Anda di halaman 1dari 82

LAPORAN PRAKTIKUM II PSIKOLOGI SOSIAL IV

Disusun oleh: Theresia Meirosa P Stevia Malini Rr. Permata H Shara Fadhilla H Aisyah Maharani Carissa Erani Sekar Titisani S Rachmah Fitrie I Anthony Siagara Estidia Kumala S 190110080024 190110080090 190110080094 190110080103 190110080104 190110080106 190110080112 190110080126 190110080 190110080

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN 2011

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 TEORI 1.1.1 PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (selanjutnya disingkat PHBS) merupakan suatu program yang dicanangkan untuk mengembangkan perilaku seseorang agar menunjang bagi kepentingan penjagaan maupun peningkatan kesehatannya. PHBS difokuskan pada pemberdayaan masyarakat agar mampu menerapkan PHBS dalam kehidupannya serta berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat di lingkungannya. Definisi PHBS itu sendiri adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan-aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat merupakan upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku guna membantu masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri sehingga masyarakat sadar, mau dan mampu mempraktekkan PHBS melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Sosial Suport) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Berdasarkan 1. 2. 3. 4. 5. tatanan atau tempat pelaksanaan, ruang lingkup PHBS dikelompokkan ke dalam lima tatanan, yaitu sebagai berikut: PHBS Rumah Tangga PHBS Sekolah PHBS Tempat Kerja PHBS Sarana Kesehatan PHBS Tempat-tempat Umum.

Dalam laporan ini, kami akan lebih menekankan penjelasan pada PHBS danlam tatanan Sekolah (Institusi Pendidikan). Dalam hal ini, sekolah (Institusi pendidikan)

yang dimaksud adalah dari tingkat SD/MI, SLTP/MTs sampai dengan SLTA/MA. Sekolah (Institusi Pendidikan) adalah tempat diselenggarakannya proses belajar mengajar secara formal, dimana terjadi transformasi ilmu pengetahuan dari para guru/pengajar kepada anak didiknya. PHBS Sekolah (Institusi Pendidikan) merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan pengajar maupun anak didiknya dalam berperilaku hidup bersih dan sehat. PHBS Sekolah (Institusi Pendidikan) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Manfaat PHBS Sekolah (Institusi Pendidikan) adalah terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit, meningkatnya semangat proses belajar mengajar yang berdampak pada prestasi belajar peserta didik, meningkatnya citra sekolah sehingga mampu menarik perhatian masyarakat, meningkatnya citra daerah di bidang pendidikan, dan dapat menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain. Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Sekolah (Institusi Pendidikan) yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah Menggunakan jamban yang bersih dan sehat Olahraga yang teratur dan terukur Memberantas jentik nyamuk Tidak merokok di sekolah Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan Membuang sampah pada tempatnya

1.1.2 INTENSI Memprediksi prilaku : Intensi dan Perceived behavioral control Sesuai dengan teori reaction-action, faktor penting dalam teori planned behavior adalah intensi seseorang dalam melakukan suatu perilaku. Intensi diasumsikan untuk menangkap faktor motivasional yang mempengaruhi suatu perilaku, mereka adalah indikasi bagaimana sulitnya seseorang agar berkeinginan untuk mencoba, seberapa banyak usaha yang seseorang rencanakan untuk dikeluarkan, yang bertujuan untuk mengerjakan perilaku tersebut. Sebagai aturan umum, semakin besar intense dalam berprilaku, semakin besar kemungkinan perilaku itu muncul.

Intensi dapat diekspektasikan untuk mempengaruhi kinerja hingga seseorang memiliki kontrol atas perilakunya (behavioral control), dan kinerja seharusnya

meningkat bersama dengan perilaku terkontrolnya itu hingga orang tersebut termotivasi untuk mencoba. Kontrol atas perilaku yang terpersepsikan (perceived behavioral control). Hal

terpenting dalam perilaku aktual adalah kepercayaan diri : sumber dan kesempatan yang tersedia bagi seseorang hingga tahap tertentu menentukan kemungkinan pencapaian perilaku orang tersebut. Kekonsistenan terhadap penekanan faktor yang berhubungan dengan perilaku tertentu, perceived behavioral control ini mengacu pada persepsi seseorang terhadap tingkat kesulitan melaksanakan perilaku yang diperhatikan. Dibandingkan dengan locus of control yang merupakan generalisasi ekspektasi yang stabil, perceived behavioral control dapat, dan biasanya terjadi, bervariasi dari situasi dan aksi. Sehingga seseorang dapat percaya bahwa secara umum hasil (outome) miliknya akan terdeterminasi dari perilakunya sendiri (internal locus of control), namun di waktu bersamaan ia juga akan percaya bahwa kesempatannya untuk menjadi pilot kecil (low perceived behavioral control). Pandangan masa kini mengenai perceived behavioral control sangat sesuai dengan konsep Bandura mengenai persepsi sel-efficacy (perceived self-efficacy), yaitu berkaitan dengan penilaian seberapa baik seseorang dapat melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi situasi yang akan dating.(is concerned with judgement of how well one can execute courses of action required to deal with prospective situation) (Bandura, 1982, p.122). akan kemampuannya dalam melaksanakan investigasi yang dilakukan Self-efficacy dapat menunjukkan bahwa perilaku seseorang sangat terpengaruh oleh kepercayaan diri sesuatu. mempengaruhi pemilihan aktivitas, persiapan untuk beraktivitas, usaha yang dikeluarkan ketika pelaksanaan, dan juga pola pikir serta reaksi emosional(Bandura 1982, 1991). Teori planned behavior meletakkan konstruk dari self-efficacy atau perceived behavioral control di dalam kerangka pikir umum dianatara relasi kepercayaan(belief), sikap(attitude), intensi, dan perilaku. Berdasarkan teori planned behavior, perceived behavioral control, dan juga intensi berperilaku, dapat langsung digunakan untuk mengukur pencapaian perilaku (behavioral achievement). setidaknya ada dua hal yang rasional yang ditawarkan

dalam hipotesis ini.

Pertama, berpegang pada kekonstanan intensi, usaha yang Alasan kedua adalah, untuk

dikeluarkan dalam suatu perilaku untuk akhir yang berhasil, adalah untuk meningkatkan perceived behavioral control. mengekspektasikan hubungan langusng antara perceived behavioral control dan behavioral achievement adalah dengan perceived behavioral control sering digunakan sebagai pengganti dalam pengukuran suatu kontrol aktual. Apakah suatu pengukuran dari perceived behavioral control dapat mengganti pengukuran control aktual, bergantung pada keakuratan persepsinya. Perceived behavioral control dapat menjadi tidak realistis ketika seseorang memiliki informasi yang sedikit mengenai suatu perilaku, ketika sumber yang dibutuhkan atau yang tersedia berganti, atau ketika ada elemen baru atau tidak dikenal memasuki situasi itu. Dalam kondisi seperti ini, pengukuran perceived behavioral control dapat sedikit menambah keakuratan dari prediksi perilaku. Namun hanya hingga pada tahap bahwa perceived control itu realistis, hal ini dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan keberhasilan pecobaan perilaku (behavioral attempt).(Ajzen, 1985)

Memprediksi Perilaku: Temuan Empiris Menurut teori planned behavior, kinerja perilaku merupakan fungsi gabungan dari niat dan kontrol perilaku yang dirasakan. Untuk mendapatkan prediksi yang akurat, beberapa kondisi harus dipenuhi. Pertama, perilaku niat dan kontrol perilaku yang dirasakan harus sesuai dengan (Ajzen & Fishbein, 1977) atau sesuai dengan (Ajzen, 1988) perilaku yang ingin diperkirakan. Artinya, niat dan persepsi kontrol harus dinilai dalam kaitannya dengan perilaku tertentu yang menarik, dan konteks yang ditentukan harus sama seperti konteks di mana perilaku tersebut terjadi. Sebagai contoh, jika perilaku yang akan diprediksi adalah menyumbangkan uang ke Palang Merah , maka kita harus menilai niat menyumbangkan uang ke Palang Merah(bukan niat menyumbangkan uang secara umum maupun niat membantu Palang Merah sebagaimana kontrol yang dirasakan terhadap menyumbangkan uang kepada Palang Merah. Kondisi kedua untuk prediksi perilaku yang akurat adalah bahwa niat dan kontrol perilaku yang dirasakan harus tetap stabil pada

interval antara penilaian dan pengamatan perilaku. peristiwa intervensi dapat menghasilkan perubahan pada niat atau persepsi pengendalian perilaku, dengan efek bahwa tindakan asli variabel tersebut tidak lagi membiarkan prediksi perilaku yang akurat. Persyaratan ketiga untuk validitas prediksi berkaitan dengan akurasi kontrol perilakuyang dirasakan. Seperti disebutkan sebelumnya, prediksi perilaku dari kontrol perilaku yang dirasakan harus meningkat sejauh mana persepsi pengendalian perilaku mencerminkan kontrol sebenarnya secara realistis. Kepentingan relatif dari niat dan kontrol perilaku dirasakan dalam prediksi perilaku diharapkan dapat bervariasi di seluruh situasi dan seluruh perilaku yang berbeda. Ketika perilaku atau situasi memberikan kendali penuh atas kinerja perilaku, niat saja seharusnya cukup untuk memprediksi perilaku, sebagaimana ditentukan dalam theory of reasoned action. Penambahan kontrol perilaku yang dirasakan harus menjadi semakin berguna sebagai kontrol kehendak atas penurunan perilaku. Keduanya, niat dan persepsi pengendalian perilaku, dapat membuat kontribusi yang signifikan pada prediksi perilaku, tetapi dalam aplikasi tertentu, salah satunya mungkin lebih penting daripada yang lain dan, pada kenyataannya, hanya satu dari dua prediktor mungkin diperlukan. Niat dan perilaku. Bukti mengenai hubungan antara niat dan tindakan telah dikumpulkan sehubungan dengan banyaknya jenis perilaku yang berbeda, yang mana banyak pekerjaan yang dilakukan dalam rangka teori tindakan beralasan. Tinjauan penelitian ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber (misalnya, Ajzen, 1988; Ajzen & Fishbein, 1980; Canary & Seibold, 1984; Sheppard, Hartwick, & Warshaw, 1988). Perilaku yang terlibat telah berkisar mulai dari pilihan strategi yang sangat sederhana di laboratorium permainan sampai pada tindakan yang lumayan pribadi atau bermakna sosial,. Sebagai aturan umum diketahui bahwa ketika perilaku tidak menimbulkanmasalah kontrol yang serius, mereka dapat diprediksi dari niat dengan akurasi yang cukup (lihat Ajzen, 1988; Sheppard, Hartwick, & Warshaw, 1988). Contoh yang baik dapat ditemukan dalam perilaku yang melibatkan pilihan antara alternatif yang tersedia. Misalnya, niat pemungutan suara orang-orang, menilai waktu yang singkat sebelum pemilihan presiden, cenderung berkorelasi dengan suara

pilihan voting yang sebenarnya dalam kisaran 0,75 sampai 0,80 (lihat Fishbein & Ajzen, 1981). Sebuah keputusan yang berbeda adalah pada masalah pilihan ibu tentang metode menyusui (payudara versus botol) untuk bayi yang baru lahir. Pilihan ini ditemukan memiliki korelasi 0,82 dengan niat yang ditunjukkan beberapa minggu sebelum pengiriman (Manstead, Proffitt, & Smart, 1983). Kontrol perilaku yang dirasakan. Pada artikel ini, bagaimanapun, kita fokus pada situasi yang mungkin perlu untuk melampaui total aspek perilaku manusia yang dikendalikan. Kami beralih kepada penelitian yang dilakukan dalam kerangka teori perilaku terencana, penelitian yang telah mencoba untuk memprediksi perilaku dengan menggabungkan niat dan kontrol perilaku yang dirasakan. Tabel 1 merangkum hasil dari beberapa penelitian terkini yang telah berurusan dengan berbagai macam aktivitas, dari bermain video game dan kehilangan berat badan sampai pada menipu, mengutil, dan berbohong. Melihat empat kolom pertama dari data, dapat dilihat bahwa kedua prediksi, niat dan kontrol perilaku yang dirasakan, cukup berhubungan baik dengan kinerja perilaku. Koefisien regresi menunjukkan bahwa dalam lima studi pertama, masing-masing dari dua variabel yang mendahului membuat kontribusi yang signifikan terhadap prediksi perilaku. Niat x interaksi kontrol. Kami mencatat sebelumnya bahwa teori terakhir sebagaimana intuisi akan membuat kita mengharapkan interaksi antara motivasidan kontrol. Dalam konteks teori perilaku terencana, harapan ini menyiratkan bahwa niat dan persepsi pengendalian perilaku harus berinteraksi dalam prediksi suatu perilaku. Memprediksi Niat: Sikap, Norma Subyektif, dan yang dirasakan Kontrol Perilaku Teori perilaku yang direncanakan mempostulat tiga penentu niat yang independen secara konseptual. Yang pertama adalah sikap terhadap perilaku (attitude toward the behavior) dan mengacu pada sejauh mana seseorang memiliki evaluasi atau penilaian yang menyenangkan atau tidak dari perilaku yang bersangkutan. Sikap ini merupakan suatu sikap terhadap perilaku tertentu. Hal ini bersifat personal dari dalam diri individu mengenai perilaku tertentu. Sikap dapat menggambarkan evaluasi positif atau negatif terhadap perilaku tersebut. Evaluasi positif dapat berupa

mendukung, atau menganggap baik perilaku tersebut. Evaluasi negatif dapat berupa menolak atau menganggap buruk perilaku yang ditampilkan.

