Anda di halaman 1dari 79

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Perkembangan dunia usaha yang sangat pesat umumnya disertai dengan semakin kompleksnya kegiatan usaha BUMN yang mengakibatkan peningkatan persaingan di dunia usaha. Berbagai macam usaha untuk meningkatkan pendapatan dan agar tetap bertahan dalam menghadapi persaingan tersebut terus dilakukan oleh para pengelola perusahaan. Keadaan ini telah mengacu para pelaku bisnis dan ekonomi harus dapat melakukan berbagai perubahan kegiatan ekonominya menjadi seefektif dan seefisien mungkin agar bisnisnya dapat bertahan di dunia bisnis dalam pergerakan globalisasi yang lebih maju. Good Corporate Governance (tata kelola perusahaan yang baik) pada perusahaan menjadi lebih penting untuk saat ini dan masa-masa yang akan datang, mengingat risiko dan tantangan yang dihadapi oleh perusahaan yang semakin meningkat dalam dunia usaha. Dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dan dunia usaha, melindungi kepentingan stakeholders dan meningkatkan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan serta nilai etika yang berlaku secara umum pada dunia usaha, perusahaan harus menjalankan kegiatan usahanya dengan berpedoman pada prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). Kegiatan ini pada hakikatnya mendorong terciptanya efisiensi usaha, sehingga mampu bersaing secara sehat. Good Corporate Governance merupakan kebutuhan sangat mendasar bagi setiap organisasi bisnis jika ingin menjadi perusahaan yang mampu bersaing di

pasar global. Tanpa penerapan prinsip-prinsip GCG secara baik, BUMN tidak bisa bersaing, karena sebaik-baiknya sistem yang disusun tanpa adanya penerapan GCG dan kepemimpinan profesional (leadership) akan melahirkan ketidakpastian. Good corporate governance secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. Corporate Governance adalah sistem yang bisa digunakan untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan. Corporate Governance timbul dari kebutuhan usaha akan tata kelola perusahaan yang baik, yang menegakkan prinsip-prinsip kebutuhan transparan, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan berkeadilan. Latar belakang pentingnya diterapkan prinsip good corporate governance saat krisis ekonomi melanda Asia Tenggara termasuk Indonesia pada tahun 1997. Dampak dari krisis tersebut, banyak perusahaan berjatuhan karena tidak mampu bertahan, karena pertumbuhan yang dicapai selama ini tidak dibangun di atas landasan yang kokoh sesuai prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat. Menyadari situasi dan kondisi demikian, pemerintah melalui Kementerian Negara BUMN mulai memperkenalkan konsep Good Corporate Governance ini di lingkungan BUMN, sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki kinerja, sekaligus menghapuskan berbagai bentuk praktek inefisiensi, korupsi, kolusi, nepotisme dan penyimpangan lainnya untuk memperkuat daya saing BUMN menghadapi pasar global. Menurut Surat Keputusan Menteri BUMN No. Kep117/M-MBU/2002 tanggal 1 Agustus 2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara, menekankan

2 3 kewajiban bagi BUMN untuk menerapkan GCG secara konsisten dan menjadikan prinsip GCG sebagai landasan operasionalnya, yang pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan salah satu pelaku kegiatan ekonomi perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi (Undang-undang RI NO. 19, tentang BUMN, 2003). Oleh karena pengelolaannya berdasarkan demokrasi ekonomi, maka dalam menjalankan aktivitas perekonomian perlu mengikuti mekanisme pasar dan berorientasi ke profit. Masalah yang kemudian timbul berkaitan dengan audit internal, adalah seberapa efektif keberadaan audit internal dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Badan usaha milik negara telah menerapkan Good Corporate Governance dalam kegiatan operasional perusahaan sejak tahun 1999. BUMN harus peka terhadap setiap perkembangan yang terjadi dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan dunia usaha, sehingga profesionalisme BUMN di segala bidang terus meningkat baik dalam bidang perencanaan maupun dalam bidang pengendalian dan pengawasan. Dalam mewujudkan dan meningkatkan good corporate governance maka perusahaan harus memperhatikan faktor faktor yang mendukung pelaksanaan good corporate governance itu sendiri. Selain itu dengan diterapkan prinsip good corporate governance diharapkan dalam penyajian laporan keuangan akan lebih transparan, tepat waktu, akurat dan terhindar dari kecurangan. Berdasarkan penelitian, banyak terdapat penyimpangan barupa belum

dilakukannya tindak lanjut atas temuan audit sesuai dengan yang dilaporkan pada laporan temuan audit yang diperoleh dari pelaksanaan audit yang telah dilakukan. Dalam pelaporan audit, diantaranya program audit dan rekomendasi dalam audit internal masih dipertanyakan karena audit internal biasanya mudah dipengaruhi oleh pihak tertentu yang membuat tidak objektif dalam pelaksanaannya. Dari latar belakang yang telah dikemukakan dalam penelitian ini, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Program Audit dan Rekomendasi Internal Auditor Terhadap Pelaksanaan Good Corporate Governance pada BUMN yang Ada di Kota Palembang.

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan penulis, maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu: a. Bagaimanakah pengaruh program audit dan rekomendasi internal auditor secara simultan terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance pada BUMN yang ada dikota Palembang. b. Bagaimanakah pengaruh program audit dan rekomendasi internal auditor secara parsial terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance pada BUMN yang ada dikota Palembang.

C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu: 1. Untuk mengetahui pengaruh program audit dan rekomendasi internal

2 5 auditor secara parsial terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance pada BUMN yang ada dikota Palembang. 2. Untuk mengetahui pengaruh program audit dan rekomendasi internal auditor secara simultan terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance pada BUMN yang ada dikota Palembang.

D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu : 1. Bagi Penulis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat berupa tambahan pengetahuan kepada penulis mengenai peranan internal auditor dan good corporate governance. 2. Bagi Badan Usaha Milik Negara Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya mengenai pengaruh audit internal terhadap pelaksanaan good corporate governance pada perusahaan dan dapat memberi tambahan keyakinan

sehingga dapat dijadikan masukan dalam pengambilan keputusan. 3. Bagi Almamater Dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan penting bagi penelitian yang serupa di masa yang akan datang. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian sebelumnya

Penelitian sebelumnya berjudul Analisis Peran Auditor Internal dalam Meningkatkan Good Corporate Governance Pada PT. Bukit Asam (PERSERO), Tbk Cabang Palembang oleh Shinta Nurlia Sepelini (2006). Perumusan masalah dalam penelitian tersebut adalah bagaimanakah auditor internal berperan dalam meningkatkan good corporate governance pada PT. Bukit Asam (Persero), Tbk Cabang Palembang. 6 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shinta Nurlia menyimpulkan bahwa keterkaitan auditor internal dalam perusahaan dengan penerapan good corporate governance yang diterapkan dalam perusahaan bahwa fungsi audit internal dituntut berperan dalam membantu menejemen menilai resiko-resiko, mengevaluasi struktur pengendalian internal dan dalam menelaah good corporate governance. Persamaan penelitian sebelumnya dengan sekarang adalah sama-sama menggunakan variabel good corporate governance. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan sekarang adalah jika pada penelitian sebelumnya bertujuan untuk mengetahui peran audit internal dalam meningkatkan good corporate governance pada satu perusahaan BUMN yaitu pada PT. Bukit Asam sedangkan penelitian sekarang ingin mengetahui pengaruh program audit dan rekomendasi internal auditor berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance pada beberapa perusahaan BUMN di kota Palembang. Penelitian sebelumnya juga dilakukan oleh Gita Gumilang (2009) dengan judul Pengaruh Peranan Auditor Internal Terhadap Penerapan Good

2 7 Corporate Governance Pada PT. Perkebunan Nusantara III (PERSERO), Medan oleh Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah peranan audit internal berpengaruh terhadap penerapan good corporate governance pada PT. PN III (PERSERO), Medan. Hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Gita Gumilang (2009) menyimpulkan bahwa perananan auditor internal berpengaruh signifikan positif terhadap good corporate governance yang diterapkan dalam perusahaan. Persamaan penelitian sebelumnya dengan sekarang adalah sama-sama menggunakan variabel good corporate governance. Perbedaan penelitian sebelumnya dengan penelitian sekarang adalah jika pada penelitian sebelumnya bertujuan untuk mengetahui pengaruh audit internal dalam meningkatkan good corporate governance pada perusahaan yaitu pada PT. Perkebunan Nusantara III sedangkan penelitian sekarang ingin mengetahui apakah variabel program audit dan rekomendasi internal auditor berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance pada beberapa perusahaan BUMN yang ada di kota Palembang.

B. Landasan Teori 1. Teoritis Tentang Program Audit Program kerja audit atau cukup disebut program audit, merupakan rencana dan langkah kerja yang harus diikuti oleh auditor dalam melaksanakan tugas audit, berdasarkan tujuan audit yang telah

ditetapkan. Program audit berfungsi penting untuk mengatur pembagian kerja, memonitor jalannya kegiatan pemeriksaan, menelaah pekerjaan yang telah dilakukan (IBK Bayangkara,2008: 68). Program audit berfungsi sebagai suatu alat yang bermanfaat untuk menetapkan jadwal pelaksanaan dan pengawasan pekerjaan audit. Jadi, dapat disimpulkan bahwa program audit merupakan perencanaan prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan yang ditulis secara sistematis untuk mencapai tujuan pemeriksaan secara efisien dan efektif. Selain berfungsi sebagai alat perencanaan juga penting untuk mengatur pembagian kerja, memonitor jalannya kegiatan pemeriksaan, menelaah pekerjaan yang telah dilakukan (Mulyadi, 2002:104). Program kerja audit merupakan rencana dan langkah kerja yang harus dilakukan selama audit, yang didasarkan atas tujuan dan sasaran yang ditetapkan serta informasi yang ada tentang program/aktifitas yang diaudit (IBK Bayangkara, 2008: 37).

Ada beberapa manfaat penyusunan program audit, yaitu sebagai berikut : a) Sebagai rencana yang sistematis tentang setiap tahap kegiatan yang bisa dikomunikasikan kepada semua tim audit. b) Sebagai landasan yang sistematis dalam memberikan tugas kepada auditor dan supervisornya.

