Anda di halaman 1dari 8

MALARIA Keberadaan Penyakit (besar kejadian) Prevalensi malaria.

Hampir separuh populasi Indonesiasebanyak lebih dari 90 juta orangtinggal di daerah endemik malaria. Diperkirakan ada 30 juta kasus malaria setiap tahunnya, kurang lebih hanya 10 persennya saja yang mendapat pengobatan di fasilitas kesehatan. Beban terbesar dari penyakit malaria ini ada di provinsi-provinsi bagian timur Indonesia di mana malaria merupakan penyakit endemik. Kebanyakan daerah-daerah pedesaan di luar JawaBali juga merupakan daerah risiko malaria. Di Jawa Tengah dan Jawa Barat, malaria merupakan penyakit yang muncul kembali (reemerging diseases). Menurut data dari fasilitas kesehatan pada 2001, diperkirakan prevalensi malaria adalah 850,2 per 100.000 penduduk dengan angka yang tertinggi 20 persen di Gorontalo, 13 persen di NTT dan 10 persen di Papua. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 memperkirakan angka kematian spesik akibat malaria di Indonesia adalah 11 per 100.000 untuk laki-laki dan 8 per 100.000 untuk perempuan. http://www.undp.or.id/pubs/imdg2004/BI/IndonesiaMDG_BI_Goal6.pdf

Di Indonesia daerah endemis Endemis tinggi adalah API > 5 per 1.000 penduduk yaitu di Propinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan NTT. Endemis Sedang adalah API berkisar anatara 1- < 5 per 1.000 penduduk yaitu di Propinsi (Kabupaten Siemeuleu), Bangka Belitung, Kepri (Kabupaten Lingga), Jambi (Kabupaten Batan Merangin, dan Sorolangun), Kalimantan Tengah (Kabupaten ukamara, Kota waringin barat), Sulteng (Kabupaten Toli-Toli, Banggai, Banggai Kepulauan, Poso), Sultra (Kabupaten Muna),

NTB (Sumbawa Barat, Dompu, Kab. Bima, dan Sumbawa ), Jawa tengah (Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Pekalongan, dan Sragen), Jawa Barat (Sukabumi, Garut, Ciamis) Endemis Rendah adalah API 0 1 per 1.000 penduduk, diantaranya ebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi. Non Endemis adalah daerah yang tidak terdapat penularan malaria (Daerah pembebasan malaria) API = 0, yaitu propinsi DKI Jakarta, Bali, Kepri (Barelang Binkar) http://www.malaria-indonesia.info/index.php/seputar-malaria

Annual Parasite Incidence (API) dari tahun 2008 2009 menurun dari 2,47 per 1000 penduduk menjadi 1,85 per 1000 penduduk. Bila dilihat per provinsi dari tahun 2008 2009 provinsi dengan API yang tertinggi adalah Papua Barat, NTT dan Papua terdapat 12 provinsi yang diatas angka API nasional.

Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014 pengendalian malaria merupakan salah satu penyakit yang ditargetkan untuk menurunkan angka kesakitannya dari 2 menjadi 1 per 1.000 penduduk. Dari gambar diatas angka kesakitan malaria (API) tahun 2009 adalah 1,85 per 1000 penduduk, sehingga masih harus dilakukan upaya efektif untuk menurunkan angka kesakitan 0,85 per 1000 penduduk dalam waktu 4 tahun, agar target Rencana Strategis Kesehatan Tahun 2014 tercapai.
http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20MALARIA.pdf

Sebaran Kejadian Luar Biasa (KLB) Tahun 2006 - 2009 Dari tahun 2006 2009 Kejadian Luar Biasa (KLB) selalu terjadi di pulau Kalimantan walaupun kabupaten/kota yang terjangkit berbeda-beda tiap tahun. Pada tahun 2009 , KLB dilaporkan terjadi di pulau Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten), Kalimantan (Kalimantan Selatan), Sulawesi (Sulawesi Barat), NAD dan Sumatera (Sumatera Barat, Lampung) dengan total jumlah penderita adalah 1.869 orang dan meninggal sebanyak 11 orang. KLB terbanyak di pulau Jawa yaitu sebanyak 6 kabupaten/kota . Sebaran KLB dari tahun 2006 2009 dapat dilihat pada Gambar 6 di bawah ini.

http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20MALARIA.pdf

Kasus Baru Malaria Tahun 2009/2010

http://www.riskesdas.litbang.depkes.go.id/download/TabelRiskesdas2010.pdf

Mekanisme Daya Tahan Tubuh GEJALA KLASIK MALARIA 1. Stadium dingin.

