Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kondisi kesehatan sebuah perusahaan merupakan hasil interaksi kinerja manajemen dalam mengelola dana dengan kondisi lingkungan usaha perusahaan. Lingkungan perusahaan merupakan keseluruhan dari faktor-faktor di luar perusahaan yang berpengaruh terhadap perusahaan baik organisasi maupun kegiatannya. Lingkungan perusahaan dibedakan menjadi dua, yaitu lingkungan umum (politik, hukum, sosial, perekonomian, kebudayaan, pendidikan, teknologi, dan demografi) dan lingkungan khusus (supplier, pelanggan, pesaing, teknologi, dan sosio politik). Tujuan perusahaan tidak hanya sekedar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tetapi juga memberikan kesejahteraan bagi lingkungannya, dan untuk mencapai tujuannya tersebut, perusahaan perlu menerapkan strategi yang tepat. Dalam menerapkan strategi perusahaan perlu mengevaluasi faktor-faktor kekuatan dan kelemahan yang ada di perusahaan serta melihat kesempatan dan ancaman yang ada. Porter (1991) dalam Wardhani (2006) menyatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan suatu perusahaan kemungkinan disebabkan oleh strategi yang diterapkan oleh perusahaan. Kesuksesan suatu perusahaan banyak ditentukan oleh karakteristik strategis dan manajerial perusahaan tersebut. Perusahaan akan berusaha melakukan berbagai strategi yang tepat agar perencanaan perusahan sesuai dengan kebijakan perusahaan yang memungkinkan target yang hendak di capai sesuai dengan yang telah direncanakan. Segala upaya yang dilakukan dalam meraih tujuan suatu perusahaan harus dengan efektivitas penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien seiring berkembangnya perusahaan maka akan meningkat pula kegiatan dalam perusahaan tersebut. Perusahaan yang besar membutuhkan organisasi yang bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan, mengawasi, serta mengevaluasi kinerjanya agar dapat mencapai tujuan umum perusahaan tersebut. karena hal tersebut kegiatan manajemen akan semakin kompleks pula kegiatannya antara lain adalah perencanaan dan pengendalian. Perencanaan maksudnya untuk menetapkan arah yang dituju perusaan dan cara untuk mencapai tujuan itu, pengendalian adalah proses teratur yang membantu perusahaan dalam melaksanakan rencana untuk meraih tujuan sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan tersebut.

Kinerja suatu perusahaan merupakan hal yang paling pokok didalam menjalankan bisnis, sebab dengan kinerja yang baik dapat menunjukkan keberhasilan perusahaan didalam menjalankan kegiatan bisnis. Dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan usaha, salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan adalah bagaimana untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi perusahaan. Tantangan ini selalu ada karena manajemen perusahaan memerlukan sumber daya untuk mencapai tujuan perusahaan, tetapi manajemen harus menghadapi situasi kelangkaan sumber daya (scarce of resources). Kenyataannya kelangkaan sumberdaya yang terjadi dalam perusahaan menjadikan

lemahnya pengendalian internal yang memungkinan terjadinya penggerapan keuangan oleh karyawan. Apa yang dibutuhkan perusahaan adalah kemampuan manajemen dalam pengendalian internal yang sehat sehingga mampu menunjukkan kinerja perusahaan yang baik. Salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut adalah dengan menggunakan suatu instrumen yang disebut audit. Oleh sebab itu, kami mencoba menyusun sebuah makalah yang berkaitan dengan audit manajemen atas fungsi produksi dalam rangka mengevaluasi atas kinerja perusahaan. Selain itu, penyusunan makalah ini merupakan bagian dari pemenuhan tugas mata kuliah Manajemen Audit.

B. Identifikasi Masalah Penyebab memburuknya kinerja perusahaan adalah lemahnya pengendalian internal perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan perusahaan untuk mengantisifasi atau menemukan penyebab kelemahan tersebut adalah dengan melakukan pemeriksaan (auditing). Audit merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh serta

mengevaluasi bukti secara objekti mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Jenis pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menilai kinerja perusahaan adalah Audit management ( Pemeriksaan manajemen)

C. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulisan makalah ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: A. Apa yang dimaksud dengan Manajemen Audit Manajemen? B. Apa yang dimaksud dengan audit fungsi produksi?

4. Maksud dan Tujuan Adapun makud dan tujuan penulisan makalah adalah : A. Memaparkan Audit Manajemen; B. Menjelaskan audit fungsi produksi;

5. Manfaat Mahasiswa pada khususnya kami yang menuyusun makalah ini dapat mengetahui dan memahami Audit manajemen terutama audit manajemen atas fungsi produksi.

6.

Metode Pengumpulan Data Untuk mempermudah penyusunan makalah ini, kami menerapkan metode deskriptif

dan studi literatur yaitu dengan memaparkan dan menggambarkan dengan memperoleh data-data yang diperlukan dari literatur atau sumber bacaan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Audit Manajemen a. Definisi Audit manajemen Audit manajemen seringkali diartikan sama dengan audit operasional. Pengertian sederhana dari audit manajemen adalah investigasi dari suatu organisasi dalam semua aspek kegiatan manajemen dari yang paling tinggi sampai dengan ke bawah dan pembuatan laporan audit mengenai efektifitasnya atau dari segi profitabilitas dan efisiensi kegiatan bisnisnya. Sedangkan pengertian sederhana audit operasional adalah uraian aktifitas perusahaan yang sistematis dalam hubungannya dengan tujuan untuk melihat,mengidentifikasikan peluang perbaikan, atau mengembangkan rekomendasi untuk perbaikan. Jelas kedua pengertian serupa karena pemeriksaan manajemen dilakukan saat manajemen beroperasi. Pengertian manajemen audit tersirat dalam definisi kalangan akademisi. Berikut beberapa definisi menurut Holmes dan Overmyer (1975) : The management audit means the examination and evaluation of all information gathering functions and all phases of management functions and activities, in order to ascertain if operating are conducted in a effective and efficient manner. Definisi di atas dalam terjemahannya sebagai berikut : Manajemen audit mencakup penelitian dan evaluasi atas semua fungsi dari Manajemen, untuk memastikan bahwa pelaksanaan operasi perusahaan telah dijalankan dengan cara yang efektif dan efisien. American Institute of Certified Public Accountant /AICPA : Management audit is a systematic review of an organizations activities or of a stipulated segment of them, in relation to specified objectives for the purpose of : y Assesing performance y Identifying opportunities for improvement y Developing recommendations for improvement or further action Definisi tersebut dalam terjemahannya adalah pemeriksaan manajemen adalah suatu penelaahan yang sistematis terhadap aktivitas suatu organisasi, atau suatu segmen tertentu daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu, dengan maksud untuk : y Menilai kegiatan; y Mengidentifikasikan berbagai kesempatan untuk perbaikan;

