Anda di halaman 1dari 52

1

METODE PENELITIAN KUANTITATIF

HUBUNGAN RELIGIOSITAS DENGAN TINGKAT PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA KRISTEN DAN KATOLIK ANGKATAN 2011 UNIVERSITAS X

Oleh: Sanjaya Kasogi (30108008) Ang Natasia Stephanie S. (30108016)

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS CIPUTRA SURABAYA 2011

ABSTRAK Hubungan antara Religiositas dengan Tingkat Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X Surabaya Proposal berjudul Hubungan antara Religiositas dengan Tingkat Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011Universitas X disusun berdasarkan keprihatinan peneliti mengenai fenomena perilaku belanja berlebihan yang terjadi di kalangan remaja akhir. Penelitian ini akan membahas tentang religiositas sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini mengacu pada teori primer yaitu teori Religiositas Glock dan Stark dan teori Perilaku Konsumtif dari Sumartono. Sebagai landasan teori sekunder, peneliti menggunakan teori Religiositas dari Hardjana; Jalaludin, dan teori perilaku konsumen dari Setiadi; Mangkunegara; Simamora, serta teori perkembangan Remaja dari Gunarsa; Santrock; Dariyo. Peneliti menggunakan metode penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional dengan menyusun 2 skala ukur yang dikembangkan dari 2 teori primer tersebut. Skala tersebut diujikan kepada 30 orang sampel yang dipilih melalui teknik purposive random sampling dan dianalisis dengan uji korelasi Spearman. Hasil analisa tersebut bertujuan mengetahui ada tidaknya hubungan religiositas dengan perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Universitas Ciputra Surabaya. Hasil penelitian melalui uji Spearmans Rank Order menunjukkan nilai korelasi dari nilai rho yaitu 0,01429051. Nilai p-value sebesar 0,9403 menandakan Ho diterima, sehingga dapat dinyatakan tidak adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X. Kata Kunci : Religiositas, Konsumtif, Remaja Akhir

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah Modernisasi saat ini merambah ke berbagai negara. Hal ini ditandai dengan

adanya perluasan perindustrian yang terjadi di berbagai negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Di negara Indonesia saat ini perkembangan barang-barang dari luar negeri semakin marak. Bertambah banyaknya pusat perbelanjaan, serta semakin mudahnya sistem perbelanjaan membuat perilaku konsumtif para konsumen semakin tinggi. Perilaku berbelanja ini merupakan perilaku umum yang telah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat perkotaan. Namun demikian, dewasa ini perilaku belanja berlebihan, yang kerap dikenal dengan perilaku konsumtif semakin marak dilakukan oleh semua kalangan, dari anak-anak hingga dewasa. Fenomena budaya konsumtif ini ternyata juga merajalela di kalangan mahasiswa-mahasiswi baru di salah satu universitas swasta di Surabaya. Hal ini terlihat dari hasil observasi peneliti, di mana banyak mahasiswa baru yang mengendarai mobil mewah ke kampus setiap harinya, mayoritas mahasiswi mengenakan jenis pakaian dan jenis tas serupa yang sedang menjadi trend saat ini, sementara mayoritas mahasiswa membawa beberapa gadget bermerk tertentu. Peneliti juga mengamati dan mendengar pembicaraan sekelompok mahasiswi baru yang tengah menawarkan jenis tas imitasi dari merk ternama kepada teman-temannya.

Fenomena di atas merepresentasikan mahasiswa baru yang masih tergolong remaja akhir dengan berbagai gejolak dalam hidupnya, yang mana menjadi salah satu target utama bagi para produsen. Widiantoro (2008) mengatakan bahwa bila diperhatikan, gaya hidup mewah semakin marak di kalangan remaja. Ia menegaskan bahwa saat ini banyak remaja yang telah masuk ke dalam arena The Exhibit of Luxury alias gaya hidup yang serba mewah dan konsumtif. Mulai dari pakaian, aksesori, maupun sepatu dari harga yang murah hingga harga yang sangat tinggi menjadi produksi yang ditujukan bagi para remaja. Ditambah lagi dengan pengaruh konformitas dari kelompok sosial yang seolah-olah mengharuskan remaja untuk berperilaku seperti teman-temannya, sehingga ketika ada remaja yang berada dalam kelompok berperilaku konsumtif, maka secara otomatis ia akan terpengaruh untuk berperilaku konsumtif juga. Hurlock (dalam Parma, 2007) menyatakan bahwa lingkungan pergaulan remaja punya banyak pengaruh terhadap minat, sikap, pembicaraan, penampilan dan perilaku lebih besar dibandingkan dengan pengaruh keluarga. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Reynold, Scott, dan Warshaw (dalam Sari, 2009) bahwa remaja putri berusia 16 sampai 19 tahun membelanjakan uangnya lebih banyak untuk keperluan menunjang penampilan diri seperti : sepatu, pakaian, kosmetik, dan asesoris serta alat-alat yang dapat membantu memelihara kecantikan dan penampilan dirinya. Sifat remaja yang tengah mengalami masa pencarian jati diri, suka ikut-ikutan teman, mudah terbujuk rayuan iklan dimanfaatkan oleh pelaku industri di negeri ini untuk membudayakan perilaku konsumtif remaja.

Budaya konsumtif tersebut dikemas dalam gaya hidup elegan yang merupakan simbol dari modernitas. Di Indonesia yang sangat kental dengan pengaruh budaya barat turut mendukung peningkatan terjadinya perilaku konsumtif tersebut. Tambunan (2001) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku

mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal. Pernyataan tersebut didukung oleh Stanton (dalam Salay, 2005) yang mengemukakan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku konsumsi yang bersifat pemborosan, berfoya-foya, di mana kepuasan yang dapat ditunda menjadi kepuasan yang harus dipenuhi secepat mungkin. Menurut Soegito (dalam Parma, 2007), perilaku konsumtif masyarakat Indonesia tergolong berlebihan jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Keadaan ini dilihat dari rendahnya tingkat tabungan masyarakat Indonesia dibandingkan negara lain seperti Malaysia, Philipina dan Singapura. Lubis (dalam Sari,2009) mengungkapkan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu perilaku membeli yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi. Oleh sebab itu , perilaku konsumtif ini muncul lantaran kurangnya pengendalian diri terhadap keinginan dari konsumen. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap pengendalian diri terhadap perilaku konsumtif adalah religiositas. Menurut Smith (dalam Dister, 1993), religiositas adalah sesuatu yang dihayati dan dirasakan secara mendalam oleh seseorang mengenai kemauan atau kehendaknya, kepatuhan yang sungguh-sungguh atau bahaya yang mengancam, atau menawarkan reward atau mengikat seseorang

dalam suatu komunitas. Hendropuspito (dalam Widiyanta, 2002) menjelaskan salah satu fungsi agama adalah sebagai pengawasan sosial yang mana agama bertanggung jawab terhadap norma sosial dan memberikan sanksi bila terdapat pelanggaran. Oleh sebab itu, religiositas bersifat mengontrol manusia menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut Gea, Rachmat, & Wulandari (2004), hanya orang yang mampu menahan dan mengendalikan diri yang sungguh-sungguh mau dan mampu untuk mencintai Tuhan dan sesama dengan tulus. Hal ini juga ditekankan dengan pernyataan dosen Sosiologi Unand, Alfitri (2011) terkait perilaku konsumtif melalui Padang Ekspres menyarankan bahwa harus ada kontrol dan pengendalian diri sesuai kebutuhan. Oleh sebab itu, religiositas menjadi sarana bagi umat beriman untuk mengendalikan diri dalam berbagi godaan di dunia, secara khusus dalam hal ini merupakan perilaku konsumtif. Berkaitan dengan religiositas tersebut bila dikaitkan dengan pandangan umat Kristiani, umat Kristiani diajak untuk bersikap kritis dalam menjalankan hidupnya di tengah dunia. Dalam kitab suci umat Kristiani, yaitu dalam surat Rasul Paulus yang kedua kepada jemaat di Timotius dengan tegas mengatakan : Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikanlah tugas pelayananmu (2 Tim 4:5). Penguasaan diri dalam segala hal harus menjadi pembawaan dan sikap yang selalu tampak dalam diri setiap orang beriman. Hal ini menjadi dasar bagi umat Kristiani untuk mengendalikan diri mereka terhadap keterikatan dunia, di mana salah satunya merupakan budaya konsumtif.

