Anda di halaman 1dari 17

ANALISIS PERUBAHAN LIPUTAN HUTAN TAHUN 2001-2009 DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI UNGGAHAN HULU KECAMATAN EROMOKO KABUPATEN

WONOGIRI

SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Geografi

Oleh: JOKO WIDODO NIM E 100.000.031

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Tanah dan air adalah sumberdaya alam yang sangat penting bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. Penggunaan sumberdaya alam oleh manusia yang tanpa memperhatikan aspek kelestarian dapat mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. Menurunnya kualitas lingkungan akan berdampak pada menurunnya produktivitas lahan. Oleh karena itu, pengelolaan sumberdaya alam yang berwawasan lingkungan mutlak diperlukan. Aspek yang paling menonjol dalam kaitannya dengan pengolahan DAS, terutama hutan, di daerah hulu serta pengaruh yang ditimbulkannya di daerah hilir adalah banjir, pemasokan air (minum, irigasi, industri) dan transpor sedimen. Dalam perkembangan selanjutnya isu keberadaan hutan telah dikaitkan dengan masalah yang berdimensi lebih luas dan spektakuler seperti hutan mencegah banjir, hutan mencegah kekeringan, hutan menambah curah hujan, dan hutan mengalirkan sumber-sumber yang sebelumnya tidak ada. Fenomena dan karakteristik permukaan bumi saat ini dapat dengan cepat disadap dari teknologi pengindraan jauh. Menurut Sutanto (1986), penginderaan jauh didefinisikan sebagai ilmu atau seni untuk memperoleh informasi tentang obyek daerah atau gejala melalui analisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung dengan obyek daerah atau gejala yang dikaji. Lebih lanjut penginderaan jauh dalam perencanana regional diperlakukan perolehan data yang berkesinambungan untuk merumuskan program dan kebijakan dengan permasalahan lingkungan dan perencanaan sumber daya alam. Pengindraan jauh dapat dimanfaatkan oleh seluruh disiplin ilmu yang menganalisis permukaan bumi yang sensornya dapat ditangkap oleh sensor citra baik foto maupun non foto. Haryuatmanto dkk, 2000 (dalam Suroto, 2006) mengungkapkan bahwa perkembangan teknologi penginderaan jauh satelit saat ini mengarah pada peningkatan resolusi spasial dan temporal Citra yang lebih tinggi untuk perolehan

informasi data spasial yang lebih tinggi pula untuk keperluan monitoring. Perkembangan penginderaan jauh ditunjukkan dengan beroperasinya satelit Ikonos yang menghasilkan citra beresolusi spasial sangat tinggi (1 meter dan 4 meter) dengan perekaman data yang dapat dilakukan setiap hari. Selain itu data citra satelit Ikonos juga memiliki resolusi spektral tinggi, yaitu sebuah saluran pankromatik dan multispektral dengan tiga saluran pada panjang gelombang visible serta sebuah saluran inframerah dekat. Menurut Jansen 2000 (dalam Suroto, 2006) Satelit Ikonos adalah satelit sumber daya bumi generasi terbaru yang mempunyai resolusi spasial 1 meter untuk hitam putih, 4 meter untuk multispektral, dan 1 meter untuk berwarna, publikasi Internet Space Imaging. Satelit Ikonos pertama kali diluncurkan pada bulan september tahun 1999, dari citra Ikonos kita dapat menyadap informasi sangat banyak karena citra satelit ini dapat membedakan obyek di permukaan bumi sekecil 1 meter sehingga kerincian obyek sangat tinggi, untuk itu Citra Ikonos sangat baik untuk membantu memonitor sumberdaya alam, karena Citra Ikonos mempunyai tingkat resolusi yang tinggi atau mempunyai tingkat kedetilan dalam menyadap suatu obyek seperti perubahan liputan hutan dan konservasi di daerah penelitian yaitu DAS Unggahan. Sub DAS Unggahan merupakan salah satu sub DAS Bengawan Solo yang terletak di Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Aliran sungai DAS Unggahan sebelum masuk ke Waduk Serbaguna Wonogiri di bagian hulu dibendung pada dusun Parangjoho, sehingga dinamakan waduk Parangjoho. Tampungan air Waduk Parangjoho pada musim hujan terlihat penuh dan pada musim kemarau genangan air semakin menyusut sampai akhirnya hanya terlihat aliran kecil yang berkelak-kelok pada dasar waduk (hasil pengamatan), menyerupai meander sungai. Dasar waduk terlihat jelas pada pertengahan sampai akhir musim kemarau berupa material lumpur yang tebal. Pada daerah penelitian penggunaan lahan untuk hutan masih luas tetapi pemeliharaannya sangat kurang, hal ini dapat dilihat dari banyaknya lahan hutan yang rusak tanpa adanya tanaman atau ada tanaman tetapi kurang sesuai dengan kebutuhan karena kebutuhan yang paling penting adalah penanaman tanaman keras untuk menjaga kondisi tanah