y Mengembangkan rekomendasi bagi perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Dari pengertian diatas audit manajemen dirancang secara sistematis untuk mengaudit aktivitas, program-program, yang diselenggarakan, atau sebagian dari entitas yang bisa diaudit untuk menilai dan melaporkan apakah sumber daya dan dana telah digunakan secara efesien, serta apakah tujuan dari program dan aktivitas yang telah direncanakan dapat tercapai tidak melanggar ketentuan aturan dan kebijakan yang telah ditetapkan perusahaan.

b. Tujuan Audit Manjemen Hamilton (1986:1) tujuan dari management audit secara keseluruhan adalah untuk mengevaluasi efisiensi dan efektifitas dari organisasi. Evaluasi ini bisa dilakukan pada perusahaan secara keseluruhan atau dibatasi pada lingkup departemen atau fungsi tertentu dalam organisasi. Evaluasi terhadap kinerja perusahaan ini dilakukan terhadap standar yang dibuat oleh manajemen atas dan pada saat yang sama digunakan untuk menilai keefektifan dari standar-standar dan kebijakan-kebijakan tersebut. Ramanathan (1990:300) mengatakan bahwa management audit berkaitan dengan audit efisiensi dimana tujuan utama dari audit efisiensi ini adalah untuk memastikan bahwa tiap unit mata uang diinvestasikan dalam modal atau tempat lain yang memberikan pengembalian yang optimum dan bahwa perencanaan investasi antara berbagai fungsi dan aspek yg berbeda dirancang untuk memberikan hasil yang optimum. Tujuan management audit menurut Agoes (1996:173) adalah sebagai berikut : 1. Untuk menilai kinerja (performance) dari manajemen dan berbagai fungsi dalam perusahaan. 2. Untuk menilai apakah berbagai sumberdaya (manusia mesin dana harta lainnya) yg dimiliki perusahaan telah digunakan secara efisien dan ekonomis. 3. Untuk menilai efektifitas perusahaan dalam mencapai tujuan (objective) yang telah ditetapkan oleh top management. 4. Untuk dapat memberikan rekomendasi kepada top management dalam memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam penerapan struktur pengendalian intern sistem pengendalian manajemen dan prosedur operasional perusahaan dalam rangka meningkatkan efisiensi keekonomisan dan efektifitas dari kegiatan operasi perusahaan.

c. Manfaat Audit Manajemen Siagian (2001:13) mengatakan bahwa kalangan manajemen menunjukkan sambutan terhadap perkembangan management audit karena jika digunakan dengan tepat maka management audit bisa memberi manfaat yang besar yaitu: 1. Memungkinkan manajemen mengidentifikasikan kegiatan operasional dalam

perusahaan yang tidak memberikan kontribusi dalam perolehan keuntungan. 2. Membantu manajemen dalam peningkatan produktifitas kerja dari berbagai komponen organisasi. 3. Memungkinkan manajemen mengidentifikasikan hambatan dan kendala yang dihadapi dalam mengkoordinasikan berbagai kegiatan dan mengambil langkah strategik untuk mengatasi dan menghilangkannya. 4. 5. 6. Memantapkan penerapan pendekatan kesisteman dalam menjalankan roda organisasi. Memungkinkan manajemen pada berbagai tingkat menentukan strategi yang tepat. Membantu manajemen merumuskan pedoman teknis operasional bagi para pelaksana berbagai kegiatan dalam perusahaan yang akan membantu para tenaga kerja operasional melakukan kegiatan masing-masing dengan tingkat efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi. 7. Mengidentifikasikan dengan tepat berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi dalam manajemen sumber daya manusia. 8. Membantu manajemen menilai perilaku bawahan dalam menyediakan informasi bagi pimpinan sesuai dengan kebutuhan pimpinan pada berbagai hierarki perusahaan. Berikut adalah beberapa manfaat management audit menurut Tunggal (2003:14) yaitu: 1. Memberi informasi operasi yang relevan dan tepat waktu utuk pengambilan keputusan. 2. 3. Membantu pengendalian. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan manajerial yang ditetapkan rencana-rencana prosedur serta persyaratan peraturan pemerintah. 4. Mengidentifikasi area masalah potensial pada tahap dini utuk menentukan tindakan preventif yang akan diambil. 5. Menilai ekonomisasi dan efisiensi penggunaan sumber daya termasuk memperkecil pemborosan. 6. Menilai efektivitas dalam mencapai tujuan dan sasaran perusahaan yang telah ditetapkan. manajemen dalam mengevaluasi catatan laporan-laporan dan

7.

Menyediakan tempat pelatihan untuk personil dalam seluruh fase operasi perusahaan.

d. Jenis audit manajemen berdasarkan fungsi manjemen 1. Audit Manajemen Fungsi Keuangan. Fungsi keuangan merupakan satuan kerja yang menangani keuangan dalam perusahaan, yang mengumpulkan, mencatat, menganalisis, dan memantau beraneka ragam data yang diperolehnya dari berbagai satuan dan bidang fungsional lainnya dalam perusahaan, baik bidang fungsional yang bersifat kegiatan pokok maupun yang bersifat penunjang. Fungsi keuangan mempunyai peranan yang sangat penting dan strategik dalam kehidupan perusahaan, ditinjau dari sudut pandang pencapaian sasaran jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang, yang meliputi perolehan keuntungan, pertumbuhan, dan perluasan usaha. Auditor manajemen harus memperhatikan 4 objek audit dalam pelaksanaan auditnya agar audit manajemen fungsi keuangan dapat mencapai sasarannya, yaitu berikut ini. 1. 2. 3. 4. Sasaran finansial perusahaan. Perencanaan keuangan. Organisasi. Pengawasan.

