Anda di halaman 1dari 16

HUBUNGAN ANTARA STATUS KARIES GIGI DENGAN STATUS GIZI (Studi Pada Pelajar SMP Negeri se-Kecamatan Tellu

Limpoe Kabupaten Sidrap Tahun Ajaran 2010/2011)

Nurhaida Lamlanto Mahasiswa Kepanitraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makassar, Indonesia

ABSTRACT Dental caries is an ecological disease in which the diet, the host and the microbial flora interact over a period of time in such a way as to encourage demineralisation of the tooth enamel with resultant caries formation. Dental caries is still one of the most common diseases in the world today. The purpose of this analytic observational study was to know the correlation between dental caries status and nutritional status on junior high school sudents at Tellu Limpoe sub district. The dental caries status was assessed by evaluating for decayed teeth, missing teeth due to decay, and filled teeth index (DMFT index). Weight and height were measured to evaluate the nutritional status. The result of this study showed that boys have a higher DMFT mean values than in girls. Obese children have a higher DMFT mean values compared with underweight and normal children. By Rank Spearmen test result that there was no significant correlation between dental caries status and nutritional status ( p= 0.283, r= 0.066). Key words: Dental caries, nutrition, nutritional status

ABSTRAK Karies gigi merupakan penyakit ekologis dimana pola makan, host, dan flora mikroba berinteraksi selama periode waktu tertentu sehingga terjadi demineralisasi enamel gigi yang menyebabkan pembentukan karies. Karies gigi masih menjadi salah satu penyaki yang umum terjadi di dunia saat ini. Tujuan dari penelitian observasional analitik ini adalah untuk mengetahui hubungan antara status karies gigi dengan status gizi pada pelajar SMP Negeri se-Kecamatan Tellu Limpoe. Status karies dinilai dengan memeriksa gigi yang decay, gigi yang missing, dan gigi yang filled (Indeks DMFT). Status gizi dinilai dengan mengukur berat badan dan tinggi badan (Indeks BB/TB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki memiliki nilai rata-rata DMFT yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak perempuan. Anak-anak dengan status gizi gemuk memiliki nilai rata-rata DMFT yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang berstatus gizi normal dan kurus. Dari hasil analisis uji rank Spearman, tidak terdapat korelasi yang signifikan antara status karies gigi dengan status gizi ( p= 0.283, r= 0.066). Kata kunci: Karies gigi, gizi, status gizi

PENDAHULUAN Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah Gigi mulai berkembang sebelum bayi dilahirkan. Pada tahap ini, status gizi ibu merupakan masalah penting. Kekurangan zat gizi pada wanita hamil mungkin sebagian berperan dalam

menyebabkan karies pada pembentukan pertama gigi. Gigi anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang memiliki status gizi buruk dalam masa kehamilannya ternyata memiliki ketahanan yang lebih rendah terhadap pembentukan karies di kemudian hari. Namun, karies pada gigi lebih berhubungan dengan pengaruhpengaruh lokal pada makanan yang dikonsumsi, terutama pada kandungan zat makanan dan frekuensi pencernaan zat gula, tepung giling, dan makanan karbohidrat murni.2-3 Setiap kali

adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh

kerusakan bahan organiknya. Akibatnya terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat

menyebabkan nyeri. Pada tahun 1960an oleh Keyes dan Jordan (cit. Harris and Christen, 1995), karies dinyatakan sebagai penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies. Ada tiga faktor utama yang memegang peranan yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet dan ditambah faktor waktu.1

seseorang mengonsumsi makanan dan minuman yang mengandung

karbohidrat, maka beberapa bakteri penyebab karies di rongga mulut akan mulai memproduksi asam sehingga

terjadi demineralisasi yang berlangsung selama 20-30 menit setelah makan. Di antara periode makan, saliva akan bekerja menetraliser asam dan

