Anda di halaman 1dari 13

Bagaimana bersyukur secara konkret

Karena bersyukur bukan lagi konsep yang baru, maka saya tidak akan membahasnya panjang lebar. Saya hanya hendak meluruskan persepsi tentang "bersyukur" itu bagaimana sebenarnya, untuk memastikan Anda memahami cara yang ampuh untuk menerima kesuksesan yang Anda cari ini. Karena tentang bersyukur ini, banyak orang yang memahami dan menerapkannya secara terbalik. Kalau Anda bersyukur karena telah mendapatkan atau mengalami sesuatu yang menyenangkan, itu wajar. Semua orang juga bisa. Bukan syukur itu yang saya bicarakan di sini.
Syukur yang akan membuka pintu rejeki, berkah dan anugerah yang lebih besar lagi, membuat Anda bisa merasakan dan menerima kesuksesan yang telah sekian lama Anda cari saat ini juga, adalah perasaan penghargaan dan terima kasih kepada Tuhan, akan apapun yang diberikan-NYA, dalam semua situasi dan kondisi

Ya, tidak peduli apakah hujan, angin, badai, guntur, banjir, kemarau. Sehat, sakit, sedih, senang. Segala suasana, setiap situasi, apapun yang terjadi. Bila Anda bisa merasa bersyukur saat itu, maka itu pertanda bahwa Anda sudah mulai menerima kesuksesan Anda dan kesuksesan yang lebih besar lagi telah menanti.

Bagaimana caranya bersyukur?


Untuk mengetahui bagaimana cara bersyukur yang tepat, sekarang mari kita lihat tanda-tanda yang menunjukkan kebalikan dari orang yang bersyukur:

Mereka yang tidak bersyukur melakukan hal-hal semacam ini (Jadi hindari jauh-jauh) : 1. Mengeluh
Setiap jenis keluhan entah itu yang diutarakan dengan bercanda, apalagi yang serius, adalah ciri tipisnya atau bahkan tidak adanya rasa syukur.

Dan ini tidak hanya meliputi keluhan terhadap kondisi personal, diri dan badan kita sendiri, tetapi juga keluhan terhadap kondisi lingkungan, masyarakat dan negara. Misalnya: mengeluh tentang harga barang yang makin mahal, mengeluh tentang penghasilan yang kecil, mengeluh tentang negara yang makin kacau, tentang resesi ekonomi, tentang bencana, tentang apapun, di sekitar kita. Pokoknya semua jenis keluhan.
Keluhan berbahaya karena membuat orang lupa atau buta akan kondisi sebaliknya, dan kalau diulang berkali-kali akan merasuk ke dalam jiwa dan menjadi sesuatu yang kita percayai.

2. Mengecil-ngecilkan nikmat yang telah diberikan Tuhan

Reminder
Ingatlah kamu kepada-KU, niscaya Aku ingat pula kepadamu dan
bersyukurlah kepada-KU dan janganlah kamu mengingkari ni'mat-KU.
~

Q ur'an: Surat Al Baqarah: 152 ~

Misalnya, kalimat-kalimat macam ini: Ah, gajiku sih kecil... Ah, biasa saja... Rumahku kan gubug ini, lain dengan rumahmu... Ayo kita makan seadanya saja ya... dsb. Saya memahami bahwa ini mungkin bagian dari budaya kita, untuk merendah, tidak sombong, tetapi yang jadi masalah adalah kalau omongan ini terlalu sering kita ucapkan sehingga kita tidak lagi bisa membedakan antara hanya sekedar basa-basi dengan yang sebenarnya kita rasakan. Padahal sebenarnya, tidak ada suatupun di dunia ini yang merupakan sesuatu yang kecil. Uang 5 perakpun seandainya tidak diberikan-NYA, Anda tidak akan bisa memilikinya.

3. Kikir

Ya, kikir adalah juga satu tanda tidak bersyukurnya seseorang. Dia merasa bahwa yang dia miliki masih kecil jumlahnya, sehingga tidak mau berbagi atau sulit berpisah dengannya. Atau dia khawatir, cemas, dan takut tidak akan mendapat lagi, sehingga merasa harus menyimpannyimpan untuk diri sendiri.

