bagi tv tokal. Dalam situasi seperti itu, jelas TV lokal akan tertekan. Bagaimana mungkin mereka tetap bisa bersaing, jika TV lokal selalu kalah dalam jangkuan, penetrasi, rating dan audience share, serta konsolidasi usaha sejenis. Di sisi lain, iklan TV lokal selam ini justru masih banyak yang berasal dari iklan produk nasional (60 %). Kedua, Mengelola TV lokal ternyata tidak bisa mengandalkan segmentasi khusus. TV lokal yang diharapkan hadir dengan diversity of content-nya masih belum dilirik sepenuhnya oleh penonton lokal. Masih banyak penonton lokal yang

46

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 41 - 49

jatuh hati kepada program TV nasional. Karena itu, mengelola TV lokal lagi lagi harus kembali menjadi supermarket. TV lokal harus kembali kepada format umum yang mampu menghadirkan program hiburan untuk semua kalangan. Dengan demikian TV lokal harus menjual apa saja dan untuk kalangan mana saja serta tidak bisa hanya melayani kebutuhan spesifik tertentu untuk meningkatkan audience share-nya. Sudah jelas bahwa program khusus seperti dakwah, pendidikan, informasi masih belum mendapat tempat dihati permirsa lokal. Segmentasi khusus masih jauh dari apa yang diharapkan publik lokal. Kita tengok, beberapa TV nasional yang awalnya mengarap segmentasi khusus juga akhirnya tidak berdaya dan balik kucing. TPI yang membangun segmentasi khusus pendidikan harus bergeser ke segmentasi umum. Di tanah air ini, dimana budaya membaca masih belum mengakar, membentuk preferensi khusus pemirsa TV terhadap saluran khusus bukan perkara mudah. Mau tidak mau TV lokal harus menyajikan beragam isi agar pasar bisa merespons. TV lokal harus memperbanyak acara hiburan dan lagi lagi bukan segmentasi khusus sebagaimana banyak digagas TV lokal selama ini. Segmentasi news, anak-anak, sport masih belum bisa berkembang dan akhirnya semua balik kucing mengarap segmentasi umum. Dalam situasi publik masih belum mapan pendidikan dan status ekonomi,

keberadaan TV lokal masih akan masih menghadapi tantangan berat. Kini, semua pihak harus sadar bahwa demokratisasi penyiaran yang memberi peluang seluas-luasnya bagi partisipasi publik untuk mendirikan TV lokal cepat atau lambat akan membawa korban. Akhirnya, mekanisme pasar menjadi penentu dan menjadi palu godam bagi mereka yang hanya bermodal idealisme semata. Alih alih keberdaan TV lokal akan memberi kontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah, justru jika keberadaan TV lokal tidak dikelola dengan back up manajemen usaha yang mumpuni maka akan menambah sederet permasalah sosial yang bisa menganggu stabilitas daerah.

KOMODIFIKASI PROGRAM SIARAN TV LOKAL


Sebagai entitas bisnis, tv swasta lokal memang harus menjalankan fungsi sebagai usaha ekonomi dan bertindak sebagai industri media hiburan. Program siaran harus memiliki nilai guna sehingga dapat menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar (Moscow, 1996). Sebagai entitas industri media hiburan tv swasta ujung-ujungnya adalah mendapatkan keuntungan materi. Sebagai entitas bisnis maka sejak awal tv lokal harus mampu bertindak profesional dalam menjalankan usaha dengan menerapkan prinsip-prinsip usaha yang profesional sehingga dapat menjadi bisnis yang sehat dengan kualitas program yang sehat pula.

Surokim, Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur

47

Program acara tv lokal yang paling banyak disukai pemirsa di beberapa tv lokal di Surabaya Raya, Malang Raya, Bojonegoro, Madiun, Jember, Madura dan Kediri memperlihatkan bahwa selama ini acara yang paling banyak disukai penonton adalah acara musik, khususnya musik dangdut baik yang diproduksi secara recorded maupun live. Setelah itu musik tradisional daerah seperti campur sari dan lagu-lagu islami. Pada urutan berikutnya adalah acara kuliner (masakan daerah). Acara ini sedang trend dan banyak digemari masyarakat karena juga menyangkut wisata kuliner dan kunjungan daerah. Selanjutnya acara hiburan rakyat Jawa Timur, khususnya Ludruk dan Wayang Kulit. Baru disusul berita lokal dan komedi. Selain acara tersebut beberapa acara mulai menunjukkan trend meningkat diantaranya shooping tv, kuis, talkshow, seremoni daerah, reality show, Drama (sinetron), dan Dakwah. Ada juga kecenderungan tv lokal menayangkan drama luar negeri (seperti yang berasal dari Korea, Jepang, India, dan Taiwan). Hal yang tidak bisa dianggap remeh adalah persoalan sustainabilty, baik manajamen maupun program. TV lokal harus memiliki visi ke depan yang jelas, sehingga bisa diterjemahkan dalam misi dan program yang terukur mengingat perubahan yang sangat dinamis menyangkut lifestyle, teknologi maupun ilmu pengetahuan. TV lokal harus mampu mengantisipasi berbagai perubahan tersebut dengan cepat dan bisa mengambil

keuntungan dari perubahan tersebut melalui sisi bisnis, program, dan teknis. Beberapa tantangan bagi pengelola tv lokal ke depan. Pertama, terkait isi Program harus menarik, menghibur, dan mendidik. Selama ini data AGB Nielsen memperlihatkan bahwa publik lokal masih belum tertarik pada acara dengan segmen khusus, seperti pendidikan. Publik lokal masih menyukai acara hiburan serba gado-gado, sekadar hiburan. Menyiasati kondisi ini maka TV lokal harus melakukan edukasi pemirsa untuk menguatkan acara khusus, program-program khas genuin lokalis, juga tetap menjadi supermarket untuk memenuhi keinginan publik yang beragam. Kedua, terkait bisnis, tv lokal harus sehat secara bisnis dan menghasilkan keuntungan agar bisa berkembang. Selama ini tv lokal masih belum mampu untuk meningkatan pendapatan iklan dari produk-produk nasional karena kurang cermat dalam mengambil dan mengelola segmentasi pangsa pasar. TV lokal juga harus mampu mengambil kue share iklan nasional dengan terobosan programprogram lokal yang khas. TV lokal juga harus mampu menekan biaya produksi. Melihat tantangan bisnis seperti ini, maka TV lokal dituntut untuk meningkatkan kesiapan sehingga memiliki daya saing. Selama ini tidak jarang publik lokal malas melihat tv lokal karena kualitas gambarnya tidak jelas dan kalah jauh dari tv swasta nasional. Ketiga aspek tersebut harus selaras, serasi, seimbang sehingga

48

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 41 - 49

kehadiran tv lokal dapat dirasakan oleh publik lokal dan selaras dengan fungsi pembangunan masyarakat lokal. Dengan demikian kehadiran tv lokal tidak sekadar merayakan euforia politik reformasi an sich, tetapi hadir menjadi kebanggaan dan teman sejati publik lokal.

Prospek bisnis tv lokal ditengah kompetisi dengan tv nasional berat, sementara tatanan penyiaran yang adil bagi tv lokal sebagaimana diamanatkan dalam UU Penyiaran yaitu siaran berjaringan masih jauh panggang dari api. Di tengah situasi tersebut, tv lokal memerlukan kesiapan dalam komodifikasi isi program sehingga bisa menarik perhatian pemirsa lokal yang selama ini lebih banyak menonton program tayangan tv nasional.

SIMPULAN
Keberadaan TV lokal telah memiliki legitimasi hukum dalam dalam lanskap penyiaran nasional. Sebagai wujud desentralisasi bidang penyiaran tv lokal diharapkan dapat membawa dampak pada kualitas dan kuantitas penyiaran di daerah. Pendirian TV lokal sebagai industri media membutuhkan Investasi yang besar sehingga bisnis ini memerlukan perhitungan yang cermat tidak hanya aspek teknis, program, juga bisnis plan yang memadai. Resiko bisnis tv lokal tinggi selain disebabkan karena investasi biaya yang tinggi juga daya dukung ekonomi dan politik yang masih berpihak pada tv Jakarta. Industri tv lokal harus berhadapan dengan kenyataan pahit yakni mengais sisa-sisa iklan limpahan dari tv nasional yang lebih unggul baik dalam coverage area maupun akses ekonomi bisnis penyiaran. Kepemilikan tv lokal masih belum merepresentasikan keberagaman pemilik lokal sebagaimana diamanatkan Undang Undang Penyiaran. Pemilik tv lokal masih didominasi para pemain lama yang sudah memiliki media penyiaran radio dan para investor dari Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Masduki, 2007. Regulasi Penyiaran, D a r i O t o r i t e r ke L i b e r a l , Yogyakarta: LKiS McQuail, Dennis. 1992. Media Pe r f o r m a n c e : Mass Communication and the Public interest, London: Sage Publications. Mosco, Vincent. 1996. The Political Economy of Communication: Rethinking and Renewal, London: Sage Sudibyo, Agus. 2004. Ekonomi Politik Media Penyiaran, Yogyakarta: LKiS Wahid, Wardi. 2005. TV Lokal : Mampukah Mereka Bersaing? dalam [http:// tvconsulto.com] diakses 7 Mei 2011

Dokumen:
U U N o. 3 2 Ta h u n 2 0 0 2 t e n t a n g Penyiaran

Surokim, Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur

49

Koran :
Surokim Hati-Hati Investasi TV Lokal. Surya, 11 September 2008 ------------ Rivalitas TV Jakarta Vs TV Lokal Dalam Pilkada. Jawa Pos, 22 Agustus 2008 ------------ Apa yang dicari dari Bisnis Penyiaran Lokal. Radar Surabaya, 8 Mei 2008

---------- Menunggu Realisasi Siaran L o k a l B e r j a r i n g a n . Radar Surabaya, 14 November 2009 ----------- Kekerasan di TV. Surya, 22 April 2010 --------- M en cegah S i ar an Ta k Bermutu. Surya, 3 Februari 2010 ------------ Survivalisme TV Lokal Surabaya. Radar Surabaya, 20 Februari 2010

50

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 41 - 49

ISLAM IDEOLOGI DAN TERBANGUNNYA PARTAI POLITIK ISLAM (Studi pada Partai Keadilan Sejahtera)
Lusi Andriyani,

( Dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,Jalan Mojopahit No.666 B Sidoarjo Telp. 031-8945444 exct.18, fax: 031-8949333 email: lusi_to@yahoo.com)

ABSTRACT
The problem analyzed in this research is how the process of Islam identity enhancement in PKS and its effect toward the democracy in Indonesia.The results of this research are hoped to be beneficial academically to give a contribution to the development of concept about identity in Indonesia.This research utilizes qualitative approach and takes PKS in Surabayas areas as the object The data is analyzed qualitatively with explanative descriptive model. PKS uses democracy as an instrument for its dakwah agenda with its exclusivity to block the implementation of democracy in Indonesia. The process of identity enhancement is illustrated with its physical identities. The party identity as a cadre party and dakwah party which is implemented toward construction process of Islamic values which are developed by the Ikhwanul Muslimin community. The enhancement process is emphasized more to the highly selective cadre pattern. The PKS views the sovereignty held by society must be still based on the Illahiah and not only be based on the societys sovereignty. PKS has a view that Western democracy which is applying in Indonesia is an instrument to get power and as a way to spread the Islamic democracy ideas which they hold. The democracy concept offered by PKS points to the role of Majelis Syuro . Keywords: Islam identity, Islamic Value and dakwah party

PENDAHULUAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena semakin berkembangnya politik identitas seiring dengan pola pemerintahan yang bersifat otoriter dan sentralistik. Dalam kondisi tersebut
51

keragaman identitas yang dimiliki baik secara perseorangan maupun kelompok tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk berekspresi atau mengaktualisasikan diri (Islam dan Politik, Jafarsuhud.blogspot. com).

52

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

Fenomena munculnya partai Islam dalam pemilu setelah runtuhnya orde baru yang dimulai pada pertama kali tahun 1999 seperti yang tergambar dalam tabel

partai politik islam yang menjadi peserta (kontestan) pemilu tahun 1999 di bawah ini :

Tabel. 1 Perolehan kursi parpol DPR RI hasil pemilu 2004 dibandingkan pemilu 1999

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Nama Partai Partai Nasional Indonesia Marhaenisme Partai Buruh Sosial Demokrat Partai Bulan Bintang Partai Merdeka Partai Persatuan Pembanguan Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan Partai Perhimpunan Indonesia Baru Partai Nasional Banteng Kemerekaan Partai Demokrat Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia Partai Penegak Demokrasi Indonesia Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Partai Amanat Nasioal Partai Karya Peduli Bangsa Partai Kebangkitan Bangsa Partai Keadilan Sejahtera Partai Bintang Reformasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Partai Damai Sejahtera Partai Golongan Karya Partai Patriot Pancasila Partai Sarikat Indonesia Partai Persatuan Daerah Partai Pelopor TOTAL

Jumlah Suara 906,739 634,515 2,965,040 839,705 9,226,444 1,310,207 669,835 1,228,497 8,437,866 1,420,085 844,480 890,980 7,255,331 2,394,651 12,002,885 8,149,457 2,944,529 20,710,006 2,424,319 24,461,104 1,178,738 677,259 656,473 896,603 113,125,750

% 0.80 0.56 2.62 0,74 8,16 1,16 0,59 1,09 7,46 1,26 0,75 0,79 6,41 2,12 10,61 7,20 2,60 18.31 2.14 21,62 1.04 0.60 0,58 0,79 100

Kursi 2004 1 11 58 4 55 1 1 0 53 2 52 45 14 109 13 128 3 550

% 0.18 0.00 2.00 0,00 10,55 0,73 0.00 0.00 10,00 0,18 0,18 0.00 9,64 0,36 9,45 8,18 2,55 19,82 2,36 23,27 0.00 0.00 0.00 0,55 100

Kursi 1999 13 58 4 2 5 34 51 7 151 118 3 12 458

% 0.00 0.00 2.84 0,00 12,66 0.00 0.00 0.00 0.00 0,87 0,44 1,09 7,42 0.00 11,14 1,53 0.00 32,97 0.00 25,76 0.00 0.66 0.00 0.00 0.00 2.62 100

Sumber : www.cetro.or.id diakses pada tanggal 18 Maret 2008

Lusi Andriyani, Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam

53

Banyaknya partai Islam yang muncul sebagai kontestan pemilihan umum merupakan akibat dari sistem kepartaian yang diterapkan oleh orde baru yang hanya mengakui tiga partai politik sebagai kontestan pemilu. Salah satu partai politik Islam yang menggunakan identitas keislamannya adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang memiliki ideologi Islam dan identitas bersih dan peduli dimana pilihan-pilihan yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah mencerminkan ideologi yang mereka anut, sementara aktualisasi diri kader PKS di lapangan telah mencerminkan identitas mereka (Kompas,7 Mei 2005). PKS sebagai partai baru menyandarkan dirinya sebagai partai politik yang lebih modern dengan basis kelas menengah yang lahir dari kampus dengan motor penggerak melalui lembaga dakwah kampus dan organisasi kemahasiswaan KAMMI . Ada beberapa catatan penting yang menjadi dasar kajian islam dan identitas politik berkaitan dengan peran Partai Keadilan Sejahtera dalam percaturan politik nasional berdasarkan observasi, antara lain: Pertama, tampilnya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai salah satu partai dengan perolehan suara yang signifikan. PKS membuktikan bahwa konsolidasi organisasi yang rapi serta artikulasi gagasan yang substansial, membumi lagi berkesinambungan merupakan modal penting. Kedua, Perolehan suara yang cukup berarti yang diraih oleh

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mampu menaikkan kembali kepercayaan umat akan eksistensi perpolitikan Islam. Ketiga, Pentingnya penataan organisasi disamping rasa percaya diri untuk menjadikan agama sebagai ideologi partai. Keempat, PPP dan PKS yang telah melewati electoral threshold, meskipun komposisi suara yang diraih oleh kekuatan politik Islam secara keseluruhan sesungguhnya terpecah kedalam lima partai berazas islam yakni PPP PKS, PBB, PBR dan PPNUI. , Dari uraian latar belakang di atas, memunculkan permasalahan mengenai identitas politik Islam yang ada di Indonesia yaitu : Bagaimana penguatan politik identitas islam di Partai Keadilan Sejahtera dalam proses demokratisasi di Indonesia!