2. Audit Manajemen Fungsi Pemasaran. Audit manajemen fungsi pemasaran merupakan seluruh upaya penelitian yang dilakukan terhadap aktivitas manajemen pemasaran untuk mencari, menemukan, dan mengevaluasi fakta tentang sejauh mana manajemen pemasaran berhasil memberikan dukungan kepada berbagai satuan kerja pelaksana tugas pokok dalam perusahaan. Audit manajemen fungsi pemasaran bertujuan untuk memastikan bahwa fungsi pemasaran telah menjalankan fungsinya dengan baik, efektif, dan efisien serta memberikan dukungan yang maksimal terhadap pencapaian tujuan perusahaan yang memungkinkan terwujudnya peningkatan efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi perusahaan. Lingkup audit manajemen fungsi pemasaran agar audit dapat mencapai sasaran meliputi: 1. 2. 3. keterkaitan dengan strategi perusahaan; penyelenggaraan seluruh fungsi dan aktivitas manajemen pemasaran; kepuasan para pelanggan perusahaan.

4.

Audit manajemen fungsi pemasaran biasanya berkonsentrasi pada dua area dalam mereviu keseluruhan proses pemasaran, yaitu area keuangan dan area operasional.

3.

Audit Manajemen Fungsi Sumber Daya Manusia. Audit manajemen fungsi sumber daya manusia adalah seluruh upaya penelitian yang

dilakukan terhadap aktivitas manajemen sumber daya manusia untuk mencari, menemukan, dan mengevaluasi fakta tentang sejauh mana manajemen berhasil memberikan dukungan kepada berbagai fungsi pelaksana tugas pokok perusahaan. Audit manajemen fungsi sumber daya manusia bertujuan untuk memastikan bahwa fungsi sumber daya manusia telah berjalan dengan baik, efektif, dan efisien serta memberikan dukungan yang maksimal terhadap pencapaian tujuan perusahaan yang memungkinkan terwujudnya perusahaan. Karakteristik audit manajemen fungsi sumber daya manusia adalah berikut ini. 1. Seluruh kegiatan audit manajemen fungsi sumber daya manusia dalam suatu perusahaan diarahkan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi perusahaan secara keseluruhan. 2. Manajemen puncak sebagai pihak yang menentukan cakupan audit harus menentukan dari awal apakah audit manajemen fungsi sumber daya manusia mencakup seluruh perusahaan atau hanya komponen-komponen tertentu di dalamnya, misalnya komponen yang dianggap sedang bermasalah atau yang memerlukan perbaikan kinerja. 3. Setiap manajer dalam semua bidang sebenarnya adalah manajer sumber daya manusia karena setiap manajer memimpin orang-orang maka sangat penting untuk melibatkan manajer sebagai sasaran audit. Hal ini diperlukan, antara lain untuk meneliti sampai sejauh mana manajer mampu menerapkan berbagai kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen sumber daya manusia dalam bidang yang dipimpinnya. 4. Hasil audit manajemen fungsi sumber daya manusia akan dimanfaatkan oleh banyak pihak seperti manajemen puncak, para manajer bidang fungsional, manajer di fungsi sumber daya manusia, para supervisor, dan bahkan dapat dimanfaatkan oleh semua pelaksana kegiatan teknis dan operasional di perusahaan. peningkatan efektivitas, efisiensi, dan ekonomisasi

4.

Audit Manajemen Fungsi Pembelian. Audit manajemen fungsi pembelian harus dilakukan dengan optimal untuk

memastikan agar kegiatan operasional perusahaan tidak sampai terhenti yang akan berakibat negatif bagi perusahaan secara keseluruhan. Terdapat 4 sasaran audit manajemen pada fungsi pembelian, yaitu berikut ini. 1. 2. 3. 4. Sasaran strategik fungsi pembelian. Perencanaan operasional/induk. Tipe dan struktur organisasi pembelian. Mekanisme pengendalian pembelian. Hasil audit manajemen fungsi pembelian adalah laporan yang berisi temuan-temuan berupa ketidaksesuaian dengan prosedur, penyalahgunaan wewenang, penyimpangan sistem, dan sebagainya yang perlu diperbaiki oleh perusahaan dan juga rekomendasi yang perlu dilaksanakan manajemen untuk memperbaiki temuan-temuan tersebut sehingga di masa depan dapat diminimalkan atau dihilangkan. Melalui audit manajemen fungsi pembelian, tanggung jawab fungsi pembelian dapat diwujudkan dengan baik, efektif, dan efisien. Tanggung jawab itu setidaknya meliputi 2 hal sebagai berikut. 1. Penanganan informasi oleh fungsi pembelian telah dilakukan dengan benar. Berbagai catatan yang akurat, seperti catatan mengenai proses pembelian yang pernah dilakukan sebelumnya, daftar pemasok ataupun proses pengiriman disimpan dan dimanfaatkan dengan baik. 2. Proses pengadaan barang dan jasa telah dilakukan dengan baik, seperti melalui pengawasan terhadap permintaan barang/jasa, diupayakan lebih dari satu penawaran yang diterima oleh perusahaan, analisis seluruh penawaran yang masuk sampai dengan proses penerbitan PO, penerimaan barang, dan penyelesaian pembayaran faktur.

5.

