Anda di halaman 1dari 7

TEKNOLOGI GASIFIKASI BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK SKALA KECIL

Sebagai UAS Mata Kuliah Teknologi Batubara Bersih

Disusun oleh: Sri Kurniati (06/194685/TK/31876) Asep Robby Sugara (06/199703/TK/32301)

JURUSAN TEKNIK FISIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAHMADA 2011

TEKNOLOGI GASIFIKASI BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK SKALA KECIL

Berikut ini merupakan diagram cara kerja pembangkit listrik tenaga uap yang berbahan batubara.

Coal Supply (pengumpan batu bara) o Batu bara dari tambang di kirim ke "coal hoper" dan dihaluskan sampai ukuran 5 cm. Setelah itu dikirim ke pembangkit melalui konveyor.

Pulverizer (Alat penghancur) o Batu bara dihaluskan lagi sampai menjadi bubuk dan di campur dengan udara kemudian ditiupkan ke tungku pembakaran.

Boiler o Batu bara yang dibakar di ruang pembakaran digunakan untuk memanaskan air didalam boiler sampai menjadi uap. Uap ini yang digunakan untuk memutar rotor dan membangkitkan energi listrik

Precipitator, stack (alat penangkap debu) o Pembakaran batu bara akan menghasilkan karbon dioksida (CO2), sulpur dioksida (SO2) dan Nitrogen oksida. Gas - gas ini keluar dari boiler melalui Precipitator dan stack . Precipitator mampu 99.4 % debu sebelum gas dibuang ke udara. Sedangkan sisa pembakaran yang lebih berat akan mengendap ke bawah boilerdan dibuang lagi.

Turbin dan Generator o Uap bertekanan tinggi dari boiler digunakan untuk memutar bilah turbin yang dihubungkan dengan generator dengan bantuan poros. Poros yang berputar ini akan menghasilkan energi listrik di dalam generator.

Condensers (kondensor) o Uap panas yang keluar dari turbin dialirkan ke kondensor. Di kondensor uap didinginkan sehingga terkondensasi menjadi air. Air ini di pompakan lagi ke boiler untuk dipanaskan dan proses ini terus berulang (resirkulasi).

Water treatment plant o Untuk mengurangi korosi pada pipa - pipa boiler, air yang digunakan untuk boiler harus dibersihkan. Air yang mengandung lumpur akan dibuang keluar dari sistem.

Substation, transformer, transmission lines o Energi listrik yang di hasilkan oleh generator harus di naikan voltasenya melaui transformer (travo step up) sebelum di kirim melalui jalur transmisi (transmisi line). Tujuan untuk menaikan voltase ini untuk mengurangi energi yang terbuang selama proses pengiriman.

Salah satu contoh Pembangkit Listrik Tenaga Uap Skala Kecil dengan berbahan bakar batu bara adalah PLTU Mulut Tambang dengan kapasitas 2x6 MW. Lokasinya berada di Desa Sambakungan, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang dikenal dengan nama daerah Lati. PLTU tersebut dibangun atas kerja sama antara PT Indonesia Power, Pemda Kabupaten Berau, PT Berau Coal, dan BPPT. Instalasi pembangkitnya terdiri dari dua boiler stoker yang mampu membakar batu bara buangan dari berbagai peringkat tanpa menimbulkan masalah dalam pencapaian efisiensi dan memenuhi persyaratan lingkungan. Meskipun menggunakan batu bara dengan kandungan sulfur tinggi sekitar 1.7 3 persen, namun pembangkit listrik ini dilengkapi dengan peralatan desulfurisasi sehingga diharapkan kadar SO2 yang dihasilkan tidak lebih dari 750 ppm sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup. Demikian juga dengan efek pencemaran lainnya. Instalasi PLTU ini pengoperasiannya dengan kendali jarak jauh dari ruang kontrol menggunakan sistem kontrol berbasis microprocessor.

Sedangkan penyaluran kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan sistem pendistribusian yang sudah ada, yaitu distribusi 20 kV, mengikuti jalur substation Lati ke substation Sambaliung yang melewati area di sekitar proyek. Bahan baku batu bara akan diangkut dari tambang Lati yang dimiliki PT Berau Coal dengan menggunakan dump truk dari area penumpukan batu bara buangan (reject) di tambang Lati ke PLTU yang berjarak sekitar 2 kilometer. Luas areal tambang batu bara di Berau seluas 15.600 hektar, yang berada di Binungen, Lati, Punan, dan Kelai. Di Lati sendiri kawasan penambangannya seluas 6.984 hektar.

Proses gasifikasi batubara adalah proses yang mengubah batubara dari bahan bakar padat menjadi bahan bakar gas. Dengan mengubah batubara menjadi gas, maka material yang tidak diinginkan yang terkandung dalam batubara seperti senyawa sulfur dan abu, dapat dihilangkan dari gas dengan menggunakan metode tertentu sehingga dapat dihasilkan gas bersih dan dapat dialirkan sebagai sumber energi. Untuk dapat menghasilkan gas dari batubara dengan maksimal, maka pasokan oksigen harus dikontrol sehingga panas yang dihasilkan dari pembakaran setengah matang ditambah energi yang terkandung pada senyawa gas yang terbentuk setara dengan energi dari batubara yang dipasok. Salah satu teknologi gasifikasi batubara adalah dengan menggunakan teknologi Baragas. Pembuatan gas dari batu bara ini jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan pemakaian batubara secara konvensional (pembakaran langsung). Dengan teknologi Baragas, pembakaran batu bara dilakukan tidak sempurna atau tidak sampai menghasilkan api. Prinsip kerja teknologi ini adalah oksidasi. Reaksi antara karbon dari batu bara dan oksigen akan menghasilkan gas sintetis yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara. Proses pembakarannya tak menghasilkan asap. Kontrol terhadap panas dan energi yang dihasilkan juga lebih mudah karena lebih stabil dan tidak berbahaya. Pemanfaatannya di industri bisa digunakan untuk pemanasan boiler, oven dan furnace, serta sebagai bahan bakar genset, gas turbin, dan steam turbin untuk menghasilkan listrik. Proses gasifikasi mesin Baragas menghasilkan dua macam limbah yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat berupa semi kokas yang dapat dipakai kembali untuk proses

pembakaran pada reaktor. Limbah semi kokas ini masih mempunyai nilai kalor dan mempunyai nilai ekonomis yang dapat menjadi bahan baku briket karbonasi bersulfur rendah. Batubara yang diperlukan untuk proses gasifikasi mesin Baragas adalah cukup batubara dengan kisaran kalori 5,500 5,300 kcal. Baragas secara umum menggunakan batubara jenis Nut (berdiameter 510mm), pemakaian jenis fine yang diperbolehkan maksimal 20% dari volume. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan.

CARA KERJA MESIN

Tahap 1: Reaktor Batubara dimasukkan kedalam reaktor bertemperatur tinggi dengan penambahan oksigen & uap air ke dalamnya sehingga akan terjadi reaksi oksidasi yang menghasilkan gas sintesis. Reaksi ini dinamakan reaksi pirolisa. Tahap 2: Scrubber Gas direaksikan dengan air kapur untuk mengurangi kandungan sulfur sehingga tidak membahayakan.

Tahap 3: Kondensor Gas yang dihasilkan dialirkan ke kondensor guna memisahkan zat padat berupa debu batubara atau tar dengan gas.

Tahap 4: Tabung pemutar Gas dialirkan ke dalam tabung pemutar untuk membersihkan sisa-sisa partikel. Gas sintetik yang dihasilkan di bagian atas tabung langsung dialirkan melalui pipa ke tungku pembakaran dengan menggunakan konverter. Gas yang dihasilkan bisa disesuaikan dengan berbagai kebutuhan penggunaan seperti boiler, oven industri, tungku, kompor dan steam. Limbah yang dihasilkan berada di bawah tabung dan selanjutnya diolah karena memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.

TIPE & SPESIFIKASI MESIN Type W BGT 30 M BGT 30 A BGT 50 A BGT 80 A BGT 100 A BGT 150 A BGT 200 A BGT 250 A BGT 300 A BGT 350 A BGT 500 A BGT 750 A 200 200 250 300 400 450 500 600 600 600 600 600 Dimention (cm) L 600 600 700 900 1000 1200 1300 1400 1600 1700 1800 2000 H 525 525 575 625 650 675 700 725 750 850 900 975 Coal Consumption Coal 5500 Kcal/kg (kgs/h) Eq.Fuel (ltrs/h) 90 90 150 240 300 450 600 750 900 1200 1500 2250 30 30 50 80 100 150 200 250 300 400 500 750