Anda di halaman 1dari 3

Keterbatasan sumber energi tak terbarukan di Indonesia, belum diimbangi dengan kesadaran menciptakan bangunan hemat energi.

Hasil studi konsultan energi Inggris, Max Fordam, menyatakan bahwa, bangunan mengonsumsi 50% total konsumsi minyak nasional di Negaranegara maju, sementara di Indonesia konsumsinya berkisar antara 36-45%. Untuk itu, seiring dengan makin menipisnya sumber energi, konsep arsitektur hemat energi harus dikembangkan. Dalam konteks iklim tropis seperti di Indonesia (panas lembap), maka konsep rancangan bangunan dan lingkungan dari segi arsitektural, rekayasa energi, kelistrikan, dan bahan material perlu diarahkan untuk : Meminimalkan energi yang diperlukan untuk memperoleh kenyamanan termal. Menggunakan atap yang dingin, maksudnya bahan penutup atap yang memiliki nilai hambatan hantaran panas yang cukup besar dan memiliki kemampuan memantulkan panas yang baik. Penutup atap dari bahan tanah atau keramik sangat baik untuk kenyamanan suhu ruang dalam. Apalagi bila ditambah penggunaan lembaran aluminium foil yang dipasang di bawah penutup atap. Rumah dengan sistem pencahayaan hijau dapat mengurangi konsumsi energi. Karena semakin banyak pepohonan tumbuh di sekitar rumah, semakin berkurang intensitas panas. Selain itu dapat juga dilakukan dengan membuat rumah yang memiliki langit langit tinggi. Hal ini berguna mengurangi radiasi panas akibat matahari dalam ruangan rumah Atau dengan membuat atmosfir buatan. Yaitu dengan membuat sebuah sekat di seluruh dinding yang terbuat dari kayu. Sekat ini membungkus seluruh rumah mulai dari loteng sampai ruang bawah tanah. Hasilnya adalah sebuah amplop udara yang membuat ruangan-ruangan di dalam rumah tersebut mengambang dalam sebuah aliran udara. Di siang hari, seperti yang dilakukan oleh atmosfir, sekat udara ini menyerap dan menyimpan panas dari sinar matahari. Malamnya, udara panas inilah yang digunakan untuk menghangatkan rumah. Ruang bawah tanah memiliki jendela-jendela yang dapat dibuka. Jendela-jendela yang terbuka ini membuat udara mengalir masuk dan jendela yang terbuka di bagian atap mengalirkan udara keluar. Meminimalkan energi yang diperlukan untuk memperoleh penerangan yang sehat dan indah.

Energi matahari yang melimpah dimanfaatkan untuk menciptakan kemandirian energi di rumah. Salah satunya, dengan aspek desain yang menempatkan solar panel di sisi rumah yang menghadap barat yang mendapatkan terpaan sinar matahari paling tinggi dan lama. Selain itu, matahari dan langit juga dapat berfungsi sebagai sumber cahaya di pagi hingga sore hari. Ada dua strategi pencahayaan, pencahayaan samping dan atas. Bila diterapkan dengan perencanaan dan desain yang baik di rumah kita, bukan tidak mungkin dapat menggantikan fungsi lampu listrik dan akhirnya menghemat biaya listrik. Meminimalkan energi yang diperlukan untuk pengadaan air Untuk mengantisipasi krisis air bersih, dengan mengembangkan sistem pengurangan pemakaian air (reduce), penggunaan kembali air untuk berbagai keperluan sekaligus (reuse), mendaur ulang buangan air bersih (recycle), dan pengisian kembali air tanah (recharge). Beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu dengan mendaur ulang air buangan sehari-hari (cuci tangan, piring, kendaraan, bersuci diri) maupun air limbah (air buangan dari kamar mandi) yang dapat digunakan kembali untuk mencuci kendaraan, membilas kloset, dan menyirami taman. Mengurangi ketergantungan rumah terhadap sumber air tanah atau PAM. Yaitu dengan menggunakan air hujan sebagai salah satu alternatif sumber air dengan cara membuat sumur resapan air (1 x 1 x 2 meter) dan lubang biopori (10 sentimeter x 1 meter) sesuai kebutuhan. Meminimalkan energi yang diperlukan untuk merawat elemen bangunan. Untuk kerangka bangunan utama dan atap, material kayu digantikan material baja ringan. Sebagai wujud kepedulian dan keprihatinan terhadap penebangan kayu dan kelestarian bumi. Kusen jendela dan pintu menggunakan bahan aluminium. Aluminium memiliki keunggulan dapat didaur ulang (digunakan ulang), bebas racun dan zat pemicu kanker, bebas perawatan dan praktis (sesuai gaya hidup modern), dengan desain insulasi khusus mengurangi transmisi panas dan bising (hemat energi, hemat biaya), lebih kuat, tahan lama, antikarat. Bahan dinding dipilih yang mampu menyerap panas matahari dengan baik. Batu bata alami atau fabrikasi batu bata ringan (campuran pasir, kapur, semen, dan bahan lain) memiliki karakteristik tahan api, kuat terhadap tekanan tinggi, daya serap air rendah, kedap suara, dan menyerap panas matahari secara signifikan.