KERANGKA TEORETIS Islam Sebagai Ideologi


Ideologi merupakan konsep yang kontraversial dalam analisis politik, meskipun kata ideologi digunakan untuk menggambarkan tentang pandangan alamiah yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat atau pandangan dunia. Semakin banyak ideologi yang berkembang akan semakin berbeda diantara mereka. Ada beberapa ideologi yang berkembang didalam masyarakat antara lain: Kapitalisme, Komunisme, Konsevatisme, Enveriomentalisme, Fasisme, Feminisme. Ada dua pengertian yang berkaitan

54

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

dengan ideologi, yaitu ideologi secara fungsional dan ideologi secara struktural. I d e o l o g i secara fungsional dapat diartikan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama, atau tentang masyarakat dan negara, politik dianggap paling baik yang dapat digolongkan dalam dua tipologi yaitu doktriner dan pragmatis. Sehingga ideologi yang berdasarkan agama meyakini bahwa agama dapat menyelesaikan berbagai masalah, baik yang bersifat mental-spiritual maupun fisik-material. Oleh karena itu agama selalu dilibatkan oleh para pemeluknya untuk merespon berbagai masalah aktual yang dihadapinya sehingga kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan (Nata:2002:ix). Sedangkan ideologi secara struktural diartikan sebagai suatu sistem pembenaran seperti gagasan dan formula politik ataupun kebijakan serta yang diambil oleh pemerintah ataupun penguasa (Surbakti:1992:32). Ideologi juga terkait dengan konteks historis munculnya sebuah pemikiran, hal yang mengintervensi pemikiran tersebut, sehingga memunculkan tindakantindakan apa yang dapat diubah dan sumbangan-sumbangan yang diberikan dalam upaya membangun sebuah ideologi. Permasalahan yang menjadi isu penting dalam membahas ideologi adalah sejauh mana ideologi dapat berpengaruh dalam kenyataan praktis. Hal yang sangat mungkin muncul dalam praktek politik sehari-hari adalah ketika ideologi ini digunakan sebagai alat bagi

pengabsahan dari pimpinan-pimpinan partai atau politisi pada umumnya dalam memperkuat posisi dalam tindakantindakannya dimata lingkungan politiknya (Faturahman:2002:49). Melihat konteks sejarah yang ada dalam Islam, sejarah Islam sebagai sebuah mazhab pemikiran, sebagai sebuah kebudayaan, sebagai sebuah sistem kepercayaan lintas sosial dan historis dan norma-norma masih ditulis, diajarkan dan digunakan sebagai sebuah ideologi legitimasi (Esposito:1999:32-33). Pembahasan ideologi dalam konteks Islam juga terkait dengan arena sejarah yang ditandai sebuah tingkatan yang lebih besar atau kecil dengan apa yang disebut sebagai Fenomena Quranik atau fenomena islami (Esposito:1999:3233). Selaras dengan pandangan tersebut maka, Al-Mawdudi mendiskripsikan Islam sebagai sebuah ideologi revolusioner yang bertujuan untuk mengubah tatanan sosial dan membangunnya kembali berdasarkan ideologinya sendiri (Azzra:1999:171). Al-Mawdudi juga menyetujui adanya keterkaitan islam di suatu negara dengan dasar pemikiran bahwa; Agar mendatangkan manfaat, maka ideologi harus memiliki dukungan empiris dan harus merujuk pada kasuskasus atau contoh-contoh tertentu karena membangun sebuah pola hidup hanya melalui kerangka yang abstrak adalah sesuatu yang tidak mungkin. Ideologi harus menunjukkan nilainya dengan mengembangkan sistem kehidupan

Lusi Andriyani, Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam

55

yang sejahtera dan berhasil, serta harus merumuskan teori-teori dan prinsip-prinsip dasarnya kedalam bentuk operasional (Azzra:1999:173). Islam juga suatu ideologi yang terkemuka, dan sebagai ideologi Islam mempunyai fungsi integratif dalam sistem politik negara serta dapat memainkan peran disintegratif seandainya ideologi islam mengambil sikap tidak toleran terhadap kelompok-kelompok minoritas (Esposito:1986:38). Penerapan Islam sebagai sebuah ideologi mempunyai pengaruh yang berbeda-beda pada setiap negara. Dalam pandangan politik, kesadaran masyarakat yang semakin meningkat terhadap peran islam sebagai ideologi akan memperkuat konsensus yang ada dalam masyarakat sehingga akan dapat menimbulkan ketegangan pada kelompok minoritas. Kemungkinan penerapan Islam sebagai ideologi oleh pihak yang berkuasa sangat tergantung pada sejauh mana penguasa mampu menerapkan dan menggunakan ideologi islam secara menguntungkan. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh penguasa yaitu dengan memanfaatkan media massa, lembaga pendidikan dan lembaga keuangan yang digunakan untuk menguasai lembaga-lembaga keagamaan. Baik penguasa maupun kaum oposisi selalu menggunakan simbol-simbol islam dalam kegiatan politik mereka. Di sisi lain kaum oposisi juga berperan penting dalam penggunaan ideologi Islam, mengingat

kenyataan bahwa sedikit perkembangan prosedur yang terlembaga bagi perubahan politik, dimana tidak terdapat oposisi loyal dan proses suksesi yang normal (Esposito:1986:42).

Partai Agama
Partai politik dapat diartikan sebagai sebuah organisasi yang terbangun dari kelompok-kelompok yang bertujuan untuk mendapatkan jabatan publik dalam pemerintahan, dengan identitas-identitas tertentu (Faturahman:2002:270). Ada tiga teori yang menjelaskan tentang asal-usul partai politik (Surbakti:1992:113): 1) Teori Kelembagaan : teori yang melihat adanya hubungan kelembagaan antara parlemen awal dan timbulnya partai politik. 2) Teori situasi historis: Munculnya partai politik sebagai upaya untuk mengatasi krisis yang ada dalam masyarakat yang disebabkan karena perubahan masyarakat secara luas. 3)Teori Pembangunan : Yang melihat partai politik sebagai produk dari modernisasi sosial ekonomi. Dengan demikian yang dimaksud dengan par tai politik merupakan organisasi yang mempunyai kegiatan yang berkesinambungan, yang berakar dalam masyarakat lokal dan melakukan kegiatan terus menerus, berusaha memperoleh dan mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan serta ikut serta dalam pemilihan umum (Surbakti:1992:114115). Dengan cara yang berbeda Austin Ranney membuat batasan konseptual dengan melihat karakteristik-

56

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

karakteristik fundamental antara lain (Faturahman:2002:270-271) : a. Partai politik adalah kelompokkelompok masyarakat yang beridentitas. b. Terdiri dari beberapa orang yang terorganisasi yang dengan sengaja ber tindak bersama sama untuk mencapai tujuan partai. c. Partai politik memiliki legitimasi berupa hak-hak untuk mengorganisasikan dan mengembangkan diri mereka. d. Partai politik mempunyai tujuan untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas, partai bekerja melalui mekanisme pemerintahan yang mencerminkan pilihan rakyat e. Partai politik mempunyai aktivitas untuk menyeleksi kandidat untuk jabatan publik. Dari pandangan diatas, maka partai agama dapat dimaknai sebagai kelompok masyarakat dengan identitas agama sebagai identitas partai.

HASIL DAN PEMBAHASAN Partai Keadilan Sejahtera


Partai Keadilan Sejahtera lahir dari sebuah gerakan sosial keagamaan yang mempunyai orientasi dan pemikiran Islam yang dibawa oleh gerakan Ikhwanul Muslimin. Pemikiran tersebut berkembang dan menjelma menjadi sebuah gerakan dengan nama Tarbiyah. Gerakan tarbiyah merupakan embrio munculnya Partai Keadilan Sejahtera. Dalam perkembangannya Partai Keadilan berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pemikiran Ikhwanul Muslimin sendiri diserap oleh para aktivis gerakan Tarbiyah di Indonesia. Dalam perkembangannya Partai Keadilan menjadi Par tai Keadilan Sejahtera. Definisi Par tai Keadilan Sejahtera tidak luput dari makna keadilan yang diambil sebagai identitas atau nama partai yang mempunyai arti sebagai situasi naluriyah yang terus tumbuh pada diri manusia, dengan demikian upaya untuk menegakkan keadilan berakar pada fitrah manusia. Konsep keadilan menuntut kepada setiap individu untuk memerankan dirinya sebagai mahluk moral yang merdeka. Dua unsur kata yang penting: Adil dan Sejahtera, yang di terjemahkan kedalam visi Partai Keadilan Sejahtera. Kata adil mempunyai makna adanya sebuah kondisi dimana entitas dan kualitas kehidupan ditempatkan secara proporsional. Sedangkan sejahtera mempunyai makna sebuah upaya yang

METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengambil objek Partai Keadilan Sejahtera Wilayah Surabaya. Alasan mendasar yang digunakan adalah PKS mempunyai basis massa umat Islam dengan segmentasi masyarakat terdidik atau kelas menengah. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara kualitatif dengan model deskriptif eksplanatif dan dinarasikan dalam bentuk laporan yang lebih sistematis.

Lusi Andriyani, Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam

57

mengarahkan pembangunan pada pemenuhan lahir dan batin manusia agar manusia dapat menfungsikan dirinya sebgai hamba dan khalifah Allah, yakni keseimbangan antara kebutuhan dan sumber pemenuhannya . Pertai Keadilan Sejahtera mempunyai visi umum: Sebagai partai dakwah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan umat dan bangsa. Sedangkan visi khususnya Partai berpengaruh baik secara kekuatan politik, partisipasi, maupun opini dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang madani. Adapun misi yang dibangun oleh Partai Keadilan Sejahtera adalah (www.pksejahtera.or.id; 3 Nopember 2007): 1. Menyebarluaskan dakwah Islam dan mencetak kader-kadernya 2. Mengembangkan institusi-institusi kemasyarakatan yang islami diberbagai bidang 3. Membangun opini umum yang Islami dan iklim yang mendukung bagi penerapan ajaran Islam yang solutif dan membawa rahmat 4. Membangun kesadaran politik masyarakat, melakukan pembelaan, pelayanan dan pemberdayaan hakhak kewarganegaraannya 5. Menegakkan amar maruf nahi munkar tehadap kekuasaan secara konsisten dan kontinu dalam bingkai hukum dan etika Islam. 6. Secara aktif melakukan komunikasi, silaturrahim, kerjasama dan islah dengan berbagai unsur atau kalangan

umat Islam untuk terwujudnya ukhwah Islamiyah dan wihdatul-ummah, dan dengan berbagai komponen bangsa lainnya untuk memperkokoh kebersamaan dalam merealisir agenda reformasi. 7. Ikut memberikan konstribusi positif dalam menegakkan keadilan dan menolak kedhaliman khususnya terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas. Keanggotaan Par tai Keadilan Sejahtera terbagi atas tiga jenjang: Anggota kader pendukung, anggota kader inti, anggota kader kehormatan. Adapun syarat keanggotaan dalam Partai Keadilan Sejahtera secara umum tercantum dalam pasal 1 dan 2 antara lain adalah (www. pk-sejahtera.or.id; 3 Nopember 2007) : Dalam analisis politik sebuah ideologi digunakan untuk menggambarkan tentang pandangan alamiah yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat. Ideologi Partai Keadilan Sejahtera berasal dari pemikiran Ikhwanul Muslimin yang memandang Islam sebagai agama sekaligus negara yang menolak gagasan sekulerisme. Islam dipandang sebagai ajaran yang mengandung keseluruhan aturan hidup yang harus diwujudkan dalam masyarakat dengan melakukan jihad sebagai bentuk perjuangan untuk merubah situasi yang dipandang belum Islami menjadi Islami. Pemikiran-pemikiran Ikhwanul Muslimin diambil oleh Partai Keadilan Sejahtera sebagai metode dakwah yang mempunyai karakteristik berbeda dengan

58

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

jamaah islamiyah lain. Karakteristik yang membedakan antara lain : a. Rabbaniyah: Tujuan dari seluruh kegiatan adalah terwujudnya kedekatan dengan Allah SWT. b. U n i v e r s a l : D a k w a h d i a r a h k a n keseluruh umat manusia, karena umat manusia adalah saudara dari Bapak yang sama. c. Islamiah: Islam sebagai karakteristik utama. d. Komprehensif: Mencakup seluruh aliran kontemporer yang menjadi fikrah untuk mencakup seluruh aspek perbaikan yang meliputi atas : o Dakwah Salafiyah: Menyerukan gerakan kembali kepada Islam yang bersumber pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. o Thariqah Sunniyah: Mewajibkan diri mereka mengamalkan Sunnah yang suci dalam segala hal. o Haqiqah Shufiyah: Asas kebaikan adalah kesucian jiwa. o Lembaga politik: Menuntut perbaikan pemerintahan dan menegakkan khilafah. o Organisasi olah raga: Mumin yang kuat lebih baik dengan mumin yang lemah, dan seluruh beban yang diberikan Islam tidak mungkin dapat dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan tubuh yang kuat. o Organisasi Ilmiah dan Budaya: Islam menjadikan mencari ilmu sebagai kewajiban atas setiap muslim dan muslimah. i. j. f.

o Lembaga ekonomi: Islam sangat memperhatikan pengelolaan harta benda dan upaya mendapatkannya o Pemikiran sosial: Berusaha untuk mendapatkan solusi bagi segala persoalan masyarakat Islam. e. Membebaskan loyalitasnya dari setiap pemerintahan dan partai-partai yang tidak berpijak atas dasar Islam. Menjauhi wilayah perselisihan Fiqih, sebab mereka mempunyai keyakinan bahwa perbedaan dalam hal furu merupakan persoalan yang tidak dapat dielakkan akibat perbedaan akal manusia dalam memahami nash. g. Menjauhkan diri dari kooptasi para tokoh dan elit, karena dakwah harus independen sehingga tidak dimanfaatkan atau diarahkan oleh seseorang diantara mereka. h. Menjauhi partai-partai politik sebab antar partai politik terdapat pertentangan dan saling bermusuhan. Mengutamakan aspek amaliyah. Sambutan luas para pemuda atas dakwah. k. Dakwah Ikhwanul Muslimin sangat cepat menyebar. Ideologi Partai Keadilan Sejahtera lebih mengarah pada fundamentalisme dengan maksud bahwa ideologi yang digunakan oleh Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai politik berkaitan dengan persoalan keagamaan yang mampu mendukung adanya kebenaran dan kejujuran. Penggunaan ideologi yang

Lusi Andriyani, Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam

59

berdasarkan pada agama islam yang digunakan oleh Partai Keadilan Sejahtera dapat di identifikasi melalui penggunaan bahasa secara umum atau melalui penggunaan kata-kata khusus. Seperti yang ada dalam partai keadilan sejahtera yang mendeklarasikan Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai yang mempunyai asas islam. Ideologi yang digunakan oleh Partai Keadilan Sejahtera secara fungsional dapat diartikan sebagai seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama, atau tentang masyarakat dan negara yang dapat dicapai dengan dasar agama islam. Partai Keadilan Sejahtera meyakini bahwa agamaiIslam dapat menyelesaikan berbagai masalah, baik yang bersifat mental-spiritual maupun fisik-material. Oleh karena itu agama islam selalu dilibatkan Partai Keadilan Sejahtera secara organisatoris dan para penganutnya untuk merespon berbagai masalah aktual yang di hadapinya sehingga kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan. Sedangkan secara struktural diartikan sebagai suatu sistem pembenaran seperti gagasan dan formula politik ataupun kebijakan yang di ambil oleh Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai politik.

mendakwahkan nilai-nilai islam kepada masyarakat. Sehingga identitas Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai dakwah telah tergambar dengan jelas melalui statemen dan jargon yang digunakan dalam setiap politik praktis. Adapun strategi dakwah melalui jamaah dakwah yang berbasis pada aktivitas tarbiyatul-ummah merupakan metode yang dipakai sebagai upaya menyebarkan nilai-nilai islam kepada masyarakat yang telah berpengaruh pada penguatan identitas Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai Islam. Gerakan politik yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera telah diterjemahkan sebagai sebuah gerakan dakwah yang harus memiliki 10 prinsip pokok (Aminuddin:2008:48): prinsip yang kokoh (rusukul mabda),visi yang jelas, konsep yang aplikatif, kader-kader yang mumpuni, pemimpin yang kharismatik, organisasi yang efektif, dukungan masyaraka, Mempunyai ekonomi dakwah yang berkembang, dukungan birokrat, dukungan tentara. Partai Keadilan Sejahtera sebagai partai dakwah pada hakekatnya menyandarkan setiap aktivitas politiknya untuk mencari taufik dan hidayah Allah. Untuk itu segala perencanaan yang dibangun harus berpatokan pada hukum Allah.

