Anda di halaman 1dari 7

Meratifikasi Statuta Roma

Kamis, 1 Mei 2008 21:59 WIB Kamis, 1 Mei 2008 21:59 WIB Oleh Agus Prasetyo Oleh Agus Prasetyo Berita Terkait Berita terkait di masa mendatang

Jakarta (ANTARA News) - Statuta Roma atau Roma Statute of the International Criminal Court adalah persetujuan yang disepakati tahun 1998 oleh United Nations Diplomatics Conference of Plenipotentiaries on Establishment of an International Criminal Court untuk membentuk International Criminal Court (ICC) (Pengadilan Pidana Internasional). Jakarta (ANTARA News) - Statuta Roma atau Roma Statuta Mahkamah Pidana Internasional adalah persetujuan Yang disepakati Tahun 1998 Konferensi Dibuat PBB kepandaian diplomatik Berkuasa Penuh tentang Pembentukan Pengadilan Pidana Internasional untuk membentuk Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) (Pengadilan Pidana Internasional). ICC adalah pengadilan internasional yang permanen dan independen untuk mengadili pelaku kejahatan internasional seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. ICC adalah pengadilan Internasional Yang permanen Dan TUBINDO untuk mengadili pelaku kejahatan genosida saling melengkapi Internasional, kejahatan terhadap kemanusiaan Dan kejahatan perang. Dengan terbentuknya ICC yang berkedudukan di Den Haag, Belanda itu, dunia internasional berharap agar praktek pemberian impunitas kepada para pelaku kejahatan serius dapat dihapuskan. Mencari Google Artikel terbentuknya ICC Yang berkedudukan di Den Haag, Belanda ITU, Dunia Internasional berharap agar praktek pemberian impunitas kepada para pelaku kejahatan Serius dapat dihapuskan. Meskipun Indonesia belum menjadi negara pihak dalam Statuta Roma itu (belum meratifikasi -red), secara domestik Bangsa Indonesia telah mengadopsi ketentuan-ketentuan Statuta Roma ke dalam hukum nasional antara lain dengan menyempurnakan hukum acara pidana yang merupakan hukum acara untuk perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat dan mengundangkan UU no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan UU n0 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Meskipun Indonesia Belum menjadi Negara pihak dalam Statuta Roma ITU (Belum meratifikasi-red), secara Domestik Bangsa Indonesia telah mengadopsi ketentuan-ketentuan Statuta Roma Ke dalam hukum tersebut pendidikan nasional ANTARA Lain Mencari Google Artikel menyempurnakan hukum tersebut Acara pidana Yang merupakan hukum tersebut untuk perkara pelanggaran Acara Hak Asasi Manusia ( HAM) berat untuk Dan mengundangkan UU no 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia Dan UU N0 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tekad yang kuat dalam menghapuskan impunitas terhadap para pelaku pelanggaran HAM berat. Upaya-upaya Yang dilakukan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tekad Yang KUAT dalam menghapuskan impunitas terhadap para pelaku pelanggaran HAM berat untuk.

Namun sayangnya berbagai upaya yang telah dilakukan tersebut masih dianggap belum memenuhi harapan sejumlah pihak. Namun sayangnya berbagai upaya telah dilakukan tersebut Yang Masih Belum dianggap memenuhi harapan sejumlah pihak. Terkait dengan Statuta Roma, ada pendapat yang menyebut bahwa ratifikasi terhadap statuta itu adalah hal positif dalam rangka penegakan dan pemajuan HAM di tanah air. Terkait di masa mendatang Mencari Google Artikel Statuta Roma, ADA pendapat Yang menyebut bahwa ratifikasi terhadap Statuta ITU adalah Hal yang positif dalam rangka penegakan Dan pemajuan HAM di Tanah Air. Bahkan konon Statuta Roma itu direncanakan dapat diratifikasi pada tahun 2008, sejalan dengan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM tahun 2004-2009). Bahkan konon Statuta Roma ITU direncanakan dapat diratifikasi PADA Tahun 2008, sejalan Mencari Google Artikel Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM Tahun 20042009). Jika benar ratifikasi itu dilakukan, tentunya pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Apa implikasi hukum yang akan dihadapi Pemerintah RI paska ratifikasi?, Apa manfaat yang diperoleh dari ratifikasi itu? Jika benar ratifikasi ITU dilakukan, tentunya pertanyaan Yang muncul kemudian adalah: Apa implikasi hukum tersebut Yang Akan dihadapi Pemerintah RI paska ratifikasi, Apa Yang diperoleh manfaat bahasa Dari ratifikasi ITU? Bermula dari munculnya pertanyaan-pertanyaan itulah, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Departemen Luar Negeri (Deplu), menyelenggarakan Pertemuan Kelompok Ahli dengan mengambil topik bahasan "Indonesia menuju ratifikasi the Roma Statute of International Criminal Court/ICC : Implikasi Hukum dan Pengimplementasiannya". Bermula bahasa Dari munculnya pertanyaan-pertanyaan itulah, Badan Pengkajian Dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) menurut Departemen Luar Negeri (Deplu), menyelenggarakan Pertemuan Kelompok Ahli Mencari Google Artikel Baru mengambil TOPIK bahasan "Indonesia menuju ratifikasi Statuta Roma of International Criminal Court / ICC: Implikasi Hukum Dan Pengimplementasiannya" . Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia (HAM) Prof Dr Harkristuti Harkrisnowo, salah satu narasumber yang hadir dalam acara tersebut mengatakan sebelum dilakukan ratifikasi terhadap Statuta Roma (The Roma Statute of International Criminal Court/ICC), perlu ada pemahaman yang jelas terhadap ketentuan yang mengatur tentang ICC itu agar tidak menimbulkan persepsi yang salah (mispersepsi). Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia (HAM) Prof Dr Harkristuti Harkrisnowo, salat Satu narasumber Yang hadir dalam Acara tersebut mengatakan sebelum dilakukan ratifikasi terhadap Statuta Roma (Statuta Roma of International Criminal Court / ICC), perlu pemahaman ADA Yang jelas terhadap ketentuan Yang membuat primer tentang ICC ITU agar MEDIA NUSANTARA menimbulkan PERSEPSI Yang salat (mispersepsi). "Langkah kita ke depan, perlu ada pemahaman tentang ICC itu, selain itu perlu dilakukan harmonisasi dari ketentuan ketentuan perundang-undangan supaya tidak bertentangan," kata Harkristuti Harkrisnowo, yang juga pakar hukum pidana dari Universitas Indonesia itu. "Langkah kitd Ke depan, perlu pemahaman tentang ICC ADA ITU, selain ITU perlu dilakukan harmonisasi bahasa Dari ketentuan ketentuan perundang-Undangan supaya MEDIA NUSANTARA bertentangan," Kata Harkristuti Harkrisnowo, Yang juga Pakar hukum tersebut pidana bahasa Dari Universitas Indonesia ITU.

