Anda di halaman 1dari 10

INTENSITAS BUDIDAYA TANAMAN BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lamk) DI KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT Marlita H.

Makaruku
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Pattimura - Ambon

ABSTRACT Red fruit (Pandanus conoideus Lamk.) is a fruit of the screw pine plant grew in Papua and Maluku area and having the potential to be a drug crop. The aim of this research was to determine the growth and cultivation technique intensity of red fruit crop was executed in West Ceram Regency, Maluku Province. Sampling was done with multistage random sampling method. Data obtained with questioners was analyzed descriptively, while data result of measurement applies statistician analysis that was analysis of variance with Hierarchical Classication to determine existence of difference between regions. Result of the research show that the growth of red fruit crop indicates that number of fruit of higher in Taniwel sub-district is 1,31 compared to Kairatu sub-district is 1,19. Red fruit crop cultivation technique intensity including way of seeding, keeping and processing of post uncommitted crop carefully. Key words : Intensity, cultivation, growth, red fruit. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat kaya keanekaragaman hayati. Potensi herbal tersebut memberikan peluang besar bagi pemanfaatannya untuk tanaman obat di Indonesia (Anonim, 2001). Semakin berkembangnya gaya hidup kembali ke alam (back to nature), maka penelitian tentang khasiat tanaman obat semakin diminati. Obat tradisional agaknya sudah tak dapat dipisahkan dari budaya bangsa Indonesia, karena telah lama melekat serta digunakan oleh segenap lapisan masyarakat. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap obat bahan alami, berbagai obat dari ekstrak tumbuhan mulai menjadi perhatian. Pengembangan obat tradisional di Indonesia akhir-akhir ini semakin positif. Hal ini didukung oleh GBHN tahun 1993 dan GBHN tahun 1998 tentang upaya pengembangan obat alami, Undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 761/Menkes/S/IX/1992 tentang pedoman fitofarmaka, dan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 760/Menkes/Per/IX/1992 tentang tofarmaka (Anonim, 1992). Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Anonim, 2000), obat tradisional didifenisikan sebagai bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhtumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan. Obat dari tanaman (tofarmasi) relatif lebih murah dibanding obat-obat kimiawi yang banyak digunakan saat ini. Kelebihan dari pengobatan dengan menggunakan ramuan tanaman tidak menimbulkan efek samping seperti yang sering terjadi pada pengobatan kimiawi. Tidak jarang obat tradisional menjadi pilihan alternatif bila pengobatan moderen oleh tenaga medis hasilnya kurang memuaskan. Penggunaan obat herbal (dari tanaman) ternyata tidak hanya di Indonesia, di negara lainpun banyak dilakukan misalnya China, Arab, India, Afrika. Bahkan obat dari China dan Arab sangat terkenal di dunia (Mangan, 2003). Salah satu tanaman obat yang cukup menarik perhatian dan banyak diteliti sejak akhir tahun 2004 adalah buah merah (Pandanus conoideus Lamk.). Meski masih asing bagi sebagian masyarakat, namun bagi masyarakat Papua dan Maluku terutama yang tinggal di daerah pedalaman, tanaman buah merah sudah lama dimanfaatkan terutama sebagai sumber pangan. Penelitian tentang budidaya tanaman buah merah masih belum banyak dilaksanakan, karena selama ini penelitian hanya dititikberatkan

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 pada kandungan bahan aktif di dalam buah merah dan penanganan pasca panen khususnya pada proses pengolahan menjadi minyak buah merah. Padahal penanganan budidaya sangat penting guna meningkatkan produktivitas tanaman buah merah mengingat permintaan minyak buah merah semakin meningkat. Permintaan minyak buah merah yang terus meningkat tidak dapat dipenuhi dengan baik, bila hanya mengandalkan dari tanaman buah merah yang tumbuh secara liar saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan intensitas teknik budidaya tanaman buah merah yang dilaksanakan di Kabupaten Seram Bagian Barat Propinsi Maluku. METODE PENELITIAN Pelaksanaan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei budidaya tanaman. Penelitian dilaksanakan Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat. Jenis tanaman buah merah yang diteliti dalam penelitian ini yaitu jenis Saune Ellah dan Saune Otidengan umur tanaman di atas 10 tahun. Wilayah yang dipilih ditentukan dengan pertimbangan di daerah tersebut merupakan daerah sentra produksi buah merah, memiliki populasi tanaman buah merah yang cukup banyak serta memiliki corak dan jenis pertanaman yang berbeda. Bahan yang digunakan adalah sampel populasi tanaman buah merah. Sedangkan alat yang digunakan adalah klinometer, pita diameter, kuas cat, tali, voice recorder, kuisioner, alat tulis dan kamera. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode multistage random sampling. Daerah yang dipilih untuk wilayah penelitian menggunakan startikasi luas kepemilikan lahan. Setiap desa disampling secara random dipilih sebanyak 10 petani dimana tiap kecamatan terwakili tiga desa sehingga jumlah keseluruhan adalah 60 orang petani sampel. Setiap petani di ambil 5 sampel tanaman sehingga terdapat 300 tanaman yang diamati. Informasi akan dikumpulkan dari lokasi sampel yaitu data primer dengan cara pengamatan langsung tentang cara budidaya tanaman buah

301

merah dari setiap sampel budidaya maupun wawancara langsung dengan cara pengambilan sampel melalui kuisioner, sedangkan data sekunder bersumber dari instansi-instansi terkait dan pihak-pihak lain yang dipandang perlu untuk mendukung penelitian ini. Data primer yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan berupa : a. Pertumbuhan (keragaan tanaman) Tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah buah per tanaman, panjang buah, diameter buah, serta populasi tanaman, dihitung berdasarkan sampel dari tiap petani. b. Cara budidaya Cara pembibitan (dibuat pertanaman, alami bibit dari lapangan) Penanaman (jarak tanam, ukuran lubang tanam, waktu tanam) Pemupukan (pemeliharaan tanaman) Panen dan pemanfaatan hasil (minyak buah merah) Umur tanaman (saat ini, mulai berbuah dan mulai panen) Sistem pertanaman (monokultur dan campuran) Analisis data Data dianalisis menggunakan metode analisis statistik dan deskriptif. Data yang diperoleh dengan kuisioner dianalisis secara deskriptif, sedangkan data hasil pengukuran menggunakan analisis statistika yaitu analisis ragam dengan Klasikasi Hirarki (Hirarchical Classification) untuk menentukan adanya perbedaan antar wilayah. HASIL DAN PEMBAHASAN Keragaan Tanaman Buah Merah Hasil pengamatan rerata tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah buah, panjang buah dan diameter buah sampel tanaman buah merah di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu dapat dilihat pada Tabel 1. Data tersebut menunjukkan bahwa karakteristik pertumbuhan tanaman buah merah yaitu tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah buah,

Marlita H. Makaruku

302

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 parameter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, jumlah buah, panjang buah dan diameter buah.

panjang buah dan diameter buah di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu berbeda nyata. Berdasarkan uji BNT 5% juga terdapat perbedaan nyata antar desa pada tiap kecamatan terhadap TT (m) DBtg (cm)

Tabel 1. Rerata Keragaan Tanaman Buah Merah di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu

Kecamatan

JCbg

JB

PB (cm)

DB (cm)

Taniwel 4,75 b 32,79 a 2,39 a 1,31 a 56,71 b 33,04 b Kairatu 4,99 a 26,32 b 1,83 b 1,19 b 67,22 a 36,25 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada Uji BNT 5%, TT : tinggi tanaman, DBtg : diameter batang, JCbg : jumlah cabang, PB : panjang buah, DB : diameter buah Hasil penelitian menunjukkan jumlah temperatur, radiasi juga merupakan sumber energi buah pada Kecamatan Taniwel lebih tinggi dan utama untuk fotosintesis. berbeda nyata yaitu 1,31 dibandingkan dengan Kandungan bahan organik dalam tanah di jumlah buah pada Kecamatan Kairatu sebesar Kecamatan Taniwel berada pada kisaran sedang 1,19. Sedangkan jumlah cabang pada Kecamatan sampai tinggi dapat lebih menjamin tersedianya Taniwel lebih tinggi dan berbeda nyata yaitu 2,39 lengas dan koloid humus guna meningkatkan dibanding Kecamatan Kairatu sebesar 1,83. Untuk KTK sehingga pertumbuhan tanaman dan hasil diameter batang lebih tinggi dan berbeda nyata di tanaman buah merah lebih tinggi. Mulyanto, Kecamatan Taniwel yaitu 32,79cm, dibandingkan (2004) mengatakan bahwa bahan organik tanah dengan Kecamatan Kairatu sebesar 26,32cm. Hal menentukan sifat biologi, kimia dan sika tanah ini diduga didukung oleh kondisi lingkungan dan yang pada akhirnya sangat menentukan daya tanah di Kecamatan Taniwel yang lebih sesuai dukung tanah terhadap tanaman. Menurut untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman Stevenson (1994) fungsi bahan organik di sehingga produksi tanaman buah merah lebih dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat tinggi. sik, kimia maupun biologi tanah, antara lain Menurut Doorenbos dan Kassam dalam berpengaruh langsung maupun tidak langsung Islami dan Utomo (1995), faktor iklim yang terhadap ketersediaan hara, bahan organik secara mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur adalah temperatur dan radiasi yang diterima selama mikro maupun unsur hara esensial lainnya. pertumbuhan tanaman. Secara umum temperatur Parameter diameter batang dan jumlah menentukan semua proses fisiologi tanaman cabang tanaman buah merah di Kecamatan dan sebagai akibatnya akan mempengaruhi Taniwel dan Kecamatan Kairatu menunjukkan lama periode pertumbuhan tanaman. Fitter perbedaan nyata di mana di Kecamatan Taniwel dan Hay (1994) mengatakan bahwa dengan diameter batang dan jumlah cabang lebih tinggi. adanya perubahan suhu lingkungan sangat Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifatmempengaruhi pertumbuhan dan metabolisme sifat kimia, sik, maupun biologi tanah. Secara tanaman. Peningkatan suhu dapat meningkatkan kimia bahan organik berpengaruh terhadap energi kimia, akan tetapi peningkatan di atas suhu peningkatkan KPK tanah, salah satu sumber optimum dapat mengganggu aktivitas enzim dalam unsur hara yang penting dalam siklus unsur hara, jaringan tanaman. Akibatnya terjadi penurunan cadangan unsur hara utama N, P, dan S dalam laju pertumbuhan yang dapat menyebabkan bentuk organik dan unsur hara mikro (Fe, Cu, Mn, terbatasnya produksi yang dihasilkan. Selanjutnya Zn, B, Mo dan Co) dalam bentuk khelat dan akan Islami dan Utomo (1995) mengatakan bahwa dilepaskan secara perlahan-lahan, meningkatkan radiasi menentukan pertumbuhan dan hasil aktivitas, jumlah dan populasi mikro dan makro tanaman karena radiasi merupakan sumber energi organisme tanah. Secara fisik bahan organik bagi tanaman. Di samping pengaruhnya terhadap mempengaruhi warna tanah menjadi lebih kelam,
Intensitas Budidaya Tanaman Buah Merah (Pandanus Conoideus Lamk) di Kabupaten Seram Bagian Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 meningkatkan agregasi (granulasi tanah), aerasi dan draenasi lebih baik, lebih tahan terhadap erosi, mengurangi plastisitas pada tanah lempung sehingga tanah lebih mudah diolah, meningkatkan kemampuan mengikat atau menyimpan air. Secara tidak langsung bahan organik membantu menyediakan unsur hara N melalui ksasi N2 dengan cara menyediakan energi bagi bakteri penambat N2. Nitrogen berfungsi sebagai penyusun protein yang sangat penting dalam perkembangan bagian vegetatif tanaman seperti batang. Umumnya petani di kecamatan Taniwel Desa