Prediktor yang kedua adalah faktor sosial yang disebut norma subyektif (subjective norm), mengacu pada tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku. Norma ini merupakan sesuatu yang dipengaruhi dari luar. Pengaruh dari luar biasanya adalah pengaruh sosial terhadap individu yang melakukan penilaian mengenai suatu perilaku tertentu. Penilaian dapat berubah persepsinya terhadap sesuatu berhubungan dengan tekanan sosial yang ia alami berkenaan dengan keharusan atau tidak untuk melakukan atau menampilkan tingkah laku tertentu. Niat pendahulu yang ketiga adalah derajat kontrol perilaku yang dirasakan(perceived behavioral control), yang seperti kita lihat sebelumnya, mengacu pada kemudahan atau kesulitan yang dirasakan untuk menunjukkan perilaku dan diasumsikan untuk mencerminkan pengalaman masa lalu sebagai rintangan yangantisipasi sebagaimana juga sebagai hambatan. Sebagai aturan umum, lebih baik sikap dan norma subyektif terhadap perilaku, dan semakin besar kontrol perilaku yang dirasakan, harusnya semakin kuat niat individu untuk melakukan perilaku di bawah pertimbangan. Kepentingan relatif dari sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku kontrol yang disadari dalam prediksi niat diharapkan dapat bervariasi di antara perilaku dan situasi. Dengan demikian, dalam beberapa aplikasi mungkin ditemukan bahwa hanya sikap yang memiliki dampak yang signifikan terhadap niat, pada orang lain sikap dan kontrol perilaku yang dirasakan cukup untuk menjelaskan niat, dan pada yang lain ketiga prediktor membuat kontribusi yang independen.

Memprediksi Intensi: Temuan Empiris Sama pentingnya, penambahan kontrol perilaku yang dirasakan membawa perbaikan yang dapat dipertimbangkan dalam prediksi niat; koefisien regresi dari kontrol

perilaku yang dirasakan cukup signifikan dalam setiap studi. Perhatikan juga bahwa, dengan hanya satu pengecualian, sikap terhadap berbagai perilaku telah memberikan kontribusi signifikan terhadap prediksi niat, sedangkan hasil untuk norma subyektif tercampur, tanpa pola yang terlihat jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa, karena perilaku dipertimbangkan, pertimbangan pribadi cenderung membayangi pengaruh tekanan sosial yang dirasakan.

1.1.3 DINAMIKA KELOMPOK Pengertian dinamika kelompok dapat diartikan melalui asal katanya, yaitu dinamika dan kelompok. Dinamika adalah sesuatu yang mengandung arti tenaga kekuatan, selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri secara memadai terhadap keadaan. Dinamika juga berarti adanya interaksi dan interdependensi antara anggota kelompok dengan kelompok secara keseluruhan. Keadaan ini dapat terjadi karena selama ada kelompok, semangat kelompok (group spirit) terus-menerus ada dalam kelompok itu, oleh karena itu kelompok tersebut bersifat dinamis, artinya setiap saat kelompok yang bersangkutan dapat berubah. Kelompok adalah kumpulan orang-orang yang merupakan kesatuan sosial yang mengadakan interaksi yang intensif dan mempunyai tujuan bersama. Menurut W.H.Y. Sprott mendefinisikan kelompok sebagai beberapa orang yang bergaul satu dengan yang lain. Kurt Lewin berpendapat the essence of a group is not the similarity or dissimilarity of its members but their interdependence. H. Smith menguraikan bahwa kelompok adalah suatu unit yang terdapat beberapa individu, yang mempunyai kemampuan untuk berbuat dengan kesatuannya dengan cara dan dasar kesatuan persepsi. Interaksi antar anggota kelompok dapat menimbulkan kerja sama apabila masing-masing anggota kelompok: Mengerti akan tujuan yang dibebankan di dalam kelompok tersebut Adanya saling menghomati di antara anggota-anggotanya Adanya saling menghargai pendapat anggota lain Adanya saling keterbukaan, toleransi dan kejujuran di antara anggota kelompok

Menurut Reitz (1977) kelompok mempunyai karakteristik sebagai berikut: Terdiri dari dua orang atau lebih Berinteraksi satu sama lain Saling membagi beberapa tujuan yang sama Melihat dirinya sebagai suatu kelompok Kesimpulan dari berbagai pendapat ahli tentang pengertian kelompok adalah kelompok tidak terlepas dari elemen keberadaan dua orang atau lebih yang melakukan interaksi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Dinamika kelompok merupakan suatu kelompok yang terdiri dari dua atau lebih individu yang memiliki hubungan psikologi secara jelas antara anggota satu dengan yang lain yang dapat berlangsung dalam situasi yang dialami secara bersama. Dinamika kelompok juga dapat didefinisikan sebagai konsep yang menggambarkan proses kelompok yang selalu bergerak, berkembang dan dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang selalu berubah-ubah. Dinamika kelompok mempunyai beberapa tujuan, antara lain: Membangkitkan kepekaan diri seorang anggota kelompok terhadap anggota kelompok lain, sehingga dapat menimbulkan rasa saling menghargai Menimbulkan rasa solidaritas anggota sehingga dapat saling menghormati dan saling menghargai pendapat orang lain Menciptakan komunikasi yang terbuka terhadap sesama anggota kelompok Menimbulkan adanya itikad yang baik diantara sesama anggota kelompok. Proses dinamika kelompok mulai dari individu sebagai pribadi yang masuk ke dalam kelompok dengan latar belakang yang berbeda-beda, belum mengenal antar individu yang ada dalam kelompok. Mereka membeku seperti es. Individu yang bersangkutan akan berusaha untuk mengenal individu yang lain. Es yang membeku lama-kelamaan mulai mencair, proses ini disebut sebagai ice breaking. Setelah saling mengenal, dimulailah berbagai diskusi kelompok, yang kadang diskusi bisa sampai memanas, proses ini disebut storming. Storming akan membawa perubahan pada sikap dan perilaku individu, pada proses ini individu mengalami forming. Dalam setiap kelompok harus ada aturan main yang disepakati bersama oleh semua

anggota kelompok dan pengatur perilaku semua anggota kelompok, proses ini disebut norming. Berdasarkan aturan inilah individu dan kelompok melakukan berbagai kegiatan, proses ini disebut performing. Secara singkat proses dinamika kelompok dapat dilihat pada gambar berikut:

Individ u

Ice Breaking

Storming

Formin g

Performin g

Normin g

Alasan pentingnya dinamika kelompok: Individu tidak mungkin hidup sendiri di dalam masyarakat Individu tidak dapat bekerja sendiri dalam memenuhi kehidupannya Dalam masyarakat yang besar, perlu adanya pembagian kerja agar pekerjaan dapat terlaksana dengan baik Masyarakat yang demokratis dapat berjalan baik apabila lembaga sosial dapat bekerja dengan efektif Dinamika kelompok seperti disebutkan di bagian awal, menjadi bahan persaingan dari para ahli psikologi, ahli sosiologi, ahli psikologi sosial, maupun ahli yang menganggap dinamika kelompok sebagai eksperimen. Hal tersebut membawa pengaruh terhadap pendekatan-pendekatan yang ada dalam dinamika kelompok. 1. Pendekatan oleh Bales dan Homans Pendekatan ini mendasarkan pada konsep adanya aksi, interaksi, dan situasi yang ada dalam kelompok. Homans menambahkan, dengan adanya interaksi dalam kelompok, maka kelompok yang bersangkutan merupakan sistem interdependensi, dengan sifat-sifat: Adanya stratifikasi kedudukan warga

Adanya diferensiasi dalam hubungan dan pengaruh antara anggota kelompok yang satu dengan yang lain Adanya perkembangan pada sistem intern kelompok yang diakibatkan adanya pengaruh faktor-faktor dari luar. 2. bentuk Pendekatan oleh Stogdill Pendekatan ini lebih menekankan pada sifat-sifat kepemimpinan dalam organisasi formal. Stogdill menambahkan bahwa yang dimaksud kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktivitas kelompok yang terorganisir sebagai usaha untuk mencapai tujuan kelompok. Kelompok terorganisir yang dimaksud disini adalah kelompok yang tiap-tiap anggotanya mendapat tanggungan dalam hubungannya dengan pembagian tugas untuk mencapai kerja sama dalam kelompok.
3.

Pendekatan dari ahli Psycho Analysis (Sigmund Freud dan

Scheidlinger) Scheidlinger berpendapat bahwa aspek-aspek motif dan emosional memegang peranan penting dalam kehidupan kelompok. Kelompok akan terbentuk apabila didasarkan pada kesamaan motif antar anggota kelompok, demikian pula emosional yang sama akan menjadi tenaga pemersatu dala kelompok, sehingga kelompok tersebut semakin kokoh. Freud berpendapat bahwa di dalam setiap kelompok perlu adanya kesatuan kelompok, agar kelompok tersebut dapat berkembang dan bertahan lama. Kesatua kelompok akan terbentuk apabila tiap-tiap anggota kelompok melaksanakan identifikasi bersama antara anggota yang satu dengan yang lain. 4. Pendekatan dari Yennings dan Moreno Yennings mengungkapkan konsepsinya tentang pilihan bebas, spontan, dan efektif dari anggota kelompok yang satu terhadap angota kelompok yang lain dalam rangka pembentukan ikatan kelompok. Moreno membedakan antara psikhe group dan sosio group sebagai berikut:
Psikhe group merupakan suatu kelompok yang terbentuk atas dasar suka/tidak

suka, simpati, atau antipati antar anggota


Sosio group merupakan kelompok yang terbentuk atas dasar tekanan dari pihak

luar.

Yennings menambahkan bahwa pelaksanaan tugas akan lebih lancar apabila pembentukan Sosio group disesuaikan dengan Psikhe group, dengan memperhatikan faktor-faktor efisiensi kerja dan kepemimpinan dalam kelompok.

FUNGSI DINAMIKA KELOMPOK 1. Individu satu dengan yang lain akan terjadi kerjasama saling membutuhkan (individu tidak dapat hidup sendiri di dalam masyarakat) 2. Dinamika kelompok memudahkan segala pekerjaan (dalam dinamika kelompok ada saling bantu antara anggota satu dengan anggota yang lain) 3. Melalui dinamika kelompok segala pekerjaan yang membutuhkan pemecahan masalah dapat teratasi, mengurangi beban pekerjaan yang terlalu besar, sehingga waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dapat diatur secara tepat, efektif dan efisien (dalam dinamika kelompok pekerjaan besar akan dibagi-bagi sesuai dengan bagian kelompoknya masing-masing) 4. Meningkatkan masyarakat yang demokratis, individu satu dengan yang lain dapat memberikan masukan atau berinteraksi dengan lainnya dan memiliki peran yang sama dalam masyarakat.

