Anda di halaman 1dari 39

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI

MATAKULIAH LANDASAN AGAMA, FILOSOFI, PSIKOLOGI DAN SOSIOLOGI DARI KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN Dosen Pengampu Program Studi Nama Mahasiswa : Prof. Dr. DEDI MULYASANA : Manajemen Pendidikan : 1. H. ARJIMAN NIM. 4103810410106 2. IMAM TURMUDI NIM. 4103810410098

PROGRAM PASCA SARJANA STRATA-3 (S-3) UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA ( UNINUS ) BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Manusia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup, manusia selalau berinteraksi dengan sesame serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun dalam kelompok kecil.Hidup dalam kelompok tentulah tidak mudah. Untuk menciptakan kondisi kehidupan yang harmonis anggota kelompok haruslah saling menghormati & menghargai. Keteraturan hidup perlu selalu dijaga. Hidup yang teratur adalah impian setiap insan. Menciptakan & menjaga kehidupan yang harmonis adalah tugas manusia.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling tinggi disbanding makhluk Tuhan lainnya. Manusia di anugerahi kemampuan untuk berpikir, kemampuan untuk memilah & memilih mana yang baik & mana yang buruk. Dengan kelebihan itulah manusia seharusnya mampu mengelola lingkungan dengan baik.Tidak hanya lingkungan yang perlu dikelola dengan baik, kehidupan social manusiapun perlu dikelola dengan baik. Untuk itulah dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sumber daya yang berjiwa pemimpin, paling tidak untuk memimpin dirinya sendiri.Dengan berjiwa pemimpin manusia akan dapat mengelola diri, kelompok & lingkungan dengan baik. Khususnya dalam penanggulangan masalah yang relatif pelik & sulit. Disinilah dituntut kearifan

seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.

Kepemimpinan merupakan lokomotif organisasi yang selalu menarik dibicarakan. Daya tarik ini didasarkan pada latar historis yang menunjukkan arti penting keberadaan seorang pemimpin dalam setiap kegiatan kelompok dan kenyataan bahwa kepemimpinan merupakan sentrum dalam pola interaksi antar komponen organisasi (Suarjaya dan Akib, Usahawan bulan Nopember 2003: 42). Lebih dari itu, kepemimpinan dan peranan pemimpin menentukan kelahiran, pertumbuhan dan kedewasaan serta kematian organisasi. Mengingat arti penting dan peranan kepemimpinan itu maka tulisan ini diarahkan bukan saja untuk menyegarkan pemahaman pembaca mengenai topik kepemimpinan, melainkan pula dengan menggunakan prinsip iklan untuk memberitahukan yang tidak tahu, mengingatkan yang lupa, dan mempengaruhi sikap dan perilaku orang yang sudah tahu akan kepemimpinan.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang penulis uraikan, banyak permasalahan yang penulis dapatkan. Permasalahan tsb antara lain :

Bagaimana hakikat menjadi seorang pemimpin? Adakah teori teori untuk menjadi pemimpin yang baik? Adakah tipe-tipe untuk menjadi pemimpin yang baik? Bagaimanakah kepemimpinan menurut perspektif islam? Apa & bagaimana menjadi pemimpin yang melayani?

Apa & bagaimana menjadi pemimpin sejati? Apa & bagaimana perbedaan pemimpin dan manajemen ? Bagaimana pendekatan pendekatan mengenai kepemimpinan yang efektif ? C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah

Melatih mahasiswa menyusun paper dalam upaya lebih meningkatkan pengetahuan dan kreatifitas mahasiswa.

Agar mahasiswa lebih memahami dan mendalami pokok bahasan khususnya tentang kepemimpinan , manajemen dan pendekatanya.

D.Metode Penulisan

Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode kepustakaan. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk karya tulis ini.

E. Ruang Lingkup

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang penulis miliki maka ruang lingkup karya tulis ini terbatas pada pembahasan mengenai kepemimpinan , manajemen dan pendekatanya.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Kepemimpinan Robert dan Hunts (dalam Riyono & Zulaifah, 2001) mendefinisikan seorang pemimpin adalah orang yang perilakunya dapat mempengaruhi atau menentukan perilaku anggota lain dalam kelompoknya. Lester (2002) mendefinisikan kepemimpinan sebagai seni mempengaruhi dan mengarahkan orang dengan cara kepatuhan, kepercayaan, hormat dan kerja sama yang bersemangat dalam mencapai tujuan bersama. Sementara praktisi biasanya menerapkan pemimpin adalah orang yang menerapkan prinsip dan teknik yang memastikan motivasi, disiplin dan produktivitas jika bekerjasama dengan orang lain, tugas dan situasi agar mencapai tujuan organisasi. Robbins (2002) mengamati bahwa definisi kepemimpinan begitu banyak. Namun rangkuman dari berbagai definisi kepemimpinan itu adalah kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya tujuan. Sumber dari pengaruh ini bisa formal, seperti misalnya karena adanya penunjukkan dari organisasi. Pada model ini, pemimpin dapat menjalankan peran kepemimpinan semata-mata karena kedudukannya. Pemimpin yang semacam ini bisa saja dipatuhi oleh kelompok karena kedudukannya, bisa juga tidak didukung oleh kelompok apabila dirinya bertentangan dengan kepentingan kelompok. Selain itu juga dijumpai pemimpin informal, dimana biasanya pemimpin ini tidak ditunjuk

oleh organisasi untuk memimpin kelompok, namun ia muncul dari anggota kelompok sebagai orang yang berpengaruh dalam kelompok tersebut. Daft (2005) mengembangkan konsep pengaruh dan pencapaian tujuan ini dalam definisi tentang kepemimpinan yaitu Leadership is an influence relationship among leaders and followers who intend real changes and outcomes that reflect their shared purposes (h.5). Dalam konteks ini yang ditambahkan adalah adanya saling pengaruh antara pemimpin dan yang dipimpin. Bahwa pemimpin juga akan dipengaruhi oleh reaksi orang yang dipimpinnya, demikian sebaliknya. Kepemimpinan juga menyiratkan adanya niat dari yang memimpin maupun yang dipimpin untuk membuat sebuah perubahan yang berarti, yang tidak hanya didikte dari sang pemimpin, tetapi merupakan refleksi keinginan baik pemimpin maupun yang dipimpin. Definisi ini juga menyiratkan bahwa kepemimpinan terjadi di antara individu, artinya, pemimpin adalah individu yang memiliki pengikut serta dapat menjadi contoh bagi individu lainnya untuk bergerak.