303

hanya meneruskan budidaya tanaman buah merah warisan orang tua dan hanya sebagian kecil petani yang sudah mulai membudidayakan tanaman buah merah sehingga umur tanaman yang dimiliki lebih tua daripada di kecamatan Kairatu. Keragaan Tanaman Buah Merah pada Kecamatan Taniwel Tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, panjang buah dan diameter buah pada masing-masing desa di Kecamatan Taniwel disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rerata Keragaan Tanaman Buah Merah Masing-masing Desa di Kecamatan Taniwel

TT DBtg PB DB JCbg JB (m) (cm) (cm) (cm) Rumah Soal 4,17 b 28,15 b 2,64 a 1,34 a 44,43 b 29,84 b Riring 4,52 b 31,38 b 2,54 ab 1,26 a 58,40 ab 32,99 ab Lohia Sapalewa 5,57 a 38,84 a 2,00 b 1,34 a 67,28 a 36,30 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada Uji BNT 5%, TT : tinggi tanaman, DBtg : diameter batang, JCbg : jumlah cabang, PB : panjang buah, DB : diameter buah Tabel 2 menunjukkan bahwa Desa Lohia 2,00 tetapi tidak berbeda nyata dengan jumlah Sapalewa tinggi tanaman, diameter batang, cabang di Desa Riring sebesar 2,54. Jumlah panjang buah dan diameter buah berbeda nyata cabang di Desa Riring dan Desa Lohia Sapalewa dengan desa Rumah Soal dan desa Riring. Tinggi menunjukan tidak ada perbedaan. Jumlah tanaman lebih tinggi dan berbeda nyata di Desa buah di Desa Riring, Rumah Soal dan Lohia Lohia Sapalewa yaitu 5,57 m dibandingkan Sapalewa menunjukkan tidak ada perbedaan dengan Desa Riring 4,52 m dan Rumah Soal tetapi jumlah buah di Desa Rumah Soal dan Desa sebesar 4,17 m tetapi antara Desa Riring dan Lohia Sapalewa lebih tinggi yakni sebesar 1,34 Desa Rumah Soal tidak berbeda nyata. Diameter dibandingkan dengan Desa Riring sebesar 1,26. batang lebih tinggi dan berbeda nyata di Desa Hal ini disebabkan karena tanaman Lohia Sapalewa yaitu 38,84 cm dibandingkan buah merah yang dominan dibudidayakan di dengan Desa Riring 31,38 cm dan Rumah Soal desa Lohia Sapalewa adalah jenis Saune Ellah sebesar 28,17 m tetapi antara Desa Riring dan sedangkan pada Desa Rumah Soal umumnya Desa Rumah Soal tidak berbeda nyata. Parameter petani membudidayakan jenis saune Oti. Buah panjang buah di Desa Lohia Sapalewa lebih tinggi merah jenis Saune Ellah memiliki tinggi pohon dan berbeda nyata 67,28 cm dengan Desa Rumah rata-rata 5,57 m dan tinggi pohonnya bisa Soal 44,43 cm tetapi tidak berbeda nyata dengan mencapai 15 m dengan diameter batang ratapanjang buah di Desa Riring sebesar 58,40 cm. rata 38,84 cm, di mana jenis ini memiliki ukuran Panjang buah di Desa Riring dan Desa Rumah daun yang lebih besar dan berwarna hijau tua. Soal menunjukan tidak ada perbedaan. Diameter Saune Ellah memiliki ukuran buah yang lebih buah di Desa Lohia Sapalewa lebih tinggi dan besar dan panjang dengan ukuran rata-rata 67,28 berbeda nyata 36,30 cm dengan Desa Rumah cm dengan dimeter buah rata-rata 36,30 cm bila Soal 29,84 cm tetapi tidak berbeda nyata dengan dibandingkan dengan buah merah jenis saune Ole, diameter buah di Desa Riring sebesar 32,99 cm. saune Porol dan saune Oti. Diameter buah di Desa Riring dan Desa Rumah Percabangan pada buah merah jenis Saune Soal menunjukan tidak ada perbedaan. Jumlah Ellah sangat sedikit, ini terlihat dengan adanya cabang di Desa Rumah Soal lebih tinggi dan perbedaan yang sangat nyata pada parameter berbeda nyata 2,64 dengan Desa Lohia Sapalewa jumlah cabang antara Desa Rumah Soal dan
Marlita H. Makaruku

304

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 tidak berbeda nyata dengan jumlah cabang di Desa Riring. Jumlah cabang di Desa Rumah Soal dan Desa Riring menunjukan tidak ada perbedaan.

Desa Lohia Sapalewa, di mana Desa Rumah Soal memberikan perbedaan yang sangat tinggi pada jumlah cabang sebesar 2,64 bila dibandingkan dengan Desa Lohia Sapalewa sebesar 2,00, tetapi

(a)

(b)

Gambar 1. (a) bentuk pohon dari buah merah jenis Saune Ellah (b) bentuk pohon dari buah merah jenis saune Oti

Pada Desa Rumah Soal, petani dominan membudidayakan jenis Saune Oti karena buah yang dihasilkan oleh tanaman buah merah jenis ini lebih banyak dari jenis Saune Ellah. Saune Oti memiliki tinggi pohon rata-rata 4,17 m dan diameter batang 28,15 cm dengan ukuran daun yang lebih kecil dan berwarna hijau muda bila dibandingkan dengan jenis Saune Ellah. Meskipun memiliki ukuran tinggi pohon yang lebih pendek tetapi tanaman buah merah jenis Saune Oti lebih banyak membentuk percabangan daripada jenis Saune Ellah sehingga jumlah buah yang dihasilkan oleh Saune Oti lebih banyak daripada Saune Ellah. Selain memiliki jumlah buah yang banyak dan ukuran buah yang lebih kecil, petani di Desa Rumah Soal banyak membudidayakan buah merah jenis Saune Oti karena buah merah jenis ini lebih banyak menghasilkan minyak. Desa Lohia Sapalewa mempunyai umur tanaman beragam mulai dari 10 tahun sampai

55 tahun, Desa Riring umur tanamannya 10 45 tahun dan Desa Rumah Soal umur tanamannya 10 40 tahun dan hal ini membuktikan bahwa pada kecamatan Taniwel masih banyak petani yang hanya meneruskan tanaman buah merah milik orang tua. Untuk luas lahan milik petani yang berada pada Kecamatan Taniwel juga beragam ada yang memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar sampai 2 hektar dan status lahannya adalah milik sendiri.

Keragaan Tanaman Buah Merah pada Kecamatan Kairatu Tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, panjang buah dan diameter buah pada masing-masing desa di Kecamatan Taniwel disajikan pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Rerata Keragaan Tanaman Buah Merah Pada Masing-Masing Desa di Kecamatan Kairatu

TT DBtg PB DB JCbg JB (m) (cm) (cm) (cm) Hukuanakota 4,88 a 26,53 ab 1,90 a 1,32 a 66,15 a 36,02 a Rambatu 4,92 a 25,47 b 1,84 a 1,18 ab 63,51 a 34,97 a Rumberu 5,17 a 26,97 a 1,76 a 1,06 b 71,99 a 37,75 a Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada Uji BNT 5%, TT : tinggi tanaman, DBtg : diameter batang, JCbg : jumlah cabang, PB : panjang buah, DB : diameter buah Desa
Intensitas Budidaya Tanaman Buah Merah (Pandanus Conoideus Lamk) di Kabupaten Seram Bagian Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 Tabel 3 menunjukkan pada ketiga desa yang berada di Kecamatan Kairatu yaitu Desa Hukuanakota, Rambatu dan Rumberu tidak berbeda nyata pada tinggi tanaman, jumlah cabang, panjang buah dan diameter buah. Diameter batang di Desa Rumberu lebih tinggi dan berbeda nyata yaitu 26,97 cm dibandingkan dengan Desa Rambatu sebesar 25,47 cm, tetapi tidak berbeda nyata dengan diameter batang di Desa Hukuanakota yaitu 26,53 cm. Diameter batang di Desa Rambatu dan Desa Hukuanakota menunjukan tidak ada perbedaan. Parameter jumlah buah di Desa Hukuanakota lebih tinggi dan berbeda nyata yaitu 1,32 dibangingkan dengan Desa Rumberu sebesar 1,06 tetapi tidak berbeda nyata dengan jumlah buah di Desa Rumberu yaitu 1,18. Jumlah buah di Desa Rambatu dan Desa Rumberu menunjukan tidak ada perbedaan. Pada kecamatan Kairatu jenis buah merah yang banyak dibudidayakan adalah jenis Saune Oti dibandingkan Saune Ellah. Sedangkan luas lahan yang dimiliki oleh masing- masing desa yaitu 0.5 sampai 2 dan merupakan lahan milik sendiri. Tanaman buah merah yang diusahakan pada Desa Hukuanakota, Rambatu dan Rumberu juga dibudidayakan dengan pola tanaman campuran karena juga menggunakan sistem dusung. Teknik Budidaya Tanaman Buah Merah Pola pertanaman di wilayah Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu merupakan pertanaman yang tidak teratur karena tumbuh tersebar dan tidak merata. Tanaman buah merah yang diusahakan tumbuh bercampur dengan tanaman tahunan seperti durian, cempedak, cengkeh, langsat dan lain-lain. Pada umumnya tanaman buah merah yang dibudidayakan pada masing-masing desa belum mengikuti anjuran dari Dinas Pertanian, hal ini disebabkan karena pada dasarnya Dinas belum pernah melakukan penyuluhan ke masing-masing desa tentang budidaya buah merah yang benar sehingga petani hanya menanam tanaman buah merah sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman mereka sehingga mengakibatkan produksi buah merah di Maluku rendah.

305

Pertanaman buah merah tidak dibudidayakan secara baik disebabkan karena tanaman tersebut dapat tumbuh sendiri melalui bantuan hewan ataupun secara alami dan tidak memerlukan penanganan khusus. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Kecamatan Taniwel para petani menggunakan bibit yang berasal dari anakan dan stek yang langsung ditanam di lahan tanpa menggunakan pesemaian dan jarak tanam. 1. Pembibitan Petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu menggunakan anakan dan stek tanaman buah merah sebagai bibit sedangkan bibit dari biji tidak digunakan oleh petani. Tanaman induk yang dipilih oleh petani untuk diambil anakan dan stek adalah tanaman induk yang memiliki cabang dan produksi buah yang banyak. Anakan yang dipilih yaitu batang tunasnya sudah tua dan anakan tersebut sudah mulai mengeluarkan akar sehingga diharapkan cepat beradaptasi dengan lingkungan di lahan dan memiliki kemampuan hidup yang lebih baik. Stek yang diambil berupa pucuk-pucuk tanaman buah merah yang tumbuh di bawah tanaman induk. Stek dan anakan yang diambil langsung ditanam di lahan tanpa melakukan pembibitan.

Gambar 2.

Tunas Tanaman Buah Merah yang digunakan sebagai Bibit

2.

Pengolahan Tanah Persiapan lahan untuk penanaman yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu hanya dengan pembuatan lubang tanam. Sebelum dibuat lubang tanam, lahan dibersihkan dari gulma dan dicangkul. Petani di Kecamatan Taniwel tidak menggunakan ukuran lubang tanam dan tidak memberi pupuk

Marlita H. Makaruku

306

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 beradaptasi dengan lingkungan dan sudah mampu hidup di lahan yaitu pada saat akan ditanam, anakan di pangkas sebagian daunnya dan sisa daun di bagian pucuk diikat dengan daun alangalang. Tanaman buah merah yang sudah mampu tumbuh ditandai dengan lepasnya ikatan tali daun alang-alang karena adanya pucuk daun muda yang sudah keluar dan kuat sehingga mampu melepas ikatannya. 4. Pemeliharaan Tanaman buah merah tidak menuntut perhatian lebih selama masa pertumbuhannya. Pemeliharaan yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Taniwel hanya dengan membersihkan gulma yang tumbuh pada areal pertanaman buah merah guna menghindari persaingan dalam pengambilan unsur hara, air, cahaya dan ruang tumbuh antara tanaman buah merah dengan gulma serta memangkas sebagian daun yang sekaligus akan dipergunakan sebagai bahan anyaman. Petani di Kecamatan Taniwel tidak melakukan pemupukan pada awal penanaman dan selama pertumbuhan tanaman buah merah karena petani masih beranggapan bahwa tanah di daerah mereka masih tergolong subur. Untuk penyiraman hanya dilakukan diawal penanaman sampai tanaman sudah mampu hidup di lahan. Di Kecamatan Kairatu pemeliharaan tanaman yang dilakukan oleh petani yaitu dengan penyiangan gulma dan pemangkasan yang dilakukan sampai tanaman berumur 1 tahun setelah tanam yang bertujuan untuk mempercepat pembentukan cabang. Sedangkan untuk pemupukan, penyiraman dan naungan hanya dilakukan diawal penanaman sampai tanaman sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu tidak melakukan penyulaman pada tanaman buah merah yang mati, hal ini karena anakan yang dipilih adalah yang sudah mengeluarkan akar sehingga cepat beradaptasi di lahan. Pemangkasan daun tanaman buah merah juga dilakukan karena petani masih menggunakan daun tanaman buah merah sebagai bahan anyaman kerajinan. Pada awal pertumbuhan tanaman buah merah, daun-daun tua perlu

pada awal penanaman karena petani beranggapan bahwa tanah di daerah mereka masih tergolong subur selain itu tanaman buah merah yang ada selama ini dapat tumbuh dengan baik tanpa dilakukan pemupukan. Lubang tanam yang dibuat hanya disesuaikan dengan ukuran tanaman yang akan ditanam, sedangkan petani di Kecamatan Kairatu menggunakan ukuran tanam 50 x 50 x 50 cm dan di dalam lubang tanam dimasukkan pupuk kandang atau serasah daun-daun kering. 3. Penanaman Penanaman tanaman buah merah tidak terlalu sulit apalagi pertanaman buah merah dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim atau tanaman tahunan seperti cengkeh, kelapa, durian, pisang dan ubi kayu. Bibit yang akan di tanam, terlebih dahulu sebagian daunnya dipangkas untuk mengurangi penguapan kemudian di tanam dalam lubang tanam. Pada saat penanaman letak bibit disesuaikan dengan ukuran lubang tanam. Petani di Kecamatan Taniwel tidak menggunakan jarak tanam pada saat penanaman. Sedangkan di Kecamatan Kairatu, walaupun petani pada saat penanaman bibit tanaman buah merah dengan menggunakan jarak tanam tetapi jarak tanam yang digunakan tidak mengikuti anjuran dari Dinas Pertanian. Jarak tanam yang digunakan oleh petani adalah ukuran 2 x 3 meter dan 3 x 3 meter yang terlalu rapat dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah merah. Apabila jarak tanam yang terlalu rapat maka ruang tumbuh makin sempit sehingga menghambat pembentukan cabang yang akan menurunkan produktifitas buah, karena makin banyak cabang yang terbentuk maka buah yang dihasilkan akan semakin banyak. Selain itu ruang tumbuh yang sempit juga akan menghambat pertumbuhan anakan baru sehingga proses perbanyakkan tanaman akan semakin lambat. Setelah anakan di tanam kemudian disiram dan diberi naungan dari daun kelapa atau daun pisang. Pemberian naungan dan penyiraman dilakukan sampai tanaman sudah mampu hidup di lahan yang ditandai dengan keluarnya pucuk daun yang baru. Salah satu teknik tradisional yang digunakan oleh petani di Kecamatan Kairatu untuk menandakan tanaman telah mampu

Intensitas Budidaya Tanaman Buah Merah (Pandanus Conoideus Lamk) di Kabupaten Seram Bagian Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 dipangkas dan dikurangi untuk mempercepat pertumbuhan tanaman. Namun pemangkasan hanya dilakukan hingga tanaman setinggi 12 m. Setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh secara alami. Pemangkasan pohon pelindung harus dilakukan bila tajuk pohon pelindung sudah mengganggu dan menutupi daun-daun tanaman buah merah sehingga perlu dilakukan pemangkasan. Petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu melakukan pengendalian hama dan penyakit pada buah merah yang diserang oleh ulat dan burung adalah secara mekanik yaitu dengan perangkap burung serta mencari dan mematikan ulat yang menyerang buah merah. Pengendalian hama dan penyakit sangat jarang dilakukan, penggunan pestisida tidak digunakan sama sekali karena tanaman buah merah jarang diserang hama dan penyakit, kebanyakan tanaman hanya roboh akibat diterjang angin yang besar. Di Kecamatan Taniwel 73,3% petani hanya meneruskan budidaya tanaman peninggalan orang tua dan sedangkan di kecamatan Kairatu 80% petani sudah mulai membudidayakan tanaman buah merah. Keadaan pertanaman buah merah yang terdapat di kecamatan Taniwel di mana jarak tanam tidak teratur dan tidak merata karena lokasi tanaman buah merah tidak terletak pada suatu areal khusus pertanaman buah merah. Selain itu petani di Kecamatan Taniwel sebagian besar hanya meneruskan budidaya tanaman buah merah milik warisan orang tua sehingga cara budidaya tanaman buah merah yang dilakukan berdasarkan cara budidaya yang sudah dilakukan secara turun temurun. Petani di Kecamatan Kairatu sebagian besar sudah melakukan budidaya tanaman buah merah milik sendiri dan bukan tanaman buah merah warisan orang tua. Pada saat penanaman sudah menggunakan jarak tanam sehingga pertanaman buah merah sudah teratur tetapi jarak antar tanaman masih cukup dekat sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman buah merah. 5. Pemungutan Hasil Tanaman buah merah mulai berbuah saat berumur tiga tahun sejak ditanam. Buah

307

yang akan keluar ditandai dengan kuncup daun agak menggembung di ujung susunan daun tanaman. Buah merah yang sudah tua ditandai dengan warnanya yang merah tua cerah, pelepah pembungkus buah yang semula berwarna hijau berubah coklat. Jarak antara tonjolan semakin jarang dan biji diujung mudah dilepas dan buah seperti ini bisa langsung dipanen. Petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu memiliki waktu panen yang berbeda antara jenis Saune Ellah dan saune Oti. Buah merah jenis Saune Ellah di panen 4 - 5 bulan setelah kuncup daun agak mengembung sedangkan Saune Otidi panen 3 bulan setelah kuncup daun mengembung. Apabila letak buah merah yang akan dipanen cukup tinggi dari tanah dan sulit dijangkau maka petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu menggunakan galah bamboo yang telah dibelah bagian ujungnya, tetapi bila letak buah merah mudah dijangkau maka pemanenan dilakukan dengan cara memotong tangkai buah merah. Buah merah yang telah dipanen harus langsung diolah karena buah merah tidak tahan disimpan atau cepat menjadi busuk. 6. Pengolahan Minyak Buah Merah Teknik pengolahan minyak buah merah yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu masih secara tradisional dan menggunakan alat-alat yang sederhana sehingga menyebabkan kualitas minyak yang dihasilkan sangat sedikit dan kurang baik atau cepat tengik. Hal ini menyebabkan motivasi penjualan hasil buah merah oleh petani, umumnya dijual buah merah masih dalam bentuk buah segar. Proses pengolahan minyak buah merah yang dilakukan oleh petani yaitu buah merah dibersihkan, dipotong-potong, dimasukkan kedalam bambu dan ditambahkan air. Kemudian bambu yang sudah berisi potongan buah merah direbus sampai mendidih. Setelah buah merah mendidih, buah merah dihancurkan sampai betul-betul lunak dan biji buah merah terpisah dari daging sambil terus direbus di perapian yang sedang. Bambu yang berisi buah merah yang sudah lunak terus direbus sampai minyak keluar dari biji buah merah (sari buah merah keluar dari biji) dan

Marlita H. Makaruku

308

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 buah merah yang diambil dari tanaman induk langsung di tanam di lahan.
30 20 10 0 A B C D E F G Taniwel Kairatu

terpisah dari daging buah dan pasta atau ampas buah merah. Setelah sari buah merah sudah keluar dari biji buah merah selajutnya bambu diangkat dari api. Buah merah di dalam bambu selanjutnya disaring dan dipisahkan antara pasta dan air yang bercampur dengan minyak buah merah (sari buah merah). Kemudian air yang bercampur dengan minyak buah merah (sari buah merah) yang telah terpisah dengan pasta dimasukkan ke dalam bambu baru untuk didiamkan dan didinginkan selama satu hari. Setelah satu hari sari buah merah yang disimpan dibuka dan selanjutnya bagian bawah bambu dibuat lubang kecil untuk memudahkan pemisahan air dan minyak buah merah. Pemisahan ini juga sangat dibantu oleh kondisi suhu yang dingin di daerah sentra buah merah sehingga menyebabkan minyak buah merah didalam bambu cepat membeku dan mempercepat proses pemisahan minyak dan air buah merah. Hal ini dapat terjadi akibat berat jenis minyak yang lebih kecil dari berat jenis air sehingga minyak buah merah di dalam bambu lebih cepat membeku dari air. Pasta atau ampas buah merah yang terpisah dari sari buah merah dimanfaatkan sebagai saus. 7. Pemasaran Hasil Sebagian besar petani di Kecamatan Taniwel menjual buah merah dalam bentuk buah segar, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang teknik pengolahan minyak buah merah yang baik sehingga minyak yang dihasilkan tidak menjadi cepat tengik. Selain itu kurangnya sarana transportasi untuk memasarkan hasil akibat lokasi desa-desa sentra buah merah yang cukup terpencil dan sulit dijangkau dengan kendaraan menyebabkan petani kesulitan untuk memasarkan buah merah dan lebih banyak digunakan untuk konsumsi sendiri, sedangkan petani di Kecamatan Kairatu menjual buah merah dalam bentuk buah segar dan minyak buah merah. Intensitas Budidaya Tanaman Buah Merah Gambar 3 menunjukkan tingkat intensitas budidaya tanaman buah merah yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Taniwel dan Kairatu. Petani di Kecamatan Taniwel dan Kairatu tidak melakukan pembibitan. Anakan dan stek tanaman

Gambar 3. Intensitas budidaya buah merah di Kecamatan Taniwel dan Kairatu


A = Pembibitan B = Pengolahan tanah C = Penanaman D = Pemeliharaan E = Pemungutan hasil F = Prosesing hasil G = Pemasaran hasil

Keterangan :

Lahan untuk penanaman bibit tanaman buah merah di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu tidak dibuat petak penanaman tetapi langsung di tanam pada lubang tanam. Di Kecamatan Taniwel petani tidak menggunakan jarak tanam dan ukuran lubang tanam yang dianjurkan oleh Dinas Pertanian, sedangkan petani di Kecamatan Kairatu sudah menggunakan jarak tanam dan ukuran lubang tanam pada saat penanaman tetapi jarak tanam yang digunakan tidak sesuai dengan anjuran Dinas Pertanian. Pemeliharaan tanaman buah merah oleh petani di Kecamatan Taniwel hanya berupa penyiangan gulma dan pemangkasan daun tanaman buah merah sedangkan petani di Kecamatan Kairatu melakukan kegiatan pemeliharaan tanaman berupa pemangkasan, penyiangan gulma, pemberantasan hama secara mekanik, pemupukan dan penyiraman yang dilakukan pada awal penanaman. Petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu melakukan pemanenan pada saat pelepah pembungkus buah merah sudah berwarna cokelat dengan menggunakan galah bamboo yang bagian ujungnya sudah dibelah. Pengolahan minyak buah merah yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Taniwel dan Kecamatan Kairatu masih secara sederhana. Petani di Kecamatan Taniwel hanya menjual buah merah dalam bentuk buah segar karena kualitas minyak yang dihasilkan kurang baik, sedangkan petani di Kecamatan Kairatu sudah menjual buah merah

Intensitas Budidaya Tanaman Buah Merah (Pandanus Conoideus Lamk) di Kabupaten Seram Bagian Barat

Jurnal Agroforestri Volume V Nomor 4 Desember 2010 dalam bentuk buah segar dan minyak buah merah. Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa intensitas budidaya tanaman buah merah di Kecamatan Taniwel masih rendah yang disebabkan letak Kecamatan Taniwel yang cukup jauh dari ibukota Kecamatan dan letak desa penghasil buah merah yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki sehingga tidak adanya sosialisasi tentang teknik budidaya dan teknik pengolahan minyak buah merah yang baik dan petani hanya melakukan kegiatan budidaya sesuai dengan yang telah dilakukan secara turun temurun. Sedangkan petani di Kecamatan Kairatu memiliki intensitas budidaya tanaman yang tergolong sedang karena letak Kecamatan Kairatu yang dekat dengan ibukota kecamatan sehingga walaupun belum dilakukan sosialisasi dari Dinas Pertanian tetapi sebagian petani sudah mendapatkan informasi tentang teknik budidaya tanaman buah merah. KESIMPULAN DAN SARAN

309

Kesimpulan 1. Keragaan tanaman buah merah menunjukkan bahwa jumlah buah di Kecamatan Taniwel lebih tinggi yaitu 1,31 dibandingkan Kecamatan Kairatu 1,19. 2. Intensitas teknik budidaya tanaman buah merah yang meliputi cara pembibitan, pemeliharaan serta pengolahan pasca panen belum dilaksanakan dengan baik.

Saran 1. Perlu dilakukan sosialisasi oleh Dinas Pertanian, tentang teknik budidaya dan pengolahan minyak buah merah yang baik bagi petani di daerah penghasil buah merah di Kabupaten Seram Bagian Barat. 2. Perlu diterapkannya teknik budidaya tanaman buah merah sesuai anjuran Dinas Pertanian secara intensif untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman buah merah. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1992. Undang Undang Republik Indonesia No. 23 Tentang Kesehatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. Anonim, 2000. Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Departemen Kesehatan. Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan. Edisi I. Jakarta. Anonim, 2001. Pelestarian Pemanfaatan Keanekaragaman Tumbuhan Obat Hutan Tropika. http://www. latin.or.id/wacana/publikasi. Diakses pada 6 Mei 2009. Duryatmo, S. 2005. Buah Merah Bukti Empiris dan Ilmiah. Trubus 431-Oktober 2005/XXXVI. Hal. 49-50. Fitter, A. H., dan Hay, R. K. 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Islami, T., dan Utomo, W. H. 1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. IKIP Semarang Press. Semarang. Mangan, Y. 2003. Cara Bijak Menaklukan Kanker. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta. Mulyanto, B. 2004. Pengelolaan Bahan Organik Tanah Untuk Mendukung Kelestarian Pertanian di Lahan Basah. Proceding Simposium Nasional Pertanian Organik Keterpaduan Teknik Pertanian Tradisional dan Inovatif. Fakultas Pertanian IPB dan Asia Network of Organik Recycling, Bogor 30 November 2004. Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry Genesis, Composition, Reaction. John Willey & Sons Inc, New York.

Marlita H. Makaruku