Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Panca indra adalah organ organ akhir yang dikhusukan untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Serabut saraf yang menangani merupakan alat perantara yang membawa kesan rasa dari organ indra, menuju ke otak tempat perasaan ini ditafsirkan. Beberapa kesan timbul dari luar seperti misalnya, penglihatan. Organ yang penting disini adalah mata. (Syaifuddin , 2006 : 322) Namun, masyarakat luas belum mengetahui bagaimana indra - indra kita ini diciptakan dapat dioptimalkan fungsinya, cara menjaga indra tersebut yang sehat tetap sehat dan yang terganggu supaya tidak menjadi lebih parah. Dari panca indra yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, pengecap, dan penciuman. Dari kelima panca indra tersebut memiliki fungsi masing-masing tetapi yang paling banyak berperan dalam kehidupan dan paling sedikit dalam rangsangan yaitu indra penglihatan. Banyak manusia yang memiliki indra yang lengkap dan sehat tetapi tidak dapat merawatnya dengan baik sehingga menyebabkan gangguan terutama penglihatan yang khususnya jika terjadi kelainan refraksi. WHO memperkirakan bahwa 153 juta orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi mata. Angka ini tidak termasuk orang yang hidup dengan presbyopia yang tak mungkin cukup signifikan, menurut beberapa bukti awal. Hasil Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan pendengaran yang dilakukan oleh Depkes di sejumlah Propinsi di Indonesia berturut-turut pada tahun anggaran 2003/2004, 2004/2005, 2005/2006, 2006/2007, ditemukan kelainan refraksi sebesar 22,1% dan menempati urutan pertama dalam 10 penyakit mata terbesar di Indonesia. Sedangkan angka kelainan refraksi pada golongan usia sekolah adalah kurang lebih 5%. Kelainan refraksi ini dapat terjadi pada seluruh golongan umur terutama pada golongan anak sekolah yang berumur dari 6 sampai 18 tahun. (http://www.who.int/features/qa/45/en).
1

Apabila dari salah satu indra yang dimiliki manusia terganggu terutama indra penglihatan seperti kelalainan refraksi , maka kehidupan seseorang tersebut berjalan dengan baik sehingga aktifitas yang dilakukannya tidak menghasilkan sesuatu yang optimal. Berdasarkan uraian diatas tentang alat indra diatas penglihatan, kelompok tertarik untuk membahas tentang kelainan refraksi pada mata ini secara lebih mendalam dalam sebuah makalah sehingga mahasiswa dan mahasiswi agar mengetahui bagaimana jika terjadi kelainan refraksi pada matanya maupun jika mendapatkan klien dengan gangguan kelainan refraksi dapat melakukan asuhan keperawatan terhadap klien dengan baik dan benar.

B. Tujuan Penulisan Tujuan dari penulisan ini adalah : 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui tentang kelainan refraksi. 2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui tentang anatomi dan fisiologi mata b. Untuk mengetahui pengertian dan konsep dasar tentang kelainan refraksi c. Untuk mengetahui tentang pengertian, proses terjadi, tanda gejala, serta koreksi mata pada kelainan refraksi berupa: miopia, hipermetropia, astigmatigmus, dan presbiopia. d. Untuk mengetahui secara rinci tentang asuhan keperawatan klien dengan gangguan kelainan refraksi.

C. Ruang Lingkup Penulisan Pada makalah ini, kelompok membatasi ruang lingkup penulisan yaitu konsep dasar tentang kelainan refraksi dan asuhan keperawatan klien dengan gangguan kelainan refraksi.

D. Metode Penulisan Dalam penyusunan makalah ini, kelompok menggunakan metode deskriftif yaitu dengan menggambarkan konsep dasar tentang kelainan refraksi dan asuhan keperawatan klien dengan gangguan kelainan refraksi.

E. Sistematika Penulisan Penulisan makalah ini terdiri dari 3 bab yang meliputi : BAB I BAB II BAB IV BAB III : Pendahuluan : latarbelakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, metode penulisan, sistematika penulisan, : Tinjauan teoritis : konsep dasar kelainan refraksi dan asuhan keperawatan klien dengan gangguan kelainan refraksi. : Asuhan Keperawatan Klien dengan gangguan sistem sensori dan persepsi : kelainan refraksi : Penutup : kesimpulan dan saran.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Anatomi dan Fisiologi Mata