Stadium ini mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia nadi cepat tetapi lemah. Bibir dan jari jemarinya pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat. Penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam. 2. Stadium Demam. Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala menjadi jadi dan muntah kerap terjadi, nadi menjadi kuat lagi. Biasanya penderita merasa sangat hasil dan suhu badan dapat meningkat sampai 41C atau lebih. Stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Demam disebabkan oleh pecahnya sison darah yang telah matang dan masuknya merozoit darah kedalam aliran darah. Pada plasmodium vivax dan P. ovate sison-sison dari setiap generasi menjadi matang setiap 48 jam sekali sehingga demam timbul setiap tiga hari terhitung dari serangan demam sebelumnya. Nama malaria tertiana bersumber dari fenomena ini. Pada plasmodium malariaa, fenomena tersebut 72 jam sehingga disebut malaria P. vivax/P. ovale, hanya interval demamnya tidak jelas. Serangan demam di ikuti oleh periode laten yang lamanya tergantung pada proses pertumbuhan parasit dan tingkat kekebalan yang kemudian timbul pada penderita. 3. Stadium Berkeringat. Pada stadium ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. Suhu badan meningkat dengan cepat, kadang-kadang sampai dibawah suhu normal. Penderita biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Gejala-gejala yang disebutkan diatas tidak selalu sama pada setiap penderita, tergantung pada species parasit dan umur dari penderita, gejala klinis yang berat biasanya teljadi pada malaria tropika yang disebabkan oleh plasmodium falciparum. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit dan sison). Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut. Gejala mungkin berupa koma/pingsan, kejang-kejang sampai tidak berfungsinya ginjal. Kematian paling banyak disebabkan oleh jenis malaria ini. Kadangkadang gejalanya mirip kholera atau dysentri. Black water fever yang merupakan gejala berat adalah munculnya hemoglobin pada air seni yang menyebabkan warna air seni menjadi merah tua atau hitam. Gejala lain dari black water fever adalah ikterus dan muntah-muntah yang warnanya sama dengan warna empedu, black water fever biasanya dijumpai pada mereka yang menderita infeksi P. falcifarum yang berulang -ulang dan infeksi yang cukup berat. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3760/1/fkm-hiswani11.pdf

Course of infection / patofisiologi penyakit meliputi : a. Incubation period : Masa tunas dapat berbeda beda, antara 9 sampai 40 hari, dan ini menggambarkan waktu antara gigitan nyamuk yang mengandung sporozoit dan permulaan gejala klinis. Selain itu, masa tunas infeksi P. vivax dapat lebih panjang dari 6 sampai 12 bulan atau lebih. Infeksi P. malariae dan P. ovale sampai bertahun tahun. Karena itu di daerah beriklim dingin infeksi P. vivax yang didapati pada musim panas atau musim gugur, mungkin tidak menimbulkan penyakit akut sampai musim semi berikutnya. Malaria klinis dapat terjadi berbulan bulan setelah obat obatan supresif dihentikan. Serangan pertama pada malaria akut terdiri atas beberapa serangan dalam waktu 2 minggu atau lebih yang diikuti oleh masa laten yang panjang, dan diselingi oleh relaps pada malaria menahun. Serangan demam ini berhubungan dengan penghancuran sel darah merah yang progresif, badan menjadi lemah , dan limpa membesar. Tipe jinak biasanya disebabkan olehP. vivax, P. malariae atau P. ovale. Tipe ganas terutama disebabkan oleh P. falcifarum. b. Prodromal period : Dalam periode prodromal yang berlangsung satu minggu atau lebih, yaitu bila jumlah parasit di dalam darah sedang bertambah selama permulaan siklus aseksual, tidak tampak manifestasi klinis yang dapat menentukan diagnosis. Gejala dapat berupa perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi. Demam tiap hari atau tidak teratur, mungkin sudah ada. Di daerah non-endemi diagnosis pertama seringkali ialah influenza. Serangan permulaan atau pertama sangat khas oleh karena adanya serangan demam intermiten yang berulang ulang pada waktu berlainan : 48 jam untuk P. vivax, P. ovale, P falcifarum dan 72 jam untuk P. malariae. Waktu yang sebenarnya pada berbagai strain P. vivax berbeda beda dari 43,6 jam sampai 45,1 jam. Serangan mulai dengan stadium dingin atau rigor yang berlangsung selama kurang lebih satu jam. Pada waktu itu penderita menggigil, walaupun suhu badannya lebih tinggi dari normal. Kemudian menyusul stadium panas yang berlangsung lebih lama dan kulit penderita manjadi kering serta panas, muka menjadi merah, suhu mencapai 39o 41oC, nadi cepat dan penuh, kepala pusing, mual, kadang kadang muntah, dan pada anak kecil timbul kejang kejang. Kemudian penderita berkeringat banyak, suhu badan turun, sakit kepala hilang, dan dalam waktu

