Anda di halaman 1dari 29

1. Tuliskan Hadits Mengenai pendidikan dan coba tafsirkan beberapa pendapat?

Jawaban :
Hadits- Hadits Tentang Pendidikan
a) Ilmu agama dan Al-Quran



:

Artinya:Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah SAW meletakkan tanggannya pada
punggung Ibnu Abbas atau pundaknya, perawi Hadis ini, Said ragu- kemudian
Rasulullah SAW berdoa: Ya Allah berikanlah kepadanya pemahaman yang
mendalam tentang agama dan ajarilah dia takwil (al-Quran). (Ahmad ibn Hanbal
Abu Abdullah al-Syiyabaani, tt: 266).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah SAW wafat, sedang usia Ibnu
Abbas memasuki 10 (sepuluh) tahun dan dia telah mempelajari ayat-ayat muhkam.
Ibnu Abbas telah mengatakan pula kepada Said bin Jubair (muridnya): aku telah
menghimpun semua ayat-ayat muhkam pada masa Rasulullah SAW. Said bertanya
kepadanya: Apakah ayat-ayat muhkam itu? Ibnu Abbas menjawab: Surat-surat
yang mufashal (yang pendek-pendek).
Ibnu Katsir ra telah mengatakan bahwa dengan interpretasi apapun makna
hadis ini menunjukkan kebolehan mengajari anak-anak untuk membaca al-Quran
meskipun dalam usia dini, bahkan adakalanya disunnahkan atau diwajibkan. (Jamaal
Abdur Rahman, 2005:392)
Selain itu al-Quran sendiri merupakan materi pertama yang harus diajarkan
kepada siswa. Rasulullah SAW telah bersabda:




Artinya:Telah menceritakan kepada kami hujjaj ibn Minhaal telah menceritakan
syubah ia berkata Alqamah ibn mursyid telah mengkhabarkan kepadaku saya
mendengar Said ibn Ubaidah dari ayah Abdurrahman al-silmy dari Usman ra Nabi
SAW telah bersabda: Yang paling baik di antara kamu adalah orang yang
mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. (Muhammad bin Ismail Abu Abdillah
al-Bukhari,1987:1919)
b) Shalat
Rasulullah SAW telah bersabda:

:


Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muammal ibn Hisyam yaitu al-Yasykariy
telah bercerita Ismail dari Sawwar Abi Hamzah telah berkata Abu Dawud dan dia
Sawwar ibn Daud Abu Hamzah al-Mazni as-Shirafi dari Umar ibn Syuaib dari
ayahnya dari neneknya telah berkata: Bersabda rasulullah SAW Suruhlah anak-
anakmu melaksanakan shalat ketika berumur 7 (tujuh) tahun, dan pukullah mereka
jika tidak mau melaksanakan shalat, dan pisahkan tempat tidur mereka (putra dan
putri). (H.R. Abu Dawud).
Hadis ini tergolong syarif marfu dan diriwayatkan melalui sanad perawi
dengan kualitas sahih yang diriwayatkan melalui perawi-perawi sebagai berikut:
Muammal bin Hisyam yaitu al-Yasykariy adalah periwayat yang tsiqah, Ismail
adalah periwayat yang tergolong tsiqah hafidh, Sawwar ibn Daud Abu Hamzah adalah
periwayat yang tergolong shuduq lahu auham, Umar ibn Syuaib periwayat yang
tergolong shuduq, ayahnya adalah periwayat yang memiliki tingkat shuduq, adapun
neneknya adalah dari kalangan sahabat yang tidak lagi diragukan kualitasnya.
Hadis ini menegaskan bahwa, ketika seorang anak menginjak usia 10 tahun
maka instink yang dimilikinya sedang menuju ke arah perkembangan dan ingin
membuktikan eksistensi dirinya. Oleh karena itu, ia harus diperlakukan secara hati-
hati dengan menyangkal semua penyebab kerusakan dan arah penyimpangan. Caranya
antara lain dengan memisahkan tempat tidur mereka (putra dan putri). (Jamaal Abd
al-Rahman, 2005: 263)
Hal ini sejalan dengan teori yang diungkapkan Mahmud Junus bahwasanya
aspek rohani termasuk dimensi yang harus dijadikan sebagai isi kurikulum dalam
pendidikan melalui perintah shalat pada usia 7 (tujuh) tahun dan juga bersinggungan
dengan dasar psikologis yang ditawarkan al-Syaibani sebagai dasar pokok dalam
kurikulum pendidikan Islam
c) Kesenian
Suatu hari Khalifah Abu Bakar telah menghardik puterinya, Aisyah, ketika ia
menyaksikan dua orang hamba sahaya menyanyi di rumah Rasulullah SAW, maka
Rasulullah SAW bersabda:


:

(


Berdasarkan Hadis di atas kita dapat mengetahui bahwa, kurikulum
pendidikan Islam tidak mengabaikan perkembangan bakat seni dan pertumbuhan rasa
keindahan. Malah sebaliknya ia sangat menaruh perhatian kepada kesenian dan
memberinya peluang kajian serta pengalaman yang dapat menolong
perkembangannya. Di samping kajian-kajian kesusasteraan, peluang-peluang untuk
menghafal dan menikmati puisi serta prosa yang baik, pendidikan Islam memberi
tempat yang luas pada kajian-kajian dan pengalaman-pengalaman yang cukup pada
sebagian corak dan bidang seni rupa yang tidak menganggu akidah.
Kalau bukan karena perhatian pendidikan Islam dan kurikulum kesusasteraan
dan seni, tentulah kita tidak mendapati peninggalan sastra dan kesenian yang
ditinggalkan oleh ulama-ulama, sastrawan-sastrawan, dan seniman-seniman kita
terdahulu; yang mengandrungi syair-syair, prosa-prosa gambar-gambar bukan benda
hidup, ukiran-ukiran, perhiasan-perhiasan, ukiran-ukiran pada kayu, tembaga, tulisan-
tulisan al-Quran, dan permulaan-permulaan surah al-Quran yang sangat indah. Begitu
juga bentuk-bentuk kesenian, dan kajian dan penyelidikan-penyelidikan musik yang
paling sempurna. Tanpa perhatian itu kita tidak akan mendapati ahli seniman-seniman
Muslim terkenal yang mashur pada segala bidang sastra, seni dan musik.
d) Militer, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
Pada masa Madinah, Nabi SAW telah memasukkan materi kesehatan dan
kekuatan jasmani dalam kurikulum pendidikannya. Secara praktis (amaliah) shalat,
wudhu, mandi, puasa dan haji telah mengandung pendidikan kesehatan dan kekuatan
fisik. Selain itu Nabi juga mengajarkan agar makan dan minum secara sederhana,
tidak berlebihan. Nabi pun mengajak mempelajari cara berperang. Tentu saja tujuan
utamanya untuk persiapan pembelaan diri. Beliau bersabda:






Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaybah ibn Said, telah bercerita
Hatim dari yazid bin Abi Ubaid dari salamah, telah menceritakan kepada kami
samah ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersua dengan sekelompok orang
dari Bani Aslam yang sedang berlomba memanah, maka beliau SAW bersabda:
Memanahlah kalian, hai bani Ismail, sebab nenek moyangmu dahulu (Ibrahim As)
adalah seorang pemanah.Panahlah dan saya bersama bani fulan. Maka salah satu
kelompok berhenti. Rasul bersabda: kenapa kamu tidak memanah, maka mereka
berkata: wahai Rasulullah SAW kami memamah tapi kamu memihak kepada mereka,
Rasul pun bersabda: Panahlah dan saya bersama kalian semuanya (Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, 1987: Kitab Jihad No. 2684)
Berikut juga sebuah anjuran untuk memanfaatkan waktu luang anak dalam
bentuk kegiatan yang berguna. Anak sebaiknya dianjurkan pula untuk melakukan
perlombaan olah raga lainnya, seperti berlari, menunggang kuda dan berenang. Semua
itu dapat menumbuhkan keberanian dan kehandalan dalam jiwa anak-anak sekaligus
menghilangkan sifat pengecut. Sebagaimana Sabdanya:

:
[ ] .

