Anda di halaman 1dari 2

Hukum Mati Produsen dan Pengedar Narkoba

OPINI | 31 January 2012 | 20:10 169 22 1 dari 2 Kompasianer menilai inspiratif

Hukuman mati untuk pengedar narkoba Pengguna narkoba selain berbahaya bagi diri sipemakai, juga membahayakan bagi orang lain, seperti kasus tabrakan maut di Tugu Tani beberapa minggu yang lalu. Demikian disampaikan oleh Kepala Bagian Humas Badan Narkotika Nasional (BNN) Drs Sumirat Dwiyanto pada kesempatan wawancara di salah satu stasiun Televisi swasta. Peristiwa ini sungguh sangat tragis, ternyata sipengemudi maut Apriyani baru saja menggunakan barang terlarang itu sehingga mengakibat 9 orang yang tak berdosa meninggal dunia.. Permasalahan narkotika telah bersifat transnasional yang dilakukan dengan menggunakan modus operandi yang tinggi, teknologi canggih, didukung oleh jaringan organisasi yang luas, dan sudah banyak menimbulkan korban, terutama di kalangan generasi muda bangsa yang sangat membahayakan kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara. Undang Undang Narkotika Nomer 35 Tahun 2009 menetapkan hukuman berat bagi pengedar narkoba sampai dengan acaman hukuman mati terhadap pelaku tindak pidana sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 114 ayat 2 Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, menyerahkan, atau menerima Narkotika Golongan I sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dalam bentuk tanaman beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon atau dalam bentuk bukan tanaman beratnya 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling singkat 6 (enam) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga). Tindak pidana narkotika antara lain berupa upaya sindikat mengimpor, mengekspor, memproduksi, menanam, menyimpan, mengedarkan, penyalahgunaan Narkotika. Tindak pidana ini sangat merugikan dan merupakan bahaya yang sangat besar bagi kehidupan manusia, masyarakat, bangsa, dan negara serta ketahanan nasional Indonesia. Oleh karena itu hukuman berat dimaksudkan adalah untuk memberikan efek jera bagi sepemakai juga memberikan peringatan keras bagi oknum yang coba coba memproduksi dan mengedarkan narkoba. Pengungkapan sindikat jaringan narkoba Hasil yang telah dicapai BNN pada tahun 2011, dalam rangka mengimplementasikan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN),khususnya dalam bidang pemberantasan adalah sudah diungkap sebanyak 97 jaringan sindikat narkoba dengan jumlah tersangka sebanyak 159 orang. Memutus jaringan sindikat barang haram ini dimaksudkan untuk menghilangkan peredaran gelap narkoba ditanah air.

Berdasarkan Pers Release akhir tahun 2011 BNN berhasil mengungkap jaringan yang melibatkan sindikat internasional yang paling spektakuler dan menonjol adalah terbongkarnya kasus Surya Bahadur Tamang, alias Boski, yang mengendalikan peredaran gelap narkoba dari balik jeruji besi di lapas Nusa Kambangan sampai bandar besar berkewarganegaraan Iran yang ditangkap oleh polisi Thailand serta kasus Obina, napi di lapas Cipinang yang mengendalikan jaringannya dari dalam Lapas Cipinang. Selain itu BNN menangkap Kepala Lapas Narkotika di Nusa Kambangan, Marwan Adli yang diduga memfasilitasi terjadinya kejahatan narkoba di lingkungan lapas dan menerima aliran dana dari hasil transaksi narkoba. Kini, setelah melewati persidangan yang cukup alot, Marwan Adli sudah divonis hukuman 13 tahun penjara, oleh Pengadilan Negeri Cilacap, pada 27 Desember 2011 lalu. Bekerja sama dengan Institusi narkotika manca negara alam rangka upaya memutus jaringan dan menangkal masuknya jaringan narkoba internasional ke Indonesia, BNN tidak hanya menunggu masuknya jaringan narkoba atau narkobanya ke Indonesia, tetapi juga melakukan langkah-langkah agresif ke luar negeri dengan melakukan kerjasama dan pertukaran informasi dengan aparat di beberapa negara serta mengikuti berbagai organisasi internasional di bidang P4GN. Satu komando pemberantasan Pekerjaan berat dalam melaksanakan tugas sebagai wujud komitmen yang kuat terbantu dengan perubahan struktur organisasi BNN. Saat ini berdasarkan UU Narkotika Lembaga non Kementerian ini berada langsung di bawah Presiden dan vertical dengan organisasi Badan Narkotika Propinsi (BNP) di setiap kewilayahan Republik Indonesia. Disamping itu Personil Pemberantasan BNN diberikan kewenangan sebagai penyidik sehingga dengan demikian kecepatan bertindak dalam satu arah komando langsung secara vertical untuk memberantas peredaran gelap narkoba dapat dilakukan secara terpusat oleh BNN. Semoga di tahun 2012 pencapaian upaya BNN dalam memberantas jaringan sindikat narkoba semakin meningkat, dengan bekerja sama antar intansi sebagai mana amanat Inpres Nomor 12 tahun 2011. Tentunya peran masyarakat untuk ikut berpartisipasi dan memberikan kontribusi dalam melindungi anak bangsa dari dampak buruk narkoba sangat diperlukan. Referensi : Humas BNN, UU Nomor 35 Tentang Narkotika tahun 2009