Identitas Politik Partai Keadilan Sejahtera

Partai Keadilan Sejahtera Sebagai Partai Dakwah


Secara eksplisit PKS adalah partai politik yang mempunyai orientasi untuk

Partai Keadilan Sejahtera Sebagai Partai Kader


Identitas PKS sebagai partai kader dimaknai bahwa kader merupakan motor penggerak utama kekuatan partai,

60

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

sehingga kaderisasi sebagai program utama dalam membangun dan mengembangkan PKS .Nilai-nilai islam yang muncul dalam setiap tindakan politik praktis PKS harus mengacu pada konsep pengkaderan yang mampu membangun PKS sebagai partai islam dan mempunyai identitas bersih, peduli dan profesional. PKS dengan identitas partai kader menempatkan kader partai sebagai modal pokok dan penggerak utama partai, sehingga dalam pengembangannya telah dirumuskan strategi mobilisasi kader kedalam segala sektor untuk memperkuat posisi partai dalam merebut kekuasaan secara konstitusional. Strategi menggerakkan kader partai dilakukan dengan penyebaran kader ke organisasi/ lembaga diberbagai sektor kehidupan menuju pusat kekuasaan dan kebijakan, menempatkan posisi atau karir kader dakwah dalam lembaga atau organisasi tersebut, serta berperan dalam mempengaruhi dan mengimplemenetasikan kebijakan publik agar sesuai dengan manhaj islam.

identitas barunya sebagai partai dakwah. PKS mencoba untuk mentransformasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat yang dipandang telah mengalami resistensi karena masuknya pemikiran-pemikiran Barat seper ti sekulerisme, demokrasi dan globalisasi. langkah yang ditempuh antara lain: a. Melalui sarana dakwah dan kaderisasi untuk mengokohkan arti beragam sebenarnya pada setiap pribadi dan keluarga baik dalam ucapan maupun perbuatan. b. Membina dengan cara yang benar sesuai dengan Al-quran dan Sunnah dalam hal ibadah, akhlak, muammalah, ruhiyah, jasmaniyah. c. Melakukan pembinaan kualitas anggota baik dalam skala individu, keluarga maupun komunitas kerja dan profesi. d. Mempunyai bidang-bidang dalam struktur meliputi bidang: kewanitaan, pembinaan kader, ekuintek, kesra, pembinaan wilayah, pembinaan pemuda.

Kaderisasi Sebagai Proses Penguatan Identitas Politik Islam di PKS


Kaderisasi adalah metode yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera untuk menginternalisasikan nilai-nilai islam sebagai upaya untuk menguatkan identitas. Internalisasi nilai-nilai islam dalam PKS sebagai bentuk Project Identity yang berusaha untuk mendefinisikan kembali posisi mereka dalam masyarakat dengan

Strategi Pengkaderan Partai Keadilan Sejahtera


Dalam upaya menguatkan identitas dan memperkokoh langkahlangkah yang dilakukan oleh Partai Keadilan Sejahtera, majelis syuro PKS menetapkan beberapa langkah sebagai untuk mengokohkan gerakannya antara lain (Aminuddin,2008,29-35): Soliditas

Lusi Andriyani, Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam

61

struktur, peta dakwah yang jelas, mengkaji peta dakwah dengan mendalam, perencanaan yang kokoh dan fleksibel, harus ada pembagian kerja, harus ada pendelegasian, hadir dan eksis Kader yang ada di Partai Keadilan Sejahtera dihasilkan dari pola rekruitmen peserta sebagai salah satu alat penjaringan anggota masyarakat untuk diikutsertakan dalam halaqah tarbiyah. Rekruitmen PKS melalui halaqah tarbiyah menggunakan dua metode; metode fardi dan jamai .

secara penuh pada kurikulum yang dikembangkan oleh manhaj tarbiyah. Setiap kader partai harus mampu menunjukkan identitas keislaman berdasarkan nilainilai yang telah disosialisasikan melalui pola rekruitmen kader yang sangat ketat dengan tujuan akhir untuk mensukseskan agenda dakwah.

DAFTAR PUSTAKA
Abdilah, Ubed, 2002. Politik Identitas Etnis: Pergulatan Tanda Tanpa Identitas. Magelang Indonesia Aminuddin.Hilmi. 2008. Menghilangkan Trauma Persepsi. Jakarta: Arah Azra,Azyumardi.1996.Pergolakan Politik Islam: Dari Fundamentalisme, Modernisme Hingga Po s t M o d e r n i s m e . Jakar ta: Aramadina. Esposito, John L.. 1999. Dialektika Peradaban: Modernisme Politik dan Budaya diakhir Abad 20. Yogyakarta: Qalam. Esposito,John L.1986. Identitas Islam Pada Perubahan Sosial Politik. Jakarta: Bulan Bintang. Faturrahman,Deden.2002 Pengantar I l m u Po l i t i k . U n i v e r s i t a s Muhammadiyah Malang press Surbakti, Ramlan .1992. Memahami Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia S u s a n t o, H a p p y, ( 2 0 0 4 ) : I n t e r n e t : Memahami Realitas PKS, diakses pada tanggal 8 April 2008, h t t p : / / i s l a m l i b . c o m / i d / i n d ex . php?page=article&id=715

SIMPULAN
Dari penelitian yang dilaksanakan dapat diambil kesimpulan bahwa penguatan identitas Partai Keadilan Sejahtera ditunjukkan dengan identitas fisik (simbolik dan atributif) seperti lambang partai, warna baju, jargon bersih, peduli dan profesional serta identitas partai sebagai partai kader dan partai dakwah dilaksanakan melalui proses internalisasi nilai. Internalisasi nilai berkaitan erat dengan nilai-nilai Islam yang dikembangkan oleh jamaah dakwah melalui manhaj tarbiyah yang mengadopsi pemikiran Ikhwanul Muslimin khususnya pemikiran yang berasal dari Hasan AlBana. Proses penguatan di Partai Keadilan Sejahtera lebih ditekankan pada pola kaderisasi yang sangat selektif dan ketat dengan mengacu pada manajemen manhaj tarbiyah, sehingga materi yang disampaikan sebagai bentuk internalisasi nilai kepada kader partai disandarkan

62

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 51 - 62

Yusanto,Ismail. 1982.Seri Manhaj Tarbiyah: Manajemen Tarbiyah Anggota Pemula, DPP Partai Keadilan Sejahtera, Departemen Kaderisasi, Bandung: Syamil Cipta Media. Yusanto, Ismail. Kompas, Oportunisme, Krisis Identitas dan Ideologi, 07 Mei 2005

Yusanto,Ismail. (3 November 2007): Internet: Halal Bi Halal Spesial PKS Mesir: Dibanjiri Kader, di Hujani Pertanyaan, diakses tanggal 3 Pebruari 2008, www.PKsejahtera.or.id

KEPEMIMPINAN STRATEGIS PADA PELAYANAN PUBLIK BUILDING THE TRUST


Isnaini Rodiyah

(Dosen Tetap Ilmu Administrasi Negara FISIP Umsida, Jln. Mojopahit 666 B Sidoarjo.

Telp. 031-8945444)

ABSTRACT
The service quality can be done through the changes of vision and orientation that is more focused on the public interest service. In this case, leaders have important strategic roles in influencing the success of the organization in providing excellent service. The leaders in various pyramid strata of the public organization should provide their support and commitment to their subordinates who are always devote or dedicate to in delivering the public service, support, and commitment to the users of the public services. The performance of government is needed in the realization of excellent service, such as to maintain the commitment, to keep the consistency in improving the quality of public services continuously, and to provide the guarantee against the services. Nowadays, people can no longer give full confidence to changes in service bureaucracy that currently shown by the public service organization, within which is led by a credible leader. Key Words: kualitas layanan publik, kepemimpinan strategis dan building the trust

PENDAHULUAN
Berbagai kajian tentang kepemimpinan selalu menjadi topik yang menarik, karena kepemimpinan selalu dikaitkan dengan keberhasilan atau kegagalan sebuah organisasi. Kompetensi kepemimpinan dilihat dari keberhasilan seseorang mengantarkan tujuan organisasi pada tataran kesuksesan/ ketercapaian tujuan organisasi. Begitu juga pada organisasi sektor publik, dimana
63

mempunyai tujuan untuk memberikan pelayanan publik yang terbaik kepada masyarakat. Dan peran pimpinan aparatur organisasi tersebut harus bisa membawa organisasinya dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Hudges (1992) menyatakan bahwa organisasi publik dibuat oleh publik, dan karenanya harus bertanggung jawab kepada publik. Bertumpu pada pendapat ini, pemimpin organisasi publik diwajibkan

64

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

berakuntabilitas atas kinerja yang dicapai organisasinya. Dan karena tujuan utama organisasi publik adalah memberikan pelayanan dan mencapai tingkat kepuasan masyarakat seoptimal mungkin, maka pelayanan prima bukan berfungsi sebagai slogan belaka. Kepuasan masyarakat dalam pelayanan publik tergantung dari karakteristik manajemen pelayanan yang ditunjukkan melalui kinerjanya. Pengelolaan pelayanan yang dilakukan haruslah berorientasi pada kepuasan pelanggan, tepat sasaran, dan berfokus pada melayani dalam arti sesungguhnya, tulus, empati, dan memiliki tujuan pemberdayaan masyarakat. Tuntutan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan publik yang berkualitas, prosedur jelas, waktu ringkas, dan biaya pantas terus meningkat dari waktu ke waktu. Tuntutan ini berkembang seiring dengan berkembangnya kesadaran bahwa warga negara memiliki hak untuk dilayani, dan kewajiban pemerintah untuk memberikan pelayanan. Ketika krisis ekonomi melanda Indonesia, efisiensi pelayanan publik menjadi bagian yang tak terhindarkan dari krisis tersebut. Dan krisis tersebut menimbulkan krisis kepercayaan, rakyat seakan tak lagi percaya pada sosok pemimpinan dan pemerintahan birokrasinya. Nunik (2001) mengatakan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat(public trust) kepada organisasi publik mulai menurun. Lebih lanjut dikatakan bahwa pada kebanyakan organisasi publik

masih sering dijumpai fungsi pengaturan yang lebih dominan dibanding fungsi pelayanan. Berbagai hasil survey (termasuk pooling) juga memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan kepercayaan dan keyakinan publik terhadap organisasi publik. Misalnya, survey Rethinking Government 2000 di Canada yang dilakukan oleh Ekos Research Associates Inc. menemukan hanya 16% dari publik yang percaya bahwa pemerintah membuat keputusan yang sejalan dengan kepentingan publik. Fenomena selain tuntutan masyarakat akan kebutuhan kualitas pelayanan, terdapat masyarakat kritis, mereka adalah yang terhimpit kebutuhan dan ekonomi yang sebagian besar berada pada golongan menengah ke bawah, sehingga tuntutan mereka ingin segera diatasi dengan cepat, tepat dan murah. Sehingga ketika upaya perbaikan manajemen publik yang dilakukan pemerintah belum secara optimal mampu memenuhi tuntutan masyarakat tersebut, masyarakat selalu memberikan label negatif dan terkadang berperilaku distruktif, tidak mendukung berbagai agenda yang dicanangkan pemerintah. Dan yang menajdi label negatif adalah Pemimpin dan organisasinya. Berbagai kebijakan, strategi dan program baik secara nasional maupun daerah diarahkan pada agenda-agenda peningkatan kualitas pelayanan publik, penerapan konsep efisiensi dalam sektor publik (karena masalah keterbatasan anggaran), dan menerapkan prinsip-

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

65

prinsip good governance. Upaya tersebut membutuhkan waktu dan dukungan masyarakat, yang ditunjukkan dengan kinerja pelayanan publik yang prima. Dengan beberapa kondisi tersebut, satu tahap penting yang harus dilakukan pemerintah pada saat ini adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap kinerja organisasi pelayanan publik. Dalam tahap inilah kita membutuhkan suatu kepemimpinan yang berkinerja tinggi dan mampu melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk mengakomodasi tuntutan kebutuhan dan permasalahan. Menumbuhkan kembali kepercayaan rakyat membutuhkan upaya dan komitmen, salah satunya melalui perbaikan kompetensi kepemimpinan pelayanan publik. Pemimpin pada sektor publik membutuhkan jiwa kepemimpinan strategis sehingga mampu menjawab tuntutan masyarakat dan membangun kepercayaan masyarakat. Dari paparan tersebut dapatlah disampaikan bahwa permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimanakah pola kepemimpinan strategis pelayanan publik yang dibentuk untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat.

(Joseph C. Rost, 1993). Dari definisi ini disimpulkan bahwa kepimipinan melibatkan hubungan pengaruh yang mendalam, yang terjadi di antara orangorang yang menginginkan perubahan, dan perubahan tersebut mencerminkan tujuan yang dimiliki bersama oleh pemimpin dan bawahannya. Penagruh dalam hal ini berarti hubungan pemimpin dan bawahan sehingga bukan sesuatu yang pasif, tetapi merupakan suatu hubungan timbal balik dan tanpa paksaan. Dengan demikian, dalam kepemimpinan terdapat proses saling mempengaruhi. Pemimpin mempengaruhi bawahannya, demikian sebaliknya. Orang-orang yang terlibat dalam hubungan tersebut menginginkan sebuah perubahan sehingga pemimpin diharapkan mampu menciptakan perubahan yang signifikan dalam organisasi dan bukan mempertahankan status quo. Perubahan tersebut bukan merupakan sesuatu yang diinginkan pemimpin, melainkan lebih pada tujuan yang diharapkan, yang tercapai melalui pembentukan visi dan misi organisasinya. Dan pemimpin mempengaruhi bawahanya untuk mencapai visi misi tersebut. Proses kepemimpinan juga melibatkan keinginan dan niat, keterlibatan yang aktif antara pemimpin dan bawahannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Dengan demikian, baik pimpinan ataupun pengikut mengambil tanggung jawab pribadi untuk mencapai tujuan bersama tersebut.

KEPEMIMPINAN DALAM PELAYANAN PUBLIC


Kepemimpinan ialah sebuah hubungan yang saling mempengaruhi di antara pemimpin dan pengikut (bawahan) yang menginginkan perubahan nyata yang mencerminkan tujuan bersamanya

66

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

Kepemimpinan Publik
Kepemimpinan menjadi salah satu faktor kunci dalam kehidupan organisasi, termasuk pada sektor publik. Thoha (2004) menyatakan bahwa suatu organisasi akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh faktor kepemimpinan. Begitu pentingnya masalah kepemimpinan ini, menjadikan pemimpin selalu menjadi fokus evaluasi mengenai penyebab keberhasilan atau kegagalan organisasi. Kepemimpinan (leadership) menurut Ensiklopedia Umum-Kanisius (1993), diartikan sebagai hubungan yang erat antara seorang dan kelompok manusia karena ada kepentingan yang sama. Hubungan itu ditandai oleh tingkah laku yang tertuju dan terbimbing dari pemimpin dan yang dipimpin. Jadi dalam kepemimpinan, tentu akan melibatkan unsur pemimpin (influencer) yakni orang yang akan mempengaruhi tingkah laku pengkikutnya (influencee) dalam situasi tertentu. Sedangkan Gibson, et. al (1992) mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan di dalam mempengaruhi sekelompok orang untuk bersama-sama mencapai tujuan. Pengertian yang senada juga dikemukan oleh Chowdhury (2003) bahwa Exercising leadership inevitably involves having influence. One cannot lead without influencing other. Sumber dari pengaruh bisa berupa pengaruh formal yang telah ditetapkan secara organisasional sehingga seorang pemimpin mampu mempengaruhi orang lain semata-mata karena kedudukan di tingkat manajerial.

Jadi kepemimpinan merupakan suatu proses dimana seseorang mempengaruhi kebiasaan orang lain ke arah penyelesaian tujuan yang spesifik yang mengarah kepada teaching organization untuk dapat melatih dan mengembangkan knowledge, skill, dan attitude setiap individu dalam organisasi. Perkembangan konsep kepemimpinan sampai pada apa yang disebut sebagai kepemimpinan transformasional (transformational leadership) yang dipelopori oleh Bernard M. Bass sebagai kelanjutan studi dari J.M. Burn pada tahun 1978. Kepemimpinan transformasional didasarkan pada perubahah nilai, keyakinan yang dipromosikan oleh pemimpin dan kebutuhan dari pengikut/ pegawainya (Luthan, 1995). Simic (1998) dengan menyatakan bahwa pemimpin transformasional mendorong para pegawai untuk mengerjakan lebih dari apa yang dapat dikerjakan, meningkatkan perasaan bahwa apa yang dikerjakan adalah penting dan bernilai, dan menjadikan pegawai sampai pada prinsip bahwa kepentingan organisasi yang utama. Lebih lanjut Simic (1998) menegaskan cirri kepemimpinan transformasional, dua diantaranya yang terkait erat dengan manajemen sumber daya manusia adalah menghargai orang lain (appreciation of others) dan pengakuan (recognition). Menghargai orang lain mengandung makna komunikasi dua arah yang juga mencerminkan prinsip mendengarkan pegawai. Sedangkan recognation berarti

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

67

pemberian penghargaan, misalnya ucapan terima kasih kepada pegawai baik dalam kondisi sendiri (langsung kepada pegawai yang bersangkutan) maupun dalam suatu forum. Terkait dengan prinsip tersebut dalam rangka meningkatkan semangat pegawai, perlu diperhatikan apa yang disarankan oleh Kenneth Blanchard bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berusaha memergoki bawahan pada saat mereka berprestasi dan kemudian memberikan pujian secara tulus, bukan yang berusaha memergoki bawahan pada saat berbuat kesalahan dan menghukumnya. Efektifitas kepemimpinan didasarkan pada kombinasi karakteristik personal, keahlian manajerial, perilaku, dan situasi.

antara tuntutan lingkungan eksternal organisasi dengan visi, misi, strategi, dan implementasi organisasi. Visi menggambarkan wujud organisasi di masa depan, sedangkan misi menggambarkan nilai-nilai pokok (core values), tujuan, dan alasan akan eksistensi organisasi. Strategi menyediakan arah yang menerjemahkan visi menjadi aksi dan merupakan dasar bagi pengembangan mekanisme spesifik untuk menolong organisasi mencapai tujuannya. Strategi adalah niat, sebaliknya implementasi melalui arsitek dasar organisasi seperti struktur organisasi, sistem, budaya, dan iklim, sistem insentif dan lain sebagainya, yang menjamin terwujudnya visi masa depan (Daft, 1999).