1 1 1. Struktur Mata Terdapat 4 struktur bola mata yang berperan dalam proses perjalanan cahaya dari luar menuju retina, yaitu: a) Kornea Kornea adalah jaringan transparan yang ukuran dan strukturnya sebanding dengan Kristal sebuah jam tangan kecil. Kornea ini disisipkan ke sclera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus skleralis. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Dari anterior ke posterior kornea mempunyai lima lapisan yang berbeda-beda: lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descemet, dan lapisan endotel. Lapisan epitel mempunyai lima atau enam lapis sel sedangkan endotel hanya satu lapis. Lapisan Bowman merupakan lapisan jernih aseluler, yang merupakan bagian stroma
4

yang berubah. Membran Descemet merupakan suatu membran elastik yang jernih yang tampak amorf pada pemeriksaan mikroskop elekron dan merupakan membran basalis dari endotel kornea. Stroma kornea mencakup sekitar 90% dari ketebalan lensa. Bagian ini tersusun dari lamella fibril-fibril kolagen dengan lebar sekitar 1 m yang salin menjalin yang hampir mencakup seluruh diameter kornea. Lamella ini berjalan sejajar dengan permukaan kornea dan karena ukuran dan periodiditasnya secara optic menjadi jernih. Lamella terletak di dalam suatu zat dasar proteoglikan hidrat bersama dengan keratosit yang menghasilkan kolagen dan zat dasar. ( Sidarta ilyas , 2006 ; 4) Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-

pembuluh darah limbus, humor aqueus, dan air mata. Kornea superficial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfer. Sarafsaraf sensorik kornea didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V (trigeminus). Kornea mempunyai indeksi bias 1,38. Kelengkungan kornea mempunyai kekuatan yang sebanding dengan lensa hingga 40 dioptri. Pemeriksaan kelengkungan kornea ditentukan dengan keratometer. Keratometri diperlukan untuk: 1) 2) Melihat kecembungan yang teratur Meluhat kecembungan berbeda pada meridian berbeda sehingga diketahui 3) 4) mata tersebut mempunyai kelainan refraksi astigmat/silinder Menyesuaikan kelengkungan lensa kontak yang dapat di steep (cembung kuat), flat (permukaan yang rata) dan normal Melihat kemungkinan terdapat permukaan kornea yang tidak teratur atau astigmat ireguler b) Humor aquaeus Humor aqueus diproduksi oleh korpus siliaris. Setelah memasuki kamera okuli posterior, humor aqueus melalui pupil masuk

ke kamera okuli anterior dan kemudian ke perifer menuju sudut kamera okuli anterior. c) Lensa Lensa yang berkembang dengan sempurna berbentuk bikonveks dan tidak berwarna sehingga hampir transparan sempurna. Permukaan posteriornya lebih konveks dari permukaan anteriornya. Pada orang dewasa, tebalnya sekitar 4 mm dengan diameter 9 mm. Berat suatu lensa bertambah lima kali lipat berbanding berat lensa saat lahir. Lensa pada orang dewasa diperkirakan seberat 220 gm. Lensa terletak bilik mata belakang yaitu antara bagian posterior dari iris dan bagian anterior dari corpus vitreous yang dinamakan fossa hialoid. Terdapat serabut-serabut yang dinamakan zonulla zinni (zonula fibres) di sekitar ekuator lensa yang berfungsi untuk mengikat lensa dengan corpus siliaris. Serabut-serabut ini memegang lensa pada posisinya dan akan berkontraksi atau mengendur saat otot siliaris berkontraksi atau berdilatasi saat proses akomodasi. Lensa merupakan salah satu media refraksi yang penting. Kekuatan dioptri seluruh bola mata adalah sekitar 58 dioptri. Lensa mempunyai kekuatan dioptri sekitar 15 dioptri. Tetapi kekuatan dioptri ini tidak menetap seperti pada kornea (43 dioptri). Kekuatan dioptri lensa berubah dengan meningkatnya umur, yaitu menjadi sekitar 8 dioptri pada umur 40 tahun dan menjadi 1 atau 2 dioptri pada umur 60 tahun. Lensa terbentuk dari kapsul yang elastis, epitel yang terbatas pada permukaan anterior lensa dan serabut-serabut lensa yang dibagi lagi menjadi nukleus dan korteks. Kapsul lensa merupakan suatu membran elastis yang membungkus seluruh permukaan lensa. Kapsul bagian anterior (20m) lebih tebal berbanding kapsul bagian posterior (3m). Di bawah mikroskop electron, kapsul lensa terdiri dari lamela yang mengandung kolagen tipe 4. Pada bagian ekuator lensa, terdapat zonula zinnia yang mengikat lensa pada prosessus ciliaris. Kapsul