Audit Manajemen Fungsi Produksi. Audit manajemen terhadap fungsi produksi melibatkan dua bagian besar, yaitu audit

operasional perencanaan produksi dan audit keuangan perencanaan produksi. Hal-hal yang perlu diaudit dalam fungsi produksi, antara lain meliputi: 1. penyimpanan bahan dan peralatan di gudang dilakukan secara efisien dan tidak mengganggu kelancaran proses produksi;

10

2. pengamanan atas bahan dan peralatan telah dilakukan sehingga menjamin pemanfaatan yang maksimal; 3. efisiensi penggunaan dan pemeliharaan mesin dilakukan secara optimal; 4. kelancaran proses produksi dan kualitas hasil pekerjaan yang terwujud melalui penggunaan sarana dan peralatan yang ada; 5. terdapatnya koordinasi antara berbagai fungsi yang terlibat, seperti produksi, pemasaran, pembelian, dan keuangan; 6. adanya pelatihan terus menerus terhadap karyawan sehingga keterampilan mereka senantiasa meningkat dan efisiensi proses produksi dapat tercapai; 7. kerapian penyimpanan arsip mulai dari pemesanan bahan baku sampai penggunaan atau penghapusan bahan baku tersebut. 8. Pemeliharaan harus mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan terganggunya proses produksi yang dapat menurunkan mutu barang dan mengurangi pendapatan perusahaan. Ada 4 jenis tindakan pemeliharaan, yaitu perbaikan darurat, perawatan pencegahan, perawatan perbaikan, dan eliminasi perawatan. Terkait dengan pemeliharaan, audit manajemen perlu mengambil langkah-langkah, yaitu: a. memahami strategi perawatan yang dijalankan oleh perusahaan, personalia, dan bagian yang ditugaskan untuk melakukan hal itu, penjadwalan kegiatan perawatan secara rutin, dan ketersediaan anggaran untuk melaksanakan kegiatan perawatan; b. menilai dan memantau kebijakan, prosedur, dan kegiatan operasional perawatan yang telah dijalankan selama ini. c. Hasil audit manajemen fungsi produksi merupakan laporan yang disampaikan kepada manajemen senior, yang berisi temuan-temuan, seperti penyimpangan, kelemahan dan kecurangan, dan rekomendasi teknis untuk memperbaiki, menghilangkan atau menyempurnakan temuan tersebut.

6. Audit Kepastian Mutu. Konsep mutu harus diadopsi oleh segenap komponen perusahaan, mulai dari perencanaan produksi sampai bagian keuangan. Konsep ini disebut sebagai Manajemen Kualitas Total (Total Quality Management) atau TQM. Auditor memiliki peranan besar dalam pelaksanaan TQM, yaitu: 1. harus memahami manajemen kualitas ketika melaksanakan fungsinya mengawasi kegiatan atau aktivitas fungsi-fungsi perusahaan;

11

2.

harus berpartisipasi aktif dalam menjalankan program TQM melalui pengawasan ketat terhadap program mutu yang dijalankan perusahaan dan menjalankan aktivitas mutu ketika melaksanakan pekerjaannya agar semakin memahami maksud dan tujuan manajemen mutu tersebut.

3.

Audit kepastian mutu merupakan suatu upaya yang dilakukan secara objektif dan sistematis untuk memastikan bahwa kegiatan mutu dan hasil yang dicapai telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan kriteria tersebut telah diterapkan sebagaimana mestinya. Upaya pemeriksaan dilakukan dalam 2 cara, yaitu secara random yang bersifat jangka pendek dan terus-menerus yang bersifat jangka panjang.

Tipe audit kepastian mutu dapat dibedakan berdasarkan 4 kategori sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. Tujuan pelaksanaan audit. Objek pelaksanaan audit. Subjek pelaksanaan audit. Metode pelaksanaan audit. Berdasarkan tujuan pelaksanaan audit, tipe audit terdiri dari suitability quality audit dan conformity quality audit. Berdasarkan objek pelaksanaan audit, tipe audit terdiri dari quality program audit dan system quality audit. Berdasarkan subjek pelaksanaan audit, tipe audit terdiri dari internal quality audit dan external quality audit. Internal quality audit terdiri dari internal quality system audit, management review, performance review, product quality audit, process quality audit, data processing quality audit dan customer service quality audit. External quality audit terdiri dari quality system certification/registration, vendor appraisal, vendor surveillance, corporate quality audit, product certification, process certification, dan quality system evaluation and improvement audit. Audit kepastian mutu dilakukan dalam 2 lingkup berikut. 1) Audit keuangan kepastian mutu. 2) Audit operasional kepastian mutu.

7.

Audit Pengolahan Data Elektronik (PDE). Definisi pengendalian internal menurut COSO (Komisi Treadway), pengendalian

internal merupakan proses yang dipengaruhi oleh dewan direksi (komisaris), manajemen dan staf lainnya dalam perusahaan, yang dirancang untuk memberikan keyakinan yang

12

memadai (reasonable assurance) berkaitan dengan pencapaian tujuan dalam kategori berikut ini. 1. 2. 3. Efektivitas dan efisiensi operasi. Keandalan laporan keuangan. Kesesuaian dengan hukum dan peraturan yang berlaku. Lima komponen ruang lingkup pengendalian internal yang harus diperhatikan adalah berikut ini. 1. Lingkungan pengendalian (control environment). 2. Penilaian risiko (risk assessment). 3. Kegiatan pengendalian (control activities). 4. Komunikasi dan informasi (communication and information). 5. Pemantauan (monitoring). Pengolahan data elektronik merupakan suatu proses pengolahan data berupa dokumen bisnis dan teknis dengan menggunakan sarana elektronik komputerisasi berdasarkan suatu standar yang telah ditetapkan, yang umumnya menggunakan jaringan komunikasi komputer atau menggunakan internet. Keterkaitan PDE dan sistem pengendalian internal adalah berikut ini: 1. PDE merupakan bagian dari pengendalian terhadap sistem informasi yang merupakan lingkungan pengendalian internal. 2. PDE merupakan alat bantu kontrol utama bagi manajemen untuk melakukan kegiatan pengendalian secara komprehensif, efektif, efisien, dan tepat sasaran. Lingkup audit PDE yang harus diperhatikan adalah berikut ini. 1. 2. 3. 4. Dukungan fungsi pengolahan data terhadap manajemen. Perencanaan pengolahan data. Organisasi pengolahan data. Pengendalian data. Audit manual yang juga sering disebut sebagai audit tradisional atau konvensional dilakukan apabila sistem pengolahan data perusahaan masih belum memanfaatkan sistem elektronik, sistem dan teknologi informasi masih bersifat dasar atau belum menjadi tulang punggung utama. Audit PDE dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang menghasilkan berbagai jenis komputer yang sangat cepat dalam proses pengolahan, penggunaan berbagai piranti dan aplikasi yang semakin mudah, teknologi informasi dan komunikasi yang saling mendukung, dan lebih tepat untuk perusahaan yang besar.

