Anda di halaman 1dari 6

BIOGRAFI BUNG HATTA SEBAGAI BAPAK KOPERASI

Nama Lengkap Nama akrab Tanggal lahir Tempat lahir Wafat Istri Pendidikan MULO Sekolah Tinggi Dagang "Prins Hendrik School Nederland Handelshogeschool (universitas Erasmus) Jabatan Tertinggi Wakil Presiden pertama Penghargaan : Pahlawan Nasional Bapak Koperasi Indonesia Doktor Honoriscausa Fak Hukum Universitas Gadjah Mada Proklamator Indonesia The Founding Father s of Indonesia Aktivitas Organisasi : Jong Sumatranen Bond Perhimpunan Hindia Liga Menentang Imperialisme Club Pendidikan Nasional Indonesia Partai Nasional Indonesia : H. Mohammad Hatta : Bung Hatta : 12 Agustus 1902 : Sumatera Barat : Jakarta, 14 Maret 1980 : Rahmi Rachim : Pendidikan dasar Sekolah Melayu Europeesche Lagere School

LATAR BELAKANG BUNG HATTA MENDIRIKAN KOPERASI


Pada mulanya adalah Bung Hatta, di tengah-tengah dampak buruk depresi ekonomi dunia yang tengah melanda Indonesia, yang menulis sebuah artikel dengan judul Ekonomi Rakyat di harian Daulat Rakyat (Hatta, 1954). Dalam artikel yang diterbitkan tanggal 20 Nopember 1933 tersebut, Bung Hatta secara jelas mengungkapkan kegusarannya dalam menyaksikan kemerosotan kondisi ekonomi rakyat Indonesia dibawah tindasan pemerintah Hindia Belanda. Yang dimaksud dengan ekonomi rakyat oleh Bung Hatta ketika itu tentu tidak lain dari ekonomi kaum pribumi atau ekonomi penduduk asli Indonesia. Dibandingkan dengan

ekonomi kaum penjajah yang berada di lapisan atas, dan ekonomi warga timur asing yang berada di lapisan tengah, ekonomi rakyat Indonesia ketika itu memang sangat jauh tertinggal. Sedemikian mendalamnya kegusaran Bung Hatta menyaksikan penderitaan rakyat pada masa itu, maka tahun 1934 beliau kembali menulis sebuah artikel dengan nada serupa. Judulnya kali ini adalah Ekonomi Rakyat Dalam Bahaya (Hatta, 1954). Dari judulnya dengan mudah dapat diketahui betapa semakin mendalamnya kegusaran Bung Hatta menyaksikan kemerosotan ekonomi rakyat Indonesia di bawah tindasan pemerintah Hindia Belanda. Tetapi sebagai seorang ekonom yang berada di luar pemerintahan, Bung Hatta tentu tidak bisa berbuat banyak untuk secara langsung mengubah kebijakan ekonomi pemerintah. Untuk mengatasi kendala tersebut, tidak ada pilihan lain bagi Bung Hatta kecuali terjun secara langsung ke gelanggang politik. Dalam pandangan Bung Hatta, perbaikan kondisi ekonomi rakyat hanya. mungkin dilakukan bila kaum penjajah disingkirkan dari negeri ini. Artinya, bagi Bung Hatta, perjuangan merebut kemerdekaan sejak semula memang diniatkan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Walau pun demikian, sebagai seorang ekonom pejuang, tidak berarti Bung Hatta serta merta meninggalkan upayanya untuk memperkuat ekonomi rakyat melalui perjuangan ekonomi. Tindakan konkret yang dilakukan Bung Hatta untuk memperkuat ekonomi rakyat ketika itu adalah dengan menggalang kekuatan ekonomi rakyat melalui pengembangan koperasi. Terinspirasi oleh perjuangan kaum buruh dan tani di Eropa, Bung Hatta berupaya sekuat tenaga untuk mendorong pengembangan koperasi sebagai wadah perjuangan ekonomi rakyat. Sebagaimana terbukti kemudian, kepedulian Bung Hatta terhadap koperasi tersebut berlanjut jauh setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Hal itu antara lain disebabkan oleh kesadaran Bung Hatta bahwa perbaikan kondisi ekonomi rakyat tidak mungkin hanya disandarkan pada proklamasi kemerdekaan. Perjuangan untuk memperbaiki kondisi ekonomi rakyat harus terus dilanjutkan dengan mengubah struktur ekonomi Indoncsia dari sebuah perekonomian yang berwatak koionial menjadi sebuah perekonomian nasional. Sebagaimana dikemukakan Bung Karno, yang dimaksud dengan ckonomi nasional adalah sebuah

perekonomian yang ditandai oleh meningkatnya peran serta rakyat banyak dalam penguasaan modal atau faktor-faktor produksi di tanah air (lihat Weinsten, 1976).