B. Teori Kepemimpinan Teori kepemimpinan membicarakan bagaimana seseorang menjadi pemimpin, atau bagaimana timbulnya seorang pemimpin. Ada beberapa teori tentang kepemimpinan. Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (1993: 132-133) "pada dasarnya ada dua teori kepemimpinan, yaitu teori sifat (traits theory) dan teori situasiaonal (situational theory)", sementara Wursanto ( 2004: 197 ) menyatakan ada enam teori kepemimpinan, yaitu; teori kelebihan, teori sifat, teori keturunan, teori kharismatik, teori bakat, dan teori sosial, sedangkan

Miftah Thoha mengelompokannya kedalam; teori sifat, teori kelompok, teori situasional, model kepemimpinan kontijensi, dan teori jalan kecil-tujuan ( path-goal theory). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai teori-teori kepemimpinan, maka di bawah ini akan diuraikan beberapa teori kepemimpinan sebagaimana diungkapkan oleh ketiga pakar tersebut di atas. 1. Teori kelebihan, Tiori ini beranggapan bahwa seseorang akan menjadi pemimpin apabila ia memiliki kelebihan dari para pengikutnya. Pada dasarnya kelebihan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin mencakup tiga hal, pertama; kelebihan ratio, ialah kelebihan menggunakan pikiran, kelebihan dalam pengetahuan tentang hakikat tujuan dari organisasi, dan kelebihan dalam memiliki pengetahuan tentang cara-cara menggerakkan organisasi, serta dalam pengambilan keputusan yang cepat dan tepat, Kedua; Kelebihan Rohaniah, berarti seorang pemimpin harus mampu

menunjukkan keluhuran budi pekertinya kepada para bawahan. Seorang pemimpin harus mempunyai moral yang tinggi karena pada dasarnya pemimpin merupakan panutan para pengikutnya. Segala tindakan, perbuatan, sikap dan ucapan hendaknya menjadi suri tauladan bagi para pengikutnya, Ketiga, Kelebihan Badaniah; Seorang pemimpin hendaknya memiliki kesehatan badaniah yang lebih dari para pengikutnya sehingga memungkinkannya untuk bertindak dengan cepat. Akan tetapi masalah kelebihan badaniah ini bukan merupakan faktor pokok. (Wursanto, 2003: 197-198).

2. Teori sifat Pada dasarnya sama dengan teori kelebihan. Teori ini menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki sifat-sifat yang lebih daripada yang dipimpin. Di samping memiliki kelebihan pada ratio, rohaniah dan badaniah, seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat yang positif, misalnya; adil, suka melindungi, penuh percaya diri, penuh inisiatif, mempunyai daya tarik, energik, persuasif, komunikatif dan kreatif. (Wursanto, 2003: 198). Menurut Miftah Thoha (2003:32-33) bahwa sesungguhnya tidak ada korelasi sebab akibat antara sifat dan keberhasilan manajer, pendapatnya itu merujuk pada hasil penelitian Keith Davis yang menyimpulkan ada empat sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan

kepemimpinan organisasi, yaitu; (1) Kecerdesan ( di atas disebutkan kelebihan ratio). Hasil penelitian pada umumnya membuktikan bahwa pemimpin mempunyai tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dipimpin. Namun demikian pemimpin tidak bisa melampaui terlalu banyak dari kecerdasan pengikutnya, (2) Kedewasaan dan keleluasaan hubungan sosial, para pemimpin cenderung menjadi matang dan mempunyai emosi yang stabil, serta mempunyai perhatian yang luas terhadap aktivitas-akltivitas sosial. Dia mempunyai keinginan menghargai dan dihargai, (3) Motivasi dan dorongan berprestasi, para pemimpin secara relatif mempunyai dorongan motivasi yang kuat untuk berprestasi. Mereka berusaha mendapatkan penghargaan yang instrinsik dibandingkan dari yang ekstrinsik, (4) Sikap-sikap hubungan kemanusiaan, para

pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para pengikutnya dan mampu berpihak kepadanya, dalam istilah penelitian Universitas Ohio pemimpin itu mempunyai perhatian, dan kalau mengikuti istilah penemuan Michigan, pemimpin itu berorientasi pada karyawan bukannya berorientasi pada produksi. Hal serupa juga dinungkapkan oleh Adam Ibrahim Indrawijaya dalam bukunya prilaku organisasi ( 1983: 132-133). 3. Teori keturunan Teori Keturunan menyatakan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin karena keturunan atau warisan. Karena orang tuanya seorang pemimpin maka anaknya otomatis akan menjadi pemimpin menggantikan orang tuanya, seolah-olah seseorang menjadi pemimpin karena

ditakdirkan. (Wursanto, 2003: 199). 4. Teori kharismatik Teori kharismatik menyatakan bahwa seseorang menjadi pemimpin karena mempunyai karisma (pengaruh) yang sangat besar. Karisma itu diperoleh dari Kekuatan Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini ada suatu kepercayaan bahwa orang itu adalah pancaran Zat Tunggal, sehingga dianggap mempunyai kekuatan ghaib (spranatural power). Pemimpin yang bertipe karismatik biasanya memiliki daya tarik, kewibawaan dan pengaruh yang sangat besar. (Wursanto, 2003: 199) 5. Teori bakat, Teori ini disebut juga teori ekologis, menyatakan bahwa pemimpin itu lahir karena bakatnya. Ia menjadi pemimpin karena mempunyai bakat

untuk menjadi pemimpin. Bakat kepemimpinan itu harus dikembangkan, misalnya dengan memberi kesempatan orang tersebut menduduki suatu jabatan. (Wursanto, 2003: 200). 6. Teori Sosial Beranggapan bahwa pada dasarnya setiap orang dapat menjadi pemimpin. Setiap orang mempunyai bakat untuk menjadi pemimpin asal dia diberi kesempatan. Setiap orang dapat dididik menjadi pemimpin karena masalah kepemimpinan dapat dipelajari, baik melalui pendidikan formal maupun melalui pengalaman praktek ( Wursanto, 2003: 200). 7. Teori Kelompok Beranggapan bahwa, supaya kelompok bisa mencapai tujuantujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang positif di antara pemimpin dan pengikut-pengikutnya. Teori kelompok ini dasar