2 9

c) Sebagai dasar untuk membandingkan pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang disetujui dengan standar persyaratan yang ditetapkan. d) Dapat membantu para auditor yang belum berpengalaman dan membiasakan mereka dengan ruang lingkup, tujuan serta langkahlangkah audit. e) Dapat membantu auditor untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah dikerjakan sebelumnya. f) Dapat membantu auditor untuk mengenali sifat pekerjaan yang telah dikerjakan sebelumnya. g) Dapat mengurangi kegiatan pengawasan langsung oleh supervisor (IBK Bayangkara,2008:37-38). Program kerja audit disusun untuk setiap tahap audit yang dilakukan. Setiap program audit biasanya mengandung empat hal pokok, yaitu sebagai berikut : a) Informasi Pendahuluan (1) Informasi latar belakang mengenai program aktivitas yang diaudit yang berguna bagi para auditor dalam memahami dan melaksanakan program kerja auditnya, informasi ini disajikan secara ringkas mungkin. (2) Komentar berbagai pihak yang berkompeten berkaitan dengan tujuan audit, termasuk komentar auditor sendiri. b) Pernyataan Tujuan Audit (1) Tujuan yang ingin dicapai relevan dengan permasalahan yang

10

dihadapi dan perbaikan yang diharapkan dapat dicapai. (2) Cara pendekatan audit yang dipilih. (3) Pola pelaporan yang dikehendaki. c) Intruksi-Intruksi Khusus Langkah-langkah kerja yang disusun dalam bentuk intruksi khusus. d) Langkah Kerja (1) Audit pendahuluan, meliputi : a) Pembicaraan awal dengan auditte. b) Pengumpulan informasi umum, penelaahan peraturan, evaluasi prosedur kerja dan sistem operasional. c) Tes pendahuluan atas informasi yang diperoleh guna mengidentifikasi tujuan audit sementara. d) Pembuatan ikhtisar hasil audit pendahuluan. (2) Review dan pengujian pengendalian manajemen a) Pengujian pengendalian manajemen. b) Pembuatan ikhtisar hasil temuan pengujian pengendalain manajemen. (3) Audit lanjutan a) Pengembangan manajemen. b) Penyajian hasil audit lanjutan (daftar temuan) pembahasan temuan hasil pengujian pengendalian

10

2 1 1 temuan dengan penanggung jawab audit. c) Pembahasan temuan dengan penanggung jawab audit. d) Pembahasan hasil audit lanjutan dengan objek audit. e) Penyusunan rekomendasi (Mulyadi, 2002:104). Begitu pentingnya fungsi program audit dalam audit manajemen, maka penyusunan program audit harus sedemikian rupa agar bias digunakan sebagai sarana pengendalian pelaksanaan audit. Berikut beberapa ketentuan dalam menyusun program kerja audit, yaitu : a) Tujuan kerja harus dinyatakan secara jelas dan halus agar dapat dicapai atau dasar pekerjaan yang direncanakan dalam program kerja audit. b) Program kerja audit harus disusun sesuai dengan penugasan yang bersangkutan. c) Setiap langkah harus berbentuk intruksi-inruksi mengenai

pekerjaan yang harus dilakukan. d) Setiap langkah kerja harus merinci pekerjaan yang dilakuakan disertai alasan-alasannya. e) Program kerja audit harus

12

mengambarkan urutan perioritas langkah-langkah kerja yang harus dilaksanakan. f) Program kerja audit harus fleksibel dan setiap perubahan harus yang dengan

dilakuakn

persetujuan atasan auditor. g) Program kerja audit hendaknya hanya berisi informasi yang perlu untuk melaksanakan audit dan evaluasi secara tepat. h) Tidak boleh memuat perintah

untuk memperoleh informasi yang telah ada dalam permanent file. i) Harus nyatakan taksiran waktu yang diperlukan sesuai dengan rencana kerja audit kegiatan untuk yang

melaksanakan bersangkutan.

j) Program kerja audit disiapkan oleh ketua tim audit dan harus dibahas bersama-sama dengan pengawas dan seluruh anggota tim audit (IBK

12

2 1 3 Bayangkara, 2008:39-40). Jadi, dapat disimpulkan bahwa program audit merupakan perencanaan prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan yang ditulis secara sistematis untuk mencapai tujuan pemeriksaan secara efisien dan efektif. Program kerja audit ini membuat beberapa pertanyaan dan langkah kerja untuk memperoleh temuan audit, sesuai dengan tahapan-tahapan audit. 2. Teoritis Tentang Rekomendasi Laporan Hasil Audit Internal Rekomendasi merupakan saran perbaikan yang membantu auditor atas berbagai kekurangan atau kelemahan yang terjadi pada program atau aktivitas yang diaudit. Rekomendasi harus disertakan dengan laporan hasil audit. Setiap rekomendasi yang ditunjukan oleh auditor harus dilengkapi dengan analisis yang menyangkut adanaya peningkatan ekonomisasi, efisiensi, atau evektifitas yang akan dicapai pada pelaksanaan program atau aktifitas serupa dimasa depan atau juga termasuk berbagai kemungkinan kerugian yang akan terjadi pada perusahaan jika rekomendasi tersebut tidak dlaksanakan (IBK Bayangkara, 2008:39-49). Hasil akhir dari pelaksanaan audit internal dituangkan dalam bentuk laporan tertulis melalui proses penyusunan yang baik. Laporan hasil audit internal merupakan suatu alat penting untuk menyampaikan pertanggungjawaban hasil kerja kepada manajemen, yaitu sebagai media informasi untuk menilai sejauh mana tugas-tugas yang dibebankan dapat dilaksanakan. Adapun isi atau materi laporan audit internal yaitu :

14

a) Laporan ditulis setelah pekerjaan audit selesai. b) Audit internal harus mendiskusikan kesimpulan-kesimpulan dan rekomendasi-rekomendasi pada tingkatan manajemen yang tepat sebelum mengeluarkan laporan tertulis yang final. c) Laporan harus objektif dan jelas, ringkas, konstruktif dan tepat waktu d) Laporan mencakup rekomendasi untuk pemeliharaan dan

pernyataan keberhasilan pelaksanaan disertai tindakan koreksi. e) Laporan menyatakan tujuan, ruang lingkup dan hasil pemeriksaan. f) Rekomendasi merupakan saran-saran perbaikan untuk perubahan yang ada kedepannya. Walaupun pelaksanaan rekomendasi tersebut sepenuhnya merupakan kewewenangan manajemen perusahaan, sebenarnya auditor juga berkepentingan terhadap dilaksanakannya rekomendasi tersebut (IBK Bayangkara,2008:49). Laporan pemeriksaan (audit) dianggap baik apabila memenuhi empat kriteria mendasar : a. Objektivitas Suatu laporan pemeriksaan yang objektif membicarakan pokok persoalan dalam pemeriksaan, bukan perincian prosedural atau halhal lain yang diperlukan dalam proses pemeriksaan. b. Kewibawaan Laporan pemeriksan harus dapat dipercaya dan mendorong para pembacanya menyetujui substansi yang terdapat didalam laporan

14

2 1 5 tersebut. Meskipun para pembaca belum tentu akan menerima temuan, kesimpulan, dan rekomendasi auditor internal, namun mereka cenderung tidak menolaknya. Mereka percaya kepada auditor dan kepada laporan pemeriksaan (audit). c. Keseimbangan Laporan audit yang seimbang adalah laporan yang memberikan gambaran tentang organisasi atau aktivitas yang ditinjau secara wajar dan realistik. d. Penulisan yang professional Laporan memperhatikan pemeriksaan beberapa yang ditulis : secara struktur, profesional kejelasan,

unsur

berikut

keringkasan, nama laporan, pengeditan (Tugiman,1997:191). Rekomendasi laporan hasil audit dibuat setelah selesai melakukan audit. Laporan audit merupakan media yang dipakai oleh auditor dalam berkomunikasi dengan masyarakat lingkungannya. Auditor internal harus melaporkan kepada manajemen apabila terdapat penyimpanganpenyimpangan yang berarti dan memberikan saran perbaikan, apabila disetujui manajemen auditor internal akan mengawasi perbaikan tersebut. Auditor internal harus menentukan setiap tindakan yang layak sesuai dengan program audit yang dilaporkan dan menindaklanjuti masalah yang dikemukakan atau rekomendasi yang disiapkan dalam laporan agar tercapainya perusahaan yang corporate governance (Winters dkk, 2003:418).

16

Rumusan rekomendasi yaitu sebagai berikut : a) Rekomendasi merupakan saran perbaikan yang diberikan atas berbagai kekuranagn atau

kelemahan yang terjadi pada program atau aktivitas yang di audit. b) Auditor harus memberiakan rekomendasi kepada atasan dari pengelolah program atau aktivitas yang di audit. c) Rekomndasi harus disertakan dengan laporan hasil audit. d) Setiap rekomendasi harus dilengkapi dengan analisis yang menyangkut ekonominisasi, dengan efisiensi adanya dan

peningkatan

efektifitas yang akan dicapai pada pelaksanaan program atau aktifitas serupa dimasa dating atau juga berbagai kemungkinan kerugian yang akan terjadi pada perusahaan jika rekomendasi tersebut tidak terlaksanakan. e) Bahayanya harus mudah Bayangkara,2008:48). Penyajian laporan mengikuti arus informasi yaitu sebagai berikut : a) Informasi latar belakang pada tahap audit pendahuluan. di pahami (IBK

16

2 1 7 b) Tujuan audit yang sesungguhnya berdasarkan hasil revisi dan pengujian terhadap sistem pengendakian manajemen. c) Pengumpulan bukti-bukti audit dan pengembangan temuan yang terkait dengan tujuan audit. d) Kesimpulan berdasarkan bukti-bukti (temuan) audit yang berhasil dikumpulkan. e) Rekomendasi f) Menyatakan ruang lingkup audit yang telah dilakukan (IBK Bayangkara,2008:49). 3. Teoritis Good Corporate Governance a. Pengertian Good Corporate Governance (GCG) Good corporate governance secara definitif merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. Corporate Governance adalah sistem yang bisa digunakan untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan. Corporate Governance timbul dari kebutuhan usaha akan tata kelola perusahaan yang baik, yang menegakkan prinsip-prinsip kebutuhan transparan, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan berkeadilan. Menurut United Nation Development Program ( UNDP ) mendefinisikan governance sebagai the exercise of political,

18

aconomic, and administrative authority to manage a nations affair at all levels. Dalam hal ini UNDP lebih menekankan pada aspek politik, ekonomi, dan administratif dalam pengelolaan negara. Political governance mengacu pada proses pembuatan kebijakan (policy/strategy formulation). Economic governance mengacu pada proses pembuatan keputusan di bidang ekonomi yang

berimplikasikan pada masalah pemerataan, penurunan kemiskinan, dan peningkatan kualitas hidup. Corporate Governance telah menjadi pokok perhatian yang sangat penting di Indonesia karena perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG secara utuh dan berkelanjutan diyakini akan memiliki nilai lebih dibandingkan perusahaan yang tidak atau belum menerapkan GCG, sehingga akan membantu perusahaan-perusahaan tersebut menjadi lebih kompetitif secara global. Good corporate governance adalah suatu sistem yang ada dalam suatu organisasi semaksimal mungkin dengan cara-cara yang tidak merugikan stakeholder organisasi tersebut (Pratolo,2007:8). Administration governance mengacu pada sistem

implementasi kebujakan ( Mardiasmo,2004:17). Definisi lainnya sebagai berikut: (1) Menurut SK Menteri

BUMN No. Kep-117/MMBU/2002, Corporate

18

2 1 9 governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN untuk

meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas guna nilai saham dalam dengan

perusahaan mewujudkan pemegang jangka tetap kepentingan

panjang

memperhatikan stakeholders

lain, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika (Patriadi,2004 :

http://www.google.com ). (2) Menurut Finance Corporate Malaysian Committee on

Governance,

Februari 1999, Corporate Governance merupakan

proses dan struktur yang digunakan untuk

20

mengarahkan mengelola bisnis

dan serta

urusan-urusan perusahaan, dalam rangka meingkatkan kemakmuran akuntabilitas dengan bisnis dan

perusahaan utama nilai saham dalam dengan

tujuan

mewujudkan pemegang jangka tetap kepentingan lain

panjang,

memperhatikan stakeholders :

(Patriadi,2004

http://www.google.com ). (3) Menurut Corporate Indonesian Corporate adalah forum for

Governance (FCGI), governance seperangkat

peraturan yang menetapkan hubungan antara pemegang saham, kreditur, pengurus, pihak

pemerintah,

20

2 2 1 karyawan pemegang internal dan serta para

kepentingan eksternal

lainnya sehubungan dengan hak-hak dan kewajiban

mereka, atau dengan kata lain sistem yang dan

mengarahkan

mengendalikan perusahaan (Tjager dkk,2003:26) Berdasarkan definisi-definisi yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa corporate governance pada intinya adalah mengenai suatu sistem, proses, dan seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders) terutama arti sempit hubungan antara pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi demi tercapainya tujuan organisasi. b. Tujuan Good Corporate Governance Good Corporate Governance mempunyai lima macam tujuan, sebagai berikut: (1) Melindungi hak dan kepentingan pemegang saham. (2) Melindungi hak dan kepentingan para anggota the stakeholders non-pemegang saham.

22

(3) Meningkatkan nilai perusahaan dan para pemegang saham, peningkatan nilai perusahaan antara lain ditandai oleh peningkatan nilai modal mereka sendiri. (4) Meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja dewan pengurus dan board of directors dan manajemen perusahaan, dalam perusahaan dengan good corporate governance , chairman dan para anggota board of directors secara kolektif maupun individual mempunyai pengetahuan yang dalam tentang bidang usaha perusahaannya. (5) Meningkatkan mutu hubungan Board of Directors dengan manajemen senior perusahaan (Sutojo,2008:5). c. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance Pentingnya penerapan Good Corporate Governance

Organization for Economic Corporation and Development telah mengembangkan prinsip-prinsip GCG agar dapat diterapkan secara tegas. Dengan tumbuhnya perekonomian global, tumbuh pula kesadaran untuk lebih memperhatikan prinsip-prinsip Corporate Governance, dan hal ini tidak terbatas bagi pasar-pasar yang sedang tumbuh (emerging markets) atau perekonomian yang dalam proses transisi. Semua negara kini berkepentingan untuk memperbaiki cara perusahaan mereka bekerja. Perekonomian yang paling maju sekalipun kini tengah membahas, mempertanyakan, dan

mengupayakan praktik-praktik governanceyang lebih baik.

22

2 2 3 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance berlandaskan pada lima prinsip dasar, yaitu: (1)Transparansi (Disclosure dan Transparancy) Keterbukaan dalam mengemukakan informasi yang material dan relevan serta keterbukaan dalam melakukan proses pengambilan keputusan. Transparansi yaitu pengungkapan yang akurat dan tepat pada waktunya serta transparansi mengenai semua hal yang penting bagi kinerja perusahaan, kepemilikan, serta para pemegang kepentingan (stakeholders). (2)Akuntabilitas (Accountability) Akuntabilitas yaitu jelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggung jawaban organ perusahaan sehingga pengelolaannya berjalan secara efektif. Tanggung jawab manajemen melalui pengawasan yang efektif berdasarkan balance of power antara manajer, pemegang saham, dewan komisaris, dan auditor merupakan bantuk pertanggung jawaban manajemen kepada perusahaan dan para pemegang saham. (3)Pertanggung (Responsibility) Peranan pemegang saham harus diakui sebagaimana ditetapkan oleh hukum dan kerjasama antara perusahaan serta para pemegang kepentingan dalam menciptakan kekayaan, lapangan Jawaban

24

kerja, dan perusahaan yang sehat dari aspek keuangan yang merupakan tanggung jawab sebagai anggota masyarakat tunduk kepada hukum dan bertindak dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat sekitarnya. (4)Independen (Independency) Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Independen diperlukan untuk menghindari adanya potensi konflik kepentingan yang mungkin timbul oleh para pemegang saham mayoritas. Mekanisme ini menuntut adanya rentang kekuasaan antara komposisi

komisaris, komite dalam komisaris, dan pihak luar seperti auditor. Keputusan yang dibuat dan proses yang terjadi harus objektif tidak dipengaruhi oleh kekuatan pihak-pihak tertentu. (5)Kewajaran (Fairness) Keadilan dan kesetaraan dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Kewajaran yaitu perilaku yang sama terhadap para pemegang saham, terutama kepada pemegang saham minoritas dan pemegang saham asing dengan keterbukaan

24

2 2 5 informasi yang penting serta melarang pembagian untuk pihak sendiri dan perdagangan saham oleh orang dalam insider trading (Tjager,dkk,2003:50-53).

d. Manfaat Good Corporate Governance Terdapat empat manfaat diterapkannya good corporate governance bagi BUMN adalah: 1)Untuk meminimalkan agency biaya sebagai pendelegasian wewenang kepada cost, yang yaitu timbul akibat

manajemen, termasuk biaya penggunaan

sumber daya perseroan oleh manajemen untuk kepentingan pribadi

maupun dalam rangka pengawasan terhadap perilaku itu sendiri. 2)Untuk meminimalkan manajemen

26

cost of capital, yaitu biaya modal yang

harus ditanggung bila perusahaan mengajukan pinjaman kepada kreditur. 3)Untuk meningkatkan nilai perusahaan. 4)Untuk citra mengangkat perusahaan saham

(Tjager dkk,2003;96). Fungsi audit internal harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk peningkatan proses governance dalam mencapai tujuan-tujuan berikut : a. Mengembangkan etika dan nilai-nilai yang memadai di dalam organisasi. b. Memastikan pengelolaan kinerja organisasi efektif dan akuntabilitas. c. Secara efektif mengkomunikasikan resiko dan pengendalian kepada unit-unit yang tepat didalm organisasi. d. Secara efektif mengkoordinasikan informasi di kegiatan dari, dan dewan

mengkomunikasikan

antara

pemimpin,

pengawas, auditor internal dan eksternal serta manajemen

26

2 2 7 (Konsorsium profesi audit internal, 2004;22). Menurut Efendi (2006) fungsi audit internal adalah memberikan penilaian atas pengendalian internal dan proses pengelolaan resiko. Fungsi internal audit (satuan pemeriksaan intern) yang efektif dan memadai mampu menawarkan sumbangan penting dalam meningkatkan proses corporate governance. Hal ini dapat dilakukan oleh internal audit agar dapat berperan dalam meningkatkan kinerja perusahan ditunjukan dengan adanya peran auditor internal sebagai evaluasi sistem dan menjamin dapat dipercayainya sistem tersebut (assurance services), dan membantu mendesain sistem tersebut dengan memberikan rekomendasi atau consulting services. C. Hipotesis Hipotesis merupakan suatu hubungan yang diduga secara logis antara dua atau lebih variabel yang dikembangkan dalam rangka teoritis. Dari uraian diatas maka hipotesis yang dapat diturunkan dalam penelitian ini adalah : H1 : Program audit dan rekomendasi internal auditor secara simultan berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance. H2 : Program audit dan rekomendasi internal auditor secara parsial berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance.

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

25

28

Jenis penelitian berdasarkan tingkat eksplansinya terdiri dari : 1. Penelitian deskriptif Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang digunakan untuk mengetahui nilai variabel, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel lain. 2. Penelitian komparatif Penelitian komparatif yaitu penelitian yang bersifat membandingkan dua variabel atau lebih, yang variabelnya masih sama dengan dengan penelitian variabel mandiri tetapi yang untuk lebih dari satu atau dalam waktu yang berbeda. 3. Penelitian asosiatif Peneliian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih (Sugiono,2006:11). Jenis penelitian yang akan digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah penelitian asosiatif yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih yaitu hubungan antara program audit dan rekomendasi internal auditor terhadap peningkatan good corporate governance.

B. Tempat penelitian Unit penelitian adalah perusahaan BUMN yang ada dikota Palembang. C. Operasionalisasi Variabel

28

2 2 9 Operasionalisasi variabel dalam penelitian ini sebagai berikut: Tabel III.1 Operasionalisasi Variabel Variabel Program audit (X1) Definisi Rencana dan langkah kerja yang harus diikuti oleh auditor dalam melaksanakan tugas audit, berdasarkan tujuan dan tujuan audit yang telah ditetapkan. Indikator a) Informasi pendahuluan b) Pernyataan tujuan audit c) Intruksiintruksi Khusus d) Langkaglangkah Kerja a) b) c) d) a) b) c) d) Objektivitas Kewibawaan Keseimbangan Penulisan yang professional

Rekomendasi (X2)

Laporan hasil dari pemeriksaan (audit) yang dilakukan oleh auditor.

Good Corporate Seperangkat peraturan Governance yang menetapkan (Y) hubungan antara pemegang saham, pengurus, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan. Sumber : penulis, 2011

Transparansi Kemandirian Akuntabilitas Pertanggung jawaban e) Kewajaran

D. Populasi Populasi adalah kumpulan elemen yang merupakan sumber data

30

penelitian darimana analisis akan dilakukan (Syahirman,2009;62-62). Populasi dalam penelitian ini adalah : Manajer Dewan komisaris Komite audit Internal auditor TOTAL 13 orang responden 13 orang responden 13 orang responden 13 orang esponden 52 orang responden

Populasi dalam penelitian ini berjumlah 4 orang dalam satu perusahaan BUMN. Seluruh populasi tersebut dijadikan sampel. Tabel III.2 Daftar perusahaan BUMN yang ada di kota Palembang No . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nama Perusahaan Manajer 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 Dewan Komisaris 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 Komite Audit 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 Internal Auditor 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 13 Total 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 52

PT. PUSRI (PERSERO) PT. BUKIT ASAM PT. PERTAMINA PT. PLN PT. ASKES PERUM PEGADAIAN KANTOR POS PT. TELKOM BANK BRI BANK MANDIRI BANK BNI PERUM KAI PT. SEMEN 13 BATURAJA JUMLAH Sumber : Penulis, 2011

E. Data yang Diperlukan Klasifikasi data dilihat dari cara memperolehnya terbagi menjadi dua :

30

2 3 1 1. Data Primer Data primer yaitu data yang dikumpulkan dan diolah oleh suatu organisasi atau perseroan langsung dari objeknya. 2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain, biasanya sudah dalam bentuk publikasi ( Syahirman 2009;103). Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari perusahaan berupa gambaran umum BUMN, sejarah singkat BUMN, struktur organisasi, tugas dan wewenang karyawan. Data sekunder yang digunakan meliputi diskripsi dan buku-buku serta literatur-literatur yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti penulis. F. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data meliputi sebagai berikut : 1. Kuesioner (Angket) Kuisioner atau angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respon (responden) sesuai dengan permintaan pengguna.