lensa berfungsi sebagai diffusion barier dan permeabel terhadap komponen dengan berat molekul rendah. Fungsi utama kapsul lensa adalah untuk membentuk lensa sebagai respon dari penarikan serabutserabut zonula saat proses akomodasi. Epitel lensa berbentuk kuboid dan terletak di bawah kapsul bagian anterior. Di bagian ekuator, sel-sel ini memanjang dan membentuk kolumnar. Di bagian ekuator ini juga sel epitel lensa berubah membentuk serabut-serabut lensa karena di bagian ini aktivitas mitotik berada pada puncaknya. Fungsi sel epitel lensa adalah untuk berdiferensiasi membentuk serabut lensa dan terlibat dalam transportasi antara humor aquous dengan bagian dalamnya dan sekresi material kapsul. Seperti yang telah diketahui, serabut-serabut lensa terbentuk dari multiplikasi dan diferensiasi dari sel epitel lensa di bagian ekuator. Oleh karena pertumbuhan normal dari lensa bermula dari permukaan ke arah dalam, maka serabut yang terbentuk terlebih dahulu dinamakan nukleus lensa dan serabut yang baru terbentuk dinamakan korteks. Enam puluh lima persen lensa terdiri dari air, sekitar 15 % protein, dan sedikit sekali mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Kandungan kalium lebih tinggi di lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Asam askorbat dan glutation terdapat dalam bentuk teroksidasi maupun tereduksi. Tidak ada serat nyeri, pembuluh darah dan persarafan di lensa. d) Korpus Vitreus Vitreus adalah suatu badan gelatin yang jernih dan avaskuler yang membentuk duapertiga dari volume dan berat mata. Vitreus mengisi ruangan yang dibatasi oleh kornea, retina dan diskus optikus. Permukaan luar vitreus (membrane hiloid) normalnya kontak dengan struktur-struktur seperti kapsul lensa posterior, serat-serat zonula pars plana lapisan epitel, retina, dan caput nervi optici. Basis vitreus mempertahankan penempelan yang kuat sepanjang hidup ke lapisan

epitel pars plana dan retina tepat di belakang ora serata Perlekatan ke kapsul lensa dan nervus optikus kuat pada awal kehidupan tetapi segera hilang. Vitreus berisi air sekitar 99%. Sisanya 1% meliputi dua komponen, kolagen dan asam hialuronat, yang memberikan bentuk dan konsistensi mirip gel pada vitreus karena kemampuannya mengikat banyak air. Selain keempat struktur bola mata di atas, terdapat satu struktur lagi yang penting pada proses masuknya cahaya ke retina, yaitu pupil. Pupil merupakan lubang bundar di tengah iris yang sesuai dengan bukaan lensa pada sebuah kamera. Pupil mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran pupil pada prinsipnya diatur oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas parasimpatik yang dihantarkan melalui nervus kranialis III dan dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatik. Pada proses miosis (konstriksi), otot sfingter pupil mengecilkan pupil. Hal ini terjadi pada kondisi lingkungan yang terang dan selama proses akomodasi. Miosis merupakan aktivitas saraf parasimpatis. Pada proses midriasis (dilatasi), otot dilator pupil melebarkan pupil. Hal ini terjadi pada kondisi lingkungan yang gelap. Midriasis merupakan aktivitas saraf simpatis. Secara fisiologik besarnya pupil didapatkan : 1) Perempuan > laki-laki 2) Myopia > hipermetropia 3) Mata biru > mata coklat 4) Dewasa > anak anak atau orang tua 5) Inspirasi > ekspirasi 1. Media Refraksi Media refraksi merupakan bangunan transparan yang harus dilalui berkas cahaya untuk mencapai retina. Komponen media refraksiadalah a. Kornea b. kamera okuli anterior c. kamera okuli posterior
8

d. lensa e. badan vitreus Mata dapat dianggap sebagai kamera dimana sistem refraksinya menghasilkan bayangan kecil dan terbalik di retina. Rangsangan ini diterima oleh sel batang dan kerucut di retina, yang diteruskan melalui N.II ke korteks serebri pusat penglihatan, yang kemudian tampak sebagai bayangan yang tegak. Supaya bayangan tak kabur, kelebihan cahaya diserap oleh lapisan epitel pigmen di retina. Bila intensitas cahaya terlalu tinggi, pupil akan mengecil untuk menguranginya. Alatalat refraksi mata terdiri dari permukaan kornea, humor aqueus, lensa, dan korpus vitreus. Daya refraksi kornea hampir sama dengan humor aqueus, sedangkan daya refraksi lensa hampir sama dengan korpus vitreus. Keseluruhan sistem refraksi mata ini membentuk lensa yang cembung dengan vokus 23 mm. dengan demikian pada mata yang emetrop, dalam keadaan istirahat, sinar yang sejajar yang datang di mata akan dibiaskan tepat di fovea sentralis di retina. Fovea sentralis merupakan posterior principal focus dari sistem refraksi mata ini dimana cahaya yang datangnya sejajar, setelah melalui sistem refraksi ini bertemu. Fovea sentralis letaknya 23 mm di belakang kornea, tepat dibagian dalam macula lutea. Pembiasan yang terbesar terdapat pada permukaan anterior dari kornea, ditambah dengan permukaan anterior dan posterior dari lensa. ( Sidarta ilyas, 2006 ; 72 )

