P. 1
TUGAS CERPEN

TUGAS CERPEN

|Views: 170|Likes:
Dipublikasikan oleh Januar Riski Saputra

More info:

Published by: Januar Riski Saputra on Feb 26, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2012

pdf

text

original

Peradilan Rakyat

Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?" Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." Pengacara muda itu tersenyum. "Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku." "Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri." Pengacara tua itu meringis. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. "Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan

menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini." Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog." "Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya." "Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. "Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku

sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. "Karena aku akan membelanya." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku." Pengacara tua termenung. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng. "Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." "Tapi kamu akan menang." "Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." Pengacara muda itu tertawa kecil. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian." "Asal Anda jujur saja." "Aku jujur." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan

matanya dan mulai menembak lagi. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak." Pengacara tua itu terkejut. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. "Berarti ya!" "Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya. "Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok." "Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?" "Betul." "Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang. Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional." Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia." Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional." "Tapi..." Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. "Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. "Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yelyel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan. berombongan maupun terpisah dan tersesat. menyelam seperti pemberat dan sekali tangannya bergerak. yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat. sedap jika dibakar. untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak. karena pada hari itu Barnabas beribadah. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang. Memang hanya langit. tiga hari. kadang tanpa kentara memojokkannya. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati. hanya bergerak. sehingga tidak mencukupi untuk berpikir.Mayat Yang Mengambang Di Danau Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. Dari dalam air. Makanya ia pun berenang seperti ikan. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan. karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan. tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat. Namun Barnabas juga tahu. pantaslah begitu mudah ditombak. karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri. mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan. tak penting benar berapa lama. memburu ikan. nyaris seperti berbisik. saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan. yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama. tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak. Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. sangat amat pelan. hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas. naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. karena Barnabas setiap harinya menyelam jua kecuali. seminggu. Jumlah yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari. dua hari. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. besarnya bisa sebesar betis. Ia telah memperhatikan. tentu kecuali. setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak. Ikan-ikan tak berotak. persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. justru karena otak ikan sangat amat kecil. Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan. sehingga memang tak sadar bahaya mengancam. Ikan merah artinya ikan gabus merah. tiada lain selain bergerak. pada hari Minggu. ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian. tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. pikirnya. karena memang tak pernah membelinya. . menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan. tanpa harus melirik ke permukaan. tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya. tak kalah sedap digoreng. Ya. Ikan gabus artinya ikan khahabei. mengapung seperti kayu. memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan.

begitu biasa. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama? Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang. Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. tetapi tanpa bantuan penumpang pun. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan. . Homo homini lupus .Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah. atau dari pulau ke daratan. Barnabas tiba-tiba teringat. batinnya. lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan. mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. membelimu. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja. pikir Barnabas. karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu. pikirnya pula. Kadang penumpang bantu mendayung. Dari pulau ke pulau. Klemen anaknya. Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan. pikirnya lagi. karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. membuang sisik dan isi perutmu. tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji. pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya. Aku sabar menunggumu ikan. Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. yang putus sekolah teologia. tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. aku ingin jadi pemburu ikan. Dulu tidak ada raungan Johnson. Ada orang ingin jadi pendeta. bagaikan tiada lagi yang lebih biasa. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau. dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya. sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan. jadi ke manakah mereka pergi hari ini? Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat. perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung.

Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara. apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta. Ini informasi A1. Aku masih di hongyeb. Klemen tampak sering tepekur. dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya. tapi kudu hati-hati. Ya. tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. beberapa hongibi. Di negeri danau. katanya. Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu. Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. *** Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan. atas restu pendeta. tempat setiap bukit berpuncak salib. bukit-bukit menghijau. tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa. Selama tinggal di rumah mereka. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. batin Barnabas. Jangan percaya omongan para petinggi munafik . Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini. untuk belajar menjadi pendeta. Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar. . benarkah sudah cukup kita hanya berdoa? Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru. menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji. bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Apalah artinya memuja langit. sampai Klemen pergi ke kota. bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi. senjatanya yang beda. kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. tapi membiarkan darah mengotori bumi . yang pada suatu hari tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi. dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikanikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun. seragamnya sama dengan sagangrod ini. menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. ikan-ikan tak tahu kapan akan mati. Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara.Saat itu Barnabas memang bertanya. meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya. Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup berdua saja. itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya. Setidaknya di dekat permukaan ini.

bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau. Barnabas menyelam makin dalam. tak hanya memakan telur-telur ikan gabus. menyelam. Manusia kadang masih seperti ikan. dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam. ikan gabus merah. sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau. seperti ikan gabus Toraja. Ikan makan ikan. Dari balik kacamata selamnya yang . mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan.Maka Barnabas menyelam. Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu. apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka . ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen bukan. dan sekarang hanya enam belas jenis. ikan gete-gete besar dan kecil. di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas. Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri. dan menyelam semakin dalam. yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi. Tak urung. ikan gastor. ikan nila. Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing. apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen. ikan tambakan. mungkin karena makin jauh bersembunyi. keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur. itu pun tinggal sembilan jenis yang asli. yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. ikan nilem. ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. pikirnya. Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian. termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur. melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. dan ikan-ikan kecil lain. dan ikan mas. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya. ke tempat ikan besar biasanya menyendiri. mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya. anak-anak ikan gabus. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat. tetapi juga udang dan jengkerik . Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan. hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah jelas membuatnya berbeda. Sudah beberapa hari Klemen menghilang. ikan sepat siam. tetapi ikan kehilo semakin susah dicari. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah. mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. Barnabas tahu benar. dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu.

belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Yang nggak sopan itu situ. yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya. sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya. Menyadari keketatan roknya. kurang ajar kau. Klemeeeeeeeennnn! Salah Nurunin Resleting Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau. tumini berusaha naik lewat pintu belakang. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Pemeras Kecil Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Bus kota datang. tapi jangan keras-keras. roknya semi-mini. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue. Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat. matanya terpaku kepada sosok itu. Hei. Abang semalam mencium kakakku bukan? Ya. ia menemui lelaki itu. ini uang kembaliannya lima ratus! Lho.buram. meskipun tidak terlalu jelas. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang! Si pemuda menjawab kalem. Bang. ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau. Esok harinya. sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau. masih juga belum bisa naik. kok pakai uang kembalian segala? Saya tidak mau nakal. Mbak. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat. ough. tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus! ???!!! . Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Ini seribu untuk tutup mulut! Terima kasih. Untuk usaha yang ketiga kalinya. sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah. tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus. dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih. Tapi. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau. tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus.

... otak-red). makanya kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya. otak-red) tapi pake ini donk (sambil nunjuk dii antara pahanya).kamu ini gimana.. Anaknya dengan heran bertanya : Ayah." makanya Bu. Suatu hari.. akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki berkata. mengapa Ayah berbohong atas penyebab kematian Ayah? Ayahnya menjawab : Sssst.kamu saya pecat.si Nyonya ketemu dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak perhiasan emas. Dengan santai si anak menasihati orang tuanya itu. Pasangan suami istri itu berusaha menjelaskan kepada anak mereka yang setengah remaja itu.. Si-nyonya memanggil. AIDS telah merongrong tubuh Saya." Minah... 5 tahun kemudian..!" . ia memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan. "Kalau mau main dokter-dokteran jangan di ruang tamu. di suatu Supermarket.dasar org goblok.... bahwa mereka sedang bergurau dan bermain dokterdokteran. nanti kalau ada orang ngeliat kan disangka sedang melakukan hubungan suami-istri. hiduplah seorang nyonya yang cukup (sedikit mampu) dengan pembantunya yang selalu buat masalah.. pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian kalinya. Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : Maaf teman-teman..... Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan Kalian."akhirnya pembantunya pergi."?#$#@" Kalau Main Dokter-Dokteran Jangan di Ruang Tamu Sepasang suami istri tertangkap basah oleh anak mereka ketika sedang melakukan hubungan badan di ruang tamu.. kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya.menjadi kaya. kok kamu sekarang berubah... aku tak mau salah seorang dari mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak ! Kalo Kerja Pake Ini Kerja pake ini Di suatu pinggiran kota.." Minah...Sakit kanker ato Aids?? Seorang penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi hanya sekitar 2 minggu lagi. Mendengar khabar tak mengenakkan hati..kok bisa???? Si-pembantunya menjawab.

tinggal ucab alahamdulilah langsung tancap. Orang Arab. dia bertemu dengan temannya. orang betawi yang hidup disana. Hasan mengeluarkan minyak wangi yang masih baru dan penuh. "loh kenapa anda tidak yakin ?. Lalu bejo tak mau kalah.Kecepetan Cerpen Lucu . Lalu mereka melihat anak yang menangis lebih keras. Pada saat setelah makan siang. Lalu bejo melirik ke Hasan."hahahahaha" tawa anak itu." Jawab Bejo alhamdulilah namanya Cerpen Lucu . lalu dibuang.. Si anak malah tertawa....alkisah pada tahun 2000. kudanya bagus bangeeet. saya tidak yakin saya akan mampir ke neraka" ucapnya angkuh. masih banyak minyak! malah bagi orang2 sana. kalau di suruh berjalan ." tanya sang ustad bingung.. kuda itu sangat penurut. mereka melihat anak kecil menangis.. Kali ini dia tidak menangis. digunakan untuk membersihkan mulut. " Tenang aja! Indonesia kaya banget kok! Masih banyak. jack mengeluarkan uang 100 US dollar."Dik."Lagi!" lalu mereka membuang sniper. Kali ini Hasan dan Jack yang jantungnya nyaris copot. " askum. masih banyak dollar. kenapa menangis?" tanya tentara lain. " karena saat saya melewati jembatan shirathall musthakim karena neraka letaknya dibawah surga pada saat malaikat melempar saya dan sangat benci dengan tingkah laku saya. Mereka bertiga naik pesawat bersama-sama. . Hasan menjawab." Amerika kan kaya. kenapa tertawa? apa yang lucu?" tanya komandan. pada saat di taman bunga di daerah tretes. ama Amerika Cerpen Lucu .. gmn kabarnya. kenapa menangis?" tanya seorang tentara. Bejo kaget lagi. Bejo kaget bukan main."Lagi!" lalu mereka membuang rudal. dan orang amerika(Jack)."Dik. di kota malang ada seseorang yang memelihara kuda mulai kecil. "Aku kejatuhan pistol." Lho!!?? Kenapa kamu buang tuh minyak? kan isinya masih banyak?" tanya bejo. "Kenapa kamu buang duit 100 dollarmu itu?" tanya bejo."Dik. saya ini preman.Ada seorang preman yg sangat sekali jahat suka mencuri. "Tadi aku bersin dan rumah itu meledak" kata anak tersebut. meminum-minuman keras.Sebuah Pesawat TNI terbang tidak seimbang karena kebanyakan muatan. Nama kuda itu adalah alhamdulilah.". Dia lempar orang keturunan Betawi disampingnya ke luar pesawat. suatu hari dia bertemu seorang ustad dan berkata"pak ustad.Ada orang jawa(bejo)." Arab kan kaya."Aku kejatuhan sniper" kata anak tersebut. Akhirnya pesawat dapat dikendalikan kembali. mereka terlalu kencang melempar dan akhirnya nerakanya kelewatan dan saya malah masuk Pesawat TNI sialan! Cerpen Lucu . "Buang beberapa barang" perintah komandan. menyemprotkanya ke dada sedikit. Jack menjawab.. orang arab(Hasan).langsung berhenti.." Lho!!?? kenapa kamu buang orang betawi tadi?? Kan kasihan?" tanya Hasan. air lebih berharga dari minyak!" jawab Hasan. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dan melihat anak lagi. mungkin karna di rawat sejak kecil dan latihan yang rutin. Jawa. kalo mau berhenti tinggal ucap astaufirloh.. lalu dilempar ke luar pesawat."kata anak tersebut. apa bila di panggil langsung datang."? "baik. memperkosa. Saat mereka naik mobil. mereka membuang pistol. saya tahu dosa saya banyak namun. ia nie kuda penurut.

di depan terlihatlah jurang yang sangat dalam . kuda tiba-tiba berjalan dan..Suatu ketika di pemberhentian sebuah Bis. ngelarang orang ngerokok lagi)gumamnya.? Andi: Tidak tau bu guru ... Namun Ibu muda ini merasa agak kesal setelah naik Bis tsb. karena Bis telah penuh..? Andi: Ndak tau juga bu guru. "PLAK... tapi Anak dalam perut nie kasihan!!" Dengan muka masam Pemuda tsb kembali memenuhi permintaan Si ibu muda ini sambil menggerutu dalam hati (uuuuggh sudah dikasih tempat duduk.! coba kamu jawab... naiklah seorang Ibu muda yang tengah hamil kurang lebih 5 bulan.tinggal ucab hamdalah dia akan berangkat. tapi Anak dalam perut nie kasihan!!" katanya dengan agak manja dan sedikit memelas.. tapi Anak dalam celana nie kasihan!!" CERPEN Bu guru: Andi. Bu guru: Kalo James Watt. gkgkgkgk Saking tersentaknya si ibu muda tersebut sampai2 Daster yang ia pakai tersingkap hingga bagian pangkal pahanya.. alhasil perbuatannya menuai protes dari si ibu muda "Boleh ga Rokoknya dimatikan? kalo cuma saya sih ga apa2.dan . " ASTAUFIRLOH. semua kata-kata keluar dari mulutnya. tak lama kemudian Pemuda ini sambil berdiri dekat Si ibu muda menyalakan rokoknya. " Boleh ga saya minta tempat duduknya Mas? kalo cuma saya sih ga apa2.kuda belum berhenti. "Ehhhmmm" gumam si Pemuda tsb sambil berdiri memberikan tempat duduknya kepada si Ibu muda. ALHAMDULLLIILAHH.. orang itu sangat senang. dia mengucapkan puji syukur kepada Allah." kuda itu masih tak mau behenti... pembaca pasti tau apa kelanjutanya? AYO APA??? 'Anak' dalam Celana Cerpen Lucu ." kua itu berjalan dengan cepat . "ALLAH'. karna sangat gugub orang itu lupa kata-kata untuk memberhentikannya... si pemuda meliat hal itu sebagai ajang balas dendam dengan berkata Mbak.. karna ucapanya itu." sang teman mulai mengucabkan hamdalah untuk menjalankannya. dia memukul kuda supaya berjalan lebih cepat . kemudian ia berkata kepada pemuda tsb.sampai-sampai orang itu tidak bisa mengendalikanya. Dia sudah putus asa . siapa itu Thomas Alfa Edison." kuda itu masih belum bisa berhenti. boleh gak tuh paha ditutupin!kalo cuma saya sih ga apa2. siapa dia.. dan kalau mau berhenti tingal ucab istifar". dia mengucapkan istifar untuk yang terakhir kalinya.. sampai sampai dia memukul dan mengucapkan alhamdullah dengan keras. " aku boleh nyobak gak" " ohh..... "Alhamdulilah ya Allah kau masih menolongku"." Tiba-tiba kuda itu berhenti pas di depan jurang itu.. " INALILAH. monggo.tapi belum brhasil juga.... namun tiba2 ia punya ide >gmna klo dia minta kursi sama seorang Pemuda tanggung yg ada di dekatnya.. "alhamdulilah berangkatlah kuda" dia merasa bosan karna kudanya jalannya terlalu pelan. "ROSULALLAH.. Tiba-tiba bis berhenti mendadak berhenti membuat seluruh penumpang tersentak & kaget termasuk Pemuda dan ibu muda yg sedang dalam cerita ini. Bu guru: Andi! Bagaimana sih kamu ini? ditanya ini itu pasti jawab tidak tau Tidak pernah .

