Anda di halaman 1dari 7

Pandangan Marxisme dalam Antropologi Ekonomi

Sejarah singkat kehadiran pemikiran Marx dalam antropologi


Gagasan Karl Marx untuk menerangkan kehidupan sosial yang didasarkan pada asumsi dasar bahwa pangkal gejala sosial adalah ekonomi, memunculkan pemikiran pada ahli-ahli antropologi untuk menggunakan gagasan Marx untuk menerangkan ekonomi. Antropologi ekonomi Marx mulai berkembang di eropa daratan, perancis, dan Eropa Kepulauan serta Inggris pada dasawarsa 60-an. Kehadirannya bermula di Perancis yang selanjutnya menyebar ke Inggris dan daerah-daerah lain. Kehadirannya di Perancis dipelopori oleh Godelier, Althusser dan Balibar, Philipe Ray, Meillasoux dan Maurice Bloch dan berkembang di Inggris melalui Rosemary Crompton dan John Gubbay, john Clammer, Ronal Frakenberg dan Joel Kahn. Kehadirannya berawal dari kekecewaan banyak ahli karena hasil-hasil yang dimunculkan studi ekonomi klasik yang sering dimunculkan para pemikir formal yang memimpin pada berbagai universitas di dunia. Para penganut antropologi ekonomi Marxis atau antropologi ekonomi baru memandang bahwa antropologi ekonomi klasik telah gagal mengemban misi mempelajari kehidupan ekonomi masyarakat manusia. Mereka berpendapat bahwa kegagalan antropologi ekonomi klasik disebabkan oleh 2 faktor, yaitu : 1. Pemilihan problem studi yang tidak tepat 2. Langkah teorisasi dari problem studi tadi yang kurang tepat Antropologi ekonomi seperti diperlakukan hanya sebagai operasionalisasi teori-teori ekonomi dalam studi-studi masyarakat. Lahirnya antropologi ekonomi marxis ini karena pandangan Marx dinilai memiliki persamaan pandangan yang mendasar dengan substantivis mengenai ekonomi, bahwa ekonomi adalah gejala yang menyatu dengan sistem sosial. Menurut Marx, harga barang bukan ditentukan oleh penawaran dan permintaan melainkan oleh kehadiran surplus value atau nilai lebih yang dinikmati pemilik modal. Atau menurut

marx, harga dideterminasi oleh hubungan-hubungan sosial yang ada di dalam suatu sistemproduksi, bukan oleh mekanisme pasar atau mekanisme ekonomi. Hal inilah yang cocok dengan pandangan Polanyi bahwa ekonomi merupakan gejala yang menyatu dengan sistem sosial.

Antropologi Ekonomi dan Marxisme Meskipun lahir melalui pandangan Marx, namun pada perkembangannya mengalami pecahan menjadi tiga kelompok. Aliran pertama dipimpin oleh Althusser, yaitu aliran antropologi Marxis. Aliran kedua dikenal sebagai struktural Marxis dan dipelopori oleh Maurice Godelier. Dan yang ketiga diberi label sebagai Marxis keras atau Vulgar Marxism. Namun, diantara berbagai pandangan, terdapat beberapa dasar pemikiran yang menjadi ciri pokok bersama, yaitu : 1. Pendekatan ini dibangun sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap antropologi klasik yang meyakini bahwa teori-teori pada sistem ekonomi liberal dapat dioperasikan pada seluruh tipe ekonomi.
2. Sikap yang sama yang memandang bahwa dasar-dasar teori yang dapat digunakan

adalah pendapat-pendapat Karl Marx pada buku Das Capital dan karya-karya berikutnya, sedangkan karya-karya sebelumnya dianggap belum bisa mewakili pandangan Marxisme. 3. Para pemikir sependapat bahwa ko-eksistensi sebagai bentuk mode produksi dalam kehidupan masyarakat, dan salah satu mode produksi itu tampil sebagai yang dominan. 4. Umumnya mereka cukup repot dalam mendefinisikan konsep mode produksi guna mempertajam alat analisis. 5. Mereka percaya pada teori substantivis bahwa produksi materi pada massyarakat tradisional. 6. Setelah mengasumsi bahwa pada masyarakat sederhana produksi barang dan jasa melekat dengan institusi reproduksi biologis baru kemudian mencoba membagun teori yang lebih besar mengenai suksesi mode produksi.

7. Antropologi, dalam pandangan mereka haruslah menjadi ilmu sejarah dengan alasan bahwa selalu struktur sosial selalu dinamis dan data terkumpul di dalam sejarah. 8. Menyatakan bahwa antropologi tidak pernah bebas dari ideologi. A. Struktural Marxisme Tokohnya adalah Maurice Godelier, ia memandang studi antropologi ekonomi harus diarahkan pada pembongkaran deep meaning, makna tersembunyi dari gejala ekonomi, yang barangkali bisa menunjukkan sesuatu yang justru bertolak belakang dengan gejala yang tampak pada penampakan luar. Hal ini penting karena penampakan luar yang biasanya menjadi sasaran riset penganut empirisme cenderung menyesatkan. Dengan berdasarkan pada pandangan Marx dan dari gurunya sendiri yaitu Claude Levi-Strauss, bahwa pendekatan Marxisme dan strukturalisme memiliki satu pemikiran yang amat mendasar. Dimana keduanya sama-sama mengarahkan analisis pandangan pada pencarian deep meaning, makna tersembunyi. Pendekatan ini pada intinya melanjutkan pandangan Marx mengenai determinisme infrastruktur, mode produksi, terhadap tata kehidupan sosial manusia, tetapi proses penjelasannya dicari dengan metode strukturalisme Levi-Strauss. Dalam pandangan Godelier, agar fakta-fakta etnografis mengenai determinisasi struktur sosial dapat diterangkan, maka harus dibedakan antara dominasi dan determinasi. Dominasi merupakan gejala permukaan yang tampak secara empiris namun tidak memberitahu mengenai apa yang ada dan apa yang terjadi pada suatu gejala. Analisis yang dilakukan haruslah pada pencarian deep meaning, pada tingkat inilah dapat ditemukan determinasi infra-struktur yaitu bagaimana kondisi mode produksi mempengaruhi kondisi struktur sosial dan infrastruktur kebudayaan masyarakat tersebut. Dengan berdasar pada pendapat Godelier, tugas antropologi ekonomi baru adalah : 1. Menganalisa aspek-aspek eksternal dan internal gejala ekonomi 2. Membedah isi domain ekonomi agar terbuka jalan untuk melihat aspek kehidupan sosial lainnya, sehingga 3. Dapat diketemukan makna tersembunyi dari gejala ekonomi yang justru tidak tersimpan pada gejala tersebut.

B. Neo Marxis
Istilah ini untuk menyebutkan pandangan yang berada di luar pemikiran struktural marxis. Hal yang dapat disebut sebagai ciri kelompok ini adalah : 1. Topik studi yang dpilih umumnya berputar disekitar masalah eksploitasi, kemiskinan, dan ketimpangan sosial 2. Pangkal dari gejala ini adalah ajaran Marx mengenai kelas sosial dan eksploitasi kelas, sehingga menjangkau hubungan antar kelas, golongan umur, jenis kelamin, dan antar negara. 3. Mewarisi pemikiran Marx yang bersifat total dan material Beberapa topik di dalamnya: - Mode produksi dominan Salah satu pembahasan adalah hasil dari Kahn, ia mengembangkan pembahasan berdasarkan satu tesis bahwa mode produksi di kalangan peasant akan berubah-ubah sesuai dengan kondisi lingkup sosial yang lebih besar, bervariasi mengikuti interaksi dengan mode produksi lain yang peredarannya lebih dominan. -Mode produksi non-kapitalis Bloch memandang bahwa untuk mengidentifikasi sifat kepemilikan pada masyarakat, para ahli antropologi sepakat akan dua hal bahwa : 1. Hubungan kepemilikan adalah sifat dasar dari hubungan sosial pada semua masyarakat manusia. 2. Pada masyarakat pra-industrisal hubungan kepemilikan ditampilkan sebagaimana hubungan tersebut dimaksudkan

C. Kultural Materialisme
Tokoh utamanya adalah Marvin Harris. Pendekatan ini dibangun berdasarkan doktrin determinisme infra-struktur dari Marx. Pendekatan ini dirancang untuk menerangkan keseluruhan gejala kebudayaan dan bukan hanya ekonomi di dalam kebudayaan. Namun, karena dibangun berdasarkan konsep determinisasi infra-struktur yang dasarnya adalah ekonomi, maka pendekatan ini juga menjadi ekonomistis bahkan reduksi ekonomi. Reduksi ekonomi ini dapat diartikan sebagai pandangan yang menerangkan bahwa semua bagian kebudayaan, dari sistem produksi, kekerabatan, agama, ideologi politik, pada dasarnya menjalankan fungsi-fungsi ekonomi. Dalam pandangan Harris, gejala kebudayaan merupakan gejala yang melekat dengan diri manusia yang selalu memegang posisi ganda sebagai subyek bagi dirinya dan obyek bagi orang lain. Pendekatan ini diarahkan pada gejala kebudayaan yang bersifat behavioral etic, perilsku nysts ysng diamati dari sudut pandang si peneliti. Harris juga melihat sistem sosial manusia sebagai gabungan dari berbagai struktur, maun ia membaginya menjadi tiga, yaitu infrastruktur, struktur, dan super-struktur. Struktur sosial budaya dalam pandangan Harris adalah penataan individu-individu warga suatu masyarakat ke dalam organisasi yang berfungsi untuk pelaksanaan proses produksi, distribusi, konsumsi, dan proses reproduksi.

Kuis ke-3

Tugas Antropologi Ekonomi

Pandangan Marxisme dalam Antropologi Ekonomi

Nama : Nelson Perdy Noveri NIM : 080905013

Siahaan

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL POLITIK UNIVERSITAS SUMATRA UTARA MEDAN 2011

Anda mungkin juga menyukai