Anda di halaman 1dari 23

Pengrusakan Situs Benteng Somba Opu

Laporan Investigasi

Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Keluarga Mahasiswa Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Celebes Heritage Ujung Pandang Heritage Society

I. PRAWACANA
Sekiranya Cornelis Speelman mengetahui bahwa tiga abad kemudian Benteng Somba Opu akan dihancurkan, mungkin ia tidak perlu menyiapkan ribuan pon bahan peledak untuk menghancurkan benteng tersebut

Tanggal 18 Oktober 2010 yang lalu, Menteri Dalam Negeri RI Gamawan Fauzi telah melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gowa Discovery Park (GDP). Proyek senilai 45 milyar tersebut dimotori oleh Zaenal Tayeb, seorang pengusaha asal Sulsel yang sukses membangun wahana hiburan keluarga di beberapa propinsi di Indonesia. PT. Mirah Megah Utama selaku pelaksana proyek tersebut rencananya akan membangun Taman Gajah, Taman Burung, Wahana Waterboom, dan Wahana Treetop dilokasi yang selama ini dikenal sebagai Situs Benteng Somba Opu. Tanpa melewati proses sosialisasi publik dan mekanisme pembahasan di badan legislatif, pelaksanaan proyek tersebut sontak mengundang reaksi berbagai pihak. Mulai dari akademisi, sejarahwan, arkeolog, dan masyarakat pada umumnya meramaikan opini di berbagai media baik cetak, elektronik, maupun media on line termasuk berbagai situs jejaring sosial. Semua mengecam langkah yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan dengan memberikan izin investasi di Situs Benteng Somba Opu. Keluarga Mahasiswa Arkeologi sebagai salah satu elemen yang turut diresahkan atas pelaksanaan proyek tersebut, kemudian tergerak untuk menyusun berbagai strategi gerakan dalam upaya untuk menghentikan langkah yang dipandang sebagai sebuah pengrusakan situs. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan menginisiasi pembentukan sebuah Tim Investigasi yang bertugas untuk mengumpulkan semua fakta-fakta lapangan terkait pembangunan dikawasan situs tersebut. Fakta fakta lapangan tersebut juga diharapkan bisa menjadi basis

1|Halaman

data bagi berbagai elemen lainnya untuk dijadikan sokongan landasan argumentasi dari perspektif arkeologis untuk mengawal proses advokasi ini. Segera setelah terbentuk, pada tanggal 6-9 Desember 2010, Tim Investigasi yang terdiri dari unsur dosen, alumni dan mahasiswa jurusan Arkeologi Universitas Hasanuddin terjun kelapangan untuk melaksanakan tugas yang diberikan. Dalam rentang waktu tersebut, berbagai bukti pelanggaran terkait pengrusakan situs yang dikaitkan dengan UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

2|Halaman

II. SEKILAS BENTENG SOMBA OPU


Latar Belakang Sejarah Benteng Somba Opu dibangun oleh Raja Gowa keIX yang bernama Daeng Matanre Karaeng Tumaparisi Kallonna (15111547) pada tahun 1525. Dilakukan perkuatan struktur dinding benteng dengan batu padas pada tahun 1545 oleh Raja Gowa keX, Karaeng Tunipallangga Ulaweng (15471565), dan pada masa pemerintahan Raja Gowa keXII Karaeng Tunijallo (15651590), benteng ini sudah mulai dipersenjatai dengan meriammeriam berkaliber ditempatkan disetiap sudut bastion. Pada masa kejayaannya, didalam benteng tersebut berdiri istana kerajaan gowa. Disekitarnya berdiri berbagai kantor perwakilan dagang dari berbagai negara seperti Denmark, Spanyol, Portugal, Swiss, dll. Sebagai sebuah pusat kerajaan dan bandar besar perdagangan, benteng somba opu menjadi saksi bagaimana kerajaan Gowa tumbuh menjadi kerajaan maritim yang memiliki reputasi internasional.