Kalo cowok ganteng pendiam cewek-cewek bilang: woow..belajar ya? Andi: Belajar kok bu guru Lah coba Andi tanya. kalo cowok ganteng berbuat jahat cewek-cewek bilang: nobody's perfect kalo cowok jelek berbuat jahat cewek-cewek bilang: pantes.... kita khan pasti punya kenalan sendiri-sendiri...? Andi: Yaa itulah Bu ... kalo cowok ganteng jomblo cewek-cewek bilang: pasti dia perfeksionis kalo cowok jelek jomblo cewek-cewek bilang: sudah jelas.kayak di filem-filem kalo cowok jelek nolongin cewek yang diganggu preman cewek-cewek bilang: pasti premannya temennya dia. Beda Cowok Ganteng Ama Cowok Jelek....? Bu guru: Tidak tau Andi: Kalau Bambang Setiono Ibu tau? Bu guru: Tidak tau Emang siapa mereka itu.kagak laku. kalo cowok jelek pendiam cewek-cewek bilang: ih kuper... cool banget.. kalo cowok jelek dapet cewek cantik cewek-cewek bilang: pasti main dukun. bu guru tau ndak siapa Arifin Widodo..serasi banget.tampangnya kriminal kalo cowok ganteng nolongin cewek yang diganggu preman cewek-cewek bilang: wuih jantan.. kalo cowok ganteng dapet cewek cantik cewek-cewek bilang: klop. ........

kalo cowok ganteng males difoto cewek-cewek bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar kalo cowok jelek males difoto cewek-cewek bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?.. kalo cowok jelek naek motor gede cewek-cewek bilang: awas!! mandragade .penuh cinta kasih kalo cowok jelek penyayang binatang cewek-cewek bilang: sesama keluarga emang harus menyayangi..... kalo cowok ganteng penyayang binatang cewek-cewek bilang: perasaannya halus...bikin lemas. kalo cowok jelek ngaku indo cewek-cewek bilang: pasti ibunya Jawa bapaknya robot..(terdiam.keren luar dalem kalo cowok jelek bawa BMW cewek-cewek bilang: mas majikannya mana?......kalo cowok ganteng diputusin cewek cewek-cewek bilang: jangan sedih.. kalo cowok ganteng naek motor gede cewek-cewek bilang: wah kayak lorenzo lamos .. liat dulu dong bentuknya). kalo cowok ganteng bawa BMW cewek-cewek bilang: matching... kalo cowok jelek diputusin cewek cewek-cewek bilang:.. kalo cowok ganteng ngaku indo cewek-cewek bilang: emang mirip-mirip bule sih...... khan masih ada aku. tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah..

Setiap malam aku memikirkan ini. seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal. lalu berkata "life is beautifull" kalo cowok jelek baca ini.lewat. Semakin aku mengenalnya. trus triak sekeras-kerasnya.laki-laki bukan sih? Kalo cowok ganteng baca e-mail ini langsung ngaca sambil senyum-senyum kecil. aku sangat mengagumimu.. Aku. Frustasi.. Aku tak bisa melupakannya.. ternyata semua prediksiku salah. kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek cewek-cewek bilang: ini baru cowok gentlemen kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek cewek-cewek bilang: naluri pembantu. tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. aku tak mungkin bersama dia. Terlebih akhir-akhir ini.. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA. Yah. Sosok yang begitu sederhana. alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. emang gitu. Yah. Apa kata dunia bila aku pacaran. seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. Sampai hari ini tiba. Sungguh. CERPEN Ternyata aku memang mencintainya. ngambil tali jemuran. dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya.. sedetik pun. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir. Michelle. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis- . dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya. tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. kalo cowok ganteng bersedih hati cewek-cewek bilang: let me be your shoulder to cry on kalo cowok jelek bersedih hati cewek-cewek bilang: cengeng amat!!. Keyakinanku goyah.. di warung milik ayahnya.

Dia pintar. istilahnya. Saat dia datang lagi dengan pesananku. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Warungnya memang masih sepi. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. aku tahu jawabannya. dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Aku terpesona pada dirinya. disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. tapi aku tak pernah bisa memilih. bukan mencintai. Aku tetap berdiri disana. Dia berlalu. hingga cerita soal keluarganya. berkenalan dengan ayahnya. disiplin. Ternyata ayah Michelle open mind person. sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Ada banyak pilihan buatku. menerima pembayaran dari pembeli. Tapi toh akhirnya aku masuk juga. menawarkan menu andalan warungnya. Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. keramahannya. Dia sibuk melayani pembeli. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. pintar. Membicarakan obrolanobrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar. karena mungkin memang masih terlalu pagi. mengantar pesanan.gadis lainnya. Aku sedang jatuh cinta! *** Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Aku mengikuti sarannya. hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. es kelapa muda dan soto Babat tapi tanpa nasi. Tanpa sadar. karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari. Yap. hampir dua jam aku disana memandangnya. Aku hanya mengagumi saja. aku memutuskan untuk makan di warung itu. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. kenyataannya. dari keluarga yang disegani. berkarir. aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Kesahajaannya. aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. sampai pada hari ke delapan pengintaianku. berwawasan. Dari obrolan biasa. semangatnya. aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta. dia juga berniat serius denganku. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya. Akrab sekali. melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh Baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. loyal. Hingga berbulanbulan aku selalu sarapan di warung itu. rasa percaya dirinya. gadis selevel. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. setelah . Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja. dan yang paling penting. Tapi pagi ini. juga senyumnya. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. Akhirnya aku temukan. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka. Pandanganku terus mengikutinya. hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. aku mengakui sekarang. Dia biasa saja. Aku tak pernah canggung dibuatnya. sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Dia datang.

termasuk masalah komputer. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. dan berjalan mendekat. Lalu datang ayah Michelle. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama Perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. penuh darah. Dan itu menjadi satu bukti padaku. Banyak yang dia tahu. termasuk Michelle. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja. Melihat Michelle yang masih terus menangis. Aku heran melihatnya. hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Aku tak berniat membohongi mereka. hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. termasuk menyekolahkan kedua adiknya. tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. aku ingin sekali membuatnya bahagia. Dan sekarang. hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang. Lalu aku melihat wajah itu. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai. Yah. tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Huff!! Aku menarik nafas lega. agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. Aku keluar. lahir dan batin. Karena aku yakin sanggup menafkahinya. bahwa mereka. hanya agak terkejut sedikit mungkin. Aku heran. gadis yang ingin kunikahi itu. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku. tak perduli status sosial mereka. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang. menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Rasa ingin tahunya sangat tinggi. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. aku akan mengubahnya. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. tapi aku masih bisa mengenalinya. Tapi seakan dia tak melihatku. bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. Segera saja kudekati Michelle.semalaman aku berpikir keras. melihat keadaan dan menenangkan Michelle. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya. berlari mendekati mobilku. Yah. Dia adalah aku . Nenek itu baik-baik saja. Aku tak mengerti. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. juga ayahnya. aku sudah mantap pada pilihanku.

Barang apa yang kau bicarakan itu. Apanya yang kurang beberapa hari lagi? Uncok membentak. Tiba-tiba sepi. menunduk. Belum bisa beli plastik tebal penahan tiris. Matanya terasa basah. Pindah-pindahin bantal-bantal. Betapa bahagianya anak yang diberi hadiah itu. alangkah lebih bahagia ia jika bisa memberikan sesuatu yang dinilainya luar biasa. Edan kau itu! Sum diam. Kiamatnya apa gimana? Kita memang mau kiamat. Hakim. Pak. tempat tiris deras . Itu rezeki kita: air. Kita bisa naik bus Trans Yogya Pak. Kamu kok semakin edan. Biarkan tiris membasahi rumah. Kilat sesekali menggebyar. betapa pun belum pernah menikmatinya. kok mahal amat? bertanya suaminya. Lakinya tetap tak paham. Kita harus hati-hati bawa tart sangat istimewa itu. buat kita. Rumah kita masih bocor. Tapi. kata Uncok lagi sambil mendongak. Tak mendengarkan omelan suaminya. Sum sendiri belum pernah mendapat hadiah seperti itu. Tuhan. lakinya membentak. Jangan biarkan di situ. harganya triliunan rupiah. Beli roti bagaimana? Uncok gantian membentak. Uncok. Itu makanan menteri. perkenankan saya membeli tart untuk ulang tahun si anak miskin itu. Ah. Pulangnya naik becak aja. Tapi. Sum tenang saja. Saking kepinginnya beli tart.Tart di Bulan Hujan Ternyata harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu. kata Sum kepada lakinya. Pak. bisik Sum. pengacara. Naaah. Pak. si bocah itu pasti seneng banget. Ngerampok? Kau punya pistol atau bedil? Enggak! Kau cuma punya pisau dapur dan silet untuk mengerok bulu ketiakmu . Kau ini edan. Lho. Kurang beberapa hari lagi. seakan ia hendak menangis. dan wali kota serta para koruptor. Sum mencoba menjelaskan. mau hujan. Ngerokok lagi. Uncok tak tahan. Nyediain nasi aja susah. kata Sum memecah kesunyian. Uncok memberi komando. Tahu?! Kita makan nasi aja sama sambal . Kamu itu mimpi . roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. aman. Sum tak menyahut. bupati. Di langit ada mendung yang memberi sasmita akan hujan. menteri. sekarang naik dua puluh lima ribu. apalagi mencicipi. sahut Sum. polisi. musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga. Kemudian hujan pun rintik-rintik. tiba-tiba Sum sedikit membentak. Pikirannya masih melanglang ke toko roti. Kok kamu mikirin roti tart yang. saya bilang. dengan tulisan Happy Birthday. . Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. alangkah bahagia diriku. kata Sum. Kalau dia bisa seneng. kata lakinya. Malam merambat larut. Kedua tangannya dilekatkan pada dada dan membentuk sembah. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek. cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Dan kau malah mau beli tart lima triliun. Duitnya sapa? Nyolong? Tak ada yang bisa kita colong. ya. Bayangan di depan matanya sangat jelas: tart dengan bunga-bunga mawar. Pak. kok beli roti mewah kayak gitu. Enggak ada copet. Roti itu besar. Lakinya menegaskan. jaksa. Tidak diketahui dengan pasti apakah malam itu jadi hujan atau tidak. anggota DPR nyolong semua. kan.

Dan tepat satu hari kemudian. deket toko onderdil motor itu. jawab Sum. Buat si bocah. menginap lima hari di Yogyakarta karena urusan disertasi. anak yatim piatu di panti asuhan yang kamu pungut? Bu Somyang mendesak. tapi kalau dianggap anak saya. Lilinnya menyala. rumahnya di Surabaya. Kebanyakan tamu yang datang sedikitnya naik motor. perkenankan ia senang menerima persembahan roti dari saya. malanglah dia orang yang tak tahu kalau ia tak tahu. Ah. Ia berkata. Sering macet. Dua tahun lalu. Itu pun tiap gelas cendolnya lima belas atau enam belas biji saja. yang sedang menyapu lantai. tetapi cuma cukup buat beli soto Pak Gareng tiga ribuan. Cepat-cepat ia berganti pakaian. Ia pun membeli tart ulang tahun dengan tulisan Happy Birthday dengan lima lilin menyala. Jalan makin padat. hina dan sakit orang yang tak paham kalau ia tak paham. melihat roti itu. gumam Sum. Sum menunduk.*** Gagasan beli tart dengan bunga-bunga mawar itu sudah lama muncul di benak Sum. Artinya bensin boros. tanya Sum lagi. aku ingin ingatkan kalau untuk anak-anak gelandangan. Tuhan. Ketika kembali ke home stay. indahnya. Sum mengangguk. ia teringat ulang tahun anaknya. Beberapa tahun silam pernah seorang penyair diminta berkhotbah di gereja. Bu? tanya Sum. jawab Sum. Sum. Tergetar. Perjalanan makin panjang. Kadang harus cari jalan lain. Cukup beberapa potong roti santen apa roti bocongan atau roti teles yang seribuan ditambah minuman dawet. Apa pun komentar orang aku tidak peduli. Padahal. yang sopir bus. Kalau anak-anak dibiasakan makan-minum yang mewah-mewah. Heran! Bagaimanakah pikiran orang-orang itu. Bukan. ya enggak usah tart kayak gini. Selama bertahun-tahun aku menyaksikan perayaan ulang tahun si kecil. Aku harus membeli tart itu. memanggil taksi dan meluncur ke toko roti Oberlin. seperti menyala dalam hatinya. Sum aku tak paham. Aku hanya ingin si bocah bahagia pada hari ulang tahunnya. kalau mau. Bisa tuman. Kamu mau beli? tanyanya. padahal bahan bakar mesti dibeli sendiri. Ia masih harus memikirkan seragam anaknya. Bu. enggak begitu mikirnya. Kata-kata itu mendengung kembali di telinganya ketika ia menatap mulut Bu Somyang yang mengerikan. jawabnya. Di mana tokonya. gumamnya lagi. saat ulang tahunnya di bulan hujan nanti. kurang baik. apa pun yang terjadi. Berapa harganya. Oh. Tuhan. Motor jutaan memenuhi jalanan. ia memang sering mendapat tip. Tapi aku harus beli tart itu. jawab Bu Somyang. gumamnya. enggak. Suaminya. . Di ulang tahunnya di bulan hujan. Tapi gini: semoga ia senang. Sum diam. belum pernah ada yang membawa tart. Tiga ratus lima puluh ribu. Waktu itu Bu Somyang Kapoyos. ya enggak papa. buat si bocah. Kalau ada tamu. tak selalu bisa bawa uang cukup. mereka bisa beli. Ia membawa putranya. Astaga! Gaji Sum kerja di home stay hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan. Oooo. Buuukan anak saya. Aku harus beli tart itu. ketagihan. Tapi. Jantungnya terasa tertusuk oleh kata-kata yang diucapkan karena ketidaktahuan. saya butuh sekali bahagia dengan melihat si bocah bahagia. gumamnya. malah ada yang naik mobil. O. Anakmu ulang tahun? desak Bu Somyang. Ia bakal senang. Astaga.

