Jaringan Prostitusi ABG dan Anak Sekolah di Medan ( Alert !

)

Bisnis Syahwat Siswa Medan Berkembang ala MLM ABG Sayang, ABG Malang ABG (Anak Baru Gede) atau teenager, menurut para pakar psikologi berada di saat rawan. Penuh pemberontakan dan pencarian jati diri. Usia yang ibarat kembang, sedang mekar-mekarnya, yang seringkali disalahgunakan untuk hal-hal yang nggak bener. Melacurkan diri adalah salah satunya. Investigasi Tim Sumut Pos membuat kami terhenyak. Di kota metropolis ini, semua jenis pelacuran tersedia lengkap. Seragam putihbiru alias SMP dan putih abu-abu atau SMA, ada semua. Mulai layanan tingkat amatir dengan harga cuma dibelikan makan siang hingga yang profesional berorientasi rupiah sejumlah ratusan ribu bahkan jutaan. Kenapa para ABG itu bisa terjebak dalam dunia itu. Kita telusuri yuk fenomena keberadaan pelacuran ABG ini untuk ditemukan akar masalahnya. Melalui sejumlah wawancara dan investigasi, banyak di antara para ABG yang memutuskan dirinya melacur itu karena alasan ekonomi. Biaya sekolah yang mahal, harga buku yang tak murah serta kebutuhan hidup lainnya yang mendesak menjadi alasan yang dipilih. Apalagi bila menjelang ujian yang jelas-jelas ada tagihan ini-itu dari pihak sekolah. Di antara mereka ada yang melakukannya tanpa sepengetahuan keluarga, tapi tidak sedikit yang mendapat restu orangtua. Bahkan ada seorang ibu yang sengaja menyelipkan kondom ke tas sekolah anaknya bila mereka akan keluar rumah. Kemiskinan bukan satu-satunya alasan para ABG jual diri. Tidak sedikit mereka berasal dari kalangan mapan dan tinggal di perumahan mewah. Tergiur gaya hidup yang konsumtif biar nggak dianggap kuno sama teman-teman sebaya juga bisa menjadi faktor yang lain. Punya HP model terbaru, MP4 Player, tas dan baju keluaran butik terkenal, jalanjalan ke mal, bisa membuat para ABG lupa daratan. Persaingan antarteman juga bisa dijadikan alasan. Habis dikecewakan dan dinodai mantan pacar menjadi alasan favorit para ABG ini. Ya, seabreg alasan bisa diberikan kalau sekadar sebagai pembenaran.

. tak lagi didominasi pemain lama yang memang fokus di bisnis syahwat. Sistem operasinya mirip multi level marketing (MLM). tinggal pencet nomor telepon. nego harga dan cari tempat ¶eksekusi¶.000-an siswa SMA/SMK dan SMP di Medan. maka job baru akan diberikan kepada jaringan lainnya. teman-teman mereka sendiri atau senior (kakak kelas. Germo anak-anak belia ini. di Jalan Aksara dan di Jalan Kapten Muslim. Meski ada juga beberapa germo profesional yang juga memiliki anak asuh siswa SMA. bertemu langsung dan wawancara dengan sejumlah pelacur ABG. istilah pelacur ABG untuk mangsanya) yang ingin menguji adrenalin dan keahlian. atau hunting di pusat perbelanjaan. Atau jika tak mau repot. Bahkan sesama mereka saling menjajakan temannya. saat hunting pelacur SMA/SMK dan SMP di beberapa tempat di Medan. Red). Praktiknya sudah terang-terangan. di Jalan Gatot Subroto. terlibat aktivitas pelacuran anak. Setelah selama dua pekan melakukan penelusuran di beberapa tempat di Medan. Bagi penggiat seks (tubang atau TB: kepanjangan dari tua bangka. area transaksi bisa di mana saja. Jika sedang banyak job. bahkan dekat areal sekolah.Pelacuran siswa SMA/SMK dan SMP di Medan sudah jadi rahasia umum. menjadi kenyataan. Yang mengejutkan. Di antara pusat perbelanjaan yang paling banyak pelacur ABG itu mencari mangsa adalah pusat perbelanjaan di Jalan SM Raja. Jika di jaringan tertentu sedang ¶sibuk¶ atau over. maka apa yang dikhawatirkan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sumut. Ahmad Sofian menyebutkan. Taman Beringin dan Taman Teladan. ingin merasakan suasana yang mendebarkan. di Jalan Iskandar Muda. sebanyak 2. maka akan ada rekomendasi agar penggiat seks ¶memakai¶ temannya. germo atau mucikari pelacuran di sekolah. bisa ¶berburu¶ langsung ke basis-basis para pelacur ABG tersebut Bisa langsung ke area sekolah dengan trik-trik tertentu. Pada 2008 lalu hasil penelitian PKPA Sumut yang dirilis Direkturnya. Aktivitasya di luar jam sekolah. Inilah yang ditemukan wartawan koran ini selama dua pekan terakhir. hunting di sejumlah taman seperti Taman Ahmad Yani.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful