Anda di halaman 1dari 119

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT.

RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI
Karya Tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Oleh : DENNY TEBAY NIM. 112060100

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011

RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BATUBARA BLOK SIAMBUL PT. RIAU BARA HARUM DESA KELESA, KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROPINSI RIAU

SKRIPSI

DENNY TEBAY

112060100

Disetujui untuk Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta Tanggal : ..2011

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR.Ir. Waterman Sulistyana B,MT 1

Ir.H.Gunawan Nusanto,MT

Lihat, Aku telah melukiskan engkau ditelapak tangan Ku; tembok-tembokmu tetap diruang mata-Ku (Yesaya 49 : 16) Segala perkara dapat ku tanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepada ku (Filipi 4:13)

Skripsi ini dipersembahkan kepada : Bapak Tersayang (Henky Tebay) dan Alma. Ibu Tercinta serta kakak ku Verry Tebay di Papua yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.

Ucapan Terimakasih Seluruh keluarga besar GKII Filipi Family yang selalu mendukung saya dalam doa Untuk semua mereka yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak langsung tanpa terkecuali , Tuhan yang mempunyai segalanya akan mengembalikan lipatkali ganda dan memberkati saudara.

...... VIVA TAMBANG.....

RINGKASAN

PT. Riau Bara Harum merupakan suatu perusahaan swasta nasional, bergerak di bidang pertambangan batubara yang terletak di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Wilyah PKP2B PT. Riau Bara Harum seluas 24.450 Ha, yang memiliki kuasa pertambangan di koordinat 045 00 033 45.00 LS dan 10211 15.00 102 41 5.00 BT. Endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap di permukaan tanah dengan kemiringan berkisar antara 5-10, dan ketebalan rata-rata lebih dari 0,5m. Rencana penambangan pada daerah ini dilakukan dengan metode tambang terbuka.Rancangan penambangan yang berbasis komputasi dengan menggunakan Software GlobalMapper, Autocad, dan Mine Scape, untuk rancangan yang baik dan terarah. Berdasarkan model rancangan batubara, diketahui sumberdaya batubara di daerah penelitian pada Blok Siambul adalah sebesar 2.644.715 ton. Geometri penambangan yang diperoleh dari rekomendasi geoteknik adalah jenjang individu 10m , lebar berm 10m dan kemiringan jenjang 60. Lebar jalan angkut tambang adalah 20m, lebar permukaan jalan 18m, lebar selokan 1m, gradien maksimum 8 % (AASHTO 1994), superelevasi 4 % (AASHTO 1994), radius putar (turning radius ) 8,52m. Berdasarkan rancangan teknis penambangan pertahun pada Blok Siambul akan dilakukan selama 9 tahun, dengan produksi penambangan tahun pertama sampai tahun kedelapan sebesar 300.000 ton, dan pada penambangan tahun kesembilan hanya menambang 150.000 ton. Penambangan tahun pertama sampai tahun kelima dilakukan penggalian dari ketinggian 80-40 mdpl dan pada penambangan tahun keenam sampai kesembilan dilakukan penggalian dari ketinggian 40-20 mdpl. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah Backhoe (excavator) Komatsu PC600C-7, sedangkan penggalian batubara batubara menggunakan Backhoe (excavator) Komatsu PC160LC-7. Alat angkut yang akan digunakan untuk mengangkut material overburden adalah dump truck Komatsu HD255 kapasitas 25 ton, dan pengangkutan batubara menggunakan dump truk Hino Ranger FG 235 JJ kapasitas 15,1 ton. Sistem penyaliran dibuat disekeliling tambang.

KATA PENGANTAR

Pujian hormat dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia berkat-Nya serta pimpinan kepada penulis sehingga penulisan skripsi dengan judul Rancangan Teknis Penambangan Batubara Blok Siambul PT. Riau Bara Harum di Derah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau, dapat selesai dengan baik. Laporan Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Skripsi ini disusun berdasarka hasil penelitian yang dilakukan selama satu bulan yaitu mulai dari tanggal 1 Mei sampai dengan 30 Mei 2009 di daerah Kelesa Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. H. Didit Welly Udjianto, MS, Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 2. Dr. Ir. S. Koesnaryo, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 3. Ir. Anton Sudiyanto, M.T, Ketua Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. 4. Dr.Ir. Waterman Sulistyana B, MT, Dosen Pembimbing I Skripsi. 5. Ir.H.Gunawan Nusanto,MT, Dosen Pembimbing II Skripsi. 6. Rekan-rekan mahasiswa teknik pertambangan. Penulis menyadari banyak kekurangan yang terjadi, dan semoga Laporan Skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya. Yogyakarta, Oktober 2011 Penyusun, Denny Tebay

DAFTAR ISI

Halaman KATA PENGANTAR ................................................................................. vi DAFTAR ISI ............................................................................................... DAFTAR TABEL .......... .............................................................................. DAFTAR GAMBAR.......... .......................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ vii ix x xi

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1.2 Identifikasi Masalah .............................................................. 1.3 Batasan Masalah ................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian .................................................................. 1.5 Metode Penelitian ................................................................. 1.6 Hasil yang Diharapkan .......................................................... 1.7 Manfaat Penelitian ................................................................ 1 1 1 2 2 2 3

BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................................ 2.2 Keadaan Iklim ...................................................................... 2.3 Keadaan Geologi Sumatera .................................................... 2.4 Kondisi Daerah Kelesa .......................................................... 2.5 Kondisi Geologi Daerah Kelesa ............................................. 2.6 Genesa .................................................................................. 4 5 5 7 9 12

2.7 Metode Penambangan ...........................................................

16

BAB III DASAR TEORI 3.1 Perancangan Tambang ........................................................... 3.2 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan ................................... 3.3 Konsep Pemodelan Sumberdaya ............................................ 3.4 Penaksiran Cadangan ............................................................. 3.5 Penjadwalan Produksi ............................................................ 3.6 Sistem Penambangan ............................................................. 3.7 Parameter-Parameter Rancangan ............................................ 3.8 Desain Tambang Terbuka ...................................................... 3.9 Jalan Angkut .......................................................................... 3.10 Perancangan Timbunan .......................................................... 3.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang ................................. 17 20 23 24 25 26 29 32 42 50 55

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN 4.1 Sumberdaya Batubara ............................................................ 4.2 Tahapan Perancangan Penambangan ..................................... 4.3 Perancangan Lubang Bukaan Tambang ................................. 4.4 Perancangan Pit Penambangan .............................................. 4.5 Rencana Produksi ................................................................. 4.6 Pemilihan Alat ...................................................................... 4.7 Sistem Penyaliran Tambang .................................................. 4.8 Jadwal Rencana Produksi ...................................................... 4.9 Perancangan Waste Dump & Stock Pile ................................ 58 59 75 79 79 79 80 81 82

BAB V PEMBAHASAN 5.1 Sistem dan Tatacara Penambangan ....................................... 5.2 Metode Penambangan ............................................................ 5.3 Rencana dan Jadwal Produksi ............................................... 5.4 Tataletak Fasilitas Tambang .................................................. 5.5 Peralatan ............................................................................... 5.6 Sistem Penyaliran Tambang .................................................. 84 88 95 95 96 98

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ........................................................................... 100 6.2 Saran .................................................................................... 101

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 102

LAMPIRAN .....................; .......................................................................... 103

10

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

4.1 4.2 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6

Batas Koordinat Konsensi Pertambangan........................................... Batas Koordinat Blok Siambul........................................................... Data Pemboran Collar ....................................................................... Data Pemboran Litologi..................................................................... Data Hasil Penaksiran Cadangan ....................................................... Rencana Produksi Batubara dan Overburden ..................................... Kapasitas Stock Pile .......................................................................... Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul ..................................... Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Overburden ................... Rencana Pengupasan dan Penimbuan Overburden ............................. Jadwal Penimbunan Tanah Penutup ................................................... Jenis Peralatan Utama Penambangan ................................................. Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Overburden...........

59 60 65 66 74 81 83 86 92 94 94 97 98

11

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 3.1 3.2 3.3 3.4 3.5 3.6 3.7 3.8 3.9

Halaman 4 8 8 12 14 15 22 27 28 29 34 35 36 36 37

Peta Lokasi dan Kesampaian Daerah Penelitian ................................. Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Tahun .......................................... Grafik Curah Hujan Rata-rata Per Bulan ............................................ Peta Geologi Blaok Siambul .............................................................. Tumbuhan Primitif Pembentuk Batubara ........................................... Proses Terjadinya Batubara ............................................................... Klasifikasi Sumberdaya Batubara dan Cadangan SNI ........................ Penambangan Contour Mining .......................................................... Penambangan Open Pit ...................................................................... Penambangan Strip Mining ................................................................ Bagian-bagian Jenjang ....................................................................... Jenjang Kerja dan Safety Bench ......................................................... Overall Slope Angle........................................................................... Overall Slope Angle With Ramp......................................................... Inter ramp slope angle .......................................................................

12

3.10 3.11 3.12 3.13 3.14 3.15 3.16 3.17 3.18 3.19 3.20 3.21 3.22 3.23 3.24 4.1 4.2 4.3 4.4 4.5 4.6

Inter slope angle dengan satu working bench ..................................... Overall slope angle dengan working bench dan ramp ........................ Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp ................... Overall slope angle dengan dua working bench ................................. Lebar Jalan Angkut Lurus.................................................................. Lebar Jalan Angkut pada Tikungan.................................................... Radius Tikungan Jalan....................................................................... Superelevasi Tikungan Jalan Angkut ................................................. Penampag Cross Slope ...................................................................... Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump ..................................... Jenis Timbunan Terraced Dump ........................................................ Cara Penimbunan Down Hill Dozing ................................................. Cara Penimbunan Highwall and float dozing ..................................... Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing ....................................... Bentuk Penampang Saluran Terbuka ................................................. Sayatan 3D Batubara Seam D, Seam E dan Seam F............................ Peta Blok Siambul ............................................................................. Peta Kontur Topografi 2D Blok Siambul ........................................... Peta Topografi 3D Blok Siambul ....................................................... Peta Lokasi Lubang Bor .................................................................... Kontur Struktur Lapisan Batubara ....................................................

37 38 38 39 44 45 46 47 48 52 53 54 54 55 56 58 62 63 64 67 79

13

4.7 4.8 4.9 4.10 4.11 4.12 4.13 5.1 5.2 5.3 5.4 5.5 5.6

Blok Batas Analisis SR...................................................................... Peta Blok Analisis SR........................................................................ Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapych .................................. Dimensi Jenjang Pit Penambangan .................................................... Dimensi Jenjang Waste Dump ........................................................... Skema Saluran Penyaliran ................................................................. Layout Rancangan Waste Dump ....................................................... Geometri Lereng Penambangan ......................................................... Grafik Produksi Batubara Per Tahun ................................................. Grafik Proksi Akumulatif Batubara ................................................... Grafik Rencana Produksi Overburden .............................................. Tata letak Fasilitas Tambang ............................................................ Skema Saluran Penyaliran ................................................................

71 72 73 77 78 81 82 85 92 93 95 96 99

14

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A.

Halaman 103 104 105 106 107 108 111 112 113 118 119 130 133 137 141 143 152 161 170 173 191

PETA KESAMPAIAN DAERAH ..................................................... GEOLOGICAL MAP of KELESA ...................................................... PETA GEOLOGI ............................................................................... PETA KONTUR TOPOGRAFI ......................................................... PETA BLOK SIAMBUL ...................................................................

B. C. D. E. F. G. H. I. J.

DATA PEMBORAN ........................................................................ PETA LOKASI TITIK BOR... .......................................................... PETA SUBCROP LINE BATUBARA ............................................... PETA KONTUR STRUKTUR BATUBARA .................................... PETA SECTION LINE TITIK BOR ................................................... SAYATAN TITIK BOR .................................................................... PETA ISOPAC .................................................................................. PENAKSIRAN CADANGAN ........................................................... PETA BLOK BATAS RESGRAPHYCH ............................................ NISBAH PENGUPASAN (STRIPPING RATIO) ..............................

K. L. M. N. O. P.

PETA KEMAJUAN PENAMBANGAN ............................................ PETA KEMAJUAN PENIMBUNAN OVERBURDEN ...................... SAYATAN PENAMBANGAN ......................................................... PERHITUNGAN GEOMETRI JALAN ANGKUT ............................ PERHITUNGAN KEBUTUHAN ALAT ........................................... SPESIFIKASI ALAT.........................................................................

15

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang PT. Riau Bara Harum merupakan perusahaan tambang batubara yang

berlokasi di daerah Kelesa, Kecamatan Belilas, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Ketinggian daerah sekitar 20-325 meter diatas permukaan laut. PT. Riau Bara Harum memiliki potensi sumberdaya batubara yang layak untuk ditambang, untuk itu PT. Riau Bara Harum memerlukan perancangan teknis untuk penambangan batubara di wilayah tersebut. 1.2. Identifikasi Masalah Perancangan tambang dilakukan dengan membuat model cadangan dan desain tambang yang akurat. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut : a) Bagaimana membuat model cadangan yang tepat sesuai kondisi geologi daerah penelitian dengan menggabungkan software Global Mapper, Auto-cad dan Mine Scape. b) Bagaimana membuat desain tambang yang baik dan benar sehingga penambangan lebih terarah dan aman. 1.3. Batasan Masalah Penambangan batubara PT. Riau Bara Harum dalam penelitian ini hanya pada Blok Siambul. Rancangan sistem penambangan yang diterapkan adalah tambang terbuka. Kegiatan yang dilakukan pada perancangan dimulai dari pemberaian, pembongkaran, penambangan, dan pengangkutan, dilakukan pengkajian ekonomi Break Eevent Stripping Ratio (BESR) untuk menentukan Stripping Ratio (SR). Penambangan dilakukan setiap tahun dan tidak dilakukan pengkajian lingkungan.

16

1.4.

Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan endapan batubara,

menghitung secara keseluruhan sumberdaya dan cadangan dari model endapan batubara, serta menyusun suatu rancangan teknis penambangan optimal yang akan diterapkan pada penambangan batubara PT. Riau Bara Harum berdasarkan model cadangan. Rancangan ini dilakukan menggunakan software Global Mapper, Autocad dan Mine Scape pada Blok siambul. 1.5. Metode Penelitian

Adapun metodologi penelitian yang dilakukan adalah : a) Studi Literatur Studi literatur dilakukan penelitian terdahulu. b) Pengambilan Data Data Sekunder : data logbor, data peta topografi dan peta geologi regional Data Primer : Rancangan Teknis Penambangan dengan mengambil data sekunder yaitu laporan

c) Perancangan Pemodelan Pengolahan data akan dilakukan dengan cara manual dan menggunakan pengabungan program Global Mapper, Autocad dan Mine Scape untuk mendesain tambang. d) Analisis Hasil Pengolahan data Dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh kesimpulan pada pemodelan cadangan batubara. 1.6. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah a) Dapat memodelkan model endapan batubara yang terdapat di daerah penelitian blok siambul baik dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. b) Dapat mengetahui sumberdaya dan cadangan secara keseluruhan dari model endapan yang telah dimodelkan c) Sebuah rancangan penambangan yang optimal sehingga dapat memenuhi target produksi yang diharap.

17

d) Dapat berguna bagi PT. Riau Bara Harum untuk melaksanakan penambangan yang optimal dan terarah. 1.7. Manfaat Penelitian Dari penelitian ini akan di ketahui rancangan penambangan yang baik dan benar serta berwawasan lingkungan, sehingga dapat memelihara aspek konservasi terhadap sumberdaya batubara sekaligus dapat memberikan keuntungan yang optimal terhadap perusahaan. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk memajukan pengetahuan pada bidang komputasi tambang.

18

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1

Lokasi dan Kesampaian Daerah Secara administratif PKP2B PT. Riau Bara Harum berada di wilayah Desa

Kelesa, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Luas PKP2B PT. Riau Bara Harum adalah 24.450 Ha. Secara geografis lokasi PKP2B PT. Riau Bara Harum terletak pada 045 00 033 45.00 LS dan 10211 15.00 102 41 5.00 BT. Jarak Pekanbaru hingga Desa Kelesa sekitar 400 Km, dan jarak Desa Kelesa hingga lokasi penyelidikan kurang lebih sekitar 5 Km. Daerah penyelidikan dapat dicapai dari kota Pekanbaru melalui transportasi darat sekitar 4 jam.

Gambar 2.1 Peta Kesampaian Daerah

19

2.2

Keadaan Iklim Lokasi atau daerah penyelidikan PKP2B PT. Riau Bara Harum memiliki

curah hujan tropis ditandai adanya pergantian dua musim yaitu musim hujan (September - Februari) dan musim kemarau (Maret - Agustus). Intensitas curah hujan bervariasi dari rendah sampai tinggi dengan durasi waktu pendek (singkat) - sampai panjang (lama). Berdasarkan data meterologi, dapat secara umum diketahui temperatur ratarata tahunan berkisar antara 28-31C dan fluktuasi temperatur dan dan sore sekitar 70%. Berdasarkan data curah hujan selama sepuluh tahun (1999-2008), curah hujan tahunan di daerah penyelidikan berkisar antara 1989,80 - 2732,60 mm/th. Sedangkan jumlah hari hujan berkisar antara 163-224 hari dengan rata rata sebesar 188 hari. 2.3 Keadaan Geologi Pulau Sumatera Pulau Sumatera berlokasi antara 3 LU sampai 6 LS dan 96 BT sampai 106 BT, dengan panjang 1.700 km berarah Utara sampai Selatan dan terletak sejajar dengan zona penunjaman antara lempeng benua Sunda dan lempeng Lautan Hindia pada sisi Barat Pulau Sumatera. Bagian Barat Pulau Sumatera merupakan suatu cekungan foredeep, dan yang sejajar dengan ini adalah rangkaian Bukit Barisan. Ke arah Timur lagi dijumpai cekungan muka daratan (foreland) Neogen. Pada zona tengah dari rangkaian Bukit Barisan terdapat cekungan antar pegunungan, misalnya endapan Mampun Pandan dan Ombilin. Susunan pengendapan daerah Muara Bungo dimulai dari Formasi Talang Akar dengan umur Oligosen yang terendapkan secara tidak selaras di atas batuan dasar granit Mezosoik (Simanjuntak,1984). Daerah perjanjian disusun oleh 5 satuan sedimen tersier (menurun makin tua) : Alluvium (Qa), terdiri dari pasir, lanau, dan lempung, yang diendapkan oleh sungai-sungai besar. 3-4C dan kelembaban udara rata-rata tahunan 80%, sedangkan kelembaban pagi sektar 90%

2.3.1 Keadaan Geologi Regional Sumatera

20

Formasi Kasai (QTk), terdiri dari tufa, tufa pasiran dan batupasir tufaan mengandung batuapung (pumice). Umur formasi ini diduga Plio-Pleistosen, diendapakan pada lingkungan daratan. Ketebalan beragam dari 200 dan sampai lebih 500 meter.

Formasi Muara Enim (Tmpm), merupakan perselingan dari batulempung dengan batulanau dan serpih, dengan interkalasi dari batulempung gampingan padat dan lanau kuarsa. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal berumur Miosen Tengah sampai Akhir. Ketebalan berkisar antara 500 meter sampai 1.000 meter.

Formasi Gumai (Tmg), terdiri dari batulempung dan serpih dengan interkalasi batugamping, batulanau, batupasir, batulanau tufaan, dan nodul-nodul gampingan. Lingkungan pengendapan adalah laut terbuka yang agak dalam (neritik) pada saat genang laut. Formasi Gumai berumur miosen Awal sampai Tengah. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 850 meter.

Formasi Talang Akar (Tomt), terdiri dari batupasir konglomeratan, batupasir berbutir kasar sampai halus, batulanau, batulanau gampingan dan serpih. Formasi ini diendapkan dalam lingkungan daratan sampai laut dangkal dan berumur Miosen Akhir sampai Oligosen. Ketebalan formasi ini dari beberapa meter sampai mendekati 1.000 meter.

2.3.2 Perkembangan Pulau Sumatera Pulau Sumatera adalah sebagai satu hasil dari pergerakan tektonik, lempeng daratan indian mulai bergerak pada Kapur Atas. Pada Tersier Awal, Sumatera masih berhubungan dengan Semenanjung Malaya dan memanjang dalam arah Utara Selatan dan merupakan pergeseran horizontal, menghasilkan pengkerutan sebagian dari cekungan. Pada Oligosen Akhir, Sumatera bergerak dan berputar sekitar 20 25 berlawanan arah jarum jam dan terjadi lagi pengangkatan, perlipatan dan perputaran sekitar 20 berlawanan arah jarum jam. Arah struktur persesaran adalah BU ST, sejajar dengan sistem sesar Sumatera.

21

2.4

Kondisi Daerah Kelesa Pada daerah penelitian sumberdaya batubara siambul umunya mempunyai

2.4.1 Topografi ketinggan berkisar dari 20 sampai 320 meter dengan beda tinggi sampai 50 meter, dan kearah utara dari daerah batubara ketinggian permukaannya mencapai 130 meter dengan beda tinggi mencapai 50 meter sehingga daerah ini bisa dikategorikan berbukit sedang. 2.4.2 Morfologi Secara fisiografi daerah penelitian PT. Riau Bara Harum termasuk dalam wilayah Pegunungan Tigapuluh yang merupakan perbukitan bergelombang sedang sampai terjal ke arah timur dan utara dengan ketingian bervariasi mulai dari 20m sampai yang paling tinggi 320m dari permukaan air laut. Kemiringan lereng di daerah penelitian antara 5-50%. Perbukitan ini dikelilingi dataran yang sebagian besar berupa dataran rawa pasang surut yang pelamparannya terletak di sebelah timur perbukitan bergelombang. Kelerengan daerah termasuk landai dan aliran sungai yang deras. Fenomena tersebut mencirikan stadia sungai yang tua dengan tingkat erosi horizontal lebih dominan dari vertikal. Pegunungan Tigapuluh mempunyai dua anak sungai yaitu Sungai Canako dan Sungai Gangsal. Sungai Canako mempunyai dua anak sungai utama yaitu Sungai Alin dan Antam. Sedangkan Sungai Gansal mempunyai empat anak sungai yaitu Sungai Akar, Sungai Kerintang, Sungai Renteh dan Sungai Selesen. Pola aliran sungai umumnya dendritik dibagian hulu anak sungainya. Pola anak sungai sejajar terlihat pada anak sungai orde pertamanya. Arah umum sungai-sungainya adalah Timurlaut, kecuali Sungai Antam mempunyai arah baratlaut. Sungai Alin dan sungai bagian hulu Sungai Gangsal mempunyai arah ke utara. 2.4.3 Kondisi Sungai Pola penyaliran didaerah penelitian deposit batubara kelesa bisa dikelompokan menjadi tiga yakni pola aliran rektangular, dendritik, dan terllis. Pola aliran rektangular berkembang dibagian barat daerah rencana tambang dengan bentuk sungai patah-patah dan dijumpai beberapa kelurusan dengan sungai canako

22

sebagai sungai utamanya. Pola aliran dendritik berkembang disebelah timur daerah rencana tambang dengan bentuk sungai menyerupai pohon. Sungai Akar merupakan sungai utama. Pola aliran trellis berkembang di daerah tengah daerah penelitian dengan sungai sekunyam sebagai sungai utama.

Gambar 2.2 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Tahun Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa

Gambar 2.3 Grafik Curah Hujan Rata-Rata Per Bulan

23

Pada Daerah Penelitian Deposit Batubara Blok Siambul Daerah Kelesa 2.5 Geologi Batubara Daerah Kelesa Berdasarkan Geological Map Of Kelesa Subdistrict dan Rbhs Block Concession (A Part Of Gelogical Map Of Rengat Quadrangel, Sumatera ,1994) Lampiran A-02. Daerah penyelidikan termasuk dalam area penelitian dengan litologi yang cukup lengkap mulai dari Pra Tersier, Tersier hingga Kuarter. Litologi penyusun di daerah penyelidikan dapat dikelompokan menjadi tiga yakni : 1. Kelompok batuan Pra Tersier yang terdiri atas: Batuan Pra Tersier di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi, yaitu: a. Formasi Gangsal (Pcg) Terdiri dari batusabak, filit, batusabak berbintik, batupasir termetamorfkan dan kuarsir. b. Formasi Pengabuhan (Pcp) Terdiri dari batu pasir sela, greyweke kuarsit, dan batulanau, setempat dengan butiran kerakalan, di beberapa tempat berubah menjadi hornfels. c. Formasi Mentulu (Pcm) Berupa Tuff, batu lempung tufaan dan batu pasir tufaan, tuff andesit sampa tuff basalt, kelabu sampai coklat, keras dan forfiri. d. Granit Akar (Rjg) Terdiri dari granit, granodiorit, pegmatit, dan apilit dijumpai di sekitar Sungai Akar dengan warna lapukan jernih hingga merah. Secara stratigarfi Formasi Gangsal, Formasi Pengabuan dan Formasi Mentulu saling bersilang jari (membaji). Ketiga formasi tersebut diterobos oleh intrusi granit. 2. Kelompok batuan berumur Tersier yang terdiri dari : Batuan Tersier yang ada di daerah penyelidikan disusun sari beberapa formasi: a. Formasi Kelesa (Teok) 2.5.1 Stratigrafi dan Penyebaran Batubara

24

Secara tidak selaras Formasi Kelesa di atas batuan batuan Pra Tersier, formasi ini terdiri dari konglonerat, atau breksi, batupasir kerikilan, tufaan, yang disisipi batu lempung, serpi dan batubara. Lapisan batubara dalam formasi ini memperlihatkan bentuk sifat-sifat hitam mengkilat tidak mengotori tangan, keras dan ringan. b. Formasi Lakat (Toml) Bagian atas terdiri dari batu pasir kuarsa dan batu lempung lanauan atau karbonan dengan bintil pirit dan kayu terkersikan, bagian bawah terdiri dari konglomerat polemik dan batu kuarsa dengan batu lempung, tuff, batu lanau dan sisipan serta lensa lensa batubara. c. Formasi Tualang (Tmt) Formasi Tualang melampar luas selaras di atas Formasi Lakat dan menjari (membaji) dengan satuan batuan yang relatif diatasnya. Bagian atas terdiri dari batupasir kuarsit, batulempung, batu lumpur puritan dan batupasir gloukonit. Bagian bawah terdiri dari batu lempung dan batu pasir kuarsa, setempat gampingan dan lanauan dengan bintil batupasir gampingan juga mengandung glaukonit dan mika. d. Formasi Gumai (Tmg) Tersusun oleh serpih dan batulempung dengan sisipan batupasir dan batuLumpur. Pada bagian atas dan tengah umumnya karbonan atau gamping dengan bintil dan lensa mikrit yang mengandung banyak foraminifera. e. Fomasi Air Benakat (Tma) Secara stratigrafi Formasi Air Benakat dan Formasi Muaraenim saling bersilang jari. Formasi Air Benakat terdiri selang seling batu lempung, batu pasir, serpih dan batu lanau dengan sisipan batu pasir tufaan, lensa- lensa kuarsa dan lignit. f. Formasi Muara Enim. (Tmpm) Terdiri dari perselingan batu pasir tufaan berbutir sedang- halus dengan batu lempung tufaan, serpi tufaan dan tufa, abu-abu kehitaman, kecoklatan, dan kemeraan, serpi tufaan dengan sisipan lensa batubara dan kayu karbonan. g. Formasi Kerumutan ( Qtke)

25

Formasi Kerumutan diendapkan secara selaras di atas Formasi Muara Enim, terdiri dari batupasir kuarsa, halus sampai sedang, batu lempung tufaan, tufa setempat lempung pasiran, tufaan kerikilan, kelabu muda kemerahan, setempat silang siur . 3. Endapan Kuarter Batuan pada Endapan Kuarter di daerah penyelidikan disusun dari beberapa formasi : a. Formasi Kasai (Qtk) Secara stratigrafi Formasi Kasai terendapakan secara tidak selaras di atas batuan berumur Tersier, yang terdiri dari batupasir kuarsa dan tufaan, tuff, batulempung tufaan, batupasir tufaan berukura sedang sampai gravel, berwarna abu-abu terang sampai abu-abu kecoklatan setempat silang siur, dengan sisipan kayu karbonan b. Endapan Rawa (Qs) Terdiri dari lempung, pasir, lanau, lumpur, dan gambut berwarna hitam sampai coklat, lunak tidak mengeras. c. Aluvium (Qac) Berupa lempung, lumpur, lanau pasir, kerakal, dan berangkal berwarna kelabu, hitam sampai coklat tidak mengeras dengan sisa tumbuan dan lapisan tipis gambut tersebar merata. 2.5.2 Struktur Geologi Regional Daerah penyelidikan terletak di Cekungan Sumatera Tengah yang berkaitan erat dengan tektonik yang terjadi akibat penujaman busur samudera. Penujaman di sebelah barat Sumatera terjadi pada Perm (Cameron, 1980) yang kemudian diikuti dengan pembentukan busur gunung api Tersier sampai Resen. Cekungan Sumatera Tengah merupakan bagian dari gunung api ini yang terletak bagian busur belakang yang terdiri dari batuan metamorf berumur Permokarbon dan sedimen Tersier sampai Kuarter (Suarna, N, 1991). Struktur geologi di daerah ini terbentuk oleh tektonik pada Jura Kapur berupa kelanjutan orogenesa Thai Malaysia diikuti oleh pengangkatan perbukitan Tigapuluh pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Hal tersebut berkaitan dengan

26

pengangkatan busur Gunung Api Bukit Barisan. Tektonik berikutnya terjadi pada Oligosen Awal dan mengakibatkan pengangkatan dan pensesaran batuan Tersier yang terbentuk sebelumnya. Pada MioPliosen terjadi pengangkatan dan regresi sehingga batuan-batuan pada Formasi Tulang, Gumai dan Air Benakat terangkat diikuti oleh pengendapan Formasi Muara Enim. Berdasarkan pengamatan Citra SAR (Side Airborn Radar), struktur geologi yang terbentuk akibat tektonik di cekungan Sumatera Tengah berupa antiklin dan sesar sesar yang berarah baratlaut-tengara, timurlaut-baratdaya.

Gambar 2.4 Peta Geologi Blok Siambul 2.6 Genesa Batubara adalah batuan sedimen organoklastik yang berasal dari tumbuhan yang pada kondisi tertentu tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran sempurna. Pada umumnya proses pembentukan batubara terjadi pada zaman karbon yaitu sekitar 270 sampai 350 juta tahun yang lalu. Di Indonesia batubara yang

2.6.1 Genesa Batubara

27

ditemukan dan ditambang umumnya berumur jauh lebih mudah yang terbentuk pada jaman tersier, batubara yang tertua yang ditambang biasanya berumur eosin yang terbentuk sekitar 40 sampai 60 juta tahun yang lalu. Proses pembentukan batubara dari tumbuhan terjadi melalui dua proses yaitu tahap pembentukan gambut dari tumbuhan sering disebut proses ratifikasi dan tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut coalification. Pada tahap pembentukan gambut tumbuhan yang mati pada umumnya akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga setelah beberapa waktu kemudian akan tidak terlihat lagi bentuk asalnya. Pembusukan dan penghancuran tersebut pada dasarnya merupakan proses oksidasi yang diakibatkan oleh pertumbuhan dan aktifitas bakteri dan jasat (C5H10O5). Dapat digambarkan seperti berikut : C5H10O5 + 6O2 6 CO2 + 5H2O renik lainnya. Untuk penyederhanaan proses tersebut, proses oksidasi material penyusun utama cellulose

Jika tumbuhan primitif yang mati disuatu rawa, yang di cirikan dengan kandungan oksigen air rawa yang sangat rendah sehingga tak memungkinkan bakteri aerob hidup, maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya bakteri anaerob saya yang berfungsi melakukan dekomposisi yang kemudian terbentuk gambut. Dengan tidak tersedianya oksigen maka hidrogen dan karbon akan menjadi H2O, CH4, CO dan CO2 tahap ini sering disebut juga sebagai proses biokimia.

28

Gambar 2.5 Tumbuhan primitif pembentuk batubara Gambut yang umumnya berwarna kecoklatan sampai hitam merupakan padatan yang bersifat porous dan masih memperlihatkan struktur tumbuhan asalnya, gambut masih mangandung kandungan air yang tinggi dan bisa lebih dari 50 %. Setelah proses gambut berhenti dengan tidak adanya regenerasi tumbuhan yang artinya tidak akan adalagi proses vegetasi, maka akan terendapkan dan terkonsentrasi pada cekungan cekungan dan bila ditutup oleh lapisan sedimen maka akan mengalami tekanan yang berlangsung berjuta-juta tahun. Tekanan akan bertambah besar dan mengakibatkan naiknya temperatur, disamping itu temperatur juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Selain itu kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktifitas magma, proses pembentukan gunung, serta aktifitas tektonik lainnya. Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air, pelepasan gas-gas (H2O, CH4, CO, CO2), peningkatan kepadatan, kekerasan dan nilai kalor. Tekanan, temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia.

29

Gambar 2.6 Proses Terjadinya batubara Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan

mengkonversi gambut menjadi batubara dan terjadi proses pengurangan kandungan air, pelepasan gas-gas (H2O, CH4, CO, CO2), peningkatan kepadatan, kekerasan dan nilai kalor. . Tekanan, temperature dan waktu merupakan factor yang menentukan kualitas batubara. Pembentukan batubara ini sering disebut sebagai proses termodinamika atau dinamokimia. 2.6.2 Keadaan Batubara Blok Siambul Desa Kelesa Pada blok siambul daerah Kelesa terdapat tiga seam batubara yaitu seam D, E dan F diantara ketiga seam ini seam E merupakan seam utama yang terletak di bagian atas dalam susunan yang di dominasi oleh batu lempung. Dari keseluruhan seam E menempati 65% dari total sumberdaya yang teridentifikasi, seam ini merupakan seam yang paling tebal dan mempunya kualitas terbaik dengan ketebalan mulai dari 0,5-6 m. Sedangkan seam F merupakan seam yang terletak pada bagian bawah dari keseluruhan seam F menempati 35 % dari total sumberdaya yang teridentifikasi. Ketebalannya berkisar antara 0,5-4 m.

30

2.7

Metode Penambangan Metode penambangan yang digunakan adalah sistem tambang terbuka open

pit dikarenakan lapisan endapan batubara yang akan ditambang secara umum tersingkap dipermukaan tanah sebagai out-crop dengan kemiringan berkisar antara 5-10, dan ketebalan rata-rata lebih dari 0,50m. Penambangan dibuat berdasarkan data hasil eksplorasi detil endapan batubara di daerah penelitian. Kegiantan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan yaitu pembersihan lahan yang sekaligus dilakukan pengupasan dan pemindahan tanah pucuk, operasi ini dilakukan pada lokasi dimana tambang akan dibuka yang kemudian diikuti dengan penggalian dan pemindahan lapisan penutup berupa overburden dan interburden yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truck, dan bila ditemukan material keras, terlebih dahulu diberaikan dengan bulldozer. Kegiatan terakhir yaitu penggalian dan pemindahan batubara yang dilakukan dengan menggunakan backhoe dan bulldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang langsung digali dan dimuat kedalam dump truck. Sedangkan batubara yang keras, akan di berai dahulu dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe.

31

BAB III DASAR TEORI

3.1

Perancangan Tambang menggunakan Software Minescape. Dalam perancangan tambang digunakan perangkat lunak minescape. Sebelum

melakukan perancangan tambang, perlu dilakukan pemodelan geologi, baik topografi maupun struktur lapisan endapan batubara. Pemodelan geologi ini bertujuan untuk mendapatkan data dalam melakukan penaksiran cadangan batubara, yang memenuhi syarat untuk dilakukan penambangan. Perangkat lunak minescape digunakan agar mempermudah proses pemodelan geologi, maupun dalam penaksiran sumberdaya dan cadangan batubara, dan memilih daerah yang lebih prospek sehingga menghasilkan proses penambangan yang layak. Sesuai batasan stripping ratio yang ditetapkan. Minescape merupakan software mining system terpadu yang dirancang khusus untuk pertambangan. Minescape mampu meningkatkan semua aspek informasi teknis suatu lokasi tambang mulai dari data eksplorasi, perancangan tambang jangka pendek, penjadwalan jangka panjang dan sampai ke penjadwalan produksi tambang. Sub menu dari perangkat lunak Minescape yang digunakan untuk melakukan perancangan tambang yakni: 1) Stratmodel Untuk melakukan pemodelan geologi, dimulai dari pembuatan peta topografi dengan memasukan data dari lapangan yang berupa titik-titik koordinat daerah telitian, kemudian diinterpolasikan membentuk garis-garis kontur. Pembentukan topografi kedalam bentuk 3D, dilakukan dengan proses triagulasi, yakni membentuk bidang dari setiap sisi antara garis-garis kontur membentuk penampang 3D. Peta topografi dapat dilihat pada Lampiran A-04. Setelah pembuatan peta topografi, dilanjutkan dengan pengolahan data pemboran collar, yang meliputi: nama titik bor, koordinat titik bor, elevasi titik bor, kedalaman lubang bor, ketebalan dan nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor, data litologi meliputi: nama titik bor, lapisan atas (roof), kedalaman lapisan bawah (floor), nama seam, batubara yang dapat dari

32

hasil log Bor, dan kode litologi. Data pemboran dapat dilihat pada Lampiran B sedangkan Peta titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Dalam pengolahan data pemboran, juga disertakan data kualitas batubara yang meliputi: nama titik bor, nama seam batubara, kedalaman lapisan atas (roof), kedalaman lapisan bawah (floor), relative density, total moisture, inherent moisture, total sulphur, kandungan abu (ash), dan calorific value atau kalori batubara. Hasil pengolahan data lubang bor dan data kualitas batubara tersebut menghasilkan gambar subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan out crop bagian floor batubara pada lapisan dibawah topografi atau surface. subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Peta subcrop line dapat dilihat pada Lampiran D. Penaksiran jumlah cadangan yang dapat ditambang pada daerah penelitian dilakukan dengan lebih detail, sehingga diharapkan dapat menghasilkan jumlah cadangan batubara yang mineable cukup besar untuk memenuhi target produksi. Pemodelan geologi selanjutnya yakni pembentukan kontur struktur batubara lapisan bawah (floor) sebagai acuan perhitungan jumlah cadangan batubara yang layak ditambang dan pembuatan desain geometri penambangan. Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentuk triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. Hasil dari pembuatan kontur struktur bagian bawah lapisan batubara (floor) merupakan tampilan perlapisan batubara yang berbentuk bidang yang membatasi lapisan batubara bagian bawah dengan lapisan batuan atau inter burden. Peta kontur struktur dapat dilihat pada lampiran E. Setelah kontur struktur bagian bawah batubara (floor) terbentuk, dapat dilakukan penaksiran sumberdaya batubara secara kasar atau belum dibatasi oleh stripping ratio yang di tentukan. Jika dip direction batubara pada daerah telitian bersifat relatif terjal misalnya antara 45-60 maka analisis daerah yang memiliki stripping ratio yang sesuai dengan yang ditetapkan yakni lebih mengarah pada perubahan kedalaman penambangan, dan juga mengara pada perluasan daerah penambangan.

33

Analisis daerah tersebut menggunakan sistem resgraphic yang dimiliki perangkat lunak minescape . Analisis ini bertujuan untuk membandingkan daerah yang memiliki cadangan batubara yang diinginkan berdasarkan rencana perubahan elevasi penambangan. Sebelum dilakukan analisis daerah penambangan, blok-blok penambangan dibagi lagi menjadi blok-blok kecil yang berukuran 100 x 100m atau 50 x 50 m, supaya penaksiran menjadi lebih detail. Pada hasil resgraphic, blok yang memiliki warna lebih terang (cokelat) merupakan blok yang membatasi daerah yang memiliki stripping ratio yang ditetapkan. Rencana elevasi penambangan yang paling banyak menghasilkan produksi batubara yakni pada elevasi hasil resgraphic tersebut. Dalam pembuatan desain geometri penambangan, dilakukan secara daerah hasil analisis resgraphic selesai dilakukan. Pembuatan desain geomentri penambangan dengan stripping ratio yang ditetapkan, dapat dilanjutkan ke elevasi berikutnya sehingga batas elevasi yang masih dibatasi dengan blok yang memiliki stripping ratio yang diharapkan. 2) Open Cut Merupakan salah satu aplikasi yang terdapat dakam minescape untuk pembuatan desain geometri penambangan. Desain geometri penambangan dilakukan setelah mendapatkan daerah yang memiliki stripping ratio sesuai dengan yang telah ditetapkan. Daerah-daerah tersebut kemudian dibentuk menjadi blok-blok penambangan dengan penamaan missal : Blok 01, Blok 02, dan seterusnya. Setiap blok-blok tersebut dibatasi oleh poligon dengan luasan yang berbeda-beda. Berdasarkan analisis daerah menggunakan resgrapich, batas luas wilayah penambangan (pit limit) dan batas elevasi penambangan dapat ditentukan. Berdasarkan data tersebut, dapat dilakukan desain geometri penambangan secara keseluruhan dan dilakukan penaksiran jumlah cadangan yang memiliki stripping ratio yang telah ditetapkan. Dalam penaksiran cadangan awal, bertujuan untuk menaksir jumlah cadangan yang dapat ditambang dengan stripping ratio yang sesuai dan memperoleh data distribusi kualitas batubara. Data distribusi kualitas batubara didasarkan pada data kualitas hasil analisis laboratorium dari data coring pemboran eksplorasi.

34

3.2

Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Kriteria dan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dapat dijelaskan dengan

pengadopsian data klasifikasi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997). Adapun kelas sumberdaya (Resource) dan cadangan (reserve) berdasarkan klasifikasi antara lain sebagai berikut : a). Sumberdaya Batubara Hipotetik (hypothetical coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan survey tinjau. b). Sumberdaya Tereka (inferred coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap penyelidikan penyelidikan prospeksi. c). Sumberdaya Tertunjuk (indicated coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. d).Sumberdaya Terukur (measured coal resource) Jumlah batubara didaerah penyelidikan atau bagian dari daerah penyelidikan yang ditaksir berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang di tetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. e). Sumberdaya Terkira (probable coal resource) Sumberdaya batubara tertunjuk dan sebagian sumberdaya terukur, tetapi berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. f). Cadangan terbukti (proved coal reserve) Sumberdaya batubara terukur yang berdasarkan kajian kelayakan semua faktor terkait yang telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. Tahap eksplorasi batubara berdasarkan klasifikasi sumberdaya dan cadangan dikutip dari Standar Nasional Indonesia (1999), dilaksanakan memlalui empat tahap yaitu: 1) Survei Tinjau

35

Merupakan tahap eksplorasi paling awal dengan tujuan mengidentifikas daerahdaerah yang secara geologis terdapat endapan batubara yang potensial untuk penyelidikan lebih lanjut serta mengumpulkan informasi tentang kondisi geografi, tataguna lahan, serta kesampaian daerah. Kegiatan penyelidikan antara lain studi geologi regional, penaksiran, penginderaan jauh, dan metode tak langsung lainnya serta inspeksi lapangan pendahuluan yang menggunakan peta dasar dengan skala sekurang-kurangnya 1 : 100.000. 2) Prospeksi Tahap ini dimaksud untuk membatasi daerah sebaran endapan yang akan menjadi sasaran eksplorasi selanjutnya. Kegiatan pada tahap ini antara lain : Pemetaan geologi dengan skala minimum 1 : 50.000, pengukuran penampang stratigrafi, pembuatan paritan, pembuatan sumuran, pemboran uji, percontoan dan analisis. 3) Eksplorasi Pendahuluan Tahap eksplorasi ini dimaksud untuk mengetahui gambaran awal bentuk tiga dimensi endapan batubara meliputi ketebalan lapisan, bentuk, korelasi, sebaran, struktur, kuantitas dan kualitas. Kegiatan penyelidikan antara lain: pemetaan geologi dengan skala minimum 1:10.000, pemetaan topografi, pemboran dengan jarak yang sesuai dengan kondisi geologi, penampang geofisika, pembuatan sumuran. 4) Eksplorasi Rinci Tahap eksplorasi ini dilakukan untuk mengetahui kuantitas dan kualitas serta model tiga dimensi endapan secara lebih rinci. Gambar klasifikasi sumberdaya dan cadangan diadopsi dari United Nation Economic and Socisl Council (1997), United Nations International Framework Classification for Reserves /Resources : Solid Fuels and Mineral Commodities, Geneva (Gambar 3.1).

36

Sumber : Klasifikasi Cadangan dan Sumberdaya Mineral

Gambar 3.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara SNI Angka-angka kodifikasi Cadangan/Sumber Daya (lihat Lampiran 2) terdiri dari 3 digit berdasarkan fungsi 3 sumbu, yaitu : E, F dan G, dimana; E = Sumbu Ekonomis (Economic Axis) untuk Economic Viability F = Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) untuk Feasibility Assessment G = Sumbu Geologi (Geological Axis) untuk Geological Study Digit pertama tentang Sumbu Ekonomis (Economic Axis) terdiri dari 3 angka, yaitu : Angka 1 menyatakan Ekonomis (Economic) Angka 2 menyatakan Berpotensi Ekonomis (Potentially Economic) Angka 3 menyatakan Berintrinsik Ekonomis (dari Ekonomis ke Berpotensi Ekonomis)

37

Digit kedua tentang Sumbu Kelayakan (Feasibility Axis) terdiri dari 3 angka, yaitu : Angka 1 menyatakan Studi Kelayakan (Feasibility Study) danbatau Laporan Penambangan (Mining Report) Angka 2 menyatakan Studi Pra Kelayakan (Prefeasibility Study) Angka 3 menyatakan Studi Geologi (Geological Study)

Digit ketiga tentang Sumbu Geologi (Geological Study) terdiri dari 4 angka, yaitu : Angka 1 menyatakan Eksplorasi Rinci (Detailed Exploration) Angka 2 menyatakan Eksplorasi Umum (General Exploration) Angka 3 menyatakan Prospeksi (Prospecting) Angka 4 menyatakan Survai Tinjau (Reconnaissance)

3.3

Konsep Pemodelan Sumberdaya Interpretasi geologi merupakan hal yang penting dalam tahap penyelidikan

eksplorasi endapan batubara. Pemodelan sumberdaya yang dibuat merupakan pendekatan dari kondisi geologi, pemodelan tersebut memberikan : 1) Taksiran jumlah sumberdaya batubara (tonnase) 2) Perkiraan bentuk tiga dimensi sumberdaya batubara, jumlah cadangan dengan kaitannya dengan perhitungan umur tambang 3) Batas-batas kegiatan penambangan yang dibuat berdasarkan taksiran sumberdaya 4) Hasil perhitungan stripping ratio Pada umunya pemodelan sumberdaya mempunyai batas-batas koordinat, misal kearah utara dan kearah timur. Perubah (variable) yang diperlukan untuk pemodelan yaitu topografi daerah penelitian, informasi geologi, ketebalan dan kualitas endapan, jenis batuan, berat jenis, tonase tiap unit. Tahap pemodelan sumberdaya mineral meliputi: 1) Pemasukan dan pengecekan data 2) Pemodelan topografi dan geologi 3) Konstruksi model geologi

38

4) Dimensi model geologi 3.4 Penaksiran Cadangan Dalam penaksiran menggunakan mine area yang merupakan rumus paling sederhana untuk menghitung volume yang terletak diantara dua buah penampang yang sejajar dengan luas S1 dan S2 serta jarak L. Pada metode standar ini rumus mean area yang digunakan adalah sebagai berikut :

3.4.1 Metode Penaksiran

V=

L1 +

L2 +...+

Ln

.3.1

Keterangan : L1, L2, L3, , Ln S1, S2, S3, , Sn = luas setiap penampang (m) = luas setiap penampang (m2)

Perhitungan dapat dilakukan dengan menggunakan rumus diatas karena perhitungan volume batubara ditaksir per blok. Jenis perhitungan ini, dapat pula dilakukan dengan menggunakan rumus dibawah ini bila mempunyai jarak yang sama: V= L1 + L2 +...+ Ln .3.1

V = ((S1 + S2) + (S2 + S3) + (S3 + S4) + (Sn + Sn))L/2 maka : V = ((S1 + 2S2 + 2S3 +.+ 2Sn + Sn )L/2 .3.2 Sedangkan perhitungan luas pada mean area yang menghitung volume antara 2 buah penampang dengan kondisi S1 < 0,5 S2 , maka perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut: V = {S1 + 2S2 + } L/3 3.3

3.4.2 Penaksiran Cadangan dengan Software Minescape

39

Dalam penaksiran cadangan batubara yang memiliki stripping ratio (SR) 10:1 dari penampang area hasil analisis resgtaphich, endapan mineral batubara yang telah dibagi menjadi blok-blok dengan interval dengan jarak yang sama yakni 50 m x 50 m dilakukan pembatasan area luasan penampang dengan menggambarkan poligon yang melingkupi area tersebut. Kemudian dilakukan projection menjadi bentuk desain geometri penambangan berupa pit penambangan secara keseluruhan. Penamaan pit penambangan disesuaikan dengan nama blok yang dibatasi dengan poligon daerah hasil resgtaphich mulai misalnya : Pit-Blok01, Pit-Blok02, Pit-Blok03 dan seterusnya. Setelah berbentuk pit penambangan kemudian dilakukan penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan antara seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara. Perhitungan ini dilakukan dengan pembatasan luas poligon dan elevasi penambangan dari bentuk tiga dimensi pit penambangan. Peta pit limit dapat dilihat pada Lampiran J . 3.5 Penjadwalan Produksi Batubara Proses penjadwalan produksi batubara dapat dilakukan setelah dilakukan penaksiran seluruh cadangan batubara yang memenuhi stripping ratio (SR) 10 : 1 dilakukan. Penaksiran cadangan untuk penjadwalan produksi dilakukan dengan perhitungan mundur atau push back terhadap batasan wilayah penambangan (pit limit ) yang telah ditentukan. Hasil dari penaksiran jumlah volume lapisan tanah penutup (overburden), volume lapisan batuan antar seam batubara (interburden), dan jumlah volume batubara untuk proses penjadwalan produksi disesuaikan dengan target produksi dan kualitas batubara terutama kadar kalori batubara. Dari perhitungan penjadwalan produksi didapat jumlah produksi lapisan tanah penutup (overburden), lapisan batuan antar seam batubara (interburden), sehingga dapat dilakkukan penjadwalan penimbunan waste dump, dan dilakukan desain geometri waste dump secara bertahap untuk setiap tahunnya. Pada daerah telitian, overburden atau lapisan tanah penutup dan lapisan batuan antar seam batubara (interburden) di gunakan metode back filling sehingga dilakukan penimbunan didalam pit penambangan. Perancangan tambang merupakan suatu tahap penting dalam rencana operasi penambangan. Perancangan tambang yang modern memerlukan pemodelan dari

40

sumberdaya yang akan ditambang. Model tersebut berupa gridded seam model untuk endapan tabular seperti halnya batubara. Aspek penting dalam pekerjaan perancangan tambang yaitu penentuan batas akhir penambangan, dan penjadwalan produksi. Berdasarkan waktu, perancangan dibagi menjadi : 1) Perancangan jangka panjang, perancangan komprehensif dari seluruh cadangan yang ada dan nilai ekonominya: mengeksplorasi deposit yang menguntungkan untuk memperkirakan ekstraksi dari keseluruhan sumberdaya atau hingga cut-off point. 2) Perancangan jangka menengah, program-program yang lebih detil dan saling berhubungan, seperti sasaran produksi tahunan. 3) Perancangan jangka pendek, control yang sangat detil terhadap produksi harian. 3.6 Sistem Penambangan Tipe penambagan ini pada umumnya dilakukan pada penambangan batubara yang terdapat di pegunungan atau perbukitan dengan batubara yang tersingkap sejajar dengan kemiringan gunung. Penambangan batubara dimulai dari singkapan lapisan batubara dipermukaan atau crop line dan selanjutnya mengikuti garis kontur sekeliling bukit atau pegunungan tersebut. Lapisan batuan penutup batubara dibuat kearah lereng bukit dan selanjutnya batuan yang telah tersingkap diambil dan diankut. Kegiatan penambangan berikutnya dimulai lagi seperti tersebut di atas pada lapisan batubara yang lain sampai pada suatu ketebalan lapisan penutup batubara yang menentukan batas limit ekonominya atau sampai batas maksimum kedalaman dimana peralatan tambang tersebut dapat bekerja.

3.6.1 Contour Mining

41

Gambar 3.2 Penambangan Contour Mining Batas ekonomi di tentukan oleh beberapa variable antara lain : a. Ketebalan lapisan batubara b. Kualitas c. Pemasaran d. Sifat dan keadaan batuan penutup e. Kemampuan peralatan yang digunakan f. Persyaratan reklamasi Peralatan yang digunakan untuk cara penambangan ini pada umunya memakai peralatan yang mempunyai mobilitas tinggi atau dikenal sebagai mobile equipment. 3.6.2 Open Pit Open pit mining adalah penambangan secara terbuka dan pengertian umum. Metode ini dilakukan dengan cara mengupas terlebih dahulu lapisan material penutup batubara kemudian dilanjutkan dengan menambang batubaranya.

42

Gambar 3.3 Penambangan Open Pit Penambangan tipe open pit biasanya dilakukan pada endapan batubara yang mempunyai lapisan tebal dengan arah batubara miring kebawah dan dilakukan dengan mengunakan beberapa bench (jenjang). 3.6.3 Strip Mine Tipe penambangan terbuka yang diterapkan pada endapan batubara yang lapisannya datar dan dekat dengan permukaan tanah. Kegiatan penambangan dilakukan dengan cara menggali tanah penutup yang dibuang pada daerah yang tidak di tambang. Setelah endapan batubara dari hasil galian pertama diambil, kemudian disusul dengan pengupasan berikutnya yang sejajar dengan pengupasan pertama dan tana penutupnya dibuang ketempat penggalian pertama. Untuk pemilihan metode ini perlu diperhatikan bahwa : Bahan galian relatif mendatar Bahan galian cukup kompak Bahan galian tabular, berlapis Kemiringan relatif, lebih cocok untuk horizontal atau sedikit miring

43

Kedalaman kecil (nilai ekonomi tergantung stripping ratio, teknologi peralatan)

Gambar 3.4 Penambangan Strip Mining 3.7 Parameter-parameter Rancangan (design) Informasi ini dapat dalam bentuk kontur hasil digitasi yang tersimpan dalam file komputer, atau berupa file surface titik ketinggian, termasuk drillholes collars. Alternatif lain yaitu memodelkan permukaan berdasarkan data titik ketinggian menggunakan perangkat lunak seperti AutoCAD dan quicksurf, globalmapper, google earth dan google scateup, maupun minescape yang dibangun secara komputasi dengan metode triangulasi membentuk tampilan 3 (tiga) dimensi. 3.7.2 Kemiringan Jenjang (Batter) Pada awalnya sebuah desain pit dibuat dengan overall slope sebesar 450 dan kemudian dimodifikasi berdasarkan informasi geoteknik dari material yang ada dalam pit tersebut. Batter dapat diatur pada kemiringan 30-35o untuk overburden, meningkat 35-40o untuk batuan yang lapuk dan hingga 550 untuk batuan fresh.

3.7.1 Data Topografi Permukaan (Surface) secara Detil

44

Menurut Robert, Hook dan Fish (1972) sebaiknya kemiringan lereng kurang dari 600 pada kedalaman 65 m dan kurang dari 400 pada kedalaman 300 m. 3.7.3 Tinggi Jenjang Ketinggian jenjang berbeda-beda untuk setiap pit. Tergantung pada peralatan yang digunakan, kedalaman pit dan pada geologi lokal atau derajat iklimnya. Lereng pada overburden yang lemah atau tidak terkonsolidasi, atau pada tanah yang terekpos, relatif lebih tipis, kurang lebih 2-5m. sebuah survey yang dilakukan Canadian Mining Journey (1988) menunjukan bahwa untuk range yang lebar dari beberapa badan bijih, lereng-lereng bervariasi tingginya 6-20m pada operasi tambang yang besar, yang berproduksi 10.000 ton/hari penambangan padat dioperasikan pada lereng dengan ketinggian 9m. pada continental pit, Butte, Montana, terdapat lereng berketinggian 12m pada alluvium hingga 24 m pada batuan kompeten. Operasi-operasi tambang yang lebih kecil biasanya menggunakan lereng dengan ketinggian 6-8m. 3.7.4 Permukaan Lereng (Berm Face) Permukaan lereng dapat dibedakan menurut jenis dari lereng tersebut. Misalnya sebuah lereng aktif atau lereng kerja (working Bench) dapat menggunakan pedoman stabilitas jangka pendek yaitu lereng dapat dibuat relatif lebih terjal. Namun untuk lereng permanen, pertimbangan utama yang digunakan adalah jangka panjang. Permukaan lereng dapat di tentukan dan dicapai dengan pemilihan alat yang tepat. 3.7.5 Lebar Berm Lebar jenjang disesuaikan dengan ultimate slope dan single slope pada ketinggian yang ditentukan. Namun jika pit semakin dalam, maka lebar jenjang juga semakin lebar. Berm dapat pula merefleksikan ukuran coal deposit. Lebar dari jalan angkut yang umunya mengikuti berm, ditentukan oleh ukuran truk yang digunakan, yang relatif terhadap ukuran coal deposit dan kapasitas produksi yang diharapkan.

3.7.6 Kedalam Pit Bottom

45

Penentuan pit bottom (dasar pit) sangat tergantung pada banyak faktor seperti perubahan stripping ratio, naiknya biaya produksi dan pengangkutan, nilai mineral yang ditambang, ukuran (jumlah) deposit, serta kapasitas mill dan produksi. Batas kedalaman penambangan dapat dioptimisasi menggunakan prosedur-prosedur optimisasi design seperti Lerch and Grossman. 3.7.7 Jalan Angkut (Haul Road) Faktor ini biasanya mengikuti proses design setelah kedalaman pit bottom didefinisikan. Jalan ankut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti naiknya jenjang kearah permukaan dengan gradient (kemiringan) berkisar antara 8-12 %. Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit atau swichback yang hanya melalui salah satu dinding pit (kemungkinan keberadaannya dikarenakan kekuatan material pada dinding tersebut atau kapasitas muat angkutnya yang cukup naik). 3.7.8 Faktor-faktor lain dalam Desain Geometri Penambangan a) Informasi geoteknik Hal ini termasuk detai dari kekuatan batuan, diskontinuitas pada massa batuan dan hubungannya terhadap orientasi tiap face penambangan yang akan dirancang (potensi munculnya longsoran). b) Informasi Hidrogeologi Informasi hbidrogeologi antara lain curah hujan tahunan, daerah tangkapan hujan, sumbangan air tanah, kedalaman muka air tanah, dan flktuasinya seperti; tekanan piezometrik, gradient hidrolik, pororsitas, permeabilitas dan lapisan-lapisan yang akan ditambang, drainase alami pada permukaan, kemungkinan keberadaan lapisan aquifer dan aquiclude, lokasi daerah yang pernah banjir, dan lain sebagainya. c) Overburden Hal yang harus diketahui antara lain kedalaman overburden yang harus dikupas d) Kapasita produksi e) Batas fisik f) Lokasi waste dump dan stockpile g) Lokasi pengolahan

46

h) Sistem transportasi batubara dan overburden Sistem transaportasi yang digunakan dapat berupa alat muat angkut atau menggunakan belt conveyor. 3.8 Desain Tambang Terbuka Faktor-faktor yang mempengaruhi geometri jenjang: 1) Produksi Salah satu tujuan penentuan dimensi jenjang adalah harus dapat menghasilkan produksi yang diinginkan, maka jenjang yang akan dibuat perlu mempertimbangkan jumlah produksi yang diinginkan. Pada umumnya jumlah produksi menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat, artinya akuratnya ukuran jenjang tergantung jumlah produksi 2) Kondisi Material Kondisi material/batuan yang ada dapat menentukan peralatan yang harus digunakan sehingga kegiatan yang sesuai untuk produksi yang dikerjakan dapat di tentukan. Kondisi batuan yang lebih dominan antara lain kekuatan batuan, faktor pengembangan, densitas batuan, struktur geologi yang ada. Berdasarkan kondisi material tersebut dapat membantu memperkirakan peralatan produksi yang digunakan. Pada material lunak, penggalian dapat langsung dilakukan pada permukaan material (permukaan kerja), maka jarak dan ketinggian penggalian perlu diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang. 3) Peralatan Produksi Pada umumnya peralatan produksi yang akan digunakan/dipilih disesuaikan dengan kapasitas produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. Dengan pertimbangan tersebut, dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik, dimana hal ini akan mempengaruhi effisiensi kerja.

3.8.1 Geometri Jenjang

3.8.2 Rancangan Geometri Jenjang Beberapa parameter penentuan dimensi jenjang, yaitu : Sasaran produksi dan stripping ratio

47

Kondisi overburden Kondisi dan karakter cebakan batubara Peralatan yang digunakan Penimbunan material Dimensi jenjang yang diperhitungkan meliputi lebar, panjang, tinggi jenjang.

Ukuran panjang dan lebar jenjang ditentukan oleh metode pembongkaran material (menggunakan alat mekanis atau peledakan), kemampuan alat muat, pola gerak alat muat dan alat angkut, maupun letak alat muat dan alat angkut yang digunakan dalam waktu yang bersamaan pada saat penambangan serta sasaran produksi dan rencana pemanfaatan lahan bekas tambang. Dimensi jenjang akan mempengaruhi jumlah bahan galian yang dapat di tambang, dan berpengaruh pada kestabilan lereng dan keamanan penambangan. Beberap faktor pertimbangan dalam pembuatan geometri jenjang: 1) Tinggi jenjang disesuaikan dengan rencana geometri peledakan yang diterapkan dan jangkauan alat muatnya. Tinggi jenjang adalah jarak yang diukur tegak lurus dari lantai jenjang (toe) hingga ujung jenjang bagian atas (crest). Tinggi jenjang yang dibuat sangat dipengaruhi oleh sifat fisik, dan mekanik batuan, rencana dimensi bongkaran serta peralatan mekanis yang dipergunakan. 2) Lebar jenjang disesuaikan dengan sasaran produksi dan keadaan topografi lokasi penambangan. Lebar jenjang adalah jarak horisontal yang diukur dari ujung lantai jenjang sampai batas belakang lantai jenjang. Lebar minimum yang akan dibuat harus dapat menampung material hasil bongkaran/peledakan dan peralatan yang digunakan Lebar jenjang minimum sangat dipengaruhi: Jenis dan kemampuan alat Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi di lantai yang sama Lebar dari tumpukan hasil pembongkaran Pemanfaatan lahan bekas tambang Kapasitas produksi yang akan dipakai

48

Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, sudut lereng jenjang tunggal, lebar dari jenjang penangkap (Catch Bench). Rancangan geoteknik jenjang biasanya dinyatakan dalam bentuk parameter-parameter untuk ketiga aspek ini. Dalam pelaksanaan penambangan, pengontrolan sudut lereng biasanya dilakukan dengan menandai lokasi pucuk jenjang (crest) sesuai dengan desain yang telah dibuat menggunakan bendera kecil. Operator alat mekanis diharapkan dapat menggali sampai batas lokasi bendera tersebut. Lokasi lobang tembak dapat pula menjadi pedoman. Penggalian sebaliknya dilakukan dari bagian atas material, agar berada pada posisi kerja yang aman (untuk menghindari longsoran saat penggalian material). Komponen dasar pada tambang terbuka adalah jenjang. Bagian jenjang adalah sebagai berikut: a) Crest dan Toe

Gambar 3.5 Bagian-bagian Jenjang

49

b)

Jenjang kerja (working bench)

Gambar 3.6 Jenjang Kerja dan Safety Bench 3.8.3 Sudut Lereng Inter-ramp dan overall Sudut lereng antar jalan (inter-ramp slope angle) adalah sudut lereng gabungan beberapa jenjang diantara dua jalan angkut. Sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) adalah sudut yang sebenarnya dari dinding pit keseluruhan, dengan memperhitungkan jalan angkut, jenjang penangkap dan semua profil lain di dinding jenjang. Berikut ini adalah definisi overall slope dan interramp slope angle: a) Overall slope angle Overall slope angle merupakan sudut kemiringan dari keseluruhan jenjang yang dibuat pada front penambangan. Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari front penambangan (Gambar 3.7).

50

Upper most crest

a
Lower most crest

Gambar 3.7 Overall slope angle b) Overall slope angle with ramp Pengertiaannya sama, namun pada bagian pertengahan Overall slope diberi salah satu jenjang yang dimensi ukurannya lebih lebar dan digunakan sebagai jalan angkut (Gambar 3.8).

Keterangan : q R : overall slope angle : ramp

Gambar 3.8

51

Overall slope angle with ramp c) Inte ramp slope angle Inte ramp slope angle merupakan sudut yang berada diantara ramp yang diukur dari crest sampai dengan toe pada ramp (Gambar 3.9).
C
Keterangan : qIR1: Interamp slope 1

qIR1

R RC

qIR2: Interamp slope 2 R : Ramp

qIR2 T

Gambar 3.9 Inter ramp slope angle d) Inter slope angle dengan satu working bench Kemiringan jenjang diukur dari crest pada bench yang sejajar jenjang kerja sampai toe (Gambar 3.10).

C qwR1
Keterangan : qwR1 qwR2 WB W

WB

WC

: Interramp slope working bench 1 : Interramp slope working bench 2 : Working bench : Working bench toe

qwR2 T

Gambar 3.10

52

Inter slope angle dengan satu working bench e) Overall slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan sudutnya diukur dari crest jenjang yang terletak diatas jenjang kerja sampai toe pada jenjang paling akhir (Gambar 3.11).

WB
Keterangan : WB : Working Bench R : Ramp

Gambar 3.11 Overall slope angle dengan working bench dan ramp f) Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp Kemiringan jenjang diukur dari masing-masing crest dan toe pada working bench dan ramp (Gambar 3.12).

qwR1
Keterangan :

WB

qwR1: Interamp slope Working Bench 1 qwR2: Interamp slope Working Bench 2 qIR3: Interamp slope Ramp 3

qwR3

Gambar 3.12 Inter ramp slope angle dengan working bench dan ramp

53

g)

Overall slope angle dengan dua working bench Overall slope yang pada beberapa (dua) bagian jenjangnya diguanakan

sebagai working bench. Kemiringan sudutnya diukur dari crest paling atas sampai toe paling bawah dari jenjang yang ada (Gambar 3. 13).

WB1

Sh1 Sh2

WB2

Keterangan : q : Overall slope angle dengan dua working bench WB1 : Working bench 1 WB2 : Working bench 2 Sh1 : Shovel Group 1 Sh2 : Shovel Group 2

Gambar 3.13 Overall slope angle dengan dua working bench 3.8.4 Geometri Jenjang Menurut Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555 Pasal 241 (1) Kemiringan, tinggi dan lebar teras harus dibuat dengan baik dan aman untuk keselamatan para pekerja agar terhindar dari material atau benda jatuh. (2) Tinggi jenjang (bench) untuk pekerjaan yang dilakukan pada lapisan yang mengandung pasir, tanah liat, kerikil, dan material lepas lainnya harus : (a). (b) (c) Tidak boleh lebih dari 2.5 m apabila dilakukan secara manual; Tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara mekanik dan Tidak boleh lebih dari 20 m apabila dilakukan dengan menggunakan chamsell, dragline, bucket whell excavator atau alat sejenis kecuali mendapat persetujuan Kepala Inspeksi Tambang. (3) (4) Tinggi jenjang untuk pekerjaan yang dilakukan pada material kompak tidak boleh lebih dari 6 m apabilah dilakukan secara manual. Dalam hal penggalian dilakukan sepenuhnya dengan alat mekanis yang dilengkapi dengan kabin pengaman yang kuat, maka tinggi jenjang

54

maksimum untuk material kompak 15m, kecuali mendapat persetujuan Kepala Pelaksanaan Inspeksi Tambang. (5) Studi kemantapan lereng harus dibuat apabila : (a) (b) (6) Tinggi jenjang keseluruhan pada system penambangan berjenjang lebih dari 15 m dan tinggi setiap jenjang lebih dari 15 m Lebar lantai teras kerja sekurang-kurangnya 1.5 kali tinggi jenjang atau disesuaikan dengan alat-alat yang digunakan sehingga dapat bekerja dengan aman dan harus dilengkapi dengan tanggul pengaman (safety berm) pada tebing yang terbuka dan diperiksa pada setiap gilir kerja dari kemungkinan adanya rekahan atau tanda-tanda tekanan atau tanda-tanda kelemahan lainnya. 3.8.5 Dasar Perancangan Jalan Tambang Geometri jenjang ditentukan berdasarkan peralatan yang dipakai, oleh karena itu diperlukan rancangan jalan yang benar, pada suatu tambang yang baru letak jalan (ramp) keluar tambang sangat penting untuk diperhitungkan. Jalan tambang umunya merupakan akses kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan peremuk (crusher) faktor topografi merupakan pertimbangan utama untuk membuat rancangan ramp. Umumnya lebar jalan yang aman adalah 4 kali lebar dump truck, berdasarkan dimensi tersebut memungkinkan untuk lalu linas dua arah, ruangan untuk truck yang akan menyusul, selokan penyaliran, dan tanggul pengaman. Kemiringan jalan angkut didalam tambang biasanya dirancang pada kemiringa 8 % atau 10 %. Rancangan kemiringan jalan untuk tambang-tambang besar umunya sekitar 8 %. Rancangan ini dapat memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam perancangan dan memudahkan dalam akses ke jenjang-jenjang penambangan. Kemiringa maksimum yang masih praktis pada jalan tambang yang panjangnya 10%. Umumnya tambang-tambang skala kecil merancang kemiringan jalan sebesar 10 %. Rancangan spiral dan swichback biasanya dihindari karena cenderung melambatkan arus lalulintas. Pertimbangan lain adalah ban akan cepat aus, perawatan ban menjadi lebih besar dan faktor keamanan. Apabilah swichback tidak

55

mungkin dihindari, jalan akan dirancang lebih panjang dengan bagian sebelah dalam dari tikungan dirancang tidak terlalu terjal. Apabila geometri memungkinkan dan mempertimbangkan keamanan dibeberapa lokasi jalan tamabang dapat dibuat belokan tanjakan darurat (runaway ramps) untuk menghentikan laju dump truck yang tidak terkendali. Selain itu perlu dibuat tanggul pemisah (straddle berm) ditengan jalan. Pembuatan jalan tambang dapat memiliki tampak pada volume penggalian material yang sangat besar sehingga aspek ekonomik dari pembuatan jalan tambang cukup signifikan. 3.8.6 Tahapan Penambangan (Push Back) Merupakan bentuk-bentuk penambangan (mineable geometris) yang menunjukan bagaimana suatu pit akan ditambang dari titik awal masuk hingga bentuk akhir pit. Tujuan umum dari pembuatan tahapan penambangan adalah untuk membagi seluruh volume yang ada dalam pit kedalam unit-unit perancangan yang lebih kecil (panel/strip) sehingga mudah di tangani. Adanya tahapan penambangan akan memudahkan perancangan tambang yang amat kompleks menjadi lebih sederhana. Dalam perancangan, parameter waktu dapat mulai diperhitungkan, karena waktu merupakan parameter yang sangat berpengaruh. Pada tahap perancangan, pada awalnya diusahakan untuk mengkaitkan hubungan antara geometri penambangan dengan geometri perlapisan batubara. Dengan mempelajari tingkat perlapisan batubara dan topografi maka akan diperoleh suatu cara untuk membuat strategi penambangan pit secara logis dalam waktu yang relatif singkat. Tahapan-tahapan penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses kesemua daerah kerja dan menyediakan ruang kerja yang cukup untuk operasi peralatan kerja tambang secara efisien. Salah satu hal terpenting adalah untuk memperlihatkan minimal satu jalan angkut untuk setiap kemajuan tambang. Hal tersebut dilakukan untuk memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan kemungkinan akses jalan angkut seluruh permukaan kerja. Faktor yang mempengaruhi penentuan tahapan penambangan antara lain : a) Bentuk dan kemiringan perlapisan batubara

56

Rencana penambangan batubara yang berbentuk perlapisan akan berbeda dengan perancangan penambangan untuk mineral bijih termasuk dalam penentuan geometri lerengnya. b) Stripping Ratio (Nisbah Pengupasan) Nisbah pengupasan merupakan perbandingan antara tonase overburden yang harus dipindahkan 1 ton batubara yang ditambang. Hasil suatu perancangan pit akan menentukan jumlah tonase overburden dan batubara yang mengisi pit. Perbandingan antara overburden dan batubara tersebut akan memberikan nisbah pengupasan rata-rata suatu pit. c) Ultimate pit slope Merupakan salah satu faktor teknis yang berarti kemiringan atau batas luar tambang yang masih tetap stabil dan menguntungkan. Ultimate pit slope akan berhubungan dengan geometri lereng yang direncanakan. Hal ini berarti menentukan besarnya cadangan batubara yang akan ditambang (tonase dan nilai kalorinya) yang akan memaksimalkan nilai bersih total dari cebakan batubara tersebut. Ultimate pit slope juga akan berpengaruh terhadap eksplorasi lanjut, tahap evaluasi dan tahap persiapan yang didasarkan pada: (a) BESR (Break Evet Stripping Ratio) yang ditentukan (b) Sifat fisik dan mekanika batuan (c) Struktur geologi (sesar, kekar, bidang perlapisan, dan bidang geser) (d) Air tanah, unsure kimia batuan dan waktu yang dibutuhkan 3.9 Jalan Angkut (Ramp) Suatu tambang yang baru, penting diperhitungkan dimana letak jalan-jalan keluar dari tambang untuk akses yang baik kelokasi pembuangan tanah penutup (waste dump) dan permukaan biji crusher). Topografi merupakan faktor penting akan sangat sulit sekali bagi truk untuk keluar dari pit kemedan yang curam.

3.9.1 Letak Jalan Keluar

57

3.9.2 Rancangan Spiral dan Switchback Pada umumnya swickbackingin dihindari sebisa mungkin karena cenderung melambatkan lalulintas, juga ban akan cepat aus dan perawatan ban akan lebih besar pertimbangan lain ialah keamanan. Apabila ada sisi tambang yang jauh lebih rendah dari dinding lainnya disekeliling pit, switchback disisi ini sering lebih murah dari pada membuat jalan angkut spiral mengelilingi dinding pit. 3.9.3 Jarak Pandang Jarak pandang adalah jarak yang diperlukan oleh operator untuk melihat kedepan secara bebas. Pada tambang batbara jarak pandang ini perlu, karena dalam operasi penggalian batubara, menghasilkan banyak debu, yang akan menganggu jarak pandang dari operator dump truck. 3.9.4 Lebar Jalan Tergantung pada lebar alat angkut, biasanya 4 kali lebar truk. Lebar jalan seperi diatas memungkainkan lalulintas dua arah, ruangan untuk truk yang akan menyusul, juga cukup untuk selokan penyaliran dan tanggul pengaman. a) Lebar Jalan Lurus L =n.Wt + (n+1).(0.5.Wt) L : lebar jalan angkut minimum, (meter) n : jumlah jalur Wt : lebar alat angkut, (meter) 3.5

58

The link ed image cannot be displayed. The file may have been mov ed, renamed, or deleted. Verify that the link points to the correct file and location.

CATERPILLAR

778

778

Tanggul

Parit

1/2 Wt

Wt

1/2 Wt

Wt

1/2 Wt

L min

( Ir.Awang Suwandi, 2004 ) Gambar 3.14 Lebar Jalan Angkut Lurus

Nilai 0,5 pada rumus diatas menunjukan bahwa ukuran aman kedua kendaraan berpapasan adalah sebesar 0,5 wt, yaitu setengah lebar terbesar dari alat angkut yang bersimpangan. Ukuran 0,5 wt juga digunakan untuk jarak dari tepi kanan atau kiri jalan kealat angkut yang melintasi secara berlawanan. Apabilah tidak sesuai dengan ketentuan menurut perhitungan, maka harus dilakukan beroperasi. b) Lebar Jalan pada Tikungan Lt = n(U + Fa + Fb + Z) + C .. 3.6 Z = C= (U + Fa + Fb ) Keterangan : Lt : Lebar jalan angkut pada tikungan, (meter). U : Jarak jejak roda, (meter). perubahan karena selain dapat menghambat dalam kegiatan pengangkuatan juga berbahaya bagi keselamatan operator dan kendaraan yang

59

Fa : Lebar juntai depan, (meter). Fb: Lebar juntai belakang, (meter). C : Jarak antara alat angkut saat bersimpangan,(meter).

( Ir.Awang Suwandi, 2004 ) Gambar 3.15 Lebar Jalan Angkut pada Tikungan

c)

Radius Putar Truck Jari-jari tikungan (belokan) berhubungan langsung dengan bentuk dan

kontruksi alat angkut yang digunakan. Disini digunakan ukuran alat angkut maksimum. Dalam penerapan jari-jari lingkaran yang dijalankan oleh roda belakang dan roda depan berpotongan dipusat C dengan sudut yang sama terhadap penyimpangan roda. Penentuan besarnya jari-jari tikungan, rumus yang digunakan adalah :

60

Wb

R = Wb/sin

Dengan : R : Jari-jari lintasan roda depan, meter Wb : Jarak antara poros roda depan dengan belakang : Sudut penyimpangan roda depan ( ) Gambar 3.16 Radius Tikungan Jalan 3.9.5 Kemiringan Jalan Super elevasi merupakan kemiringan jalan pada tikungan yang terbentuk oleh batas antara tepi jalan terluar dengan tepi jalan terdalam karena perbedaan kemiringan. Tujuan dibuat super elevasi pada daerah tikungan jalan angkut yaitu untuk menghindari atau mencegah kendaraan kergelincir keluar jalan atau terguling. Atau berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal (gaya mendorong keluar) sewaktu kendaraan melintasi tikungan, dan menambah kecepatan.

61

Gambar 3.17 Superelevasi Tikungan Jalan Angkut Berdasarkan teori ankintos D.I.C. pada kondisi jalan kering, nilai super elevasi merupakan harga maksimum yaitu 60 mm/m sedangkan pada kondisi jalan penuh lumpur atau licin, nilai super elevasi terbesar adalah 90 mm/m. kemiringan tikungan tersebut tergantung tajamnya tikungan dan kecepatan maksimal kendaraan yang diijinkan pada waktu melintasi tikungan. Secara matematis kemiringan tikungan jalan angkut merupakan perbandingan antara tinggi jalan dengan lebar jalan. Untuk menentukan besarnya kemiringan tikungan jalan dihitung berdasarkan kecepatan rata-rata kendaraan dengan koefisien friksinya. Persamaan yang digunakan untuk menghitung superelevasi yaitu: tan = V2/R.G (3.7) dengan : V R G : Kecepatan kendaraan saat melewati tikungan : Radius tikungan : Gravitasi bumi = 9,8 m/s2

62

Kemiringan jalan angkut (grade) merupakan suatu faktor penting yang harus diamati secara detail dalam kegiatan kajian terhadap kondisi jalan tambang. Hal ini dikarenakan kemiringan jalan angkut berhubungan langsung dengan kemampuan alat angkut, baik dalam pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan. Kemiringan jalan angkut biasanya dinyatakan dalam persen (%) yang dapat dihitung dengan mempergunakan rumus sebagai berikut: Grade () = Dengan: h x : Beda tinggi antara dua titik yang diukur : Jarak antara dua titik yang diukur Secara umum kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik dan aman oleh alat angkut saat menaiki atau turun dari ketinggian maksimum 810%. 3.9.6 Cross slope dari Jalan Masuk Permuka Kerja Maksud dari pembuatan cross slope adalah agar jika terdapat air pada jalan, maka air tersebut akan mengalir pada tepi jalan (Gambar 3.18). cross slope didapat dari perbandingan y:x untuk jalan yang tidak berlapis salju atau jalan yang materialnya masih bisa meresap air, maka cross slope dibuatb 1: 25. Jika jalan belum memenuhi cross slope diatas, maka perlu menimbun bagian tengah jalan, sehingga memenuhi persyaratan cross slope. .. ..(3.8)

Gambar 3.18 Penampang Cross Slope

63

3.9.10 Pengupasan Tanah Penutup (Top Soil dan Overburden) Pengupasan tanah penutup dapat dilakukan dengan beberapa metode sebagai berikut; antara lain: 1) Back filling digging method Pada cara ini, tanah penutup dibuang ketempat pembuangan bekas penambangan atau daerah yang tidak memiliki lapisan batubara didalamnya. Cara ini cocok untuk tanah penutup yang bersifat: a. Tidak diselingi oleh berlapis-lapis endapan bahan galian b. Tanah atau batuan lunak c. Letaknya mendatar 2) Sistem jenjang Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan system jenjang (benching). Cara ini dilakukan pada waktu pengupasan lapisan tanah penutup sekaligus membuat jenjang. Sistem ini cocok untuk: a. Tanah penutup yang tebal b. Bahan galian yang cukup tebal 3) Multi bucket excavator system (BWE) Pada pengupasan cara ini, tanah penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ketempat pembuangan khusus. Caranya yaitu dengan mempergunakan Bucket Wheel Excavator (BWE), sistem ini cocok utuk material yang memiliki sifat lunak dan tidak lengket. 4) Drag scrapper system Pengupasan cara ini yaitu dengan mengambil tanah penutup diikuti diikuti serta pengambilan galian setelah tanah penutup telah dibuang, tetapi bisa juga tanah penutup diambil terlebih dahulu berikutnya pengambilan bahan galian tambang. System ini sangat cocok untuk tanah penutup yang memiliki sifat lunak dan lepas. 5) Konvensional Cara ini menggunakan kombinasi dari alat-alat pemindahan tanah mekanis (alat gali, muat, dan angkut) seperti kombinasi antara Bulldozer, backhoe, dan truk jungkit, bila tanah penutup bisa langsung menggunakan alat gali muat, sedangkan bila material keras mungkin mempergunakan alat garu (ripper) atau

64

pemburan dan peledakan untuk membongkar tanah penutup, kemudian dimuat dengan alat muat kea lat angkut, yang selanjutnya dibuang ketempat penimbunan dengan alat angkut. 3.9.11 Teori Strip, Panel dan Blok Endapan batubara dibagi menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, yaitu pit (tambang), panel, strip dan blok. Pit Penambangan batubara dibagi menjadi beberapa pit untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan penambangan, pembangian pit terutama didasarkan pada pencapaian target produksi akan nilai kalori dari batubara yang akan ditambang. Strip Setiap panel dibagi lagi menjadi strip-strip yang dibuat tegak lurus garis panel. Lebar setiap strip adalah 50 m melintang dari arah selatan ke utara. Penomoran untuk Strip 01 adalah S01, Strip 02 adalah S02 dan seterusnya pada masingmasing panel. Panel Masing-masing pit dibagi lagi menjadi panel-panel yang melintang dari arah barat ke timur. Lebar tiap panel adalah 50 m. penomoran untuk panel 01 adalah P01, panel 02 adalah P02 dan seterusnya Blok Blok merupakan perpotongan antara panel dan strip. Bentuk akhir dari blok adalah bujursangkar dengan ukuran 50 m x 50 m. penomoran untuk blok adalah gabungan dari panel dan strip. contoh S01P01, berarti P01= Panel 01 dan S01 = Strip 01. 3.10 Perancangan Timbunan Perancangan timbunan merupakan upaya penentuan lokasi tempat timbunan material hasil penggalian dan pengangkutan material, baik yang berharga maupun yang tidak berharga, termasuk didalamnya adalah penentuan volume atau tonasenya, perancangan bentuk timbunan dan waktu pelaksanaannya. 3.10.1 Parameter Perancangan Timbunan

65

Proses penimbunan material, baik materiam berharga maupun tidak berharga harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi, antara lain: a) Sudut lereng timbunan (angle of repose) Batuan kerin ROM (run of mine) pada umunya mempunyai sudut lereng timbunan antara 340-370. Sudut ini dipengaryhi tinggi timbuna, ketidak teraturan bongkah batuan dan kecepatan dumping. Pengukuran ini dapat dibuat pada sudut lereng yang ada di daerah tersebut. b) Faktor pengembangan material (swell factor ) Faktor pengembangan pada batuan keras umunya antara 30M- 45 % pada 1 m3. Material insitu akan mengembang menjadi 1,3-1,45m material lepas (loose material). Material dapat didapatkan sekitar 5-15% material yang ditumpahkan oleh dump truk kan menjadi lebih kompak dari pada material yang ditumpahkan oleh belt conveyor c) Jarak dari pit limit Jarak minimum merupakan ruangan yang cukup untuk jalan angkut antara pil limit dan kaki timbunan (dump toe). Kestabilan pit akibat adanya timbunan harus diperhitungkan jarak yang sama atau lebih besar dari kedalaman pit akan mengurangi resiko yang berhubungan dengan kesetabilan lereng pit. d) Tanjakan kearah dump crest Menurut Bohnet dan Kunze dalam Waterman(2004) merekomendasikan sedikit tanjakan kearah dump crest dengan pertimbangan penyaliran dan keamanan. Limpasan air hujan dirancang menjauhi crest. Dump truk harus menggunakan tenaga mesin untuk menuju crest dan bukan meluncur bebas. Hal ini jga akan mengurangi resiko kendaraan yang di parker meluncur jatuh dari puncak waste dump (crest). 3.10.2 Lokasi Timbunan Penentuan lokasi penimbunan material didasarkan pada jenis material yang ditimbun dan maksud dari penimbunan material. Berdasarkan jenis material dan maksud penimbunannya, lokasi penimbuanan antara lain: a) Stockpile/stockyard

66

Stockpile atau stockyard merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan timbunan material berharga yang akan diolah atau material berharga yang akan dipakai kembali pada suatu saat. Stockpile atau stockyard biasanya terletak didekat lokasi pengolahan atau pelabuhan. b) Waste Dump Waste Dump merupakan suatu lokasi yang digunakan untuk menimbun material overburden atau material tidak berharga yang yharus digali dari lokasi penambangan untuk memperoleh material berhaga wate dump biasanya ditempatkan pada daerah yang yang tidak ditambang. 3.10.3 Jenis Timbunan Proses penimbunan material, baik material berharga maupun tidak berharga, dapat dilakukan dengan beberapa jenis timbuanan antara lain: a. Valley Fill atau Crest Dump Jenis timbunan Valley Fill atau Crest Dump dapat diterapkan didaerah yang mempunya topografi curam dan biasanya dibangun pada sebuah lereng dengan menetapkan elevasi puncak (dump crest) pada awal pembuatan tibunan. Dan truk yang mengangkut muatannya ke elevasi ini akan menumpahkan muatannya pada bagian atas lereng, kemudian bulldozer mengurus material ini. Elevasi dump crest ini akan dipertahankan selama proses penimbunan .

Gambar 3.19 Jenis Timbunan Valley Fill atau Crest Dump

67

b.

Terraced dump atau timbunan yang dibangun keatas (dalam lift) Jenis timbunan Terraced dump diterapkan jika kondisi topografinya tidak

begitu curam. Jenis timbunan ini dibangun dari bawah keatas. Tinggi lift biasanya disesuaikan dengan rekomendasi jenjang penimbunan. Kerugian cara ini adalah jarak angkut yang lebih panjang untuk perluasan lift pada saat memulai suatu lift baru. Keuntungan dari jenis timbunan ini, lift-lift yang dibangun berikutnya terletak lebih kebelakang sehingga sudut lereng keseluruhan (overall slope angle) mendekat sudut yang dibutuhkan untuk reklamasi.

Gambar 3.20 Jenis Timbunan Terraced Dump 3.10.4 Cara Penggusuran Material Timbunan Material dibawa ke lokasi penimbunan yang suda ditentukan dan akan ditangani oleh alat bantu untuk melakukan pemadatan dan penempatannya. Pada kegiatan ini digunakan alat bantu berupa bulldozer. Bulldozer akan menggusur overburden yang telah di tumpahkan oleh dump truk. Pada pelaksanaannya, alat ini bekerja dengan beberapa cara sesuai kondisi yang ada, antara lain: a. Down Hill Dozing Pada metode ini bulldozer selalu mendorong kebawah, jadi mengambil keuntungan dari bantuan gravitasi untuk menambah tenaga dan kecepatan

68

Gambar 3.21 Cara Penimbunan Down Hill Dozing b. Highwall and float dozing Bulldozer menggali beberapa kali kemudian mengumpulkan galian menjadi satu dan mendorong dengan hati-hati pada lereng curam. Sebelum seluruh tanah habis meluncur kelerang, bulldozer harus di rem agar tidak terjungkir.

Gambar 3.22 Cara Penimbunan Highwall and float dozing

c.

Trench atau sloat dozing

69

Bulldozer akan menggusur melalui satu jalan yang sama akan menyebabkan berbentuk semacam dinding pada kiri dan kana, sehingga pada pendorongan tanah berikutnya tidak ada tanah yang keluar dari samping bilah.

Gambar 3.23 Cara Penimbunan Trench atau sloat dozing 3.11 Rancangan Sistem Penyaliran Tambang Berdasarkan kajian hidrologi didaerah Kelesa, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, termasuk wilayah yang memiliki curah hujah tinggi. Oleh karena itu konsekuensi dari penerapan system tambang terbuka adalah perlunya dipersiapkan system penyaliran yang baik selama operasi penambangan berlangsung.

70

Gambar 3.24 Bentuk Penampang Saluran Terbuka 3.11.1 Penentuan Letak dan Dimensi Sumuran Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat puritan atau saluran terbuka didelat kaki jenjang. Sedangkan penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan back filling. Dimensi sumuran disesuaikan dengan debit air yang diperkirakan masuk kedalam pit yang tidak mampu bertahan oleh saluran cicin 3.11.2 Penentuan Letak dan Dimensi Kolam Pengendapan Kegunaan dari kolam pengendapan adalah untuk mengendapkan material yang terangkut selama prose mine dewathering, sehingga mengurangi resiko pendangkalan sungai. Dalam merancang atau menentukan lokasi dan ukuran kolam pengendapan perlu memperhatikan peta kemajuan tambang dan lokasi awal hingga akhir dari sumuran penampung air tambang. Bentuk kolam pengendapan umunya hanya digambarkan secara sederhana, berupa kolam berbentuk empat persegi panjang. Padahal sebenarnya bentuk kolam pengendapan bermacam-macam tergantung dari kondisi lapangan dan keperluannya. Walaupun bentuknya bermacam-macam, setiap kolam pengendapan akan selalu mempunya 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material padatan ( solid particle).

71

Empat zona tersebut adalah sebagai berikut: 1) Zona masukan, tempat dimana air lumpur masuk kedalam kolam pengendapan dengan asumsi campuran air dan padatan terdistribusi secara seragam. Zona ini panjangnya 0,5 1 kali kedalaman kolam (Huisman,1977) 2) Zona pengendapan, tempat dimana partikel padatan (solid ) akan mengendap. Panjang zona pengendapan adalah panjang kolam pengendapan dikurangi panjang zona masuk dan keluaran (Huisman,1977) 3) Zoan endapan lumpu, tempat dimana partikel padatan dalam cairan (lumpur) mengalami pengendapan (terpisah dari cairan) dan terkumpul didasar kolam pengendapan. 4) Zona keluaran, tempat keluarnya buangan cairan yang jernih. Panjang zona ini kira-kira sama degan kedalam kolam pengendapa, diukur dari ujung kolam pengeluaran (Huisman,1977) Kolam pengendapan yang dibuat agar dapat berfungsi lebih efektif, harus memenuhi beberapa persyaratan teknis, seperti: a) Sebaiknya kolam pengendapan dibuat berkelok-kelok, agar kecepatan aliran lumpur relatif rendah, sehingga partikel padatan cepat mengendap b) Geometri kolam pengendapa harus disesuaikan dengan ukuran back hoe yang biasanya dipakai untuk melakukan perawatan kolam pengendapan, sepeti mengeruk lumpur dalam kolam, memperbaiki tanggul kolam, dan lain sebagainya

72

BAB IV RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN

Tahapan yang dilakukan dalam rancangan penambangan batubara sebagai berikut : 1) 2) 3) Pengumpulan data, berupa peta topografi, peta geologi, data lubang bor dan singkapan, data spesifikasi alat mekanis yang akan digunakan. Pengolahan data yaitu mendigitasi peta dan menentukan endapan batubara melalui data lubang bor. Pembuatan perancangan tambang batubara dengan Globalmapper, AutoCad dan Minescape. 4.1 Sumberdaya Batubara Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pada PT. Riau Bara Harum mempunyai lapisan batubara yang dominan yaitu seam D, E dan seam F dengan kualitas baik.