semua bakal beres. tiga ratus enam puluh ribu. Sum lemas. alangkah kecewa ketika ia menengok di toko roti Oberlin. tetapi keleknya terasa basah sekali. Sum memutuskan menabung. Ia menjadi pucat. Pelayan toko tak paham. Sum menegaskan. kan. Pak Jentera baik banget sama orang duafa. Uang para nasabah dibawa lari oleh petugas bank sendiri dan bank tidak bertanggung jawab. Perempuan itu melangkah ke luar. Kalau aku sudah berhasil membeli tart untuk si bocah. mati dengan bahagia sekali karena sudah bisa mempersembahkan roti tart di bulan hujan. Pokoknya. begitu? Sum menggeleng. Pelan sekali. tart yang dibayangkan sudah naik harganya. enaknya gimana. Di lingkungannya. Tapi. bulan hujan tahun ini aku harus beli tart untuk si kecil. setahun. Ia pun menghitung hari. jawab Sum. Ia merencanakan menyisihkan uangnya lima belas ribu setiap bulan. Ibu mau beli roti? desak pelayan toko. Sum menunduk. Ia sedikit lemas. Di gereja banyak . gumamnya sambil menghitung uang receh. Oooo. Aku ingin sekali merasakan bahagia ketika bocah itu bahagia. Kalau yang aku lakukan dianggap keliru oleh sidang malaikat dan aku harus masuk neraka ya enggak papa. Di minggu hujan. ia harus membeli nasi buat anaknya. Apalagi lalu lintas hiruk-pikuk. kegiatan menabungnya hampir genap dua tahun. *** Esoknya sudah mulai memasuki bulan hujan. Beda banget dengan Wak Zettep yang pelit banget dan tukang mempermainkan orang. Dan pandangannya berkunang-kunang. Tapi kalau aku berhasil nyuci pakaian di kos-kosan Pak Nur Jentera. kata Sum. dengan cara halus. jawab Sum sangat pelan hampir tak terdengar. di bawah pakaian. sakit? tanya pelayan toko. ia langsung mengambil uang tabungannya yang disembunyikan di dalam lemari. Ya. gitu . Tapi tidak sekarang. Ia berkeringat dingin. Ada apa Bu. Dua tahun. Haaah? Pelayan toko kaget sambil memandangi penampilan Sum. Ketua Lingkungan menyarankan agar Sum menabung di bank. Saya sudah menabung. Bagaimanapun masih ada kekuatan. pelayan mendesak. Di malam hujan. Tart itu untuk si bocah. Kurang empat puluh lima ribu. dan mulai curiga. Aku tetap bahagia di neraka. gumamnya. Tiba di rumah. Akhirnya. Horeeeee! Dua tahun lagi. kamu disuruh majikanmu lihat-lihat harganya. Mau beli. Kalau ia sukses lebih menekan kebutuhan. Ia tak sabar lagi. Iyaa. Hatinya bersorak-sorai . Sum menggeleng. gumamnya. Slamet bilang. Ya. Saya mau beli sendiri. Karena itu. Dan pada bulan hujan tahun ini. Ketika dikonsultasikan. Masih ada waktu.Dua minggu setelah menyaksikan tart yang menggetarkan. ya? Pak Karta tidak menjawab. ia menggiring Sum ke luar toko. Punggung terasa sedikit basah. Sum memutuskan menabung di rumah sendiri. Pak Karta Wedang memberi tahu bahwa bank kadang-kadang tak bisa dipercaya. Ia ingat. aku lega banget. aku bisa beli tart buat si kecil. si Domble. warga sudah sering kumpul-kumpul menyiapkan pesta ulang tahun. Tapi. kan. Oooo. Aku rela mati. Aku akan buruh nyuci di kos-kosannya Pak Nur Jentera. Yang mana? Sum menuding tart mahal itu. biarkan saya percaya bisa membeli tart untuk si bocah. Dan masih sisa sepuluh ribu. Tuhan. seratus delapan puluh ribu. Lalu.

jerit gembira hati Sum. O. Ah. Sum berangkat ke toko roti. di tangannya sudah ada uang cukup. Wuuuah. luar biasa ibu ini. Ooooooooo. aku ngiur dua ratus ribu. menderas. Nih. Tapi baiklah. bukan dia anak baik-baik. sebelum saat pembelian tart tiba. kemudian. lelaki itu terpesona dengan cara kerjanya yang cekatan. Pastor paroki akan tanya. apakah Bu Jentera ini malaikat utusanmu. engkau begitu dermawan. Karena itu. ramerame. cuma mau beli tart. Ya Tuhan. Sum. Ya Tuhan. apalagi meletakkan tart itu di depan patung Kanak-Kanak Yesus di dalam Goa? Pak Koster pasti takut gerejanya kotor. kalau ia diajak. jawab Sum. Bu. Ah. Mbak Sum mesti beli roti lain untuk tambahan. Maka. Bukan anak saya Bu. Sum hampir tak memercayai telinganya. Bahkan lebih. Hati Uncok trenyuh. tak ragu-ragu ia memberi Sum upah tambahan. Tepat pada saat itu. anak pungut? Di panti asuhan dekat rumah Wak Zettep yang terkenal pelit itu? Bu Jentera bertanya lagi. kata Bu Jentera sambil senyum sangat manis. Hujan pun turun. pandangan matanya menggetarkan. Di samping itu. Tanpa menggubris. Dengan gemetar Sum menerima uang itu. teologinya apa . kata-kata Bu Somyang di ulang di sini. kata Pak Jentera. Kamu mau pesta apa pada natalan nanti. Lho. Tapi Sum tetap tenang. aku tak paham. Uncok. kata Sum dalam hati. yang baik sekalian. Sepi. Apalagi ia membawa uang berlebih untuk beli seragam si Domble. menemui suaminya.pengumuman tentang kegiatan menyongsong pesta itu. Tart? Tart? Siapa yang ulang tahun? Anakmu? Bu Jentera kaget dan bertanya setengah mencecar. Sebelumnya mampir ke rumah dulu. Pak Nur Jentera tiba di rumah dari sepeda-an bersama persekutuannya. Hatinya bersorak-sorai. gumam Sum. . perayaan Natal dengan tart di depan Kanak-Kanak Yesus itu menurut ayat Kitab Suci yang mana. Enggak. ada tambahan tiga ratus. Ia langsung duduk dan mendengarkan cerita istrinya tentang rencana Sum. sambungnya. enggak pesta kok. bagus. jawab Sum. Alasan ibu-ibu kaya. sangat baik cantik sekali. Ia pun lari ke Bapak Ketua Lingkungan menceritakan rencananya. yang kebetulan tak nyopir. Juga uang buat rokok. Nih. Kan anak-anak pasti akan datang. Apa boleh Bu Sum membawa tart masuk gereja. Mana ada waktu buat gini-gini. katanya dengan tenang. kata Bu Jentera. ya. jawab Sum. Ia berdiri lalu tangan kanannya merogoh dompet di saku belakang. kata Bu Jentera lagi. Sum tak pernah diajak. ya enggak papa. Uncok terdiam mendengar cerita Sum tentang Bapak Lingkungan. kan. Sum selalu merasa dirinya orang duafa yang tempatnya di pinggiran. sibuk bantu rumah tangga sana-sini. Bu Jentera juga luar biasa perhatiannya. tapi kalau dibilang anak saya. Sum selalu merasa tak pantas duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan mereka. Sementara itu. Dengan senang Pak Jentera menerima Sum. Laki itu merasa harus berbela rasa dengan istrinya. Lama. Sekali ia memanggilnya ke rumah. bagus. kata Sum dalam hati. kalau mau beli tart. bahkan boleh dikatakan setiap hari. Tampaknya. mendekap istrinya.

Tak perlu di gereja. pemilik toko roti itu. Patung kecilkecil itu rupanya dipinjam dari asrama para suster. Alangkah kagetnya dia melihat goa dengan Kanak-Kanak Yesus di dalamnya sudah disiapkan lakinya di tengah rumah. Pukul setengah empat sore Sum tiba di rumah. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Berangkatlah. persis di depan Kanak-Kanak Yesus terbaring. Kue-kue lainnya pun disiapkan. kata suaminya. Hidupku isinya cuma kesedihan. seperti bersinar Sum berjongkok dan memeluk mereka satu demi satu. singgah untuk minum. kata Uncok. Seperti bersinar. Air matanya menetes karena haru. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam. Si Domble pun ikut menari-nari sambil sesekali nyuri mencolek tart yang dibalut gula-mentega-cokelat yang lezat luar biasa. Suaminya berubah tiba-tiba. hidup ini memang sekadar mampir ngombe. panjang umurnya. ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. selesai Misa Natal. tapi mengapa nasib tak berpihak juga? Namaku Limbuk. anak-anak kita undang ke rumah ini merayakan ulang tahunnya. Tuhaaan. tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu. Tapi. Sum memeluk suaminya. Lalu anak-anak akan menyantap tart. asal Dukuh Menjangan. Mereka memperkenankan aku memakai ini semua. tapi ada senyum dan tawa meriah. Kegembiraan meluap. Tidak masuk akal. Sum tak bisa berkata apa-apa. Keharuan mendesak paru-paru dan tenggorokannya. Menjelang pukul sembilan malam. Diam-diam Sum menatap pandangan mata anak-anak yang datang. Nanti malam. Seluruh rumah basah. Biarlah rumah kita kotor. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya. pulang dulu. kecuali di atas tart. Mulutnya terkunci. Sum tersedu karena haru dan bahagia . . Ketika Sum akhirnya mengeluarkan uang lebih dari harga tart. Mereka tak percaya Sum punya uang untuk beli tart hampir empat ratus ribu. hebatnya dikau. pelayan-pelayannya memandang dengan sebelah mata. Di toko roti. Anak-anak berebut membersihkan rumah yang basah dan kotor luar biasa. Patung Kanak-Kanak Yesus menatap mereka dengan senyum. kata lakinya. Mereka akan menyanyi panjang umurnya. Pulangnya mampir ke rumah dulu sebelum ke gereja. panjang umurnya serta mulia . Sum tak bisa berkata-kata apa-apa. baru mereka percaya. Mereka menari-nari di depan patung Kanak-Kanak Yesus dan tart. Di Persimpangan Pantura Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang. Persis hujan turun dengan sangat deras dan rumah sepasang merpati itu tiris di sana-sini. kata Tanpoting.Selepas dari toko. Sum dan Uncok tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan. kata suaminya. lambah-lambah. Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Taruhlah tart di sini. anak-anak langsung menyerbu rumah Sum dan Uncok selepas dari misa di gereja.

Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Aku Ningce. Patokbeusi ini kota. jelasnya tak sabar. Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada. tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. masak. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Untuk diriku. Gantung diri jelas tak menarik minat. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi.Untung kamu masih bau kencur Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu. Meski rumahrumah di sana lebih bagus daripada di desa. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku. ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. Aku tahu. Toh . Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. ia telah menghilang. tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Menyiapkan air mandi. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap. Aku tak mau lagi pergi bermain. Kata orang. Tidur bagai kepompong. Kenapa belum terlihat pantainya? Yu Silam mendengus. Ketika tawaran Yu Silam datang. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak. cukuplah uang jajan ala kadarnya. apa nama kota memang aneh-aneh begitu? Ini daerah pantura. tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran. negeri seribu impian sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku. tak ada lagi aib yang ditutupi. bodoh! Ini Patokbeusi. Yu Silam? Ssssttt jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!! bentaknya. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku. Mata mereka isyaratkan birahi. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Ini bukan Jakarta. aku seperti kejatuhan bintang. Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol. pantai utara Jawa. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. Tentu ia paham penderitaanku. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang. bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama? Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. Esok hari pagi-pagi buta. Nama yang aneh. Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung.

Mbuk? Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah? Aku cuma termangu dan membisu. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu. tokoh punakawan. Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. nanti piringnya pecah. Jangan mau digoda tamu. Truk besar banyak diparkir di luar. Senyumku terhenti di tenggorokan. Gurau Yu Silam. Dua tahun berlalu. Aku tersenyum malu. tapi hatiku serasa disilet-silet. Tak tahu pasti aku. bilang Mami kalau ada apa-apa Duh Gusti. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Untung saja Mami di situ masih punya nurani. Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. Aku masih diam saja. ketahuan bekerja tak sepenuh hati. Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku. bapak berharap aku semontok Limbuk. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Mami menepuk bahuku perlahan. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu. Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah. Ia mulai sering masuk angin. Ternyata tak ada yang berubah. Aku terkekeh. Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki. Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. kalau kau rajin suntik tidak akan apaapa. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya. Musik dangdut berdentum keras. Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang. Jangan takut. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. . Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho. Seandainya ia tahu kisah sedihku. Mungkin waktu aku lahir. Pedih dan perih. Enaknya luar biasa. dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. tapi sudah jadi gengsi. mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup? Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ. Tak tahu harus bicara apa. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Jangan melamun saja.aku selalu makan kenyang di rumahnya. Ganti namamu. Yu Silam tersenyum manis sekali.

Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. kelihatannya ia punya rencana tersembunyi. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya. *** Empat bulan aku di sini. Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari. dan lebih segar. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum. Paling buaya di dunia buaya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku. apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. meski aku lebih banyak berdiam diri. ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama. Jangan mau diajak ke kamar dulu ya! suaranya tetap rendah tapi tegas. Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. mulailah belajar menemani tamu di meja. Ada yang bilang Mami juga dosen alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktuwaktu jika dibutuhkan. memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Senyumnya lebar seperti senyum keledai. Aku mengangguk sambil tersenyum. paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami. seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi. malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini.Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. Malam berikutnya. Biasa itu. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami. Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. *** Dua orang tamu datang ke rumah. Aku tak yakin. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. selalu saja ada yang baru datang. Lho. memangnya Yu sakit apa? Pokoknya aku tinggal menunggu mati. . Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek. Kalaupun aku harus tertular. Besok malam. anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing. Berapa? Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. Kamu baru ya? lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya. Untung Mami keburu menyelamatkanku. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. sergah Yu Silam kasar. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Mami menggeleng dengan senyum menggoda. Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja. itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat.

mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang. kerja macam itu. Aku tak berani menatap matanya. Takut-takut aku melanjutkan. Ia mengangguk lemah. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. Dengan latar belakang segelap itu. aku mau jadi buruh cuci saja. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. tapi aku ndak bisa. Saya korban perkosaan. Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Sudah kucoba Yu. Perempuan setengah baya itu terbelalak. Tidak Yu tidak kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik. Jadi tukang cuci juga saya mau. dan membuang sampah-sampah. Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. Bagaimana menjelaskannya? Sudah kucoba. Jeritku dalam hati. bersihbersih. pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. Mi bisikku pelan. lanjutku lirih. Namun. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan. Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. . aku harus bicara jujur pada Yu Silam. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. cuci piring. Biarkan aku membusuk di sini!!! teriaknya parau. Aku siap kembali ke tugas lama. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah. seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi. *** Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur. Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu? tanyanya beruntun. Pergilah sejauh yang kau suka. Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. Aku ndak bisa Yu. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa. Yu. Aku tak mau jadi dongdot. Aku tak bisa kembali ke sana.Tanpa kesepakatan. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Yu Silam terbelalak. Tapi kenapa? Kenapaaa?? kedua tangannya terbuka lebar. Mami ikut menggeleng-geleng. Juga pandangan mata penuh birahi pemudapemuda desa. Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Mami kelihatan tak puas. Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya?? Yu Silam meradang. Aku menggeleng cepat-cepat. Kupeluk ia dengan air mata. Saya saya saya sudah tak perawan lagi. Di tempat yang benarbenar baru. Aku tak bisa kembali ke desa lagi. mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini. bukan di desa. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran.