mempengaruhi proses kalsifikasi gigi sehingga membuat enamel berlubanglubang kecil serta berubah warnanya. Keadaan ini baru diketahui beberapa tahun setelah terjadi erupsi gigi tetap. Pertumbuhan gigi yang paling sehat akan terjadi bila semua unsur gizi tersedia dalam jumlah yang memadai.2,5 Status dicerminkan gizi oleh sering kali

membantu proses remineralisasi.1 Berdasarkan hasil penelitian

yang dilakukan oleh Junaid dkk. (2004) menyatakan bahwa pengaruh karies gigi pada anak dapat menimbulkan

gangguan dalam proses pencernaan dan kesulitan makan yang menyebabkan gangguan pertumbuhan dan

kesehatan umum

seorang individu. Gigi yang tidak terbentuk dengan baik, tanggal, atau sakit bisa berakibat konsumsi makanan yang tidak adekuat, selanjutnya diikuti dengan kesehatan gangguan yang pencernaan kurang dan

perkembangan anak. Terdapat juga hubungan antara karies gigi dengan tingkat konsumsi energi dan protein serta status gizi anak sekolah dasar.4 Kalsifikasi proses gigi merupakan

sempurna.

Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri dan biokimia.6,7 Kecamatan Tellu Limpoe

yang berlangsung bertahun-

tahun. Bila dalam makanan terdapat fluorida, menyatu unsur mineral ini akan dan

dalam

email

menjadikannya semakin kuat. Obatobatan tertentu yang diminum ibu selama kehamilannya dapat

merupakan salah satu dari 14 kecamatan

di

Kabupaten

Sidenreng

Rappang,

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin mengetahui hubungan antara status karies gigi dengan status gizi pada pelajar SMP se-Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap.

Selawesi Selatan. Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki 14 puskesmas yang tersebar di 11 kecamatan dimana salah satunya terdapat di Kecamatan Tellu Limpoe yaitu Puskesmas Amparita. Jumlah tenaga medis di puskesmas tersebut sebanyak dua orang yaitu dokter umum dan dokter gigi, jumlah tenaga perawat sebanyak 9 orang, jumlah tenaga bidan 6 orang, serta tenaga gizi sebanyak 1 orang.8,9

BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan

penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional yang dilaksanakan pada tanggal 13-14

Agustus 2010 di SMP Negeri seKecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap. Pengambilan sampel dilakukan secara systematic random sampling pada pelajar SMP Negeri di Kecamatan Tellu Limpoe, yaitu di SMP Negeri 1 Tellu Limpoe dengan total pelajar yang terdaftar sebanyak 602 pelajar diperoleh sampel 199 pelajar dan di SMP Negeri 2 Tellu Limpoe dengan total pelajar yang terdaftar sebanyak 209 pelajar diperoleh sampel 69 pelajar. Kemudian ketika akan dipilih sampel sebesar 268

Dari data kesehatan Kabupaten Sidrap tahun 2006 di Kecamatan Tellu Limpoe, dari 1150 murid SD yang diperiksa dan memerlukan perawatan, hanya 100 anak yang dirawat atau sekitar 8.7% dari jumlah anak SD yang memerlukan perawatan.8 Dari data tersebut terlihat bahwa masih rendahnya kesadaran masyarakat Kecamatan Tellu Limpoe tentang

pentingnya kesehatan gigi mulut.

orang dari jumlah populasi 813 orang, maka jumlah populasi dibagi dengan jumlah sampel sehingga diperoleh nilai rata-rata 3. Selanjutnya angka 3 ini dijadikan pedoman untuk pengambilan subjek penelitian, yakni dari absen tiap kelas, subjek penelitian dipilih mulai dari urutan pertama selanjutnya

Pada

masing-masing

subjek

dilakukan pemeriksaan status karies gigi dengan meggunakan indeks dari WHO, yaitu indeks DMFT (decay, missing, filling).
  

Kriteria penilaian indeks DMFT menurut WHO: 0,0 1,1 1,2 2,6 2,7 4,4 4,5 6,5 6,6 ke atas Pemeriksaan = sangat rendah = rendah = sedang = tinggi = sangat tinggi karies gigi

ditambahkan dengan nilai 3, yaitu 1,4,7,10, dst hingga diperoleh sesuai dengan jumlah sampel yang telah dihitung. Pemeriksaan status gizi dengan menggunakan indeks berat badan

menurut tinggi badan dengan rumus:


           

dilakukan dengan meihat kondisi gigi geligi sampel dan mencatat jumlah gigi yang decay, missing, dan filling. gizi

Kriteria

status

gizi

BB/TB

Sedangkan

pemeriksaan

satus

berdasarkan WHO: y y y y Sangat Kurus : < -3 SD Kurus : > -3 SD s/d < -2 SD Normal : > -2 SD s/d < +2 SD Gemuk : > +2 SD

(BB/TB) dilakukan dengan mencatat angka pada layar timbangan sebagai nilai berat badan sampel dan mencatat angka pada mikrotoise sebagai nilai tinggi badan sampel.

Data

yang

diperoleh

diolah

dengan menggunakan program SPSS 16.0 dan dianalisis secara observasional dan diuji secara statistik dengan uji korelasi Rank Spearman. HASIL Tabel 1. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dan status gizi ( n=268 ) Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Status Gizi Kurus Normal Gemuk Total Tabel 1 menunjukkan distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dan status gizi. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa berdasarkan jenis 38 222 8 268 14.2 82.8 3.0 100.0 dari sampel memiliki status gizi normal yaitu sebanyak 222 orang (82.8%) sedangkan jumlah sampel yang 103 165 268 38.4 61.6 100.0 Jumlah (n) %

memiliki status gizi kurus yaitu 38 orang (14.2%), jumlah sampel yang memiliki status gizi gemuk yaitu 8 orang (3.0%) dan tidak ada satupun yang memiliki status gizi sangat kurus.

kelamin, jumlah sampel perempuan yaitu 165 orang (61.6%) lebih banyak dibandingkan dari jumlah sampel lakilaki yaitu 103 orang (38.4%).

Berdasarkan status gizi, kebanyakan

Tabel 2. Distribusi nilai rata-rata DMFT berdasarkan jenis kelamin dan status gizi Variabel Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Status Gizi Kurus Normal Gemuk Total 38 222 8 268 2.36 2.57 3.12 2.55 2.04 2.09 2.14 2.09 0.66 1.09 0.35 0.00 0.38 0.77 0.00 0.82 3.03 2.93 3.12 2.95 2.38 2.43 2.14 2.34 Sedang Sedang Sedang Sedang 103 165 268 2.77 2.42 2.55 2.09 2.09 2.09 0.37 0.39 0.38 0.78 0.85 0.82 3.15 2.82 2.95 2.35 2.33 2.34 Sedang Sedang Sedang n D (Mean SD) M (Mean SD) DMFT (Mean SD) Status karies

Tabel 2 menunjukkan nilai ratarata DMFT berdasarkan jenis kelamin dan status gizi. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata gigi yang decay paling banyak pada jenis kelamin laki-laki (2.77 2.09) dan pada status

Untuk nilai rata-rata DMFT, lebih tinggi pada laki-laki (3.15 perempuan (2.82 2.35) dibanding

2.33), namun kedua

kelompok masuk dalam status karies sedang. Sedangkan nilai DMFT

berdasarkan status gizi berturut-turut dari kecil ke besar, yakni status gizi normal (2.93 2.43), kurus (3.03

gizi gemuk (3.12 2.14). Nilai rata-rata gigi yang missing paling banyak pada jenis kelamin perempuan (0.39 0.85)

2.38) dan gemuk (3.12

2.14), semua

dan pada status gizi kurus (0.66 1.09). Namun, tidak ada satupun ditemukan tambalan/restorasi dari semua sampel.

kelompok masuk ke dalam status karies sedang.

Tabel 3. Korelasi nilai rata-rata D dan M terhadap status gizi Status gizi Kurus Normal Gemuk Total n 38 222 8 268 D (Mean + SD) 2.36 2.57 3.12 2,55 2.04 2.09 2.14 2,09 p 0.536 R -0.038 M (Mean+SD) 0.66 1.09 0.35 0.00 0,388 0.77 0.00 0,82 p 0.035 r -0.129

Tabel 3 menunjukkan korelasi nilai rata-rata jumlah dan gigi gigi yang yang

demikian pula sebaliknya. Sedangkan untuk nilai rata-rata gigi yang Missing, dari hasil uji spearman diperoleh nila r = 0.129 yang menunjukkan bahwa

mengalami

Decay

Missing. Dari hasil analisis data dengan uji spearman diperoleh nilai r= 0.038 untuk nilai rata-rata gigi yang Decay menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif sebesar 3.8% antara gigi yang mengalami Decay terhadap status gizi dengan nilai p =0.536 (p>0.05) yang menunjukkan nilai tidak signifikan

terdapat korelasi negatif sebesar 12.9% antara nilai rata-rata gigi yang Missing terhadap status gizi dengan nilai

p = 0.035 (p<0.05) yang menunjukkan nilai signifikan secara statistik. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi nilai ratarata gigi yang Missing maka status gizinya semakin rendah, demikian pula sebaliknya.

secara statistik. Hal ini berarti semakin tinggi nilai rata-rata- gigi yang Decay maka status gizinya semakin rendah,

Tabel 4. Korelasi status karies gigi terhadap status gizi Status gizi Kurus Normal Gemuk Total n 38 222 8 268 DMFT (Mean SD) 3.03 2.93 3.12 2.95 2.38 2.43 2.14 2.34 Status Karies gigi Sedang Sedang Sedang Sedang p 0.283 R -0.066

Tabel 4 menunjukkan korelasi status karies gigi terhadap status gizi. Dari hasil analisis data dengan uji Spearman, diperoleh nilai r= 0.066

diperoleh

jumlah

sampel

secara

keseluruhan 268 orang. Sampel ini merupakan jumlah pelajar yang terpilih secara acak. Pada penelitian ini, dilakukan pengambilan sampel dengan metode systematic random sampling, yakni setelah didapatkan jumlah sampel

yang berarti bahwa terdapat korelasi negatif sebesar 6.6% antara status karies gigi terhadap status gizi dengan nilai p= 0.283 (p>0.05) yang menunjukkan nilai tidak signifikan secara statistik. Hal ini berarti bahwa semakin tinggi status karies gigi maka status gizinya semakin sebaliknya. rendah, demikian pula

sebesar 268 orang dari jumlah populasi 813 orang, dilakukan perhitungan

proporsi sampel tiap sekolah, yakni untuk SMP Negeri 1 Tellu Limpoe dengan jumlah pelajar 602 orang

diperoleh sampel sebesar 199 pelajar DISKUSI Penelitian ini telah dilakukan di SMPN Se-Kecamatan Tellu Limpoe pada tanggal 13-14 Agustus 2010, dan untuk SMP Negeri 2 Tellu Limpoe dengan jumlah pelajar 209 orang

diperoleh sampel sebesar 69 pelajar.

Namun, berdasarkan teori cara pengambilan sampel dengan metode systematic seharusnya random seluruh sampling, populasi

ada tidaknya korelasi antara status gizi dengan status karies gigi (tabel 4). Tabel 1 menunjukkan distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin dan status gizi. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa jumlah perempuan (165 orang) lebih besar dibandingkan dengan jumlah laki-laki (103 orang). Hal ini sesuai dengan data BPS Indonesia di wilayah Sulsel (2010), yakni jumlah perempuan (4.110.345 penduduk) lebih banyak dari jumlah laki-laki (3.924.431 penduduk).10 Dari tabel tersebut juga

dimasukkan dalam satu daftar, sehingga setelah mendapatkan angka 3 dari hasil pembagian jumlah populasi terhadap jumlah sampel, selanjutnya semua

kelipatan 3 dijadikan sebagai subjek penelitian hingga diperoleh sesuai

ukuran sampel yang telah dihitung. Hal ini menjadi kekurangan dari penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status karies gigi pelajar SMP Negeri se-Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap berdasarkan jenis kelamin dan status gizi (tabel 2). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara status gizi dengan gigi yang decay dan gigi yang missing (tabel 3). Serta secara khusus untuk mengetahui

dapat diketahui bahwa para pelajar paling banyak memiliki status gizi normal, yaitu sebanyak 222 pelajar dibandingkan dengan pelajar yang

memiliki status gizi kurus (38 pelajar) dan gemuk (8 pelajar). Dalam beberapa tahun terakhir, derajat kesehatan dan status gizi masyarakat Indonesia telah semakin membaik. Hal ini ditandai dengan prevalensi gizi kurang 23,2%

pada tahun 2003 menjadi 18,4% tahun 2007.11 Tabel 2 menunjukkan distribusi nilai DMFT berdasarkan jenis kelamin dan status gizi. Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa nilai rata-rata D paling banyak pada jenis kelamin laki-laki dan pada status gizi gemuk. Nilai rata-rata M paling banyak pada jenis kelamin perempuan dan pada status gizi kurus. Untuk nilai rata-rata DMFT, lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan, namun kedua kelompok masuk dalam status karies sedang. Sedangkan nilai DMFT berdasarkan status gizi berturutturut dari kecil ke besar, yakni status gizi normal, kurus dan gemuk, semua kelompok masuk ke dalam status karies sedang. Dalam penelitian ini, anak-anak dengan status gizi normal memiliki nilai DMFT yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak dengan status gizi gemuk. Hal ini sesuai dengan hasil

penelitian

yang dkk.

dilakukan (2004)

oleh yang

Willershausen

melaporkan bahwa anak-anak dengan berat badan normal memiliki karies gigi yang secara signifikan lebih rendah pada gigi sulung maupun gigi dengan

permanennya

dibandingkan

anak-anak yang memiliki kelebihan berat badan.12 Kegemukan terjadi akibat terlalu banyak asupan kalori. Banyak fakta yang menunjukkan jika orang kelebihan berat badan akibat banyak

mengkonsumsi HFCS di soda dan makanan yang tinggi Indeks Glikemik seperti pada permen, makanan ringan, roti putih, dan sebagainya. Minuman ringan (soft drink) yang terbukti

memiliki kandungan gula yang tinggi sehingga bertambah berat badan akan cepat

bila

mengkonsumsi

minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan sangat menjadikan anak-anak ini.

menggemari

minuman

Glukosa

ini

juga

dengan

bantuan

oleh

Alvares

dkk.

(1995)

yang

Streptococcus

mutans

membentuk

menunjukkan bahwa malnutrisi sedang yang terjadi pada bayi (usia kurang dari 1 tahun) memiliki hubungan dengan peningkatan karies giginya di kemudian hari. Hal ini mungkin terjadi sebagai akibat dari efek yang merugikan pada pembentukan enamel gigi sejak awal. Hal ini sesuai dengan penelitian

dekstran yang merupakan matriks yang melekatkan bakteri pada enamel gigi. Selain itu saat ini, banyak kita jumpai jenis-jenis manis, makanan dan yang mudah bersifat melekat

lunak

misalnya permen, coklat, bolu, biscuit dan lain-lain. Di mana biasanya

makanan ini sangat disukai oleh anakanak. Makanan ini karena sifatnya yang lunak maka tidak perlu pengunyahan sehingga gampang melekat pada gigi dan bila tidak segera dibersihkan maka akan terjadi proses kimia bersama dengan bakteri dan air ludah yang dapat merusak email gigi.13-15 Dalam penelitian ini juga