Gambar 4.1 Batubara Seam D, E dan seam F tampak tiga dimensi

73

4.2

Tahapan Perancangan Penambangan Tahapan perancangan penambangan batubara dengan menggunakan

pengabungan perangkat lunak Globalmapper, AutoCad dan Minescape dilakukan secara terpisah. Tahap kerja awal akan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper, AutoCad dimana pekerjaan hanya dibatasi pada proses digitasi peta. Tahap selanjutnya yaitu dengan menggunakan software Minescape perancangan pit, tahapan tersebut adalah sebagai berikut : 4.2.1 Pemodelan Surface Topografi Tabel 4.1 dibawah menunjukan posisi koordinat PT. Riau Bara Harum secara geografis. yang pekerjaannya dibatasi oleh, pembuatan peta topografi, pemodelan batubara,

Tabel 4.1. Batas Koordinat Konsensi Pertambangan PT. Riau Bara Harum NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 1 2 3 4 5 6 7 197602.05 197608.35 198534.44 198532.34 199462.64 199457.04 200393.54 LINTANG SELATAN (m) 9935452.79 9930841.22 9930844.72 9932686.72 9932689.91 9933614.60 9933607.60 44 45 46 47 48 49 50 NO TITIK BUJUR TIMUR (m) 225455,52 226389,29 226389,32 227309,11 227323,11 228253,40 228240,80 LINTANG SELATAN (m) 9915182,32 9915187,20 9914258,30 9914258,30 9913333,61 9913333,61 9912418,01

74

8 9 10 11

200391.53 203174.01 203178.21 201313.42

9934528.79 9934528.79 9931762.41 9931768.01

51 52 53 54

229173,89 229178,79 238448,83 231963,37

9912415,21 9911505,21 9913341,93 9913342,00

Lanjutan Tabel 4.1

12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

201321.82 200395.02 200394.32 201325.32 201319.01 205033.88 205037.39 210606,55 210601,65 211528,44 211536,84 212462,23 212463,63 213386,92 213397,42

9929926.32 9929926.32 9925308.47 9925309.36 9924386.56 9924391.46 9928083.23 9928080,42 9927163,42 9927156,43 9925318,24 9925317,54 9924392,85 9924396,35 9923470,95

55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69

231958,48 229173,20 229170,40 228244,30 228247,10 227320,31 227315,41 226388,62 226383,72 225460,43 225463,23 224530,17 224530,13 223601,94 223599,14

9916408,68 9916419,18 9914260,40 9914260,40 9915187,19 9915180,90 9916102,06 9916102,09 9917023,28 9917023,28 9917947,28 9917940,98 9919793,86 9919793,87 9920715,06

75

27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40

214315,11 214326,31 215249,59 215250,30 215862,70 215870,49 218036,27 218027,19 221433,98 221427,73 222668,85 222670,95 223601,24 223601,94

9923474,45 9916403,86 9916407,39 9914556,52 9914565,61 9911489,84 9911493,33 9920710,17 9920703,16 9919793,91 9919793,87 9918869,17 9918866,37 9917023,99

70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83

225455,53 225460,43 218956,08 218953,98 218031,39 218027,19 216175,71 216168,01 215241,22 215246,82 214320,03 214315,83 213389,03 213380,64

9920715,06 9924397,73 9924392,84 9925317,53 9925320,33 9927159,22 9927163,42 9928083,92 9928080,42 9930846,81 9930850,30 9931767,97 9931767,99 9932696,89

Lanjutan Tabel 4.1

41 42 43

224535,03 224527,03 225455,53

9917020,49 9916101,45 9916100,69

84 85 86

212453,14 210601,69 210607,26

9933613,89 9933611,08 9935459,07

Dari data koordinat lokasi konsensi PT. Riau Bara Harum tersebut, dapat dibentuk suatu poligon yang membatasi wilayah konsensi penambangan PT. Riau Bara Harum, seluas 24.450 Ha. Pembatasan wilayah ini menggunakan perangkat

76

lunak autocad. Secara keseluruhan konsensi penambangan PT. Riau Bara Harum dibagi menjadi 5 Blok besar, yakni : Blok Kelesa, Blok Siambul, Blok Pegegas, Blok Ringin, Blok Sungai Aarang. Sedangkan pada batasan wilayah penelitian hanya pada Blok Siambul dengan luas 335 Ha. Pemodelan surface hanya dilakukan pada Blok Siambul, dapat dilihat pada Tabel 4.2 batas koordinat Blok Siambul Gambar 4.2 peta Blok Siambul dibawah ini : Tabel 4.2. Batas Koordinat Blok Siambul

NO TITIK

BUJUR TIMUR (m) LINTANG SELATAN (m)

1 2 3 4

217072.094 215515.675 215515.675 217072.094

9920885.227 9920855.227 9923043.144 9923643.144

77

Gambar 4.2 Blok Siambul PT. Riau Bara Harum Rona awal kontur permukaan atau surface dari konsensi PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul berupa perbukitan dengan kemiringan 5-50 . Elevasi maksimal mencapai 130 mdpl elevasi minimum mencapai 30 mdpl, sehingga selisi ketinggian rata-rata adalah 100 mdpl. Data topografi diperoleh dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper, disebabkan PT. Riau Bara Harum belum melakukan pemetaan secara keseluruhan. Pengambilan lokasi peta topografi dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper disesuaikan dengan lokasi konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum pada Blok Siambul. Hasil pemetaan topografi

78

dengan menggunakan perangkat lunak Globalmapper dilakukan pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan perangkat lunak autoCAD, sehingga diperoleh titik-titik koordinat hasil ekstraksi peta kontur topografi dari perangkat lunak Globalmapper tersebut. Peta kontur Blok Siambul dapat dilihat pada Lampiran A.

Gambar 4.3 Peta Kontur Topografi 2D pada Blok Siambul PT. Riau Bara Harum

79

Setelah diperoleh data koordinat topografi, dilakukan interpolasi pada perangkat lunak Minescape membentuk garis-garis kontur dilanjutkan dengan pemodelan bentuk tiga dimensi, dengan pembuatan triangle atau bidang-bidang yang menghubungkan garis-garis kontur topografi. Bagian barat lokasi penelitian memiliki bentuk topografi lebih tinggi dibandingkan dengan sebelah timur lokasi penelitian.

Gambar 4.4 Peta Topografi 3D pada Blok Siambul PT. Riau Bara Harum

Setelah dilakukan pemodelan tiga dimensi dari bentuk surface daerah penelitian, maka diperoleh bidang yang kemudian akan digunakan sebagai pembatas dalam penaksiran cadangan maupun proyeksi model struktur geologi batubara didaerah telitian. 4.2.2 Pemodelan Geologi Jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan hanya seam batubara yang memiliki ketebalan 0,5 m, sebanyak 3 seam dengan ketebalan berkisar antara

80

0,5 m sampai 6 m, dengan arah umum penyebaran batubara yaitu relatif utaraselatan, dan kemiringan kearah barat berkisar antara 20 - 30. Dalam perancangan tambang pada daerah telitian tidak dilakukan pemodelan pada seam batubara yang memiliki ketebalan kurang dari 0,5 m, hal ini karena rencana ukuran alat mekanis pembongkaran yang akan digunakan untuk membongkar atau memuat batubara memiliki dimensi bucket yang lebarnya diatas 0,5 m. total jumlah seam batubara yang dilakukan pemodelan adalah 3 seam yakni : seam D seam E dan seam F. Seamseam batubara pada daerah telitian memiliki penyebaran yang relatif berada dibagian barat daerah penelitian. Pemodelan dilakukan dengan memproyeksikan data pemboran dan singkapan outcrop batubara menggunakan perangkat lunak Minescape . PT. Riau Bara Harum telah melakukan pemboran hingga lebih dari 30 lubang bor untuk menganalisa lapisan endapan batubara di Blok Siambul. Dalam pemodelan struktur geologi lapisan batubara, digunakan data pemboran yang memiliki hasil coring batubara dengan ketebalan diatas 0,5 m. data pemboran yang dibutuhkan untuk pemodelan dimabil menjadi dua yakni: 1) Data pemboran Collar Data pemboran collar meliputi : nama titik bor, koordinat titik bor, elevasi titik bor, kedalaman lubang bor. Data collar berguna untuk memberikan informasi tentang lokasi titik-titik bor, sehingga dapat digambarkan pada lokasi penelitian. Data collar akan dikorelasikan dengan data pemboran litologi dengan index penghubung pada kolom lubang bor. Tabel 4.3 Data Pemboran Collar PT. Riau Bara Harum Bor-Holes Name SMB 385 SMB 398B Easting 216050 216257 Koordinat Northing 9921366 9922049 69 66 Elevasi (m) Depth (m) 70.50 51

81

SMB 400 SMB 402 SMB 403 SMB 407 SMB 409 SMB 410A SMB 411 SMB 412 SMB 414 SMB 415 SMB 419 SMB 428B

216091 216258 216042 216326 216176 216185 216160 216291 216198 216062 216180 216081

9921436 9921514 9921704 9921990 9921976 9921365 9921798 9921786 9921876 9921497 9921704 9921844

68 62 78 62 64 66 64 60 60 69 64 60

60 51 60 45 27.0 45.0 52.5 30 29.0 60 52.5 31.7

2) Data Pemboran Litologi Data pemboran litologi meliputi : nama titik bor, batas kedalaman lapisan atas (roof), batas kedalaman lapisan bawah (floor), nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor, dank kode litologi. Pada data litologi pemboran mencatat nama seam dan tebal lapisan serta kedudukan lapisan batubara yang akan diproyeksikan untuk pemodelan geologi struktur endapan batubara.

82

Tabel 4.4 Data Pemboran Litologi PT. Riau Bara Harum Bor-Holes Name Top Base Thickness (m) Strat Lith) Depth Depth

SMB385 SMB385 SMB398B SMB398B SMB398B SMB400 SMB400 SMB400 SMB402 SMB402 SMB402 SMB403 SMB403 SMB407 SMB407 SMB407 SMB407 SMB409 SMB409 SMB410A

29.60 32.50 21.40 23.00 34.80 50.70 51.20 53.00 15.00 17.20 30.20 24.80 38.50 2.70 3.80 5.60 18.20 19.80 22.10 6.00

29.80 36.00 22.90 24.00 35.60 50.90 53.00 54.00 16.50 18.10 31.20 26.70 38.60 3.80 5.60 6.70 19.00 19.90 24.70 9.00

0.20 3.50 1.50 1.00 0.80 0.20 1.80 1.00 1.50 0.90 1.00 1.90 0.10 1.10 1.80 1.10 0.80 0.10 2.60 3.00

D E E1 E2 F D E1 E2 E1 E2 F E F D E1 E2 F D E E

CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO

83

SMB410A SMB411 SMB411 SMB411 SMB412 SMB412 SMB414 SMB414 SMB414 SMB414 SMB415 SMB415 SMB415 SMB419 SMB419 SMB419 SMB428 B

20.00 34.30 34.90 42.50 3.40 16.40 5.30 7.30 15.10 21.00 33.90 34.90 48.00 25.00 28.00 36.20 30.00

26.80 34.90 35.10 43.40 5.70 17.50 5.60 7.70 15.40 21.50 34.80 36.80 48.40 27.90 30.40 37.30 31.10

6.80 0.60 0.20 0.90 2.30 1.10 0.30 0.40 0.30 0.50 0.90 1.90 0.40 2.90 2.40 1.10 1.10

F E1 E2 F E F C D E F E1 E2 F E1 E2 F E

CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO CO

Ket : CO

= Kode Litologi Batubara

D,E,E1,E2 & F = Nama Seam Natubara 3) Data Kualitas batubara Data kualitas batubara merupakan data tentang hasil analisis laboratorium pada coring batubara. Data kualitas batubara terdiri dari : nama titik bor, batas kedalaman lapisan atas (roof), batas kedalaman lapisan bawah (floor), nama seam batubara yang didapat dari hasil log bor, relative density, total moisture, inheren

84

moisture, total sulphur, kandungan abu (ash), dan calorific value atau kalori batubara. Peta lokasi titik bor dapat dilihat pada Lampiran C. Dari hasil proyeksi data outcrop batubara dan pemboran tersebut, layout dari subcrop line batubara memiliki arah strike mayor utara-selatan. Hasil pengolahan data outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara dan pemboran menghasilkan gambaran subcrop line batubara yang berupa garis-garis yang menghubungkan outcrop batubara pada lapisan bagian floor batubara dibawah topografi atau surface. Subcrop line ini digunakan untuk menentukan arah penyebaran batubara dan mengetahui daerah yang paling banyak terdapat endapan batubara. Penamaan seam batubara dimulai dari sebelah timur, secara berurutan, ketebalan setiap seam bervariasi, dengan ketebalan maksimum seam F sebesar 6,80 m. jarak antar seam memungkinkan untuk dilakukan penambangan secara bersamaan dalam satu pit, namun tetap meninggalkan interburden sebagai pembatas setiap pit penambangan. Peta subcrop line batubara pada daerah telitian dapat dilihat pada Lampiran D. Dari hasil pengolahan data pemboran, dapat dilakukan pemodelan kontur struktur batubara, khususnya pada kontur struktur lapisan bawah batubara (floor).

85

=Seam F =Seam F

= Seam F = Seam F

= Seam F

Gambar 4.7 Kontur Struktur (floor) Batubara Daerah Telitian

Pembuatan kontur struktur dilakukan pada setiap seam batubara yang berjumlan 3 seam dimulai dari seam D, seam E dan seam F. Pertama dilakukan interpolasi data pemboran yang membentuk kontur struktur batubara bagian bawah (floor) kemudian dilakukan pemodelan tiga dimensi dengan membentut Triangle dari kontur struktur batubara bagian bawah (floor) tersebut. Kontur struktur bagian bawah batubara (floor) berguna untuk melakukan pembatasan saat penaksiran cadangan jumlah batubara. Dengan pembuatan kontur struktur, juga dapat divisualisasikan bentuk endapan batubara pada daerah telitian, sehingga mempermudah dalam pembuatan desain geometris penambangan. Peta kontur struktur lapisan batubara (floor) dapat dilihat pada Lampiran G. 4.2.2.1 Penaksiran Sumberdaya dan Cadangan 4.2.3.1 Pembatasan Wilayah Penaksiran Dalam pembatasan wilayah daerah telitian yang akan dilakukan penaksiran sumberdaya dan cadangan, secara garis besar dapat dilakukan dengan menggambarka poligon yang melingkupi subcrop line batubara, berbatasan dengan

86

konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum. Untuk melakukan penaksiran sumberdaya yang lebih detil, dilakukan pembatasan yang berjarak 500 m, 350 m, dan 250 m dari titik bor terluar. Pada jarak 250 m dari titik bor terluar, diperoleh hasil penaksiran sumberdaya terukur (measured coal gresource). Sedangkan untuk melakukan penaksiran cadangan, dibatasi oleh pit limit penambangan dan pit bottom penambangan yang menghasilkan penaksiran cadangan terbukti (proved coal resource). Namun untuk memenuhi stardar sebagai cadangan terbukti perlu dilakukan kajian kelayakan terhadap semua faktor terkait dan telah terpenuhi sehingga hasil kajian dinyatakan layak. 4.2.3.2 Pembagian Blok Penaksiran Wilayah telitian pertama kali dibagi menjadi satu Blok besar (hasil dari pembatasan wilayah penaksiran ). Dengan menggunakan perangkat lunak Minescape, pada daerah tersebut dilakukan analisis tingkat stripping ratio, untuk mengetahui tingkat kelayakan penambangan batubara berdasarkan stripping ratio (SR) yang telah ditentukan yaitu kurang dari atau sama dengan 10 : 1, dapat dilihat pada Gambar 4.8. Blok yang membatasi daerah analisis SR dibagi lagi menjadi Blok-Blok kecil berukuran 50 m x 50 m, untuk menghasilkan perhitungan yang lebih detil penamaan Blok-Blok ini diurutkan dari utara ke timur dan selanjutnya kearah selatan, menyesuaikan dengan arah penyebaran endapan batubara (strike) dan dip. Penamaan Blok ini, secara otomatis terbentuk pada saat pembuatan strip, panel dan Blok. Pada daerah penelitian, penamaan strip dimulai dari S01, dan penamaan panel dimulai dari P01, sedangkan Blok selalu dimulai dengan huruf BL, sehingga nama Blok pertama kali ialah: BLS01P01, dan nama Blok kedua ialah BLS02P01 dan seterusnya hingga BLS20P20. Blok-Blok terbentuk, berada didalam Blok batas analisis SR (Gambar 4.8). Blok-Blok dengan ukuran 50 m x 50 m tersebut total berjumlah 137 Blok, pada Blok yang berada disisi Blok pembatas tidak selalu berbentuk persegi, hal ini dikarenakan berpotongan dengan Blok pembatas. Gambar Blok-Blok yang berukuran 50 x 50 dapat dilihat pada Gambar 4.9.

87

Gambar 4.8 Blok Batas Analisis SR

88

Gambar 4.9 Peta Blok Analisis SR 4.2.3.3 Analisis Blok Berdasarkan SR Analisis SR pada Blok tersebut menggunakan system resgrapich pada perangkat lunak Minescape , analisis daerah dilakukan dengan menghitung total keseluruhan endapan batubara yang dibatasi dengan Blok berukuran 50 m x 50 m

89

seluas Blok besar yang melingkupi. Batas perhitungan ditentukan oleh model surface sebagai batas atas, dan pit bottom sementara. Pit untuk analisis dengan menggunakan system resgrapich dalam perangkat lunak Minescape berupa proyeksi dari garis poligon batas Blok besar yang melingkupi Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m. Pit tersebut dibuat dengan elevasi yang berbeda-beda untuk mendapatkan perbandingan nilai stripping ratio (SR), dapat dilihat pada Gambar 4.10. Analisis resgrapich stripping ratio (SR).