Kepemimpinan Strategis
Kemajuan organisasi bukan merupakan nasib baik atau kemujuran, tetapi dicapai melalui proses yang membutuhkan energi besar dan ketahanan menghadapi hambatan. Tugas pemimpin adalah menciptakan sinergi yang solid melalui visi, misi, startegi, dan arsitektur organisasi yang disiapkan sebagai sarana mencapai tujuan tertinggi ( Safaria, 2004). Pemimpin teratas wajib memahami lingkungan organisasi, yang mencakup seperti apa organisasi yang dipimpinnya, dan menciptakan arah ke masa depan sehingga setiap orang akan mempercayainya. Kepemimpinan strategis bertanggungjawab untuk menciptakan harmoni

Potret Pelayanan Publik di Jatim


Bukan menjadi rahasia umum bahwa persoalan perilaku birokrasi di Indonesia masih menjadi persoalan hangat untuk diamati, dianalisis, dan diperdebatkan. Hasil penelitian tentang Pelayanan Publik di Jawa Timur yang telah dilakukan oleh Center for Public Policy Studies (CPPS) ( 2001), Sebagian besar kalangan mengakui, birokrasi telah lebih bertindak sebagai pelayanan daripada minta dilayani (62%) , tidak lagi berbelit-belit dalam memberikan pelayanan (78%), serta lebih banyak yang menyatakan birokrasi tidak lagi meminta uang pelicin (60%). Tetapi juga belum ada keyakinan bahwa birokrasi telah benar-benar bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), (49%). Banyak subyek

68

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

penelitian, termasuk dari kalangan birokrat sendiri, menyatakan bahwa kualitas SDM birokrasi memang kurang memadai. Tak lama setelah itu, Pemerintah Provinsi Jatim menginventaris bahwa sejak tahun 1999-2004 juga menerima penghargaan Citra Pelayanan Prima dari Presiden, MenPAN, dan Menteri Pertanian, yakni sebanyakj 121 (30%) jenis layanan dari 372 jenis pelayanan publik yang dilakukan oleh instansi pemerintah, baik instansi pusat, daerah, BUMN/BUMD. Pada tahun 2004-2005 sebanyak 40 unit pelayanan publik di Jatim telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001-2000. Berbagai terobosan baru dalam perbaikan pelayanan publik banyak dilakukan, misalnya pelayanan di RSUD Dr. Soedono Madiun yang memberikan pelayanan penderita tanpa loket, artinya semau pasien yang masuk instalasi rawat jalan langsung mendapatkan penanganan dokter tanpa harus antri di loket administrasi, Kantor Samsat memberikan pelayanan via SMS 7070, sehingga dalam hitungan detik jawaban telah didapat pada saat pengurusan pajak kendaraan, pengurusan perpajangan SIM terdapat Drive Thrue, pelayanan IMB Sidoarjo menggaransi maksimal 7 hari pengurusan IMB pasti selesai, PLN Surabaya berani memberikan kompensasi 10 % biaya beban apabila terjadi gangguan mencapai 110%, tak ketinggalan DLLAJ Jatim telah memberikan layanan plus pada Jembatan Timbang Trowulan yang juga

berfungsi sebagai tempat peristirahatan pengendara yang dilengkapi dengan taman dan oranmen indah untuk melepas lelah. Beberapa perbaikan upaya Pemerintah dalam memberikan pelayanan publik di atas, masih jauh dari harapan masyarakat. Karena masih banyak wacana publik yang melekat di masyarakat masih didominasinya anggapan /wacana bad practices, bahkan masih banyak masyarakat yang menuliskan keluhannya hampai ada di beberapa surat kabar, masyarakat masih disuguhi dengan pemberitaan birokrasi yang jelek. Dan hal tersebut mensyaratkan bahwa mereka belum puas terhadap pelayanan publik dan hal tersebut mengindikasikan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan publik masih kurang. Temuan survei UGM (Universitas Gadjah Mada) (dalam Forum Kajian Ambtenaar Jatim, 2006) Gambaran buruk pelayanan publik, yaitu ditunjukkan dengan masih banyaknya praktik penyelenggaraan pelayanan publik masih penuh dengan ketidakpastian biaya, waktu, dan cara pelayanan. Mengurus pelayanan publik ibaratnya memasuki hutan belantara yang penuh dengan ketidakpastian. Waktu dan biaya pelayanan tidak pernah jelas bagi para pengguna layanan. Prosedur cenderung hanya mengatur kewajiban warga ketika berhadapan dengan rezim pelayanan. Ketidakpastian yang sangat tinggi ini mendorong warga untuk membayar pungli kepada petugas

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

69

agar kepastian pelayanaan bisa segera diperoleh. Ketidakpastian ini mendorong warga memilih menggunakan biro jasa untuk menyelesaikan pelayanannnya daripada menyelesaikannya sendiri. Disamping ketidakpastian, masalah lain yang ditemukan yaitu masih banyak dijumpai di setiap pelayanan publik terdapat diskriminasi pelayanan. Para pejabat birokrasi, bahkan mengakui mereka selalu mempertimbangkan faktor pertemanan, afiliasi politik, etnis, dan agama adalah unsur yang sering muncul sebagai penyebab diskriminasi pelayanan. Pelayanan publik masih dikonsepsikan sebagai pelayanan pemerintah, di mana pemerintah memonopoli pengaturan, penyelenggaraan, distribusi, dan pematauan dan warga pengguna ditempatkan sebagai pengguna yang pasif. Dalam konsep ini, peran warga yang utama hanyalah menggunakan pelayanan publik, yang telah diberikan oleh pemerintah, apapun jenis dan kualitasnya. Mereka tidak memiliki pilihan mengenai jenis pelayanan, kualitas, kuantitas, dan cara memperolehnya, karena semuanya telah ditentukan oleh pemerintah. Masyarakat tidak memiliki hak untuk ikut terlibat dalam proses kreasi, pengaturan, dan penyelenggaraan. Akibatnya, warga dan takeholder bukan hanya merasa tersinggirkan tetapi juga pelayanan tersebut sering tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kinerja pemerintahan yang telah ditunjukkan pada masyarakat secara

keseluruhan belum berjalan dengan optimal, oleh karena itu dibutuhakn upaya konkret agar menuju terwujudnya pelayanan prima, yakni menjaga komitmen, konsistensi untuk senantiasa meningkatkan mutu pelayanan publik, sekaligus menyediakan garansi terhadap pelayanannya. Karena masyarakat tidak bisa lagi memberikan kepercayaan penuh terhadap perubahan birokasi pelayanan yang ditunjukkan saat ini oleh organisasi pelayanan publik, yang didalamnya dipimpin oleh seorang yang kredibel. Dalam perspektif pelayanan publik, pemimpin harus mampu membawa organisasi publik memberikan pelayanan p r i m a . K a re n a p a d a h a k e k a t n y a dibentuknya organisasi publik adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tangkilisan (2005) mengatakan bahwa organisasii publik dikatakan efektif apabila dalam realita pelaksanaannya birokrasi dapat berfungsi melayani sesuai dengan kebutuhan masyarakat (client), artinya tidak ada hambatan (sekat) yang terjadi dalam pelayanan tersebut, cepat dan tepat dalam memerikan pelayanan, serta mampu memecahkan fenomena yang menonjol akibat adanya perubahan sosial yang sangat cepat dari faktor eksternal. Efektivitas organisasi publik tersebut merupakan produk dari sebuah sistem yang salah sistem (unsur) adalah sumber daya manusia aparatur. Sebagai bagian dari suatu sistem, meningkatnya profesionalitas sumber daya manusia aparatur tidaklah otomatis

70

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

kinerja organisasi publik akan meningkat. Sehingga manakala sumber daya manusia aparatur telah profesional, namun tidak didukung oleh sub-sub sistem lainnya seperti kelembagaan, ketalaksanaan, sarana dan prasarana yang memadai, niscaya kinerja organisasi publik yang bersangkutan tidak akan bisa mencapai tingkat kerja yang optimal. Meskipun demikian, sumber daya manusia yang profesional menjadi faktor diterminan dan sekaligus menjadikan sub sistem lain menjadi baik, dan pada akhirnya kinerja organisasi publik menjadi baik pula. Berarti kesuksesan suatu organisasi sangat tergantung pada kinerja sumber daya manusianya yaitu para pegawai dalam berbagai strata suatu piramida organisasi, yang pada dasarnya para pegawai tersebut bekerja membutuhkan pemimpin yang memimpin mereka dalam bekerja. Karena itu, kepemimpinan sebagai bagian dari sub sistem sumber daya manusia sangat menentukan berjalannya keseluruhan sub-sub sistem yang terintegratif dan saling berkaitan menjadi sistem yang mampu menggerakkan roda organisasi secara efektif dan efisien. Tanpa kepemimpinan yang baik, akan sulit bagi organisasi publik untuk mencapai tujuannya, yaitu memenuhi tuntutan pelaksanaan tugas dan fungsinya yang strategis dalam pelayanan publik. Menurut Goleman (2002), tugas pemimpin adalah menciptakan pada apa yang disebutnya sebagai resonansi (resonance) yaitu suasana

positif yang mampu membuat seluruh sumber daya manusia dalam organisasi terus mengikatkan diri (committed) dan menyumbangkan yang terbaik bagi organisasi. Yukl (1994) menyatakan bahwa pemimpin mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberhasilan organisasi dalam menghadapi tantangan yang muncul. Tuntutan akan kualitas dan kinerja kepemimpinan dalam penyelenggaraan pemerintahan mengemuka dan terus meningkat telah menjadi patron seorang pemimpin dan calon pemimpin di dalam membawa perubahan dalam organisasi, serta memotivasi anggotanya untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan menjadi basis dalam manajemen sumber daya manusia yang diharapkan tidak saja pada aspek operasional yaitu dalam pembentukan kualitas kehidupan kerja tetapi juga pada aspek stratejik yang mendasari terbentuknya kondisi kehidupan kerja tersebut. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa kepemimpinan mempunyai peranan yang besar untuk memaksimalkan organisasi bekerja dalam memberikan pelayanan yang berkualitas. Dalam kaitan ini, pengalaman dari negara-negara di Asia menunjukkan bahwa kepemimpinan pemerintahan menjadi kunci perubahan. Keberhasilan Malaysia dan Singapura menjadi negara yang mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas terutama karena faktor kepemimpinan. Untuk menjelaskan hubungan antara faktor kepemimpinan dan kualitas

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

71

pelayanan publik, dapat dikemukakan pendapat Katz dan Kahn dalam Richard M. Steer (Tangkilisan, 2005), bahwa kualitas kepemimpinan dalam berbagai bentuk memperlihatkan perbedaan antara organisasi yang mampu mencapai tujuan dan yang tidak. Dikatakan bahwa kepemimpinan dapat mengisi beberapa fungsi penting yang diperlukan bagi organisasi untuk mencapai tujuannya, seperti berikut ini : 1. Dalam fungsi mengisi kekosongan akibat ketidaklengkapan atau ketidaksempurnaan desain organisasi. Ada banyak hal dalam aktivitas organisasi publik yang tidak diatur dalam peraturan perundangan sebagai dasar pembentukan organisasi publik. Karena itu tugas pemimpin adalah mewakili organisasi publik dalam setiap kegiatan yang menyangkut tugas dan fungsi pokok birokrasi publik. Tugas-tugas lain, baik internal maupun eksternal, yang belum diatur dalam perundangan yang ada, menjadi tanggung jawab pimpinan. 2. M e m b a n g u n m e m p e r t a h a n k a n stabilitas organisasi dalam lingkungan yang bergolak, dengan memungkinkan dilakukan penyesuaian dan adaptasi yang segera pada kondisi lingkungannyang bergolak atau yang sedang berubah. Dalam menindaklanjuti aktivitas layanan, sudah menjadi tugas pimpinan dan para stafnya untuk melakukan persiapan diri jika mekanisme, metode,

dan teknik yang bersifat substansial maupun peraturan perundangan yang melatarbelakanginya. 3. Membantu koordinasi intern dari unitunit organisasi yang berbedabeda, khususnya selama nasa pertumbuhan dan perubahan. Kepemimpinan dapat meredam serta menjadi pemisah bagi kelompok-kelompok yang berkomflik dalam organisasi. Tugas dan fungsi organisasi publik tidaklah ringan, karena keberhasilan layanan sangat ditentukan oleh kualitas kerjanya. Inilah tugas berat dari organisasi publik, karena itu dibutuhkan seorang pimpinan yang mampu mengatasi gejolak atau konflik internal sehingga tidak mengganggu kinerja serta prestasi organisasi publik. 4. M e m a i n k a n p e r a n a n d a l a m mempertahankan susunan anggota yang stabil dengan cara pemenuhan kebutuhan anggota secara memuaskan. Untuk mensukseskan organisasi publik dalam menjalankan tugas dan fungsinya, pimpinan dan stafnya perlu memikirkan kesejahteraan karyawan, baik kebutuhan fisik, spritual, maupun kepuasan-kepuasan lain yang menjadi ukuran karyawan sendiri. Jika kondisi ini terpenuhi, tidaklah sukar bagi organisasi publik untuk mengemban tugas yang diberikan kepadanya. Dalam mewujudkan pelayanan prima, seorang pemimpin harus berani melakukan perubahan. Karena itu diperlukan kepemimpinan transformasional yaitu

72

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

kepemimpinan yang mampu sebagai agen perubahan. Berbagai perubahan mungkin mendapatkan tantangan dan hambatan, baik dari dalam maupun luar organisasi namun seorang pemimpin transformasional harus berani menghadapi kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian tersebut dengan menyiapkan strategi terbaik. Perubahan-perubahan yang dapat dilakukan seorang pemimpin untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, antara lain: a. Memangkas berbagai birokrasi yang sudah tidak relevan. b. M e n e r a p k a n c o n t e s t a b i l i t y (membandingkan pelayanan yang dilakukan unit organisasinya dengan organisasi lain untuk melihat efisiensi dan efektivitasnya) bahkan mengembangkan kontrak dengan sektor swasta (jika hal ini merupakan jalan terefektif dan terefisien yang harus ditempuh). c. Menggunakan berbagai teknologi baru untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. d. Mengembangkan kebijakan publik yang berorientasi pada pelanggan (customer focus) Tuntutan akan perbaikan atas kondisi pelayanan publik dewasa ini semakin besar dan menjadi agenda utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seorang pemimpin harus mampu melakukan perubahan-perubahan

menuju perbaikan secara sistematis dan terukur. Namun demikian berbagai upaya reformasi yang sifatnya lebih internal tersebut juga harus dibarengi dengan suatu penngembangan strategi yang bersifat eksternal. Strategi ini diarahkan pada pengembangan citra baik organisasi dan pelayanan yang diberikan oleh organisasi publik.

Kepemimpinan Strategis Dan Building The Trust


Kepercayaan publik tumbuh dari pelayanan yang berkualitas. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan OECD ( dalam Nunik, 2001) bahwa pada dasarnya pelayanan public adalah kepercayaan publik. Public service is a public trust. Citizens expect public servants to serve the public interest with fairness and to manage public resources properly on a daily basis. Fair and reliable public services inspire public trust and create a favourable environment for businesses, thus contributing to well-functioning markets and economic growth, Dengan demikian, kualitas pelayanan publik merupakan salah satu strategic issue bagi aparatur negara yang harus diaktualisasikan dalam kerangka membangun kepercacayaan public. Dalam upaya perwujudan halhal tersebut, pemimpin merupakan faktor yang signifikan. Peran pemimpin dalam membangun kepercayaan publik mencakup lingkup internal yang berkaitan dengan upaya menggerakkan dan memastikan seluruh sumberdaya aparatur

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

73

berkinerja tinggi, dan lingkup eksternal organisasi dalam upaya mencermati harapan masyarakat dan komunikasi eksternal baik menyangkut ukuranukuran kinerja pelayanan (public service measures) yang ditetapkan, upaya yang telah, sedang dan akan dilakukan, maupun kinerja pelayanan yang telah dihasilkan. Pemimpin yang cerdas bukanlah suatu jaminan untuk memimpin suatu organisasii yang efektif dan efisien, karena seorang pemimpin selain memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memimpin juga dituntut berperilaku sebagai panutan bagi bawahannya (building the trust). Arie de Geus mengemukan bahwa organisasi yang bisa bertahan lebih dari seratus tahun dan menunjukkan prestasi yang outstanding adalah organisasi yang dipimpin oleh pemimpin yang teach by example (dalam Nugroho D, 2003). Dalam konteks organisasi publik, kepemimpinan lebih merupakan kepemimpinan formal dalam ar ti pemimpin merupakan orang yang diangkat dan dikukuhkan untuk menduduki jabatan tertentu. Pada kondisi demikian, akuntabilitas (accountability) menjadi penting sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kedudukan dan kepemimpinan dan pertanggungjawaban sosial. Akuntabilitas di atas mengandung makna keharusan/kemampuan untuk menjelaskan dan menjawab segala hal yang menyangkut langkah dan proses yang dilakukan serta mempertanggungjawabkan atas kinerjanya.