Karena untuk melakukan ratifikasi suatu ketentuan internasional harus melibatkan DPR, maka harus disampaikan kepada DPR alasan-alasannya mengapa ratifikasi itu perlu dilakukan. KARENA untuk melakukan ratifikasi suatu ketentuan Internasional harus melibatkan DPR, Maka harus disampaikan kepada DPR alasan-alasannya mengapa ratifikasi ITU perlu dilakukan. "Dan yang juga tidak boleh ketinggalan adalah jangan sampai prinsip-prinsip keadilan, kebangsaan, kesetaraan di depan hukum menjadi hancur," ujar Harkristuti Harkrisnowo, yang dalam presentasinya banyak mengupas mengenai perbandingan Pengadilan HAM di Indonesia dengan ICC. "Dan Yang juga MEDIA NUSANTARA boleh ketinggalan adalah jangan sampai jawab Page-jawab Page KEADILAN, Kebangsaan, kesetaraan di depan hukum tersebut menjadi hancur," ujar Harkristuti Harkrisnowo, Yang dalam presentasinya BANYAK mengupas mengenai perbandingan Pengadilan HAM di Indonesia Mencari Google Artikel ICC. Untuk mengetahui apa itu ICC, Sekretaris Ditjen Hukum dan Perjanjian Internasional (HPI) Deplu Mulya Wirana menjelaskan, ICC atau yang dikenal dengan Pengadilan Pidana Internasional adalah lembaga peradilan permanen yang melakukan investigasi dan pengadilan terhadap individu atas kejahatan serius seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang. Untuk mengetahui APA ITU ICC, Sekretaris Ditjen Hukum Dan JTI Internasional (HPI) Deplu Mulya Wirana menjelaskan, ICC atau Yang dikenal Mencari Google Artikel Baru Pengadilan Pidana Internasional adalah Lembaga peradilan permanen Yang melakukan Investigasi Dan pengadilan terhadap individu Atas kejahatan Serius saling melengkapi genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan Dan kejahatan perang. ICC hanya bertindak pada kasus-kasus kejahatan serius di negara yang tidak mau dan tidak mampu untuk mengadili kejahatan serius yang dimaksud. ICC hanya bertindak PADA KASUSKASUS kejahatan Serius di Negara Yang MEDIA NUSANTARA mau Dan MEDIA NUSANTARA Mampu untuk mengadili kejahatan Serius Yang dimaksud. "Prinsip ini dikenal dengan `the principle of complementarity`," kata Wirana. "Jawab Page Suami dikenal Mencari Google Artikel Baru` prinsip saling melengkapi `," Kata Wirana. ICC, menurut Wirana, hanya mengadili individual bukan negara. ICC, * Menurut Wirana, hanya mengadili individu Bukan Negara. Mengenai siapa yang ada dalam ICC itu, Wirana menjelaskan lembaga itu beranggotakan 18 hakim dan seorang jaksa penuntut yang dipilih, yang akan memimpin investigasi dan mengadili suatu perkara. Mengenai siapa Yang ADA dalam ICC ITU, Wirana menjelaskan Lembaga ITU beranggotakan 18 hakim jaksa penuntut Dan seorang Yang dipilih, Yang Akan memimpin Investigasi Dan mengadili suatu perkara. "Hakim dan jaksa tersebut akan dipilih oleh negara negara yang telah meratifikasi Statuta Roma itu," tegasnya. "Hakim Dan jaksa tersebut dipilih Akan Dibuat Negara Negara Yang telah meratifikasi Statuta Roma ITU," tegasnya. Statuta Roma itu dibentuk pada tanggal 17 Juli 1998, sebanyak 120 negara mengesahkan Statuta itu dan mensyaratkan terbentuknya ICC. Statuta Roma ITU dibentuk PADA Tanggal 17 Juli 1998, sebanyak 120 Negara mengesahkan Statuta ITU Dan mensyaratkan terbentuknya ICC. Sampai tanggal 14 Maret 2008, sebanyak 106 negara telah meratifikasinya. Sampai Tanggal 14

Maret 2008, sebanyak 106 Negara telah meratifikasinya. "Statuta ini mulai berlaku sejak 1 Juli 2002," katanya. "Statuta Suami MULAI berlaku sejak 1 Juli 2002," katanya. Anggota DPR RI Nursyahbani Katjasungkana mengharapkan pemerintah memberikan penjelasan kepada DPR mengenai latar belakang perlunya dilakukan ratifikasi Statuta Roma ("The Roma Statute of The International Criminal Court"/ICC), jika statuta itu akan diratifikasi. Anggota DPR RI Nursyahbani Katjasungkana mengharapkan pemerintah memberikan Penjelasan kepada DPR mengenai latar BELAKANG perlunya dilakukan ratifikasi Statuta Roma ("Statuta Roma dari Mahkamah Pidana Internasional" / ICC), jika Statuta ITU Akan diratifikasi. "Kami harapkan ada penjelasan tentang latar belakang perlunya statuta itu (statuta Roma) diratifikasi. Sampaikan naskah akademik mengenai masalah ini," kata Nursyahbani Katjasungkana saat menjadi salah satu pembicara pada Pertemuan Kelompok Ahli dengan topik bahasan "Indonesia Menuju Ratifikasi the Rome Statute of International Criminal Court: Implikasi Hukum dan Pengimplementasiannya" di Jakarta, Selasa. "Kami harapkan ADA Penjelasan tentang latar BELAKANG perlunya Statuta ITU (Statuta Roma) diratifikasi Sampaikan Naskah. Akademik mengenai masalah inisial," Kata Nursyahbani Katjasungkana saat menjadi pembicara salat Satu PADA Pertemuan Kelompok Ahli Mencari Google Artikel TOPIK bahasan "Indonesia Menuju Ratifikasi Statuta Roma tentang International Criminal Pengadilan: Implikasi Hukum Dan Pengimplementasiannya "di Jakarta, Selasa. Menurut Nursyahbani, sebagai bagian dari masyarakat Internasional, Indonesia juga dituntut untuk menyesuaikan aturan-aturan yang telah dibuat. * Menurut Nursyahbani, sebagai Bagian tidak bahasa Dari Masyarakat Internasional, Indonesia juga dituntut untuk menyesuaikan aturanaturan Yang telah dibuat. Peran DPR dalam masalah tersebut, menurut Nursyahbani selain melakukan ratifikasi konvensi internasional juga melakukan pengawasan terhadap konvensi internasional yang diratifikasi itu. Peran DPR dalam masalah tersebut, * Menurut Nursyahbani selain melakukan ratifikasi konvensi Internasional juga melakukan Pengawasan terhadap konvensi Internasional Yang diratifikasi ITU. "Karena di DPR ada proses politik yang terdiri dari fraksi-fraksi, maka pengambilan keputusan untuk meratifikasi suatu konvensi internasional akan dilakukan melalui mekanisme proses politik itu," demikian Nursyahbani.(*) "KARENA ADA di DPR proses pengambilan Politik Yang terdiri bahasa Dari Fraksi-Fraksi, Maka pengambilan keputusan untuk meratifikasi suatu konvensi Internasional Akan dilakukan Canada produksi mekanisme proses pengambilan Politik ITU," demikian Nursyahbani. (*)
Editor: B Kunto Wibisono Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT 2012 HAK CIPTA 2012

Kejahatan kemanusiaan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Kejahatan terhadap umat manusia adalah istilah di dalam hukum internasional yang mengacu pada tindakan pembunuhan massal dengan penyiksaan terhadap tubuh dari orang-orang, sebagai suatu kejahatan penyerangan terhadap yang lain. Para sarjana Hubungan internasional telah secara luas menggambarkan "kejahatan terhadap umat manusia" sebagai tindakan yang sangat keji, pada suatu skala yang sangat besar, yang dilaksanakan untuk mengurangi ras manusia secara keseluruhan. Biasanya kejahatan terhadap kemanusian dilakukan atas dasar kepentingan politis, seperti yang terjadi di Jerman oleh pemerintahan Hitler serta yang terjadi di Rwanda dan Yugoslavia Diatur dalam Statuta Roma dan diadopsi dalam Undang-Undang no. 26 tahun 2000 tentang pengadilan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia. Menurut UU tersebut dan juga sebagaimana diatur dalam pasal 7 Statuta Roma, definisi kejahatan terhadap kemanusiaan ialah Perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terdapat penduduk sipil. Kejahatan terhadap kemanusiaan ialah salah satu dari empat Pelanggaran HAM berat yang berada dalam yurisdiksi International Criminal Court. Pelanggaran HAM berat lainnya ialah Genosida, Kejahatan perang, dan kejahatan Agresi.

[sunting] Pengadilan kriminal internasional


Pada tahun 2002 di kota Hague di Belanda dibentuklah suatu pengadilan kriminal internasional yang dalam bahasa Inggris disebut International Criminal Court (ICC) dan Statuta Roma memberikan kewenangan kepada ICC untuk mengadili kejahatan genosida, kejahatan terhadap perikemanusiaan dan kejahatan perang. Kejahatan-kejahatan terhadap perikemanusiaan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 7 Statuta Roma tersebut adalah serangan yang meluas atau sistematik yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil dengan tujuan :: (a) Pembunuhan; (b) Pemusnahan (c) Perbudakan; (d) Pengusiran atau pemindahan penduduk (e) Perampasan kemerdekaan / perampasan kebebasan fisik lain (f) Menganiaya; (g) Memperkosa, perbudakan seksual, memaksa seorang menjadi pelacur, menghamili secara paksa, melakukan sterilisasi secara paksa, ataupun bentuk kejahatan seksual lainnya ; (h) Penyiksaan terhadap kelompok berdasarkan alasan politik, ras, kebangsaan, etnis, kebudayaan, agama, jenis kelamin (gender) sebagaimana diatur dalam artikel 3 ICC ataupun adengan alasan-alasan lainnya yang secara umum diketahui sebagai suatu alasan yang dilarang oleh hukum internasional (i) Penghilangan seseorang secara paksa; (j) Kejahatan apartheid; (k) Perbuatan lainnya yang tak berperikemanusiaan yang dilakukan secara sengaja sehingga mengakibatkan penderitaan, luka parah baik tubuh maupun mental ataupun kesehatan fisiknya.