Anda di halaman 1dari 9

Nama : Trias Putra Pamungkas NPM : 1102011286 LO.1 Memahami dan menjelaskan kapiler darah LI 1.

1 Menjelaskan pengertian kapiler darah LI 1.2 Menjelaskan fungsi kapiler darah LI 1.3 Menjelaskan strukur kapiler darah LI 1.4 Menjelaskan mekanisme kapiler darah LI 1.5 Hubungan tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik LO.2 Memahami dan menjelaskan aspek biokimia dan fisiologis kelebihan cairan tubuh LI 2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme air LI 2.2 Penyebab serta koreksi kelebihan cairan LI 2.3 Tenaga aliran darah berasal dari tekanan hidrostatik, tekanan koloid osmotik protein darah dan tekanan hidrostatik cairan interstisial LI 2.4 Terjadinya edema pada gangguan kesetimbangan aliran darah di kapiler, arteri, venule dan limfe LO.3 Memahami gangguan kelebihan cairan tubuh LI 3.1 Memahami definisi edema LI 3.2 Menjelaskan etiologi dan klasifikasi edema LI 3.3 Menjelaskan manifestasi klinis kelebihan air dalam tubuh LI 3.4 Menjelaskan laboratoriumpenyaring kelebihan air dalam tubuh LI 3.5 Menjelaskan penatalaksanaan kelebihan air dalam tubuh

LO.1 Memahami dan menjelaskan kapiler darah LI 1.1 Menjelaskan pengertian kapiler darah Kapiler adalah struktur yang sangat tipis dengan dinding berupa satu lapis sel endotel yang sangat permeable dan terjadi pertukaran zat makanan dan hasil-hasil yang dikeluarkan oleh sel antara jaringan dan darah sirkulasi (Guyton & Hall, 1997) Kapiler adalah pembuluh darah mikroskopis kecil antara arteri dan vena yang mendistribusikan darah yang kaya oksigen ke jaringan tubuh. (http://kamuskesehatan.com/arti/kapiler ) LI 1.2 Menjelaskan fungsi kapiler darah Fungsi adalah menyediakan jaringan dengan komponen, dan dilakukan oleh, darah, dan juga untuk menghapus limbah dari sel-sel sekitarnya . dibandingkan dengan hanya bergerak darah di sekitar tubuh (dalam kasus pembuluh darah lainnya) . Serta pertukaran oksigen, karbondioksida, air garam, dll. Antara darah dan jaringan tubuh sekitarnya. (http://www.ivy-rose.co.uk/HumanBody/Blood/Blood_Vessels.php ) Pertukaran zat makanan dan hasil-hasil yang dikeluarkan oleh sel antara jaringan dan darah sirkulasi Kecepatan rata-rata aliran darah yang melalui setiap rangkaian kapiler jaringan, tekanan kapiler rata-rata dan kecepatan rata-rata pemindahan zat antara darah kapiler dan cairan interstisial di sekelilingnya. (Guyton & Hall, 1997) LI 1.3 Menjelaskan struktur kapiler darah Dinding kapiler Tebal dinding kapiler Diameter kapiler pori-pori : Satu sel endotel : 0,5 mikrometer : 4-9 mikrometer : celah interseluler

Banyak vesikel plasmalemal : terdapat pada sel endotel terbentuk pada salah satu permukaan sel dengan menyerap paket-paket plasma kecil atau cairan ekstraseluler Adanya penghubung celah antar sel untuk menghubungkan kapiler bagian dalam dengan bagian luar Kapiler dibagi menjadi tiga : 1. Kapiler sempurna Bayak dijumpai pada jaringan termasuk otot paru,susundan saraf pusat dan kulit. Sitoplasma sel endotel menebal di tempat yang berinti dan menipis di bagian lainnya. 2. Kapiler bertingkat

Kapiler bertingkat dijumpai pada mukosa usus,glomerulus,ginjal dan pancreas. Sitoplasma tipis dan tempat pori-pori. 3. Kapiler sinusidal Kapiler sinusidal mempunyai garis tengah,lumen lebih besar dari normal. - Arteriol sangat berotot dan diameternya dapat berubah beberapa kali lipat. Metarteriol tidak mempunyai lapisan otot yang bersambungan, namun mempunyai serat-serat otot polos yang mengelilingi pembuluh darah pada titik-titik yang bersambungan. - Pada titik dimana kapiler murni berasal dari metarteriol, serat otot polos mengelilingi kapiler yang disebut dengan Sfingter prekapiler yang dapat membuka dan menutup jalan masuk ke kapiler. - Venula ukurannya jauh lebih besar daripada arteriol tapi lapisan ototnya lebih lemah. (Guyton & Hall, 1997)

LI 1.4 Menjelaskan mekanisme kapiler darah Pada rangkaian mesentrium, darah memasuki kapiler melalui arteriol dan meninggalkan arteri melalui venula. Darah yang berasal dari arteriol akan memasuki metarteriol atau arteriol terminalis dan yang mempunyai struktur pertengahan antara arteriol dan kapiler. Sesudah meninggalkan metarteriol , darah memasuki kapiler yang berukuran besar disebut saluran istimewa dan yang berukuran kecil disebut kapiler murni. Sesudah melalui kapiler, darah kembali ke dalam sistemik melalui venula. a. Volume CES harus normal untuk mempertahankan volume plasma. Volume plasma harus konstan dan seimbang antara regulasi ginjal terhadap ekskresi solut dan cair, dengan tekanan onkotik dari tekanan osmotik total, tekanan osmotiknya dilakukan oleh molekulmolekul yang tidak mudah menembus pori-pori kapiler terutama albumin. Tekanan osmotik koloid menimbulkan gradien osmotik fektif pada dinding kapiler. b. Ujung arteriolar kapiler efek utama tekanan hidrostatik kapiler akan menghilangkan ultrafiltrat plasma. Pada normal, ujung vena kapiler tekanan onkotik mengembalikan cairan dan elektrolit. Ada 2 tahap pertukaran antara darah dan jaringan melalui dinding kapiler : 1. Difusi pasif mengikuti penurunan gradient konsentrasi Karena dinding kapiler tidak terdapat sistem transportasi yang memperantai zatzat yang terlarut berpindah terutama melalui proses difusi menuruni gradien konsentrasi mereka. Komposisi kimiawi darah arteri diatur secara cepat untuk mempertahankan konsentrasi setiap zat terlarut ditingkat yang akan mendorong mereka menembus dinding kapiler dengan arah yang sesuai. Difusi setiap zat pelarut terus berlangsung secara

independent sampai tidak ada lagi terdapat perbedaan konsentrasi antara darah dan sel-sel sekitarnya. Proses ini terus berlangsung, semua sel menggunakan O2dan glukosa, sementara darah terus menyuruh menyalurkan pasokan segar kedua zat vital tersebut, sehingga gradient konsentrasi yang mendorong difusi netto zat-zat tersebut dari darah ke sel dapat dipertahankan. 2. Bulk flow Volume cairan bebas probenarnya tersaring keluar kapiler, bercampur dengan cairan interstitium di sekitarnya dan kemudian di reabsorpsi. Bulk flow sangat penting dalam mengatur distribusi CES antara plasma dan cairan interstitium, karena berbagai konstituen cairan berpindah bersama-sama sebagai satu kesatuan. Dinding kapiler berfungsi sebagai ayakan dengan cairan bergerak melalui pori-porinya yang terisi air. Apabila tekanan di dalam kapiler melebihi tekanan diluar, cairan terdorong keluar melalui pori-pori, proses ini dikenal sebagai ultrafiltrasi. Selain itu apabila tekanan yang mengarah ke dalam melebihi tekanan ke arah keluar, maka terjadi perpindahan netto cairan dari kompartemen interstitium ke dalam kapiler melalui pori-pori, proses ini dikenal sebagai reabsorpsi. (Guyton & Hall, 1997)