2. Wawancara Wawancara adalah percakapan dua arah atas inisiatif pewawancara untuk

32

memperoleh informasi dari responden. 3. Pengamatan (Observasi) Observasi adalah suatu cara yang digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data (informasi) yang merupakan tingkah laku nonverbal dari responden dengan tujuan untuk memperoleh data yang dapat menjelaskan dan menjawab permasalahan peneliti. 4. Tes (test) Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. 5. Dokumentasi Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari tempat penelitian (Syahirman,2009:106- 114). Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian adalah kuisioner dan wawancara. Kuisioner yaitu membuat daftar pertanyaan yang ditujukan kepada individu yang terlibat dalam perusahaan yaitu audit internal yang berada dalam satuan pengawasan intern dan wawancara langsung kepada karyawan pada perusahaan BUMN yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti sehingga sesuai dengan tujuan penelitian.

G. Analisis Data dan Teknik Analisis Metode Analisis data terdiri dari sebagai berikut :

32

2 3 3 1. Data Kuantitatif Data kuantitatif adalah data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka). 2. Data kualitatif Data kualitatif adalah data yang tidak dapat diukur dalam skala numerik (Syahirman dan Umiyati, 2009 :102). Metode analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu, data kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif menjelaskan pengaruh program audit dan rekomendasi internal auditor terhadap good corporate governance dengan kalimat yang berasal dari uji statistik atas penyebaran kuesioner kepada responden. Sedangkan secara kuantitatif digunakan skala likert yang didesain untuk menilai sejauh mana subjek setuju atau tidak setuju dengan pertanyaan yang diajukan dan jawaban responden sebagai berikut: Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju = SS = S = R = TS = STS

Kemudian dikuantitatifkan sebagai berikut: Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu = 5 = 4 = 3

34

Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju

= 2 = 1

Untuk mengetahui pengaruh program audit (X1) dan rekomendasi (X2) terhadap good corporate governance (Y). Teknik analisis Untuk memudahkan perhitungan statistik maka digunakan program SPSS, sebelum dilakukan analisis terlebih dahulu dilakukan pengujian data yang mencangkup uji validitas dan uji reliabilitas. 1. Uji Validitas Test of validity dilakukan untuk mengetahui apakah alat pengukur yang telah disusun memiliki validitas atau tidak. Hasilnya akan ditunjukan oleh suatu indeks sejauh mana alat ukur benar-benar mengukur apa yang ingin diukur. Dua syarat yang harus dipenuhi agar sebuah butir dikatakan valid, yaitu: (1) Korelasi dari item kuesioner haruslah kuat dan peluang kesalahan tidak terlalu besar ( menurut teori maksimal 5% dalam uji pertama). (2) Korelasi harus memiliki nilai atau arah yang positif. Arah positif tersebut berarti bahwa r bt ( nilai korelasi yang akan digunakan untuk mengukur validitas ) harus lebih besar dari tabel (Wahyono, 2008 : 16). Validitas alat pengukur dilakukan dengan mengkorelasikan antar skor yang diperoleh dari masing masing item pertanyaan

34

r=

( n X 2 ( X ) 2 ( n Y 2 ( X ) 2 ) 2 3 5 dengan korelasi rata rata per item pertanyaan dengan alat bantu SPSS for Windows. Bila ternyata semua pertanyaan yang disusun berdasarkan dimensi konsep berkorelasi dengan korelasi rata-rata per item pertanyaan, maka dapat dikatakan bahwa alat pengukuran tersebut mempunyai validitas. Teknik yang akan digunakan dalam validitas ini adalah teknik korelasi product moment Sugiono (2001:210) persamaanya adalah sebagai berikut : menurut

n XY X Y

Keterangan : r = Koefisien korelasi product moment antara item instrument yang digunakan dengan variabel yang bersangkutan X = Jumlah skor item instrument yang digunakan Y = Jumlah skor semua item instrument dalam variabel tersebut N = Jumlah responden Teknik korelasi product moment memerlukan tingkat

pengukuran variabel sekurang-kurangnya interval. Karena skor sebagian didapat dari skala pengukuran ordinal. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows dengan cara mengkorelasikan masing-masing pertanyaan dengan skor untuk masing-masing variabel. Dari hasil korelasi ini selanjutnya kan dicari r. Nilai r untuk N=28 dengan taraf signifikan 5% adalah 0,374 jadi apabila r lebih besar dari 0,374 dinyatakan valid dan sebaliknya apabila nilai r lebih kecil dari 0,374 dinyatakan tidak valid (Sugiono, 2001:317).

36

2. Uji Reliabilitas Setelah dapat ditemukan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah valid dengan r lebih besar dari 0,482 maka selanjutnya pertanyaan yang dinyatakan valid tersebut diuji reliabilitasnya. Teknik perhitungan yang digunakan adalah sebagai berikut: (1)Membagi item-item yang valid belahan penelitian dengan yang adalah berdasarkan nomor ganjil. ganjil genap Nomor sebagai cara diambil menjadi dalam

belahan pertama dan genap nomor sebagai

belahan kedua. (2)Skor masing-

36

2 3 7 masing pada belahan dijumlahkan, sehingga menghasilkan dua skor total untuk masing responden yaitu skor total masingitem tiap

belahan pertama dan skor total belahan kedua. (3)Mengkorelasik an skor belahan pertama dengan skor kedua korelasi product moment. (4)Mencari angka belahan dengan

2 2 1 b

2 k b r1 = 1 12 k 1

38

reliabilitas untuk keseluruhan item tanpa

dibelah dengan cara mengkorelasika n angka yang diperoleh dengan memasukannya kedalam rumus. Menurut Dwi Priyanto (2008:25)

Keterangan : r1 k
=

= Reliabilitas Instrumen = Banyaknya Butir Pertanyaan

Jumlah Varian Butir = Varian Total Uji reliabilitas dalam penelitian ini juga menggunakan program SPSS for Windows dengan cara mengkorelasikan antara skor ganjil dan skor genap. 3. Uji Normalitas Data Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah suatu

38

2 3 9 distribusi data normal atau mendekati normal, pengujian normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan uji Kolmogorof-Smirnov, yaitu membandingkan hasil Kolmogorof-Smirnov Kolmogorof-Smirnov (Kolmogorof-Smirnov
tabel hitung

dengan

dengan ketentuan yaitu apabila nilai > dari nilai Kolmogorof Smirnovtabel)

hitung

maka distribusi data adalah normal dan sebaliknya apabila nilai ( Kolmogorof-Smirnovhitung - < dari nilai Kolmogorof Smirnovtabel) maka distribusi data adalah tidak normal (Dwi Priyanto, 2008:28).

4. Uji Asumsi Klasik Sebelum data dianalisis, data tersebut harus di uji apakah melanggar asumsi dasar seperti heteroskedastisitas, autokorelasi dan multikolinearitas. Parameter yang telah diestimasi dengan salah satu metode diatas kemudian akan diuji secara statistik untuk melihat apakah suatu hipotesis bisa diterima atau ditolak. Cara pengujian dapat dilakukan adalah dengan uji nilai t dan uji nilai f. Seperti yang telah dijelaskan diatas, bahwa setiap estimasi ekonometri harus dibersikan dari penyimpangan terhadap asumsi dasar dalam studi ini, ketiga masalah tersebut akan dideteksi untuk setiap persamaan. Untuk memenuhi asumsi klasik, maka persamaan regresi diatas terlebih dahulu dilakukan pengujian-pengujian. a) Uji Multikolinearitas

40

Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah model pada regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas

(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas tersebut. Menurut Nachrowi dan Hardius Usman (2002:122) apabila interprestasi ini dilanggar dengan terjadinya hubungan linear antara variabel bebas, maka timbulah gejala yang disebut dengan multikolinearitas. Gejala multikolinearitas ini dapat dideteksi dengan R2 yang tinggi dan uji F yang signifikan, tetapi banyak koefisien dalam uji t yang tidak signifikan atau secara substansi interprestasi yang meragukan. Sesunggunnya hal tersebut dapat dijadikan alat untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas di dalam model regresi dengan cara sebagai berikut : (1) Melihat tabel Coliniearity Diagnostics pada kolom dimension adalah nilai

Eigenvalue yang mendekati 0. Artinya terdapat koliniea antar variabel. Namun, jika nilai Cl (Condition Indeks) ternyata relatif kecil atau dibawah 10. hal ini akan menimbulkan keraguan bagi kita untuk mengambil

kesimpulan apakah variabel tersebut terjadi

40

2 4 1 multikolinearitas. (2) Formula lain dengan melihat VIF dan Tolerance yang tersaji pada angka tabel TOL

Coeficient

mendekati 0 dan angka VIF yang jauh dari satu berarti terjadi korelasi antar

variabel bebas. b) Uji Heterokedastisitas Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah metode regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan lainnya. Salah satu asumsi yang harus dipenuhi agar taksiran dalam model yang bersifat BLUE (Best Linear Unbiased Estimate ) adalah var (U1) = 2 (konstan), semua residual atau error memiliki varians tidak konstan atau berubah-ubah, maka dapat disimpulkan telah terjadi gejala heterokedastisitas. Gejala heterokedastisitas dapat dideteksi dengan cara melihat R2 yang sangat kecil, dan uji t dan uji F yang tidak signifikan.