Gambar 1. Refraksi pada mata emetrop 4

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang terdiri atas kornea, cairan mata, lensa dan panjangnya bola mata. Pada orang normal, susunan pembiasan oleh media penglihatan dan panjangnya bola mata demikian seimbang sehingga bayangan benda setelah melallui media penglihatan dibiaskan tepat pada daerah makula lutea. Mata yang normal dikenal dengan emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat diretinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi / melihat jauh. Dikenal beberapa titik didalam bidang refraksi, seperti Pungtum Proksimum merupakan titik terdekat dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Pungtum Remotum adalah titik terjauh dimana seseorang masih dapat melihat dengan jelas. Titik ini merupakan titik dalam ruang yang berhubungan dengan retina bila mata beristirahat. Pada emetropia pungtum remotum terletak di depan mata sedang pada mata hipermetropia titik semu di belakang mata. 2. Akomodasi Akomodasi adalah kesanggupan mata untuk memperbesar daya pembiasannya. Akomodasi dipengaruhi oleh serat-serat sirkuler mm.siliaris. Fungsi serat-serat sirkuler adalah mengerutkan dan relaksasi serat-serat zonula yang berorigo di lembah-lembah di antara prosesus siliaris. Otot ini mengubah tegangan pada kapsul lensa, sehingga lensa dapat mempunyai berbagai focus baik untuk objek dekat maupun yang berjarak jauh dalam lapangan pandang. ( Sidarta ilyas ,2006 ; 73 ) Ada beberapa teori mengenai mekanisme akomodasi, antara lain: 1) Teori Helmholtz. Jika mm.siliaris berkontraksi maka iris dan korpus siliaris digerakkan ke depan bawah, sehingga zonulla Zinnii menjadi kendor, lensa menjadi cembung. 2) Teori Schoen. Terjadi akibat mm.siliaris pada bola karet yang dipegang dengan kedua tangan dengan jari akan mengakibatkan pencembungan bola di bagian tengah.

10

3) Teori dari Tichering. Jika mm.siliaris berkontraksi maka iris dan korpus siliaris digerakkan ke belakang atas/luar, sehingga zonulla Zinnii menjadi tegang, bagian perifer lensa juga menjadi tegang, sedangkan bagian tengahnya didorong ke sentraldan menjadi cembung. (Sidarta ilyas , 2006; 73 )

Gambar 2. Skema terjadinya akomodasi mata Punctum remotum (R) adalah titik terjauh yang dapat dilihat dengan nyata tanpa akomodasi. Pada emetrop letak R adalah tak terhingga. Punctum proksimum (P) adalah titik terdekat yang dapat dilihat dengan akomodasi maksimal. Daerah akomodasi adalah daerah di antara titik R dan titik P. Lebar akomodasi (A) adalah tenaga yang dibutuhkan untuk melihat daerah akomodasi. Lebar akomodasi dinyatakan dengan dioptri, besarnya sama dengan kekuatan lensa konfeks yang harus diletakkan di depan mata yang menggantikan akomodasi untuk punctum proksimum. A = 1/P 1/R Kekuatan akomodasi makin berkurang dengan bertambahnya umur dan punctum proksimumnya (P) semakin menjauh. Hal ini disebabkan oleh karena berkurangnya elastisitas dari lensa dan berkurangnya kekuatan otot siliarnya.

B. Konsep Dasar Kelainan refraksi adalah kelainan pembiasan sinar oleh media penglihatan yang terdiri dari kornea, cairan mata, lensa, badan kaca, atau panjang bola mata, sehingga bayangan benda dibiaskan tidak tepat di daerah makula lutea tanpa bantuan akomodasi. Kelainan refraksi dapat

11

dibagi menjadi miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmatisme, serta presbiopia yang terjadi pada orang lanjut usia. 1. Miopia Miopia adalah anomali refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina, ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Ini juga dapat dijelaskan pada kondisi refraktif dimana cahaya yang sejajar dari suatu objek yang masuk pada mata akan jatuh di depan retina, tanpa akomodasi. Myopia berasal dari bahasa yunani muopia yang memiliki arti menutup mata. Myopia merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, istilah populernya adalah nearsightedness.(American Optometric Association, 1997) Myopia atau biasa juga disebut sebagai rabun jauh merupakan jenis kerusakan mata yang disebabkan pertumbuhan bola mata yang terlalu panjang atau kelengkungan kornea yang terlalu cekung. (Sidarta, 2007). Myopia merupakan kelainan refraksi dimana berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di depan retina. (Tanjung,2003)

Kata myopia sendiri sebenarnya baru dikenal pada sekitar abad ke 2, yang mana terbentuk dari dua kata meyn yang berarti menutup, dan ops yang berarti mata. Ini memang menyiratkan salah satu ciri ciri penderita myopia yang suka menyipitkan matanya ketika melihat sesuatu yang baginya tampak kurang jelas, karena dengan cara ini akan terbentuk debth of focus di dalam bola mata sehingga titik fokus yang tadinya berada di depan retina, akan bergeser ke belakang mendekati retina. (Nisna, 2008)