LI 1.5 Hubungan tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik A. Tekanan Hidrostatik Tekanan permukaan air pada tubuh sama dengan tekanan atmosfir tetapi tekanan meningkat 1 mmHg untuk setiap jarak 13,6 mm dibawah permukaan. Tekanan ini diakibatkan oleh berat air yang disebut tekanan hidrostatik. Tekanan hidrostatik timbul di sistem vaskuler manusia akibat darah pembuluh. Tekanan hidrostatiik juga mempengaruhi tekanan di arteri perifer dan kapiler. Tekanan hidrostatik dibagi dua, yaitu: a. Tekanan Hidrostatik Kapiler (Pc) Tekanan yang bekerja pada bagian dalam dinding kapiler. Tekanan ini cenderung mendorong cairan keluar melalui membran kapiler. Rata-rata tekanan hidrostatik di ujung arteriol kapiler jaringan adalah 37 mmHg dan semakain menurun menjadi 17 mmHg di ujung venula.

b. Tekanan Hidrostatik Cairan Interstitium (Pif) Tekanan cairan yang bekerja di bagian luar dinding kapiler oleh cairan interstitium. Tekanan ini cenderung mendorong cairan ke dalam melalui membran kapiler.

B. Tekanan Osmotik Osmosis molekul air yang melintasi membran permeabel dapat dihambat dengan memberi tekanan yang berlawanan arah dengan osmosis. Besar tekanan yang dibutuhkan untuk hal ini disebut tekanan osmotik. Tekanan osmotik sama dengan tekanan yang harus diberikan untuk mencegah difusi akhir melalui membran. Semakin tinggi tekanan osmotik suatu larutan, konsentrasi air semakin rendah tetapi konsntrasi zat terlarut semakin tinggi. Tekanan osmotik ada 2, yaitu : a. Tekanan Koloid Osmotik plasma Tekanan osmotik dikenal juga sebagai tekanan onkotik yang merupakan gaya yang disebabkan oleh dispersi koloid protein-protein plasma. Tekanan ini cenderung menimbulkan osmosis cairan ke dalam melalui membran kapiler. Karena terdapat perbedaan konsentrasi antara protein plasma dan cairan interstititium juga perbedaan konsentrasi air antar dua kompartemen tersebut, maka menimbulkan efek yang mendorong air dari daerah dengan konsentrasi air rendah di plasma. b. Tekanan Koloid Cairan Interstitium Tekanan ini menimbulkan osmosis cairan keluar melalui membran kapiler. Tekanan ini tidak banyak berperan dalam bulk flow karena sebagian kecil protein plasma yang bocor keluar dinding kapiler dan masuk ke ruang interstitium dalam keadaan normal dikembalikan ke dalam darah melalui sistem limfe. Dengan demikian, konsentrasi protein dalam cairan intertitium sangat rendah dan tekanan osmotik koloid cairan intertitium mendekati nol. Tetapi apabila protein plasma bocor secara patologis, protein yang bocor menimbulkan efek osmotik yang akan mendorong perpindahan cairan keluar dari kapiler dan masuk ke cairan interstisium

Filtrasi sepanjang kapiler terjadi karena ada tenaga Starling : perbedaan tekanan hidrostatik intravaskuler dan interstisiil, dan perbedaan tekanan koloid-osmotik intravaskuler dan interstisiil. Maka aliran cairan : K (Pc + Ti) (Pi + Tc) K Pc Pi Tc Ti = koefisien filtrasi kaplier = tekanan hidrostatik kapiler = 37 mm Hg = tekanan hidrostatik interstitial = 17 mm Hg = tekanan koloid osmotik kapiler = 25 mm Hg = tekanan koloid osmotik interstisiil = diabaikan

(Ganong, 2008 ; Guyton & Hall,1997)

