Anda di halaman 1dari 5

NAMA NIM JURUSAN

: SANDY WIJAYANTI : 090810301118 : AKUNTANSI

HUBUNGAN KANTOR PUSAT DAN CABANG (III)


Cabang-cabang Di Luar Negeri Makin meluasnya hubungan perdagangan internasional, memungkinkan perusahaan memperluas usahanya ke luar negeri dengan membuka atau mendirikan cabang-cabang di luar negeri. Transaksi-transaksi yang terjadi dalam hubungan internasional tidak saja dinyatakan di dalam jumlah kesatuan mata uang dalam negeri (Rupiah), tetapi dapat juga dinyatakan dalam mata uang asing. Untuk keperluan penyusunan laporan keuangan maka transaksitransaksi yang nilainya tercatat dalam mata uang asing, harus dijabarkan ke dalam kesatuan mata uang dalam negeri (rupiah).

Masalah Nilai Kurs Mata Uang Nilai kurs menyatakan hubungan nilai antara satu kesatuan mata uang asing dan kesatuan mata uang dalam negeri. Nilai kurs dipakai sebagai dasar untuk menjabarkan atau menterjemahkan transaksi-transaksi yang dalam mata uang asing ke dalam mata uang dalam negeri. Ada beberapa jenis kurs yang dikenal dalam dunia perdagangan, yaitu:  Nilai kurs yang didasarkan langsung atas nilai relatip emas murni yang terdapat di dalam satu kesatua mata uang tertentu dan dikenal dengan sebutan : mint par rates of exchange.  Nilai kurs yang didasarkan atas hukum pemerintah dan penawaran yang berlaku dan dikenal dengan sebutan : free market rates of exchange.  Nilai kurs yang ditetapkan oleh pemerintah disebut sebagai : official rates of change.

Nilai Tukar Tidak Langsung Nilai tukar tidak langsung menyatakan nilai kesatuan (satu unit) mata uang dalam negeri dalam persamaannya dengan mata uang asing.

Jual Beli dengan Pihak Luar Negeri Dalam transaksi-transaksi jual beli dengan pihak luar negeri, harga beli atau harga jual barang-barang dapat dinyatakan dalam mata uang asing dan atau mata uang dalam negeri. Akan tetapi pembukuan terhadap transaksi-transaksi tersebut tetap harus dinyatakan dengan satuan mata uang dalam negeri. Adanya fluktasi (naik-turunnya) nilai tukar dari suatu mata uang terhadap mata uang lainnya, dapat menyebabkan salah satu pihak yang mengadakan transaksi akan menderita rugi atau memperoleh laba dari perubahan kurs. Di dalam akuntansi laba-rugi karena perubahan-perubahan kurs dicatat dalam rekening selisih (beda) kurs. Rekening selisih kurs tersebut dibedakan ke dalam dua macam rekening, yaitu: a. Untuk selisih yang menguntungkan dicatat dalam rekening Laba Selisih Kurs. b. Untuk selisih yang merugikan dicatat dalam rekening Rugi Selisih Kurs. Agar laporan keuangan menunjukkan keterangan yang lebih jelas, pada umumnya untuk rekening piutang, dapat dibedakan antara piutang biasa dan piutang luar negeri. Untuk piutang luar negeri, rekening piutang dibuat tersendiri dan disebut dengan piutang V/A.

Masalah Penjabaran Nilai Mata Uang Perhitungan penjabaran mata uang harus memperhatikan dasar hitungan mata uang yang bersangkutan. Apabila dasar hitungan bukan sistem desimal, maka penjabarannya agak lebih sukar. Seperti misalnya mata uang inggris beberapa tahun lalu dimana satu pound sterling () sama dengan 20 shilling (s) dan satu shilling sama dengan 12 pence (d). Tetapi saat ini mata uang kesatuan inggris (United Kingdom) dasar hitungannya sudah dirubah menjadi sistem desimal, yaitu satu pound () sama dengan 100 new pence (d).

Penjabaran Rekening-rekening Yang Dinyatakan Dalam Uang Asing Apabila suatu perusahaan (di dalam negeri) mendirikan cabang atau mempunyai perusahaan anak (subsidiary company) di luar negeri, maka laporan keuangan individual dari cabang atau perusahaan anak tersebut akan dinyatakan dalam satuan mata uang di negeri dimana unit usaha itu bertempat kedudukan sehingga berbeda dari laporan individual kantor pusat atau perusahaan induknya. Ketentuan umum untuk menjabarkan rekening mata uang asing ke dalam rupiah ini di Indonesia telah diatur dalam Prinsip Akuntansi Indonesia seperti tertera dalam prinsip 1.3. prinsip 1.3 menyatakan:

perkiraan anak-anak perusahaan atau bagian perusahan yang melakukan kegiatan usaha di luar negeri, harus di jabarkan dalam rupiah dengan kurs pertukaran yang sesuai. Kurs pertukaran supaya dicantumkan dalam laporan keuangan.

Rekening-rekening Neraca: Aktiva Lancar. Kas, iutang dan aktiva lancar yang harus dijabarkan dengan nilai kurs yang berlaku pada saat penyusutan neraca. Aktiva Tidak Lancar. Harta tetap, investasi jangka panjang dan piutang jangka panjang harus dijabarkan dengan kurs yang berlaku pada saat aktiva tersebut dibeli atau didirikan. Hutang Lancar. Hutang-hutang dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs yang berlaku pada tanggal disusunnya neraca. Hutang Tidak Lancar. Hutang tidak lancar atau hutang-hutang jangka panjang dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs yang berlaku pada saat hutang tersebut terjadi. Modal Saham. Modal saham yang dinyatakan dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs pada saat saham-saham tersebut dikeluarkan.

Rekening-rekening Rugi Laba: Pendapatan Atau Biaya-biaya Rekening-rekening pendapatan dan biaya yang dinyatakan dalam mata uang asing harus dijabarkan dengan kurs rata-rata. Dengan adanya fluktasi yang besar dalam nilai kurs, maka transaksi-transaksi harus dinyatakan dalam kurs rata-rata yang terjadi untuk tiap bulan. Penyusutan Aktiva Tetap Penyusutan atau depresiasi aktiva tetap harus disusun atas dasar nilai kurs yang berlaku pada saat aktiva yang bersangkutan tersebut dibeli, terjadi atau didirikan (bangunan). Di dalam penjabaran saldo rekening-rekening pembukuan kantor cabang di luar negeri perlu diperhatikan hal-hal berikut:  Kurs yang dipergunakan untuk menjabarkan. Untuk mempermudah

penyususnannya biasanya di muka atau dibelakang kurs yang dipakai untuk menjabarkan suatu pos diberi tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut antara lain:

a.

Huruf C untuk Current Rate atau nilai kurs pada akhir periode atau pada saat penyusunan laporan-laporan keuangan.

b.

Huruf H untuk Historical Rate atau nilai kurs pada saat transaksi-transaksi tertentu diselesaikan.

c.

Huruf R untuk Reciprocal Amount atau menunjukkan nilai mata uang yang tertera dalam rekening-rekening pada buku-buku pada kantor pusat.

d.

Huruf A untuk Average Rate atau kurs rata-rata yang sudah dihitung.

 Pos atau rekening penyusutan (depresiasi) yang dipisahkan tersendiri dalam Laporan Rugi Laba Cabang, atau dapat pula digabungkan dengan rekening macam-macam biaya atau jenis biaya yang lainnya, asal ada penjelasan yang tegas tentang ketentuan dan besarnya penyusutan.

Penyusutan Laporan Keuangan Gabunmgan Kantor Pusat dan Kantor Cabang di Luar Negeri Langkah-langkah dalam penyusunan laporan keuangan gabungan antara kantor pusat dan kantor cabang di luar negeri, adalah sebagai berikut: 1. Atas dasar laporan keuangan individual dari cabang, terlebih dahulu harus diadakan penjabaran terhadap saldo-saldo rekening pembukuan kantor cabang menjadi saldosaldo yang dinyatakan dalam mata uang dalam negeri yang dipakai kantor pusat. 2. Proses penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan cabang, sebainya dimulai dengan mengambil dari angka-angka yang terdapat pada neraca saldo yang dipakai sebagai dasar penyusunan neraca lajur. 3. Apabila hasil penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan secara keseluruhan tidak seimbang, maka selisihnya ditampung dalam rekening Penyesuaian Kurs. 4. Sesudah proses penjabaran terhadap saldo rekening pembukuan cabang selesai, kemudian menyusun daftar lajur gabungan atau working papers. 5. Berdasarkan dari daftar lajur gabungan tersebut nomer 4, baru disusun neraca dan perhitungan Rugi-Laba gabungan antara kantor pusat dan kantor cabang.

Penyusutan Aktiva Tetap Dalam saldo rekening biaya penjualan dan biaya administrasi & umum, termasuk unsur biaya penyusustan alat-alat perlengkapan katordan gedung yang seharusnya dijabarkan tersendiri sesuai dengan kurs pada saat terjadinya aktiva tetap itu di dapat. Kurs rata-rata juga sama dengan kurs pada saat pembelian aktiva-aktiva tersebut, maka penjabaran terhadap

unsur biaya penyusutan dalam biaya penjualan dan biaya administrasi & umum dapat disatukan.

Selisih Penyesuaian Kurs Pada umumnya selisih yang terjadi di dalam penjabaran mata uang asing ke dalam mata uang dalam negeri dapat berakibat menguntungkan atau mrugikan. Apabila selisih penyesuaian kurs menunjukkan saldo sebelah Debit berarti merugikan, apabila menunjukkan saldo sebelah kredit berarti menguntungkan. Laba atau rugi karena selisih penyesuaian kurs dapat diperlakukan sebagai laba atau rugi untuk periode yang bersangkutan. Akan tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa laba atau rugi dalam penjajaran mata uang asing tersebut sebenarnya belum terjadi atau belum terealisasi. Oleh karena itu laba atau rugi yang diperhitungkan tadi tidak seharusnya diperlakukan sebagai laba atau rugi untuk periode yang berjalan. Akan tetapi laba atau rugi itu harus diperlakukan sebagai laba (pendapatan) yang masih akan diterima atau sebaliknya sampai dengan jumlah itu disetor atau dtransfer ke kantor pusat.