KOPERASI PADA MASA ORDE LAMA


Menurut Drs. Muhammad Hatta (Bapak Koperasi Indonesia) koperasi adalah lembaga ekonomi yang sangat cocok di Indonesia karena sifat masyarakat yang kekeluargaan. Koperasi dikenalkan di Indonesia oleh R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah pada tahun 1896. Dia mendirikan koperasi kredit dengan tujuan membantu rakyatnya yang terjerat hutang dengan rentenir. Koperasi tersebut lalu berkembang pesat dan akhirnya ditiru oleh Boedi Oetomo dan SDI. Pada tahun 1942 Jepang menduduki Indonesia. Jepang lalu mendirikan koperasi kumiyai. Awalnya koperasi ini berjalan mulus. Namun fungsinya berubah drastis dan menjadi alat jepang untuk mengeruk keuntungan, dan menyengsarakan rakyat. Setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 12 Juli 1947, pergerakan koperasi di Indonesia mengadakan Kongres Koperasi yang pertama di Tasikmalaya. Hari ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Koperasi Indonesia. Kemudian, melalui perjuangan yang cukup panjang pada tahun 1927 keluar peraturan tentang Perkumpulan Koperasi Bumi Putera No. 91 tahun 1927. Melalui peraturan tersebut maka izin mendirikan koperasi di perlonggar. Kongres koperasi 1 diselenggarakan atas dorongan Bung Hatta pada tanggal 12 Juli 1947 di Tasikmalaya.

KOPERASI PADA MASA ORDE BARU


Pada masa orde baru, koperasi dianggap sebagai salah satu sokoguru dalam perekonomian nasional di Indonesia. Sifatnya yang saling sukarela, gotong-royong dan kekeluargaan merupakan modal dasar yang menjadi landasan bagi koperasi untuk menjalankan atau melakukan kegiatannya. Berbagai macam ragam corak koperasi yang ada saat ini, salah satunya adalah Koperasi Unit Desa (KUD) yang jangkauannya hingga mencapai desa-desa dalam rangka membantu ekonomi masyarakat setempat sehingga dapat menjadi sokoguru (penunjang) dalam kegiatan ekonomi dapat terwujud. Jumlah koperasi di Kabupaten Aceh Barat Daya sebanyak 222, yang terdiri atas 8 Koperasi Unit Desa (KUD) dan 214 Non-KUD. Anggota KUD tercatat sebanyak 8.761 orang dan anggota Non-KUD sebanyak 9.557 orang. Jumlah Koperasi Non-KUD jumlahnya meningkat dari tahun ke tahun. Tahun 2007 terdapat 176 Koperasi Non-KUD

sedangkan tahun 2008 meningkat menjadi 190 unit yang tersebar dalam 9 kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya. Perhatian Pemerintah Daerah terhadap kelangsungan koperasi sangat diperlukan mengingat tujuan yang mulia dari kopersi itu sendiri. Tentunya hal ini dapat terjadi jika semua pihak dapat berperan sesuai dengan porsinya masing-masing dan didukung dengan kerja keras dan kerjasama yang baik

Seperti badan usaha lain, koperasi mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan koperasi yaitu : 1. Usaha koperasi tidak hanya diperuntukkan kepada anggotanya saja, tetapi juga untuk masyarakat pada umumnya. 2. Koperasi dapat melakukan berbagai usaha diberbagai bidang kehidupan ekonomi rakyat. 3. Sisa Hasil Usaha (SHU) yang dihasilkan koperasi dibagikan kepada anggota sebanding dengan jasa usaha masing-masing anggota. 4. Membantu membuka lapangan pekerjaan. 5. Mendapat kesempatan usaha yang seluas-luasnya dari pemerintah. 6. Mendapat bimbingan dari pemerintah dalam rngka mengembangkan koperasi.