13

Terkait dengan empat lingkup audit PDE maka tujuan dilakukannya audit PDE adalah berikut ini. 1. Untuk dukungan fungsi pengolahan data terhadap manajemen, audit PDE memastikan bahwa dalam penyusunan strategi, rencana induk maupun rencana kerja manajemen dan fungsional dalam perusahaan memperoleh dukungan yang memadai berupa informasi. 2. Untuk perencanaan pengolahan data, audit manajemen yang dilakukan harus mampu untuk mengungkapkan informasi seperti pertimbangan biaya, pertimbangan

kebutuhan, pengaruh pengambilan keputusan terhadap organisasi, dan penyesuaian dengan kemajuan serta pembaruan dalam bidang teknologi informasi. 3. Untuk organisasi pengolahan data, audit yang dilakukan dimaksudkan untuk menilai efektivitas dan efisiensi organisasi dalam melakukan tugasnya, seperti pola koordinasi dan interaksi dengan fungsi lain dalam perusahaan, susunan organisasi, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, dan sebagainya. 4. Pengendalian data, audit yang dilakukan berupaya untuk memastikan agar data dan informasi tidak sampai jatuh ke tangan orang yang tidak berhak, akses terhadap data dan informasi dibatasi hanya kepada orang-orang yang berhak serta data dan informasi telah dipelihara agar tidak mudah rusak. e. Permasalahan yang diungkap dalam Audit Manajemen Beberapa permasalahan yang dapat diungkapkan dalam Audit Manajemen adalah berikut ini. 1. Sistem pengawasan manajemen yang tidak efektif, seperti pengawasan yang lemah, sistem informasi yang tidak memadai, kurangnya pengendalian internal baik akuntansi maupun administrasi. 2. Prosedur dan administrasi internal yang buruk yang ditunjukkan oleh catatan yang tidak layak dan sistem informasi yang tidak dapat dipercaya. 3. Kekurangan dalam perencanaan, seperti kurang/tidak adanya atau ketidaklayakan standar, kebijakan, dan prosedur baik dalam lingkup fungsional maupun operasional kegiatan perusahaan. 4. Lemahnya struktur organisasi dan pola penempatan personel, seperti penetapan tugas dan tanggung jawab yang tidak jelas, kegiatan dan fungsi yang tidak perlu, pekerjaan yang saling tumpang tindih.

14

5.

Kelemahan dalam pengolahan bahan dan fasilitas, seperti pemborosan dalam penggunaan bahan, tidak tersedianya bahan, terlalu banyak persediaan, persediaan yang tidak bergerak, serta persediaan yang usang.

f.

Teknik dan pendekatan Audit Manajermen Teknik dalam audit manajemen adalah berikut ini:

1. 2. 3. 4. 5.

Survei pendahuluan. Program audit. Pekerjaan lapangan. Temuan audit. Kertas kerja. Pendekatan audit manajemen meliputi berikut ini:

1. 2.

Bertitik tolak dari arus sumber daya, yaitu manajemen, mesin (teknologi), material, uang, manusia, dan lain-lain. Bertitik tolak dari fungsi-fungsi bisnis, seperti produksi, pemasaran, sumber daya manusia, keuangan, akuntansi, dan lain-lain.

3.

Bertitik tolak dari fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian/pengawasan. Unsur-unsur dalam pekerjaan yang perlu diuji dalam audit manajemen sumber daya

meliputi berikut ini: 1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. 4. 5. Manusia. Item. Peralatan. Informasi. Langkah-langkah yang biasanya dilakukan dalam audit manajemen, yaitu berikut ini. Perencanaan. Mengumpulkan bukti-bukti. Analisis dan penyelidikan penyimpangan/deviasi. Menentukan tindakan korektif. Melaporkan hasil audit manajemen.

15

g. Prinsip Dasar Audit Manajemen. Ada tujuh prinsip dasar yang harus diperhatikan auditor agar audit manajemen dapat mencapai tujuan dengan baik Menurut IBK.Bayangkara dalam bukunya yang berjudul Audit Manajemen Prosedur dan Implementasi yang menyebutkan Tujuh prinsip dasar yaitu adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Audit dititik beratkan pada objek audit yang mempunyai peluang untuk diperbaiki. Prasyarat penilaian terhadap kegiatan objek audit. Pengungkapan dalam laporan tentang adanya temuan-temuan yang bersifat positif. Indentifikasi individu yang bertanggung jawab terhadap kekurangan-kekurangan yang terjadi. Penentuan tindakan terhadap petugas yang seharusnya bertanggung jawab. Pelanggaran hukum. penyelidikan dan pencegahan kecurangan.

B. Audit manajemen fungsi produksi a. Definisi Audit Manajemen Fungsi Produksi Peranan fungsi manufakturing dalam perusahaan adalah untuk meningkatkan kegunaan dari masukan yang berupa tenaga dan keterampilan, bahan dan peralatan, dana serta informasi, menjadi barang atau jasa yang siap dipasarkan oleh perusahaan tersebut kepada konsumen atau pemakainya. Manufaktur audit adalah pemeriksaan yang komprehensif dari sebuah proses untuk menentukan apakah kinerja memuaskan. Sebuah audit manufaktur biasanya terbatas pada sebagian kecil dari unit yang diproduksi, tetapi proses manufaktur yang terlibat diperiksa secara teliti. Audit tidak menggantikan upaya pengendalian kualitas normal, tapi suplemen mereka. Penentuan maksud dan Tujuan dilaksanakannya audit didasarkan pada pertimbangan pelaksanaan kegiatan dalam fungsi manufacturing, terutama untuk memperoleh keyakinan: 1. Ditaatinya atau tidak, ketetapan atau ketentuan dari prosedur yang telah diberlakukan dalam perusahaan untuk fungsi manufacturing 2. 3. Dicapainya efektifitas dalam pengelolaan kegiatan fungsi manufacturing Dicapainya efisiensi dalam pengelolaan kegiatan fungsi manufacturing.