LO.2 Memahami dan menjelaskan aspek biokimia dan fisiologis kelebihan cairan tubuh LI 2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi metabolisme air 1. Perubahan hemodinamik dalam kapiler yang memungkinkan keluarnya cairan intravaskular ke dalam jaringan interstisium Hemodinamik dipengaruhi oleh : y Permeabilitas kapiler y Selisih tekanan hidrolik dalam kapiler dengan tekanan hidrolik dalam intersisium y Selisih tekanan onkotik dalam plasma dengan tekanan onktik dalam intersisium. 2. Retensi natrium di ginjal Retensi natrium dipengaruhi oleh : y Sistem renin angiotensin-aldosteron y Aktifitas ANP y Aktifitas saraf simpatis y Osmoreseptor di hipotalamus

LI 2.2 Penyebab serta koleksi kelebihan cairan Kelebihan volume ECF dapat terjadi jika Na dan air tertahan dengan proporsi yang lebih kurang sama seiring dengan terkumpulnya cairan isotonik berlebihan di ECF (hipervolemia) maka cairan akan berpindah ke kompartemen cairan intersitial > Edema. Kelebihan cairan volume selalu terjadi sekunder akibat peningkatan kadar Na tubuh total yang akan menyebabkan terjadinya retensi air.

Penyebab volume ECF berlebihan : 1. Mekanisme pengaturan yang berubah 2. Gagal jantung 3. Sirosis hati 4. Sindrom nefrotik 5. Gagal ginjal Gejala : 1. Distensi vena jugularis 2. Peningkatan tekanan yang sentral 3. Peningkatan tekanan darah 4. Denyut nadi penuh / kuat 5. Edema perifer dan periobita 6. Asitesis 7. Efusi pleura 8. Edema paru akut 9. Penambahan berat badan secara cepat

LO.3 Memahami gangguan kelebihan cairan tubuh LI 3.1 Memahami definisi edema Edema adalah penimbunan cairan secara berlebihan diantara sel-sel tubuh atau di dalam berbagai rongga tubuh, keadaan ini sering dijumpai pada praktik klinik sehari-hari yang terjadi sebagai akibat ketidakseimbangan factor-faktor yang mengontrol perpindahan cairan tubuh antaralain gangguan hemodinamik sistem kapiler yang menyebabkan retensi natrium dan air, penyakit ginjal serta berbindahnya air dari intravaskular ke interstitium. (Sudoyo dkk, 2009.IPD) Edema adalah pembengkakkan pada cairan tubuh dibawah kulit dalam jaringan tubuh dan lebih sering terjadi pada kaki atau nama lainnya edema perifer. (http://www.medicinenet.com/edema/article.htm ) Edema adalah adanya cairan berlebihan pada jaringan tubuh. Pada banyak keadaan, edema terutama terjadi pada kompartemen cairan ekstraselular namun ini juga dapat melibatkan cairan intraselular (Guyton & Hall, 1997) Edema adalah efek samping yang umum dari pemeriksaan radioterapi pada kanker kepala dan leher. (Annals of Otology, Rhinology & Laryngology, Aug2007, Vol. 116 Issue 8, p559-564, 6p) LI 3.2 Menjelaskan etiologi dan klasifikasi edema Edema dapat dibedakan menjadi : a. Edema lokalisata (edema lokal) Hanya tebatas pada organ/pembuluh darah tertentu. Terdiri dari : y Ekstremitas (unilateral), pada vena atau pembuluh darah limfe y Ekstremitas (bilateral), biasanya pada ekstremitas bawah y Muka (facial edema) y Asites (cairan di rongga peritoneal) y Hidrotoraks (cairan di rongga pleura) b. Edema Generalisata ( edema umum ) Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh atau sebagian besar tubuh pasien. Biasanya pada : y Gagal jantung y Sirosis hepatis y Gangguan ekskresi

Selain itu, edema juga dapat dibedakan menjadi : a.Edema Intaseluler Edema yang biasa terjadi akibat depresi sistem metabolik jaringan dan tidak adanya nutrisi sel yang adekuat. b.Edema Ekstraseluler Edema yang biasanya disebabkan oleh kebocoran abnormal cairan dari plasma ke ruang interstitial dengan melintasi kapiler dan kegagalan limfatik untuk mengembalikan cairan dari interestitium ke dalam darah.

Anda mungkin juga menyukai