Gambar 1. Ilustrasi Benteng Somba Opu pada Abad ke-17 (Sumber: KITLV Belanda)

Pasca Perjanjian Bungaya yang menandai kekalahan Kerajaan Gowa oleh VOC, Benteng Somba Opu menjadi salah satu dari delapan diantara sembilan benteng pertahanan Kerajaan Gowa yang harus dihancurkan. Pada tanggal 24 Juni

3|Halaman

1669 kemudian diratakan dengan tanah oleh Vrerenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dengan menggunakan ribuan pon bahan peledak. VOC mengambil langkah tersebut karena kekurangan tentara untuk menjaga benteng sehingga harus dihancurkan guna menghindari benteng tersebut direbut kembali oleh Kerajaan Gowa. Setelah terdeposit didalam tanah selama kurang lebih tiga abad, pada tahun 1987 dilakukan pengalian (ekskavasi) total terhadap wilayah yang dianggap sebagai lokasi berdirinya Benteng Somba Opu. Penggalian yang berhasi menyingkap runtuhan struktur Benteng Somba Opu, kemudian ditindaklanjuti dengan mendirikan rumah-rumah adat dari seluruh kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Langkah tindak lanjut tersebut bertujuan untuk menjadikan Benteng Somba Opu sebagai Taman Miniatur Sulawesi melalui pelaksanaan Proyek Miniatur Sulawesi (PMS). Kebijakan pun berganti seturut suksesi kekuasaan yang terjadi, proyek PMS dengan segala visi idealnya pun menjadi terbengkalai. Secara nasional, Situs Benteng Somba Opu terdaftar di Balai Pelestarian Purbakala Makassar sebagai Situs Benda Cagar Budaya Nomor Register 113. Selanjutnya pada tahun 2009 ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kebudayaan dan Parwisata RI nomor:

PM.19/UM.101/MKP/2009 yang berada dibawah pengawasan dan pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Sulawesi Selatan. Pada pendataan benteng kolonial di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Data Arsitektur, Benteng Somba Opu terdaftar sebagai salah satu Situs Benteng Kolonial dengan nomor register: 623.1/05/06.01/002.

Deskripsi Benteng Somba Opu merupakan benteng pertahanan ibukota Kerajaan Gowa terletak di Kelurahan Benteng Somba Opu Kecamatan Barombong Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Secara astonomis benteng tersebut terletak pada

4|Halaman

05 11 21.8LS dan 119 24 07.5BT pada ketinggian 0-10 mdpl, berdiri di sebuah dataran yang merupakan delta Sungai Jeneberang. Denah benteng berbentuk segi empat panjang dengan luas 113.590 m2 dengan tinggi dinding diperkirakan hingga 7 m. Tebal dinding bervariasi antara 3,66 4,10 cm dan antara 10,310,5 m. Pintu benteng berjumlah 2 buah, terletetak di sisi utara bagian barat dan di bagian selatan, diindikasikan berukuran lebar 4,5 m dengan tinggi 4 m. Struktur dinding benteng menggunakan batu padas pada pondasi/ kaki benteng dan bastion, batu bata pada bagian atas dibuat berbentuk dinding dalam dan luar di bagian dalam diisi dengan tanah. Ukuran batu padas bervariasi dari yang paling kecil berukuran panjang 56 cm dan lebar 29 cm dengan ketebalan 18 cm. Batu padas paling besar berukuran panjang 91 cm dan lebar 41 serta ketebalan batu 22 cm. Sementara bata yang digunakan paling kecil berukuran 22 cm dan lebar 12 cm serta tebal 3 cm. Bata besar berukuran panjang 33 cm dan lebar 22 cm serta tebal 4 cm. Bentuk dan ukuran celah yang ada pada kaki dinding benteng bagian atas berukuran 2,65 cm, tinggi 46 cm serta lebar 42 cm dengan kedalaman 56 cm. Tinggi tembok bastion berukuran 78 cm dengan ketebalan dinding 360 cm. Pada dinding bagian barat terdapat celah yang menyerupai pintu dengan lebar 360 cm bagian dalam dan 480 cm bagian luar serta tinggi 284 cm. Pada bagian luar terdapat lengkungan setengah lingkaran berdiameter 11,30 m, tebal 312 cm dengan diameter lengkungan 11,40. Panjang lengkungan bagian luar 27,50 m dengan tinggi 12,27 m.