1.2 LATAR BELAKANG PELAKSANAAN PRAKTIKUM MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Pelaksanaan praktikum MJKH ini dilakukan untuk mengetahui jadwal kegiatan mahasiswa terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Praktikum ini mengenai assessment partisipatif Pelaksanaan praktikum dengan menggunakan assesment partisipatif ini memungkinkan peserta untuk aktif dalam melakukan kegiatannya. Adapun perlengkapan dan prosedur pelaksanannya adalah sebagai berikut: Perlengkapan : 1. Satu orang pemandu dan satu orang notulis. 2. Partisipan yang terdiri dari 5-8 mahasiswa dari fakultas/jurusan/program studi yang sama. 3. Selembar kertas besar bagi setiap peserta, untuk menggambarkan jam kegiatan, dengan tabel 7 hari dan 24 jam perhari yang sudah disiapkan oleh tim pemandu. 4. Potongan-potongan kertas berwarna. Setiap potongan warna mewakili satu kegiatan tertentu, disiapkan pula sejumlah warna untuk mengantisipasi adanya kegiatan yang unik pada beberapa orang partisipan. 5. Double tape untuk setiap peserta untuk menempelkan kertas berwarna ke kertas besar. 6. Alat tulis/spidol untuk setiap peserta untuk menuliskan legend yang perlu dituliskan pada lembar kerjanya. 7. Alat perekam dengan kelengkapannya (jika ada). Siapkan backup untuk menjaga kemungkinan kegagalan merekam. Prosedur pelaksanaan : 1. Berikan penjelasan tentang apa saja yang akan didiskusikan dalam pertemuan Membuat Jadwal Kegiatan Harian (MJKH). 2. Jelaskan pula proses MJKH ini akan direkam (jika dilakukan) untuk kepentingan keakuratan data. 3. Berikut adalah daftar informasi yang diperlukan sebagai data

a. Perkiraan jarak antara tempat tinggal dan kampus, dan waktu yang diperlukan untuk perjalanan antara tempat tinggal dan kampus. b. Kendaraan yang dimiliki, bagaimana mencapai kampus atau pulang? c. Jam berapa bangun pagi? Rata-rata? d. Jadwal BAB, keteraturan e. Frekuensi mandi, kebiasaan mencuci tangan f. Frekuensi kerasam/mencuci rambut g. Frekuensi makan, waktu, keteraturan dan jenis makanan h. Jumlah minum i. Rutinitas olah raga j. Kegiatan perkuliahan k. Mengerjakan tugas dari perkuliahan l. Jam tidur malam, berapa jam rata-rata m. Kegiatan hiburan n. Rutinitas periksa kesehatan 4. Proses MPK a. Setelah partisipan mengetahui kegiatan apa saja yang seharusnya dimasukkan ke dalam tabel Jadwal Kegiatan Harian, persilakan partisipan untuk mulai mengisi tabel. b. Tim pemandu boleh membantu merekatkan kertas warna atau menempatkan kertas warna tersebut pada tempat yang dikehendaki oleh partisipan, tapi boleh mengklarifikasi pilihan aktivitas atau waktu aktivitasnya, misalnya: Apakah memang aktivitas itu Anda lakukan pada jam tersebut? atau Apakah selama/sesering itu aktivitas tersebut Anda lakukan?. c. Pemandu tidak diperkenankan memberikan penilaian atas aktivitas partisipan yang ditampilkan dalam tabel. d. Setelah tabulasi kegiatan, peserta diminta menuliskan legend yang mewakili aktivitasnya. e. Selanjutnya Jadwal Kegiatan Harian digunakan sebagai salah satu dasar dari FGD. MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK)

Adapun prosedur pelaksanaan praktikum sesi Menggambar Peta Kampus adalah sebagai berikut: 1. Tahap Persiapan: a. Menghubungi semua calon partisipan untuk mendapatkan kesepakatan mengenai waktu pelaksanaan pengambilan data. b. Memberikan penjelasan mengenai proses Membuat Peta Kampus, waktu yang akan diperlukan (dari pukul berapa sampai dengan pukul berapa), juga siapa saja yang akan hadir dalam praktikum ini. c. Mengingatkan partisipan satu atau dua hari sebelum hari H dilaksanakannya praktikum. 2. Awal tahap pelaksanaan: a. Menuliskan topik Menggambar Peta Kampus di papan tulis: Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan dan berbagai fasilitasnya, sehubungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. b. Menjelaskan topik gambar/diskusi beserta segala aspek yang terlibat, sehingga peserta memahami apa yang akan mereka lakukan. c. Memberikan karton kepada para peserta dan membagikan marker kepada masing-masing peserta. 3. Proses MPK a. Mendiskusikan tentang jumlah gedung dan berbagai fasilitas yang ada di kampus, terutama yang berkaitan dengan isyu kebersihan dan kesehatan sambil fasilitator. mencatatkan fasilitas kampus yang mereka sebutkan berkaitan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. b. Setelah mendiskusikan, mempersilahkan partisipan untuk menggambar peta kampus.

c. Setelah gambar peta selesai, meminta peserta membuat legend yang

menjelaskan isi gambar mengenai keterangan nama tempat, fasilitas yang menunjang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, fasilitas yang kurang/tidak menunjang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Focus group discussion yang lebih terkenal dengan singkatannya FGD merupakan salah satu metode riset kualitatif yang paling terkenal selain teknik wawancara. FGD adalah diskusi terfokus dari suatu group untuk membahas suatu masalah tertentu, dalam suasana informal dan santai. Jumlah pesertanya bervariasi antara 8-12 orang, dilaksanakan dengan panduan seorang moderator. Sebenarnya FGD sendiri konsepnya hampir sama dengan wawancara yang bertujuan untuk mengetahui dinamika atau kecenderungan personaliti seseorang. Hanya memang dalam FGD peserta ditempatkan dalam sebuah kelompok sehingga selain bisa dilihat kecenderungan personalnya juga akan terlihat bagaimana ia berhubungan dengan lingkungan diluar dirinya dan menghadapi situasi yang berada di luar prediksinya. Manfaat FGD antara lain: 1. Praktis dan ekomonis. Penggunaaan FGD memungkinkan tim melakukan satu kegiatan dengan beberapa orang sekaligus. Seperti yang sudah disampaikan pada artikel sebelumnya, dalam FGD normalnya setiap kelompok terdiri dari 4 7 orang dan rata-rata satu kelompok waktunya adalah 20 30 menit sehingga FGD akan menghemat waktu yang harus diluangkan pemandu. 2. FGD mengungkap beberapa aspek sekaligus seperti pemahaman atas permasalahan di sekitarnya, logika berfikir, pengambilan keputusan, inisiatif, ketrampilan komunikasi, kepercayaan diri dan masih banyak hal lainnya. 3. FGD lebih bersifat natural bila dibandingkan dengan wawancara, namun justru dari situ dapat dilihat antisipasi peserta dalam menyelesaikan permasalahan atau kasus yang diberikan. Selain itu bisa dilihat juga bagaimana ketahanannya dalam berhadapan dengan situasi yang underpressure. Tidak seperti wawancara yang

pressurenya dari pertanyaan interviewernya, pressure dari FGD selain berupa kasus itu sendiri bisa dari anggota kelompok lainnya (ketika si peserta membandingkan kemampuannya dengan kemampuan anggota kelompok yang lainnya termasuk juga bagaimana pengendalian dirinya). Umumnya dalam FGD setiap kelompok terdiri dari 4 sampai 7 orang, namun hal ini bisa disesuaikan dengan kemampuan observasi dari pemandu. Dengan kemampuan yang expert, jumlah anggota kelompok masih bisa ditambah lagi. Setelah terbentuk kelompok-kelompok, pemandu memberikan penjelasan sekalilas kepada kelompok bahwa mereka harus mendiskusikan kasus yang akan diberikan kepadanya. Untuk efisiensi, pembatasan waktu kadang boleh diterapkan. Namun pada beberapa situasi, pembatasan waktu ini justru menghambat dinamika kelompok karena seringkali karena terdesak oleh waktu maka kelompok akan melakukan voting untuk mendapatkan penyelesaikan yang disepakati. Jadi, berapa waktu yang digunakan juga sangat fleksibel, tergantung dari kebutuhan tiap-tiap perusahaan. Setelah kelompok mendapatkan penyelesaian yang dirasa paling tepat, ada baiknya pemandu membahas dinamika kelompok tersebut seperti apa yang mereka dapatkan dari kasus seperti itu, atau apa yang dirasakan ketika harus bekerja dengan orang lain, dsb. Intinya adalah bagaimana membuat peserta mendapatkan insight atau wawasan baru dari kasus atau dinamika kelompok yang baru saja ia lewati. Adapun prosedur Focus Group Discussion adalah sebagai berikut: Persiapan: 1. Menetukan tiga orang anggota kelompok untuk bergabung dalam tim FGD
2. Membuat guideline sesuai dengan tema dan tujuan FGD

3. Menyusun jadwal (alokasi waktu, durasi, menentukan tanggal dan jam pelaksanaan) 4. Menentukan tempat pelaksanaan 5. Mencari dan menghubungi calon partisipan 6. Membagi tugas di antara tim FGD (moderator, observer, notulensi)

7. Menyiapkan peralatan (recorder, flip chart, alat tulis, kursi, papan tulis)

Pelaksanaan : 1. Memastikan peserta datang sesuai jadwal yang ditetapkan 2. Mengecek persiapan terakhir (ruangan, peralatan, posisi duduk)
3. Menuliskan topik pada flip chart

4. Membuka FGD (memperkenalkan tim FGD)


5. Menjelaskan tema dan topik diskusi

6. Menjelaskan aturan main dalam FGD


7. Memberikan pertanyaan sesuai dengan tema dan topik FGD

8. Mendengarkan pendapat 9. Mencatat hasil atau pendapat peserta 10.Memberikan kesimpulan 11.Menutup FGD (mengucapkan terima kasih, menjamin kerahasiaan data)

BAB 2 HASIL KESIMPULAN PRAKTIKUM

2.1 DATA RESPONDEN 1.1 DESKRIPSI RESPON PESERTA MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH)

MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Bedasarkan hasil observasi, selama proses praktikum Menggambar Peta Kampus (MPK), para peserta terlihat antusias dan langsung memahami apa yang harus dilakukan dan apa yang harus digambar. Hal ini terlihat dari respon peserta yang menyimak ketika kami menyampaikan instruksi dan saat mereka mengerjakan gambar peta kampus. Para peserta yang terdiri atas 8 orang tersebut langsung membagi tugas sesuai jumlah tingkat gedung kuliah yang mereka gunakan sehari-hari, yaitu 3 tingkat (lantai). Awalnya, mereka langsung membagi siapa yang menggambar bagian lantai 1, lantai 2, dan lantai 3 sehingga proses penggambaran tidak berlangsung lama. Selama menggambar, mereka saling berdiskusi dan bahkan ada yang berdebat. Perdebatan yang terjadi umumnya adalah saat memutuskan apakah suatu ruangan itu bersih atau kurang bersih. Saat berdebat, peserta tidak hanya mengeluarkan pendapatnya namun juga berusaha mendengarkan saran dari teman-temannya. Hal lain yang terjadi adalah, karena peserta merupakan mahasiswa angkatan 2008 ke atas, para peserta sangat terlihat menguasai dan mengenal setiap seluk beluk gedung kampusnya. Hal tersebut menyebabkan ketika kami memberi beberapa pertanyaan terkait dengan keadaan kampus, misalnya dimana saja letak tempat sampah, para peserta dapat dengan cekatan memberi tanda. Demikian juga dengan ukuran ruangan, para peserta sering berdebat mengenai ukuran ruangan yang ada, dan pada akhirnya selalu menghasilkan keputusan yang dapat diterima oleh peserta lainnya. Selama proses Menggambar Peta Kampus berlangsung,

para peserta mengerjakan dengan bersemangat namun tidak pernah mengajukan pertanyaan pada fasilitator mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Menggambar Peta Kampus.

MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) Pada awalnya, semua responden berpikir sambil menoleh ke kanan dan kiri, tampak seperti menunggu responden lain yang menjawab terlebih dahulu. Kemudian responden satu persatu mulai menyebutkan tempat laundry, dokter gigi, petugas kebersihan, dan puskesmas. Mimi dan Bowo berdiskusi apakah PDAM juga termasuk dalam institusi yang mendukung PHBS. Sebagian responden terlihat diam sambil berpikir. Kebanyakan dari responden hanya mengiyakan jawaban responden lain. Dan kemudian, Ala seperti memberi stimulus kepada teman-temannya untuk berpikir lebih, seperti mempersilahkan temannya untuk menjawab. Mimi dan Julia selalu melihat ke arah Ala dan Bowo, seperti menunggu jawaban dari kedua orang tersebut. Ketika Bowo, dan dua responden perempuan sedang berdiskusi. Frans dan Eka terlihat juga berdiskusi. Ala kemudian menanyakan apakah organisasi mahasiswa termasuk dalam intitusi dan menanyakan nama organisasi tentang lingkungan kepada temantemannya. Eka mengeluarkan nama ENVI yang merupakan nama organisasi dalam FTIP tersebut. Nama dari organisasi tersebut tidaklah sangat jelas dalam ingatan mereka karena terlihat bahwa mereka susah untuk merecall nama tersebut dengan lancar. Laura memunculkan nama Green Peace dan mereka mulai tersenyum-senyum. Dan mengatakan bahwa BEM-Unpad juga sering mengadakan acara untuk lingkungan. Setelah itu, kami membahas tentang respons yang diberikan mengenai institusi tersebut. Pada saat membahas itu, responden menambahkan beberapa institusi lagi, yaitu supermarket, apotek., dan tempat makan. Responden kelompok kami terlihat sangat nyaman dengan diskusi tersebut. Semua terlihat dapat mendominasi dan aktif dalam memberikan tanggapan. Pada proses diskusi terlihat bahwa ada tiga kubu yang sering berinteraksi, yaitu kubu 1 (Frans, Eka, dan Laura), kubu 2 ( Mimi dan Julia), dan kubu 3 (Ala dan Bowo). Ketika berdiskusi kubu 2 sering menoleh ke arah kubu 3. Ala juga sering membantu lancarnya diskusi, misalnya ketika semua teman-temannya berbicara pada saat yang sama, dia meminta temannya untuk mengacungkan tangan. Responden juga bertanya ketika ada jawaban yang meragukan dan

menanyakan pendapat kami. Oleh karena itu, semua jawaban yang diberikan dirasakan cukup maksimal dari para responden. Pada saat mengerjakan diagram venn, mereka memilih warna, menentukan bentuk dan besarnya serta menggunting kertas lipat sesuai dengan lambang yang diinginkan. Semua responden menggambar lambang institusi yang diinginkan dan mengguntingnya. Secara otomatis, mereka masing-masing sudah dapat mengambil peran apa yang akan dilakukan dalam menyelesaikan tugas diagram venn. FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Bedasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD), seluruh partisipan terlihat aktif dalam memberikan pendapat mengenai topik yang diajukan, yaitu mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Beberapa partisipan memang terlihat lelah pada saat FGD dimulai, akan tetapi mereka tetap menunjukkan antusiasme mereka dan fokus pada topik yang dibicarakan. Berikut ini akan dipaparkan mengenai deskripsi respon masing-masing peserta. Subjek A, saat FGD dimulai, subjek terlihat memperhatikan flip chart dan menbaca definisi dari topik yang akan dibahas. Ketika subjek ditanya, ia memikirkannya sebentar baru menjawab, biasanya menggunakan tangan dan jemari untuk menjelaskan atau menggambarkan masalah. Subjek menjaga kontak mata dengan fasilitator dan cukup membantu fasilitator dalam menjaga kondisi FGD tetap kondusif dan tidak monoton. Selama jalannya FGD, subjek selalu terlibat aktif dalam memberikan pendapatnya. Subjek B, dalam memberikan pendapatnya ia mengambil kesimpulan dari pendapat peserta yang lainnya baru kemudian menambahkannya dengan jawaban sendiri, kecuali untuk beberapa pertanyaan yang mungkin sesuai dengan keadaannya, ia memiliki inisiatif sendiri untuk menjawab sebelum dipersilakan. Selama jalannya FGD subjek Cukup antusias dan aktif, posisi duduknya condong kedepan, dan beberapa kali mengubah posisi duduk. Subjek E, dalam berpendapat ia kurang memiliki inisiatif sendiri. Akan tetapi, apabila ada orang lain yang menjawab dan sesuai dengan kondisinya, atau malah bertentangan, ia akan memberi tanggapan atas jawaban orang tersebut. Posisi duduk subjek selama jalannya FGD cenderung menyender ke belakang. Subjek juga terlihat lelah akan tetapi ia berusaha untuk tetap terlibat aktif dalam FGD ini.

