Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MAKALAH FARMAKOLOGI DASAR

Disusun Oleh : Ni Putu Padmaningsih (108114009) Rita Della Valentini (108114012) Rotua Winata Nopelia Silitonga (108114013) Tirzayana A. Tarawatu (108114028) Angelina Pangala (108114032)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Tujuan terapi obat adalah mencegah, menyembuhkan atau mengendalikan berbagai keadaan penyakit. Untuk mencapai tujuan ini, dosis obat yang cukup harus disampaikan kepada jaringan target sehingga kadar terapeutik ( tetapi tidak toksik) didapat. Dokter klinik harus mengetahui bahwa kecepatan awitan kerja obat, besarnya efek obat dan lamanya kerja obat dikontrol oleh empat proses dasar gerakan dan modifikasi obat di dalam tubuh ( Mycek, 1997 ). Pertama, absorpsi obat dari tempat pemberian obat memungkinkan masuknya obat tersebut ( secara langsung atau tidak langsung ) ke dalam plasma ( input). Kedua, obat tersebut kemudian bisa secar reversible meninggalkan aliran darah dan menyebar ke dalam cairan intestisial dan intraselular ( distribusi ). Ketiga, obat tersebut bisa dimetabolisme oleh hati, ginjal, atau jaringan lainnya. Akhirnya, obat dan metabolitnya dieliminasi dari tubuh (output ) di dalam urin, empedu, atau tinja ( Mycek, 1997 ). Baik absorpsi, distribusi, metabolisme, maupun masuknya obat tersebut melewati membran sel. Membran plasma tersusun atas lipid ganda dengan rantai hidrokarbon menghadap ke bagian dalam lapisan ganda untuk membentuk fase hidrofobik kontinu dan gugus hoidrofilik menghadap keluar. Protein protein membrane yang tertempel pada lapisan ganda bertindak reseptor, saluran ion, dan penghantar jalur jalur sinyal elektri dan kimia; banyak dari protain ini merupakan target target dari obat obatan. Membrane sel relative permeable terhadap air dan aliran air yang besar dapat membawa serta molekul obat berukuran kecil ( < 200 Da ) ( Goodman, 2008 ). ekskresi suatu obat mencakup

MANFAAT
Adapun manfaat yang diharapkan dari penulisan makalah ini selain memenuhi tugas dari Dosen Mata Kuliah, juga bertujuan untuk memberi masukan ilmu pengetahuan bagi semua khalayak pada umumnya dan khususnya bagi penulis pribadi sehingga kedepannya dapat lebih mengetahui mekanisme transport obat didalam tubuh.

RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja jenis jenis transport obat melalui membrane biologis dan contoh obatnya ? 2. Bagaiman cara pemberian obat secara perenteral dan contoh obatnya ?

BAB II ISI

A. Transport Obat Melalui Membran Biologis


Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umumnya mengalami berbagai cara pemberian umumnya mengalami absorbs, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tidak menggunakan biotransformasi , obat disekresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut proses farmakokinetuik dan berjalan serentak ( Tanu, 1995 ). Di dalam tubuh manusia obat harus menembus barier sel di berbagai jaringan. Pada umumnya obat melintasi lapisan sel ini dengan menembusnya,bukan dengan cara melewati celah antar sel, kecuali pada endotel kapiler. Karena itu peristiwa terpenting dalam proses farmakokinetik adalah transport lintas membran ( Tanu, 1995 ). Membrane sel terdiri dari dua lapis lemak yang membentuk fase hidrofilik di kedua sisi membrane dan fase hidrofobik diantaranya. Molekul-molekul yang tertanam di kedua sisi membrane atau menembus membrane berupa mozaik pada membrane. Molekul-molekul protein ini membentuk kanal hirofilik untuk transport air dan molekul kecil lainnya yang larut dalam air ( Tanu, 1995 ). Cara-cara transport obat lintas membrane yang terpenting adalah difusi pasif dan transport aktif yang terakhir melibatkan komponen-komponen membrane sel dan membutuhkan energi. Sifat fisiko-kimia obat yang menentukan cara transport ialah bentuk dan ukuran molekul kelarutan dalam air, derajat ionisasi dan kelarutan dalam lemak ( Tanu, 1995 ). Kebanyakan obat berupa elektrolit lemah yakni asam lemah atau basa lemah. Dalam larutan elektrolit lemah ini akan terionisasi. Derajat ionisasi ini tergantung dari pKa obat dan pH larutan. Bentuk non ion umumnya larut baik dalam lemak sehingga mudah berdifusi melintasi membrane. Sedangkan bentuk ion sukar melintasi membrane karena sukar larut dalam lemak. Pada taraf mantap kadar obat dalam