5|Halaman

Gambar 2. Citra Satelit Delta Sungai Jeneberang (Sumber: Citra Google Earth tertanggal Juli 2010)

Nilai Penting M. Nur (2010) menguraikan mengenai nilai penting yang dikandung oleh benteng somba opu, dan dari nilai penting tersebut setidaknya diperoleh empat manfaat dari keberadaan benteng Somba Opu, yaitu: 1. Manfaat pertama, yang diberikan benteng Somba Opu adalah manfaat identitas budaya. Salah satu identitas watak kemaritiman, kecerdasan, semangat

globalisasi dan semangat progresivitas masyarakat Sulawesi Selatan adalah benteng Somba Opu. Material benteng yang sekarang tidak utuh lagi, sejatinya adalah salah satu benteng terbesar dari masa kolonial di Indonesia. Eksistensinya selama ini telah mengawal dan menyemangati pencapaian masyarakat Sulawesi Selatan, terutama dalam dunia kemaritiman. 2. Manfaat kedua, adalah manfaat kesejarahan, selalu dipancarkan Somba Opu dan telah memberikan kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bagaimana tidak, kebesaran sejarah Indonesia setelah Sriwijaya (abad ke-7) dan Majapahit (abad ke-13) adalah kerajaan Gowa yang beribukota di Somba Opu.

6|Halaman

Pada abad ke-17, Somba Opu merupakan pusat dari seperdua wilayah Indonesia sekarang. Sejatinya, benteng ini adalah infrastruktur sejarah kemaritiman dan infrastruktur darah kemaritiman kita. 3. Manfaat ketiga, adalah manfaat ilmu pengetahuan. Aset ilmu pengetahuan benteng Somba Opu telah memikat para ilmuan dunia sekelas Prof. Anthony Reid, Prof. Noorduyn, Prof. Andaya, Prof. Pelras, Prof. Macknight dan ratusan ilmuan lain. Endapan tanah di dalam dan sekitar benteng Somba Opu adalah rekaman peristiwa kolosal masa lalu. Sampai sekarang, Somba Opu masih merupakan lokasi penelitian yang paling banyak diminati peneliti (dalam dan luar negeri) dibandingkan dengan CB yang lain. Bukan hanya ilmu sejarah dan arkeologi yang berkepentingan tetapi lebih dari itu, Somba Opu telah membantu pemahaman dunia akademis dalam bidang planologi, antropologi, arsitektur, ilmu lingkungan, hidrologi, dan sedimentologi. Somba Opu adalah salah satu aset ilmu pengetahuan terbesar di Indonesia. 4. Manfaat keempat, adalah manfaat ekonomi. Di antara manfaat yang diuraikan di atas, kontribusi yang paling kecil didapatkan dari benteng Somba Opu adalah manfaat ekonomi. Bahkan, jika dibandingkan dengan biaya pemeliharaan benteng, saya tidak heran jika pembiayaan lebih besar dari pada perolehannya.

7|Halaman

III. DEFINISI HUKUM SITUS BENTENG SOMBA OPU


Undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang baru disahkan pada tanggal 26 oktober 2010 yang lalu merupakan undang-undang pengganti UU no. 5 tahun 1992 yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat. Berbagai perubahan paradigmatik terimplementasi dalam rentetan pasal-pasal yang secara tekstual dipandang jauh lebih menggigit dibanding UU sebelumnya. Mau tak mau, pembangunan proyek Gowa Discovery Park di area Benteng Somba opu menjadi ujian perdana bagi implementasi UU cagar budaya yang baru tersebut. Dalam pada itu, maka kita akan menguraikan bagaimana UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya mendefinisikan Benteng Somba Opu, sebagai berikut: 1. UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (UU CB 2010) mengandung 120 pasal yang terbagi kedalam 13 bab. 2. Yang dimaksudkan dengan Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi kesejarahan, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. (Pasal 1 ayat 1). 3. Cagar budaya kemudian dibagi kedalam lima bentuk, yaitu: benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan. Kelima bentuk tersebut adalah semua baik yang terkandung di darat maupun di air. Berdasarkan klasifikasi dalam UU CB 2010, Situs didefinisikan sebagai lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu

8|Halaman

(Pasal 1 ayat 5). Karena BSO mengandung ketiga unsur tersebut, maka BSO merupakan Situs Cagar Budaya. 4. Selain kandungannya, BSO merupakan Situs Cagar Budaya dikategorikan situs karena kandungannya memenuhi kriteria sebagaimana yang diatur dalam pasal 5 dan lokasinya mengandung kriteria sebagaimana yang diatur pada pasal 9. Dari uraian di atas, maka lokasi Benteng Somba Opu merupakan sebuah situs cagar budaya dan olehnya, terhadap lokasi tersebut, seluruh mekanisme pelestarian cagar budaya, mulai dari perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan semestinya dijalankan secara prosedural sesuai dengan undangundang tentang cagar budaya yang baru.