5. Regresi Linier Berganda Regresi linier berganda adalah perhitungan statistik untuk meramaikan dengan satu variabel bebas yang mempengaruhi

42

variabel terikat. Y = a + b1 X1 + b2X2 Keterangan : Y X1 X2 a = Good corporate governance = Program Audit = Rekomendasi = Nilai Konstanta

b= Koefisien regresi variabel X (Syahirman dan Umiyati, 2009:139)

6. Uji Hipotesis a. Uji secara Bersama (Uji F) Menurut Iqbal (2005 : 256) pengujian hipotesis serentak merupakan pengujian hipotesis koefisien regresi berganda dengan B1 dan B2 serentak atau bersama-sama mempengaruhi Y. Langkah-langkah Yji F adalah : 1) Menentukan Hipotesis H01 : Program audit dan rekomendasi secara simultan tidak pengaruh terhadap good corporate governance Ha1 : Program audit dan rekomendasi secara parsial tidak pengaruh terhadap good corporate governance 2) Menentukan Taraf Nyata

42

2 4 3 Tingkat signifikan sebesar 5% Taraf nyata dari t tabel ditentukan derajat bebas (db) = n k-1 Taraf nyata () beserta nilai f tabel Taraf nyata dari f tabel ditentukan derajat bebas (db) = n k-1 3) Kriteria Pengujian H0 diterima bila F hitung < F tabel H0 ditolak bila F hitung > F tabel 4) Kesimpulan Menarik kesimpulan H0 diterima bila F hitung < F tabel H0 ditolak bila F hitung > F tabel b. Uji secara Parsial (Uji t) Menentukan Hipotesis H02 : Program audit dan rekomendasi secara simultan tidak pengaruh terhadap good corporate governance Ha2 : Program audit dan rekomendasi secara parsial tidak pengaruh terhadap good corporate governance Menentukan Taraf Nyata Tingkat siginifikan sebesar 5%

44

Taraf nyata dari t table ditentukan dengan derajat bebas (db) = n k-1

Taraf nyata () beserta nilai f tabel Taraf nyata dari f tabel ditentukan dengan derajat bebas (db) = n k-1

Kriteria pengujian : H0 diterima apabila t hitung < t tabel H0 ditolak apabila T hitung > T tabel Berdasarkan probabilitas : H0 diterima jika P value > 0,05 H0 ditolak jika P value < 0,05 Kesimpulan Menarik kesimpulan H0 diterima dihitung < t tabel atau H0 ditolak apabila T Hitung > T Tabel. 7. Uji Determinasi Koefisien atau uji determinasi ( R2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berada di antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel

44

2 4 5 independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-varibel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Data dalam penelitian ini akan diolah dengan menggunakan program Statistical Package for Social Sciences (SPSS) 11.5. Hipotesis dalam penelitian ini dipengaruhi oleh nilai signifikasi koefisien variabel yang bersangkutan setelah dilakukan pengujian. Kesimpulan hipotesis dilakukan berdasarkan t-test dan Ftest untuk menguji signifikansi variabelvariabel independen terhadap variabel dependen. Nilai koefisien determinasi (R2) menunjukkan prosentase pengaruhsemua variabel independen terhadap variabel dependen. Rumus Koefisien determinasi dapat ditunjukkan sebagai berikut:

R =1
2

(Y Y ') Y Y

Niai R2 berbeda antara 0 sampai dengan 1. Semakin mendekati 1 maka variabel bebas hampir memberikan semua informasi untuk memprediksi variabel terikat atau merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan

menjelaskan perubahan variabel bebas terhadap variabel terikat. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

46

A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Umum Tempat Penelitian Dalam konteks pengelolaan BUMN beberapa kebijakan publik yang dilakukan oleh pemerintah dapat dirunut berdasarkan kajian legalitas 41 dan kajian historis pengelolaan BUMN dari satu pemerintahan ke pemerintahan lainnya. Perkembangan masalah publik dari waktu-ke waktu yang dihadapi oleh pemerintah (sebagai salah satu aktor kebijakan) harus disikapi secara positif (dengan mengeluarkan kebijakan yang konstruktif) sehingga mampu memberikan kemanfaatan publik yang optimal (implikasi positif bagi kehidupan masyarakat) sesuai dengan amanah Undang-undang Dasar 1945 dan seperangkat aturan pelaksanaanya. Pokok-pokok Perusahaan negara (yang kemudian dikenal sebagai BUMN) muncul dalam pasal 33 ayat 2 dan 3 yang mana pasal 31 ayat 1 UUD 1945 merupakan prinsip dasar kerja dari perusahaan negara yakni pengelolaan bersama untuk kepentingan bersama. Dalam pasal 33 ayat 2 dan 3, secara jelas menerangkan bahwa cabang-cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak serta bumi air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara, dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam kalimat tersebut, secara jelas Negara Indonesia memposisikan diri sebagai negara kesejahteraan (welfare state).

46

2 4 7 Sejak Indonesia merdeka, fungsi dan peranan perusahaan negara sudah menjadi perdebatan dikalangan founding fathers terutama pada kata dikuasai oleh negara. Bung Karno menafsirkan bahwa karena kondisi perekonomian masih lemah pasca kemerdekaan, maka negara harus menguasai sebagian besar bidang usaha yang dapat menstimulasi kegiatan ekonomi. Sedangkan, Bung Hatta menentang pendapat ini dan memandang bahwa negara hanya cukup menguasai perusahaan yang benar-benar menguasai kebutuhan pokok masyarakat seperti listrik dan transportasi. Pandangan Hatta ini kemudian lebih sesuai dengan paham ekonomi modern, dimana posisi negara hanya cukup menyediakan infrastruktur yang mendukung proses Artinya bahwa kesejahteraan dan kemakmuran rakyat-lah yang menjadi titik tekan paket kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah. Beberapa contoh kebijakan pengelolaan BUMN yang akan dijelaskan dibawah ini merupakan sebagian implementasi kebijakan publik seperti: (1) kebijakan nasionalisasi perusahaanperusahaan peninggalan Belanda. (2) kebijakan sector perbankan. (3) kebijakan restukturisasi usaha (4) kebijakan privatisasi BUMN.

48

Secara

prinsip

orientasi

kebijakan

publik

adalah

untuk

meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dalam bentuk pemberian layanan publik yang berkualitas dan terjangkau. Sejak Indonesia merdeka, posisi dan peranan perusahaan negara telah menjadi perdebatan dikalangan founding fathers terutama pada kata dikuasai oleh negara. Posisi dan peranan negara dalam perekonomian nasional pasca kemerdekaan yang tidak profesional dan tidak transparan. Dalam perjalanannya BUMN di Indonesia (pada masa Orde Baru) mengalami tumbuh kembang dengan melakukan beberapa perubahan dan penambahan dengan melakukan pengelompokan berdasarkan kelompok industri. Perubahan bentuk perusahaan menjadi perusahaan persero

mengalami peningkatan yang pesat, dimana pada masa Kabinet Ampera pemerintah hanya memiliki 1 perusahaan persero, pada masa Orde Baru berkembang menjadi sekitar 71 perusahaan persero10. Untuk

mendorong pertumbuhan ekonomi dan melakukan stabilitas harga dan laju inflasi pemerintah memberikan proteksi dan hak monopoli kepada BUMN serta memberikan subsidi yang cukup besar bagi BUMN yang merugi. Kondisi ini menciptakan ketergantungan BUMN kepada pemerintah, sehingga sebagian besar justru menjadi beban bagi pemerintah. Ketergantungan BUMN terhadap pemerintah tidak

menciptakan struktur kemandirian BUMN untuk berkompetisi dengan perusahaan swasta, dan seringkali BUMN memproduksi barang dan jasa

48

2 4 9 dengan biaya yang relative tinggi dalam BUMN yang diantaranya ditunjukkan oleh tingginya biaya tenaga kerja, merupakan salah satu gambaran betapa BUMN belum dapat beroperasi secara efisien. BUMN dimaksudkan diharapkan dapat dirumuskan arah, sasaran, program, dan kebijakan Pemerintah terhadap BUMN secara jelas, sehingga dapat menjadi pedoman bagi semua pihak yang terkait. Visi, Misi dan Nilai BUMN 1) Visi Sebagai korporasi unggulan, yang memimpin dalam setiap bidang usaha " 2) Misi (a) Bertindak sebagai katalis dan berperan penting dalam penginkatan bisnis BUMN, (b) Menyehatkan suatu perusahaan agar tumbuh secara

berkesinambungan, (c) Memanfaatkan dan mengoptimalkan peluang investasi untuk memberikan nilai tambah bagi korporasi dan negara (d) Berperan utama dalam peningkatan pelaksanaan Tatakelola Perusahaan Yang Baik (GCG) dan memberikan kontribusi positif secara berkelanjutan kepada pemangku kepentingan. 2. Gambaran Karakteristik Responden Karakteristik responden dalam penelitian ini adalah terdiri dari 4

50

(empat) orang yang yang terdiri dari manajer, dewan komisaris, komite audit dan internal auditor BUMN yang ada di kota Palembang yang terdiri dari : Tabel IV. 1 Daftar Perusahaan BUMN di kota Palembang Jumlah Kuisioner 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 52 Kuisioner Tidak Kembali 4 4 4 4 16

Kantor Pajak PT. PUSRI (PERSERO) PT. BUKIT ASAM PT. PERTAMINA PT. PLN PT. ASKES PERUM PEGADAIAN KANTOR POS PT. TELKOM BANK BRI BANK MANDIRI BANK BNI PERUM KAI PT. SEMEN BATURAJA Jumlah

Diolah 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 4 orang 36 orang

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011

Penelitian membagikan masing-masing 1 perusahaan di berikan 4 rangkap kuesioner yang di tujuhkan kepada pihak Manajemen, Dewan komisaris, Komite Audit dan Auditor Internal sehingga total dari 52 (lima

50

2 5 1 puluh dua) kuisioner yang telah disebar, peneliti berhasil mengumpulkan sebanyak 36 (tiga puluh enam) kuesioner yang dikembalikan untuk diolah. Setelah data tersebut diperoleh, penelitian mentabulasikan jawabanjawaban yang ada. Pada tahap awal tabulasi setelah pembagian kuesioner adalah pemberian kode dari setiap tanggapan yang diberikan responden. Kode yang diberikan untuk tanggapan yang diberikan responden. Kode yang diberikan untuk tanggapan responden untuk semua bagian adalah sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Data yang telah diberikan kode kemudian disusun dalam tabel yang akan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk dianalisa. Rekapitulasi data mengenai program audit (X1) dan rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) dapat dilihat pada tabel IV.2 sebagai berikut :

52

Variabel

Interval

Good Good Corporat Corporat e e Program Program Governa Audit Rekomen Governa Responde Audit Rekomen (X1) dasi (X2) nce (Y) (X1) dasi (X2) nce (Y) n 25 21 71 1 25,72299 22,80052 75,64491 25 21 73 2 25,6362 23,63094 78,61545 26 20 72 3 27,2883 21,20133 77,49134 25 22 70 4 25,6362 24,45263 74,80058 26 19 67 5 27,25752 20,04328 69,58804 24 19 73 6 24 20,04763 78,65967 25 18 70 7 25,60542 19,26184 74,60361 26 21 70 8 27,48717 22,80052 74,53242 26 21 73 9 27,2883 22,80052 78,70048 27 20 70 10 28,96461 21,37695 78,3424 25 19 64 11 25,60542 20,04763 67,48379 26 18 76 12 27,48717 19,26184 83,58044 26 21 71 13 27,2883 22,80052 76,25565 27 21 73 14 28,96461 22,80052 78,69864 25 20 71 15 25,60542 21,37695 76,14555 26 21 70 16 27,48717 22,80052 74,60361 26 21 69 17 27,2883 23,63094 73,03861
18 27 26 27 27 25 26 25 26 24 25 26 26 27 26 24 20 22 19 19 18 21 21 20 21 20 22 19 19 18 21 21 20 21 20 725 74 75 70 72 66 65 74 68 71 74 70 72 66 67 68 71 67 70 75 2538 28,96461 21,20133 80,35402 27,2883 24,45263 82,25858 28,96461 20,04328 74,83405 28,96461 20,04763 77,09065 25,6362 19,26184 71,29871 27,2883 22,80052 68,73794 25,6362 22,80052 80,90964 27,25752 21,37695 71,62004 24 23,63094 75,67028 25,60542 21,20133 80,83471 27,48717 24,45263 74,44847 27,2883 20,04328 77,65084 28,96461 20,04763 71,44387 27,25752 19,26184 69,98276 24 22,80052 74,69256 25,60542 22,80052 77,24148 27,48717 21,37695 70,29883 27,2883 23,63094 75,72031 28,96461 21,20133 81,61375 968,562 783,5677 2727,487

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 JUMLA H

25
26 26 27 927

52

2 5 3 B. Pengujian Hasil Kuesioner 1. Pengujian dan Analisis Data Sebelum membuat pengaruh program audit dan rekomendasi terhadap good corporate governance, maka akan dilakukan terlebih dahulu pengujian data yang telah dikumpulkan. Pengujian ini mencakup uji validitas, reliabilitas, normalitas, uji asumsi klasik, uji multikoleniaritas, heterokedastisitas, uji regresi berganda dan pengujian hiptesis. a. Pengujian Reliabilitas Pengujian data validitas dan reliabilitas data sangat mempengaruhi data dari hasil penelitian agar hasil penelitian valid dan dapat dibuktikan maka data yang akan dianalisis dan digunakan untuk menguji hipotesis penelitian harus merupakan data yang valid dan reliabel maka dari itu sebelum dilakukan analisis data hendaknya dikumpulkan data terlebih dahulu setelah itu akan diuji validitas dan reliabilitasnya. Uji validitas bertujuan untuk menguji sejauh mana alat ukur yang digunakan, dalam hal ini kuesioner, sedangkan reliabilitas bertujuan untuk menunjuk sejauh mana suatu hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi dua kali atau lebih, dengan kata lain reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam mengukur gejala yang sama. (1) Pengujian Data Validitas Sebelum kuisioner dipakai untuk mengumpulkan data primer, terlebih Data berdasarkan Validitas dan

54

dahulu diuji validitasnya dan reliabilitasnya. Dalam penelitian ini uji validitas kuisioner dilakukan dengan menggunakan korelasi Product Moment, persamaanya adalah sebagai berikut : r=

[n X

n( XY ) ( X Y )
2 2

( X ) n Y 2 ( Y )

][

Keterangan : r = Koefisien korelasi Product Moment antara item instrumen yang digunakan dengan yang bersangkutan X = Jumlah skor item instrumen yang digunakan Y = Jumlah skor semua item instrumen dalam variabel tersebut N = Jumlah responden Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan program SPSS for Windows dengan cara menguji korelasi antara skor item dengan skor total. Koefisien korelasi diperoleh dengan menggunakan teknik korelasi product Moment. Dari hasil korelasi ini selanjutnya akan dicari nilai rtabel. Menurut Sugiyono (2001:317) nilai r untuk N = 36 dengan taraf nyata () = 5% yaitu 0, , sedangkan menurut Syahri Alhusin (2003 : 341), jika rhitung > rtabel, Valid, sedangkan jika rhitung < rtabel, Tidak Valid. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan SPSS for Windows diperoleh hasil sebagai berikut: (a) Variabel Penganggaran Berbasis Kinerja (X1) Berdasarkan hasil uji validitas untuk item item variabel penganggaran berbasis kinerja dapat dilihat pada tabel berikut ini :

54

2 5 5 Tabel IV. 3 Uji Validitas Skor Jawaban Variabel rogram Audit (X1) No. Item r hitung r tabel Kesimpulan 1 X1_1 0,702 0,329 rhitung > rtabel,Valid 2 X1_2 0,458 0,329 rhitung > rtabel, Valid 3 X1_3 0,557 0,329 rhitung > rtabel, Valid 4 X1_4 0,533 0,329 rhitung > rtabel, Valid 5 X1_5 0,639 0,329 rhitung > rtabel, Valid 6 X1_6 0,730 0,329 rhitung > rtabel, Valid Sumber : Hasil Pengolahan Data dengan SPSS Ver 16.00, 2011 Dilihat dari hasil pengujian data validitas yang dilakukan oleh penulis dengan bantuan program SPSS versi 16.00, maka dapat disimpulkan untuk variabel X (program audit) semuanya valid pada taraf nyata () = 5%. Berarti semua item pertanyaan yang ada pada instrumen tersebut, dapat dijadikan sebagai alat ukur yang valid dalam analisis selanjutnya. (b) Variabel Rekomendasi (X2) Berdasarkan hasil uji validitas untuk item item variabel efektifitas pengendalian dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel IV. 4 Uji Validitas Skor Jawaban Variabel Rekomendasi (X2) No Item r hitung r tabel Kesimpulan 1 X2_1 0,574 0,329 rhitung > rtabel,Valid 2 X2_2 0,483 0,329 rhitung > rtabel, Valid 3 X2_3 0,522 0,329 rhitung > rtabel, Valid 4 X2_4 0,662 0,329 rhitung > rtabel, Valid 5 X2_5 0,732 0,329 rhitung > rtabel, Valid Sumber : Hasil Pengolahan Data, 20110

56

Dilihat dari hasil pengujian data validitas yang dilakukan oleh penulis dengan bantuan program SPSS versi 16.00, maka dapat disimpulkan untuk variabel Y (efektifitas pengendalian) semuanya valid pada taraf nyata () = 5%. Berarti semua item pertanyaan yang ada pada instrumen tersebut, dapat dijadikan sebagai alat ukur yang valid dalam analisis selanjutnya. (c) Variabel Good Corporate Governance (Y) Good Corporate Governance adalah suatu struktur yang dijalankan oleh pihak manajemen, dewan komisaris, komite audit dan auditor internal. Berdasarkan hasil uji validitas untuk item item variabel efektifitas pengendalian dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel IV. 5 Uji Validitas Skor Jawaban Good Corporate Governance (Y) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Item Y_1 Y_2 Y_3 Y_4 Y_5 Y_6 Y_7 Y_8 Y_9 Y_10 Y_11 Y_12 Y_13 Y_14 r hitung 0,469 0,698 0,648 0,647 0,625 0,620 0,645 0,854 0,474 0,655 0,408 0,655 0,511 0,697 r tabel Kesimpulan () = 5% 0,329 rhitung > rtabel,Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel,Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel,Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,329 rhitung > rtabel, Valid

56

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011

2 5 7 15 16 17 Dilihat Y_15 Y_16 Y_17 dari hasil 0,724 0,329 rhitung > rtabel, Valid 0,530 0,329 rhitung > rtabel,Valid 0,449 0,329 rhitung > rtabel, Valid pengujian data validitas yang dilakukan oleh

penulis dengan bantuan program SPSS versi 16.00, maka dapat disimpulkan untuk variabel Y (good corporate governance) semuanya valid pada taraf nyata () = 5%. Berarti semua item pertanyaan yang ada pada instrumen tersebut, dapat dijadikan sebagai alat ukur yang valid dalam analisis selanjutnya. (2) Uji Reliabilitas Dalam melakukan pengujian seliabilitas terdapat item item pertanyaan Variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Good Corporate Governance (Y), penulis menggunakan metode Alpha Cronbach, yaitu menentukan reliabel atau tidaknya suatu instrumen penelitian dengan cara membandingkan antara nilai rhitung dengan rtabel pada taraf kepercayaan 95 % atau tingkat signifikansi 5 %. Menurut Syahri (2003 : 360 ). Apabila dilakukan dengan metode Alpha

Cronbach, maka nilai rhitung diwakili oleh nilai Alpha. Jika Nilai Cronbachs Alpha > Nilai Alpha, Reliabel, jika Nilai Cronbachs Alpha < Nilai Alpha, Tidak Reliabel. Reliabilitas menunjuk pada
adanya suatu konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu (Sarwono, 2006). Dengan kata lain, uji reliabilitas akan menunjukkan bagaimana pertanyaan dalam suatu variabel berhubungan satu dengan lainnya.

58

Tabel IV. 6 Hasil Uji Reliabilitas Variabel Program Audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Corporate Governance (Y) No 1 Item Cronbachs Alpha Nilai Cronbachs Alpha 0,6 0,6 0,6 Keterangan Reliabel Reliabel Reliabel

Program Audit (X1), 0,664 2 Rekomendasi (X2 0,631 3 Efektifitas Pengendalian 0,657 (Y) Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011

(3) Uji Normalitas Data Berdasarkan hasil uji Normalitas data untuk item item variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Good Corporate Governance (Y), dengan menggunakan Test of Normality pada program SPSS Versi 16.00, dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel IV. 7 Hasil Uji Normalitas Data
Tests of Normality Kolmogorov-Smirnov Statistic df Sig. ,123 36 ,127 ,121 36 ,104 ,120 36 ,200*
a

Program Audit Rekomendasi Good Corporate Governance

Statistic ,887 ,916 ,980

Shapiro-Wilk df 36 36 36

Sig. ,002 ,009 ,745

*. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction

58

2 5 9 Sumber : Pengolahan Data, 2011 Dari tabel Tests of Normality, menunjukan bahwa variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Good Corporate Governance (Y), semuanya memiliki nilai yang normal, dikarenakan nilai Sig > 0,05 yaitu Variabel Program Audit (X1) Sig (0,127) > 0,05, Rekomendasi (X2) Sig (0,104) > 0,05 dan Good Corporate Governance (Y) Sig (0,200) > 0,05. Hal ini mengambarkan bahwa hasil pengukuran menunjukkan penyebaran frekuensi nilai sesuai dengan kaidah kurva normal. 2. Uji Asumsi Klasik Untuk melihat apakah hasil regresi untuk model sudah memenuhi kriteria Best Linier Unbiased Estimator (BLUE) atau belum, maka perlu dilakukan beberapa pengujian terhadap pelanggaran asumsi klasik yang meliputi : (a) Multikolinearitas dan (b) Heteroskedasitas. a) Multikolinieritas Pengujian multikolinieritas dilakukan agar variabel-variabel dalam penelitian tidak terjadi adanya korelasi. Pengujian gejala multikolinieritas ini dapat di deteksi dengan nilai R yang tinggi dan uji F yang signifikan, tetapi banyak koefisien dalam uji t yang tidak signifikan atau secara subtantif interprestasi yang dapat meragukan. Pada persamaan tidak langsung terlihat bahwa semua koefisien dalam uji t signifikan sehingga dapat dikatakan tidak terjadi gejala multilinieritas pada persamaan tersebut. Namun untuk memastikan

60

variabel-variabel bebas tidak berkorelasi dapat dilihat pula dari Variance Inflation Factor (VIF) yang tidak lebih besar dari 1.

Tabel IV. 8 Hasil Uji Multikolinearitas


a C o effic ien ts

U n s ta n d a r d iz e d S ta n d a r d iz e d C o e ffic ie n ts C o e ffic ie n ts Model B S td . E r r o r B e ta 1 ( C o n s ta n t) 5 8 ,5 1 5 1 6 ,6 8 4 P r o g r a m A u d it ,27 6 ,4 7 0 ,1 0 1 R e k o m e n d a s i ,4 5 2 ,4 1 9 ,1 8 6 a . D e p e n d e n t V a r ia b le : G o o d C o r p o r a te G o v e r n a n c e

t 3,5 0 7 ,5 8 6 1 ,0 7 9

C o llin e a r ity S ta tis tic s S ig . T o le r a n c e V IF ,0 0 1 ,5 6 2 ,9 7 7 1 ,0 23 ,28 9 ,9 7 7 1 ,0 23

Sumber : Pengolahan Data, 2011 Dari hasil data diatas dapat diketahui VIF tiga variabel, yaitu program audit (X1) sebesar 0,977 dan Rekomendasi (X2) sebesar 0,977. Karena nilai tolerance mendekati 1 dan VIF berada di sekitar 1, maka dapat disimpulkan dalam penelitian ini tidak mengandung

multikolinearitas. b) Heterokedastisitas Pengujian heterokedastisitas dilakukan dengan melihat plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPERD) dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan cara melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scaterrplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah residual (Yprediksi Ysesungguhnya ) yang telah diprediksi.
-

60

2 6 1 Jika ada pola tertentu seperti titik titik yang ada membentuk pola tertentu, maka mengindikasikan telah terjadi heterokedastisitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik titik menyebar di atas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas atau dengan kata lain terjadi homokedastisitas. Dari hasil pengolahan data dengan SPSS for Windows 16.00 diperoleh Scatter plot sebagai berikut : Gambar IV. 9 Grafik Scatter plot
Scatterplot

Dependent Variable: Good Corporate Governance


3

-1

l u z d a t S n o i s r g e R
-2 -2 -1 0 1 2

Regression Standardized Predicted Value

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011

62

Dari gambar scatter plot, dapat dilihat titik titik pada gambar menyebar dan tidak membentuk suatu pola tertentu, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini tidak mengandung heterokedestisitas. Dari hasil pengujian asumsi dasar ternyata data yang dipergunakan dalam penelitian ini dinyatakan tidak mengandung multikolinieritas, heterokedastisitas, serta normalitas data yang normal.

3. Regresi Linier Berganda Tabel IV. 10 Hasil Uji Regresi Berganda


a C o effic ien ts

Un s ta n d a r d iz e d S ta n d a rd iz e d C o e ffic ie n ts C o e ffic ie n ts Model B S td . E r r o r B e ta 1 ( C o n s ta n t) 5 8 ,5 1 5 1 6 ,6 8 4 P r o g ra m A u d it ,27 6 ,4 7 0 ,1 0 1 Rekomendasi ,4 5 2 ,4 1 9 ,1 8 6 a . D e p e n d e n t V a ria b le : G o o d C o rp o r a te G o v e r n a n c e

t 3,5 0 7 ,5 8 6 1 ,0 7 9

C o llin e a r ity S ig . T o le r a n c e ,0 0 1 ,5 6 2 ,9 7 7 ,28 9 ,9 7 7

S ta tis tic s V IF 1 ,0 23 1 ,0 23

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011 Hasil uji regresi pada variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Good Corporate Governance (Y), dapat digambarkan persamaan regresi bergandanya sebagai berikut : Y = a + b1X1+ b2X2 Y = 58,515 + 0,276 X1+ 0,452X2 Dari persamaan regresi tersebut menggambarkan bahwa : 1) Koefisien Regresi Program audit (X1)

62

2 6 3 Nilai koefisien program audit adalah sebesar 0,276 (27,6%), artinya jika ada peningkatan terhadap Program Audit (X1) sebesar 100% , maka akan meningkatkan good corporate governance (Y) sebesar 27,6%, sebaliknya jika ada penurunan terhadap Program audit (X1) (X1) sebesar 100%, maka akan ada penurunan good corporate governance (Y) sebesar 27,6%. 2) Koefisien Rekomendasi (X2) Nilai koefisien regresi rekomendasi adalah sebesar 0,452 (45,2%), artinya jika ada peningkatan terhadap Rekomendasi (X2) sebesar 100%, maka akan meningkatkan good corporate governance (Y) sebesar 45,2%, sebaliknya jika ada penurunan Rekomendasi (X2) terhadap sebesar 100%, maka akan ada penurunan good corporate governance (Y) sebesar 45,2%. 4. Uji Koefisien Determinan Koefisien atau uji determinasi ( R2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi berada di antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-varibel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2005). Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan program Statistical

64

Package for Social Sciences (SPSS) versi 16.00 diperoleh model summary sebagai berikut : Tabel IV. 11 Hasil Uji Koefisien Determinan
b Model Summary

Model 1

R R Square ,198 a ,039

Adjusted R Square -,019

Std. Error of the Estimate 4,01427

a. Predictors: (Constant), Rekomendasi, Program Audit b. Dependent Variable: Good Corporate Governance

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011

Nilai R Square (R2) sebesar 0,039 (3,9%), angka tersebut menggambarkan bahwa good corporate governance (Y), dapat dijelaskan oleh niali Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2), sedangkan sisanya 96,1% (100%-3,9%) dipengaruhi oleh faktor lain yaitu indepedensi dan kopetensi auditor internal yang tidak masuk dalam penelitian ini. Hal ini menggambarkan bahwa penelitian ini tidak dapat dijadikan model pada penelitian selanjutnya. 5. Uji Korelasi Koefisien korelasi memiliki nilai antara lain -1 dan +1 (-1 <r+1). a) Jika r bernilai positif maka variabel variabel berkorelasi positif. Semakin dekat nilai r ke +1 semakin kuat korelasinya, demikian pula sebaliknya. b) Jika r bernilai negatif maka variabel variabel berkorelasi negatif. Semakin dekat nilai r ke -1 semakin kuat

64

2 6 5 korelasinya, demikian pula sebaliknya. c) Jika r bernilai nol maka variabel variabel tidak menunjukkan korelasi. d) Jika r bernilai +1 atau -1 maka variabel variabel menunjukkan korelasi positif atau negatif yang sempurna. Dari tabel Model Summary (Tabel VI. 10) , dapat dilihat bahwa nilai korelasi (R) adalah sebesar 0,198 (19,8%), Sedangkan menurut Anto Dajan ( 2000 : 19 ), ntuk menentukan keeratan hubungan atau korelasi antar variabel tersebut, maka diberikan nilai nilai dari r sebagai patokan. r = 0 tidak ada korelasi 0 < r < 0,20 korelasi sangat rendah 0,20 < r < 0,40 korelasi rendah 0,40 < r < 0,70 korelasi yang cukup berarti 0,70 < r < 0,90 korelasi yang tinggi, kuat 0,90 < r < 1 korelasi sangat tinggi, kuat sekali r = 1 korelasi sempurna Nilai korelasi (R) yaitu sebesar 0,198 berarti berada pada rage 0 < r < 0,20 korelasi sangat rendah. Hal tersebut berarti bahwa Korelasi antara variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) dan Good Corporate Governance (Y) adalah korelasi yang sangat lemah. Maksudnya jika ada peningkatan terhadap variabel Program audit (X1) dan Rekomendasi (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance (Y) dengan cukup berarti. Begitu juga sebaliknya, jika ada penurunan terhadap

66

variabel Program audit (X1), Rekomendasi (X2) tidak berpengaruh signifikan terhadap Good Corporate Governance (Y) dengan cukup berarti. 6. Uji Hipotesis a) Uji F ( Uji Bersama-Sama) Uji F adalah pengujian hipotesis secara bersama yang merupakan pengujian hipotesis koefisien regresi linier berganda dengan seluruh variabel bebas yang ada dalam penelitian (X1dan X2) yang mempengaruhi variabel terikat (Y). Hasil untuk ujii F dengan mengunakan SPSS for Windows versi 16 adalah sebagai berikut: Tabel IV.13 Hasil Uji F ( Uji Bersama-sama)
b ANOVA

Model 1

Regression Residual Total

Sum of Squares 21,710 531,775 553,485

df 2 33 35

Mean Square 10,855 16,114

F ,674

Sig. ,517 a

a. Predictors: (Constant), Rekomendasi, Program Audit b. Dependent Variable: Good Corporate Governance

Sumber : Hasil Pengolahan Data Dengan SPSS Ver. 16.00 Berdasarkan tabel Anova di atas, dapat dilihat bahwa nilai Fhitung untuk variable Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 0,674. Sedangkan Ftabel dengan taraf nyata () = 5% dengan penyebut (n-k-1) = (36-2-1) dan pembilang (k = 2) adalah sebesar 3,285. Menurut Syahri (2003 : 350), jika Fhitung > Fttabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima, sedangkan jika Fhitung < Ftabel maka, Ho diterima dan Ha

66

2 6 7 ditolak. Pada penelitian ini F


hitung

< Ftabel ( 0,674 < 3,285), berarti bahwa

tidak ada pengaruh signifikan antara program audit dan rekomendasi terhadap Good Corporate Governance, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti bahwa hipotesis Ho diterima yaitu secara simultan tidak ada pengaruh signifikan antara program audit dan rekomendasi terhadap Good Corporate Governance.

b) Uji t (Parsial) Uji t adalah pengujian hipotesis secara individual yang merupakan pengujian hipotesis koefisien regresi linier berganda dengan hanya satu variabel bebas (X1 atau X2) yang mempengaruhi variabel terikat (Y). Hasil untuk ujii t dengan mengunakan SPSS for Windows versi 16 adalah sebagai berikut: Tabel IV. 12 Hasil Uji t (Parsial)
Coefficientsa Unstandardized Coefficients B Std. Error 58,515 16,684 ,276 ,470 ,452 ,419 Standardized Coefficients Beta ,101 ,186 Collinearity Statistics Tolerance VIF ,977 ,977 1,023 1,023

Model 1

(Constant) Program Audit Rekomendasi

t 3,507 ,586 1,079

Sig. ,001 ,562 ,289

a. Dependent Variable: Good Corporate Governance

Sumber : Hasil Pengolahan Data, 2011 Nilai t tabel dengan tingkat keyakinan 95 %, tingkat kesalahan () = 5 % = 0,05 dan derajat kebebasan (df ) = n k-1 = (36 2 1) adalah sebesar 2,032. Menurut (Syahri,2003:355), jika thitung < ttabel atau - thitung >

68

ttabel maka, Ho diterima dan Ha ditolak dan jika thitung > ttabel atau - thitung < ttabel maka, Ha diterima dan Ho ditolak, maka : Program Audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) Berdasarkan tabel Coefficients di atas, dapat dilihat bahwa thitung untuk variabel Program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 0,586 hal ini berarti thitung < ttabel ( 0,586 < 2,032 ). Oleh karena itu, tidak ada pengaruh antara Program Audit terhadap terhadap Good Corporate Governance, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) Berdasarkan tabel Coefficients di atas, dapat dilihat bahwa thitung untuk variabel Program Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 1,079 hal ini berarti thitung < ttabel ( 1,079 < 2,032). Oleh karena itu, tidak ada pengaruh antara Rekomendasi terhadap terhadap Good Corporate Governance, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Pengaruh secara parsial Program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) ditunjukkan pada tabel IV. 12 adalah sebesar 0,276 (27,6%) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) ditunjukkan pada tabel IV. 12 adalah sebesar 0,452 (45,2%) sebesar 0,871 (87,1%). Berdasarkan hasil analisis secara parsial (uji t) diperoleh hasil bahwa variabel Program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y)

68

2 6 9 adalah sebesar 0,586 diperoleh bahwa thitung < ttabel ( 0,586 < 2,032, maka Ho diterima dan Ha ditolak dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 1,079 hal ini berarti thitung < ttabel ( 1,079 < 2,032). Oleh karena itu, tidak ada pengaruh antara Rekomendasi terhadap terhadap Good Corporate Governance, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

C. Pembahasan 1. Uji F (Secara Bersama-sama) H1 : Program Audit (X1) dan Rekomendasi Internal Auditor (X2) secara simultan governance. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan komputer program Statistical Product and Service Solusion (SPSS release 16.00 for windows) diperoleh Nilai R Square (R2) sebesar 0,039 sebesar 3,9% Good Corporate Governance dipengaruhi program audit dan rekomendasi sedangkan variabel lain yang mempengaruhi Y sebesar 96,1% (100%-3,9%) dipengaruhi oleh faktor lain seperti indepedensi, kompetensi auditor internal. Hal ini mengambarkan bahwa penelitian ini dapat dijadikan model pada penelitian selanjutnya. Pada penelitian ini Fhitung ( 0,674 ) < Ftabel ( 3,285), berarti bahwa tidak berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate

70

ada pengaruh signifikan antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y). Hal ini berarti bahwa hipotesis 3 diterima yaitu secara simultan tidak ada pengaruh signifikan antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) hal ini berarti bahwa Fhitung lebih kecil dari signifikan 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hasil ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh IBK Bayangkara (2008) bahwa auditor internal harus menyusun program kerja audit dan membuat laporan hasil audit dalam bentuk rekomendasi kemudian melaporkan kepada manajemen apabila terdapat penyimpangan-

penyimpangan yang berarti dan memberikan saran perbaikan, apabila disetujui manajemen auditor internal akan mengawasi perbaikan tersebut. Auditor internal harus menentukan setiap tindakan yang layak sesuai dengan yang dilaporkan dan menindaklanjuti masalah yang dikemukakan atau rekomendasi yang disiapkan dalam laporan agar tercapainya perusahaan yang corporate governance.

2. Uji t (Secara Parsial) H21 : Program Audit (X1) secara parsial berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance (Y) Pengaruh secara parsial nilai program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) di tunjukan pada table IV. 12 sebesar 0,276, ini berarti nilai program audit memberi sumbangn yang efektif 27,6 % terhadap

70

2 7 1 Good Corporate Governance (Y) dapat dijelaskan oleh nilai program audit (X1) sebesar 27,6%. Berdasarkan hasil analisis secara parsial ( uji t) diperoleh hasil bahwa untuk variabel nilai program audit terhadap Good Corporate Governance diperoleh bahwa bahwa thitung ( 0,586 ) < ttabel (2,032), maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hal ini berarti bahwa hipotesis 1 ditolak yaitu secara parsial tidak ada pengaruh secara signifikan antara nilai program audit terhadap Good Corporate Governance. Hasil ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Mulyadi bahwa program audit merupakan perencanaan prosedur dan teknik-teknik pemeriksaan yang ditulis secara sistematis untuk mencapai tujuan pemeriksaan secara efisien dan efektif. Selain berfungsi sebagai alat perencanaan juga penting untuk mengatur pembagian kerja, memonitor jalannya kegiatan pemeriksaan, menelaah pekerjaan yang telah dilakukan. Hal ini juga tidak sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh IBK Bayangkara yaitu begitu pentingnya fungsi program audit dalam audit manajemen, maka penyusunan program audit harus sedemikian rupa agar bias digunakan sebagai sarana pengendalian pelaksanaan audit. Berikut beberapa ketentuan dalam menyusun program kerja audit, yaitu : a) Tujuan kerja harus dinyatakan secara jelas dan halus agar dapat dicapai atau dasar pekerjaan yang direncanakan dalam program kerja

72

audit. b) Program kerja audit harus disusun sesuai dengan penugasan yang bersangkutan. c) Setiap langkah harus berbentuk intruksi-inruksi mengenai

pekerjaan yang harus dilakukan. d) Setiap langkah kerja harus merinci pekerjaan yang dilakuakan disertai alasan-alasannya. e) Program kerja audit harus

mengambarkan urutan perioritas langkah-langkah kerja yang harus dilaksanakan. f) Program kerja audit harus fleksibel dan setiap perubahan harus yang dengan

dilakuakn

persetujuan atasan auditor. g) Program kerja audit hendaknya hanya berisi informasi yang perlu untuk melaksanakan audit dan evaluasi secara tepat. h) Tidak boleh memuat perintah

72

2 7 3 untuk memperoleh informasi yang telah ada dalam permanent file. i) Harus nyatakan taksiran waktu yang diperlukan sesuai dengan rencana kerja audit kegiatan untuk yang

melaksanakan bersangkutan.

j) Program kerja audit disiapkan oleh ketua tim audit dan harus dibahas bersama-sama dengan pengawas dan seluruh anggota tim audit. H22 : Rekomendasi (X2) secara parsial berpengaruh terhadap pelaksanaan good corporate governance (Y) Pengaruh secara parsial nilai Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) ditunjukan pada table IV. 11 sebesar 0,452 ini berarti Rekomendasi Internal Auditor memberi sumbangan yang efektif 45,2 terhadap Good Corporate Governance (Y) dapat dijelaskan oleh nilai program audit (X1) sebesar 45,2%. Rekomendasi memiliki pengaruh yang positif terhadap Rekomendasi terhadap Good Corporate Governance. Berdasarkan hasil analisis secara parsial (uji t) diperoleh hasil untuk variable Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 1,079 hal ini berarti thitung < ttabel ( 1,079 < 2,032). Oleh karena itu, tidak ada pengaruh antara Rekomendasi terhadap terhadap Good

74

Corporate Governance, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Hasil ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh IBK Bayangkara (2008) bahwa Auditor internal harus menentukan setiap tindakan yang layak sesuai dengan yang dilaporkan dan menindaklanjuti masalah yang dikemukakan atau rekomendasi yang disiapkan dalam laporan agar tercapainya perusahaan yang corporate governance. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Gita Gumilang bahwa peranan audit internal berpengaruh signifikan positif terhadap penerapan GCG. Tetapi hasil analisa regresi secara keseluruhan menunjukan bahwa korelasi/hubungan peranan audit internal dengan penerapan GCG tidak mempunyai hubungan yang kuat. Menurut Efendi (2006) fungsi audit internal adalah memberikan penilaian atas pengendalian internal dan proses pengelolaan resiko. Fungsi internal audit (satuan pemeriksaan intern) yang efektif dan memadai mampu menawarkan sumbangan penting dalam meningkatkan proses corporate governance. Hal ini dapat dilakukan oleh internal audit agar dapat berperan dalam meningkatkan kinerja perusahan ditunjukan dengan adanya peran auditor internal sebagai evaluasi sistem dan menjamin dapat dipercayainya sistem tersebut (assurance services), dan membantu mendesain sistem tersebut dengan memberikan rekomendasi atau consulting services. Hal ini juga tidak sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Efendi (2006) fungsi audit internal adalah memberikan penilaian atas pengendalian internal dan proses pengelolaan resiko. Fungsi internal audit

74

2 7 5 (satuan pemeriksaan intern) yang efektif dan memadai mampu menawarkan sumbangan penting dalam meningkatkan proses corporate governance. Hal ini dapat dilakukan oleh internal audit agar dapat berperan dalam meningkatkan kinerja perusahan ditunjukan dengan adanya peran auditor internal sebagai evaluasi sistem dan menjamin dapat dipercayainya sistem tersebut (assurance services), dan membantu mendesain sistem tersebut dengan memberikan rekomendasi atau consulting services.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan pembahasan dan uraian pada bab empat, maka dapat disimpulkan

76

bahwa : 1. Secara bersama-sama (Uji F) untuk variable antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y). Pada penelitian ini F 69
hitung

( 0,674 ) < Ftabel

( 3,285), berarti bahwa tidak ada pengaruh signifikan antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y). Hal ini berarti bahwa hipotesis 3 diterima yaitu secara simultan ada pengaruh signifikan antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y). Hasil penelitian ini mengandung arti bahwa semakin tinggi tingkat program audit dan rekomendasi internal auditor yang dilakukan oleh Perusahaan BUMN maka tidak meningkatkan efektifitas Good Corporate Governance di dalam Perusahaan BUMN.

2. Secara parsial (Uji t) untuk variabel Program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 0,586 hal ini berarti thitung < ttabel ( 0,586 < 2,032 ) yang bermakna bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara Program Audit terhadap terhadap Good Corporate Governance dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y) adalah sebesar 1,079 hal ini berarti thitung < ttabel ( 1,079 < 2,032) yang bermakna bahwa tidak ada pengaruh antara Rekomendasi terhadap terhadap Good Corporate Governance.

76

2 7 7 3. Secara determinasi yaitu nilai R Square (R2) sebesar 0,039 (3,9%), angka tersebut menggambarkan bahwa good corporate governance (Y), dapat dijelaskan oleh niali Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2), sedangkan sisanya 96,1% (100%-3,9%) 69 dipengaruhi oleh faktor lain yaitu indepedensi dan kopetensi auditor internal yang tidak masuk dalam penelitian ini. Hal ini menggambarkan bahwa penelitian ini tidak dapat dijadikan model pada penelitian selanjutnya. B. Saran Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian ini menunjukan peranan program audit dan rekomendasi audit internal berpengaruh positif terhadap peranan GCG, adapun saran yang dapat penulis berikan penulis yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dari perusahaan untuk meningkatkan good corporate governance. Saran tersebut adalah : 1. Secara bersama-sama (Uji F) untuk variable antara Program Audit (X1) dan Rekomendasi (X2) terhadap Good Corporate Governance (Y). Diharapkan kelak untuk penelitian selanjutnya, untuk meneliti pengaruh faktor-faktor lain yaitu independensi, kompetensi, pelaksanaan audit internal, tindak lanjut serta bagian-baian lain di perusahaan terhadap penerapan Good Corporate Governance (GCG). 2. Secara parsial (Uji t) untuk variabel Program audit (X1) terhadap Good Corporate Governance (Y) diharapkan peranan program audit di tingkatkan yang dilakukan dapat membantu perusahaan

78

khususnya manajemen dalam penerapan GCG. Selain itu, manajemen beserta dewan komisaris harus memberikan dukungan penuh agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena penerapan GCG harus mmelingkupi seluruh aspek perusahaan. 3. Secara determinasi yaitu agar penelitian selanjutnya dipengaruhi oleh faktor lain yaitu indepedensi, kompetensi, pelaksanaan audit internal, tindak lanjut serta bagian-baian lain di perusahaan terhadap penerapan Good Corporate Governance (GCG).

78

2 7 9