perkembangannya pada psikologi sosial. (Miftah Thoha, 2003: 34). 8. Teori Situasional Teori ini menyatakan bahwa beberapa variabel-situasional

mempunyai pengaruh terhadap peranan kepemimpinan, kecakapan, dan perilakunya termasuk pelaksanaan kerja dan kepuasan para pengikutnya. Beberapa variabel sitasional diindentifikasikan, tetapi tidak semua ditarik oleh situasional ini. (Miftah Thoha, 2003: 36). 9. Model kepemimpinan kontijensi Teori ini ditemukan oleh Fiedler sebagai hasil pengujian hipotesa yang telah dirumuskan dari penelitiannya terdahulu. Model ini berisi tentang hubungan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang

menyenangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi empiris berikut ini: (1) Hubungan pimpinan-anggota. Variabel ini sebagai hal yang paling menentukan dalam menciptakan situasi yang menyenangkan, (2) Derajat dari struktur tugas. Dimensi ini merupakan urutan kedua dalam menciptakan situasi yang menyenangkan, (3) Posisi kekuasaan pemimimpin yang dicapai lewat otoritas formal. Dimensi ini merupakan urutan ketiga dalam menciptakan situasi yang menyenangkan. (Miftah Thoha, 2003: 37-38). 10. Teori Jalan Tujuan (Path-Goal Theory) Teori ini mula-mula dikembangkan oleh Geogepoulos dan kawankawannya di Universitas Michigan. Pengembangan teori ini selanjutnya dilakukan oleh Martin Evans dan Robert House. Secara pokok teori pathgoal dipergunakan untuk menganalisa dan menjelaskan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan, dan pelaksanaan kerja bawahan. Ada Dua faktor situsional yang telah diidentifikasikan, yaitu sifat personal para bawahan, dan tekanan lingkungan dengan tuntutan-tuntutan yang dihadapi oleh para bawahan. Untuk situasi pertama teori path-goal memberikan penilaian bahwa perilaku pemimpin akan bisa diterima oleh bawahan jika para bawahan melihat perilaku tersebut merupakan sumber yang segera bisa memberikan kepuasan, atau sebagai suatu instrumen bagi kepuasan masa depan. Adapun faktor situasional kedua, path-goal, menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan bisa menjadi faktor motivasi terhadap para bawahan, jika; (1) Perilaku tersebut dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan bawahan sehingga memungkinkan tercapainya

10

efektivitas dalam pelaksanaan kerja, (2) Perilaku tersebut merupakan komplimen dari lingkungan para bawahan yang berupa memberikan latihan, dukungan, dan penghargaan yang diperlukan untuk

mengefektifkan pelaksanaan kerja. (Miftah Thoha, 2003:

C. Tipe-Tipe Kepemimpinan Tipe kepemimpinan sering disebut perilaku kepemimpinan atau gaya kepemimpinan (leadership style). Menurut Miftah Toha ( 2003: 49 ) gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain. Oleh karenanya usaha menselaraskan persepsi di antara yang akan mempengaruhi dengan orang yang perilakunya akan dipengaruhi menjadi amat penting. Duncan menyebutkan ada tiga gaya kepemimpinan, yaitu; otokrasi, demokrasi, dan gaya bebas ( the laisser faire ). ( Adam Ibrahim Indrawijaya, 1938: 135 ). Wursanto ( 2003) menambahkan tipe (gaya) paternalistik, militeristik, dan open leadership. Sementara Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana ( 2000 ) melengakpinya dengan gaya kepemimpinan partisipatif, berorientasi pada tujuan, dan situasional. Di bawah ini akan diuraikan tipe-tipe (gaya-gaya) kepemimpinan tersebut di atas dengan maksud memberikan gambaran yang jelas mengenai persamaan dan perbedaannya, agar tidak terjadi tumpang tindih dalam memahami gaya kepemimpinan disebabkan pengistilahan yang berbeda padahal maksud dan tujuannya sama.

11

a. Kepemimpinan Otokrasi Kepmimpian atau otokrasi disebut juga kepemimpinan diktator

direktif. Orang yang menganut pendekatan ini mengambil keputusan

tanpa berkonsultasi dengan para karyawan yang harus melaksanakannya atau karyawan yang dipengaruhi keputusan tersebut ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 161). Menurut Wursanto ( 2003: 201)

kepemimpinan otokrasi adalah kepemimpinan yang mendasarkan pada suatu kekuasaan atau kekuatan yang melekat pada dirinya. Kepemimpinan otokrasi dapat dilihat dari ciri-cirinya antara lain : (1) mengandalkan kepada kekuatan atau kekuasaan yang melekat pada dirinya, (2) Menganggap dirinya paling berkuasa, (3) Menganggap dirinya paling mengetahui segala persoalan, orang lain dianggap tidak tahu, (4) keputusan-keputusan yang diambil secara sepihak, tidak mengenal kompromi, sehingga ia tidak mau menerima saran dari bawahan, bahkan ia tidak memberi kesempatan kepada bawahan untuk meberikan saran, pendapat atau ide, (5) Keras dalam menghadapi prinsip, (6) Jauh dari bawahan, (7) lebih menyukai bawahan yang bersikap abs (asal bapak senang), (8) perintah-perintah diberikan secara paksa, (9) pengawasan dilakukan secara ketat agar perintah benarbenar dilaksanakan. b. Kepemimpinan Demokrasi Gaya atau tipe kepemimpinan ini dikenal pula dengan istilah kepemimpinan konsultatif atau konsensus. Orang yang menganut