Kelemahan koperasi yaitu: 1. Umumnya, terdapat keterbatasan Sumber Daya Manusia, baik pengurus maupun anggota terhadap pengetahuan tentang perkoperasian. 2. Tidak semua anggota koperasi berperan aktif dalam pengembangan koperasi. 3. Koperasi identik dengan usaha kecil sehingga sulit untuk bersaing dengan badan usaha lain. 4. Modal koperasi relatif terbatas atau kecil bila dibandingkan dengan badan usaha lain.

KOPERASI MODERN
PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk terus mengembangkan inovasi dan mengembangkan layanan berbasis ICT dengan menggandeng Kementrian Koperasi dan UMKM untuk membuat Program Koperasi Modern Indonesia. Program ini bertujuan untuk meningkatkan peran dan kontribusi koperasi dalam perekonomian nasional dengan cara mengembangkan ekosistem isnis Koperasi berbasis Sistem Informasi dan Komunikasi melalui penyediaan jasa/layanan ICT (Information and Comunication Technology) sebagai Business Enabler bagi Koperasi. TELKOM mengembangkan bisnis model ICT yang sustainable di lingkungan ekosistem Koperasi melalui Pola Sinergi dan kemitraan, serta membantu koperasi meningkatkan daya saing dan kinerja bisnis Koperasi melalui e-business.

Koperasi Modern Indonesia adalah Koperasi yang sudah menggunakan ICT untuk mendukung bisnisnya sehingga dapat memonitor, mengevaluasi dan melakukan pendataan secara akurat dan up to date, dapat melaksanakan bisnisnya secara cepat, akurat, dan reliable.

Layanan lain yang disediakan yakni e-business (antara lain : e-payment, remittance, ecommerce) sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan anggota. Pada Tahap I TELKOM memberikan bundling layanan 3 layanan yaitu aplikasi E-KOPERASI, FINCHANNEL dan DELIMA.

Layanan E-Koperasi adalah software/aplikasi pengelolaan koperasi simpan pinjam yang terdiri dari dari Modul Core untuk Customer Service, Teller dan Akunting serta Modul Dashboard untuk reporting performansi via web.

Berbekal plikasi ini, Koperasi akan memperoleh manfaat memenuhi persyaratan kelayakan Lembaga pengelolaan keuangan koperasi sesuai Pedoman Standar Akuntansi Keuangan 27 untuk koperasi, meningkatkan Kontrol terhadap keuangan dan kinerja koperasi dan meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengelolaan adminitrasi keuangan koperasi.

PT TELKOM juga memberikan layanan kategori Fee Based Income yaitu Finchannel dan Delima, dimana setiap transaksi yang terjadi di Koperasi akan menghasilkan fee untuk Koperasi sehingga dapat memberikan nilai tambah dan penghasilan kepada Koperasi.

Layanan Finchannel merupakan Layanan Loket electronic payment sebagai media transaksi pembayaran elektronik dengan menggunakan media Internet tanpa membutuhkan modal besar, cepat dan menguntungkan (misalnya untuk pembayaran tagihan PLN, TELKOM, Top up pulsa handphone, cicilan kendaraan bermotor, dll).

Sementara layanan DELIMA, difokuskan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang kerap melakukan pengiriman uang lintas negara. Layanan ini berbasis Remittance/ Layanan pengiriman uang domestik dan internasional khususnya untuk masyarakat yang belum/tidak memiliki rekening di Bank. Untuk mensukseskan program ini, TELKOM memberikan kemudahan pilihan skema bisnis kepada koperasi, yakni skema berlangganan dengan biaya perbulan 0-3 bulan pertama gratis, bulan ke 4-12 biaya Rp. 200.000/bulan dan di atas bulan ke 12 biaya Rp. 325.000/bulan. Seluruh fee dari hasil transaksi Finchannel dan DELIMA menjadi milik Koperasi , selanjutnya skema Revenue sharing, dimana Koperasi dibebaskan dari biaya bulanan, dengan pola bagi hasil untuk setiap fee transaksi Finchannel dan Delima yakni 20% TELKOM dan 80%. Dari kedua skema tersebut TELKOM memberikan bundling layanan akses internet (speedy), E-Koperasi, Finchannel dan Delima. Program ini dapat diperoleh oleh semua jenis Koperasi yang sesuai dengan syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan.