Anda di halaman 1dari 3

Meningkatkan Produksi Lewat EOR

Written by Administrator Thursday, 17 November 2011 14:47 - Last Updated Sunday, 11 December 2011 07:51

Konsumsi Energi di Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2010, kebutuhan energi nasional sekitar tiga juta barel ekuivalen minyak per hari. Dengan prediksi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar tujuh persen per tahun, pada tahun 2025 diperkirakan kebutuhan energi Indonesia mencapai

delapan juta barel ekuivalen per tahun. Kekurangan energi tahun 2025 tidak bisa dijawab dengan penghematan, karena posisi ekonomi Indonesia yang masih harus tumbuh mengejar ketertinggalan. Usaha pemenuhan energi menjadi satu-satunya jalan. Apabila produksi minyak dan gas bumi konstan yaitu 2,3 juta barel ekuivalen minyak per hari seperti saat ini, maka tahun 2025, sektor migas hanya akan mensuplai kebutuhan energi sebesar 28 persen saja, atau turun dari posisi saat ini sebagai pemasok 77 persen kebutuhan energi nasional. Lalu, apakah dalam waktu 15 tahun sumber energi lain dapat dikembangkan agar mampu memenuhi 72 persen kebutuhan energi tahun 2025? Membebankan kebutuhan energi nasional pada sektor non migas saja, hampir merupakan sebuah kemustahilan. Oleh karena itu peningkatan produksi migas menjadi suatu keharusan yang tidak mungkin ditawar lagi. Resource to reserve to production yang menjadi kesatuan mutlak adanya. Caranya, dengan ekstensifikasi, yaitu meningkatkan cadangan melalui kegiatan eksplorasi, serta langkah intensifikasi, yakni meningkatkan produksi melalui peningkatan recovery factor dengan teknologi lanjutan untuk mengangkat minyak (enhanced oil recovery/EOR). Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) terus mendorong kontraktor kontrak kerja sama (KKS) yang telah berproduksi menerapkan EOR untuk mempercepat peningkatan produksi minyak nasional. Wakil Kepala BPMIGAS, Hardiono mengatakan, keberhasilan penerapan teknologi EOR masih cukup besar mengingat saat ini sisa inplace minyak Indonesia masih sekitar 43 milyar barel. Apabila kegiatan EOR berhasil meningkatkan recovery factor 10 persen, maka akan ada tambahan cadangan sebesar 4,3 milyar. Penambahan ini lebih besar dari cadangan minyak terbukti nasional yang hanya 3,7 milyar barel, katanya saat workshop EOR untuk Peningkatan Produksi Minyak Nasional di Bandung, Kamis, 23 Juni 2011 lalu. Meski demikian, banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya, pemilihan teknologi yang tepat untuk diterapkan. Efisiensi dan efektivitas program juga harus diperhitungkan agar penerapan teknologi ini tidak membengkakkan biaya secara signifikan. Penerimaan pemerintah maupun kontraktor tetap harus dijaga, kata Hardiono. Deputi Operasi, BPMIGAS,

1/3

Meningkatkan Produksi Lewat EOR


Written by Administrator Thursday, 17 November 2011 14:47 - Last Updated Sunday, 11 December 2011 07:51

Haposan Napitupulu menambahkan, selama 10 tahun terakhir, cadangan minyak terbukti turun rata-rata 2,4 persen per tahun. Tahun 2010, total produksi 344 juta barel setahun, hanya digantikan oleh cadangan sebesar 140 juta barel. Artinya reserve replacement ratio (RRR) hanya sebesar 41 persen. Seharusnya, setiap barel yang diproduksikan minimal sama dengan penambahan cadangan, kata dia. Indonesia telah dua kali mengalami puncak produksi, yaitu tahun 1977 ketika produksi minyak mencapai 1,65 juta barel per hari. Produksi sebesar itu dihasilkan dari kegiatan produksi yang dilakukan secara primary recovery. Puncak produksi kedua terjadi tahun 1995 saat produksi minyak kembali pada kisaran 1,6 juta barel per hari. Puncak produksi ini dapat dicapai dari hasil kegiatan EOR yang dilakukan oleh Chevron, yaitu injeksi air (waterflood) di salah satu lapangannya berhasil meningkatkan produksi dari 12 ribu barel per hari menjadi 32 ribu barel per hari, serta Injeksi uap (steamflood) di lapangan Duri yang terbukti mampu meningkatkan produksi dari 30 ribu barel per hari menjadi 296 ribu barel per hari. Setelah kedua puncak produksi tersebut, kata Haposan, produksi minyak dan kondensat Indonesia terus mengalami penurunan rata-rata sebesar enam persen per tahun. Kegiatan-kegiatan eksplorasi hanya menghasilkan penemuan-penemuan kecil. Kegiatan ekstensifikasi produksi juga hanya cukup menahan laju penurunan produksi. Pada empat tahun terakhir, laju penurunan produksi melambat menjadi sekitar 2 persen per tahun, kata dia. Haposan mengungkapkan, kontribusi secondary dan tertiary recovery terhadap produksi minyak nasional telah melampaui primary recovery. Rinciannya, distribusi fase produksi primer sebesar 47 persen, sekunder 31 persen, dan tertier/EOR 22 persen. "Jadi, EOR berperan penting dalam peningkatan produksi nasional di masa depan," kata dia. Beberapa negara telah berhasil menerapkan EOR. contohnya di lapangan Daqing, di Cina, dengan operator Petrochina. Dengan injeksi polymer, produksi dapat dipertahankan relatif konstan sebesar satu juta barel per hari selama kurang lebih 30 tahun. Sebelum polymer, Petrochina melakukan injeksi air dan optimisasi. "Teknologinya terus berkembang. Semakin terkini, semakin tinggi faktor recoverynya," kata Haposan. Berdasarkan hasil kajian BPMIGAS, sebanyak 12 k o n t r a k t o r memiliki potensi untuk penerapan EOR. Kontraktor tersebut adalah, P e r t a m i n a EP, Kondur Petroleum, VICO, CNOOC, PHE WMO, Petrochina, Premier Oil, Petro Selat, Total EP Indonesie, Medco EP, JOB Pertamina-Medco Tomori, dan JOB Talisman Jambi Merang. Keseluruhannya terdapat 32 lapangan yang menjadi kandidat penerapan EOR. Rinciannya, sebanyak 19 lapangan berpotensi menggunakan teknologi chemical, enam lapangan menerapkan teknologi injeksi CO2, tiga lapangan menggunakan teknologi polimer, sisanya menerapkan injeksi uap dan thermal."Perlu diingat, penerapan EOR adalah proyek jangka panjang, bukan instan. Prosesnya memakan waktu setidaknya lima tahun," kata dia. BPMIGAS meminta kontraktor agar dalam usulan persetujuan plan of development (POD) juga mencantumkan rencana tahapan phase produksi dari primary recovery hingga EOR. "Dengan persiapan sejak dini, hasilnya akan lebih optimal," katanya.

2/3

Meningkatkan Produksi Lewat EOR


Written by Administrator Thursday, 17 November 2011 14:47 - Last Updated Sunday, 11 December 2011 07:51

Usaha Pertamina EP Kembangkan EOR

Salah satu yang giat mengembangkan EOR adalah Pertamina EP. Departemen EOR Pertamina EP didirikan pada September 2006 dengan latar belakang untuk meningkatkan produksi lapangan Pertamina EP melalui tahap secondary recovery (waterflood) dan tertiary recovery. Sampai dengan saat ini, 85 persen kontribusi produksi Pertamina EP berasal dari lapangan lapangan tua (marginal field) yang

sudah mengalami penurunan produksi sebesar 10 15 persen per tahun dan dengan faktor primary recovery mencapai 15-35 persen. Dengan adanya tuntutan target produksi dan pemenuhan kebutuhan nasional, Pertamina EP melalui Project EOR melakukan screening dari lapangan - lapangan yang ada dalam wilayah kerja untuk dapat diaplikasikan tahapan EOR. Screening telah dilakukan di 150 lapangan dengan dikelompokkan dan diprioritaskan menjadi 36 lapangan berdasarkan besaran remaining reserve dan metode yang akan diimplementasikan melalui tahapan awal studi geofisika, geologi, reservoir, dan fasilitas produksi, sebelum dimulainya tahapan pilot untuk fase secondary dan tertiary. Pertamina EP sampai dengan saat ini sudah mengimplementasikan pilot waterflood pada lapangan Bunyu, Kenali Asam, Nglobo, Talang Jimar, Rantau dan Tapian Timur, dari ke-enam pilot waterflood ini sudah diindikasikan adanya respon tekanan dan kenaikkan gross produksi dari sumur sumur produksi akibat adanya respon dari sumur injeksi. Sedangkan untuk tahapan tertiary recovery (chemical flooding) saat ini Pertamina EP sudah melakukan tahapan analisa laboratorium pembanding di Lemigas pada lapangan Limau (ASP Flooding), Tanjung (Riset Surfactant - IPB) maupun Bajubang sedang progres (Riset Surfaktan ITB).

3/3