Anda di halaman 1dari 7

Data Kelompok Tugas IBD : 1. 2. 3. 4. 5.

Suwarsono (10830144) Agha Adityawan Rully (10830130) Yoseph Suryadi W. (10830098) (10830032)

Leo Poldino C.D.S (10830006)

Data buku sumber : Judul Buku Penulis Penerbit : Budaya dan Manusia Indonesia : Harsya W. Bachtiar, Mattulada, Haryati Soebadio : Yogyakarta, YP2LPM - Hanindita

Penerbit Tahun : 1985

rangkuman buku :

konsensus dan konflik dalam SISTEM BUDAYA DI INDONESIA

1. Sistem Budaya Indonesia Pada awal tulisan ini telah dikemukakan bahwa suatu masyarakat tidak dapat mempertahankan dirinya sebagai suatu kesatuan apabila anggotanya tidak mempunyai nilai-nilai yang sama, tidak memiliki suatu sistem normatif yang mengatur interaksi yang paling mendasar, dan tidak punya suatu kosepsi tentang keseluruhan mesyarakat yang demikian (yang dapat mempertahankan keutuhanya juga memiliki satu bahasa yang sama. Sistem budaya indonesia juga mengembangkan sistem normatif dan nilai-nilai dasar sendirinya sendiri, yang tidak berakar secara utuh pada salah satu budaya masyarakat etnik atau tradisi-tradisi keagamaan yang ada pada saat ini, Ia berakar pada semua sistem budaya yang ada. Nilainilai dasarnya telah dirumusakan menjadi ideologi negara, yang disebut Pancasila, meskipun harus diingat bahwa Pancasila bukanlah merupakan semua nilai dasar sistem budaya Indonesia. Sebagai sistem budaya yang berlandaskan kenyataan-kenyataan sosial baru yang cepat sekali pertumbuhannya, sistem budaya Indonesia yang

baru ini lebih banyak mengalami pemisahan (artinya muncul norma baru dari yang sebelumnya atau baru sama sekali, pent.) dibanding dengan sistem-sistem budaya etnik yang mana pun. 2. Sistem Budaya Asing Meskipun sistem-sistem budaya agama besar dari luar Indonesia, agama-agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha telah berasil mengakar secara kuat dikalang penduduk kepulauan Indonesia. Karena itu sistem-sistem budaya agama itu dalam tingkatan tertentu telah kehilangan identifikasinya sebagai sistem budaya asing, walaupun tidak sama sekali hilang. Beberapa unsur dari sistem-sistem budaya asing ini telah menjadi bagian dari sitem budaya nasional Indonesia. Misalnya pengetahuanilmiah, meskipun berasal dari sistem budaya asing, ia telah dimasukan menjadi bagian dari sistem budaya nasional atau setidaksetidaknya dianggap begitu. 3. Konflik Budaya Adanya kemajemukan sistem budaya yang pada dasarnya berbeda didalam satu masyarakat, masing-masing akan menyatakan bertanggungjawab jawab sepenuhnya atas pikiran, sikap dan tindakan para anggota, sehingga menyebabkan konflik budaya yang tersembunyi. Sering konflik itu terjadi pada daerah yang terbatas, misalnya di suatu ruangan, dikantor, di sekolah-sekolah dan macamnya. Tetapi ada yang terjadi lebih yang melibatkan orang lebih banyak sehingga menjadi pusat perhatian nasional, malah kadang-kadang menarik perhatian dunia Internasional. Jika sistem-sistem budaya yang terlibat dalam konflik itu sama kuatnya, atau paling tidak mau menerima nilai-nilai dan bertindak sebagai pedoman yang sama-sama diterima. Dalam hubungan antar suku di mana terjadi situasi konflik budaya didalamnya, sistem budaya ketiga yang masuk biasanyaberupa sistem budaya agama agama yang dipercayai oleh seluruh pengikutnya. Saat ini kebanyakan orang Indonesia telah menginternalisasi nilai-nilai dan aspek-aspek budaya yang dinyatakan secara simbolik dari tiga sistem secara simbolik dari tiga sistem budaya yang berbeda : sistem bidaya masyarakat etnik(suku)nya, sistem budaya agamanya dan sistem budaya ini tidak selaras satu sama lain: padahal seorangIndonesia diharapkan patuh pada kesemuanya. Diperkotaan, banyak orang yang telah memasukkan unsur-unsur budaya asing sebagai tambahan,

sehingga

merumitkan

tuga

peneliti

sosial

dan

kebudayaan

yang

menghambakan diri untuk mempelajari konflik-konflik budaya Indonesia. Selajalan dengan pandangan itu, saya beranggapan bahwa mengetahui dan memahami sistem-sistem budaya yang hidup dalam suatu masyarakat tertentu adalah suatu keharusan. Misalnya masyarakat Indonesia, perlu diketahui sistem-sistem budaya apa saja yang hidup didalamnya dan bagaimana antar hubungan sistem-sistem budaya itu, baik yang harmonis maupun yang konflik.

PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN NASIONAL

Sistem nilai dan gagasan utama sebagai hakekat kebudayaan terwujud dalam tiga sistem budaya secara lebih terperinci, yaitu sistem ideologi, sistem sosial dan sistem teknologi. 1. Sistem Ideologi meliputi etika, norma, adat-istiadat, peraturan dan hukum yang berfungsi sebagai pengarah untuk sistim sosial dan berupa interprestasi, operasional dari sistim nilai dan gagasan utama yang berlaku dalam suatu masyarakat. 2. Sistem sosial meliputi hubungan dan kegiatan sosial di dalam masyarakat, baik yang terjalin dalam lingkungan kerabat, maupun yang terjadi dengan masyarakat lebih luas serta dengan pemimpin-pemimpinnya. Pengendalian masyarakat dan pemimpin berkembang sesuai dengan budaya dan gagasan utama yang berlaku. 3. Sistem teknolologi meliputi segala peralatan serta cara penggunaanya sesuai dengan nilai budaya yang berlaku. Dalam kebuyadan yang terutama agraris, misalnya dengan sendirinya sistim teknologi sesuai dengan keperluan pertanian.

Searah dengan kecenderungan kebudayaan yang dimisalka, yang selalu berkembang, maka kontak-kontak seperti itu merupakan hal alamiah yang juga tidak mungkin dibendung. Yang menjadi masalah ialah luas dan derasnya arus pengaruh budaya asing dewasa ini sebagai akibat kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kebutuhan-kebutuhan yang timbul akibat pembangunan, ditambah dengan daya seleksi masyarakat yang melemah serta kurang mampu memilih unsur kebudayaan asing yang benar-benar diperlukan dan yang sesuai dengan nilai-nilai yang ada. Mengadopsi unsur-unsur budaya asing yang kurang terarah dapat mengakitbatkan tersisihnya nilai-nilai dan gagasan dasar yang selama ini

mendomasi

pola

tingkah

laku

anggota

masyarakat

yang

akhirnya

akan

memperlemah kepribadian dan semangat kebangsaan.

Pengembangan Kebudayaan Nasional Maka jelaslah bahwa kita telah sepakat untuk hidup dalam, dan membangun, negara atas dasar undang-undang dasar 1945 dan Pancasila yang disusun oleh oara bapak kita itu maka Program Pemerintah mesti bersendi pada, dan juga menuju ke tujuan yang telah dirintis oleh para penyusun Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945 tersebut. Atas dasar itu GBHN menyebutkan Manusia seutuhnya, yaitu manusia Indonesia yang dalam pembangunan, perkembangan negara kita ke arah keadaan negara yang maju, tatap dapat Zich thuisvoelen seperti Professor Soepomo membayangkannya. 1. Program Pengembangan Kesenian Progaram ini dimasudkan untuk miningkatkan prestasi seni,

merangsang inovasi ke arah pengembangan kesenian nasional yang meliputi seni rupa (termasuk seni lukis dan seni plastik seperti patung, dsb), seni gerak (tarian, pantomim, dsb), musik, teater dan lain-lain. Disamping itu juga ditingkatkan apresiasi terhadap seni, mengingat, bahwa perkembangan seni tidak mungkin tanpa adanya masyarakat yang mampu menghargainya. Dalam Rangka tujuan itu kegiatan digalakkan lewat berbagai Instansi, baik pemerimtah maupun swasta, serta juga perkumpulan-perkumpulan sosial. 2. Program Inventarisasi Kebudayaan Program ini bertujuan memperkenalkan nilai-nilai budaya bangasa serta gagasan utama yang luhur, baik pernah mendominasi polah tingkah laku masyarakat Indonesia dimasa lampau, maupun yang hingga sekarang masih berlaku. penulis Inventaris meliputi dan terbitan baru pencatatan guna dan rekaman segala macam kepada ungkapan bangsa (cerita rakyat, legenda, mitos, sejarah lisan, dls) serta memperkenalkan hasilnya masyarakat luas. Disamping itu juga diusahakan terjemahan dan popularitas dari naskah lama masyarakat Indonesia. 3. Program Pembinaan Penghayatan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Program ini merupakan konsekuensi dari TAP MPR NO. II/MPR/1978. Sesuai dengan penggarisan dalam GBHN, maka program ini dimaksudkan untuk mengadakan pembinaan terhadap penghayatan, berarti manusianya, di bidang kerohanian tanpa mengarah pada pembentukan agama baru denganmembina budi pengerti dan pengerti luhurnya, dalam arti memberi

kesadaran atas dirinya sebagai manusia dan sebagai warda negara Indonesia, serta keadaan Ketuhanan Yang Maha Esa. Masyarakat Bhineka yang Tunggal Ika Sebagaimana tampak dari apa yang telah diutarakan disemuanya, pada hakekatnya tugas kita sebagai bangsa dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah berganda 1. Pada suatu pihak kita mesti membina kesatuan dan

persatuan bangsa. 2. Sedangkan pada lain pihak kita tidak mungkin yaitu

mengabaikan

kebudayaan-kebudayaan

setempat,

kebudayaan masing-masing suku bangsa atau daerah.

Hubungan antara Kebudayaan dan Pendidikan Sebagaimana telah acapkali disebutkan mentri Pendidikan dan Kebudayaan, pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan secara menyeluruh. Hal itu memang perlu disadari demikian. Pendidikan berupa jalan, saluran, untuk meneruskan kebudayaan, dalam arti pendidikan merupakan alat untuk menanamkan kemampuan bersikap, bertingkah laku, disamping mengajarkan keterampilan dan ilmu penetahuan untuk bisa memainkan peranan sosial secara menyeluruh dan sesuai dengan tempat dan kedudukan Individu didalam dunia luas. Dengan perkataan singkat, pendidikan adalah cara untuk ,emeruskan sistim nilai dan gagasan utama bangsa dan manusiawi.

MENTALITAS DAN CIRI CIRI KEPRIBADIAN BANGSA INDONESIA Di dalam keragaman itu, bangsa Indonesia hendak membangun diri untuk menjadi satu bangsa yang memperoleh tempat yang selakyaknya disamping bangsa-bangsa lain di dunia ini. Membangun manusia Indonesia seutuhnya, berarti membangun keutuhan dalam budi dayanya berberapan secara penuh, mencapai sasaran-sasaran dalam pengembangan itu, orang=orang Indonesia sebagai Individu dan sebagai warga masyarakat bangsa, terlebih dahulu wajib memahami, mengetahui dan selanjutnya mengamalkan prinsip-prinsip dasar yang menjadikan seorang disebut bangsa Indonesia atau warga dari masyarakat bangsa Indonesia. Sistem nilai budaya suatu rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam pikiran sebagian terbesar suatu warga warga masyarakat, mengenai apa

yang harus dianggap penting dan berharga hidupnya. Karena itu suatu sistem budaya atau sistem nilai budaya, menjadi bagian dari kebudayaan yang berperan sebagai pengarah atau pendorong kelakuan manusia. Tetapi karena sitem nilai budaya hanya merupakan konsep-konsep abstrak, tanpa perumusan yang tegas, maka konsep-konsep itu biasanya hanya bisa dirasakan, dan tidak dirumuskan dengan akal yang rasional, maka konsepkonsep itu seringkali amat mendarah daging dan sukar dirubah atau diganti dengan konsep-konsep baru.

Ciri-ciri Kepribadian Bangsa Indonesia Kepribadian, adakalanya disebut juga personalitas atau personality, adalah segenap kualitas mental individu. Segenap kualitas mental individu, adalah jumlah keseluruhan dari kemampuan-kemampuan rasional, presepso, idea, kebiasaan dan tanggapan-tanggapan emosional yang bersyarat. Kualitas-kualitas itu semua secara bersamaan mewujudkan suatu konfigurasi yang semua bagianya selalu berhubungan satu sama lainya dalam berfungsi. Sudah menjadi kesepakatan Umum secara ilmiah, dan telah teruji kebenaranya bahwa kofigurasi kepribadian itu mempunyai hubungan yang erat dengan kebudayaan yang melingkupi individu. Kepribadian sesuatu bangsa, dengan demikian, dapat dilihat dari konfigurasi terwujud oleh kualitas-kualitas mental yaitu jumlah keseluruhan dari kemampuankemampuan rasional, prestasi, idea, kebiasaan dan tanggapan-tanggapan emosional yang terdapat dalam bangs itu. Didalam kehidupan masyarakat sehari-hari, nampaknya nilai solidaritas merupakan ciri yang kuat pula memberikan pengaruh. Susunan masyarakat merupakan kelompok atau persekutuan kecil yang hidup dalam desa yang aman dan tertentu. Kehidupan ekonomi dalam masyarakat dan amat terbatas, karena nilai ekonomi tidak mendapat tempat yang tinggi dalam pandangan hidup. Apa yang penting adalah kehidupan masyarakat yang bebas dari campur tangan dari luar, dan berusaha memenuhi keperluan primernya dalam lingkungan alam mereke sendiri - satu kehidupan ekonomi yang tertutup. Nilai seni mendapat tempat yang tinggi, karena ia rapet hubungannya dengan nilai keagamaan dan solidaritas Demikian itu digambarkan kasar kofiguransi kebudayaan bangsa indonesia yang mewarnai prilaku kehidupan masyarakat dan kebudayaannya.

S.T Alisyahabana menggambarkan keadaan itu dalam bagian nilai-nilai sebagai berikut : Nilai Teorial Nilai Kuasa Nilai Seni Nilai Ekonomi Nilai Solidaritas Nilai Agama (Religi)

Dalam gambaran ini, nampaknya betapa nilai agama (religi), nilai solidaritas dan nilai seni, menampilkan cirinya yang amat kuat dan bidang pengaruhnya yang amat luas, dibandingkan dengan nilai-nilai lain. Konfigurasi kepribadian yang bercirikan-ciri demikian dapat dikatakan tidak membuka diri untuk perkembangan dan pembinaan bangsa yang daoat mencapai kelanjutan yang diharapkan.