Subjek F, terlibat aktif dan antusias selama FGD berlangsung. Subjek memiliki inisiatif sendiri untuk berpendapat ataupun memberikan tanggapan mengenai pendapat peserta yang lain. Ketika ingin memberikan tanggapan atas pendapat peserta yang lain subjek akan menunggu hingga peserta yang lain selesai menyampaikan tanggapan mereka. Cara subjek berpendapat pun terkesan tenang dan santai. Ketika berpendapat subjek menggunakan tangan untuk membantu menjelaskan masalah atau jawabannya. Posisi duduk subjek condong ke depan. Subjek J terlihat sudah lelah tetapi masih menunjukkan minat pada topik yang didiskusikan. Ia duduk berganti posisi hampir setiap 10 menit dan menjawab dengan cukup yakin dan semangat. Terkadang subjek memainkan jari tangannya. Subjek lebih memperhatikan orang lain yang menjawab lalu menuangkan jawaban atau pengalamannya sendiri. Subjek L, terlihat cukup tenang, menjaga jeda beberapa saat untuk berfikir sebelum menuangkan jawaban. Ia menjelaskan jawabannya dengan bantuan tangan. Subjek cukup aktif dalam berpendapat ataupun memberi tanggapan. Ketika berpendapat, subjek terlihat bersemangat. Subjek M, terkesan santai dan menjawab dengan tenang. Duduknya condong ke depan, dan beberapa kali mengubah posisi duduknya. Ia menggunakan tangan untuk membantu menjelaskan jawabannya, menjawab sambil berfikir sehingga terkadang ada beberapa jeda sebelum ia menyelesaikan jawabannya. 1.2 PEMBAHASAN RESPON PESERTA MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Dari respon-respon yang ditunjukkan oleh peserta seperti yang dipaparkan sebelumnya, para peserta seluruhnya terlibat aktif dalam proses Menggambar Peta Kampus ini. Hal ini dikarenakan sebelumnya telah diberitahukan bahwa setiap peserta diperbolehkan memiliki satu buah marker. Keaktifan mereka juga terlihat dari adanya pembagian tugas secara tidak langsung dan otomatis, dalam artian setiap peserta memiliki inisiatif untuk

mengambil bagiannya dan mulai menggambar bersama-sama. Beberapa peserta juga saling bertanya satu sama lain mengenai keadaan kampusnya, dan peserta lain langsung menjawab dengan jawaban yang meyakinkan. Hal ini menunjukkan bahwa peserta sudah sangat mengenal keadaan kampus mereka. MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) Laundry merupakan institusi yang mendukung PHBS karena laundry sebagai institusi jasa yang menyediakan pakaian bersih sehari-hari. Dokter gigi dapat memeriksa kesehatan gigi kita. Petugas kebersihan merupakan Institusi yang menyediakan jasa membersihkan lingkungan terdekat Puskesmas/ klinik merupakan tempat/ institusi untuk memeriksa kesehatan serta berobat saat sakit PDAM Menyediakan air bersih sehari-hari ENVI/ EFTC : Environment Food Tech Community adalah Suatu komunitas peduli lingkungan dalam lingkup Fakultas Teknik Ilmu Pertanian, menyediakan tempat sampah dan fasilitas kebersihan lainnya di jurusan. Green Peace juga untuk lingkungan kebersihan serta kelestarian lingkungan, seperti reboisasi. BEM-U/ BEM Fakultas juga sering mengadakan kegiatan-kegiatan yang mendukung PHBS. Misalnya penanaman pohon. Mereka juga memberikan informasi, penyuluhan untuk menunjang PHBS. Supermarket menyediakan alat-alat kebersihan yang membantu kita untuk dapat hidup bersih dan sehat. Misalnya peralatan mandi, dan lain-lain. Apotek adalah sebagai institusi yang menyediakan suplemen, vitamin, dan obat-obatan yang dapat membantu kita hidup sehat. Tempat Makan juga memberikan kita asupan gizi agar kita dapat tumbuh sehat dan menyediakan makanan higienis. Kemudian, kami membahas urutan pentingnya institusi tersebut dan alasannya. Hampir semua responden setuju dengan mengatakan PDAM sebagai institusi yang paling penting dalam menunjang PHBS. Karena air bersih adalah hal yang utama atau paling

krusial. Kita benar-benar membutuhkan air bersih untuk berbagai kegiatan kita sehari-hari, terutama hal mengenai kebersihan dan kesehatan. Responden mengatakan bahwa jika tidak makan beberapa hari masih dapat hidup, akan tetapi jika tidak minum tidak dapat bertahan hidup. Maka, sumber airlah paling penting. Kemudian petugas kebersihan, juga dominan yang menjawabnya. Alasannya karena petugas kebersihan membantu menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Karena lingkungan cukup luas, dan tuntutan agar lingkungan selalu bersih maka peran petugas kebersihan sangat dibutuhkan. Puskesmas / Klinik. Alasannya adalah menjaga kesehatan. Di puskesmas/ klinik kita dapat melakukan check up kesehatan, konsultasi dan sebagainya. Tempat Makan. Tempat makan yang menyediakan makanan bersih dan sehat dapat menunjang kesehatan tubuh kita. Supermarket. Supermarket yang menyediakan berbagai alat-alat kebersihan. Dengan alat-alat kebersihan ini, dapat menunjang kehidupan kita yang sehat. Dokter/ dokter gigi. Dokter gigi juga dibutuhkan karena kesehatan gigi sangatlah penting. Apabila sakit gigi, maka aktivitas sehari-hari dapat terganggu pula. Apotek. Setelah mendapatkan resep dokter maka kita harus membeli obat. Obat dapat dibeli di apotek. Apotek menyediakan obat-obatan, vitamin, dan suplemen lainnya, hal ini sangat penting untuk menjaga tubuh kita tetap sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit. ENVI/ EFTC. Peran ENVI masih kurang intens di lingkungan mereka. Eksistensi mereka tidaklah terlalu mencolok dalam menunjang PHBS sehingga mereka tidak menyadari betapa pentingnya ENVI ini. BEM-U/ BEM Fakultas. Dukungan dari BEM biasanya berupa ajakan, informasi, himbauan, penyuluhan, dan sebagainya. Memang hal tersebut sangat mendorong hidup bersih dan sehat, tapi secara jangka panjang. Laundry. Laundry ditempatkan di tempat kurang penting karena menurut responden baju masih dapat dicuci sendiri. Green Peace. Alasan kurang penting: peran Green Peace dalam mendukung hidup bersih dan sehat kurang begitu terasa karena perannya agak terlalu universal.

Dilihat dari mudah atau susahnya institusi tersebut diakses. Dari paling mudah itu adalah PDAM. Air bersih tidak susah untuk didapatkan. Hampir di setiap tempat yang dibutuhkan, air bersih selalu tersedia. Kemudian, responden mengurutkan semua institusi tersebut dalam urutan sesuai dari yang mudah diakses sampai yang susah. FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Dari respon-respon yang ditunjukkan oleh peserta seperti yang dipaparkan sebelumnya, para peserta seluruhnya terlibat aktif dan antusias dalam proses FGD ini. Keantusiasan dan keaktifan peserta selama pelaksaan FGD terlihat dari cara peserta yang memberikan pendapat mereka dengan semangat, berinisiatif sendiri untuk memberikan pendapat mereka mengenai FGD, berusaha saling menganggapi pendapat satu sama lain, dan mendengarkan dengan aktif pendapat dari peserta lainnya. Penghargaan yang diberikan peserta yang lain saat ada peserta yang berpendapat membuat setiap peserta memiliki keinginan untuk berpendapat. Keaktifan maupun antusiasme peserta dalam FGD ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh latar belakang mereka sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Pangan. Dari pendapat-pendapat yang mereka berikan, diperoleh informasi bahwa kegiatan kampus mereka sangat dekat dengan kebersihan. Selain itu, dalam kehidupan sehari-harinya, peserta juga sangat memperhatikan kebersihan. Hal inilah yang mungkin membuat peserta tidak mengalami kesulitan ketika diminta untuk berpendapat mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan antusias selama FGD berlangsung. 1.3 EVALUASI PELAKSANAAN SESI MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Kegiatan MJKH ini adalah kegiatan pembuka pada praktikum mengenai asesmen partisipatif Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kegiatan ini secara keseluruhan berjalan dengan baik meskipun mengalami keterlambatan. Seharusnya kegiatan ini dimulai pada pukul 9.00, tapi karena harus menunggu responden sampai lengkap, maka akhirnya kegiatan ini dimulai pada pukul ---. Selain itu perkiraan lamanya kegiatan yang ternyata jauh berbeda dengan kenyataannya. Perkiraannya bahwa kegiatan ini berlangsung paling lama sekitar 75

menit. Namun kenyataannya adalah --- menit. Dikarenakan sekitar 5 orang saat pengisian kegiatan masing-masing ke dalam kertas HVS memakan waktu lebih dari 20 menit dan proses penginputan data masing-masing ke dalam kertas karton yang memakan lebih dari --menit. Namun di samping itu, kegiatan ini dianggap berhasil menimbulkan attachment yang baik di antara responden. Karena saat penginputan data ke dalam kertas karton terjadi proses diskusi tentang cara penginputan, serta adanya proses kerjasama yang terjadi di dalamnya. Attachment ini berguna untuk kemudian melakukan serangkaian kegiatan selanjutnya pada praktikum ini. MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Pelaksanaan praktikum sesi Menggambar Peta Kampus berjalan dengan cukup baik. Peserta memahami dan mau mengikuti instruksi dan petunjuk dari kami. Mereka pun melakukannya dengan baikdan sesi Menggambar Peta Kampus ini berjalan dengan cukup baik. Dimulai dari saat kita menerangkan apa yang akan dilakukan pada sesi ini, sarana dan prasarana apa saja yang terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat, mengerjakan gambar peta kampus, sampai pada akhirnya ada diskusi singkat mengenai sarana dan prasarana di lingkungan kampus Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan. Dari praktikum sesi ini terlihat bahwa partisipan pun cukup antusias dalam mengikutinya, mereka memahami tentang apa yang mereka kerjakan. Mereka mendengarkan instruksi dengan saksama, mengerjakannya dengan antusias, sampai-sampai mereka saling membagi tugas saat menggambar peta kampus tersebut. Kemudian tujuan dari praktikum sesi Menggambar Peta Kampus ini dapat dikatakan cukup tercapai, yaitu mengetahui sarana dan prasarana kampus yang terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, baik itu perilaku yang mendukung maupun yang kurang mendukung. Hal ini terlihat dari hasil diskusi singkat sebelum praktikum sesi ini berakhir, yaitu bahwa mereka menyadari bahwa di antara sarana dan prasarana di kampus mereka yang terbilang bersih, masih ada yang kurang mendukung Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, misalnya melalui pernyataan dari mereka bahwa toiletnya masih kurang memadai karena dindingnya berwarna kusam sehingga tampak jorok, walaupun sebenarnya mereka mengaku

bahwa toilet mereka cukup bersih serta letak dan bentuk kantin yang kecil dan di bawah tangga membuat mereka merasakan kurang baiknya kualitas kantin di kampus mereka. MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Pelaksanaan praktikum FGD berjalan dengan baik. Dari awal FGD dilaksanakan hingga selesai, suasana yang tercipta antara fasilitator maupun peserta sangat baik. Peserta dapat memahami instruksi yang diberikan dan terlibat secara aktif selama FGD berlangsung. Fasilitator tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam membimbing peserta untuk mengarah pada tujuan FGD. Tujuan dari pelaksanaan FGD ini sendiri dapat dikatakan cukup berhasil. Peserta dapat mengenali bagaimana kondisi PHBS di kampus mereka pada saat ini dan memberikan saran-saran yang dapat membantu keberhasilan pelaksanaan PHBS di kampus mereka. 1.4 KESULITAN DAN KEBERHASILAN MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Kesulitan: - Waktu perkiraan kegiatan dengan pelaksanaannya ternyata berbeda jauh. Perkiraannya sekitar paling lama yaitu 75 menit. Pada kenyataannya adalah 90 menit. - Double tape yang dibuka saat penginputan data ke dalam tabel ternyata menghabiskan banyak waktu. Keberhasilan: Tumbuhnya kerjasama di antara responden ketika penginputan data kelompok ke dalam karton yang telah disediakan. MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Dalam melaksanakan praktikum sesi Menggambar Peta Kampus sebenarnya tidak ada kesulitan yang berarti. Hal ini dikarenakan para partisipan dapat menangkap dan memahami instruksi yang diberikan, serta mereka dapat saling bekerja sama dengan baik sehingga praktikum sesi Menggambar Peta Kampus ini berjalan dengan cukup baik.

Sedangkan keberhasilannya adalah bahwa partisipan memahami instruksi dengan baik, mereka menggambar dengan baik, sigap, dan saling bekerja sama. Kemudian yang paling penting adalah tercapainya tujuan dari dilaksanakannya praktikum sesi Menggambar Peta Kampus ini, yaitu mengetahui dan memahami tentang sarana dan prasarana kampus mereka yang terkait dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, baik itu fasilitas yang mendukung, maupun yang kurang mendukung. Kemudian keberhasilan lainnya adalah waktu pelaksanaan praktikum sesi Menggambar Peta Kampus ini terbilang tepat waktu, tidak memakan waktu yang cukup lama, hanya sekitar 40 menit. Waktu pelaksanaan tersebut lebih singkat dari perkiraan waktu estimasi, yaitu sekitar 45 sampai dengan 75 menit. Pada awal sebelum menggambar, kami memberitahukan kepada partisipan bahwa disediakan waktu 30 menit untuk menggambar dan mereka menjalankan tugas mereka dengan sigap, teliti, dan saling bekerja sama begitu kami katakan Silakan mulai. Mereka sangat mempertimbangkan waktu, sampai-sampai ada salah seorang partisipan yang menanyakan, Berapa menit lagi ya?

MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) Kesulitan yang dirasakan tidaklah terlalu menghambat proses pelaksanaan praktikum MDV. Kesulitan mungkin terjadi pada saat menjelaskan instruksi kepada para responden. Misalnya, menjelaskan institusi/ lembaga tidak harus resmi. Awalnya responden masih terlihat bingung. Responden sendiri bingung dengan apa yang dimaksud dengan institusi itu sendiri. Akan tetapi, ketika dijelaskan dengan contoh mereka dapat lebih cepat mengerti dan menstimulus mereka untuk menyebutkan institusi-institusi yang menurut mereka mendukung PHBS. Keberhasilan yang dirasakan adalah responden aktif untuk memberikan jawaban dan bertanya pada saat tidak mengerti. Selain itu dirasakan pula bahwa sesama responden saling mendorong responden lain untuk aktif berpartisipasi dalam diskusi dan pembuatan diagram venn. Dinamika yang terjadi didalam kelompok terasa sangat produktif dan kondusif. Proses diskusi dengan kami lakukan dirasakan interaktif dengan responden. FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD)

Dalam melaksanakan praktikum FGD ini tidak ditemukan adanya kesulitan yang berarti. Antusiasme dan keaktifan dari partisipan membuat pelaksanaan FGD menjadi hidup dan dengan mudah mengarah pada tujuan pelaksanaan FGD ini sendiri. Keberhasilan dari FGD ini terlihat dari tercapainya tujuan FGD itu sendiri, yaitu untuk mengajak peserta terlibat secara aktif dalam melihat kondisi PHBS di lingkungan kampus mereka dan bersama-sama mencari alternatif terbaik yang dapat meningkatkan ataupun memperbaiki kondisi PHBS di kampus mereka. 1.5 LESSON TO LEARN MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Stevia Malini Carissa Erani Rachmah Fitrie I. POINT LESSON TO LEARN Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah 8 8 7 6 PERCAYA DIRI 5.5 6 7 7,5 9 9 RAMAH 7.5 7.5 8 8 5 5 TEGAS 6 7 7 7 8 8 EMPATI 6 6.5 7 7,3 4 4 KOMUNIKATIF 6.5 7 8 8 8 8 FLEKSIBEL 7.5 7.5 9 9 9 9 KREATIF 7 7 9 9 8 8 SABAR 7 7 7,5 7,8 6 7 RESPONSIF 7 7 7 7,5 8 8,5 ATENTIF 8 8 7,5 7,5 7 8 TRANSPARAN 7 7 7,5 7,5 7 7 TOLERANSI 7.5 7.5 7 7 8 6 ASERTIF 7 7 7,5 7,8 6 6 OBSERVASI 7.5 7.5 8 8 6 6 DISIPLIN 4.5 5 7 7 4 4 INTERAKTIF 5 5.5 8 8 8 8 OBJEKTIF 8 8 7 7 7 7 KRITIS 5 5 8 8 8 8 OPEN MINDED 8.5 8.5 7 8 7 7 TELITI 4.5 5 Stevia Malini (090) Selama praktikum berlangsung, mulai dari datang hingga selesai, ada beberapa hal yang saya pelajari. Pertama, saya mencoba untuk lebih berinteraksi

dengan responden yang ada, lebih mengeluarkan suara saya ketika berbicara baik kepada responden, baik itu ketika praktikum berlangsung dan berada di depan, atau tidak. Say mencoba untuk melihat dan memosisikan diri saya ketika menjadi mereka. Saya juga menjadi lebih teliti, selain karena praktikum ini yang cukup menuntut ketelitian, lebih tepatnya ketika bagian menempel dan menginput data kelompok. Saya memeriksa bagian-bagian mana saja yang belum terisi, dan membantu memberikan kertas warna-warni bagi yang memerlukannya. Selain itu, ketegasan juga saya perjelas. Ketika saya meminta salah satu responden untuk lebih cepat lagi mengerjakan jadwal hariannya. Carissa Erani (106) Selama pratikum, saya belajar untuk lebih ramah dengan para responden yang baru pertama kali saya kenal agar bisa bekerjasama dengan baik selama membuat jadwal kegiatan harian. Dan juga belajar untuk lebih komunikatif, yaitu mampu memberikan instruksi yang bisa dengan mudah dimengerti oleh responden. Selain menjadi lebih komunikatif saya juga belajar untuk menjadi lebih atentif, yaitu dapat menarik atensi partisipan sehingga perhatian mereka hanya kepada saya selama saya memberikan instruksi. Kemudian juga saya juga bisa menjadi lebih responsif selama pengerjaan MJKH secara berkelompok, yaitu bisa langsung tanggap dengan kebutuhan responden pada saat itu. Menjadi lebih responsif juga dapat di dukung dengan kemampuan observasi yang bagus, oleh karena itu kemampuan observasi saya juga menjadi lebih baik dari sebelumnya selama pratikum tersebut. Terakhir, saya belajar untuk menjadi lebih teliti selama mengevaluasi dan menginput hasil kerja dari para partisipan. Rachmah Fitrie I. (126) Karena kegiatan membuat jadwal harian ini adalah pembuka dari keseluruhan acara, maka kami, saya termasuk di dalamnya harus membuat pembukaan yang menarik. Dimulai dari menyambut responden yang berarti nilai ramah diperlihatkan, kemudian sampai pada jalannya acara. Di sini saya bertindak sebagai notulen yang berarti saya tidak banyak berperan di depan layar. Oleh karena itu, kemampuan

verbal saya tidak terlalu dikeluarkan, bahkan terkesan menurun, seperti percaya diri, dan asertif. Namun begitu, sebagai notulen saya dituntut untuk responsif, atentif, dan transparan, yaitu saat para responden menyebutkan suatu data, saya diharuskan untuk cepat menuliskannya kembali ke papan tulis sehingga responden lain bisa melihat apa yang telah dibicarakan. Sehingga proses dapat berjalan dengan baik. MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Dari praktikum sesi Menggambar Peta Kampus, kami mendapatkan pelajaran bahwa kerjasama itu sangat dibutuhkan, terutama jika kita bekerja bersama orang lain dalam kelompok. Perbedaan pendapat yang ada, seharusnya bukanlah menjadi penghambat, tetapi menjadi memperkaya wawasan dan memperkaya kemampuan memecahkan masalah serta pengambilan keputusan. Kami juga mendapatkan sesuatu bahwa beberapa tempat berusaha untuk menciptakan suasana dan kondisi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, akan tetapi persepsi kita terhadap sarana dan prasarana tersebut juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam menilai apakah sarana dan prasarana tersebut sudah memadai atau belum, misalnya persepsi mahasiswa Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan terhadap toilet yang berada di kampus mereka. Mereka semula sepakat berpendapat bahwa toilet mereka kurang memadai dalam menunjang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, akan tetapi kemudian salah seorang mengatakan bahwa sebenarnya toilet tersebut cukup bersih, hanya saja warnanya yang kusam menjadikan toilet tersebut menjadi terlihat kotor. Mengacu pada table kompetensi yang dimiliki, jika dilihat ketika sebelum dan setelah pelaksanaan assement partisipatif, kompetensi yang dimiliki oleh kami adalah sebagai berikut: Theresia M. P. Sebelum Sesudah 3 7 7 7,5 5 7 5 7 6 7,5 Sekar T. S. Sebelum Sesudah 4 4,5 7,5 7 3 4 7 7 5 5

Percaya Diri Ramah Tegas Empati Komunikatif

Fleksibel Kreatif Sabar Responsif Atentif Transparan Toleransi Asertif Observasi Disiplin Interaktif Objektif Kritis Open minded Teliti

7 7 7 7 7 4 6 2 7 7 6 7,5 7,5 7,5 7,5

8 8 8,5 8 8,5 7 8 6,5 8 8,5 7 8 8 8 8,5

4 4 7,5 7 7 2 7,5 6 7 6 5 7 7 7,5 7,5

4 4 7,5 7 7,5 2 7,5 6 7,5 6 5 7,5 7 7,5 7,5

Berdasarkan table di atas, terlihat bahwa beberapa kompetensi yang kami miliki dirasa cukup meningkat, walaupun ada kompetensi yang diarasakan tetap dan tidak mengalami perubahan. Jika dilihat, kompetensi yang terlihat meningkat dengan cukup signifikan adalah kompetensi asertif, dari 2 sampai dengan 6,5. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya pelaksanaan praktikum ini, kami cukup terbantu dalam meningkatkan kompetensi yang kami miliki terutama kompetensi yang terkait dengan pelaksanaan assement partisipatif. MENGGAMBAR DIAGRAM VENN (MDV) Dari praktikum ini, saya mendapatkan pelajaran agar lebih mengembangkan cara berkomunikasi dengan memberikan instruksi yang jelas dan terarah. Dari praktikum ini,saya (Estidia) belajar untuk mengembangkan diri saya. Dari memandu praktikum ini saya meningkatkan percaya diri, tegas, responsive, asertif, dispilin serta interaktif. Aspek-aspek lain juga saya rasa cukup meningkat namun tidak seperti aspek di atas. Tugas saya dalam memandu praktikum diagram venn ini adalah sebagai notulen, namun dalam beberapa aktivitas, saya ikut membantu menambahkan Anthony sebagai fasilitator utama. Saya menjadi cukup percaya diri untuk berdiri serta berbicara di depan umum. Dalam menjaga waktu pelaksanaan (time-keeper), saya belajar menjadi disiplin serta tegas untuk mengingatkan waktu pada responden serta mengingatkan fasilitator utama.