Berdasarkan penjelasan di atas, diasumsikan semakin tinggi religiositas yang dihayati seseorang, semakin tinggi tingkat pengendalian diri individu tersebut sehingga tingkat perilaku konsumtifnya rendah. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah religiositasnya, semakin tinggi tingkat perilaku konsumtifnya. Dari uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait hubungan antara religiositas dengan perilaku konsumtif khususnya yang lebih marak terjadi di kalangan remaja.

B.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah : apakah ada hubungan antara Religiositas dengan Tingkat Perilaku Konsumtif pada Mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X?

C.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian untuk mengetahui hubungan antara religiositas dengan

tingkat perilaku konsumtif pada Mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X.

D.

Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan akan membawa 2 (dua) manfaat, yaitu manfaat teoritis

dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam memperkaya wawasan dalam pengetahuan ilmu psikologi, khususnya dalam bidang Psikologi Agama , Psikologi Perkembangan, dan Psikologi Industri Organisasi terkait perilaku konsumen remaja akhir. 2. Manfaat Praktis a. Memberikan informasi pada remaja Kristen dan Katolik dalam memahami tingkat perilaku konsumtif dan religiositas yang dimiliki remaja tersebut. b. Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi pendukung bagi penelitian berikutnya yang berhubungan dengan religiositas dan perilaku konsumtif remaja.

BAB II LANDASAN TEORI

A.

Religiositas 1. Definisi Religiositas Hardjana (2005) menyebutkan bahwa religiositas berasal dari kata religius yang berasal dari kata Latin religiosus yang merupakan kata sifat dari kata benda religio. Dalam kata religio tersebut terkandung 3 unsur, yaitu: a. Unsur memilih kembali ke sesuatu yang sebetulnya sudah ada tetapi dengan berjalannya waktu menjadi terlupakan. b. Unsur mengikat diri kembali pada sesuatu yang dapat dipercaya dan diandalkan, yang sebelumnya sudah ada tetapi telah putus atau tidak disadari. c. Sesudah memilih kembali dan mengikatkan diri, manusia terus menerus berpaling pada sesuatu itu. Hardjana (2005) menyimpulkan religio berarti hubungan dan ikatan dengan Allah. Sementara religiositas adalah perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali manusia dengan Allah karena manusia telah mengenal serta mengalami kembali Allah, dan percaya kepadaNya. (Hardjana, 2005) Menurut Smith (dalam Dister, 1993), religiositas adalah sesuatu yang dihayati dan dirasakan secara mendalam oleh seseorang mengenai kemauan atau kehendaknya, kepatuhan yang sungguh-sungguh atau bahaya yang

mengancam, atau menawarkan reward atau mengikat seseorang dalam suatu komunitas. Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa religiositas adalah perasaan dan kesadaran manusia berhubungan dengan pengalaman religiusnya yang menuntun dan mengikat manusia dalam sikap kesehariannya. 2. Dimensi Religiositas Dimensi Religiositas menurut Glock dan Stark (dalam Reitsma dkk, 2006): a. Religious Practice (Keterlibatan Keagamaan) Sejauh mana individu terlibat dalam aktivitas keagamaan misalnya pergi ke gereja setiap Minggu, doa pribadi, berkomunitas, dsb. b. Religious Belief (Kepercayaan Keagamaan) Sejauh mana individu menerima dan memahami ajaran agamanya seperti individu mempercayai keberadaan Tuhan, kehidupan setelah kematian, dsb. c. Religious Experience (Pengalaman Keagamaan) Sejauh mana individu mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Sebagai akibat dari perjumpaan tersebut manusia mengalami perubahan lalu memutuskan mengabdikan diri padaNya dengan bersedia melaksanakan pengutusan dari padaNya dalam bidang hidup tertentu (Hardjana, 2005). Misalnya, individu mengalami mukjizat kesembuhan penyakit, menerima kesaksian dari individu lain, dsb.

d. Religious Consequences (Dampak Keagamaan) Sejauh mana individu mengaplikasikan ketaatan akan pentingnya keagamaan tersebut dalam kehidupan dan tingkah laku kesehariannya. 3. Fungsi Agama Menurut Jalaludin (1996), beberapa fungsi agama dalam masyarakat antara lain: a. Berfungsi edukatif Agama bersifat mengarahkan bimbingan agar pribadi penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agamanya masing-masing. b. Berfungsi penyelamat Agama mengajarkan penganutnya akan keselamatan yang meliputi 2 alam, yaitu : dunia dan akhirat, melalui keimanan pada Tuhan. c. Berfungsi sebagai pendamaian Melalui agama, seseorang yang berdosa dapat mencapai kedamaian batin melalui tuntutan agama (penebusan dosa). d. Berfungsi sebagai social control Ajaran agama oleh penganutnya dianggap sebagai norma dan pewahyuan sehingga berfungsi sebagai pengawasan sosial secara individu dan kelompok. e. Berfungsi sebagai pemupuk rasa solidaritas

10

Para penganut agama yang sama secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini membina solidaritas yang kokoh. f. Berfungsi transformatif Ajaran agama dapat mengubah pribadi seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

B.

Perilaku Konsumtif 1. Definisi Perilaku Konsumtif Tambunan (2001) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal. Sementara Stanton (dalam Salay, 2005) mengemukakan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku konsumsi yang bersifat pemborosan, berfoya-foya, di mana kepuasan yang dapat ditunda menjadi kepuasan yang harus dipenuhi secepat mungkin. Sumartono (dalam Sari, 2009) mengatakan bahwa perilaku konsumtif dapat diartikan sebagai suatu tindakan menggunakan produk secara tidak tuntas. Dalam hal ini berarti individu belum tuntas mengkonsumsi suatu produk, kemudian membeli lagi produk jenis yang sama karena tidak mampu mengontrol keinginan atau daya tarik dari produk tersebut. Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumtif merupakan perilaku mengkonsumsi produk atau jasa secara

11

berlebihan tanpa pertimbangan yang memadai yaitu dengan memaksakan keinginan dibanding kebutuhan untuk mencapai kepuasan maksimal. 2. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumtif Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen terdiri dari 2, yaitu : kekuatan sosial budaya dan kekuatan psikologis. Hal ini sesuai dengan pendapat William J. Stanton (dalam Mangkunegara, 2002) yang menyatakan : sociocultural and psychological force which influence consumerss buying behavior. Kekuatan sosial budaya terdiri dari faktor budaya, kelas sosial, kelompok anutan, dan keluarga. Sedangkan kekuatan psikologis terdiri dari pengalaman belajar, kepribadian, sikap dan keyakinan, gambaran diri. Setiadi (2010) menambahkan faktor usia, pekerjaan, gaya hidup, motivasi dan persepsi individu turut mempengaruhi perilaku konsumen. Faktor-faktor yang

mempengaruhi perilaku konsumtif adalah sebagai berikut: a. Faktor Budaya Kebudayaan merupakan suatu hal yang kompleks yang meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, kebiasaan, dan norma-norma yang berlaku pada masyarakat (Mangkunegara, 2002). Nilai nilai budaya yang dibawa oleh individu di suatu lingkungan berbeda dengan lingkungan yang lain sehingga mempengaruhi keputusan pembelian individu tersebut. Setiadi (2010) mengungkapkan kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Simamora (2004) menambahkan bahwa pemasar sangat berkepentingan

12

untuk melihat pergeseran kultur agar dapat menyediakan produk baru yang diinginkan konsumen. b. Faktor Kelas Sosial Kelas sosial merupakan kelompok yang terdiri dari sejumlah orang yang mempunyai kedudukan yang seimbang dalam masyarakat

(Mangkunegara, 2002). Dalam hubungannya dengan perilaku konsumen, Mangkunegara (2002) mengkarakteristikan kelas sosial antara lain: 1.1 Kelas sosial golongan atas memiliki kecenderungan membeli

barang barang mahal, membeli pada toko yang berkualitas dan lengkap, konservatif dalam konsumsinya, barang-barang yang dibeli cenderung untuk dapat menjadi warisan bagi keluarganya 1.2 Kelas sosial golongan menengah cenderung membeli barang

untuk menampakkan kekayaannya, membeli barang dengan jumlah yang banyak dan kualitasnya cukup memadai. Mereka berkeinginan membeli barang yang mahal dengan sistem kredit, misalnya membeli kendaraan, rumah mewah, perabot rumah tangga. 1.3 Kelas sosial golongan rendah cenderung membeli barang dengan

mementingkan kuantitas daripada kualitasnya. Pada umumnya mereka membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan penjualan barang-barang yang diobral atau penjualan dengan harga promosi. c. Faktor Kelompok Anutan

13

Mangkunegara (2002) mendefinisikan kelompok anutan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap, pendapat, norma, dan perilaku konsumen. Pengaruh kelompok ini berkaitan dalam menentukan produk dan merk yang digunakan sesuai aspirasi kelompok. Pembeli remaja merupakan pangsa pasar yang sangat mudah dipengaruhi oleh kelompok anutan. Hal ini sejalan dengan karakteristik pembeli remaja menurut Mangkunegara (2002), yaitu : 1.1 1.2 Remaja amat mudah terpengaruh oleh rayuan penjual Mudah terbujuk rayuan iklan, terutama pada kerapian kertas

bungkus (apalagi jika dihiasi dengan warna-warna yang menarik) 1.3 1.4 Tidak berpikir hemat Kurang realistis, romantis, dan mudah terbujuk (impulsif)

d. Faktor Keluarga Anggota keluarga konsumen dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap perilaku membeli. Orang tua memberikan arah dalam hal tuntunan agama, politik, ekonomi, dan harga diri individu (Simamora, 2004). e. Faktor Pengalaman Belajar Berdasarkan teori stimulus respons Pavlov, Skinner, dan Hull bila dikaitkan dengan perilaku konsumtif dapat disimpulkan bahwa konsumen akan merasa puas jika mendapatkan produk, merek, dan pelayanan yang menyenangkan; dan sebaliknya jika produk, merek dan pelayanan

14

diperolehnya dengan tidak menyenangkan, akan menjadikan konsumen tidak puas (Mangkunegara, 2002). Respon positif sebagai penguat tersebut membuat konsumen tergerak untuk terus menerus melakukan pembelian sehingga tercipta perilaku konsumtif. Hal ini juga berlaku jika produk atau jasa ditampilkan terus menerus melalui iklan dan media massa lain yang memperkuat pengenalan konsumen akan produk atau jasa yang ditawarkan produsen. d. Faktor Kepribadian dan Konsep Diri Simamora (2004) menjelaskan kepribadian mengacu pada

karakteristik psikologis yang unik yang menimbulkan tanggapan relatif konstan terhadap lingkungannya sendiri. Mangkunegara (2002)

menambahkan kepribadian konsumen akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan dalam membeli. Sementara konsep diri menurut Mangkunegara (2002) didefinisikan sebagai cara kita melihat diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang apa yang kita pikirkan. Konsep diri yang negatif dapat menimbulkan perilaku kompensasi yang salah satunya berujung pada perilaku konsumtif di kalangan remaja guna meningkatkan citra diri di mata orang lain. e. Faktor Sikap dan Keyakinan Sikap merupakan penilaian kognitif seseorang terhadap suka atau tidak suka, perasaan emosional yang tindakannya cenderung ke arah berbagai objek atau ide (Mangkunegara, 2002). Kepercayaan atau keyakinan adalah

15

pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu (Simamora, 2004). Menurut Mangkunegara (2002) , sikap dan keyakinan saling mempengaruhi individu dalam menentukan suatu produk, merek, dan pelayanan. f. Faktor Usia dan Jenis Kelamin Usia dan jenis kelamin seseorang mempengaruhi tipe kecenderungan perilaku konsumen, seperti diungkap oleh Affif (dalam Mangkunegara 2002) bahwa terdapat beberapa tipe konsumen berdasar usia dan jenis kelamin yakni konsumen pria, konsumen wanita, konsumen remaja, dan konsumen lanjut usia. Terdapat pula pembeli anak-anak dan pasangan suami istri. Masing-masing tipe memiki karakteristik dalam

mengkonsumsi produk atau jasa tertentu. g. Faktor Pekerjaan Jenis pekerjaan konsumen turut mempengaruhi pengambilan

keputusan dalam membeli produk atau jasa tertentu yang bermanfaat untuk menunjang karirnya. Sebagai contoh, artis akan lebih mudah untuk berperilaku konsumtif dengan membeli pakaian dan asesoris mahal serta frekuensi perawatan tubuh yang lebih intensif untuk menunjang penampilannya dibandingkan seorang pegawai negeri yang lebih banyak bekerja di kantor. h. Faktor Gaya Hidup

16

Gaya hidup

dewasa

ini

telah mendorong tumbuh pesatnya

konsumerisme, seperti kemudahan penggunaan kartu kredit, trend yang diciptakan pelaku industri, materialisme dan budaya hidup instan di masyarakat.

3.

Indikator Perilaku Konsumtif Indikator perilaku konsumtif menurut Sumartono (dalam Sari, 2009),

yaitu: a. Membeli produk karena iming-iming hadiah Remaja membeli suatu barang karena adanya hadiah yang ditawarkan jika membeli barang tersebut b. Membeli produk karena kemasannya menarik Konsumen remaja sangat mudah terbujuk untuk membeli produk yang dibungkus dengan rapi dan dihias dengan warna-warna menarik. Artinya motivasi untuk membeli produk tersebut hanya karena produk tersebut dibungkus dengan rapi dan menarik. c. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi. Konsumen remaja mempunyai keinginan membeli yang tinggi, karena pada umumnya remaja mempunyai ciri khas dalam berpakaian, berdandan, gaya rambut, dan sebagainya, dengan tujuan agar remaja selalu berpenampilan yang dapat menarik perhatian orang lain. Remaja membelanjakan uangnya lebih banyak untuk menunjang penampilan diri

17

d. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya) Konsumen remaja cenderung berperilaku yang ditandakan oleh adanya kehidupan mewah sehingga cenderung menggunakan segala hal yang dianggap paling mewah. e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status Remaja mempunyai kemampuan membeli yang tinggi baik dalam berpakaian, berdandan, dan sebagainya sehingga hal tersebut dapat menunjang sifat eksklusif dengan barang yang mahal dan memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. f. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan. Remaja cenderung meniru perilaku tokoh yang diidolakannya dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dapat dipakai tokoh idolannya. Remaja juga cenderung memakai dan mencoba produk yang ditawarkan bila ia mengidolakan publik figur produk tersebut. g. Membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri Remaja terdorong untuk mencoba suatu produk karena mereka percaya apa yang dikatakan iklan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri. h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda)

18

Remaja akan cenderung menggunakan produk jenis sama dengan merek yang lain dari produk yang sebelumnya ia gunakan, meskipun produk tersebut belum habis dipakainya.

C.