Cara berpikir kikir sungguh berbahaya, lebih berbahaya dari suka mengeluh, karena di belakangnya tersimpan rasa tidak adanya terima kasih pada Tuhan, serta rasa tidak percaya akan pertolongan dan kekuasaan Tuhan, dan ini dalam bahasa agama, ekstrim-nya, bisa dikategorikan kufur dan kafir.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai ...orang-orang yang kikir, dan


menyuruh orang lain berbuat kikir, dan yang menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka...
~ Qur'an: Surat An-Nisa': 36-37 ~

Menginginkan apa yang menjadi milik orang lain

Ada orang yang kerjanya lapar mata terus. Tidak pernah puas. Apapun yang dimiliki orang lain, ingin dia miliki juga, bahkan dengan penuh rasa persaingan. Dia tidak bisa melihat orang lain maju tanpa sekilas perasaan iri atau dengki menyelimuti. Nah beberapa hal tersebut bisa menjadi petunjuk apakah kita memiliki rasa syukur yang besar atau JUSTRU SEBALIKNYA. Sekarang yang lebih penting adalah bagaimana kita menerapkan rasa syukur ini secara konkret agar membantu kita MENERIMA KESUKSESAN, anugerah dan rejeki lebih banyak lagi.

Bagaimana bersyukur secara konkret:


1.
Coba membiasakan diri mencatat, setiap hari, semua hal baik yang terjadi pada kita hari itu. (Keep a gratitude journal). Pagi dan sore kalau bisa. Kalau tidak, ya, cukup sekali saja, mungkin menjelang tidur. Di sebuah buku khusus, tulis setiap harinya, paling sedikit 50 hal yang bisa Anda syukuri hari itu. Banyak yang menyarankan, untuk pertama kali melakukan ini, paling sedikit menulis 100 hal yang kita syukuri. Besar dan kecil. Semuanya. Ini memaksa kita, pikiran sadar dan bawah sadar kita untuk melihat bahwa ternyata dalam hidup kita ini TELAH ada begitu banyak yang patut kita hargai dan ucapkan rasa terima kasih kepada Tuhan karenanya.

Sesudah itu secara rutin tetap dilakukan walau jumlah yang dituliskan tidak sebanyak yang pertama. Tidak punya cukup banyak hal untuk disyukuri? Masa? Coba, Anda masih bisa menggerakkan jari-jari Anda? Syukuri itu. Rambut Anda tidak berkutu? Syukuri itu. Anda masih bisa ke 'belakang' dengan normal? Bukannya itu juga suatu anugerah? Anda bisa menarik napas? Syukuri ini juga, ada orang-orang yang menderita tidak bisa melakukannya. Udara masih bebas. Air bersih masih mudah didapat. Hujan yang mendinginkan negeri kita yang berdebu dan panas ini masih mau turun. Malam masih gelap sehingga kita bisa tidur dan istirahat. Matahari belum terbit di sebelah barat. Dan masih banyak lagi. Jadi, mana mungkin Anda tidak punya sesuatu untuk disyukuri. Bersyukurlah banyak-banyak, setiap hari, setiap saat. Kalau Anda bisa membaca kalimat-kalimat dalam situs ini, maka Anda juga harusbersyukur karena nasib Anda labih baik dari jutaan manusia lainnya di dunia. Baca lebih lanjut tentang alasan bersyukur yang jauh lebih luas lagi ini di sini.

Dan jika kamu menghitung-hitung ni'mat Allah, niscaya kamu tak


dapat menentukan jumlahnya (karena banyaknya). Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Penyayang.
~ Qur'an: Surat An Nahl: 18 ~

2. 3.

Setiap hati kita suntuk dan resah, dan mulai kehilangan semangat dan kepercayaan, coba baca ulang "jurnal syukur" Anda tersebut, dan lihat betapa banyak yang TUHAN TELAH berikan kepada Anda. Bila Anda sendiri sedang merasa kekurangan, coba cari beberapa orang yang Anda tahu lebih buruk lagi kondisinya dibandingkan Anda. Cari, temui, amati kehidupan mereka.

Lalu lakukan sesuatu yang bisa membantu mereka (meskipun sedikit). Ini "memaksa" kita untuk lagi-lagi melihat betapa beruntungnya kita, dan bahwa nikmat Tuhan itu tidak akan habis meski kita membaginya dengan orang lain.

4.