Gambar 4.10. Pit Batas Analisis SR pada System Resgrapich

90

Hasil analisis Stripping Ratio (SR) dengan menggunakan System Resgrapich dalam perangkat lunak Minescape merupakan daerah-daerah yang memiliki perbedaan nilai stripping ratio yang dtunjuk dengan perbedaan warna pada setiap Blok-Blok berukuran 50 m x 50 m. pada Blok yang berwarna lebih terang (cokelat) merupakan Blok yang memiliki nilai stripping ratio (SR) 10 : 1. Blok-Blok tersebut akan membatasi dan menjadi Blok-Blok yang merupakan pit limit atau batas penambangan dengan nilai stripping ratio (SR) 10 : 1. Penamaan Blok-Blok hasil resgrapich tersebut berdasarkan pada nama seam batubara yang berada paling bawah dalam perlapisan, atau disebut dengan bagian low woll. Dari hasil analisis SR diperoleh Blok-Blok dengan nama sebagai berikut: Blok Seam D, Seam E, Seam E1, Seam E2 dan Blok Seam F. Peta analisi SR dengan menggunakan Resgrapich dapat dilihat pada Lampiran J. 4.2.3.4 Hasil Penaksiran Cadangan Pada rancangan pit penambangan Blok seam D, dapat dibuat perancangan pit penambangan dengan pit bottom hingga elevasi 30 mdpl. Dengan jumlah cadangan batubara pada pit Blok seam D sebesar 495,481 ton, overburden sebesar 4,265,922 bcm, dengan stripping ratio 9 : 1. Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam E diperoleh cadangan batubara sebesar 1,209,926 ton , overburden sebesar 4,444,186 bcm, dengan stripping ratio 4 :1, dan pi bottom hingga elevasi 20 mdpl. . Hasil penaksiran cadangan pit rancangan pada pit Blok seam F diperoleh cadangan batubara sebesar 965,585 ton , overburden sebesar 3,504,248 bcm, dengan stripping ratio 4 :1, dan pit bottom hingga elevasi 20 mdpl. Tabel 4.5 Data Hasil Penaksiran Cadangan
NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) SR

SEAM_D SEAM_E SEAM_E1

4,265,922 4,444,186 1,606,960

495,481 1,209,926 203,698

4,318,899 5,169,836 1,748,985

9 4 8

91

SEAM_E2 SEAM_F TOTAL

30 20

170,025 3,504,248 13,854,314.71

32,999 965,585 2,907,690.09

149,612 4,178,806 15,566,138.59

5 4 5

4.3

Perancangan Lubang Bukaan Tambang (Opencut Design) Perancangan dilakukan sesuai dengan tahapan penambangan, tahapan-

4.3.1 Tahapan Penambangan tahapan tersebut ialah : 1) Pembuatan Jalan Tambang Pembuatan jalan tambang diperlukan untuk transportasi pengangkutan peralatan maupun hasil penambangan sehingga proses penambangan dapat berjalan dengan lancar. Merancang ramp atau jalan angkut didalam tambang dilakukan bersamaan dengan pembuatan rancangan pit. Penentuan posisi ramp dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi waste dump dan atau stock pile, sebab penentuan jalan masuk tambang yang salah akan mengakibatkan bertambah panjangnya jarak tempuh alat angkut (truck) yang akan berakibat pada bertambahnya waktu edar alat angkut, sehingga pada akhirnya akan mengurangi produktivitas alat kerja dan menambah cost. Jalan tambang dapat menggunakan fasilitas jalan pemerintah yang sudah ada atau dengan melakukan pembuatan jalan baru yang menghubungkan lokasi penambangan dengan pelabuhan (jetty). Jalan tambang berada disebelah timur Blok Siambul konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum. Pembuatan jalan tambang dibagi dalam dua tahap, tahap satu jalan tambang yang digunakan untuk pengangkutan batubara ke stockpile, dan untuk mengangkut overburden kearah waste dump tahapan dua pembuatan jalan tambang dari stockpile kearah Jetty. Jalan tambang dibuat dengan menggunakan Bulldozer dimana lebar jalan lurus 20 m, lebar jalan pada tikungan 27 m. pembuatan jalan tambang dilakukan dengan cara gali timbun, membongkar atau menggali bagian jalan yang menonjol dan menimbun bagian jalan yang cekung sekaligus meratakannya, sehingga diperoleh jalan tambang yang rata dengan kemiringan (grade) kurang dari 8 %. 2) Pengupasan lapisan tanah penutup

92

Pengupasan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah (overburden) yang menutupi endapan batubara yang akan ditambang. Pengupasan tanah penutup (overburden) selanjutnya dilakukan secara bertahap sesuai dengan urutan penambangan yang direncanakan. Pengupasan tanah penutup disesuaikan dengan jadwal produksi, sehingga cost production dan stripping ratio dapat disesuaikan dengan perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. 3) Pembuatan jenjang awal Tahap pembuatan jenjang awal penambangan tahun pertama dimulai dari PIT_BLS01_PO5 hingga PIT_BLS04_PO7 mengara ke barat daya, selanjutnya penggalian sesuai dengan urutan penambangan. 4) Penggalian overburden dan batubara Pengupasan overburden setiap tahunnya dilakukan sesuai dengan batasan stripping ratio. Penggalian batubara dilakukan sesuai dengan sasaran produksi yaitu 300.000 ton/tahun. 5) Pengangkutan Pengangkutan overburden dan batubara dilakukan dengan menggunakan dump truck yang kemudian dibawah menuju lokasi penimbunan waste dump untuk overburden yang nantinya akan dilakukan back filling dan stockpile untuk batubara. 4.3.2 Perancangan Geometri Penambangan Pembuatan jenjang penambangan hanya dilakukan pada bagian high wall dan side wall penambangan. Pada bagian low wall pit penambangan tidak dilakukan pembuatan jenjang, karena memiliki faktor keamanan yang sesuai dengan rekomendasi geoteknik. Penambangan batubara pada daerah telitian ditambang secara tambang terbuka dengan menggunakan metode Open Pit Mining. Rancangan teknis penambangan dilakukan untuk mempermudah proses penambangan dan memperoleh perhitungan cadangan yang sesuai dengan target produksi, sesuai dengan arah penyebaran batubara. Pembuatan rancangan teknis penambangan memerlukan beberapa parameter penting, parameter-parameter tersebut antaralain :

93

a. Sasaran produksi pertahun sebesar 300.000 ton b. Stripping Ratio (SR) 10:1 c. Nilai kalori batubara minimum sebesar 6.298 Kcal/kg d. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (10 m) e. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang akhir (5 m) f. Rekomendasi geoteknik untuk single slope 60-70 dan overal slope 45 g. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%) h. Lebar jalan tambang (20 m)

Gambar 4.11 Dimensi Jenjang Pit Penambangan Rancangan teknis penambangan didasarkan pada topografi awal pada daerah telitian (Lampiran A-01, Peta Topografi), langkah pertama yang dikerjakan pada tahap rancangan teknis penambangan adalah membagi area penambangan dalam Blok-Blok penambangan (gridded seam model). Rancangan bentuk penambangan yang dibuat yaitu dengan mempertimbangkan faktor ruang kerja alat. Daerah yang direncanakan untuk ditambang harus dapat dijagkau oleh peralatan tambang yang digunakan dan dapat bekerja secara aman dengan mempertimbangkan adanya jalan masuk kedaerah yang akan ditambang. Agar proses penambangan dapat berjalan dengan lancar, khususnya pada proses penimbunana overburden yang terdiri dari lapisan-lapisan tanah penutup, dan

94

lapisan batubara antar seam batubara (interburden), maka perlu dibuat suatu rancangan teknis penimbunan overburden. Pembuatan rancangan teknis penimbunan overburden memerlukan beberapa parameter penting, parameter tersebut menggunakan antara lain : a. Tujuan daerah timbunan (waste dump) b. Rekomendasi geoteknik untuk tinggi jenjang (5 m) c. Rekomendasi geoteknik untuk lebar jenjang (5 m) d. Angle of repose dari material overburden (25) e. Lebar jalan tambang (20 m) f. Jalan tambang dengan kemiringan (grade) yang ditentukan (8%)

Gambar 4.12 Dimensi Jenjang Waste Dump Selain area penambangan (pit), perancangan tambang juga meliputi area pendukung lainnya seperti : 1) Area Perkantoran 2) Area Workstation 3) Area Jetty Jalan tambang untuk hauling batubara dibuat hingga ke jalan Propinsi , untuk pengangkutan batubara sampai pelabuhan (jetty) menggunakan jalan Propinsi.

95

4.4

Perancangan Pit Penambangan Berdasarkan hasil analisis Stripping Ratio pada daerah telitian, diperoleh

batas elevasi yang layak untuk dilakukan penambangan yakni hingga batas 20 mdpl. Blok batas penambangan diuraikan lagi menjadi Blok seam D , Blok seam E dan Blok seam F. Blok-Blok tersebut dijadikan batasan wilayah penambangan yang minerable, dengan nilai stripping ratio (SR) 10:1. Parameter lain yang juga digunakan dalam perancangan pit penambangan ialah daerah isopac kualitas batubara. Pit penambangan secara keseluruhan dapat dirancang dengan memproyeksikan poligon -poligon yang membatasi Blok seam E dan Blok seam F. Pada pit akhir penambangan akan diperoleh interburden yang tidak dilakukan penambangan, dan menjadi batas tiap Blok penambangan. Interburden tersebut ditinggalkan untuk memenuhi stripping ratio supaya sesuai dengan target produksi. Peta Blok batas penambangan dapat dilihat pada Lampiran K. 4.5 Rencana Produksi Cadangan batubara tertambang daerah Siberida Block Siambul adalah sebesar 2,614,827.48 ton dengan volume lapisan penutup (overburden) sebesar 14,177,360.83 ton, sehingga total volume 15,786,790.94 ton. Umur tambang ditentukan berdasarkan perhitungan cadangan tertambang yakni 2,614,827.48 ton dibagi dengan target produksi batubara pertahun yakni 300.000 ton, sehingga umur tambang Blok siambul adalah 8,71 atau 9 tahun. Untuk memulai kegiatan penambangan lebih dahulu dilakukan penggalian tanah penutup (overburden) pada areal penambangan, sehingga endapan batubara akan tersingkap dan akan mudah untuk di tambang. Nilai stripping ratio (SR) yang ditetapkan untuk penambangan batubara PT. Riau Bara Harum adalah 1 : 10. Nilai ini ditentukan berdasarkan perhitungan Break Even Stripping Ratio (BESR). 4.6 Pemilihan Alat Muat dan Alat Angkut Pemilihan peralatan mekanis sangat tergantung dari sistem penambangan yang dipilih. Pemilihan peralatan mekanis sangat berpengaruh pada geometri yang

96

akan dibuat. Tinggi dan lebar jenjang permukaan kerja akan dipengaruhi oleh jangkauan dan kemampuan alat mekanis yang dipilih. Berbagai aspek yang terlibat dalam kegiatan penambangan baik memiliki peran signifikan dalam menentukan peralatan mekanis (sistem penanganan material) yang akan dipakai. Pemilihan sistem penanganan material berdasarkan sistem penambangan, bentuk endapan yang relatif seragam dan homogen serta inventaris alat mekanis yang dimiliki. Dalam hal ini lebih banyak dipengaruhi oleh alat mekanis yang dimiliki karena keterbatasan inventaris dan teknologi. 4.7 Sistem Penyaliran Tambang Metode yang diterapkan pada penambangan batubara daerah Kelesa block siambul adalah metode tambang terbuka (open pit). Metode tambang ini pada akhirnya akan menghasilkan sumuran (pit) pada permukaan kerja (front) penambangan, sehingga selama kegiatan penambangan akan menghadapi kendala air terutama air hujan. Oleh karena itu perlu dibuat rancangan penyaliran air tambang untuk mengatasi masalah air yang berasal dari air hujan, air limpasan maupun air tanah. Upaya penyaliran air menuju sumuran dan mencegah genangan air pada jenjang dilakukan dengan membuat paritan di dekat kaki jenjang. Penempatan sumuran diusahakan tidak terlalu dekat dengan daerah kerja peralatan maupun batas kemajuan tambang.

97

Gambar 4.13 Skema saluran penyaliran 4.8 Jadwal Rencana Produksi Umur tambang yang diperkirakan selama sembilan tahun dengan rencana penambangan sebagai berikut : Table 4.6 Rencana Produksi Batubara dan Overburden
OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 2.637.481 2.741.164 2.460.135 1.552.764 1.467.705 (TON) 303.928 301.299 304.206 315.592 314.428 (BCM) 2.751.101 2.940.533 2.652.483 1.764.877 1.669.666 9 9 8 5 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR

98

6 7 8 9 TOTAL

PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05

PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01

1.135.073 776.243 969.712 437.084 13.740.277

313.011 303.122 307.042 152.199 2.462.628

1.333.652 972.374 1.172.493 529.612 15.257.179

4 3 3 3 6

4.9

Perancangan Waste Dump dan Stockpile

4.9.1 Perancangan Waste Dump Rencana lokasi Waste Dump yang dibuat adalah sebagai berikut : 1) Jarak dari permukaan kerja (front penambangan) masih ekonomis ( 1km) 2) Tidak ada cadangan batubara di bawah lokasi yang dipilih atau cadangan batubara didaerah tersebut tidak ekonomis untuk ditambang 3) Tidak mengganggu daerah yang akan ditambang, sungai atau jalan, serta topografi permukaan diusahakan berupa lembah.

Gambar 4.14 Layout Rancangan Waste Dump

99

Pada daerah telitian, bagian sebelah utara lokasi penambangan merupakan wilayah yang memiliki kontur relatif lebih rendah dan tidak terdapat endapan batubara, sehingga cocok untuk digunakan sebagai tempat penimbunan overburden. Luas area waste dump untuk tahun pertama hingga tahun ke dua disesuaikan dengan jumlah overburden yang akan ditimbun, selanjutnya dilakukan metode backfilling. Tinggi lereng dirancang 5m, dengan lebar bench 5m. kemiringan lereng yang dipengaruhi oleh angle of repose dari material overburden 20. 4.9.1 Perancangan Stockpile Pemilihan lokasi stockpile pada daerah bagian timur dari konsensi pertambangan PT. Riau Bara Harum, dengan dasar lebih dekat ke pelabuhan agar memudahkan dalam proses pengangkutan . Kapasitas stockpile yang direncanakan yaitu hingga produksi batubara selama tiga bulan yaitu sebesar 75.000 ton. Jadi sebelum tiga bulan atau maksimal tiga bulan batubara pada stockpile telah diangkut keluar menuju port. Perhitungan kapasitas stockpile dapat dilihat pada Tabel 4.6 berikut. Tabel 4.7 Kapasita Stockpile Level Beda Tinggi (m) RL 55 5 RL 60 1.3 30,5 Density (ton/m3) Luas Rata-rata (Ha) 32,5 26.500 Kapasitas Stockpile (Ton)

100

BAB V PEMBAHASAN

5.1

Sistem dan Tatacara Penambangan Batubara Faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam penambangan batubara adalah

sebagai berikut : a. Kondisi Endapan Batubara Lapisan (seam) endapan batubara di daerah Kelesa secara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. Lapisan batubara yang mendapat prioritas utama untuk ditambang yaitu lapisan seam D, seam E dan seam F yang mempunyai tebal lebih dominan dari lapisan yang lain. Lapisan ini relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan lapisan sebesar 6-15 dengan ketebalan berkisar antara 0,5-6,80 m. b. Geometri lereng penambangan Pada perancangan geometri lereng penambangan didasarkan pada

rekmomendasi menurut Robert, Hook dan Fish (1972). Besaran geometri yang digunakan sebagai batasan perhitungan cadangan tertambang adalah sebagai berikut: 1) Geometri Jenjang Tinggi lereng keseluruhan (Overall Slope Hight) Kemiringan lereng keseluruhan (Overall Slope) Tinggi lereng Tunggal (Bench High) Kemiringan Lereng Tunggal (Bench Slope) Lebar Jenjang (Berm) = 60 - 70 meter = 40 = 10 meter = 60 = 10 meter

Lereng Lantai Batubara (Lowwall) mengikuti kedudukan lapisan batubara

101

Gambar 5.1 Geometri Lereng Penambangan 2) Jalan Tambang ( Mine Roads) Lebar total Lebar permukaan jalan Lebar selokan Gradien Maksimum Super elevasi Turning radius = 20 meter = 18 meter = 1 meter = 8 % (AASHTO 1994) = 4 % (AASHTO 1994) = 85,2 meter

Berdasarkan faktor-faktor diatas dan pertimbangan bahwa endapan batubara relatif dekat permukaan tanah, peningkatan produksi batubara dengan teknolgi tambang terbuka lebih mudah untuk dilaksanakan, biaya modal dan operasi tambang terbuka relatif lebih murah dari pada tambang bawah tanah, maka system penambangan batubara akan menerapkan system tambang terbuka (open pit Mining) 3) Desain Ramp Lebar pit ramp operasi Gradien ramp Lebar selokan = 20 meter =8% = 1 meter

102

5.1.2 Jumlah Cadangan Batubara Tertambang Jumlah sumberdaya batubara di daerah penelitian ditunjukan pada Tabel 5.2 dibawah ini. Table 5.1 Jumlah Sumberdaya Batubara Blok Siambul
NAME PIT BOTTOM ELEVATION (MDPL) 30 20 30 30 20 OVERBURDEN (BCM) COAL MASS (TON) TOTAL VOLUME (BCM) 4.318.899 5.169.836 1.748.985 149.612 4.178.806 15.566.138 SR

SEAM_D SEAM_E SEAM_E1 SEAM_E2 SEAM_F TOTAL

4.265.922 4.444.186 1.606.960 170.025 3.504.248 13.854.314

495.481 1.209.926 203.698 32.999 965.585 2.907.690

9 4 8 5 4 5

5.1.3 Umur Tambang Mempertimbangkan ketersediaan batubara yang dapat ditambang, faktor kehilangan selama penambangan, pegolahan batubara serta sasaran produksi 300.000 ton/tahun maka umur tambang PT. Riau Bara Harum, blok siambul adalah 9 tahun. 5.2 Metode Penambangan Faktor-faktor yang digunakan untuk pemilihan metode penambangan batubara PT. Riau Bara Harum meliputi kondisi cadangan batubara dan kondisi lapisan penutup (overburden dan interburden). Adapun pengaruh kedua faktor tersebut terhadap pemilihan metode penambangan adalah sebagai berikut : a. Kondisi Endapan Batubara Lapisan endapan batubara yang akan ditambang, sacara umum tersingkap di permukaan tanah sebagai out-crop. Kemiringan dip berkisar 6-15, dengan ketebalan lebih dari 0,5m. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa lapisan endapan batubara di daerah studi, penyebarannya relatif dekat dengan permukaan tanah dengan kemiringan yang relatif datar. b. Kondisi lapisan Penutup (OB/IB)

103

Berdasarkan observasi lapangan di daerah studi dan sekitarnya ditambah dengan hasil uji kekuatan batuan utuh dan massa batuan, kondisi bidang diskuntinu, maka dapat dinyatakan bahwa penggalian overburden dan batubara di blok siambul bisa dilakukan dengan penggaruan (ripper) dan tidak memerlukan peledakan (blasting). Mempertimbangkan kondisi endapan batubara dan lapisan penutup seperti telah diuraikan diatas, maka rencana penambangan batubara didaerah studi dipilih metode tambang terbuka (surface mining). Metode penambagan yang di gunakan adalah open pit. Kegiatan penambangan dengan cara open pit terdiri dari serangkaian kegiatan meliputi: 5.2.1 Pembersihan lahan sekaligus pengupasan dan pemindahan tanah penutup Penggalian dan pemindahan lapisan penutup (OB/IB) Penggalian dan pemindahan batubara Pembersihan Lahan sekaligus Pengupasan dan Pemindahan tanah Pucuk Operasi pembersihan lahan penambangan dilakukan pada lokasi-lokasi dimana tambang akan dibuka. Berkaitan dengan operasi ini maka akan dilakukan beberapa pekerjaan yaitu : a. Pembabatan semak dan perdu Pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan bulldozer, yang menjalankan fungsi gali dorong degan memanfaatkan blade dan tenaga dorong yang besar. Semak dan perdu yang menutupi daerah penambangan didorong kedaerah-daerah tepi penambangan. b. Penebangan pohon dan pemotongan kayu Sebelum operasi pembersihan lahan penambangan, maka perlu dilakukan penebangan pohon-pohon dan pemotongan kayu-kayu yang ada. Dalam operasi pemindahan kayu-kayu, digunakan alat-alat pengangkat beban berat dan rantai besi untuk pengikat dan penarik, kemudian diangkut dengan truk. c. Operasi pengupasan tanah pucuk (top soil) Operasi pengupasan top soil yang banyak mengandung bahan organik hasil pelapukan yang meyuburkan tanah, dilakukan setelahh pembersihan lahan

104

penambangan. Lapisan tanah subur ini dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Lapisan top soil didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu dekat dengan daerah operasi bulldozer, kemudian dimuat menggunakan backhoe PC600C-7 dan diangkut menggunakan dump truck ketempat penyimpanan tanah pucuk. Timbunan tanah subur ini, nantinya di manfaatkan pada saat melakukan pekerjaan reklamasi. 5.2.2 Operasi Penggalian dan Pemindahan Lapisan Penutup (OB/IB). Operasi penggalian lapisan penutup berupa overburden dan interburden, dilakukan dengan menggunakan PC-600C-7 kapasitas 3,5m3 dibantu dengan bulldozer. Untuk material lemah sampai sedang langsung dilakukan penggalian dan pemuatan ke dump truk kapasitas 3,5 m3. Bila di temukan material keras terlebih dahulu diberai dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. Pemakaian ripper dan bulldozer disesuaikan dengan kebutuhan operasi pemberaian material. Tanah penutup diangkut dengan dump truk dari daerah penambangan ke daerah penimbunan (dumping area) yang telahh direncanakan, berupa lahan bekas penambangan (in-pit dump) atau daerah luar tambang (outside dump). Timbunan tanah penutup ini harus ditutup dengan lapisan tanah subur agar dapat ditanami kembali. 5.2.3 Operasi Penggalian dan Pemindahan Batubara Operasi penggalian batubara dilakukan dengan menggunkana backhoe PC600LC-7 dengan kapasitas bucket 0,7m3 dibantu dengan buldozer. Untuk batubara yang memiliki kekuatan lemah sampai sedang, langsung digali dan dimuat kedalam dump truck kapasita 10 ton. Sedangkan yang keras, diberaikan dahulu dengan bulldozer, kemudian digali dan dimuat dengan backhoe. a. Penggalian Batubara Tahun 01 Penggalian batubara tahun kesatu dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl, dimulai dari PIT_BLS01 hingga PIT_BLS06 dengan luas 9,73 ha Jumlah batubara yang digali sebesar 303.928 ton. Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun

105

overburden yang dihasilkan sebesar 2.637.481 BCM diangkut ke waste dump oleh karena pengaruh faktor pengembangan maka volume overburden 3.767.830,43 CCM. Penggalian tambang tahun 01 dapat dilihat pada lampiran K-01. b. Penggalian Batubara Tahun 02 Penggalian batubara tahun kedua dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl, dimulai dari PIT_BLS06 hingga PIT_BLS12 dengan luas 6,66 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 301.299 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.637.481 BCM yang berada di waste dump 3.767.830,43 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar
3.042.523,07 CCM. Penggalian tambang tahun 02 dapat dilihat pada lampiran K-02.

c.