12

Sebenarnya, myopia juga dapat dikatakan merupakan keadaan di mana panjang fokus media refrakta lebih pendek dari sumbu orbita (mudahnya, panjang aksial bola mata jika diukur dari kornea hingga makula lutea di retina). (Nisna, 2008) a) Klasifikasi Klasifikasi myopia berdasarkan besarnya derajat refraksi anomaly, antara lain : 1) Myopia ringan : Spheris - 0.25 Dioptri s/d Spheris - 3.00 Dioptri 2) Myopia sedang : Speris - 3.25 Dioptri s/d Spheris - 6.00 Dioptri 3) Myopia tinggi : lebih dari Spheris - 6.25 Dioptri Klasifikasi berdasarkan laju perubahan besarnya derajat anomaly secara klinik, antara lain : 1) Myopia simplek/stasioner/fisiologik Myopia simplek biasanya timbul pada usia yang masih muda kemudian akan berhenti. Tetapi dapat juga naik sedikit kemudian berhenti. Dapat juga naik sedikit pada masa puber sampai sekitar umur 20 tahun. Besar dioptrinya kurang dari S 5.00 Dioptri atau S -6.00 Dioptri. Tetapi kalau dikoreksi dengan lensa yang sesuai dapat mencapai normal yaitu 6/6 atau 20/20. 2) Myopia progresif Myopia ini ditemukan pada segala umur. Pada keadaan ini akan terjadi kelainan fundus yang khas untuk myopia tinggi ( myopia lebih dari Speris -6.00 Dioptri ) 3) Myopia maligna Myopia ini disebut juga dengan myopia patologis/degeneratif karena disertai penuaan dari koroid dan bagian lain dalam bolamata ( lensa, koroid, badan siliar ).

13

Myopia berdasarkan faktor penyebab dapat dibedakan menjadi dua, yaitu : 1) Myopia axial Myopia axial ini dapat terjadi sejak lahir oleh karena faktor hereditas, komplikasi penyakit lain seperti gondok, TBC, dan campak maupun karena konginetal. Selain itu juga dapat karena anak biasa membaca dalam jarak yang selalu dekat sehingga mata luar dan polus posterior yang paling lemah dari bolamata memanjang. Orang yang berwajah lebar akan menyebabkan konvergensi berlebihan saat melakukan pekerjaan dekat, karena peradangan atau melemahnya lapisan yang mengelilingi bolamata disertai tekanan yang tinggi. Myopia ini dapat bertambah terus sampai dewasa. Myopia axial merupakan suatu keadaan dimana jarak fokus media refrakta lebih pendek dibandingkan sumbu orbitnya. Dalam hal ini jarak fokus media refrakta normal 22,6 mm sedangkan jarak sumbu orbitnya adalah > 22,6 mm. 2) Myopia refraktif Myopia refraktif merupakan suatu keadaan dimana jarak fokus media refrakta lebih pendek ddibandingkan sumbu orbitnya. Namun dalam hal ini sumbu orbit normal 22,6 mm sedangkan jarak fokus media refrakta < 22,6 mm b) Gejala dan Tanda Miopia 1) Tanda-tanda Myopia : Penderita berakomodasi mata myopia kurang mampu untuk dibandingkan dengan mata emmetropia.

Penderita myopia mampu melihat obyek dekat dengan jelas tetapi untuk melihat obyek jauh kurang jelas. Oleh karena itu seorang penderita myopia biasanya selalu menyipitkan matanya saat melihat obyek jauh untuk mendapatkan efek pin

14

hole yang akan membantu menggeser bayangan yang tadinya jatuh didepan retina supaya dapat mendekati retina. 2) Gejala Myopia : (a) Gejala tunggal paling penting myopia adalah penglihatan jauh yang kabur atau buram. (b) Sakit kepala jarang dialami meskipun ditunjukkan bahwa koreksi kesalahan myopia yang rendah membantu mengurangi rasa sakit kepala akibat asthenopia. (c) Ada kecenderungan pasien untuk memincingkan mata jika ia ingin melihat jauh, efek pinhole dari celah palpebra membuat ia melihat lebih jelas. (d) Pada penderita myopia atau rabun jauh biasanya suka membaca karena mudah bagi mereka sebagai spekulasi yang menarik. (e) Bahwa penderita myopia yang dikatakan sebagai rabun jauh akan mengatakan penglihatannya kabur untuk melihat jauh an hanya jelas pada jarak dekat. (f) Pada saat membaca selalu mendekatkan benda yang dilihatnya dan saat melihat jauh selalu menyipitkan matanya. (g) Saat diuji dengan bikromatik unit penderita rabun jauh akan melihat obyek dengan warna dasar merah kelihatan lebih jelas/terang dibandingkan dengan warna dasar hijau ( lebih redup ) (h) Bolamata agak menonjol. (i) Biasanya penderita akan melihat ada titik-titik atau benangbenang di lapang pandangnya. (j) Keadaan bolamata cepat lelah, mudah berair, terasa pusing, cepat terasa mengantuk, atau biasanya disebut dengan asthenopia ( kedaan mata cepat lelah/capai ) (k) COA (Camera oculi anterior) dalam keadaanya, karena jarang dipakainya otot-otot akomodasi.