Terapkan ajian "UNTUNG" ala orang Jawa (untuk suku lain, maaf kalau saya salah klaim tentang falsafah ini, karena sebagai orang Jawa, setahu saya, orang Jawalah yang suka memakai aji-aji ini...)... yaitu, bila mereka tertimpa musibah, mereka selalu mencari baiknya dan mengatakan, "Untung ya ....." (lalu menyebutkan sesuatu yang sebaliknya dari musibah tadi). Misalnya: Bila satu keluarga sakit semua, mereka akan bilang, "Untung tidak sampai meninggal." "Atau untung punya uang untuk berobat." Atau "Untung tidak perlu sampai dirawat." Dan untung-untung lainnya. Yang intinya mencari "the silver lining of the dark grey clouds" atau mencari elemen positif dari segala sesuatu yang di luarnya nampak negatif.

Reminder
Dan bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada
Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri... ~ Qur'an: Surat Luqman: 12 ~

5.

Cara menerapkan kunci sukses dahsyat bersyukur berikutnya, adalah dengan selalu menjawab dengan penuh semangat dan rasa bahagia semua pertanyaan yang menanyakan kabar Anda, entah itu tentang kondisi kesehatan, keuangan Anda, kehidupan Anda dsb. Jawab semua pertanyaan tentang kabar Anda dengan kalimat seperti berikut, "Alhamdulillah atau Puji Tuhan........." (lalu sebutkan berita baiknya). Apapun itu berita baiknya, walau sekecil apa. Jangan katakan dengan lesu dan lemas, "Ya, beginilah nasib saya Mas" atau jawaban lain yang senada. Anda paham maksud saya kan? Pokoknya, jangan sekali-kali mengecilkan apapun yang telah diberikan Tuhan pada kita.

6.

Sering-sering mengadakan acara "syukuran" juga merupakan langkah menerapkan kunci sukses dahsyat bersyukur ini. (Yes, make every day a thanks-giving day). Bisa berupa mentraktir makan sobat karib (berdua saja bila memang dana terbatas) sebagai rasa syukur dia telah mendukung kita selama ini. Bisa lebih besar dengan mengundang tetangga makan-makan di rumah. Bisa dengan mengirim makanan ke panti asuhan, ke anak-anak jalanan di bawah jembatan, ke mana saja. Yang tujuannya adalah untuk mengungkapkan syukur akan apa yang SUDAH kita terima.

Tujuan dan fungsi syukur


Langkah-langkah di atas semoga bisa membantu memusatkan diri dan perhatian Anda pada segala sesuatu yang baik dalam hidup Anda, dan karenanya akan membantu Anda menarik dan menerima hal yang baik tersebut lebih banyak lagi. (Esensi dari the Law of Attraction).
Anda berterima kasih dahulu, maka, mau tidak mau, Tuhan akan memberikannya pada Anda karena Anda sudah berterima kasih. Sudah siap menerima.

Bukan mengharap pemberian, lalu berterima kasih kalau diberi, sementara kalau tidak diberi, mengeluh dan bersedih hati. (Ini TERBALIK !!!) Insya'allah, dengan semua rasa syukur ini, hidup akan terasa lebih nikmat, dan sebaliknya, nikmat hidup juga akan terus terasa dan ditambahkan-NYA.

Kunci Sukses Dahsyat: Bersyukur tiap saat

Setelah menerapkan kunci sukses dahsyat bersyukur, pelajaran selanjutnya adalahstrategi menyikapi kesulitan, badai, masalah, musibah dan segala macam yang negatif dalam hidup kita. Serta strategi untuk bisa terus menerima kesuksesan dalam segala situasi. Jangan dilewatkan.

HIDUP PERLU MENGUCAP SYUKUR

1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. Hidup penuh syukur membangkitkan kuasa besar untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup karena dengan bersyukur kita memperoleh kekuatan yang terus-menerus mengalir memberi hidup berkelimpahan.

