Anda di halaman 1dari 6

ACUTE FLACCID PARALYSIS

Ari Sutiko, Rahmawaty FK-UMI

PENDAHULUAN Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah kelumpuhan atau paralisis secara fokal yang onsetnya akut tanpa penyebab lain yang nyata seperti trauma. Yang ditandai dengan flaccid dan mengenai anak kelompok < 15 tahun termasuk didalamnya Sindrom Guillain-Barre. AFP disebabkan oleh beberapa agen termasuk enterovirus, echovirus, atau adenovirus A. Poliomielitis Sinonim : Acute anterior poliomeilytis, infantile meidin.
(7) (1)

dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat


(6)

menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis). Virus peka polio sangat tahan dan

terhadap alkohol dan lisol, namun terhadap formaldehid larutan klor. Suhu yang tinggi cepat mematikan virus, tetapi pada keadaan beku dapat bertahan bertahun-tahun. Ketahanan virus di tanah dan air sangat bergantung pada kelembaban suhu dan mikroba lainnya. Virus ini dapat bertahan pada air limbah dan air permukaan bahkan hingga berkilokilo meter dari tercemarnya sumber penularan. oleh
(4)

paralysis,

penyakit (paralysis

Heine

dan

Poliomielitis

infantile,

penyakit Heine Medin) pada masa lampau, selama bertahun-tahun, merupakan salah satu penyakit infeksi yang sangat ditakuti karena dapat mengakibatkan kelumpuhan menetap. Penyakit ini telah dikenal sejak zaman purbakala, namun baru pada tahun 1840 dengan tegas didefenisikan sebagai satu entitas klinis oleh seorang ahli ortopedi berkebangsaan Jerman. Poliomielitis penyakit paralisis oleh disebabkan
(2)

Meskipun penularan terutama akibat lingkungan virus polio dari penderita infeksius beberapa cara : 1. Secara langsung dari orang ke orang 2. Melalui percikan ludah penderita 3. Melalui tinja penderita Virus masuk melalui mulut dan hidung, berkembang biak di dalam tenggorokan saluran cerna, lalu diserap dan disebarkan melalui sistem

Penularan virus terjadi melalui

atau atau virus.

polio, lumpuh Agen

adalah yang pembawa

penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini

pembuluh

darah

dan

pembuluh

getah

Daerah yang biasanya terkena pada poliomeilitis : 1. Medulla spinalis terutama kornu anterior 2. Batang otak pada nukleus vestibularis retikularis dan inti-inti yang saraf kranial serta formasio mengandung pusat vital 3. Serebelum terutama inti-inti pada vermis 4. Midbrain masa nigra dan terutama pada kelabu, substansia

bening. Resiko terjadinya polio : 1. Belum mendapatkan imunisasi 2. Bepergian ke daerah yang masih sering ditemukan polio 3. Kehamilan 4. Usia sangat lanjut atau sangat muda 5. Luka Virus melalui biasanya rongga di
(5)

mulut/ tubuh dan

hidung/tenggorokan

memasuki orofaring

berkembangbiak dalam traktus digestivus, kelenjar getah bening regional dan sistem retikuloendotelial. Dalam keadaan ini timbul perkembeangan virus, tubuh bereaksi dengan membentuk antibodi spesifik. Bila pembentukan zat anti tubuh mencukupi dan cepat maka virus akan dinetralisasikan, sehingga timbul gejala klinis yang ringan atau tidak terdapat sama sekali dan timbul imunitas terhadap virus tersebut. Bila proliferasi virus tersebut lebih cepat dari pembentukan zat anti maka akan timbul viremia dan gejala klinis, kemudian virus akan terdapat dalam feses untuk beberapa minggu lamanya. Berlainan yang menyerang neuropatologi
(7)

kadang-kadang

nukleus rubra. 5. Talamus dan hipotalamus 6. Korteks Poliomielitis infeksi virus melibatkan serebri,
(7)

hanya penyakit yang dan

daerah motorik yang

adalah

akut spinalis

medulla

batang otak. Telah diisolasi 3 jenis virus yaitu tipe Brunhilde, Lansing dan Leon yang menyebabkan penyakit ini, yang seorang masing-masing mengalami yang
(3)

tidak dengan terhadap

mengakibatkan imunitas silang. Bila infeksi satu jenis virus ia akan mendapat kekebalan menetap virus tersebut. klinis

dengan

virus-virus saraf,

lain maka

susunan poliomeilitis

biasanya

patognomik. Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah tertentu susunan saraf. Tidak semua neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala.

Manifestasi klinis, manifestasi penyakit jenis polio yaitu dibagi atas


(2,3)

beberapa

asimtomatik,

abortif, nonparalitik dan paralitik.

