Anda di halaman 1dari 8

Nilai-nilai luhur (supreme values) adalah pedoman hidup (guiding principles) yang digunakan untuk mencapai derajat kemanusiaan

yang lebih tinggi, hidup yang lebih bermanfaat, kedamaian dan kebahagiaan. Bangsa Indonesia yang bersifat multi etnis memiliki khasanah ajaran, wewarah, tuntunan yang sangat kaya mengenai budi pekerti. Dengan budi pekerti, kita akan berbakti, mengabdi dengan sepenuh jiwa raga kepada bangsa dan kita bukan bangsa pencaci ataupun penghujat. Jadi, Budi pekerti sebagai nilai luhur adalah pilihan perilaku yang dibangun berdasarkan atas nilai-nilai yang diyakini sehingga sering diposisikan sebagai nilai instrumental atau cara mencapai sesuatu atau sikap terhadap sesuatu. Orang tua berperan penting dalam meperhatikan tingkah laku anaknya. Hal-hal yang dilakukan orang tua dalam mengembangkan karakter yang baik kepada anaknya : Penegakan tata tertib dan etiket/budi pekerti dalam keluarga Penguatan perilaku berkarakter Pembelajaran kepada anak

Kurangnya peran orang tua menanamkan nilai-nilai luhur dan budaya kepada anak dipandang sebagai salah satu penyebab lunturnya nilai luhur kebudayaan sekarang. Peran orang tua sangat penting menanamkan nilai luhur kepada anak. Namun secara tak sadar, kita terkesan mengabaikan dengan berbagai alasan kesibukan keseharian, sehingga nilai-nilai luhur dan kebudayaan anak terlihat ada pergeseran. perilaku anak-anak sekarang berbanding terbalik dengan anak-anak masa dulu. Contohnya anak-anak zaman dulu ketika menjelang Maghrib sudah harus berada di rumah, tapi anak-anak sekarang tetap saja berkeliaran di jalan meski adzan Maghrib telah berkumandang. Setiap orang tua wajib mendukung program ini. Misalnya mematikan televisi saat jam belajar dan memberi perhatian lebih terhadap anak. "Anak-anak adalah penerus bangsa yang akan mengembangkan peradaban dan budaya Indonesia. Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak mematuhi peraturan orang tuanya, hal itu disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan. Pada masa pertumbuhan

remaja, remaja lebih dekat dengan temannya dari pada orang tuanya karena di masa remajalah anak-anak mudah untuk dipengaruhi dalam lingkungannya dan mengerjakan apa yang disukainya. Dikalangan anak-anak atau remaja ternyata juga banyak menarik perhatian beberapa ahli ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan anak-anak atau remaja. Delikwensi anak-anak yang terkenal adalah masalah cross boy dan cross girl yang tergabung dalam satu ikatan atau organisasi formil atau semi formil dan yang mempunyai tingkah laku yang kurang atau tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya. Gangguan-gangguan yang terjadi tidak jarang muncul dari perbuatan-perbuatan anak remaja yang tidak terpuji serta mengancam hak-hak orang lain di tengahtengah masyarakat antara lain: 1. Mengancam hak milik orang lain misalnya; pencurian, pengedaran, penipuan, dan lain-lain 2. Mengancam hak-hak hidup seperti pembunuhan dan penganiyaan Ketika orangtua tak mampu lagi melihat makna dan nilai hakiki satu keluarga, pada akhirnya anaklah yang menjadi korban. Ia menjadi ajang pelampiasan

ketidakberdayaan orangtua menghadapi impitan persoalan keluarga. Apalagi, saat anak lebih dilihat dari asas pemanfaatan atau utilitas, bukan lagi sebagai titipan Tuhan. banyak pula orangtua yang tidak mampu menjadikan keluarga sebagai tempat perlindungan yang aman dan tenteram bagi anak. Karena itu, ketika tidak bisa menghadapi kemiskinan yang menyiksa, anak yang menjadi korban. Mereka langsung menghukum anak, memukul, atau tindakan apa saja, tanpa

mempertimbangkan trauma yang akan terjadi akibat dari hukuman itu.Selain itu, banyak pula pihak yang melihat posisi orangtua sebagai satu kekuasaan. Dalam hal ini, anak tidak lagi dianggap sebagai titipan Tuhan karena orangtua tidak lagi menghargai proses kehidupan anak, yaitu dari janin yang dikandung selama sembilan bulan. Kondisi ini membuat orangtua merasa punya hak penuh untuk menghukum dan memberi sanksi. Adanya persepsi salah tentang anak, yakni anak dianggap sebagai hak milik. Jadi, anak boleh dibentuk sesuai keinginan orangtua, seperti anak harus memperoleh peringkat di sekolah. Dan, ketika anak tidak menurut, hal itu menyinggung hanja diri dan memicu kemarahan orangtua. Padahal, keluarga harusnya menjadi tempat anak merasa aman.Pelaku kekerasan

terhadapanak itu tidak terkait dengan tingkat pendidikan. Banyak di antara mereka yang berasal dari berbagai strata sosial. Dalam hal ini, ketidaksiapan orangtua

dalam mendidik anak juga memicu tindak kekerasan terhadap anak. Banyak pasangan yang menikah, tetapi tanpa dibekali kesiapan menjadi orangtua yang juga bertugas mendidik anak tanpa unsur kekerasan. Kekerasan itu bisa terjadi di semua strata sosial. Tetapi, di kalangan atas kekerasan yang terjadi lebih bersifat psikologis anak dituntut berprestasi, diikutkan dalam berbagai lomba, dan jika tidak menang, akan dimarahi orangtuanya. Di kalangan masyarakat tidak mampu, kekerasan itu cenderung pada penganiayaan fisik. Dalam kasus anak yang diseterika ayah kandungnya di Jakarta Utara, misalnya, tindakan dilakukan dengan alasan malu karena anaknya suka mencuri. Jadi, motif kekerasan tidak terbatas alasan ekonomi, tetapi menyangkut pendidikan dalam keluarga. Mendidik selalu menciptakan rasa tidak aman, karena kita akan sering mempertanyakan apakah tindakan kita benar-benar yang terbaik dan paling efektifitas. sekolah merupakan upaya dalam menegakkan tatanan sosial, bertindak sebagai nilai-nilai penuntun, selalu keras, mengikuti aturan. Kekakuan yang berlebihan, tidak fleksibel, dikombinasikan diatas transformasi besar masyarakat, telah menempatkan model ini dipertanyakan, jika tidak jauh ke dalam tidak digunakan. Takut represif, kuno dan ketinggalan zaman, orangtua mulai menghindari perilaku ini. And, to make sure they were not slipping on the old , they started acting exactly in the opposite direction. Dan, untuk memastikan mereka tidak terpeleset di atas yang lama, mereka mulai bertindak dengan tepat dalam arah yang berlawanan. Sejak saat itu, menghukum, menetapkan aturan-aturan, menentukan batasan, ditinggalkan alat, tidak perlu untuk mendidik. Jika kita ingat bahwa pendidikan adalah untuk membentuk karakter seseorang, adalah untuk menanamkan dia dengan konsep, karena itu kebiasaan, untuk membuat nilai-nilai mereka dilahirkan dari sana, kita dapat melihat bahwa tugas yang rumit dan panjang. Masyarakat merupakan ajang hidup anak remaja disamping keluarga dan lingkungan sekolah. Dalam arti khusus, masyarakat merupakan kelompok mansusia yang sudah cukup lama mengadakan interaksi sosial dalam kehidupan bersama yang diliputi oleh struktur serta sistem yang mengatur kehidupan. Di samping itu di dalamnya terdapat pola kebudayaan dan salah satu unsur pokok masyarakat, yakni solidaritas sosial, di dalam kehidupan masyarakat, biasanya terjadi interaksi sosial diantara individu dengan individu yang masing-masing memiliki kesadaran dan pengertian tentang hubungan timbal balik tersebut. Dengan kenyataannya sering terjadi hubungan individu dengan individu atau bahkan hubungan individu dengan kelompok

mengalami gangguan yang disebabkan karena terdapat seorang atau sebagian anggota kelompok di dalam memenuhi kebutuhan hidupnya menimbulkan gangguan terhadap hak-hak orang lain. Mengancam kehormatan orang lain yakni perzinahan. Nilai-nilai luhur harus dipertahankan dan dipelihara untuk bertindak sabagai perisai berbagai penyakit sosial yang mengganggu masyarakat. Ketika bangsa berlangsung, lembaga keluarga bisa menjadi korban pertama, dengan anak-anak tidak mendapatkan perhatian yang cukup dan bimbingan, menyebabkan munculnya berbagai penyakit sosial yang mempengaruhi remaja. Kebanyakan orang tua sibuk dengan karir mereka dan tidak dapat menghabiskan waktu berkualitas dengan anakanak mereka, dengan hasil bahwa ribuan anak-anak perkotaan diserahkan kepada keinginan dan pola pikir pembantu asing, baby-sitter, dan dalam beberapa kasus, kerabat. Orang tua harus siap untuk melakukan upaya untuk menghabiskan waktu berkualitas dengan anak-anak mereka. Yang juga dibutuhkan adalah program berkelanjutan untuk memperkuat moral dan penguatan untuk membuat anak-anak menyadari tanggung jawab mereka untuk diri sendiri, orang tua mereka, masyarakat dan bangsa. Nilai-nilai seperti ketaatan, berbakti, menghormati orang tua, kesabaran dan toleransi, kebenaran, tanggung jawab, kehormatan, dll, perlu ditekankan. Nilai-nilai seperti ketaatan, berbakti, menghormati orang tua, kesabaran dan toleransi, kebenaran, tanggung jawab, kehormatan, dll, perlu ditekankan. Nilainilai kemanusiaan yang kuat bersama dengan keluarga yang kuat adalah kunci untuk membangun masyarakat yang damai dan stabil yang kemudian akan mengarah pada bangsa yang kuat dan stabil.Nilai-nilai kemanusiaan yang kuat bersama dengan keluarga yang kuat adalah kunci untuk membangun masyarakat yang damai dan stabil yang kemudian akan mengarah pada bangsa yang kuat dan stabil. Untuk membentuk nilai-nilai karakter dalam diri kita sendiri kita harus : a. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain b. Bertanggung jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan

kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.

c. Bergaya hidup sehat Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan. d. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. e. Kerja keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan dengan sebaik-baiknya. f. Percaya diri Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. g. Berjiwa wirausaha Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya. h. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika untuk guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan)

menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki. i. Mandiri Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas. j. Ingin tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar. k. Cinta ilmu Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.