Sebenatar lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Satu kenyataan bahwa kita menjadi semakin tua yang berarti jasmani kita semakin merosot dan tidak sekuat tahun lalu. Sementara itu tantangan hidup bukannya semakin ringan tetapi justru semakin berat. Dalam kondisi seperti ini apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa belajar dari Rasul Paulus. Meskipun jasmaninya semakin hari semakin merosot, tetapi rohaninya justru semakin kuat (4:16). Salah satu rahasianya adalah karena Paulus hidup penuh syukur. Hati yang bersyukur adalah tanda orang percaya (4:15) yang membangkitkan kuasa besar dalam kehidupan Kristen. Mengapa? Karena dengan selalu bersyukur kita memperoleh kekuatan yang terus-menerus mengalir, yang memberi hidup berkelimpahan. Seseorang yang hatinya penuh ucapan syukur berarti dia sedang menyaksikan bahwa hidupnya adalah hidup yang tidak berkekurangan. Ada orang yang secara luar hidupnya terlihat berkelebihan dibandingkan orang lain, namun ternyata memiliki hati yang selalu bersungutsungut, selalu merasa kurang dengan hidupnya. Tetapi Paulus, meskipun hidup pas-pasan, bahkan kekurangan tetapi justru memperkaya dan menjadi berkat bagi banyak orang. Menjadi pengikut Kristus tidak selalu indah dan lancar. Ada begitu banyak tantangan, rintangan dan hambatan dalam hidup, pekerjaan dan pelayanan. Kemampuan mengucap syukur adalah satu kekuatan yang kita butuhkan untuk mengatasi semua rintangan ini. Mari kita memulai tahun yang baru ini dengan hati yang penuh bersyukur! (Sumber: Okezone.com)

APA KATA ALKITAB TENTANG BERSYUKUR?


Written by Administrator Wednesday, 09 September 2009 17:17

Bersyukur atau Mengucap Syukur adalah ungkapan alami (wajar) dari seseorang kepada Allah sebagai respons atas pemberian berkat-berkat-Nya, perlindungan-Nya, pemeliharaan-Nya dan kasih-Nya. Bagi umat Allah dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB), ucapan syukur bukanlah sarana untuk menyanjung dan memanipulasi Allah demi memenuhi keinginan manusia, bukan pula sikap yang dipaksakan atau dibuat-buat, melainkan sebuah spontanitas dan penyembahan yang penuh hormat, sukacita dan komitmen kepada pribadi Allah. Perjanjian Lama Di bagian-bagian awal PL, bahasa dan konsep tentang bersyukur sangat jarang dan

boleh dikatakan hampir tidak ada. PL tidak memiliki kosa kata khusus untuk bersyukur; biasanya dipakai kata Ibrani yada atau toda yang berasal dari akar kata yang artinya mengakui atau memuji. Konsep bersyukur sangat jarang di bagian awal dari kitab-kitab Musa (Kejadian s/d Ulangan). Baik Adam maupun Hawa tidak mengucap syukur kepada Allah untuk karya penciptaan-Nya, malahan jatuh ke dalam dosa dengan melanggar perintah Allah (Kej. 3). Dibandingkan Habel, saudaranya, Kain mempersembahkan hasil pertaniannya tidak dengan sikap bersyukur, dan semua keturunan Kain hidup jahat dan tidak tahu bersyukur (Kej. 4:1-24). Di zaman Nuh yang penuh kejahatan dosa, hanya ia beserta keluarganya yang tahu mengucap syukur kepada Allah karena anugerah-Nya (Kej. 6:9; 8:209:17). Namun, generasi-generasi berikutnya dari keturunan Nuh kembali hidup tidak tahu bersyukur dengan menyombongkan diri ingin menyaingi Allah (Kej. 11:1-9). Abraham yang beroleh kasih karunia dan berkat perjanjian dari Allah, tahu mengucap syukur kepada Allah (Kej. 12:7-8). Namun, keturunan Abraham, yaitu Ishak dan Yakub, malah lebih banyak bertengkar memperebutkan berkat Allah daripada mensyukurinya (Kej. 25-50). Sikap tidak tahu bersyukur mencapai puncaknya ketika sesudah dibebaskan dari Mesir, bangsa Israel terus-menerus berulang kali bersungut-sungut, dari pada bersyukur kepada Allah untuk karya penyelamatan-Nya dan pemeliharaan-Nya selama di padang gurun (Kel. 15-40; Bil. 10-27). Mungkin karena kegagalan demi kegagalan itulah, maka Allah memberikan satu ketetapan hukum Taurat kepada bangsa Israel, yaitu supaya mereka mempersembahkan kurban syukur. Berbeda dari kurban penghapus dosa atau kurban penebus salah, kurban syukur adalah bagian dari kurban keselamatan yang wajib dipersembahkan bangsa Israel (Im. 3; 7:11-16), untuk menyatakan syukur kepada Allah untuk keselamatan dan kasih-Nya (Mzm. 107:21-22). Selain hukum Taurat, kitab-kitab hikmat juga mengingatkan umat Allah untuk bersyukur kepada Allah untuk setiap berkat materi dan pemeliharaan-Nya hari lepas hari (Pkh. 3:13; 5:18-19). Ucapan syukur adalah tema yang sangat banyak disinggung dalam kitab Mazmur. Sekitar 20 mazmur memerintahkan atau mengajak bangsa Israel untuk menyanyikan pujian syukur. Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! adalah syair yang sering diulang dalam Mazmur (Mzm. 106:1; 118:1; 136:1). Beberapa mazmur menyebutkan alasan-alasan mengapa umat harus bersyukur, yaitu sebagai pujian penyembahan kepada Allah karena kebesaran-Nya (95:1-2; 104), karena perbuatan-Nya yang ajaib (105; 107), karena kemurahan dan kasih-Nya (103; 147), karena pertolongan-Nya (18; 30), dan karena pengampunan-Nya (32; 51). Mungkin yang mengejutkan adalah banyak seruan minta tolong dan ratapan di dalam Mazmur diakhiri dengan pujian syukur kepada Allah (7:18; 28:7; 35:18; 52:10-11; 86:12-13; 79:13; 106:47). Dari seluruh mazmur dapat disimpulkan ada 4 aspek penting di dalam sebuah ucapan syukur: (1) mengingat apa yang telah Allah perbuat; (2) menceritakannya kepada orang lain; (3) memperlihatkan kemuliaan Allah kepada orang lain; dan (4) mempersembahkan diri, waktu, talenta dan segenap apa yang ada kepada Allah sebagai ungkapan syukur. Dalam zaman pemerintahannya sebagai raja Israel, Daud sangat tahu mengucap syukur kepada Allah dan bahkan mengajak seluruh bangsa Israel senantiasa bersyukur kepada Allah. Ketika tabut perjanjian dibawa kembali ke Yerusalem, Daud dan seluruh rakyat menyanyikan mazmur pujian dan ucapan syukur (1Taw. 16:442). Daud juga menunjuk orang-orang Lewi untuk menyanyikan pujian syukur serta mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah di Bait Suci baik pagi hari maupun petang hari (1Taw. 23:30-31). Dan, menjelang akhir hidupnya, Daud pun tetap mengucap syukur kepada Allah karena kebesaran-Nya dan perbuatan-Nya yang penuh anugerah kepada dirinya, keluarganya dan bangsanya (1Taw. 29:10-19). Terlepas dari sedikitnya atau jarangnya kosa kata bersyukur di awal PL, tahu mengucap syukur adalah dasar dari kehidupan umat PL di dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Hukum Taurat dibangun dan ditegakkan di atas dasar ucapan syukur karena karya penyelamatan Allah. Pertama-tama sekali, sebelum menyampaikan hukum-hukum-Nya kepada umat Israel, Allah berkata melalui Musa, Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.

Melalui karya pembebasan itu, Israel menjadi umat kepunyaan Allah yang berharga di mata-Nya. Dengan senantiasa mengingat dan mensyukuri hal itu, mereka menjadi imamat yang rajani dan bangsa yang kudus. Perjanjian Baru Di dalam PB, kosa kata untuk bersyukur maupun bentuk-bentuk ungkapan syukur sudah bertambah lebih banyak. Kata kerja Yunani eucharisteo (mengucap syukur) bersama kata benda eucharistia (ucapan syukur) muncul sebanyak kira-kira 50 kali. Ucapan syukur adalah motif di dalam kehidupan dan perilaku Kristen. Sikap ini umumnya dinyatakan sebagai respons terhadap berkat-berkat maupun pencobaanpencobaan, unsur yang sentral di dalam doa dan mewarnai penggunaan yang sepatutnya terhadap hal-hal materi (misalnya makanan). Di dalam kitab-kitab Injil dan Kisah Para Rasul, ucapan syukur paling sering muncul di dalam doa makan seperti ketika Yesus memberi makan orang banyak (Mat. 15:36; Mrk. 8:6; Yoh. 6:11, 23) atau pada waktu Perjamuan Akhir Yesus dengan para murid-Nya (Mat. 26:27; Mrk. 14:23; Luk. 22:17, 19). Namun, kumpulan orang banyak yang ada di sekitar Yesus seringkali mengulangi dosa bangsa Israel di padang gurun, dengan menjadi rakus terhadap roti yang Yesus berikan dan menikmati mukjizat-Nya tanpa mengucap syukur (Yoh. 6:22-58). Paulus mengucap syukur kepada Allah ketika mengajak orang banyak makan di dalam situasi mereka baru saja mengalami badai dahsyat yang menerpa kapal mereka (Kis. 27:35). Yesus juga mengucap syukur kepada Bapa karena telah menyertai ketujuh puluh murid di dalam pelayanan mereka (Luk. 10:21) dan ketika membangkitkan Lazarus (Yoh. 11:41). Di dalam Injil dan surat-surat penggembalaan juga berkembang sikap mengucap syukur karena karya penyelamatan Allah di dalam Kristus, yang harus menjadi ciriciri hidup seorang percaya. Ketika seorang wanita berdosa menginterupsi perjamuan makan untuk mengurapi Yesus dengan minyak yang mahal, Yesus mengatakan kepada sang tuan rumah yang terkejut bahwa tindakannya muncul dari hati yang bersyukur karena sudah diampuni dosanya (Luk. 7:40-47). Ketika Yesus menyembuhkan 10 orang yang sakit kusta, Dia terkejut karena hanya satu orang saja, seorang Samaria, yang kembali untuk mengucap syukur kepada-Nya (Luk. 17:11-19). Paulus juga menasihatkan jemaatnya untuk mempersembahkan tubuh mereka menjadi alat kebenaran (Rm. 6:13), menjadi persembahan yang hidup, kudus dan memuliakan Allah (Rm. 12:1; 1Kor. 6:20) sebagai ungkapan syukur atas kemurahan Allah di dalam Kristus yang telah menebus mereka dari maut kepada hidup. Penulis surat Ibrani juga mengajak para pembacanya untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Allah dengan hormat dan gentar karena mereka telah menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan semata-mata karena karya Kristus sebagai Pengantara mereka (Ibr. 12:28 dan konteksnya). Yang membedakan orang Kristen dari orang-orang lainnya adalah sikap mengucap syukur baik untuk berkat-berkat Tuhan maupun untuk rintangan dan pencobaan yang mereka alami. Paulus menasihatkan jemaatnya untuk senantiasa bersyukur di dalam segala hal dan keadaan (Ef. 5:20; 1Tes. 5:18; Kol. 3:17). Sebaliknya, tidak tahu bersyukur adalah tanda atau ciri-ciri dari orang-orang tak beriman, jahat dan durhaka (Rm. 1:18-21; 2Tim. 3:2). Orang beriman memiliki sukacita dan damai sejahtera di dalam hatinya karena dalam segala hal mereka menyatakan keinginan mereka di dalam doa dan permohonan yang disertai ucapan syukur (Flp. 4:6-7). Ucapan syukur adalah unsur yang sangat sentral di dalam doa-doa Paulus. Dia berdoa supaya jemaatnya dapat senantiasa mengucap syukur dengan sukacita karena jaminan keselamatan yang mereka miliki (Kol. 1:12), karena kasih karunia Allah yang menggerakkan orang menjadi percaya kepada Kristus melalui pemberitaan Injil (2Kor. 4:15). Paulus biasa memulai surat-suratnya (seperti Roma, 1 dan 2 Korintus, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika, 1 dan 2 Timotius, Filemon) dengan ucapan syukur kepada Allah karena karya-Nya di tengah-tengah jemaat dan individu-individu yang menjadi penerima suratnya. Ucapan syukur yang biasa disertai dengan doa permohonan untuk jemaat ini sudah menjadi ciri khas dari bagian pembukaan surat-surat Paulus. Menghadapi para penyesat dan guru-guru palsu yang mengajarkan legalisme dan asketisme (Rm. 14:1-5; 1Tim. 4:1-3), Paulus menasihati jemaatnya untuk mengucap

