Anda di halaman 1dari 8

A.

PENCAHAR/LAKSATIVA
a.

Pengertian laksativa
Laksatif adalah makanan atau obat-obatan yang diminum untuk membantu mengatasi sembelit dengan membuat kotoran bergerak dengan mudah di usus. Dalam operasi pembedahan, obat ini juga diberikan kepada pasien untuk membersihkan usus sebelum operasi dilakukan. Laksatif merupakan obat bebas. b. Penyakitnya konstipasi konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat buang air besar (BAB) seperti biasanya. Walaupun tidak ada ketentuan berapa kali seseorang harus BAB, tetapi lazimnya frekuensi BAB seseorang adalah 3 x / hari 3 x / minggu. Penyebab Pada kasus anak, umumnya faktor yang menjadi penyebab adalah kebiasaan menahan / menunda keinginan BAB, sehingga feses menjadi lebih kering dan lebih keras. Kemungkinan lain adalah karena ukuran feses yang terlalu besar. Sedangkan penyebab konstipasi pada dewasa antara lain adalah :

Jumlah serat dalam diet sehari-hari < 30 g / hari. Irritable bowel syndrome (IBS) yang mempunyai gejala konstipasi dan diare yang disertai dengan nyeri abdomen. Obat, mis. anti-hipertensi, anti-depresi, suplemen yang mengandung kalsium dan zat besi, dsb. Transit time lambat Penyebab kelainan ini tidak diketahui; lebih sering ditemukan pada wanita. Gangguan fungsi otot dasar panggul Terutama dialami oleh wanita yang sudah mempunyai anak. Kanker. Kelainan ini dapat dideteksi dengan kolonoskopi atau enema barium Lain-lain Gejala dan Tanda Sulit BAB, BAB keras dan lama, mengedan. Pencegahan

a. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi konstipasi pada anak adalah :
1. Memberikan diet kaya serat : buah, sayur, dll. Kebutuhan serat pada anak dapat diketahui dengan cara menambahkan 5 pada usia tersebut.

Mis. : usia anak = 7 tahun, berarti kebutuhan serat anak tersebut = 7 + 5 = 12 g / hari. 2. Mengajarkan anak agar mempunyai kebiasaan BAB yang teratur setiap hari. Jangan biarkan anak menahan / menunda keinginan BAB. 3. Jika perlu, dapat diberikan obat pelunak feses.

b. Untuk mengatasi konstipasi pada dewasa dapat dilakukan beberapa cara sebagai
berikut : 1. Diet yang benar dan seimbang antara serat, cairan, dll. 2. Latihan BAB secara teratur 3. Laksatif (pencahar). Macam-macam pencahar yang kita kenal :

Suplemen serat, mis. psyllium, sterculia, frangula, dll. Pelunak feses laksatif osmotik, mis. lactulose, sorbitol, dll. Perangsang usus, mis. bisacodyl, dll. Lubrikan, mis. minyak parafin

4. Lain-lain

Latihan untuk menguatkan otot-otot dasar panggul. Menggunakan cara BAB yang nyaman menurut penderita : duduk atau jongkok. Obat prokinetik, mis. cisapride. Operasi, biasanya dilakukan pada kasus inersia kolon (sangat jarang).

Pada umumnya, konstipasi dapat diatasi dengan cara yang sederhana, mis. meningkatkan jumlah serat dalam diet, latihan BAB teratur dan menghindari obat-obat yang dapat menyebabkan konstipasi.

c.pengobatannya
PENGGUNAAN PENCAHAR STIMULAN UNTUK MENGOBATI KONSTIPASI Makanan yang masuk ke dalam tubuh akan melalui lambung, usus halus, dan akhirnya menuju usus besar/kolon. Di dalam kolon inilah terjadi penyerapan cairan dan pembentukan massa feses. Bila massa feses berada terlalu lama dalam kolon, jumlah cairan yang diserap juga banyak, akibatnya konsistensi feses menjadi keras dan kering sehingga dapat menyulitkan pada saat pengeluaran feses. Konstipasi merupakan suatu kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan defekasi akibat tinja yang mengeras, otot polos usus yang lumpuh maupun gangguan refleks defekasi (Arif & Sjamsudin, 1995) yang mengakibatkan frekuensi maupun proses pengeluaran feses terganggu. Frekuensi defekasi/buang air besar (BAB) yang normal adalah 3 sampai 12 kali dalam seminggu. Namun, seseorang baru dapat dikatakan konstipasi jika ia mengalami frekuensi BAB kurang dari 3 kali dalam seminggu, disertai konsistensi feses yang keras, kesulitan mengeluarkan feses (akibat ukuran feses besar-besar maupun akibat terjadinya gangguan refleks defekasi), serta mengalami sensasi rasa tidak puas pada saat BAB (McQuaid, 2006). Orang yang frekuensi defekasi/BAB-nya kurang dari normal belum tentu