bentuki non-ion saja yang sama dikedua sisi membrane, sedangkan kadar obat bentuk ion tergantung dari perbedaan pH di kedua membrane ( Tanu, 1995 ). Membrane sel merupakan membrane semi permiabel, yang artinya hanya dapat dirembesi air dan molekul-molekul kecil. Air berdifusi atau mengalir melalui kanal hidrofilik pada membrane akibat perbedaan tekanan hidrostatik maupun tekan osmotic. Bersama aliran air akan terbawa zat-zat terlarut bukan ion yang berat molekulnya kurang dari 100-200. hidrofilik bersama air ( Tanu, 1995 ). Transport obat melintasi endotel kapiler terutama melalui celah-celah antar sel, kecuali di sumsum syaraf pusat. Celah antar sel endokapiler demikian besarnya sehingga dapat meloloskan semua molekul yang berat molekulnya kurang dari 69.000 ( BM albumin ), yaitu semua obat bebas termasuk yang tidak larut dalam lemak dan bentuk ion sekalipun. Proses ini berperan dalam proses absorpsi obat setelah pemberian parenteral dan dalam filtrasi lewat membrane glomerulus di ginjal ( Tanu, 1995 ). Meskipun berat atomnya kecil, ion anorganik ukurannya membesar karena mengikat air sehingga tidak dapat melewati kanal

a. Difusi pasif
Perpindahan obat/senyawa dari kompartemen yang berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah merupakan mekanisme transport sebagian besar obat Tenaga penggerak difusi pasif dari suatu obat adalah perbedaan konsentrasi yang melewati suatu membran yang memisahkan dua kompartemen tubuh yaitu obat tersebut bergerak dari suatu bagian yang konsentrasinya tinggi ke konsentrasi yang rendah. Difusi pasif tidak menggunakan suatu karier , tidak ada titik jenuh dan kurang menunjukkan spesifitas struktural. Sebagian besar obat-obat masuk kedalam tubuh dengan mekanisme ini. Obat-obat yang larut dalam lemak mudah bergerak menembus kebanyakan membran-membran biologi , sedangkan obat-obat yang larut dalam air menembus membran sel melalui saluran aqua (Mycek, 1997). Umumnya absorbsi dan distribusi obat terjadi secara difusi pasif. Mula- mula obat berada dalam larutan air pada permukaan membrane sel, kemudian molekul obat akan melintasi membrane dalam melarut dalam lemak membrane. Pada proses ini obat bergerak dari sisi yang kadarnya lebih tinggi ke sisi lain. Setelah taraf mantap

(steady state) dicapai kadar obat bentuk non-ion kedua sisi membrane akan sama ( Tanu, 1995 ). Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan difusi pasif adalah vitamin B12, elektrolit organic lemah ( asam, basa ), nonelektrolit organic, glikosida jantung.

b. Transpor aktif
Perpindahan obat/senyawa dari kompartemen yang berkonsentrasi rendah ke konsentrasi tinggi membutuhkan energi dan protein pembawa/carrier mekanisme transport obat-obat tertentu Cara masuk obat ini melibatkan protein-prorein karier utama yang terentang pada membran sel. Sejumlah kecil obat yang strukturnya sangat mirip dengan metabolit-metanolit alamiah ditranspor secara aktif melewati membran sel dengan menggunakan protein-protein karier yang khusus ini. Transpor aktif tergantung energi dan dijalankan oleh hidrolisis adenosin trifosfat. Transpor aktif mampu membawa obat melawan suatu concentration-gradient , yaitu dari bagian yang konsentrasinya rendah ke bagian yang konsentrasinya lebih tinggi. Proses ini menunjukkan titik jenuh suatu kecepatan maksimum pada kadar substrat yang tinggi ketika ikatan ke enzim tersebut sudah maksimal (Mycek, 1997). Transport obat secara aktif biasanya terjadi pada sel syaraf, hati dan tubuli ginjal. Proses ini membutuhkan energy yang diperoleh dari aktiitas membrane itu sendiri, sehingga zat dapat bergerak melawan perbedaan kadar atau potensial litrik. Selain dapat dihambat secara kompetitif, transport aktif ini bersifat selektif dan memperlihatkan kapasitas maksimal dapat mengalami kejenuhan. Beberapa obat bekerja mempengaruhi transport aktif zat-zat emdogen dan transport aktif suatu obat dapat pula dipengaruhi oleh obat lain ( Tanu,1995 ). Transpor aktif memerlukan input energi dan mentranspor solut melawan gradien elektrokimianya, sehingga menghasilkan terbentuknya konsentrasi solut pada salah satu sisi membran plasma dan terciptanya energi potensial pada gradien elektrokimia. Transpor aktif berperan penting dalam ambilan dan efluks obat dan solut lainnya. Berdasarkann pada gaya dorongnya, transpor aktif dibagi menjadi transpor aktif primer dan sekunder.

1. Transpor Aktif Primer Transpor aktif primer merupakan transpor membran yang secara langsung berpasangan dengan ATP terhidrolisis. Trasnsporter ABC merupakan contoh transpor aktif primer. Transporter aktif tersebut mengandung satu atau dua ATP binding cassette cadangan untuk menghasilkan aktivitas ATPase. Trasnporter ABC memperantarai efluks satu arah berbagai solut melewati membran biologis (Goodman, 2008). 2. Transpor aktif sekunder Pada transpor aktif sekunder, transpor melaui membran plasma suatu solut S1 melawan gradien konsentrasinya dipengaruhi energinya oleh transpor solut S2 lain yang sesuai dengan gradien konsentrasinya. Oleh karena itu, gaya dorong untuk tipe transpor ini tersimpan dalam potensial elektrokimia yang dibentuk oleh perbedaan konsentrasi S2 melewati membran plasma. Berdasarkan arah transpor solut, transpor aktif sekunder diklasifikasikan menjadi simporter atau antiporter. Simporter , juga dikenal dengan kotransporter, mentranspor S2 dan S1 pada arah yang sama, sedangkan antiporter, yang dikenal juga dengan penukar, membawa substratnya ke arah yang berlawanan (Goodman, 2008). Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan transport aktif adalah Penisilin dan Asam Askorbat, borpsi ion Na, I, Fe, dan Ca, monosakarida ( heksosa ), asam amino, senyawa fosfat organic, senyawa basa pirimidina, vit B, hormone kelamin ( androgen, estrogen, testosterone, ectradiol ), 5 fluorourasil.

c. Difusi terfasilitasi
Difusi terfasilitasi ialah suatu proses transport yang terjadi dengan bantuan suatu faktor pembawa atau carrier yang merupakan komponen membrane sel tanpa menggunakan energy sehingga tidak dapat melawan perbedaan kadar maupun potensial listrik. Proses ini, yang juga bersifat selektif, terjadi pada zat endogen yang transportnya secara difusi biasa terlalu lambat, missalnya untuk masuknya glukosa ke dalam sel perifer. Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan difusi terfasilitasi adalah Asam dehidroaskorbat, absorpsi Vitamin B12.

d. Pinositosis
Pinositosis ialah cara transport dengan membentuk esikel, misalnya makromolekul seperti protein. Jumlah obat yang diangkut dengan cara ini sangat sedikit. Pinositosis merupakan suatu proses perlintasan membran oleh molekulmolekul besar dan terutama oleh molekul yang tidak larut. Perlintasan terjadi dengan pembentukan vesikula (bintil) yang melewati membran. Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan pinositosis adalah vitamin A,D,E, dan K, asam lemak, asam amino, telur parasit, vaksin polio secara oral.