syukur kepada Allah untuk setiap makanan, minuman atau hal-hal materi lainnya karena semuanya itu adalah ciptaan Allah yang baik jika diterima dengan ucapan syukur bagi kemuliaan Allah (Rm. 14:6; 1Tim. 4:4-5; 1Kor. 10:31). Alkitab diakhiri dengan kitab Wahyu yang memperlihatkan gambaran penghuni sorga bersama umat tebusan Allah menyembah Dia yang bertakhta sebagai Raja. Mereka menaikkan pujian syukur kepada-Nya dengan sikap hormat dan gentar, karena karya penciptaan-Nya (4:9-11), karya penebusan-Nya (5:9-14), kebesaranNya dan penghakiman-Nya (11:17) serta kemenangan-Nya atas Iblis dan para pengikut-Nya (19:1-6).

Ucapan Syukur: Sikap Yang Mendatangkan Mujizat


Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecahmecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya pula kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potonganpotongan roti yang sisa, tujuh bakul penuh. Yang ikut makan ialah empat ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Matius 15:36-38 Kisah ini terjadi setelah Yesus berkotbah kepada orang banyak dan menyembuhkan orang-orang yang sakit. Kemudian Yesus berkata kepada murid-muridNya bahwa mereka harus memberi makan kepada orang banyak. Tetapi yang ada pada mereka hanyalah beberapa roti dan ikan, yang secara manusia, makanan tersebut tidak akan cukup untuk memberi makan ribuan orang. Yesus meminta murid-muridNya untuk membawa makanan tersebut dan kemudian mengucap syukur atas makanan itu. Setelah Ia memecah-mecah roti dan membagikan kepada orang banyak, secara ajaib semua orang dapat makan dengan kenyang, bahkan ada sisanya. Apa yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin. *courtesy of PelitaHidup.com . Apakah rahasia di balik mujizat yang terjadi itu? Rahasianya ada pada pengucapan syukur. Ada kuasa di dalam ucapan syukur. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menyerahkan segalanya termasuk masalahmasalah yang kita alami kepada tangan Tuhan. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita berserah sepenuhnya. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita mengatakan kepada Tuhan bahwa kita mau dibentuk dan diproses dengan caraNya. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kasih Tuhan mengalir dalam hidup kita. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita membiarkan kuasa Tuhan bekerja mengubahkan hidup kita. Ucapan syukur merupakan cara di mana kita menanggalkan segala keinginan kita dan menerima atas apa yang sedang terjadi, bahkan dalam keadaan yang paling buruk sekalipun. Dan masih banyak lagi yang bisa kita peroleh dari sebuah ucapan syukur. *courtesy of PelitaHidup.com . Bagaimana kita mengucap syukur? Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang masih kita miliki. Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang sedang terjadi. Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kasihNya yang masih tercurah bagi kita. Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang masih Tuhan berikan bagi kita. Ucapkanlah terima kasih kepada Tuhan atas apa yang kita kerjakan. Dan masih banyak lagi cara lain untuk mengucap syukur kepada Tuhan. *courtesy of PelitaHidup.com Sama seperti kisah mujizat yang terjadi di atas, hal itu juga dapat terjadi dalam kehidupan kita. Seberat apapun masalah yang kita hadapi dalam pekerjaan/bisnis, separah apapun masalah rumah tangga yang kita alami, seburuk apapun keadaan keuangan yang dihadapi, hadapilah dengan sikap yang selalu mengucap syukur dalam segala keadaan. Kuasa Tuhan akan bekerja dalam kehidupan kita, sehingga mujizat akan terjadi. Pekerjaan kita akan dipulihkan, hubungan keluarga juga dipulihkan, bahkan keuangan yang serba minim juga akan dipulihkan.

Ucapan syukur akan mendatangkan kuasa Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan akan mencurahkan RohNya agar bekerja dalam hidup kita, memberi kita hikmat untuk melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan yang sesuai dengan kehendakNya. Apa yang tidak pernah kita pikirkan, itu yang akan Tuhan berikan bagi kita. *courtesy of PelitaHidup.com Kuncinya ada pada ucapan syukur. Janganlah bersungut-sungut atas apa yang kita alami, karena sungut-sungut tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi sebaliknya, ucapan syukur akan mendatangkan berkat berkelimpahan atas kehidupan kita. Nama Yesus ditinggikan. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita. Efesus 5:20