pendekatan ini melibatkan para karyawan yang melaksanakan keputusan

12

dalam proses pembuatannya, walaupun yang membuat keputusan akhir adalah pemimpin, setelah menerima masukan dan rekomendasi dari anggotan tim. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 161). Menurut Adam Ibrahim Indrawijaya (1983) "Gaya kepemimpinan demokratis pada umumnya berasumsi bahwa pendapat orang banyak lebih baik dari pendapatnya sendiri dan adanya partisipasi akan meninbulkan tanggung jawab bagi pelaksananya". Asumsi lain bahwa partisipasi memberikan kesempatan kepada para anggota untuk mengembangkan diri mereka. c. Kepemimpinan Laisser Faire Kepemimpinan laissez faire (gaya kepemimpinan yang bebas) adalah gaya kepemimpinan yang lebih banyak menekankan pada keputusan kelompok. Dalam gaya ini, seorang pemimpin akan menyerahkan keputusan kepada keinginan kelompok, apa yang baik menurut kelompok itulah yang menjadi keputusan. Pelaksanaannyapun tergantung kepada kemauan kelompok. (Adam Ibrahim Indrawijaya, 1983: 136). Pada umumnya tipe laissez faire dijalankan oleh pemimpin yang tidak mempunyai keahlian teknis. Tipe laissez faire mempunyai ciri-ciri antara lain; (1) Memberikan kebebasan sepenuhnya kepada bawahan untuk melakukan tindakan yang dianggap perlu sesuai dengan bidang tugas masing-masing, (2) Pimpinan tidak ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan kelompok, (3) Semua pekerjaan dan tanggungjawab dilimpahkan kepada bawahan, (4) Tidak mampu melakukan koordinasi dan pengawasan yang baik, (5) Tidak mempunyai wibawa sehingga ia tidak ditakuti apalagi disegani oleh bawahan, (6) Secara praktis pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan, ia

13

hanya merupakan simbol belaka. (Wusanto, 2003). Menurut hemat penulis tipe laissez faire ini bukanlah tipe pemimpin yang sebanarnya, karena ia tidak bisa mempengaruhi dan menggerakkan bawahan, sehingga tujuan organisasi tidak akan tercapai. d. Kepemimpinan Partisipatif Kepemimpinan partisipatif juga dikenal dengan istilah

kepemimpinan terbuka, bebas atau nondirective. Pemimpin yang menganut pendekatan ini hanya sedikit memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan. Ia hanya sedikit menyajikan informasi mengenai suatu permasalahan dan memberikan kesempatan kepada anggota tim untuk mengembagkan strategi dan pemecahannya, ia hanya mengarahkan tim kearah tercapainya konsensus. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 162). e. Kepemimpinan Paternalistik Tipe paternalistik adalah gaya kepemimpinan yang bersifat kebapakan. Pemimpin selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan dalam batas-batas kewajaran. Ciri-ciri pemimpin penganut paternalistik antara lain: (1) Pemimpin bertindak sebagai seorang bapak, (2) Memperlakukan bawahan sebagai orang yang belum dewasa, (3) selalu memberikan perlindungan kepada para bawahan yang kadang-kadang berlebihan, (4) Keputusan ada di tangan pemimpin, bukan karena ingin bertindak secara otoriter, tetapi karena keinginan memberikan kemudahan kepada bawahan. Oleh karena itu para bawahan jarang bahkan sama sekali tidak memberikan saran kapada pimpinan, dan Pimpinan jarang bahkan

14

tidak pernah meminta saran dari bawahan, (5) Pimpinan menganggap dirinya yang paling mengetahui segala macam persoalan. (Wursanto, 2003: 202). f. Kepemimpinan Berorientasi Pada Tujuan Gaya kepemimpinan ini juga disebut kepemimpinan berdasarkan hasil atau sasaran. Penganut pendekatan ini meminta bawahan (anggota tim) untuk memusatkan perhatiannya pada tujuan yang ada. Hanya strategi yang dapat menghasilkan kontribusi nyata dan dapat diukur dalam mencapai tujuan organisasilah yang dibahas, faktor lainnya yang tidak berhubungan dengan tujuan organisasi diminimumkan. ( Fandi Tjiptono dan Anastasia Diana, 2000: 162). g. Kepemimpinan Militeristik Kepemimpinan militeristik tidak hanya terdapat di kalangan militer saja, tetapi banyak juga terdapat pada instansi sipil (non-militer). Ciri-ciri kepemimpinan militeristik antara lain; (1) Dalam komunikasi lebih banyak mempergunakan saluran formal, (2) Dalam menggerakkan bawahan dengan sistem komando/perintah, baik secara lisan ataupun tulisan, (3) Segala sesuatu bersifat formal, (4) Disiplin tinggi, kadang-kadang bersifat kaku, (5) Komunikasi berlangsung satu arah, bawahan tidak diberikan kesempatan untuk memberikan pendapat, (6) Pimpinan menghendaki bawahan patuh terhadap semua perintah yang diberikannya. (Wursanto, 2003 ). h. Kepemimpinan Sitasional Gaya kepemimpinan ini dikenal juga sebagai kepemimpinan tidak tetap (fluid) atau kontingensi. Asumsi yang digunakan dalam gaya ini

15

adalah bahwa tidak ada satu pun gaya kepemimpinan yang tepat bagi setiap manajer dalam segala kondisi. Oleh karena itu gaya kepemimpinan situasional akan menerapkan suatu gaya tertentu berdasarkan pertimbangan atas faktor-faktor seperti pemimpin, pengikut, dan situasi ( dalam arti struktur tugas, peta kekuasaan, dan dinamika kelompok ). ( Fandi dan Anastasia, 2000: 162-163 ).

D. Kepemimpinan Dalam Perspektif Islam Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan kata Imamah, sedangkan kata yang terkait dengan kepemimpinan dan berkonotasi pemimpin dalam Islam ada tujuh macam, yaitu Khalifah, Malik, Wali, 'Amir dan Ra'in, Sultan, Rais, dan Ulil 'amri, (Abdurrahman, 2002) . Menurut Quraish Shihab (2000: 47), imam dan khalifah dua istilah yang digunakan Al-Qur'an untuk menunjuk pemimpin. Kata imam diambil dari kata amma-ya'ummu, yang berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Kata khalifah berakar dari kata khalafa yang pada mulanya berarti "di belakang". Kata khalifah sering diartikan "pengganti" karena yang menggatikan selalu berada di belakang, atau datang sesudah yang digantikannya. Selanjutnya ia menyatakan bahwa AlQur'an menggunakan kedua istilah ini untuk menggambarkan ciri seorang pemimpin, ketika di depan menjadi panutan, dan ketika di belakang mendorong, sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh yang dipimpinnya.

Begitu banyak konsep-konsep kepemimpinan yang diajukan oleh para pakar, mulai dari konsep kepemimpinan yang berbasis ilmu pengetahuan

16

yang bersifat teoritis, konsep kepemimpinan yang berbasis kemiliteran yang bersifat praktis, konsep kepemimpinan yang berbasis agama, maupun konsep kepemimpinan dengan berbagai pendekatan lainnya. Namun realitas menunjukkan bahwa masih begitu banyak masalah yang timbul terkait dengan kepemimpinan.

1. Kedudukan sebagai pemimpin merupakan ikatan perjanjian antara seorang pemimpin dengan Allah Azza wa Jalla. Kedudukan seseorang sebagai pemimpin merupakan ikatan perjanjian antara seorang manusia dengan Tuhannya, sebagaimana tersurat pada perjanjian Allah Subhana wa Taala dengan Ibrahim alaihi salam, "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang dholim". (QS. 2:124). Oleh karena itu bila seorang pemimpin berbuat dholim kepada pengikutnya, niscaya kedudukannya sebagai pemimpin akan mendatangkan kenistaan, penyesalan dan penderitaan di hari kemudian, saat dia diminta pertanggung jawaban oleh Allah Azza wa Jalla (QS. 38:26). Saat itu seluruh pengikutnya, akan memberikan kesaksian di depan Allah Taala tentang kedholiman yang telah dilakukannya. Naudzu billahi min dzalik.

2. Kedudukan sebagai pemimpin merupakan kepercayaan dari Allah Azza wa Jalla kepada manusia untuk menyebarkan rahmat untuk seluruh alam. Meskipun para Malaikat; karena keterbatasannya sebagai mahluk; meragukan kemampuan manusia dalam menyebarkan rahmat untuk seluruh alam, akan tetapi Allah yang Maha Tahu tetap memberikan kepercayaan kepada manusia dengan mengangkatnya sebagai khalifah di

17

muka bumi.

Selain itu hal ini sekaligus pula menunjukkan betapa

besarnya rahmat dan kasih sayang yang diberikan Allah Azza wa Jalla kepada manusia, meskipun manusia sudah diperkirakan akan

menimbulkan kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi (QS. 2:30). Jelaslah alangkah rendahnya seorang manusia yang diberikan

kepercayaan sebagai pemimpin, lalu dia berbuat sewenang-wenang, menebarkan penderitaan pada pengikutnya. Karena hal ini berarti

manusia tersebut telah menghianati Allah Azza wa Jalla yang telah memberikan kepercayaan serta melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepada dirinya. Naudzu billahi min dzalik.

3.

Kedudukan sebagai pemimpin merupakan kewajiban seorang pemimpin untuk mengajak dan mengantar pengikutnya menuju gerbang kebahagiaan. Kedudukan sebagai pemimpin pada dasarnya bukan merupakan

keistimewaan, bukan pula fasilitas, dan bukan pula kekuasaan untuk bertindak. Melainkan merupakan pengorbanan, tanggung jawab dan kesediaan untuk melayani pengikutnya. Seorang pemimpin harus memiliki tanggung jawab serta keberanian untuk mengorbankan diri dalam melayani pengikutnya sehingga mampu mengajak pengikutnya ke jalan yang benar serta mampu mengantar mereka menuju gerbang kebahagiaan (QS. 38:22)

4.

Kedudukan sebagai pemimpin menuntut seseorang untuk memegang teguh kebenaran (al-haq). Seseorang yang berpegang teguh kepada kebenaran, dia senantiasa akan menegakkan peraturan yang berlaku sehingga mampu mengambil keputusan yang akurat serta dilandasi prinsip keadilan, dan akan

18

terhindar dari keputusan-keputusan yang didasari oleh hawa nafsu, bersifat emosional serta didasari oleh kepentingan diri semata (QS. 38:26).

Berdasar penjelasan singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam diri setiap pemimpin harus tertanam norma dasar sebagai berikut :

1. Pangkat dan jabatan akan dan harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan. 2. Pangkat dan jabatan merupakan kepercayaan dan kasih sayang dari Tuhan. 3. Pemimpin memiliki kewajiban untuk mengajak dan mengantar

pengikutnya menuju gerbang kebahagiaan 4. Pemimpin harus memegang teguh dan menegakkan kebenaran.

Dengan demikian, insyaa Allah setiap pemimpin dapat diharapkan mampu menjalankan peran sebagai imam dan khalifah bagi keluarga, satuan dan masyarakat luas.

E. Kepemimpinan Yang Melayani

Merenungkan kembali arti makna kepemimpinan, sering diartikan kepemimpinan adalah jabatan formal, yang menuntut untuk mendapat fasilitas dan pelayanan dari konstituen yang seharusnya dilayani. Meskipun banyak di antara pemimpin yang ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang

19

sungguh sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani.

1. Karakter Kepemimpinan

Hati Yang Melayani

Kepemimpianan

yang

melayani

dimulai

dari

dalam

diri

kita.

Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya. Kembali kita saksikan betapa banyak pemimpin yang mengaku wakil rakyat ataupun pejabat publik, justru tidak memiliki integritas sama sekali, karena apa yang diucapkan dan dijanjikan ketika kampanye dalam pemilu tidak sama dengan yang dilakukan ketika sudah duduk nyaman di kursinya.

Paling tidak menurut Ken Blanchard dan kawan kawan, ada sejumlah ciri ciri dan nilai yang muncul dari seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani,yaitu tujuan utama seorang pemimpin adalah melayani kepentingan mereka yang dipimpinnya. Orientasinya adalah bukan untuk kepentingan diri pribadi maupun golongan tapi justru kepentingan publik yang dipimpinnya.

Seorang

pemimpin

memiliki

kerinduan

untuk

membangun

dan

mengembangkan mereka yang dipimpinnya sehingga tumbuh banyak

20

pemimpin dalam kelomponya. Hal ini sejalan dengan buku yang ditulis oleh John Maxwell berjudul Developing the Leaders Around You. Keberhasilan seorang pemimpin sangat tergantung dari kemampuannya untuk membangun orang orang di sekitarnya, karena keberhasilan sebuah organisasi sangat tergantung pada potensi sumber daya manusia dalam organisasi tersebut. Jika sebuah organisasi atau masyarakat mempunyai banyak anggota dengan kualitas pemimpin, organisasi atau bangsa tersebut akan berkembang dan menjadi kuat.

Pemimpin yang melayani memiliki kasih dan perhatian kepada mereka yang dipimpinnya. Kasih itu mewujud dalam bentuk kepedulian akan kebutuhan, kepentingan, impian da harapan dari mereka yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin yang memiliki hati yang melayani adalah akuntabilitas ( accountable ). Istilah akuntabilitas adalah berarti penuh tanggung jawab dan dapat diandalkan. Artinya seluruh perkataan,pikiran dan tindakannya dapat dipertanggungjawabkan organisasinya. kepada public atau kepada setiap anggota

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mau mendengar. Mau mendengar setiap kebutuhan, impian, dan harapan dari mereka yang dipimpin. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang dapat

mengendalikam ego dan kepentingan pribadinya melebihi kepentingan public atau mereka yang dipimpinnya. Mengendalikan ego berarti dapat

mengendalikan diri ketika tekanan maupun tantangan yang dihadapi menjadi

21

begitu berat,selalu dalam keadaan tenang, penuh pengendalian diri, dan tidak mudah emosi.

2. Metode Kepemimpinan

Kepala Yang Melayani

Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.

Tidak banyak pemimpin yang memiliki metode kepemimpinan ini. Karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah sekolah formal. Keterampilan seperti ini disebut dengan Softskill atau Personalskill. Dalam salah satu artikel di economist.com ada sebuah ulasan berjudul Can Leadership Be Taught, dibahas bahwa kepemimpinan (dalam hal ini metode kepemimpinan) dapat diajarkan sehingga melengkapi mereka yang memiliki karakter kepemimpinan. Ada 3 hal penting dalam metode kepemimpinan, yaitu :

Kepemimpinan yang efektif dimulai dengan visi yang jelas. Visi ini merupakan sebuah daya atau kekuatan untuk melakukan perubahan, yang mendorong terjadinya proses ledakan kreatifitas yang dahsyat

22

melalui integrasi maupun sinergi berbagai keahlian dari orang orang yang ada dalam organisasi tersebut. Bahkan dikatakan bahwa nothing motivates change more powerfully than a clear vision. Visi yang jelas dapat secara dahsyat mendorong terjadinya perubahan dalam organisasi. Seorang pemimpin adalah inspirator perubahan dan visioner yaitu memiliki visi yang jelas kemana organisasinya akan menuju. Kepemimpinan secara sederhana adalah proses untuk membawa orang orang atau organisasi yang dipimpin menuju suatu tujuan yang jelas. Tanpa visi, kepemimpinan tidak ada artinya sama sekali. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi untuk senantiasa tumbuh dan belajar serta berkembang dalam mempertahankan survivalnya sehingga bias bertahan sampai beberapa generasi. Ada 2 aspek mengenai visi, yaitu visionary role dan implementation role. Artinya seorang pemimpin tidak hanya dapat membangun atau menciptakan visi bagi organisasinya tapi memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan visi tsb ke dalam suatu rangkaian tindakan atau kegiatan yang diperlukan untuk mencapai visi itu.

Seorang pemimpin yang efektif adalah seorang yang responsive. Artinya dia selalu tanggap terhadap setiap persoalan, kebutuhan, harapan, dan impian dari mereka yang dipimpin. Selain itu selalu aktif dan proaktif dalam mencari solusi dari setiap permasalahan ataupun tantangan yang dihadapi.

23

Seorang pemimpin yang efektif adalah

seorang pelatih atau

pendamping bagi orang orang yang dipimpinnya (performance coach). Artinya dia memiliki kemempuan untuk menginspirasi, mendorong dan memampukan anak buahnya dalam menyusun perencanaan (termasuk rencana kegiatan, target atau sasaran, rencana kebutuhan sumber daya, dsb), melakukan kegiatan sehari hari seperti monitoring dan pengendalian, serta mengevaluasi kinerja dari anak buahnya.

3. Perilaku Kepemimpinan

Tangan Yang Melayani

Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutka perilaku seorang pemimpin, yaitu :

Pemimpin tidak hanya sekedar memuaskan mereka yang dipimpin, tapi sungguh sungguh memiliki kerinduan senantiasa untuk memuaskan Tuhan. Artinya dia hidup dalam perilaku yang sejalan dengan firman Tuhan. Dia memiliki misi untuk senantiasa memuliakan Tuhan dalam setiap apa yang dipikirkan, dikatakan, dan diperbuatnya.

Pemimpin focus pada hal hal spiritual dibandingkan dengan sekedar kesuksesan duniawi. Baginya kekayaan dan kemakmuran adalah untuk dapat memberi dan beramal lebih banyak. Apapun yang dilakukan bukan untuk mendapat penghargaan, tapi melayani sesamanya. Dan dia lebih

24

mengutamakan hubungan atau relasi yang penuh kasih dan penghargaan, dibandingkan dengan status dan kekuasaan semata.

Pemimpin sejati senantiasa mau belajar dan bertumbuh dalam berbagai aspek , baik pengetahuan, kesehatan, keuangan, relasi, dsb. Setiap harinya senantiasa menyelaraskan (recalibrating ) dirinya terhadap komitmen untuk melayani Tuhan dan sesame. Melalui solitude (keheningan), prayer (doa), dan scripture (membaca Firman Tuhan ).

Demikian kepemimpinan yang melayani menurut Ken Blanchard yang sangat relevan dengan situasi krisis kepemimpinan yang dialami oleh bangsa Indonesia. Bahkan menurut Danah Zohar, penulis buku Spiritual Intelligence: SQ the Ultimate Intelligence, salah satu tolak ukur kecerdasan spiritual adalah kepemimpinan yang melayani (servant leadership). Bahkan dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Gay Hendrick dan Kate Luderman, menunjukkan pemimpin pemimpin yang berhasil membawa perusahaannya ke puncak kesuksesan biasanya adalah pemimpin yang memiliki SQ yang tinggi. Mereka biasanya adalah orang orang yang memiliki integritas, terbuka, mampu menerima kritik, rendah hati, mampu memahami spiritualitas yang tinggi, dan selalu mengupayakan yang terbaik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

F. Kepemimpinan sejati

Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau tranformasi internal dalam diri seseorang.

25

Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out ).

Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarga, bagi lingkungan pekerjaan, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. I dont think you have to be waering stars on your shoulders or a title to be leadar. Anybody who want to raise his hand can be a leader any time,dikatakan dengan lugas oleh General Ronal Fogleman,Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat yang artinya Saya tidak berpikir anda menggunakan bintang di bahu anda atau sebuah gelar pemimpin. Orang lainnya yang ingin mengangkat tangan dapat menjadi pemimpin di lain waktu.

Sering kali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya

26

sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dam maximizer.

Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor & praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble).

Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis menjadi negara yang demokratis dan merdeka.Selama penderitaan 27 tahun penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam diri Beliau. Sehingga Beliau menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selam bertahun tahun.

Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.

27

Sebuah jenis kepemimpinan yaitu Q Leader memiliki 4 makna terkait dengan kepemimpinan sejati, yaitu :

Q berarti kecerdasan atau intelligence. Seperti dalam IQ berarti kecerdasan intelektual,EQ berarti kecerdasan emosional, dan SQ berarti kecerdasan spiritual. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ,EQ,SQ yang cukup tinggi.

Q leader berarti kepemimpinan yang memiliki kualitas(quality), baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial.

Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi ( dibaca chi dalam bahasa Mandarin yang berarti kehidupan).

Q keempat adalah qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh sungguh mengenali dirinya (qolbunya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management).

Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence-quality-qi-qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin.

Rangkuman kepemimpinan Q dalam 3 aspek penting yang disingkat menajadi 3C, yaitu :

yPerubahan karakter dari dalam diri (character chage). 28

yVisi yang jelas (clear vision). yKemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence). Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengatahuan,dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metode kepemimpinan). Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell, The only way that I can keep leading is to keep growing. The the day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is way it always it. Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tsb.

G. Perbedaan antara Kepemimpinan dan Manajemen Daft (2005) mendefinisikan manajemen sebagai pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien melalui perencanaan, organisasi, staffing, pengarahan (directing), dan pengontrolan sumber-sumber organisasi. Lebih lanjut Daft (2005) menjelaskan bahwa baik kepemimpinan maupun manajemen sama-sama mengarahakan organisasi, tapi betapapun ada perbedaannya. Manajemen lebih berfokus pada membuat perencanaan yang detail, jadwal yang tepat untuk mencapai hasil tertentu, kemudian mengalokasikan sumber daya yang ada di organisasi untuk melaksanakan rencana. Sedangkan kepemimpinan lebih pada penciptaan visi yang memikat

29

di masa depan, dan menciptakan strategi jangka panjang untuk mengadakan perubahan yang dibutuhkan untuk mencapai visi tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa manajemen bekerja pada dari atas ke bawah, dan hasil jangka pendek sedangkan kepemimpinan mengarahkan dirinya untuk mengawasi

terlaksananya cita-cita jangka panjang. Kotter (dalam Morehead dan Griffin, 1998) menyebutkan perbedaan antara manajemen dan kepemimpinan adalah sebagai berikut:

Aktifitas Manajemen Kepemimpinan

Penciptaan Agenda

Merencanakan dan Membuat anggaran: meliputi kegiatan tahap demi tahap untuk mencapai hasil

Membangun arah. Mengembangkan visi masa depan, mendorong perubahan-perubahan yang perlu diadakan untuk tercapainya visi tersebut.

Pengembangan Network

Mengorganisasi dan

Aligning people. Mengkomunikasikan arahan dengan kata-kata maupun perbuatan, mempengaruhi orang

dengan mengatur staff

individu lain untuk (Staffing). mencapai tujuan/agenda Mengembangkan struktur mengatur staff,

30

delegasi tugas, membuat perencanaan dll.

untuk menciptakan perubahan, membuat mereka menerima visi dan mau bekerja bersama.

Pelaksanaan Rencana Mengontrol memecahkan persoalan. Memonitor ada hasil,

dan Memotivasi dan Menginspirasi. Membuat individu bila berkobar untuk mengatasi

kesalahan berbagai masalah.

mencarinya, dan mencari pemecahan masalah.

Hasil

Menghasilkan yagn dapat biasanya ditebak,

sesuatu Menghasilkan sudah perubahan, yang kadang

sebuah kadangdan

dramatis,

diharapkan stakeholders.

berbagai menghasilkan

sesuatu

yagn sangat produktif dan berguna.

H. Pendekatan-Pendekatan Mengenai Kepemimpinan a. Pendekatan Sifat Pendekatan ini percaya pada adanya karakteristik individu yang sifatnya khas, berbeda dibandingkan individu lain, yang merupakan

31

karakteristik seorang pemimpin. Salah satu yang terkenal adalah pendekatan The Great Man. Collon dalam buku yang diedit oleh Timpe (2002) menyebutkan adanya beberapa ciri sifat yang diidentifikasikan sebagai sifat yang dimiliki oleh pemimpin yang berhasil yaitu:  Kelancaran berbicara. Dalam hal ini lebih luas darapida sekedar memiliki perbendaharaan kata yang luas namun termasuk di dalamnya kemampuan untuk memikat dan mempengaruhi orang lain untuk mendengarkan apa yang dikatakannya.  Kemampuan untuk memecahkan persoalan. Termasuk di dalamnya adalah bagaimana pemimpin juga dapat menempatkan ide-ide yang segar bagi penyelesaian masalah dalam kelompoknya. Termasuk bahkan di dalamnya kapan bertindak dan kapan tidak perlu bertindak apa-apa.  Kesadaran akan kebutuhan. Seorang pemimpin yang efektif adalah mereka yang sensitif dengan kebutuhan kelompok yang dipimpinnya. Memiliki visi bagaimana cara untuk pemenuhannya.  Keluwesan. Pemimpin yang baik mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi, bahkan membawa kelompoknya untuk menghadapi perubahan. Pemimpin yang efektif tidak akan takut dengan perubahan.  Kecerdasan. Kecerdasan di sini bukan diartikan sebagai kejeniusan. Tetapi anggota kelompok perlu merasakan bahwa pemimpin mereka memiliki kemampuan untuk membantu mereka mengatasi persoalan, dan memiliki kemampuan yang lebih demi kemajuan kelompok.

