Anda di halaman 1dari 5

NAMA NIM JURUSAN

: SANDY WIJAYANTI : 090810301118 : AKUNTANSI

Hubungan Kantor Pusat dan Cabang (I)


Pada umumnya yang menjadi titik tolak dalam perkembangan perusahaan adalah perluasan daerah pemasaran. Meluasnya daerah pemasaran ini menimbulkan problema bagi pimpinan perusahaan untuk mencari cara yang paling efektif dan ekonomis dalam melakukan penjualan tersebut. Berbagai macam cara dapat ditempuh antara lain dengan mengangkat pedagang keliling atau petugas bagian penjualan yang langsung mendatangi para langganan. Tetapi cara tersebut kadang tidak memenuhi harapan pimpinan berhubung sangat besarnya perkembangan daerah pemasaran. Untuk mengatasi hal tersebut maka dapat dibentuk pusatpusat penjualan di daerah tertentu yang dapat merupakan sarana untuk mencapai tujuan pemasaran. Adapun beberapa perbedaan pokok di antara kedua macam bentuk organisasi pemasaran adalah: AGEN Agen adalah suatu bentuk organisasi yang hanya diberi fungsi untuk menerima pesanan barang dan bekerja dibawah pengawasan langsung oleh kantor pusat-sedang transaksi dengan pihak ketiga dilaksanakan secara langsung dikantor pusat. Agen tidak memiliki persediaan untuk barang yang akan dijual, tetapi hanya berupa sample. Barang yang dijual akan dikirim langsung oleh kantor pusat kepada langganan yang bersangkutan. Penjualan terhadap syarat-syarat penjualan terletak sepenuhnya pada kantor pusat. Modal kerja untuk biaya operasi agen diberikan oleh kantor pusat. KANTOR CABANG Kantor cabang adalah suatu bentuk organisasi yang menjual barang dari persediaan yang dibentuknya dan diberi wewenagng untuk melaksanakan transaksi dengan pihak ke tiga, sehingga berfungsi sebagai unit usaha yang berdiri sendiri. Kantor cabang menyediakan persediaan untuk barang dagangannya yang pada umumnya dikirim dari kantor pusatnya. Namun, kantor cabang tidak membeli sendiri barang dagangannya. Kantor cabang memberikan persetujuan tentang syarat-syarat penjualan. Kantor cabang mengelola uang tunai dari hasil penjualan pengumpulan piutangnya dan melaksanakan transaksi pembayaran atas inisiatif sendiri.

Hubungan Kantor Pusat dan Agen  Usaha dari suatu agen Agen yang bekerja sebagai unit organisasi penjualan lokal berada dibawah pengawasan kantor pusat dan biasanya tidak mengadakan persedian selain dari contoh-contoh

dari pada barang-barang yang akan ditawarkan untuk dijual. Contoh barang yang akan ditawarkan dan mungkin juga akan diiklankan itu dberi oleh kantor pusat. Semua biaya yang bersangkutan dengan agen selain yang dikeluarkan oleh agen dengan mempergunakan modal kerja yang diterimanya, diperhitungkan dan ditanggung oleh kantor pusat.  Pembukuan untuk suatu agen Akuntansi terhadap usaha keagenan tidak membutuhkan penyusunan buku-buku secara lengkap. Pada umumnya agen ckup menyelenggarakan buku kas untuk mencatat penerimaan modal kerja dari kantor pusat, dan pengeluaran untuk berbagai macam biaya. Pada saat modal kerja hampir habis atau mendekati jumlah minimum yang ditetapkan, agen mengirimkan copy catatan pengeluaran kas atau ringkasannya kepada kantor pusat untuk mendapatkan penggantian atau pengisian kembali modal kerjanya.  Pembukuan pada Kantor Pusat Dalam pembukuan pada kantor puasat terdapat dua alternatif antara lain: y Laba rugi yang di dapat dari aktivitas penjualan melalui agen (tiap-tiap agen) tidak ditentukan secara terpisah. Pada cara ini, laba rugi yang di dapat dari penjualan melalui agen akan dilaporkan tergabung dengan transaksi enjualan regular. Rekenin untuk pembukuan khussu, terutama untuk pendapatan dan biaya-biaya dari agen yang bersangkutan tidak perlu diselenggarakan. y Laba rugi yang di dapat dari aktivitas penjualan melalui agen ditentukan secara terpisah. Pada cara ini rekening pembukuan khuss untuk agen terutama untuk pendapatan dan biaya yang bersangkuatn, harus diselenggarakan. Apabila erusahaan memiliki beberapa agen, maka rekenin pendapatan dan biaya-biaya agen dapat diselenggarakan sebagai rekening kontrol. Sedangkan pendapata dan biaya diselenggarakan sebagai rekening pembantunya. Hubungan Kantor Pusat dan Cabang Sifat dan jenis usaha operasi dari kantor cabang, biasanya berada dibawah pengelolaan seseorang maajer cabang yang bertanggung jawab langsung kepada top manajemen kantor pusat. Manajer cabang harus melaporkan informasi tentang volume aktivitas dan asil usaha cabang kepada kantor pusatnya, karena data demikian penting untuk analisa dan pengamblan keputusan. Meskipun cabang berusaha dan bekerja sebagai unit yang berdiri sendiri, tetapi tetap di kontrol oleh kantor pusat. Kebijaksanaan umum dan standart pelaksanaan yang biasanya

berlaku bagi dunia usaha, juga dilaksaakan terhadap cabang-cabang yang dibentuk oleh kantor pusat. Garis besar dari bekerjanya suatu cabang adalah sebagai berikut:  Cabang diberi modal kerja, baik berupa uang kas, barang-barang dagangan maupun aktiva lainnya oleh kantor pusat.  Cabang dapat membeli barang dagangan dari pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan permintaan barang-barang lokal yang tidak dapat dipenuhi oleh kantor pusat atau apabila pembelian itu dapat dipertanggngjawabkan secara ekonomis.  Cabang melakukan aktivitas penjualan, mulai dari usaha-usaha untuk pembeli, mengirimkan dan menyerahkan jasa-jasa kepada langganan, membuat faktur penjualan, menagih piutang dan menyimpan uangnya dalam rekening banknya sendiri. Sistem Akuntansi untuk Operasi Kantor Cabang Sistem pengumpulan dan pengolahan data akuntansi terhadap transaksi-transaksi yang terjadi di kantor cabang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sistem akuntansi erhadap aktivitas kantor cabang pada dasarnya menurut sistem: 1. Sistem sentralisasi, Apabila sistem sentralisasi diguanakan, maka pembukuan terhadap transaksi yang terjadi di kantor cabang diselenggarakan sepenuhnya oleh kantor pusat. Pada cara ni kantor cabang cukup mengumpulkan doumen-dokumen dasar. Dokumen tersebut dikirim kepada kantor pusat untuk dicatat dalam buku jurnal dan rekening-rekening buku besarnya. 2. Sistem Desentralisasi, pada cara ini setiap cabang menyelenggaraan pembukaan atas tranaksi yang terjadi pada cabang yang bersangkutan secara lengkap. Jika sistem desntralisasi digunakan, biasanya sususnan dan klasifikasi rekening-rekenng pembukuan pada tiap kantor cabang mengikuti dan sesuai dengan susunan dan klasifikasi yang dipakai pada kantor pusatnya. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Sistem Desentralisasi ciri pokok yang menghubungkan pembukuan di kantor cabang dan kantor pusatnya adalah adaya rekening R/K kantor pusat di dalam rekening pembukuan kantor cabang dan R/K Kantor Cabang di dalam rekening pembukuan kantor pusat. Terdapat hubungan antara rekening-rekeing pembukuan di kantor cabang dengan rekening-rekening pembukuan di kantor pusat. Aktiva yang ditempatkan di cabang adalah sebagian dari aktiva yang dimiliki oleh perusahaan sebagai satu kesatuan usaha. Meskipun prosedur pemukuan untuk kantor cabangdiselenggarakan sebagai unit usaha, yang berdiri

sendiri, akan tetapi dari segi ekonomis cabang hanya merupakan bagian dari keseluruhan fungsi (aktivitas) perusahaan. Kantor pusat sebagai konsekuensi dari sistem desentralisasi tidak perlu melakukan pencatatan terhadap perubahan bentuk atau komposisi terhadap investasinya di kantor cabang. Sebagai unit usaha yang berdiri sendiri, cabang mengeluarkan biaya untu pendapatan. Di dalam akuntansi pengaruh pendapatan dan biaya terhadap modal yang ditanamkan, akan dikumpulkan selama satu periode melalui ikhtisiar perhitungan laba rugi. Secara periodik, laba atau rugi usaha kantor cabang diperhitungkan dengan jmlah investasi kantor pusat di cabang.  Modifikasi Teknik Pencatatan Agar laporan keuangan lebih informatif, maka hendaknya terdapat pemisahan dalam pencatatan penanaman modal pada kantor pusat maupun kantor cabang. Pemisahan tersebut, antara lain:  Rekening kantor pusat dan kantor cabang yang bersifat sementara  Rekening kantor pusat dan kantor cabang yang bersifat permanen. Kedua perbedaan tersebut tidak mengubah sifat rekening timbal balik antara rekening kantor cabang dan rekening kantor pusat.  Laporan Keuangan Gabungan untuk Kantor Pusat dan Kantor Cabang Secara periodik, baik kantor cabang maupun kantor pusat menyusun keuangannya secara individual. Dalam laporan keuangan gabungan tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan sebagai satu kesatuan ekonomi yang bulat, maka dalam penyusunannya harus memperhatikan : a) Dalam neraca hanya disajikan aktiva dan hak-hak yang ada pada perusahaan dan hutang-hutang atau kewajiban perusahaan yang lain kepada pihak-pihak di luar peusahaan. b) Dalam perhitungan laporan laba rugi, harus dihindari adanya perhitungan ganda terhadap suatu pendapatan dan biaya yang sama. Dengan demikian, langkah-langkah yang diperlukan dalam penyusunan laporan keuangan gabungan dapat dirumuskan sebagai berikut:  Penyusunan neraca gabungan, dilakukan dengan langkah-langkah berikut: 1. Menghapus saldo rekening R/K Kantor Pusat dengan R/K Kantor Cabang dan saldo rekening hutang dengan piutang kepada antar kantor

pusat dan cabang, yang ada di dalam neraca individual kantor pusat maupun cabang. 2. Menunjukkan saldo rekening-rekening aktiva, dan rekening-rekening hutang yang terdapat dalam neraca individual kantor pusat dan cabangnya sesuai dengan kelompok masing-masing.  Penyususnan laporan perhitungan rugi laba gabungan, diperlukan langkah berikut: 1. Menghapus saldo rekening pengiriman barang dari kantor pusat dengan pengiriman barang ke kantor cabang dan saldo rekening-rekening pendapatan dan biaya-biaya yang bersangkutan = yang diakui di dalam laporan perhtungan laba-rugi individual kantor pusat dan cabang sebagai akibat kebijaksanaan sistem desentralisasi yang dilaksanakan. 2. Menjumlahkan saldo rekening-rekening pendapatan dan laba di luar usaha, rekening biaya dan rugi di luar usaha yang terdapat dalam laporan rugi laba individual kantor pusat dan cabang, sesuai dengan kelompok masing-masing. Daftar Lajur Penyusunan Laporan Keuangan Gabungan Untuk mempermudah penggabungan saldo rekening pembukuan yang ada baik di pusat maupun di cabang, biasanya disusun suatu kertas kerja yang berupa daftar lajur penyusunan laporan keuangan gabungan. Daftar lajur dibuat semata-mata untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan gabungan.  Penyesuaian rekening Timbal Balik Pada akhir periode atau pada saat akan menutup buku-buku, sebab-sebab adanya perbedaan saldo diantara 2 (dua) rekening yang reciprocal tersebut harus diselidiki dan penyesuaian harus dilakukan seperlunya. Data yag perlu dipertimbangkan dalam menyesuaikan dua rekening tersebut, pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam 4 golongan sebagai berikut: 1) Debit rekening Kantor Cabang tanpa ada hubungan dengan kredit rekening Kantor Pusat. 2) Kredit rekening Kantor Cabang tanpa ada hubungan dengan debit rekening Kantor Pusat. 3) Debit rekening Kantor Pusat tanpa ada hubungan dengan kredit rekening Kantor Cabang. 4) Kredit rekening Kantor Pusat tanpa ada hubungan dengan debit rekening Kantor Cabang.