Anda di halaman 1dari 6

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Pembahasan Apotek Kimia Farma 240 Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1332 Tahun 2002 apotek adalah suatu tempet dilaksanakannya pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi dan perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat. Seiring dengan perkembangannya, dikeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian dengan menimbang Bahwa untuk melaksanakan ketentuan pasal 63 Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian. Menurut Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 pasal 1 ayat 1, Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuat sedian termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusi atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. Apotek mempunyai peranan yang sangat penting dalam usaha peningkatan kesehatan masyarakat karena selain berperan sebagai sarana penyalur perbekalan farmasi kepada masyarakat, apotek juga diharap dapat berperan sebagai sarana pelayanan kesehatan yang memberikan informasi dan edukasi mengenai khasiat, cara pemakaian, dosis, efek samping, dan cara penggunaan obat serta cara penyimpanan obat. Apotek sebagai salah satu unit usaha, tidak lepas dari

81

82

pengaruh perubahan dalam masyarakat. Dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin tajam dan konsumen yang semakin kritis, PT Kimia Farma telah melakukan restrukturisasi usaha perapotekannya. Letak apotek Apotek Kimia Farma 240 cukup strategis dan bangunannya cukup memadai untuk melaksanakan kegiatan perapotekan. Sebagian dari bangunan tersebut digunakan juga untuk tempat praktek dokter dan swalayan sebagai upaya peningkatan dan pengembangan apotek. Perbekalan farmasi di Apotek Kimia Farma 240 cukup lengkap. Apotek ini menyediakan obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat golongan narkotika dan psikotropika, serta alat kesehatan. Selain menyediakan perbekalan farmasi Apotek Kimia Farma 240 menyediakan makanan dan minuman yang disimpan dibagian swalayan. Apotek Kimia Farma 240 menyediakan perbekalan farmasi yang berasal dari PBF atau distributor resmi lainnya untuk menjamin mutu dan keabsahan perbekalan farmasi yang dijual. Pemesanan obat dilakukan setiap hari berdasarkan buku defekta dan pengadaan obat di apotek. Untuk pemesanan obat golongan narkotika dan psikotropika ditandatangani oleh APA. Perbekalan farmasi disimpan berdasarkan penggolongan jenis sediaan serta disusun berdasarkan efek farmakologi nya. Untuk obat-obat narkotika dan psikotropika disimpan di lemari yang terpisah dan tertutup rapat serta terkunci. Untuk mengawasi data persediaan obat menggunakan kartu stok juga dikontrol melalui sistem komputerisasi. Mekanisme pelayanan perbekalan farmasi umumnya telah dilaksanakan dengan baik dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik dalam hal penulisan etiket, peracikan, atau pengemasan yang disertai pemeriksaan

83

sebagai kontrol. Metode FIFO (First In First Out) telah dilaksanakan secara teratur demi menjaga kualitas perbekalan farmasi. Usaha lain yang dilakukan Apotek Kimia Farma 240 dalam meningkatkan pendapatannya, antara lain : 1. 2. Menyediakan tempat praktek dokter. Melengkapi sarana dan prasarana, seperti ruang tunggu yang dilengkapi dengan televisi, kamar mandi dan mushola. 3. Menerapkan jaringan komputer on-line untuk memudahkan pengawasan terhadap keluar masuknya barang serta untuk mengetahui harga barang. 4. Bekerja sama dengan beberapa instansi dan perusahaan dalam melayani resep secara kredit. Agar peranan apoteker di mata masyarakat lebih dirasakan, maka sangat perlu diterapkan sistem penyerahan obat secara langsung oleh apoteker untuk setiap resep-resep yang telah selesai dikerjakan dan juga memberikan informasi obat kepada pasien tentang Upaya Pengobatan Diri Sendiri (UPDS) yang merupakan kesempatan paling baik bagi para apoteker untuk lebih dikenal oleh masyarakat sehingga jelas bahwa apoteker itu benar-benar ada ditengah-tengah masyarakat luas sebagai ujung tombak pemberi informasi yang tepat, aman dan rasional.

84

5. 2 Pembahasan tugas khusus TB adalah penyakit yang bisa menyebabkan kematian yang disebabkan oleh infeksi, maka deteksi TB sedini mungkin mempunyai terapi dan prognostik yang sangat penting. Sebelum dilakukan pengobatan TB. Pengobatan TB yaitu pengobatan dasar yaitu makanan harus diberikan dan dihabiskan oleh penderita tepat pada waktunya dan harus banyak makan makanan bergizi, meskipun tidak lapar, makanan harus tetap sesuai jadwal. Selanjutnya diberikan OAT ( obat anti tuberkulosis ), dan harus teratur minum obat (dijaga kepatuhan obat) Pengobatan yang dilakukan berlangsung lama sesuai yang dianjurkan oleh dokter, sehingga dalam hal kepatuhan pasien dalam menggunakan obat perlu di pantau oleh Apoteker, selain itu pengobatan TB juga dipengaruhi faktor motivasi dimana harus ada kerjasama antara tenaga kesehatan, penderita serta keluarga penderita. Rifampisin, pirazinamide, dan etambutol, dipilih sebagai obat anti tuberkulosis yang memiliki mekanisme kerja berbeda, INH menghambat sintesa asam mikolat (kompenen penting dinding sel bakteri), Etambutol Menekan multiplikasi bakteri, dengan cara mengganggu sintesis RNA. OBH untuk batuk selanjutnya diberikan vitamin B1, B6, B12 untuk mengatasi efek samping dari INH yaitu gangguan pada saraf. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demkian menurunkan insidens TB di masyarakat. Penanganan penyakit TB terbagi atas 2 bagian yaitu ;

85

1.

Penanganan non farmakologi Penangan farmakologi terdiri dari;

a. b. c. d. e. f. g. h. i.

Memperbaiki gaya hidup: pengaturan rumah agar terkena cahaya matahari mengurangi kepadatan anggota keluarga mengatur kepadatan penduduk menghindari meludah & batuk sembarangan mengkonsumsi makanan dengan gizi baik & seimbang tidur cukup dan teratur mencuci tangan dan peralatan rumah tangga olah raga 2. Penangan farmakologi Sesuai dengan sifat kuman TB, untuk memperoleh efektifitas pengobatan, maka prinsip-prinsip yang dipakai adalah : 1. Menghindari penggunaan monoterapi. Obat Anti Tuberkulosis

(OAT) diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hal ini untuk mencegah timbulnya kekebalan terhadap OAT.
2.

Untuk menjamin kepatuhan penderita dalam menelan obat,

pengobatan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). 3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

86

Tahap Intensif; Pada tahap intensif (awal) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya kekebalan obat. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar penderita TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan. Tahap Lanjutan; Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan. Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :
a. Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin,

Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.
b. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin,

Kapreomisin dan Kanamisin.