kami langsung menggiringnya masuk ke halaman rumah. agar ia mau membujuk ibu untuk membeli baju dagangannya. di antara kami berdesakan membisikinya. ibu mau menghindar. Kadang. melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. Entah. ia tak lebih dari sesosok hantu. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. pada suatu ketika. Ibu mau ke mana? tanyaku. Di depan pintu ibu berdiri dengan gelisah. Biasanya. Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri. bentuk bayangannya lebih panjang. ibu segera mengemasi baju-baju basah dari atas jemuran. Bahkan. Nasibmu sama seperti diriku dulu. sering ibu kami menyambutnya dengan wajah cemberut. yang selalu kami tunggu kehadirannya. sekali lagi. Tukang bendring datang . Bibir Mami bergetar. Mbuk Sehelai Kain Kafan Ia bergegas. Tak terkecuali ibuku. Menyambutnya dengan gegap gempita sambil berharap ia akan menoleh. dan aku mengira. Ya. Pagi-pagi. Ibu punya uang? Tidak. jawabnya tegas. Bukannya selama ini ibu selalu menghindar? Dan ketika perempuan tukang bendring itu sampai di pertigaan jalan kampung. ibu segera mengunci pintu halaman dari luar hingga ia mengira. kalau bayangan itu adalah bayangan tukang bendring. Anak-anak saat melihatnya dari jauh. Kadang kala. Dan ia. Bagi ibuku. Semua itu ibu lakukan karena semata-mata ibu malu lantaran tak bisa menepati janji untuk membayar utang. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. senantiasa menjadi ancaman bagi ibuku. karena utang ibu belum lunas hingga membuat ibu waswas. adalah dari bentuk bayangan kepalanya yang lebih panjang dan lebar. tanpa ragu-ragu ibu keluar. membayangkan sebuah baju baru. tidak bagi ibuku. Tukang bendring itu mendatangi kampung kami ketika pagi menjelang siang. Dan yang khas. Seperti biasa. Atau ibu khawatir keinginan untuk berutang baju baru lagi tak terkendali. setiap kali ia datang. Barangkali. Kadang juga. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya. ketika dari jauh terdengar lengking anak-anak meneriaki tukang bendring. saat tiba pada waktu tagihan. yang selalu takut. Kadang. Aneh. Banyak cara ibu lakukan. kami membuntuti dari belakang. serta sandal hingga suasana rumah terkesan sudah lama ditinggal bepergian oleh penghuninya. untuk menyambut. dan teriakannya yang sumbang itu. Serentak kami meninggalkan permainan. Kami.Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. ketika berpapasan. dan ibu tak ada cara lain untuk menghindarinya ke rumah. Menunggu tukang bendring. Ketika itulah. wajah ibu tiba-tiba pias dan tampak . Begitulah dulu. bagi kami serupa seorang istimewa. namun ternyata tidak. Tak jarang. suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka. saat bapakbapak kami sedang berada di tegalan. bisikku. ia hanya mengangguk disertai sungging senyum penuh harap. Meski sebenarnya. Untuk menghindari kedatangan. ibu sedang bepergian. yang selalu membuat ibuku ketakutan setiap mendengar suara sumbangnya melengking parau dari balik pintu. Berlenggak. ibu menandai bayangan tubuhnya saat berjalan menuju rumah kami. Pernah juga. Tetapi.

dengan malu-malu ibu terpaksa membukakan pintu. perempuan yang kini menyajikan baju-baju baru itu dengan gayanya yang khas memberi mereka kelonggaran. Lastri melirik kepada para ibu. alasan tak ada uang. Mengerut dan berucap sinis. tetapi setelah beberapa saat suara itu kian lantang. beberapa perempuan duduk memanjang saling menisik rambut. perempuan itu berbelok ke arah kiri. biasanya ibu tak bisa mengelak. orang-orang berkerumun. Intonasi suaranya ditekan. Mata perempuan yang berkerumun terbelalak saat melihat aneka ragam baju baru tergelar di depannya. Baju baru . salah satu di antara para perempuan itu. dengan galak. tiba-tiba dari luar halaman terdengar suara sumbang seseorang. seakan minta pendapat perihal baju yang dipegangnya hingga membuat mereka heran. Sebelumnya. hanya mengangguk. Itu baju sudah ada yang pesan. Di luar. dan ketika perempuan tukang bendring itu mulai mendekat. Mungkin ia segera bergegas pulang. Khawatir kalau-kalau para tetangga lainnya keluar. Sepasang matanya kembali menatap catatan-catatan tagihan yang belum lunas. segera mengambil satu baju berwarna hijau. utangmu! Sialan. Kemudian masuk ke sebuah gang sebelum akhirnya dengan ragu memasuki pekarangan rumah seseorang. Kenapa. Bu. Tetapi tidak. buka pintu. Bu? Baju lebaranmu belum lunas. Ju. Dan ia? Perempuan dengan bundelan sarung di kepalanya tanpa ragu-ragu segera masuk. . Adalah Lastri. tukang bendring itu terus bergegas. Sementara ibu. Selarik cahaya tipis menyelinap masuk lewat celah-celah jendela. Sontak perempuanperempuan itu menyambutnya. tampak seseorang mondar-mandir. Bagaimana mungkin. menapaki jalan setapak. ibu tetap berdiri di situ. Murah. sontak mengajakku masuk. Ini. Barangkali Lastri cari perbandingan harga. Melampiaskan kekecewaannya. Untuk menghindari semua itu. ibu mengintip dari sela lubang pintu. Harganya? Lastri memotong. membentak. bayaran bisa dicicil seminggu sekali. sebagaimana dulu. Harga? Dijamin. Bukannya diam-diam belakangan Lastri juga menjadi tukang bendring. Pada mulanya suara itu samar-samar. Dengan muka pucat dan gemetar. dan mencibir. Ketika ia sudah berteriak-teriak. Dan ia. Ju. menawarkan barang dagangannya. 2/ Dan kini. Menggoda mata untuk segera memiliki. Sementara di tempat yang lain. Meski tak pasti. teriaknya. yang barangkali sudah memuncak. Orang-orang melirik tak senang. di beranda. bukannya . teriaknya lagi. Toh. persis di pertigaan. Sekilas sungging senyum terkembang. Lastri belum melunasi utang-utang baju sebelumnya. Namun tak lama berselang. seketika ibu merasa lega. Tak penting. Di halaman. pedagang baju keliling? Las. lalu mendatangi rumah kami. umpat ibu. Mungkin sedang bergunjing.murung.

begitu katanya. Kamu masih ingat namanya. Bertemu banyak orang jauh lebih penting. tapi tidak di sini. Sesekali ia menoleh. Besok lagi mainnya. aku hanya mengintipnya dari balik jendela. Tentu. ia suka membawakan kami oleh-oleh jajanan pasar. Ya. Bu? Senok. kemudian dibagi-bagikan secara rata. Sebentar lagi petang. meski tidak di kampungnya sendiri. Barangkali kesal dengan sikap Lastri. Entah sejak kapan. yang tak dapat kulupa sampai sekarang. alangkah bijaknya perempuan itu. Melewati jalan setapak perkampungan. ia umpamakan lelehan keringat itu sebagai air peneduh setelah berjam-jam berkeliling dari kampung ke kampung. Lastri. tukang bendring itu. namun sebaliknya. Berkunjung dari rumah ke rumah. 3/ Ini hanya cerita. namanya. sambil mengintip mereka dari balik jendela. desisku tak percaya dengan ucapan ibu tentang Lastri.Sudahlah. Sepulang dari berkeliling sebagai pedagang baju bendring. dan tukang bendring yang sudah renta itu. Tidak percaya di kampungku yang sekecil ini ada seorang senok. Ia tampak tergesagesa. Bagaimana mungkin. Tiba-tiba tanpa ditanya ibu menambahkan. Markoya. dalam tempurung kampung sekecil ini hidup seorang senok. pelacur. perempuan tukang bendring itu sudah mulai menjauh. Sesama pedagang. bajunya dipakai ngelonte. yang kondisi tanahnya kelewat gersang. Perempuan itu tak menjawab. Ya. Ia tahu. Markoya. Lantaran? Senok! Dan Markoya itu tak mau ngasih utang kepada senok? Mungkin ia takut. Tak membuatnya putus asa. Kami sambil menunggunya datang. bisik ibu. . Kenapa dengan Lastri. begitu ia menjawab setiap pertanyaan orang tentang pekerjaannya. Ah. Sebagai tukang bendring. Ia. Astaga. agar tidak telat pergi mengaji. bersama ibu. Bukannya ia juga pedagang baju? *** Sudah setengah hari Markoya berkeliling. sebelum akhirnya menyuruh kami pulang. Bahkan. dan itu Lastri. sejak dua puluh dua tahun silam aku meninggalkan kampung halaman. Markoya. ia menjadi tukang bendring. yang baru saja kudengar dari ibuku itu. jawabku. Menyerah. berapa harga baju ini? ketus Lastri. Lelehan keringat tak membuatnya merasa gerah. Lastri memang belakangan menjadi tukang bendring. ketika kami masih asik bermain di belakang rumahnya hingga sore menjelang malam. rasanya sulit dipercaya kabar. Sebagaimana juga dulu. tak jarang ia mendapatkan laporan bahwa diam-diam Lastri tak keberatan jika ada seorang lelaki ingin membayar tubuhnya daripada baju dagangannya. Lalu. Melewati jalan setapak yang teramat terik. *** Dan kini. yang sudah berjanji akan melunasi utang bendring. Nak? tanya Ibu. meski kadang hasilnya tak sebanding. teman sepermainanku dulu. Atau dengan ibuku? Tak sembarang orang sekarang boleh mengambil barang dagangannya. Termasuk Lastri? Kusingkap jendela. Sudah lama ia berpisah dengan Madrihmah.

Sesekali cahaya senja bergetar samar. Markoya tersenyum simpul. masih banyak orang mesti ia temui. Dalam bimbang ia terusik. kalau sampean datang suruh ke sana. Ke Brudin sampai sekarang masih segar bugar. Sore hari di halaman. Setelah melewati perbatasan kampung. selorohnya. desisnya. Tak lama berselang. Mulutmu. Dengan apa ia akan membayar? Dengan doa. Pelepah nyiur dan janur seperti malas berayun. dengan berat hati menyambutnya dengan senyum. bajunya cuma satu. ujarnya sambil mengikat antara ujung kain. sebuah bisikan tanpa ia jelang datang. Ia pun tak heran ketika di beranda tak terlihat seseorang. Lalu? Kain kafan. begitu saja datang menyamperi Markoya. Maksudmu. Lastri dengan tubuh hanya dibaluti sarung hingga setinggi dada. kemudian masuk. sesamar gerakan kedipan matanya. desisnya. Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh seorang pedagang. Kasihan. Markoya membuka buku catatan. Ke Brudin. samping rumah utama. menggiringnya pada sesosok lelaki tua renta. lalu tanpa menunggu jawaban ia bergegas masuk. Dan Markoya. dan tak lama berselang Lastri muncul dengan membawa secangkir kopi. Bagaimana mungkin. Sudah ketemu Ke Brudin? Markoya menyeduh kopi hangat. Utangmu belum lunas. Ya. suara Markoya. Markoya duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga. Selarik cahaya senja membentuk garis tipis masuk lewat celah-celah bilik langgar tempat ia duduk bersandar pada tiangnya. Kini. Beliau ingin pesan baju baru untuk dipakai hari Jumat. Ngawur. Ke Brudin. Beberapa. sambil memelankan langkahnya. Guru mengaji itu? tanya Markoya. yang miring. serak dan serasa berat. desisnya. Bukannya ini hari sudah sore? Maka. Dan tak lama berselang.Dagang hanya sampingan. bermotif batik. ia berucap salam. Las? Ngamar. Sudah tua. Ke Brudin juga pesan kain kafan. Buktinya. Kasihan. Tadi Ke Brudin pesan. Tak mungkin gitu-gituan. ia tiba di sebuah pekarangan rumah Lastri. ujarnya. Lastri mengambil salah satu baju. Banyak rumah mesti ia kunjungi. desisnya lirih. salah satunya. Baju baru? tanyanya. bisiknya. meski ucapan itu terasa janggal. dan menuju langgar yang terletak di ujung barat. Diam-diam ia membenarkan pernyataan Lastri. Seketika Markoya tercengang. sebagaimana sering Markoya lakukan setiap memasuki rumah seseorang. Minggu depan. Doa tak membuat orang kenyang. Hari sudah menjelang sore. yang tempo hari memesan kain kafan. Tampak pada lekuk-lekuk tubuhnya pasir putih masih melekat. Minum dulu. Kenapa? Ke Brudin . Tentu. Pasir-pasir berhamburan. Ia hanya .

seperti mukjizat lain muncul mengusik. . Dan segera bergegas. Para penumpang kereta api dari luar kota yang turun di Stasiun Besar umumnya makan dan minum di lahan kosong ini. suara Markoya lirih. semua toko buku itu tidak ada dan setiap orang yang berada di Stasiun Besar. yang sedang melangkah atau berkendaraan di jalan raya atau berdiri di tempat Kimpul duduk saat itu. dengan leluasa dapat melihat lapangan di belakang toko-toko buku itu. sudah lama. Ah. karena di sana banyak gerobak yang menjual makanan dan minuman. Baju koko? Baju koko untuk shalat. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di tempat berteduh. Kimpul Awan hitam merangkak pelan. menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya. Dan Lastri. Betul. Tapi sesaat ia kembali dan bertanya. tibatiba Lastri merasakan sesuatu yang aneh. toko-toko yang menghambat pemandangan ke lapangan di belakangnya. Kimpul masih menunggu dan berharap. spontan Lastri menyahut. dan teringat. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat. Jika hujan tidak lagi berderai Kimpul kembali ke tempatnya semula. mengajari mengaji. Saya harus segera ke sana. Mudah-mudahan ada orang yang singgah ke tempatnya walaupun hanya satu orang karena selama dua hari belakangan ini tidak seorang pun menyapanya dan duduk di kursi di depannya. Ke sanalah ia berlari dan berlindung selama hujan mencurah. lekas mengikat ujung kain sarungnya. Ia menatap toko-toko buku baru dan buku bekas yang berjejer tidak jauh di depannya. pernah menjanjikan Ke Bruddin kain kafan. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun singgah dan meminta jasanya. saya tak membawakan anak-anak oleh-oleh. Tempat berteduh yang nyaman bagi Kimpul adalah Stasiun Besar di seberang jalan raya yang jaraknya kira-kira tiga puluh meter dari tempatnya bekerja. Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Utangmu minggu depan. Berlari dan berlindung seperti itu setiap hari harus dilakukannya selama musim hujan. Tidak sedikit orang lalu lalang di lahan kosong ini. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Lastri menahan tawa. Saya segera ke sana. ia baru bergerak setelah hujan rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah besar. Mungkin tak lama lagi ajal juga menjemputku. ilmu dunia dan akhirat. Entah. Selepas Markoya. Di keempat sisi lapangan rumput itu terdapat parit yang membatasi lapangan dengan lahan kosong yang lebarnya lima belas meter di sekeliling lapangan. tukang bendring itu menghilang di pekarangan. Biasanya. Mereka belajar mengaji kepada Ke Brudin. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. Ya.menghabiskan waktunya untuk anak-anak. Dulu.

