Anda di halaman 1dari 54

Page 1 of 1

DAFTAR ISI
(Dipublikasikan ulang oleh: Choiril Imron)

TOKOH - TOKOH ISLAM

· Ummu Salamah r.a


· Abu Ubaidah bin Jarrah r.a
· Zainab Binti Jahsy Bin Ri'ab. r.a.
· Abdullah bin Zubeir
· Al-Miqdad bin Amru bin Tsa`labah r.a
· Bilal bin Robah
· Fathimah Binti Muhammad Rasulullah SAW
· Bara' bin Malik r.a
· Fudhail bin Iyadl At-Tamimy
· Khobbaab bin Al-Art
· Zaid bin Haritsah
· Mu'adz Bin Jabal
· Mush'ab Bin Umair
· Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
· Utbah bin Ghazwan
· Abdullah Bin Mughaffal
· Abdullah Bin Malik
· Ubai bin Ka'ab
· Abdullah Bin Syikhkhir
· Abdullah Bin Sirjis
· Abdullah Bin As-Saaib
· Abdullah Bin Zaid Bin 'Ashim
· Abdullah Bin Zam'ah
· Abdullah Bin Khubaib
· Abdullah Bin Al-Harits
· Abdullah Bin Qais
· Abdullah Bin Yazid
· Abdullah Bin Busyr Al-Aslami
· Abdullah Bin Hisyam
· Khalid Bin Walid
· Zainab Al-Kubra r.a
.· Sofyan Ats-Tsauri
· Abu Hanifah al-Nu'man
· Imam Al – Ghazali
· Khadijah Binti Khuwailid
Page 2 of 2

Ummu Salamah r.a

Lembaran sejarah hijrah Ummat Islam ke Madinah, barangkali tidak bisa melupakan torehan
tinta seorang ibu dengan putrinya yang masih balita.
Keduanya, hanya dengan mengendarai unta dan tidak ada seorang lelakipun yang menemaninya,
meski kemudian ditengah jalan ada orang yang iba dan kemudian mengantarnya, berani
menembus kegelapan malam, melewati teriknya siang dan melawan ganasnya padang sahara,
mengarungi perjalanan yang amat panjang dan melelahkan, kurang lebih 400 km. Dialah
Salamah dan ibunya, Hindun bin Abi Umayyah atau sejarah lebih sering menyebutnya dengan
Ummu Salamah.

Ummu Salamah adalah putri dari pemuka kaum kaya dibani Mughirah, Abi Umayyah. Parasnya
jelita dan ia adalah seorang yang cerdas. Setelah menginjak usia remaja ia dinikahkan dengan
Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Lalu keduanya berkat hidayah Allah SWT menyatakan
keislamannya.
Ketika kaum Muslimin berhijrah keMadinah, keduanya ikut pula didalamnya, meski tidak dalam
waktu yang bersamaan. Abdullah (Abu Salamah) berangkat terlebih dahulu, setelah itu Ummu
Salamah menyusul seorang diri dengan anaknya. Lalu mulailah mereka berdua menjalani
kehidupannya bersama anak-anaknya dikota Madinah tercinta.

Tapi tak lama kemudian Abu Salamah akibat luka yang dideritanya semenjak perang Uhud
meninggal dunia. Akhirnya Ummu Salamahpun seorang diri mengasuh dan mendidik anak-
anaknya.Kemudian datanglah Abu Bakar r.a untuk melamarnya, juga Umar bin Khattab r.a.
Namun dengan lemah lembut kedua lamaran tersebut ia kembalikan.
Setelah itu datang pula utusan Rasulullah SAW untuk meminangnya. Ummu Salamahpun
menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Namun setelah mendapat penjelasan dari Rasulullah
SAW akhirnya ia menerima lamaran tersebut.

Diantara para istri Rasulullah SAW, Ummu Salamah adalah istri yang tertua. Dan untuk
menghormatinya, Rasulullah SAW sebagaimana kebiasaannya sehabis sholat Ashar, beliau
mengunjungi istri-istrinya maka beliau memulainya dengan Ummu Salamah r.a dan
mengakhirinya dengan Aisyah r.a
Ummu Salamah wafat pada usia 84 th, bulan Dzul-Qo`dah,tahun 59 Hijrah atau 62 Hijrah dan
dikebumikan diBaqi`. Wallahu a`lam bish-Showab.
( Diolah dari Shifatus Shofwah, Ibnu Jauzi;Min `Alamin Nisa;M.Quthb,dll)

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 3 of 3

Abu Ubaidah bin Jarrah r.a

Kepercayaan ummat

Tubuhnya kurus tinggi dan berjenggot tipis. Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam.
Kualitasnya dapat kita ketahui melalui sabda Nabi SAW :"Sesungguhnya setiap ummat
mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah."
Kehidupan beliau tidak jauh berbeda dengan kebanyakan sahabat lainnya, diisi dengan
pengorbanan dan perjuangan menegakkan Dien Islam. Hal itu tampak ketika beliau harus hijrah
ke Ethiopia pada gelombang kedua demi menyelamatkan aqidahnya. Namun kemudian beliau
balik kembali untuk menyeertai perjuangan Rasulullah SAW , mengikuti setiap peperangan sejak
perang Badar.

Pada saat perang Uhud, lagi-lagi Abu Ubaidah menunjukkan kualitas keimanannya. Dalam
kecamuk perang yang begitu dasyat, ia melihat ayahnya dalam barisan kaum musyrikin. Dan
melihat kepongahan ayahnya, tanpa ragu lagi, ia mengayunkan pedangnya untuk menghabisi
salah satu gembong Quraisy yang tidak lain adalah ayahnya sendiri.
Masih dalam perang Uhud, ketika pasukan muslimin kocar-kacir dan banyak yang lari
meninggalkan pertempuran, justru Abu Ubaidah berlari untuk mendapati Nabinya tanpa takur
sedikitpun terhadap banyaknya lawan dan rintangan. Demi didapati pipi Nabinya terluka, yaitu
terhujamnya dua rantai besi penutup kepala beliau, segera ia berupaya mencabut rantai tersebut
dari pipi Nabi SAW .

Abu Ubaidah mulai mencabut rantai tersebut dengan gigitan giginya. Rantai itupun akhirnya
terlepas dari pipi Rasulullah SAW . Namun bersamaan dengan itu pula gigi seri Abu Ubaidah
ikut terlepas dari tempatnya. Abu Ubaidah tidak jera. Diulanginya sekali lagi untuk mengigit
rantai besi satunya yang masih menancap dipipi Rasulullah SAW hingga terlepas. Dan kali
inipun harus juga diikuti dengan lepasnya gigi Abu Ubaidah sehingga dua gigi seri sahabat ini
ompong karenanya. Sungguh, satu keberanian dan pengorbanan yang tak terperikan.

Sisi lain dari kehebatan sahabat yang satu ini adalah kezuhudannya. Ketika kekuasaan Islam
telah meluas dan kekhalifahan dipimpin Umar r.a, Abu Ubaidah menjadi pemimpin didaerah
Syria`. Saat Umar mengadakan kunjungan dan singgah dirumahnya, tak terlihat sesuatupun oleh
Umar r.a kecuali pedang, perisai dan pelana tunggangannya. Umarpun lantas berujar,"Wahai
sahabatku, mengapa engkau tidak mengambil sesuatu sebagaimana orang lain mengambilnya ?"
Beliau menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, ini saja sudah cukup menyenangkan."

Lelaki mulia ini wafat ketika terjadi wabah penyakit tho`un di Syam. Selamat atasmu wahai Abu
Ubaidah, semoga kami bisa meneladani perilakumu. Wallahu a`lam.
( Adaptasi dari Shifatu Shofwah : I/154 dll )
( Disarikan dari Shifatush Shofwah, Ibnu Jauzi dan Qishhshu An-Nisa Fi Al Qur`an Al-Karim,
Jabir Asyyaal )
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 4 of 4

ZAINAB BINTI JAHSY BIN RI`AB r.a

Istri Nabi yang paling banyak sedekahnya

Zainab binti Jahsy adalah putri dari bibi Rasulullah yang bernama Umaymah binti Abdul
Muthalib bin Hasyim. Zainab adalah seorang wanita yang cantik jelita dari kaum bangsawan
yang terhormat. Dipandang dari ayahnya, Zainab adalah keturunan suku Faras yang berdarah
bangsawan tinggi.
Ia dinikahkan Rasulullah dengan anak angkat kesayangannya Zaid bin Haritsah. Tetapi
pernikahan itu tidak berlangsung lama, mereka akhirnya bercerai. Kemudian Allah
memerintahkan Nabi Muhammad S.A.W untuk menikahi Zainab. "Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya ( menceraikannya ). Kami kawinkan kamu dengan dia
supaya tidak ada keberatan bagi orang mu`min untuk ( mengawini ) istri-istri anak-anak angkat
mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan
adapun ketetapan Allah itu pasti terjadi." (Q.S.33:37 )

Bukhori meriwayatkan dari Anas, Zainab sering berkata, "Aku berbeda dari istri-istri Rasulullah
S.A.W yang lainnya. Mereka dikawinkan oleh ayahnya, atau saudaranya, atau keluarganya,
tetapi aku dikawinkan Allah dari langit."
Zainab adalah seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang, suka menolong fakir
miskin dan kaum lemah. Dia senang sekali memberi sedekah, terutama kepada anak yatim.
Rasulullah pernah bersabda kepada istrinya, "Yang paling dahulu menyusulku kelak adalah yang
paling murah tangannya." Maka berlomba-lombalah istri beliau memberikan sedekah kepada
fakir miskin. Namun tak ada yang bisa mengalahkan Zainab dalam memberikan sedekah. Dari
Aisyah r.a berkata, "Zainab binti Jahsy adalah seorang dari istri-istri Nabi yang aku muliakan.
Allah S.W.T menjaganya dengan ketaqwaan dan saya belum pernah melihat wanita yang lebih
baik dan lebih banyak sedekahnya dan selalu menyambung silaturahmi dan selalu mendekatkan
dirinya kepada Allah selain Zainab."

Mengapa ?, apakah karena Rasulullah memberikan belanja yang berlebih terhadap Zainab ?
Tidak, Rasulullah S.A.W tidak pernah berbuat seperti itu. Lalu dari manakah Zainab
mendapatkan uang untuk sedekah ? Ia memiliki berbagai macam keahlian. Ia bisa menyamak
kulit, memintal serta menenun kain sutra, hasilnya dijual dan disedekahkan. Hal itulah yang
menyebabkan wanita cantik istri Rasulullah ini bersedekah lebih banyak dari yang lainnya.
Setelah Rasulullah wafat, Zainab memperbanyak usahanya, agar bisa melipat gandakan uang
yang diterimanya. Ketika ia mendapat bagian harta dari Baitul Mal dimasa kholifah Umar r.a dia
berdoa, "Ya Allah janganlah harta ini penyebab fitnah." Segera ia bagikan harta itu kepada yatim
piatu dan fakir miskin. Mendengar itu Umar r.a mengirim lagi, tetapi Zainab membagi -
bagikannya lagi kepada yatim piatu dan fakir miskin. Wanita pemurah itu wafat pada tahun 44 H
pada masa Kholifah Muawiyah. Wallahu a`lam.

( Disarikan dari Shifatush Shofwah, Ibnu Jauzi dan Qishhshu An-Nisa Fi Al Qur`an Al-Karim,
Jabir Asyyaal )
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 5 of 5

Abdullah bin Zubeir

Pejuang putra pejuang

Isu bahwa kaum muslimin tidak akan bisa melahirkan bayi karena telah diteluh oleh dukun-
dukun Yahudi di Madinah, terjawab sudah. Seorang wanita mulia putri As Siddiq telah
melahirkan kandungannya ketika beliau sedang hijrah dari Makkah ke Madinah menyusul
teman-temannya seaqidah. Beliau tidak lain adalah Asma` binti Abi Bakar yang melahirkan bayi
laki-laki-laki-laki di Quba` dan diberi nama Abdullah. Sebelum disusui Abdullah bin Zubeir
dibawa menghadap Nabi SAW dan ditahniq dan didoa`kan oleh beliau.

Abdullah yang memang lahir dari pasangan mujahid dan mujahidah ini berkembang menjadi
seorang pemuda pewira yang perkasa. Keperwiraannya dimedan laga ia buktikan ketika bersama
mujahid-mujahid lainnya menggempur Afrika membebaskan mereka dari kesesatan. Pada waktu
mengikuti ekspedisi tersebut usianya baru berkisar 17 tahun. Namun begitulah kehebatan sistem
tarbiyah Islamiyah yang bisa mencetak pemuda belia menjadi tokoh-tokoh pejuang dalam
menegakkan Islam.
Dalam peperangan tersebut jumlah personel diantara dua pasukan jauh tidak seimbang. Personel
kaum muslimin hanya 120 ribu tentara sedangkan musuh berjumlah 120 ribu orang. Keadaan ini
cukup membuat kaum muslimin kerepotan melawan gelombang musuh yang demikian banyak,
walau hal itu tidak membuat mereka keder. Sebab bagi mereka perang adalah mencari kematian
sedang ruhnya bisa membumbung menuju jannah sebagaimana yang telah dijanjikan Rabb
mereka.

Melihat kondisi yang kurang menguntungkan tersebut segera Abdullah memutar otak mencari
rahasia kekuatan lawan. Akhirnya ia menemukan jawaban, bahwa inti kekuatan musuh bertumpu
pada raja Barbar yang menjadi panglima perang mereka. Segera dan dengan penuh keberanian ia
mencoba menembus pasukan musuh yang berlapis-lapis menuju kearah panglima Barbar.
Upayanya tidak sia-sia, ketika jarak antara dirinya dengan raja Barbar telah dekat segera ia
tebaskan pedang nya menghabisi nyawa panglima kaum musyrik tersebut. Panji pasukan lawan
pun direbut oleh teman-temannya dari tangan musuh. Dan ternyata dugaan Abdullah tidak
meleset, segera setelah itu semangat tempur pasukan musuh redup dan tak lama kemudian
mereka bertekuk lutut dihadapan para mujahid yang gagah berani.

Selain seorang jago perang, Abdullah juga seorang `abid yang penuh rasa khusuk dan
ketawadhuan. Mujahis penah memberi kesaksian bahwa apabila Ibnu Zubeir sedang sholat,
tubuhnya seperti batang pohon yang tak bergeming karena khusuknya dalam sholat. Bahkan
Yahya bin Wahab juga bercerita bahwa apabila `Abdullah bin Zubeir ini sedang sujud, banyak
burung-burung kecil bertengger dipunggung beliau karena mengira punggung tersebut adalah
tembok yang kokoh. Tokoh yang tegas dalam kebenaran ini wafat pada usia 72 tahun terbunuh
oleh tangan pendosa Hajjaj bin Yusuf.

( dikembangkan dari Shifatu ash-Shofwah, juz 1,hal 344 )


Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 6 of 6

Al-Miqdad bin Amru bin Tsa`labah r.a

(Sahabat, wafat pada tahun 33 H, dalam usia 70 tahun)


Pasukan Kavaleri Pertama Islam

Ia r.a dijadikan anak angkat oleh al-Aswad bin Abdu Yaghuts, sehingga (dulunya) ia dipanggil
dengan al-Miqdad bin al-Aswad. Ketika turun ayat ke 5 surat Al Ahzaab yang artinya,
"Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka", ia r.a
dipanggil dengan nama al-Miqdad bin Amru. Ia r.a ikut serta dalam perang Badar, Uhud dan
semua peperangan, bersama Rasulullah S.a.w. Postur tubuhnya jangkung, berkulit sawo matang.
Rambut kepalanya lebat dan matanya yang lebar dihiasi dengan bulu mata yang lebat pula.
Jenggotnya dikucir. Al-Qosim bin Abdurrahman berkata, "Yang pertama kali menunggang kuda
untuk berperang adalah al-Miqdad". Bahkan, Rasulullah S.a.w pun memujinya, "
Tidak ada seorangpun diantara kita yang menunggang kuda pada perang Uhud, kecuali al-
Miqdad".

Thoriq bin Syihab meriwayatkan, bahwa Abdullah berkata, "Saya menyaksikan al-Miqdad dalam
suatu pertempuran. Sungguh aku lebih suka menjadi teman baginya yang sebenarnya, daripada
hanya sekedar julukan. Ia (al-Miqdad) datang kepada Nabi ketika beliau sedang berdoa agar
pasukan musyrikin kalah. Lalu ia berkata kepada Rasulullah," Wahai Rasulullah, demi Allah,
kami tidak akan mengatakan kepadamu sebagaimana perkataan Bani Isra`il kepada Musa,
"….pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya
duduk menanti disini saja". (QS.5:24). Tetapi kami akan berperang disamping kiri dan kananmu
serta dimuka dan belakangmu'. Lalu aku lihat muka beliau berseri karena (ucapan al-Miqdad)
tersebut". (HR.al-Imam Ahmad).

Riwayat dari Abdurrahmaan bin Jabir bin Nafir, dari bapaknya mengatakan "Suatu hari kami
duduk bersama al-Miqdad. Seorang lelaki datang dan berkata, "Beruntunglah kedua mata (al-
Miqdad) ini yang telah melihat Rasulullah. Demi Allah, sungguh kami akan senang bila melihat
apa yang kau lihat dan menyaksikan apa yang kau saksikan'. Perkataan tersebut membuatnya
marah, dan kami heran. Padahal ia tak pernah berkata kecuali, dalam kebaikan. Ia memandang
lelaki tersebut dan berkata," Apa yang membuat orang ini mengkhayal sesuatu yang tidak Allah
taqdirkan baginya. Ia tidak mengerti bagaimana keadaan dirinya seandainya menyaksikan (apa
yang saya saksikan). Sungguh, suatu kaum telah datang dan menyaksikan Rasulullah, tetapi
Allah membenamkan mereka ke Jahannam karena tidak mau membenarkan dan beriman
kepadanya. Tidaklah engkau memuji Allah yang telah mengeluarkanmu dalam kondisi tidak
mengerti apa-apa kecuali Rabbmu, lalu kalian membenarkan apa yang dibawa oleh Nabi
kalian…."

(disarikan dari Shifatu ash-Shofwah,I/221-222)


Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 7 of 7

Bilal bin Robah

( Sahabat, wafat pada tahun 20 H, dalam usia 60 tahun ) Mu`adzin pertama yang selalu suci

Sebagai keturunan Afrika mewarisi warna kulit hitam, rambut keriting, dan postur tubuh yang
tinggi. Khas orang Habasyah ( Ethiopia sekarang ). Bilal pada mulanya adalah budak milik
Umayyah bin Kholaf, salah seorang bangsawan Makkah. Karena keislamannya diketahui tuanny,
Bilal disiksa dengan amat keras, hinggga mengundang reaksi dari Abu Bakar yang kemudian
membebaskannya dengan sejumlah tebusan. Karena tebusan ini, Bilal mendapat sebutan Maula
Abu Bakar , atau orang yang dibeli untuk bebas oleh Abu Bakar, bukan untuk dijadikan budak
kembali.

Muhammad bin Ibrahim at-Taimy meriwayatkan , suatu ketika Rasulullah wafat dan belum
dikubur, Bilal mengumandangkan adzan. Saat Bilal menyeru : Asyhadu anna
Muhammmadarrasulullah…., orang-orang yang ada dimasjid menangis. Tatkala Rasulullah telah
dikubur, Abu Bakar berkata "Adzanlah wahai Bilal". Bilal menjawab, "Kalau engkau dahulu
memebebaskanku demi kepentingannmu, aku akan laksanakan, Tapi jika demi Allah, maka
biarkan aku memilih kemauanku." Abu Bakar berkata "Aku membebaskanmu hanya demi
Allah'. Bilal berkata," Sungguh aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepenimggal Rasulullah ".
Kata Abu Bakar, "Kalau begitu terserah kau".

Zurr bin Hubaisy berkisah, Yang pertama menampakkan keislaman adalah Rasulullah, kemudian
Abu Bakar, Ammar dan ibunya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad. Rasulullah dilindungi pamannya,
Abu Bakar dibela sukunya, Adapun yang lain orang-orang musyrik menyiksa mereka dengan
memakai baju besi dibawah terik matahari. Dari semua itu yang paling terhinakan adalah Bilal
karena paling lemah posisinya ditengah masyarakat.
Orang-orang musyrik menyerahkannya kepada anak-anak untuk diarak ramai-ramai dijalan-jalan
Makkah. Ia tetap tegar dengan selalu menyatakan , Ahad…Ahad… Bilal mendapat pendidikan
zuhud langsung dari Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah dtang kepada Bilal yang disisinya ada
seonggok kurma. Rasulullah : "Untuk apa ini, Bilal ?" Bilal, "Ya, Rasulullah aku
mengumpulkannya sedikit demi sedikit untukmu dan untuk tamu-tamu yang datang kepadamu."
Rasulullah, "Apakah kamu tak mengira itu mengandung asap neraka ?" Infakkanlah, jangan takut
tidak mendapat jatah dari Pemilik Arsy."

Buraidah mengisahkan, suatu pagi Rasulullah memanggil Bilal, berkata , " Ya Bilal, dengan apa
kamu mendahuluiku masuk syurga ? Aku mendengar gemerisikmu didepanku. Aku ditiap malam
mendengar gemerisikmu." Jawab Bilal "Aku setiap berhadats langsung berwudhu dan sholat dua
raka`at." Sabda Nabi S.A.W," Ya, dengan itu ".
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 8 of 8

Fathimah Binti Muhammad Rasulullah SAW

Julukannya adalah al-Batuul, yaitu wanita yang memutuskan hubungan dengan yang lain untuk
beribadah atau tiada bandingnya dalam keutamaan ilmu, akhlaq, budi pekerti, kehormatan dan
keturunannya. Lahir bersamaan dengan terjadinya peristiwa agung yang menggoncangkan
Makkah, yaitu peristiwa peletakkan Hajarul Aswad disaat renovasi Ka`bah.

Beliau adalah anak yang paling dicintai oleh keluarganya, terutama ayahnya. Sebagaimana
tampak dalam ucapan Rasulullah SAW ,:"Fathimah adalah bagian dariku, aku merasa susah bila
ia bersedih dan aku merasa terganggu bila ia diganggu".(Ibnu Abdil Barr, Al-Isti`ab). Dalam
hadits lain diriwayatkan "Barang siapa telah memarahinya berarti telah memarahiku".
(H.R.Muslim)

Ketika Fathimah beranjak dewasa, Abu Bakar dan Umar bergiliran untuk meminangnya namun
Rasulullah SAW dengan halus menolaknya. Dan kemudoan ia dinikahkan Rasulullah SAW
dengan Ali bin Abi Thalib ra dengan mahar berupa baju besi pemberian Rasul atas perintah
Allah SWT . Ali bin Abi Thalib ra.bercerita bahwa disaat ia menikahi Fathimah, tiada yang
dimilikinya kecuali kulit kambing yang dijadikan alas tidur pada malam hari dan diletakkan di
atas onta pengangkut air pada siang hari.

Kemudian Rasulullah SAW membekali Fathimah dengan selembar beludru, bantal kulit yang
berisi sabut, dua buah penggiling dan dua buah tempayan air. Saat itu mereka tak memiliki
pembantu, maka Fathimahlah yang menarik penggiling itu hingga membekas ditangannya,
mengambil air dengan tempat air dari kulit biri-biri hingga membekas dipundaknya dan menyapu
rumah hingga pakaiannya terkotori oleh asap api.
Manakala Ali mengetahui bahwa Rasulullah SAW memperoleh banyak pelayan, ia berkata
kepada Fathimah agar meminta kepadanya seorang pelayan. Namun Rasulullah SAW tidak
mengabulkannya dan sebagai gantinya beliau mengajarinya beberapa kalimat do`a, yaitu
membaca tasbih, tahmid dan takbir, masing-masing 10x setelah sholat dan mengajarkan untuk
membaca tasbih 30x, tahmid 30x dan takbir 34x ketika hendak tidur. Dari pernikahan Ali dan
Fathimah, Rasulullah SAW memperoleh 5 orang cucu, Hasan, Husein, Zainab, Ummi Kultsum
dan yang satu meninggal ketika masih kecil.

Cinta Rasulullah SAW kepaa Fathimah terlukis dalam sebuah hadits dari Musawwar bin
Mughromah, ia berkata "Aku mendengar Nabi SAW berkata ketika Beliau sedang berdiri
dimimbar :"Sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin kepadaku agar menikahkan
putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, aku tidak mengizinkan mereka. Kemudian tidak aku
izinkah kecuali bila Ali menceraikan putriku dan menikah dengan putri-putri mereka.
Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dariku, meragukanku apa yang meragukannya dan
menyakitiku apa yang menyakitinya."(H.R Ash-Shohihain)

Fathimah telah meriwayatkan hadits Nabi SAW sebanyak 18 buah. Beliau wafat pada usia 29
tahun dan dikebumikan di Baqi`pada selasa malam, 3 Ramadhan 11 H. Wallahu A`lam bish-
Showab.
(disarikan dari Shifatus Shofwah, Ibnu Jauzi:Min `Alamin Nisa',M.Ali qutfb: Nisa Khaula Rasul,
M.Ibrahim Sulaiman).
Page 9 of 9

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Bara' bin Malik r.a

Sang Pemburu Jannah

Lelaki perkasa ini tidak lain adalah saudara dari Anas bin Malik r.a, khodim Rasulullah S.a.w.
Keberanian dan keperkasaannya di medan laga sudah sudah tidak diragukan lagi. Pernah dalam
satu perang tanding beliau berhasil menghabisi seratus jagoan dari kaum kafir. Baginya,
memasuki jannah dengan mati syahid adalah dambaan yang selalu dicarinya, karena itu sejak
perrang Uhud beliau tidak pernah absen menyertai Rasulullah S.a.w dalam setiap pertempuran.

Ketika Abu Bakar r.a berkuasa, banyak terjadi pembangkangan, antara lain pembangkangan
Musailamah Al Kadzab yang mengaku sebagai Nabi. Segera Abu Bakar memberangkatkan
pasukan menggempur pasukan Musailamah yang tangguh.
Pertempuran antar dua pasukan pun terjadi dengan serunya di Yamamah. Bara` r.a seperti
biasanya segera mengamuk menebas setiap musuh yang berada didekatnya. Namun kekuatan
musuh yang cukup solid hampir membuat semangat tempur kaum muslimin mengendor. Segera
Bara' berteriak dengan suara yang lantang, " Wahai manusia! Demi Allah, tidak ada lagi bagiku
Madinah..! yang ada hanyalah jannah!".Lalu beliau pukul kudanya melesat menyerbu ketengah-
tengah kumpulan musuh. Melihat hal itu, sontak semangat kaum muslimin kembali bangkit dan
segera menyusul Bara' menggempur musuh dengan satu tekad, mati menuju jannah. Akibatnya
pasukan Musailamah terdesak dan mundur memasuki benteng pertahanannya.

Untuk membobol pintu benteng, Bara' berinisiatif agar kawan-kawannya melemparkan dirinya
melewati atas benteng kemudian nanti beliau yang akan membuka pintunya. Sungguh suatu
keberanian yang luar biasa. Usul itupun dilaksanakan. Setelah beliau berhasil masuk segera pintu
benteng dibukanya setelah sebelumnya harus menghabisi sepuluh nyawa pasukan penjaga
benteng. Bagaikan air bah pasukan muslimin segera memasuki benteng dan menghabisi
perlawanan Musailamah sang pendusta. Pada peperangan ini Bara' harus merakan lebih dari 80
luka akibat serangan lawan.

Kini, Bara' telah berada dalam pertempuran lain, perang dengan pasukan penyembah api, satu
diantaranya adi daya kekafiran saat itu; pasukan Persia dengan segala perlengkapannya. Perang-
pun berkecamuk dengan dasyatnya, dan pasukan Persi ternyata menunjukkan kelasnya sebagai
pasukan elite. Mereka berhasil mendesak tentara muslimin. Maka orang-orangpun berkata
kepada Bara' bin Malik, " Wahai Bara', sesungguhnya Rasulullah pernah bersabda kepadamu,
sesungguhnya jika engkau memohon kepada Allah S.W.T pasti Dia mengabulkan, maka
berdo`alah kepada-Nya untuk kehancuran musuh ".Bara' lalu berdo`a memohon kehancuran
pasukan musuh dan agar dirinya mendapat syahid bertemu dengan Nabi-nya yang mulia. Allah
mengabulkan doa`nya sehingga kaum muslimin berhasil melumpuhkan lawan, dan Bara' pun
memperoleh apa yang selama ini dicita-citakannya, syahid dijalan Allah. Bara' …betapa wangi
merah darahmu…kamipun rindu menyusulmu. Wallahu a`lam.
Page 10 of 10

(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah dan Rijal Khaula Rasul).


Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Fudhail bin Iyadl At-Tamimy

Profil ulama akherat, zuhud, wara', dan tidak rakus kekuasaan

Beliau adalah keturunan Bani Yarbu', biasa dipanggil dengan Abu Ali. Lahir di kota Khurasan.
Setelah dewasa ia pindah ke Kufah dan belajar hadits di sana serta memperbanyak ibadahnya.
Kemudian pindah ke Makkah dan wafat di sana.
Ishaq bin Ibrahim berkata, "Setiap malam, beliau menghamparkan tikar di dalam masjid, lalu
melakukan shalat malam. Apabila mengantuk, beliau tidur sebentar, kemudian bangun dan
melakukan shalat lagi. Apabila mengantuk, beliau tidur sebentar lalu bangun dan melakukan
shalat lagi. Begitulah yang beliau lakukan sampai datang waktu shubuh."

Ishaq berkata lagi, "Aku mendengar Fudhail r.a. berkata, 'Apabila kamu tidak mempu melakukan
shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang terhalang
dari rahmat Allah, dan terbelenggu oleh kemaksiatanmu."
Diceritakan oleh Fadhl bin Rabi', bahwa pernah suatu tahun, khalifah Harun Ar-Rasyid
melaksanakan haji. Lalu ia mendatangi Fadhl bin Rabi'. Kemudian mereka berdua mendatangi
beberapa ulama untuk bertanya. Ternyata para ulama tersebut menyatakan bahwa sebaiknya
khalifahlah yang memanggil mereka dan mereka datang, bukan khalifah yang datang kepada
mereka. Pun para ulama, tersebut mau diberi hadiah oleh khalifah, dan hutang-hutang mereka
dilunasi. Lalu tibalah mereka berdua di rumah Fudhail bin Iyadl r.a. Khalifah berkata kepadanya,
"Ambillah hadiah ini". Jawab Fudhail r.a., "Sesungguhnya ketika Umar bin Abdul Aziz
memegang khilafah (kerajaan), beliau mengundang beberapa ulama untuk diajak musyawarah.
Beliau berkata kepada mereka, 'Aku telah diuji Allah dengan ujian yang berat. Maka berilah aku
pendapat'. Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz menganggap memegang kekuasaan adalah suatu
ujian. Tetapi kamu dan para pejabat lainnya menganggapnya sebagai nikmat. Diantara para
ulama tersebut ada yang berkata kepada beliau, 'Jika kamu ingin selamat dari adzab Allah SWT,
maka cintailah Muslimin sebagaimana kamu mencintai dirimu, dan bencilah mereka
sebagaimana kamu membenci dirimu sendiri'. Sesungguhnya aku mengkhawatirkan kamu
tentang suatu hari yang waktu itu banyak kaki-kaki terpeleset (masuk neraka). Maka, adakah
orang yang memberimu pendapat?"

Mendengar itu, Harun Ar-Rasyid menangis histeris, dan berkata kepada Fudhail r.a.,
"Tambahilah nasehatmu kepadaku". Fudhail berkata, "
Sesungguhnya Abbas, paman Rasulullah SAW pernah meminta jabatan kepada beliau. Maka
Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya kepemimpinan adalah kesengsaraan dan enyesalan di
hari kiamat. Jika kamu bisa menolak supaya tidak jadi pemimpin, maka lakukanlah". Harun Ar-
Rasyid menangis lagi, dan meminta tambahan nasehat seperti tadi. Fudhail r.a. berkata, "Hai
orang yang tampan rupa, esok pada hari kiamat, Allah SWT akan meminta
pertanggungjawabanmu tentang rakyatmu. Maka jika kamu dapat menjaga wajahmu itu dari
neraka, maka lakukanlah, dan janganlah menipu rakyatmu, karena Nabi SAW bersabda,
Page 11 of 11

'Barangsiapa yang masuk waktu pagi dalam keadaan menipu, maka ia takkan mencium bau
syurga". Khalifah menangis lagi, dan bertanya, "Apakah kamu punya hutang, sehingga saya
dapat melunasinya?" Fudhail menjawab, "Ya, saya punya hutang kepada Rabbku. Ia akan
menanyakan tentang hutang itu. Celakalah aku jika Rabbku menanyaiku. Celakalah aku, jika Ia
membicarakannya". Khalifah berkata, "Ini ada seribu dinar. Terimalah buat nafkah keluargamu,
dan untuk memperkuat ibadahmu". Fudhail r.a. berkat, "Subhanallah, aku telah menunjukimu
pada jalan keselamatan, tapi engkau malah memberiku imbalan seperti ini. Semoga engkau
diselamatkan Allah SWT". Lalu keluarlah khalifah dari rumah tersebut, sambil berkata kepada
Fadhl bin Rabi', "Jika kau menunjukkan kepadaku seorang alim, maka tunjukkanlah aku pada
orang yang seperti ini (Fudhail)".

Fudhail bin Iyadl r.a. wafat pada tahun 687 H. Semoga Allah merahmatinya, amiin . . . . .
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah, 11/159-164).
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Khobbaab bin Al-Art

(Shahabat wafat pada tahun 37 H. dalam usia 73 tahun) Penuh Derita di Jalan Allah

Ia masuk Islam sebelum Rasulullah membina para shahabatnya di Darul Arqam. Ia orang ke
enam yang masuk Islam.
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa suatu ketika serombongan shahabat Nabi SAW datang
kepada Khobbaab, sambil berkata : "Bergembiralah hai Abu Abdullah. Sambutlah ikhwan
(saudara) mu besok!". Tiba-tiba ia menangis dan berkata, "Saya menangis bukan karena sedih,
tetapi karena kalian telah menyebutkan suatu kaum yang kalian namakan/anggap sebagai saudara
sendiri. Mereka telah berlalu dengan memperoleh ganjaran masing-masing. Aku khawatir kalau-
kalau tidak akan tersisa amal (yang membuahkan pahala) setelah mereka." (maksudnya, para
shahabat adalah orang-orang yang rajin beramal shaleh, sampai-sampai Khobbaab khwatir tidak
ada lagi amal shalwh yang tersisa buatnya, wallahu a'lam).

Qais bin Abi Hazim berkata, "Kami datang menjenguk Khobbaab r.a. Pada perutnya terdapat 7
luka bakar. Ia berkata, 'Seandainya Rasulullah SAW tidak mencegah kita untuk mengharapkan
kematian, pastilah aku akan mengharapkan kematian tersebut. Sudah lama sakit yang saya derita
ini".
Setelah itu kami datang dan melaporkan kepada Rasulullah SAW. Ketika itu ia sedang
berselimutkan dengan sorban. Kami berkata, 'Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak meminta
pertolongan kepada Allah?' Seketika itu wajah beliau memerah. Beliau berkata, 'Demi Allah,
sesungguhnya orang-orang sebelum kalian pernah ditangkap dan lalu kepalanya digergaji,
sehingga terbelahlah badannya menjadi dua bagian'. Namun semua itu tidak membuat mereka
berpaling dari dien (agama) ini.

"Sungguh, Allah akan menyempurnakan / memenangkan agama ini sehingga seorang yang
bepergian antara Shan'a (Yaman) dan Hadharal Maut tidak takut sesuatupun kecuali kepada
Page 12 of 12

Allah, dan srigala yang bakal memakan dombanya." (diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab
Al-Ikrah).
Thariq bin Syihab menjelaskan bahwa Khobbaab r.a. merupakan salah seorang Muhajirin (yang
berhijrah) pertama, dan termasuk orang yang disiksa karena (memperjuangkan agam) Allah
SWT.
Riwayat dari Asy-Sya'bi mejelaskan, bahwa suatu saat Umar bin Al-Khattab r.a. bertanya kepada
Khobbaab r.a. tentang pengalamannya melawan orang-orang Musyrik. Khobbaab menjawab,
'Wahai Amirul Mukminin, lihatlah punggungku ini.'

Umar berkata, 'Saya tidak pernah melihat seperti yang saya lihat hari ini'. Khobbaab r.a. berkata,
'Nyalakan api untukku yang tidak akan padam kecuali setelah tertindih punggungku.'
(maksudnya untuk mengobati rasa sakitnya).
Beliau adalah shahabat yang pertama kali dikebumikan di Kufah.
(Disarikan dari Shifatu Ash-Shofwah, 1223-224)
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Zaid bin Haritsah

Satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur'an

Bapaknya bernama Abdul Uzza bin Imri' Al-Qais, ibunya bernama Sa'di binti Tsa'laba. Ketika
masih kecil, ia diajak ibunya menengok kampung. Tiba-tiba datang pasukan Bani Al-Qayn
menyerang kampung tersebut. Mereka juga menawan serta membawa pergi Zaid. Kemudian ia
dijual kepada Hakim bin Hizam, dengan harga 400 dirham, yang kemudian dihadiahkan kepada
bibinya, Khodijah binti Khuwailid. Ketika Khodijah menikah dengan Rasulullah SAW, Zaid bin
Haritsah dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.

Haritsah, bapak Zaid sedih kehilangan anaknya. Ketika beberapa orang dari Ka'ab menunaikan
haji, mereka melihat dan mengenal Zaik sebagaimana Zaid mengenal mereka. Kepada mereka
Zaid berkata : "Sampaikan beberapa bait syairku ini kepada keluargaku, karena sesungguhnya
aku mengerti bahwa mereka sedih karena kehilanganku". Lalu ia melantunkan beberapa bait
syairnya. Setelah Haritsah mengetahui kabar anaknya, ia berangkat ke Mekkah bersama Ka'ab
bin Syarahil sebagai jaminan. Di hadapan Rasulullah SAW, mengajukan permohonan agar
anaknya, Zaid dibebaskan, dan ia akan memberikan Ka'ab bin Syarahil sebagai jaminannya. Oleh
Rasulullah SAW dikatakan bahwa apabila Zaid memilih untuk ikut ayahnya, maka mereka tidak
perlu memberikan jaminan. Tetapi seandainya Zaid memilih untuk ikut bersama Rasulullah,
sungguh tidak ada paksaan untuk itu. Lalu dipanggillah Zaid. Dikatakan kepadanya : "Apakah
kamu mengenal mereka?" "Ya, ini bapakku dan ini pamanku" jawabnya. Lalu Rasulullah SAW
bersabda : "Aku telah mengenalmu (Zaid), dan kau pun telah mengetahui kecintaanku
kepadamu. Sekarang pilihlah, aku atau mereka berdua". Dengan tegas Zaid menjawab : "Aku
sekali-kali tidak akan memilih orang selain Engkau (ya Rasulullah), Engaku sudah kuanggap
sebagai bapak atau pamanku sendiri".
Page 13 of 13

Setelah itu, Rasulullah SAW mengumumkan kepada khalayak, bahwa Zaid diangkat sebagai
anaknya. Ia mewarisi Rasulullah SAW dan Rasulullah SAW pun mewarisinya. Setelah
mengetahui demikian, bapak dan paman Zaid pergi dengan hati lapang. Zaid akhirnya masuk
Islam, dan dinikahkan dengan Zainab binti Jahsy. Ketika Zainab dicerai Zaid, ia dipersunting
oleh Rasulullah SAW. Maka tersebarlah gunjingan orang-orang Munafiq, bahwa Muhammad
telah menikahi anak perempuannya. Seketika itu turun ayat 40 surah Al-Ahzab yang
membatalkan 'tabanni' (mengangkat anak angkat), sekaligus penjelasan bahwa anak angkat,
secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung. Anak angkat tidak bisa saling waris
mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah dicerai halal untuk dinikahi
bapak angkatnya. Dalam ayat tersebut tercantum langsung nama 'Zaid', yang dengan demikian, ia
adalah satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al-Qur'an.

Zaid bin Haritsah r.a gugur sebagai syahid dalam perang Mu'tah, pada Jumadik Awwal 8 H.
Pada waktu itu usianya 55 tahun.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Mu'adz Bin Jabal

Cendekiawan Muslim Yang Paling Tahu Mana Yang Halal Dan Mana Yang Haram

Tatkala Rasulullah mengambil bai'at dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang
kedua, diantara para utusan yang terdiri atas 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan
wajah berseri, pandangan menarik dan gigi putih berkilat serta memikat perhatian dengan sikap
dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya .
. . .!