Remaja 1. Definisi Remaja Dariyo (2004) mendefinisikan remaja (adolescence) adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan psikososial. Penggolongan remaja menurut Thornburg (dalam Dariyo, 2004) terbagi 3 tahap, yaitu (a) remaja awal (usia 13-14 tahun), (b) remaja tengah (usia 15 17 tahun), (c) remaja akhir (usia 18-21 tahun). 2. Ciri-ciri Remaja Ciri-ciri umum masa Remaja menurut Gunarsa (1985) meliputi: a. Kegelisahan : keadaan yang tidak tenang menguasai diri remaja. Mereka mempunyai banyak macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi. Mereka ingin tahu segala peristiwa yang terjadi di lingkungan luas, akan tetapi tidak berani mengambil tindakan untuk mencari pengalaman dan pengetahuan yang langsung dari sumbernya. b. Pertentangan : konflik yang terjadi dalam diri remaja menimbulkan kebingungan bagi diri sendiri dan orang lain. Umumnya remaja berselisih dengan orang tua yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk

19

melepaskan diri dari orang tua, namun demikian mereka tidak berani ambil resiko meninggalkan lingkungan aman di keluarganya. c. Berkeinginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya : misalnya pada remaja putra mengkonsumsi rokok, sementara remaja puteri bersolek menurut mode dan kosmetik terbaru. d. Mengkhayal dan berfantasi : Khayalan dan fantasi remaja putera banyak berkisar mengenai prestasi dan tangga karier, sementara remaja putri yang perasa lebih banyak berintikan romantika hidup. e. Aktivitas berkelompok (peer-group) 3. Tugas Perkembangan Remaja a. Kognitif Piaget (dalam Santrock, 2002) yakin bahwa pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealistis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Santrock (2002) mengungkap masa remaja sebagai masa

meningkatnya pengambilan keputusan. Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan daripada remaja yang lebih muda. Santrock (2002) menyebutkan kesalahan pengambilan keputusan mungkin terjadi ketika dalam realitas yang menjadi masalah adalah orientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalan untuk memberi mereka pilihan-pilihan yang memadai.

20

b. Moral Kohlberg (dalam Dariyo, 2004) mengatakan remaja berada dalam tahap Morality of Autonomy Moral Principles (minimal usia 13 tahun ke atas) yang mana remaja mulai menyadari adanya konflik antara standar nilai moralitas dengan pertimbangan prinsip kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Remaja mampu mengevaluasi tindakannya menurut

pertimbangan hati nurani. Remaja mulai berani mengambil resiko terhadap keputusan dan tindakannya secara terbuka. Remaja berkeinginan untuk memperoleh pengakuan sosial dari orang lain. c. Sosioemosional Selama masa remaja terjadi tahap kelima dalam delapan tahapan siklus kehidupan Erikson yaitu identitas versus kebingungan identitas. Erikson (dalam Santrock, 2002) menjelaskan selama masa remaja terjadi suatu penundaan psikologis yaitu suatu kesenjangan antara keamanan masa kanak dan otonomi masa dewasa. James Marcia (dalam Santrock, 2002) mendefinisikan krisis identitas sebagai suatu periode perkembangan identitas selama mana remaja memilih di antara pilihan-pilihan yang bermakna. Remaja yang tidak berhasil mengatasi krisis identitas akan menderita kebingungan identitas. Kebingungan ini muncul dalam bentuk individu menarik diri, memisahkan diri dari teman sebaya dan keluarga, atau mereka dapat kehilangan identitas mereka dalam kelompok.

21

D.

Hubungan Antara Religiositas dan Perilaku Konsumtif pada Remaja

Akhir Tambunan (2001) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal. Lebih lanjut Stanton (dalam Salay, 2005) menegaskan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku konsumsi yang bersifat pemborosan, berfoya-foya, di mana kepuasan yang dapat ditunda menjadi kepuasan yang harus dipenuhi secepat mungkin. Remaja sebagai salah satu pangsa pasar tidak lepas dari pengaruh konsumerisme tersebut. Sifat remaja yang tengah mengalami masa pencarian jati diri, suka ikut-ikutan teman, mudah terbujuk rayuan iklan dimanfaatkan oleh pelaku industri di negeri ini untuk membudayakan perilaku konsumtif remaja. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Mangkunegara (2002) bahwa pembeli remaja merupakan pangsa pasar yang sangat mudah dipengaruhi oleh kelompok anutan di mana remaja memiliki karakteristik mudah terpengaruh rayuan penjual, mudah terbujuk rayuan iklan, tidak berpikir hemat, kurang realistis, romantis, dan impulsif. Dalam pengambilan keputusan terkait perilaku konsumtif tersebut, remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mana salah satunya adalah faktor sikap dan keyakinan. Kepercayaan atau keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang tentang sesuatu (Simamora, 2004). Menurut Mangkunegara (2002) , sikap dan keyakinan saling mempengaruhi individu dalam menentukan suatu produk, merek, dan pelayanan. Salah satu bentuk keyakinan yang berkaitan dengan

22

pengalaman-pengalaman religius dari remaja adalah religiositas. Religiositas merupakan perasaan dan kesadaran akan hubungan dan ikatan kembali manusia dengan Allah karena manusia telah mengenal serta mengalami kembali Allah, dan percaya kepadaNya (Hardjana, 2005). Menurut Smith (dalam Dister, 1993), religiositas adalah sesuatu yang dihayati dan dirasakan secara mendalam oleh seseorang mengenai kemauan atau kehendaknya, kepatuhan yang sungguh-sungguh atau bahaya yang mengancam, atau menawarkan reward atau mengikat seseorang dalam suatu komunitas. Religiositas yang tercemin melalui 4 dimensi Glock dan Stark (dalam Crapps, 1993) yaitu religious practice, religious belief, religious experience, dan religious consequences memunculkan komitmen dalam diri remaja yang meyakini ajaran agamanya dalam bentuk pengendalian diri pada apa yang baik dan tidak baik , yang berkenan dan tidak berkenan di hadapan Allah. Seperti halnya pada remaja Kristiani, pengaruh komunitas keagamaan dan ajaran dalam kitab suci menjadi dasar dan tuntunan untuk bertindak dalam kesehariannya. Remaja dengan tingkat religiositas yang tinggi seharusnya memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan tidak mudah terpengaruh dengan gaya hidup konsumtif, sementara remaja dengan tingkat religiositas yang tergolong rendah kurang memiliki pengendalian diri lantaran lebih terpengaruh pada tekanan teman sebaya dan pengaruh lainnya. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini hendak mengetahui sejauh mana hubungan religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif pada mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X.

23

E.

Hipotesis Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesa yang diajukan sebagai jawaban

sementara dalam penelitian ini adalah: H0 : Tidak adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X H1 : Adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif pada mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X

24

BAB III METODE PENELITIAN

Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian kuantitatif bersifat korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara religiositas dan tingkat perilaku konsumtif pada remaja akhir.

A.

Identifikasi Variabel Variabel dalam penelitian ini ada dua, yaitu: 1. Variabel bebas yang biasa disebut dengan variabel X adalah variabel yang kedudukannya mempengaruhi variabel lain, yaitu religiositas. 2. Variabel tergantung yang biasa disebut dengan variabel Y adalah variabel yang kedudukannya dipengaruhi oleh variabel lain, yaitu perilaku konsumtif.

B.

Definisi Operasional 1. Religiositas Religiositas adalah perasaan dan kesadaran manusia berhubungan dengan pengalaman perjumpaan kembali dengan Tuhan yang menuntun, mengikat, dan mengubah manusia dalam sikap kesehariannya. Religiositas akan diukur dengan menggunakan skala Religiositas yang mengacu pada dimensi Glock (dalam Reitsma et al, 2006) yaitu :

25

a. Religious Practice (ritualistic) b. Religious Belief (ideological) c. Religious Feeling (experiential) d. Religious Effects (consequential) Semakin tinggi skor total yang diperoleh subyek, menggambarkan semakin tinggi tingkat religiositas individu tersebut dan sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh subyek, maka menggambarkan semakin rendah tingkat religiositas individu tersebut.

2.

Perilaku Konsumtif Perilaku Konsumtif adalah perilaku mengkonsumsi produk atau jasa

secara berlebihan tanpa pertimbangan yang memadai yaitu dengan memaksakan keinginan dibanding kebutuhan untuk mencapai kepuasan maksimal. Perilaku ini juga mencakup suatu tindakan menggunakan produk yang tak tuntas, namun sudah menggunakan produk lain. Perilaku konsumtif akan diukur dengan menggunakan skala perilaku konsumtif yang diadaptasi dari penelitian Sari (2009) mengacu pada indikator perilaku konsumtif menurut Sumartono (dalam Sari, 2009) yaitu: a. Membeli produk karena iming-iming hadiah. b. Membeli produk karena kemasannya menarik. c. Membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi.

26

d. Membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya). e. Membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status. f. Memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan. g. Membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri. h. Mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda). Semakin tinggi skor total yang diperoleh subyek, menggambarkan semakin tinggi tingkat perilaku konsumtif individu tersebut dan sebaliknya, semakin rendah skor total yang diperoleh subyek, maka menggambarkan semakin rendah tingkat perilakun konsumtif individu tersebut.

C.

Populasi dan Sampel Pengertian populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang

sama (Santoso, 2005). Dalam penelitian ini, karakteristik populasi yang diteliti adalah: 1. Mahasiswa Universitas X Angkatan 2011 2. Beragama Kristen dan Katolik 3. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan 4. Berasal dari berbagai jurusan di Universitas X

27

Sementara itu pengertian sampel, adalah himpunan bagian atas sebagian dari populasi (Santoso, 2005). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive random sampling. Dalam purposive sampling, pemilihan sekelompok subyek didasarkan atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya (Hadi, 2004). Jumlah total subyek yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu sebanyak 30 orang mahasiswa Universitas X. Untuk uji coba diambil sampel sebanyak 30 orang. Semua subyek disesuaikan dengan karakteristik populasi dalam penelitian ini.

D.

Penyusunan Alat Ukur Penelitian ini menggunakan 2 skala, yaitu skala religiositas dan skala perilaku

konsumtif. 1. Skala Religiositas Skala Religiositas disusun dan dikembangkan berdasarkan 4 dimensi Religiositas Glock (dalam Reitsma et al, 2006). Skala Dimensi Religiositas Glock (dalam Reitsma et al, 2006) berisikan 20 favorable items. Dalam penelitian ini, peneliti mengembangkan 20 aitem berisi pernyataan mendukung tersebut dengan mengkombinasikannya melalui 40 aitem tambahan. Hal ini dilakukan peneliti untuk mengurangi kemungkinan faking good dan mengukur konsistensi dari subyek penelitian. Sedangkan untuk mengukur tingkat religiositas pada subyek penelitian, maka pada penelitian ini digunakan skala model Likert. Skala ini terdiri dari

28

pernyataan dengan empat pilihan jawaban yaitu : Sangat sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat tidak sesuai (STS). Nilai setiap pilihan berada dalam rentang 1 hingga 4, dengan bobot penilaian yaitu SS=4, S=3, TS=2, STS=1. Jumlah aitem total untuk skala ini adalah 60 aitem terbagi atas 31 pernyataan mendukung dan 29 pernyataan tidak mendukung. Aitem-aitem yang terdapat dalam skala ini meliputi 4 dimensi Glock (dalam Reitsma et al, 2006) sebagai berikut:

Tabel 1. Blue Print Skala Religiositas Aspek Religious Practice (ritualistic) Religious belief (ideological) Religious feeling (experiential) Religious Effects (consequential) Total 31 29 60 7,10,12,13,19,45,56 36,37,38,39,40,50,58 14 8,11,14,17,18,44,53,59 31,32,33,34,35,41,48,57 16 6,9,15,16,20,43,52,55 26,27,28,29,30,47,49 15 Favorable Items 1,2,3,4,5,42,51,60 Unfavorable Items 21,22,23,24,25,46,54 Jumlah 15

29

2. Skala Perilaku Konsumtif Skala Perilaku Konsumtif diadaptasi dari penelitian Hotpascaman S. (2010) mengacu pada indikator perilaku konsumtif yang dikemukakan Sumartono (dalam Sari, 2009). Untuk mengukur tingkat perilaku konsumtif pada subyek penelitian, maka pada penelitian ini digunakan skala model Likert. Skala ini terdiri dari pernyataan dengan empat pilihan jawaban yaitu : selalu (SL), sering (S), kadang (KD), dan jarang (JR). Skala ini disajikan dalam bentuk pernyataan mendukung (favorable) dan tidak mendukung (unfavorable). Nilai setiap pilihan berada dalam rentang 1 hingga 4, dengan bobot penilaian untuk pernyataan mendukung yaitu SL=4, S=3, KD=2, JR=1. Sedangkan bobot penilaian untuk pernyataan tak mendukung yaitu SL=1, S=2, KD=3, JR=4. Jumlah aitem total dalam skala ini sejumlah 60 aitem. Aitem dalam skala ini mengungkap 8 indikator perilaku konsumtif yang dikemukakan Sumartono (dalam Sari, 2009) dan diadaptasi dari penelitian Hotpascaman S. (2010) yaitu : membeli produk karena iming-iming hadiah, membeli produk karena kemasannya menarik, membeli produk demi menjaga penampilan diri dan gengsi, membeli produk atas pertimbangan harga (bukan atas dasar manfaat atau kegunaannya), membeli produk hanya sekedar menjaga simbol status, memakai produk karena unsur konformitas terhadap model yang mengiklankan, membeli produk dengan harga mahal untuk meningkatkan rasa percaya diri, mencoba lebih dari dua produk sejenis (merek berbeda).

30

Tabel 2. Blueprint Skala Perilaku Konsumtif Aspek Favorable Items Membeli produk karena iming-iming hadiah Membeli menarik Membeli produk demi menjaga penampilan 11,12,17,51 diri dan gengsi Membeli produk atas pertimbangan harga 2,30,35,58 7,15,45,55 23,29,46,59 8 8 25,34,44,60 8 produk karena Unfavorable Jumlah Items 8 8

1,36,42,49,56 6,16,18 24,33,43,57

kemasannya 5,9,13,50

Membeli produk hanya sekedar menjaga 3,8,19,52 simbol status Memakai produk karena unsur konformitas 4,20,26,53 terhadap model yang mengiklankan Membeli produk dengan harga mahal untuk 21,27,32,54 meningkatkan rasa percaya diri Mencoba lebih dari dua produk sejenis 22,28,31 (merek berbeda) Jumlah 32

37,38,47

10,39,41

14,40,48

28

60

E.

Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Uji Normalitas dengan menggunakan uji kolmogorov smirnov 2 sampel

yang

digunakan

untuk

menguji

apakah

kelompok

sampel

memiliki

sebaran/distribusi yang sama. Hipotesis yang digunakan adalah : Ho : Distribusi data sampel 1 dan sampel 2 adalah sama H1 : Distribusi data sampel 1 dan sampel 2 adalah tidak sama

31

Data penelitian dapat dikatakan terdistribusi secara normal apabila nilai p 0,05 dan dikatakan tidak berdistribusi normal apabila nilai p < 0,05. 2. Analisa korelasi berdasarkan sebaran sampel, apabila distribusi normal menggunakan analisa product moment dari Pearson, dengan menggunakan bantuan komputerisasi program R versi 2.9.1. Bila distribusi tidak normal, maka menggunakan analisa korelasi spearman dengan bantuan komputerisasi program R versi 2.9.1.

F.

Prosedur Penelitian Adapun prosedur yang digunakan dalam penelitian ini dijelaskan menurut tahap

berikut ini: 1. Tahap Penyusunan Alat Ukur Pengukuran religiositas dan perilaku konsumtif menggunakan skala psikologis. Alat ukur tersebut merupakan hasil adaptasi yang mengacu pada dimensi Religiositas Glock et al, 2006) dan aspek perilaku konsumtif yang dikemukakan oleh Sumartono (dalam Sari, 2009). Dari aspek tersebut, disusun sejumlah aitem yang merepresentasikan masing-masing aspek yang tercantum dalam tabel blue print. Alat ukur ini diujicobakan terlebih dahulu kepada 30 orang responden yang memiliki karakteristik serupa dengan populasi penelitian. Dari hasil uji coba tersebut akan ditentukan aitem mana saja yang layak untuk dijadikan alat ukur melalui perhitungan uji validitas dan reliabilitas. Aitem-aitem yang memenuhi kriteria akan disusun

32

kembali dalam bentuk skala, untuk kemudian dipergunakan dalam penelitian ini. Uji coba dilaksanakan pada Kamis, 20 Oktober 2011. 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian Setelah melalui proses uji coba, selanjutnya penelitian akan dilakukan dengan memberikan skala pada 30 orang sampel mahasiswa Universitas X dengan teknik purposive random sampling pada hari Rabu, 2 November 2011. 3. Tahap Pengolahan Data Setelah kedua skala terkumpul, data tersebut diolah dengan menggunakan program R. Data yang diperoleh diharapkan menunjukkan ada hubungan antara religiositas dan perilaku konsumtif pada mahasiswa Kristen Katolik Angkatan 2011 Universitas X.

G.

Hasil Uji Coba Skala Ukur 1. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Religiositas Skala Religiositas berisikan 60 aitem dibagikan kepada 30 orang partisipan

beragama Kristen dan Katolik yang berasal dari jurusan Psikologi dan Culinary Business Angkatan 2011. Dari hasil uji reliabilitas terhadap skala religiositas, maka didapatkan nilai reliabilitas sebesar 0,7305 dengan 53 aitem yang memiliki nilai r 0,3. Berikut ini adalah distribusi aitem skala religiositas setelah uji reliabilitas:

33

Tabel 3. Blue Print Skala Religiositas setelah uji coba Aspek Religious Practice (ritualistic) Religious belief (ideological) Religious feeling (experiential) Religious Effects (consequential) Total 27 26 53 7,10,12,13,18,49 33,34,35,36,37,45,51 13 8,11,14,16,17,41,52 28,29,30,31,32,38,43,50 15 6,9,15,40,47,48 23,24,25,26,27,42,44 13 Favorable Items 1,2,3,4,5,39,46,53 Unfavorable Items 19,20,21,22 Jumlah 12

2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Skala Perilaku Konsumtif Skala Religiositas berisikan 60 aitem dibagikan kepada 30 orang partisipan beragama Kristen dan Katolik yang berasal dari jurusan Psikologi dan Culinary Business Angkatan 2011. Dari hasil uji reliabilitas terhadap skala religiositas, maka didapatkan nilai reliabilitas 0,6795 dengan 23 aitem yang memiliki nilai r 0,3. Berikut ini adalah distribusi aitem skala religiositas setelah uji reliabilitas dengan penambahan 7 aitem:

34

Tabel 4. Blue Print Skala Perilaku Konsumtif setelah uji coba Aspek Favorable Items Membeli hadiah Membeli menarik Membeli produk demi menjaga penampilan 3 diri dan gengsi Membeli produk atas pertimbangan harga 4,26,29 30 15,17,22 4 4 12,13,25 4 produk karena kemasannya 11,24,28 2 4 produk karena iming-iming 1,23 Unfavorable Jumlah Items 10,27 4

Membeli produk hanya sekedar menjaga 5 simbol status Memakai produk karena unsur konformitas 6,7 terhadap model yang mengiklankan Membeli produk dengan harga mahal untuk 20 meningkatkan rasa percaya diri Mencoba lebih dari dua produk sejenis 19 (merek berbeda) Jumlah 14

16,21

8,18

9,14

16

30

35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Gambaran Umum Responden Responden pada penelitian ini adalah 30 orang mahasiswa dan mahasiswi Angkatan 2011 Universitas X, dengan perbandingan sebagai berikut: Tabel 5. Gambaran Responden Berdasarkan Usia Usia (tahun) 17 18 19 20 N 5 17 5 3 Persentase 17% 57% 17% 10%

Berdasarkan data pada tabel 5, maka dapat dilihat bahwa jumlah responden dari angkatan 2011 yang berusia 17 tahun sebanyak 5 orang (17%), responden yang berusia 18 tahun sebanyak 17 orang (57%), responden yang berusia 19 tahun sebanyak 5 orang (17%) dan responden dengan usia 20 tahun sebanyak 3 orang (10%). Dari data pada tabel 5, dapat dilihat bahwa jumlah responden yang paling banyak berada pada usia 18 tahun. Seluruh responden berada dalam tahap perkembangan remaja akhir.

36

Tabel 6. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin P L N 18 12 Persentase 60% 40%

Berdasarkan data pada tabel 6, maka dapat dilihat bahwa jumlah responden dari angkatan 2011 yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang (60%), dan yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 12 orang (40%). Tabel 7. Gambaran Responden Berdasarkan Agama Agama Katolik Kristen Protestan N 8 22 Persentase 27% 73%

Berdasarkan tabel 7, responden dalam penelitian ini beragama Kristen dan Katolik dengan perbandingan responden yang beragama Katolik sebanyak 8 orang (27%) dan yang beragama Kristen Protestan sebanyak 22 orang (73%). Dari data tersebut, mayoritas responden menganut agama Kristen Protestan. Tabel 8. Gambaran Responden Berdasarkan Jurusan di Universitas X Jurusan PSY IBM INA VCD IMT N 0 1 1 3 10 Persentase 0% 3% 3% 10% 33%

37

IHTB CB BIS

7 6 2

23% 20% 7%

Berdasarkan data pada tabel 8, responden dalam penelitian ini berasal dari mahasiswa-mahasiswi angkatan 2011 berbagai jurusan di Universitas X, yaitu 1 orang (3%) dari jurusan IBM, sebanyak 1 orang (3%) dari jurusan INA, sebanyak 3 orang (10%) dari jurusan VCD, sebanyak 10 orang (33%) dari jurusan IMT, sebanyak 7 orang (23%) dari jurusan IHTB, sebanyak 6 orang (20%) dari jurusan CB, dan sebanyak 2 orang (7%) dari jurusan BIS. Peneliti tidak mengikutsertakan responden dari jurusan psikologi karena seluruh sampel telah digunakan dalam uji coba skala ukur sebelumnya. B. Pengujian Hipotesis Berikut akan dipaparkan mengenai hasil penelitian yang meliputi hasil uji normalitas, hasil analisa data, dan deskripsi data penelitian: 1. Uji Normalitas Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah distribusi data penelitian masing-masing variabel tersebar secara normal. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode statistik kolmogorov-smirnov 2 sampel. Persyaratan data disebut terdistribusi secara normal apabila nilai signifikansi atau p> 0,05 pada uji normalitas dengan Kolmogorov Smirnov (Triton, dalam Sari, 2009). Hasil uji normalitas pada penelitian ini menggunakan bantuan komputerisasi program R sebagai berikut:

38

Tabel 9. Kolmogorov-Smirnov 2 sampel


Two-sample Kolmogorov-Smirnov test data: x and y D = 1, p-value = 1.872e-13 alternative hypothesis: two-sided

Berdasarkan tabel 9, diperoleh nilai p-value lebih kecil dari , sehingga Ho ditolak, dan dapat dinyatakan bahwa data religiositas dan perilaku konsumtif memiliki sebaran atau distribusi yang berbeda. 2. Uji Korelasi Uji korelasi digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan antara dua atau lebih variabel. Metode pengujian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji korelasi spearmans rank order dikarenakan distribusi data yang tidak normal. Signifikansi dari korelasi dapat diuji dengan hipotesa: H0 : Tidak adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X H1 : Adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif pada mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X Dalam pengujian ini H0 akan ditolak jika nilai p-value < 0,05. Berikut hasil dari uji korelasi spearman dengan bantuan komputerisasi program R 2.9.1 : Tabel 10. Uji Korelasi Spearmans Rank Order
Spearman's rank correlation rho data: data$konsumtif and data$religiositas S = 4430.764, p-value = 0.9403

39

alternative hypothesis: true rho is not equal to 0 sample estimates: rho 0.01429051

Berdasarkan data pada tabel 10, nilai korelasi ditunjukan dari nilai rho yaitu 0,01429051. Nilai p-value sebesar 0,9403 menandakan Ho diterima, sehingga dapat dinyatakan tidak adanya hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X. 3. Deskripsi Data Penelitian Kriteria kategorisasi dalam skala ukur religiositas dan perilaku konsumtif berdasar pada skala likert dan terbagi atas 5 kategori : sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah, dan sangat rendah. Tabel 11. Kriteria Kategorisasi variabel Religiositas dan Perilaku Konsumtif Kriteria M + 1,8 S M + 0,6 S s/d < M + 1,8 S M 0,6 S s/d < M + 0,6 S M 1,8 S s/d < M 0,6 S < M 1,8 S M : mean S : standar deviasi Norma skala diperoleh dengan menggunakan mean ideal dan stardar deviasi ideal dengan rumus sebagai berikut: Kategori Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah

40

( jav.nt) ( jav.nr) 2 Mean Ideal = ( jav.nt) ( jav.nr) 6 Standar Deviasi Ideal =


Keterangan: jav = jumlah aitem yang valid nt = nilai tertinggi dari aitem nr = nilai terendah dari aitem

a.

Variabel Religiositas Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkapkan religiositas yaitu

sebanyak 53 aitem dengan skala likert yang memiliki rentang nilai dari 1 sampai 4. Mean ideal skala religiositas = 132,5 dan standar deviasi ideal = 26,5. Gambaran kategorisasi religiositas berdasarkan mean dan standar deviasi skala ukur dapat dilihat pada tabel 12 berikut: Tabel 12. Kategorisasi Skala Religiositas Variabel Religiositas Rentang Nilai 180,2 148,4 x < 180,2 116,6 x < 148,4 84,8 x < 116,6 < 84,8 Kategori Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Frekuensi 2 23 5 0 0 Persentase 7% 77% 17% 0% 0%

41

Berdasarkan tabel 12 diketahui bahwa jumlah responden yang tergolong dalam kategori religiositas sangat tinggi sebanyak 2 orang (7%), responden yang tergolong ke dalam kategori religiositas tinggi sebanyak 5 orang (77%), dan responden yang tergolong dalam kategori religiositas sedang sebanyak 5 orang (17%). Berdasarkan gambaran tersebut, maka dapat diketahui bahwa rata-rata skor religiositas responden terletak pada kategori tinggi. b. Variabel Perilaku Konsumtif Jumlah aitem yang digunakan untuk mengungkapkan perilaku konsumtif yaitu sebanyak 30 aitem dengan skala likert yang memiliki rentang nilai dari 1 sampai 4. Mean ideal skala perilaku konsumtif = 75 dan standar deviasi ideal = 15. Gambaran kategorisasi perilaku konsumtif berdasarkan mean dan standar deviasi skala ukur dapat dilihat pada tabel 12 berikut: Tabel 13. Kategorisasi Skala Perilaku Konsumtif Variabel Perilaku Konsumtif Rentang Nilai 102 84 x < 100,2 66 x < 84 48 x < 66 < 48 Kategori Sangat tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat Rendah Frekuensi 0 1 20 8 1 Persentase 0% 3% 67% 27% 3%

Berdasarkan tabel 13, dapat diketahui bahwa tidak terdapat responden yang tergolong ke dalam kategori perilaku konsumtif sangat tinggi,

42

responden yang tergolong ke dalam kategori perilaku konsumtif tinggi sebanyak 1 orang (3%), responden yang tergolong dalam kategori perilaku konsumtif sedang sebanyak 20 orang (67%), responden yang tergolong dalam kategori perilaku konsumtif rendah sebanyak 8 orang (27%), sedangkan sisanya sebanyak 1 orang (3%) berada pada kategori sangat rendah. Berdasarkan gambaran tersebut dapat diketahui rata-rata skor perilaku konsumtif dari responden penelitian ini terletak pada kategori sedang.

C.

Pembahasan Berdasar hasil penelitian dengan menggunakan uji korelasi Spearman pada bab

sebelumnya menunjukkan nilai p > 0,05, yaitu nilai p-value sebesar 0,9403. Hal ini menandakan H0 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa tidak ada hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X. Hal ini tidak sejalan dengan hipotesis awal peneliti yang mana terdapat hubungan negatif antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X. Dari hasil analisis data responden penelitian, diketahui bahwa distribusi sampel dalam penelitian ini tidak normal dan cenderung bersifat homogen. Hal ini terlihat dari distribusi kategori tingkat religiositas subyek penelitian sebanyak 77% berada di kategori tinggi, dan distribusi

43

subyek penelitian sebanyak 67% berada pada tingkat perilaku konsumtif sedang. Distribusi sampel turut mempengaruhi hasil dari penelitian ini. Sampel yang digunakan dalam penelitian berada dalam tahap perkembangan remaja akhir. Menurut Jalaludin (1996), corak keagamaan para remaja ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan remaja tersebut,timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Hasil penyelidikan Ernest Harms (dalam Jalaludin, 1996) terhadap remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan : keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri dan masalah kesenjangan pribadi lainnya, sedangkan masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,6%, serta 5% pada masalah sosial. Adanya konflik dalam perkembangan religiositas remaja akhir ini diperkuat dengan pendapat Fowler (dalam Susilo, 2006) yang menjelaskan bahwa remaja akhir berada pada tahap ketiga yaitu tahap kepercayaan sintetis-konvensional (synthetic-conventional faith). Menurut Fowler (dalam Susilo, 2006), remaja pada tahap ini memandang dunia dari sudut interpersonal, sehingga Tuhan dapat menjadi sahabat dan teman yang dapat mereka hubungi. Tahap ini disebut sintetis konvensional karena individu memiliki tugas pokok yaitu menciptakan sintetis identitas berdasarkan berbagai arti yang pernah dialami dalam hidup, dalam usaha menciptakan sintesis identitas ini sifatnya konformitis atau serupa dengan pandangan dan pengertian orang lain. Walaupun hubungan remaja dengan Tuhan lebih personal, tetapi terkadang remaja mengalami keraguan dan minat mereka akan hal religius semakin berkurang. Hal ini terjadi

44

karena sesuai tahapan perkembangan remaja mempunyai kecenderungan untuk mencoba sesuatu yang baru dan menghadapi berbagai permasalahan. Hurlock (dalam Susilo, 2006) menyebutkan remaja akan menghadapi tiga perioder perubahan minat religius: periode kesadaran religius, periode keraguan religius dan periode rekonstruksi agama. Menurut Hurlock (dalam Susilo, 2006), masa yang paling kritis bagi remaja yakni ketika memasuki periode keraguan religius karena pada tahap ini remaja mulai mempertanyakan keyakinannya sejak kanakkanak. Jalaludin (1996) sependapat dengan hal tersebut mengungkap bahwa ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Mengacu pada tahapan perkembangan religiositas yang dilalui remaja, maka besar kemungkinan partisipan dalam penelitian ini tengah mengalami tahapan serupa yang menyebabkan walaupun mayoritas tingkat religiositas berada pada kategori tinggi, tingkat perilaku konsumtifnya tidak berada di tingkat rendah, melainkan mayoritas di tingkat sedang. Hal ini kemungkinan karena masih adanya konflik dan perubahan minat religius yang tidak terukur dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini juga kemungkinan besar berbeda tergantung pada sampel yang dipilih berasal dari tahap perkembangannya. Dari hasil penelitian diketahui tidak terdapat hubungan yang signifikan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif pada mahasiswa Universitas X tersebut. Menurut Mangkunegara (2002), sikap dan keyakinan saling mempengaruhi individu dalam menentukan suatu produk, merek, dan pelayanan. Namun demikian

45

terdapat banyak faktor lain yang turut mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk berperilaku konsumtif. Menurut Stanton (dalam Mangkunegara, 2002), faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen terdiri dari 2, yaitu : kekuatan sosial budaya dan kekuatan psikologis. Kekuatan sosial budaya terdiri dari faktor budaya, kelas sosial, kelompok anutan, dan keluarga. Sedangkan kekuatan psikologis terdiri dari pengalaman belajar, kepribadian, sikap dan keyakinan, gambaran diri. Setiadi (2010) menambahkan faktor usia, pekerjaan, gaya hidup, motivasi dan persepsi individu turut mempengaruhi kecenderungan konsumen untuk berperilaku konsumtif. Sebuah penelitian yang dilaksanakan oleh Mahardini (2010) berjudul Hubungan Antara Sikap, Norma Subjektif, Dan Kontrol Perilaku Dengan Intensitas Perilaku Konsumtif Handphone Pada Remaja Awal menunjukkan bahwa masingmasing variabel sikap, kendali perilaku dan norma subjektif secara bersamaan berpengaruh terhadap intensi pembelian handphone. Kontrol perilaku dalam penelitian ini memiliki pengaruh signifikan dengan tingkat perilaku konsumtif partisipan. Kontrol perilaku memiliki kaitan yang cukup erat dengan dimensi religiositas, yang mana kontrol diri terdiri dari dua aspek yakni keyakinan kontrol dan kekuatan keyakinan kontrol. Dalam aspek keyakinan kontrol merupakan keyakinan akan hadirnya faktor-faktor yang dapat memudahkan atau menyulitkan penampilan perilaku tertentu (Azjen, dalam Mahardini, 2010). Dalam melakukan suatu perilaku, seseorang dapat menggunakan keyakinan yang dimiliki lebih dari satu keyakinan religius. Setiap keyakinan saling mempengaruhi satu sama lain (Wijayanti,dalam Mahardini, 2010). Mengacu hal tersebut, terdapat kelemahan dalam penelitian ini