daerah tersebut karena banyak daerah yang ditanami tetapi hanya tanaman musiman saja, dimana jenis tanaman tersebut tidak bisa menahan air. Hal ini mengindikasikan adanya ketidaksesuaian fungsi hutan. Hutan yang tersebar di daerah penelitian meliputi Desa Tempurharjo, Ngandong, dan Desa Pasekan yang berada pada daerah dengan topografi bervariasi diantaranya pada; daerah dengan kemiringan kurang dari 15% (daerah datar-bergelombang), daerah dengan kemiringan 15-30% (bergelombang-berbukit), dan daerah dengan kemiringan 3045% (berbukit-bergunung). Penelitian Eko Hermanto pada tahun 2005 menunjukkan bahwa 49,2% luas DAS Unggahan pada tingkat erosi sangat tinggi, 10,3% tinggi, 35,4% sangat rendah dan sisanya (5,1%) pada tingkat erosi sedang dan rendah. Sedangkan untuk jenis tanaman hutan yang ada meliputi, pinus, jambu mete, pohon jati.(pengamatan di lapangan). Dengan diketahuinya jenis tanaman yang ada pada lahan akan diketahui juga jenis konservasi yang cocok untuk lahan yang mempunyai kemiringan yang berbeda-beda sehingga dapat diketahui ketidaksesuaian penggunaan lahan untuk hutan di daerah penelitian. Berdasarkan latar belakang di atas peneliti mengambil judul penelitian ANALISIS PERUBAHAN LIPUTAN HUTAN TAHUN 2001-2009 DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI UNGGAHAN HULU KABUPATEN

WONOGIRI.

1.2. Perumusan Masalah 1. Bagaimana agihan perubahan liputan hutan yang terjadi di daerah penelitian tahun 2001 dan 2009. 2. Berapa luas perubahan liputan hutan yang terjadi di daearh penelitian tahun 2001 dan 2009.

1.3. Tujuan Penelitian 1. Mengetahui agihan perubahan liputan hutan yang terjadi di daerah penelitian tahun 2001 dan 2009. 2. Mengetahui luas perubahan liputan hutan daerah penelitian tahun 2001 dan 2009.

1.4. Kegunaan Penelitian. 1. Dengan melakukan penelitian ini diharapkan mampu pengetahuan bagi peneliti khususnya dalam studi geografi. 2. Sebagai masukan terhadap pihak terkait untuk pengelolaan Daerah Aliran Sungai Unggahan, khususnya masalah konservasi lahan. 1.5. Telaah Pustaka dan Penelitian Sebelumnya 1.5.1. Telaah Pustaka Alih fungsi lahan Ruang atau tanah yang berada di atas bumi ini tiap saat dapat berubah unsur-unsurnya karena dalam proses alam atau bahkan karena perbuatan manusia, maka disebutkan ruang permukaan bumi itu adalah dinamis. Dengan adanya perubahan tersebut yang sebagian besar ternyata berpengaruh buruk terhadap kehidupan manusia, ruang atau tanah selalu menjadi permasalahan yang kontroversional. Karena penghidupan selalu berubah sehingga berubah pula wajah permukaan bumi. Dalam 20 tahun ini, menurut Anthony (1989 dalam Eko Hermanto 2005), perubahan penghidupan lebih cepat daripada dalam jangka waktu 200 tahun terakhir. Hal itu tentu besar pengaruhnya terhadap permukaan bumi, akibat kegiatan sosial ekonomi penduduk. Di negara yang sedang berkembang, akibat praktek pertanian yang kurang bijaksana, telah terjadi erosi dan kerusakan tanah, terlampauinya daya dukung kemampuan tanah dalam memberi bekal hidup pada manusia yang tinggal di tanah itu, akibat teknologi yang diterapkan kurang bijaksana dalam industri. Kebutuhan lahan yang berbeda-beda dalam artian penggunaan lahan untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk menyebabkan penduduk merubah lahan untuk disesuaikan dengan kebutuhannya. T.B Wajdi Kamal (1987) menjelaskan pengertian perubahan penggunaan lahan yaitu: perubahan penggunaan lahan dari fungsi tertentu, misalnya dari sawah berubah menjadi pemukiman atau tempat usaha, dari sawah kering berubah menjadi sawah irigasi atau yang lainnya. menambah