Praktikum ini juga meningkatkan kerjasama saya dengan teman-teman sekelompok untuk membagi tugas. FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) Dari praktikum sesi FGD ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. Kerja sama tim sangatlah penting untuk menunjang keberhasilan pelaksaan praktikum. Tanpa adanya kerja sama antar tiap anggota dalam satu tim tujuan yang sudah ditetapkan tidak akan pernah tercapai. Selain itu, rasa saling menghargai dan komunikasi antar anggota tim juga sangat diperlukan karena tanpa hal tersebut kerja sama tim tidak akan pernan terwujud. Hal lain yang dapat dipelajari adalah mengenai pentingnya persiapan yang matang sebelum kita melakukan sesuatu. Salah satunya adalah masalah pembagian tugas dan tanggung jawab dari masing-masing tugas. Hal ini sangat diperlukan agar saat pelaksanaan setiap orang dapat berfungsi sesuai dengan tugasnya dan tidak mengambil tanggung jawab dari tugas yang lain. Berdasarkan table kompetensi, kompetensi yang kami miliki sebelum dan setelah pelaksanaan assement partisipatif, adalah sebagai berikut: Rr. Permata H Sebelum Sesudah Percaya Diri Ramah Tegas Empati Komunikatif Fleksibel Kreatif Sabar Responsif Atentif Transparan Toleransi Asertif Observasi Disiplin Interaktif Objektif Shara Fadhilla H Sebelum Sesudah 5 7 8 9 1 4 7 9 4 5 6 7 6 6 7 9 7 8 9 9 8 8 8 9 8 8 7 8 4 6 7 8 5 6 Aisyah Maharani Sebelum Sesudah 7 7 7 8 7 7 6 7 6 7 5 4 5 5 7 8 6 6 7 7 5 5 7 8 7 7 7 8 4 6 6 6 7 8

Kritis Open minded Teliti Penjelasan dari Tabel: Rr. Permata Shara Fadhilla H (Notulen)

5 6 8

6 7 9

6 7 6

6 7 8

Berdasarkan table di atas, terlihat bahwa beberapa kompetensi yang kami miliki dirasa cukup meningkat, walaupun ada kompetensi yang diarasakan tetap dan tidak mengalami perubahan. Akan tetapi, kompetensi yang benar-benar dirasakan berubah adalah dalam hal percaya diri, toleransi, dan sabar. Untuk kompetensi percaya diri, memang pada saat pelaksanaan FGD saya tidak berbicara sama sekali karena bertugas sebagai notulensi. Akan tetapi saya bertugas sebagai presenter untuk membuka dan menutup pelaksaan praktikum. Saya mendapat tanggapan yang positif baik dari peserta maupun teman-teman saya ketika bertindak sebagai presenter. Hal inilah yang membuat saya menjadi lebih percaya diri. Kompetensi toleransi dan sabar juga sangat saya rasakan berubah. Peningkatan kompetensi sabar dan toleransi saya rasakan ketika ada peserta yang datang terlambat, lumayan jauh dari waktu yang telah ditetapkan dan ketika proses pelaksanaan praktikum, dari awal hingga akhir, ada teman-teman pelaksana yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan diri saya. Kompetensi tersebut sangat membantu saya mengatasi kedua hal di atas. Aisyah Maharani Saya sudah lebih bisa bertoleransi dan bertenggang rasa, berusaha paham pada mereka yang sedang tidak mau diganggu karena UTS, semakin sering memperhatikan banyak orang, semakin mampu membaca dan mengenali apa yang ada di benak orang lain, lebih menghargai waktu, sehingga terus mengontrol agar semua sesuai dengan apa yang dijadwalkan tidak memandang siapa orang dihadapan kita, lebih peduli pada apa yang akan dia katakana atau lakukan, dan pada saya awalnya lebih pada takut salah, takut kurang, takut menyinggung, dan berbagai ketakutan, sehingga sekarang jadi lebih memperhatikan detail, dan tentu lebih teliti.

BAB 3 HASIL KESIMPULAN DISKUSI KELOMPOK

3.1 DATA NOTULENSI DISKUSI MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Kegiatan yang dilakukan selama satu minggu. Hasilnya adalah sebagai berikut: TIDUR MAIN JALAN-JALAN MENCUCI RAPAT ONLINE LES TIDUR-TIDURAN PRAKTIKUM BIMBINGAN IBADAH ASDOS MAKAN MANDI OLAHRAGA KE PERPUSTAKAAN KULIAH berikut: BERSIH-BERSIH, misalnya dari mandi, mencuci, dll. MAKAN STUDI, misalnya kuliah, les, praktikum, bimbingan, asdos. REFRESHING, misalnya ma in, jalan-jalan, online internet, tidur-tiduran. OLAHRAGA TIDUR IBADAH KEGIATAN LAIN, misalnya rapat, dll. Kemudian ditentukan warna-warna yang mewakili masing-masing kegiatan berdasarkan hasil diskusi seluruh responden: BERSIH-BERSIH warna BIRU MAKAN warna HIJAU STUDI warna PINK

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, kemudian disimpulkan kegiatannya seperti

REFRESHING warna KUNING TUA OLAHRAGA warna ORANYE TIDUR warna HITAM IBADAH warna MERAH KEGIATAN LAIN warna UNGU

MENGGAMBAR PETA KAMPUS (MPK) Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan dan Berbagai Fasilitasnya, Sehubungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Fasilitas: 1. Toilet 2. Kantin 3. Ruang kelas 4. Ruang dosen 5. Laboratorium 6. Ruang HIMA
7. Ruang cleaning service

8. Perpustakaan 9. Ruang siding MENGGAMBAR DIAGRAM VENN Organisasi/ institusi yang berada di sekitar kampus dan tempat tinggal yang berkaitan dengan isu kebersihan dan kesehatan: Laundry Karena laundry sebagai institusi jasa yang menyediakan pakaian bersih sehari-hari Dokter gigi Memeriksa kesehatan gigi Petugas kebersihan Institusi yang menyediakan jasa membersihkan lingkungan terdekat Puskesmas/ klinik Tempat/ institusi untuk memeriksa kesehatan serta berobat saat sakit PDAM Menyediakan air bersih sehari-hari ENVI/ EFTC : Environment Food Tech Community Suatu komunitas peduli lingkungan dalam lingkup Fakultas Teknik Ilmu Pertanian, menyediakan tempat sampah dan fasilitas kebersihan lainnya di jurusan.

Green Peace Untuk kebersihan serta kelestarian lingkungan secara keseluruhan BEM-U/ BEM Fakultas Memberikan penyuluhan, informasi, himbauan serta menyediakan fasilitas yang menunjang hidup bersih dan sehat di kampus.

Supermarket Supermarket menyediakan alat-alat kebersihan Apotek Sebagai institusi yang menyediakan suplemen, vitamin, dan obat-obatan Tempat Makan Menyediakan makanan higienis dan sehat

Berdasarkan organisasi/institusi yang telah disebutkan tadi, manakah yang paling paling penting? Dapatkah diurutkan berdasarkan tingkat kepentingannya? Apa alasannya? 1. PDAM Karena air bersih adalah hal yang utama atau paling krusial. Kita benar-benar membutuhkan air bersih untuk berbagai kegiatan kita sehari-hari, terutama hal mengenai kebersihan dan kesehatan. 2. Petugas kebersihan Petugas kebersihan membantu menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Karena lingkungan cukup luas, dan tuntutan agar lingkungan selalu bersih maka peran petugas kebersihan sangat dibutuhkan. 3. Puskesmas / Klinik Kesehatan merupakan hal yang sangat penting. Di puskesmas/ klinik kita dapat melakukan check up kesehatan, konsultasi dan sebagainya. 4. Tempat Makan Tempat makan yang menyediakan makanan bersih dan sehat dapat menunjang kesehatan tubuh kita. 5. Supermarket Supermarket yang menyediakan berbagai alat-alat kebersihan. Dengan alat-alat kebersihan ini, dapat menunjang kehidupan kita yang sehat.

6. Dokter gigi Dokter gigi juga dibutuhkan karena kesehatan gigi sangatlah penting. Apabila sakit gigi, maka aktivitas sehari-hari dapat terganggu pula. 7. Apotek Apotek menyediakan obat-obatan, vitamin, dan suplemen lainnya, hal ini sangat penting untuk menjaga tubuh kita tetap sehat dan terhindar dari penyakit-penyakit. 8. ENVI/ EFTC EFTC menyediakan alat-alat kebersihan di lingkungan kampus, yang dekat dengan kita, seperti tempat sampah. 9. BEM-U/ BEM Fakultas Dukungan dari BEM biasanya berupa ajakan, informasi, himbauan, penyuluhan, dan sebagainya. Memang hal tersebut sangat mendorong hidup bersih dan sehat, tapi secara jangka panjang. 10. Laundry Sebenarnya laundry tidak begitu penting karena masih dapat mencuci sendiri. 11. Green Peace Peran Green Peace dalam mendukung hidup bersih dan sehat kurang begitu terasa karena perannya agak terlalu universal Kemudian, berdasarkan kemudahan mengakses, manakah organisasi/ institusi yang paling mudah hingga yang paling susah diakses? A. PDAM Air bersih tidak susah untuk didapatkan. Hampir di setiap tempat yang dibutuhkan, air bersih selalu tersedia. B. Tempat Makan Jumlahnya yang sangat banyak memudahkan kita untuk mengakses makanan bersih. C. Petugas Kebersihan D. ENVI/ EFTC E. BEM-U F. Laundry G. Supermarket

H. Apotek I. Puskesmas J. Dokter gigi K. Green Peace FOCUS GROUP DISCUSSION Bentuk perilaku PHBS: 1. Mandi dua kali sehari 2. Olahraga 3. Menjaga lingkungan sendiri 4. Mengajak orang lain untuk berperilaku PHBS 5. Kegiatan atau aktivitas yang dilakukan harus dijaga konsistensinya 6. Langsung mencuci tangan dan kaki serta berganti baju setelah berpergian 7. Segera mencuci peralatan makan sehabis digunakan. 8. Rajin mencuci dan menyetrika baju 9. Sikat gigi sebelum tidur, setelah bangun tidur dan sesudah makan 10. Minum 2 liter setiap harinya. 11. Gunting kuku 12. Bersih-bersih kos-an seperti menyapu, mengepel dan mengelap debu. Barang-barang yang tidak diperlukan lagi dibuang dari kos-an karena merupakan sumber penyakit 13. Ganti seprei 14. Bepartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan kebersihan dalam masyarakat.

Manfaat: 1. Nyaman 2. Mendekati konsep sehat 3. Dijauhkan dari penyakit

4. Dari segi usia bisa lebih panjang umur (lama, karena jarang sakit) 5. Dari segi psikologis menjadi lebih bahagia 6. Pola hidup bersih meningkatkan motivasi hidup bersih sehingga meningkatkan aktivitas sehari-hari, sehingga manajemen kehidupan menjadi lebih baik. 7. Lingkungan menjadi lebih nyaman 8. Mencegah terjadinya bencana alam 9. Menjadi model tingkah laku positif bagi orang lain

Tema: bagaimanakah pendapat teman-teman tentang PHBS di kampus Unpad?? Diskusi: 1. Bagaimana kampus dapat mendukung PHBS? Hambatan: kurangnya kesadaran individu dalam PHBS 2. Keadaan di Unpad, kekurangannya: tempat sampah kurang dan belum ada instalasi pengolahan limbah 3. Keadaan di FTIP: a. tempat sampah banyak b. petugas kebersihan cukup baik c. kantin cukup mendukung untuk melakukan pola makan sehat d. toilet dalam jumlah yang memadai, tetapi kondisinya kurang mendukung. Dindingnya bewarna gelap dan saluran airnya berbau tidak menyenangkan 4. secara umum, FTIP sudah berusaha menyediakan sarana dan prasarana yang cukup untuk mendukung PHBS 5. ruang kuliah di FTIP dalam keadaan baik, bersih serta memiliki sirkulasi udara yang baik 6. bagaimana interaksi dengan lingkungan sekitar, mendukung PHBS atau tidak? F, M : teman kampus mendukung, teman kosan tidak E : teman kampus tidak, teman kosan iya

A : lingkungan kampus lebih mendukung dibandingkan lingkungan lain. Hal ini terkait dengan system kampus B : PHBS itu mengenai pola berfikir 7. peran dalam menerapkan PHBS pada orang lain: a. menjadi tingkah laku positif bagi orang lain (tanpa disadari oleh individu) b. himbauan secara tertulis c. teguran secara lisan dan tegas 8. bagaimana perasaannya ketika berada di sekitar orang yang tidak bersih? Apa dampaknya? a. Kesal b. Menurunnya kreativitas dan kenyamanan c. Takut terbawa menjadi tidak bersih d. Menjauhi sumber yang menghambat pelaksanaan PHBS e. Jika dalam kelompok, berusaha beradaptasi dengan kelompok 9. PHBS sebenarnya perlu dilakukan atau tidak? Perlu. Untuk kepentingan generasi mendatang. Penting untuk kesadaran diri individu. Dengan cara seminar dan media komunikasi seperti iklan yang dikemas menarik dan disesuaikan dengan minat generasi muda. Di jatinangor masih kurang. 10. Sosialisasi PHBS yang sudah ada: seminar dan himbauan.

Kesimpulan: lingkuangan merupakan agen PHBS

Fgd-PHBS Phbs?

1. F : PHBS itu untuk diri sendiri dan orang lain 2. E : perlu didukung oleh prasarana dan sarana 3. L : kebersihan diri sendiri dan lingkungan 4. J : PHBS harus rutin dilakukan 5. M : harus dilakukan secara sadar 6. B : PHBS itu penting 7. A: tergantung individual habit. Hal itu menentukan nyaman atau tidaknya individu melakukan sesuatu.