9|Halaman

IV. RENCANA INDUK GDP


Pelaksanaan proyek Gowa Discovery Park yang meskipun menuai kontroversi, tengah berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat oleh PT. Wira Mega Utama. Informasi tentang pelaksanaan proyek sangat minim karena tidak pernah dilakukan sosialisasi kepada publik terkait rencana pelaksanaan proyek tersebut. Informasi mengenai pelaksanaan proyek tersebut baru diketahui sejak peletakan batu pertama oleh menteri dalam negeri RI pada tanggal 18 Oktober 2010 silam. Dari hasil investigasi yang tim lakukan, pelaksana proyek hanya membuat papan informasi sederhana yang dipajang di panggung seni budaya yang bersebelahan dengan rumah adat Toraja.

Gambar 3. Penempatan Papan Informasi Rencana Induk Gowa Discovery Park (Sumber: Dokumentasi Tim)

Berdasarkan rencana induk yang disajikan dalam papan informasi tersebut, kawasan Situs Benteng Somba Opu akan disulap menjadi wahana hiburan keluarga yang terdiri dari empat wahana utama dengan berbagai fasilitas pendukungnya.

10 | H a l a m a n

Pertama, akan berdiri Taman Gajah yang terdiri dari Kandang, Parkir, Tempat Naik, Kolam, Breeding, dan Panggung Pertunjukan Gajah. Kedua, Taman Burung terdiri dari Panggung Pertunjukan, Kolam, Kandang Burung Besar, Kandang Burung Kecil, dan Breeding. Ketiga, Wahana Waterboom terdiri dari Menara Seluncur, Kolam Renang Dewasa, Kolam Renang Anak, dan Seluncur Anak. Keempat, Wahana Treetop berupa tempat bermain outbound. Selain itu, akan berdiri pula beberapa faslilitas pendukung berupa Lapangan Parkir, Restoran, Bungalow, Lobby, Museum Baru dan Juice Corner. Beberapa rumah adat yang telah berdiri dalam situs benteng Somba Opu rencananya akan beralih fungsi. Baruga Somba Opu yang semula merupakan tempat pertemuan yang intens digunakan oleh masyarakat akan berlaih fungsi menjadi restoran. Selain itu, beberapa rumah adat lainnya akan menjadi penginapan bagi pengunjung yang ingin menginap. Tentunya rumah-rumah adat tersebut akan mengalami perubahan agar dapat berfungsi sebagai penginapan.

Gambar 4. Rencana Induk Proyek Gowa Discovery Park (Sumber: Repro Master Plan GDP)

11 | H a l a m a n

IV. TEMUAN LAPANGAN


Hasil investigasi yang diperoleh dilapangan sebagaimana yang akan dipaparkan berikut ini: 1. Proyek GDP dibangun tepat diatas zona inti kawasan situs benteng somba opu (lihat overlay peta rencana proyek dengan citra kawasan situs benteng somba opu). Hal tersebut bertentangan dengan UU CB 2010 pasal 72 tentang zonasi situs dan dapat diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110. 2. Adanya aktivitas penimbunan yang dilakukan di lahan yang dipersiapkan untuk lokasi wahana waterboom. Penimbunan dilakukan dengan menggunakan alatalat berat dan hanya berjarak 4 meter dari struktur BSO. (lihat foto 11). Tindakan tersebut juga bertentangan dengan UU CB 2010 pasal 72 tentang zonasi situs dan dapat diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110. 3. Adanya pembuatan pondasi dan pagar yang membelah situs benteng somba opu. Pagar tersebut memisahkan mesjid dan Museum Pattingaloang pada sisi barat dan Baruga Somba Opu pada sisi timur. (Lihat foto 14). Tindakan tersebut juga bertentangan dengan UU CB 2010 pasal 72 tentang zonasi situs. 4. Gundukan tanah yang mengandung batu bata dari runtuhan dinding benteng somba opu telah diratakan dengan menggunakan buldoser untuk dijadikan bahan timbunan. (Lihat foto 5 dan 7). Hal tersebut merupakan tidakan pengrusakan situs dan diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110. 5. Adanya pembuatan pondasi yang berjarak hanya 2 meter dari tinggalan struktur benteng somba opu. (lihat foto 15). Tindakan tersebut juga bertentangan dengan UU CB 2010 pasal 72 tentang zonasi situs dan dapat diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110.

12 | H a l a m a n

6. Adanya pembuatan pagar yang melintas diatas temuan struktur bata dalam situs benteng somba opu. Pagar yang dimaksudkan berada tepat di depan Museum Pattingaloang. (Lihat foto 1). Tindakan tersebut juga bertentangan dengan UU CB 2010 pasal 72 tentang zonasi situs dan dapat diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110. 7. Bekas galian pondasi pagar menyingkap beberapa temuan fragmen tembikar, dan keramik. (Lihat foto 13). Hal tersebut merupakan tidakan pengrusakan situs dan diancam ketentuan pidana sebagaimana yang tertuang pada pasal 105 dan 110. Temuan hasil investigasi diatas menegaskan bahwa pembangunan proyek Gowa Discovery Park adalah sebuah tindakan penghancuran situs dan merupakan sebuah bentuk pengelolaan situs yang sama sekali tidak berwawasan pelestarian.

13 | H a l a m a n

V. PENUTUP
Berdasarkan temuan-temuan diatas, tim berkesimpulan bahwa proyek Gowa Discovery Park yang tidak mengindahkan konsep pengelolaan situs cagar budaya yang berwawasan pelesarian. Hal tersebut nampak jelas dari konsep GDP yang tidak menunjukkan apresiasi terhadap semua nilai penting yang ada di Situs Benteng Somba Opu. Lebih lanjut, semua langkah pembangunan proyek tersebut secara serius mengancam kelestarian Benteng Somba Opu. Jika dikatikan dengan UU CB 2010, maka tindakan pengrusakan tersebut dapat diancam hukuman pidana sebagaimana yang telah diatur dalam UU CB 2010. Beanjak dari kesimpulan tersebut, maka kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: 1. Menuntut penghentian dengan segera pembangunan proyek Gowa Discovery Park. Bilamana proyek tersebut akan dilanjutkan maka direkomendasikan untuk terlebih dahulu dilakukan studi dan kajian mendalam tentang batas-batas situs dan dilakukan zonasi untuk kemudian disesuaikan dengan perencanaan yang akan dibuat oleh pihak investor. 2. Menuntut kepada PT. Mirah Mega Wisata untuk segera membongkar bangunan yang telah didirkan pada kawasan situs Benteng Somba Opu dan mengembalikan kondisi Benteng Somba Opu ke keadaan sebelum dimulainya pengerjaan proyek. 3. Menuntut agar pihak yang berwajib untuk segera mengusut kasus pengrusakan tesebut dan memejahijaukan semua pihak yang bertanggung jawab tindakan pengrusakan situs BSO. 4. Mendesak kepada stakeholder terkait untuk merumuskan model pengelolaan dan pemanfaatan situs Benteng Somba Opu yang lebih berwawasan pelestarian.

14 | H a l a m a n

Demikian laporan investigasi ini kami sajikan kehadapan publik sebagai wujud pertanggungjawaban moral kami sebagai intelektual. Semoga Tuhan Yang Maha Esa meridhoi. Makassar, 9 Desember 2010

Tim Investigasi

15 | H a l a m a n

Lampiran

16 | H a l a m a n

Gambar 1. Peta Tunjuk Titik dan Arah Hadap Pemotretan

17 | H a l a m a n

Foto 1.

Foto 4.

Foto 2.

Foto 5.

Foto 3.

Foto 6.

18 | H a l a m a n

Foto 7.

Foto 10

Foto 8.

Foto 11.

Foto 9

Foto 12.

19 | H a l a m a n

20 | H a l a m a n

Foto 13. Tumpukan tanah hasil penggalian pondasi yang mengandung fragmen tembikar dan porselin.

21 | H a l a m a n

Foto 14. Pagar yang membelah kawasan Situs Benteng Somba Opu menjadi dua bagian. Mesjid dan Museum Pattingaloan di sisi barat dan Baruga Somba Opu di sisi timur.

Foto 15. Struktur pondasi pada sisi selatan yang hanya berjarak 2 meter dari singkapan struktur Benteng Somba Opu.

22 | H a l a m a n