Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan Oleh : Diny Gustini Pada praktikum ini dilakukan perawatan saluran pipa dengan menggunakan metoda pigging.

Pigging merupakan suatu metoda perawatan saluran perpipaan denganmemasukkan suatu alat yang dinamakan pig tanpa memberhentikan aliran fluidasaat proses sedang berlangsung. Istilah pig ini digunakan karena pada saat pig diluncurkan dalam sistem perpipaan, suara yang dikeluarkan yaitu menguik seperti suara babi (Wikipedia,2008). Ada beberapa jenis pig yang dapat digunakan pada perawatan saluran perpipaan seperti, sphere pig, bi-directional pig, foam pig, dan brush pig. Pada praktikum ini digunakan pig jenis foam pig. Foam pig ini biasanya digunakan untuk kotoran kotoran yang berbentuk liquid pada pipa atau untuk mengeringkan pipa. Foam pig tidak cocok digunakan untuk membersihkan kerak - kerak yang menempel pada pipa karena akan menyebabkan kerusakan pada foam pig nya itu sendiri. Dalam penggunaannya foam pig dapat diselimuti dengan polyurethane (polly-pig). Dalam operasinya pig ini dimasukkan ke dalam pig launcher , dimana pada pig launcher ini kemudian diberi tekanan agar pig dapat meluncur melewati sistem perpipaan yang akhirnya berujung pada pig receiver , yaitu penerima pig pada akhir sistem perpipaan. Metoda pigging tidak dapat dilakukan untuk sistem perpipaan yang menggunakan komponen butterfly valve, tetapi cocok untuk sistem perpipaan dengan menggunakan komponen ball valve, karena diameter dalam dari ball valve memiliki diameter yang sama dengan diameter saluran perpipaan. Percobaan pertama yang dilakukan adalah penentuan kecepatan udara yang diperlukan untuk mendorong pig dari pig launcher hingga memasuki pig receiver. Selain itu, diperoleh juga kecepatan udara yang dibutuhkan pig untuk meluncur hingga ke main line, data ini akan digunakan di percobaan selanjutnya. Berdasarkan data yang telah diperoleh kecepatan udara yang dibutuhkan untuk pig mencapai main line adalah 13,6 km/h. Pig yang digunakan pada percobaan pertama ini adalah pig dengan kode B1. Selanjutnya dilakukan perhitungan waktu yang dibutuhkan pig untuk mencapai pipa lurus, pipa elbow 45o, pipa elbow 90o, dan pipa u-turn. Dari data yang diperoleh dapat diketahui bahwa pig membutuhkan waktu yang paling sedikit saat melewati pipa elbow 90o, yaitu sekitar 0,2 detik. Percobaan terakhir yang dilakukan adalah menguji karakteristik pig dengan melewatkannya pada pipa lurus saja yang kemudian diberikan sedikit air kran terlebih dahulu. Pada percobaan ini digunakan 5 buah pig dengan kode a3, a4,a5,a6, dan a7. Digunakan pula kecepatan udara yang berbeda beda. Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditentukan pig mana saja yang efektif untuk digunakan saat perawatan saluran pipa. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah air yang terserap atau dari jumlah air yang tertinggal di pipa. Dari kelima pig yang digunakan, pig a4 dan a5 memiliki efisiensi yang kurang bagus karena berat air yang masih tertinggal di pipa cukup besar, yaitu 3,7 gr dan 3,5 gr. Hal tersebut menandakan bahwa pada saat operasi pig tidak bekerja dengan benar melainkan hanya mendorong air yang ada pada pipa atau bisa jadi pig hanya melewati pipa begitu saja tanpa membersihkannya. Selain karakteristik pig, besar kecepatan udara yang digunakan juga seharusnya berpengaruh terhadap berat air yang terserap ataupun berat air yang tertinggal. Semakin besar kecepatan udara

seharusnya berat air yang terserap semakin kecil karena pig akan lebih cepat terdorong dan cenderung hanya melewati pipa begitu saja. Akan tetapi, pada percobaan yang dilakukan nilai berat air yang terserap fluktuatif. Hal tersebut dapat terjadi karena kondisi atau karakteristik pig itu sendiri yang berbeda beda, seperti berat dari pig itu sendiri, dengan berat pig yang berbeda beda nilai berat air yang terserap tidak dapat dibandingkan karena berarti disini kedua variabel baik kecepatan udara maupun berat pig tidak ada yang tetap.