32

 Kesediaan menerima tanggung jawab. Pemimpin yang baik bersedia memikul hal yang harus dikerjakannya dengan baik.  Ketrampilan sosial. Pemimpin yang efektif memiliki kemampuan diplomasi sehingga kelompoknya mendapatkan penghargaan dari orang sekitarnya.

b.

Pendekatan Perilaku Menurut pendekatan ini, pemimpin yang baik tidak dilihat dari sifat

apa yang dimiliki, tetapi bahwa siapa yang dapat mengembangkan perilaku yang tepatlah yang akan menjadi pemimpin yang baik. Sehingga riset-riset yang dikembangkan bukan mempelajari bagaimana karakteristik seorang pemimpin tetapi apa yang dilakukan pemimpin dalam situasi-situasi yang ada yang membuatnya menjadi pemimpin yang baik. Dalam pendekatan ini dikenal istilah: Pemimpin yang autokratik yaitu pemimpin yang cenderung mensentralkan otoritas dan mendapatkan kekuasaan karena posisinya, karena kemampuannya memberikan hadiah dan hukuman, serta pemimpin yang demokratis: yaitu pemimpin yang mendelegasikan otoritas kepada orang lain, mendorong adanya partisipasi, mengandalkan pengetahuan bawahan untuk penyelesaian tugas, dan memanfaatkan perasaan respek dari bawahannya dalam memberikan pengaruhnya. Tannenbaum dan Schmidt (dalam Daft, 2005) menyarankan penggunaan autokratik maupun demokratik harus disesuaikan dengan kondisi organisasi. Misalnya dalam kondisi waktu yang genting dan anggota

33

organisasi harus belajar lama untuk mengambil keputusan, maka gaya autokratik akan cenderung lebih efektif dibandingkan gaya demokratik. Sementara bila anggota organisasi sudah memiliki kesiapan untuk dapat mengambil keputusan sendiri maka gaya demokratis akan bisa

dikembangkan. Bila jarak ketrampilan antara anggota organsisasi dengan pemimpin terlalu jauh, biasanya pemimpin akan mengembangkan gaya autokratik.

c.

Pendekatan Contingency Pendekatan ini menekankan kefektifan perilaku seorang pemimpin

dalam suatu situasi mungkin tidak akan efektif apabila diterapkan dalam situasi yang lain. Dalam hal ini contingency diartikan sebagai: tergantung. Jadi seseorang akan menjadi pemimpin efektif itu tergantung dari banyak hal.

Menurut Fiedler Contingency Model, ada dua macam gaya kepemimpinan. Yang pertama: pemimpin yang berorientasi hubungan, yaitu pemimpin yang memperhatikan hubungan dengan sesama, ia sangat sensitif dengan perasaan orang lain dan berusaha menjaga hubungan baik. Yang kedua, adalah pemimpin yang berorientasi tugas, yaitu menekankan pentingnya terselesaikannya tugas daripada perhatiannya pada individu/orang. Fiedler menemukan bahwa keefektifan gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan tergantung dari bagaimana kondisi situasi-situasi yang ada, yaitu: hubungan antara pemimpin-bawahan (bila ada kepercayaan antara pemimpin-bawahan, rasa hormat, kepercayaan terhadap pemimpin maka

34

dikatakan hubungannya bagus), Tingkat Terstrukturnya tugas, (tugas yang terstruktur adalah yang memiliki prosedur yang spesifik, jelas, tujuan juga jelas, cenderung rutin, terdefinisi dengan jelas), Posisi Kekuasaan Pemimpin (sejauhmana pemimpin memiliki kekuasan formal terhadap bawahan. Disebut tinggi bila pemimpin memiliki kekuasaan untuk merencanakan, mengarahkan pekerjaan bawahan, mengevaluasinya dan memiliki kewenangan untuk memberikan hadiah dan hukuman).

35

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kata pemimpin, kepemimpinan serta kekuasaan memiliki keterikatan yang tak dapat dipisahkan. Karena untuk menjadi pemimpin bukan hanya berdasarkan suka satu sama lainnya, tetapi banyak faktor. Pemimpin yang berhasil hendaknya memiliki beberapa kriteria yang tergantung pada sudut pandang atau pendekatan yang digunakan, apakah itu kepribadiannya, keterampilan, bakat, sifat sifatnya, atau kewenangannya yang dimiliki yang mana nantinya sangat berpengaruh terhadap teori maupun gaya kepemimpinan yang akan diterapkan.

Rahasia utama kepemimpinan adalah kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan dari kekuasaanya, bukan kecerdasannya, tapi dari kekuatan pribadinya. Seorang pemimpin sejati selalu bekerja keras memperbaiki dirinya sebelum sibuk memperbaiki orang lain.

Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

B. Saran

Sangat diperlukan sekali jiwa kepemimpinan pada setiap pribadi manusia. Jiwa kepemimpinan itu perlu selalu dipupuk dan dikembangkan. Paling tidak untuk memimpin diri sendiri.

36

Jika saja Indonesia memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah pengikut tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.

37

DAFTAR PUSTAKA

Daft, R.L. 2005. The Leadership Experience. Ohio: Thomson South Western.

Moorhead, G. & Griffin, R.W. 1998. Organizational Behavior. New York: Houghton Mifflin Company.

y y

Indrajaya, Adam Ibrahim. (1983). Perilaku Organisasi, Sinar Baru, Bandung. Muhammad, Hasyim, (2002). Dialog antara Tasawuf dan Psikologi, Yogyakarta: Walisongo Press dan Pustaka Pelajar.

Mubarok, Achmad, (2003). Sunnatullah dalam Jiwa Manusia, Jakarta: IIIT Indonesia

Moedjiono, Imam. (2002). Kepemimpinan dan Keorganisasian, Yogyakarta: UII Press.

y y

Rahmat, Jalaluddin, (1997). Renungan-Renungan Sufistik, Bandung: Mizan. Riawan Amin, A, (2004). The Celestial Management, Jakarta: Senayan Abadai Publishing.

Riyono, B. & Zulaifah, E. 2001. PSikologi Kepemimpinan, Yogyakarta: UGM Press.

y y

Robbins, S.P. 1998. Perilaku Organisasi. Jakarta: Prehallindo. Timpe, A.D. 1991. Seri Manajemen Sumber Daya Manusia. Kepemimpinan. Jakarta: Elex Computindo.

38