Karena kondisi yang berubah ini. Kimpul mengambil cermin dari tiang yang dipancangnya. Di lahan kosong yang sempit itulah Kimpul dan seorang temannya membuka praktik sebagai pemotong rambut yang lazim disebut tukang pangkas. Ia kelihatan beberapa detik di layar putih. sebuah cermin yang diikatkan ke sebuah tiang. setelah itu ia muncul dalam beberapa film lain sebagai pemeran utama. karena sebagian pohon telah ditebang. Balai itu sirna sudah karena di lokasi itu telah dibangun sebuah pusat perbelanjaan yang senantiasa rampai pengunjung. Semua penjual obat berlomba memamerkan kehebatan mereka berorasi agar pengunjung yang melingkar di sekitar mereka mau membeli obat yang mereka jajakan. Masih erat melekat dalam ingatan Kimpul bahwa seorang penjual obat kaki lima itu berhasil meningkatkan diri menjadi bintang film. Di selatan lapangan rumput itu terdapat hotel megah peninggalan penjajah Belanda. terdapat sebuah tempat pertemuan orang-orang Belanda yang setelah kemerdekaan diberi nama Balai Prajurit. Sekarang. Dengan hanya bermodalkan sebuah kursi lipat. Hebat si Djoni. mengambil tas kumuh yang berisi alat-alat cukur dan membuang air yang tersimpan dalam botol. Ternyata tidak ada orang yang ingin meminta jasanya untuk memangkas rambut. kini tanah kosong itu lenyap sudah karena seluruhnya ditelan ruko-ruko yang beroperasi hingga malam hari. Kimpul masih menunggu. lapangan luas itu selalu digunakan untuk tempat berbagai rapat umum dan upacara peringatan hari kemerdekaan sambil mendengarkan pidato Bung Karno. Ketika magrib memperlihatkan wajahnya. Hujan juga tidak jadi berkunjung. lahan kosong pun semakin sempit. seperangkat alat pemotong rambut yang dibawanya di sebuah tas kecil yang kumuh dan sebotol air. ujar Kimpul kepada dirinya sendiri. para penjual obat kaki lima berteriak-teriak berkampanye di lahan kosong yang teduh di bawah kerimbunan pohon-pohon besar yang telah puluhan tahun berdiri di sana. Tapi. Ribuan murid sekolah SMP dan SMA diwajibkan hadir di sana untuk mendengarkan pidato berapi-api Pemimpin Besar Revolusi yang gagah itu. karena hanya berperan sebagai orang yang harus berjalan kaki dari sebuah pintu ke pintu lain yang jaraknya hanya tujuh meter. di Jalan Rumah Bola. melipat kursi yang sejak pagi didudukinya. Di utara lapangan. hingga menjelang magrib. Kimpul membatin. Begitu cepatnya keadaan berubah. Kalau dulu banyak orang yang satu profesi dengan Kimpul bekerja di bawah pohon rindang di pinggir lapangan. ia siap melayani siapa saja. Cahaya matahari langsung jatuh di toko-toko buku itu. Kini hotel itu tidak kelihatan lagi karena telah berganti dengan gedung milik sebuah bank dengan lapangan parkir yang luas. nasib Kimpul turut berubah. Dan. Hari kembali cerah hingga sore hari. setiap orasi pastilah memuji kemujaraban obat. Kimpul merasa perubahan terjadi begitu cepat tanpa menyadari bahwa ia telah empat puluh tahun menjual jasanya di pinggir lapangan itu sejak berusia dua puluh lima tahun. Dulu. Setelah itu dengan mengayuh sepeda ia pulang tanpa memperoleh uang sepeser pun seperti dua hari sebelumnya. Awan hitam yang merangkak tidak lagi kelihatan. Begitu orasi selesai biasanya ada saja pengunjung yang langsung membeli obat mereka. mencabut tiang itu.Pada tengah hari. Kalau dulu tanah kosong yang mengelilingi lapangan terasa teduh karena beberapa pohon rimbun berdiri kukuh di sana. Semula ia hanya menjadi figuran dalam film Lewat Jam Malam yang disutradarai Usmar Ismail. *** . kini hanya dia dan seorang lagi yang masih menawarkan jasa di sana.

Benar. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Cuma. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. saya harus pergi sekarang untuk rapat.000 kepada Kimpul. tiba-tiba turun hujan deras. memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Kalau sempat saya akan datang lagi. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Saya langsung pergi dengan janggut. Tidak apa-apa. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya. Masih kenal saya. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu. Permisi. saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu. Ia tidak berhasil. Karena saya harus segera kembali ke kantor. saya Kimpul . Karena itu ia menggeleng dengan sopan. kan? kata lelaki muda itu bertanya. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu. Kimpul benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan uang Rp 100. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun. ia mendengar seseorang memanggil namanya. Sekali lagi ia tidak berhasil. Cukup lama memang. Ia segera membuka mata dan berdiri. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum. Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Jangan-jangan dia salah alamat. kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini. namun laki-laki tidak ditemukannya. Pak Kimpul. .000 di tangannya itu. Ia kembali ke tempatnya bekerja dengan napas tersengal-sengal. saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri. Kimpul mendengarkan dengan serius. Ia pasti salah alamat. Saya Dasuki. ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. kalau tidak ingat. karena banyak orang di sana. Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Ketika Bapak akan mencukur janggut. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan. Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu. kumis dan cambang saya. Pak? Kimpul menatap laki-laki itu. Pak. Saya ingin membayar utang saya itu. Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. pikir Kimpul. Pak Kimpul. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. tapi Kimpul yang lain. Dasuki? Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul. Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100. kumis dan cambang yang belum dicukur. Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. Lima tahun.Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk. Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh. saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh.

Dasuki menunggu reaksi istrinya. Dia bengong dan mulanya tidak mau menerima uang itu. *** Bagaimana Das? Ketemu dengan orang yang kamu cari? Tidak. Karena kasihan aku segera menghampirinya. .000. Aku melihatnya begitu aku selesai makan gado-gado yang enak di pinggir lapangan itu. Aku ceritakan alasan mengapa aku memberikan uang itu. Aku harapkan begitu.000 itu berambut lebat. Padahal sebelumnya aku berniat memotong rambut di barber shop di sebelah kantorku.000. Hanya karena aku ingin makan gado-gado dulu makanya aku pergi ke pinggir lapangan itu. sahut Dasuki menjawab pertanyaan istrinya. Kemudian ia menengadah dan menatap istrinya. Orang yang kuberi Rp 100. Kamu yakin akan merasa tenang setelah membayar utang itu walaupun bukan kepada orang yang berhak menerimanya? Lama Dasuki menunduk dan terdiam. kepalanya botak dan tubuhnya ceking.000 sedangkan biaya pangkas lima tahun lalu cuma Rp 5. Sebelum aku menghampiri orang tua itu aku bertanya dulu kepada penjaga toko buku bekas yang kumasuki sebelumnya. Melihat Dasuki menceritakan hal itu dengan lancar istrinya tersenyum dan tidak bertanya apa pun. Dasuki yang merasa perlu memberikan penjelasan lebih lanjut. dari mana pula orang bernama Dasuki itu tahu namaku. beruban dan tidak kurus. bertemu dengan orang tua itu. Istri Dasuki menunggu kelanjutan cerita suaminya. Yang satu masih muda dan yang seorang lagi. Lalu mengapa ia memberikan Rp 100. Dialah yang memberikan nama Kimpul itu kepadaku. Lalu aku datangi orang tua itu dan kuberikan Rp 100. Pipinya kempot. Mungkin sekitar enam puluh lima tahun. Ingatannya cukup kuat untuk mengetahui semua itu. aku rasa berusia lebih dari enam puluh tahun. Kimpul bergumam. Tapi dengan memberikan uang itu aku merasa utangku telah terbayar. duduk di kursi kayunya dan memintanya memotong rambutku. Tapi aku berikan uang itu kepadanya dengan menggenggamkannya. Aku tidak tahu. Lalu bagaimana? Aku mengelilingi lapangan itu. Setelah itu aku pergi dan berjanji akan datang lagi kalau aku masih punya waktu luang. padahal aku tidak pernah menyebutkan namaku kepada pelanggan karena memang tidak ada yang pernah bertanya. Hanya dua orang tukang pangkas yang aku temukan.Ia berpikir keras dan menggedor ingatannya. Kamu yakin bukan itu orang yang kamu cari? Aku belum lupa wajah orang yang dulu memangkas rambutku. jatuh kasihan dan memintanya memangkas rambutku. Akhirnya ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang diungkapkan laki-laki itu tidak benar dan tidak pernah terjadi.

Ia sudah menjabat direktur sebuah BUMN dan suka main golf. yang menindik hidung. Ia hanya menjajani kita bila hendak meminta tolong kita membantunya mengerjakan sesuatu atau membujuk kita merahasiakan kesalahannya. Kita pikir adik sudah gila atau kena guna-guna. Kacamata ayah adalah yang ia pakai ketika meminang ibu. Setelah minum seteguk. mengenakan sepatu bot. Ia bangun untuk melakukan shalat subuh. Untuk itu kini ia memiliki . puser. Soalnya ia sudah memperkenalkan pacarnya. *** Dahlan sekarang sudah menjadi orang. dan menyiram tanaman. hari libur. memberi makan kucing. tiga tahun lalu. Di Aliyah dulu. Kakak ada kalanya bersikap manis tetapi lebih sering sinis. Dari ibu kita tahu riwayat sanak saudara dan tetangga-tetangga. ayah akan mengeluarkan skuternya dari garasi dan menghidupkannya. sudah tersedia segelas kopi. Bila mengenakan kemeja batik. Tak jarang ia lupa menaikkan retsleting celananya pula. Ibu pula yang menyapu. Ibulah yang melarang kita mengajak anak gadis orang nonton bioskop sebelum yakin hendak menikahinya. Ibu mengajari kita agar membawa jeruk bila mengunjungi orang sakit. menyiapkan sarapan. Namun. tetapi ia dapat disebut berhasil dalam sekolah serta kariernya dan kita tahu pasti itu berkat doa ayah-ibu selain bahwa ia memang tidak bodoh. ayah akan duduk di beranda. mencuci pakaian. mereka masih tidur meskipun matahari sudah tinggi dan baru bangun menjelang siang. kita juga melihat anak itu menyemir rambutnya. dan memakai maskara hijau. apalagi terharu. Ibu tidak pernah meminta ayah keluar malam-malam seperti istri kita menyuruh kita membelikannya martabak pada pukul sebelas malam. dan lidahnya. memasak. bahkan untuk ukuran ayah dan ibu. Ibu tidak mengomel soal uang belanja layaknya istri kita merecoki kita. Minta uang. Mungkin itu disebut sensasi mengekspresikan diri. menyeduh kopi. ia menjadikan kita bulan-bulanannya. Setiap tahun kita membelikannya sarung tetapi ia menyimpannya di lemari.Mudik Ayah adalah ayah dan kita tahu orang tua tidak berubah. Setelah menjadi pejabat pun ia tidak pandai berpakaian. Tahun ini ia akan lulus SMA dan uang yang ia minta semakin banyak. Hanya penampilannya menjengahkan dan bisa membuat orang salah menilainya. Saat bertemu. Bila datang bulan. Tahun ini ia pulang mudik membawa Honda CRV edisi terbaru. atau Lebaran seperti sekarang. adik berpacaran. bahkan kita tidak pernah ingat melihatnya berganti sandal baru. seorang entah gadis entah tidak lagi. pacar adik itu cukup sopan. Kakak malas. mengepel. persis saat masih sekolah. Dahlan siswa yang jorok. Tatkala kita memberinya sepasang Crocs warna ungu Lebaran lalu. Cinta monyet. Ayah memakai sandal yang ia pakai tahun lalu. mendidihkan air. termasuk hari minggu. Ke mana-mana ia membagikan kartu nama. Ibu rajin bin tabah. Bangun pagi-pagi. kancing pada bagian perutnya sering lepas mempertontonkan pusernya karena ia tidak juga mengenakan singlet. dua tahun lalu. menjahit. Demikian ritual yang dijalankan ayah tiap pagi sejak dua puluh-tiga puluh tahun lalu sampai saat kita mudik kali ini. Di atas meja rotan dekat vas berisi kembang plastik. Pulang mudik bersama suaminya. ia seperti tersinggung alih-alih tersanjung. Adik selalu merongrong. menanak nasi. Sama seperti semua remaja yang mulai berjerawat. dan kita tidak ingat kapan ibu pernah tidak begitu. Kita cemas ia tidak mau meneruskan sekolah dan memilih menikah muda. Selesai mandi. sejak dulu sampai sekarang.

Kita tidak bisa melupakan Santi. Rambutnya sudah beruban dan kacamatanya menebal. anak-anak sekarang bermain bola melalui PlayStation. Arlojinya kini Rolex Perpetual berantai emas 22 karat. Ia mudik untuk meminta maaf kepada ayah-bundanya dan memohon didoakan agar diberkahi rezeki. dan seks. Pak Maman sudah dipecat sebab tidak dibutuhkan lagi orang untuk memukul lonceng dan memotong rumput. Sebagian lahan telah dibangun kelas-kelas baru di atasnya. betisnya. kecuali KPK. Orangtua Dahlan sangat bahagia dan suka bercerita mengenai anak mereka. Santi telah menikah tiga tahun lalu dengan juragan tahu asal Sukabumi. entah mengapa. termasuk S-4. Joko. Joko tidak korupsi. melihat Joko tokoh yang sukses dan murah hati. lehernya. Ia mendapat semuanya karena rajin berdoa. Sumarni biasanya langsung menyingkir. dadanya. banyak cinta kehilangan sihir dan sarinya setelah meninggalkan halaman Aliyah. kenapa sirik? cetus Joko membela diri. Santi terlihat cantik dan bersih. padahal punya banyak peluang menyatakan cinta kepada Santi. Setiap kali . Sepertinya usaha suaminya berhasil dan kita hanya bisa berharap Santi menikmati hidupnya sebagai istri juragan. Perlu keberanian untuk membawa cinta keluar dari sekolah. *** Sekolah merupakan monumen masa lampau. Tahun ini orangtuanya berancang-ancang menjodohkannya dengan seorang peternak sapi. Lonceng yang dipukul sudah diganti dengan bel listrik yang diatur otomatis berbunyi pada waktu tertentu. Tak tersisa cukup tempat untuk bermain alip-alipan lagi. sekarang menjadi koruptor. Alisnya. di zamannya siswa paling ganteng di kelas. Bila orang mulai bicara soal cowok.asisten yang senantiasa mengingatkannya. Setiap kali mudik kita mencari tahu kabar Santi. Pak Silitonga. Ibu Jumilah yang mengajar geografi telah pensiun dan kini sakit-sakitan. Pulang dari Jepang ia pergi menuntut ilmu ke Swiss. Pak Lurah mendapat Rp 25 juta untuk membantu petani membeli pupuk. Maka. Ia tidak pernah punya inisiatif memulai pertemanan sehingga orang menganggapnya tertutup dan menjaga jarak dengannya. Sumarni menjadi perancang program komputer. Kini Sumarni pulang membawa sejumlah gelar. Tahun ini kita tahu Santi telah diboyong suaminya ke Ciamis. Kembali dari Swiss ia berangkat lagi mencari pengalaman ke Massachusetts. guru fisika. melihat atap rumahnya saja kita sudah senang bukan alang kepalang. sudah wafat akibat TBC. Namun. Kita merasa jengkel dan menyesal. Semua orang. Cinta memang kadang-kadang tidak mudah. baik pria maupun wanita. Halaman rumputnya terlihat sudah mengering dan menciut skalanya. Padahal. Dulu ia menolak dikawinkan setelah lulus kuliah dan bersikeras melanjutkan pendidikan ke Jepang. Dulu. hanya tidak terlalu suka bergaul. Nasib orang tidak ada yang tahu. jemarinya. matanya. pinggangnya. pinggulnya. Itu sudah rezeki gue. pernah membuat jiwa dan raga kita meradang menerjang. kata Ustaz Jamil. Ia siap membantu warga kampung. Kita malu menjadi pengecut. selalu tragis. Ia tidak jelek. bibirnya. Pak RT menerima Rp 10 juta untuk membangun rumah Mak Icih yang hampir roboh. ia cukup menyiasati kemungkinan keteledorannya dengan mengenakan baju yang lebih longgar dan panjang. Kehidupan guru. Pohon beringin di tengah pekarangan sekolah sudah ditebang dan bekasnya dipasangi paving block. Pak Camat konon memperoleh sampai Rp 40 juta entah untuk apa. Ternyata koruptor selama ini menganggap kesempatan yang diperolehnya merupakan limpahan rezeki berkat doa-doanya dan doa orangtuanya. Kita pasti mampir ke sana. Sampai mudik ke berapa pun. Ia mampu memecahkan semua masalah teknis pelik. gaya berdandan.