Dalam rangka mewujudkan kinerja maksimal, kepemimpinan aparatur harus mendasarkan pada kredibilitas yang dibentuk atas dasar profesionalitas dan kejujuran. Kejujuran dalam kepemimpinan merupakan akar dan modal dari terhindarnya tindakan-tindakan yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan sosial dan bernegara, baik yang dilakukan oleh para pemimpin itu sendiri maupun para pengikutnya. Dalam membangun hubungan, seorang pemimpin perlu menumbuhkan karakteristik dan atribut-atribut yang meliputi ( Kuczmarski dan Kuczmarski, 1995): (1) Listens actively; (2) Emphatic; (3) Attitudes are positive and optimistic; (4) Delivers on Promises and commitment; (5) Energy level high; (6) Recognizes selfdoubts and vulnerability; dan (7) Sensitivity to others, values, and potential. Kepemimpinan merupakan fenomena sosial, yang berarti bahwa praktek kepemimpinan dipengaruhi nilainilai (value-driven). Dalam pelayanan publik, nilai-nilai yang mendasari seorang pemimpin transformasional bertindak adalah customer satisfaction dan perjuangan pada nilai sosial yang menjadi tanggung jawab negara. Sebagai konsekuensinya, pengembangan berbagai sistem pelayanan publik diarahkan pada pemberian pelayanan yang mudah, murah, tepat dan sederhana. Dampak dari fenomena sosial tidak hanya pada nilai yang dianut, namun juga seorang pemimpin yang transformasional haruslah percaya

74

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

kepada orang lain dan berani memberikan tantangan dan tanggung jawab pada orang lain (empowerment). Seorang pemimpin harus mampu menumbuhkan kreativitas dan tidak mematikan berbagai strategi yang dikembangkan bawahan berdasarkan kompetensi teknis yang mereka kuasai. Dalam pelayanan publik masih sering dijumpai, seorang pelayan publik (birokrat) belum mampu melaksanakan tugasnya sebagai pelayan masyarakat. Birokrasi masih sering memiliki beberapa karakter yang menyebabkan masyarakat sering alergi bila berurusan dengan birokrasi (Siagan, Sondang, 1996), yakni: 1. Apathy (apatis), yaitu bersikap acuh tak acuh terhadap pengguna jasa. Para aparat/birokrasi sering memandang bahwa masyarakat sebagai pihak yang membutuhkan maka merekalah yang harus mengikuti keinginan birokrat. 2. Brush off (menolak berurusan), yaitu berusaha agar pembutuh jasa tidak berurusan dengannya misalnyadengan cara mengulur waktu dan membiarkan menunggu dalam jangka waktu yang lama. 3. Coldness (dingin), yaitu kurangnya keramahan dalam memberikan pelayanan. 4. Condescension (memandang rendah), yaitu memperlakukan pembutuh jasa sebagai orang yang tida tahu apaapa sehingga penyelesaian urusan menurut keinginan aparatur.

5. Ro b o t i s m ( b e k e r j a m e k a n i s ) , yaitu bekerja secara mekanis dan memperlakukan pembutuh jasa dengan perilaku dan tutur kata yang sama dan monoton. 6. Role Book (ketat pada prosedur), yaitu ketat pada prosedur dan meletakkan peraturan di atas kepuasan pembutuh jasa. 7. Ro n d a ro u n d ( p i n g p o n g / s a l i n g lempar tanggung jawab), yaitu untuk menyelesaikan suatu urusan, masyarakat pengguna jasa harus menghubungi berbagai pihak yang saling lempar tanggung jawab. Dalam fenomena sosial, perilaku tersebut menyebabkan masyarakat sering enggan bila berurusan dengan birokrasi. Keberadaan karakteristik tersebut menyebabkan munculnya beberapa implikasi negative seperti dari aspek politis, terjadi penurunan tingkat kepercayaan dan dukungan masyarakat terhadap aparat pemerintah; dari aspek finansial, dapat menurunkan pendapatan Negara karena masyarakat tidak termotivasi untuk taat dan patuh pada kebijakan pemerintah. Penyelesaian masalah pelayanan publik sangat membutuhkan kerjasama yang baik antara pemimpin, personal dalam organisasi, masyarakat (client), dan sektor swasta. Dengan kerja sama yang baik masalah pelayanan publik akan menjadi ringan jika. semua membuka diri untuk saling menyumpangkan pemikiran, resources, dan dukungan.

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

75

Pengaruh yang bersifat sukarela sangat penting untuk dilakukan dengan keuntungan antara lain: 1. Meningkatkan kapasitas transaksional yang akhirnya tercipta truly citizencentered. Jika masyarakat percaya maka mereka akan berpartisipasi aktif terhadap berbagai kegiatan pemerintan. Hubungan yang bersifat mutualisme ini akan berdampak positif pada kinerja pemerintah dan partisipasi masyarakat, pemerintah memfokuskan kegiatannya pada tuntutan dan permasalahan public dan masyarakat memberika dukungan (financial dan moril) akan kegiatan tersebut. 2. Pemerintah yang dapat diandalkan dan dapat dipercaya dapat membangun populasi/masyarakat yang saling m e m p e r h a t i k a n ( c a re ) . At a u dengan kata lain menginformasikan permasalahan yang dihadapi pada jalur resmi pemerintah sehingga tidak gampang dimanipulasi dan dimanfaatkan pihak lain. Untuk mendapatkan suatu pengaruh yang positif dari kepercayaaan masyarakat bukanlah hal yang mudah. Apalagi kita masih menghadapi persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat. Beberapa catatan perubahan persepsi yang harus dilakukan organisasi publik untuk mendapatkan kepercayaan atau trust dari masyarakat yaitu menghilangkan persepsi bahwa kualitas pelayanan publik selalu kalah dan di bawah kualitas pelayanan sektor swasta.

Cara yang dapat ditempuh pelayanan yang dilakukan swasta. Atau dengan mempublikasikan prestasi /pelayanan terbaik yang dilakukan pemerintah. Strategi ini penting untuk menunjukkan bahwa ada pelayanan publik yang berhasil dan sukses, karena penyelesaian masalah pelayanan publik sangat membutuhkan kerjasama yang baik antara pemimpin, personal dalam organisasi, masyarakat (client), dan sektor swasta. Dengan kerja sama yang baik masalah pelayanan publik akan menjadi ringan jika. semua membuka diri untuk saling menyumpangkan pemikiran, resources, dan dukungan. Langkah yang dapat ditempuh seorang pemimpin dalam menggerakkan organisasi untuk menciptakan pelayanan prima antara lain: 1. Mengembangkan call centers dalam berbagai pelayanan yang diberikan organisasi publik. 2. Resource sharing atau melibatkan sektor swasta dalam penyediaan pelayanan publik. Bahkan bagi pemerintah daerah dapat mengembangakan satu sistem kerja sama dengan daerah terdekat untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam satu jenis (atau beberapa) pelayanan kepada publik. 3. Konsultasi publik (citizen consultation) dalam mengembangan sistem atau kebijakan yang berkaitan dengan pelayanan publik Meskipun disebutkan di atas bahwa salah satu kompetensi seorang pemimpin adalah bisa mempengaruhi, namun bukan

76

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

pengaruh yang bersifat coercive atau pemaksaan. Pengaruh yang dimaksud adalah pengaruh yang mengandung konsekuensi/keuntungan bagi organisasi dan stakeholdernya. 4. Mampu memperkuat hubungan dengan masyarakat, dengan menggunakan teknologi terbaru untuk memaksimalkan pelayanan secara online. 5. Memiliki keinginan kuat untuk selalu belajar,baik dari keberhasilan organisasi lain dalam pelayanan maupun belajar dari kesalahan yang mereka lakukan. 6. Mampu menciptakan transparansi dan akuntabilitas dalam pelayanan, termasuk akuntabilitas dan transparansi yang bersifat multiple governmental organizations. Karakteristik tersebut merupakan dasar dan sarana dalam membangun hubungan yang baik dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh sektor publik. Atas dasar kredibilitas yang berakar pada kejujuran, komitmen yang tinggi, dan semangat pengabdian dalam menjalankan berbagai peran kepemimpinan, diharapkan kepemimpinan aparatur dapat mewujudkan kinerja yang maksimal dalam mengwujudkan pelayanan prima. Kita berharap semoga citra pelayanan publik yang selama ini sering dinilai negatif dapat berubah menjadi lebih baik. Seorang pemimpin yang memiliki integritas tinggi adalah yang dengan keberanian serta berusaha tanpa kenal

putus asa untuk dapat mencapai tujuan organisasinya. Tujuan tersebut mampu mendorong dirinya untuk tetap konsisten dengan langkahnya. Dan kemudian bawahan akan mengikutinya. Integritas tersebut membuat pimpinan dipercaya, dan kepercayaan tersebut akan menciptakan pengikut, artinya bawahan akan menilai dan ikut serta berintegritas mencapai tujuan pelayanan publik. Dan akhirnya menciptakan sebuah organisasi yang memiliki kesamaan tujuan. Integritas adalah sebuah kejujuran. Integritas tidak pernah berbohong dan integritas adalah kesesuaian antara katakata dan perbuatan yang menghasilkan kepercayaan. Kepercayaan secara internal dan orang lain serta masyarakat. Keberhasilan kepemimpinan tidak lagi dilihat dari sisi luas tidaknya kekuasaannya, namun lebih karena kemampuan pimpinan dalam memberikan motivasi dan kekuatan pada bawahan. Dan karenanya pemimpin yang mempunyai integritas akan memperoleh kepercayaan dari orang lain, dan kemudian bersama-sama akan lebih mudah dalam menjalankan tugas dan fungsinya dalam mencapai tujuanm organisasi, yakni memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat.

SIMPULAN
Kunci kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah adalah terletak pada kepuasan masyarakat terhadap kualitas pelayanan yang diberikan. Karena itu, tuntutan terhadap kualitas pelayanan prima

Isnaini Rodiyah, Kepemimpinan Strategis Pada Pelayanan Publik

77

merupakan hal yang harus diupayakan. Perwujudan pelayanan yang berkualitas dapat dilalukan melalui perubahan visi dan orientasi pelayanan yang lebih berfokus kepada kepentingan pelanggan. Selain itu, organisasi publik harus memperhatikan prinsip kerjasama dan partisipasi pegawai didalam organisasi, serta harus senantiasa melakukan perbaikan secara terus menerus. Kepemimpinan strategis mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam memberikan pelayanan prima. Pemimpim dalam berbagai strata piramida suatu organisasi publik harus memberikan dukungan dan komitmennya kepada bawahan yang selalu mengabdi atau berdedikasi dalam pemberian pelayanan publik dan dukungan serta komitmennya kepada para pengguna atau penerima pelayanan publik. Membangun kepercayaan dapat dilakukan melalui peningkatan integritas pimpinan, dan akhirnya mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas.

dengan pola lainnya, misalnya prinsipkrinsip kepemimpinan strategis dalam pelayanan umum dengan pendekatan ESQ 3. Keterbatasan penelitian ini hanya spesifik menghasilkan sebuah pemikiran sederhana, dan dari kajian sederhana mampu memberikan infor masi demi perbaikan kepemimpinan dan pelayanan public di Indonesia. Sehingga perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan.

DAFTAR PUSTAKA
Center for Political Studies Soegeng Sarjadi Syndicated. 2001. Otonomi Potensi Masa Depan Republik Indonesia, Jakarta. Chowdhury. 2003. Leadership: Creating a New Reality. J o u r n a l o f Leadership Studies 3, No 43. Daft, Richard. 1999. Leadership: Theory and Practice. NJ: The Dryden Press Ensiklopedia Umum. 1993. Yogyakarta: Kanisius. Forum Kajian Ambtenaar Jawa Timur. 2006. Implementasi Citizens Charter (Kontrak Masyarakat) d a l a m Pe l a y a n a n Pu b l i k . Surabaya: Airlangga University Press. Gibson, JL., Ivancevich, JL., dan Donnelly, JH. 1992. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Cetakan Kelima. Jakarta: PT Erlangga.

SARAN
1. Kajian ini hanya bersifat deskriptif eksploratory maka membuka peluang untuk penelitian selanjutnya yang bersifat eksplan dan kuantitatif, 2. Keterbatasan penulisan ini hanya mengkaji pola kepemimpiann strategis yang dibutuhkan masyarakat dalam pelayanan public melalui membangun k e p e rc a y a a n , m a k a m e m b u k a peluang untuk kajian selanjutnya yaitu mengkaji pola kepemimpinan

78

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 63 - 78

G o l e m a n . 2 0 0 2 . Va l u e s - B a s e d Leadership. New York: Prentice Hall. Hudges.1992. A Force for Change. New York: Free Press. Joseph, C,Rost. 1993. Leadership for Twenty-First Century. Westport, CN.: Praeger. Kuczmarski, Susan Smith dan Thomas D. Kuczmarski. 1995. Values-Based Leadership. New York: Prentice Hall. Luthans, F., 1995. Organizational behavior (4th ed.). New York: McGraw-Hill Book Company. Nugroho, D. Riant. 2003. Reinventing Pembangunan: Menata Ulang Paradigma Pembangunan Untuk Membangun Indonesia Baru dengan Keunggulan Global. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, Gramedia.

Nunik Retno Herawati. 2001. Manajemen Pelayanan Publik Daerah, dalam Manajemen Otonomi Daerah. Semarang: CLOGAPPS Universitas Diponegoro. Safaria, Triantono. 2004. Kepemimpinan. Yogyakarta: Graha Ilmu. Siagan, Sondang, 1996. Administrasi Pembangunan. Jakarta: Gunung Agung. Tangkilisan, Hessel Nogi S. 2005. Manajemen Publik. Jakarta: PT Gramedia. Thoha, Mifta. 2004. Deregulasi dan Debirokratisasi dalam Upaya Pe n i n g k a t a n Pe l a y a n a n Masyarakat. Jakarta : Raja Grafindo Persada. Yukl, Gary. 1994. Kepemimpinan dalam Organisasi (Terjemahan). New York: Prentice Hall Inc

REVITALISASI (ILMU) KOMUNIKASI


Muhtar Wahyudi

(Dosen Ilmu Komunikasi, FISIB, Universitas Trunojoyo Madura, Jl. Raya Telang P Box .O 2, Kamal-Bangkalan 69162. Email: mochtarkom@yahoo.com)

ABSTRACT
The dynamic motion and development of science and praxis of communication cannot be separated from the point of paradigm that builds and ruins them. The paper intends to identify the complexity, the inter-determination, and the interdisciplinary of communication, which characterize the dynamics and the issue to the science of communication itself. The attention, criticism and deconstruction of the conceptual aspects and epistemology communication is absolutely necessary needed in order to put back the communication scholarly in social praxis. Key words: re v i t a l i z a t i o n ; c o m m u n i c a t i o n s t u d i e s ; m o d e r n i s m ; authorization

PENDAHULUAN
Bukan sekedar latah atau ikut-ikutan. Penulis memandang bahwa sesungguhnya esensi setiap sesuatu adalah komunikasi. Seperti ketika dinamika rasionalisme modern mengalami pelbagai jalan buntu dengan kegagalan filsafat berfikirya Cartes, ideologi kesadarannya Marxis, struktur-strukturnya kaum strukturalis dan pascastrukturalis, ser ta masih berlingkar binarnya provokasi-provokasi kaum postmodernisme, Habermas, memberikan wacana filsafat alternatif, yang bermula dari teori kritisnya Frankfurt School, kembali ke komunikasi. Yakni, bagaimana membangun masyarakat
79

yang komunikatif, dengan satu tindakan yang komunikatif. Habermas berusaha memberikan alternatif dengan adanya debat rasionalisme antara kaum modernis dan postmodernis. Menurut Habermas, filsafat yang ada selama ini cenderung menemui jalan buntu karena sematamata terkonsentrasi pada paradigma kerja, sehingga memandang setiap pokok persoalan dengan instrumental. Ada sisi dinamika lain yang sehingga kini terlupakan, yakni wilayah komunikasi. Karena sesungguhnya disamping dinamika kehidupan ini berisi dinamika-dinamika instrumental atau kerja ala Hobbes dan Marx, dinamika komunikatif yang

