Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Upaya peningkatan mutu pendidikan perlu dilakukan secara menyeluruh meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai. Pengembangan aspek-aspek tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup melalui seperangkat kompetensi, agar siswa dapat bertahan hidup, menyesuaikan diri, dan berhasil di masa datang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan mudah dan cepat dari berbagai sumber dan tempat di seluruh penjuru dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan yang terjadi pun berjalan sangat cepat. Oleh karena itu, untuk mengantisipasinya diperlukan kemampuan untuk memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi tersebut agar bisa bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Kemampuan untuk dapat bertahan dalam kondisi seperti yang

dikemukakan di atas salah satunya dapat diperoleh melalui cara berpikir sistematis, logis, dan kritis. Upaya yang mengarah pada pencapaian kondisi tersebut dapat ditempuh dan dikembangkan melalui pembelajaran matematika. Kebiasaan berpikir sistematis, logis, dan kritis melalui pembelajaran matematika harus ditanamkan sejak dini. Hal ini ditegaskan dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Kelas II Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.

Standar kompetensi Matematika disusun agar siswa dapat berpikir secara sistematis, logis, berpikir abstrak, dapat menggunakan Matematika dalam pemecahan masalah dan komunikasi menggunakan simbol dan diagram yang dikembangkan melalui pembelajaran yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. (Depdiknas, 2003:19). Pada bagian lain Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Kelas II Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah tersebut, dicantumkan: Fungsi mata pelajaran Matematika adalah untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah melalui pola pikir dan model Matematika serta sebagai alat komunikasi melalui simbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Sementara itu, tujuan pembelajaran Matematika adalah melatih cara berpikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif, dan konsisten. (Depdiknas, 2003:19) Dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran tersebut, terdapat beberapa kompetensi Matematika yang harus dikuasai oleh siswa. Kompetensikompetensi tersebut termuat dalam standar kompetensi. Penjelasan mengenai hal di atas dikemukakan dalam Kurikulum 2004 Sekolah Dasar Standar Kompetensi Kelas II berikut ini. Standar kompetensi Matematika merupakan seperangkat kompetensi Matematika yang dibakukan dan harus dicapai siswa pada akhir periode pembelajaran. Standar ini dikelompokkan dalam kemahiran Matematika bilangan, pengukuran dan geometri, aljabar, statistika dan peluang, trigonometri, dan kalkulus. (Depdiknas, 2003:19) Berkaitan dengan penelitian yang akan penulis lakukan, salah satu standar kompetensi pembelajaran Matematika yang harus dicapai oleh siswa kelas II sekolah dasar adalah memahami konsep urutan bilangan cacah. Seperti kita ketahui, keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mengenai hal ini Undang (1996:15) mengatakan:

Faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern merupakan faktor yang datang dari dalam individu yang bersangkutan karena kemampuan yang dimilikinya. Kematangan, kecerdasan, serta bakat dan minat merupakan contoh faktor intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa. Pada bagian lain, Undang (1996:15) mengatakan: Faktor ekstern merupakan faktor yang datang dari luar individu (siswa) yang bersangkutan. Perhatian orang tua, status sosial ekonomi keluarga, perhatian guru, sarana dan prasarana, kesempatan yang tersedia, dan lingkungan masyarakat sekitar merupakan contoh faktor ekstern yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Mengacu pada uraian di atas, teknik mengajar yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu faktor ekstern yang mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Wijaya dan Rusyan (1992:62), bahwa : Mengenal dan sanggup menggunakan teknik mengajar adalah kemampuan dasar guru yang paling utama dalam meraih sukses di sekolah. Guru yang tidak mengenal teknik mengajar jangan diharap bisa melaksanakan tugas mengajar sebaik-baiknya. Salah satu teknik mengajar yang bisa digunakan dalam pembelajaran Matematika adalah teknik permainan. Menurut Moeslichatoen (2004: 33) : Dengan bermain anak akan memperoleh kesempatan memilih kegiatan yang disukainya, bereksperimen dengan bermacam bahan dan alat, berimajinasi, memecahkan masalah dan bercakap-cakap secara bebas, berperan dalam kelompok, bekerja sama dalam kelompok, dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Senada dengan pendapat di atas, Hudojo (1988: 134) mengatakan: Apabila suatu konsep Matematika disajikan melalui bermain, pengertian terhadap konsep tersebut diharapkan akan mantap sebab belajar dengan cara ini merupakan cara belajar yang wajar, yaitu sesuai dengan naluri peserta didik yang masih berada dalam periode pra-operasional dan operasi konkrit bahwa mereka itu memang suka bermain.

Menggunakan teknik mengajar yang dapat membangkitkan motivasi belajar siswa sering kurang disadari oleh sebagian guru. Guru cenderung lebih suka menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan, padahal tidak semua pokok bahasan dapat disampaikan dengan teknik-teknik tersebut. Apalagi teknik mengajar tersebut digunakan dalam pembelajaran di kelaskelas rendah. Kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sama dengan uraian di atas. Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan, guru kelas II SD Negeri Pamoyanan 2 lebih sering menggunakan metode ceramah daripada menggunakan metode mengajar lain, sehingga pembelajaran matematika yang dilaksanakan terkesan monoton dan kurang memotivasi siswa. Kemampuan yang dicapai siswa setelah pembelajaran tersebut cenderung menunjukkan hasil yang belum optimal. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perolehan nilai kurang dibandingkan dengan nilai baik yang diperoleh siswa, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan belum mencapai ketuntasan belajar. Seperti kita ketahui, karakteristik siswa di kelas-kelas rendah cenderung masih senang bermain. Kenyataan ini mendorong penulis untuk

menggunakan teknik permainan tersebut dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran Matematika mengenai konsep membilang loncat Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik dan berkeinginan mengadakan penelitian yang berjudul Implementasi Teknik Permainan dalam Pembelajaran Matematika Pokok Bahasan Urutan Bilangan Cacah melalui Teknik Membilang Loncat di Kelas II Sekolah Dasar. (Penelitian

Tindakan Kelas di Kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya)

B. Perumusan dan Pemecahan Masalah 1) Perumusan Masalah

Pada uraian di atas dikemukakan bahwa teknik mengajar merupakan salah faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Berbagai teknik mengajar dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan dan menyempurnakan pembelajaran Matematika di sekolah dasar. Salah satu teknik mengajar Matematika itu adalah teknik permainan. Dengan teknik ini diharapkan pemahaman siswa dalam pembelajaran konsep membilang loncat benar-benar optimal. Berdasarkan uraian di atas, penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: Bagaimanakah implementasi teknik permainan dalam pembelajaran pokok bahasan urutan bilangan cacah di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya? Agar memudahkan pelaksanaan penelitian, masalah di atas penulis batasi dan dirumuskan secara rinci sebagai berikut. a. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran konsep membilang loncat yang efektif dengan menggunakan teknik permainan di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya? b. Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran konsep membilang loncat dengan menggunakan teknik permainan untuk meningkatkan pemahaman

siswa di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya? c. Bagaimanakah kemampuan siswa dalam belajar konsep membilang loncat dengan menggunakan teknik permainan di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya?

2.

Pemecahan Masalah Upaya untuk memecahkan permasalahan di atas, penulis tempuh

melalui tahapan sebagai berikut. a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, penulis memilih dan menyediakan bahan ajar. Setelah bahan ajar yang diperlukan tersedia, penulis memahami standar kompetensi mata pelajaran Matematika dan menyusun rencana pembelajaran (persiapan mengajar) untuk mengembangkan

kompetensi dasar memahami konsep urutan bilangan cacah. b. Tahap pelaksanaan Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan sebagai berikut. 1) Siswa menyimak penjelasan guru tentang konsep

membilang loncat. 2) Siswa dibimbing untuk memahami konsep

membilang loncat melalui kegiatan permainan. 3) Siswa menerima pembagian lembaran kerja,

sekaligus membentuk kelompok kecil.

4)

Siswa dibimbing menyelesaikan soal-soal yang ada

pada lembar kerja. c. Tahap Akhir Kegiatan Kegiatan penulis pada tahap akhir kegiatan adalah sebagai berikut. 1) 2) 3) Menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran Melaksanakan evaluasi Melakukan tindak lanjut.

C. Tujuan Penelitian Secara umum, tujuan penelitian adalah ingin memperoleh data akurat tentang implementasi teknik permainan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran Matematika konsep membilang loncat di Kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. Secara khusus, tujuan penelitian dimaksudkan untuk: 1) Meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran konsep membilang

loncat dengan menggunakan teknik permainan untuk meningkatkan pemahaman siswa di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. 2) Meningkatkan kemampuan guru dalam proses pelaksanaan pembelajaran konsep membilang loncat

dengan menggunakan teknik permainan untuk meningkatkan pemahaman siswa di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. 3. Memperoleh data hasil pembelajaran konsep membilang loncat dengan menggunakan teknik permainan di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. D. Manfaat Penelitian Manfaat secara umum hasil kegiatan penelitian adalah untuk perbaikan dan peningkatan pelaksanaan pembelajaran Matematika, khususnya dalam rangka mengembangkan kompetensi dasar membilang loncat di kelas rendah, yaitu kelas II Sekolah Dasar. Adapun manfaat secara khusus, penulis kemukakan sebagai berikut. 1. Manfaat Praktis Manfaat praktis hasil penelitian ini penulis tujukan untuk guru dan siswa sekolah dasar, terutama guru dan siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. Melalui penelitian ini, guru memperoleh wawasan dan kemampuan untuk mengembangkan dan memecahkan permasalahan pengajaran Matematika, khususnya dalam mempersiapkan, melaksanakan, dan menilai

pengembangan kompetensi dasar membilang loncat dengan menggunakan teknik permainan. Sementara itu, manfaat untuk siswa diperolehnya

pengalaman belajar baru dan dapat dikembangkannya kompetensi dasar membilang loncat. 2. Manfaat Teoretis Manfaat teoretis hasil penelitian ini adalah mengembangkan ilmu pendidikan tentang pelaksanaan penerapan teknik permainan pada pembelajaran konsep membilang loncat di kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya. 3. Manfaat Kelembagaan Manfaat hasil penelitian untuk lembaga, khususnya Sekolah Dasar Negeri Pamoyanan 2 Kecamatan Kadipaten Kabupaten Tasikmalaya adalah diperolehnya model pembelajaran tentang cara membilang loncat dengan menggunakan teknik permainan di kelas II. Model pembelajaran dengan teknik permainan ini dapat dikembangkan di kelas-kelas lainnya, mengingat teknik permainan jarang dipergunakan oleh guru dalam pembelajaran.

A. Anggapan Dasar dan Hipotesis Penelitian 1. Anggapan Dasar Penelitian ini bertolak dari anggapan dasar sebagai berikut. a. Konsep membilang loncat merupakan salah satu bahan ajar pokok yang harus dikuasai oleh siswa untuk mencapai keberhasilan pembelajaran matematika.

b. Teknik permainan dapat digunakan dalam pembelajaran konsep membilang loncat.

2. Hipotesis Tindakan Proses belajar mengajar yang terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian atau evaluasi cenderung terabaikan karena dianggap membebani pekerjaan guru. Padahal, tugas utama guru adalah melaksanakan ketiga tahapan tersebut agar pembelajaran yang

dilaksanakannya berhasil sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Berkaitan dengan penelitian tindakan kelas yang dilakukan, penulis merumuskan hipotesis sebagai berikut. Kemampuan siswa Kelas II Sekolah Dasar Negeri Pamaoyanan 2 dalam memahami konsep membilang loncat dapat ditingkatkan melalui

perencanaan, proses pelaksanaan, dan penilaian yang relevan dengan prosedur penggunaan teknik permainan.

10

11