menderita konstipasi jika ukuran maupun konsistensi fesesnya masih normal. Konstipasi juga dapat disertai rasa tidak nyaman pada bagian perut dan hilangnya nafsu makan. Konstipasi sendiri sebenarnya bukanlah suatu penyakit, tetapi lebih tepat disebut gejala yang dapat menandai adanya suatu penyakit atau masalah dalam tubuh (Dipiro, et al, 2005), misalnya terjadi gangguan pada saluran pencernaan (irritable bowel syndrome), gangguan metabolisme (diabetes), maupun gangguan pada sistem endokrin (hipertiroidisme). TREATMENT KONSTIPASI Sasaran Terapi Konstipasi yaitu: (1) massa feses, (2) refleks peristaltik dinding kolon. Tujuan Terapinya adalah menghilangkan gejala, artinya pasien tidak lagi mengalami konstipasi atau proses defekasi/BAB (meliputi frekuensi dan konsistensi feses) kembali normal. Strategi Terapi dapat menggunakan terapi farmakologis maupun nonfarmakologis. Terapi non-farmakologis digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB pada pasien konstipasi, yaitu dengan menambah asupan serat sebanyak 10-12 gram per hari dan meningkatkan volume cairan yang diminum, serta meningkatkan aktivitas fisik/olah raga. Sumber makanan yang kaya akan serat, antara lain: sayuran, buah, dan gandum. Serat dapat menambah volume feses (karena dalam saluran pencernaan manusia ia tidak dicerna), mengurangi penyerapan air dari feses, dan membantu mempercepat feses melewati usus sehingga frekuensi defekasi/BAB meningkat (Dipiro, et al, 2005). Sedangkan terapi farmakologis dengan obat laksatif/pencahar digunakan untuk meningkatkan frekuensi BAB dan untuk mengurangi konsistensi feses yang kering dan keras. Secara umum, mekanisme kerja obat pencahar meliputi pengurangan absorpsi air dan elektrolit, meningkatkan osmolalitas dalam lumen, dan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam usus. Obat pencahar ini mengubah kolon, yang normalnya merupakan organ tempat terjadinya penyerapan cairan menjadi organ yang mensekresikan air dan elektrolit (Dipiro, et al, 2005). Obat pencahar sendiri dapat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu: (1) pencahar yang melunakkan feses dalam waktu 1-3 hari (pencahar bulk-forming, docusates, dan laktulosa); (2) pencahar yang mampu menghasilkan feses yang lunak atau semi-cair dalam waktu 6-12 jam (derivat difenilmetan dan derivat antrakuinon), serta (3) pencahar yang mampu menghasilkan pengluaran feses yang cair dalam waktu 1-6 jam (saline cathartics, minyak castor, larutan elektrolit polietilenglikol). Pencahar yang melunakkan feses secara umum merupakan senyawa yang tidak diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan beraksi dengan meningkatkan volume padatan feses dan melunakkan feses supaya lebih mudah dikeluarkan. Pencahar bulk-forming meningkatkan volume feses dengan menarik air dan membentuk suatu hidrogel sehingga terjadi peregangan dinding saluran cerna dan merangsang gerak peristaltik. Penggunaan obat pencahar ini perlu memperhatikan asupan cairan kedalam tubuh harus mencukupi, jika tidah bahaya terjadi dehidrasi. Derivat difenilmetan yang biasa digunakan adalah bisakodil dan fenolptalein. Senyawasenyawa ini merangsang sekresi cairan dan saraf pada mukosa kolon yang

mengakibatkan kontraksi kolon sehingga terjadi pergerakan usus (peristaltik) dalam waktu 6-12 jam setelah diminum, atau 15-60 menit setelah diberikan melalui rektal. Namun penggunaan fenilptalein sudah dilarang karena bersifat karsinogen. Senyawa ini tidak direkomendasikan untuk digunakan tiap hari. Jarak antara setiap kali penggunaan harus cukup lama, sekitar beberapa minggu, untuk mengobati konstipasi ataupun untuk mempersiapkan pengosongan kolon jika diperlukan untuk pembedahan. Saline cathartics merupakan garam anorganik yang mengandung ion-ion seperti Mg, S, P, dan sitrat, yang bekerja dengan mempertahankan air tetap dalam saluran cerna sehingga terjadi peregangan pada dinding usus, yang kemudian merangsang pergerakan usus (peristaltik). Selain itu, Mg juga merangsang sekresi kolesitokinin, suatu hormon yang merangsang pergerakan usus besar dan sekresi cairan. Senyawa ini dapat diminum ataupun diberikan secara rektal. Pencahar saline ini juga dapat digunakan untuk mengosongkan kolon dengan cepat sebagai persiapan sebelum pemeriksaan radiologi, endoskopi, dan pembedahan pada bagian perut (Gangarosa & Seibertin, 2003). Secara umum, penggunaan pencahar untuk mengatasi konstipasi sebaiknya dihindari. Namun, jika konstipasi yang terjadi dapat menimbulkan keparahan kondisi pasien, misalnya pada pasien wasir atau pasien yang baru menjalani pembedahan perut, penggunaan obat pencahar sangat diperlukan. Berikut adalah obat yang dipilih untuk digunakan mengatasi konstipasi yang tidak cukup jika diatasi hanya dengan fiber: NAMA GENERIK : Bisacodyl. NAMA DAGANG DI INDONESIA : Dulcolax, Bicolax, Codylax, Laxacod, Laxamex, Melaxan, Prolaxan, Stolax, Toilax. INDIKASI Konstipasi; sebelum prosedur radiologi dan bedah. Semua bentuk sembelit, memudahkan buang air besar pada kondisi dengan rasa sakit seperti pada hemorrhoid (wasir), pengosongan lambung-usus sebelum & sesudah operasi. KONTRA INDIKASI Obat ini tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami sumbatan pada usus (ileus), kondisi pembedahan perut akut, maupun dalam kondisi dehidrasi berat. PERHATIAN Penggunaan senyawa ini dalam jangka lama dapat mengakibatkan kram perut yang parah dan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, juga tidak boleh digunakan untuk pasien hamil dan menyusui. EFEK SAMPING

Jarang: rasa tidak enak pada perut, diare.

BENTUK SEDIAAN Tablet 5 mg (Bicolax, Codylax, Laxacod, Laxamex, Melaxan, Prolaxan, Toilax) dan 10 mg (Dulcolax, Stolax). DOSIS Untuk konstipasi, dewasa: 5-10 mg malam hari; kadang-kadang perlu dinaikkan menjadi 15-20 mg. Anak kurang dari 10 tahun : 5 mg. Pemeriksaan radiografik, sebelum dan sesudah operasi : - dewasa : 2-4 tablet pada malam sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan). - anak-anak berusia 4 tahun atau lebih : 1 tablet pada sore hari sebelum pemeriksaan dan 1 suppositoria pada pagi harinya (di hari pemeriksaan).

d.Nama obat
Nama Obat BICOLAX TABLET CONSTIPEN DULCOLACTOL SYRUP DULCOLAX ADULT SUPPOSITORIA DULCOLAX PEDIATRIC SUPPOSITORIA DULCOLAX TABLET DULCOLAX TABLET DUPHALAC SYRUP FLEET ENEMA FLEET PHOSPOSODA FOSEN ENEMA KOMPOLAX EMULSI 60 ML LACTULAX 60 ML LACTULAX SYRUP 120 ML LACTULAX SYRUP 200 ML
LACTULAX

Kemasan Tablet 5 mg x 18. Syrup 66.7 %/5 ml x 120 ml. Sirup 10 mg/15 ml x 60 ml. Suppositoria untuk dewasa 10 mg x 5 biji. Suppositoria untuk anak 5 mg x 6 biji.

Tablet 5 mg x 200 biji. Tablet 5 mg x 20 x 4 biji. Sirup 3,35 gram/5 ml x 120 ml. Box 133 ml x 1's. Botol 45 ml x 1's. Enema 118 mL. Emulsi 60 mL Sirup 60 mL rasa strawberry. Sirup 120 mL. Sirup 200 mL. Sirup 60 mL rasa vanilla. Syrup 3.43 g/5 ml x 60 ml x 1's. Sirup 110 ml. Sirup 60 ml. Tablet salut enterik 5 mg x 10 x 10's.

SYRUP 60 ML

LANTULOS 60 ML LAXADINE SYRUP 110 ML LAXADINE SYRUP 60 ML LAXANA