80

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 79 - 86

humanis yang terlepas dari jerebu-jerebu instrumentalisme mesti juga digarap jika ingin menciptakan keseimbangan menuju masyarakat komunikatif (Habermas,1984:273-338). Paparan ini menjadi titik puncak karya Habermas yang mendasari seluruh Filsafatnya. Secara ringkas Muhammad A. S. Hikam (1996:82) menterjemahkan bahwa proses komunikasi akan berhasil, menurut Habermas jika memenuhi syarat-syarat pragmatik universal, yakni: keterpahaman secara kognitif; kebenaran pernyataan; kejujuran dan pembicara dan pendengar; dan kesesuaian dengan basis-basis normatif para pembicara. Sebagai basis dalam proses kormmikasi, elemen-elemen pragmatik universal initentu saja amat dipengaruhi oleh dimensidimensi eksternal sistem ekonomi-politik dan peradaban. Implilkasi praksisnya adalah bahwa dalam konteks sebuah masyarakat rasional dan telah dewasa sajalah komunikasi yang bermakna baru bisa terjadi. Ini tidak terlepas dari adanya keniscayaan, seluruh wilayah diskursus tercelup oleh wacana atau bahkan dalam wahana komunikasi. Politik, budaya, ekonomi, bahkan bergulir gantinya sebuah peradaban. Jika terbukannya ruang publik (public sphere) disepakati sebagai salah satu syarat utama terbangunnya kehidupan demokratis demi tergelamnya realitas civil society, maka wacana komunikasi adalah titik terpentingnya. Karena bukankah asumsi dasar dari public sphere sendiri

adalah kemungkinan terkecil bebasnya setiap wacana komunikasi publik dari pelbagai celupan ideologis. Gerak laku media massa, polah tingkah komunikasi politik baik yang berlangsung pada wilayah supra maupun infrastruktur, hanyalah sebagian kecil dari dinamika komunikasi yang perlu mendapat perhatian. Pun bagaimana satu budaya komunikasi terkonstruksi atau direkonstruksi, atau ke hal yang paling esensial, yakni bagaimana mekanisme intersubjectivity communication dalam satu ranah sosial politik (Indonesia), atau unconscious communication akibat perilaku-perilaku aspek psikoanalitik (ketidaksadaran) terbentuk dan dibentuk demi satu dunia kehidupan (lebenswelt) ter tentu, adalah pelbagai bentuk kompleksitas wacana komunikasi yang perlu mendapat penglihatan, perhatian, kritik dan apabila perlu dekonstruksi demi konstruksi baru yang lebih membumi Habermas memandang pentingnya aspek-aspek intersubjektivitas dalarn proses komunikasi. Bagaimana pemahaman tiap komunikator dan komunikan terhadap subjektivitas lawan komunikasinya, hingga sadar akan telaah-telaah subjektif dalam setiap diskursus. Habermas memandang bagaimana bahasa subjek dengan tiga wilayah, yakni wilayah eksternal yang mengacu pada situasi di luar masyarakat di mana subjek berada; wilayah sosial yang mengacu pada totalitas hubungan antarpribadi yang memiliki aturan normatif, dan yang ketiga wilayah

Muhtar Wahyudi, Revitalisasi (Ilmu) Komunikasi

81

dunia dalam mengacu pada totalitas dari motivasi-tujuan dan pengalaman subjektif komunikator. Dalam konteks ini kemudian Habermas memunculkan istilah Hermeneutik Dalam.

pesan memerlukan penafsiran-penafsiran mengikut struktur makna komunikator. Dengan begitu hubungan simbolik antara kormunikator dan komunikan menjadi sentral dalarn rangka pengungkapan makna yang tersembunyi dibalik satu wacana. Adalah ketika kita kurang memperhatikan wilayah komunikasi ini, kerapkali nuansa komunikasi publik sengaja diciptakan sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu seakan terjadi dengan wajar, untuk kemudian membius dan meninabobokan kita dengan wajar pula, menghibur kita (publik) dengan mimpi-mimpi wacana tertentu dalam satu gelar tidur masyarakat yang sakit. Patologi komunikasi yang melahirkan individu dan masyarakat yang patologis ini dapat saja tercipta melalui dua muara yang berlawanan. Seperti ujar Orwell (1981: 36) dapat saja melalui korupsi, represi atau koersi komunikasi. Namun dapat juga melalui peluberan, pengharubiruan (euphoria), penjejalan, atau penciptaanpenciptaan sistematika konversasi yang selalu dibungkus dengan ideologi modernitas dan kekinian atau pelepasan yang selepas-lepasnya mekanisme komunikatif satu sistem komunikasi seperti ujar Huxley (Postman, 1995:1-10). Ini barangkali adalah titik pijak awal. Titik pijak berikutnya adalah urgensi fenomena (realitas komunikasi) di atas masih begitu asing, terpinggirkan atau bahkan sengaja dibenamkan dalam dinamika sosial politik dan kesejarahan

KOMUNIKASI SEBUAH WACANA


Dalam proses komunikasi kontemporer utamanya dalam euphoria teknologi dan media massa seperti sekarang ini daya tahan khalayak terhadap serbuan konstruk komunikasi (wacana) semakin rentan, manakala konstruksi pesan yang dibingkai ideologi modernisme dan kapitalisme kian menyuburkan rasa kebutuhan akan kepastian, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan orientasi dan kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya, yang kerapkali secara tidak sadar sangat berpengaruh dalam satu proses persepsi komunikasi. (Fromm,1996: 3140) Di lain pihak, Lebenswelt sebagaimana telah disinggung di atas adalah ter minologi khas Edmund Huserl dan kaum fenomenologi yang memandang peran menentukan yang dibawa oleh subjek dalam satu totalitas dunia kehidupan (Ricour,1979: 80-81). Dalam konteks ini faktor intersubjektifitas juga menjadi penentu arah, totalitas proses komunikasi adalah interaksi antar berbagai simbol. Untuk dapat memahami tindakan manusia kita harus memahami motif dasar dengan cara menempatkan diri kita pada posisi pembicara (empathy). Setiap

82

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 79 - 86

pertiwi ini. Entah dalam tataran praksis atau epistemologinya. Hampir dalam setiap dinamika dan persoalan yang mendera Indonesia, telaah, analisis dan diskusi wacana komunikasi sangat-sangat tidak memadai, untuk tidak mengatakan kosong sama sekali. Wacana-wacana dan diskusi-diskusi ekonomi-politik, antropologi-budaya dan keagamaan masih saja bersifat reaktif. Menggelegar peristiwa dan fenomena (agenda) untuk kemudian menyusul gelegar diskusi dan wacana. Sangat sulit menemukan diskusi dan wacana mendahului fenomena dan agenda. Dalam konteks yang demikianlah kemudian haru biru dan bergulir gantinya wacana (yang) (di)publik(an) tinggal menjadi euphoria, atau bahkan sekedar menjadi video politik, di mana masyarakat begitu haru biru dengan wacana media sehingga seperti terlibat tuntas dalam pelbagai fenomena, padahal tetap saja ia menjadi penonton, nonpartisan, nggak ngerti apa-apa (Rakhmat, 1997:228). Padahal jika kita sedikit mau jujur, setiap keretakan dinamika satu organisme (negara) pasti berakar dan bermuara dari retaknya satu rentak komunikasi (mis-communication). Dalam satu komunitas sosial-politik, konstruk dan geliat komunikasi di antara supra dan infrastruktur, atau interen supra dan infra sendiri adalah sebuah keniscayaan yang acapkali kurang diperhatikan. Pun bagaimana sebuah kebijakan, seorang pemimpin, sekelompok elit yang

tidak komunikatif, sehingga melahirkan kebijakan, politik, budaya, ekonomi yang tidak komunikatif, tidak pernah mendapatkan kritik komunikasi yang cukup memadai. Wacana-wacana dan tawaran-tawaran nalar komunikasi masih begitu gamang, sungsang, asing dan sepi dari diskusi publik. Entah karena pengkondisian atau karena para pembawa panji wacana komunikasi (akademisi, kritisi, media) begitu gagap di antara pembawa panji wacana lain, di dalam pusaran gegap gempita dinamika yang kian kompleks dan tak terkendali. Ini kian terdukung manakala pada tataran praksis, ilmu. atau wacana komunikasi tidak mengalami perkembangan yang cukup signifikan atau rentak dinamikanya begitu lemah. Jika kita sepakat proses dan produk sebagai representasi sebuah dinamika. Maka alangkah menyedihkan jika kita harus melihat representasi komunikasi (konsep dan praksis) di ranah pertiwi ini. Sejak kelahirannya pada tahun 1948 di Universitas Gajah Mada (UGM) geliat ilmu komunikasi belum menampakkan gertak tawaran yang cukup berarti bagi dinamika sosial-politik tanah air. Bahkan sehingga kini masih gagap harus menempatkan diri, adakah tetap harus merunduk dalam rengkuhan ilmu sosial-politik atau hendak berdiri sendiri. Gamangnya proses pendewasaan ilmu komunikasi inipun kemudian sangat berimplikasi terhadap produk yang dilahirkan. Minimnya pakar komunikasi,

Muhtar Wahyudi, Revitalisasi (Ilmu) Komunikasi

83

sepinya penerbit-penerbit komunikasi (buku, jurnal, majalah, esai dll.), atau langkanya pelbagal aktivitas pelatihan, penelitian dan pengkajian komunikasi yang fenomenal, sehingga tawaran wacana komunikasi utamanya dalam tataran epistemologis begitu akut, ketika kita hanya melihat wacana-wacana klasik tentang pengaruh dan peranan media serta kajian audience yang terus menumbuhkan polemik yang tak berkesudahan karena kekurangannya tawaran asas dan masih berlingkar-lingkarnya pelbagai tatapan yang masih saja tertumpu pada aras permukaan. Pun dalam praksisnya selain persoalan komunikasi politik, bahasa sebagai asas politik, komunikasi budaya, tumbuh kembangnya peradaban dan dinamika sosial ekonomi yang lain belum cukup mendapat perhatian, dinamika media massa Indonesia serasa sungsang di antara pelbagai determinasi ekonomi-politik. Sejak mengalami determinasi represif pada rezim orde lama, penelikungan dan pemberangusan pada rezim orde baru, bahkan sekarang ketika media massa menemukan romansa kebebasannya menjadikan persoalan yang dihadapi tidak kunjung berkurang. Terlepas dari pelbagai bentuk kritik yang dilontarkan dan terlepas dari segala bentuk determinasi, sesungguhnya media massa sehingga kini masih bersifat reaktif (menunggu momen), dan belum menjadi media yang cukup cerdas untuk memfasilitasi komunikasi di antara supra

dan infrastruktur. Dalam peringkat tertentu booming dan euphoria media seperti yang terjadi sekarang ini bukannya menumbuhkan ruang publik yang semakin sehat, atau menjadi penterjemah realitas yang konklusif, tapi dalam tataran tertentu malah menumbuhkan chaos wacana, yang dalam bahasa Baudrillard (1983:2-10) ini disebut sebagai sebuah kondisi simulacra, di mana realitas yang sesungguhnya tenggelam tergantikan oleh realitas media yang memperdaya, yang membuat khalayaknya makin terjerembab ke dalam keculunan. Dalam hal ini barangkali kita tidak boleh hanya menatap proses dan produk media, kita juga meski melihat proses yang dijalani oleh khalayaknya. Dalam konteks inilah persoalan komunikasi kemudian menjadi persoalan yang tidak sederhana Memerlukan tatapantatapan epistemologis dan paradigmatik. Ruang publik yang terbuka luas pada realitas belum cukup. Dengan tidak diperhatikannya proses ranah-ranah yang lain. Patologi komunikasi dalam pelbagai bentuknya yang lain tetap saja mengemuka dengan tidak kalah akutnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah kenapa tradisi (ilmu) komunikasi di Indonesia demikian akut, sehingga Idi Subandy Ibrahim (1999:10) perlu mengatakan (ilmu) komunikasi telah mati. Segala sesuatu tentu harus kita lihat titik mula atau titik pijaknya. Barangkali keculunan geliat dan rentak wacana, komunikasi di Indonesia ini bermula dari

84

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 79 - 86

dominasi paradigma positivis-empiris yang reduksionis dalam perkembangan dan dinimika ilmu komunikasi di Indonesia. Seperti ungkap Capra (1997:51-83) cara pandang Cartesian ini acapkali merudusir pelbagai persoalan fenomena sosial-politik yang kompleks dan dinamis seolah meredusir benda-benda ala redusir Newtonian. Di mana setiap sesuatu dan fenomena dapat ditarik balokbalok fungsional yang membangun konstruktifismenya. Sehingga segala sesuatu dapat dipetakan menurut garisgaris yang hierarkis, deterministik dan terukur dengan jelas. Ada realitas yang nampak yang dapat diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal walaupun kebenaran pengetahuan tentang itu mungkin hanya bisa diperoleh secara probabilistik. Ini karena positivisme menganggap bahwa realitas sesungguhnya adalah objektif. Realitas adalah sesuatu di luar subjek (peneliti, ilmuwan). Maka dengan itu, subjek harus membuat jarak sejauh mungkin terhadap objek yang pada perkembangannya acapkali dikritik malah mengeksploitasi objek. Nilai, etika, dan pilihan moral hendaknya berada di luar proses konstruksi ilmu atau dinamika penelitian, karena seperti ungkapan Deddy N. Hidayat (1999:5), seorang ilmuwan atau peneliti harus sebagai disinferested scientist, karena ia harus mampu mengeksplanasikan, memprediksi dan mengontrol kajiannya. Kelanjutannya objektivitas dan keterukuran tatapan

paradigma ini menjadi keniscayaan. Relevansi selanjutnya, seper ti ungkap Abra (1999:45), paradigma ini mensyaratkan kuantitatifikasi yang tinggi. Yakni, dengan menggunakan teknikteknik pengukuran yang canggih serta tes-tes statistik yang ketat dan akurat untuk menguji hipotesis yang diandaikan. Dalam konteks komunikasi, paradigma ini lebih menekankan pada penelitian efek dan pengaruh komunikasi atau media, relevansinya, model komunikasi linear menjadi niscaya. Hingga acapkali baik sebagai ilmu atau praksis komunikasi ditempatkan secara fungsional. Makanya seperti pandangan kaum fungsionalisme, komunikasi harus mampu menjaga konsensus nilai dan keseimbangan organisme sosial (Campbel,1994:180). Kerja komunikasi yang fungsionalis semacam ini pada gilirannya cenderung konservatif, menjaga ketakberubahan konsensus sehingga rentan terhadap celupan ideologis, manakala proses konstruksi konsensus dalam masyarakat itu terjadi secara ideologis dan politis sebagai akibat kukuhnya kuasa-kuasa yang memproduksi wacana-wacana konsensus. Dalam bahasa vulgar kaum kritis, paradigma ini cenderung memelihara status quo, dan menjadi corong kuasakuasa untuk memprovokasikan ide-ide ideologinya. Dominasi paradigma positivis empiris ini makin menemukan konstruksnya, manakala ilmu komunikasi di Indonesia lahir tidak dalam suasana hampa (vaccum).

Muhtar Wahyudi, Revitalisasi (Ilmu) Komunikasi

85

Dimana sejarah politik Indonesia telah menjadi developmentalis sebagai ideologi yang tak terlawankan. Implikasinya, dinamika dan perkembangan ilmu dan praksis komunikasi hanya menjadi mesin bagi proyek-proyek pembangunan yang selalu mendapatkan tuntutan sinergi produktivitas dan efesiensinya. Ini semua membuat laku ilmu komunikasi menjadi diagendakan, selaras dengan laku sosialpolitik. Ilmu komunikasi telah menjadi tidak peka terhadap berbagai guliran dinamika, mandeg yang pada gilirannya semakin dipinggirkan dan dinafikkan. Atas dasar titik pijak di ataslah percikpercik pemikiran ini penulis tebarkan untuk menebarkan magnit dan mengajak untuk kembali ke komunikasi.Mengingat gerakan sebuah praksis selalu berangkat dari titik pijak tertentu (paradigma), maka penulis memandang aspek-aspek konseptual dan atau epistemologis perlu mendapatkan perhatian, kritik dan bila perlu dekonstruksi. Ini selaras dengan masih miskinnya berbagai lembaga (LSM, Perguruan Tinggi, dll) yang bergerak dalam wilayah episteme komunikasi.

ministik dan interdisipliner, di mana analisis-analisis dan telaah-telaah paradigmatik amat diperlukan. Ini jika kita sepakat sebuah wacana tidak pemah berdiri sendiri. Penulis ingin menyentuh sisisisi substil dalam dinamika kehidupan ini, yakni komunikasi. Dan jika kaum postmodernisme begitu takjub dengan dinamika teknologi dan media massa sebagai media koversasi manusia pada jagad sekarang ini yang semakin tak terkendali, baik secara praksis maupun epistemologis, maka kami sepakat dengan pendapat, jika ingin melihat dengan jernih sebuah peradaban masyarakat, temukan sisi-sisi terdalam sistem konversasinya. Yakni, sistem komunikasinya.