e. Transport Konvektif ( TK )
Filtrasi atau yang disebut juga difusi secara konvensi adalah mekanisme penembusan pasif melalui pori-pori suatu membran. Semua senyawa yang berukuran cukup kecil dan larut dalam air dapat melewati kanal membran. Sebagian besar membran (membran seluler epitel usus halus dan lain-lain) berukuran kecil ( 4-7 ) dan hanya dapat dilalui oleh molekul dengan bobot molekul yang kecil yaitu lebih kecil dari 150 untuk senyawa yang bulat, atau lebih kecil dari 400 jika molekulnya terdiri atas rantai panjang . Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan transport konvektif adalah obat yang larut dalam air yaitu vitamin B dan C, sulfonamidaterionisasi.

f. Transport Pasangan Ion ( TPI)


Transpor oleh pasangan ion adalah suatu cara perlintasan membran dari suatu senyawa yang sangat mudah terionkan pada pH fisiologik. Perlintasan terjadi dengan pembentukan kompleks yang netral ( pasangan ion ) dengan senyawa endogen seperti musin, dengan demikian memungkinkan terjadinya difusi pasif kompleks tersebut melalui membrane.

Contoh obat yang mekanisme transportnya menggunakan transport pasangan ion adalah Propanol - asam Oleat, Kinin heksisalisilat.

B. Mekanisme Pemberian Obat Secara Perenteral


a. Oral
Memberikan suatu obat melalui mulut adalah cara pemberian obat yang paling sering, tetapi juga paling bervariasi dan memerlukan jalan yang paling rumit untuk mencapai jaringan. Beberapa oabat diabsorpsi di lambung; namun, duodenum sering merupakan jalan masuk utama ke sirkulasi sistemik karena permukaan absorpsinya yang lebih besar. Kebanyakan obat diabsorpsi dari saluran cerna dan masuk ke hati sebelum di sebarkan ke sirkulasi umum. Metabolisme langkah pertama oleh usus atau hati membatasi evikasi banyak obat ketika diminum per oral. Sebagai contoh, lebih dari 90% Nitrogliserin dihilangkan pada saat satu kali melewati hati. Minum obat bersamaan dengan makanan dapat mempengaruhi absorpsi. Keberadaan makanan dalam lambung memperlambat waktu pengosongan lambung sehingga obat yang

dihancurkan oleh asam, misalnya Penicillin menjadi rusak dan tidak di absorpsi. Salut enteric suatu obat melindungi obat dari lingkungan yang asam dan

bisa mencegah iritasi lambung. Tergantung pada formulasi, pelepasan obat bisa diperpanjang, menghasilkan suatu preparat lepas lambat ( MyCek, 1997 ). Kerugiaan pemberian rectal ialah banyak factor mempengaruhi bioavaibilitasnya, obat dapat mengiritasi saluran cerna, dan perlu kerjasama dengan penderita; tidak bisa dilakukan bila pasien koma ( Tanu, 1995 ).

b. Sublingual
Penempatan dibawah lidah memungkinkan obat tersebut berdifusi ke dalam anyaman kapiler dan arena itu secara langsung masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Pemberian suatu obat dengan rute ini mempunyai keuntungan obat melakukan by pass melewati usus dan hati dan tidak di inaktivasi oleh metabolisme ( MyCek, 1997 ).