eksperimental yang dilakukan pada hewan, yang memberikan bukti tegas secara tidak langsung dari penelitian epidemiologi populasi cross-sectional manusia yang dalam telah

menunjukkan hubungan sebab akibat antara malnutrisi dengan peningkatan karies gigi.16 Tabel 3 menunjukkan korelasi status gizi terhadap rata-rata jumlah gigi yang mengalami Decay dan gigi yang mengalami Missing. Dari hasil analisis data dengan uji spearman untuk D diperoleh bahwa terdapat korelasi

ditemukan bahwa anak-anak dengan status gizi normal memiliki nilai DMFT yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki status gizi kurus. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian longitudinal yang dilakukan

negatif antara status gizi dengan gigi

yang mengalami Decay sebesar 3.8% yang tidak signifikan secara statistik dengan nilai p=0.536 (p>0.05),

dkk. (2009) di Thailand pada anak-anak usia 12-14 tahun, menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang negatif antara status gizi dengan karies gigi.18 Penelitian yang dilakukan oleh Sasiwi (2004) juga menemukan bahwa terdapat korelasi negatif yang baik antara tingkat keparahan karies gigi dengan status gizi yang signifikan secara statistik, yang berarti bahwa gigi yang sakit akan mempengaruhi status gizi melalui mekanisme terganggunya fungsi pengunyahan.19

sedangkan untuk M, terdapat korelasi positif antara status gizi dengan gigi yang mengalami Missing sebesar 12.9% yang signifikan secara statistik dengan nilai p=0.035 (p<0.05), sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai M maka skor status gizinya semakin menurun atau sebaliknya. Tabel 4 menunjukkan korelasi status gizi dengan status karies. Dari hasil analisis data dengan uji Spearman diperoleh bahwa terdapat korelasi

SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SMP Negeri se-Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap, maka dapat disimpulkan bahwa pelajar yang

negatif antara status gizi dengan status karies sebesar 6.6% yang tidak

signifikan secara statistik dengan nilai p= 0.283 (p>0.05). Tripathi menemukan dkk. (2010) yang juga tidak

diperiksa memiliki status karies sedang dan paling banyak memiliki status gizi normal. Dari penelitian terdapat ini juga

hubungan

signifikan antara status karies gigi dengan status gizi.17Penelitian crosssectional yang dilakukan Narksawat

ditemukan bahwa

korelasi

negatif yang sangat lemah antara status

karies gigi terhadap status gizi yang tidak signifikan secara statistik

(p>0.05).

SARAN Perlunya memperhatikan

makanan dan zat gizi yang dikonsumsi demi kesehatan tubuh termasuk

kesehatan gigi dan mulut dan juga perlunya kesehatan peningkatan upaya gigi dan mulut dalam secara

preventif, promotif dan kuratif pada anak-anak karena adanya karies dapat mempengaruhi status gizi anak.

DAFTAR ISI 1. Edwina AM. Dasar-dasar karies penyakit dan penanggulangannya. Jakarta: EGC, 1991: 4-20. 2. Anonim. Tinjauan pustaka. Available from http://repository.usu.ac.id. Accessed at: Feb 4th 2012. 3. Supariasa IDN, Bakri B, Fajar I. Penilaian status gizi. Jakarta:EGC, 2001: 26, 56-8, 121-30. 4. Junaid, Julia M, Hedratini J. Hubungan keparahan karies gigi dengan konsumsi zat gizi dan status gizi anak sekolah dasar di kecamatan lhoknga kabupaten aceh besar. J Gizi Klinik Indonesia 2007;

4: 92-6. Available from http://dc124.4shared.com/doc/yPeK FPxj/preview.html. Accessed at: Feb 4th 2012. 5. Anonim. Makanan dan kesehatan gigi. Available from http://pustaka.ictsleman.net. Accessed at: Mei 21st 2011. 6. Asmawati, Fransario AP. Analisis hubungan karies gigi dan status gizi anak usia 10-11 tahun di SD Athirah, SD 1 Bawakaraeng, dan SDN 3 Bangkala. J Dentofasial 2007; 2 : 78-84. Available from http://isjd.pdii.lipi.go.od/admin/jurn al/62077884.pdf. Accessed at: Mei 21st 2011. 7. Anonim. Status gizi. Available from www.creasoft.com. Accessed at: Mei 21st 2011. 8. Bakri, Faradillah, Sulastri, Sudirman. Profil kesehatan kabupaten sidrap 2007. Dinas Kesehatan Kabpaten Sidenreng Rappang, 2008. Available from http://datinkessulsel.files.wordpress. com/2009/01/profil_kab_sidrap_thn -20082.pdf. Accessed at: July 15th 2010. 9. Anonim. Profil kabupaten sidrap. 2008. Available from www.sidrap.go.id. Accessed at: July 15th 2010. 10. Badan Pusat Statistik. Hasil sensus penduduk 2010. Available from www.bps.go.id/aboutus.php?sp=0. Accessed at Feb 4th 2012. 11. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Derajat kesehatan dan status gizi masyarakat dalam 4 tahun terakhir membaik. Available from www.depkes.go.id. Accessed at Feb 4th 2012. 12. Willershausen B, Haas G, Krummenauer F, Hohenfellner K. Relationship between high weight and caries frequency in german elementary school children. Eur J

Med Res 2004; 4: 400-4. Available from www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/153 37630. Accessed at Jan 16th 2012. 13. Anonim. Ancaman dibalik manisnya gula. Available from www.kulitmanggis.biz/2012/01/22/a ncaman-di-balik-manisnyagula/?print=1. Accessed at Jan 16th 2012. 14. Anonim. Penyebab obesitas anak dan cara mengatasinya. Available from http://kumpulan.info/keluarga/anak/ 40-anak/176-penyebab-obesitaskegemukan-anak-dan-solusi.html. Accessed at Jan 16th 2012. 15. Anonim. Tunjauan pustaka. Available from http://repository.usu.ac.id/bitstream/ 123456789/20092/4/Chapter%20II. pdf. Accessed at Jan 16th 2012. 16. Alvarez JO. Nutrition, tooth development, and dental caries. Am J Clin Nutr 1995; 61: 410S-6S. Available from www.ajcn.org. th Accessed at Jan 16 2012. 17. Tripathi S, Kiran K, Kamala BK. Relationship between obesity and dental caries in children a preeliminery study. J int Oral Health 2010; 2: 65-72. Avalable from http://www.ispcd.org/~cmsdev/userf iles/rishabh/08%20swati.pdf. Accessed at Jan 16th 2012. 18. Narksawat K, Tonmukayakul U, Boonthum A. Association between nutritional status and Dental caries in permanent dentition among Primary schoolchildren aged 12-14 years,Thailand. Southeast Asian J Trop Med Public Health 2009; 40: 338-44. Available from www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/193 23020. Accessed at Jan 16th 2012.

19. Sasiwi NR. Hubungan tingkat keparahan karies gigi dengan status gizi anak (studi pada anak taman kanak-kanak di desa pagersari kecamatan paten kabupaten kendal). Available from http://eprints.undip.ac.id/5473/1/226 5.pdf. Accessed at Jan 16th 2012.s

BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN Laporan Penelitian Kamis, 9 Februari 2012

HUBUNGAN ANTARA STATUS KARIES GIGI DENGAN STATUS GIZI


(Pada Pelajar SMP Negeri se-Kecamatan Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap Tahun Ajaran 2010/2011)

Nama Stambuk Tempat Hari/Tanggal Pembimbing Penguji

: : : : : :

Oleh: Nurhaida Lamlanto J 111 06 101 Ruang Seminar Bagian IKGM FKG-UH Kamis, 9 Februari 2012 Dr. Drg. Muhammad Ilyas, M.Kes. drg. Rini Pratiwi, M.Kes.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITRAAN KLINIK PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN GIGI MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Anda mungkin juga menyukai