DAFTAR PUSTAKA
B a r b e r o, J e s u s M a r t i n . 1 9 9 3 . Communications, Culture and Hegemony. Newbury Park: Sage Publications Baudrillard, Jean. 1983. Simulations. New York. Semiotext(e) Bogart, Leo. 1995. Commercial Culture. New York: Oxford University Press. Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial. Jakarta: Sinar Harapan Capra, Pritjof. 1997. Titik Balik Perdaban:Sains, Masyarakat dan Kebangkitan Kebudayaan. Yogyakarta: Bentang Budaya Fromm, Erich. 1956. The Sane Society. London: Rotledge and Keagel Paul Fromm, Erich. 1996. Revolusi Harapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

SIMPULAN
Kolapsnya dinamika dan perkembangan ilmu dan praksis komunikasi sama sekali tidak terlepas dari titik pijak (paradigma) yang membangun dan menggulirkannya. Ini juga mengingat perkembangan dan dinamika praksis komunikasi semakin kompleks, interdeter-

86

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 79 - 86

Hebermas, Jurgen. 1984. The Theory of Communicative Action: Reason and The Rationalizaon of Society. volume one. Boston: Beacon Press Habermas, Jurgen. 1979. Communications and The Evolution of Society. Boston: Beacon Press Hikam, A.S. 1996. Bahasa dan politik: penghampiran discursive practice. Dalam Idi Subandy Ibrahim dan Yudi Latif (eds.). Politik Wacana Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan Huserl, Edmund. 1965. Phenomenology and Crisis Philosopy. New York: Harper & Raw Malik, Djamaluddin Deddy dan Idi Subandy (eds.) 1997. Hegemoni Budaya. Yogyakarta: Bentang Budaya

Or well, George. 1981. N i n e t e e n EightyFour. New York: American Library Postman, Neil. 1995. Menghibur Diri Sampai Mati. Jakar ta: Sinar Harapan Rakhmat, Jalaluddin. 1997. Video Politik-Perang Lewat Televisi, dalam Deddy Mulyana dan Idi Subandy lbrahiln (eds.). Bercinta d e n g a n Te l e v i s i . Bandung: Rosdakarya Ricour, Paul. 1979. Psydioarialysis and the movement of contemporary culture, dalam P Rabinow dan W Sullivan. Intrepertive Social Science. Berkeley: University of California Press Smith, Allen Craig. 1990. Political Communication. New York: Harcaourt Brace Javanovich

MEMPEREBUTKAN LOYALITAS PELANGGAN


Didik Hariyanto, M.Si

(Dosen Tetap Ilmu Komunikasi FISIP Umsida, Jln. Mojopahit 666 B Sidoarjo, Telp. 031-8945444)

ABSTRACT
The relationships between with the producers and customers are essential in todays business world. The customers needs are varies, from the product quality, price, packaging to products prestige they have. Many products have the same type and function in meeting the consumers need. Thus, the difference among them are the service sectors. Through the concept of good service and different from the competitors is expected to create a good and sustainable relationships between consumers and producers. The services will create customers loyalty, and at the end, it will stimulate recommendation of the products that will lead to promote new customers. Key words: service, relationship, loyalty, recommendation

PENDAHULUAN
Sejalan dengan pesatnya pertumbuhan dan perubahan ekonomi ser ta kegiatan bisnis, mendorong perusahaan harus mau menghadapi persaingan global. Selain itu untuk menjaga kelangsungan usaha dan menghadapi tingkat persaingan yang semakin kompetitif, setiap perusahaan dituntut untuk selalu berusaha melakukan perbaikan berkelanjutan (Continous Improvement) terhadap aktivitas perusahaan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kinerja dari manajemen perusahaan. Sektor pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting bagi lajunya perusahaan. Tiap-tiap perusahaan mempunyai sistem
87

pemasaran dengan strategi khusus dalam memasarkan produknya sesuai dengan kebijakan perusahaan tersebut. Apalagi mengingat semakin banyaknya perusahaan yang bermunculan dengan memproduksi barang yang sejenis. Karena itu positioning produk sangat diperlukan untuk memudahkan konsumen dalam menentukan pilihan produk yang diinginkan. Informasi tentang benefit produk harus menjadi bagian terpenting dalam konsep pemasaran. Konsep pemasaran seharusnya diperluas pada tataran marketing yang menambah nilai dan menciptakan nilai selain sekedar promosi produk. Namun banyak orang melihat

88

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 87 - 97

Tahap-Tahap Evolusi Pemasaran


TAHAPAN Pemasaran sebagai Pemasaran kotak peralatan sebagai strategi Perpaduan pemasaran Memahami pelanggan Segmentasi Deferensiasi Keunggulan Kompetitif Penempatan posisi Pemasaran sebagai pelayanan Industri pelayanan dan penghantaran pelayanan Pemasaran sebagai budaya Hubungan pelanggan Ketahanan pelanggan Nilai pelanggan Perekomendasian nilai pemegang saham

PENEKANAN

UNSUR-UNSUR

Produk, iklan, promosi, Distribusi Harga

Interaksi pelanggan Pelaksanaan pelayanan Kualitas pelayanan

pemasaran hanya sebatas iklan atau penjualan tetapi pemasaran yang sebenarnya tidak hanya mencakup seni menjual barang, namun yang lebih penting perusahaan dapat meraih kepemimpinan di pasar dengan memahami kebutuhan konsumen dan menemukan solusi yang memuaskan pelanggan melalui nilai, kualitas dan jasa yang unggul. Jika nilai dan kepuasan tidak di perhatikan berapapun besar biaya iklan dan penjualan tidak dapat menggantikannya.

perhatian dan kepentingan konsumen dengan demikian, upaya menjual produk jangan hanya berdasarkan profit oriented, Tetapi consumers oriented. Menurut Kotler (1993:268) peranan marketing public relation dalam upaya mencapai tujuan utama organisasi atau perusahaan dalam berkompetisi, secara garis besarnya yaitu sebagai berikut : a. Menumbuhkembangkan kesadaran konsumennya terhadap produk yang tengah diluncurkan itu. b. Membangun kepercayaan konsumen terhadap citra perusahaan atau manfaat (benefit) atas produk yang ditawarkan atau digunakan. c. Mendorong antusiasme (sales force) melalui suatu artikel sponsor tentang kegunaaan dan manfaat suatu produk. d. Menekan biaya promosi iklan komersial, baik di media elektronik maupun media cetak dan sebagainya demi tercapainya efesiensi biaya. e. Komitmen untuk meningkatkan

MARKETING PR VERSUS KOMUNIKASI PEMASARAN


Marketing Public Relation di definisikan sebagai sebuah proses perencanaan, eksekusi dan evaluasi program-program yang mendorong atau menganjurkan pembelian dan kepuasan konsumen melalui komunikasi yang credible dalam menyampaikan informasi dan menciptakan impresi yang mengidentifikasi perusahaan dan produknya dengan kebutuhan, keinginan,

Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan

89

pelayanan kepada konsumen, termasuk upaya mengatasi keluhankeluhan (complaint handling) dan lain sebagainya demi tercapainya kepuasan pihak pelanggan. f. M e mbantu mengkampanyekan peluncuran produk-produk baru dan sekaligus merencanakan perubahan posisi produk yang lama. g. mengkomunikasikan terus-menerus melalui media PR (house journal) tentang aktivitas dan program kerja yang berkaitan dengan kepedulian sosial dan lingkungan hidup, agar tercapai publikasi yang positif di mata masyarakat. h. Membina dan mempertahankan citra perusahaan atau produk barang dan jasa, baik segi kuantitas maupun kualitas pelayanan yang diberikan kepada konsumennya. i. Berupaya secara proaktif dalam menghadapi suatu kejadian negatif yang mungkin akan muncul di masa mendatang, misalnya terjadi krisis kepercayaan, menurunnya citra perusahaan hingga resiko terjadinya krisis manajemen, krisis moneter, dan lainnya. Menurut Tjiptono (1997:220) Komunikasi pemasaran meliputi tiga tujuan utama, yaitu untuk menyebarkan informasi (komunikasi informatif), mempengaruhi untuk melakukan pembelian atau menarik konsumen (komunikasi persuasif), dan mengingatkan khalayak untuk

melakukan pembelian ulang (komunikasi mengingatkan kembali).Respon atau tanggapan konsumen sebagai komunikan meliputi : a. Efek kognitif, yaitu membentuk kesadaran informasi tertentu. b. Efek afeksi, yakni memberikan pengaruh atau melakukan sesuatu. Yang diharapkan adalah realisasi pembelian. c. Efek konatif atau perilaku, yaitu membentuk pola khalayak menjadi perilaku selanjutnya. Yang diharapkan adalah pembelian ulang. Tujuan komunikasi dan respon khalayak berkaitan dengan tahap-tahap dalam proses pembelian yang terdiri atas: a. Menyadari (awareness) produk yang ditawarkan. b. Menyukai (interest) dan berusaha mengetahui lebih lanjut. c. Mencoba (trial) untuk membandingkan dengan harapannya. d. Mengambil tindakan (act) membeli atau tidak membeli. e. Tindak lanjut (follow up) membeli kembali atau pindah merek. Menurut Tjiptono (1997:222) dalam komunikasi pemasaran terdapat bauran promosi yang terdiri dari : a. Personal selling : komunikasi langsung antara penjual dan calon pelanggan untuk memperkenalkan suatu produk kepada calon pelanggan

90

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 87 - 97

dan membentuk pemahaman pelanggan terhadap produk sehingga mereka kemudian mencoba dan membelinya. b. Mass selling: merupakan pendekatan yang menggunakan media komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak ramai dalam satu waktu. c. Promosi penjualan: adalah bentuk persuasi langsung melalui penggunaan berbagai insentif yang dapat diatur untuk merangsang pembelian produk dengan segera dan meningkatkan jumlah barang yang dibeli pelanggan. d. Public relation: upaya komunikasi menyeluruh dari suatu perusahaan untuk mempengaruhi persepsi, opini, keyakinan, dan sikap berbagai kelompok terhadap perusahaan tersebut. e. Direct marketing: sistem pemasaran y a n g b e r s i f a t i n t e r a k t i f, y a n g memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi di sembarang lokasi Konsep pemasaran juga mempunyai unsur pokok yang menganut pandangan dari luar ke dalam yaitu dengan memusatkan perhatian pada kebutuhan pelanggan dan memadukan semua kegiatan yang akan mempengaruhi pelanggan dengan cara :

A. Orientasi pada Konsumen 1. Menentukan kebutuhan pokok (basic needs) dari pembeli yang akan dilayani dan dipenuhi. 2. Menentukan kelompok pembeli yang akan di jadikan sasaran penjualan. 3. M e n g a d a k a n p e n e l i t i a n p a d a konsumen, dengan mengukur, mennilai dan menafsirkan keinginan, sikap serta perilaku. 4. Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, dengan menitik beratkan pada mutu yang tinggi atau harga yang murah.

B. Penyusunan Intergrated Marketing


Pengintergrasian kegiatan pemasaran berarti bahwa setiap orang dan bagian dalam perusahaan turut berkecimpung dalam suatu usaha yang terkoordinir untuk memberikan kepuasan konsumen, sehingga tujuan perusahaan dapat direalisir.

C. Kepuasan Konsumen
Faktor yang menentukan apakah perusahaan dalam jangka panjang akan mendapatkan laba, ialah banyak sedikitnya kepuasan konsumen yang dapat dipenuhi. Ini tidaklah berarti, bahwa perusahaan harus berusaha memaksimisasikan kepuasan konsumen, tetapi perusahaan harus mendapatkan kepuasan konsumen dan perusahaan harus mendapatkan laba dengan cara memberikan kepuasan konsumen.

Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan

91

Untuk mendukung tiga tujuan di atas maka dasar pelaksanakan dan kegiatan pemasaran yang mendukung suatu organisasi, yaitu : 1. The Production Concept Konsumen akan menyukai produk yang tersedia dengan harga yang terjangkau, maka manajemen harus berkonsentrasi pada efesiensi produksi dan distribusi luas. 2. The Produk Concept Pr o d u s e n m e n g a s u m s i b a h w a konsumen akan menyenangi produk dengan mutu dan kinerja yang terbaik dan keistimewaan yang menyolok. 3. The Selling Concept Pr o d u s e n b e r p e n d a p a t b a h w a konsumen tidak akan membeli produk yang cukup banyak kecuali bila produsen berupaya mempengaruhi dengan usaha promosi penjualan yang gencar. 4. The Marketing Concept Produsen berpikir bahwa kunci untuk mencapai sukses adalah bila perusahaan menentukan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran dengan memenuhi kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien disbanding para pesaing. 5. The Societal Marketing Concept Menyatakan bahwa tugas organisasi

adalah menentukan kebutuhan, keinginan dan minat pasar sasaran serta memberikan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan para pesaing sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan dan mempertinggi kesejahteraan masyarakat.

MANFAAT EKONOMIS MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN PELANGGAN


Loyalitas pelanggan merupakan sebuah hal yang sangat diharapkan oleh para pelaku bisnis. Dengan memiliki pelanggan yang loyal mereka dapat menghasilkan profit dari usahanya. Loyalitas adalah sebuah konsep yang positif atau subyektif, dalam hal ini dari para pelanggan terhadap sebuah produk atau jasa. Namun, adakalanya loyalitas di definisikan sebagai prosentasi dari total pembelanjaan dalam suatu kategori produk atau jasa.Umumnya indikator loyalitas pelanggan dapat dillihat dari waktu, kontinuitas atau berkesinambungan, dan lamanya hubungan kerjasama antara perusahaan dengan pelanggan Adapun aspek lain dari loyalitas pelanggan yang mengindikasikan eksistensi hubungan pelanggan adalah kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan perusahaan tersebut kepada teman, anggota keluarga, dan kolega mereka. Pelanggan yang puas terhadap sebuah produk atau jasa yang pernah dipakainya, maka tidak menutup kemungkinan akan

92

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 87 - 97

merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada pihak lain. Secara umum, loyalitas adalah beroperasi sebagian besar atau secara eksklusif dalam tatanan perilaku, yakni lamanya suatu hubungan, pola pembelian, proporsi pengeluaran, proporsi pembelanjaan, berita dari mulut ke mulut, dan sebagainya. Namun, aspek yang juga sangat penting dalam loyalitas adalah hubungan emosional antara pelanggan yang loyal dengan perusahaan. Hal tersebut berfungsi untuk menciptakan perasaan positif yang membuat para pelanggan kembali untuk bekerjasama dengan perusahaan lagi dan merekomendasikannya kepada pihak lain. Lamanya seorang pelanggan berbisnis dengan sebuah perusahaan merupakan salah satu indikator loyalitas. Menurut sebuah riset di Kanada, pelanggan yang telah berlangganan selama lebih dari 15 tahun mendapat skor rata-rata 8,1 dari skala kepuasan 10, sementara yang telah berlangganan selama 5 tahun kebawah memiliki skor 7.3. Jadi semakin lama menjadi pelangan dalam berbisnis berarti memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi, dan semakin tinggi angka kepuasan pelanggan dalam berbisnis maka tinggi kemungkinan untuk merekomendasikan perusahaan tersebut kepada pihak lain. Untuk mendapatkan pelanggan baru membutuhkan biaya yang besar, maka dari itu pengusaha harus berusaha untuk mempertahankan loyalitas pelanggannya agar mereka tidak dengan mudah

berpindah ke perusahaan yang lain. Frederick Reichheld dan Earl Sasser mengindikasikan bahwa kenaikan 5% dari loyalitas pelanggan dapat melipatgandakan keuntungan sebuah perusahaan. Hal ini karena 70% penjualan berasal dari loyalitas pelanggan. Pelanggan yang loyal menyerahkan lebih banyak bisnis pada perusahaan seiring bertambahnya waktu, ketika tingkat kepuasan dan kenyamanan meningkat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan perusahaan dalam memahami pelanggan jangka panjang, antara lain; 1 Pendekatan sekarang ini cenderung bersifat: a) Internal, dalam pendekatan ini berdasarkan pada data internal yang mudah diperoleh; b) Historis, dalam pendekatan ini melihat nilai dalam terminology moneter yang kaku; c) Berfokus pada pemasukan, dalam pendekatan ini didasarkanpada hasil penjualan yang mudah diukur; d) Langsung, dalam pendekatan ini hanya melihat pembelian langsung pelanggan. 2 Di masa depan, perusahaan harus mempertimbangkan ukuran yang: a) Eksternal, dalam hal ini perusahaan harus melihat melampaui informasi yang diperoleh secara otomatis; b) Melihat ke depan, dalam hal ini harus mempertimbangkan potensi pertumbuhan pelanggan di masa

Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan

93

depan; c) Berdasar pada biaya, dalam hal ini harus memperhitungkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk melayani pelanggan; d) Tidak langsung, yakni memperhitungkan bisnis yang dapat dipengaruhi pelanggan. Perusahaan perlu memperhitungkan atau menetapkan nilai jangka panjang seorang pelanggan, karena: 1) hal ini bertujuan untuk mendemontrasikan kepada karyawan bahwa perusahaan fokus pada mengelola hubungan pelanggan untuk memaksimalkan hasil jangka panjang. selain hal ini berfungsi untuk menyampaikan pesan bahwa dengan berperilaku yang dapat mengakibatkan hubungan dengan pelanggan terancam, maka karyawan tersebut membahayakan aliran pemasukan yang sangat penting. 2) Menetapkan nilai dari hubungan pelanggan mungkin mempengaruhi keputusan perusahaan untuk menciptakan atau mempertahankan hubungan dengan pelanggan tertentu. Dengan melakukan usaha berdasar persetujuan bersama untuk menempatkan nilai pada hubungan pelanggan, hal tersebut berpotensi untuk mengindentifikasi pelanggan yang memiliki potensi jangka panjang yang bagus dan pelanggan tidak akan mendatangkan keuntungan

bagi perusahaan. Jadi perusahaan akan lebih baik mengarahkan sumber dayanya untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan yang memiliki potensi terbesar untuk mendatangkan hasil.

KEPUASAN PELANGGAN
Tujuan utama pemasaran adalah untuk mencapai tingkat kepuasan pelanggan tertinggi. Ketika pelanggan merasa puas akan pelayanan yang didapatkan pada saat proses transaksi dan juga puas akan barang atau jasa yang mereka dapatkan, besar kemungkinan mereka akan kembali lagi dan akan melakukan pembelian-pembelian yang lain dan juga akan merekomendasikan pada teman-teman dan keluarganya tentang perusahaan tersebut dan produkproduknya. Juga kecil kemungkinan mereka berpaling kepesaing-pesaing anda. M e m p e r t a h a n k a n k e p u a s a n pelanggan dari waktu-ke-waktu akan membina hubungan yang baik dengan pelanggan. Hal ini dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. Pemasaran bukanlah sematamata membuat penjualan; melainkan tentang bagaimana memuaskan pelanggan terus-menerus. Definisi kepuasan menurut Richard Oliver Kepuasan adalah tanggapan pelanggan atas terpenuhinya kebutuhankebutuhannya. Hal itu berarti penilaian bahwa suatu bentuk keistimewaan

94

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 87 - 97

dari suatu barang atau jasa ataupun barang/jasa itu sendiri, memberikan tingkat kenyamanan yang terkait dengan pemenuhan suatu kebutuhan, termasuk pemenuhan kebutuhan di bawah harapan atau pemenuhan kebutuhan melebihi harapan pelanggan. Dengan demikian kepuasan pelanggan adalah target yang berubahubah. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai hal ini perlu memikirkan tentang kebutuhan-kebutuhan apa yang dibawa pelanggan pada masingmasing transaksi dengan suatu perusahaan. Masing-masing pelanggan memasuki situasi jual-beli dengan serangkaian kebutuhan pada tingkat yang berbedabeda.

Agar pelanggan benar-benar puas sehingga mereka ingin kembali lagi dan menceritakan pada orang lain halhal baik mengenai perusahaan, maka harapan-harapan pelanggan tersebut harus terpenuhi. Perusahaan harus melakukan sesuatu yang menarik perhatian pelanggan dan membuat pelanggan berkomentar Wow, ini lebih dari yang saya harapkan atau wow, perusahaan anda bisa menjadi lain dari yang lain.

ZONA TOLERANSI
Menentukan bagaimana kepuasan pelanggan dalam berhubungan dengan perusahaan dikaikan dengan tingkah laku selanjutnya. Kapan dan dalam situasi bagaimana performa perusahaan dianggap relatif cukup memenuhi harapan pelanggan dan bisa ditoleransi, sehingga pelanggan tidak memberikan respon positif maupun negatif atau biasa-biasa saja, hal ini disebut dengan zona toleransi. Intinya, zona toleransi mengandung ide bahwa dalam suatu transaksi pelanggan membawa serangkaian harapan yang berhubungan dengan desired service, yaitu pelayanan yang diharapkan akan diterima, dan adequate service, yaitu pelayanan yang cukup dapat diterima. Diantara dua level pelayanan inilah terletak zona toleransi. Jika pelayanan yang diterima terletak pada zona ini maka pelanggan mungkin akan puas atau pelayanan tersebut dianggap bisa diterima. Jika pelayanannya jauh dibawah tingkat adequate service, maka pelayanan

HARAPAN-HARAPAN TERSELUBUNG PELANGGAN


Perlu juga mengenali kebutuhankebutuhan pelanggan yang berbedabeda levelnya. Jika harapan-harapan pelanggan terpenuhi, mereka pada umumnya akan puas. Jika melampaui dari apa yang diharapkan, pelanggan akan mengekspresikan kepuasan pada tingkat yang tinggi. Pelanggan secara jelas telah mengembangkan harapan-harapan tertingginya dengan mempertimbangkan aspek-aspek tertentu dari interaksi dengan penyedia jasa. Jika harapan-harapan tersebut tidak terpenuhi, biasanya menyangkut hal-hal yang seharusnya juga dianggap atau diperhatikan walaupun tak terkatakan.

Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan

95

tersebut dianggap tidak bisa diterima dan menimbilkan ketidakpuasan. Jika pelayanan yang diterima melebihi tingkat desired service, maka pelanggan mungkin akan puas atau bahkan mungkin sangat puas.

staf perusahaan yang bersangkutan.

SEKEDAR PUAS TIDAKLAH CUKUP


Thomas Jones dan Earl Sasser mengungkapkan suatu poin penting bahwa kecuali dalam kasus yang jarang terjadi, kepuasan total pelanggan adalah kunci untuk mendapatkan loyalitas pelanggan dan membangkitkan performa finansial yang istimewa dan berjangka panjang. 15 poin yang ditonjolkan oleh Jones dan Sasser adalah bahwa sekedar puas tidaklah cukup. Para pelaku bisnis harus berjuang untuk memuaskan pelanggannya secara total karena disitulah terletak hadiahnya.

ALASAN UNTUK KEMBALI


Salah satu cara untuk membuat suatu perusahaan berbeda dari para pesaingnya adalah melalui penciptaan nilai yang tidak semata-mata dengan menurunkan harga barang atau jasa inti, melainkan pada level yang lebih tinggi terkait dengan pelayanan pelanggan yang membuat pelanggan merasa berbeda ketika diperlakukan dengan hormat dan mereka bisa menikmati hubungan dengan para

Konsep membangun pelanggan:


Membangun Pelanggan Relationship (Hubungan)

Mengarah pada Retention (Ketahanan)

Menghasilkan Referrals (Perekomendasian)

Dan lebih mudah melakukan Recovery (Pemulihan)

96

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011, 87 - 97

Hubungan terjadi ketika pelanggan secara sukarela melakukan bisnis dengan sebuah perusahaan dengan jangka waktu yang lama. Membangun hubungan berarti mendekati pelanggan dan berusaha untuk memahami dan melayani mereka dengan lebih baik.Sifat alamiah suatu hubungan membutuhkan kepercayaan, kometment, komunikasi dan pemahaman. Ketahanan adalah bagaimana memper tahankan pelanggan yang kita inginkan dengan memenuhi dan m e m e u a s k a n k e b u t u h a n m e re k a . Mempertahankan pelanggan jauh lebih murah daripada mencari pelanggan. Fokus seharusnya adalah pelanggan bertahan sacara suka rela.Jika pelanggan bertahan karena tidak memiliki alternatif atau kita mengunci mereka dengan program berhadiah, hal ini sedikit sekali membantu perkembangan hubungan jangka panjang. Seringkali begitu pelanggan dapat membebaskan diri dari situasi yang dirasa membelenggu pelanggan tersebut kan berpindah berbiusnis denga perusahaan lain Perekomendasian merujuk pada penyebaran berita dari mulutu ke mulut yang merupakan hasil dari kepuasan pelanggan.Pesan yang kuat yang memuaskan pelanggan akan dibawah kepada orang lain.Ketika pelanggan merasa sangat puas dengan jasa atau produk, mereka cendrung menyebarkan berita tersebut. Orang lain akan mencoba sesuatu yang baru jika hal tersebut direkomendasikan oleh kolega, teman atau

anggota keluarga yang dapat dipercaya. Pemulihan dari pelayanan yang buruk kepada pelanggan harus menjadi komponen yang penting dalam mengelola hubungan dengan pelanggan. Kesalahan dapat diubah menjadi kesempatan untuk membuat pelanggan terkesan dan memenangkan loyalitas mereka. Dengan demikin kita dapat menegaskan kometment kita terhadap pelanggan tersebut dan mereka dapat merekomendasikan kometmen kita kepada pelanggan baru.

PENUTUP
Keberlanjutan bisnis sangat dipengaruhi oleh adanya loyalitas pelannggan.Loyalitas harus dibangun dan diusahakan dengan strategi komunikasi pemasaran.Strategi komunikasi pemasaran dibangun dalam rangka untuk mengubah pengetahuan (knowledge change) perubahan sikap(attitude change), perubahan perilaku(behavior change) dari konsumen akan sebuah produk atau perusahaan. Dengan demikian usaha untuk membina hubungan baik dengan pelanggan dalam waktu yang lama berdampak pada keuntungan bisnis yang lama juga.Lamanya pelanggan berbisnis dengan perusahaan tertentu merupakan indicator dari loyalitas pelanggan.Dari loyalitas ini dapat diharapkan impact yang lain yaitu rekomendasi perusahaan atau produk kepada pihak lain. Sehingga pelanggan baru dapat kita dapatkan tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar.

Didik Hariyanto, Memperebutkan Loyalitas Pelanggan

97

DAFTAR PUSTAKA
James G. Barnes. 2003. Secrets of C u s t o m e r Re l a t i o n s h i p Management (Rahasia Manajemen Hubungan Pelanggan) Yogyakarta: Penerbit Andi Rd. Soemanagara. 2008. Strategic Marketing Communication (Konsep Strategis dan Terapan). Bandung: Alfa Beta Cravens, W. David, 1996, Pemasaran Strategis, Jakarta: Erlangga. Chandra, Handi, 2008, Marketing untuk Orang Awam, Palembang: Maxikom. Kriyantono, Rahmat, 2008, Public Re l a t i o n Wr i t i n g , J a k a r t a : Kencana. Kotler, Philip & Amstrong G 1997, DasarDasar Manajemen Pemasaran, Jilid 1. Edisi Indonesia, Jakarta: PT. Prehallindo. Machfoedz, Mahmud, 2010, Komunikasi Pemasaran Modern, Yogyakarta: Cakra Ilmu.

Moleong, Lexy J, 2009, Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung: PT. Remaja RosdaKarya. Nova, Firsan, 2009, Crisis Public Relation, Jakarta: PT. Grasindo. Ruslan, Rosady, 1998, Manajemen Public Relation & Media Komunikasi, Jakarta: PT. Rajagrapindo Persada. Soemanagara, Rd, 2008, Strategic Marketing Communication, Bandung: Alfabeta. Sulaksana, Uyung, 2003, Integrated Marketing Communication, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suryani, Tatik, 2008, Perilaku Konsumen, Yogyakarta: Graha Ilmu. Sutisna, 2003, Perilaku konsumen dan Komunikasi Pemasaran, Bandung: PT. Ramaja Rosdakarya. Tjiptono, Fandy, 1997, S t r a t e g i Pemasaran, Yogyakarta: Andi.

98

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011

Index Pemulis
A Andriyani, Lusi Islam Ideologi dan Terbangunnya Partai Politik Islam (Studi pada Partai Keadilan Sejahtera), 51-62 Arisanti, Lina Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri terhadap Motivasi Petani dalam Penerapan Teknologi Padi Sistem Jajar Legowo (Kasus di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri), 1-14 H Hariyanto, Didik Memperebutkan Loyalitas Pelanggan, 87-97 I Irwandi, Dedy Penerapan Strategi Komunikasi Pembangunan Pertanian untuk Membangkitkan Partisipasi Masyarakat, 31-39 R Rodiyah, Isnaini Kepemimpinan Strategis pada Pelayanan Publik Building The Trust, 63-78 S Samsi Hariadi, Sunarru Pengaruh Komunikasi Interpersonal Suami-Istri terhadap Motivasi Petani dalam Penerapan Teknologi Padi Sistem Jajar Legowo (Kasus di Desa Jagul Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri), 1-14 Setiawan Herianto, Ageng Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos tentang Program Pendidikan Murah Berkualitas dan Ganti Rugi Lahan Pemerintah Kota Pekanbaru, 15-30 Sukartik, Dewi Liputan Pemberitaan Surat Kabar Harian Riau Pos tentang Program Pendidikan Murah Berkualitas dan Ganti Rugi Lahan Pemerintah Kota Pekanbaru, 15-30 Surokim Ekonomi Politik Pendirian Media Penyiaran TV Lokal di Jawa Timur, 41-49 W Wahyudi, Muhtar Revitalisasi (Ilmu) Komunikasi, 79-86

KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011

99

Index Subyek
accountability 73 action 39 AKAP (awareness, knowledge, attitudes, practice) 36 Apathy 74 application of Jajar Legowo technology. 1 appreciation of others 66 approach 32 aspek konatif 12 attention 39 attitude change 96 audience salience 17 awareness 89 behavior change 96 benet 88 best practice 42 bottom-up 33 bottom-up planning 36 Brush off 74 building the trust 6373 bussiness 41 Center for Public Policy Studies 67 citizen consultation 75 client 74 coercive 76 Coldness 74 communicatiion strategies 31 communication studies 79 complaint handling 89 Condescension 74 consumers oriented 88 content program 41 contestability 72 Continous Improvement 87 core values 67 coverage of news 15 creation of news 22 customer focus 72 daily newspaper riau pos 15 dakwah party 51 Dakwah Salayah 58 decision 39 dene problems 21 desire 39 development program 15

diagnose causes 21 differensiasi 44 diversity of owneship 43 early warning 44 economic growth 31 economy politic media 41 empathy 81 empowerment 74 Enveriomentalisme 53 epistemologis 83 equality 32 equaty 32 euphoria 81 Expentancy Theory 4 familiary 17 farmer centered oriented 35 farmer motivation 1 Fasisme 53 favorability 17 Feminisme 53 Fenomena Quranik 54 nancial dan moril 75 folk media 35 follow up 89 freedom of action 17 good governance 65 grass root 35 Haqiqah Shuyah 58 helping people to help themselves 32 Hermeneutik Dalam 81 homoli 3 house journal 89 ideologi revolusioner 54 impression motivation function 9 inuencee 66 inuencer 66 interest 3989 interpersonal communication 1 intersubjectivity communication 80 Islamic Value 51 Islam identity 51

100 KALAMSIASI, Vol. 4, No. 1, Maret 2011 Kapitalisme 53 kepemimpinan strategis 63 knowledge change 96 komunikasi informatif 89 komunikasi persuasif 89 Komunisme 53 Konsevatisme 53 kualitas layanan publik 63 late majority 11 leadership 66 lebenswelt 80 lifestyle 47 likelihood of action 17 local tv 41 Logis atau Logical Framework Approach (LFP) 35 loyalty, 87 make moral judgement 21 malnutrition 36 mis-communication 82 modernism; authorization 79 ngepos 23 Objective Oriented Project Planning (OOPP) 35 outsiders 38 palu godam 46 Partai Dakwah 59 Participatory Rural Appraisal (PRA) 35 Partisipatif Participatory Learning and Action (PLA) 35 Partisipatory Communication Strategy Design (PCSD) 34 Partisipatory Rural Community Appraisal (PRCA) 34 people centered development 31 personal salience 17 plan and system oriented 36 posisioning 44 preferensi 46 Press Foundation of Asia 19 public service measures 73 public sphere 80 public trust 64 Rabbaniyah 58 rank spearman 7

reality show 47 reception quality 42 recognition 66 recommendation 87 relationship 87 reporting bias 15 Resource sharing 75 revitalization 79 Robotism 74 Role Book 74 Rondaround 74 rusukul mabda 59 sales force 88 selectivity of news 22 service 87 society participation 31 status quo 65 Strategic Extension Campaign (SEC) 34 support 17 survive 41 syntacsis 21 system jajar legowo 2 Tarbiyah 56 teach by example 73 Thariqah Sunniyah 58 Theory Of Planned Behavior 4 the MoU framing of news and analysis 15 transformational leadership 66 treatment recommendation 21 truly citizencentered 75 unconscious communication 80 Universal 58 valence 17 value-driven 73 visibility 17 vocal problem 36 with the people, not just for the people 32 zerro burning agriculture 36

W Z

Anda mungkin juga menyukai