Anda di halaman 1dari 4

HUKUM KIRCHOFF I : jumlah arus menuju suatu titik cabang sama dengan jumlah arus yang meninggalkannya.

7 Iin = Iout HUKUM KIRCHOFF II : dalam rangkaian tertutup, jumlah aljabar GGL (I) dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol.

7I = 7 IR = 0 ALAT UKUR LISTRIK TERDIRI DARI 1. JEMBATAN WHEATSTONE digunakan untuk mengukur nilai suatu hambatan dengan cara mengusahakan arus yang mengalir pada galvanometer = nol (karena potensial di ujung-ujung galvanometer sama besar). Jadi berlaku rumus perkalian silang hambatan : R1 R3 = R2 Rx

2. AMPERMETER

untuk memperbesar batas ukur ampermeter dapat digunakan hambatan Shunt (Rs) yang dipasang sejajar/paralel pada suatu rangkaian. Rs = rd 1/(n-1) n = pembesaran pengukuran

3. VOLTMETER

untuk memperbesar batas ukur voltmeter dapat digunakan hambatan multiplier (R-) yang dipasang seri pada suatu rangkaian. Dalam hal ini R. harus dipasang di depan voltmeter dipandang dari datangnya arus listrik. Rm = (n-1) rd n = pembesaran pengukuran

TEGANGAN JEPIT (V.b) : adalah beda potensial antara kutub-kutub sumber atau antara dua titik yang diukur. 1. Bila batere mengalirkan arus maka tegangan jepitnya adalah:

Vab = I - I rd

2. Bila batere menerima arus maka tegangan jepitnya adalah:

Vab = I + I rd

3. Bila batere tidak mengalirkan atau tidak menerima arus maka tegangan jepitnya adalah .

Vab = I

Dalam menyelesaian soal rangkaian listrik, perlu diperhatikan : 1. Hambatan R yang dialiri arus listrik. Hambatan R diabaikan jika tidak dilalui arus listrik. 2. Hambatan R umumnya tetap, sehingga lebih cepat menggunakan rumus yang berhubungan dengan hambatan R tersebut. 3. Rumus yang sering digunakan: hukum Ohm, hukum Kirchoff, sifat rangkaian, energi dan daya listrik. Contoh 1 : Untuk rangkaian seperti pada gambar, bila saklar S1 dan S2 ditutup maka hitunglah penunjukkan jarum voltmeter ! Jawab : Karena saklar S1 dan S2 ditutup maka R1, R2, dan R3 dilalui arus listrik, sehingga :

1 Rp

= 1 + 1 R2 R3

Rp = R2 R3 = 2; R2 + R1 V = I R = I (R1 + Rp) I = 24/(3+2) = 4.8 A Voltmeter mengukur tegangan di R2 di R3, dan di gabungkan R2 // R3, jadi : V = I2 R 2 = I3 R 3 = I R p V = I Rp = 0,8 V Contoh 2: Pada lampu A dan B masing-masing tertulis 100 watt, 100 volt. Mula-mula lampu A den B dihubungkan seri dan dipasang pada tegangan 100 volt, kemudian kedua lampu dihubungkan paralel dan dipasang pada tegangan 100 volt. Tentukan perbandingan daya yang dipakai pada hubungan paralel terhadap seri !

Hambatan lampu dapat dihitung dari data yang tertulis dilampu : RA = RB = V/P = 100/100 = 100 ; Untuk lampu seri : RS = RA + RB = 200 ; Untuk lampu paralel : Rp = RA RB = 50 ; RA + RB

Karena tegangan yang terpasang pada masing-masing rangkaian sama maka gunakan rumus : P = V/R Jadi perbandingan daya paralel terhadap seri adalah : Pp = V : V = Rs = 4 Ps Rp Rs Rp 1 Contoh 3: Dua buah batere ujung-ujungnya yang sejenis dihubungkan, sehingga membentuik hubungan paralel. Masing-masing batere memiliki GGL 1,5 V; 0,3 ohm dan 1 V; 0,3 ohm.Hitunglah tegangan bersama kedua batere tersebut ! Jawab : Tentakan arah loop dan arah arus listrik (lihat gambar), dan terapkan hukum Kirchoff II,

7I + 7 I R = 0 I1 + I2 = I (r1 + r2) I = (1,5 - 1) = 5 A 0,3 + 0,3 6

Tegangan bersama kedua batere adalah tegangan jepit a - b, jadi : Vab = I1 - I r1 = 1,5 - 0,3 1= I2 + I R2 = 1 + 0,3 Contoh 4: Sebuah sumber dengan ggl = E den hambatan dalam r dihubungkan ke sebuah potensiometer yang hambatannya R. Buktikan bahwa daya disipasi pada potensiometer mencapai maksimum jika R = r. Jawab : Dari Hukum Ohm : I = V/R = R+r Daya disipasi pada R : P = IR = (R+r) I
5/6 5/6

= 1,25 V

= 1,25 V

Agar P maks maka turunan pertama dari P harus nol: dP/dR = 0 (diferensial parsial) Jadi I (R+r) - E R.2(R+r) = 0 (R+r)4 I (R+r) = I 2R (R+r) R + r = 2R R = r (terbukti)