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibn Yunus berbicara kepada
kami Ibn Abi dzibi dari naafi ibn Abi Naafi dari Abi Hurairah ra berkata:
Rasulullah SAW telah bersabda: Tidak ada keunggulan kecuali dalam menunggang
hewan.(Sulaiman ibn al-Asyas Abu Daud as-syajastani al-Ajdi, Kitab Jihad no. 2210)
Memang sejarah telah mencatat peperangan sangat banyak terjadi di zaman
pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab (13/634/23/644), dalam rangka ekspansi
Islam. Untuk persiapan ini, maka beliau mengirimkan surat kepada para gubernur
yang memerintahkan para orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka
keterampilan berenang, kepandaian menunggang kuda, dan belajar melempar panah.
(Abu al-Abbas Muhammad ibn Yaziz al-Mubarrid, tt:180)
Dengan keterampilan berenang dimaksudkan agar anak-anak Muslim bisa
menjadi marinir-marinir yang handal. Begitu juga dengan kecakapan menunggang
kuda agar anak-anak Muslim bisa menjadi pasukan infantri yang tangguh, dan dengan
keterampilan melempar panah dimaksudkan agar mereka bisa menguasai peluru
kendali. (Abd. Mukti, 2008:91). Semua hal ini ternyata sangat diperlukan untuk
menjalankan alat peperangan di samping pendidikan jasmani, sebagaimana dikatakan
Sulaiman Rasyid. Menurutnya, perintah menembak dengan panah (al-ramy) dalam
Hadis tersebut di atas sangat berguna bagi gerak badan atau pendidikan jasmani.
Pengajaran memanah dan menunggang kuda menjelaskan bahwa Rasulullah
SAW memasukkan aspek jasmani sebagai satu aspek yang dibina dalam kurikulum
pendidikan. Pengajaran ini mempunyai faedah yang besar dalam menciptakan
kesehatan mental dan memberi ruang untuk melampiaskan motivasi-motivasi serta
keinginan-keinginannya, menciptakan kesehatan jasmani, keserasian, kekuatan dan
pertumbuhan yang sesuai, serta mempersiapkan diri untuk menanggung kehidupan
dan berjuang pada jalan Allah SWT.
Oleh sebab itu Islam mengajak untuk memiliki kekuatan yang halal dan
menganggap orang mukmin yang kuat jasmani, rohani atau akal dan semangatnya,
lebih dicintai Allah SWT dan lebih mulia dari pada orang mukmin yang lemah. Juga
Islam mengajak untuk membela diri dan kehormatan dan mengajak untuk menghadapi
musuh dan menghalanginya jika mereka mulai mengancam.
Di antara pendidik Islam yang menyanjung-nyanjung kepentingan pendidikan
jasmani bagi kanak-kanak pada waktu kosong mereka adalah Imam al-Ghazali yang
berkata dalam bab yang berjudul: Latihan Jiwa dan Pendidikan Akhlak dalam jilid
ke 3 pada kitabnya Ihya Ulumuddin
e) Keterampilan
Rasulullah SAW bersabda:



Artinya: Sesungguhnya Allah suka jika seseorang mengerjakan sesuatu pekerjaan
bahwa membuatnya dengan baik (professional).
Pendidikan Islam juga menaruh perhatian pada ilmu teknik, praktis dan pada
latihan-latihan kejuruan dan pertukangan. Perhatiannya tidak hanya terbatas pada
ilmu-ilmu dan kajian-kajian teoritis yang diperoleh melalui pengajaran dan kajian
teoritis pada cara-cara dan sumber-sumber tertulis yang banyak mengunakan
pemikiran abstrak. Pendidikan Islam tetap mementingkan ilmu-ilmu praktis di mana
pelajar menggunakan akal, tangan dan jari-jarinya. Ia bersentuhan dengan benda-
benda kasar selama mengkaji dan melatih diri, yang akhirnya menyiapkan untuk
mengembangkan keterampilan tangan (manual dexterity) dan menciptakan produksi
yang baik.
Ibnu Sina, dalam salah satu kitabnya berkata: kalau kanak-kanak sudah siap
mempelajari al-Quran dan telah menghafal prinsip-prinsip bahasa, maka pada waktu
itu hendaklah ditinjau akan ke manakah anak itu dijuruskan dalam segi pekerjaan.
Kalau ia mau menjadi penulis maka hendaklah ditambahkan untuknya pelajaran
bahasa Arab, berupa pelajaran persuratan (rasail) pidato (khutbah), perdebatan
(muhawarah), dan lain-lain, kemudian diajar hitungan syair-syair dan tulisan halus.
Kalau ia ingin yang lain maka ia harus memperbanyak pelajaran pada bidang itu.
(Omar Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979: 508)
f) Bahasa, filsafat, astronomi, matematika dan kedokteran
Hadis Nabi SAW menggunakan perkataan adalah untuk
menggungkapkan Bahasa Suryani. AJ. Wensinck di dalam kitabnya yang berjudul: al-
Mujam al-Mufahras li Al-fadz al-Hadis al-Nabawi, mencatat bahwa, perkataan al-
suryaniyyat tersebut dijumpai dalam beberapa kitab Hadis, salah satu diantaranya
adalah kitab : al-Jami al-Sahih, Jilid 1, bab Fi Talum al-Suryaniyyat karya al-
Tirmidzi, sebagai berikut:


:





:


Artinya: Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkan
kepadaku untuk mempelajari bahasa Ibrani guna menterjemahkan surat orang-orang
Yahudi. Zaid berkata dengan nada semangat:Demi Allah, sesungguhnya akan
kubuktikan kepada orang-orang Yahudi bahwa aku mampu menguasai bahasa
mereka. Zaid melanjutkan: setengah bulan berikutnya aku mempelajarinya untuk
Nabi SAW dengan tekun dan setelah aku menguasainya, maka aku menjadi juru tulis
Nabi SAW apabila beliau berkirim surat kepada mereka, akulah yang menuliskannya;
dan apabila beliau menerima surat dari mereka, akulah yang membacakan dan yang
menerjemahkannya untuk Nabi SAW. Berkata Abu Isa Hadis ini hasan shahih.

