Anda di halaman 1dari 3

ISU TERKAIT MENPORA

Apresiasi Indonesia terhadap Atlet


Selama ini, sudah banyak atlet Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa. Banyak penghargaan yang telah diterima, di berbagai cabang olahraga. Mereka mereka yang telah mengharumkan nama bangsa ini, bisa dibilang cukup bersinar pada masa kejayaannya. Hidup yang terjamin, dengan penghasilan yang lebih dari cukup. Akan tetapi, apa yang terjadi setelah mereka pensiun dari bidang olahraga tersebut? Banyak atlet yang taraf kehidupannya berubah drastis. Berikut adalah artikel yag kami kutip dari internet :

1. Cabang Tinju :
KabarIndonesia: Pertengahan Februari lalu, Indonesia kehilangan bekas petinju terbaik tingkat amatir dan profesional, Rachman Kilikili. Rachman ditemukan tewas gantung diri lantaran stres tak kunjung beroleh pekerjaan. Sekian tahun lalu, Rachman Kilikili yang ada di atas ring tinju tersebut. Dengan latihan yang padat dan ketat, ia menjadi juara dunia kelas bulu Federasi Tinju Internasional, IBF. Namun begitu cahaya kejayaan tak lagi jatuh pada Rachman, namanya tenggelam. Sebelum mengakhiri hidupnya, Rachman pernah berkeluh tentang hidupnya. Kata kawan Rachman yang juga atlet lari, Toni Balubun, Rachman mengeluh lantaran tak satu pun lamaran kerja yang dibuatnya sukses. Padahal ketika nama Rachman masih bersinar, begitu banyak yang menawarkan pekerjaan. Tragedi Rachman hanya potret kecil naasnya nasib atlet selepas masa jaya mereka. 2. Cabang Lari : Cerita miris serupa datang dari bekas juara lari SEA Games 1987, Martha Kase. Atlet asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini harus berjualan minuman botol untuk menghidupi keluarganya. "Setelah tahun 2000 saya alihkan sebagai pedagang kaki lima. petama saya dagang teh botol di plaza barat, kedua saya pindah ke pintu pssi ketiga saya pindah ke pintu masjid al-bana dan selanjutnya saya pindah ke parkir timur ." Padahal karir Martha dimulai sejak dini, dari tahun 1979. Sejak ia mengikuti Pekan Olahraga dan Seni tingkat Sekolah Dasar. Gelar demi gelar diraihnya, sampai akhirnya di tahun 2000 Martha tak lagi dilirik negara. Ia merasa diabaikan. "Tak ada yang diberikan oleh pemerintah. mana ada yang diberikan

pemerintah, ga ada. kalau prestasi kita bagus ya kita masih dipakai. kalau prestasi kita sudah ga bagus ya udah cukup sampai disini aja."

Sumber : http://www.kabarindonesia.com/berita.php? pil=2&jd=Malangnya+Nasib+Mantan+Atlet+Indonesia&dn=2007032515253 5

Kedua kasus yang dijabarkan di atas, hanyalah sebagian kecil contoh yang terlihat oleh kita. Masih banyak, atlet atlet olahraga yang dulu di anggap sebagai pahlawan bangsa, kini harus berjuang sangat keras demi mempertahankan hidupnya. Padahal, negara kita ini sudah memiliki dana khusus yang dialokasikan untuk tunjangan para atlet yang pernah berprestasi. Seperti yang dikutip dari artikel di bawah ini : DPR pun berjanji bakal memberi tunjangan dan beasiswa. Ketua Komisi X Heri Akhmadi mengatakan, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2006, sudah ada dana yang dialokasikan untuk beasiswa bagi atlet yang pernah berprestasi. Memang benar pemerintah memberikan semacam bonus bagi pensiunan atlet, tapi jumlahnya kecil dan tak mampu menutupi kebutuhan pokok sekali pun. Kepedulian pemerintah yang kian luntur terhadap para atlet setelah mereka tak lagi berbuah lebih sering dianggap sebagai penyebab adanya mantan-mantan atlet terlantar. Mereka seakan angkat tangan terhadap nasib mereka di kemudian hari dan tidak lagi memberi asupan dana, pekerjaan atau setidaknya modal usaha bagi mereka. Pemberian dari pemerintah ini tak sepadan dengan apa yang telah mereka korbankan. Sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7930159&page=2

Keadaan ini sangat berbanding terbalik dengan nasib para atlet di luar negeri. Seperti yang di katakan oleh Tommy, atlet yang meraih dua medali emas di cabang karate SEA Games XIX Jakarta 1997. Dia mengambil contoh negara lain yang menghargai mantan atlet yang telah berjasa untuk bangsa dan negara. Sebut saja pemerintah Malaysia dan China. Mereka sangat perhatian terhadap atlet yang berhasil menyumbang medali emas bagi negaranya. Kelangsungan hidup serta anak istrinya ditanggung pemerintah.

Contoh lain di negara Thailand, setiap atlet di negara tersebut akan mendapat tunjangan, mulai dari awal dia berkarir sampai masa pensiunnya. Atlet pemula akan mendapat uang saku bulanan 3.000 bath atau sekitar Rp 1 juta rupiah. Selanjutnya, atlet junior memperoleh 10.000 bath hingga 15.000 bath, dan saat senior, atlet mendapat uang bulanan 25.000 sampai 40.000 bath. Dan terakhir, atlet yang sudah mempunyai prestasi internasional akan dibayar hingga 50.000 bath atau sekitar Rp 18 juta. Setelah pensiun, atlet itu tetap mendapat tunjangan pensiun sebesar 50 persen dari upah terakhir, dan langsung disalurkan bekerja pada induk olahraganya atau tempat lain yang membutuhkan. Di samping tunjangan pensiun, mereka juga mendapatkan fasilitas rumah dan kelengkapan lain dari pemerintah. Sumber : http://202.169.46.231/News/2007/01/24/Olahraga/or10.htm Kesimpulan Dari kasus di atas, dapat disimpulkan bahwa nasib atlet di Indonesia sangat berbeda dengan nasib atlet di negara lain. Masalah ini patut untuk diperhatikan dan diselesaikan karena hal ini dapat mempengaruhi pada semangat masyarakat Indonesia untuk berprestasi dalam bidang olahraga. Padahal ini merupakan salah satu jalan yang memiliki potensi paling besar untuk mengharumkan nama bangsa. Saran Pemerintah dapat memberikan program bantuan yang diberikan dalam bentuk asuransi kesehatan, pendidikan bagi anak-anak mantan atlet, bantuan pembinaan dalam usaha bisnis dan sejenisnya, Selama masa pembinaan, atlet tetap diberikan pendidikan yang sekiranya dapat menjadi bekal untuk terjun ke masyarakat. Sebaiknya ada undang-undang yang mengatur kesejahteraan atlet sehingga hak atlet lebih terjamin