Nah, itulah dia Mu'adz bin Jabal r.a . . . . .

Dan kalau begitu, maka ia adalah seorang tokoh dari kalangan anshar yang ikut bai'at pada
perjanjian Aqabah kedua, hingga termasuk Ashshabiqul Awwalun, golongan yang pertama
masuk Islam. Dan orang yang lebih dulu masuk Islam dengan keimanan serta keyakinannya
seperti dimikian, mustahil tidak akan turut bersama Rasulullah dalam setiap perjuangan. Maka
demikianlah halnya Mu'adz . . . .
Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keitstimewaannnya yang utama ialah fiqih atau
keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai
taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah SAW dengan sabdanya :
"Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama
dengan Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah SAW hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu
ditanyainya : "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz?"
Kitabullah", ujar Mu'adz. "Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah?", tanya
Rasulullah pula. "Saya putus dengan Sunnah Rasul", ujuar Mu'adz. "Jika tidak kamu temui
dalam Sunnah Rasulullah?" "Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan
Page 14 of 14

berlaku sia-sia". Maka berseri-serilah wajah Rasulullah, sabdanya: "Segala puji bagi Allah yang
telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah . . . ."

Maka kecintaan Mu'adz terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tidak menutup pintu untuk
mengikuti buah fikirannya, dan tidak menjadi penghalang bagi akalnya untuk memahami
kebenaran-kebenaran dahsyat yang masih tersembunyi yang menunggu usaha orang yang akan
menghadapi dan menyingkapnya.
Dan mungkin kemampuan untuk berijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan
inilah yang menyebabkan Mu'adz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fiqih, mengatasi
teman dan saudara-saudaranya hingga dinyatakan oleh Rasulullah sebagai "orang yang paling
tahu tentang yang halal dan yang haram". Dan cerita-cerita sejarah melukiskan dirinya
bagaimana adanya, yakni sebagai otak yang cermat dan jadi penyuluh serta dapat memutuskan
persoalan dengan sebaik-baiknya . . . .

Di bawah ini kita muat cerita tentang A'idzullah bin Abdillah yakni ketika pada suatu hari di
awal pemerintahan Khalifah Umar, ia masuk mesjid bersama beberapa orang shahabat, katanya:

"Maka duduklah saya pada suatu majlis yang dihadiri oleh tiga puluh orang lebih, masing-
masing menyebutkan sebuah hadits yang mereka terima dari Rasulullah SAW. Pada halaqah atau
lingkaran itu ada seorang anak muda yang amat tampan . . . . hitam manis warna kulitnya, bersih,
manis tutur katanya dan termuda usianya di antara mereka. Jika pada mereka terdapat keraguan
tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu yang segera memberikan fatwanya,
dan ia tak hendak berbicara kecuali bila diminta . . . . Dantatkala majlis itu berakhir, saya dekati
anak muda itu dan saya tanyakan siapa namanya, ujarnya: Saya adalah Mu'adz bin Jabal
."

Shahar bin Hausyab tidak ketinggalan memberikan ulasan, katanya:

"Bila para shahabat berbicara sedang di antara mereka hadir Mu'adz bin Jabal, tentulah mereka
akan sama meminta pendapatnya karena kewibawaannya . . . .!"

Dan Amirul Mu'minin Umar r.a. sendiri sering meminta pendapat dan buah fikirannya. Bahkan
dalam salah satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum,
Umar pernah berkata: "Kalau tidaklah berkat Mu'adz bin Jabal, akan celakalah Umar!"
Dan ternyata Mu'adz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta
memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai
namanya - di celah-celah riwayat dan sejarah, kita dapati ia sebagi yang selalu menjadi pusat
lingkaran. Di mana ia duduk selalulah dilingkungi oleh manusia.

Ia seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda
pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu'adz untuk memutuskannya. Maka jika
ia telah buaka suara, adalah ia sebagimana dilukiskan oleh salah seorang yang mengenalnya:
"Seolah-olah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara . . . ."
Dan kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini serta penghormatan Kaum Muslimin
kepadanya, baik selagi Rasulullah masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Mu'adz
Page 15 of 15

sewaktu ia masih muda. Ia meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum
33 tahun . . . .!

Mu'adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak suatupun yang
diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas.
Sungguh kemurahan Mu'adz telah menghabiskan semua hartanya.
Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu'adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi
ke sana untuk membimbing Kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk-seluk Agama.
Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu'adz kembali ke Yaman, Umar tahu bahwa Mu'adz telah
menjadi seorang yang kaya raya, maka diusulkan Umara kepada khalifah agar kekayaannya itu
dibagi dua. Tanpa menunggu jawaban Abu Bakar, Umar segera pergi ke rumah Mu'adz dan
mengemukakan masalah tersebut.

Mu'adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah
menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya
secara dosa bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat. Oleh sebab itu usul Umar
ditolaknya dan alasan yang dikemukakannya dipatahkannya dengan alasan pula . . . . Umar
berpaling meninggalkannya.
Pagi-pagi keesokan harinya Mu'adz pergi ke rumah Umar. Demi sampai di sana, Umar dirangkul
dan dipeluknya, sementara air mata mengalir mendahului perkataannya, seraya berkata:

"Malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan
tenggelam. Untunglah anda datang, hai Umar dan menyelamatkan saya . . . . !"

Kemudian bersama-sama mereka datang kepad abu Bakar, dan Mu'adz meminta kepada khalifah
untuk mengambil seperdua hartanya. "Tidak satupun yang akan saya ambil darimu", ujar Abu
Bakar. "Sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik", kata Umar menghadapkan
pembicaraannya kepada Mu'adz.
Andai diketahuinya bahwa Mu'adz memperoleh harta itu dari jalan yang tidak sah, maka tidak
satu dirham pun Abu Bakar yang shaleh itu akan menyisakan baginya. Namun Umar tidak pula
berbuat salah dengan melemparkan tuduhan atau menaruh dugaan yang bukan-bukan terhadap
Mu'adz. Hanya saja masa itu adlah mas gemilang, penuh dengan tokoh-tokoh utama yang
berpacu mencapai puncak keutamaan. Di antara mereka ada yang berjalan secara santai, tak ubah
bagi burung yang terbang berputar-putar, ada yang berlari cepat, dan ada pula yang berlari
lambat, namun semua berada dalam kafilah yang sama menuju kepada kebaikan.

Mu'adz pindah ke Syria, di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke
sana sebagi guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubaidah - amir atau gubernur militer di sana -
serta shahabat karib Mu'adz meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mu'minin Umar sebagai
penggantinya di Syria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegan jabatan itu, ia dipanggil
Allah untuk menghadap-Nya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri.

Umar r.a. berkata:


"Sekiranya saya mengangkat Mu'adz sebagai pengganti, lalu ditanya oleh Allah kenapa saya
mengangkatnya, maka akan saya jawab: Saya dengar Nabi-Mu bersabda: Bila ulama menghadap
Allah Azza wa Jalla, pastilah Mu'adz akan berada di antara mereka . . . . !"
Page 16 of 16

Mengangkat sebagai pengganti yang dimaksud Umar di sisi ialah penggantinya sebagi khalifah
bagi seluruh Kaum Muslimin, bukan kepala sesuatu negeri atau wilayah.
Sebelum menghembuskan nafasnya yang akhir, Umar pernah ditanyai orang: "Bagaimana jika
anda tetapkan pengganti anda?" artinya anda pilih sendiri orang yang akan menjadi khalifah itu,
lalu kami bai'at dan menyetujuinya . . . .? Maka ujar Umar:

"Seandainya Mu'adz bin Jabal masih hidup, tentu saya angkat ia sebagi khalifah, dan kemudian
bila saya menghadap Allah Azza wa Jalla dan ditanya tentang pengangkatannya: Siapa yang
kamu angkat menjadi pemimpin bagi ummat manusia, maka akan saya jawab: Saya angkat
Mu'adz bin Jabal setelah mendengar Nabi bersabda: Mu'adz bin Jabal adalah pemimpin golongan
ulama di hari qiamat."

Pada suatu hari Rasulullah SAW, bersabda: "Hai Mu'adz! Demi Allah saya sungguh sayang
kepadamu. Maka jangan lupa setiap habis shalat mengucapkan: Ya Allah, bantulah daku untuk
selalu ingat dan syukur serta beribadat dengan ikhlas kepada-Mu."
Tepat sekali: "Ya Allah, bantulah daku . . . !"

Rasulullah SAW selalu mendesak manusia untuk memahami makna yang agung ini yang
maksudnya ialah bahwa tiada daya maupun upaya, dan tiada bantuan maupun pertolongan
kecuali dengan pertolongan dan daya dari Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar . . . .

Mu'adz mengerti dan memahami ajaran tersebut dan telah menerapkannya secara tepat . . . . Pada
suatu pagi Rasulullah bertemu dengan Mu'adz, maka tanyanya:

· Bagaimana keadaanmu di pagi hari ini, hai Mu'adz?


· Di pagi hari ini aku benar-benar telah beriman, ya Rasulullah, ujar Mu'adz
· Setiap kebenaran ada hakikatnya, ujar Nabi pula, maka apakah hakikat keimananmu?
· Ujar Mu'adz: Setiap berada di pagi hari, aku menyangka tidak akan menemui lagi waktu
sore. Dan setiap berada di waktu sore, aku menyangka tidak akan mencapai lagi waktu pagi . . . .
Dan tiada satu langkah pn yang kulangkahkan, kecuali aku menyangka tiada akan diiringi
dengan langkah lainnya . . . . Dan seolah-olah kesaksian setiap ummat jatuh berlutut, dipanggil
melihat buku catatannya . . . . Dan seolah-olah kusaksikan penduduk surga menikmati
kesenangan surga . . . . Sedang penduduk neraka menderita siksa dalam neraka. Maka sabda
Rasulullah SAW : Memang, kamu mengetahuinya, maka pegang teguhlah jangan dilepaskan . . .
.!

Benar dan tidak salah . . . . Mu'adz telah menyerahkan seluruh jiwa raga dan nasibnya kepada
Allah, hingga tidak suatu pun yang tampak olehnya hanyalah Dia . . . ! Tepat sekali gambaran
yang diberikan Ibnu Mas'ud tentang kepribadiannya. katanya:

"Mu'adz adalah seorang hamba yang tunduk kepada Allah dan berpegang teguh kepada Agama-
Nya. Dan kami menganggap Mu'adz serupa dengan Nabi Ibrahim a.s . . . ."

Mu'adz senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah . . . .
Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat, dan katanya:
Page 17 of 17

"Waspadalah akan tergelincirnya orang yang berilmu! Dan kenalilah kebenaran itu dengan
kebenaran pula, karena kebenaran itu mempunyai cahaya . . . .!"

Menurut Mu'adz, ibadat itu hendaklah dilakukan dengan cermat dan jangan berlebihan.
Pada suatu hari salah seorang Muslim meminta kepadanya agar diberi pelajaran.

- Apakah anda sedia mematuhinya bila saya ajarkan? tanya Mu'adz


- Sungguh, saya amat berharap akan mentaati anda! ujar orang itu. Maka kata Mu'adz
kepadanya: "Shaum dan berbukalah . . . .!"
- Lakukanlah shalat dan tidurlah . . . .!!!
- Berusahalah mencari nafkah dan janganlah berbuat dosa . . . .
- Dan janganlah kamu mati kecuali dalam beragama Islam . . . .
- Serta jauhilah do'a dari orang yang teraniaya . . . .

Menurut Mu'adz, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: "Pelajarilah segala ilmu yang
kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian mafaat dengan ilmu itu sebelum kalian
mengamalkannya lebih dulu . . . .!"
Baginya iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaran-Nya dan
pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa. Berkata Al-Aswad bin Hilal:
"Kami berjalan bersama Mu'adz, maka katanya kepada kami; Marilah kita duduk sebentar
meresapi iman . . . .!"

Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorang oleh sikap jiwa dan fikiran yang tiada mau diam
dan bergejolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa
tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan
mengikutinya lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam
mengingat-ingat Allah dan kesibukannya dalam menganalisa dan mengoreksi dirinya . . . .
Sekarang tibalah ajalnya, Mu'adz dipanggil menghadap Allah . . . Dan dalam sakarat maut,
muncullah dari bawah sadarnya hakikat segala yang bernyawa ini, dan seandainya ia dapat
berbicara akan mengalirlah dari lisannya kata-kata yang dapat menyimpulkan urusan dan
kehidupannya . . . .

Dan pada saat-saat itu Mu'adz pun mengucapkan perkataan yang menyingkapkan dirinya sebagai
seorang Mu'min besar. Sambil matanya menatap ke arah langit, Mu'adz munajat kepada Allah
yang Maha Prngasih, katanya:

"Ya Allah, sesungguhnya selama ini aku takut kepada-Mu, tetapi hari ini aku mengharapkan-Mu
....
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah mencintai dunia demi untuk mengalirkan air
sungai atau menanam kayu-kayuan . . . . tetapi hanyalah untuk menutup haus dikala panas, dan
menghadapi saat-saat yang gawat, serta untuk menambah ilmu pengetahuan, keimanan dan
ketaatan . . . .".

Lalu diulurkanlah tangannya seolah-olah hendak bersalaman dengan maut, dan dalam
keberangkatannya ke alam ghaib masih sempat ia mengatakan:
Page 18 of 18

"Selamat datang wahai maut . . . .Kekasih tiba di saat diperlukan . . . ."


Dan nyawa Mu'adz pun melayanglah menghadap Allah . . . .Kita semua kepunyaan Allah . . .Dan
kepada-Nya kita kembali . . . .

..............

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Mush'ab Bin Umair

Duta Islam Yang Pertama

Mush'ab bin Umair salah seorang diantara para shahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita
memulai kisah dengan pribadinya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling
ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan.
Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang
warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum".
Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak
seorangpun diantara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang
tuanya demikian rupa sebagai yang dialami Mush'ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi
buah-bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat
menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan?
Sungguh, suat riwayat penuh pesona, riwayat Mush'ab bin Umair atau "Mush'ab yang baik",
sebagai biasa digelarkan oleh Kaum Muslimin. Ia salah satu diantara pribadi-pribadi Muslimin
yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW.

· Tetapi corak pribadi manakah?


· Sungguh, kisah hidupnya menjadi kebanggaan bagi kemanusiaan umumnya.

Suatu hari anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas dikalangan warga Mekah
mengenai Muhammad Al-Amin...Muhammad SAW, yang mengatakan bahwa dirinya telah
diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagi da'i yang mengajak ummat
beribadat kepada Allah Yang Maha Esa.
Sementara perhatian warga Mekah terpusat pada berita itu dan tiada yang menjadi buah
pembicaraan mereka kecuali tentang Rasulullah SAW serta Agama yang dibawanya, maka anak
muda yang manja ini paling banyak mendengar berita itu. Karena walaupun usianya masih belia,
tetapi ia menjadi bunga majlis tempat-tempat pertemuan yang selalu diharapkan kehadirannya
oleh para anggota dan teman-temannya. Gayanya yang tampan dan otaknya yang cerdas
merupakan keistimewaan Ibnu Umair, menjadi daya pemikat dan pembuka jalan pemecahan
masalah.
Page 19 of 19

Diantara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa
mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy
dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Keraguannya tiada berjalan lama, hanya sebentar waktu ia menunggu, maka pada suatu senja
didorong oleh kerinduannya pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu
Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para shahabatnya, tempat mengajarnya ayat-ayat Al-
Qur'an dan membawa mereka shalat beribadat kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur'an mulai mengalir dari kalbu
Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para
pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat
menemui sasaran pada kalbunya.

Hampir saja anak muda itu terangkat dari tempat duduknya karena rasa haru, dan serasa terbang
ia karena gembira. Tetapi Rasulullah mengulurkan tangannya yang penuh berkat dan kasih
sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang panas bergejolak, hingga tiba-tiba menjadi
sebuah lubuh hati yang tenang dan damai, tak obah bagai lautan yang teduh dan dalam. Pemuda
yang telah Islam dan Iman itu nampak telah memiliki ilmu dan hikmah yang luas - berlipat ganda
dari ukuran usianya - dan mempunyai kepekatan hati yang mempu merubah jalan sejarah..!

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya
tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanit yang disegani bahkan ditakuti.

Ketika Mush'ab menganut Islam, tiada satu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya
selain ibunya sendiri, bahkan walau seluruh penduduk Mekah beserta berhala-berhala para
pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang
hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab akan menganggapnya enteng. Tapi
tantangan dari ibunya bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan
mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang
dikehendaki Allah. Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majlis
Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan
amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya.

Tetapi di kota Mekah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata
kaum Quraisy berkeliaran dimana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak.
Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam
secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad
SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin
kebenarannya.

Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Mekah yang berkumpul
di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Al-Qur'an yang
disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan
kemuliaan, kejujuran dan ketaqwaan.
Page 20 of 20

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut peteranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan
yang terulur bagi anak panah itu surut dan jatuh terkulai - demi melihat nur atau cahaya yang
membuat wajah yang telah berseri cemerlang itu kian berwibawa dan patut diindahkan -
menimbulkan suatu ketenangan yang mendorong dihentikannya tindakan.
Karena ras keibuannya, ibunda Mush'ab terhindar memukul dan menyakiti puteranya, tetapi tak
dapat menahan diri dari tuntutan bela berhala-berhalanya dengan jalan lain. Dibawalah
puteranyaitu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya amat
rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang
Muslimin hijrah ke Habsyi. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan
berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habsyi melindungkan diri. Ia
tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Mekah. Kemudian ia
pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para shahabat atas titah Rasulullah dan karena taat
kepadanya.

Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush'ab di tiap saat
dan tempat kian meningkat. Ia selesai dan berhasil menempa corak kehidupannya menurut pola
yang modelnya telah dicontohkan Muhammad SAW. Ia merasa puas bahwa kehidupannya telah
layak untuk dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap Penciptanya Yang Maha Tinggi,
Tuhannya Yang Maha Akbar.

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sedeliling
Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka sama menundukkan kepala dan
memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat
Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan
mereka - pakaiannya sebelum masuk Islam - tak obahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-
warni dan menghamburkan bau yang wangi.
Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur
dalam hati, pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata yang artinya :
"Dahulu saya lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari
orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Semenjak ibunya merasa putus asa untuk mengembalikan Mush'ab kepada agama yang lama, ia
telah menghentikan segala pemberian yang biasa dilimpahkan kepadanya, bahkan ia tak sudi
nasinya dimakan orang yang telah mengingkari berhala dan patutu beroleh kutukan daripadanya,
walau anak kandungnya sendiri.

Akhir pertemuan Mush'ab dengan ibunya, ketika perempuan itu hendak mencoba mengurungnya
lagi sewaktu ia pulang dari Habsyi. Ia pun bersumpah dan menyatakan tekadnya untuk
membunuh orang-orang suruhan ibunya bila rencana itu dilakukan. Karena san ibu telah
mengetahui kebulatan tekad puteranya yang telah mengambil satu keputusan, tak ada jalan lain
baginya kecuali melepasnya dengan cucuran air mata, sementara Mush'ab mengucapkan selamat
berpisah dengan menangis pula.
Page 21 of 21

Saat perpisahan itu menggambarkan kepada kita kegigihan luar biasa dalam kekafiran fihak ibu,
sebaliknya kebulatan tekad yang lebih besar dalam mempertahankan keimanan dari fihak anak.
Ketika sang ibu mengusirnya dari rumah sambil berkata : "Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan
ibumu lagi". Maka Mush'ab pun menghampiri ibunya sambil berkata : "Wahai bunda! Telah
anakanda sampaikan nasihat kepada bunda, dan anakanda menaruh kasihan kepada bunda.
Karena itu saksikanlah bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya".

Dengan murka dan naik darah ibunya menyahut : "Demi bintang! sekali-kali aku takkan masuk
ke dalam Agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak, dan buah pikiranku takkan diindahkan orang
lagi".
Demikian Mush'ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan
memilih hidup miskin dan sengsara. Pemuda ganteng dan perlente itu, kini telah menjadi seorang
melarat dengan pakaiannya yang kasar dan usang, sehari makan dan beberapa hari menderita
lapar.

Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi,
telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh
wibawa dan disegani.

Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia
menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada
orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai'at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di
samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota
Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya di kalangan shahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan
lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab. Tetapi Rasulullah
menjatuhkan pilihannya kepada "Mush'ab yang baik". Dan bukan tidak menadari sepenuhnya
bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan meyerahkan
kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah, suatu kota yang tak lama lagi
akan menjadi kota tepatan atau kota hijrah, pusat para da'i dan da'wah tempat berhimpunnya
penyebar Agama dan pembela Al-Islam.

Mush'ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas
dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil
melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk
Islam.
Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang,
yakni hanya orang-orang yang telah bai'at di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan
kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Pada musim haji berikutnya dari perjanjian Aqabah, Kaum Muslimin Madinah mengirim
perutusan yang mewakili mereka menemui Nabi. Dan perutusan itu dipimpin oleh guru mereka,
oleh duta yang dikirim Nabi kepada mereka, yaitu Mush'ab bin Umair.
Page 22 of 22

Dengan tidakannya yang tepat dan bijaksana, Mush'ab bin Umair telah membuktikan bahwa
pilihan Rasulullah SAW atas dirinya itu tepat. Ia memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga
tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru
kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu Agama yang mengajak manusia
mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola
hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan
belaka....

Di Madinah Mush'ab tinggal sebagai tamu di rumah As'ad bin Zararah. Dengan didampingi
As'ad, ia pergi mengunjungi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan, untuk
membacakan ayat-ayat Kitab Suci dari Allah, menyampaikan kalimatullah "bahwa Allah Tuhan
Maha Esa" secara hati-hati.

Pernah ia menghadapi beberapa peristiwa yang mengancam keselamatan diri sert shahabatnya,
yang nyaris celaka kalau tidak karena kecerdasan akal dan kebesaran jiwanya. Suatu hari, ketika
ia sedanga memberikan petuah kepada orang-orang, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala
suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menolong Mush'ab dengan menyentakkan
lembingnya. Bukan main marah dan murkanya Usaid, menyaksikan Mush'ab yang dianggap
akan mengacau dan menyelewengkan anak buahnya dari agama mereka, serta mengemukakan
Tuhan Yang Maha Esa yang belum pernah mereka kenal dan dengar sebelum itu. Padahal
menurut anggapan Usaid, tuhan-tuhan mereka yang bersimpuh lena di tempatnya masing-masing
mudah dihubungi secara kongkrit. Jika seseorang memerlukan salah satu diantaranya, tentulah ia
akan mengetahui tempatnya dan segera pergi mengunjunginya untuk memaparkan kesulitan serta
menyampaikan permohonan.....Demikianlah yang tergambar dan terbayang dalam fikiran suku
Abdul Asyhal. Tetapi Tuhannya Muhammad SAW - yang diserukan beribadah kepada-Nya -
oleh utusan yang datang kepada mereka itu, tiadalah yang mengetahui tempat-Nya dan tak
seorangpun yang dapat melihat-Nya.

Demi dilihat kedatangan Usaid bin Hudlair yang murka bagaikan api sedang berkobar kepada
orang-orang Islam yang duduk bersama Mush'ab, mereka pun merasa kecut dan takut. Tetapi
"Mush'ab yang baik" tetap tinggal tenang dengan air muka yang tidak berubah.
Bagaikan singa hendak menerkam, Usaid berdiri di depan Mush'ab dan As'ad bin Zararah,
bentaknya : "Apa maksud kalian datang ke kampung kami ini, apakah hendak membodohi rakyat
kecil kami? Tinggalkan segera tempat ini, jika tak ingin segera nyawa kalian melayang!"

Seperti tenang dan mantapnya samudera dalam.....,laksana terang dan damainya cahaya fajar....,
terpancarlah ketulusan hati "Mush'ab yang baik", dan bergeraklah lidahnya mengeluarkan
ucapan halus, katanya : "Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandarinya anda
menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa
yang tidak anda sukai itu!"

Sebenarnya Usaid seorang berakal dan berfikiran sehat. Dan sekarang ini ia diajak oleh Mush'ab
untuk berbicara dan meminta pertimbangan kepada hati nuraninya sendiri. Yang dimintanya
hanyalah agar ia bersedia mendengar dan bukan lainnya. Jika ia menyetujui, ia akan membiarkan
Mush'ab, dan jika tidak, maka Mush'ab berjanji akan meninggalkan kampung dan masyarakat
Page 23 of 23

mereka untuk mencari tempat dan masyarakat lain, dengan tidak merugikan ataupun dirugikan
orang lain.

"Sekarang saya insaf", ujar Usaid, lalu menjatuhkan lembingnya ke tanah dan duduk
mendengarkan. Demi Mush'ab membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dan menyampaikan da'wah
yang dibawa oleh Muhammad bin Abdullah SAW, maka dada Usaid pun mulai terbuka dan
bercahaya, beralun berirama mengikuti naik turunnya suara serta meresapi keindahannya. Dan
belum lagi Mush'ab selesai dari uraiannya, Usaid pun berseru kepadanya dan kepada
shahabatnya : "Alangkah indah dan benarnya ucapan itu . . .! Dan apakah yang harus dilakukan
oleh orang yang hendak masuk Agama ini?" Maka sebagai jawabannya gemuruhlah suara tahlil,
serempak seakan hendak menggoncangkan bumi. Kemudian ujar Mush'ab : "
Hendaklah ia mencsucikan diri, pakaian dan badannya, serta bersaksi bahwa tiada Tuhan yang
haq diibadahi melainkan Allah".

Beberapa lama Usaid meninggalkan mereka, kemudian kembali sambil memeras air dari
rambutnya, lalu ia berdiri sambil menyatakan pengakuannya bahwa tiada Tuhan yang haq
diibadahi melainkan Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah . . . .
Secepatnya berita itu pun tersiarlah. Keislaman Usaid disusul oleh kehadiran Sa'ad bin Mu'adz.
Dan setelah mendengar uraian Mush'ab, Sa'ad merasa puas dan masuk Islam pula.
Langkah itu disusul pula oleh Sa'ad bin Ubadah. Dan dengan keislaman mereka ini, berarti
selesailah persoalan dengan berbagai suku yang ada di Madinah. Warga kota Madinah saling
berdatangan dan tanya-bertanya sesama mereka : "Jika Usaid bin Hudlair, Sa'ad bin Ubadah dan
Sa'ad bin Mu'adz telah masuk Islam, apalagi yang kita tunggu . . . . Ayolah kita pergi kepada
Mush'ab dan beriman bersamanya! Kata orang, kebenaran itu terpancar dari celah-celah
giginya!"

Demikianlah duta Rasulullah yang pertama telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya,
suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya. Hari-hari dan tahun-tahun pun
berlalu, dan Rasulullah bersama para shahabatnya hijrah ke Madinah.
Orang-orang Quraisy semakin geram dengan dendamnya, mereka menyiapkan tenaga untuk
melanjutkan tindakan kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shaleh. Terjadilah perang
Badar dan kaum Quraisy pun beroleh pelajaran pahit yang menghabiskan sisa-sisa fikiran sehat
mereka, hingga mereka berusaha untuk menebus kekalahan. Kemudian datanglah giliran perang
Uhud, dan Kaum Muslimin pun bersiap-siap mengatur barisan. Rasulullah berdiri di tengah
barisan itu, menatap setiap wajah orang beriman menyelidiki siapa yang sebaiknya membawa
bendera. Maka terpanggillah "
Mush'ab yang baik", dan pahlawan itu tampil sebagai pembawa bendera.

Peperangan berkobar lalu berkecamuk dengan sengitnya. Pasukan panah melanggar tidak
mentaati peraturan Rasulullah, mereka meninggalkan kedudukannya di celah bukit setelah
melihat orang-orang musyrik menderita kekalahan dan mengundurkan diri. Perbuatan merekaitu
secepatnya merubah suasana, hingga kemenangan Kaum Muslimin beralih menjadi kekalahan.
Dengan tidak diduga pasukan berkuda Quraisy menyerbu Kaum Muslimin dari puncak bukit,
lalu tombak dan pedang pun berdentang bagaikan mengamuk, membantai Kaum Muslimin yang
tengah kacau balau. Melihat barisan Kaum Muslimin porak poranda, musuh pun menujukan
serangan ke arah Rasulullah dengan maksud menghantamnya.
Page 24 of 24

Mush'ab bin Umair menyadari suasana gawat ini. Maka diacungkannya bendera setinggi-
tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka,
melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Minatnya tertuju untuk menarik perhatian
musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan
membentuk barisan tentara.

Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush'ab bertempur laksana pasukan tentara besar . . . .
Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi
menebaskan pedang dengan matanya yang tajam . . . . Tetapi musuh kian bertambah banyak
juga, mereka hendak menyeberang dengan menginjak-injak tubuhnya untuk mencapai
Rasulullah.

Sekarang marilah kita perhatikan saksi mata, yang akan menceriterakan saat-saat terakhir
pahlawan besar Mush'ab bin Umair.
Berkata Ibnu Sa'ad : "Diceriterakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil Al-
Abdari dari bapaknya. Ia berkata :
"Mush'ab bin Umair adalah pembawa bendera di Perang Uhud. Tatkala barisan Kaum Muslimin
pecah, Mush'ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah seorang musuh berkuda, Ibnu Qumaiah
namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush'ab mengucapkan :
"Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh
beberapa Rasul". Maka dipegangnya bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk
melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab
membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil
mengucapkan : "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah
didahului oleh beberapa Rasul". Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan
tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera
jatuh."

Gugurlah Mush'ab dan jatuhlah bendera . . . . Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para
syuhada . . . . Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah
pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush'ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah
jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan
mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas
memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan
sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan : "Muhammad itu tiada lain hanyalah
seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul".

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacnya sampai
selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Qur'an yang selalu dibaca orang.
Setelah pertempuran usai, ditemukanlah jasad pahlawan ulung yang syahid itu terbaring dengan
wajah menelungkup ke tanah digenangi darahnya yang mulai . . . . Dan seolah-olah tubuh yang
telah kaku itu masih takut menyaksikan bila Rasulullah ditimpa bencana, maka disembunyikan
wajahnya agar tidak melihat peristiwa yang dikhawatirkan dan ditakutinya itu. Atau mungkin
juga ia merasa malu karena telah gugur sebelum hatinya tenteram beroleh kepastian akan
Page 25 of 25

keselamatan Rasulullah, dan sebelum ia selesai menunaikan tugasnya dalam membela dan
mempertahankan Raulullah sampai berhasil.

· Wahai Mush'ab cukuplah bagimu Ar-Rahman . . . .


· Namamu harum semerbak dalam kehidupan

Rasulullah bersama para shahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan
perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab,
bercucuranlah dengan deras air matanya. Berkata Khabbah Ibnul Urrat :
"Kami hijrah di jalan Allah bersama Rasulullah SAW dengan mengharap keridhaan-Nya, hingga
pastilah sudah pahala di sisi allah. Di antara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati
pahalanya di dunia ini sedikit pun juga. Di antaranya ialah Mush'ab bin Umair yang tewas di
perang Uhud. Tak sehelai pun kain untuk menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh
di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya,
terbukalah kepalanya. Maka sabda Rasulullah SAW : "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan
kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"

Betapa pun luka pedih dan duka yang dalam menimpa Rasulullah karena gugur pamanda
Hamzah dan dirusak tubuhnya oleh orang-orang musyrik demikian rupa, hingga bercucurlah air
mata Nabi . . . . Dan betapapun penuhnya medan laga dengan mayat para shahabat dan kawan-
kawannya, yang masing-masing mereka baginya merupakan panji-panji ketulusan, kesucian dan
cahaya . . . Betapa juga semua itu, tapi Rasulullah tak melewatkan berhenti sejenak dekat jasad
dutanya yang pertama, untuk melepas dan mengeluarkan isi hatinya . . . . Memang, Rasulullah
berdiri di depan Mush'ab bin Umair dengan pandangan mata yang pendek bagai
menyelubunginya dengan kesetiaan dan kasih sayang, dibacakannya ayat dalam Surah Al-Ahzab
: 23 yang artinya :
"Di antara orang-orang Mu'min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya
dengan Allah."

Kemudian dengan mengeluh memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, seraya
bersabda : "Ketika di Mekah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan
lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai,
hanya dibalut sehelai burdah."
Setelah melayangkan pandang, pandangan sayu ke arah medan serta para syuhada kawan-kawan
Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru : "Sungguh, Rasulullah akan menjadi
saksi nanti di hari qiamat, bahwa tuan-tuan semua adalah syuhada di sisi Allah."

Kemudian sambil berpaling ke arah shahabat yang masih hidup, sabdanya : "Hai manusia!
Berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang
menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari qiamat yang memberi salam kepada
mereka, pasti mereka akan membalasnya."

Salam atasmu wahai Mush'ab . . . .


Salam atasmu sekalian, wahai para syuhada . . . .
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
..............
Page 26 of 26

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Utsaimin Al Wuhaibi At
Tamimy
Kelahirannya
Beliau dilahirkan di kota 'Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H
Pendidikannya
Beliau belajar Al Qur'anul Karim kepada kakek dari pihak ibunya, yaitu Abdurahman bin
Sulaiman Ali Damigh Rahimahullah sampai hafal, selanjutnya beliau belajar Khath, berhitung
dan sastra. Seorang ulama besar, Syaikh Abdurahman As Sa'dy Rahimahullah telah menunjuk
dua orang muridnya agar mengajar anak-anak kecil, masing-masing adalah Syaikh Ali Ash
Shalihy dan Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz al Muthawwa'.

Kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Aziz inilah beliau belajar kitab Mukhtasharul Aqidah Al
Wasithiyah dan Minhaajus Saalikin Fil Fiqhi, keduanya karya Syaikh Abdurahman As Sa'dy dan
Al Ajrumiyah serta Al Alfiyah. Lalu kepada Syaikh Abdurrahman bin Ali 'Audan beliau belajar
Fara'idh dan Fiqih. Kepada Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy yang dikategorikan
sebagai Syaikhnya yang utama beliau belajar kitab Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih,
Fara'idh, Musthalahul Hadits, Nahwu dan Sharaf. Syaikh Utsaimin memiliki tempat terhormat
dalam pandangan Syaikhnya, hal ini terbukti di antaranya ketika ayahanda beliau pindah ke
Riyadh pada masa awal perkembanganya dan ingin agar anaknya, Muhammad Al Utsaimin
pindah bersamanya. Maka Syaikh Abdurrahman As Sa'dy (sang guru) menulis surat kepada
ayahanda beliau: "Ini tidak boleh terjadi, kami ingin agar Muhammad tetap tinggal di sini
sehingga dia bisa banyak mengambil manfaat. Berkomentar tentang Syaikh tersebut, Syaikh
Utsaimin mengatakan: "Syaikh As Sa'dy sungguh banyak memberi pengaruh kepada saya dalam
hal methode mengajar, memaparkan ilmu serta pendekatannya kepada para siswa melalui
contoh-contoh dan substansi-substansi makna.

Beliau juga banyak memberi pengaruh kepada saya dalam hal akhlak. Syaikh As Sa'dy
Rahimahullah adalah seorang yang memiliki akhlak agung dan mulia, sangat mendalam ilmunya
serta kuat dan tekun ibadahnya. Beliau suka mencandai anak-anak kecil, pandai membuat senang
dan tertawa orang-orang dewasa. Syaikh As Sa'dy adalah orang yang paling baik akhlaknya dari
orang-orang yang pernah saya lihat Syaikh Utsaimin juga belajar kepada Syaikh Abdul Aziz bin
Baz Hafizhahullah, Syaikh Abdul Aziz bin Baz adalah guru kedua beliau, setelah Syaikh As
Sa'dy.

Kepada Syaikh Bin Baz beliau belajar kitab Shahihul Bukhari dan beberapa kitab karya Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah dan kitab-kitab Fiqih. Mengomentari Syaikh Bin Baz, Syaikh Utsamin
mengatakan: "Syaikh Bin Baz banyak menpengaruhi saya dalam hal perhatian beliau yang
Page 27 of 27

sangat intens terhadap hadits. Saya juga banyak terpengaruh dengan akhlak beliau dan
kelapangannya terhadap sesama manusia.
Pada tahun 1371 H, beliau mulai mengajar di masjid. Ketika dibuka Ma'had Ilmi, beliau masuk
tahun 1372 H, Syaikh Utsaimin mengisahkan: "Saya masuk Ma'had Ilmi pada tahun kedua (dari
berdirinya Ma'had) atas saran Syaikh Ali Ash Shalihy, setelah sebelumnya mendapat izin dari
Syaikh Sa'dy. Ketika itu Ma'had Ilmi dibagi menjadi dua bagian: Umum dan Khusus, saya
masuk ke bagian Khusus, saat itu dikenal pula dengan sistem loncat kelas. Yakni seorang siswa
boleh belajar ketika liburan panjang dan mengikuti tes kenaikan di awal tahun. Jika lulus dia
boleh di kelas yang lebih tinggi. Dengan sistem itu saya bisa menghemat waktu.

Setelah dua tahun menamatkan belajar di Ma'had Ilmi, beliau lalu ditunjuk sebagai guru di
Ma'had ilmi 'Unaizah sambil melanjutkan kuliah di Fakultas Syari'ah dan tetap juga belajar di
bawah bimbingan Abdurahman As Sa'dy Rahimahullah.
Ketika As Sa'dy wafat beliau ditetapkan sebagai Imam Masjid Jami' di 'Unaizah, mengajar di
Maktabah 'Unaizah Al Wathaniyah dan masih tetap pula mengajar di Ma'had Ilmi. Setelah itu
beliau pindah mengajar di Cabang Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud Qashim pada
fakultas Syari'ah dan Ushuluddin hingga sekarang. Kini beliau menjadi anggota Hai'atu Kibaril
Ulama (di Indonesia semacam MUI, pent.) Kerajaan Saudi Arabia. Syaikh Utsaimin memiliki
andil besar di medan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla, beliau selalu mengikuti berbagai
perkembangan dan situasi dakwah di berbagai tempat.

Perlu dicatat, bahwa Yang Mulia Syaikh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah telah berkali-
kali menawarkan kepada Syaikh Utsaimin untuk menjadi qadhi (hakim), bahkan telah
mengeluarkan Surat Keputusan yang menetapkan beliau sebagai Ketua Mahkamah Syari'ah di
kota Ihsa' , tetapi setelah melalui berbagai pendekatan pribadi, akhirnya Mahkamah memahami
ketidaksediaan Syaikh Utsaimin memangku jabatan ketua Mahkamah
Karya-karya beliau
Syaikh Utsaimin Hafizhahullah memiliki karangan lebih dari 40 buah. Di antaranya berupa kitab
dan risalah. Insya Allah semua karya beliau akan dikodifikasikan menjadi satu kitab dalam
Majmu'ul Fatawa war Rasa'il

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Utbah bin Ghazwan

Utbah bin Ghazwan berperawakan tinggi dengan muka bercahaya dan rendah hati, termasuk
angkatan pertama masuk Islam, ada diantara Muhajirin pertama yang hijrah ke Habsyi, dan yang
hijrah ke Madinah. Beliau termasuk pemanah pilihan yang jumlahnya tidak banyak yang telah
berjasa besar di jalan Allah.
Beliau adalah orang terakhir dari kelompok tujuh perintis yang bai'at berjanji setia, dengan
menjabat tangan kanan Rasulullah dengan tangan kanan mereka, bersedia menghadapi orang-
orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan kekuasaan yang gemar berbuat zalim dan
aniaya. Sejak hari pertama dimulainya da'wah dengan penuh penderitaan dan kesulitan, Utbah
dan kawan-kawan telah memegang teguh suatu perinsip hidup yang mulia, yang kemudian
Page 28 of 28

menjadi obat dan makanan bagi hati nurani manusia dan telah berkembang luas pada generasi
selanjutnya. Utbah ada diantara sahabat yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk Hijrah ke
Habsy , tetapi ia begitu rindu kepada Rasulullah sehingga ia tidak betah untuk menetap disana,
kembali ia menjelajah daratan dan lautan untuk kembali ke Makah untuk hidup disisi Rasulullah
hingga saatnya hijrah ke Madinah.

Semenjak orang-orang Quraisy melakukan gangguan dan melancarkan peperangan, Utbah selalu
membawa panah dan tombaknya, beliau sangat ahli melemparkan tombak dan memanah dengan
ketepatan yang luar biasa. Setelah Rasulullah wafat , Utbah tidak hendak meletakan senjatanya ,
beliau tetap berkelana berperang di jalan Allah.
Amirul Mu'minin Umar mengirim Utbah ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu dari
pendudukan tentara Persi yang hendak menjadikannya sebagai gerbang untuk menghancurkan
kekuatan Islam yang sedang menyebar ke wilayah-wilayah jajahan Persi. Berkatalah Umar
ketika hendak melepaskan pasukan Utbah, "Berjalanlah anda bersama anak buah anda, hingga
sampai batas terjauh dari negeri Arab, dan batas terdekat negeri Persi...! Pergilah dengan restu
Allah dan berkahnya...! Serulah ke jalan Allah siapa yang mau dan bersedia...! Dan siapa yang
menolak hendaklah ia membayar pajak...! Dan bagi setiap penantang, maka pedang bagiannya,
tanpa pilih bulu...! Tabahlah menghadapi musuh serta taqwalah kepada Allah Tuhanmu...!"

Ketika pasukannya yang kecil telah berhadapan dengan pasukan balatentara Persi yang terkuat ,
Utbah berseru, "Allahu akbar, shadaqa wa'dah " , " Allah Maha besar, Ia menepati janjiNya."
Ternyata Benarlah Janji Allah, tak lama setelah terjadi pertempuran, Ubullah dapat di tundukan.
Ditempat itu Utbah membangun kota Basrah dan membangun sebuah masjid besar di dalamnya.
Kemudian beliau bermaksud untuk kembali ke Madinah, tetapi Amirul Mu'minin memerintahkan
beliau untuk tetap disana memimpin pemerintahan di Basrah .

Utbah pun mentaati perintah Amirul Mu'minin, membimbing rakyat melaksanakan shalat,
mengajarkan masalah agama, menegakkan hukum dengan adil, dan memberikan contoh tentang
kezuhudan, wara' dan kesederhanaan. Dengan tekun dikikisnya pola hidup mewah dan
berlebihan sehingga menjengkelkan mereka yang selalu memperturutkan hawa nafsu. Pernah
dalam suatu pidato beliau berkata, "Demi Allah, sesungguhnya telah kalianlihat aku bersama
Rasulullah saw sebagai salah satu seorang kelompok tujuh, yang tak punya makanan kecuali
daun-daun kayu, sehingga bagian mulut kami pecah-pecah dan luka-luka. Disuatu hari aku
beroleh rezeki sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada Sa'ad bin
Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku...!"

Utbah sangat takut terhadap dunia yang akan merusak agamanya dan kaum muslimin, sehingga
beliau selalu mereka untuk hidup sederhana dan zuhud terhadap dunia.
Namun banyak yang hendak mempengaruhi beliau untuk bersikap sebagaimana penguasa yang
penduduknya menghargai tanda tanda lahiriah dan gemerlapan kemewahan. Tetapi utbah
menjawab kepada mereka, "Aku berlindung diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap
diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah..!"

Dan tatkala dilihatnya rasa keberatan pada wajah-wajah orang banyak karena sikap kerasnya
membawa mereka kepada hidup sederhana, berkatalah ia kepada mereka, "Besok lusa akan
kalian lihat pimpinan pemerintahan dipegang orang lain menggantikan daku..."
Page 29 of 29

Dan datanglah musim haji, pergilah Utbah menunaikan ibadah haji sementara pemerintahan
Basrah diwakilkan kepada salah seorang temannya. Setelah melaksanakan ibadahnya beliau
menghadap Amirul Mu'minin di Madinah untuk mengundurkan diri dari pemerintahan. Tetapi
Amirul Mu'minin menolak dengan mengucapkan kalimat yang sering diucapkan kepada otrang-
orang zuhud seperti utbah, "Apakah kalian hendak menaruh amanat diatas pundakku..!,
kemudian kalian tinggalkan aku memikulnya seorang diri..? Tidak demi Allah tidak kuizinkan
selama-lamanya..!".

Oleh karena itu tidak ada pilihan bagi Utbah kecuali taat dan patuh. Dan beliau hendak kembali
ke Basrah. Sebelum naik kendaraannya ia menghadap kearah kiblat, lalu mengangkat kedua
telapak tangannya yang lemah lungai ke langit sambil memohon kepada Allah azza wajalla agar
ia tidak dikembalikan ke Basrah dan tidak pula menjadi pemimpin pemerintahan selama-
lamanya.
Dan Allah memperkenankan du'anya, dalam perjalanannya menuju Basrah, Allah memanggil
kepangkuanNya dengan menyediakan kesempurnaan nikmat dan kesempurnaan suka cita karena
pengorbanan dan baktinya , kezuhudan dan kesahajaanya.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Mughaffal

Namanya:
Abdullah bin Mughaffal bin Abdu Ghunmin atau Ibnu Nahmin bin Afif bin As-Ham bin Rabi'ah
bin Azdar atau Ibnu 'Adi bin Tsa'labah bin Dzuaib atau Zuaid bin Sa'ad bin Ida bin Utsman bin
'Amr bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar Al-Bashri. Beliau terkenal dengan nama
aslinya ini.
Nama panggilannya ialah Abu Sa'ied atau Abu 'Abdirrahman atau Abu Ziad. Karena beliau
memang mempunyai anak-anak yang bernama Sa'id, Abdurrahman,, Ziad, dll berjumlah tujuh
orang.

Kehidupannya:
Beliau termasuk golongan shahabat yang ikut melakukan Bai'atur-Ridhwan atau bai'atus-
Syajarah yaitu sumpah setia yang dilakukan di bawah sebatang pohon pada satu tempat yang
bernama Hudaibiah dalam tahun ke tujuh Hijriyyah. Beliau sendiri bercwerita tentang peristiwa
yang sangat penting itu, "Aku termasuk di antara orang-orang di bawah mana Nabi saw
mengambil bai'ah atau perjanjian sumpah setia dari para shahabat.
Sejak itu beliau tidak pernah absen lagi dalam perjuangan menegakan dan meyebarkan ajaran
agama Islam di mana-mana bersama-sama dengan Nabi saw hingga wafatnya, kecuali ghazwah
Tabuk.

Dalam persiapan untuk melakukan perang/ghazwah Tabuk yaitu suatu peperangan yang letak
medan pertempurannya sangat jauh lagi pula dilakukan dalam musim panas yang sangat
membakar, musim paceklik yang amat mencekik dan hampir pula dengan musim panen tanam
tumbuhan yang menggairahkan, ternyata Abdullah bin Mughaffal ini semakin hari semakin
Page 30 of 30

tambah bingung dan bimbang. Lebih-lebih setelah hampir tibanya hari pemberangkatan. Sebab ia
dalam usahanya untuk mendapatkan kendaraan dan ongkos tetap gagal tidak berhasil, mengingat
jarak yang dituju dan telah ditetapkan itu sangat jauh.

Tapi karena dorongan imannya yang sempurna dan keyakinan yang benar, ia berusaha terus dan
tidak berputus asa. Dalam hati kecilnya hanya terguris harapan agar dapat mati syahid atau
tersebarnya agama Islam di samping harapan terbesar ialah dapat tetap ikut berperang sabil
bersama-sama dengan Rasulullah saw.
Namun setipa usaha yang dicobanya tetap buntu dan tidak berhasil. Akhirnya ia mencoba
memohon bantuan kepada Nabi saw sendiri untuk kalau-kalau dapat mengusahakan kendaraan.
Tapi betapa kecewanya ketika mendengar jawaban beliau, "Aku juga tidak dapat mengusahakan
kendaraan-kendaraan buat mengangkut kalian." Akhirnya ia hanya dapat melampiaskan
kekesalan hatinya untuk mengadu halnya kepada Tuhannya dengan cara menangis. Ia pun
menangis dan menangis.

Alangkah sedih fikirnya ketika menyaksikan orang-orang dan teman-temannya yang mampu,
berbaris dan bershaf-shaf, berderap-derap dengan langkah yang teratur mengikuti komando Nabi
saw keluar menuju medan laga untuk fi sanilillah sedang ia sendiri tidak berkemampuan dan
tidak mempunyai kendaraan. Ia sedih, karena harus tinggal dalam kota bersama-sama dengan
orang-orang perempuan, anak-anak kecil yang belum memenuhi syarat untuk mengikuti perang
sabil. Orang-orang tuna netra, orang-oarng sakit, dll. Tatkala lamunannya sampai ke situ,
mengucurkan air matanya untuk kesekian kalinya.

Untuk seketika sedihnya menjadi sirna waktu mendengar bunyi ayat yang baru diturunkan
kepada Nabi saw, "Dan tiada (pula terkena dosa) atas orang-orang yang apabila datang
kedapamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, 'Aku tidak memperoleh
kendaraan untuk membawamu.' Maka mereka kemabali sedang air mata bercucuran karena
kesedihan lantaran mereka tidak memperoleh apa yang mereka nafkahkan atau ongkos." (QS.
At-Taubah:92)
Untuk sementara ia senang karena ia termasuk di antara orang-orang yang dimaksud dalam ayat
itu. Namun, ia tetap masih bersedih hati lantaran tidak dapat ikut bertempur dan tidak dapat
mengikuti jejak Nabi saw yang sangat dicintainya itu.

Dalam Zaman Khulafa' Rasyidin:


Demikian kehidupan Abdullah hingga wafatnya Nabi saw. Maka dalam masa Khulafah Abu
bakar, ia tetap ikut dalam peperangan untuk menumpas kaum-kaum yang berkepala batu, murtad
dan tidak mau mengeluarkan zakat.
Dalam zaman khalifah-khalifah Umar dan Usman, juga ia tidak ketinggalan dalam usaha
menyebarkan Islam ke daerah-daerah timur tengah lainnya.
Ketika daerah Iraq telah di Islam-kan khalifah Umar secara beruntun mengirimkan sepuluh orang
Ahli Fiqih untuk mengajarkan agama di Bashrah. Maka terdapatlah di antara hadits-hadits yang
diriwayatkannya terdapat perawi dari ulama'-ulama' Bashrah atau Kufah.

Dalam perjuangannya yang gigih untuk memasukan Islam ke daerah Tustar, beliau berhasil
sebagai orang yang pertama sekali memasuki pintu gerbang kota itu.
Page 31 of 31

Demikianlah satu demi satu negeri dan daerah protektorat Romawi di Timur Tengah jatuh ke
tangan umat Islam, berkat usaha beliau dengan kawan-kawannya di bawah pimpinan panglima-
panglima yang terkenal semisal Abu 'Ubaidah (Amir bin Jarrah, Khalid bin Walid, dll).
Dalam masa khalifah Ali bin Abi Thalib, ia memilih tempat tinggal dan berhijrah ke Bashrah. Di
sana ia memiliki sebuah rumah yang dibangunnya dekat masjid. Pada rumahnya dan di daerah
itulah ia menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan giat mengajar dan beribadah lainnya hingga ia
wafat dalam tahun 60 H atau tahun 59 pada masa akhir hidupnya khalifah Mu'awiah bin Abi
Sufyan.

Jenazah beliau untuk memenuhi washiatnya sendiri, telah disembahyangkan atasnya oleh
shahabat Abu Barzah Al-Aslami ra.

Riwayatnya:
Atas jasa-jasanya maka Allah SWT telah mengkaruniai beliau nama yang kekal abadi termaktub
dalam kitab-kitab hadits sebagai sumber sejumlah 43 hadits. Bukhori dan Muslim bersepakat
atas empat hadits daripadanya, sedangkan Bukhori sendiri saja hanya satu hadits dan Muslim
sendiri juga satu Hadits.
Di antara orang-orang atau ulama Tabi'in yang menerima hadits riwayat beliau ialah Hasan Al-
Bashri, dll.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Malik


Namanya:
Abdullah bin Malik bin Al-Qisybi Jundub bin Nadhlah bin Abdillah bin Nashr bin Al-Azd Al-
Azdi. Nama panggilannya adalah Abu Muhammad. Namun beliau terkenal dengan nama aslinya
di atas.
Kehidupannya: Ayahnya Malik bin Al-Qisybi pernah melakukan sumpah setia dengan Mutthalib
bin Abdi manaf dan beberapa lama kemudian ia kawin dengan Buhainah binti Al-Harts bin
Abdil-Mutthalib. Dari perkawinan ini lahirlah Abdullah di atas.
Beliau mendapat petunjuk daripada Allah SWT memeluk agama Islam sejak lama. Kemungkinan
sekali beliau mengikuti terus perjuangan Nabi saw dalam mengembangkan agama Islam sejak
hijrahnya.

Ketika kewajiban shaum/puasa telah difardhukan beliau melaksanakannya dengan penuh


kesungguhan sehingga menjadi suatu kebiasaannya. Demikianlah tatkala beliau mengetahui
tentang shaumuddahri/puasa sepanjang tahun, ibadah itu tidak sulit dikerjakannya setiap hari
sehingga wafatnya.
Sayang sekali tidak dapat kita ketahui bagaimana perjuangan beliau setelah wafatnya Nabi saw.
Hanya dapat diketahui bahwa beliau mempunyai sebuah rumah dan berdiam di tengah wadi
Raim lebih kurang tiga puluh mil jauhnya dari kota Madinah. Karena itu kemungkinan besar
disebabkan wara' dan taqwanya beliau mengasingkan diri sejak peristiwa pembunuhan khalifah
Page 32 of 32

Usman hingga wafatnya pada akhir masa khalifah Marwan. Malah Ibnu Zabr menyatakan tahun
wafatnya ialah tahun 56 H.

Riwayatnya:
Hadits-hadits riwayat beliau terdapat dalam Shahih Muslim sebagaimana terdapat dalam
beberapa Sunan. Dalam Sunan diambil dari Riwayat Al-A'raj, Muhammad bin Yahya bin Hibban
dan Hafash bin 'Ashim.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Ubai bin Ka'ab

Ubai bin Ka'ab adalah warga Anshar dari suku Kharaj, ikut dalam perjanjian 'Aqabah dan perang
badar dan peperangan lainnya.Beliau mempunyai derajat yang mulia dikalangan Muslimin
angkatan pertama. Beliau termasuk perintis penulis wahyu dan surat-surat dan juga termasuk
golongan terkemuka dalam penghafalan Al Qur'an, membaca dan memahami ayat-ayatnya.
Pada suatu hari Rasulullah Saw mengatakan kepadanya : "Wahai ubai bin Ka'ab! Saya dititahkan
untuk menyampaikan Al Qur'an padamu ". Ubai maklum bahwa Rasulullah hanya menerima
perintah dari wahyu.., maka dengan harap-harap cemas ia bertanya "Wahai Rasulullah, Ibu
bapakku menjadi tebusan anda! Apakah kepada anda disebutkan namaku?" Ujar Rasulullah
"Benar! Namamu dan turunanmu ditingkat tertinggi...!" Seorang muslim yang mempunyai
kedudukan seperti ini dihati Nabi saw pastilah seorang muslim yang amat agung.

Setelah Rasulullah wafat, Ubai bin Ka'ab tetap setia dan tekun baik dalam beribadat, teguh dalam
beragama dan utama dalam keluhuran budi. Disamping itu tiada henti-hentinya beliau menjadi
pengawas kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah masih hidup,
diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai dan budi pekerti mereka.Diantara
ucapannya yang agung adalah " Selagi kita bersama Rasulullah tujuan kita satu...., Tetapi setelah
ditinggalkan beliau tujuan kita bermacam-macam ada yang ke kiri dan ada yang kekanan...!"
Mengenai dunia ubai bin Ka'ab mernah menuliskannya sebagi berikut : " Sesungguhnya
makanan manusia itu sendiri dapat diambil sebagai perumpaan bagi dunia, biar dikatakannya
enak atau tidak, tetap yang penting menjadi apa nantinya ..?".

Tatkala wilayah Islam telah meluas, dan dilihatnya sebagian kaum muslimin mulai menyeleweng
dengan menjilat kepada pembesar-pembesar mereka, ia tampil dan melepaskan kata-katanya
yang tajam : " Celakalah mereka, demi Tuhan mereka celaka dan mencelakan! Tetapi saya tidak
menyesal dengan nasib mereka, hanya saya sayangkan adalah kaum muslimin yang celaka
disebabkan mereka…!"
Ubai bin Ka'ab selalu menangis setiap teringat akan Allah dan hari akhir, setiap ayat Al Qur'an
yang didengarnya menggetarkan hatinya. Dan beliau sangat merasa berduka tak terlukiskan
setiap mendengar ayat :"Katakanlah : Ia kuasa akan mengirim siksa kepada kalian, baik dari atas
atau dari bawah kaki kalian, atau membaurkan kalian dalam satu golongan berpecah-pecah, dan
ditimpakan kalian perbuatan kawannya sendiri..!
"(Qs. Al An'am :65)
Page 33 of 33

Yang paling dicemaskan oleh Ubai bin Ka'ab terhadap ummat adalah datangnya suatu genarasi
ummat yang bercakar-cakaran sesama mereka. Beliau selalu memohon keselamatan kepada
Allah dan berkat karunia dan rahmatNya sehingga beliau menemui Tuhannya dalam keadaan
beriman,aman dan tentram.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Syikhkhir

Namanya
Abdullah b. Syikhkhir b. 'Auf b. Ka'ab b. Waqdaan b. Hariesy b.Ka'ab b. Rabi'ah b. 'Amir Al-
'Amiri, Al-Hariesyi ra.
Kehidupanya
Tidak ada diterangkan mengenai riwayat hidup beliau ini. Hanya beliau termasuk sahabat yang
meriwayatkan hadist yang disebut oleh Muslim dalam Shahihnya menyendiri dari Bukhori dalam
dua hadist.
Orang berhasil mengambil hadist riwayat beliau dari Rasulullah saw sebanyak enam hadist.
Malah Al-Hafizh Al-Mazzi meriwayatkan dalam kitabnya Al-Atharaaf sebanyak sembilan
hadist.

Dalam Riadhus-Shalihin disebutkan riwayat beliau tentang Nabi saw menangis ketika dalam
shalatnya.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Sirjis

Namanya
Abdullah b. Sirjis Al-Muzani dari qabilah Muzainah. Beliau pernah bersumpah setia dengan
Bani Makhzum.
Kehidupanya
Abdullah salah seorang sahabat Nabi saw yang pernah makan roti dan daging bersama beliau dan
ia pernah melihat cap kenabian Rasulullah saw (Khatamun Nubuwah). Dalam hadist riwayatnya
juga pernah ia mohon kepada Nabi saw untuk minta kepada Allah agar mengampuni dosanya.
Beliau tinggal di Bashrah.
Riwayatnya
Allah SWT telah berkenan mengabdikan nama beliau dalam 17 (tujuh belas) hadist, di antaranya
disebutkan Muslim sendiri saja tiga hadist. Selain dari itu tersebar dalam Sunan-sunan yang
empat. Diantara tiga hadist yang disebutkan dalam Muslim ialah, "Adalah Rasulullah saw
apabila hendak berangkat bepergian beliau berlindung (memohon perlindungan Allah SWT) dari
lelahnya perjalanan, berbaliknya kepada keadaan yang menyedihkan jatuhnya atau menurunnya
keadaan sesudah mendapat ketinggian atau berbaliknya dari tetap pendirian menjadi tidak tetap
atau menjadi mundur setelah tadinya maju dan bertambah-tambah, juga dari doa orang teraniaya
Page 34 of 34

dan melihat pemandangan yang tidak menyenangkan pada atau dalam keluarga/ahli-famili dan
harta."

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin As-Saaib

Namanya
Abdullah b. As-Saaib Shaifi b. Aidz b. Abdullah b. Amr b. Makhzum Al-Makhzumi.
Nama Panggilanya ialah Abu Abdirrahmaan, namun beliau terkenal dengan nama aslinya.
Kehidupanya
Abdullah b. As-Saaib pada akhir hayatnya berdiam di Mekah. Beliau termasuk shahabat yang
hafal Al-Qur'an dan ahli baca Al-Quran terutama bagi kota Mekkah. Beliau diberi nama julukan
"Qori' Mekkah." Beliau pernah juga belajar Al-Quran pada sahabat terkenal Ubai bin Ka'ab ra.

Beliau ketika pembebasan kota mekkah (fat-hu Makkah) pernah dalam sholat berjamaah shubuh
mendengar Nabi saw membaca surat Al-Mukminin (lihat Muslim).
Beliau Pula yang meriwayatkan hadist yang menyatakan bahwa Nabi saw sering membaca doa,
"Rabbana Atina fid-dunia hasanah dan seterusnya," di antara dua sudut Ka'bah, rukun Yamani
dan rukun Hajar Aswad.
Demikianlah beliau tinggal berdiam di Mekkah hingga menutup usianya pada masa Khalifah
Abdullah bin Zubair ra. Ketika kuburan beliau telah selesai, Abdullah bin Abbas berdiri dekat
kuburan itu sambil berdoa.

Riwayatnya
Allah SWT menganugerahkan kepada beliau nama yang abadi yang termaktub dalam shahih
Muslim satu hadist sedang linya terdapat dalam Sunan yang empat. Hingga hadist riwayat beliau
semuanya berjumlah 7 (tujuh) hadist.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Zaid Bin 'Ashim


Namanya
Abdullah bin Zaid bin A ' shim bin Ka'ab bin 'Amr bin A'uf bin Mabdzul bin 'Amr bin Ghunm bin
Mazin Al-Mazini Al-Anshari ra.
Nama Panggilanya ialah Abu Muhammad. Beliau terkenal juga dengan Ibnu Ummi 'Amarah.
Namun sangat terkenal dengan nama aslinya.
Ibunya bernama Nusaibah binti Ka'ab bin 'Amr bin A'uf yang terkenal dengan Ummu 'Amarah
pahlawan sahabat wanita dan srikandi yang terkenal dalam sejarah Islam. Jadi beliau adalah
saudara Hubaib dan Tamiem bin Zaid ra.

Kehidupanya
Page 35 of 35

Menurut Abu Ahmad Al-Hakim, Ibnu Madah dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak bahwa beliau
ikut bertempur dalam ghazwah Badr apalagi ghazwah Uhud dan seterusnya.
Ketika zaman khalifah Abu Bakr, beliau ikut pula bersama-sama dengan ibunya Nusaibah dan
saudara-saudaranya Hubaib dan Tamiem, bertempur dalam perang menumpas gerakan
Musailimatul Kadzdzab. Sebelumnya Musailimah telah menyiksa saudaranya Hubaib memotong
anggota badannya satu persatu hingga akhirnya ia gugur sebagai syahied. Mendengar peristiwa
yang mengerikan itu semangat jihad kaum muslimin tambah meluap. Hingga akhirnya Abdullah
b. Zaid ini berhasil bersama-sama dengan wahsyi b. Harb (yang pernah membunuh Hamzah,
paman Nabi saw dalam ghazwah Uhud sewaktu ia masih kafir) membunuh Musailimah itu
sendiri dengan pedangnya. Dengan kejadian itu ibunya Ummu Amarah Nusaibah sangat merasa
puas dan bersyukur pada Tuhan apalagi dengan gugurnya kedua anak kandungnya Hubaib dan
Tamiem sebagai syahied.

Riwayat perjuangan beliau dalam ketiga zaman khulafa lainnya tidak pernah penulis jumpai.
Ketika Yazied yang sangat ambisius kekuasaan itu memaksa orang-orang untuk mengakuinya
sebagai khalifah, beliau tidak mau melakukan bai'ahnya. Beliau berkata: "Demi Allah aku tidak
mau melantik seseorang sesudah Rasulullah SAW." Demikianlah beliau dibunuh dengan tenang
dalam peristiwa HARRAH pada tahun 63 H. di Madinah.
Beliau meriwayatkan hadts wudhu dan beberapa hadits lain lagi sedang para Tabi'ien yang
berhasil mengambil riwayat dari beliau ialah antara lain Said b. Musaiyab, Abbad b. Tamiem
anak saudaranya, Yahya b. Amarah, Wasi' b. Habana dan lain-lain.

Demikianlah semoga Allah SWT memperkenankan kita dapat bergaul dengan beliau pada hari
kiamat dan dalam syurga kelak, amin ya Rabbal alamiiin.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Zam'ah

Namanya
Abdullah bin Zam'ah bin Aswad bin Muttalib bin Asad bin Abdul-Uzza Al-Asadi Al-Qurasyi ra.
Ibunya bernama Quraibah binti Umaiyah.
Kehidupanya
Ibunya adalah saudara Ummul-Mukminin Ummu Salamah ra. Jadi beliau adalah keponakannya.
Karena itu beliau termasuk orang bangsawan Quraisy dan juga berpengaruh dalam kaumnya.
Bapaknya Zam'ah dan saudaranya 'Aqiel bin Aswad mati terbunuh dalam Ghazwah Badr, sedang
datuknya Aswad termasuk golongan mereka yang sering mengolok-olok dan mengejek Nabi
saw.

Beliau ikut hijrah dan berdiam ke dan di Madinah hingga wafatnya. Diantara orang-orang yang
mengambil riwayat hadist dari beliau adalah Abu Bakr bin Abdirrahman dan 'Urwah bin Zubair.
Menurut riwayat Abu Bakr bin Abdirrahman dari beliau, Nabi saw pernah bersabda, "Suruhlah
Abu Bakr agar menjadi imam pada kaum muslimin (sewaktu Nabi saw sedang sakit keras).
Sedang menurut riwayat Urwah bin Zubair tiga hadist:
Page 36 of 36

· Mengenai memukul wanita/isteri


· Melarang ketawa kalau ada yang berkentut
· Cerita unta betina Mu'jizat Nabi Shaleh as

Ketika Yazied bin Mu'awiah datang ke Madinah dalam peristiwa HARRAH, anak-anak beliau
bernama Yazied bin Abdullah bin Zam'ah dan lain-lain banyak mati dibunuh dalam keadaan
teraniaya.
Seorang anak Abdullah bin Zam'zh ini juga bernama Katsier yang diberi nama oleh neneknya
Ummu Salamah isteri nabi saw menjadi datuk dari Abul Buhturi al-Qadhi wahb bin Wahb bin
Katsier bin Abdullah bin Zam'ah.
Demikianlah menurut keterangan Abu Hassan Az-Ziadi, beliau wafat sebagai syahied akhirat
terbunuh dalam peristiwa YAUMUD-DAR tahun 35 H.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Khubaib

Namanya
Abdullah bin Khubaib Al-Juhani, seoarng yang telah bersumpah setia dengan Al-Anshar.
Kehidupanya
Tidak panjang riwayat hidupnya yang kita dapati. Hanyalah keternagan bahwa:

· Beliau dengan bapaknya Khubaib kedua-duanya shahabat Nabi saw


· Beliau dan orang tuanya termasuk dalam hitungan para shabat yang tinggal berdiam di
Madinah.
· Beliau meriwayatkan hadist dari Nabi saw, yakni dapat dicatat hanyalah tiga hadist saja.
Diantaranya, "Rasulullah saw telah bersabda kepadaku, 'Bacalah Qul Huwallah Ahad dan dua
Mu'awwidzatain ketika sore dan ketika pagi tiga kali. Suarh-surah ini akan melindungi engkau
dari segala sesuatu.'" (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

· Yang mengambil riwayatnya hanyalah anaknya sendiri bernama Mu'adz.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Al-Harits

Namanya
Abdullah bin Al-Harits bin Jaz-in bin Abdillah bin Ma'dikariba bin 'Amr bin 'Asm bin 'Amr bin
'Uwaij bin 'Amr bin Zabied Az-Zabiedi.
Kehidupanya
Beliau adalah seorang kawan dan bersumpah setia dengan Abu Wada'ah As-Sahmi dan anak
saudara pria dari Mahniyyah bin Jaz-in Az-Zabiedi yang menurut Ibnu Yunus bahwa pamannya
Page 37 of 37

ini pernah ikut dalam ghazwah Badar dan gugur sebagai Syahid dalam pertempuran Yamamah
ketika menumpas Nabi palsu Musailimatul-kadzdzab.

Tidak ada keterangan mengenai perjuangannya dalam zaman Nabi saw dan para khulafa'
Rasyidin. Namun setelah Islam berkembang di Timur Tengah dan di Mesir beliau akhirnya
memilih tempat tinggal di Mesir.
Menurut At-Thabari, dahulunya beliau bernama Al-'Ashi (dapat diartikan pelaku maksiat), lalu
diubah Nabi saw dengan nama Abdullah. Beliaulah shahabat yang terakhir sekali meninggal di
Mesir dan akhir hayatnya beliau mengalami buta mata.
Beliau wafat pada tahun 86 H, atau sekitar tahun 85 atau 87 H. dan telah mengambil beberapa
hadist langsung dari Nabi saw. Oleh karena beliau lama tinggal di Mesir, maka yang terbanyak
mengambil hadist dari beliau ialah para ulama tabi'ien dari Mesir dan terakhir ialah Yazied bin
Abi Hubaib.

Demikian disebutkan dalam Al-Ishaabah dan Al-Isti'aab, jilid II, halaman 291 dan 281.
Tapi dalam "Riadhus-Shalihien", imam Nawawi menyebut nama, Abdullah bin Al-Harits bin As-
Shimmah dengan nama panggilanya Abdul-Juhaim. Nama ini tidak terdapat dalam kedua kitab
di atas.
Ibnu Illaan dalam syarahnya "Dalilul-Falihien", jilid IV halaman 582 menerangkan bahwa
Abdullah bin Al-Harits bin As-Shimmah, menurut Usdul ghaabah adalah anak kakak wanita dari
Ubai bin Ka'ab Al-Anshari. Beliau hanya meriwayatkan dua hadist saja dari Nabi saw. Kedua-
duanya tersebut dalam Bukhori dan Muslim di mana satu diantaranya disebutkan dalam Riadhus-
shalihien di atas.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Qais

Kehidupanya
Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Isti'aab menyebut beberapa orang orang yang bernama Abdullah bin
Qais, yaitu;

1. Abdullah bin Qais bin Khalid bin Harts bin Sawad bin Malik bin Ghunm bin Malik bin
Najjar. Beliau pernah ikut bertempur dalam ghazwah Badr dan gugur sebagai syahid dalam
ghazwah Uhud.

2. Abdullah bin Qais bin Shakhar bin Haram bin Rabi'ah bin 'Adi bin Ghunm bin Ka'ab bin
Salamah Al-Anshari. Beliau ini juga pernah ikut dalam ghazwah badr dan juga dalam ghazwah
Uhud.

3. Abdullah bin Qais bin Zaidah bin Asham bin Harim bin Rawahah bin Hujr bin 'Abd bin
Mu'aish bin 'Amir bin Luaiy Al-'Amiri yang lebih dikenal dengan nama panggilanya Ibnu Ummi
Maktum. Tapi banyak pula orang menyebut namaya yang benar 'Amr Ibnu Ummi Maktum.
Page 38 of 38

4. Abdullah bin Qais Al-Khuza'i atau Al-Aslami.

5. Abdullah bin Qais yang terkenal dengan nama panggilannya Abu Musa Al-Asy'ari.

Sedang dalam Al-Ishaabah pada huruf 'ain tidak terdapat orang orang yang bernama Abdullah
bin Qais. Nama-nama tersebut di atas didapat dari Shahih Muslim dalam bab shifat khemah-
khemah syurga.
Abdullah bin Qais yang manapun diantara yang ketiga di atas, semoga Allah SWT
memperkenankan kepada kita dapat bergaul dan berkumpul dengan mereka itu dalam syurga
kelak, amiin.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Yazid


Namanya
Abdullah bin Yazeid bin Zaid bin Hishn bin 'Amr bin Al-Harts bin Khathmah bin Jusym bin
Malik bin Aus Al-Khathmi Al-Anshari r.a. Nama panggilannya ialah Abu Musa, namun ia
terkenal dengan nama aslinya.

Kehidupanya
Oleh karena orang tuanya Yazeid bin Zaid seorang sahabat Nabi saw, maka Abdullah tidak ada
yang menghalangi pertumbuhan dan perkembangan iman dan ilmu pengetahuannya. Karena itu
beliau terhitung pemuda sahabat yang ahli ibadah dan wara'. Beliau banyak sekali melakukan
sholat apalagi shalatul-lail. Sedang dalam hal puasa, beliau sangat tekun sekali melakukan
shaum/puasa 'Asyura'.

Perang sabiel yang pertama dan kedua yaitu ghazwah Badr dan Uhud tak dapat diikutinya. Sebab
pada waktu itu beliau masih kecil belum memenuhi syarat. Beliau bangga sekali dapat ikut serta
dalam Bai'atus-Syajarah/ Bai'atur-Ridhwan meskipun terhitung masih kanak-kanak. Dan sejak
itu beliau tidak pernah absen dalam mengikuti perjuangan Nabi saw hingga wafatnya.

Dalam Zaman Khilafa' Rasyidin


Menurut Ibnu Abdil-bar, usia beliau ketika mengikuti bai'atur-Ridhwan di atas tujuh belas tahun.
Jika demikian maka beliau sudah tentu mengikuti perjuangan menumpas kaum murtaddien dan
orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat dalam zaman khalifah Abu Bakr, ikut pula
perjuangan mengembangkan sayap Islam k daerah-daerah Timur Tengah lainnya dalam zaman
Umar dan Usman. Sedang dalam zaman khalifah Ali, beliau sepenuhnya memihak kepada Ali
termasuk peristiwa 'Shiffien', sehingga beliau pernah menjabat wali kota kufah dari pihak
khalifah Ali, sedang sekretarisnya Sya'bi seorang tabi'ie yang terkenal, hal mana menunjukan
bahwa beliau mendapat kepercayaan dan dukungan dari kalangan masyarakat masanya.

Keadaan politik pada waktu itu berubah dengan pengunduran diri yang dilakukan oleh khalifah
Hasan bin Ali dan menyerahkannya kepada Mu'awiah, menyebabkan Abdullah ini untuk
Page 39 of 39

sementara berdiam diri di rumahnya di kota Kufah sambil mengajar agama tentunya kepada
masyarakat.

Dalam Zaman Daulah Umawiyyah


Demikian ketika khalifah Mu'awiah berkuasa Abdullah hanya muncul sesekali dalam pengajian-
pengajian. Namun setelah khalifah Mu'awiah wafat dalam tahun 60 H, beliau mulai
menampakan diri di tengah-tengah masyarakat untuk menjalankan amar ma'ruf dan nahi munkar.
Sebab Yazid bin Mu'awiah yang ditunjuk ayahnya sebagai penggantinya menjadi khalifah
ternyata seorang yang tidak memenuhi syarat. Beliau mengadakan surat menyurat dengan
Abdullah bin Zubair yang telah berhasil menguasai daerah hijaz Mekah dan sekitarnya yang juga
tidak setuju dengan Yazid di atas. Beliau berangkat ke Mekah dan ikut berjuang bersama-sama
dengan rekannya Abdullah bin Zubair. Demikianlah hingga pernah beliau menjabat wali kota
Mekah sebentar dari pihak khalifah Abdullah bin Zubair. tapi karena dorongan taqwa dan
wara'nya beliau mengundurkan diri dan bermukim beberapa waktu di Mekah untuk melakukan
ibadah.

Wafatnya
Setelah puas beribadah di Mekah beliau pulang kembali ke Kufah dan jatuh sakit hingga
membawa mautnya. Beliau wafat dalam masa kekuasaan khalifah Abdullah bin Zubair yang
wafat dalam tahun 73 H.

Riwayatnya
Demikian orang yang tadinya terkenal sebagai shahabat kecil masih muda belia ketika hidupnya
Nabi saw, tapi berkat do'a beliau, ia menjadi orang yang pernah berjasa juga dalam
mengembangkan ajaran-ajaran Islam di Timur Tengah dan dengan demikian mendapat imbalan
jasa dari Allah SWT. Dengan kekal abadinya nama beliau dalam kitab-kitab hadist terutama
Shahih Bukhari dan Muslim.

Orang yang berhasi mengambil hadist-hadist dari beliau ialah terutama anaknya sendiri bernama
Musa dan cundanya 'Adi bin Tsabit, As-Sya'bi, Abu Ishaq, Ibnu Sierin dll.
Beliau selain mengambil hadist langsung dari Nabi saw, juga mengambilnya dari Al-Bara' bin
'Azib dan terdapat dalam Shahihain' dari Abu Ayyub Al-Anshari, Ibnu Mas'ud, Hudzaifah, Qais
bin Sa'ad, Zaid bin Tsabit dll.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Busyr Al-Aslami

Namanya
Abdullah Bin Busyr Al-Aslami, sedang nama panggilanya ialah Abu Shafwan atau Abu Busrin.
Kehidupanya
Beliau termasuk orang-orang yang terdahulu masuk Islam, sebab beliau mengalami melakukan
sembahyang kepada dua kiblat: mula pertama kiblat baitulmaqdis dan kedua barulah berkiblat ke
Ka'bah di Mekah.
Page 40 of 40

Sudah tentu beliau dapat mengikuti jejak Rasulullah saw, kemanapun beliau berada, baik dalam
kota maupun di luar kota, baik dalam keadaan damai maupun dalam keadaan perang.

Beliau dikatakan oleh Hafizh Ibnu Hajar, "Adalah seorang shahabat kecil yakni masih kanak-
kanak, ia dan orang tuanya adalah shahabat." Ibnu Atsir menerangkan bahwa beliau adalah
shahabat Nabi saw begitu juga kedua ibu bapaknya, saudara laki-laki bernama Athiah dan
saudara perempuannya bernama Suamma'.
Beliau mempunyai semacam tahilalat besar pada bagian mukanya. Ia mendapat kehormatan dari
Nabi saw dengan doa, ketika pada suatu hari Nabi saw meletakan tangannya yang mulia ke atas
kepala Abdullah ini lalu mendoakannya, kemudian beliau bersabda, "Anak ini akan hidup
(panjang usianya) sampai satu abad." Dan sambungnya lagi, "Ia tidak akan meninggal sehingga
hilang terlebih dahulu tahilalat dari bagian mukanya."

Demikianlah Abdullah bin Busr panjang usianya hingga mencapai seratus tahun. Al-Hafizh Ibnu
Hajar mengatakan, "Hingga mencapai usia sembilan puluh empat tahun dan beliau meninggal
pada tahun 88 H. Dan memang sebelum meninggalnya telah tidak kelihatan lagi tahilalat itu."
Ada orang mengatakan bahwa beliau meninggal di Himsh dalam daerah siriya. Beliaulah
shahabat yang terakhir wafat di negeri Himsh itu malah ia pula shahabat yang terakhir sekali
meninggal dunia di daerah Syam/Siriya, pada tahun 96 H.

Diantara hdist yang diriwayatkan beliau juga mengenai panjang umur, "Orang yang paling baik
itu ialah orang yang panjang usianya dan baik pula amal kerjanya." Dan dalam hidupnya beliau
telah pula berdaya upaya untuk dapat memenuhi maksud hadist yang diriwayatkannya itu.
Memang Islam tersebar, dibela dan dimuliakan oleh para pemuda yang berbakat dan berakhlaq
seperti beliau ini.
Beliau wafat pada zaman khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, pada tahun 88 H atau 96 M.

Riwayatnya
Riwayat hadist yang dikumpulkan orang-orang dari beliau ada sebanyak 50 hadist. Bukhori
sendiri meriwayatkan satu hadist, begitu juga Muslim satu hadist.
Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Abdullah Bin Hisyam


Namanya
Abdullah bin Hisyam bin Zuhrah bin Usman bin 'Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah
At-Taimi Al-Qurasyiy. Ibunya bernama Zainab binti Humaid r.a.
Kehidupanya
Beliau dilahirkan pada tahun keempat Hijriyah. Setelah ibunya merasa agak segar sehabis
melahirkannya, bayi itu dibawanya kehadapan Nabi saw sambil berkata, "Ya Rasulullah !
Lakukanlah Bai'ah kepadanya". Tapi karena masih bayi Nabi saw tidak melakukan bai'ah
kepadanya hanya diusapnya kepala bayi itu sambil didu'akanya, untuk mendapat berkat.
Page 41 of 41

Demikian cundanya Abu Uqail Zuhrah bin Ma'bad bercerita bahwa ia pernah dibawa berjalan
oleh datundanya Abdullah bin Hisyam ini ke pasar untuk membeli makanan. Ketika berjumpa
dengan Ibnu Umar dan Ibnu Zubair keduanya berkata kepada datundanya, "Ikut sertakanlah kami
memakannya, karena Nabi saw telah mendu'akanmu mendapat berkat".
Beliaulah pula yang menceritakan bahwa para sahabat Nabi saw mempelajari du'a bagaimana
mempelajari Al-Quran, bilamana memasuki bulan baru atau tahun baru, "Ya Tuhan masukanlah
kami ke dalam lingkungan bulan atau tahun baru ini dengan rasa aman, penuh iman, mendapat
keselamatan dan damai, mendapat perlindungan-Mu dari pada gangguan syaitan dan mendapat
keridhaan daripada-Mu yang bersifat pengasih lagi penyayang".

Tidak ada keterangan bagaimana perjuangan beliau setelah dewasa dalam akhir-akhir zaman
khalifah Umar dalam zaman khalifah-khalifah Usman dan Ali, sehingga wafat dalam zaman
khalifah Mu'awiah di tempat kediamannya di Madinah.
Riwayatnya
Beliau mendapat kehormatan dari Allah SWT dengan pengabdian namanya dalam Shahih
Bukhari dan kitab-kitab enam yang lainya. Cundanya Abu Uqail Zuhrah bin Ma'badlah yang
sering meriwayatkan hadist nabi saw daripadanya.
Demikianlah semoga Allah SWT memperkenankan kita dapat bertemu muka dan bergaul dengan
beliau dalam syurga kelak, amiin ya Rabbal'alamiin.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Khalid Bin Walid


"ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai
calon pemimpin Islam. Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan
melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin" demikian
keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu
Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah.
Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah
isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya.
Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat
mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan
kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa
diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka'bah dengan perasaan yang
sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka'bah. Pada masa
ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di
Mina.
Ketika orang Quraisy memperbaiki Ka'bah tidak seorang pun yang berani meruntuhkan dinding-
dindingnya yang tua itu. Semua orang takut kalau-kalau jatuh dan mati. Melihat suasana begini
Page 42 of 42

Walid maju kedepan dengan bersenjatakan sekop sambil berteriak, "O, Tuhan jangan marah
kepada kami. Kami berniat baik terhadap rumahMu".

Nabi mengharap-harap dengan sepenuh hati, agar Walid masuk Islam. Harapan ini timbul karena
Walid seorang kesatria yang berani dimata rakyat. Karena itu dia dikagumi dan dihormati oleh
orang banyak. Jika dia telah masuk Islam ratusan orang akan mengikutinya.
Dalam hati kecilnya Walid merasa, bahwa Al Qur-'an itu adalah kalimat-kalimat Allah. Dia
pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan, bahwa dia tidak bisa berpisah dari
keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Ucapan yang terus terang ini memberikan harapan bagi Nabi, bahwa Walid akan segera masuk
Islam. Tetapi impian dan harapan ini tak pernah menjadi kenyataan. Kebanggaan atas diri sendiri
membendung bisikan-bisikan hati nuraninya. Dia takut kehilangan kedudukannya sebagai
pemimpin bangsa Quraisy. Kesangsian ini menghalanginya untuk menurutkan rayuan-rayuan
hati nuraninya. Sayang sekali orang yang begini baik, akhirnya mati sebagai orang yang bukan
Islam.
Suku Banu Makhzum mempunyai tugas-tugas penting. Jika terjadi peperangan, Banu Muhzum
lah yang mengurus gudang senjata dan gudang tenaga tempur. Suku inilah yang mengumpulkan
kuda dan senjata bagi prajurit-prajurit.

Tidak ada cabang suku Quraisy lain yang bisa lebih dibanggakan seperti Banu Makhzum. Ketika
diadakan kepungan maut terhadap orang-orang Islam dilembah Abu Thalib, orang-orang Banu
Makhzumlah yang pertama kali mengangkat suaranya menentang pengepungan itu.

Latihan Pertama
Kita tidak banyak mengetahui mengenai Khalid pada masa kanak-kanaknya. Tetapi satu hal kita
tahu dengan pasti, ayah Khalid orang berada. Dia mempunyai kebun buah-buahan yang
membentang dari kota Mekah sampai ke Taif. Kekayaan ayahnya ini membuat Khalid bebas dari
kewajiban-kewajibannya.

Dia lebih leluasa dan tidak usah belajar berdagang. Dia tidak usah bekerja untuk menambah
pencaharian orang tuanya. Kehidupan tanpa suatu ikatan memberi kesempatan kepada Khalid
mengikuti kegemarannya. Kegemarannya ialah adu tinju dan berkelahi.
Saat itu pekerjaan dalam seni peperangan dianggap sebagai tanda seorang Satria. Panglima
perang berarti pemimpin besar. Kepahlawanan adalah satu hal terhormat di mata rakyat.
Ayah Khalid dan beberapa orang pamannya adalah orang-orang yang terpandang dimata rakyat.
Hal ini memberikan dorongan keras kepada Khalid untuk mendapatkan kedudukan terhormat,
seperti ayah dan paman-pamanya. Satu-satunya permintaan Khalid ialah agar menjadi orang
yang dapat mengatasi teman-temannya didalam hal adu tenaga. Sebab itulah dia menceburkan
dirinya kedalam seni peperangan dan seni bela diri. Malah mempelajari keahlian mengendarai
kuda, memainkan pedang dan memanah. Dia juga mencurahkan perhatiannya kedalam hal
memimpin angkatan perang. Bakat-bakatnya yang asli, ditambah dengan latihan yang keras,
telah membina Khalid menjadi seorang yang luar biasa. Kemahiran dan keberaniannya
mengagumkan setiap orang.
Page 43 of 43

Pandangan yang ditunjukkannya mengenai taktik perang menakjubkan setiap orang. Dengan
gamblang orang dapat melihat, bahwa dia akan menjadi ahli dalam seni kemiliteran.
Dari masa kanak-kanaknya dia memberikan harapan untuk menjadi ahli militer yang luar biasa
senialnya.

Menentang Islam
Pada masa kanak-kanaknya Khalid telah kelihatan menonjol diantara teman-temannya. Dia telah
sanggup merebut tempat istimewa dalam hati rakyat. Lama kelamaan Khalid menanjak menjadi
pemimpin suku Quraisy. Pada waktu itu orang-orang Quraisy sedang memusuhi Islam. Mereka
sangat anti dan memusuhi agama Islam dan penganut-penganut Islam. Kepercayaan baru itu
menjadi bahaya bagi kepercayaan dan adat istiadat orang-orang Quraisy. Orang-orang Quraisy
sangat mencintai adat kebiasaannya. Sebab itu mereka mengangkat senjata untuk menggempur
orang-orang Islam. Tunas Islam harus dihancurkan sebelum tumbuh berurat ber-berakar. Khalid
sebagai pemuda Quraisy yang berani dan bersemangat berdiri digaris paling depan dalam
penggempuran terhadap kepercayaan baru ini. Hal ini sudah wajardan seirama dengan kehendak
alam.

Sejak kecil pemuda Khalid bertekad menjadi pahlawan Quraisy. Kesempatan ini diperolehnya
dalam pertentangan-pertentangan dengan orang-orang Islam. Untuk membuktikan bakat dan
kecakapannya ini, dia harus menonjolkan dirinya dalam segala pertempuran. Dia harus
memperlihatkan kepada sukunya kwalitasnya sebagai pekelahi.

Peristiwa Uhud
Kekalahan kaum Quraisy didalam perang Badar membuat mereka jadi kegila-gilaan, karena
penyesalan dan panas hati. Mereka merasa terhina. Rasa sombong dan kebanggaan mereka
sebagai suku Quraisy telah meluncur masuk lumpur kehinaan Arang telah tercoreng dimuka
orang-orang Quraisy. Mereka seolah-olah tidak bisa lagi mengangkat dirinya dari lumpur
kehinaan ini. Dengan segera mereka membuat persiapan-persiapan untuk membalas pengalaman
pahit yang terjadi di Badar.

Sebagai pemuda Quraisy, Khalid bin Walid pun ikut merasakan pahit getirnya kekalahan itu.
Sebab itu dia ingin membalas dendam sukunya dalam peperangan Uhud. Khalid dengan
pasukannya bergerak ke Uhud dengan satu tekad menang atau mati. Orang-orang Islam dalam
pertempuran Uhud ini mengambil posisi dengan membelakangi bukit Uhud.
Sungguhpun kedudukan pertahanan baik, masih terdapat suatu kekhawatiran. Dibukit Uhud
masih ada suatu tanah genting, dimana tentara Quraisy dapat menyerbu masuk pertahanan Islam.
Untuk menjaga tanah genting ini, Nabi menempatkan 50 orang pemanah terbaik. Nabi
memerintahkan kepada mereka agar bertahan mati-matian. Dalam keadaan bagaimana jua pun
jangan sampai meninggalkan pos masing-masing.

Khalid bin Walid memimpin sayap kanan tentara Quraisy empat kali lebih besar jumlahnya dari
pasukan Islam. Tetapi mereka jadi ragu-ragu mengingat kekalahant-kekalahan yang telah mereka
alami di Badar. Karena kekalahan ini hati mereka menjadi kecil menghadapi keberanian orang-
orang Islam.
Page 44 of 44

Sungguh pun begitu pasukan-pasukan Quraisy memulai pertempuran dengan baik. Tetapi setelah
orang-orang Islam mulai mendobrak pertahanan mereka, mereka telah gagal untuk
mempertahankan tanah yang mereka injak.

Kekuatannya menjadi terpecah-pecah. Mereka lari cerai-berai. Peristiwa Badar berulang kembali
di Uhud. Saat-saat kritis sedang mengancam orang-orang Quraisy. Tetapi Khalid bin Walid tidak
goncang dan sarafnya tetap membaja. Dia mengumpulkan kembali anak buahnya dan mencari
kesempatan baik guna melakukan pukulan yang menentukan.
Melihat orang-orang Quraisy cerai-berai, pemanah-pemanah yang bertugas ditanah genting tidak
tahan hati. Pasukan Islam tertarik oleh harta perang, harta yang ada pada mayat-mayat orang-
orang Quraisy. Tanpa pikir panjang akan akibatnya, sebagian besar pemanah-pemanah, penjaga
tanah genting meninggalkan posnya dan menyerbu kelapangan.

Pertahanan tanah genting menjadi kosong. Khalid bin Walid dengan segera melihat kesempatan
baik ini. Dia menyerbu ketanah genting dan mendesak masuk. Beberapa orang pemanah yang
masih tinggal dikeroyok bersama-sama. Tanah genting dikuasai oleh pasukan Khalid dan mereka
menjadi leluasa untuk menggempur pasukan Islam dari belakang.
Dengan kecepatan yang tak ada taranya Khalid masuk dari garis belakang dan menggempur
orang Islam dipusat pertahanannya. Melihat Khalid telah masuk melalui tanah genting, orang-
orang Quraisy yang telah lari cerai-berai berkumpul kembali dan mengikuti jejak Khalid
menyerbu dari belakang. Pemenang-pemenang antara beberapa menit yang lalu, sekarang telah
terkepung lagi dari segenap penjuru, dan situasi mereka menjadi gawat.

Khalid bin Walid telah merobah kemenangan orang Islam di Uhud menjadi suatu kehancuran.
Mestinya orang-orang Quraisylah yang kalah dan cerai-berai. Tetapi karena gemilangnya Khalid
sebagai ahli siasat perang, kekalahan-kekalahan telah disunglapnya menjadi satu kemenangan.
Dia menemukan lobang-lobang kelemahan pertahanan orang Islam.
Hanya pahlawan Khalidlah yang dapat mencari saat-saat kelemahan lawannya. Dan dia pula
yang sanggup menarik kembali tentara yang telah cerai-berai dan memaksanya untuk bertempur
lagi. Seni perangnya yang luar biasa inilah yang mengungkap kekalahan Uhud menjadi suatu
kemenangan bagi orang Quraisy.

Ketika Khalid bin Walid memeluk Islam Rasulullah sangat bahagia, karena Khalid mempunyai
kemampuan berperang yang dapat digunakan untuk membela Islam dan meninggikan
kalimatullah dengan perjuangan jihad. Dalam banyak kesempatan peperangan Islam Khalid bin
Walid diangkat menjadi komandan perang dan menunjukan hasil gemilang atas segala upaya
jihadnya. Betapapun hebatnya Khalid bin Walid di dalam medan pertempuran, dengan berbagai
luka yang menyayat badannya, namun ternyata kematianya diatas ranjang. Betapa menyesalnya
Khalid harapan untuk mati sahid dimedan perang ternyata tidak tercapai dan Allah
menghendakinya mati di atas tempat tidur, sesudah perjuangan membela Islam yang luar biasa
itu. Demikianlah kekuasaan Allah. Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya
sesuai dengan kemaua-Nya.

Oleh :
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia
Page 45 of 45

ZAINAB AL KUBRA R.A.

ZAINAB AL KUBRA R.A. , Seorang wanita cucu Rasulullah SAW, yang begitu tabah dan tetap
tegar menghadapi ujian dan cobaan, demi kemuliaan keturunan Rasulullah SAW.

Menulis tentang Sitti Fatimah Azzahra dengan meninggalkan begitu saja kedua puterinya,
rasanya memang kurang adil. Apalagi kalau yang dibicarakan itu menyangkut puterinya yang
bernanna Zainab Al-Kubra. Ia tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita yang tabah dan gagah
berani Seperti diketahui, di samping kedua puteranya yang termasyhur itu, dalam perkawinannya
dengan Imam Ali r.a., Sitti Fatimah Azzahra juga diberkahi oleh Allah s.w.t. dengan dua orang
puteri. Mereka itu adalah Zainab Al-Kubra dan Zainab Ash-Sugra. Bersama dengan Al-Hasan
dan Al-Husain r.a., kedua wanita itu sudah sejak masa anak-anak ditinggalkan untuk
selamalamanya oleh ibundanya. Dalam usia yang masih muda sekali ini, sesaat sebelum wafat
Sitti Fatimah r.a. telah berpesan khusus kepada Zainab Al-Kubra agar ia menjaga baik-baik
kedua saudara lelakinya itu.

Memang, beban yang terberat bagi Sitti Fatimah Azzahra sebelum meninggal dunia rupanya
adalah keempat anaknya yang masih kecil-kecil itu. Dikisahkan bahwa sesaat sebelum
menghembuskan nafasnya yang terakhir Sitti Fatimah r.a. tak dapat menahan kepedihan hatinya.
Ia harus memenuhi panggilan Ilahi pada usia yang begitu muda, 28 tahun. Sedangkan anak-
anaknya belum satu pun yang mencapai usia sepuluh tahun.
Sesudah itu pada usia masih remaja, bahkan masih anak-anak, Zainab Al-Kubra sudah diserahi
tanggung jawab untuk menjaga adik-adik dan merawat kakak-kakaknya. Tidak banyak yang bisa
diungkapkan mengenai peran masa anak-anak yang dilakukan oleh kedua puteri Sitti Fatimah
Azzahra itu. Riwayat-riwayat hanya mengungkapkan kehidupan dan perkembangan Al Hasan
dan Al Husain r.a. Hal ini tidak perlu diherankan, karena dunia kehidupan Arab yang keras
jarang sekali mengedepankan peran seorang wanita. Jadi walaupun Zainab Al-Kubra dan Zainab
Ash Sugra termasuk dalam lingkungan keluarga sangat mulia nama mereka jarang sekali
ditonjolkan.

Baru beberapa tahun kemudian setelah Zainab Al Kubra meningkat remaja, maka peranannya
diungkapkan oleh para periwayat. Sejarah akhirnya mencatat namanya dan mengakui peran
penting yang dijalankan oleh Zainab Al Kubra dalam melindungi kesinambungan generasi
penerus keluarga RASUL Allah s a w. Bagaimana pun juga, walau Zainab Al Kubra seorang
wanita, tetapi ada darah kemuliaan dan kesucian yang mengalir dalam tubuhnya. Sejak masa
anak-anak ia telah turut memikul tanggung jawab kehidupan rumahtangga Imam Ali r.a. yang
ditinggal wafat oleh Sitti Fatimah Azzahra. Zainab Al Kubra dengan tekun dan tabah
melaksanakan amanat yang ditinggalkan oleh bundanya sesaat sebelum wafat. Dengan penuh
tanggung jawab dirawatnya adik-adik dan kedua kakaknya itu. Boleh dikatakan ia tak pernah
berpisah jauh dari kedua saudara lelakinya itu.

Tidak ada pengungkapan mengenai kelanjutan kehidupan Zainab Ash-Sugra. Sedangkan tentang
Zainab Al Kubra justru makin menonjol setelah Al-Husain r.a. gugur di Karbala. Wanita inilah
pada usia sudah lebih setengah abad tanpa mengebal gentar sedikit pun sedia mati untuk
menyelamatkan keturunan langsung Rasul Allah s a.w. Ia menjadi saksi hidup tentang siksaan
yang dialami oleh saudara lelakinya itu sampai Al-Husain r.a. meninggal dengan gagah berani.
Page 46 of 46

Oleh :
Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia - Al-Islam

SOFYAN ATS-TSAURI
Abu 'Abdullah Sofy an bin Sd'id ats-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 97 HI715 M. Mula-mula ia
belajar dari ayahnya sendiri, kemudian dari banyak orang-orang pandai di masa itu sehingga
akhirnya ia mencapai keahlian yang tinggi di bidang Hadits dan teologi. Pada tahun 158 Hl715
M, ia menantang pejabat-pejabat pemerintahan sehingga ia terpaksa menyembunyikan diri di
kota Mekkah. Sofyan ats-Tsauri meninggal dunia tahun 161 H/778 M di kota Bashrah. Ia telah
mendirikan sebuah madzhab fiqh yang bertahan selama dua abad. Dan menjalani hidup
pertapaan yang keras sehingga para sufi menyebutnya sebagai seorang manusia suci.

SOFYAN ATS-TSAURI DAN PARA KHALIFAH


Kesalehan Sofyan ats-Tsauri nampak sejak ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Suatu
hari ibunya sedang berada di atas loteng rumah. Si ibu mengambil beberapa asinan yang sedang
dijemur tetangganya di atas atap dan memakannya. Tiba-tiba Sofyan yang masih berada di dalam
rahim ibunya itu menyepak sedemikian keras-nya sehingga si ibu mengira bahwa ia keguguran.
Diriwayatkan bahwa yang menjadi khalifah pada masa itu ketika shalat di depan Sofyan
memutar-mutar kumisnya. Setelah selesai shalat, Sofyan berseru kepadanya: "Engkau tidak
pantas melakukan shalat seperti itu. Di Padang Mahsyar nanti shalatmu itu akan dilemparkan ke
mukamu sebagai sehelai kain lap yang kotor" "Berbicaralah yang sopan", tegur si khalifah. "Jika
aku enggan melakukan tanggung jawabku ini, jawab Sofyan, "semoga kencingku berubah
menjadi darah".

Khalifah sangat marah mendengar kata-kata Sofyan ini lalu memerintahkan agar ia dipenjarakan
dan dihukum gantung. "Agar tidak ada orang-orang lain yang seberani itu lagi terhadapku", jelas
si khalifah.
Suatu hari tiang gantungan dipersiapkan, Sofyan masih tertidur lelap dengan kepala berada
dalam dekapan seorang manusia suci dan kakinya di pangkuan Sofyan bin uyaina. Kedua
manusia suci tersebut yang mengetahui bahwa tiang gantungan sedang dipersiapkan, bersepakat:
"Janganlah ia sampai mengetahui hal ini". Tetapi ketika itu juga Sofyan terjaga. "Apakah yang
sedang terjadi?", tanyanya.

Kedua manusia suci itu terpaksa menjelaskan walau dengan sedih sekali. "Aku tidak sedemikian
mencintai kehidupan ini", kata Abu Sofyan. "Tetapi seorang manusia harus melakukan
kewajibannya selama ia berada di atas dunia ini".
Dengan mata berlinang-linang Sofyan berdoa: "Ya Allah, sergaplah mereka seketika ini juga! "
Pada saat itu sang khalifah sedang duduk di atas tahta dikelilingi oleh menteri-menterinya. Tiba-
tiba petir menyambar istana dan khalifah beserta menteri-menterinya itu ditelan bumi. "Benar-
benar sebuah doa yang diterima dan dikabulkan dengan seketika!", kedua manusia suci yang
mulia itu berseru.

Seorang khalifah yang lain naik pula ke atas tahta. Ia percaya kepada kesalehan Sofyan. Si
khalifah mempunyai seorang tabib yang beragama Kristen. Ia adalah seorang guru besar dan
Page 47 of 47

sangat ahli. Khalifah mengirim tabib ini untuk mengobati penyakit Sofyan. Ketika si tabib
memeriksa air kencing Sofyan, ia berkata di dalam hati, "Inilah seorang manusia yang hatinya
telah berubah menjadi darah karena takut kepada Allah. Darah keluar sedikit demi sedikit
melalui kantong kemihnya". Kemudian ia menyimpulkan, "Agama yang dianut oleh seorang
manusia seperti ini tidak mungkin salah".

Si tabib segera beralih kepada agama Islam. Mengenai peristiwa ini khalifah berkata: "Kusangka
aku mengirimkan seorang tabib untuk merawat seorang sakit, kiranya aku mengirim seorang
sakit untuk dirawat seorang tabib yang besar".
ANEKDOT - ANEKDOT MENGENAI DIRI SOFYAN ATS-TSAURI
Suatu hari Sofyan bersama seorang sahabatnya lewat di depan rumah seorang terkemuka.
Sahabatnya terpesona memandang, serambi rumah itu. Sofyan mencela perbuatan temannya itu:
"Jika engkau beserta orang-orang yang seperti engkau ini tidak terpesona dengan istana-istana
mereka! niscaya mereka tidak bermegah-megah seperti ini. Dengan terpesona seperti itu engkau
ikut berdosa di dalam sikap bermegah-megah mereka".

Seorang tetangga Sofyan meninggal dunia, Sofyan pun pergi untuk membacakan doa pada
penguburannya. Setelah selesai, terdengar olehnya orang-orang berkata: "Almarhum adalah
seorang yang baik". "Seandainya aku ketahui bahwa orang-orang lain menyukai almarhum", kata
Sofyan, "niscaya aku tidak turut di dalam penguburan ini. Jika seseorang bukan munafik, maka
orang-orang lain tidak akan menyukainya!"

Suatu hari Sofyan salah mengenakan pakaiannya. Ketika hal ini dikatakan kepadanya, ia segera
hendak memperbaiki pakaiannya tetapi cepat-cepat dibatalkannya pula niatnya itu, dan berkata,
"Aku mengenakan pakaian ini karena Allah dan aku tak ingin meng-ubahnya hanya karena
manusia".

Seorang pemuda mengeluh karena tidak sempat menunaikan ibadah haji. Sofyan menegurnya:
"Telah empat puluh kali aku menunaikan ibadah haji. Semuanya akan kuberikan kepadamu
asalkan engkau mau memberikan keluhanmu itu kepadaku". "Baiklah", si pemuda menjawab.
Malam harinya di dalam mimpinya Sofyan mendengar sebuah suara yang berkata kepadanya:
"Engkau mendapat keuntungan yang sedemikian besarnya sehingga apabila dibagi-bagikan
kepada semua jama'ah di Padang Arafah, niscaya setiap orang di antara mereka menjadi kaya
raya".

Suatu hari ketika Sofyan sedang memakan sepotong roti lewatlah seekor anjing. Anjing itu
diberinya roti secabik demi secabik. Seseorang bertanya kepada Sofyan: "Mengapa roti itu tidak
engkau makan beserta anak-isterimu?" "Jika anjing ini kuberi roti", jawab Sofyan, "niscaya ia
akan menjagaku sepanjang malam sehingga aku dapat beribadah dengan tenang, Jika roti ini
kuberikan kepada anak-isteriku niscaya mereka akan menghalangi diriku untuk beribadah kepada
Allah".

Pada suatu ketika Sofyan melakukan perjalanan ke Mekkah, ia diusung di atas sebuah tandu.
Selama di dalam perjalanan, Sofyan menangis terus-menerus. Seorang sahabat yang
menyertainya bertanya, "Apakah engkau menangis karena takut akan dosa-dosamu?' Sofyan
mengulurkan tangannya dan mencabut beberapa helai jerami.
Page 48 of 48

"Dosa-dosaku memang banyak, tetapi semuanya tidaklah lebih berarti daripada segenggam
jerami ini bagiku. Yang membuat aku takut adalah apakah imanku benar-benar iman atau
bukan".

Betapa cintanya Sofyan terhadap semua makhluk Allah. Suatu hari ketika berada di pasar, ia
meLihat seekor burung di dalam sangkar. Si burung mengepak-ngepakkan sayap dan mencicit-
cicit dengan sedihnya. Sofyan membeli burung itu lalu melepaskannya. Setiap malam burung itu
datang ke rumah Sofyan, menunggui Sofyan apabila ia sedang shalat dan sekali-sekali hinggap di
tubuhnya. Ketika Sofyan meninggal dunia dan mayatnya diusung ke pemakaman, si burung ikut
pula mengantarkannya dan seperti pengantar-pengantar yang lain ia pun mencicit-cicit sedih.
Ketika mayat Sofyan diturunkan ke dalam tanah, si burung menyerbu masuk ke dalam kuburan
itu. Kemudian terdengarlah suara dari dalam kuburan itu: "Allah Yang Maha Besar telah
memberi ampunan kepada Sofyan karena telah menunjukkan belaskasih kepada makhluk-
makhluk-Nya". Si burung mati pula menyertai Sofyan.

Abu Hanifah al-Nu'man

Abu Hanifah al-Nu'man bin Stabit bin Zautha dilahirkan di Kufah pada tahun 80 H/699. Orang
tuanya berasal dari keturunan Persia dan ketika ia masih dalam kandungan di bawa pindah ke
Kufah dan menetap disini hingga Abu Hanifah lahir.
Menurut cerita, ketika Zautha bersama anaknya Stabit ( ayah Abu Hanifah ) berkunjung kepada
Ali bin Abi Thalib, dengan serta merta kedua orang ini didoakan agar mendapat keturunan yang
mulia. Abu hanifah dibesarkan di Kufah dan dikota ini ia mulai belajar dan menimba ilmu
pengetahuan sebanyak-banyaknya. Setelah itu bepergian ke Hijaz, terutama di Mekkah dan
Madinah untuk menambah dan memperdalam ilmu dan wawasan yang luas. Ia berusaha
memahami pemikiran hukum yang bersumber dari Umar dan Ali bin Abi Thalib melalui sahabat
- sahabat mereka. Termasuk diantaranya ialah Hammad bin Abi Sulaiman, ibrahim al nakhai,
abdulah bin mashud dan abdulah bin abbas. Ia pernah bertemu dengan beberapa sahabat
rasulullah seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Auqa di Kufah, Sahal bin Sa'ad di Madinah dan
Abu Thufail Ibnu Wailah di Mekah.

Karya karyanya yang sampai kepada kita adalah kitab al-Fiqul Akbar, Kitab Al-Risalah, kitab
Al- 'Alim wal Mutallim dan kitab Al-washiyah. Tidak ada buku fiqih karya abu Hanifah.
Meskipun demikian tulisan murid-muridnya telah merekam secara lengkap semua pandangan
fiqih Abu Hanifah hingga menjadi ikutan kaum muslimin. Muridnya antara lain Abu Yusuf bin
Ibrahim Al-Auza'I, Zafr bin Al - Ajil bin Qois, Muhammad bin Hasan bin Farqad al-syaibani dan
al-Hasan bin Ziyad al-lu'lu'I . murid-murid inilah yang merekam dan menulis pemikiran Abu
Hanifah, baik bidang akidah maupun bidang hukum. Murid-murid di bidang tasawuf antara lain
Ibrahim bin Adham Fudhail bin 'lyad, Dawud al - Tha'I dan Bisyt al-Hafi.

Abu Hanifah memiliki ilmu yang luas dalam semua kajian Islam hingga ia merupakan seorang
mujtahid besar (imamul a"zdam ) sepanjang masa. Meskipun demikian ia hidup sebagaimana
layaknya dengan melakukan usaha berdagang dalam rangka menghidupi keluarga. Dengan
prinsip berdiri di atas kemampuan sendiri, ia prihatin juga terhadap kepentingan kaum muslimin
, terutama bagi mereka yang berhajat akhlak yang mulia yang dimilikinya mampu
Page 49 of 49

mengendalikan hawa nafsu, tidak goyah oleh imbauan jabatan dan kebesaran duniawi dan selalu
sabar dalam mengahadapi berbagai cobaan. Meskipun ia berdagang ia hidup sebagai kehidupan
sufi dengan zuhud, wara, dan taat ibadah. Kalau kita hayati kehidupannya maka akan rampak
kepada kira bahwa Abu Hanifah hidup dengan ilmu dan bimbingan umat dengan penuh kreatif,
hidup dengan kemampuan sendiri tidak memberatkan orang lain. Disamping menjalankan usaha
dagangnya. ia juga hidup dengan ibadah yang intensif siang dan malam.

Khalifah al-Manshur akan mengangkat hakim agung dengan memiliki salah satu diantara 4 orang
ulama besar: Abu Hanifah, Sofyan Tsauri, Mis'ar bin Kidam, dan Syuraih. Sementara mereka
berjalan bersama menemui Khalifah, Abu Hanifah bekata kepada para sahabat-sahabatnya :
"Aku akan menolak jabatan ini dengan cara tertentu. Mis'ar hendak menolaknya dengan berpura
-pura menjadi gila, Safyan Tsauri akan lari ke negeri lain dan Syuraih agar dapat menerima
jabatan ini". Sofyan lalu kabur pergi ke pelabuhan untuk naik kapal menuju negeri lain. Yang
lain melanjutkan dan bertemu kalifah dalam sebuah pertemuan resmi. Khalifah berkata kepada
Abu Hanifah :" Engkau harus bersedia menjadi hakim agung". Abu Hanifah menjawab:" Wahai
Amirul Mukminin , aku bukan orang arab dan pemimpin-pemimpin arab tidak akan menerima
keputusan-keputusanku. Karena itu aku merasa bahwa aku tidak cocok untuk jabaran ini".
Khalifah berkata:" jabatan ini tidak ada kaitannya dengan masalah keturunan melainkan
berkaitan dengan keahlian. Dan engkau adalah seorang ulama terkemuka di masa ini". Abu
Hanifah berkata:"wahai Khalifah, apa yang baru kukatakan menunjukkan bukti Bagaimana
keberadaan saya. Jika telah kukatakan aku tidak cocok dan juga telah kukatakan sebuah
kebohongan tentu aku tidak cocok dan juga telah kukatakan sebuah kebohongan tentu tidak
dibenarkan seorang pendusta menjadi hakim atas kaum muslim dan tidak debenarkan pula
engakau mempercayai kepada kehidupan kekayaan dan kehormatan yang engkau miliki". Lalu
Mis'ar tampil ke muka dengan menjabat tangan khalifah dan bertanya macam-macam yang tidak
layak hingga khalifah marah dan menyatakan gila dan khalifah meminta untuk menjadi hakim
agung tersebut dan menolaknya setiap alasan yang dikemukakannya.

Abu Hanifah menolak jabatan dan tidak mau dibantu oleh penguasa. Ketika Abu Ja'far al-
Manshur menghadiahkannya 10.000 dirham, Abu Hanifah menolak. Seorang sahabatnya berkata
kepadanya:" kepada anda diberikan dunia anda menolaknya padahal anda berkeluarga". Abu
Hanifah menjawab:" keluargaku kuserahkan kepad allah, sedang makananku sebulan cukup dua
dirham saja.
Pada suatu kerika Abu Hanifah mengirim barang dagangan kepada kongsinya. Didalam barang
dagangan itu ada sehelai kain yang cacat. Abu Hanifah mensyaratkan kepada kongsinya supaya
menerangkan cacat kain itu. Lalu sipembeli tidak mengetahui. Ketika Abu Hanifah mengetahui
hal itu maka ia segera bersedekah sebanyak 30.000 dirham.

Dalam kehidupan, disamping memiliki akhlak dan tingkah laku mulia, ia selalu menjaga
kesucian diri dan harta, disamping ia selalu dalam peribadahan selama 40 tahun Abu Hanifah
memenuhi malam malamnya dengan shalat dan selama itu shalatnya subuh dilaksanakan dengan
wudhu pada waktu isya. Dan dalam shalatnya itu dibacanya al-Quran dan konon kerika ia
meninggal ia telah menghatamkan al-Quran 7000 kali.
Ilmu yang dimiliki oleh Abu Hanifah demikian luas terutama temuan-temuannya dibidang
hukum dan memecahkan masalah-masalahnya sejumlah 60.000 masalah hingga di digelar
Page 50 of 50

dengan imam al-A'zdam dan kuluasan ilmunya itu diakui oleh imam Syafi'I beliau
berkata:"manusia dalam bidang hukum adalah orang yang berpegang kepada Abu Hanifah ".

Tampak ilmu Anu Hanifah bukan hanya bidang hukum tetapi juga miliputi bidang lainnya
termasuk tasawuf. Menurut Yahya bin Mu'azd al-Razi dalam suatu mimpi ia bertemu dengan
rasulullah dan bertanya:"wahai Rasulullah di mana akan aku cari engaku?". Rasulullah
menjawab:"di dalam ilmu Abu Hanifah ", demikian Rasulullah.
Ketika Daud al-Tha'I telah beroleh ilmu yang luas dan sudah mencapai popularitas yang tinggi
dia berkunjung menemui Abu Hanifah seraya berkata:"saya mohon diberikan wejangan dan
petujuk". Abu Hanifah berkata:"amalkan apa yang telah engku pelajari, karena teori tanpa
praktek ibarat tubuh tanpa roh". Petunjuk ini menghendaki adanya mujahadah dan dengan
mujahadah akan didapat musyahadah.

Imam Al – Ghazali
Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Ahmad, dilahirkan pada tahun 450 H/ 1059 di
Thus daerah Khurasan. Ia dikenal dengan Al - Ghazali karena ayahnya pemintal tenun wol atau
karena ia berasal dari desa Ghazalah. Beliau wafat pada tahun 505 H / 1111.
Pendidikannya dimulai didaerahnya yaitu belajar kepada Ahmad Ibnu Muhammad al - Razkani
al - Thusi, setelah itu pindah ke Jurjan ke pendidikan yang dipimpin oleh Abu Nash al-Ismaili
mempelajari semua bidang agama dan bahasa, setelah tamat kembali ke Thus belajar tasawuf
dengan Syekh Yusuf al - Nassaj (wafat 487 H) , kemudian ke Nisyapur belajar kepada Abul
Ma'al al-Juwaini yang bergelar Imam al - Haramain dan melanjutkan pelajaran Tasawuf kepada
Syekh Abu Ali al - Fadhl Ibnu Muhammad Ibnu Ali al - Farmadi, dan ia mulai mengajar dan
menulis dalam Ilmu Fiqh.

Setelah Imam al - Juwaini wafat ia pindah ke Mu'askar mengikuti berbagai forum diskusi dan
seminar kalangan ulama dan intelektual dan dengan segala kecermelangannya membawanya
menjadi guru besar di perguruan Nidzamiyah di Baghdad pada tahun 484 H, disamping
memberikan kuliah, ia juga mengkaji filsafat Yunani dan filsafat Islam. Kecermelangan,
keharuman namanya dan kesenangan duniawi yang melimpah ruah di Baghdad melebihi ketika
ia di Mu'askar, dikota ini ia sakit dan secara tiba-tiba meninggalkan Baghdad mengundurkan diri
dari kegemerlapan duniawi tersebut.

Mulai th 488 H/ 1095 ia ke Damaskus. di Masjid Umawi ia ber'itiqaf dan berzikir dipuncak
menara sebelah barat sepanjang hari dengan makan dan minum yang terbatas. Ia memasuki suluk
sufi dengan riyadhah dan mujahadah terus menerus seperti itu selama 2 tahun di Damaskus.
Setelah itu pergi ke Baitul Maqdis di Palestina, setiap hari ia masuk Qubbah Shahrah untuk
berzikir, ia juga ke al - Khalil berziarah ke makam Nabi Ibrahim as. Setelah dari Palestina, ia
melaksanakan ibadah haji di Mekkah dan berziarah ke makam Rasullulah di Madinah.

Ia pernah kembali ke Baghdad untuk mengajar di Perguruan Nidzamiyah Baghdad, namum tidak
berapa lama kemudian kembali ke Thus dan mendirikan khanaqah untuk para sufi dan
mendirikan madrasah untuk mengajar ilmu Tasawuf.
Page 51 of 51

Karya - karya tulis Al-Ghazali meliputi berbagai bidang keislaman, Kalam, Fiqh, Filsafat,
Tasawuf dan lain lainnya yang berbentuk buku maupun risalah.
Kitab kitab Al -Ghazali yang membahas tentang Tasawuf :

6. Mizan al - 'Amal

7. Al - Ma'arif al-Aqliah wa Lubab al - Hikmah al - Ilahiyah

8. Ihya 'Ulumiddin

9. Al - Maqshad al - Astna Fi Syarh Asma al - Husna

10. Bidayat al - Hidayah

11. Al - Madhnun Bih 'ala Ghairi Ahlil

12. Kaimiya al - Sa'adah

13. Misykat al - Anwar

14. Al - Kasyf Wa al - Tabyin Fi Ghurur al - Naas Ajma'in

15. Al - Munqidz Min al - Dhalal

16. Al - Durrat al Fakhirah Fi Kasyf 'Ulumi al - Akhirah

17. Minhaj al - 'Abidin Ila Jannati Rabbi al - 'Alamin

18. Al - Arba'in Fi Ushul al - Din

Tasawuf Al - Ghazali menghimpun akidah, syariat dan akhlak dalam suatu sistematika yang kuat
dan amat berbobot, karena teori - teori tasawufnya lahir dari kajian dan pengalaman pribadi
setelah melaksanakan suluk dalam riyadhah dan mujahadah yang intensif dan
berkesinambungan, sehingga dapat dikatakan bahwa seumur hidupnya ia bertasawuf.
Dalam pandangannya, Ilmu Tasawuf mengandung 2 bagian penting, pertama menyangkut ilmu
mu'amalah dan bagian kedua menyangkut ilmu mukasyafah, hal ini diuraikan dalam karyanya
Ihya 'Ulumiddin, Al -Ghazali menyusun menjadi 4 bab utama dan masing-masing dibagi lagi
kedalam 10 pasal yaitu :

· Bab pertama : tentang ibadah (rubu' al - ibadah)


· Bab kedua : tentang adat istiadat (rubu' al - adat)
· Bab ketiga : tentang hal -hal yang mencelakakan (rubu' al - muhlikat)
· Bab keempat : tentang maqamat dan ahwal (rubu' al - munjiyat)

Menurutnya, perjalanan tasawuf itu pada hakekatnya adalah pembersihan diri dan pembeningan
hati terus menerus sehingga mampu mencapai musyahadah. Oleh karena itu ia menekankan
Page 52 of 52

pentingnya pelatihan jiwa, penempaan moral atau akhlak yang terpuji baik disisi manusia
maupun Tuhan.
Imam Al -Ghazali yang bergelar Hujjatul Islam meninggal dikota kelahirannya Thus pada hari
Senin 14 Jumadil Akhir 505 H.
Disarikan dari :
"Ajaran dan Teladan Para Sufi", karangan Drs H.M. Laily Mansur, L.PH. Penerbit - PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 1996.

Khadijah Binti Khuwailid


Dari: "Tokoh-tokoh Wanita di Sekitar Rasulullah SAW" karangan Muhammad Ibrahim Saliim.
Diketik oleh: Hanies Ambarsari.
Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di
sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da'wah Islamiah,
mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin
Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di
dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu'minin, sebaik-baik isteri dan
teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat
menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira'. Khadijah adalah wanita pertama
yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah
adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya
harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia
membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika
orang-orang tidak memberiku apa-apa."

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, pada- hal di hadapan kita ada "wanita
terbaik di dunia," Khadijah binti Khu- wailid, Ummul Mu'minin yang setia dan taat, yang
bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat
men- jadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.
Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta
kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap
agama dan Nabi-Nya dengan se- baik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan
di dalam is- tananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hi-
dupnya.

Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :"Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah
telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia
datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan
kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan
tidak ada kepayahan." [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi
berkata :"Keshahihannya telah disepakati."]
Page 53 of 53

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya
oleh dunia ?
Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu'min
yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a.
membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia
habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya
hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul
Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya
membaca ayat- ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia
menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke
kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu
terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada
penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian,
beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika
melihatnya, Khadijah berkata :"Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah
mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali
kepadaku." Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.
Khadijah r.a. berkata :"Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang
menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini." Nabi SAW tidak
mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan
dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang
menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran
darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan
hati dan meringankan urusannya. Demikian hendaknya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril
A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :"Sampaikan
kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :"Wahai Khadijah,
ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu." Maka Khadijah r.a. menjawab :"Allah
yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada
Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan)."

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat
yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap
Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang
mendukung da'wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang
besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad,
berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolong- nya di waktu-waktu yang sulit,
membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit
pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.
Page 54 of 54

Rasulullah SAW bersabda :"Khadijah beriman kepadaku ketika orang- orang mengingkari. Dia
membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku
ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan
mengharamkan bagiku anak dari selain dia." [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]
Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Jibril datang kepada
Nabi SAW, lalu berkata :"Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah
berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam
dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari
mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan." [Shahih Bukhari, Bab
Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya, 1/539]

$$$$