16

Pelaksanaan audit manufacturing mencakup seluruh lingkup fungsi manufacturing dan lingkup fungsi manajemen. Lingkup fungsi operasional dalam suatu perusahaan mencakup bidang, bagian atau fungsi yang terdapat dalam organisasi perusahaan, jadi dalam lingkup manufacturing tercakup semua kegiatan yang terkai dalam usaha untuk mentransformasikan masukan berupa tenaga dan keahlian, bahan dan peralatan, dana serta informasi, menjadi keluaran berupa barang atau jasa. Ada banyak alasan untuk melakukan audit manufaktur: 1. Memastikan prosedur mencerminkan praktek nyata (apa yang kita katakan adalah apa yang kita lakukan); 2. Temukan ketidakakuratan sehingga mereka dapat dengan cepat dikoreksi; Mengungkapkan konsistensi dari suatu proses (dari orang ke orang, atau hari ke hari); 3. Menunjukkan pendekatan proaktif untuk perbaikan proses dan Mendorong berkelanjutan tindakan korektif.

b.

Langkah Langkah kegiatan Audit Produksi Kegiatan audit manufacturing dilakukan dengan mengikuti langkah sebagai berikut:

1. Merumuskan maksud dan tujuan dari dilaksanakannya audit manufacturing. 2. Menentukan ruang lingkup audit yang akan dijalankan. 3. Melakukan audit pendahuluan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat umum tentang obyek audit. 4. Melaksanakan program dan prosedur audit yang akan dilaksanakan 5. Melaksanakan audit yang telah ditetapkan sesuai dengan program dan prosedur audit yang mencakup pengumpulan dan pemeriksaan data serta mengadakan wawancara. 6. Mengolah dan menganalisis hasil temuan. 7. Membuat laporan ikhtisar temuan yang penting dan saran perbaikan Sistem pemantauan (kontrol) terhadap proses produksi meliputi: 1. Menciptakan sistem pengendalian (kontrol) produksi untuk memantau apakah proses produksi telah berjalan dengan baik dan sebagaimana mestinya; 2. Menciptakan dan menerapkan sistem pengawasan produk untuk menjamin bahwa mutu produk telah memenuhi standar yang telah ditentukan, baik oleh perusahaan, secara nasional (seperti Standar Nasional Indonesia SNI) atau secara internasional (International Standard Organization ISO);

17

3. 4.

Menyusun laporan periodik untuk memastikan pesanan para konsumen telah terpenuhi dengan baik; Melakukan pemeriksaan akhir terhadap produk jadi yang siap untuk dipasarkan atau diserahkan kepada pihak pengguna;

5.

Menjamin ketersediaan alat dan sarana kerja yang diperlukan, baik secara jumlah maupun jenis;

6.

Menyelenggarakan kegiatan pelatihan bagi karyawan untuk memastikan apakah keterampilan yang dimiliki karyawan sesuai dengan tuntutan proses produksi sehingga tidak melakukan kesalahan berarti, dapat mengurangi besaran barang tolakan (reject) sehingga produktivitas dapat lebih ditingkatkan.

c.

Ruang Lingkup Pelaksanaan Audit Manajemen Fungsi Produksi Ruang lingkup produksi yang dapat menjadi sumber potensial terjadinya

permasalahan adalah berikut ini. 1. Pengembangan dan perancangan desain produk, untuk memastikan agar produk dapat diterima pasar, jenis bahan baku dan penggunaannya efektif dan efisien, dilakukan pengujian terhadap pendekatan atau cara pengolahan baru dan kualitas agar kemampuan produksi dan efisiensi dapat ditingkatkan. 2. Fasilitas, peralatan dan perlengkapan, yang mencakup kondisi ruangan, kondisi geografis, utilitas, lingkungan hidup, dan kemasyarakatan. Efektivitas dan efisiensi penggunaan berbagai peralatan dan perlengkapan yang ada, baik yang bersifat umum atau khusus, baik yang dibeli, disewa atau dibuat sendiri perlu diupayakan. 3. Keterkaitan logistik, yang mencakup penentuan tata letak (lay-out) fasilitas produksi dan rantai pasokan (supply chain) produksi. 4. Perencanaan dan pengendalian produksi, yang dimulai dari pembuatan jadwal (melalui MPS) hingga perencanaan kebutuhan (melalui MRP dan bill of material).

Pengendalian operasi produksi, yang mencakup 4 aspek sebagai berikut. 1. Utilisasi bahan mentah, dengan mengacu pada kriteria kualitas tertentu, MRP, perawatan yang efektif, dan fleksibilitas tertentu. 2. Utilisasi tenaga kerja, terkait dengan penentuan kebutuhan tenaga kerja, perekrutan, kondisi dan fasilitas kerja, penugasan yang optimal, kompensasi, dan standar kinerja yang adil.

18

3. Penggunaan jasa pendukung yang efektif, yang mencakup efisiensi perlengkapan kantor, fasilitas karyawan, perawatan fasilitas, dan penggunaan sumber energi atau utilitas. 4. Pengendalian biaya yang memadai, dengan memperhatikan sistem penentuan biaya (yaitu biaya standar atau ABC) dan tiga elemen utama biaya produksi yang mencakup biaya material langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. Audit manajemen terhadap fungsi produksi melibatkan dua bagian besar, yaitu audit operasional perencanaan produksi dan audit keuangan perencanaan produksi. Hal-hal yang perlu diaudit dalam fungsi produksi, antara lain meliputi: 1. Penyimpanan bahan dan peralatan di gudang dilakukan secara efisien dan tidak mengganggu kelancaran proses produksi; 2. Pengamanan atas bahan dan peralatan telah dilakukan sehingga menjamin pemanfaatan yang maksimal; 3. Efisiensi penggunaan dan pemeliharaan mesin dilakukan secara optimal; 4. Kelancaran proses produksi dan kualitas hasil pekerjaan yang terwujud melalui penggunaan sarana dan peralatan yang ada; 5. Terdapatnya koordinasi antara berbagai fungsi yang terlibat, seperti produksi, pemasaran, pembelian, dan keuangan; 6. Adanya pelatihan terus menerus terhadap karyawan sehingga keterampilan mereka senantiasa meningkat dan efisiensi proses produksi dapat tercapai; 7. Kerapian penyimpanan arsip mulai dari pemesanan bahan baku sampai penggunaan atau penghapusan bahan baku tersebut. Pemeliharaan harus mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan terganggunya proses produksi yang dapat menurunkan mutu barang dan mengurangi pendapatan perusahaan. Ada 4 jenis tindakan pemeliharaan, yaitu perbaikan darurat, perawatan pencegahan, perawatan perbaikan, dan eliminasi perawatan. Terkait dengan pemeliharaan, audit manajemen perlu mengambil langkah-langkah, yaitu: 1. Memahami strategi perawatan yang dijalankan oleh perusahaan, personalia, dan bagian yang ditugaskan untuk melakukan hal itu, penjadwalan kegiatan perawatan secara rutin, dan ketersediaan anggaran untuk melaksanakan kegiatan perawatan; 2. Menilai dan memantau kebijakan, prosedur, dan kegiatan operasional perawatan yang telah dijalankan selama ini.