c. Rektal
50 % aliran darah dari bagian rectum memintas sirkulasi portal; jadi, biotranformasi obat oleh hati di kurangi. Rute sublingual dan rectal mempunyai keuntungan tambahan, yaitu mencegah penghancuran obat oleh enzim usus atau ph rendah dalam lambung. Rute rectal tersebut juga berguna jika obat menginduksi muntah ketika diberikan secara oral atau jika penderita sedang muntah muntah. Rute rectal juga sering digunakan untuk memberikan obat anti muntah ( MyCek, 1997 ). Obat dapat diberikan melalui dubur untuk supositoria lokal mereka efek misalnya. Obat juga diserap bila diberikan oleh kekalahan administrasi yang lebih diterima secara budaya di Perancis dan Italia daripada di Inggris untuk efek sistemik mereka daripada tindakan lokal mereka. Keuntungan berikut telah diklaim untuk kekalahan dubur administrasi ( Ritter, 1999 ). 1. 2. 3. 4. Paparan keasaman asam lambung dan enzim pencernaan dihindar. Sirkulasi portal ini sebagian dilewati, sehingga mengurangi metabolisme presystemic. Rute ini dapat digunakan pada pasien yang tidak bisa menelan atau muntah. Durasi kerjanya mungkin bisa diperpanjang Diazepam rektal berguna untuk mengendalikan kejang-kejang ketika tidak mungkin untuk membangun akses vena selama status epileptikus (seperti yang

sering terjadi pada anak). Metronidazol ini diserap dengan baik bila diberikan rektal, dan lebih murah daripada persiapan intravena. Rektal kadang-kadang digunakan untuk memastikan penyerapan nokturnal obat (misalnya indometasin untuk kekakuan pagi rheumatoid arthritis), atau ketika obat ini kurang diserap ketika diberikan melalui mulut (misalnya ergotamine selama serangan migrain), tetapi ada alternatif biasanya lebih dapat diandalkan , dan obat yang diberikan secara rektal dapat menyebabkan iritasi lokal parah ( Ritter, 1999 ).

d. Bucal
Obat yang diberikan untuk ditahan di dalam mulut untuk gangguan lokal dari faring atau mukosa bukal seperti maag aphtous (hidrokortison lozenges atau gel carbenoxelone) atau thrush (pelega nistatin) ( Ritter, 1999 ). Administrasi sublingual adalah cara yang efektif menyebabkan efek sistemik, dan memiliki keunggulan yang berbeda dari pemberian oral untuk obat dengan metabolisme presystemic, menyediakan akses langsung dan cepat ke sirkulasi sistemik, melewati usus dan hati. Trinitrat gliseril dan buprenorfin diberikan sublingual karena alasan ini. Trinitrat gliserin diambil baik sebagai tablet atau sebagai subilingual semprotan. Administrasi Subilingual memberikan jangka pendek penyihir efek dapat dihentikan dengan menelan tablet. Tablet untuk penyerapan bukal memberikan konsentrasi plasma yang lebih berkelanjutan dan diadakan di satu tempat antara bibir dan gusi sampai mereka dibubarkan ( Ritter, 1999 ).

Oral Sublingual

Asetaminofen untuk menurunkan panas Nitrogliserin untuk pengobatan segera gejala angina pektoris Isoproterenol untuk melebarkan bronkiolus pada penyakit asma

Bukal

Pitocin untuk merangsang proses konstruksi

uterus selama persalinan Rektal supositoria bisacodyl untuk meringankan sembelit dengan stimulasi lokal peristaltik refleks: supositoria aspirin untuk mengurangi demam dengan aksi sistemik ( Eisenhauer, 1998 ).

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Mekanisme transpor obat melalui membran biologis ada enam macam yaitu : a. Difusi Pasif b. Transpor aktif c. Difusi terfasilitasi d. Pinositosis e. Transpor konvektif f. Transpor Pasangan Ion 2. Salah satu cara pemberian obat yaitu secara Parenteral, yang terbagi menjadi : a. Oral b. Sublingual c. Bukal d. Rektal

B. DAFTAR PUSTAKA
Eisenhauer Laurel A., dkk, 1998, Clinical Pharmacology dan Nursing Management, fifth edition , 49, Lippincott, Philadelpia New York Goodman dan Gilman, 2011, Manual Farmakologi dan Terapi, 1 3, EGC, Jakarta MyCek Mary J. 1997, Farmakologi Ulasan Bergambar, edisi II, 1 4, Lippincott, Philadelphia USA Ritter M. James, dkk, 2011, A textbook of Clinical Pharmacology, fourth edition, 31, Professor of Clinical Pharmacology, Guys Kings and St Thomass Medical School, London, UK Tani Ian, 1995, Farmakologi dan Terapi, edisi IV, 2 5, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta