Anda di halaman 1dari 28

Tempo

, Volume 37,Masalah 32-35

PARTAI POLITIK ISLAM DALAM PETA POLITIK INDONESIA


13 Oktober 2008 hamdanzoelva Pendahuluan Partai politik Islam yang menjadi objek pembahasan ini adalah partai politik yang secara tegas mencantumkan asanya adalah Islam. Pada pemilu tahun 1999, paling tidak ada delapan partai yang berasaskan Islam, antara lain yang mendapatkan kursi di DPR pada saat ini adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan (PK), Partai Nahdatul Ummat (PNU), Partai Kebangkitan Ummat (PKU), Partai Masyumi, Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan lain-lain. Disamping partai yang berasaskan Islam, di Indonesia pada saat ini, ada juga partai yang bebasiskan massa Islam, yaitu antara lain Partai Kebangkitan Bangsa dan Partai Amanat Nasional. Kedua partai yang terakhir ini massa pendukungnya terutama berasal dari para anggota dan simpatisan Ormas Islam Nahdatul Ulama dan Muahammadiyah, Walaupun tidak seluruhnya anggota kedua organisasi tersebut menjadi anggota kedua partai itu. Lahirnya partai berasaskan Islam dan partai yang berbasiskan massa islam, sejak tahun 1998, yaitu setelah tumbangnya Orde Baru adalah perkembangan yang menarik untuk dibicarakan. Paling tidak ada dua hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, pada masa sebelumnya baik pada masa Orde Lama maupun pada masa Orde Baru, tidak ada gejala pembedaan yang demikian. Pada masa Orde Lama partai-partai islam berasaskan islam bersatu padu memperjuangkan idiologi islam sebagai dasar negara. Pada masa Orde Baru yaitu yang dimulai pada pemilu tahun 1971 (pada saat itu ada 4 partai politk islam yaitu Partai NU, PSII, PARMUSI dan PERTI), serta Partai Persatuan Pembangunan untuk pemilu selanjutnya sampai dengan pemilu tahun 1997, tidak menunjukan pembedaan yang demikian. Kedua, artikulasi politik partai Islam pada era reformasi ini, menunjukkan perbedaan yang cukup tajam, terutama tentang sifat partai dan perjuangan idiologi dalam Majelis Permusyawaratan Rakyat. Partai yang

berasaskan islam lebih tertutup, terutama dalam kepemimpinan partai dibanding dengan partai yang berbasis massa islam. Walupun kedua partai yang berbasis massa islam mengklaim sebagai partai terbuka, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pemilih kedua partai tersebut adalah massa tradisional pendukung dan anggota ormas Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah bagaimana partai-partai islam ini berperan dalam politik Indonesia, dan sejauh mana kemungkinannya untuk bisa memenangkan pemilu-pemilu berikutnya. Islam dan Politik Dalam kepustakaan Islam telah lama dikenal Fiqh politik (Fiqhis Siyasah), yang mendasari pandangannya bahwa Syariat Islam disamping mengatur tentang ketuhanan, hubungan antara manusia dengan Tuhannya (masalah-masalah ibadah) serta akhlak, tetapi juga mencakup hubungan individu dengan daulah (Negara dan pemerintah), atau hubungan pemimpin dengan rakyat, hubungan hakim dengan terdakwa, hubungan pejabat dengan penduduk, yang diatur dalam fiqh daulah (Al-Qardhawy: 1999:23). Politik menurut perspektif syariat, ialah yang menjadikan syariat sebagai pangkal tolak, kembali dan bersandar kepadanya, mengaplikasikannya dimuka bumi, menancapkan jaran-ajaran dan prinsip-prinsipnya ditengah manusia, sekaligus sebagai tujuan dan sasarannya, system dan jalannya. Tujuannya berdasarkan syariat dan system yang dianut juga berdasarkan syariat. Islam adalah aqidah dan syariah, agama dan daulah, kebenaran dan kekuatan, ibadah dan kepemimpinan, mushaf dan perang. . ( Al-Qardhawy, 1999:35). Dalam kepustakaan modern bidang-bidang ini adalah termasuk dalam bidang kenegaraan dan kebijakan public, dan hukumnya adalah masuk dalam bidang hukum public, yaitu Hukum tata negara, administrasi Negara, hukum pidana dan hukum acara. Telah banyak para fuqaha terdahulu yang membahas masalah ini, yang dimasukkan dalam pembahasan fiqh secara umum, dan bahkan ada yang mengupasnya dalam kitab-kitab tersendiri, seperti Al-Ahkam As-Sulthaniyah, karangan Al-Mawardy Asy Syafiy (wafat 450 H), Abul Yala Al-Farra Al-Hambali (wafat 458 H.), Ghayyatsul-Umam, karangan Al Imam Al Haramain Asy Syafiy (wafat 476 H). Kitab As-Siyasah Asy- Syariyah fi Ishlahir Rayu war Raiyyah karangan Ibnu Taimiyah (wafat 728 H), serta karangan dari murid dan sahabat Ibnu Taimiyyah yaitu Ibnu Qayyim yang mengarang kitab Ath-Thuruq Al-Hukmiyah. Termasuk kitab

klasik Al-Kharaj yang dikarang oleh Abu Yusuf (wafat 181 H), salah seorang sahabat Imam Abu Hanifah, serta banyak lagi kitab-kitab lainnya termasuk yang ditulis pada awal abad ke-20. Pandangan dan pendapat para para fuqaha dan ulama klasik tentang politik adalah sama dengan apa yang dikemukan oleh Al-Qardhawy, (Al-Qardhawy 1999:38) yaitu tidak dipisahkannya politik dengan syariat islam. Politik adalah bagian dari syariat islam yang diatur oleh syariat dan tujuannya untuk tegaknya syariat itu. Politik dalam pandangan para ulama salaf, diartikan dalam dua makna, yaitu, Pertama, dalam makna umum, yaitu untuk menangani urusan manusia dan masalah kehidupan dunia mereka berdasarkan syariat agama. Kedua, politik dalam makna khusus yaitu pendapat yang dinyatakan pemimpin, hukum dan ketetapan yang dikeluarkannya untuk menangkal kerusakan yang akan terjadi, mengatasi kerusakan yang telah terjadi atau untuk memecahkan masalah-masalah khusus. Politik harus didasarkan pada fiqh islamy, yang berasal dari segala mazhab fiqh yang ada serta praktek para sahabat dan tabiin. Dalam pelaksanaannya fiqh islami itu berinteraksi dengan realitas kehidupan, serta berbuat untuk memecahkan berbagai problem dengan merujuk kepada syariat. Syariat tidak menutup mata terhadap realitas kehidupan, oleh kerena itu realitas juga adalah alat untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul. Banyak contoh dan tuntunan yang diberikan Rasulullah SAW, tentang kelenturan syariat islam yang dihadapkan dengan realitas, dan inilah bidang politik, yaitu antara lain suatu saat Rasululah pernah memerintahkan untuk memenjarakan seorang tersangka, padahal pada sisi lain Rasulullah SAW bersabda tidak akan menghukum seseorang kecuali dengn dua saksi. Begitu juga dengan sikap Rasulullah SAW yang meringankan hukuman bagi pencuri yang diganti dengan hukum dera, karena memperhatikan kondisi kehidupan pencuri itu. Serta mengambil zakat dan mengembalikan sebagian kepada mereka sebagai keringanan. Khalifar Umar ra juga pernah menangguhkan hukum bagi pencuri karena kemiskinan. Setelah runtuhnya khilafah islamiyah mulai berkembang perbedaan pandangan diantara ummat islam tentang islam dan politik. Terutama dimulai dengan pandangan seorang ulama AlAzhar yaitu Ali Abdurraziq, dengan tulisan Islam wa Ushulil Hukmi ( tahun 1925), yang pada pokoknya menyatakan bahwa Islam adalah agama yang tidak memiliki daulah, Negara. Islam adalah risalah rohani semata. Muhammad tidak bermaksud mendirikan Negara dan ini tidak termasuk risalah beliau. Beliau hanyalah seorang rasul yang bertugas melaksanakan dakwah agama secara murni tidak dicampur kecenderungan terhadap kekuasaan dan seruan mendirikan

