Anda di halaman 1dari 6

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Diare masih merupakan salah satu penyebab utama morbilitas dan mortalitas anak di negara yang sedang berkembang. Setiap tahun diperikirakan lebih dari satu milyar kasus diare di dunia dengan 3,3 juta kasus kematian sebagai akibatnya. Diperkirakan angka kejadian di negara berkembang berkisar 3,5 7 episode per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2 5 episode per anak per tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Dalam berbagai hasil Survei kesehatan Rumah Tangga diare menempati kisaran urutan ke-2 dan ke-3 berbagai penyebab kematian bayi di Indonesia. Hasil survei oleh Depkes.

diperoleh angka kesakitan diare tahun 2000 sebesar 301 per 1000 penduduk angka ini meningkat bila dibanding survei pada tahun 1996 sebesar 280 per 1000 penduduk. Diare masih merupakan penyebab utama kematian bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2001 didapat proporsi kematian bayi 9,4% dengan peringkat 3 dan proporsi kematian balita 13,2% dengan peringkat 2. Diare pada anak merupakan penyakit yang mahal yang berhubungan secara langsung atau tidak terdapat pembiayaan dalam masyarakat. Biaya untuk infeksi rotavirus ditaksir lebih dari 6,3 juta poundsterling setiap tahunya di Inggris dan 352 juta dollar di Amerika Serikat (1). Sebagian besar diare akut disebabkan oleh infeksi. Banyak dampak yang terjadi karena infeksi seluran cerna antara lain pengeluaran toksin yang dapat menimbulkan gangguan sekresi dan reabsorpsi cairan dan elektrolit dengan akibat dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit dan keseimbangan asam basa. Invasi dan destruksi sel epitel, penetrasi ke lamina propria serta kerusakan mikrovili dapat menimbulkan keadaan maldiges dan malabsorpsi. Bila tidak

mendapatkan penanganan yang adekuat pada akhirnya dapat mengalami invasi sistemik (2). Secara umum penanganan diare akut ditujukan untuk mencegah atau menanggulangi dehidrasi serta gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa, kemungkinan terjadinya intolerasi, mengobati kausa diare yang spesifik, mencegah dan menanggulangi gangguan gizi serta mengobati penyakit penyerta. Untuk melaksanakan terapi diare secara komprehensif, efisien dan efekstif harus dilakukan secara rasional. Pemakaian cairan rehidrasi oral secara umum efektif dalam mengkoreksi dehidrasi. Pemberian cairan intravena diperlukan jika terdapat kegagalan oleh karena tingginya frekuensi diare, muntah yang tak terkontrol dan terganggunya masukan oral oleh karena infeksi. Beberapa cara pencegahan dengan vaksinasi serta pemakaian probiotik telah banyak diungkap dan penanganan menggunakan antibiotika yang spesifik dan antiparasit (2). Uraian di atas menunjukkan bahwa diare tidak dapat dianggap suatu penyakit yang dapat disepelekan. Komplikasi yang dapat ditimbulkan dapat menjadi masalah baru yang tidak kalah serius seperti gizi buruk misalanya. Untuk itu kelompok tertarik mengambil masalah diare akut dehidrasi sedang dan gizi buruk pada An. K di ruang baitul athfal RSI Sultan Agung Semarang.

B. TUJUAN 1. Tujuan umum Setelah selesai melakukan asuhan keperawatan anak pada anak dengan diare akut dehidrasi sedang disertai gizi buruk, mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan diare akut dehidrasi sedang disertai gizi buruk. 2. Tujuan khusus a. Mampu menjelaskan tentang konsep dasar penyakit diare akut dehidrasi sedang disertai gizi buruk.

b.

Mampu mengidentifikasi tanda dan gejala penyakit diare akut dehidrasi sedang disertai gizi buruk.

c.

Mampu melakukan pengkajian, analisa data, menyusun diagnosa keperawatan pada anak dengan diare akut dehidrasi sedang disertai gizi buruk.

d.

Mampu

melaksanakan yang telah

implementasi dirumuskan

keperawatan dan

berdasarkan hasil

perencanaan

mengevaluasi

implementasi keperawatan yang telah direncanakan.

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Penyebab utama diare akut adalah infeksi Rotavirus yang bersifat self limiting sehingga tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika. Pemakaian antibitika hanya untuk kasus-kasus yang diindikasikan.Masalah utama diare akut pada anak berkaitan dengan risiko terjadinya dehidrasi. Upaya rehidrasi menggunakan cairan rehidrasi oral merupakan satu-satunya pendekatan terapi yang paling dianjurkan. Penggantian cairan dan elektrolit merupakan elemen yang penting dalam terapi diare akut. Pemakaian anti sekretorik,probiotik, dan mikronutrien dapat memperbaiki frekuensi dan lamanya diare. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian makanan atau nutrisi yang cukup selama diare dan mengobati penyakit penyerta.

B. SARAN Penatalaksanaan yang dilakukan perawat pada kasus ini sudah sesuai dengan masalah dari pasien itu sendiri yaitu melakukan rehidrasi, dengan

mempertahankan masukan cairan baik melalui cairan infuse maupun dengan motivasi untuk memberikan asuhan cairan per-oral. Dalam kasus ini anak dengan gizi buruk upaya yang dilakukan selain medikasi yaitu diperlukan motivasi dari segala pihak untuk meningkatkan asupan nutrisi. Dimulai dengan memberikan makanan yang disukai oleh pasien tetapi tentu saja tidak melupakan kadar kalori dan kandungan gizi yang seharusnya dibutuhkan oleh pasien.

Bibliography 1. Upaya Pencegahan Diare Ditinjau Dari Aspek Kesehatan Masyarakat. NI, Kandun. Kongres Nasional II, Jakarta : BKGAI, 2003. 2. Haryadi, Wahyu R. Kumpulan Makalah Kedokteran. Kotak Medis. [Online] Fakultas Kedokteran UNISMA, desember 1, 2011. [Cited: januari 19, 2012.] http://www.kotakmedis.com/2011/12/diare-akut-dengan-dehidrasi-sedang/.