Anda di halaman 1dari 2

Tiana, aku dapat nilai bagus lagi lho!seru Lia saat dibagikan ulangan matematika.

Tiana yang mendapat nilai di bawah nilai rata-rata pun menjadi minder. Diam-diam ia iri kepada sahabatnya yang selalu mendapat nilai bagus. Selamat ya. Ucap Tiana lirih. Saat bel pulang sekolah berbunyi, mereka berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing. Lia dan Tiana biasanya pulang bersama, tetapi hari ini Tiana tidak mau pulang bersama Lia dengan alasan bahwa ibunya menunggu di toko sehingga ia harus berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah rumahnya. Sebenarnya ia bukan mau ke toko ibunya melainkan ia kesal kepada Lia yang terus berbicara mengenai ulangan matematikanya. Maaf ya, aku harus ke toko ibuku. Jawab Tiana saat Lia menanyankan mengapa berjalan ke arah yang berbeda. Bu, tadi aku dibagikan ulangan matematika, dan aku mendapatkan nilai 95 lho! kata Lia dengan bangga kepada ibunya saat Ia sampai di rumahnya. Oh ya? Lalu berapa nilai Tiana? tanya ibunya. Lia diam sejenak lalu ia berkata Aku tidak tahu, karena saat baru dibagikan ia langsung menyimpannya. Ia juga selalu mengubah tema pembicaraan saat aku memperlihatkan nilaiku. Ia juga tidak pulang bersamaku, katanya ia ke toko ibunya karena ibunya menunggu di sana, tetapi setahuku ibunya menunggu di rumahnya. Mungkin dia minder karena nilainya di bawah nilaimu. Seharusnya kamu tidak membanggakan nilaimu di depan Tiana. Ibu bangga kamu mendapatkan nilai bagus tapi jangan kamu pamerkan, itu tidak baik. Sebaiknya besok kamu minta maaf pada Tiana dan mengajarkannya matematika agar dia juga bisa mendapatkan nilai bagus. Kata ibu menasihati. Mungkin ibu benar, besok aku akan meminta maaf padanya dan mengajarinya matematika. Aku juga berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Keesokan harinya, Lia menemui Tiana. Tiana, aku minta maaf karena kemarin aku sudah menyakiti perasaanmu. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan menolongmu belajar matematika agar kita dapat memperoleh nilai yang memuaskan. Tidak apaapa. Kemarin aku hanya terbawa emosi. Maafkan aku juga ya. Mereka pun saling

memaafkan dan kembali bersahabat. Lia pun mengajari Tiana matematika. Sejak saat itu, mereka selalu belajar bersama sepulang sekolah. Saat ulangan matematika yang kedua kalinya, mereka dapat mengerjakannya dengan baik. Mereka pun mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, yaitu 100.