15

(l) Pupil relatif lebih besar/lebar akibat dari kurangnya akomodasi. (m) Iris tremulans. (n) Badan kaca cenderung keruh. (o) Kekeruhan di polus posterior lensa. (p) Dapat terjadi pendarahan di badan kac. (q) Menunjukkan ekspresi mata yang melotot. (r) Akan kelihatan menjulingkan mata. c) Koreksi Mata Koreksi myopia dengan menggunakan lensa konkaf atau lensa negatif, perlu diingat bahwa cahaya yang melalui lensa konkaf akan disebarkan. Karena itu, bila permukaan refraksi mata mempunyai daya bias terlalu besar, seperti pada myopia, kelebihan daya bias ini dapat dinetralisasi dengan meletakkan lensa sferis konkaf di depan mata. (Guyton, 1997)

Besarnya

kekuatan

lensa

yang

digunakan

untuk

mengkoreksi mata myopia ditentukan dengan cara trial and error, yaitu dengan mula-mula meletakan sebuah lensa kuat dan kemudian diganti dengan lensa yang lebih kuat atau lebih lemah sampai memberikan tajam penglihatan yang terbaik. (Guyton, 1997) Pasien myopia yang dikoreksi dengan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal. Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan -3.00

16

dioptri memberikan tajam penglihatan 6/6, demikian juga bila diberi sferis -3.25 dioptri, maka sebaiknya diberikan koreksi -3.00 dioptri agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik setelah dikoreksi. ( Sidarta, 2007). 2. Hipermetropia Hipermetropia merupakan keadaan dimana kekuatan pembiasan sinar pada mata tidak cukup kuat untuk memfokuskan sinar pada bintik kuning (macula lutea), sehingga mata menfokuskan sinar di belakang retina. Hipermetropia merupakan kelainan refraksi dimana dalam keadaan mata istirahat semua sinar sejajar yang datang dari benda-benda pada jarak tak terhingga dibiaskan dibelakang retina, dan sinar-sinar divergen yang datang dari benda-benda yang jaraknya dekat dibiaskan lebih jauh lagi di belakang retina. Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola mata yang lebih pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek, bayangan benda akan difokuskan di belakang retina atau selaput jala. Berdasarkan penyebabnya, hipermetrop dibedakan atas 3 jenis, yaitu: 1) Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek. 2) Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di belakang retina. 3) Hipermetropia indeks refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang pada sistem optic mata, misalnya pada usia lanjut lensa mempunyai indeks refraksi yang berkurang. (sidarta ilyas , 2006 ; 78 )

17

Gambar 3. Refraksi pada mata hipermetrop

Gambar 4. Penggunaan lensa positif pada hipermetrop

1) Bentuk hipermetropia Hipermetropia dikenal dalam bentuk : a) Hipermetropia manifes ialah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini tediri atas hipermetropia absolut ditambah dengan hipermetropia fakultatif. Bila dilakukan pemeriksaan mata pada seorang hipermetropia dan dapat melihat jelas (visus 6/6) dengan +3,00 akan tetapi dapat menjadi lebih jelas dengan +3,50 maka dikatakan hipermetropia manifesnya adalah +3,50 b) Hipermetropia absolut, dimana kelainan refraksi tidak dapat diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh. Pada contoh di atas hipermetropia absolutnya bernilai +3,00. c) Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan

18

kacamata kacamata.

positif. Bila

Pasien yang diberikan

hanya

mempunyai positif yang

hipermetropia fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata memberikan penglihatan normal maka otot akomodasinya akan beristirahat. Pada contoh di atas maka hipermetropia fakultatifnya adalah +3,50 dikurang +3,00 atau 0,50. d) Hipermetropia laten, di mana kelainan hipermetropia tanpa siklopegi (atau dengan obat yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia laten hanya dapat diukur bila diberikan siklopegia. Hipermetropia laten merupakan selisih antara hipermetropia total dan manifes yang menunjukkan kekuatan tonus dari mm.siliaris. Makin muda makin besar komponen hipermetropia laten seseorang, makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian akan menjadi hipermetropia absolut. Hipermetropia laten sehari-hari diatasi pasien dengan akomodasi terus-menerus, terutama bila pasien masih muda dan daya akomodasinya masih kuat e) Hipermetropia total ialah hipermetropia yang ukurannya didapat sesudah diberikan siklopegia. Hasil pengukuran lensa sesudah diberikan siklopegia (hipermetropia total) lebih besar daripada hipermetropia manifes. (sidarta ilyas , 2006 ; 33 ) 2) Gejala dan tanda hipermetropia Pada hipermetropia, untuk melihat benda yang terletak pada jarak jauh sampai tak terhingga (6m atau lebih) dengan baik, mata penderita harus berakomodasi supaya bayangan benda yang difokuskan di belakang retina dapat dipindahkan tepat di retina. Untuk melihat benda yang lebih dekat dengan jelas, akomodasi lebih banyak dibutuhkan, karena

