Anda di halaman 1dari 3

DESKRIPSI LABTEK X

Labtek X merupakan gedung yang digunakan oleh Program Studi Teknik Material dan Teknik Kimia. Gedung ini memiliki 5 lantai. Teknik Material menempati lantai 1 dan lantai 2 bagian barat. Sementara Teknik Kimia menempati lantai 1 dan lantai 2 sebelah timur, dan lantai 3 hingga lantai 4. Lantai 5 khusus digunakan untuk tangki. Labtek X memiliki 11 laboratorium. Kesebelas laboratorium tersebut di antaranya Laboratorium Teknik Reaksi Kimia, Laboratorium Polimer, Laboratorium Instruksional Mikrobiologi, Bengkel Gelas, dll. Kegiatan yang dilakukan di Labtek X meliputi kegiatan perkantoran pada umumnya maupun kegiatan praktikum dan penelitian. Berdasarkan kegiatan yang terjadi di gedung ini, kebutuhan air bersih dibedakan menjadi 2, yaitu air bersih untuk kegiatan sehari-hari yang disuplai melalui sistem perpipaan dan aqua demineralisasi untuk keperluan praktikum yang disuplai secara manual. Limbah hasil penelitian maupun praktikum dalam laboratorium pun beraneka ragam, dari limbah cair semacam zat organik, anorganik, asam, basa, hingga limbah padat seperti polimer, gelas, logam, dan sebagainya.

PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Selain proses perkantoran pada umumnya, kegiatan yang dilakukan di Labtek X juga termasuk kegiatan praktikum dan penelitian. Labtek X memiliki 11 laboratorium. Bahan-bahan yang digunakan untuk praktikum maupun penelitian meliputi senyawa organik, asam-basa, mikroorganisme, enzim, maupun logam. Tentu saja zat-zat yang digunakan maupun dihasilkan di laboratorium tersebut tidak dapat langsung dibuang ke badan air. Oleh karena itu perlu dilakukan pengolahan air buangan. Dalam perancangan pembangunan, alur pembuangan air limbah Labtek X dibagi menjadi 3 jalur. Jalur pertama adalah drainase biasa yang langsung menuju selokan. Jalur ini hanya digunakan khusus untuk air hujan saja. Pada atap gedung diberi talang-talang air yang berfungsi untuk menampung air hujan kemudian menyalurkannya ke selokan. Jalur kedua digunakan untuk mengolah air buangan yang berasal dari toilet-toilet di seluruh gedung labtek X. Air buangan tersebut dialirkan menuju septic tank. Jalur yang ketiga digunakan untuk mengolah air buangan yang berasal dari wastafel laboratorium. Air-air buangan dirasa perlu ditreatment terlebih dahulu karena diasumsikan pencucian alat-alat bekas praktikum mengakibatkan pH air buangan dari wastafel menjadi sedikit basa atau asam. Bentuk pengolahannya adalah netralisasi menggunakan titrator. Komponen penyusun titrator berupa 2 buah drum yang terhubung dengan sebuah pompa. Satu buah drum berisi larutan asam sementara lainnya berisi larutan basa. Pada alat ini terdapat sebuah sensor berupa pH meter. Apabila cairan buangan bersifat asam, secara otomatis titrator akan menitrasinya dengan basa sampai pH kembali netral. Sementara untuk zat-zat cair sisa praktikum ditampung di jirigenjirigen. Jirigen-jirigen tersebut dibedakan antara asam, basa, zat anorganik, dan zat organik. Setelah penuh, jirigen-jirigen tersebut diangkut ke daerah Sabuga untuk diolah lebih lanjut. Tiga alur pengelolaan tersebut merupakan rancangan dari pihak ITB. Akan tetapi, menurut Program Studi Teknik Kimia treatment netralisasi terhadap air buangan wastafel Labtek X saja tidak cukup karena zat yang mungkin terbawa oleh air buangan di wastafel tersebut tidak hanya asam dan basa. Senyawa-senyawa organik juga ada kemungkinan ikut

terbawa. Bila dibiarkan lewat begitu saja, air yang mengandung senyawa organik ini dapat mencemari badan air dan melarutkan pipa-pipa air sehingga pipa menjadi bocor. Seharusnya kandungan senyawa organik tersebut perlu di-treatment juga. Walaupun secara perancangan pengolahan air buangan Labtek X cukup terintegrasi, terdapat beberapa kendala dalam pelaksanaan pengolahan air buangan Labtek X ini. Terutama untuk proses pengolahan air dari laboratorium. Air dari wastafel laboratorium pernah beberapa kali dilepas begitu saja ke badan air tanpa melalui tahap netralisasi. Hal ini dikarenakan petugas lupa mengisi drum stock asam-basa hingga benar-benar kosong. Bahkan sebelum tahun 2004 ruangan bawah tanah tempat netralisasi sempat banjir beberapa kali. Hingga saat ini, sistem penetralan menggunakan tangki titrator tidak pernah digunakan, tangki asam atau basa pun tidak pernah diisi ulang. Pencegahan pencemaran limbah cair ke lingkungan dilakukan dari hulu, yaitu limbah-limbah cair langsung ditampung di jirigen, sehingga limbah yang melewati badan pipa hanya air biasa dengan kandungan zat berbahaya yang dapat diabaikan.