Penggalian Batubara Tahun 03 Penggalian batubara tahun ketiga dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl, dimulai

dari PIT_BLS12 hingga PIT_BLS15 dengan luas 20,02 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 304.206 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun ketiga dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.741.164 BCM yang berada di waste dump 3.915.948,88 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun kedua backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 3.162.128,72 CCM. Penggalian tambang tahun 03 dapat dilihat pada lampiran K-03. d. Penggalian Batubara Tahun 04 Penggalian batubara tahun keempat dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl, dimulai dari PIT_BLS015 hingga PIT_BLS018 dengan luas 11,44 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 315.392 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun keempat dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 2.460.135 BCM yang berada di waste dump 3.514.478,09 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan

106

pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 2.837.941,06 CCM. Penggalian tambang tahun 04 dapat dilihat pada lampiran K-04.

e.

Penggalian Batubara Tahun 05 Penggalian batubara tahun kelima dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl,

dimulai dari PIT_BLS018 hingga PIT_BLS019 dengan luas 28,83 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 314.428 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.552.764 BCM yang berada di waste dump 2.218.233,65 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar
1.791.223,67 CCM. Penggalian tambang tahun 05 dapat dilihat pada lampiran K-05.

f.

Penggalian Batubara Tahun 06 Penggalian batubara tahun keenam dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl,

dimulai dari PIT_BLS019 hingga PIT_BLS17 dengan luas 4,17 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 313.011 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.467.705 BCM yang berada di waste dump 2.096.721,91 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.693.102,94 CCM. Penggalian tambang tahun 06 dapat dilihat pada lampiran K-06. g. Penggalian Batubara Tahun 07 Penggalian batubara tahun ketujuh dilakukan pada elevasi 70-40 mdpl, dimulai dari PIT_BLS17 hingga PIT_BLS16 dengan luas 5,15 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 303.122 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 1.135.073 BCM yang berada di waste dump 1.621.532,83 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan

107

pada elevasi 20 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 1.309.387,76 CCM. Penggalian tambang tahun 07 dapat dilihat pada lampiran K-07.

h.

Penggalian Batubara Tahun 08 Penggalian batubara tahun kedelapa dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl,

dimulai dari PIT_BLS16 hingga PIT_BLS05 dengan luas 11,33 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 307.042 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 776.243 BCM yang berada di waste dump 1.108.918,85 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar 895.451,98 CCM. Penggalian tambang tahun 08 dapat dilihat pada lampiran K-08. i. Penggalian Batubara Tahun 09 Penggalian batubara tahun kesembilan dilakukan pada elevasi 40-20 mdpl, dimulai dari PIT_BLS05 hingga PIT_BLS01 dengan luas 1,64 ha. Jumlah batubara yang digali sebesar 152.199 ton. Alat muat angkut yang digunakan Backhoe PC160LC 7 yang digunakan yaitu 2 Unit, dump truck Hino Ranger FG 235 JJ 8 unit. Pada penggalian batubara tahun kedua dilakukan backfilling dimana jumlah material overburden 969.712 BCM yang berada di waste dump 1.385.302,53 LCM ditimbun kembali kedalam bekas penambangan tahun pertama backfilling dilakukan pada elevasi 40 mdpl dimulai dari 60 mdpl jumlah material backfilling sebesar
1.118.631,41 CCM. Penggalian tambang tahun 09 dapat dilihat pada lampiran K-09.

5.3

Rencana dan Jadwal Produksi Rencana produksi penambangan batubara blok siambul PT. Riau Bara Harum

per tahun selama tahun pertama sampai tahun ke sembilan 300.000 ton. Jadwal produksi batubara dan volume tanah penutup PT. Riau Bara Harum, secara rinci tercantum dalam Table 5.3 dan Table 5.4.

108

Tabel 5.2 Rencana dan Jadwal Produksi Batubara dan Lapisan Tanah Penutup Pertahun
OVERBURDEN YEAR BLOCK And INTERBURDEN VOL(BCM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 TOTAL PIT_BLS01 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS06 PIT_BLS12 PIT_BLS15 PIT_BLS18 PIT_BLS19 PIT_BLS17 PIT_BLS16 PIT_BLS05 PIT_BLS01 2.637.481 2.741.164 2.460.135 1.552.764 1.467.705 1.135.073 776.243 969.712 437.084 14.177.360,83 (TON) 303.928 301.299 304.206 315.592 314.428 313.011 303.122 307.042 152.199 2.614.827,48 (BCM) 2.751.101 2.940.533 2.652.483 1.764.877 1.669.666 1.333.652 972.374 1.172.493 529.612 15.786.790,94 9 9 8 5 5 4 3 3 3 5 COAL MASS TOTAL VOLUME SR

109

Gambar 5.2 Grafik Produksi Batubara Pertahun

Gambar 5.3 Grafik Akumulatif Batubara Selama 9 Tahun

5.3.2 Rencana produksi Lapisan Penutup Dengan mempertimbangkan besarnya volume lapisan tanah penutup yang digali pertahun (Tabel 5.3), maka diaplikasi metode backfilling, artinya tanah hasil penggalian dari suatu area penambangan, diisikan pada area yang telah ditambang. Penerapan metode back filling sekaligus diintegrasikan dengan program reklamasi tambang. Hal ini memberikan keuntungan, karena mereduksi jarak angkut overburden dan biaya reklamasi tambang dari daerah tersebut. Sisa lapisan penutup (OB/IB) yang ditimbun sebagai material pengisi diangkut dan ditimbun di daerah dumping area. Lokasi dumping area terletak di bagian Utara. Volume overburden yang ditimbun di dumping area akan di gunakan sebagai material pengisi (backfilling). Peta rencana Backfilling dapat dilihat pada Lampiran L

110

Tabel 5.3 Rencana Pengupasan dan Penimbunan Overburden


YEAR OVERBURDEN SF (%) (LCM) FAKTOR LOOSE (%) 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 70% 3.767.830,43 3.915.948,88 3.514.478,09 2.218.233,65 2.096.721,91 1.621.532,83 1.108.918,85 1.385.302,53 624.405,46 20.253.372,62 5 5 5 5 5 5 5 5 5 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% 85% CF (%) WASTE DUMP VOL (CCM) 3.042.523,07 3.162.128,72 2.837.941,06 1.791.223,67 1.693.102,94 1.309.387,76 895.451,98 1.118.631,79 504.207,41 15.850.390,98

VOL (BCM) 01 02 03 04 05 06 07 08 09 TOTAL 2.637.481 2.741.164 2.460.135 1.552.764 1.467.705 1.135.073 776.243 969.712 437.083,82 14.177.360,83

Tabel 5.4 Jadwal Penimbunan Tanah Penutup YEAR Outside Dump


01 02 03 04 05 06 2.637.481 -

OVERBURDEN Back Filling


2.741.164 2.460.135 1.552.764 1.467.705 1.135.073

Total Dump
2.637.481 2.741.164 2.460.135 1.552.764 1.467.705 1.135.073

111

07 08 09 TOTAL

2.637.481

776.243 969.712 437.084 11.539.879

776.243 969.712 437.084 14.177.360,83

Gambar 5.4 Grafik Rencana Jadwal Produksi Lapisan Penutup 5.4 Tata Letak Fasilitas Tambang Fasilitas yang digunakan untuk mendukung operasi penambangan batubara terdiri dari kantor administrasi, gudang, bengkel, laboratorium kualitas kontrol, ruang makan siang, tempat ibadah, stasiun bahan bakar, tangki air, dan stasiun generator. Besar dan luas masing-masing fasilitas tersebut disesuaikan dengan kebutuhan dan operasi kerja yang akan dilakukan. Ukuran bangunan administrasi dibuat berdasarkan perkiraan jumlah karyawan dan pengguna lainnya. Ukuran bengkel sesuai dengan fasilitas pemeliharaan peralatan utama dan ruang untuk mengganti suku cadang. Laboratorium didesain sesuai dengan peralatan yang dibutuhkan dan

112

personil yang ada. Secara global luas lantai dari masing-masing bangunan tersebut adalah sebagai berikut:

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Kantor Administrasi Stasiun BBM dan Angin Water Supply Power Generator R.O.M Stockpile 6. Product Coal Stockpile 7. Peremuk & Saring 8. Truck Dump Hopper 9. Struck Staging Area 10. Stasiu Timbang Gambar 5.5 Tata letak fasilitas tambang 5.5 Peralatan Pemilihan peralatan yang digunakan untuk penggalian batubara dan overburden di blok siambul adalah Backhoe. Sebab dengan kondisi curah hujan yang tinggi dan kondisi lantai kerja yang kurang baik, maka pemakaian alat muat jenis backhoe ini akan lebih efisien. Selain itu backhoe excavator juga dapat digunakan untuk mengontrol dilusi pada dasar lapisan batubara. Pada penggalian overburden, backhoe dapat memuat truk dari elevasi jenjang maupun memuat truk pada jenjang dibawahnya. Backhoe juga direkomendasikan sebagai alat muat truk dengan tinggi jenjang kurang dari 5m.

5.5.1 Pemilihan Peralatan Utama

113

Alat angkut yang dipilih adalah truk kapasitas 15 ton untuk batubara dan truk kapasitas 25 ton untuk overburden. Truk 15 ton akan sesuai dengan backhoe 70 ton ( 0,7 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 6 Kali. Sedangkan untuk truk 25 ton akan sesuai dengan backhoe excavator 35 ton ( 3,5 m3 bucket) dengan pengisian sebanyak 10 Kali. 5.5.2 Pemilihan Spesifikasi Peralatan Utama Pertimbangan pemilihan peralatan spesifikasi teknis peralatan utama adalah : Karakteristik lapisan batubara dan lapisan penutup Aspek teknis dan ekonomis Dukungan teknis yang mencakup pelayanan purna jual (after sales service) dari perusahaan yang menyediakan peralatan. berdasarkan pertimbangan tersebut diatas, maka pada operasi pertambangan batubara ini, akan digunakan alat-alat sebagai berikut : Tabel 5.5 Jenis Peralatan Utama Penambangan JENIS KEGIATAN TOP SOIL NAMA MATERIAL OVERBURDEN/ INTERBURDEN Pembersihan Lahan (Land Clearing) Penggalian (Excavating) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Pemuatan (Loading) Backhoe-Loader Backhoe-Loader Backhoe-Loader Bulldozer-Ripper Untuk material keras Backhoe-Loader Bulldozer BATUBARA

114

Pengangkutan (Hauling) Penimbunan (Dumping)

Dump Truck

Dump Truck

Dump Truck

Dump-Truck

Dump Truck Backhoe, Bulldoze

Dump Truck

Tabel 5.6 Daftar Peralatan Utama Penggalian Batubara dan Tanah Penutup NAMA/JENI S ALAT Bulldezer (Ripper jika diperluka TIPE KAPASI TAS Komatsu Pembersihan lahan Pemberaian OB/IB Pemberaian Coal Penimbunan BackhoeLoader PC160LC-7 0,7 m3 Komatsu Penggalian dan Pemuatan Material Lunak (Coal) Pembuatan Level Jenjang PC600LC-7
3,5 m3

MERK

FUNGSI

Komatsu

Penggalian dan pemuatan Material lunak (OB/IB)

Dump Truck

Hino Ranger FG 235 JJ

15 ton

Hino

Pengangkutan Batubara

115

HD 255-HD

25 ton

Komatsu

Pengangkutan Material (OB/IB)

5.6

Sistem Penyaliran Tambang Kegiatan penambangan open pit akan berbentuk cekungan sehingga kegiatan

penambangan umunya akan menghadapi masalah air tanah, air limpasan dan air hujan. Apabilah daerah tambang tergenang air, alat-alat tambang akan sulit beroperasi. Kemantapan lereng tambang akan terganggu bila lereng selalu dalam keadaan basah. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem penyaliran yang baik. Penanganan terhadap air yang masuk kedalam tambang dilakukan dengan membuat bebebrapa saluran yang direncanakan sebagai berikut : a. Saluran Penyaliran di sekeliling tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk mencegah air yang berasal dari luar tambang masuk kedalam tambang. Dalam pembuatan saluran ini perlu diperhatikan keadaan topografi sekitar tambang agar dapat ditentukan daerah penampungan air hujan secara tepat. b. Saluran Penyaliran diatas jenjang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang berada diatas jenjang menuju lantai tambang sehingga tidak terjadi genangan air diatas jenjang yang dapat mempengaruhi kemantapan lereng c. Saluran Penyaliran di lantai tambang Saluran penyaliran ini berfungsi untuk menyalirkan air yang masuk kelantai tambang berasal dari jenjang maupun air hujan yang jatuh langsung dilantai tambang tersebut. Pembuata saluran penyaliran ini dapat menghindari terjadinya genangan air dilantai tambang sehingga tidak menganggu kerja peralatan-peralatan tambang.

116

Gambar 5.6 Skema saluran penyaliran.

117

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1

Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pemodelan geologi lapisan batubara, menghasilkan 3 seam batubara dengan ketebalan 0,5m. Subcrop line batubara dan kontur struktur batubara, yang digunakan sebagai batas dalam penaksiran cadangan dan perancangan geometri penambangan. Perangkat lunak Minescape dapt untuk menganalisis nilai stripping ratio (SR) 10:1 pada 3 seam batubara. 2. Rancangan penambangan dimulai dari bagian utara Blok Siambul PT. Riau Bara Harum. Kemiringan lereng tunggal maksimal adalah 60, tinggi bench 10 m dan lebar bench penambangan maupun final bench adalah 5 m. 3. Rancangan produksi penambangan batubara pada tahun pertama sampai kedelapan adalah sebesar 300.000 ton sedangkan pada tahun kesembilan 150.000 ton. Pada tahun pertama sampai keenam dilakukan penggalian dari elevasi 70-40 mdpl, sedangkan pada tahun ketujuh sampai tahun kesembilan dilakukan penggalian dari elevasi 40-20 mdpl. 4. Alat gali yang akan digunakan untuk mengupas material penutup adalah back hoe (excavator) komatsu PC 600LC-7. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut material overburden adalah dump truck komatsu HD-255. 5. Alat muat yang akan digunakan untuk memuat batubara adalah back hoe (excavator) komatsu PC 160LC-7. Alat angkut yang akan dipakai untuk mengangkut batubara adalah Hino Dutro 130 HD kapasitas 10 ton 6. Dimensi jalan angkut dibuat dengan lebar pada jalan lurus 20m, pada tikungan 29m sedangkan derajat kemiringan jalan (grade) adalah 8 %. Dan super elevasi 4 %.

118

7. Sistem penyaliran tambang yang dirancang terdiri dari saluran terbuka, sumuran pada dasar pit, pompa dan kolam pengendapan. Letak kolam pengendapan berada dalam pit, pada elevasi terendah yaitu 20 mdpl. 6.2 Saran Dalam rangka optimalisasi pelaksanaan rancangan tambang yang telah dibuat, maka perlu dilakukan: 1. Diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui tingkat keakuratan hasi perhitungan simulasi dengan kenyataan pelaksanaannya dilapangan pada saat dan setelah operasi penambangan dilakukan setiap tahunya. 2. Perlu dilakukan monitoring kestabilan lereng agar faktor keamanan dapat di pertahankan 3. Penelitian lebih lanjut mengenai pemilihan alat muat dan alat angkut, baik dari segi teknis, praktis maupun ekonomi. 4. Perancangan dan perhitungan sistem penyaliran tambang yang tepat guna mengatasi air limpasan yang masuk ke dalam tambang mengingat tingginya curah hujan pada area penambangan PT.Riau Bara Harum

119

DAFTAR PUSTAKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

_______,(2009), Laporan Pemboran Eksplorasi PT. Riau Bara Harum, Kabupaten Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau, PT. Riau Bara Harum. _______, (1998), Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.555 Pasal 241, Departemen Pertambangan dan Energi. Komatsu, 2007, Specification and Application Handbook Edition 28, Japan Suhala S, Teknologi Pertambangan di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Waterman S, (2010), Perencanaan Tambang, Jurusan Teknik Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta, Yogyakarta. Waterman S, (2006), Modul Praktikum Simulasi dan Komputasi, Jurusan Teknik Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta, Yogyakarta. Yanto I, (2010), Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta, Yogyakarta.