19

bayangannya jatuh lebih jauh lagi di belakang retina. Dengan demikian untuk mendapatkan ketajaman penglihatan sebaikbaiknya penderita hipermetropia harus selalu berakomodasi, baik untuk penglihatan jauh, apalagi untuk penglihatan dekat. Penderita hipermetropia sukar untuk melihat dekat dan tidak sukar melihat jauh. Penglihatan jauh dapat terganggu bila hipermetropianya tinggi melebihi daya akomodasi, jadi merupakan hipermetropia manifes absolut. Dengan bertambahnya usia maka kemampuan mata berakomodasi untuk mengatasi hipermetropia ringan berkurang. Pasien hipermetropia hingga + 2,00 D dengan usia 20 tahun masih dapat melihat jauh dan dekat tanpa kaca mata dengan tidak mendapatkan kesukaran. Tidak demikian bila sudah berumur 60 tahun. Pada penderita hipermetropia, dirasakan sakit kepala terutama di daerah dahi atau frontal, rasa silau, dan kadang rasa juling atau melihat ganda. Pasien hipermetropia akan mengeluh matanya lelah, panas, mengantuk dan sakit karena terus-menerus harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang retina agar terletak di daerah macula lutea. Keadaan ini disebut astenopia akomodatif. Akibat terus-menerus berakomodasi, maka bola mata bersama-sama melakukan konvergensi dan mata akan sering terlihat mempunyai kedudukan esotropia atau juling kearah dalam(nasal). Pasien memberikan jelas. Pada muda keluhan pasien dengan karena yang hipermetropia matanya banyak tidak akan masih membaca mampu atau

melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan mempergunakan matanya, terutama pada usia yang lanjut akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Selain itu sering terasa sakit kepala, mata terasa pedas, dan tertekan.

20

Pada usia lanjut seluruh titik focus akan berada di belakang retina karena berkurangnya daya akomodasi mata dan penglihatan akan berkurang. Pada hipermetropia terjadi akomodasi terus-menerus sehingga timbul hipertrofi otot siliaris, yang disertai terdorongnya iris ke depan, sehingga bilik mata depan menjadi dangkal. Karena selalu berakomodasi, pupil menjadi miosis. 3) Penyulit pada hipermetropia Mata dengan hipermetropia sering akan memperlihatkan ambliopia akibat mata tanpa akomodasi tidak pernah melihat obyek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir kearah temporal. Penyulit lain adalah esotropia dan glaucoma. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya menggunakan akomodasi. Glaucoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata. 4) Koreksi mata Untuk memperbaiki kelainan refraksi adalah dengan mengubah sistem pembiasan dalam mata. Pada hipermetropia diperlukan lensa cembung atau konveks untuk mematahkan sinar lebih kuat ke dalam lensa. Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi hipermetropia manifes dimana tanpa siklopegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberiakn tajam penglihatan normal. Pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kaca mata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Bila pasien datang dengan + 3,00 D ataupun dengan + 3,25 D dan

21

memberikan ketajaman penglihatan normal, maka diberikan kacamata + 3,25 D. Hal ini untuk memberikan istirahat pada mata akibat hipermetropia fakultatifnya diistirahatkan dengan lensa positif. Pada pasien di mana akomodasi masih sangat kuat atau pada anak-anak, maka sebaiknya dilakukan dengan memberikan siklopegik atau melumpuhkan otot akomodasi. Dengan melumpuhkan otot akomodasi, maka pasien akan mendapatkan koreksi kacamatanya dengan mata yang istirahat. Pada pasien hipermetropia aksial memerlukan kekuatan lensa yang lebih tinggi untuk menggeser sinar ke macula lutea dibanding dengan hipermetropia lain. Pada setiap kekuatan lensa +1 dioptri akan terjadi pembesaran benda yang dilihat sebesar 2%. Penderita yang memakai kacamata positif akan terlihat seolah-olah matanya menjadi besar. Dengan kacamata positif tebal akan terjadi kesukaran melihat seperti gangguan penglihatan tepi dan aberasi sferis. Lensa kontak dapat mengurangi masalah dalam hal koreksi visus penderita hipermetropia akan tetapi perlu diperhatikan kebersihan dan ketelitian pemakaiannya. Selain itu, perlu diperhatikan juga masalah lama pemakaian, infeksi, dan alergi terhadap bahan yang dipakai. 3. Astigmatismus Yang dimaksud dengan astigmatismus atau astigmat atau silinder adalah terdapatnya variasi kurvatur atau kelengkungan kornea atau lensa pada meridian yang berbeda yang akan mengakibatkan sinar tidak terfokus pada satu titik. Setiap meridian mata mempunyai titik focus tersendiri yang letaknya mungkin teratur (pada astigmat regular) dan mungkin pula tidak teratur (pada astigmat ireguler).

22

Astigmatismus biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir, biasanya berjalan bersama dengan myopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan selama hidup. Astigmat merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmat mata tesebut. Astigmat juga dapat terjadi akibat jaringan parut pada kornea atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila dilakukan pengencangan atau pengendoran jahitan pada kornea maka dapat terjadi astigmat akibat terjadi perubahan kelengkungan kornea.