. Toko kitab Pak Wongso masih buka. Pembeli bertambah sejak Mbok Umi berjualan didampingi putrinya yang saban hari mengenakan tank-top dan jins low-waist. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub. serta novel-novel lama seperti Cintaku di Kampus Biru dan Hamlet. ia masih terlihat memakai kacamata kulit kura-kura yang sama yang mungkin akan dikenakannya hingga akhir hayatnya. Masih menjual buku mewarnai. Burung Api Siti Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Mbok Umi mengurangi porsinya sehingga harga jualnya tetap. masih berjualan. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. kadangkadang sembarangan. melompat lagi. bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. Barangkali sebentar lagi Wak Alang akan mati. Kiranya suasananya tidak sesibuk dulu. Jika sedang berdampingan. Kalau Pak Wongso tidak keras kepala. penjual ikan asin yang suka berkata jorok menggoda ibu-ibu. komik terbitan lokal. Mudik seperti kembali ke masa lampau. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban. Semuanya buku lama atau buku yang asalnya baru tetapi jadi lusuh lantaran lama tak laku-laku. Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua? Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. dan Telkom masih melayani dari gedung yang sama. bahkan pegawainya masih yang dulu-dulu juga. Para pembunuh terbakar. PLN. Tukang-tukang becaknya mengingatkan kita kepada waktu yang berlalu bergegas. kita dapat mempelajari perubahan zaman dari sosok Mbok Umi dan putrinya.mudik dan mampir ke sekolah. Mbok Umi masih berjualan gado-gado dan harganya masih tiga ribu. kadang-kadang ritmis. berlari. Kotornya dan baunya juga. Sekarang dia tidak banyak ngomong lagi sejak sering sesak napas belakangan ini. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali. kita tidak dapat menahan air mata yang tahu-tahu sudah berlinang. dan berlari lagi. Ke kantor pos? Untuk apa? Bukankah sejak sepuluh tahun terakhir ini kita tidak pernah berkirim-kirim surat lagi? Waktu seperti berhenti di sini. Bersyukurlah bahwa kita masih sempat mudik untuk menikmati dan menghormati masa silam. beberapa jilid buku memasak dan menjahit. Orang sekarang bisa memilih membayar rekening listrik dan tagihan PAM atau telepon melalui ATM dan tidak perlu mengunjungi fasilitas pelayanan di gedung-gedung tua yang menyeramkan. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Ajaibnya. Pak Wongso tidak mengenal kita lagi tetapi kita mengenalinya. kadang-kadang cepat. anaknya sudah menutup toko buku ini dan membuka kafe di sini. tahu. Pasar Lama masih bertahan. Siti bertanya. Kantor pos. Tubuh mereka menyala. Becak-becak yang menutupi sebagian jalur jalan di depan pasar pun ikut bertahan. PDAM. Pangeran Denmark. Mereka juga melompat. Ia sudah uzur sekali dan kini tidak memiliki gigi. Bila harga sayur-mayur. Tak ada buku pelajaran dijual di sini sebab sudah diatur penyalurannya melalui sekolah yang bekerja sama dengan penerbit buku. Wak Alang. dan kacang naik.

mengapa kalian tidak menari? teriak Siti sekali lagi. Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja mata Siti tidak dibutakan oleh ratusan bangau yang membentuk semacam dinding pembatas. Para pembantai itu meneriakkan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang. Dari tanah lapang itulah. hari itu. dan aneka kerang. serta anak-anak kecil dari kampung sebelah . *** Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau. di antara pohon-pohon bakau. Siti sama sekali tidak tahu sesungguhnya alam punya cara merahasiakan segala peristiwa buruk kepada anak-anak. pada Oktober 1965 saat angin laut begitu asin dan amis. Kalian tak boleh menyakiti temantemanku.Itulah pemandangan yang berulang-ulang dilihat oleh Siti dan berulang-ulang pula membuat dia kehilangan cara untuk mengungkapkan ketakjuban. Siti hanya melihat semacam dinding tebal hitam memisahkan tanah lapang dari ujung tanjung. Tak ada satu pun bangkai bangau yang berdarah-darah. Ternyata tidak ada yang mencurigakan. tiba-tiba berbalik arah menuju ke tanah lapang yang dikelilingi hutan bakau tak jauh dari makam yang dikeramatkan. Isya sudah usai menghampiri kampung di ujung tanjung itu tetapi satwa-satwa tropis ini tetap saja membisu. Siti yang dari masjid hendak bergegas ke rumah. Karena penasaran. dan meng-kremus kepala-kepala mereka. sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. Tetap tak ada jawaban. kata seorang serdadu. selongsong siput. Kami harus membunuh mereka karena sebelumnya mereka akan membunuh kami. Tetap hanya angin amis yang menampar-nampar tubuh Siti yang terlalu rapuh untuk berhadapan dengan amuk malam. Tak ada ular-ular raksasa yang berkeliaran. Akibat air menyurut ujung tanjung itu berubah menjadi alunalun penuh pasir. Ayolah. sesungguhnya ada puluhan perempuan dan laki-laki dewasa. kata Siti sambil mengacung-acungkan oncor kepada ular-ular yang ia bayangkan sangat ganas itu. Saking rapat mereka menyembunyikan segala hal yang terjadi di balik gerumbul bakau dan benteng bangau. burung-burung bangau itu nyaris tidak melakukan gerak apa pun. Dan dalam benak lelaki kencur itu hewan melata yang menjijikkan itu mula-mula menyambar sayap. Tentu jika memang benar ular-ular raksasa itu melahap secara sembarangan burungburung bangau kesayangan. sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukkan bayonet ke lambung. Ratusan bangau itu justru nyekukruk (2) meskipun tetap mencericitkan suara-suara kacau yang memekakkan. Mengapa kalian tak menari? Tak ada jawaban. kata seorang pemuda berjubah serbaputih. ia akan bisa dengan seksama melihat segala yang terjadi pada burung-burung bangau yang berkerumun di tanah becek. Akan tetapi. Siti menduga ada ratusan ular raksasa yang menelan mereka. Kami harus membantai orang-orang yang menistakan agama ini karena mereka telah membunuh para jenderal terlebih dulu. dengan oncor (1) yang terus menyala Siti akan mengusir binatangbinatang menyeramkan itu. Bangau-bangau dan pohon-pohon bakau itu malam itu seakan-akan menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh mata lemah Siti. lalu menghajar.

Mereka mengasah amarah sambil menjulur-julurkan lidah. yakni iblis-iblis yang senantiasa mengibar-ngibarkan bendera palu arit dan menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi saat menghajar para jenderal dan para pemeluk teguh. Mereka gigrik menyaksikan segala peristiwa yang terjadi saat itu karena Allah tidak menyembunyikan sorak-sorai dan tarian suka cita para pembantai setelah makhluk bantaian terbunuh kepada mereka. Azwar. ayah Siti. Para pembantai yang dari bisik-bisik di kampung sebelah telah dirasuki arwah para jenderal yang dibunuh di kota yang jauh sepanjang siang sepanjang malam mencari siapa pun yang dianggap sebagai para pemuja iblis. dipaksa untuk menggali kubur bagi dirinya sendiri di tanah lapang berpasir. Lalu makin malam laut kian pasang. Jangan menganggap kami kejam . pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami. Tetapi mengutus serdadu yang ringih tidaklah mungkin. Setelah semuanya selesai orang-orang yang merasa paling suci menusukkan bayonet dan mengayunkan parang sesuka hati ke leher atau ke punggung ringkih. hanya karena tidak pernah mau bergabung dengan para serdadu dan orang-orang yang mengaku paling suci. tidak ada cara lain puluhan pembantai harus disiagakan. Untuk membantai Azwar. Ia berbicara untuk dirinya sendiri. Para makhluk yang dianggap manusia paling laknat dan bersekutu dengan setan itu. Apa yang juga tak didengar dan dilihat oleh Siti? Tangis bangau dan jerit pohon bakau. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni. Ia berbicara untuk dirinya sendiri.Jika sekarang mereka tak mati. Segalanya sunyi diam. Puluhan orang dari kampung sebelah tentu bersama para serdadu dan lelaki beringas berjubah serbaputih menyerbu kampung di ujung tanjung setelah Isya yang sangat tenang itu. seharusnya cukup seorang serdadu menusukkan bayonet ke lambung. desis seorang perempuan nyaris tak terdengar oleh orang lain. Segalanya dilupakan oleh para pembantai dan saksi mata pembunuhan kejam itu. dan meneriakkan kebesaran Allah berulang-ulang agar segala tindakan tersucikan dari kesalahan.mengarak sebelas makhluk malang dibelit tali ke ujung tanjung. Membunuh lelaki kencana yang senantiasa menjadi suluh kampung dalam segala tindakan akan membuat warga kalap. kau tahu. mengacung-acungkan parang. Tanah lapang di ujung tanjung telah tenggelam. Azwar! Selamatkan warga kampung dari iblis laknat ini! Bunuh. Ini tugas negara. Warga kampung di ujung tanjung sangat mencintai Azwar. Karena itu agar bisa meredam kemarahan para pemuja Azwar. Sorak-sorai menghilang. pembela para pembenci Allah ini! Bunuh dia! Bunuh dia! . Bunuh. kali ini tak terhindarkan harus menjadi makhluk buruan paling dibenci. Para pembantai telah kembali ke rumah. desis seorang serdadu nyaris tak terdengar oleh serdadu lain. *** Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. Pasir yang semula digenangi darah dengan cepat terhapus.

Pada saat sama burungburung bangau yang menghuni hutan bakau di kampung itu terbang bersama-sama dan mengepung orang-orang yang sedang bertikai. hingga ke relung-relung cangkang siput dan kerang murung. beberapa orang tertusuk bayonet. Atas izin Allah. Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku kalian akan jadi manusiamanusia paling suci! Tak ada jawaban. Di mana Siti? Siti tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Sebuah parang mengayun di punggung Azwar. Warga kampung menghalang-halangi. Tanah berpasir di tanjung pun memerah hingga ke ujung. Sebuah bayonet ditusukkan ke lambung Azwar. Bangau-bangau tetap tak menginginkan kekejaman dan kekerasan diendus oleh anak-anak sekencur Siti. Darah mengucur. Apakah para bangau bisa menjadi burung api? dan dijawab Azwar. Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku hidup kalian lepas dari iblis paling laknat. Teriakan-teriakan para pembantai kian keras. Pertumpahan darah akan segera terjadi jika tak seorang pun berusaha mencegah pertempuran pada malam yang hanya disinari oleh separo bulan itu. Tak ada jawaban. tetapi Azwar tetap berusaha membelah kerumunan dan bergegas menghadapi para pembantai yang berteriak-teriak tak keruan. Tak ada celah sekecil apa pun yang memungkinkan Siti melihat darah yang mengucur dari lambung atau bacokan parang di punggung. sebelum tubuh Azwar diseret dan dibuang ke laut. Acungan parang dan bayonet pun berbalas acungan gagang pendayung. menembus dada para . warga kampung melakukan perlawanan. Batu-batu api itu bergesek dengan udara. Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. Azwar berteriak membelah malam. Tak ada cara lain untuk menghentikan pertempuran sia-sia itu. Bangau-bangau itu sebagaimana burung ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh para pembantai. Setelah ia bertanya. Siti lalu mengintip dari lubang jendela dan mendapatkan puluhan orang mengacung-acungkan parang dan mengacungkan bayonet. Azwar membuka pintu dan dengan langkah yang sangat tenang menyibak kerumunan. Lalu teriakan pun berbalas teriakan.Siti yang saat itu sedang mengaji dan mempercakapkan dengan Azwar tentang perbedaan burung-burung bangau di tanjung dari burung-burung ababil yang menghajar tentara gajah. Teriakan-teriakan yang dibantai juga tak kalah keras. kecuali burung-burung bangau di ujung tanjung itu harus mengulang peristiwa bertahun-tahun lalu yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Ia juga melihat puluhan warga kampung dengan gagang pendayung sampan mencoba menghalau para pembantai. Karena itu sebelum leher Azwar dipancung. Tentu saja warga kampung di ujung tanjung tak bisa membiarkan Azwar dibantai di depan mata mereka. Lalu parang-parang dan bayonet pun beradu dengan gagang pendayung. terperanjat mendengar teriakan-teriakan itu. di luar dugaan Siti. beberapa orang terhantam gagang pendayung sampan. Pada situasi yang semacam itu. bangau-bangau yang riuh mencericitkan semacam zikir itu lalu meliuk-liuk ke arah pembantai dan setiap liuknya menebarkan api. Beberapa orang tertebas parang. Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan.

Yang lain terbaring begitu saja di atas rumput sehingga sekujur tubuh berselimut embun. dan ternak terangkat. namun tetap terpegang erat di tempatnya. ke wilayah mana kami akan tamasya. kemudian memanggilnya Guru Tung. menyodorkan ajakan dan kepastian. tempat mencari keheningan dan pelepasan. Kicau burung. gedung. di hamparan yang kami sebut campuhan. Benda-benda. Saat itulah Siti melihat segala peristiwa yang mengerikan itu. Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara. agar bersua dengan kosong sejati. Siapa pun yang bisa meraih detik ketika tertidur. gunung. Dalam kosong kami bisa mendengar detik-detik terakhir kami di bumi. Niscaya ia bisa memilih saat melepas roh dari raga untuk mati. pada sekat tipis wilayah gemuruh dan sunyi. Jika sudah siap. dan desau angin. jernih dan jelas sumbernya. Siti hanya Batas Tidur Jika hendak tamasya. Guru Tung memberi aba-aba dengan helaan napas supaya kami bersujud pada sunyi. suara serangga. Ada yang nyaman telentang dalam bilik atau di emperan pondok yang menghadap ke sungai. Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua? Tak ada jawaban. Dan karena para pembantai itu berlarian tak keruan dan alhamdulillah Allah mengizinkan dan tak berhasrat membunuhnya dari kejauhan tampak seperti panah-panah api yang melesat menembus kegelapan malam. terayun-ayun seringan kapas. Kami mengenalnya begitu kami mulai berkumpul di lembah Astungkara. Siti bertanya. Kami pun dibimbing untuk menguasai aji batas tidur. Siti hanya tahu kampung pada akhirnya jadi sunyi kembali seperti tak pernah terjadi kekejaman agung yang tak tepermanai. dengan tiang-tiang dan sekat bilik dari kayu. rohnya melayang bisa melihat raga sendiri. laut. mengintip dengan perasaan dan . memusatkan lamunan pada bintang-bintang dengan rentang sekian juta tahun cahaya. ia akan tetap terjaga. terbentuk oleh pertemuan dua sungai: Tukad Telagawaja dan Tukad Tugtugan.pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar. pohon. Orang-orang kemudian menyebut tempat itu sebagai pedukuhan Astungkara. di pedukuhan itu kami berbaring terlentang menatap angkasa. yang sehari-hari sibuk mengurus kebun. Siti hanya melihat Azwar tertatih-tatih dengan luka di lambung dan leher yang terus mengucurkan darah berjalan ke arah masjid dan sisa-sisa kilatan api para bangau yang terus riuh mencericitkan semacam zikir menggores langit Oktober yang perih. Kami diminta memejamkan mata. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu. memohon pada hening dan sepi. Semua orang bisa memilih saat hendak istirahat tidur. kami akan pergi ke batas tidur. campuhan adalah lembah suci. beristirahat di gubuk beratap alang-alang. Jika hendak tamasya. Orang-orang memercayai. saat berada persis pada batas gelap dan terang. Seorang guru akan membimbing kami. tubuh pun melayang-layang. jambu. Beberapa tergolek nyaman di bawah pohon wani. ilmu sederhana tapi bukan main sulit mendapatkannya. Tapi. Batas-batas itu oleh Guru Tung diajarkan kepada kami sebagai peralihan antara terjaga dan tidur. Melihat tubuh para pembunuh menyala. Tak seorang pun tahu asal Sang Guru. atau durian. tak seorang tahu detik ketika ia tertidur. mangga. ujar Guru.

orang sakit parah tak tersembuhkan tak perlu sengsara karena bisa memilih hari kematian yang diinginkan tinimbang minum obat mahal tak kunjung menyembuhkan dan terus memiskinkan. . Kami merayakan perpisahan itu dengan tamasya bersama ke batas tidur. Pedukuhan Astungkara pun jadi terkenal. waktu mereka sempit. Kami yang menemani Dingkling tamasya segera masuk ke dalam kosong. datang belajar untuk mati dengan pertolongan ilmu batas tidur. Ketika Dingkling tak juga bergerak. sehingga kami bisa tamasya melayang-layang seringan kapas. seorang terpidana mati yang divonis tujuh tahun lalu. dikunjungi banyak orang dari berbagai benua dan pelosok negeri. tergesa-gesa. Kematian bukan lagi maut yang seram menakutkan dan merepotkan. Menjelang dini hari. bisa dihitung seperti bilangan. roh tak bisa kembali memasuki raga. membuat iri para pemilik wisata spiritual di hotel dan vila dengan menu tapayoga-semadi. untuk masuk ke dalam kosong. Karena berkelakuan sangat baik. lalu menggoyang-goyang dan menggeser raga kami untuk membangunkan. ia bisa dijabarkan dengan matematika. sehingga bisa menyadari detik terakhir terjaga. sedikit orang asing yang bisa ikut tamasya dengan bimbingan Guru Tung karena sebagai pelancong. Kendati kami belum menguasai ilmu batas tidur. Raga yang kami tinggalkan di bawah pohon. Menurut Guru Tung. sipir itu panik. tak pernah sanggup bersujud pada sepi. karena ia akan memilih mati teduh lewat batas tidur. terayun-ayun seringan kapas. Tadi malam Dingkling datang ke pedukuhan. Jika digeser. Kita angkat ke dalam. setengah menyeret tubuh diam itu. Tapi. Dingkling memilih berbaring menatap angkasa raya di bawah pohon leci.khayalan. Izinkan saya mampir ke pedukuhan Astungkar. Seperti rumus Phytagoras yang memudahkan orang membuat sudut sembilan puluh derajat setelah membuat kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-siku. untuk mendapat doa restu Guru Tung dan murid-muridnya. Ketika ditanya permintaan terakhir sebelum dieksekusi. bingung melihat kami terserak ketiduran. menggoyang-goyang tubuhnya. dalam bilik. Guru Tung bercita-cita menciptakan rumus aji batas tidur agar mudah dikuasai dan dihayati kapan pun oleh siapa saja. tak boleh dipindahkan dari kedudukannya. Tapi. Biasanya kami meminta bantuan satu atau beberapa orang untuk tidak ikut tamasya. di hamparan rumput. benda-benda terangkat mengambang. dengan gembira ia menjawab. Tak akan ada orang digencet sakit hati dan putus asa tewas gantung diri atau menenggak racun. gagal memohon pada sunyi dan hening. yang sering terjadi justru kami terlelap tanpa tahu jam dan detik berapa kami tertidur. ayo! teriak sipir yang kurus. ia sering diizinkan bermalam di pedukuhan Astungkara. karena siapa tahu tiba-tiba ada yang berkunjung. karena kematian adalah kepastian. dan akan menjadi malamnya yang terakhir karena dini hari ia akan berhadapan dengan regu tembak. namun sebuah pilihan yang kapan pun bisa diselesaikan sesuai keinginan. bertugas menjaga ketetapan posisi jasad kami. Tubuh pun melayang-layang. Di antara kami yang berhasil adalah Dingkling. Dua sipir siaga menjaganya penuh awas. dibimbing Guru Tung ikut tamasya bersama ke batas tidur. karena ditinggalkan peminat. dua sipir itu membangunkan Dingkling. di antara rentang akar-akar yang menyembul ke atas tanah. saat-saat menjelang tidur. Jika banyak orang menguasai aji batas tidur. Guru Tung selalu dengan senang hati membantu kami melepas roh dari raga. matilah orang itu. Bule-bule banyak di sini.

Pemimpin yang berkepala gundul menghampiri kami sembari berujar dengan datar. Lelaki berdestar dan pemimpin bersarung tertawa terbahak menyaksikan onggokan abu itu. hari sebentar lagi malam. penghuni pedukuhan Astungkara tengah menekuni ajaran sesat. Mungkin mereka menduga itu abu sisa pemujaan. Dosa besar kalau gurumu mengajarkan tentang semesta kepada kalian. Kami gemetar. Dingkling sudah pergi dengan damai. ujar Guru.Kami terjaga. Sudah sejak lama berembus kabar. Nyala obor yang diacung-acungkan kian terang karena petang akan sempurna. Bakarrrrr ! Bunuhhhhh ! teriak mereka sengit merangsek maju menerobos pagar tanaman. dia salah seorang tokoh yang punya vila dengan wisata spiritual tapa-yoga-semadi. berteriak-teriak kasar menantang dan mengumbar bermacam tuduhan. Kami masuk bilik menemui guru yang duduk bersila di lantai. Kami saling pandang karena tahu Dingkling tak bakal kembali. Empat pemimpin itu memasuki halaman. Di dalam. disiarkan televisi berulang-ulang. guru tak ada lagi. mari kita berdoa. Mereka berdua maju dan menendang . Seingat kami. jangan memelihara iblis dan setan! seru pemimpin yang bersarung. ujar pemimpin yang mengenakan jas dan berdasi. Kami masuk ke pondok diikuti empat pemimpin itu. siap dilempar ke pondok. Sekarang. mantan preman. Ikhlaskan. Banyak yang dikenal sebagai pemadat. berdesak-desak hiruk-pikuk sampai di tepi sungai. selebihnya menggenggam batu yang diambil dari sungai. Beberapa orang mengacungkan kelewang. Ia meninggal dalam tamasya batas tidur karena sipir memindahkan raganya dari bawah pohon leci ke dalam bilik. sengsara menunggu ajal. tenang. Biarkan mereka masuk. Guru menatap tubuh Dingkling yang lunglai di ubin. Kami hanya menemukan onggokan abu di tempat Guru tadi bersila. Gurumu boleh-boleh saja jadi pemimpin. dengan bibir sinis menyeringai. Tapi. gerombolan orang riuh di depan pedukuhan. pemakai narkoba yang kemudian mengidap AIDS. para penuduh itu punya kesempatan melampiaskan amarah. kami tercengang. Berita terpidana hukuman mati tewas di pedukuhan Astungkara beberapa jam menjelang eksekusi menjadi berita besar. tapi jangan menyesatkan umat. Katakan pada gurumu. sekarang saat menunjukkan siapa kita. pengikut empat pemimpin ini sungguh sangar dan berlumur dengki. merambat cepat lewat pesan singkat telepon seluler. kami menyongsong mereka dengan memaksakan keberanian. Mana Pak Pektung?! teriak pemimpin yang mengenakan destar melecehkan nama Guru. namun pasrah dan mencoba tenang. Orang-orang sangat meyakini itu karena yang datang ke tempat kami adalah kaum terbuang. manusia-manusia yang dikucilkan karena depresi menderita sakit tak tersembuhkan. tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada komandan karena kelalaian mereka membuat regu tembak yang sudah siaga urung bertugas. Bergegas kami bangkit dari tempat masing-masing di atas rumput dan bawah pohon. namun tak menyebut-nyebut kebesaran Tuhan. secepatnya kembali dari tamasya. Menjelang petang. Ada yang mengacung-acungkan obor. Dua orang sipir itu ternganga. dan bersahaja. ujar Guru lembut. Empat pemimpin mereka berdiri di pintu pagar pepohonan. Bakarrrrr ! Bunuhhhhh ! jerit mereka galak berulang-ulang. menghambur ke dalam bilik.

Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran. Kami akan terus di campuhan ini. agar bisa memilih sendiri hari mati. memohon pada hening dan sepi. akan membuat mereka gagap dan terbata-bata kalau bicara. Epitaf bagi Sebuah Alibi Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. ia akan menjadi seberkas cahaya yang bisa menampakkan diri. melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Aji batas tidur adalah jalan pelepasan. memusatkan lamunan pada bintang-bintang jutaan tahun cahaya. Lengking tawa bercampur gulungan debu beterbangan memenuhi bilik. moksa. menghadap ke atap. jika hendak bertemu Guru Tung. kami akan telentang menatap angkasa. Setelah itu. Guru Tung telah menjadi cahaya. Kami tahu yang seharusnya kami lakukan: segera telentang di lantai. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya. meresapi aji batas tidur. Setelah peristiwa petang itu. Tiba-tiba cahaya terang benderang menyilaukan menyergap. Sebagai anggota dewan yang lebih sering tampil di layar infotainment ketimbang menghadiri rapat komisi. menuju pembebasan yang sempurna. agar segera melayang masuk angkasa. Sekarang mereka tahu siapa kita. Dan yang tidak paham ketika berhadapan dengan peristiwa pelepasan akan terbakar. Telinga mereka mendenging. Romero sang legislator sudah semalaman begadang menyempurnakan daftar pertanyaan dengar pendapat yang akan ditayangkan langsung televisi swasta tempat Flayya bekerja. Kami mengerti. harus secepatnya memejamkan mata karena silau cahaya benderang itu akan merusak kornea. Guru Tung pernah bercerita. . Astaga! pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. Di tempat lain. tak sanggup melihat apa pun. Kami terperangkap dalam kilatan dahsyat cahaya. tuli. seperti usai gemuruh dentuman ledakan bom. sanggup bercakapcakap dengan siapa saja. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm. Kedua kaki lancipnya berlari menuju klinik 24 jam di lingkungan apartemen. kapan pun ia mau. buta.gundukan abu itu berulang-ulang sembari terus terbahak. Kami melihat Guru berdiri. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Rom sangat paham bahwa acara ini sebuah kesempatan emas untuk menyepuh popularitas. Kerongkongan tercekat oleh hawa panas. agar bisa bersua dengan kosong sejati. seperti empat pemimpin itu. tangan bersedekap di dada. memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. hidup kekal abadi. ujar Guru pelan. setengah jam bermobil jauhnya dari klinik. terus menggeliat. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. seseorang yang sempurna menguasai aji batas tidur. Dipandanginya lagi cermin. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi. Disambarnya jubah mandi. sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga. ia akan mengeluarkan energi panas membakar raga sendiri jadi abu. Isi perutnya bergolak. Abu terserak ke mana-mana. jika memilih saat untuk mati. bersujud pada sunyi. Mereka menjerit-jerit keluar halaman pedukuhan. sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. karena kornea mereka binasa oleh sergapan kilatan benderang cahaya. menggelepargelepar menahan panas pada mata. mencoba masuk ke dalam kosong.

Tak ada siaran langsung dengar pendapat dari gedung . Semalam dia makan bersama tiga narasumber tayangan talk show yang dipandunya di studio. infeksi lingkungan. Jadi mungkinkah? Dada mancung Fla bergemuruh. Tem ui ku @ Medici Int l hosptl. baru menyadari ada kedutan yang sama di sana.Tiba-tiba ujung matanya menangkap gerakan aneh di bibir cangkir kopi. atau akibat kontak mulut dengan orang lain yang sedang terjangkit. dengan degup jantung melebihi kecepatan mobil dinasnya melesat di jalan tol. Penyebabnya bisa dari makanan. diantar pulang tanpa mampir ke mana pun. Merosotnya kesehatan Guru Kalip membuat seluruh saluran televisi membatalkan acara yang sudah mereka programkan. ketika para bocah yang antre makan menjerit ngeri melihat tempat makan mereka dipenuhi ulat yang sempat mereka kira potongan cakwe. Guru Kalip masih bersemangat dalam acara talk show berjudul Mengupas Akar Korupsi Massal dan Erosi Moral yang dipandu Flayya. (2) Terjangkit infeksi lingkungan juga tak mungkin. Atau lebih tepatnya. Padahal semalam. Ada yang memberitakan heboh di sebuah TK. anak Muiz. Pemred bilang mbak segera check-up. Pandangannya menyusuri layar ponsel. asisten produser yang jarang bicara. Sinting! Muiz adalah Produser Eksekutif dan Gazi juru kamera. Dari Sekretariat Redaksi tempatnya bekerja: Mbak Fla. Lalu. ketika Rom mengelus perutnya semalam. Rom melongok isi cangkir kopi luwak itu. *** Dokter jaga tak bisa memberikan diagnosis akurat penyakit Fla. sebab sehabis siaran dia langsung pulang. bisa terjangkit penyakit serupa? Dua jam kemudian televisi berlomba-lomba memberitakan stop press yang tak lazim: penyakit misterius menyerang mulut warga. bagaimana pula Aline. Kalimat itu sudah cukup membuat Fla melakukan kalkulasi. pak Muiz terkena infeksi mulut serius. Dengan keduanya Fla tak pernah memiliki hubungan asmara. dan tak ada kabar mereka sakit. Dengan panik diambilnya ponsel. Kanal TV lain mewartakan kegemparan di sebuah kampus ketika dari mulut pengajar Filsafat Politik berhamburan ulat yang membuat banyak mahasiswi pingsan ketakutan. Saluran televisi tempat Fla bekerja menyajikan tayangan paling mencekam: Guru Kalip sekarat di ranjang rumah sakit. kauy ta akn percya. Rom mengetik pesan pendek. Kedut seekor ulat tengah berjuang mengangkat tubuhnya yang gendut. Ambil cuti dulu. (1) Dari makanan jelas mustahil. selain menebar sejumlah dugaan. Badannya sontak menggigil: isi cangkir tak ubahnya sauna ulat. Tak percaya. Juga mas Gazi & mbak Aline. Soon! Sebuah pesan pendek yang hancur lebur dan meledakkan cemas: Mungkinkah Rom juga terjangkit? Atau justru dirinya yang terinfeksi oleh lelaki beranak dua dari dua istri berbeda itu? Mereka memang sempat bertukar saliva dalam beberapa menit yang bergelora sebelum berpisah. Tak ada jawaban yang diharapkan dari seberang. menekan tombol panggilan cepat. Rom memasukkan jari telunjuk ke dalam mulutnya. Ponselnya kembali berdenting memberitahu pesan masuk yang baru. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa bencana pagi itu dimulai dari rumah Bagas. yang sempat tak mau sarapan kecuali disuapi sang ayah. menemukan notifikasi pesan pendek yang belum sempat dibacanya: dari Rom. Luv. katanya seperti mengutip buku teks.