Faktor utama yang mendorong perubahan penggunaan lahan adalah jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga mendorong mereka untuk merubah lahan. Tingginya angka kelahiran dan perpindahan penduduk memberikan pengaruh yang besar pada perubahan penggunaan lahan. Di samping faktor-faktor yang lain seperti adanya bencana alam dan lain-lain. Selain akibat adanya pertumbuhan penduduk yang membutuhkan lahan untuk pemukiman, perubahan lahan juga bisa disebabkan oleh adanya kebijaksanaan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di suatu wilayah. Selain itu, pembangunan fasilitas sosial dan ekonomi seperti pembangunan pabrik juga membutuhkan lahan yang besar walaupun tidak diiringi dengan adanya pertumbuhan penduduk di suatu wilayah. Perubahan penggunaan lahan yang terjadi harus ditata dan diatur dengan sebaik mungkin agar tercipta pembangunan yang terencana dan berwawasan lingkungan. Alih fungsi lahan sering disebabkan aktifitas pertanian sehingga terjadi perubahan penggunaan lahan yang semula hutan menjadi lahan pertanial atau yang lainnya.

Perubahan Hutan Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang penting dan mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembangunan nasional, yakni pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Sebagai sumberdaya alam, hutan memberikan sumbangan yang besar dalam memasok devisa non migas. Di samping itu, hutan juga mempunyai fungsi ekologi, yakni menghisap karbon dari udara. Hutan di Indonesia diperkirakan mengalami penyusutan pada laju 15.000-20.000 ha /tahun. Luas hutan cenderung mengalami penyusutan sebagai akibat perubahan penggunaan lahan dari hutan ke penggunaan lahan lain (permukiman, perindustrian, fasilitas perkotaan,dan sebagainya). Penyusutan ini seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan. Penyusutan luas hutan yang terus berlanjut akan mengakibatkan kemrosotan lingkungan. Oleh karena itu, pelestarian hutan diperlukan sebagai upaya

perlindungan lingkungan hidup, pengembangan wisata, serta pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan sebisa mungkin memihak pada kelestarian lingkungan. Sehingga lingkungan penghasil sumber air seperti Daerah Aliran Sungai dapat terselamatkan dari kekeringan yang disebabkan oleh penggundulan hutan. Daerah Aliran Sungai Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima,mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau. Lillsand(1993) Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan ujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenal sebagai muara sungai. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Pengindraan Jauh Pengindraan jauh sebagai salah satu disiplin ilmu, telah banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang penelitian dengan tema yang beragam. Pengindraan jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang obyek, daerah, atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan alat tanpa kontak langsung terhadap obyek, daerah, atau gejala yang dikaji (Lillesand and Kiefer,1979) dalam Suroto, 2006. Hal ini berkaitan dengan metode atau cara pengumpulan data atau informasi yang dilakukan oleh media. Media yang digunakan untuk pengumpulan data ini adalah sensor yang dipasang pada wahana digunakan untuk mengindra obyek dipermukaan bumi. Hasil pengumpulan tersebut menghasilkan suatu data yang berupa gambaran obyek dipermukaan bumi yang disebut citra

pengindraan jauh. Salah satu produk data pengindraan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah foto udara dan citra IKONOS.