Sebagian besar pasien infeksi polio adalah asimtomatik atau terjadi dalam

bentuk panyakit yang ringan dan sepintas. Poliomielitis abortif, sakit

(3)

kemudian merupakan atrofi

pada

puncak klinis

berulang cedera oleh

demam

dengan paralisis

paralysis flaksid

singkat terjadi dengan satu atau lebih gejalagejala berikut : malaise, anoreksia, mual, muntah, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi, dan nyeri perut. Koryza, batuk, eksudat faring, diare, dan nyeri perut lokal serta kekakuan 39,5 C jarang. dan Demam faring jarang melebihi biasanya
(3)

ekspresi

neuron yang paling jelas. Terjadinya muskuler disebabkan denervasi ditambah atrofi karena tidak digunakan. Nyeri, spastisitas, kaku kuduk dan kekakuan spinal, serta hipertoni pada awal penyakit mungkin karena lesi Pada distribusi kadang memakai diuji. batang tidak. batang otak, ganglia
(3)

menunjukkan sedikit perubahan walaupun sering ada keluhan nyeri tenggorok. Poliomielitis kecuali pada nyeri nonparalitik, kepala, gejaladan

spinalis, dan kolumna posterior pemeriksaan paralysis khas Untuk

fisis kadang-

gejalanya adalah seperti poliomielitis abortif mual, muntah lebih parah dan ada nyeri dan kekakuan otot leher posterior, badan dan tungkai. Paralisis kandung kencing yang cepat menghilang sering dijumpai dan konstipasi sering ada. Sekitar dua pertiga anak mengalami jeda bebas gejala antara fase pertama (sakit minor) dan fase kedua (sakit sistem saraf sentral atau sakit mayor).
(3)

mendeteksi dalam ada

kelemahan otot ringan, sering perlu tahanan bentuk halus spinal melawan kelompok otot yamh sedang Pada tubuh,
(3)

kelemahan beberapa otot leher, perut, diafragma, thoraks, atau tungkai. berdasarkan

Diagnosis gejala pemeriksaan Untuk dilakukan dan untuk memperkuat pemeriksaan

ditegakkan dan hasil fisik. diagnosis, terhadap darah

Pemeriksaan tanda-tanda perubahan dalam. Pada kaku pada

fisik refleks

menunjukkan dan dan superfisial yang

kuduk-spina

penderita

kooperatif

contoh tinja untuk mencari poliovirus pemeriksaan menentukan tinja cairan protein serta terhadap titer atau antibodi. cairan rutin

tanda-tanda kaku kuduk-spina mulai dicari dengan tes aktif. Jika diagnosis masih tidak pasti, upaya yang harus dilakukan untuk memperoleh kernig dan Brudzinki.
(3)

Pembiakan virus diambil dari lendir tenggorokan, serebrospinal. terhadap tekanan, Pemeriksan

Poliomeilitis Paralitik, manifestasinya adalah manifestasi poliomeilitis nonparalitik yang disebutkan satu per satu ditambah dengan satu atau lebih kelompok otot, skelet atau cranial. Gejala-gejala ini dapat disertai dengan jeda tanpa gejala beberapa hari dan

serebrospinal sel
(5)

memberikan hasil yang normal atau darah putihnya agak meningkat.

Pengobatan, belum ada pengobatan kausal Vaksinasi pada penyakit dengan polio, virus namun yang poliomielitis dapat dicegah melalui vaksinasi. polio

yang

progresif,

yang

seringkali
(5)

menyebabkan kelumpuhan. B. Sindrom Guillain-Barre

dinonaktifkan (salk) mulai digunakan pada tahun 1955, dan vaksinasi dengan virus hidup yang dijinakkan (sabin) mulai banyak dipakai sejak tahun 1962. vaksin oral trivalent diperkenalkan pada tahun 1963 dan banyak digunakan sampai saat ini.(2) Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap di daerah karena masih polio. yang tidak kecil. Karenanya, rentan penduduk

Sindrom Guillain-Barre (SGB) ialah polioneuritis yang menyeluruh, dapat berlangsung akut atau subakut, mungkin terjadi spontan atau sesudah suatu infeksi. Mikroorganisme penyebab belum pernah ditemukan pada penderita penyakit ini dan pada pemeriksaan patologis
(7)

tidak

ditemukan tanda radang.

Akibat tersering dari kejadian GBS dalam patologi adalah bahwa kejadian pencetus (virus atau proses inflamasi) merubah sel dalam sistem saraf sehingga sistem imun mengenali sel tersebut sebagai sel asing. Sesudah itu limfosit T yang tersensitasi dan makrofag akan menyerang kerusakan mielin myelin. menyebabklan

memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih terhadap polio polio ketika menderita

Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layuh otot; gejala ini disebut sindrom post-polio.
(6)

Akibanya adalah cedera demielinasi ringan hingga berat yang mengganggu konduksi impuls dalam saraf perifer yang terserang.
(8)

Komplikasi yang paling berat adalah kelumpuhan yang menetap. Kelumpuhan terjadi sebanyak kurang dari 1 dari setiap 100 kasus, tetapi kelemahan satu atau beberapa otot, sering ditemukan. Kadang bagian dari otak yang berfungsi mengatur pernafasan terserang polio, sehingga terjadi kelemahan dada. atau kelumpuhan penderita pada otot Beberapa mengalami

Demielinasi akson saraf perifer menyebabkan timbulnya gejal positif dan negatif. Gejala positif adalah nyeri dan parestesia yang berasal dari aktivitas impuls abnormal dalam serat sensoris atau cross-talk listrik antara akson abnormal yang rusak, gejala negatif kelemahan atau paralsis otot hilangnya refleks
(8)

komplikasi 20-30 tahun setelah terserang polio. Keadaan ini disebut sindroma postpoliomielitis, yang terdiri dari kelemahan otot

tendon,

dan

menurunya sensasi.

