Anda di halaman 1dari 11

1.2 Farmakologi 1.3.

1 Anastesi Lokal10 Anestesi adalah hilangnya semua bentuk sensasi termasuk sakit, sentuhan, persepsi temperatur dan tekanan dan dapat disertai dengan terganggunya fungsi motorik. Bila hanya sebagian dari tubuh yang terpengaruh, dapat digunakan istilah anestesi lokal Anestesi lokal menghambat impuls konduksi secara reversible sepanjang akson saraf dan membran eksitabel lainnya yang menggunakan saluran natrium sebagai alat utama pembangkit potensial aksi. Secara klinik, kerja ini dimanfaatkan untuk menghambat sensasi sakit dari atau impuls vasokonstriktor simpatis ke bagian tubuh tertentu. Mekanisme Kerja Anestetik local mencegah pmbentukan dan konduksi impuls saraf. Tempat kerjanya terutama di membrane sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit saja. Sebagaimana diketahui, potensial aksi saraf terjadi karena adanya peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membran terhadap ion Na+akibat depolarisasi ringan pada membran. Proses fundamental inilah yang dihambat oleh anestetik lokal, hal ini terjadi akibat adanya interaksi langsung antara zat anestetik lokal dengan kanal Na+ yang peka terhadap adanya perubahan voltase muatan listrik (voltage sensitive Na+ channels). Dengan semakin bertambahnya efek anestesi lokal di dalam saraf, maka ambang rangsang membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor ini akan mengakibatkan penurunan menjalarnya potensial aksi dan dengan demikian mengakibatkan kegagalan konduksif saraf. Anestetik local juga mengurangi permeabilitas membrane bagi K+ dan Na+ dalam keadaan istirahat, sehingga hambatan hantaran tidak disertai banyak perubahan pada potensial istirahat. Hasil penelitian membuktikan bahwa anestetik local menghambat hantaran saraf taanpa menimbulkan depolarisasi saraf, bahkan ditemukan hiperpolarisasi ringan. Pengurangan permeabilitas membran oleh anestetik lokal juga timbul pada otot rangka, baik waktu istirahat maupum waktu terjadinya potensial aksi. Potensi berbagai zat anestetik lokal sejajar dengan kemampuannya untuk meninggikan tegangan permukaan selaput lipid monomolekular. Permukaan lapisan lipid yang merupakan membran sel saraf, dengan demikian menutup pori dalam membran sehingga menghambat gerak ion melalui membran. Hal ini akan menyebabkan penurunan permeabilitas membrane dalam keadaan istirahat sehingga akan membatasi peningkatan permeabilitas Na+. Dapat dikatakan bahwa cara kerja utama obat anestetik lokal ialah bergabung dengan reseptor spesifik yang terdapat pada kanal Na, sehingga mengakibatkan terjadinya blockade