1.5.2. Penelitian Sebelumnya Prasetyo Nugroho (2005) Skripsi ini berjudul Analisis Perubahan Liputan Hutan Dengan Pemanfaatan Citra Landsat TM Tahun 1994 dan 2001 Di Kabupaten Wonogiri bertujuan untuk mengetahui variasi keruangan perubahan liputan hutan dan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan liputan hutan. Metode yang digunakan Interpretasi data pengindraan jauh dengan

pemrosesan citra landsat dan dibantu dengan survey. Hasil penelitian menunjukkan Perubahan liputan hutan dibagi 3 tingkatan kerapatan: Rapat, sedang, dan jarang. Dari tahun 1994 sampai 2001 mengalami penurunan sebesar 2735 ha pada hutan rapat, peningkatan sebesar 415 ha terjadi pada hutan kerapatan sedang. Pada kerapatan jarang terjadi penurunan sebesar 3311 ha. Faktor perubahan liputan hutan yang berpengaruh adalah aksesibilitas.

Eko Hermanto (2005) Skripsi ini berjudul Evaluasi Erosi Tanah di Daerah Aliran Sungai Unggahan Hulu Kabupaten Wonogiri bertujuan untuk; 1) mengetahui besar erosi aktual, 2) mengevaluasi kehilangan tanah dan tindakan manusia dalam rangka menurunkan erosi potensial di daerah penelitian. Metode yang digunakan adalah survai lapangan dengan menggunakan pendekatan satuan lahan. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik strati sampling. Hasil penelitian menunjukkan (1) besar erosi tanah terkecil adalah 0,2277 ton/ha/tahun pada satuan lahan D1 III Li Sw dan terbesar adalah 828.9731ton/ha/tahun pada satuan lahan S2 VI Li Tg, (2) total kehilangan tanah di daerah penelitian sebesar 218.585,368 ton/ha/tahun. Julnita Azwar (2006)

Skripsi ini berjudul Kajian Geomorfologi untuk Konservasi Tanah, di Sub Das Unggahan Hulu Kabupaten Wonogiri bertujuan, 1) mengetahui karakteristik geomorfologi, 2) mengetahui bentuk-bentuk konservasi, 3) ingin menganalisis agihan bentuk konservasi di setiap satuan lahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel stratifield sampling dengan strata satuan lahan, data yang diambil adalah data morfologi, kemiringan lereng, panjang lereng, kedalaman erosi, jarak antar alur, konservasi, bentuk konservasi, dan jenis tanaman. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan: 1) karakter daerah penelitian sangat bervariasi, 2) bentuk konservasi tanah daerah penelitian berupa metode mekanik dan vegetatif, 3) agihan bentuk konservasi tanah dari berbagai metode konservasi tanah yang tersebar di satuan lahan tidak selalu sesuai dengan standar konservasi tanah, sehingga perlu dilakukan pembenahan dalam metode maupun bentuk konservasi yang diterapkan. Adapun hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk peta morfokonservasi dan peta geomorfologi dengan skala 1:36.000. Hal yang membedakan dengan penelitian yang sudah ada adalah penelitian ini mengunakan perbandingan dari pengindraan jauh dengan survey langsung ke lapangan. 1. 6. Kerangka Penelitian Hampir setiap aktifitas manusia melibatkan penggunaan lahan, pengambilan keputusan untuk mengubah pola penggunaan lahan mungkin memberikan keuntungan maupun kerugian yang besar, baik ditinjau dari penelitian ekonomis maupun terhadap perubahan lingkungan walaupun dalam keadaan yang tidak begitu nyata. Dengan demikian, membuat keputusan tentang penggunaan lahan merupakan aktifitas politik yang sangat dipengaruhi keadaan sosial ekonomi. Tingkah laku dan tindakan manusia dalam tata guna tanah disebabkan oleh kebutuhan dan keinginan manusia yang berlaku pula pada kehidupan sosial maupun ekonomi.

Lahan sangat bervariasi dalam berbagai faktor seperti keadaan topografi, geologi, tanah dan vegetasi yang menutupinya. Keterangan tentang berbagai kemungkinan pemanfaatan dan pembatasan-pembatasan faktor-faktor lingkungan yang relatif permanen seperti diterangkan di atas, sangat penting untuk dibicarakan baik mengenai perencanaan maupun perubahan dalam pola penggunaan lahan. Fungsi dari perencanaan penggunaan lahan adalah merupakan keputusan dalam pemecahan masalah tentang sumber daya lingkungan khususnya lahan untuk manusia. Perencanaan ini harus didasarkan pada kesamaan antara sumber daya alam dan jenis penggunaan lahan. Gambaran distribusi keruangan perubahan liputan hutan dilakukan dengan interpretasi Citra Ikonos dan peta hasil interpretasi, menggunakan cara tumpang susun peta hasil interpretasi tahun 2001 dan 2009. Hasil tumpang susun kedua peta tersebut akan dapat diketahui agihan keruangan perubahan liputan hutan selama 8 tahun terakhir. Ketimpangan perubahaan liputan hutan diketahui dari analisis tumpang susun peta, kemudian dilakukan perhitungan terhadap besarnya penyimpangan atau perubahan liputan hutan. Sebelum dilakukan tumpang susun peta dilakukan evaluasi terhadap kedua peta tersebut mengetahui skala, klasifikasi, dan simbolisasi yang digunakan harus sesuai. Sistem pengindraan jauh pada saat ini sangat diperlukan dalam berbagai aspek, apalagi dalam ilmu geografi. Citra satelit adalah satu produk yang dihasilkan dari sistem pengindraan jauh. Pengindraan jauh menggunakan metode Intrepretasi, yaitu menerjemahkan apa yang tampak atau tersadap dalam citra. salah satunya adalah perubahan liputan hutan. Pada saat ini untuk mempermudah dalam melakukan kajian atau monitoring hutan salah satunya dengan menggunakan citra satelit. Citra satelit Ikonos dapat digunakan untuk melihat daerah mana saja yang mengalami perubahan liputan hutan. Citra satelit Ikonos juga bisa diketahui persebaran hutan dan jenis konservasi lahan apa yang dilakukan untuk menyelamatkan daerah aliran sungai Unggahan Hulu

Tabel 1.1 Penelitian Sebelumnya Tujuan penelitian


Interpretasi data pengindraan jauh dengan pemrosesan citra landsat dan dibantu dengan survey

Nama peneliti(tahun) Prasetyo


Mengetahui vriasi kerruangan perubahan liputan hutan dan factor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan liputan hutan

Judul penelitian

Metode penelitian

Hasil

Nugroho (2005)

Analisis Perubahan liputan Hutan Dengan Pemanfaatan Citra Landsat TM Tahun 1994 dan 2001 Di Kabupaten Wonogiri

Perubahan liputan hutan dibagi 3 tingkatan kerapatan : Rapat, sedang , jarang. Dari tahun 1994 sampai 2001 mengalami penurunan sebesar 2735 Ha pada hutan rapat, peningkatan sebesar 415 Ha terjadi pada hutan kerapatan sedang. Pada kerapatan jarang terjadi penurunan sebesar 3311 Ha. Faktor perubahan liputan hutan yang berpengaruh adalah aksesibilitas.

Eko

Hermanto

(2005)

Evaluasi Erosi Tanah Di Daerah Aliran Sungai Unggahan Hulu Kabupaten Wonogiri

mengetahui besar erosi aktual, mengevaluasi kehilangan tanah dan tindakan manusia dalam rangka menurunkan erosi potensial di daerah penelitian.

Metode yang di gunakan adalah survai lapangan dengan menggunakan pendekatan satuan lahan.

Julnita azwar(2006)

Kajian geomorfologi untuk konservasi tanah di sub das unggahan hulu kabupaten wonogiri

mengetahui karakteristik geomorfologi, mengetahui bentuk bentuk konservasi, ingin menganalisis agihan bentuk konservasi di setiap satuan lahan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan teknik pengambilan sampel stratifield sampling

Hasil penelitian menunjukkan (1). Besar erosi tanah terkecil adalah 0,2277 ton/ha/tahun pada satuan lahan D1 III Li Sw dan terbesar adalah 828.9731ton/ha/tahun pada satuan lahan S2 VI Li Tg.(2) Total kehilangan tanah di daerah penelitian sebesar 218.585,368 ton/ha/tahun. Hasil penelitian menunjukkan : 1) karakter daerah penelitian sangat bervariasi. 2) Bentuk konservasi tanah daerah penelitian berupa metode mekanik dan vegetatif. 3) Adapun hasil penelitian ini deisajikan dalam bentuk peta morfokonservasi dan peta geomorfologi dengan skala 1:36.000. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interpretasi citra dan cek lapangan. Hasil penelitian menunjukkan 1) peubahan hutan yang merata di DAS unggahan Hulu. 2) perubahan luas

Joko Widodo (2009)

Agihan perubahan liputan hutan, luas perubahan liputan hutan. .

Analisis Perubahan Liputan Hutan Tahun 2001-2009 Di Sub Daerah Aliran Sungai Unggahan Hulu kecamatan Eromoko Kabupaten Wonogiri

liputan hutan 1436419,25 m2 atau 6%.

sebesar

10

11

Peta Rupa Bumi tahun 2001

Peta Dasar

Digitasi

Batas DAS

Citra Ikonos

Croping

Citra Ikonos DAS Unggahan

Interpretasi

Peta Lipuatan Hutan tahun 2001 Cek lapangan Peta Liputan Hutan tahun 2009 Tentatif Tumpang Susun

Peta Liputan Hutan tahun 2009

Peta Perubahan Liputan Hutan

Analisis Perubahan LIputan Hutan

Sumber : Penulis, 2009 Gambar 1.1. Diagram Alir Penelitian

12

Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis interpretasi citra ikonos dan cek lapangan. Cek lapangan dilakukan untuk meyakinkan hasil analisis yang tidak didapat dari hasil interpretasi dengan menggunakan Citra Ikonos tahun 2001 kemudian ditumpang susunkan dengan data yang sudah ada dan data yang diperoleh dari cek lapangan tahun 2009, dari cek lapangan tersebut akan dihasilkan peta perubahan liputan hutan tahun 2001-2009, agihannya.

1.8. Data dan Sumber Data Dalam penelitian ini data yang digunakan meliputi dua macam data, yakni data sekunder dan data primer. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi maupun penelitian terdahulu, sedangkan data primer dari pengamatan, pengukuran, dan cek di lapangan. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini meliputi : 1. Citra Ikonos tahun 2001. 2. Peta Rupa Bumi Indonesia lembar 1408-321, 1408-322, 1408-323 dan 1408-324 skala 1:25.000 tahun 2001. 3. Peta Geologi lembar Surakarta-Giritontro skala 1:100.000 yang diterbitkan oleh pusat penelitian dan pengembangan geologi tahun 1992. 4. Peta Penggunaan Lahan kecamatan Eromoko skala 1:50.000 Data primer yang digunakan dalam penelitian ini, merupakan hasil pengamatan dan pengukuran di lapangan meliputi : 1. Titik koordinat yang diambil menggunakan GPS 2. Data perubahan liputan hutan 3. Penutup lahan tahun 2009 1.9. Alat dan Teknik Pengumpulan Data Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: a. Seperangkat komputer , dimana alat ini digunakan dalam mengolah data dengan menggunakan Software ( Arcview 3.2 ) b. GPS Garmin, yang digunakan pada saat cek lapangan. c. Meteran serta kamera untuk pengambilan dokumentasi.

13

Adapun teknik penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu: 1. Tahap persiapan, antara lain : a. Studi pustaka b. Menyiapkan Citra Ikonos Daerah Aliran Sungai Unggahan Hulu tahun 2001. c. Tahap interpretasi Citra Ikonos tahun 2001 d. Pengenalan obyek obyek yang merupakan daerah aliran sungai Unggahan Hulu. e. Proses deliniasi adalah pemberian garis batas pada kenampakan yang sama dan membedakan dari kenampakan yang lain. Deliniasi peta dilakukan untuk membuat cakupan daerah aliran sungai berdasarkan pada bentuk punggungan atau puncak-puncak

perbukitan. dengan bantuan peta topografi untuk menghasilkan peta batas DAS Unggahan hulu. 2. Tahap kerja lapangan a. Pengambilan titik koordinat daerah yang mengalami perubahan liputan hutan. b. Mencari dan melengkapi data-data yang tidak dapat tersadap didalam proses interpretasi citra.yaitu wawancara dengan

penduduk tentang pergeseran batas hutan dari tahun 2001-2009. c. Pengambilan dokumentasi

3. Tahap interpretasi ulang Pekerjaan ini dilakukan setelah kerja lapangan dengan tujuan membetulkan kesalahan yang mungkin terjadi dan melengkapi data hasil interpretasi.

4. Tahap penulisan laporan dan penggambaran peta akhir. Analisis data

14

Daerah aliran sungai Unggahan hulu merupakan daerah yang mempunyai kemiringan yang variatif dari berbukit bukit , bergelombang sampai landai. Dimana perubahan yang terjadi sangat besar terutama dalam perubahan penggunaan lahanya. Dengan perubahan lahan atau bertambahnya alih fungsi lahan akan membawa dampak atau mengurangi penggunaan lahan lain salah satunya luas hutan akan berkurang dan akan berubah menjadi jenis penggunaan lahan lain. Sesuai dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini, maka akan didapat gambaran atau data tentang perubahan liputan hutan dengan interpretasi Citra Ikonos dan cek lapangan. Hasil interpretasi yang dilakukan dengan Citra Ikonos diwujudkan dalam bentuk data peta, dari peta tersebut digunakan untuk cek lapangan Tahun 2009. Analisis keruangan dilakukan pada peta penggunaan lahan hasil interprestasi citra ikonos Tahun 2001 dan peta penggunaan lahan hasil cek lapangan Tahun 2009 melalui teknik tumpang susun peta dengan SIG. Dari teknik tumpang susun ini maka dihasilkan peta baru yaitu peta perubahan liputan hutan Tahun 2001 dan 2009. peta baru ini kemudian dianalisis dengan cara menguraikan kenampakan kenampakan yang ada pada peta. Penentuan besarnya perubahan dan pola yang dalam penelitian ini dapat disusun dengan menggunakan teknologi SIG, karena salah satu keunggulan SIG adalah mampu menumpangsusunkan beberapa peta serta dapat mempermudah penghitungan luas hutan dan perubahan hutan.

15

1.10. Batasan Operasional Analisis : Penyelidikan terhadap sesuatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (Suroto, 2006). Bentuk Lahan : adalah kenampakan medan yang dibentuk oleh proses-proses alami yang mempunyai susunan tertentu dan interval karakteristik fisikal dan visual dimana pun bentuk lahan itu ditemukan (Van Zuidam, 1973 dalam Arief Jauhari 2002) Citra Ikonos : Satelit Ikonos diluncurkan pada tanggal 24 September 1999 di Vandenberg Air Force Base, California, Amerika Serikat. Satelit ini memiliki resolusi spasial 1 m pada mode pankromatik dan 4 m pada mode multispektral, dimana waktu pencintraan dilakukan secara serempak. Ikonos memiliki resolusi temporal yang cukup singkat, yaitu 1,5 sampai 3 hari(dalam Sugiarto B S,1996) Daerah Aliran Sungai : Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan dibatasi oleh pembatas topografi wilayah/kawasan yang (punggung bukit) yang

menerima,mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anaksungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau (Lillsand, Thomas M 1993). Evaluasi : adalah penilaian sesuatu hal keperluan tertentu, yang meliputi pelaksanaan dan penaksiran hasil penelitian dalam rangka mengidentifikasi dan membandingkan macam-macam

kemungkinan pengunaan, pemanfaatan, dan pengaruhnya sesuai dengan tujuan evaluasi (Karmono, 1985 dalam Pujo Nur Cahyo, dkk, 2000). Interpretasi citra : Interpretasi citra merupakan perbuatan atau tindakan untuk mengkaji citra dengan maksud mengidentifikasi dan menilai arti pentingnya obyek tersebut (Lillsand , Thomas. M, 1993) Lahan : adalah suatu lingkungan fisik yang meliputi tanah, ikim, relief, hidrologi dan vegetasi dimana faktor-faktor tersebut

16

mempengaruhi potensi penggunannya ( Hudson, 1971 dalam Pujo Nur Cahyo,dkk, 2000) Liputan Hutan : Presentase wilayah yang ditutupi oleh pohon atau vegetasi (Avery dan Burkhart, 1983 dalam Rinto Laksono, 2002). Perubahan Liputan Hutan : Liputan lahan dari hutan ke bukan hutan (Zamroni Sholeh, 1997 dalam Prasetyanto Nugroho, 2005). Penggunaan Lahan : Bentuk-bentuk pengunaan manusia terhadap lahan termasuk keadaan ilmiah yang terpengaruh oleh kegiatan manusia (Van Zuidam, 1979 dalam Arief Jauhari, 2002). Sistem Informasi Geografis : Suatu komponen perangkat keras, piranti lunak, data geografis, dan personel yang saling berkaitan dalam suatu sistem yang memungkinkan untuk perekonomian, penyimpanan analisis, pengolahan, dan penayangan dari data, informasi geografis secara opimal (ESRI, 1990 dalam Suroto, 2006)