Manifestasi ditemukan Biasanya antara didahului

Klinis, umur oleh

terbanyak 4-10 tahun. atau

penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator) bila vital capasiti turun dibawah 50%. Sedangkan bila terjadi kelumpuhan bulbar atau disfagia perlu dilakukan gastrostomi makanan. kurang hanya ada nasogastrik untuk Pemberian untuk tingkat atau pemberian kortikosteroid mugkin mengurangi beratnya
(2)

demam

penyakit traktus respiratorius bagian atas kemudian terdapat periode laten selama 1-3 minggu. Berlangsung akut atau subakut. Berbeda dengan polioneuropati lain seperti akibat beri-beri, toksin dan sebagainya, maka pada penyakit ini otot proksimal penderita sama beratnya dengan otot distal. Kadang-kadang abdomen, Keadan kelumpuhan lengan seolah-olah dan muka. asending bersifat menjalar keatas dari otot kaki, tungkai, thoraks, ini disebut paralysis

manfaatnya,

berguna

rasa sakit; plasmaferesis efektif untuk menurunkan penyakit maupun lama perawatan. anak. dalam sisa Biasanya waktu akan perbaikan 7-10 hari

Prognosis, baik terutama pada terlihat dan

landry, otot-otot yang terkena

simetris. Kelumpuhan jenis flaccid dengan refleks tendon yang menurun akan tetapi tidak terlihat atrofi. Gangguan sensibilitas dapat berat, ringan atau tidak terdapat sama sekali. Kelumpuhan dapat didahului oleh hipestesia, anastesia dengan rasa nyeri atau parestesia.
(7)

penyembuhan sempurna tanpa gejala tetapi kadang-kadang lama. oleh


(2)

penyembuhan Kematian

berlangsung disebabkan

kelumpuhan otot pernapasan. C. Polio oleh karena vaksin

Sangat jarang, rata-rata 3 kasus / cairan serebrospinal 1 juta dari vaksinasi oral Pasca vaskinasi oral : a. Timbul 6-30 hari b. Kontak erat 6-60 hari Terutama anak dengan daya tahan tubuh lain Sifat-sifat AFP seperti polio biasa Virus vaksin dapat diisolasi dari tinja dan cairan liquor. D. Enterovirus / Polio like illness kepada 1 Penyebab : Enterovirus echovirus : coxakie dan rendah : leukemia, limfogranuloma, AIDS, dan lain-

Pemeriksaan

adalah esensial untuk diagnosis. Protein CSS meningkat sampai lebih dari dua kali batas atas nilai normal, glukosa adalah normal dan tidak ada pleositosis. Ditemukan kurang dari 10 sel darah putih/mm3. hasil biakan bakteri negatif dan biakan virus jarang mengisolasi virus tertentu. Disosiasi antara protein CSS tinggi dan tidak adanya respon seluler pada penderita dengan polioneuropati akut atau subakut adalah diagnosis Sindrom Guillain-Barre. Diagnosis dilakukan SGB ditujukan tindakan suportif dan fisioterapi. Bila perlu tindakan trakeostomi,

ARBO virus : Sint. Louis dan west nile vius Pasca serangan asma akut 2 3 4 Tidak sering Sifat-sifat AFP lebih ringan dan tidak permanent Virus dapat diisolasi dari tinja dan cairan liquor E. Neuritis traumatika / Neuritid Dapat disebabkan oleh trauma, secara langsung misalnya karena injeksi dan secara tidak langsung dapat berupa cedera

atau tekanan urat saraf. APF dapat timbul dalam beberapa jam sampai beberapa hari pasca trauma. Bersifat simetris, lasid, dan arefleksia. Pada injeksi bokong misalnya, terjadi ganggguan N. Ischiadicus berlanjut ke N. peronei dan akhirnya menyebabkan dropfoot. Pada injeksi deltoid dapat terjadi lesi N. radialis dan menyebabkan drophand. Selain itu, sensibilitas keduanya juga dapat terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

1. www.google.com. Acute Flaccid Paralysis. From Public Health Notifiable Disease Management Guidelines; Alberta.. 2. Soetomenggolo TS, Ismael S. Penyakit Unit Motor dan Sindrom Neurokutan in Buku Ajar Neurologi anak. Jakarta: BP IDAI; 1999 3. Nelson WE, Behrman RE, et al. Ilmu Kesehatan Anak Ed 15 Vol. 2. Jakarta: EGC; 2000 4. www.infeksi.com. Polio. From Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof.Dr.Sulianti Saroso. Jakarta; 2007 5. www.medicastore.com. Polio in Masalah kesehatan anak 6. www.wikipedia.com. Poliomeilitis 7. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK-UI. Ilmu kesehatan anak 2. Jakarta: Infomedika; 2005 8. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Ed 6 Vol 2. Jakarta: EGC; 1996