pada kanal tersebut, dan hal ini akan mengakibatkan hambatan gerakan ion melalui membran. Penggolongan Obat Anestesi lokal dibagi menjadi dua golongan yaitu ester (prokain, tetrakain, benzokain, kokain) dan amida (lidokain, dibukain, mepivakain, prilokain). Ester adalah golongan yang mudah terhidrolis sehingga waktu kerjanya cepat hilang, sementara amida merupakan golongan yang tidak mudah terhidrolisis sehingga waktu kerjanya lama. a. Kokain Kokain merupakan ester asam benzoat dengan metilekgonin. Efek kokain adalah menghambat hantaran saraf, bila dikenakan secara lokal. Efek sistemik yang paling mencolok yaitu rangsangan SSP. Kokain sering menyebabkan keracunan akut. Diperkirakan besarnya dosis fatal adalah 1,2 gram. Tanda- tanda klinisnya adalah : - Pasien mudah terangsang, gelisah, banyak bicara, cemas, dan bingung. - Refleks meningkat, disertai sakit kepala, nadi cepat, napas tidak teratur, dan suhu badan naik. - Midriasis, eksoftalmus, mua, muntah, sakit perut, dan kesemutan. - Delidrium, pernapasan Cheyne Stokes, kejang, penurunan kesadaran. b. Prokain Prokain mempunyai potensi yang rendah, mula kerja lambat, dan masa kerja pendek sehingga prokain digunakan untuk anestesi infiltrasi dan kadang kadang untuk anestesia blok saraf. Didalam tubuh, prokain akan dihidrolisis menjadi PABA yang dapat menghambat kerja sulfonamid. c. Lidokain Lidokain adalah anestesik lokal yang digunakan secara luas dengan pemberian topikal dan suntikan. Lidokain merupakan aminoetilamid dan merupakan prototip dari anestik lokal golongan amida. Larutan lidokain 0,5 % digunakan untuk anestesia infiltrasi sedangkan larutan 1-2 % untuk anestesia blok dan topikal. Anestesia ini efektif bila digunakan tanpa vasokonstriktor tetapi kecepatan absorpsi dan toksisitasnya bertambah dan masa kerjanya lebih pendek. Efek samping lidokain berkaitan dengan efeknya terhadap SSP, misalnya mengantuk, pusing, gangguan mental, koma. d. Bupivakain Merupakan anestik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang dengan efek blokade terhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini, bupivakain lebih populer digunakan untuk memperpanjang analgesia selama persalinan dan masa pasca pembedahan.

Pada dosis efektif yang sebanding, bupivakain lebih kardiotoksik daripada lidokain. Lidokain dan bupivakain, keduanya dapat mengahmbat saluran Na+ jantung selama sistolik. Namun bupivakain terdisosiasi jauh lebih lambat daripada lidokain selama diastolik sehingga ada fraksi yang cukup besar tetap terhambat pada akhir diastolik. Manifestasi klinik berupa aritmia ventrikular yang berat dan depresi miokard. Keadaan ini dapat terjadi pada pemberian bupivakain dalam dosis besar. Toksisitas jantung yang disebabkan oleh bupivakain sulit diatasi dan bertambah berat dengan adanya asidosis, hipekarbia, dan hipoksemia. Larutan bupivakin hidroklorida tersedia dalam konsentrasi 0,25 % untuk suntikan paravertebral. Tanpa epinefrin, dosis maksimum untuk anestesia infiltarsi adalh sekitar 2 mg / kg BB. Efek samping anestesi lokal Dermatitis alergik, serangan asma, atau reaksi anafilaktik yang fatal dapat timbul akibat anestik lokal. Reaksi alergik ini terutama terjadi pada penggunaan obat anestik loka golongan ester yang pada hidrolisis dihasilkan asam paraaminobenzoat (PABA) dan PABA inilah yang diduga dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi tersebut. Vasokonstriktor Vasokonstriktor adalah obat yang dapat mengkonstriiksikan pembuluh darah dan mengontrol perfusi jaringan. Penambahan sejumlah kecil vasokonstriktor pada larutan anestesi lokal dapat memberi keuntungan sebagai berikut: a. Mengurangi efek toksik melalui efek penghambat absorpsi konstituen. b. Membatasi agen anestesi hanya pada daerah yang terlokalisir sehingga dapat meningkatkan kedalaman dan durasi anestesi. c. Menimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah) untuk prosedur operasi. d. Dapat menurunkan perfusi (aliran darah) dari tempat administrasi karena mengkonstriksi pembuluh darah. e. Absorpsi anestesi local ke sistem kardiovaskular melambat sehingga kadar dalam plasma juga rendah. f. Meminimumkan durasi aksi anestesi local. g. Menurunkan perdarahan pada tempat injeksi sehingga berguna pada saat prosedur pembedahan untuk mengantisipasi perdarahan. Vasokonstriktor yang biasa digunakan adalah: a. Adrenalin (epinefrin), suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi medulla adrenalin alami. b. Felypressin (Octapressin), suatu polipeptid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi glandula pituitary posterior manusia. Felypressin

mempunyai sifat vasokonstriktor yang lemah, yang tampaknya dapat diperkuat dengan penambahan prilokain. Indikasi: a. Digunakan untuk menghindari bleeding. b. Menurunkan perfusi. Kontraindikasi: a. Pada pasien dengan kardiovaskular dan penyakit kelainan tiroid. b. Pada individu yang sensitive. c. Pada individu yang terjadi reaksi obat-obatan yang tidak terantisipasi yang menyebabkan PVC (Prematur Ventricular Contraction). Perbandingan dan pengenceran larutan vasokonstriktor biasanya dinyatakan sebagai rasio 1:1000. Konsentrasi 1:1000 diartikan bahwa ada 1 gram (atau 1000 mg) obat yang terdapat pada 1000 mL larutan. Sehingga, larutan 1:1000 mengandung 1000 mg dalam 1000 mL atau 1,0 mg/mL. Larutan vasokontriktor yang digunakan dalam larutan anestesi pada praktek dental biasanya lebih encer. Untuk menghasilkan konsentrasi 1:10.000, 1 mL dari larutan 1:1000 ditambahkan dengan 9 mL pelarut (misalnya air steril) sehingga menjadi 1:10.000=0,1 mg/mL. Jika menginginkan pengenceran yang lebih, setiap konsentrasi yang ada ditambahkan dengan 9 mL akuades. Anestesi dalam Kedokteran Gigi Dalam kedokteran gigi dikenal dua tekhnik anestesi local yaitu: a. Anestesi infiltrasi Larutan anestesi didepositkan di dekat serabut terminal dari saraf dan akan terinfiltrasi di sepanjang jaringan untuk mencapai serabut saraf dan menimbulkan efek anestesi dari daerah terlokalisir yang disuplai oleh saraf tersebut. Teknik infiltrasi dibagi menjadi: 1. Suntikan submukosa Istilah ini diterapkan bila larutan didepositkan tepat di balik membrane mukosa. Walaupun cenderung tidak menimbulkan anestesi pada pulpa gigi, suntikan ini sering digunakan baik untuk menganestesi saraf bukal panjang sebelum pencabutan molar bawah atau operasi jaringan lunak. 2. Suntikan supraperiosteal Dengan cara ini, anestesi pulpa gigi dapat diperoleh dengan penyuntikan di sepanjang apeks gigi. Suntikan ini merupakan suntikan yang paling sering digunakan dan sering disebut sebagai suntikan infiltrasi. 3. Suntikan subperiosteal Teknik ini, larutan anestesi didepositkan antara periosteum dan bidang kortikal. Tekhnik ini digunakan apabila tidak ada alternative lain karena akan terasa sangat sakit. Tekhnik ini biasa digunakan pada palatum dan bermanfaat bila suntikan

supraperiosteal gagal untuk memberikan efek anestesi walaupun biasanya pada situasi ini lebih sering digunakan suntikan intraligamen. 4. Suntikan intraoseous Suntikan ini larutan didepositkan pada tulang medularis. Setelah suntikan supraperiosteal diberikan dengan cara biasa, dibuat insisi kecil melalui mukoperiosteum pada daerah suntikan yang sudah ditentukan untuk mendapat jalan masuk bur dan reamer kecil pada perawatan endodontic. Dewasa ini, tekhnik suntikan ini sudah sangat jarang digunakan. 5. Suntikan intraseptal Merupakan modifikasi dari tekhnik intraoseous yang kadangkadang digunakan bila anestesi yang menyeluruh sulit diperoleh atau bila dipasang gigi geligi tiruan imediat serta bila tekhnik supraperiosteal tidak mungkin digunakan. Tekhnik ini hanya dapat digunakan setelah diperoleh anestesi superficial. 6. Suntikan intraligamen atau ligament periodontal Jarum diinsersikan pada sulkus gingival dengen bevel mengarah menjauhi gigi. Jarum kemudian didorong ke membrane periodontal bersudut 30 terhadap sumbu panjang gigi. Jarum ditahan dengan jari untuk mencegah pembengkokan dan didorong ke penetrasi maksimal sehingga terletak antara akar-akar gigi dan tulang interkrestal. b. Anestesi regional (Fisher) Larutan anestesi yang didepositkan di dekat batang saraf akan melalui pemblokiran semua impuls, menimbulkan anestesi pada daerah yang disuplai oleh saraf tersebut. Anestesi ini dikenal sebagai anestesi regional atau anestesi blok. Walaupun teknik ini dapat digunakan pada rahang atas, teknik tersebut mempunyai manfaat khusus dalam kedokteran gigi yaitu untuk menganestesi mandibula. Penggunaan tekhnik infiltrasi pada mandibula umumnya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena densitas bidang kortikal luar dari tulang. Dengan mendepositkan larutan anestesi di ruang pterigomandibular di dekat foramen mandibula anestesi regional pada seluruh distribusi saraf gigi inferior pada sisi tersebut akan dapat diperoleh. 1.2.2 Antibiotik11 Antibiotik digunakan sebagai perlindungan profilaktik pada pasien yang secara medis membahayakan dan pada keadaan khusus,suatu perawatan tambahan infeksi periapikal akut atau infeksi periodontal. Antibiotika yang paling efektif digunakan pada endodontik darurat adalah penicilin. Cara kerjanya ialah dengan menghambat sintesis dinding sel pada waktu perkembangbiakan mikroorganisme.

1.

2.

3.

4.

Antibiotik lain adalah cephalexin (Keflex) 250-500 mg tiap 6 jam, clindamycin phospate (Cleocin HCL) 150-300 mg tiap 6 jam, tetracycline hydrochloride (Achromycin V) 250-300 mg tiap 6 jam. Penicilin VK Penicilin vk memiliki jajaran aktivitas mikroba yang relatif terbatas, dimana mikroba ini terdiri dari banyak bakteri penyebab infeksi dalam endodontik diantaranya bakteri fakultatif dan bakteri anaerob. Penicillin dapat menghalangi sintesa lengkap dan polimer ini yang spesifik bagi kuman disebut murein bila sel tumbuh dan plasmanya bertambah atau menyerap air dengan osmosis. Maka dinding sel yang tidak sempurna itu akan pecah dan bakteri musnah. Penicilin vk digunakan untuk terapi endoodontik karena keefektivannya dan toksisitasnya rendah. Dosis : 1000 mg 500 mg setiap 6 jam dalam jangka waktu 6-10 hari Indikasi : untuk semmua golongan, termasuk ibu hamil Efek samping : Reaksi alergi hipersensitivitas yang dapat menimbulkan shock gangguan- gangguan lambung, usus, (diare, mual, muntah). Dapat dicegah dengan probiotika. Tetrasiklin Merupakan obat pilihan untuk infeksi akibat bermacam-macam kuman terutama infeksi campuran. Indikasi : pada infeksi saluran nafas dan paru-paru, saluran kemih, kulit, dan mata. Kontra indikasi: wanita hamil dan anak- anak dibawah umur. Efek samping: tergolong obat aman, tapi kadang dapat memperburuk kondisi gagal ginjal yang sudah ada. Pada penggunaan oral sering terjadi gangguan lambung (mual, muntah). Efek serius yaitu dapat menyerap jaringan tulang dan gigi pada anak anak. Kulit menjadi merah dan gatal. Amoxicilin Amoxicilin meiliki spektrum yang aktivitasnya lebih luas dari penicilin vk yang didalamnya termasuk bakteri yang biasanya tidaak memisah dari infeksi endodontik. Amoxicilin menyerap lebih cepat dan membersihkan pertahanan serum yang lebih tinggi. Bagaimanapun spektrum yang lebih luas, amoxicilin akan terpilih untuk organisme yang bertahan lebih banyak, terutama dikawasan gastroin testinal. Dosis : 1000 mg 500 mg setiap 8 jam dalam jangka waktu 6-10 hari Claritrhomycin dan Azritromycin Clarithomycin dan azitromycin sangat efektif melawan spesies bakteri anaerob yang berhubungan dengan infeksi endodontik. Obatobatan ini mungkin dipertimbangkan untuk pasien yang alergi dengan penicilin. Dosis :

- Clarithomycin: 250 mg 500 mg setiap 12 jam antara 610 hari . - Azitromycin: 1 jam sebelum makaan dan 2 jam sesudah makan dengan dosis 500 mg di hari pertama dan 250 mg dihari-hari berikutnya. 5. Metronidazole Metronidazole adalah antimikroba yang sempurna dengan aktivitas melawan keras bakteri fakultatif. Obat ini dapat digaabungkan dengan penicilin, jika tidaak ada kemajuan dan tanda-tanda gejala semakin membaik dalam 2- 3 hari. Dosis : 250 mg 500 mg setiap 6 jam 6. Clindamycin Clindamycin diindikasikan untuk pasien yang mengalami infeksi serius dan alergi terhadap penicilin. Ini sangat efektive melawan bakteri fakultatif dan anaerob. Clindamycin disebarkan ke seluruh tubuh dan berpusat di tulang. Dosis : 150 mg 300 mg setiap 6 jam lam 6-10 hari. 1.2.3 Analgesik10 Analgesika adalah penghilang rasa sakit. Umumnya analgesika narkotik digunakan untuk menghilangkan rasa sakit berat dan akut dan analgesika non narkotik atau analgesika ringan digunakan untuk menghilangkan rasa sakit ringan sampai sedang.

Indikasi dan kontraindikasi Indikasi: Aspirin : nyeri kecil Ibuprofen : nyeri keci, nyeri sedang, nyeri berat. Acethaminophen : nyeri kecil, nyeri sedang, nyeri berat. Golongan salisilat : sakit gigi dan sakit kepala Paraminolfenol : sama dengan salisilat tetep untuk jangka pendek. Orhydrocodeine : nyeri berat. Kontra indikasi: Aspirin : ulserasi peptis, systemic steroid, tidak disarankan untuk anak-anak karena bisa menyebabkan Reyes syndrome. Paracetamol : penyakit jantung. Analgesik tidak di anjurkan secara continue. * Dosis Analgesik

Nama

Batas Dosis

Dosis

(non narkotik) Acimetaminophen Aspirin Diflunisal Diclofenol potasium Etodolac Fenoprofen Flurtiprofen Ibuprofen Ketorolac Naproxen Na Naproxen Ketaprofen Rofecoxib

Dagang Rylenol etal Naspro Dolobid Cataflam Lodine Nalfon Ansaid Motrin etal Toradol Anaprox etal Naprosyn Orudis Vioxx

(mg) 325-1000 325-1000 250-1000 50-100 200-400 200 50-100 200-400 10 (oral) 220-550 250-500 25-75 12,5-50

perhari (mg) 4000 4000 1500 150-200 1200 1200 200-300 2400 40 1650 1500 300 50

Opioid Analgesik Dosis (mg) Codeine 60 Oxycodone 5-6 Hydrocodone 10 Dhydrocodone 60 Propaxyphene 102 Proxyphene 146 Mependen 90 Tramadol 50 Penggunaan analgesik y nyeri ringan sampai sedang Tablet aspirin, 300 mg (1-3x, setiap 4-6 jam) Paracetamol tablet, 500 mg (1-2x, setiap 6 jam) Ibuprofen tablet, 600 mg (1-2x, setiap 4-6 jam) y nyeri sedang sampai berat Dihydrocodeine tablet, 30 mg (setiap 4-6 jam) setelah makan. y nyeri berat Tablet pethidine, 25 mg (2-4x, setiap 4 jam). y nyeri ringan atau kecil 200-400 mg ibuprofen, kalau ibuprofen diindikasikan, gunakan: 600-1000 acetaminophen. 650 mg aspirin. y nyeri sedang 600-800 mg ibuprofen 400 mg ibuprofen + analgesik combo = 60 mg codeine Kalau di kontraindikasikan yang di atas 600-1000 mg acetaminophen + opiate = 60 mg codeine

y nyeri berat 600-800 mg ibuprofen + analgesik combo = 10 mg oxycodone Jika di kontraindikasikan gunakan 1000 mg acetaminophen + apiate = 10 mg oxycodone Efek samping - Golongan pirazolon : agrunositosis dengan gejala demam tinggi, lemas, luka di tenggorokan. - Golongan asam organic lainnya; gangguan penecernaan hipertensi, dll. - Gangguan lambung, usus, kerusakan darah, kerusakan hati, dan ginjal serta reaksi alergi pada kulit, jika digunakan dalam jangka waktu panjang serta dosis yang tinggi. 1.2.4 NSAID 10 1. Non-Steroidal Anti Inflammatory Analgesic (NSAID) A. Mekanisme Kerja Efek terapi maupun efek samping obat-obat ini sebagian besar tergantung dari penghambatan biosintesis prostaglandin (PG). Mekanisme kerja yang berhubungan dengan system biosintesis PG ini mulai dilaporkan pada tahun 1971 oleh Vane dan kawan-kawan yang memperlihatkan secara in vitro bahwa dosis rendah aspirin dan indometasin menghambat produksi enzimatik PG. Penelitian lanjutan telah membuktikan bahwa PG akan dilepaskan bila sel mengalami kerusakan. Walaupun in vitro obat NSAID diketahui menghambat berbagai reaksi biokimiawi, hubungan dengan efek analgesik, antipiretik dan antiinflamasinya belum jelas. Obat NSAID secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien, yang diketahui ikut berperan dalam inflamasi. Golongan obat ini menghambat enzim siklo-oksigenase sehingga konversi asam arakidonat menjadi PGG2 terganggu. Setiap obat menghambat siklo-oksigenase dengan cara yang berbeda. Inflamasi Fenomena inflamasi ini meliputi kerusakan mikrovaskular, meningkatnya permeabilitas kapiler dan migrasi leukosit ke jaringan radang. Gejala proses inflamasi yang sudah dikenal ialah kalor, rubor, tumor, dolor, dan function laesa. Selama berlangsungnya fenomen inflamasi banyak mediator kimiawi yang dilepaskan secara local antara lain histamine, 5hidroksitriptamin (5HT), factor kemotaktik, bradikinin, leukotrien dan PG. Penelitian terakhir juga menunjukkan autakoid lipid PAF (platelet-activating factor) juga merupakan mediator inflamasi. Dengan migrasi sel fagosit ke daerah ini, terjadi lisis membrane lisozim dan lepasnya enzim pemecah. Obat mirip aspirin dapat

dikatakan tidak berefek terhadap mediator-mediator kimiawi tersebut kecuali PG. Secara in vitro terbukti bahwa prostaglandin E2 (PGE2) dan prostasiklin (PGI2 ) dalam jumlah nanogram, menimbulkan eritem, vasodilatasi dan peningkatan aliran darah local. Histamin dan bradikinin dapat meningkatkan permeabilitas vaskular, tetapi efek vasodilatasinya tidak besar. Dengan penambahan sedikit PG, efek eksudasi histamine plasma dan bradikinin menjadi lebih jelas. Migrasi leukosit ke jaringan radang merupakan aspek penting dalam proses inflamasi. PG sendiri tidak bersifat kemotaktik, tetapi produk lain dari asam arakidonat yakni leukotrien B4 merupakan zat kemotaktik yang sangat poten. Obat mirip aspirin tidak menghambat system hipoksigenase yang menghasilkan leukotrien sehingga golongan obat ini tidak menekan migrasi sel. Walaupun demikian pada dosis tinggi terlihat juga penghambatan migrasi sel tanpa mempengaruhi enzim lipoksigenase. Obat yang menghambat biosintesi PG maupun leukotrien tentu akan lebih poten menekan proses inflamasi. Rasa Nyeri PG hanya berperan pada nyeri yang berkaitan dengan kerusakan jaringan atau inflamasi. Penelitian telah membuktikan bahwa PG menyebabkan sensitisasi reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi. Jadi PG menimbulkan keadaan hiperalgesia, kemudian mediator kimiawi seperti bradikinin dan histamine merangsangnya dan menimbulkan nyeri yang nyata. Obat mirip aspirin tidak mempengaruhi hiperalgesia atau nyeri yang ditimbulkan oleh efek langsung PG. Ini menunjukkan bahwa sintesis PG yang dihambat oleh golongan obat ini, dan bukannya blockade langsung. B. Efek Farmakodinamik Semua obat mirip aspirin bersifat antipiretik, analgesik, dan anti-inflamasi. Ada perbedaan aktivitas di antara obat-obat tersebut, misalnya parasetamol (asetaminofen) bersifat antipiretik dan analgesic tetapi sifat anti-inflamasinya lemah sekali. Efek Analgesik Sebagai analgesik, obat mirip aspirin hanya efektif terhadap nyeri dengan intensitas rendah sampai sedang misalnya sakit kepala, mialgia, artralgia dan nyeri lain yang berasal dari integument, juga efektif terhadap nyeri yang berkaitan dengan inflamasi. Efek analgesiknya jauh lebih lemah daripada efek analgesic opiate. Tetapi berbeda dengan opiate, obat mirip aspirin tidak menimbulkan ketagihan dan tidak menimbulkan efek samping sentral yang merugikan. Obat mirip aspirin hanya mengubah persepsi modalitas sensorik nyeri, tidak mempengaruhi sensorik lain. Nyeri akibat terpotongnya saraf aferen, tidak

teratasi dengan obat mirip aspirin. Sebaliknya nyeri kronis pasca bedah dapat diatasi oleh obat mirip aspirin. Efek Antipiretik Sebagai antipiretik, obat mirip aspirin akan menurunkan suhu badan hanya pada keadaan demam. Walaupun kebanyakan obat ini memperlihatkan efek antipiretik in vitro, tidak semuanya berguna sebagai antipiretik karena bersifat toksik bila digunakan secara rutin atau terlalu lama. Efek Anti-Inflamasi Kebanyakan obat mirip aspirin, terutama yang baru, lebih dimanfaatkan sebagai anti inflamasi pada pengobatan kelainan musculoskeletal, seperti arthritis rheumatoid, osteoarthritis dan spondilitis ankilosa. Tetapi harus diingat bahwa obat mirip aspirin ini hanya meringankan gejala nyeri dan inflamasi yang berkaitan dengan penyakitnya secara somtomatik, tidak menghentikan, memperbaiki atau mencegah kerusakan jaringan pada kelainan muskuloskeletal ini. C. Efek Samping Selain menimbulkan efek terapi yang sama obat mirip aspirin juga memiliki efek samping serupa, karena didasari oleh hambatan pada sistem biosintesis PG. Selain itu kebanyakan obat bersifat asam sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam seperti di lambung, ginjal dan jaringan inflamasi. Jelas bahwa efek obat maupun efek sampingnya lebih nyata di tempat dengan kadar yang lebih tinggi. Efek samping yang paling sering terjadi adalah induksi tukak lambung atau tukak peptic yang kadang-kadang disertai anemia sekunder akibat perdarahan saluran cerna. Beratnya efek samping ini berbeda-beda pada masing-masing obat. Efek samping lain adalah gangguan fungsi trombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2 (TXA2 ) dengan akibat perpanjangan waktu perdarahan. Penghambatan biosintesis PG di ginjal, terutama PGE2, berperan dalam gangguan homeostasis ginjal yang ditimbulkan oleh obat mirip aspirin ini. Pada orang normal gangguan ini tidak banyak mempengaruhi fungsi ginjal. Tetapi pada penderita hipovolemia, sirosis hepatis yang disertai asites dan penderita gagal jantung, alir darah ginjal dan kecepatan filtrasi glomeruli akan berkurang, bahkan dapat terjadi gagal ginjal.