Menurut riwayat lain, bahwa Zayd ibn Tsabit, ia berkata: Rasulullah SAW
telah menyuruh aku belajar bahasa Suryani. Berkata Syekh al-Bani Hadis ini Hasan
Shahih. (Abi Isa Muhammad ibn Isa ibn Saurat al-Tirmizy, tt: 67)
Dalam Hadis ini Nabi SAW menganjurkan Zaid ibn Tsabit untuk mempelajari
bahasa Suryani. Muncul sebuah pertanyaan, kenapa Nabi SAW menganjurkan sahabat
dan sekretaris beliau tersebut mempelajari bahasa Suryani? Dari sejarah peradaban
dapat diketahui bahwa, banyak ilmu-ilmu yunani telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Suryani, misalnya filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, dan lain-lain.
Ini berarti bahwa, Nabi SAW menganjurkan umat Islam mempelajari filsafat,
astronomi, matematika dan kedokteran yang terdapat dalam bahasa Suryani tersebut.
(Abd. Mukti, 2008: 91)
Sehubungan dengan ini, Imam Syafii mengatakan barangsiapa yang
mempelajari matematika, maka pendapatnya akan kukuh ( ).
(Al-Mawardi, tt: 45-46). Oleh karena itu matematika sangat diperlukan dalam
memahami ilmu faraidh. Imam Ghazali (w. 505/1111) mengatakan bahwa
pengetahuan seseorang yang tidak pernah belajar logika -salah satu cabang filsafat-
adalah tidak bisa diandalkan. (Nurchalis Madjid, 1985: 47)
Perintah (Khithab) Nabi kepada Zaid ibn Tsabit itu berlaku juga bagi semua
umat Islam hingga akhir zaman. Banyak pakar Hadis yang telah memberikan
penilaian atau kritik terhadap kualitas Hadis yang diriwayatkan al-Tirmizi ini. Salah
seorang di antaranya adalah Syekh al-Bani. Menurutnya, kualitas Hadis ini adalah
Hasan Sahih. Maka hadis ini dapat dijadikan dalil bahwa mempelajari ilmu-ilmu
aqliyah dianjurkan dalam Islam. Konsekwensinya, pro dan kontra tentang pentingnya
ilmu-ilmu aqliyah dalam Islam dapat dikurangi.
Ini menunjukkan bahwa, kurikulum pendidikan Islam juga menaruh perhatian
pada pengajaran bahasa asing. Karena bahasa-bahasa itu merupakan alat komunikasi
dengan dunia luar, sarana mempelajari kebudayaan, ilmu-ilmu pengetahuan, hikmah-
hikmahnya yang bermanfaat dan juga merupakan faktor yang menolong kerjasama
antar bangsa.
Oleh sebab itu, kaum muslimin dahulu tidak segan-segan mempelajari bahasa
asing. Kebutuhan kepada bahasa semakin bertambah ketika dunia Islam semakin luas,
dan banyak bangsa-bangsa yang mempunyai bahasa-bahasa, ilmu pengetahuan, dan
kebudayaan asli memasuki agama Islam yang bahasanya perlu diterjemahkan ke
dalam bahasa Arab. Begitu juga kebutuhan terhadap bahasa asing ini bertambah besar
ketika kehidupan di dunia Islam bertambah kompleks dan fungsi negara semakin
banyak, keadaaan ekonomi, sosial dan kebudayaan bertambah baik. Sehingga
kebutuhan menterjemahkan apa yang ditulis pada kebudayaan-kebudayaan lain
termasuk ilmu pengetahuan, surat menyurat, dan falsafah yang berguna untuk
memberi kemaslahatan kepada masyarakat Islam dan kebudayaan Islam. (Omar
Muhammad al-Toumy al-Syaibani, 1979 :511)
Kisah Zaid bin Tsabit ini menunjukkan bahwa, di universitas Islam pertama
yang didirikan oleh Nabi Muhammad SAW, hanya membutuhkan waktu 16 hari bagi
Zaid untuk mampu menguasai bahasa Suryani dengan predikat cumlaud berbanding
16 tahun waktu yang dihabiskan oleh seorang pelajar masa sekarang dengan
perhitungan mulai dari tingkat ibtidaiyah sampai selesai jenjang perguruan tinggi.
g) Teknik
:
Artinya: Dari Anas ibn Malik berkata ia : Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina
sekalipun. Sesungguhnya menuntut ilmu itu diwajibkan atas tiap-tiap Muslim. (Abu
Bakar Ahmad ibn al-Husayn Al-Bayhaqi, 1990:234-235)
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa, bangsa Cina telah mengembangkan
teknik pembuatan kertas, pembuatan mesiu, pembuatan jam dan pembuatan kompas.
Ini berarti bahwa, perintah Nabi SAW kepada umat Islam untuk belajar ke negeri
Cina mencakup mempelajari semua pengetahuan Cina tersebut. Penggunaan kertas
dalam kehidupan ilmiah dewasa ini tak bisa dihindari. Kertas diperlukan umat Islam
untuk menulis al-Quran, kitab-kitab, Hadis, buku-buku agama, dan buku-buku ilmiah
lainnya. Begitu juga mesiu diperlukan umat Islam untuk mempertahankan diri dari
serangan musuh-musuh mereka. Sementara jam dapat membantu umat Islam
mengetahui waktu shalat dan waktu berbuka puasa serta imsak. Di samping itu juga
tidak kalah pentingnya kegunaan kompas yakni dapat membantu umat Islam dalam
menentukan arah kiblat.
Namun karena isnad Hadis Malik ibn Anas ini sangat lemah menurut para
kritikus Hadis, maka Hadis Malik ibn Anas ini hanya bisa dijadikan pendorong (al-
targhib) untuk mempelajari semua pengetahuan teknik tersebut. Analoginya, umat
Islam dewasa ini pun harus mengadopsi ilmu pengetahuan dan teknoloogi (IPTEK)
sebagaimana dikenal di Barat.
Dalam Sejarah Pendidikan Islam diketahui bahwa umat Islam pernah
membenci ilmu pengetahuan umum sejak abad pertengahan (1250-1800) karena
alasan politik semata-mata dan bukan alasan syari. Ada dua penyebab utama, yaitu:
Pertama, untuk memelihara kemurnian akidah umat Islam. Karena ilmu-ilmu tersebut
pernah dicurigai dan karenanya menjadi pemicu terjadinya antagonisme antar
golongan keagamaan dalam bidang agama dan politik, dan Kedua, terjadinya
kolonialisme Barat ke dunia Islam. Maka untuk membangkikan perlawanan rakyat
terhadap kaum kolonial para ulama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan ilmu-
ilmu pengetahuan umum yang di bawa kaum kolonial ke seluruh dunia Islam yang
mereka jajah.
h) Astronomi
Rasulullah SAW bersabda:










Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya bab Fadhail al-
Shababah dengan memenuhi kelima syarat Hadis sahih, Hadis ini tergolong Hadis
shahih marfu. Ditinjau dari sisi sanad yang berjumlah sembilan orang, maka Hadis di
atas dapat dikategorikan Hadis masyhur, dan tergolong maqbul, karena sanadnya
bersambung, diriwayatkan oleh periwayat yang adil lagi dabith, terhindar dari
kejanggalan (syuzuz), dan tidak ada illat yang mencacatkannya. (Nawir Yuslem,
2003:354-362)
Dengan kualitas yang demikian maka hadis ini dapat dijadikan hujjah. Redaksi hadis
yang diriwayatkan Muslim diriwayatkan juga oleh Al-Minawi dalam kitabnya Faidh
Al-Qdir dan juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya.
Kajian menarik dari bintang adalah urgensi beredarnya bintang dengan fungsinya
sebagai kompas oleh lembaga pendidikan kelautan, pengusaha travel, transportasi dan
perjalanan udara pada khususnya. Allah SWT menjelaskan dengan sumpahnya,
terutama karena jarak antara bintang-bintang mencapai jarak yang tidak dapat
digambarkan oleh khayalan. Seperti kita menemukan bintang terdekat yang terdapat
dalam galaksi kita adalah matahari yang berjarak beberapa tahun cahaya dari bumi
dimana kecepatan cahaya sama dengan 300.000 km per detik. (Kamil Abd al-Shamad
Muhammad, 2007: 47)
i) Geologi.





Artinya: Kami mendapat hadis dari Abu al-Yama, kami mendapathadis dari Syuaib
dari zuhri berkata: Saya mendapat hadis dari Thalhah bin Abdulah, bahwasanya
Abdurrahman bin Amr bin Sahl menceritakan kepadanya bahwa Said bin Zaid r.a
pernah berkata: Saya mendengar Rasululah SAW bersabda: barang siapa yang zalim
menyerobot sedikit saja tanah (milik orang lain) maka sesungguhnya ia akan
dikalungkan dengan tujuh lapis bumi
Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari kitab Badau
khalq, begitu pula dalam Shahih Muslim dalam Kitab al-Musaqah Hadis tersebut
secara umum melarang segala bentuk kezaliman dan khususnya pada penyerobotan
tanah orang lain tanpa mekanisme yang benar. Sebagai penjelasan Al-Quran pada
Surat Ibrahim /14 : 42 47.
Selain itu Hadis tersebut mengisyaratkan adanya tujuh lapis bumi. Untuk
memahami signifikasi isyarat kosmologis ini, tentang tujuh lapis bumi tersebut dapat
dijelaskan melalui bukti ilmiah kajian fisika tentang struktur bumi bagian dalam yaitu:
Centosphere (inti bumi), lapisan luar inti bumi, lapisan terbawah pita bumi, lapisan
tengah pita bumi, lapisan teratas pita bumi, lapisan bawah kerak bumi. Dalam Al-
Quran ditegaskan bahwa Allah SWT telah menciptakan tujuh lapis bumi
sebagaimana dalam QS. al-Mulk /67 : 3-4, kemudian oleh Allah jadikan gunung-
gunung di atur sebagai penyanggah kekuatan letak bumi QS. an-Naaziat/79: 32 serta
an-Naba /78: 7.
j) Botani




Artinya: Kami mendapatkan hadis dari Abu Nuaim kami mendapatkan hadis dari
Sufyan dari Abdil Malik dari Amru ibn Huraitsin dari Said bin Zaid r.a berkata.
Bersabda Rasulullah SAW: Cendawan itu sejenis manna dan airnya dapat mengobati
mata.(Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari, bab Tafsir al-Quran, No.
4118)
Diantara maksud Hadis ini adalah, cendawan itu termasuk anugerah Allah
SWT yang airnya dapat mengobati sakit mata. Cendawan dalam bahasa Arab disebut
kamah yaitu benjolan jamur akar yang tumbuh di bawah tanah melalui simbiosis
dengan akar tumbuhan tertentu. Cendawan tumbuh di bawah tanah sampai kedalaman
30 cm dan berkelompok, berbentuk bulat berangkai, lunak dan warnanya berangsur-
angsur dari putih, abu-abu, coklat dan hitam, aromanya bau. Cendawan ini tumbuh
pada komposisi antara pasir dalam, kerikil, dangkal dan batu.
k) Zoologi






Hadis ini memang tidak membicarakan tentang unta, namun lebih dekat
dengan pembahasan sedekah. Tetapi untuk menemukan pembicaraan unta melalui
hadis dengan menggunakan pendekatan maudhui berdasarkan kata unta itu sendiri,
maka hadis ini mewakili ilmu-ilmu kealaman, dimana pada diri unta menjadi misteri
dengan kemampuannya dapat bertahan hidup tanpa air. Misteri ini terjawab oleh para
ilmuwan Barat dengan penelitiannya bahwa lemak yang terdapat pada punuk unta
dapat memproduksi air. Mengenai unta ini Allah SWT berfirman dalam QS. al-
Ghaasyiyah /88 :17.
l) Fisika





Sebagaimana ilmu-ilmu kealaman lainnya, para ilmuwan menemukan atom ini
pada abad ke-20 dengan temuan bahwa atom terdiri dari dari zat radium dan uranium
serta lainnya yang terdiri dari ion-ion positif maupun negatif yang biasa disebut alpha
dan gamma. Menurut Shalahuddin, sebagaimana dikutip Muhammad Kamil Abd al-
shamad bahwa pada bulan januari 1929 dua ilmuwan Hahon dan Westersman di
Berlin, mampu membelah atom uranium menjadi dua bagian lagi yang lebih kecil dari
keduanya. (Muhammad Kamil Abd al-Shamad, 2007: 370.

2. ayat Al-Quran ,Zakat semula bentuksedekah,coba perjelas jakat ada berapa
bentuk tuliskan hadits nya dan terangkan penjelasan nya?
Jawaban :
zakat merupakan rukun Islam yang ketiga, hukumnya wajib bagi orang yang telah
memenuhi syarat-syarat. Dwajibkannya pada tahun ke-2 Hijriyah. Firman Allah :
Fb_@C0, P_1Bb Fb_Vb,, P_AHBb
Fb_AH;Bb, HBb
Artinya : Dan dirikanlah Shalat, tunaikan zakat, serta rukulah beserta orang-orang
yang ruku (berjamaah)
f CBb Fb_1b, Fb_1,
61Bb Fb_BC0, P_1Bb
Fb_Vb,, P_mBb 0
)1 ,; N, B_ @1 N,
,_
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh,
mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya.
Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak juga bersedih hati .
Zakat ada dua bagian, yaitu zakat fitrah dan zakat harta
a. ZAKAT FITRAH
Definisi Zakat fitrah
zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan setelah kita menyelesaikan shaum
rhamadlan. Zakat fitrah juga dipandng sebagai penyempurna ibadah shaum kita.
Zakat berasal dari bahasa Arab dengan kata dasarnya zakat yang mempunyai dua arti :
a) Menyucikan
b) menumbuhkan
Sedangkan yang dimaksud dengan zakat fitrah adalah mengeluarkan sebagian dari
makanan yang utama menurut ukuran yang ditentukan oleh agama, yang hukumnya wajib
atas tiap-tiap orang setelah mengerjakan puasa Rhamadalan sekali dalam setahun.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran surat At-taubah ayat 102:
b,, Fb_,@Bb 6_@
Fb_1 dA BJ1@ b,, B@
@ Bb 0 L_J @1 P f Bb
;_A /=;
Artinya: dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka
mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan
Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Zakat fitrah yang berarti pembersih diri, sesuai dengan namanya diwajibkan kepada
tiap-tiap umat Islam, laki-laki atau perempuan, besar atau kecil (termasuk juga bayi ) dan
yang merdeka. Dengan ketentuan bahwa mereka mempunyai kecukupan biaya diri dan
keluarganya pada malam dan siang hari raya itu.
Mengenai kapan waktunya mengeluarkan zakat fitrah, Dalam sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Muttafaqun Alaih yang berasal dari Ibnu Umar menyatakan :
Dari Ibnu Umar r.a dia berkata bahwasannya Rasulullah saw telah memerintahkan
untuk mengeluarkan zakat fitrah sebelum manusia keluar untuk pergi Shalat hari raya Iedul
fitri.( H.R. Mutaffak Alaih )
Dalam keterangan yang lain : Telah berkata Abdullah Ibnu Abbas r.a : Rasulullah
saw telah mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang bershaum dari kehilapan
dan perkataan kotor, dan untuk makanan orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum
salat Idul Fitri maka zakatnya itu diterima, dan siapa yang melaksanakannya setelah salat Idul
Fitri maka zakatnya itu akan diterima sebagai sedekah dari sedekah-sedekah biasa. ( H.R.
Abu Daud dan Ibnu Majah )
Berdasarkan keterangan di atas, waktu untuk mengeluarkan zakat fitrah adalah setelah
Shubuh sampai sebelum dilaksanakannya salat idul fitri.
Jadi berapakah zakat fitrah harus dikeluarkan ?
Adalah satu gantang Arab atau satu shaa untuk tiap-tiap jiwa. Atau kurang lebih 3,5
liter dengan ukuran negeri kita atau sama dengan 2,5 kilo gram dari bahan makanan biasa
mengenyangkan (makanan pokok bagi suatu negeri ).
Adapun orang-orang yang enggan mengeluarkan zakat mereka akan menanggung
dosa, Rasulullah menyatakan dengan sabdanya :
Dari Abu Hurairah r.a berkata : Telah bersabda Nabi Saw : tiada orang yang mempunyai
emas dan perak, yang tiada mengeluarkan zakatnya, melainkan bila terjadi kiamat maka
dibuatkan baginya beberapa bingkah besi dari neraka, dan dipanaskan dalam neraka,
kemudian bingkah-bingkah besi itu digosokkan pada kedua belah lambungnya, apabila api itu
telah dingin, dikembalikan pula panas pada waktu yang lamanya 50.000 tahun, hingga Allah
menghukum sekalian hambanya, maka dilihatnya jalannya ada yang ke surga ada pula yang
ke neraka (HR. Bukhari Muslim ).
Selanjutnya siapakah orang yang berhak menerima zakat itu ?
Hal itu di terangkan dalam Al-Quran Surat At-Ataubah ayat 60 :
Bf 6C)Bb bf1
N@Bb, CbBb, B@1
AABb, 6_1C , LBCBb
Bb, , V@P Bb Bb,
V@PBb F 1 . Bb N Bb, @1
@P=
Seseungguhya sedekah-sedekah ( zakat ) hanya orang-orang Fakir, miskin, Amil,
Muallaf, Budak-budak yang dijanjikan akan dimerdekakan, Ghorim, sabilillah, Musafir, yang
demikian adalah ketentuan dari Allah. Dan Allah maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (
At-taubah : 60 )
untuk mencapai keutamaan dalam membayarkan zakat, maka berikanlah lebih dahulu
kepada fakir miskin diantara keluarga yang dekat, kemudian fakir miskin yang
lain.Diutamakan lebih dulu keluarga atau kerabat yang lebih dekat. Firman Allah :
_@ @Bb 0 Fb_,_V N_
VPC H@Bb LBb, N,
@Bb b, BB _,@Bb,
JBb AP1Bb, 1JNBb,
@11Bb, [Xb,, XBBb P[V
==P= [ PVfBb P[J,@Bb,
N@Bb, Bb, V@PBb
CbBBb, [, BCBb ,BC0,
P_1Bb [Xb,, P_mBb
,__Bb, ) b[f Fb)
F @Bb, [ B0Bb
b@Bb, , 0Bb N
00 CBb Fb_C)@ F
00, _fJBb
Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang yang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta, dan kepada
budak. ( Q.S. Al-Baqarah : 177 )
Adapaun yang 8 golongan penerima zakat itu adalah :
1) Orang Fakir : Fakir secara bahasa artinya tulang punggung yang rusak. Fakir adalah
orang yang tidak mampu mencari nafkahnya karena satu dan lain kekurangan.
bf1 CBb Fb=0
V@P Bb N ,_@J B4@
;J.Bb @ VBBb
,B,@10 b[JBb V
@ N ,_1 1BqBb B8Bf
N B, Fb_f1V @ , Bb =
@1
(Berinfaklah ) kepada orang-orang fakir yang terikat jihad di jalan Allah, mereka
tidak dapat berusaha di buli, orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya
karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal dengan mereka dengan
melihat sifat-sifatnya mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak, dan apa
saja harta yang baik yang kamu nafkahkan ( di jalan Allah ), maka sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui ( Q.S. Al-Baqarah : 273 )
2) Orang Miskin: Miskin berasal dari kata sa-ka-na artinya tidak bergerak. orang yang
terpaksa tidak bekerja untuk mencari nafkahnya berhubung tiada alat, modal, dan
fasilitas yang lainnya
Menurut Imam SyafiI
a. fakir ialah orang yang sangat sengsara hidupnya sehingga ia mampu
mengusahakan kurang dari separuh kebutuhan hidupnya sehari-hari dan tidak
ada yang menanggung belanjanya.
b. Miskin adalah orang yang mempunyai harta atau pekerjaan tetapi belum
mampu memenuhi kebutuhan hidupnya
B0 q@Bb 6CN N@
_1 [ Bb ;@,;0 0
B6@0 CAH, ,b,;, 1
@.0 VH L,1@ BqA
Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut
Ayat tersebut menggambarkan orang miskin punya perahu sebagai alat bekerjanya tetapi
tidak mencukupi kebutuhn pokoknya.
3) Amilin : amilin adalah orang yang diberi tugas untuk mengurus zakat,
mengumpulkan, mendaftar dan membagi-bagikannya kepada yang berhak
menerimanya.(Mustahiq)
4) Muallaf : Yaitu orang-orang yang masih perlu diembutkan hatinya. Orang yang baru
masuk oslam imannya masih lemah,
5) Riqab: Yaitu hamba sahaya ( budak ) yang dijanjikan oleh tuannya akan
dimerdekakan jika dia memberi tebusan.
Adapun yang dikatakan budak ada 3 bagian :
a. Budak Qin : artinya budak-budak semata-mata, sehingga dalam seluruh batang
tubuhnya melekat nama budak dengan tidak pakai syarat ( budak asli )
b. Budak Mudabbir : budak yang kemerdekaannya tergantung kepada mati tuannya.
Yaitu setelah tuannya menyatakan : jika aku mati, maka engkau menjadi orang
yang merdeka maka setelah mati tuannya itu merdekalah ia
c. Budak Mukatab : budak yang kemerdekaan dirinya tergantung kepada syarat-
syarat yana diberikan tuannya. Umpamanya jika engkau mendapat uang 100 ribu
dalam setahun ini maka engkau menjadi orang yang merdeka ( kemerdekaannya
dituliskan dengan perjanjian)
Adapun budak yang menerima zakat tersebut adalah budak yang berstatus mukattab
6) ghorim : yaitu orang yang berhutang dengan ketentuan bahwa hutangnya itu bukan
akibat dari perbuatan maksiat.
7) Sabilillah: orang yang berjuang di jalan Alllah untuk kepentingan Islam dan
kemaslahatan orang-orang mukmin
8) Ibnu Sabil : orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan yang bukan maksiat,
termasuk musafir adalah orang yang merantau menuntut ilmu dan tidak mendapat
kiriman dari keluargannya.
3. Coba tuliskan hadis mengenai sahadat dan terangkan dari tarjamahan anda
bagian bagian sahadat
Jawaban :
Syahadat sering diartikan dengan: persaksian; pengakuan; ikrar. Sesungguhnya
syahadat memuat empat perkara, yaitu: perkataan, ilmu, keyakinan, dan amal.
Dengan demikian orang yang mengikrarkan syahadatain, dia wajib mengikrarkan dan
memberitahukan kepada orang lain, dengan disertai ilmu dan pemahaman tentang makna
syahadatain, dengan keyakinan kebenaran kandungannya, dan pengamalan terhadap isinya.
Alloh taala berfirman:
{
}
Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan)
yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak beribadah kecuali
kepada Alloh dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun. Dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah (tuhan) selain Alloh!. Jika
mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah
orang-orang yang berserah diri (kepada Alloh). [QS. Ali Imron (3): 64]
Berikut ini adalah rincian bagian syahadat:
Perkataan/pemberitahuan.
Orang yang bersyahadat harus menetapkan, mengucapkan dan memberitahukan
kepada orang lain. Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( ))
Sesungguhnya Alloh mengharamkan atas neraka terhadap orang yang mengucapkan Laa
ilaaha illa Alloh, dia mencari wajah Alloh dengan (perkataan) nya.(Hadits Shohih Riwayat
Bukhari)
Telah diketahui secara pasti di dalam agama dan telah disepakati oleh umat: bahwa
fondasi Islam dan yang pertama kali diperintahkan kepada manusia adalah syahadat Laa
ilaaha illa Alloh dan bahwa Muhammad utusan Alloh. Dengan itulah orang kafir menjadi
muslim, musuh menjadi kekasih, orang yang halal darahnya dan hartanya menjadi terjaga
darah dan hartanya. Kemudian jika dia bersyahadat itu dari hatinya, maka dia telah masuk ke
dalam iman. Jika dia mengucapkannya dengan lidahnya tanpa hatinya, maka dia berada pada
Islam secara lahiriyah, namun tanpa iman pada batinnya.
Adapun jika dia tidak mengucap-kan syahadat, padahal mampu, maka dia kafir secara
lahir batin dengan kesepakatan umat Islam, menurut Salaf (orang-orang dahulu) umat ini,
imam-imamnya, dan mayoritas ulama
Ungkapan-ungkapan Salaf (ulama zaman dahulu) tentang syahadat berkisar pada
makna: penetapan, keputusan, informasi, penjelasan, dan pemberitahuan. Semua perkataan
ini benar, tidak bertentangan. Karena sesungguhnya syahadat memuat: perkataan dan berita
orang yang bersaksi, dan memuat: informasinya, penjelasan-nya, dan pemberitahuannya.
Ilmu.
Orang yang bersyahadat harus disertai ilmu. Maka orang yang mengikrarkan
syahadatain wajib mengetahui makna syahadatain dengan sebenarnya. Alloh Subhanahu wa
Taala berfirman:
{ }
Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Alloh dan mohonlah
ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mumin, laki-laki dan perempuan. Dan
Alloh mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. [QS. Muhammad (47): 19]
Dia juga berfirman:
{ }
Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak dapat memberi
syafaat; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafaat ialah) orang yang bersyahadat
terhadap al-haq (tauhid; Laa ilaaha illa Alloh) dan mereka mengeta-hui(nya). [QS. Az-
Zukhruf (43): 86]
Yaitu mereka bersyahadat Laa ilaaha illa Alloh dan mereka mengetahui dengan hati
mereka apa yang diucapkan oleh lidah mereka. Jika seseorang mengucapkannya dengan
tanpa mengetahui maknanya, kalimat itu tidak bermanfaat baginya, karena dia tidak meyakini
apa kandu-ngannya.
Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda:
(( ))
Barangsiapa mati, dan dia mengetahui bahwa: Laa ilaaha illa Alloh, dia pasti masuk sorga.(
Hadits Riwayat Muslim)
Itiqod (keyakinan).
Memberitahukan sesuatu, dengan ilmu terhadapnya, dan keyakinan terhadap
kebenaran dan kepastiannya. Dan syahadat tidak dianggap kecuali dengan disertai pengakuan
dan ketundukan, dan hati. Karena Alloh Subhanahu wa Taala menyata-kan kedustaan orang-
orang munafik di dalam perkataan mereka:
{ }
Kami bersyahadat (mengakui) bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Alloh. (QS.
Al-Munafiqun (63): 1)
Amal.
Orang yang bersyahadat harus mengamalkan isi syahadatnya, jika tidak itu bukanlah
syahadat. Alloh taala berfirman:
{ }
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang
berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.
(QS. Luqman (31): 22)
Nabi shollallohu alaihi wa sallam Bersabda : Barang-siapa bersyahadat Laa ilaaha
illa Alloh, beliau berkata: Yaitu: Barangsiapa mengucapkannya dengan mengetahui
maknannya, mengamalkan kandungannya secara lahir batin. Di dalam syahadatain wajib ada
ilmu, keyakinan, dan amalan terhadap kandungannya. (Kitab Fathul Majid, hlm: 35, karya:
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Dengan penjelasan ini kita mengetahui bahwa: syahadat yang akan menyelamatkan
seseorang dari api neraka dan memasukkan ke dalam sorga, bukanlah sekedar mengucap-kan
dua kalimat syahadat di hadapan penghulu saat pernikahan. Akan tetapi, selain mengikrarkan,
orang itu harus memahami makna dan kandu-ngan kedua kalimat syahadat tersebut,
meyakininya, dan mengamalkan kandungannya.
4. Begitu juga ayat puasa Al-Quran hanya satu tetapi oleh hadits di pecah menjadi
beberapa macam puasa, berapa bagian coba tuliskan hadits dan penjelasannya
Jawaban :
Berpuasa 6 hari pada bulan Syawal
setelah puasa wajib di bulan Ramadhan adalah merupakan puasa Sunnah
Mustahabbah, bukan wajib. Namun puasa ini sangat disarankan kepada umat Muslim, karena
kebaikan yang banyak yang ada padanya dan pahalanya yang amat besar. Barangsiapa
berpuasa 6 hari pada bulan Syawwal (setelah berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan)
akan dicatat baginya pahala seperti dia telah berpuasa selama satu tahun penuh, sebagaimana
diriwayatkan
dalam hadits sahih.
Puasa tersebut menurut Imam Ahmad dapat dilakukan berturut-turut atau tidak
berturut-turut dan tidak ada kelebihan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sedangkan menurut golongan Hanafi dan golongan Syafi'i, lebih utama melakukannya secara
berturut-turut, yaitu setelah hari raya.
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah)
bagi selain orang yang melaksanakan Haji. Dari Abu Qatadah ra bahwa Rasulullah
saw bersabda, "Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu satu
tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang." (HR Jamaah kecuali Bukhari dan
Tirmidzi).
Dari Hafshah ra, dia berkata, "Ada empat hal yang tidak pernah ditinggalkan
Rasulullah saw, yaitu puasa Asyura, puasa sepertiga bulan (yakni bulan Dzulhijjah), puasa
tiga hari dari tiap bulan, dan salat dua rakaat sebelum Subuh." (HR Ahmad dan Nasa'i).
Dari Uqbah bin Amir ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Hari Arafah, hari Kurban
dan hari-hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam dan hari-hari tersebut adalah hari-hari
makan dan minum." HR Khamsah (lima imam hadis) kecuali Ibnu Majah dan dinyatakan
sahih oleh
Tirmidzi.
Dari Ummu Fadhal, dia berkata, "Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi saw
di Arafah, lalu Nabi saw saya kirimi susu. Kemudian Nabi saw meminumnya, sedang ketika
itu beliau berkhotbah di depan umat manusia di Arafah." (HR Bukhari dan Muslim).
Puasa Bulan Muharram
dan Sangat Dianjurkan pada Tanggal 9 dan 10 (Tasu'a dan 'Asyura). Dari Abu
Hurairah ra dia berkata, "Rasulullah saw ditanya, 'Salat apa yang lebih utama setelah salat
fardhu?' Nabi menjawab, 'Salat di tengah malam'. Mereka bertanya lagi, 'Puasa apa yang
lebih utama setelah puasa Ramadhan?' Nabi menjawab, 'Puasa pada bulan Allah yang kamu
namakan Muharrom'." (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).
Dari Muawiyah bin Abu Sufyan ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah saw
bersabda, "Hari ini adalah hari 'Asyura dan kamu tidak diwajibkan berpuasa padanya.
Sekarang, saya berpuasa, maka siapa yang mau, silahkan puasa dan siapa yang tidak mau,
maka silahkan berbuka." (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Aisyah ra, dia berkata, "Hari 'Asyura' adalah hari yang dipuasakan oleh orang-
orang Quraisy di masa jahiliyah, Rasulullah juga biasa mempuasakannya. Dan
tatkala datang di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang-orang untuk
turut berpuasa. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan beliau bersabda, 'Siapa yang ingin
berpuasa, hendaklah ia berpuasa dan siapa yang ingin meninggalkannya, hendaklah ia
berbuka'." (Muttafaq alaihi).
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, "Nabi saw datang ke Madinah lalu beliau melihat
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura', maka Nabi bertanya, 'Ada apa ini?' Mereka
menjawab, hari 'Asyura' itu hari baik, hari Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa saw dan
Bani Israel dari musuh mereka sehingga Musa as berpuasa pada hari itu. Kemudian, Nabi saw
bersabda, 'Saya lebih berhak terhadap Musa daripada kamu', lalu Nabi saw berpuasa pada
hari itu dan menganjurkan orang agar berpuasa pada hari itu. " (Muttafaq alaihi).
Dari Abu Musa al-Asy'ari ra, dia berkata, "Hari 'Asyura' itu diagungkan oleh orang
Yahudi dan mereka menjadikan sebagai hari raya. Maka, Rasulullah saw
bersabda,"Berpuasalah pada hari itu." (Muttafaq alaihi).
Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, "Tatkala Rasulullah saw berpuasa pada hari 'Asyura'
dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa pada hari itu, mereka berkata, "Ya Rasulullah,
ia adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani," maka Nabi saw bersabda,
"Jika datang tahun depan, insya Allah kami berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan
Muharrom)." Ibnu Abbas ra berkata, "Maka belum lagi datang tahun depan, Rasulullah saw
sudah wafat." (HR Muslim dan Abu Daud).
Para ulama menyebutkan bahwa puasa Asyura' itu ada tiga tingkat: tingkat pertama,
berpuasa selama tiga hari yaitu hari kesembilan, kesepuluh dan kesebelas. Tingkat kedua,
berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh. Tingkat ketiga, berpuasa hanya pada hari
kesepuluh saja.
Berpuasa pada Sebagian Besar Bulan Sya'ban.
DariAisyah ra berkata, "Saya tidak melihat Rasulullah saw melakukan puasa dalam
waktu sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan dan tidak satu bulan pun yang Nabi saw
banyak melakukan puasa di dalamnya daripada bulan Sya'ban." (HR Bukhari dan Muslim).
Dari Usamah bin Zaid ra berkata, Aku berkata, "Ya Rasulullah saw , tidak satu bulan
yang Anda banyak melakukan puasa daripada bulan Sya'ban !" Nabi menjawab: "Bulan itu
sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan
itulah amal-amal manusia diangkat (dilaporkan) kepada Tuhan Rabbul 'Alamin. Maka, saya
ingin amal saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa." (HR Nasa'I dan dinyatakan sahih
oleh Ibnu Khuzaimah).
Berpuasa pada Hari Senin dan Kamis
Hal ini berdasarkan pada hadis Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw lebih sering
berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu orang-orang bertanya kepadanya mengenai sebab
puasa tersebut, lalu Nabi saw menjawab, "Sesungguhnya amalan-amalan itu dipersembahkan
pada setiap Senin dan Kamis, maka Allah berkenan mengampuni setiap muslim, kecuali dua
orang yang bermusuhan, maka Allah berfirman, "Tangguhkanlah kedua orang (yang
bermusuhan ) itu!" (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).
Dalam sahih Muslim diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya orang mengenai
berpuasa pada hari Senin, maka beliau bersabda, "Itu hari kelahiranku dan pada hari itu pula
wahyu diturunkan kepadaku." (HR Muslim).
Berpuasa Tiga Hari Setiap Bulan
Dari Abu Dzarr al-Ghiffari ra berkata, "Kami diperintah Rasulullah saw untuk
melakukan puasa tiga hari dari setiap bulan, yaitu hari-hari terang bulan, yakni tanggal 13, 14
dan 15, sembari Rasul saw bersabda, 'Puasa tersebut seperti puasa setahun (sepanjang
masa)'." (HR Nasa'i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
Berpuasa Selang-seling (Seperti Puasa Daud)
Dari Abdullah bin Amr berkata, Rasulullah saw telah bersabda, "Puasa yang paling
disukai Allah adalah puasa Daud dan salat yang paling disukai Allah adalah salat Daud. Ia
tidur seperdua (separuh) malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia
berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari."
5. Perintah Sholat dalam Al Quran hanya P_1Bb
b_@C0, namun hadits membagi pada beberapa sholat , coba
tuliskan antara sholat wajib dan sholat sunnah serta penjelasan hadits tersebut?
Jawaban :
Menurut Mazhab Hanafi, shalat an-nawfil terbagi atas 2 macam, yaitu shalat masnnah dan
shalat manddah. Shalat masnnah ialah shalat-shalat sunah yang selalu dikerjakan Rasulullah, jarang
ditinggalkan, sehingga disebut juga dengan shalat muakkad (dipentingkan). Shalat manddah adalah
shalat-shalat sunah yang kadang dikerjakan oleh Rasulullah, kadang-kadang juga tidak dikerjakan,
sehingga disebut dengan shalat ghairu muakkad (kurang dipentingkan).
Shalat Rawatib
Shalat Rawatib adalah shalat sunah yang dikerjakan menyertai shalat fardu. Shalat sunah ini
terbagi dalam shalat muakkad dan ghairu muakkad. Adapun yang termasuk dalam shalat-shalat
sunah Rawatib adalah sbg berikut:
Muakkad
a) dua rakaat qabla subuh
b) dua rakaat qabla zuhur
c) dua rakaat bada zuhur
d) dua rakaat bada maghrib
e) dua rakaat bada isya
Rincian tersebut berdasarkan hadist Nabi Muhammad SAW:
Dari Abdillah bin Umar, ia berkata: Saya ingat mengenai Rasulullah SAW mengerjakan shalat dua
rakaat sebelum Zuhur, dua rakaat setelah Zuhur, dua rakaat setelah Maghrib, dua rakaat setelah
Isya, dan dua rakaat sebelum Subuh. (H.R. Bukhari Muslim)
Ghairu Muakkad
a) empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur
b) empat rakaat sebelum asar
c) empat rakaat sebelum maghrib
Masing-masing berdasarkan rincian hadist-hadist berikut:
Dari Ummu Habibah: Nabi SAW bersabda: Barangsiapa mengerjakan empat rakaat sebelum Zuhur
dan empat rakaat sesudahnya maka Allah mengharamkan baginya dari api neraka. (H.R. Tarmizi)
Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Allah memberi rahmat kepada orang
yang mengerjakan shalat empat rakaat sebelum shalat Asar (H.R. Tarmizi)
Hadist Nabi Muhammad SAW: Dari Abdullah bin Mughafal, Nabi SAW bersabda: Shalatlah kamu
sebelum Maghrib, shalatlah kamu sebelum Maghrib. Kemudian Nabi mengatakan yang ketiga kalinya
bagi yang menghendakinya. (H.R. Bukhari)
Shalat Sunah Lainnya
Selain shalat Rawatib, ada pula shalat sunah lainnya yang tidak berkaitan dengan shalat fardu.
Berikut adalah beberapa shalat sunah yang umum dikerjakan beserta definisinya.
1) Shalat Khauf : Shalat yang dilakukan pada saat-saat genting. Shalat ini dapat dilakukan
kapan pun bila kita dalam kondisi merasa takut, misalnya karena perang, bencana alam,
ancaman binatang buas, dikejar musuh atau orang jahat, dsb. Syariat shalat khauf ini
didasarkan pada surat An-Nis: 102.
2) Shalat Dhuha : Shalat sunah yang dikerjakan pada pagi hari, waktunya dimulai ketika
matahari tampak kurang lebih setinggi tombak dan berakhir sampai tergelincir matahari
(waktu zuhur). Jumlah rakaat shalat dhuha adalah sekurang-kurangnya dua rakaat, sebanyak-
banyaknya duabelas rakaat, ada juga yang menyatakan enambelas rakaat.
3) Shalat Istisqa : Shalat sunah yang bertujuan untuk meminta hujan. Biasanya dilaksanakan
ketika terjadi kemarau panjang sehingga mata air-mata air menjadi kering, tumbuh-tumbuhan
mati, manusia dan hewan kekurangan makanan dan air. Bila sudah masuk dalam kondisi ini,
dianjurkan pemimpin masyarakat setempat atau ulama mengajak masyarakat untuk bertobat
dan berdoa.
4) Shalat Khusuf : Shalat sunah yang dilakukan karena terjadi gerhana bulan. Waktu shalat
khusuf adalah sejak awal gerhana sampai akhir atau tertutupnya bulan tsb.
5) Shalat Kusuf : Shalat sunah yang dilakukan karena terjadi gerhana matahari. Waktu shalat
kusuf adalah sejak awal gerhana sampai selesai atau tertutupnya matahari.
6) Shalat Istikharah : Shalat sunah dua rakaat yang diiringi dengan doa khusus, dikerjakan
untuk memohon petunjuk yang baik kepada Allah SWT sehubungan dengan urusan yang
masih diragukan untuk diputuskan akan dikerjakan atau tidak. Urusan yang dimaksud bisa
berupa urusan pribadi ataupun yang terkait dengan kepentingan umum. Petunjuk dari Allah
SWT ini biasanya akan diperoleh melalui mimpi atau kemantapan hati untuk mengambil
keputusan.
7) Shalat Tahajud : Shalat sunah yang dikerjakan pada waktu malam hari dan dilaksanakan
setelah tidur terlebih dahulu, meskipun hanya sejenak, kemudian diiringi dengan doa khusus.
Shalat tahajud boleh dilakukan di awal, tengah, atau di akhir malam, asalkan sesudah tidur,
namun melakukannya pada sepertiga malam yang terakhir adalah lebih baik, karena pada saat
itu terdapat waktu doa para hamba dikabulkan oleh Allah SWT.
8) Shalat Gaib : Shalat yang dilakukan atas seseorang yang meninggal dunia di suatu tempat
atau negeri, baik jauh ataupun dekat dari tempat orang yang melaksanakan shalat, dan
mayatnya tidak ada di tempat (di hadapan) orang-orang yang menshalatkan.
9) Shalat Hajat : Shalat sunah dua rakaat yang dikerjakan seseorang yang mempunyai hajat
(keperluan) agar keperluan tsb dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah SWT.
10) Shalat Tahyatul Masjid : Shalat yang dilakukan sebagai penghormatan terhadap masjid,
dilakukan oleh orang yang masuk ke dalam mesjid sebelum ia duduk.
11) Shalat Idain : Shalat yang dilakukan pada saat dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.
Idul Fitri dilaksanakan berkaitan dengan selesainya bulan Ramadhan yang jatuh pada tanggal
1 Syawal. Idul Adha dilaksanakan bertepatan dengan selesainya pelaksanaan ibadah haji,
yaitu tanggal 10 Zulhijjah, yang biasanya seusai shalat dilanjutkan dengan penyembelihan
hewan kurban bagi yang mampu.
12) Shalat Tarawih : Shalat sunah yang dikerjakan umat Islam setiap malam selama bulan
Ramadhan. Ada beberapa pendapat mengenai jumlah rakaat shalat tarawih, yang pertama
adalah 11 rakaat terdiri dari 4 rakaat, kemudian 4 rakaat lagi, dan ditutup dengan 3 rakaat
shalat witir. Lalu ada pula yang menyatakan 8 rakaat salam kemudian witir 3 rakaat. Pendapat
lain menyatakan 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir, sehingga seluruhnya adalah 23 rakaat. Ada
pula sebagian imam yang menyatakan lebih dari itu.
13) Shalat Witir : Witir berarti ganjil. Sehingga shalat witir adalah nama bagi shalat yang
rakaatnya ganjil (selain shalat Maghrib), yaitu shalat 1 rakaat, 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9
rakaat, atau 11 rakaat yang bersambungan dan hanya satu kali salam. Waktu pelaksanaannya
adalah malam hari, sesudah shalat Isya sampai terbit fajar. Yang paling baik, witir dijadikan
sebagai shalat yang paling akhir dikerjakan pada malam hari. Bila seseorang khawatir tidak
bangun pada waktu menjelang terbit fajar, ia boleh mengerjakan shalat witir segera setelah
shalat fardu dan sesudah Isya.
14) Shalat Taubat : Shalat untuk menyatakan bahwa kita bertaubat dari suatu dosa, artinya
menyesal atas perbuatan yang dilakukan, dan bertekad kelak tidak akan melakukannya lagi,
disertai permohonan ampun kepada Allah.
15) Shalat Tasbih : Shalat sunah empat rakaat yang setiap rakaatnya membaca tasbih sebanyak
75 kali, sehingga seluruhnya berjumlah 300 kali. Rincian jumlah tasbih untuk setiap rakaat
adalah sebagai berikut:
a) 15 kali sesudah membaca surat dan sebelum rukuk
b) 10 kali sesudah membaca tasbih rukuk dan sebelum itidal
c) 10 kali setelah membaca tahmid itidal
d) 10 kali setelah membacab tasbih sujud
e) 10 kali setelah membaca doa duduk diantara dua sujud
f) 10 kali setelah membaca tasbih sujud kedua
g) 10 kali setelah duduk istirahat sesudah sujud kedua.
Bagi setiap muslim, dianjurkan mengerjakan shalat tasbih setiap malam, bila tidak mampu
maka sekali seminggu, atau sekali sebulan, atau sekali setahun, bila masih tidak bisa, maka sekurang-
kurangnya sekali seumur hidup, jangan sampai ditinggalkan sama sekali. Waktu pelaksanaannya
dapat siang hari atau malam hari, empat rakaat dengan satu atau dua kali salam.
Rasulullah SAW bersabda: Bagi orang yang mengerjakan shalat mendapatkan tiga macam
(kebaikan), yaitu: Malaikat mengerumuninya sejak dari telapak kaki sampai ke atas langit, kebaikan
turun kepadanya dari atas langit sampai atas kepalanya, dan malaikat berseru Seandainya orang
yang sedang shalat ini mengetahui dengan siapa ia berbicara (berkomunikasi), niscaya ia tidak akan
mau berhenti (dari shalatnya).
16) Shalat Jumat : Shalah Jum'at memiliki hukum wajib 'ain bagi laki-laki / pria dewasa
beragama islam, merdeka dan menetap di dalam negeri atau tempat tertentu. Jadi bagi
para wanita / perempuan, anak-anak, orang sakit dan budak, solat jumat tidaklah
wajib hukumnya.
Dalil Al-qur'an Surah Al Jum'ah ayat 9 : " Hai orang-orang yang beriman, apabila
diseru untuk menunaikan shalat pada hari jum'at, maka bersegeralah kamu kepada
mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu
jika kamu mengetahui."

LEMBAR JAWABAN ( NO ABSEN GANJIL)
UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH
HADITS AHKAM
Dosen Pembina : Drs. M. Iwan Wahidin, M.Ag

Nama : Aa Saepul Rohman
Fakultas : Syariah
Jurusan : Muamalah
Smester : VII ( Tujuh )
NPM/NIMKO : 08.02.001/08.0514
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
BHAKTI PERSADA BANDUNG
2012