Fgd- PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) Definisi: PHBS merupakan : 1. Perilaku yang disadari 2. Hasil pembelajaran 3. Menolong diri sendiri 4. Mewujudkan kesehatan masyarakatnya Ruang lingkup PHBS: 1. Rumah tangga 2. Sekolah 3. Tempat kerja 4. Sarana kesehatan 5. Tempat umum

3.2 ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN

MENGGAMBAR PETA KAMPUS Pada data yang telah diperoleh berupa peta Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian (Gedung 4), dapat dilihat beberapa fasilitas yang berhubungan dengan PHBS. Fasilitas tersebut diantaranya adalah toilet, wastafel, kantin, tempat sampah yang tersebar mulai dari lantai satu sampai lantai tiga, tempat penyimpanan tas, ruang penyimpanan alat kebersihan, ruang staf kebersihan, mushola, dan parking area. Fasilitas lainnya adalah ruang dosen, ruang kuliah multimedia, ruang sidang, ruang HIMA, laboratorium, perpustakaan,. Total toilet yang terdapat pada gedung adalah 8, dengan rincian: pada lantai 1 terdapat 1 toilet pria dan 1 toilet wanita untuk mahasiswa, pada lantai 2 terdapat 1 toilet dosen, 1 toilet pria (mahasiswa), dan 1 toilet wanita (mahasiswa), dan pada lantai 3 terdapat 1 toilet dosen, 1 toilet pria (mahasiswa), dan 1 toilet wanita (mahasiswa). Wastafel yang ada tersebar di berbagai ruangan dan laboratorium. Jumlah wastafel yang terdapat di setiap ruangan berbeda-beda, misalnya di laboratorium pendidikan 1 dan 2 masing-masing terdapat 2 buah wastafel, di laboratorium keteknikan pengolahan data dan laboratorium jasa uji, serta di perpustakaan hanya terdapat 1 wastafel, pada laboratorium TPP terdapat 10 wastafel, pada laboratorim mikrobiologi dan kimia organik terdapat 4 wastafel, dan di ruang kuliah multimedia tidak terdapat wastafel. Selain di ruangan tersebut, di toilet juga terdapat wastafel, seperti pada toilet wanita (mahasiswa) lantai 2 dan 3, serta pada toilet pria (mahasiswa) lantai 3. Pada peta yang telah digambar, telah dicantumkan legenda yang menunjukkan tanda berupa arsiran merah yang berarti bahwa lokasi itu adalah lokasi yang kurang bersih dan arsiran berwarna hijau yang menunjukkan bahwa lokasi tersebut adalah lokasi yang bersih. Arsiran berwarna merah dan hijau tersebut tidak sebatas diberikan pada ruangan yang ada, tetapi juga pada beberapa tempat sampah untuk membedakan tempat sampah yang bersih (tidak terlalu banyak sampah menumpuk) dan tempat sampah dengan sampah yang sering menumpuk. Dari peta, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa bagian dari gedung yang dianggap kurang bersih oleh peserta dan ada juga yang dianggap bersih. Berdasarkan hasil observasi, kami mendapat data bahwa laboratorium merupakan ruangan yang sudah pasti bersih. Hal ini terlihat dari ungkapan seorang peserta. Pada data, hal tersebut ditunjukkan dengan arsiran hijau yang diberikan pada setiap ruangan, mulai dari laboratorium, perpustakaan, ruang

dosen, dan lain-lain. Namun, terdapat ruangan yang diberi arsiran berwarna merah diantaranya kantin, toilet pria dan wanita (untuk mahasiswa) di lantai 1, lantai 2, dan lantai 3, serta di beberapa tempat sampah di lantai 1 (yaitu tempat sampah di depan ruang staf kebersihan), tempat sampah di lantai 2 (di depan mushola), dan beberapa tempat sampah di lantai 3. Tempat sampah dengan arsiran merah merupakan tempat sampah yang sering menampung sampah yang sangat menumpuk dibandingkan tempat sampah lainnya sehingga menimbulkan suasana yang kurang bersih dan sehat. Namun demikian, terdapat juga tempat sampah yang bersih di sekitaran gedung tersebut. Hal yang memperoleh perhatian adalah kantin. Kantin di gedung ini terletak di bawah tangga di lantai 1. Menurut pendapat para peserta, letak kantin tersebut tidaklah strategis dan luas dari kantin tersebut juga kurang, sehingga saat jam makan siang tiba, lobi lantai satu akan menjadi penuh oleh mahasiswa yang makan siang, dan keadaan menjadi kurang bersih. Walaupun letaknya kurang strategis, peserta menyebutkan bahwa makanan yang dijual di kantin tersebut adalah makanan yang sehat dan masih hangat. Hal lain yang memperoleh perhatian adalah keadaan toilet pria dan wanita yang diperuntukkan bagi mahasiswa. Para peserta menyatakan bahwa sebenarnya keadaan toilet di kampus mereka cukup bersih. Peserta menyebutkan bahwa air tetap mengalir di kampus tersebut. Namun, kondisi fisik toilet kurang memberi kesan bersih, yaitu tembok yang dicat menggunakan warna gelap sehingga suasana toilet terkesan suram. Seluruh bagian gedung ini merupakan ruangan tanpa asap rokok, sehingga mahasiswa yang merokok diharapkan merokok di luar gedung. Berdasarkan data-data yang telah dipaparkan, dapat dikatakan bahwa kondisi Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian (Gedung 4) ini ada yang mencerminkan PHBS, dan ada juga yang belum mencerminkan PHBS. Fasilitas yang berhubungan dengan kegiatan akademis seperti laboratorium dan perpustakaan serta ruangan lainnya adalah ruangan yang dinilai bersih dan mendukung PHBS itu sendiri, sedangkan fasilitas lainnya seperti kantin dan toilet yang sebenarnya memiliki andil besar dalam mendukung PHBS kurang mendapat perhatian dari pihak kampus sehingga para peserta menilai bahwa toilet dan kantin di kampus mereka kurang bersih dan kurang mendukung PHBS tersebut. Jika kita melihatnya berdasarkan konsep mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dalam hal ini kita mengambil konsep PHBS di lingkungan sekolah, yaitu kampus

Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan. Pengertian PHBS dalam lingkungan sekolah adalah sebagai berikut PHBS Sekolah (Institusi Pendidikan) merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan pengajar maupun anak didiknya dalam berperilaku hidup bersih dan sehat. Jika dilihat berdasarkan indikator-indikator PHBS dalam lingkungan sekolah, yaitu mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan terukur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan, serta membuang sampah pada tempatnya, kampus para partisipan memiliki sarana dan prasarana yang belum mendukung PHBS serta beberapa yang sudah. Hal ini dikarenakan beberapa fasilitas pendukung PHBS, seperti toilet, kantin, dan tempat sampah masih dirasa kurang mendukung PHBS. Hal ini ditunjukkan oleh keadaan toilet yang terkesan kusam, kantin yang sempit dan terletak di bawah tangga sehingga kurang strategis sehingga para pembelinya banyak yang menggunakan fasilitas lain dari kampus, yaitu lobi sebagai tempat makan, khususnya saat makan siang. Kemudian terdapat beberapa tempat sampah yang kotor dikarenakan sampah yang sering menumpuk. Namun untuk fasilitas akademis, seperti ruang kelas dan laboratorium, sudah memadai kebersihannya. Setelah itu dalam kampus mereka juga terdapat pelarangan untuk merokok di dalamnya, sehingga hal ini juga mendukung PHBS. MENGGAMBAR DIAGRAM VENN Dapat dilihat bahwa institusi maupun organisasi yang paling menunjang perilaku hidup bersih dan sehat adalah institusi yang paling mudah untuk diakses pula. Dalam diagram venn yang dibuat mahasiswa FTIP ini menyebutkan bahwa air bersih yaitu PDAM, adalah yang paling berperan bagi PHBS. Menurut mereka, air bersih sangatlah penting dan merupakan hal krusial. Namun, dapat dilihat pula, ketersediaan air bersih ini sangatlah banyak sehingga sangat mudah untuk diperoleh. Demikian pula dengan tempat makan. Di Jatinangor, tempat makan jumlahnya sangat banyak dan mudah untuk diperoleh. Menurut mahasiswa FTIP ini pula, petugas kebersihan adalah hal yang penting pula dalam menunjang PHBS. Petugas kebersihan berperan dalam menjaga lingkungan agar

selalu tampak bersih. Disini juga dapat dilihat bahwa petugas kebersihan termasuk cukup mudah untuk diakses. Puskesmas/klinik adalah institusi yang cukup penting untuk menunjang PHBS. Namun menurut pernyataan yang mereka sebutkan, puskesmas/klinik ini sulit untuk didapatkan atau susah diakses. Jumlahnya yang tidak terlalu banyak di Jatinangor dan lokasinya yang cukup jauh menjadi alasan mengapa institusi ini dikatakan susah diakses. Demikian pula untuk institusi kesehatan lain seperti apotek dan dokter gigi. Institusi-institusi ini sangat dibutuhkan dan mendukung terciptanya PHBS, namun institusi ini justru sulit untuk ditemukan dan diakses di Jatinangor. Institusi yang menyediakan alat-alat kebersihan yaitu supermarket termasuk agak susah untuk dicapai, namun institusi ini dianggap cukup penting oleh responden. Laundry, sebagai institusi jasa penyedia pakaian bersih sebenarnya tidak begitu penting dalam menunjang PHBS. Responden menyatakan bahwa mereka masih dapat mencuci pakaian mereka sendiri, sehingga tidak begitu memerlukan jasa laundry. Namun, dalam keadaan tertentu, seperti musim hujan, cucian menumpuk dan tidak ada waktu, terkadang mereka mengggunakan jasa laundry ini. Jadi dapat dikatakan mereka tidak begitu membutuhkan jasa laundry, maka laundry dianggap tidak begitu penting. Meskipun laundry tidak begitu diperlukan, namun keberadaan laundry sangatlah banyak sehingga sangat mudah untuk diakses. Organisasi yang disebutkan menunjang PHBS adalah ENVI dan BEM. Menurut responden, organisasi ini memberikan bantuan seperti informasi atau penyuluhan dan menyediakan fasilitas-fasilitas di kampus. Menurut responden, peran organisasi ini mungkin tidak terlalu penting atau besar manfaatnya. Tetapi dilihat dari kemudahan diaksesnya, organisasi-organisasi ini cukup mudah untuk dicapai karena organisasi ini adalah yang paling dekat dengan kehidupan kampus sehari-hari. Terakhir adalah organisasi Green Peace. Menurut responden asal FTIP ini, organisasi Green Peace bersifat terlalu umum dan universal dalam mendukung PHBS. Selain itu keberadaannya sulit untuk diperoleh. Organisasi ini berada di depan gerbang Unpad dan itupun sangat jarang sekali berada disana. Fungsinya dalam mendukung PHBS juga tidak begitu penting karena Green Peace dianggap sebagai organisasi unutuk kelestarian lingkungan.

FOCUS GROUP DISCUSSION Dari hasil diskusi dengan 7 orang mahasiswa dari fakultas teknik industry pertanian, dapat disimpulkan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan sekolah (Universitas) cukup memadai. Subjek memahami makna dari PHBS itu sendiri dan mampu berperan aktif bagi dirinya sendiri dan orang lain disekitarnya untuk menerapkan PHBS di lingkungannya, khususnya lingkungan belajar. Seperti yang telah subjek nyatakan, fasilitas di universitas sudah cukup memadai. Tempat sampah disediakan cukup banyak, dengan para petugas kebersihan yang cukup rajin, kantin yang bersih dan cukup menunjang untuk makanan sehat, dan jumlah toilet yang memadai. Akan tetapi masih ada sedikit kekurangan, yaitu saluran air toilet yang berbau tidak sedap membuat kurang nyaman, dan subjek menyayangkan tidak adanya saluran pengolahan limbah di Universitas. Selain itu sebenarnya disediakan toilet yang bersih dan nyaman, juga kantin yang sehat, akan tetapi jaraknya jauh dari gedung tempat para subjek biasa beraktifitas. Sebagai individu, subjek merasa cukup menerapkan PHBS di kehiduannya dengan menjaga kebersihan. Beberapa merasa lingkungannya, khususnya lingkungan diluar kampus (kostan, tempat tinggal) tidak cukup memadai. Akan tetapi para subjek tetap berusaha menerapkan PHBS itu sendiri, bahkan berusaha mengajak orang lain dilingkungannya agar ikut terpengaruh. Dalam kehidupan kuliah, para subjek terikat peraturan dari fakultas yang mewajibkan mereka untuk menjaga kebersihan, terutama saat praktek, mengingat subjek berasal dari jurusan industry pangan yang terus berinteraksi dengan makanan. Subjek yang dating dari berbagai kalangan, harus mengikuti aturan ini, seperti misalnya tidak membuang sampah sembarangan, atau tidak membawa makanan kedalam ruangan, khususnya laboratorium, juga mencuci tangan saat melakukan praktikum dan setelahnya. Hal ini dilakukan oleh setiap individu yang terlibat, termasuk dosen dan mahasiswa lainnya. 3.3 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN MEMBUAT PETA KAMPUS Beradasarkan data yang kami peroleh dari praktikum Menggambar Peta Kampus tersbut, dapat disimpulkan bahwa fasilitas yang tersedia di kampus yang berkaitan dengan PHBS belum memadai dalam mendukung PHBS itu sendiri. Hal ini terlihat dari dua indikator PHBS yang terdapat pada gedung kampus yaitu kantin dan toilet yang dianggap belum memadai dalam mendukung PHBS. Namun demikian, fasilitas lainnya yang berhubugan dengan akademis sudah mencerminkan PHBS tersebut. Rekomendasi kami untuk Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan ini terutama pada kantin dan toilet mahasiswa. Unuk kantin yang letaknya kurang strategis, hendaknya dibuat satu ruangan khusus kantin yang mana ruangan tersebut terpisah dari gedung perkuliahan sehingga meminimalisir terganggunya proses perkuliahan yang sedang berlangsung. Kemudian, toilet mahasiswa yang berdasarkan pengakuan para partisipan kurang bersih akibat warna cat yang kusam, hendaknya warna tembok toilet diperbaiki dan diganti dengan yang warna lebih cerah sehingga kesannya pun lebih bersih. MENGGAMBAR DIAGRAM VENN Dari diskusi mengenai institusi dan organisasi yang menunjang perilaku hidup bersih dan sehat didapatkan bahwa PDAM dianggap sebagai institusi yang sangat berperan besar dalam PHBS, dan PDAM ini juga institusi yang mudah untuk didapatkan. Seperti pula institusi tempat makan dan petugas kebersihan. Institusi-institusi ini sangat penting dan juga sangat mudah diakses. Hal seperti ini sangat mendukung perilaku hidup bersih dan sehat mahasiswa dan mahasiswi FTIP di Jatinangor. Dan institusi kesehatan seperti puskesmas, dokter gigi dan apotek sebenarnya sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari, namun aksesnya sangat susah untuk dicapai. Jumlahnya yang sedikit dan lokasinya yang susah untuk dicapai menjadikan institusi kesehatan ini menjadi hambatan untuk menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat mereka. Sebaiknya hasil dari diagram venn ini dapat dijadikan pertimbangan untuk lebih memperhatikan fasilitas-fasilitas umum apa yang dibutuhkan untuk menunjang perilaku hidup bersih serta sehat.

