Anda di halaman 1dari 43

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN BIOLOGI LAUT Semester Genap, TA 2010/2011

Disusun Oleh : 1. Christin Jelita 2. M. Oliver Prawira 3. Ikhsan Faturohman 4. Livia Indriyani. I 5. Iwan Febrianto. H 6. Ai Rohayati 7. Fajri Akil 8. Candra Anggun. F 9. Indriyati 10. Renaldy Belida 230210090036 230210090029 230210090047 230210090038 230210090020 230210090083 230210090002 230210090011 230210090092 230210090065

Jatinangor, 16 Juni 2011 Menyetujui, Dosen Mata Kuliah Biologi Laut

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktikum Lapangan Biologi Laut. Penulisan makalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan tugas Biologi Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran. Laporan yang kami sampaikan mengenai hasil paraktikum lapangan Biologi Laut yang meliputi sampling plankton, sampling benthos, sampling mangrove, dan sampling makro alga. Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan praktikum lapangan Biologi Laut, khususnya kepada dosen-dosen pembimbing, asisten dosen, dan panitia pleksana serta warga masyarakat Desa Cigondang. Demikianlah tugas ini kami susun. Semoga dapat bermanfaat khususnya untuk pembaca dan semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah ikut membantu.

Jatinangor, 16 Juni 2011

Tim Penyusun

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Biologi laut merupkan cabang ilmu biolgi yang mempelajari organisme laut dan interaksinya terhadap lingkungan. Biota laut mempelajari hubungan antara laut dan distribusi dan adaptasi organisme. Salah satunya adalah adaptasi terhadap kondisi kimiawi dan fisika lautan, ketersediaan cahaya diberbagai kedalaman laut, pergerakan arus, dan komposisi dasar lautan. Berdasarkan cara hidupnya, organisme laut dibedakan menjadi nekton, benthos, dan plankton. Nekton adalah organisme yang dapat bergerak bebas misalnya ikan, cumi-cumi dan paus. Organsime plankton berukuran sangat kecil atau mikroskopis dan bergerak pasif mengikuti arus. Benthos adalah organisme yang hidup di dasar lautan, mencangkup bentuk sessil (misalnya spon, kerang, koral), merangkak (misalnya kepiting, siput), dan menggali (missal cacing). Berdasarkan teori di atas, kami melakukan praktikum lapangan Biologi Laut yang meliputi plankton, benthos, mangrove, dan makro alga. Adapun salah satu metode praktikum yang dilakukan ialah metode pengambilan sampling. Sample yang diperoleh di lapangan dilanjutkan dengan peneltian di laboratorium Biologi Laut Fakults Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran untuk mengetahu jenis apakah sample yang diperoleh. Dari data dan informasi hasil praktikum yang didapat di Pantai Cirate, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang Banten, kami dapat mengklasifikasikan jenis biota laut apa saja yang terdapat disana. Begitu pula dengan habitat dan cara mereka beradaptasi terhadap faktor lingkungan. Untuk melakukan hal tersebut tentu perlu dengan penggunan metode, prosedur, dan alat yang menunjang praktikum.

1.2. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Biolgi Laut dan Praktikum Lapangan Biologi Laut yang meliputi pengambilan sampling dan analisa jenis-jenis plankton, benthos, mangrove, dan makro alga.

1.3. Manfaat Manfaat dari praktikum lapangan Biologi Laut adalah: 1. Mengetahui jenis plankton, benthos, mangrove, dan makro alga yang hidup di daerah pesisir pantai Cigondang 2. Mampu melakukan pengambilan sampling. 3. Memperoleh data dan informasi untuk bahan penelitian di laboratorium. 4. Dapat melihat kondisi biologi yang terdapat di pesisir Pantai Cigondang Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang Banten.

1.4.Waktu dan Tempat Tanggal dan waktu pelaksanaan praktikum lapangan Biologi Laut ialah hari Jumat, 3 Juni 2011 dari pukul 08.30-11.00 WIB. Praktikum bertempat di kampung Karangsari, Desa cikondang, Pantai Cirate, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang Banten.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Plankton 2.1.1 Definisi Plankton Plankton di definisikan sebagai mikroorganisme yang ditemui hidup di perairan, baik sungai, danau, waduk, maupun di perairan payau dan laut. Mikroorganisme ini baik dari segi jumlah dan jenisnya sangat banyak. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam suatu rantai makanan dan jaring makanan. Plankton dianggap sebagai salah satu organisme terpenting di laut, karena menjadi bekal makanan untuk kehidupan akuatik. Bagi kebanyakan makhluk laut, plankton adalah makanan utama mereka. Plankton terdiri dari sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut. Plankton hidup di pesisir pantai di mana ia memperoleh garam mineral dan cahaya matahari yang mencukupi. Hal ini memungkinkan plankton untuk terus hidup. Mengingat plankton menjadi makanan ikan, tidak mengherankan bila ikan banyak terdapat di pesisir pantai. Itulah sebabnya kegiatan menangkap ikan aktif dijalankan di kawasan itu. Plankton memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cepat dan dapat di budidayakan dengan mudah secara missal, sehingga tidak di khawatirkan akan punah.

2.1.2 Klasifikasi Plankton Plankton digolongkan kedalam beberapa kategori, yaitu: 1. Berdasarkan Fungsi Secara fungsional, plankton digolongkan menjadi empat golongan utama, yaitu fitoplankton, zooplankton, bakterioplankton, dan virioplankton.

a. Fitoplankton Fitoplankton disebut juga plankton nabati, adalah tumbuhan yang hidupnya mengapung atau melayang dilaut. Ukurannya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat oleh mata telanjang. Umumnya fitoplankton berukuran 2 200m (1 m = 0,001mm). Fitoplankton umumnya berupa individu bersel tunggal, tetapi juga ada yang berbentuk rantai. Meskipun ukurannya sangat kecil, namun fitoplankton dapat tumbuh dengan sangat lebat dan padat sehingga dapat menyebabkan perubahan warna pada air laut.

b. Zooplankton Zooplankton, disebut juga plankton hewani, adalah hewan yang hidupnya mengapung, atau melayang dalam laut. Kemampuan renangnya sangat terbatas hingga keberadaannya sangat ditentukan ke mana arus

membawanya. Zooplankton bersifat heterotrofik, yang maksudnya tak dapat memproduksi sendiri bahan organik dari bahan inorganik. Oleh karena itu, untuk kelangsungan hidupnya is sangat bergantung pada bahan organik dari fitoplankton yang menjadi makanannya. Jadi zooplankton lebih berfungsi sebagai konsumen (consumer) bahan organik.

c. Bakterioplankton Bakterioplankton, adalah bakteri yang hidup sebagai plankton. Kini orang makin memahami bahwa bakteri pun banyak yang hidup sebagai plankton dan berperan penting dalam lour hara (nutrient cycle) dalam ekosistem Taut. la mempunyai ciri yang khas, ukurannya sangat halus (umumnya < 1 m), tidak mempunyai inti sel, dan umumnya tidak mempunyai klorofil yang dapat berfotosintesis. Fungsi utamanya dalam ekosistem laut adalah sebagai pengurai (decomposes). Semua biota laut yang mati, akan diuraikan oleh bakteri sehingga akan menghasilkan hara seperti fosfat, nitrat, silikat, dan sebagainya. Hara ini

kemudian akan didaur-ulangkan dan dimanfaatkan lagi oleh fitoplankton dalam prows fotosintesis.

d. Virioplankton Virioplankton adalah virus yang hidup sebagai plankton. Virus ini ukurannya sangat kecil ( kurang dari 0,2 um ) dan menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton dan fitoplankton, sebagai inang (host). Tanpa inangnya virus ini tak menunjukkan kegiatan hayati. Tetapi virus ini dapat pula memecahkan dan mematikan sel-sel inangnya. Baru sekitar dua dekade lalu para ilmuwan banyak mengkaji virioplankton ini dan menunjukkan bahwa virioplankton pun mempunyai fungsi yang sangat penting dalam daur karbon (carbon cycle) di dalam ekosistem laut.

2.

Berdasarkan Ukuran Ukuran plankton sangat beraneka ragam, dari yang sangat kecil kingga yang besar. Dulu orang menggolongkan plankton dalam tiga kategori berdasarkan ukurannya, yakni: a. Plankton jaring (netplankton): plankton yang dapat tertangkap dengan jaring dengan mata jaring (mesh size) berukuran 20 m, atau dengan kata lain plankton berukuran lebih besar dari 20 m. b. Nanoplankton: plankton yang lolos dari jaring, tetapi lebih besar dari 2 m, Atau berukuran 2-20 m c. Ultrananoplankton: plankton yang berukuran lebih kecil dari 2 m.

3. Berdasarkan Daur Hidupnya Berdasarkan daur hidupnya plankton dibagi menjadi : a. Holoplankton Dalam kelompok ini termasuk plankton yang seluruh daur hidupnya dijalani sebagai plankton, mulai dari telur, larva, hingga dewasa. Kebanyakan

zooplankton termasuk dalam golongan ini. Contohnya : kokepod, amfipod, salpa, kaetognat. Fitoplankton termasuk juga umumnya adalah holoplankton.

b. Meroplankton Plankton dari golongan ini menjadi kehidupannya sebagai plankton hanya pada tahap awal dari daur hidup biota tersebut, yakni pada tahap sebagai telur dan larva saja. Beranjak dewasa ia akan berubah menjadi nekton, yakni hewan yang dapat aktif berenang bebas, atau sebagai bentos yang hidup menetap atau melekat didasar laut. Oleh sebab itu, meroplankton sering pula disebut sebagai plankton sementara.

c. Tikoplankton Tikoplankton sebenarnya bukanlah plankton yang sejati karena biota ini dalam keadaan normalnya hidup didasar laut sebagai bentos. Namun karena gerak air menyebabkan ia terlepas dari dasar dan terbawa arus mengembara sementara sebagai plankton.

4. Berdasarkan Sebaran Horizontal Plankton terdapat dilingkungan air tawar hingga tengah samudra. Dari perairan tropis hingga ke perairan kutub. Boleh dikatakan tak ada permukaan laut yang tidak dihuni oleh plankton. Berdasarkan sebaran horizontalnya, plankton dibagi menjadi:

a. Plankton Neritik Plankton neritik (neritic plankton) hidup di perairan pantai dengan salinitas (kadar garam) yang relatif rendah. Kadang-kadang masuk sampai ke perairan payau di depan muara dengan salinitas sekitar 510 psu (practical salinity unit; dulu digunakan istilah /oo atau permil, g/kg). Akibat pengaruh lingkungan yang terus-menerus berubah disebabkan arus dan pasang surut,

komposisi plankton neritik ini sangat kompleks, bisa merupakan campuran plankton laut dan plankton asal perairan tawar. Beberapa di antaranya malah telah dapat beradaptasi dengan lingkungan estuaria (muara) yang payau, misalnya Labidocera muranoi.

b. Plankton Oseanik Plankton oseanik (oceanic plankton) hidup di perairan lepas pantai hingga ke tengah samudra. Karena itu plankton oseanik ditemukan pada perairan yang salinitasnya tinggi. Karena luasnya wilayah perairan oseanik ini, maka banyak jenis plankton tergolong dalam kelompok ini.

5. Berdasarkan Sebaran Vertikal Plankton hidup di laut mulai dari lapisan tipis di permukaan sampai pada kedalaman yang sangat dalam. Dilihat dari sebaran vertikalnya plankton dapat dibagi menjadi:

a. Epiplankton Epiplankton adalah plankton yang hidup di lapisan permukaan sampai kedalaman sekitar 100 m. Lapisan laut teratas ini kira-kira sedalam sinar matahari dapat menembus. Namun dari kelompok epilankton ini ada juga yang hanya hidup di lapisan yang sangat tipis di permukaan yang langsung berbatasan dengan udara. Plankton semcam ini disebut neuston.

b. Mesoplankton Mesoplankton yakni plankton yang hidup di lapisan tengah, pada kedalaman sekitar 100-400 m (jangan dikelirukan dengan ukuran plankton yang istilahnya sama). Pada lapisan ini intensitas cahaya sudah sangat redup sampai gelap. Oleh sebab itu, di lapisan ini fitoplankton, yang memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis, umumnya sudah tidak dijumpai. Lapisan ini dan

lebih dalam didominasi oleh zooplankton. Beberapa kopepod seperti Eucheuta marina tersebar secara vertikal sampai ke lapisan ini atau lebih dalam. Dari kelompok eufausid juga banyak yang terdapat di lapisan ini, misalnya Thysanopoda, Euphausia, Thysanoessa, Nematoscelis. Tetapi eufausid ini juga dapat melakukan migrasi vertikal sampai ke lapisan di atasnya.

c. Hipoplankton Hipoplankton adalah plankton yang hidupnya pada kedalaman lebih dari 400 m. Termasuk dalam kelompok ini adalah batiplankton (bathyplankton) yang hidup pada kedala man > 600 m, dan abisoplankton

(abyssoplankton) yang hidup di lapisan yang paling dalam, sampai 3000 4000 m.

2.1.3 Metode Sampling Metode sampling Plankton terbagi menjadi dua, antara lain:
1. Metode Kualitatif, yaitu dimaksudkan untuk mengetahui jenisjenis plankton. 2. Metode Kuantitatif, yaitu untuk mengetahui kelimpahan plankton yang

berkaitan dengan distribusi waktu dan tempat.

Metode pengambilan sampel menggunakan plankton net terbagi atas dua cara tergantung pada tujuan yang diiginkan, biasanya dibedakan atas :

a. Sampling secara Horizontal Metoda pengambilan plankton secara horizontal ini dimaksudkan untuk mengetahui sebaran plankton horizontal. Plankton net pada suatu titik di laut, ditarik kapal menuju ke titik lain.

Jumlah air tersaring diperoleh dari angka pada flowmeter atau dengan mengalikan jarak diantara dua titik tersebut dengan diameter plankton net. Flowmeter untuk peningkatan ketelitian.

b. Sampling secara vertikal Meletakkan plankton net sampai ke dasar perairan, kemudian menariknya keatas. Kedalaman perairan sama dengan panjang tali yang terendam dalam air sebelum digunakan untuk menarik plankton net ke atas. Volume air tersaring adalah kedalaman air dikalikan dengan diameter mulut plankton net.

Jenis Peralatan Sampling Plankton: 1. Sampling menggunakan tabung/botol air (Water bottle) (Omori dan Ikeda, 1992). Sampling dilakukan dengan mengambil air laut pada kedalaman tertentu, menggunakan botol 100 ml. Sampling pada perairan di wilayah pantai dimana kelimpahan plankton tinggi. Sampling untuk plankton berukuran kecil ( fito atau nannoplankton ). Sampling mendapatkan air sampel 1 50 liter.

2. Sampling menggunakan Van Dorn/ Nansen Bottle Sampler (Omori dan Ikeda,1992 ) Tabung Van Dorn atau Nansen Bottle Sampler terbuka diturunkan pada kedalaman tertentu. Tabung Van Dorn atau Nansen Bottle Sampler akan ditutup dengan meluncurkan ring atau besi pemberat sehingga bagian atas dan bawah akan tertutup.

3. Sampling menggunakan Pompa Hisap (Romimohtarto dan Juwana,1998) Sampling dengan memompa air laut dari kedalaman tertentu. Ujung pompa hisap diturunkan sampai dengan kedalaman tujuan. Air sampel ditampung dan disaring. Keuntungannya volume dan kedalaman dapat

ditentukan. Kekurangannya volume air dibatasi oleh diameter pipa penghisap. Tidak semua plankton dapat terhisap sesuai tujuan.

4. Sampling menggunakan Plankton Net (Omori dan Ikeda,1992 ;Romimohtarto & Juwana, 1998) Plankton Net untuk phytoplankton berukuran diameter 31 cm dengan mata jaring berukuran 30 60 mikron.Plankton Net untuk zooplankton berukuran diameter 45 cm dengan mata jaring berukuran 150 500 mikron. Plankton Net untuk ikhtyoplankton berukuran diamater 55 cm.

2.2

Bentos

2.2.1 Definisi Salah satu kelompok organisme penyusun ekosistem laut adalah bentos. Bentos istilah berasal dari Yunani untuk kedalaman laut. Bentos adalah biota yang hidupnya melekat,menancap,membuat lubang,atau pun merayap di dasar perairan Bentos biasanya hidup pada substrat yang berbatu,berpasir atau berlumpur,bentos juga dapat hidup di patahan karang atau karang yang sudah mati dan kemudian turun ke kedalaman abyssal. Daerah terkaya akan jumlah dan macam organisme pada sistem muara-laut ialah daerah bentik, yang terbentang dari pasang naik sampai suatu kedalaman di tempat tanaman sudah jarang tumbuh. Tubuh bentos banyak mengandung mineral kapur. Batu-batu karang yang biasa kita lihat di pantai merupakan sisa-sisa rumah atau kerangka bentos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang, yaitu dataran di pantai yang terdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit. Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan obat dan kosmetika. Benthic organisme contohnya seperti bintang laut, kerang, kerang, teripang, bintang rapuh dan anemon laut, memainkan peran penting sebagai sumber makanan bagi ikan dan manusia.

2.2.2 Klasifikasi Bedasarkan ukurannya bentos dibagi menjadi dua,yaitu : a. Makrobenthos Makrobenthos adalah bentos yang berukuran lebih besar dari 1 mm

(0.04 inch).Contoh dari makrobenthos adalah cacing, pelecypod, anthozoa, echinodermata, sponge, ascidian, and crustacea b. Meiobenthos Meiobenthos adalah bentos yang berukuran antara 0,1 1 mm.Contoh dari Meiobenthos adalah polychaete, pelecypoda, copepoda, ostracoda,

cumaceans, nematoda, turbellaria, dan foraminifera. c. Mikrobenthos Mikrobenthos adalah benthos yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mm.Contoh dari mikrobenthos adalah bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata.

Berdasarkan morfologi dan cara makannya, benthos dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu a. Benthos pemakan deposit yang selektif (selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang sempit b. Benthos pemakan deposit yang tidak selektif (non-selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang lebar c. Benthos pemakan alga (herbivorous feeders); dan d. Benthos omnivora/predator

2.2.3 Metode Sampling Alat dan bahan yang dibutuhkan : Pinset Botol sampel / plastik Ayakan / saringan Sekop Formalin 10 % atau 70 % Label

Mikroskop Alat tulis Buku identifikasi benthos

Cara kerja untuk pengambilan bentos di laut dan di hutan mangrove: 1. Ambil substrat yang terdapat kurang lebih 5 meter dari pantai menggunakan sekop. 2. Letakkan substrat tersebut ke ayakan. 3. Ayak substrat tersebut lalu lihat apakah terdapat bentos atau tidak. 4. Jika terdapat bentos,ambil bentos tersebut menggunakan pinset. 5. Apabila tidak terdapat bentos,buang substrat dari ayakan.Lalu ambil substrat lain menggunakan sekop. 6. Ulangi cara 1 6 sampai mendapatkan jumlah bentos yang kita inginkan 7.Sampel yang telah diambil dimasukkan ke dalam kantong plastik / botol plasti. 8. Awetkan masing sampel dengan formalin 10 %. 9. Di laboratorium, fauna yang diambil lalu dicuci dengan air tawar 10.Selanjutnya dilakukan identifikasi dengan bantuan mikroskop

2.3 Mangrove

2.3.1. Definisi Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut dan komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut. Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-

rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasangsurut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana

terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik diteluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. Secara lebih luas dalam mendefinisikan hutan mangrove sebaiknya memperhatikan keberadaan lingkungannya termasuk sumberdaya yang ada. Berkaitan dengan hal tersebut maka Saenger et al. 1983 mendefinisikan sumberdaya mangrove sebagai :

a. Exclusive mangrove, yaitu satu atau lebih jenis pohon atau semak belukar yang hanya tumbuh di habitat mangrove b. Non exclusive mangrove, yaitu setiap jenis tumbuhan yang tumbuh di habitat mangrove, dan keberadaannya tidak terbatas pada habitat mangrove saja c. Biota, yaitu semua jenis biota yang berasosiasi dengan habitat mangrove d. Proses (abrasi, sedimentasi), yaitu setiap proses yang berperan penting dalam menjaga atau memelihara keberadaan ekosistem mangrove.

2.3.2. Klasifikasi Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.), yang biasanya tumbuh di zona terluar, mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Jenis-jenis api-api (Avicennia spp.) dan pidada (Sonneratia spp.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk

mengambil oksigen dari udara. Pohon kendeka (Bruguiera spp.) mempunyai akar lutut (knee root), sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok; keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur, sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel, lubang pori pada pepagan untuk bernapas.

Hutan mangrove juga dapat dibagi menjadi zonasi-zonasi berdasarkan jenis vegetasi yang dominan, mulai dari arah laut ke darat sebagai berikut: a. Zona Avicennia, terletak paling luar dari hutan yang berhadapan langsung dengan laut. Zona ini umumnya memiliki substrat lumpur lembek dan kadar salinitas tinggi. Zona ini merupakan zona pioner karena jenis tumbuhan yang ada memilliki perakaran yang kuat untuk menahan pukulan gelombang, serta mampu membantu dalam proses penimbunan sedimen. b. Zona Rhizophora, terletak di belakang zona Avicennia. Substratnya masih berupa lumpur lunak, namun kadar salinitasnya agak rendah. Mangrove pada zona ini masih tergenang pada saat air pasang. c. Zona Bruguiera, terletak di balakang zona Rhizophora dan memiliki substrat tanah berlumpur keras. Zona ini hanya terendam pada saat air pasang tertinggi atau 2 kali dalam sebulan. d. Zona Nypa, merupakan zona yang paling belakang dan berbatasan dengan daratan.