19

3.

Hasil audit manajemen fungsi produksi merupakan laporan yang disampaikan kepada manajemen senior, yang berisi temuan-temuan, seperti penyimpangan, kelemahan dan kecurangan, dan rekomendasi teknis untuk memperbaiki, menghilangkan atau menyempurnakan temuan tersebut.

C. CONTOH KASUS Toko Bertolinis merupakan perusahan dagang yang bergerak dalam bidang penjualan pakaian remaja pria dan wanita pada bulan Maret 2010 selama empat minggu mengalami penyusutan persediaan pada tiga departemen store tanpa dibarengi dengan penjualan. Oleh karena itu, pihak manajemen perusahaan meminta audit internal untuk melakukan pemeriksaan terhadap penyebab terjadinya penyusutan persediaan yang tidak dibarengi dengan penjualan tersebut. Atas permintaan manjaemen perusahaan, melihat permasalah diatas auditor internal melakukan pemeriksaan audit manajemen fungsi operasi untuk melihat apa penyebab penyusutan persediaan. Tahapan-tahapan yang dilakukan pada saat melakukan audit manjaemen fungsi opearsi di toko Bertolinis.

Audit Pendahuluan Latar belakang masalah Dua sahabat; Suzette Washington (SW) dan Paula Kaye (PK) bekerja pada sebuah toko pakaian bernama Bertolinis, yang melayani pakaian remaja pria dan wanita. Keduanya masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Amerika Tenggara, yang letaknya tidak jauh dari Bertolinis. Suzette Washington (SW) adalah seorang mahasiwa jurusan akuntansi, sedangkan Paula Kaye (PK) kuliah di jurusan pemasaran. Di Bertolinis, Suzette Washington (SW) bekerja sebagai karyawan di bagian persediaan, sedangkan Paula Kaye (PK) sebagai karyawan di bagian pemasaran. Dalam perusahaan tersebut, selain bagian personalia, hampir seluruh karyawannya masih berstatus sebagai mahasiwa. Suatu ketika, perusahaan mulai mengalami penyusutan jumlah persediaan pakaian pria pada tiga departemen. Supervisor SW, yang merupakan asisten manajer toko, yakin bahwa ada karyawan bagian penjualan yang telah melakukan pencurian. Dari rumor yang beredar di perusahaan, terdapat dua orang karyawan, yaitu Alex (Al) dan Matt (M),

20

sebagai pelaku pencurian tersebut. Alex dan Matt mencuri beberapa barang setiap minggunya, yaitu berupa polo shirt, dasi sutera, jean, dan terkadang juga beberapa barang mahal seperti sweater rajut dan jaket sport. Modus pencurian diketahui bahwa Alex menyembunyikan satu atau dua barang di dasar tong sampah di bawah cash register nomor 2. Selanjutnya, Matt, yang setiap malam bertugas membuang sampah ke luar, mengambil barang-barang yang disembunyikan tersebut dan menyimpan di mobilnya. Atas rumor tersebut, Suzette Washington (SW) akan melaporkan ke manajemen perusahaan, namun Paula Kaye (PK) tidak sependapat, dengan alasan hal itu hanya berupa rumor, tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak. Apabila dilaporkan ke manajer, akan menimbulkan banyak pertanyaan, dan akan melibatkan polisi. Bahkan pada akhirnya orang akan menemukan siapa yang mengatakan. Namun demikian, sebulan kemudian, manajemen memperoleh surat kaleng yang menyebutkan adanya dua orang pencuri dalam toko tersebut. Atas hal tersebut, Bertolinis menyewa detektif untuk menyelidiki masalah tersebut. Setelah dilakukan penyidikan diketahui bahwa memang pencurian dilakukan oleh Alex dan Matt, dengan total nilai pakaian yang dicuri selama lebih dari empat minggu adalah sebesar $500. Atas permasalah tersebut dapat diketahui bahwa: a. Bertolinis merupakan toko pakaian dengan skala besar, dan tentu saja mempunyai karyawan yang banyak pula. Selain bagian personalia, sebagian besar karyawannya adalah mahasiswa. Dengan demikian, karyawan yang berstatus mahasiwa bukan merupakan karyawan tetap, sehingga memungkinkan kurangnya loyalitas karyawan terhadap perusahaan. Dimana hal ini dapat terjadi karena mahasiswa yang bekerja di Bertolinis, tujuan utamanya mencari penghasilan untuk membiayai kuliah. Dengan demikian, rasa memiliki terhadap perusahaan sangatlah kecil, atau bahkan tidak ada. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya keinginan dan keberanian dari karyawan yang mengetahui adanya kecurangan dalam perusahaan untuk mengungkapkannya kepada manajemen perusahaan. b. Sistem pengendalian pada perusahaan masih sangat lemah. Hal ini diketahui dari adanya penyusutan jumlah persediaan barang yang tidak wajar, yang tidak segera diketahui oleh manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian persediaan barang pada perusahaan serta pengendalian pendapatan masih sangat lemah. Dimana persediaan barang yang berkurang tidak seimbang dengan jumlah barang yang terjual. c. Pihak manajemen perusahaan kurang tanggap terhadap permasalahan yang ada. Dimana ditunjukkan dengan adanya rumor pencurian oleh karyawan, bahkan sudah

21

diketahui pula modusnya, namun tidak segera ditindaklanjuti oleh pihak manajemen. Namun, setelah mendapat surat kaleng, barulah manajemen mulai bertindak. Sikap kehati-hatian manajemen tersebut mengakibatkan manajemen kurang peka terhadap permasalahan dalam perusahaan.

Review dan pengujian pengendalian manajemen Keterbatasan SPI Perusahaan a) Kesalahan dalam pertimbangan Manajemen dan personil melakukan pertimbangan yang kurang matang dalam pengambilan keputusan bisnis atau dalam melakukan tugas rutin karena kekurangan informasi, keterbatasan waktu atau penyebab lainnya. b) Kemacetan Kemacetan pada pengendalian yang telah berjalan bisa terjadi karena petugas salah mengerti dengan instruksi atau melakukan kesalahan karena kecerobohan,

kebingungan atau kelelahan. Perpindahan personil sementara atau tetap atau perubahan sistem atau prosedur bisa juga mengakibatkan kemacetan. c) Kolusi Kolusi atau persengkongkolan yang dilakukan oleh seorang pegawai dengan pegawai lainnya atau dgn pelanggan atau pemasok bisa tidak terdeteksi oleh SPI. d) Pelanggaran oleh manajemen Manajemen bisa melakukan pelanggaran atas kebijakan atau prosedur untuk tujuan tidak sah seperti keuntungan pribadi/membuat laporan keuangan menjadi tampak baik. e) Biaya dan manfaat Biaya penyelenggaraan suatu SPI seyogyanya tidak melebihi manfaat yang akan diperoleh dari penerapan pengendalian intern tersebut

Audit Terinci 1. Photocopy BAP penyidikan diketahui bahwa memang pencurian dilakukan oleh Alex dan Matt, dengan total nilai pakaian yang dicuri selama lebih dari empat minggu adalah sebesar $500. 2. Kartu persediaan 3. Kertas kerja pemeriksaan yang terdiri dari: a) Test transaksi persediaan

22

b) Inventory countsheet c) Top- schedule persediaan

Pelaporan Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan dan temuan yang diperoleh pada saat pengauditan, kami menyimpulkan bahwa penyebab terjadinya penyusutan persediaan tidak hanya sematamata kesalahan yang dibuat oleh karyawan tetapi juga pelanggaran yang dilakukan oleh pihak manajemen sehingga memungkinkan pihak pihak yang berniat fraud. Selain dari itu, SPI perusahan sangat lemah. Rekomendasi 1. Perlu adanya perbaikan manajemen strategi fungsi perencanaan, fungsi

pengembangan, fungsi pemeliharaan, fungsi informasi, fungsi penghargaan dan penghukuman, serta fungsi peningkatan kinerja Sumberdaya Manusia. 2. Perbaikan dalam Sistem Pengendalian Internal, khususnya dalam pengendalian persediaan. Oleh karena itu, perlu adanya: a. Ada pencatatan terhadap keluar masuknya persediaan b. Penyimpanan persediaan dan penggunaan gudang atau ruang yang terkunci dengan akses yang terbatas pada orang-orang yang diberi otorisasi saja merupakan hal yang penting dalam melindungi aktiva dan untuk meminimalkan terjadinya pencurian. c. Seharusnya dilakukan perhitungan persediaan dan pengecekan jumlah barang di setiap hari atau setiap minggu (secara periodik) yang independen,

pembandingannya dengan catatan tentang jumlah dan kepemilikan. Hal itu dilakukan agar jika terjadi ketidaksesuaian antara kuantitas pesediaan yang tercatat dengan kuantitas yang ada ditangan (terjadi kehilangan inventori) dapat terdeteksi sedini mungkin. d. Komputer mengecek kesesuaian antara catatan tambahan dan akun-akun pengendali karena nilai yang tercatat persediaan dalam buku besar pembantu atau file induk mungkin tidak sesuai dengan akun-akun pengendali (untuk menjaga kebenaran saldo persediaan) e. Di adakannya Inspeksi kondisi persediaan secara periodik, laporan aktivitas persediaan periodik untuk menelaah kinerja manajemen. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencatatan persediaan dengan jumlah yang melebihi nilai pasar.

23

f. Tingkat manajemen yang berwenang memantau tingkat produksi, biaya produksi dan kewajaran tingkat persediaan dibandingkan dengan volume penjualan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen mungkin tidak bertanggungjawab atas sumberdaya persediaan sehingga menimbulkan berbagai salah saji dalam laporan keuangan. g. Proteksi terhadap barang dalam proses dapat dilakukan dengan mengawasi daerah produksi oleh penyelia dan petugas keamanan perusahaan, pemberian label pada barang dan penggunaan tiket perpindahan bernomor urut untuk mengendalikan perpindahan barang dalam proses di sekitar perusahaan.

Tindak Lanjut Berdasarkan hasil pelaporan pemeriksaan, perusahaan harus melaksanakan rekomendasi yang disarankan agar kemungkinan terjadinya fraud bisa diantisifasi sedini mungkin.

24

BAB III KESIMPULAN

A.

Kesimpulan Berdasarkan hasil pemeriksaan dan temuan yang diperoleh, kami menyimpulkan

bahwa penyebab terjadinya penyusutan persediaan tidak hanya semata-mata kesalahan yang dibuat oleh karyawan tetapi juga pelanggaran yang dilakukan oleh pihak manajemen sehingga memungkinkan pihak pihak yang berniat fraud. Selain dari itu, SPI perusahan sangat lemah. Oleh karena itu, Audit manajemen fungsi produksi perlu dilakukan khususnya pemeriksaan terhadap persediaan, karena persediaan nilainya sangat besar dan jumlahnyasangat banyak sehingga perlu diperiksa untuk menilai sejauh mana efektifitas, efesiensi dan ekonomisasi dari kinerja persediaan.

B.

Saran Berdasarkan contoh kasus di atas saran yang kami agar sistem pengendalian

perusahaan berjalan dengan baik maka perusahaan perlu: 1. Melakukan perbaikan manajemen strategi fungsi perencanaan, fungsi

pengembangan, fungsi pemeliharaan, fungsi informasi, fungsi penghargaan dan penghukuman, serta fungsi peningkatan kinerja Sumberdaya Manusia. 2. Perbaikan dalam Sistem Pengendalian Internal, khususnya dalam pengendalian persediaan.