Gambar 5. Gambaran Refraksi pada mata astigmat. 1) Bentuk Astigmatismus Pada astigmat regular, meskipun setiap meridian mempunyai daya bias tersendiri, tetapi perbedaan itu teratur, dari meridian dengan daya bias terlemah sedikit demi sedikit membesar sampai meridian dengan daya bias terkuat. Meridian dengan daya bias terlemah tegak lurus terhadapa meridian dengan daya bias yang terkuat. Pada astigmat ada dua bidang utama, yaitu meridian dengan daya bias maksimal dan minimal yang saling tegak lurus letaknya. Jadi ada meridian yang vertical dan ada yang horizontal. Bila meridian vertical mempunyai daya bias yang yang lebih besar daripada yang horizontal dinamakan astigmat lazim (astigmat with the role), bila sebaliknya disebut astigmat tidak lazim (astigmat against the role).

23

Astigmat lazim lebih sering muncul pada anak-anak sedangkan astigmat tidak lazim lebih banyak pada orang dewasa. Astigmat regular dimana bidang meridian tidak terletak di bidang vertical dan horizontal dikenal sebagai astigmat oblik. Pada astigmat ireguler terdapat perbedaan refraksi yang tak teratur pada setiap meridian dan bahkan mungkin terdapat perbedaan refraksi pada meridian yang sama. Videokeratografi merupakan cara terbaik untuk mengobservasi atau melihat permukaan kornea yang ireguler. Selain itu, astigmat ireguler dapat diketahui dengan keratometer dan/atau feflex retinoskopi yang ireguler. (Sidarta ilyas , 2006 ; 82 ) 2) Gejala dan tanda astigmatismus Seseorang dengan astigmat akan memberikan keluhan: a) Penglihatan ganda pada satu atau kedua mata b) Melihat benda yang bulat menjadi lonjong c) Penglihatan kabur d) Bentukbenda berubah e) Sakit kepala f) Mata tegang dan pegal g) Mata dan fisik lemah h) Pada astigmat tinggi (4-8 D) yang selalu melihat kabur sering mengakibatkan ambliopia. 3) Koreksi mata Koreksi mata astigmat adalah dengan memakai lensa dengan dua kekuatan yang berbeda. Astigmat ringan tidak perlu diberi kacamata. Pada astigmat yang berat dapat diberi kacamata silinder, lensa kontak atau pembedahan. Pada astigmat ireguler, dapat digunakan kontak lensa yang kaku, dimana air mata antara kontak lensa dan permukaan kornea dapat mengkompensasi permukaan kornea yang tidak regular.

24

4. Presbiopia Presbiopia merupakan keadaan refraksi mata dimana punctum proksimum (titik terdekat yang dapat dilihat dengan akomodasi yang maksimal) telah begitu jauh sehingga pekerjaan dekat yang halus seperti membaca, menjahit sukar dilakukan. Pada presbiopia terjadi gangguan akomodasi pada usia lanjut. Presbiopia biasanya mulai muncul pada usia 40 tahun. Dengan bertambahnya usia maka semakin kurang kemampuan mata untuk melihat dekat. Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras, sehingga elastisitasnya berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinnii yang sempurna. Orang yang lemah dengan keadaan umum yang kurang baik sering lebih cepat membutuhkan kacamata baca akibat presbiopia daripada orang sehat dan kuat. 1) Gejala dan tanda Keluahan muncul pada saat membaca dekat. Semua pekerjaan dekat sukar dilakukan karena penglihatan kabur. Bila dipaksakan akan muncul keluhan lain yaitu berupa mata lelah, berair, dan sering terasa pedas. Penderita presbiopia memposisikan membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca, sukar melakukan pekerjaan dengan melihat dekat terutama di malam hari, sering memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca. 2) Koreksi mata Untuk membantu kekurangan daya akomodasi pada presbiopia maka dapat dipergunakan lensa positif untuk menambah kekuatan lensa yang berkurang sesuai usia. Pada pasien presbiopia ini diperlukan kacamata baca atau adisi untuk membaca dekat yang berkekuatan tertentu, biasanya : +1,0 D untuk usia 40 tahun

25

+1,5D untuk usia 45 tahun + 2,0 D untuk usia 50 tahun + 2,5 D untuk usia 55 tahun + 3,0 D untul usia 60 tahun ( Sidarta ilyas , 2006 ; 74) Karena jarak baca biasanya 33 cm, maka adisi + 3,0 dioptri adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan pada seseorang. Pada keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi bila membaca pada jarak 33 cm, karena benda yang dibaca terletak pada titik api lensa + 3,0 dioptri sehingga sinar yang keluar akan sejajar. Kekuatan lensa kacamata baca sering disesuaikan dengan kebutuhannya. Seperti seorang ahli music yang membutuhkan jarak dekat 50 cm untuk membaca not-not sehingga dia membutuhkan kacamata dengan kekuatan lensa yang lebih kecil.

26