46

yang mana tidak memasukkan variabel kontrol perilaku sebagai variabel perantara yang menghubungkan antara religiositas dengan perilaku konsumtif. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan seorang individu dalam berperilaku konsumtif sangat beragam terutama di kalangan remaja. Salah satunya yang juga berperan adalah faktor konformitas. Melalui penelitian Hotpascaman (2010), terdapat hubungan antara perilaku konsumtif dengan konformitas yang didasarkan pada pengaruh normatif dan informasional pada 73 orang remaja. Penelitian-penelitian di atas membuktikan banyaknya faktor lain yang lebih dekat dengan intensi remaja berperilaku konsumtif dibandingkan faktor religiositas dengan perilaku konsumtif sehingga diperlukan beberapa variabel perantara dalam penelitian berikutnya.

47

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa data yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan yaitu: 1. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif mahasiswa Kristen dan Katolik Angkatan 2011 Universitas X. H0 diterima dengan p-value sebesar 0.9403. 2. Mayoritas partisipan dalam penelitian ini memiliki tingkat religiositas dengan kategori tinggi sebanyak 77% dan sebanyak 67% partisipan penelitian berada pada tingkat perilaku konsumtif sedang. 3. Mayoritas partisipan penelitian menganut agama Kristen Protestan (73%) dan berjenis kelamin perempuan (60%). B. Saran 1. Saran bagi penelitian selanjutnya : a. Melihat lemahnya skala ukur penelitian (terutama untuk perilaku konsumtif) yang terlihat dari kurangnya jumlah aitem yang layak pakai, maka dianjurkan untuk penelitian selanjutnya dapat memperbaiki alat ukur tersebut, ataupun penggunaan kajian teori yang lebih baru. b. Pada penelitian selanjutnya diharapakan untuk mempertimbangkan pemilihan sampel subyek yang hendak diteliti berdasarkan usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, agama yang tidak terlalu homogen, memperbanyak

48

jumlah subyek yang hendak diteliti, sehingga variasi jawaban subyek dapat mempertinggi reliabilitas skala yang dipergunakan. c. Pada penelitian selanjutnya, diharapkan untuk menambahkan variabel perantara seperti kontrol perilaku yang erat kaitannya dengan religiositas dan perilaku konsumtif. d. Mengacu pada sumbangan efektif dari hasil penelitian di mana tidak ada hubungan antara religiositas dengan tingkat perilaku konsumtif remaja akhir, maka bagi para peneliti selanjutnya yang hendak meneliti tingkat perilaku konsumtif remaja, disarankan untuk meneliti faktor lain yang dapat mempengaruhi perilaku konsumtif seperti konformitas. 2. Saran bagi remaja : Mengingat dampak buruk dari perilaku konsumtif dan banyaknya faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi remaja dalam berperilaku konsumtif, diharapkan munculnya kesadaran remaja untuk mengendalikan perilaku tersebut agar tidak menimbulkan akibat yang merugikan baik diri sendiri dan orang lain. 3. Saran bagi orang tua/pendidik: Remaja dalam tahapan perkembangannya membutuhkan banyak panduan dan bimbingan agar tidak terjerumus dalam pola perilaku konsumtif. Dalam hal ini, peran orang tua dan pendidik menjadi pilar utama sebagai pengendali dan panutan bagi para remaja.

49

DAFTAR PUSTAKA

Alfitri. (2011). Hindari Budaya Konsumtif. Diakses 14 Agustus 2011, diunduh dari <http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=8207> Crapps, R.W. (1993). Dialog psikologi dan agama.Yogyakarta : Yayasan Kanisius Dariyo. (2004). Psikologi Perkembangan Remaja. Bogor: Ghalia Indonesia Dister. (1993). Psikologi Agama. Yogyakarta: Kanisius Gea, A.A, Rachmat, N, & Wulandari, A.P.Y. (2004). Relasi dengan Tuhan. Jakarta : Elex Media Komputindo Gunarsa. (1985). Psikologi Remaja. Jakarta :BPK Gunung Mulia Hadi, S. (2004). Metodologi Research (Jilid 1). Yogyakarta : Andi Hardjana, A.M. (2005). Religiositas, Agama & Spiritualitas. Yogyakarta: Kanisius Hotpascaman. (2010). Hubungan Antara Perilaku Konsumtif Dengan Konformitas Pada Remaja. Skripsi Sarjana Strata 1. Diakses tanggal 7 Agustus 2011, diunduh dari <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14510/1/10E00397.pdf> Jalaludin. (1996). Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada Mahardini, Y.D. (2010). Hubungan Antara Sikap, Norma Subjektif, Dan Kontrol Perilaku Dengan Intensitas Perilaku Konsumtif Handphone Pada Remaja Awal. Skripsi Sarjana Strata 1. Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Mangkunegara, A.P. (2002). Perilaku Konsumen Edisi Revisi. Bandung: Refika Aditama Parma, S.A. (2007). Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Perilaku Konsumtif Remaja Putri Dalam Pembelian Kosmetik Melalui Katalog Di SMA Negeri 1 Semarang. Skripsi Sarjana Strata 1. Diakses tanggal 7 Agustus 2011, diunduh dari <http://eprints.undip.ac.id/10358/1/intisari.pdf> Reitsma, J., et al. (2006). Convergent And Discriminant Validity Of Religiousity Measures Among Church Member And Non Member. Diakses 10 September 2011, diunduh dari <www.jacquesjanssen.nl/wp-

content/uploads/2009/01/convergentanddiscriminant.pdf>

50

Tambunan, R. (2001). Remaja Dan Perilaku Konsumtif. Diakses 7 Agustus 2011, diunduh dari <http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/psikologi/psi3.htm> Salay, D. (2005). Hubungan Citra Tubuh Media Massa dan Harga Diri Dengan Perilaku Konsumtif Produk Kecantikan dan Fashion Pada Remaja Putri di Surabaya. Skripsi Sarjana Strata 1 (tidak diterbitkan). Surabaya: Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Santoso, G. (2005). Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Prestasi Pustaka Santrock, J.W. (2002). Life Span Development Jilid 2. Jakarta:Erlangga Sari, T.Y. (2009). Hubungan Antara Perilaku Konsumtif Dengan Body Image Pada Remaja Putri. Skripsi Sarjana Strata 1. Medan: Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Diakses 14 Agustus 2011, diunduh dari

<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14524/1/09E02809.pdf> Setiadi, N.J. (2010). Perilaku Konsumen : Perspektif Kontemporer Pada Motif, Tujuan, Dan Keinginan Konsumen. Jakarta: Kencana Simamora, B. (2004). Panduan Riset Perilaku Konsumen. Jakarta : Gramedia Susilo,J.D. (2006, April). Perkembangan Religiositas Remaja Akhir. Insan, hal. 1228. Diakses 19 November 2011, dari

<http://www.journal.unair.ac.id/filerPDF/02%20%20Perkembangan%20Religiositas%20Remaja%20Akhir.pdf> Widiantoro, R. (2008). Budaya konsumtif merupakan symbol modernitas dan instant. Diakses 14 Agustus 2011, diunduh dari

<http://www.swaberita.com/2008/06/22/gaya-hidup/budaya-konsumtifmerupakan-simbol-modernitas-dan-instant.html> Widiyanta, A. (2002). Sikap Terhadap Lingkungan Alam (Tinjauan Islam Dalam Menyelesaikan Masalah Lingkungan). Diakses 14 Agustus 2011, diunduh dari < http://library.usu.ac.id/download/fk/psiko-ari.pdf>