2.3.3. Metode Survey dan Sampling

Alat dan Bahan -Roll Meter -Tali Plastik -Patok -Borang pengamatan -Alat Tulis -meteran Kain -Buku Identifikasi

Prosedur - Melakukan observasi keseluruhan (general observation) wilayah rimbunan mangrove dengan cara menelusuri wilayah pesisir bermangrove - Menentukan stasiun pengamatan berdasarkan keterwakilan lokasi (ada atau tidaknya rimbunan mangrove) dan kondisi rimbunan (rapat, sedang, dan jarang), - Membuat main transect line tegak lurus garis pantai ke arah daratan sepanjang 100 m (batas maksimal belt), - Membuat main transect plot berukuran 20m x 20m di sepanjang main transect line secara acak, - Dalam setiap main transect plot dibuat Sub-petak Tiang (10 m x 10 m), Subpetak Pancang (5m x 5m) dan Sub-petak Semai (2m x 2m),

- Melakukan pengamatan jenis terkoleksi, tutupan umum, lingkar batang dan jumlah tegakan, -Melakukan dokumentasi. Tabel 1. Lembar Kerja Pengamatan Mangrove

2.4 Makroalga 2.4.1 Definisi Alga adalah organisme berkloroplas yang dapat mneghasilkan oksigen mclalui proses fotosintesis. Ukuran alga beragam dan beberapa micrometer sarnpai beberapa meter panjangnya. Alga tersebar luas di alam dan dijumpai hanipir di segala macam lingkungan yang terkena sinar matahari (Pelczar dan Chan, 1986). Kebanyakan alga adalah organisme akuatik yang tumbuh pada air tawar atnu air laut. Beberapa .icnis alga fotosintetik yang menggunakan CO sebagai sumber karbon dapat tumbuh dengan baik di tempat gelap (lengan mcnggunnkun senyawa organic sebagai sumber karbon, jadi bcrubah dan metabol isme fotosintesis menjad I metabolisme pernafasan dan perubahan mi bergantung pada keberadaan matahari (Stanier et al, 1976). Alga menyimpan hasil kegiatan fotosintesis sebagal hasil bahan makanan cadangan didalam selnya. Sebagal contoh adalah alga hijau yang dapat menyimpan pati seperti pada tumbuhan tingkat tinggi (Pelezar dan Chan, I 986).

2.4.2 Klasifikasi Bayart dan Robert (1983) mengolongkan alga menjadi 3 kelas besar subfillum dari tallophyta sebagai berikut : alga hijau, alga coklat / keemasan dan alga merah. Webber & thurman (1985); Aslan (1996) menggolongkan Makro alga menjadi 3 classis yaitu : 1. Alga Hijau (Chlorophyceae) Mempunyai pigmen klorofil a, klorofil b, karoten dan xantofil. Ganggang ini juga dapat melakukan fotosintesis. 90% hidup di air tawar dan 10% hidup di laut. Yang hidup di air umumnya sebagai plankton atau bentos, juga menempel pada batu dan tanah. Ganggang hijau merupakan kelompok ganggang yang paling banyak jumlahnya diantara ganggang lain. Cara reproduksi dengan fragmentasi dan konyugasi.

Di Indonesia tercatat sedikitnya 12 marga alga hijau, yang banyak diantaranya sering dijumpai di perairan pantai. Berikut ini adalah marga-marga dari alga hijau tersebut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Caulerpa Ulva Valonia Dictyosphaera Halimeda Chaetomorpha 7. 8. 9. Codium Udotea Tydemania

10. Bernetella 11. Burgesernia 12. Neomeris

2.

Alga Coklat ( Phaeophyceae )

Phaeophyta (ganggang coklat/ perang)Hidup di pantai, warna coklat karena adanya pigmen fikosantin (coklat), klorofil a, klorofil b dan xantofil. Tubuh berbentuk seperti benang atau lembaran yang dapat mencapai puluhan meter dan merupakan alga yang terbesar ukurannya diantara alga-alga lainnya. Kelas alga ini mempunyai ukuran dan bentuk yang sangat beraneka raga. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi,c sedangkan generatif dengan isogami dan oogami. Di Indonesia terdapat 8 marga alga coklat yang sering ditemukan, yakni : 1. Cystoseira 2. 3. 4. Dictyopteris Dictyota Hormophysa 5. 6. 7. 8. Hydroclathrus Padina Sargassum Turbinaria

3.

Alga Merah (Rhodophyceae)

Rhodophyta (algae merah) umumnya warna merah karena adanya protein fikobilin,terutama fikoeritrin, tetapi warnanya bervariasi mulai dari merah ke coklat atau kadang-kadang hijau karena jumlahnya pada setiap pigmen. Dinding sel terdiri dari sellulosa dan gabungan pektik, seperti agar-agar, karaginan dan fursellarin. Hasil makanan cadangannya adalah karbohidrat yang kemerah-merahan. Ada perkapuran di

beberapa tempat pada beberapa jenis. Jenis dari divisi ini umumnya makroskopis, filamen, sipon, atau bentuk thallus, beberapa dari mereka bentuknya seperti lumut. Rhodophyta (ganggang merah) Umumnya hidup di laut dan beberapa jenis di air tawar, mengandung pigmen klorofi a, klorofil d, karoten, fikoeritrin,

fikosianin.Tubuh bersel banyak menyerupai benang atau lembaran.Reproduksi vegetatif dengan spora. Di Indonesia tercatat 17 marga dari 34 jenis. Berikut catatan singkat dari margamarga alga merah. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Acanthophora Actinotrichia Amansia Amphiroa Chondrococcus Corallina Eucheuma Galakxaura Gelidiella 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Gigartina Gracillaria Halymenia Hypnea Laurencia Rhodymenia Titanophora Porphyra

2.4.3 Metode Sampling Teknik sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Jika sampling dilakukan dengan metode yang tepat, analisis statistik dari suatu sampel dapat digunakan untuk menggeneralisasikan keseluruhan populasi. Metode sampling banyak menggunakan teori probabilitas dan teori statistika.

Tahapan sampling adalah:


y y

Mendefinisikan populasi hendak diamati Menentukan kerangka sampel, yakni kumpulan semua item atau peristiwa yang mungkin

y y y

Menentukan metode sampling yang tepat Melakukan pengambilan sampel (pengumpulan data) Melakukan pengecekan ulang proses sampling

Yang perlu dicatat dalam pengambilan sampel alga adalah tanggal pelaksanaan, lokasi penelitian dan jenis habitat. Untuk mengetahui sebaran, dominasi dan kepadatan alga, digunakan metode transek kuadrat berukuran 1 m2 dan diletakkan pada jarak 10 m dari satu kuadrat ke kuadrat berikutnya dengan arah tegak lurus garis pantai sampai ke tubir. Pada area yang sangat luas, tetapi kepadatan alga cukup tinggi, dapat digunakan garis transek dengan selang 100 meter yang dibuat tegak lurus garis pantai kea rah laut. Pada setiap selang 20 meter dari garis transek, dilakukan pengambilan sampel biomassa dengan pengukuran tanaman tegakan (standing crop) dalam bingkai 40cm2. Hasilnya ditampung dalam kantong plastic. Kemudian alga dipilah berdasarkan marga dan biomassa basah masing-masing ditimbang. Untuk pengenalan jenis, dibuat herbarium kering dan herbarium basah dalam larutan alkohol 70%. Disamping pengambilan sampel alga, perlu dicatat juga kondisi lingkungan pada saat itu. Untuk ini dibuat satu table kondisi lingkungan yang meliputi kecepatan arus, kecerahan, suhu, salinitas, pH, kejelukan perairan pada saat air surut rendahdan pasang tertinggi.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 HASIL


3.1.1 Plankton Pengambilan sampel plankton berada di daerah Cigondang. Sampel diambil sebanyak dua kali. Pada stasiun pertama, sampel diambil pada pukul 09.02 WIB dengan posisi S = 062304,2 dan E = 105 4938,9. Perairan memiliki parameter fisik seperti kedalaman 123 centimeter (1,23 meter), kecerahan 43, suhu 30C, dan substratnya pasir berbatu. Parameter kimia yang tercatat dari sampel air yang tersaring (15 Liter) memiliki DO 4,8/mL, pH sebesar 8,42/mL, serta salinitas 25/mL. Volume air yang tersaring adalah 20 mL dan volume air yang diamati sebanyak 2 mL. Spesies plankton yang teramati melalui mikroskop, yaitu :

No. 1 2 3 4 5 6

Species Nauplius sp. Evadne nordmanni Nitzschia lorenziana Difflugia cardata Machoshrix hirsuticornis Labidocera acuta

Kepadatan (sel/2 mL) 3 4 8 3 2 1

Tabel 2. Kepadatan plankton pada stasiun pertama

Berikut ini adalah klasifikasi dari plankton yang berhasil diidentifikasi : 1. Evadne nordmanni Kingdom : Animalia Phylum Class Ordo Family Genus Species 2. Nitzschia lorenziana Kingdom : Plantae Phylum Class Ordo Family Genus Species : Bacillariophyta : Bacillariales : Bacillariophyceae : Bacillariaceae : Nitzschia : Nitzschia lorenziana : Arthropoda : Branchiopoda : Diplostraca : Podonidae : Evadne : Evadne nordmanni

3. Labidocera acuta Kingdom : Animalia Phylum Class Ordo Family Genus Species : Arthropoda : Maxilopoda : Calanoida : Noctuoidea : Labidocera : Labidocera acuta

4. Podon polyphemoides

Kingdom Phylum Class Ordo Family Genus Species

: Animalia : Arthropoda : Branchiopoda : Diplostraca : Podonidae : Podon : Podon polyphemoides

5. Nauplius sp. Kingdom : Plantae Phylum Class : Magnoliophyta : Magnoliopsida

Ordo : Asterales Family Genus Species : Asteraceae : Nauplius : Naupilus sp

3.1.2 Bentos

1.

Bentos Pantai

Keterangan Sampling Bentos Pantai: Waktu Sampling Tempat Sampling Posisi : 09.30 WIB : Pantai Labuan : S 0622017 E 1054429

Dari hasil pengamatan pada daerah pantai Desa Cigondang, Labuan yang berada di Banten, kelompok kami menemukan 4 ekor Cirolana borealis, 1 ekor Seila adamsii dan 1 ekor Neptunea decemcostata, berikut ini adalah klasifikasi dari spesies-spesies tersebut : a. Cirolana borealis y y y y y y y Kingdom : Animalia Phylum Class Order Family Genus Species : Arthropoda : Malacostraca : Isopoda : Ceraphronoidea : Cirolana : Cirolana borealis

b. Seila adamsii y y y y y y y Kingdom : Animalia Phylum Class Order Family Genus Species : Mollusca : Gastropoda : Neotaenioglossa : Scolioidea : Seila : Seila adamsii

c. Neptunea decemcostata y y y y y y y 2. Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Neogastropoda : Chalcidoidea : Neptunea : Neptunea decemcostata

Bentos Mangrove

Keterangan Sampling Bentos Mangrove: Waktu Sampling: 11.00 WIB Tempat Sampling: Hutan Mangrove Labuan Dari hasil pengamatan pada daerah pantai Desa Cikondang, Labuan yang berada di Banten, kelompok kami menemukan 1 ekor kepiting bakau yang ukurannya cukup kecil, berikut ini adalah klasifikasi dari kepiting bakau tersebut : a. Scylla olivace Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species : Animalia : Arthropoda : Malacostraca : Decapoda : Geryonidae : Scylla : Scylla olivace

3.1.3 Mangrove Lokasi Sampling Habitat Waktu Sampling : Desa Cigondang : Substrat Lumpur : 09.00 WIB

Pada daerah Desa Cigondang kami menemukan 20x20 meter mangrove. Dari hasil pengamatan dapat diidentifikasi melalui tinjauan pustaka maupun pengamatan langsung, beberapa spesies tersebut adalah :

a.

Avicennia sp Kingdom : Plantae

Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Asteridae : Scrophulariales : Acanthaceae : Avicennia : Avicennia sp

b.

Rhizophora sp Kingdom : Plantae

Sub Kingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta (Menghasilkan biji) : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Myrtales : Rhizophoraceae : Rhizophora : Rhizophora sp

3.1.4 Makroalga Waktu sampling Lokasi Habitat : 09.30 WIB : Pantai Cigondang : substrat berpasir dan berbatu

Pada daerah pantai Desa Cigondang, Labuan-Banten, kelompok kami menemukan sembilan spesies makroalga yang hidup di daerah ini. Dari hasil pengamatan dan identifikasi melalui tinjauan pustaka, kelompok kami berhasil mengidentifikasi, berikut ini adalah klasifikasi dari spesies-spesies makroalga tersebut :

a.

Chaetomorpha sp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Plantae : Chlorophyta : Chlorophyceae : Cladophoraceae : Cladophoraceae : Chaetomorpha : Chaetomorpha sp

b.

Padina gymnospora Kingdom : Chromista Phylum Class Order Family Genus Spesies : Ochrophyta : Phaeophyceae : Dictyotales : Dictyotaceae : Padina :Padina gymnospora

c.

Actinotrichia sp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Plantae : Rhodophyta : Florideophyceae : Nemaliales : Galaxauraceae : Actinotrichia : Actinotrichia sp

d.

Achantophora sp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Plantae : Rhodophyta : Rhodophyceae : Ceramiales : Rhodomelaceae : Acanthophora : Achantophora sp

e.

Gracilaria spp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Plantae : Rhodophyta : Florideophyceae : Gracilariales : Gracilariceae : Gracilaria : Gracilaria spp

f.

Eucheuma cottonii Kingdom : Plantae Phylum Class Order Family Genus Spesies : Rhodophyta : Rhodophyceae : Gigartinales : Solieriaceae : Euheuma : Eucheuma cottonii

g.

Sargassum sp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Chromista : Heterokontophyta : Phaeophyceae : Fucales : Sargassaceae : Sargassum : Sargassum sp

h.

Ulva lactuca Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Plantae : Chlorophyta : Ulvophyceae : Ulvales : Ulvaceae : Ulva : Ulva lactuca

i.

Hormophysa sp Kingdom Phylum Class Order Family Genus Spesies : Chromista : Phaeophyta : Phaeophyceae : Fucales : Cystoseraceae : Hormophysa : Hormophysa sp

3.2 PEMBAHASAN
3.2.1. Plankton Pada stasiun ke dua, sampel diambil pada pukul 09.30 WIB dengan posisi S = 062302,3 dan E = 1054923,1. Perairan memiliki parameter fisik dengan kedalaman 130 centimeter (1,30 meter), kecerahan 55, suhu 31C, dan memiliki substrat lumpur berpasir. Parameter kimia yang tercatat dari volume air yang tersaring, sebanyak 15 Liter, adalah memiliki DO 4,5/mL, pH 8,41/mL, dan salinitas sebesar 25,1/mL. Volume air yang tersaring adalah 20 mL dan volume air yang teramati sebanyak 2 mL. Species plankton yang teramati melalui mikroskop, yakni : No. 1 2 3 4 Species Acartia omorii Copepod nauplius Podon polyphemoides Penilia schmacker Kepadatan (sel/2 mL) 3 4 2 2

Tabel 3. Kepadatan plankton pada stasiun kedua Kelimpahan plankton setiap stasiun dapat dihitung dengan cara : N = n X (Vr/Vo) X (1/Vs) Untuk stasiun pertama kelimpahan plankton adalah N = (3+4+8+3+2+1) X (20/1) X (1/15) = 21 X 20/15 = 28 Untuk kelimpahan plankton di stasiun dua ialah N = (3+4+2+2) X (20/1) X (1/15)

= 11 X 20/15 = 14.67 Kadar oksigen terlarut terbanyak dan hydrogen yang banyak terdapat pada stasiun pertama yang membuat kelimpahan komunitas plankton menjadi banyak dibandingkan pada stasiun kedua. Makin besar kedalaman suatu perairan, makin sedikit plankton yang hidup. 3.2.2. Bentos 1. Bentos di daerah pantai berpasir Sampling bentos dilakukan di 2 tempat berbeda, yang pertama di pantai yang substrat berpasir dan yang kedua di mangrove bersubstrat lumpur. Pada daerah pantai yang substratnya berpasir kebanyakan ditemukan bentos jenis arthropoda dan mollusca. Hewan dari filum molusca banyak ditemukan pada daerah panati berpasir, mereka membenamkan diri mereka sebagai bentuk adaptasi tingkah laku. Selain itu adaptasi morfologi yang berkembang ialah sebagian besar memiliki cangkang yang cukup kuat yang berguna untuk menahan dirinya agar tidak terbawa oleh ombak dan untuk perlindungan dari predator lainnya. Pada daerah yang berbatu ditemukan spesies Cirolana borealis sebanyak 4 ekor, hal ini membuktikan bahwa pada daerah ini, spesies Cirolana borealis mendominasi. Hewan dari filum arthropoda yang memiliki cirri-ciri berwarna putih transparan, berukuran kurang lebih 5mm dan memiliki kaki renang ini memiliki adaptasi yang cukup tinggi untuk dapat bertahan di daerah ini dan menjadi spesies yang mendominasi. Bentos pada daerah termasuk dalam klasifikasi makrobentos karena spesies-spesies yang ditemukan berukuran lebih besar dari 1mm.

2.

Bentos di daerah mangrove Pada daerah mangrove yang substratnya berlumpur ditemukan jenis kepiting

karena pada umumnya mereka mempunyai capit yang berguna untuk menggali tanah

atau lumpur untuk tempatnya berlindung dan juga untuk memangsa hewan lainnya yang hidup pada ekosistem mangrove. Kepiting yang ditemukan berukuran kecil, diduga kepiting ini merupakan kepiting yang masih muda. Seperti yang kita ketahui bahwa daerah mangrove merupakan tempat berkembang biak, mencari makan dan tempat tinggal larva-larva biota laut. Maka dari itulah kepiting-kepiting yang ditemukan di daerah ini rata-rata berukuran kecil.

3.2.3. Mangrove Pada daerah Cigondang kawasan mangrove hanya ada 400m2 jenis-jenis

mangrove yang kelompok kami dapatkan dalam sub transek pancang hanya terdapat 2 spesies, Rhizophora sp, dan Avicennia sp. Keterbatasan kawasan mangrove di desa ini dikarenakan wilayah perkampungan yang meluas, kurangnya penyuluhan tentang mangrove, dan ketidakpedulian terhadap fungsi mangrove yang menyebabkan kawasan mangrove hanya terdapat sedikit di daerah ini.

3.2.4. Makroalga Pada daerah pantai berpasir ini banyak ditemukan berbagai jenis makroalga. Keadaan pantai dengan air yang keruh tidak menjadi faktor pembatas bagi berbagai jenis makroalga untuk tumbuh. Makroalga ini ditemukan hingga kedalaman 1,5 meter. Hal ini membuktikan bahwa pada kedalaman tersebut makroalga dapat tumbuh subur karena sinar matahari masih tembus hingga kedalaman tersebut sehingga makroalga dapat berfotosintesis dengan baik. Makroalga di daerah ini terdiri dari bermacam-macam spesies dari kelas Chlorophyceae, Phaeophyceae dan Rhodophyceae. Namun, pada pantai ini makroalga tumbuh liar dan tidak dimanfaatkan oleh warga sehingga banyak makroalga yang mati dan terbuang sia-sia. Padahal terdapat Eucheuma cottonii, Gracillaria spp dan Sargassum sp yang sudah dapat dibudidayakan sebagai sumber pangan.

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh kelompok 2, di Desa Cigondang Labuan Banten bahwa : Mangrove yang berada di daerah tersebut jumlahnya sedikit karena banyak mangrove yang diklaim (hak milik) warga setempat. Jenis mangrove yang paling banyak terdapat disana adalah spesies Rhizophora sp dan Avicennia sp. Benthos yang terdapat dihutan mangrove jumlahnya sedikit dikarenakan ekosistem mangrove disana jumlahnya juga sedikit sementara itu benthos yang terdapat di pantai berpasir jumlahnya lebih banyak dibandingkan benthos di daerah mangrove, bentosnya didominasi dengan Cirolana borealis. Plankton yang terdapat di pantai Cigondang kelimpahannya cukup tinggi karena memiliki kadar oksigen dan hydrogen terlarut yang tinggi. Plankton di daerah ini didominasi oleh zooplankton. Makroalga banyak tumbuh di daerah pantai Cigondang, tetapi kurang diperhatikan oleh masyarakat pantai.

4.2 Saran Warga Desa Cigondang seharusnya lebih peduli terhadap lingkungan, terutama terhadap biota-biota yang hidup disekitar mereka. Kita sebagai insan kelautan memberikan penyuluhan terhadap warga tentang pentingnya menjaga dan melestarikan biota-biota yang terdapat di daerah itu.

Daftar Pustaka

Romimohtaro, Kasijan dan Sri Juwana, 2007. Biologi Laut: Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Jakarta : Djambatan Suwignyo, Sugiarti dkk, 2005. Avertebrata Air Jilid 1. Jakarta: Penebar Swadaya Wibisono,M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Jakarta : PT. Grasindo http://id.wikipedia.org/wiki/Plankton http://www.o-fish.com/AkuariumLaut/plankton.php http://entahsiapa15.wordpress.com/2009/01/16/pengertian-dan-penggolonganplankton/ http://fajriebdpundip2009.blogspot.com/2010/06/laporan-planktonologi-2009.html http://kuliahplanktonologi.blogspot.com/ http://ostracion.blogspot.com/2010/04/bentos.html http://ojanmaul.wordpress.com/2010/10/05/pemanfaatan-dan-potensimakrozoobentos-sebagai-indikator-kualitas-perairan/ http://fertobhades.wordpress.com/2007/10/15/selamatkan-mangrove/ http://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_bakau

Lampiran

Dokumentasi Mangrove

Identifikasi Mangrove

Dokumentasi Makroalga

Padina gymnospora

Actinotrichia sp

Achantophora sp

Gracillaria spp

Hormophysa sp

Ulva lactuca

Dokumentasi Pengamatan Bentos

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI LAUT

Disusun Oleh : KELOMPOK 2

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN JATINANGOR 2011