Anda di halaman 1dari 6

Fenomena

Muhammad Fiji 03111403025

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia Universitas Sriwijaya 2011

Twitter merupakan media jejaring sosial yang tidak aneh lagi di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia. Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter Inc., diciptakan oleh Jack Dorsey pada tahun 2006, yang menawarkan jaringan sosial berupa mikroblog sehingga memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan yang disebut tweets. Twitter identik dengan ikon burung, yang mengisyaratkan kicauan-kicauan yang sering dibuat oleh binatang tersebut. Kicauan tersebut kini bernama tweet. Tweetadalah teks tulisan hingga 140 karakter yang ditampilkan pada halaman profil pengguna. Tweets bisa dilihat secara luar, namun pengirim dapat membatasi pengiriman pesan ke daftar teman-teman mereka saja. Pengguna dapat melihat tweets penulis lain yang dikenal dengan sebutan pengikut (follower). Di Indonesia pengguna Twitter mencapai 5 juta pengguna (survey dari GreyReview, 2009) dan sampai kini terus bertambah. Di Asia sendiri, Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya menggunakan Twitter paling banyak di antara negara lainnya di Asia. Tidak jarang tweet yang berbahasa Indonesia menjadi trending topic di Twitter, yaitu kata yang paling sering muncul atau dibicarakan orang di Twitter. Dengan demikian, tidak heran bila orang Indonesia banyak yang menggunakan Twitter. Selain Facebook, penggunaan Twitter juga ternyata sangat ramai di Indonesia. Hal ini terjadi karena media informasi khususnya internet dan telepon selular semakin meluas, seperti pengguna Blackberry yang semakin banyak, dan kemudahan mengakses informasi dari manapun. Hal yang menarik di sini adalah Twitter memperlebar fungsi menjadi lebih luas dari pada fungsi sebelumnya. Twitter dijadikan media untuk mengobrol, mencurahkan perasaan, memberikan informasi, bahkan provokasi. Satu hal yang menarik, adalah bahwa Twitter juga bertindak untuk mengisi kebutuhan psikologis yang ada pada masyarakat kita. Sejak awal manusia disebut sebagai makhluk sosial, yang bagaimanapun tidak pernah bisa terlepas secara mutlak dari orang lain. Kita terprogram untuk memiliki koneksi dari satu orang ke orang lainnya. Sebelumnya kita menjadi bagian dari organisasi, entah itu keluarga, masyarakat tetangga, sekolah, kampus, kantor, tempat olahraga, kursus, dan sebagainya. Sekarang kita seakan terikat dengan Twitterverse, dunia Twitter . Itulah mengapa di antara dari kita selalu mengecek notifikasi yang masuk entah itu di facebook, Twitter, atau media internet lain. Kita mendambakan adanya suatu koneksi.

Analisis Kebutuhan
Pengelompokan kebutuhan berdasarkan hirarki kebutuhan Maslow merupakan suatu cara yang cukup efektif untuk menjelaskan bagian mana sebenarnya Twitter berada di hirarki ini. Hirarki kebutuhan Maslow adalah urutan kebutuhan yang dimulai dari yang paling mendasar, yaitu kebutuhan biologis seperti makan, minum, dan seks. Apabila kebutuhan itu sudah terpenuhi, manusia akan memiliki kebutuhan selanjutnya yaitu kebutuhan akan rasa aman, proteksi, ketentraman psikologis, dan semacamnya. Apabila kebutuhan itu sudah dipenuhi lagi, maka akan naik ke hirarki selanjutnya yaitu kebutuhan akan sosial. Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan pertemanan, persahabatan, kedekatan dengan keluarga, dan juga keintiman. Setelah itu terdapat tahapan selanjutnya yaitu self esteem, hal ini terkait dengan penghargaan diri, rasa percaya diri, perolehan prestasi, saling menghargai antar diri sendiri dan orang lain. Tahapan terakhir dari kebutuhan individu ialah mengenai aktualisasi diri. Kebutuhan terakhir dari manusia ini adalah mengenai moral, kreativitas, dan nilai-nilai tertinggi yang bisa dilakukan oleh manusia tersebut. Singkatnya, aktualisasi diri ini adalah kebutuhan naluriah terakhir yang dilakukan manusia untuk melakukan yang terbaik yang ia bisa. Abraham Maslow mengatakan bahwa kebutuhan ini hanya bisa tercapai bila kebutuhan-kebutuhan sebelumnya sudah terpenuhi , kemudian proses aktualisasi diri ini bisa dilakukan. Lalu, bagaimana kebutuhan mengenai tweeting dijelaskan dalam hirarki ini? Berdasarkan fungsinya, kebutuhan untuk memiliki keterikatan dengan orang lain, atau kebutuhan untuk berinteraksi dengan orang lain berada pada tahapan social needs, yang mencakup kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, kebutuhan akan kasih sayang juga cinta. Individu yang melakukan kegiatan di Twitter, baik itu bercakap-cakap dengan orang lain, kegiatan mengikuti kehidupan seseorang, kemudian mengomentarinya, merupakan cerminan dari kebutuhan untuk menjalin konektivitas atas seorang individu dengan individu yang lain. Perasaan merasa terkoneksi melalui Twitter seakan mengisi kebutuhan untuk memiliki dan diperdulikan. Seiring perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses internet, pengguna Twitter diprediksikan akan terus bertambah. Secara logis, kegunaan Twitter juga cukup efektif bagi para stalker untuk mengikuti kegiatan orang yang ingin diketahuinya, kepada seseorang yang menurutnya menarik, artis misalnya. Mereka merasa memiliki kepuasan untuk merasa dekat dengan jaringan sosialnya. Ini yang membuat Twitter cukup populer di kalangan pekerja entertainment, Twitter menjadikan artis lebih dekat dengan para fans.

Tapi apakah masalah kebutuhan ini hanya terhenti pada social needs yang begitu mendesak sehingga hampir 5 juta jiwa di Indonesia menjadikannya sebagai kebutuhan. Pertanyaan lebih lanjut, apakah kebutuhan itu tidak pernah terpenuhi sehingga individu tampak semakin intens melakukan tweeting? Berdasarkan penelitian sebelumnya (Symos, Juni 2010) mengenai Twitter, terdapat fakta bahwa lebih dari 90% pengguna Twitter memiliki follower yang tidak lebih dari 100 pengikut (follower). Artinya, kebanyakan orang tidak memiliki pengikut yang banyak, kecuali ia merupakan orang populer (misalnya artis) atau memang memiliki hal unik lain yang membuat kebanyakan orang mau mengikutinya. Fakta lain menjelaskan bahwa kebanyakan orang yang menggunakan Twitter tidak mengikuti kembali semua orang yang mengikutinya. Hanya orang-orang tertentu yang dipilih untuk diikuti. Namun, sebagian besar orang tidak memilih-milih orang mana yang boleh mengikutinya. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa ada kecenderungan bahwa individu lebih ingin diikuti daripada mengikuti dalam Twitterverse. Kecenderungan seseorang untuk memberikan sesuatu yang menurutnya terbaik, agar orang menghargainya, dengan cara menjadi followernya.

Self Esteem sampai Self Actualization


Munculnya perasaan berharga, dihargai banyak orang saat tweet nya dikomentari, atau bahkan disebarkan lagi (retweet) oleh orang lain seakan memenuhi kebutuhan self esteemseseorang, yang termasuk dalam hirarki kebutuhan Maslow. Hal ini seakan menggeser fungsi Twitter yang hanya menjadi alat pemersatu, pemuas kebutuhan sosial individu. Individu dipandang lebih berharga dengan memberikan kata-kata yang baik di Twitter, sebaliknya, harga diri seseorang akan jatuh ketika ia memberikan kata-kata yang tidak baik di Twitter. Hal ini pernah terjadi pada seorang siswi SMP swasta di Jakarta yang mengucapkan sesuatu yang buruk di Twitter. Ia menyebarkan tweet bahwa sekolah swasta lebih baik dari pada sekolah nasional, dan tweet tersebut tersebar secara luas ke seluruh Indonesia, bahkan menjadi trending topic di cakupan internasional. Trending topic adalah kata-kata yang paling sering dibicarakan orang di dunia twitter. Berbagai cercaan dan makian muncul dari orang banyak, ratusan, bahkan ribuan, segera setelah ia menyebarkan tweetnya itu. Beberapa hari setelahnya, siswi tersebut diberikan hukuman dari sekolahnya karena kepala sekolah menganggap siswa tersebut mencemarkan nama baik sekolah kepada masyarakat umum. Twitter seakan menjadi media pengukur keberhargaan seseorang. Secara lebih jauh, apakah kebutuhan aktualisasi diri seseorang juga terpenuhi melalui media ini?

Beberapa orang yang dicap masyarakat hebat (entah dari media atau memang prestasi dirinya), memilih untuk memiliki akun Twitter agar pengikutnya bisa mendapatkan ilmu dari kicauannya itu. Ambil salah satu contohnya, Mario Teguh, yang memiliki follower lebih dari 130 ribu orang. Kebanyakan dari mereka menge-tweet kembali kicauan Mario Teguh yang dibacanya. Mereka seakan merasa termotivasi, dan meyakinkan dirinya untuk mengikuti saran dari tokoh tersebut untuk membentuk pribadi yang lebih baik. Tidak hanya Mario Teguh, banyak akun lain yang mengusung tema kata-kata mutiara yang banyak diikuti orang, seperti potongan ayat suci, kata-kata hebat dari orang-orang hebat, dan sebagainya. Twitter seakan menjadi kitab baru yang lebih mudah untuk dipahami dan diikuti bagi kebanyakan orang. Tidak jarang dari mereka justru membentuk sendiri quotes yang bermakna bagi dirinya, dan orang banyak, dengan bukti bahwa quotes tersebut diretweet oleh teman-temannya. Mereka seakan setiap hari berjanji, menyumpah, dan memberikan gagasan-gagasan yang (menurutnya) terbaik melalui Twitter. Tidak sedikit orang-orang tersebut lebih eksis di dunia Twitter dari pada dunia nyata. Sehingga tidak salah bila Twitter juga dikatakan menjadi media pencapaian kebutuhan self aktualisasi diri mereka, terlepas dari terpenuhi atau tidaknya kebutuhan itu.

Everybody Get Popular.


Kemudahan yang diperoleh melalui interaksi di Twitter merupakan nilai tambah bagi penggunanya. Hal ini tentu berbeda dengan hanya sekedar chatting, atau sms. Orang yang mengobrol lewat Twitter akan lebih memilih untuk mengucapkan hal-hal general yang dipandang baik oleh orang banyak, dari pada ucapan yang digunakan pada sms atau chatting1 on 1. Hal ini seakan membuat Twitter menjadi panggung massive bagi setiap orang untuk berekspresi, tentu dengan nilai-nilai yang dianut baik oleh setiap orang. Selain perkembangan teknologi, Twitter juga seakan menjadi fenomena psikologi yang terjadi di antara masyarakat berkembang, khususnya di Indonesia. Kebutuhan untuk saling terkait dengan orang lain tampaknya masih menjadi alasan utama mengapa seseorang aktif menggunakan Twitter. Hal tersebut juga diperkaya dengan kebutuhan individu untuk menghargai dan dihargai, lebih jauh ialah untuk memperlihatkan sisi terbaik dari dirinya untuk orang banyak. Sebuah pencapaian self actualization. Tampaknya keberadaan Twitter seakan menjadi alternatif baru bagi sebagian besar orang untuk merekam potret diri dan kesehariannya untuk khalayak ramai. Menjadikan potret itu sebagai sesuatu yang menarik untuk diikuti banyak orang memang tidak ada salahnya. Namun tentu perlu tanggung jawab besar untuk menggunakan

segala kemudahan yang maksimal itu. Twitter merupakan alat yang fenomenal, yang menawarkan kesederhanaan 140 karakter untuk informasi yang lebih menyeluruh, dibandingkan social media lainnya. Kemudahan ini tentu tidak mengajak kita untuk sembarangan menggunakannya, justru untuk menjadikan kita manusia yang menghargai teknologi, dengan tanggung jawab yang berkaitan dengan moral.