Anda di halaman 1dari 4

Faktor Penyebab dan Pencetus PTSD serta Tindakan Keperawatannya

Oleh Ratna Wulandari, 1006759580 Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Setiap individu selalu mengalami berbagai macam situasi setiap hari. Terkadang, situasi yang dialami dapat dirasakan sangat buruk sehingga menimbulkan kenangan pahit atau disebut juga dengan trauma. Ketika seorang individu mengalami trauma, ia akan mengalami tekanan mental. Bahkan terkadang, akibatnya terus dirasakan meski situasi buruk telah berlalu. Seseorang yang mengalami akibat berkepanjangan karena trauma, dapat merasa terganggu karena tidak dapat menjalankan aktivitasnya secara normal. Hal ini lazim disebut PTSD (Posttraumatic stress disorder). Dalam lembar tugas mandiri ini, akan dijelaskan mengenai faktor penyebab dan pencetus PTSD serta tindakan keperawatannya. Posttraumatic stress disorder (PTSD) adalah gangguan psikologis setelah mengalami pengalaman traumatik yang estrem (Wong, 2002). Pengalaman dapat disebut dengan pengalaman traumatik jika memenuhi tiga criteria berikut: 1. Kejadian tersebut tidak dapat diprediksi (It was unexpected) 2. Individu yang mengalami kejadian tersebut tidak siap dihadapkan pada kondisi atau kejadian demikian (The person was unprepared) 3. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh individu tersebut untuk mencegah terjadinya peristiwa tersebut (There was nothing the person could do to prevent it from happening) Berikut adalah beberapa contoh situasi traumatik yang dapat menyebabkan seseorang mengalami PTSD yaitu ( 1. Perang (War) 2. Pemerkosaan (Rape) 3. Bencana alam (Natural disasters) 4. Kecelakaan mobil atau pesawat (A car or plane crash) 5. Penculikan (Kidnapping)

6. Penyerangan fisik (Violent assault) 7. Penyiksaan seksual atau fisik (Sexual or physical abuse) 8. Prosedur medikal, terutama pada anak-anak (Medical procedures - especially in kids) Faktor-faktor penyebab seseorang mengalami PTSD dapat dibagi lima, yaitu (Birger, 2003): 1. Biologis Pada faktor ini, individu yang memeliki genetik untuk lebih mudah stress, akan mudah terkena PTSD ketika ia mengalami suatu pengalaman yang menurutnya sangat buruk. 2. Psiokologis Faktor kepribadian akan sangat menentukan individu akan mengalami PTSD atau tidak ketika ia mengalami telah mengalami situasi traumatik. Seseorang yang memiliki kepribadian temperamen cenderung lebih mudah mengalami PTSD setelah mengalami peristiwa traumatik (Friedman, 2007) 3. Sosiologis Kondisi sosial seseorang memiliki peran penting dalam mencegah timbulnya PTSD pasca situasi traumatik. Seseorang yang memiliki kehidupan sosial yang baik cenderung dapat melewati masa-masa trauma dan mampu melanjutkan kehidupan dengan baik. Hal ini disebabkan ia akan mendapatkan dukungan dari lingkungannya untuk melewati masa-masa sulit tersebut (Birger, 2003). 4. Spiritual Kondisi spiritual yang baik, akan mampu membantu seseorang dalam melewati masa-masa sulit pasca situasi traumatik. Hal ini disebakan ia selalu percaya pada apa yang dipercayainya, sehingga dapat memberikan rasa tenang dan damai (Nevi, 2005). Kemudian, faktor pencetus atau presipitasi PTSD yaitu berupa situasi yang menyebabkan seseorang kembali mengalami situasi traumatik atau ketika ia dihadapkan pada situasi yang mengingatkannya pada situasi traumatik. yang pernah dialaminya (Boa, 2009). Faktor pencetus ini dapat membuat seseorang mengalami PTSD. Ketika seseorang telah mengalami PTSD, ia biasanya kesulitan dalam mengontrol emosi dan pikiran (Videback, 2004). Sebagai contoh, ia akan kesulitan dalam mengontrol kemarahan, kecemasan dan ketakutan. Seseorang yang mengalami PTSD juga dapat mengalami depersonalisasi.

Ketika seorang perawat menghadapi klien yang mengalami PTSD, perawat harus mampu berpikir cepat dan bertindak dengan benar untuk membantu klien menghadapi masalahnya. Sebab, apabila klien yang mengalami PTSD tidak mendapatkan penanganan yang lebih lanjut, maka dapat menyebabkan gangguan mental pada klien tersebut. Berikut beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat ketika menghadapi klien yang mengalami PTSD (Efendi, 2009). 1. Membangun kepercayaan antara klien dengan perawat. Klien yang mengalami PTSD umumnya akan kesulitan berinteraksi dengan orang lain karena ketakutan. Oleh karena itu, perawat harus mampu membangun kepercayaan antara klien dengan perawat dengan cara menerima keadaan klien dengan baik, bersikap jujur, dan tidak menunjukkan sikap menghakimi terhadap klien. 2. Mendorong klien untuk berani menyatakan kesedihannya dan kecemasannya. Kemudian bantu klien mendapatkan koping yang tepat untuk mengatasi stressnya. Koping merupakan usaha individu untuk mengatasi stress psikologis (Lazarus, 2007 dalam Potter&Perry, 2009). 3. Bantu klien dalam menghadapi rasa marahnya. Jika klien menunjukkan rasa marah dengan kekerasan fisik, bantu klien untuk meluapkannya dalam bentuk verbal sebagai eekspresi kemarahannya demi menghindari timbulnya cedera bagi klien. 4. Bantu klien untuk menemukan komunitas PTSD. Pantau perkembangan klien. Bila perlu, perawat dapat ikut berpartisipasi langsung dalam komunitas tersebut untuk membantu mereka menghadapi kemarahannya dan belajar untuk memaafkan. Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor penyebab PTSD terdiri dari 4 hal yaitu biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual. Sementara faktor pencetus PTSD yaitu berupa situasi yang menyebabkan seseorang kembali mengalami situasi traumatik atau ketika ia dihadapkan pada situasi yang mengingatkannya pada situasi traumatik. Ketika seorang perawat menghadapi klien yang mengalami PTSD, perawat harus mampu berpikir cepat dan bertindak dengan benar untuk membantu klien menghadapi masalahnya. Sehingga klien terhindar dari resiko mengalami kelainan mental.

Daftar Pustaka
Birger, J. 2003. Psychiatric Nursing. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Boa, E. 2009. Effective Treatments for PTSD: Practice Guidlines from The International Society for Traumatic Stress Studies. New York: Guilford Publications Efendi, F. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika Friedman, M. 2007. Handbook of PTSD: Science and Practice. New York: Guilford Publications Nevi. 2005. Psikologi Abnormal. (Ed ke-5 jilid2). Jakarta: Erlangga. Potter & Perry. 2009. Fundamental Keperawatan. (Ed ke-7). Jakarta: Salemba Medika Videback, S. 2004. Psychiatric Mental health. (Ed ke-5). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins Wong, D. 2002. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. (Vol 1). Jakarta: EGC http://www.e-psikologi.com/epsi/klinis_detail.asp?id=575 (Diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 18.00) http://www.nimh.nih.gov/health/topics/post-traumatic-stress-disorderptsd/index.shtml (Diakses pada tanggal 25 September 2011 pukul 18.00)

Beri Nilai