beberapa jam penderita menjadi lelah. Serangan demam biasanya berlangsung 8 sampai 12 jam, dan pada infeksiP. falcifarum berlangsung lebih lama. c. Fastigium period : Gejala yang timbul menjadi bertambah berat dengan timbulnya komplikasi seperti sakit kepala yang sangat hebat, mual, muntah, diare, batuk berdarah, gangguan kesadaran, pingsan, kejang, hemiplegi d. Defervesence period : e. Defection : viii. Immunitas/imunitas : Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria biasanya mempunyai immunitas alami sehingga mempunyai pertahanan alam dari infeksi malaria

ix. Kekebalan pada penyakit malaria dapat didefinisikan sebagai adanya kemampuan tubuh manusia untuk menghancurkan plasmodium yang masuk atau membatasi perkembangbiakannya/jumlahnya. Ada dua macam kekebalan : a) Kekebalan alamiah Adalah kekebalan yang timbul tanpa memerlukan infeksi lebih dahulu, misalnya manusia kebal terhadap infeksi dari plasmodium yang menghinggapi burung atau hewan pengerat. b) Kekebalan yang didapat Kekebalan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu kekebalan aktif merupakan penguatan dari mekanisme pertahanan tubuh sebagai akibat dari infeksi sebelumnya atau akibat dari vaksinasi dan kekebalan pasif merupakan kekebalan yang didapat melalui pemindahan anti bodi atau zatzat yang berfungsi aktif dari ibu hamil kepada janinnya atau melalui pemberian serum dari seseorang yang kebal penyakit. Telah banyak bukti nyata tentang adanya kekebalan bawaan (congenital immunity). Pada bayi yang baru lahir dari seorang ibu yang kebal terhadap malaria di daerah yang tinggi tingkat endemitas malarianya. Berdasarkan sifatnya kekebalan dibagi manjadi 2 yaitu: humoral dan selular. 1. Kekebalan humoral disebabkan oleh adanya antibodi yang timbul dalam darah yang terdiri dari opsonin, presipitin dan aglutinin.

2. Kekebalan selular ditimbulkan oleh makrofag dan sel-sel yang dihasilkan oleh system retikulo-endotelial dalam limpa, hati dan sum-sum tulang. Peranan dari kekebalan selular ini ternyata lebih besar daripada peranan kekebalan humoral. Adapun sifat-sifat dari kekebalan malaria adalah darah mungkin mengandung parasit malaria, hanya aktif terhadap bentuk eritrosit dari parasit spesifik terhadap spesies tertentu, tidak ada cross immunity, menjadi lebih kuat dengan adanya infeksi yang berulang-ulang akan segera menurun dan kemudian menghilang setelah tidak ada lagi parasit dalam tubuh manusia, umumnya lebih efektif, lebih cepat dan bertahan lebih lama pada P. vivaxdari pada P. falciparum. Kurangnya ensim G6PD (glukosa 6 fosfat dehidrogenase) ternyata juga memberikan perlindungan terhadap infeksi P. falciparum yang berat, tetapi kurangnya ensim ini juga merugikan dari segi pengobatan penderita dengan obatobat golongan sulfonamide dan primakuin di mana dapat terjadi hemolisa darah. Penyakit ini merupakan penyakit turunan dengan manifestasi utama pada pria. Bukti-bukti menunjukkan bahwa ketahanan penderita yang mempunyai kekurangan ensim ini tidak sekuat penderita dengan Hb S pada penyakit sikcle cell anemia http://eprints.undip.ac.id/15616/1/Helmin_Rumbiak.pdf