Negara, karena memamng beliau tidak memliki kekuasaan dan pemerintahan. Beliau bukan raja dan bukan pula seorang pendiri daulah serta tidak mengajak kepada pembentukan Negara. (AlQardhawy, 1999:29). Pandangan Ali Abdurraziq ini ditentang oleh seluruh ulama Al-Azhar dan putusan dalam pertemuan format Saikh Al-Azhar beserta 24 anggota tetap, dan memutuskan bahwa buku Al Abdurraziq tersebut telah memuat berbagai masalah yang bertentangan dengan agama. Pengarangnya dianggap telah melalui jalan yang sama sekali tidak layak dilakukan seorang muslim, terlebih lagi seorang yang berilmu. Pengarangnya dikelaurkan dari ulama AlAzhar dan dicabut kepakarannya serta diberhentikan dari jabatannya. Pandangan yang lebih moderat disampaikan oleh Haikal (Musda Mulia 1997:289-290), bahwa dalam Al-Quran dan As-Sunnah tidak ditemukan aturan-aturan yang langsung dan rinci mengenai masalah-masalah yang ada hanyalah seperangkat tatanilai etika yang dapat dijadikan pedoman bagi pengaturan tingkah laku manusia dan kehidupan dan pergaulan dengan sesamanya yang juga memadai untuk dijadikan landasan bagi pengaturan hidupn kenegaraan. Tuntunan AlQuran mengenai kehidupan bernegara tidaklah menunjuk suatu model tertentu. Karena itu Haikal menyimpulkan bahwa soal Negara dan pemerintahan lebih banyak diserahkan kepada ijtihad ummal Islam. Islam hanya menggariskan prinsip-prinsip dasar yang harus dipedomani dalam mengelola Negara. Prinsip-prinsip itu mengacu pada prinsip-prinsip dasar Islam bagi pengelolaan hidup bernasyarakat, yaitu prinsip persaudaraan, persamaan dan kebebasan. Perbedaan pandangan diantara ummat Islam mengenai hubungan antara Islam dan politik tersebut berkembang hingga saat sekarang ini, dan membawa kepada perbedaan aliran politik yang dianut ummat Islam di seluruh dunia, termasuk yang terjadi di Indonesia. Partai Politik Partai politik adalah sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan untuk merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan beradasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materiil (Miriam Budiarjo, 1991:161). Ia adalah organisasi artikulatif yang terdiri dari pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat, yaitu mereka yang memusatkan perhatiannya pada pengendalian kekuasaan pemerintahan dan yang bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat dengan kelompok lain yang mempunyai pandangan yang berbedabeda. Dengan demikian partai politik merupakan perantara yang menghubungkan kekuatan-

kekuatandan idilogi-idiologi social dengan lembaga-lembaga pemerintahan yang resmi dan yang mengaitkannya dengan aksi politik didalam masyarakat politik yang lebih luas.( Haryanto 1982:86). Partai politik sengaja didirikan untuk memperoleh kekuasaan serta memerintah atau mempengaruhi kebijakan pemerintahan. Partai Politik adalah alat yang sah yang ditimbulkan dalam masyarakat modern untuk mengelompokkan berbagai kelompok dan kepentingan dalam masyarakat untuk diartikulasikan dalam kebijakan-kebijakan Negara. Partai politik merupakan alat bagi sekelompok orang yang tergabung secara terorganisir yang memiliki landasan idilogis dan cita-cita yang sama tentang sebuah masyarakat dan Negara yang dicita-citakan. Dengan demikian partai politik adalah sarana formal bagi berbagai kelompok masarakat untuk menyalurkan aspirasi dan pandangan politiknya tentang kehidupan masyarakat dan Negara yang dicita-citakan. Pemebentukan parta politik didasarkan atas kesamaan idiologi, visi serta misinya untuk membangunan dan memecahkan masalah-masalah bangsa dan Negara. Karena itu dilihat dari visi, misi serta idiologi partai maka ada yang disebut partai konservatif dan ada partai liberal. Pada sisi lain ada partai yang berdasarkan agama dan ada yang berlandaskan sosialisme, kerakyatan dan lain-lain. Dalam kenyataannya tidak selalu hanya ada satu partai politik yang menganut idiologi dan dasar yang sama dalam suatu negara. Karena walaupun menganut dasar, prinsip dan visi serta missi yang sama bisa lahir beberapa partai politik. Karena itu pembentukan partai politik juga sangat dipengaruhi oleh pandangan dan kemauan yang lebih personal dari para tokoh atau pimpinan partai politik, hal ini biasanya terjadi perbedaan kecil pada gaya kepemimpinan dari pimpinan partai politik yang bersangkutan. Menurut Klingermann (Klingermann 1994:432), di Jerman, Belanda, Belgia dan Austria pertentangan partai yang dominan terus berlanjut menjadi lebih bercorak tradisional daripada modern. Dalam hal ini, dari keempat Negara tersebut kelompok yang dinyatakan sebagai partai Kristen tetap mempertahankan peranan yang menonjol hingga saat ini. Perdebatan yang mencul di Negara-negara tersebut adalah kearah moralitas keluarga dan Negara kesejahteraan. Partai politik memiliki fungsi yang bermacam-macam antara lain dikemukakan oleh Miriam Budiarjo (1991:163) sebagai berikut : 1. partai sebagai sarana komunikasi politik;

2. 3. 4. 5. 6.

partai sebagai sarana artikulasi dan agregasi kepentingan; partai sebagai sarana sosialisasi politik; partai sebagai sarana rekruitmen politik; partai sarana pembuatan kebijaksanaan; dan partai sebagai sarana pengatur konflik.

Memperhatikan berbagai fungsi partai politik tersebut, kududukan dan peran partai politik adalah sangat penting bagi sebuah Negara demokrasi, baik dalam penyusunan berbagai kebijakan yang demokratis maupun sebagai alat yang efektif untuk melakukan sosialisasi politik (kebijakan), rekruitmen politik serta sarana pengatur konflik, walaupun tidak seluruh fungsi ini dapat diperankan oleh partai-partai politik, karena di internal partai politik sendiri bisa terjadi konflik dan tidak mampu melaksanakan sosialisasi dan komunikasi politik dengan baik. Hal ini sangat tergantung pada kwalitas dan kesadaran politik dari para pimpinan yang menggerakkan partai itu. Dalam teori demokrasi modern, menurut Klingemann ( Klingemann, 1994:392), Partaipartai politik dipandang sebagai sarana kelembagaan yang utama untuk menjembatani hubungan antara masyarakat dengan pemerintah. Partai-partai dianggap memainkan peranan menyeluruh sebelum, selama dan sesudah pemilu. Berbeda dengan kelompok-kelompok kepentingan , partaipartai menjangkau suatu lingkup kepentingan manusia secara luas. Mereka mengidentifikasi, memilah menentukan dan mengarahkan pelbagai kepentingan tersebut menuju cara-cara bertindak yang dapat dipilih oleh para pemilih dan pemerintah. Pemilu merupakan ajang menyampaikan kehendak kebijakan yang disampaikan oleh para pimpinan partai dalam konteks memperebutkan persaingan memperebutkan pemerintahan. Idealnya partai pemenang akan mengendalikan pengambilan keputusan kebijakan pemerintahan sesuai dengan program-program partainya. Namun menurut menurut Klingermann (Klingermann 1994:393) Partai yang berkuasa harus juga memperhatikan berbagai tuntutatan yang nyata dalam masyarakat. Karena itu partai pecundang tidak harus kehilangan perannya dalam kehidupan politik modern, karena ternyata penentuan kebijakan public sangat dipengaruhi oleh rangkain proses demokratis dalam proses pengambilan keputusan. Tekanan-tekanan yang disampaikan oleh kelompok fungsional dan partai-partai kecil sangat besar pengaruhnya dalam penentuan kebijakan publik. Apalagi kalau tidak ada pemenang mutlak dalam proses pemilu sehingga pengambilan keputusan mengutamakan akomodasi daripada konfrontasi.

Partai Politik di Indonesia Sistem multi partai pada pemilu tahun 1955, nampak sekali pengelompokon idiologis partai-partai yang ada yang dapat dikelompokkan pada dua kelompok besar yaitu kelompok nasionalis sekuler dan nasionalis Islam. Hal ini terlihat pada terbelahnya pandangan terhadap Negara diantara partai-partai politik dalam Konstituante. Pada kelompok nasionalis sekuler terdapat Nasionalis yang tergabung dalam Partai Nasional Indonesia yang memiliki kekuatan sangat besar sebagai hasil pemilu 1955, Kelompok Komunis yang tergabung dalam Partai Komunis Indonesia, kelompok agama non-Islam yaitu Partai Katolik dan Parkindo serta kelompok yang lain dari kelompok fungsional serta kedaerahan. Sedangkan dari kalangan Islam, terdapat Partai Masyumi yang mendapat dukungan dari kalangan Islam modernis, Nahdatul Ulama (NU) dari kalangan Islam tradisional serta dari Partai Syarikat islam. Sepanjang Orde Baru Partai Komunis dibubarkan dan paham Komunis dihancurkan di Indonesia, sehingga kekuatan politik komunis dalam kancah politik Indonesia hingga saat ini dapat dikatakan tidak ada. Dengan demikian, tinggal dua kekuatan partai politik yang bertahan yaitu partai politik kelompok Islam dan kelompok Nasionalis. Sepanjang pemerintahan Orde Baru, dilakukan rasionalisasi partai politik dengan hanya ada dua partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia serta Golongan Karya. Karena Golkar merupakan kendaraan politik Pemerintahan Orde Baru yang didukung oleh militer dan birokrasi, maka pemilu selama Orde Baru tidak menunjukkan kekuatan riil aliran-aliran politik yang ada. Pada masa ini muncul ABRI sebagai kekuatan politik yang sangat menentukan dalam penentuan kebijakan-kebijakan Negara. Pemilu tahun 1999, masih menunjukkan kecenderungan politik aliran yang sama seperti pada pemilu tahun 1955. Seperti dikatakan oleh Paige Johnson (Panduan Parlemen Indonesia 2001:142), ada kesinambungan dari sifat aliran-aliran dari periode terdahulu. Partai dikatakan mempunyai pendukung kebijakan dalam masyarakat. Muslim modernis cenderung mendukung partai politik jenis tertentu, muslim tradisionalis pada pihak lain dan muslim nasionalis abangan (lebih sekuler) dan minoritas mendukung pihak lain. Pendapat ini dalam kenyataannya mengandung kebenaran karena melihat komposisi perolehan suara pada pemilu tahun 1999 yang lalu walaupun ada sedikit pergeseran, karena politik kekuasaan Orde Baru yang sangat kuat. Partai Politik Islam di Indonesia