di hadapan rakyat yang saya cintai. rumah sakit terus kebanjiran pasien dengan gejala serupa di bagian mulut. Ketika konflik sosial pecah di beragam tempat. ujar Guru Kalip. Baiklah saya ungkapkan di sini. Apalagi setelah dari menit ke menit. Mereka tak boleh dibunuh semena-mena. Guru Kalip juga yang menjadi tumpuan akhir banyak pihak. lidah itu harus dibuang. jawab sang istri. Awak media massa berlomba-lomba mewawancarai lusinan dokter ahli untuk mendapatkan informasi akurat tentang penyakit Guru Kalip. Hari ini kita kehilangan sosok luar biasa yang selalu jujur dalam bicara dan bertindak. Wali Negeri menyampaikan belasungkawa yang disiarkan langsung oleh seluruh saluran televisi. Pasti ada alasan mengapa Tuhan menempatkannya di lidah saya. muncul tuduhan-tuduhan tak bertanggung jawab bahwa sayalah yang sebenarnya membuat Guru Kalip jatuh sakit. Dua jam sebelum mentari bertengger di pucuk hari. meski harus mengorbankan keluarga dan orang yang kita cintai! . Warga dianjurkan tetap di rumah. Sesaat kemudian jiwanya bercerai dari badan. Negeri kita karam dalam duka mendadak yang lebih perih dari segala pedih penyebab sedih. muncul keterangan resmi dari Wali Negeri bahwa bencana nasional sedang terjadi. hingga tak sedikit yang menjulukinya sebagai Mercusuar Nurani Bangsa . Tiga ekor ulat mendadak nemplok di layar televisi. Yang membuat saya. Tim dokter memutuskan. karena Guru Kalip adalah guru dari semua guru yang pernah mengajar anggota Dewan. Ulat-ulat itu juga hamba Tuhan yang harus disayangi dengan cinta sejati. Mengira dirinya berhalusinasi. di setiap tempat. karena jijik dan mual melihat gerombolan ulat yang seakan tak ada habisnya di dalam mulut tua yang. Saya nyatakan itu tidak benar! ujar Wali Negeri dengan suara menggelegar. Wartawan yang mewawancarai istri Guru Kalip hanya mendapatkan jawaban singkat Ulat-ulat itu baru muncul kemarin. Apa maksudnya? tanya wartawan yang merekam wajah Sang Guru dari kejauhan. anehnya. Guru Kalip menolak dengan alasan yang membuat alis para dokter melengkung keheranan. Akibatnya. Kebenaran akan mengungkapkan dirinya sendiri. Hal terpenting yang saya sampaikan kepada Guru Kalip adalah untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa hukum dan keadilan harus dijunjung tinggi. Fla memindahkan saluran ke kanal berbeda dan melihat Wali Negeri sedang mengepalkan tangan dengan suara membahana. Lidahnya sudah membusuk sampai ke pangkal. Tiga jam berikutnya pemakaman Guru Kalip dimulai dengan tembakan salvo dan rangkaian acara kenegaraan. lebih bersedih hati adalah karena munculnya desasdesus bahwa penyakit misterius Guru Kalip muncul beberapa saat setelah Guru bertemu empat mata dengan saya. mengikuti perkembangan keadaan melalui televisi dan sebuah situs web. Keadaan Guru Kalip kian memburuk. Wali Negeri. selalu tersenyum itu. seperti Tuhan pernah menempatkan mereka bertahun-tahun di kulit Ayub manusia mulia. setelah pagi harinya Guru Kalip bertemu empat mata dengan Wali Negeri. Kepanikan langsung menggila karena dokter terahli pun masih belum tahu wabah yang terjadi. katanya dengan ekspresi seperti sedang berdeklamasi. bahwa yang saya sampaikan kepada Guru Kalip hanyalah imbauan agar selalu menyampaikan kebenaran setiap saat.Parlemen. Itu fitnah tak bertanggung jawab! Flayya yang sudah tergolek lemah di ranjang rumah sakit terbelalak ketika melihat seekor ulat melayang dari mulut Wali Negeri yang sedang merintih sedih.

seorang perempuan dengan seragam pegawai negeri yang seperti sudah waktunya pensiun. hmm. Hueeeeeekkk! Perutnya mual. Tetapi ulatulat laknat di dalam mulutnya yang terus menggeliat sudah mengunyah lebih dari separuh lidahnya. Siti pernah diajari caranya menulis naskah sandiwara dalam eks-kul. ketika menteri yang rambutnya tak boleh tertiup angin itu sudah berujar dengan kesal melihat tumpukan surat tersebut. bagaikan tiada lagi yang bisa lebih mual. Dia tak bisa lagi berkata-kata mesti begitu ingin. Guru Kalip akan memimpin pernikahan kita. Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget! Kenape emang? Tanya Ira. Tidakkah itu menjadikanmu sebagai perempuan paling berbahagia di muka bumi ini. Emang elu bunting Sit? Ira main ceplos aje ketika melihatnya. Ia belum lagi membuka mulut. Dicobanya lagi untuk mengeluarkan suara. Fla hampir mematikan televisi ketika melihat sebaris teks berjalan: Legislator Romero meninggal dunia dengan gejala yang sama seperti dialami Guru Kalip. hatinya berdarah. Setelah anak kita ini lahir Fla. begitu mual. Cinta? Karangan Bunga dari Menteri Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini. Mata perempuan seindah mutiara itu langsung membasah. Empeeeeeeeeeetttt banget!! Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit? Di tengah pesta nikah putrinya. semakin memenuhi layar televisi yang hanya menyisakan sedikit bidang bersih. seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya. . Namun yang datang hanyalah kenangan saat Romero mengelus perutnya semalam. Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu. membawa tumpukan surat yang sudah dipilahnya ke ruangan menteri.Puluhan ulat berukuran besar dan kecil terus beterbangan dari mulut Wali Negeri selama dia bicara. tau? Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie! Usia 50. di gedung pertemuan termewah di Jakarta. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel. dan Wali Negeri sudah bersedia menjadi saksi. jadi sedikit-sedikit ia bisa menggambarkan adegan di kantor seorang menteri seperti berikut. 25 tahun perkawinan. Bikin muntah? Yo-i! Bikin muntah . Marah dan jijik melihat ulat-ulat terus menggeliat ke mana pun dia memindahkan saluran. Meski sebegitu jauh tiada sesuatu pun yang bisa dimuntahkannya. hanya kau satu-satunya perempuan yang tercatat dalam akta nikahku. Siti merasa perutnya mual. Ingin rasanya dia berteriak menuntut kepada Tuhan agar kekasihnya kembali dihidupkan. Seorang sekretaris tua. Bagaimana tidak bikin muntah coba! Nah! Pegimane? *** Waktu masih SMU. sohibnya.

Tidak tahu apa? Menteri itu memang seperti bertanya. Baginya. Bapak tidak ingin tahu siapa-siapa saja yang mengundang? Huh! . Bapak muntah? Menteri yang kini rambutnya seperti baru tertiup angin kencang. Sudah lima menteri silih berganti memanfaatkan pengalamannya. bukan sahabat apalagi kerabat. tetapi menteri itu sudah bergegas lari ke toilet pribadinya. Belum habis tumpukan kartu undangan itu ditengok. yang tentu saja tidak bisa berjalan jika tidak ditandatanganinya. sehingga ada kalanya ia memang seperti ngelunjak. Pengalaman melayani lima menteri sejak zaman Orde Baru. kapan bisa mengejar Jepang? Perempuan tua itu tersenyum dingin sembari memungut kartu-kartu undangan pernikahan yang berserakan di mana-mana. jawabnya. Musim kawin? Jaing kali ! Namanya juga menteri reformasi. Hadir? Untuk apa? Cuma foto bersama terus pergi lagi begitu. kok masih di sini Bu? Kan Bapak belum bilang mau menghadiri undangan yang mana. bukan sanak bukan saudara. tapi justru waktu malam itulah sebenarnya gue bisa ngelembur dengan agak kurang gangguan. cuma kenal gitugitu aja. Mereka pikir gue kagak punya kerjaan apa ya? Memang acaranya selalu malam. meski hanya ada angin dari pendingin udara di ruangan itu. Bapak itu seperti pura-pura tidak tahu saja . membasuh air di matanya dengan tissue. seperti biasanya? Kirim karangan bunga saja? Iyalah. Ah. kite-kite disuru dateng setiap kali ada yang anaknya kawin. melainkan beberapa menteri! Ia ingin mengatakan sesuatu. Dari luar perempuan berseragam pegawai negeri itu seperti mendengar suara orang muntah. Heran. mengapa sebuah acara keluarga seperti pernikahan itu begitu perlunya dihadiri seorang menteri.Hmmmhh! Lagi-lagi undangan kawin? Kan musim kawin Pak. tapi wajahnya tak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Jadi. Satu per satu dilemparkannya dengan kesal. kalau menteri-menterinya nggak kerja lembur. Masa Bapak tidak tahu? Coba Ibu saja yang bilang! Perempuan berseragam pegawai negeri itu hanya tersenyum bijak dan menggeleng. Sayang sekali tidak. membuatnya cukup paham perilaku manusia di sekitar para menteri. Ia terus saja mengomel sambil menengok tumpukan kartu undangan yang diserahkan itu. menteri reformasi ini pun tentunya tahu belaka. sang menteri menaruhnya seperti setengah melempar ke mejanya yang besar dan penuh tumpukan berkas proyek. kata menteri itu seperti ngedumel lagi. sahut sekretaris tua itu dengan cuek. doi sudah empet dengan basa-basi. Negeri kayak gini. Hueeeeeeekkkk!!! Perempuan itu masih tetap berada di sana ketika menteri tersebut muncul kembali dengan mata berair. bahkan kalau perlu bukan hanya seorang. Ngepet bener.

Ia merasa bersyukur karena sekretaris tua yang tiba-tiba muncul lagi itu tidak mendengarnya. akan berdatangan dengan derap langkah maju tak gentar diiringi genderang penjilatan. Lantas karangan bunga empat persegi panjang yang besar. Tepatnya dipameri. Bukan. Satu per satu karangan bunga itu akan diurutkan di depan atau di samping kiri dan kanan pintu masuk sesuai urutan kedatangan. Pertama tentu pesanan kepada pembuat karangan bunga.Sekretaris tua itu segera menghilang ke balik pintu. dan dari siapa lagi jika bukan dari Menteri Negara Urusan Kemajuan Negara Bapak Sarjana Pa. hanya mengotorngotori dan memakan tempat. memasuki halaman gedung pernikahan yang telah menjadi saksi segala kepalsuan. Karangan bunga? Hmm. Pake nanya lagi! *** Seperti penulis skenario film. Maksudnya tentu bukan ikebana yang artistik karena sentuhan rasa. agar bapak menteri yang terhormat sudi datang ke acara pernikahan anak mereka. beriringan. agar pokoknya ada seorang menteri menghadiri pernikahan mereka? Jelas tidak! Menteri itu terkejut mendengar suaranya sendiri. tanpa risiko kalah sama sekali. Ini juga berarti para pengundang seperti berjudi. Karangan bunga untuk pamer. maupun berurutan. yang datang karangan bunganya pun jadi! . dan kesemuan dunia dari hari ke hari sejak berfungsi secara resmi. dalam jumlah yang banyak dari segala arah. Kadang-kadang orang yang mengawinkan anak ini tak cukup hanya mengirim undangan. dan genderang basa-basi seperti karangan bunga yang datang dari para menteri. tak jadi soal benar jika tidak dihadiri menteri. asal para tamu melihat sendiri. Menteri itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis mengerti. Apakah pengantin itu yang telah memohon kepada orangtuanya. pamer. bahwa memang ada karangan bunga dari menteri. memble.L (Sarjana Asal Lulus) Direktur PT Sogok bin Komisi & Co. karena meski yang diundang adalah sang menteri. yang berbunyi SELAMAT & SUCCESS ATAS PERNIKAHAN PAIMO & TULKIYEM. putra-putri Bapak Pengoloran Sa. pikir Siti.B (Pokoknya Asal Bergelar). boros sekaligus mubazir. tapi diarahkan untuk mengetahui. Siti jadi mengerti. Ini karangan bunga tanpa karangan. berbarengan. Tetap sahih meskipun buruk rupa. Siti bisa membayangkan adegan-adegan selanjutnya. Mau menggunakan dana apa? Menteri itu menggertakkan gerahamnya. kebohongan. Ya kenapa? Menteri itu melihat sekilas senyum merendahkan dari perempuan berseragam pegawai negeri tersebut. melainkan datang sendiri melalui segala saluran dan berbagai cara. Ya. demi perjuangan untuk mengundang dengan terbungkuk-bungkuk. agar para tamu resepsi bisa ikut mengetahui siapa sajakah kiranya yang berada dalam jaringan pergaulan sang pengundang. Apa lagi Bu? Karangan-karangan bunga untuk semua undangan tadi . karena yang penting adalah tulisan dengan aksara besar sebagai ucapan selamat dari siapa. genderang ketakutan untuk disalahkan. yang sepintas lalu sederhana. Bukan ikut mengetahui. tetapi mengarahkan pembayangan secara luar biasa.

Dengan terharu. Emang elu bunting. Ah. atau setidaknya mengirimkan karangan bunga yang sama-sama buruk dan sama-sama mengotori seperti itu. Yang ini ditaruh di mana Pak? Siti melihat seorang pekerja bertanya tentang karangan bunga dari Sinta. karena ia merasa sepantasnyalah kelak membalasnya dengan ucapan terima kasih. Itulah. setelah 25 tahun pernikahan. antara lain juga karena tiba paling awal. Ia mengawasi sendiri. meski hanya tanda tangan menteri dapat membuat proyeknya menggelinding. nyaris di dekat pintu masuk ke tempat parkir di lantai dasar. nama perusahaan atau kementerian dan gelar berderet. Di sana memang hanya tertulis: dari Sinta. mengirim karangan bunga seperti itu. memerintahkan sejumlah pekerja untuk mengambilnya. yang agak gusar melihat tiga karangan bunga dari tiga menteri saling terpencar dan berada jauh dari pintu masuk. tetapi sudah jelas bahwa menteri yang mana pun bukanlah kawan apalagi sahabat dari suaminya itu. Tiga karangan bunga dari menteri. Maka. agar terjamin bahwa ketika melewati pintu masuk. Ia mencatat dari siapa saja karangan bunga itu datang. Tentu pernah juga mereka berdua berada dalam suatu rapat bersama orang-orang lain. sahabatnya yang sederhana. saat karangan-karangan bunga itu datang. karena datangnya cukup siang. bukan nama-nama dengan embelembel jabatan. setiap tamu yang datang akan menyaksikan betapa terdapat kiriman karangan bunga dari tiga menteri. Namun ketika suaminya datang memeriksa. Siti menaruh karangan bunga dari Sinta di dekat pintu. berada jauh di urutan belakang. Mengirim karangan bunga karena merasa dekat dan betulbetul tidak bisa datang. Siti tentu saja tahu suaminya telah mengundang tiga orang menteri. Terserahlah di mana! Pokoknya jangan di sini! Siti melihat suaminya dari jauh. Siti telah mengaturnya sesuai urutan kedatangan. Sinta. Sama sekali bukan. atau mengusahakan datang jika diundang pihak yang mengirim karangan bunga. Suaminya hanya kenal baik dengan para pembantu menteri tersebut.Begitulah. dari Sinta! Ternyata ada juga yang tulus. bagi Siti pun karangan bunga dari menteri itu tidak harus lebih istimewa dari karangan bunga lainnya. masih ada yang ternyata belum dikenalnya. dan pasti telah menyisihkan uang belanja agar dapat mengirimkan karangan bunga itu kepadanya. cukup sederhana untuk mengira karangan bunga empat persegi panjang seperti itu indah. Suaminya juga minta dipotret di depan ketiga karangan bunga itu! Ia merasa mau muntah. Sit? . yang proyek-proyek kementeriannya sedang ditangani perusahaan suaminya itu. Suaminya. Siti terpana melihat perilakunya. dalam pesta pernikahan putri mereka. sahabat Siti semasa SMU. Hueeeeeeeeeekkkk!!! *** Itulah yang terjadi saat Ira bertanya.

seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan. dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing. dia maju satu langkah lagi. dia merasakan kehangatan. Benar. sesuatu yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hijau. Hmm tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Namun perlahan lahan. Terbawa oleh nafsu. kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang. Dia merintih menyesali nasibnya. menjilati. dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah kita . seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung. dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung. salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau. dia hanya berdiri. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya. si burung bernyanyi dan menari kegirangan. pelan pelan dia merasakan kesejukan udara. Namun apa yang terjadi kemudian. makin lama makin tebal. penampilan acap menjadi ukuran. Si burung pipit berteriak kegirangan. mencari udara yang selalu dingin dan sejuk. seekor anak kucing menghampiri sumber suara. Begitu bulunya bersih. Si kerbau tidak banyak bicara. dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. terbang jauh ke utara. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas. dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. Mendengar suara rintihan. yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya. dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Mendengar ada suara burung bernyanyi. dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara. salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. mengulurkan tangannya. dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. Sampai ke tanah. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. bernyanyi keras sepuas puasnya. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa.Cermin seekor Burung Ketika musim kemarau baru saja mulai. makin ke utara makin sejuk.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->