Sepanjang sejarahnya setelah kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia telah melaksanakan 8 kali pemilu. Dari seluruh pemilu tersebut tidak pernah ketinggalan diikuti juga oleh partai-partai Islam. Pemilu pertama yang dilaksanakan pada tanggal 29 September 1955 pada masa pemerintahan cabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap (Masyumi), diikuti oleh 118 peserta dari organisasi partai politik, organisasi kemasyarakatan maupun perorangan. Untuk memperebutkan 257 kursi DPR dan 514 kursi Konstituante. Dari seluruh peserta pemilu tersebut terdapat 5 partai islam, yaitu Majelis Suro Muslimin Indonesia (Masyumi), Nahdatul Ulama (NU), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), Partai Tharekat Islam Indonesia (PTII), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Hasil Pemilu tahun 1955, partai-partai Islam memperoleh hasil yang cukup baik walaupun masih kalah suara dibanding dengan partai-partai nasionalis sekuler. Masyumi dan PNI memenangkan pemilu DPR dengan memperoleh masing-masing 57 kursi, sedangkan di Konstituante Masyumi memperoleh 112 kursi dan PNI memperoleh 119 kursi. Urutan selanjutnya ditempati oleh NU dengan 45 kursi DPR dan 91 kursi di Kontituante, PKI 39 kursi DPR dan 80 kursi Kontitunate, PSII memperoleh 8 kursi DPR dan 16 kursi Konstituante. Total kursi ynag diperoleh partai partai Islam di DPR adalah 116 kursi dari 257 kursi DPR yang diperebutkan atau sebesar 45,13 %. Sedangkan di Konstituante memperoleh 230 kursi dari 514 kursi konstituante yang diperebutkan dalam pemilu atau sebesar 44,74 %. Issu politik yang paling menonjol yang dibawa oleh partai-partai Islam hasil pemilu tahun 1955 dan mereka mempunyai suaru yang sama untuk itu, adalah persoalan idiologi yaitu Islam sebagai dasar negara, berhadapan dengan kelompok lain yang menginginkan Pancasila serta social ekonomi sebagai dasar Negara. Hal itu terjadi karena memang pada saat itu sedang diperdebatkan tentang Konstitusi Indonesia di Konstituante. Namun perdebatan mengenai dasar Negara tidak membuahkan hasil karena kekuatan Islam dan Nasionalis memiliki kekuatan yang seimbang sehingga tidak mencapai jumlah 2/3 yang dibutuhkan (lihat Tabel 1): Tiga Faksi Idiologis di Konstituante (Nasution 2001: 32-33) Nama Faksi Jumlah Kursi I. Blok Pancasila 1. PNI (Partai Nasional Indonesia) 119 2. PKI (Partai Komunis Indonesia) 60

3. Republik Proklamasi 20 4. Parkindo (Partai Kristen Indonesia) 16 5. Partai Katolik 10 6. PSI (Partai Sosialis Indonesia) 10 7. IPKI (Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) 8 8. PRN (Partai Rakyat Nasional) 3 9. P3RI (Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia) 3 10.Partai Persatuan Daya 3 11.GPPS (Gerakan Pembela Pancasila) 2 12.PRI (Partai Rakyat Indonesia) 2 13.Baperki 2 14. PRIM (Partai Republik Indonesia Merdeka) 2 15. PIR (Persatuan Indonesia Raya Wongsonegoro) 2 16.PIR (Partai Indonesia Raya- Hazairin) 2 17.Gerinda 2 18.PRD (Partai Rakyat Desa) 1 19.R.Soedjono Prawirasoedarso 1 20.Gerakan Banteng Republik Indonesia 1 21.Partai Tani Indonesia 1 22.Raja Kaprabonan 1 23.PIR (Nusa Tenggara Barat Lombok) 1 24. Permai 1 Jumlah 274 II. Blok Islam 1. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) 112 2. NU (Nahdatul Ulama) 91 3. PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) 16 4. Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) 7 5. AKUI Madura 1 6. PPTI 1

7. Gerakan Pilihan Sunda 1 8. Pusat Penggerak Pencalonan L.E.Idrus Effendi Sulawesi Tenggara 1 Jumlah 230 III. Blok Sosial Ekonomi 1. Partai Buruh 5 2. Partai Murba 4 3. Acoma 1 Jumlah 10 Pada saat itu seluruh partai Islam memandang bahwa Islam dan poltik tidak bisa dipisahkan dan politik adalah bagian dari syariat, hal ini nampak jelas dalam rancangan Mukaddimah Undang-Undang Dasar yang disusun oleh kelompok Islam yang berbunyi ..Maka untuk memelihara kemerdekaan itu, kami bangsa Indoesia berketetapan hati untuk menyusun Negara Indonesia menjadi Republik berdaulat berdasarkan Islam. Pikiran-pikiran dan dasar pertimbangan memilih Islam sebagai dasar Negara dapat dilihat dalam pidato-pidato pemimpinpemimpin faksi Islam pada saat itu, yang pada intinya berkeyakinan bahwa Islam disamping mengatur masalah-masalah aqidah, ibadah dan akhlak juga mengatur hubungan individu dan masayarakat serta negara, disamping alasan demokratis dimana bagian terbesar masyarakat Indonesia adalah beragama Islam. Pemilu kedua dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 1971, pada masa awal Orde Baru. Pemilu kedua ini diikuti oleh sepuluh Partai Politik diantaranya ada 4 partai Islam yaitu PSII memperoleh 10 kursi, NU 58 Kursi, Parmusi 26 kursi dan Partai Islam Perti mendapat 2 kursi. Jumlah total perolehan kursi Partai-partai islam adalah 96 kursi dari 362 kursi DPR yang diperebutkan atau sebesar 26,5 %. Sejak pemilu tahun 1977 sampai dengan tahun 1997 yaitu selama 20 tahun terjadi rasionalisasi partai politik oleh pemerintah Orde Baru yaitu hanya ada 3 partai politik yaitu Partai Persatuan Pembangunan sebagai partai Islam, Golongan Karya serta Partai Demokrasi Indonesia. Partai Islam semakin pudar dengan perolehan suara yang terus menurun yaitu pada pemilu 1977 memperoleh kursi sebesar 27,5% dari 360 kursi DPR, Pemilu tahun 1982, memperoleh 26,1% dari 360 kursi DPR, Pemilu 1987 memperoleh 15,25 % dari 400

kursi yang diperebutkan, pemilu 1992 memperoleh 15 % dari 400 kursi yang diperebutkan dan pemilu terakhir Orde Baru yaitu pemilu 1997 memperoleh 16%. (lihat table 2. Tabel 2: Perolehan Kursi Partai Persatuan Pembangunan sejak 1977 Pemilu Tahun Kursi DPR Preolehan % Yang diperebutkan kursi 1977 360 99 27,50 1982 360 94 26,10 1987 400 61 15,25 1992 400 62 15,50 1997 400 64 16.00 Pemilu sepanjang Orde Baru, dilaksanakan dibawah dominasi Golongan Karya yang selalu memperoleh kursi diatas 62 % sampai 75 % yang merupakan alat politk pemerintah Orde Baru. Karena itu perolehan suaru partai Islam pada masa ini bukan merupakan indikasi sebenarnya atas sikap pemilih yang dilakukan secara terbuka dan demokratis dalam pemilu. Orde Baru memanfaatkan seluruh kekuatan politiknya yaitu Golongan Karya, Birokrasi dan ABRI untuk mendukung dan mempertahakan kekuasaannya. Kemenangan Golkar didukung penuh oleh kekuatan birokrasi dan ABRI. Partai Islam Pada Masa Reformasi Lahirnya Masa Reformasi ditandai dengan tumbangnya pemerintahan Soeharto pada taggal 21 Mei 1998, yang disebabkan oleh demonstrasi massa yang sangat besar yang menuntut perubahan dalam segala bidang termasuk bidang kebebasan politik, kebebasan pers serta pemberantasan Korupsi , Kolusi dan Nepotisme. Presiden B.J.Habibie yang menggantikan Soeharto pada masa itu membuka keran demokrasi ini dengan seluas-luasnya yaitu dengan membuka dan menjamin kebebasan pers serta membebaskan berdirinya partai-partai politik yang baru. Era baru ini dasmbut dengan gegap gempita dengan tuntutan perubahan-perubahan radikal dalam politik.

Kebijakan Presiden B.J.Habibie yang membebaskan berdirinya partai politi itu, disambut dengan lahirnya ratusan partai politik baru di Indonesia yaitu paling tidak 181 partai politik, yang dilanjutkan dengan pelaksanaan pemilu yang dipercepat pada bulan Juni 1999. Dalam pemilu pertama masa reformasi itu, tidak seluruh partai politik yang terdaftar bisa ikut pemuli, karena setelah dilakukan verifikasi oleh Komisi Pemilihan Umum pemilu tersebut hanya diikuti oleh 48 partai Politik. Pemilu ini, dianggap sebagai pemilu paling demakratis yang dilasanakan oleh bangsa Indonesia sepanjang sejarahnya setelah Pemilu pertama pada tahun 1955. Dari seluruh partai politik peserta pemilu tersebut paling tidak terdapat 8 partai politik Islam, sebagaimana yang telah diuraikan dalam bagian awal tulisan ini. Hasil Pemilu tahun 1999, menunjukkan bahwa ternyata perolehan partai politik Islam sangatlah kecil disbanding dengan perolehan suara partai politik yang tidak berdasarkan Islam. Partai Persatuan Pembangunan yang telah berumur hamper abad hanya memperoleh 58 kursi DPR yaitu 12,6 % dari 462 kursi yang diperebutkan. Partai Bulan Bintang memperoleh 13 kursi atau 2%, Partai Keadilan memperoleh 7 kursi atau 1,5%, Partai Nahdatul Ummah memperoleh 5 kursi atau 1%, serta 3 partai Islam lain yang meperoleh kursi masing-masing 1 kursi, yaitu Partai Kebangkitan Ummat, Partai Syarikat Islam serta Partai Masyumi sehingga berjumlah 3 kursi atau 0,64 %. (Lihat Tabel 3) Tabel 3: Perolehan kursi partai Islam Pada Pemilu 1999 Nama Partai Kursi yang diperoleh % 1. Partai Persatuan Pembangunan 58 12,6 2. Partai Bulan Bintang 13 2.0 3. Partai Keadilan 7 1,5 4. Partai Nahdatul Ummat 5 1.0 5. Partai Masyumi 1 0,2 6.Partai Kebangkitan Ummat 1 0,2 7. Partai Syarikat Islam Indonesia 1 0,2 Jumlah 86 18,6

Sementara itu, kedua partai yang berbasiskan massa Islam, memperoleh kursi yang juga tidak begitu besar, yaitu Partai Kebangkitan Bangsa memperoleh 51 kursi atau 11% dan Partai Amanat Nasional memperoleh 34 kursi atau 7,36 %. Sehingga total perolehan kursi kedua partai ini adalah 85 kursi atau 18,36%. Jumlah ini seimbang dengan perolehan kursi partai-partai Islam. Sedangkan total perolehan kursi partai Islam dan partai barbasis massa Islam adalah 171 kursi atau 37 %. Peranan dan kedudukan parlemen hasil pemilu tahun 1999, menemptai posisi yang sangat strategis bagi masa depan Indonesia, karena dalam masa inilah kebijakan-kebijakan strategis dan mendasar bagi masa depan Indonesia di letakkan antara lain dengan adanya perubahan yang sangat besar pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Hal yang menarik diamati bahwa pandangan dan posisi partai-partai Islam dan partaipartai yang berbasikan massa Islam berbeda pandangan dalam prdebatan tentang pasal 29 UUD 1945. Partai-Partai Islam yang dimotori oleh Partai Bulan Bintang dan Partai Persatuan Pembangunan mengusulkan penambahan 7 kata dari Piagam Jakarta dalam pasal 29 ayat 1, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemelukpemeluknya. Pada sisi lain usulan ini tidak mendapatkan dukungan dari kedua partai yang berbasis massa Islam di Majelis Permusyawaratan Rakyat. Hal ini dipahami karena kedua partai ini menklain dirinya sebagai partai terbuka dan inklusif. Sangat berbeda dengan posisi perdebatan dalam konstiante hasil pemilu tahun 1955, dimana seluruh partai Islam memperjuangan Islam sebagai dasar Negara, baik dari NU yang duduk dalam Konstituante maupun dari basis Muhammadiyah sebagai anggota luar biasa Masyumi. Perkembangan ini mengindikasikan adanya perubahan yang signifikan dalam cara pandang para politisi Islam mengenai hubungan negara dengan agama (Islam). Pada sisi lain, jika menyangkut politik praktis dalam hal penentuan dan pemilihan kepemimpinan, partai-partai Islam dan partai yang berbasiskan massa Islam dapat bersatu dan memiliki pandangan yang sama. Hal ini dapat dilihat pada saat terpilihnya Presiden Abdurrahman Wahid pada Sidang Umum MPR tahun 1999. Hal ini juga nampak pada proses politik dan berbagai pengambilan putusan mengenai penentuan pejabat public oleh DPR, hamper dapat dipastikan bahwa partai-partai tersebut dapat bersatu dan emiliki pandangan yang sama. Gejala ini menjukkan adanya sikap pragamtis para politisi Islam di parlemen dalam berpolitik.

Masa Depan Partai Politik Islam di Indonesia Memperhatikan perbandingan perolehan suara partai Islam dalam pemilu 1955 yaitu 45,13 % dengan pemilu tahun 1999 yaitu 18,6 %, maka dapat disimpulkan bahwa perolehan kursi dan dukungan pemilih terhadap partai partai Islam dalam pemilu demokratis tahun 1999 sangat menurun yaitu kehilangan dukungan sebesar 26,53%. Demikian pula jika dibandingkan perolehan kursi partai-partai Islam dalam pemilu 1955 sebesar 45,13% dengan gabungan partai-partai Islam dan partai-partai yang berbasis massa Islam dalam pemilu tahun 1999 sebesar 37%, juga mengalami penurunan yang signifikan yaitu sekitar 8,13 %. Kemana suara dukungan terhadap partai Islam yang hilang 8,3% tersebut? Diyakini bahwa sebagian suara untuk Islam itu masuk dalam Partai Golkar, Masih kuatnya pengaruh birokrasi yang memberikan dukungan pada Partai Golkar pada pemilu 1999 yang lalu, disamping banyak tokoh-tokoh dari keluarga Masyumi maupun NU yang masuk dalam Partai Golkar karena system politik yang dikembangkan oleh Orde Baru yang sangat kuat. Hal ini terlihat pada sikap moderat dari para politisi partai Golkar atas tuntutan dan pandangan yang diajukan oleh partaipartai Islam atau partai yang berbasis massa Islam. Bukanlah hal yang mudah bagi partai-partai Islam untuk kembali menempati posisi seperti yang dihasilkan oleh pemilu tahun 1955. Banyak perubahan dan pergeseran yang terjadi akibat politik Orde Baru. Pemilu tahun 1999, masih terpengaruh oleh suasana kejatuhan Orde Baru dan masa transisi yang masih memberikan harapan kepada partai partai Islam untuk memperoleh suaru yang lebih baik pada pemilu-pemilu berikutnya. Bagaimanapun juga kemenangan besar PDIP pada pemilu 1999 yang lalu adalah karena kuatnya tekanan rezim Soeharto terhadap Megawati dan PDIP, sehingga mendapat simpati rakyat yang sangat kuat. Seperti dikatakan oleh Paide Johnson (Panduan Parlemen Indonesia 2001:144), PDIP adalah partai yang sangat personalistik. Megawati telah mewarisi pengikut ayahnya yang sangat kharismatis. Para pendukung partai mencintai Ibu Mega. Pada sisi lain, kemenangan Partai Golkar sangat terkait dengan pengaruh birokrasi yang sangat kuat yang sebelumnya merupakan mesin pemenangan bagi Partai Golkar. Hal ini nampak pada kemenangan Golkar yang sangat besar pada daerah-daerah luar Jawa. Peluang bagi partai-partai Islam adalah adanya pergeseran pilihan pemilih yang sebelumnya memilih PDIP dan Partai Golkar, serta dari para pemilih pemula. Hal itu hanya bisa

dicapai dengan kemampuan konsolidasi internal dari partai-partai Islam agar dapat mengorganisir, memobilasi, merumuskan serta menyuarakan kepentingan-kepentingan ummat islam dengan lebih baik. Jargon-jargon politik aliran dan idiologi masih layak untuk disuarakan oleh partai-partai Islam disamping menawarkan program-program yang lebih baik dan menyentuh kepentingan rakyat secara luas. Daftar Kepustkaan 1. Yusul Al-Qardhawy, Pedoman Bernegara Dalam Perspektif Islam, Terjemahan dar Judul Aslinya: As-Siyasah Asy-Syariyah, oleh Kathur Suhadi, Pustaka Al Kautsar, Cet.I, Jakarta,1999. 2. Musda Mulia, Negara Islam Pemikiran Politik Husain Haikal, Disertasi Doktor, Program Parca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta 1997. 3. Klingemann, Hans-Dieter at.al. Partai, Kebijakan dan Demokrasi, Terjemahan dari Judul Asli : Parties, Policies, and Democracy, oleh Sigit Jatmika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1999. 4. Nasution, Adnan Buyung, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Cet.II, PT Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 2001. 5. Basalim, Umar, Pro-Kontra Piagam Jakarta di Era Reformasi, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta 2001. 6. Yayasan API, Panduan Parlemen Indonesia, Cet.I,2001. 7. Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Gramedia, Jakarta, 1991 8. Haryanto, Sistem Politik Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1982.

09/12/2003 07:41 Banteng dan Bintang Sembilan Oleh : Abdul Gaffar Karim MA Pernah dalam sejarah Indonesia modern, kaum santri di partai-partai Islam dan kaum abangan di partai-partai nasionalis-sekuler (mohon maaf apabila kategorisasi ini tak tuntas dan tak sepadan) bersatu dalam sebuah koalisi politik. Sayangnya koalisi semacam itu biasanya tak langgeng. Kerapkali ia hanya merupakan sebuah aliansi strategis berumur pendek. Itulah yang terjadi di beberapa kabinet tahun 50-an. Itu pula yang terjadi dalam kabinet berkaki empat (PNI-NUMasyumi-PKI) awal tahun 60-an. Di paruh akhir tahun 60-an, kepentingan pengganyangan PKI

membawa PNI dan NU pada satu ikatan longgar dalam hingar-bingar sejarah yang penuh darah. Ikatan politik longgar yang sama pula yang berlangsung dalam iterregnum singkat pemerintahan ambivalen Gus Dur-Mega. Lalu pertanyaannya, bagaimanakah kemungkinan koalisi partai Islam dan partai nasionalissekuler pasca 2004? Atau marilah lebih spesifik: bagaimanakah kemungkinan koalisi PDIP-PKB dalam waktu dekat? Jawaban hipotetik bagi pertanyaan ini adalah: pentas politik Indonesia adalah pentas sekuler. Pemerintahan oleh partai Islam (baik tunggal maupun dalam sebuah koalisi) apalagi dalam semangat ketatanegaraan Islam adalah sebuah anomali. Dengan demikian, tak banyak yang bisa diharap dari sebuah koalisi dengan ikatan beronak-duri antara PKB dan PDIP. Koalisi semacam ini rasanya sulit terjadi dalam waktu dekat. Platform bagi stabilitas koalisi semacam ini belum terbentuk dengan baik di atas pentas politik Indonesia, sebab tak mudah menyatukan cita-cita religiusitas politik (apapun levelnya) dengan sekularitas politik. Dengan demikian, serapi apapun koalisi itu ditata, ia akan selalu goyah. Selain jawaban hipotetik ini, terdapat pula dua kondisi objektif kontemporer yang membuat kemungkinan koalisi PDIP dan PKB agak kecil. Pertama, baru dua tahun yang lalu PKB tersingkir secara signifikan dari ikatan koalisi longgar dengan PDIP (plus Golkar dan PAN), yang disimbolkan oleh jatuhnya Gus Dur dari kursi kepresidenan. Terputusnya ikatan koalisi itu berjalan tidak dengan baik-baik, meski kejadian itu patut pula dikenang sebagai satu-satunya peristiwa sirkulasi ring satu kekuasaan politik negeri ini yang tidak menumpahkan setetespun darah. Yang jelas, hingga saat ini belum pernah dilakukan rekonsiliasi yang cukup serius untuk mengobati cekcok politik di tahun 2001 itu. Tentu saja perlu diperhitungkan sebuah aspek penting, bahwa dalam politik tak ada musuh dan kawan yang abadi. Sebab, yang abadi adalah kepentingan. Namun sulit membayangkan terbentuknya sebuah konvergensi kepentingan antara PDIP dan PKB dalam waktu kurang dari 5 bulan hingga 5 April 2004. Introduksi sistem pemilihan baru dalam Pemilu 2004 akan membuat partai-partai politik yang ada sibuk dengan kalkulasi sumir tentang kemungkinan rekrutmen politik yang akan berjalan, ketimbang untuk menyelesaikan sisa-sisa masalah akibat perceraian di tahun 2001 itu. Kedua, pemilihan presiden secara langsung Juli 2004 (dan September 2004 apabila mekanisme second ballot terpaksa dijalankan) akan memaksa setiap kekuatan politik untuk sangat berhatihati dan kalkulatif dalam memilih rekan berkoalisi. Agaknya, berkoalisi dengan PKB bukan sebuah pilihan logis bagi kepentingan PDIP. Mengapa? Dalam pemilihan presiden secara langsung, Megawati sangat mungkin akan menjadi kandidat paling kuat, namun lagi-lagi tidak dengan kekuatan mutlak. Sebagai kandidat dengan kekuatan seperti itu, dan dengan mempertimbangkan pola paket dalam pencalonan presiden-wapres tahun 2004, maka Megawati dan PDIP pasti akan sangat hati-hati memilih rekan untuk disandingkan sebagai cawapres. Dengan tujuan memastikan stabilitas pemerintahan, maka sangat boleh jadi PDIP akan secara pragmatis memilih bergandeng-tangan dengan kandidat dari Partai Golkar sebagai wapres-tentu dengan deal politik tingkat tinggi. Apabila Partai Golkar memiliki rasa percaya diri sangat besar

dan karenanya lebih suka maju dalam paket lain untuk menjadi presiden, maka pilihan berikutnya yang mungkin diambil oleh PDIP adalah menggandeng kandidat dengan latarbelakang karier militer. Jadi, kans persaingan adalah antara koalisi PDIP-Partai Golkar melawan paket calon lain, atau koalisi yang dipimpin PDIP melawan koalisi yang dipimpin Partai Golkar. Dalam peta kedua, sudah pasti berkoalisi dengan PKB bukanlah prioritas bagi PDIP. (Penulis adalah pakar politik Fisipol UGM)-z. Sumber : kd
http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/4/7234/Kolom/Banteng_dan_Bintang_Sem bilan.html

KOALISI; IDEOLOGIS ATAU KETERJEPITAN Kolom | 16-04-2010

Muhammad Sholihin

Persiteruan politik nasional antara kelompok Islam politik melawan kelompok partai berhaluan nasionalis, kian melunak dan cair. Saling memberi morse koalisi antara PKS dan Partai Demokrat, menjadi alas atas asumsi ini. Siklus berikutnya morse ini menandaskan tanya "adakah fenomena ini didorong oleh tarikan ideologis atau sekedar sharing of power?" Dalam bentuk lain, morse mencairnya Islam politik kian berkibar ketika Gus Dur ikut membuat garing prosesi ke-mencair-an ini, ia meng-imbuhkan bahwa "Koalisi partai Islam tidak perlu ada. Kalau ada berarti dipaksakan. Semuanya sudah melihat Islam politik. Sudah ngeri orang". Terlepas apakah Gus Dur "subyektif" berpendapat, namun setidaknya ini menjadi "ayat", akan ada fusi besar-besaran antara kubu Islam politik dengan kubu nasionalis. Dalam politik, ideologi tidak melulu determinan membentuk perilaku politisi. Tapi kalau kekuasaan lain lagi. Kekuasaan sebagai sebuah tujuan politik membuat ia determinan dengan perilaku politik. Hal ini melahirkan hukum "Semakin sulit sebuah kekuasaan digapai, maka semakin kuat usaha untuk mengapainya", kenapa demikian? Kesulitan itu mengandaikan bahwa kekuasaan adalah barang mewah, yang tak sembarang diperoleh. Kesulitan dalam mengapai kekuasaan, membuat partai yang selalu berada dibawah, apalagi oposisi terjebak dalam sengkarut "kegelisahan" yang hebat. Dalam kondisi ini cenderung partai politik menempuh jalan eksentrik, yang tak biasa. Hal ini dilakukan, karena memang

tak ada pilihan untuk menandingi partai politik yang kuat. Jika perlu, bernafas keluar badan (baca; koalisi). Hal ini kemudian bergupal-gupal pada perhelatan politik saat ini. Fusi Pragmatis Koalisi mengandaikan terjadinya fusi ideologis. Artinya koalisi tidak akan pernah terjadi kalau bukan didorong oleh kesamaan ideologis ataupun kesamaan visi partai politik. Demikian tidak dalam jagat politik kita. Soalnya, Dalam beberapa kali perhelatan politik, koalisi tidak identik dengan koalisi gagasan atau ideologis. Dalam bebauan anyir reformasi awal, koalisi kebangsaan yang menjebolkan Gus Dur sebagai Presiden RI, beraroma politis untuk mencegat Megawati. Kemudian juga adanya koalisi antara Golkar dan PD; yang melahirkan dwi tunggal SBY-JK, tapi juga beraroma pragmatis. Kecenderungan itu pun kini belum beranjak. Morse koalisi partai Islam dengan PD, masih menyengat bebauan pragmatisme. Asumsi ini setidaknya berangkat dari tesis yang diajukan oleh Bernard Lewis bahwa persiteruan ideologis "Islam Teokrasi dengan demokrasi liberal" tidak mengarah pada lahirnya pemenang. Melainkan, berbagai kompromi antara kedua kekuatan akan muncul. Kompromi ini akan terjadi bilamana ada fusi kepentingan yang tak dapat dihindari, hingga kepentingan pragmatis dapat dinikmati oleh kedua pihak. Jika selama ini kita mengandaikan ada gap ideologis antara partai Islam dan partai nasionalis. Kini pengandaian ini mulai cair oleh terjadinya kecenderungan koalisi untuk kekuasaan. Bolehkah? Dalam tradisi politik tentu saja dibolehkan. Karena politik kita tidak mengandaikan pertarungan ideologi melainkan pertarungan kekuasaan. Karena itu, fusi ataupun koalisi menjadi trik lain yang gemar dipraktekan. Mengeser Citra Dalam politik tidak ada yang konstan, pun juga tidak ada teman yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Jika dalam pemilihan Capres mendatang, fusi antara partai Islam dan nasionalis, maka ini tak lain didorong oleh konsolidasi kepentingan--atau bisa saja karena tak ada pilihan lain. PD tidak akan mungkin agaknya berkoalisi balik dengan Golkar, karena "gelagat" JK telah meminta "thalaq" dari PD. Sementara berkoalisi dengan PDI-P tambah mustahil bagi PD, karena "kelatahan" PDI-P terlajur mempersepsi "oposisi abadi" bagi SBY. Pilihan tersisa tak banyak bagi PD, melainkan meminang, menangkap dengan cepat sinyal koalisi dengan partai Islam. Walau koalisi ini akan mengeser citra partai Islam sebagai partai Islam "lembek ideologis", tapi agaknya tak persoalan, yang penting bisa nomor dua. Jika koalisi partai Islam (baca; PKS) dengan Partai Demokrat, benar-benar terjadi maka pergeseran hebat akan terjadi dalam dinamika ideologi politik di Indonesia. Satu sisi positif, satu sisi juga negatif. Positifnya ialah friksi ideologis antara partai Islam dan nasionalis yang selama ini berlansung semenjak era Masyumi akan mereda, kemudian tergantikan dengan ideologi keindonesiaan. Ideologi yang didalamnya merangkul "Islam", "sekuler", "kapitalisme" atau mungkin "sosialisme".

Selama ini Golkar yang berada di pucuk kekuasaan, kemudian diperbaharui dengan koalisi Partai Demokrat dan Golkar; hanya menandaskan citra nasionalisme kental yang berisi adonan "sekulerisme", dan "kapitalisme". Keluar dari peta ini, 5 tahun ke depan, melalui koalisi partai Islam dengan PD; setidaknya akan menguratkan kompromi orientasi/payung politik serta warna kebijakan yang terisi oleh udara nasionalisme-agamis. Hadirnya Islam sebagai kekuatan politik bukanlah ancaman bagi keindonesiaan. "Indonesia", dalam pandangan Cak Nur, "adalah bangsa yang sukses". Bayangkan, ada suatu bangsa yang mampu mempertautkan solidaritas kultural yang merangkum tidak kurang dari 250 kelompok etnis dan bahasa serta agama yang tersebar di sekitar 17.500 pulau di sepanjang 81.000 kilometer garis pantai, dengan kemampuan menghadirkan suatu lingua franca bersama yang mampu mengatasi isolasi pergaulan antarsuku dan kesumpekan primodialitas. Negatifnya, hadirnya Islam di pucuk kekuasan walau dalam porsinya sebagai pendamping partai nasionalis--tidak melalui rasionalitas publik, melainkan karena absurditas politik, melalui koalisi; sebuah tradisi politik yang tak tahu kemana silsilah-nya dihubungkan. Koalisi ini menguratkan mampunya partai Islam mencapai puncak mendampingi SBY, jikapun menang--tak lain bersipat aksidental. Sehingga posisi partai Islam tidak terlalu signifikan berarti bagi politik Islam dan keindonesiaan; karena telah terjadi peleburan ideologis untuk tidak mengatakan keretakkan ideologi. Islam sesungguhnya masuk dalam ruang politik, berkat pergulatan di ruang publik. Partai Islam yang mampu meraup kepercayaan di ruang publik, menjadi guratan atas Islam keindonesian; sebuah Islam politik yang kokoh melalui rasionalistas di ruang publik. Dalam kondisi ini kemenangan partai Islam tidak akan disimpulkan sebagai "politik identitas", tapi melainkan sebagai demokratisasi dalam semangat keindonesiaan. Ke arah ini agaknya Islam politik mendasarkan tujuan politik mereka; tidak instan apalagi absurd. Sumber: Harian Singgalang, Rabu, 1 April 2009

*** Dibaca 440 kali

29 Desember 2003 Skenario Koalisi

Kali ini Poros Tengah II?


DISIRAM sinar matahari pagi, gedung Partai Kebangkitan Bangsa tampak asri. Pelatarannya cukup luas, di sisi kanannya berdiri sebuah musala yang bersih. Terhampar di sampingnya Jalan Kalibata Timur, Jakarta Selatan, tepat di balik pagar belakang Taman Makam Pahlawan Kalibata. Gedung yang baru

diresmikan beberapa bulan lalu ini masih lengang. Hanya Mahfud Md., Wakil Ketua Umum PKB, yang telah sibuk di ruang kerjanya. Diusik oleh pertanyaan TEMPO yang menemuinya pagi-pagi, dahinya berkerut memikirkan berbagai skenario koalisi menjelang Pemilihan Umum 2004. Seperti menyusun batu bata untuk membangun gedung PKB, koalisi partai tidak bisa dirancang dalam sehari. Itu sebabnya beberapa bulan terakhir Mahfud secara maraton menghadiri sederet pertemuan yang digalang oleh partai-partai berbasis massa umat Islam. Lewat serangkaian perbincangan serius, menurut bekas Menteri Pertahanan ini, dirajutlah sebuah komitmen. "Intinya, kami sepakat mengakhiri pemerintahan Megawati Soekarnoputri secara konstitusional," tuturnya Rabu dua pekan silam. Menurut Mahfud, sejumlah pertemuan itu digagas oleh kalangan yang berbeda-beda. Ada yang digerakkan oleh sekelompok politikus muda. Ada juga pertemuan yang diprakarsai oleh Habil Marati dari Partai Persatuan Pembangunan. Bahkan kalangan eksponen Ikatan Keluarga Pelajar Islam Indonesia (PII), juga turun gunung, membentangkan benang koalisi. Pertemuan terakhir dijalin di Hotel Hilton, Jakarta, pada 18 November lalu. Hadir dalam perbincangan tersebut antara lain Yunus Yosfiah (Sekjen PPP), Hidayat Nurwahid (Ketua Umum Partai Keadilan Sejahtera), dan Mahfud Md. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, juga sempat bergabung, tapi hanya sebentar. Kali ini penggagasnya adalah kalangan PII. Karena Z.A. Maulani (Ketua Umum Ikatan Keluarga PII) sakit, rembukan ini dipimpin oleh Ryaas Rasyid, salah seorang pengurus organisasi itu yang juga Presiden Partai Demokrasi Persatuan. "Saya memang tak bisa datang karena gula darah saya naik," ujar bekas Kepala Bakin itu kepada TEMPO. Agendanya? Sambil membuka catatannya pada telepon gengam, Mahfud berusaha mengingat-ingat. Katanya, saat itu dibicarakan siapa calon presiden yang pantas menggantikan Megawati. Kesepakatan semacam ini cukup mendesak karena pemilu legislatif bakal digelar pada April 2004. Sepekan kemudian, dibuka pendaftaran pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan berlaga pada pemilihan yang dilakukan dalam dua putaran. Maka mencuatlah gagasan untuk melakukan penilaian obyektif terhadap sejumlah calon penantang Megawati. Dipimpin oleh Ryaas Rasyid, peserta pertemuan itu menilai para calon dari semua sisi. Ada delapan elemen yang diukur, meliputi kepemimpinan, kemampuan manajemen, wawasan, hubungan internasional, inovasi, keberanian memberantas korupsi, dan popularitas. Hasilnya, menurut Mahfud, Abdurrahman Wahid dan Amien Rais memperoleh skor tertinggi, disusul (dengan angka yang terpaut jauh) Susilo Bambang Yudhoyono. Adanya simulasi penilaian itu diakui juga oleh Ryaas Rasyid. Tapi seingat dia, Amien Rais memperoleh skor tertinggi, baru kemudian Abdurrahman Wahid. Nama lain yang ikut dinilai dalam pertemuan itu antara lain Hamzah Haz, Wiranto, dan Yusril Ihza Mahendra. Pertemuan serupa dengan penggagas berbedabeda juga pernah digelar di berbagai tempat, antara lain di Hotel Bumi Karsa, rumah seorang politikus di Pancoran, dan Hotel Maharani, Jakarta Selatan.

Pesertanya hampir sama. Kalangan PKB, PAN, PPP, dan PKS selalu ada yang mewakili. Begitu pula tema pembicaraannya selalu seputar mengatur strategi buat menandingi kubu Megawati. Dalam pertemuan di Hotel Maharani yang digelar tiga hari sebelum pertemuan Hilton, misalnya, dibicarakan peran organisasi Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Di situ seorang peserta mencetuskan gagasan agar dua organisasi ini mengusung satu calon presiden. "Bila itu terjadi, persoalannya menjadi beres. Kita memiliki calon presiden dengan dukungan yang kuat," ujar Mahfud menirukan ucapan si pengusul. Persoalannya, NU dan Muhammadiyah bukan organisasi politik. Keputusan tetap berada di partai yang berbasis massa Islam seperti PKB, PAN, PPP, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bulan Bintang. Lagi pula, seandainya perolehan suara mereka digabung, mungkinkah bisa menandingi suara partai-partai nasionalis? Dalam pertemuan sebelumnya di Pancoran yang diadakan sebelum Ramadan, menurut Lukman Hakiem (Sekretaris Dewan Pengurus Pusat PPP), hal itu telah disinggung. Sepanjang sejarah pemilu, kekuatan kubu Islam tidak mencapai 50 persen lebih. Dalam Pemilu 1955, misalnya, hanya terkumpul sekitar 43 persen suara dari partai Islam yang ada saat itu, seperti Masyumi, NU, PSII, dan Perti. Angka yang didapat dalam Pemilu 1999 lebih kecil, sekitar Rp 39,5 persen, jika suara PKB, PPP, PAN, PBB, PNU dan sebagainya ditotal. Hanya, perolehan suara masih mungkin bertambah karena pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2004 digelar secara langsung. Orang-orang yang dalam pemilu legislatif memilih Golkar, misalnya, bisa terpanggil menyokong calon dari "kelompok Islam". Di Gedung MPR, para politikus dari Partai Beringin pernah melakukannya saat mengusung Abdurrahman Wahid menjadi presiden, menghadapi Megawati pada 1999. Akhirnya Gus Dur menang dengan skor 56 persen suara. Buat memperbesar suara bisa pula dengan cara menggubah bahan perajutnya. Ini dilontarkan oleh Al-Muzamil, Wakil Ketua PKS, yang pernah hadir dalam pertemuan di Hotel Maharani. Benang yang dirajutnya bisa berupa keinginan buat mewujudkan pemerintahan yang bersih, bukan berupa ideologi keislaman. "Saya kira Megawati dianggap gagal menghadang bahaya korupsi yang luar biasa," kata Muzamil. Dengan begitu, semua partai yang ingin menegakkan reformasi bisa digandeng. Gagasan semacam itu telah pula diusung oleh 13 partai besar, antara lain Partai Bintang Reformasi, Partai Pelopor, PKS, PAN, dan PKB, Partai PDK, dan PNI Marhaenisme. Mulamula mereka menuntut pengembalian kantor PPP, Golkar, dan PDIP kepada negara, karena partai yang lain kini tidak mendapat fasilitas serupa. Belakangan mereka mulai berancang-ancang membangun koalisi lewat pembentukan sekretariat bersama. "Perbincangan mengenai hal itu memang terjadi, tapi belum final," ujar Hakam Naja, Wakil Sekretaris PAN. Koalisi pelangi semacam itu cukup terbuka karena sejauh ini rembukan antara partai-partai berbasis massa Islam masih terbentur kerikil. Mereka belum sepakat siapa calon presiden yang diajukan bersama. PAN jelas menjagokan Amien Rais. PKB pun tetap mengusung Abdurrahman Wahid sebagai calon

presiden. Pencalonan Abdurrahman, menurut Mahfud, telah disepakati dalam musyawarah kerja PKB pada Mei lalu. Sikap PPP? Kendati PPP belum menyodorkan Hamzah Haz sebagai calon presiden, bukan berarti partai ini buru-buru menyetujui calon partai lain. Bahkan sebagai Ketua Umum PPP, Hamzah Haz, menampik adanya kesepakatan untuk menghadang Megawati lewat serangkaian pertemuan. "Saya kira belum ada kesepakatan mengenai hal itu," tuturnya. Menggantungnya sikap Hamzah, menurut sumber TEMPO, disebabkan oleh posisinya. Dia tidak mungkin mengibarkan diri sebagai calon presiden, menantang Megawati, karena masih berkantor di Istana Wakil Presiden. Apakah Hamzah sudah menjalin komitmen politik dengan Megawati untuk terus memerintah sampai 2009 nanti? Tidak juga. "Pak Hamzah sudah berbicara dengan Ibu Megawati. Sikapnya, kita tunggu hasil pemilu," tutur Lukman Hakiem, yang sehari-hari menjadi staf khusus Wakil Presiden. Menunggu hasil pemilu. Itu pula gagasan yang berkembang dalam sejumlah pertemuan. Menurut Habil Marati, seorang pemrakarsa koalisi, kecenderungannya calon presiden bersama akan ditentukan sesudah pemilu legislatif. Saat itu perolehan suara partai sudah jelas. Hanya, kata Mahfud, ada juga yang ingin semua calon yang ada maju dalam pemilihan presiden putaran pertama. Nah, yang lolos masuk putaran kedua, inilah yang didukung. Masih longgarnya ikatan koalisi membuat para tokoh partai leluasa bermanuver ke sana-kemari. Amien Rais berkali-kali mengungkapkan kesiapan untuk menggandeng figur TNI. Artinya, ia bisa maju dengan pasangannya sendiri, tanpa terikat komitmen dengan PKB, PPP, dan PKS. Ketua Umum PKB, Alwi Shihab, pun diam-diam telah bertemu dengan Taufiq Kiemas, suami Presiden Megawati, beberapa waktu lalu. Segala kemungkinan bisa terjadi hingga April 2004 nanti. Yang pasti, Mahfud sendiri belum menghentikan langkah untuk merancang koalisi di antara partai berbasis Islam. "Sekarang saja sudah ada teman yang menelepon, mengajak diadakan pertemuan lagi," ujarnya mengakhiri perbincangan sambil membuka pesan pendek di telepon genggamnya. Dahinya masih berkerut, dijejali seabrek skenario politik.

"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486 Download versi digitalnya : 1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini 2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini 3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini Terima Kasih.

Cak Nur Jangan Terpengaruh Arah Angin Partai Golkar Juli 31, 2003
Posted by Slamet Hariyanto in ANALISA POLITIK [ Nasional dan Lokal ]. Tags: nurcholish madjid comments closed

Oleh Slamet Hariyanto

Perkembangan proses pencapresan Nurcholish Madjid (Cak Nur) sudah memasuki tahapan makin serius. Penampilan Cak Nur pun juga mulai adaptasi dengan gaya seorang politisi. Terbukti, dia melancarkan kirik keras terhadap kepemimpinan Presiden Megawati dan secara tegas minta Akbar Tandjung tidak ikut dalam konvensi Partai Golkar. Cak Nur juga mengancam akan mundur dari konvensi (meskipun sudah mengambil formulir) bila Akbar tidak menggubris ancamannya.

Mencermati reaksi publik terhadap niatan Cak Nur untuk ikut menjadi capres pada Pemilu 2004, hampir tidak ada yang keberatan. Karena, iklim politik yang melingkupi sistem pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat, sangat cocok dengan pertimbangan perlunya figur tokoh independen seperti Cak Nur ikut pencalonan. Penolakan (sikap menyayangkan) terhadap Cak Nur baru muncul setelah dia memutuskan ikut konvensi Partai Golkar.

Namun, semua tokoh dan pengamat politik yang menghendaki agar Cak Nur tidak ikut konvensi Partai Golkar, ternyata tidak ada yang serius membantu tokoh kelahiran Jombang itu. Kongkretnya, mereka tidak menggalang kekuatan agar ada partai lain yang mengusung pencapresan Cak Nur. Akibatnya, sampai saat ini belum ada parpol lain yang secara resmi melamar Cak Nur sebagai capres unggulannya.

Kini, publik merasa cemas dengan ancaman Cak Nur untuk mundur dari konvensi Partai Golkar bila Akbar Tandjung ngotot untuk bersaing dalam konvensi. Ancaman itu sebenarnya bermakna positip bagi Partai Golkar agar dalam menggelar konvensi benar-benar berlaku jujur dan adil. Keikutsertaan Akbar Tandjung dalam konvensi dan masih merangkap sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar dianggap tidak memenuhi asas jurdil itu.

Masalah ini berpulang kepada Akbar Tandjung dan para pendukungnya. Bilamana mereka ingin konvensi ini benar-benar menjadi momentum reformasi bagi Partai Golkar, maka Akbar perlu melakukan reposisi. Pilihan bagi Akbar cuma dua,

memilih ikut konvensi dengan menanggalkan jabatan ketua umum partainya atau mempertahankan jabatan di partai dengan membatalkan ikut konvensi.

Dengan cara ini, andaikata Cak Nur dan tokoh lainnya ternyata kalah dalam konvensi, publik memberi nilai positip terhadap Partai Golkar dalam label reformis. Mereka yang tersisih dari proses konvensi yang demokratis ini akan berpikir ulang untuk meneruskan pencapresan dirinya lewat partai politik lain. Karena, Partai Golkar memang bukan satu-satunya tiket untuk menjadi capres 2004.

Menyikapi perkembangan politik di internal Partai Golkar ini, sebaiknya Cak Nur berpikir bahwa peluangnya sangat tipis untuk mendapatkan tiket dari partai berlambang pohon beringin ini. Mengurungkan niat untuk ikut konvensi Partai Golkar yang pendaftarannya ditutup 7 Agustus 2003 merupakan pilihan yang taktis bagi Cak Nur. Hampir tidak mungkin Akbar Tandjung menuruti anjuran untuk tidak ikut konvensi partai yang dipimpinnya.

Sebaliknya, upaya Cak Nur mencari alternatif partai lain perlu dipergencar selama sepekan ini. Langkah politik Cak Nur dengan mendekati parpol di luar Partai Golkar seperti yang sudah dilakukan terhadap Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) perlu lebih dipertegas. Pencapresan Cak Nur akan lebih kokoh bila diusung koalisi antara partai Islam dan partai yang berhaluan nasionalis.

Sebab, bila Cak Nur hanya mengandalkan kekuatan dukungan dari partai Islam saja, bakal memperoleh suara yang kurang signifikan. Apalagi pada pemilu 2004 nanti, secara tradisional, partai seperti PKB, PPP, PAN, PBB juga punya kaplingan yang sama dalam memperebutkan suara pemilih dari kalangan umat Islam.

Pematangan strategi untuk menggalang kekuatan dengan koalisi partai Islam dan nasionalis harus menjadi prioritas garapan Cak Nur dalam persiapan diri sebagai capres. Perdebatan di internal Partai Golkar soal posisi Akbar Tandjung dalam konvensi tidak perlu dijadikan sebagai instrumen utama bagi tim sukses Cak Nur. Oleh karena itu, Cak Nur jangan terjebak dalam perubahan arah angin Partai Golkar. Pusaran politik seperti itu jelas-jelas tidak menguntungkan bagi capres independen.

Parpol Islam Harus Melebur Agar Menjadi Besar [Politik dan Keamanan] Parpol Islam Harus Melebur Agar Menjadi Besar HASIL rekomendasi dari survei terbaru menyebutkan jika partai Islam ingin menjadi sebuah partai politik (Parpol) besar, maka harus mencari dukungan di luar kekuatan tradisionalnya yaitu dari kalangan nasionalis. Pada Pemilu 1955, partai Islam Masyumi berhasil mengukuhkan diri sebagai Parpol kedua terbesar bersama Partai Nasional Indonesia (PNI). Namun pada masa Orde Baru dan reformasi, Parpol-parpol Islam hanya berkutat di papan tengah. Bagaimana nasib dan masa depan Parpol Islam? Berikut wawancara Pelita dengan Direktur Desk Pilkada dan Pemilu, Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, Dr Lili Romli, Sabtu (21/3) di Jakarta. Mengapa pemilih partai Islam cenderung tidak bertambah? Basis atau ceruk pemilih tradisional Parpol Islam cenderung semakin berkurang. Sementara keberadaan Parpol-parpol yang mengindentifikasikan dengan Islam cenderung bertambah. Apa upaya agar bisa menambah tingkat dukungan pemilih? Kalau Parpol Islam ingin mendapatkan dukungan, maka harus ada upaya peleburan sesama Parpol Islam. Jangan ada lagi penambahan Parpol Islam, kalau bisa malah berkurang agar mendapatkan suara signifikan. Kedua, mengembangkan captive market atau pangsa pasar pemilih basis tradisionalnya agar tidak terjadi kanibalisasi. Apakah memungkinkan upaya peleburan sesama Parpol Islam ditengah sentimen arogansi Parpol? Yang perlu dilakukan adalah menurunkan sifat egoisme dari kalangan Parpol Islam demi persatuan dan kebesaran Parpol Islam. Tarik menarik yang terjadi saat ini hanya terjadi di kalangan elite saja, bukan demi kepentingan Islam. Apakah mengkampanyekan sentimen keagamaan sudah tidak lagi efektif? Kalau Parpol Islam memperjuangkan Islam itu sudah given. Tidak perlu dikemukakan pun orang yang memiliki idiologis Islam akan memilih Parpol Islam. Sekarang tantangannya adalah bagaimana bisa merangkul suara dari luar pemilih Islam. Karenanya Parpol Islam dituntut memiliki program menarik bagi pemilih luar Islam. Apakah sekarang sudah ada Parpol Islam yang bisa menjadi lokomotif bagi upaya peleburan? Sampai saat ini belum. Tadinya harapan penyatuannya ada pada Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Namun dari hasil survei menyebutkan suara PKS akan menurun. Karenanya perlu ada upaya pengerucutan Parpol-parpol Islam. Tiga Parpol Islam di Indonesia sudah cukup. Apakah Parpol Islam perlu memposisikan dirinya ketengah, menjadi nasionalis religius? Kalau keinginannya untuk meningkatkan dan mengembangkan basis dukungannya memang

harus seperti itu. Namun kalau hanya ingin mengembangkan diri sebatas menjadi partai kader, maka tidak perlu harus keluar dari garis itu. Ini sangat tergantung pada pilihannya, mau kemana. Sejauhmana rivalitas Parpol Islam dan nasionalis? Kalau Parpol Islam menarik ke garis tengah, maka rivalitas tidak akan terjadi. Kalau pun terjadi hanya terbatas pada program yang ditawarkan, tidak lagi terpolarisasi bersifat idiologis. Namun apabila masing-masing menarik garis batas idiologisnya, maka terjadi lagi rivalitas keduanya. Rivalitas idiologis akan berkurang, bila kompetisi program yang lebih ditonjolkan.(encep azis muslim)

Poros Tengah Mendukung Mega Menjadi Presiden


27/05/2001 07:50 Liputan6.com, Jakarta: Ketua MPR Amien Rais menyatakan bahwa Poros Tengah akan mengegolkan Wakil Presiden Megawati Sukarnoputri menjadi presiden di Sidang Istimewa MPR mendatang. Hal itu dilakukan jika MPR meminta mundur Presiden Abdurrahman Wahid. Pernyataan tersebut disampaikan Amien di Jakarta, Sabtu (26/5) petang. Amien menjelaskan, kelompok yang berbasis partai Islam tersebut tak akan memperlakukan Megawati seperti halnya Presiden Wahid. Hal itu berlaku apabila Mega tetap berpedoman kepada konstitusi. Selain itu, tambah Amien, kelompoknya akan tetap kritis pada Wapres saat menjalankan tugas kepresidenan. Dukungan tersebut, kata Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional, dilakukan secara dewasa, matang, dan disertai kritik. Selama ini, Amien menambahkan, hal serupa telah dilakukan terhadap kinerja Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi, kata Amien, Wahid tak mengindahkannya. "Nasi sudah menjadi bubur," kata Amien, lirih. (ANS/Nurul Amin dan Anambotono)

Islam pasca Orde Baru

Sudirman Tebba 0 Resensi Tiara Wacana Yogya, 2001 - 196 halaman Socio-political issues and the role of Islam in Indonesia; collection of articles. v