Khususnya untuk fasilitas-fasilitas yang sangat dibutuhkan namun keberadaannya sedikit. Sehingga dengan demikian, PHBS di dalam kehidupan mahasiswa FTIP di Jatinangor ini dapat tercapai.

FOCUS GROUP DISCUSSION PHBS di Universitas Padjadjaran, khususnya fakultas teknik industry pertanian jurusan teknologi pangan cukup berjalan. Dapat dilihat dari cukup memadainya jumlah tempat sampah dan toilet dengan air mengalir, dan tersedianya kantin yang dapat meemnuhi criteria makanan sehat. Dari segi individu juga sudah cukup mengamalkan PHBS seperti dengan cara memotong kuku, mandi 2 kali sehari, rajin mencuci baju dan alat makan, bersih-bersih, juga mencuci tangan. Ada beberapa individu yang bahkan mencoba mengajak orang dari lingkungannya juga untuk menerapkan PHBS. Yang menjadi hambatan adalah lingkungan yang tidak cukup memadai, seperti teman-teman yang tidak mengabaikan ajakan untuk melakukan PHBS, atau saluran air yang mengalir tetapi mengeluarkan bau tidak menyenangkan. Untuk menanganinya, dapat dicoba dengan cara mengadakan seminar dan menggunakan media komunikasi seperti iklan yang dikemas menarik dan disesuaikan dengan minat generasi muda, dan di lingkungan jatinangor masih kurang.

LAMPIRAN MEMBUAT JADWAL KEGIATAN HARIAN (MJKH) Lembar Observasi Awalnya, para responden dipersilakan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Setelah itu, 3 orang petugas, yaitu 2 orang sebagai fasilitator menjelaskan prosedur panitia. Susunan kursi dibuat dengan bentuk setengah lingkaran dan mengarah ke papan tulis. pelaksanaan kegiatan secara bergantian kepada para peserta dan 1 orang bertugas sebagai notulen kegiatan. Responden kemudian diminta untuk menyebutkan berbagai kegiatan yang dilakukan MAIN JALAN-JALAN MENCUCI RAPAT ONLINE LES TIDUR-TIDURAN PRAKTIKUM BIMBINGAN IBADAH ASDOS selama satu minggu. Waktu yang diperlukan 10 menit. Hasilnya adalah sebagai berikut: MAKAN MANDI OLAHRAGA KE PERPUSTAKAAN KULIAH TIDUR

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, kemudian disimpulkan kegiatannya seperti berikut:

BERSIH-BERSIH, misalnya dari mandi, mencuci, dll. MAKAN STUDI, misalnya kuliah, les, praktikum, bimbingan, asdos. REFRESHING, misalnya ma in, jalan-jalan, online internet, tidur-tiduran. OLAHRAGA TIDUR IBADAH KEGIATAN LAIN, misalnya rapat, dll. Setelah itu, setiap responden diminta untuk membuat jadwal kegiatannya masing-masing dalam waktu satu minggu selama 24 jam. Oleh fasilitator, setiap responden dibebaskan untuk membuat jadwal dalam bentuk narasi, pointer, atau tabel yang telah diperlihatkan pada responden. Tetapi seluruh responden akhirnya membuat jadwal dalam bentuk tabel.

Responden diberi waktu sekitar 10 menit untuk menuliskan jadwal hariannya. Namun sampai 20 menit berlalu, ketujuh responden belum juga selesai membuat jadwal harian. Akhirnya sampai menit ke 25 seluruh responden selesai mengerjakan. Kemudian ditentukan warna-warna yang mewakili masing-masing kegiatan berdasarkan OLAHRAGA warna ORANYE TIDUR warna HITAM IBADAH warna MERAH KEGIATAN LAIN warna UNGU hasil diskusi seluruh responden: BERSIH-BERSIH warna BIRU MAKAN warna HIJAU STUDI warna PINK REFRESHING warna KUNING TUA

Setelah itu, setiap responden diminta untuk menginput masing-masing jadwal

kegiatannya yang sudah disesuaikan dengan warna yang sudah ditentukan sebelumnya. Proses input data tersebut dilakukan dengan duduk di lantai. Hal ini dilakukan untuk memudahkan proses penginputan. Selain itu ternyata terdapat keuntungan lain, yaitu untuk meningkatkan attachment di antara para responden. Hal ini dapat dilihat dari tingkah laku para responden yang awalnya malu-malu atau tidak banyak bicara satu sama lain, tetapi setelah proses penginputan data dimulai, para responden menjadi lebih sering berkomunikasi satu sama lain. Awalnya proses penginputan diinstruksikan untuk dilakukan sendiri-sendiri. Namun pada akhirnya responden bekerja sama dalam proses tersebut. Ada yang bertugas menginput data istirahat, makan, studi, dan lainnya. Dari data yang sudah diinput tersebut, kemudian diberi keterangan nomor responden sebagai berikut: Responden A = 1 Responden B = 2 Responden M = 3 Responden L = 4 Responden E = 5 Responden F = 6 Responden J = 7

Waktu yang dibutuhkan untuk menginput data ke dalam tabel adalah

menit. Akan tetapi,

ternyata proses ini memakan waktu yang cukup lama, hingga 30 menit kegiatan ini belum juga selesai. Bahkan fasilitator akhirnya mmbantu menempelkan kertas warna pada karton tabel, dan sampai akhirnya fasilitator memberikan keputusan untuk memotong waktu kerja dan dilanjutkan dengan kegiatan setelahnya. Akhirnya kegiatan penginputan data berlangsung selama kiraLembar pembagian kerja anggota kelompok fasilitator Stevia Malini Pemandu Carissa Erani Pemandu Rachmah Fitrie I. Notulen MEMBUAT PETA KAMPUS Lembar Observasi 1. Awal tahap pelaksanaan Pada tahap ini, partisipan diberi informasi sekilas mengenai PHBS dan beberapa indikator PHBS tersebut pada lingkungan kampus (oleh Theresia). Pembukaan ini dilakukan dimana partisipan duduk di kursi masing-masing. Pada bagian ini juga ditentukan bagian gedung mana yang akan digambar mengingat bahwa Fakultas Teknologi Industri Pertanian memiliki beberapa gedung, namun tidak semua gedung yang digunakan oleh Jurusan Teknik Pangan, sehingga diputuskan bahwa yang akan digambar adalah gedung 3. Selama pembukaan yang berlangsung singkat ini, seluruh partisipan memperhatikan dengan saksama dan memberi perhatian. Namun demikian, tidak terdapat pertanyaan dari parisipan sehingga kegiatan tetap dilanjutkan. 2. Proses MPK Berikutnya adalah pemberian pengarahan mengenai apa yang akan dilakukan pada sesi ke-2 praktikum ini (oleh Sekar), termasuk menyerahkan karton sebagai media menggambar peta serta membagi marker kepada masing-masing partisipan. Pada bagian ini, terdapat diskusi mengenai fasilitas-fasilitas apa saja yang terdapat pada gedung 3 tersebut dan hasil diskusi dituliskan di papan tulis (oleh Theresia). Selama diskusi ini, seluruh partisipan dengan semangat dan lancar mengutarakan pendapatnya, dan kadang saling mengoreksi dan

mendukung jawaban temannya. Hal ini juga dikarenakan para partisipan merupakan mahasiswa angkatan 2008 ke atas sehingga mereka sudah cukup mengenal kampusnya. Setelah selesai melakukan diskusi dan menjelaskan lebih lanjut lagi mengenai apa yang akan digambar, partisipan dipersilahkan duduk melingkar di lantai demi kenyamanan sambil mengelilingi karton yang akan digunakan sebagai media menggambar peta kampus. Kemudian partisipan diberitahu bahwa proses mengerjakannya adalah selama 30 menit. Partisipan memulai mengerjakan dengan sigap dan langsung membagi tugas. Salah seorang pastisipan langsung berinisiatif menggambar bagian lantai 1 dan yang lainnya menggambar bagian lantai 2 dan lantai 3. Awalnya partisipan lupa menuliskan judul berupa Gedung Fakultas Teknologi Industri Pertanian Jurusan Teknik Pangan dan berbagai fasilitasnya, sehubungan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, namun setelah diingatkan kembali, seorang partisipan langsung menuliskannya. Selama proses MPK berlangsung, partisipan terkadang saling bertanya satu sama lain mengenai keadaan di kampusnya, misalnya: bagaimana posisi ruangan dosen di lantai satu. Pada awal mengerjakan, para partisipan semat berdiskusi sejenak mengenai posisi yang tepat tentang gambar mereka. Suatu ketika ada partisipan yang bercanda dengan mengatakan bahwa begitulah kalau mahasiswa Teknik Pangan disuruh menggambar karena mereka belajar teknik membuat makanan, bukan Teknik Arsitekstur. Selanjutnya, di sela-sela kegiatan mereka menggambar, fasilitator (Theresia dan Sekar) mengingatkan partisipan agar tidak lupa menggambarkan dimana saja tempat sampah yang ada di gedung tersebut. Hal tersebut langsung ditanggapi oleh partisipan dan mereka langsung mengerjakannya dengan cekatan. Hal lain yang menjadi topik diskusi mereka saat menggambar adalah keadaan toilet mahasiswa di gedung tersebut. Beberapa bahkan sambil bercerita satu sama lain mengenai kondisi toilet dan membandingkan toilet di lantai 1, 2, dan 3. Namun demikian, kantin kurang banyak dibicarakan, dan bahkan hampir luput dari perhatian fasilitator karena ukurannya yang kecil dan letaknya yang kurang strategis (berada di bawah tangga). Pada saat menggambar, salah seorang partisipang bertanya mengenai waktu, apakah waktu yang tersedia bagi mereka untuk menggambar masih ada, dan ternyata memang masih ada. Saat peta kampus sudah hampir selesai, fasilitator memberitahukan pada partisipan untuk membuat legenda pada peta yang telah mereka gambar dan juga member keterangan tentang bagian mana dari antara ruangan tersebut yang dianggap bersih dan yang mana yang

kurang bersih. Untuk ruangan yang bersih, partisipan diminta untuk mengarsirnya dengan spidol berwarna hijau sedangkan yang kurang bersih diarsir menggunakan spidol yang berwarna merah. Selama proses membuat legenda ini, terutama dalam memutuskan apakah suatu ruangan itu bersih atau kurang bersih, partisipan banyak berdebat. Mereka umumnya berdebat mengenai keadaan tempat sampah yang memang tersebar di penjuru gedung tersebut. Namun pada akhirnya terdapat suatu kesimpulan yang disetujui oleh partisipan lainnya. Kemudian, setelah proses menggambar selesai, dilakukan diskusi untuk membahas peta yang telah digambar tersebut. Diskusi ini berupa tanya jawab fasilitator dengan para peserta dengan topik sehubungan PHBS dan fasilitas yang terdapat di gedung kampus mereka. Pada saat fasilitator bertanya tentang keadaan kantin, partisipan menjawab bahwa sebenarnya kondisi kantin tersebut cukup bersih serta makanan yang disajikan juga termasuk masih hangat. Hanya saja, karena letaknya yang kurang strategis, saat jam makan siang banyak mahasiswa yang akhirnya menggunakan lobi dan ruangan di sekitarnya sebagai tempat makan. Demikian juga saat bertanya mengenai toilet yang dinilai kurang bersih. Menurut partisipan, hal ini disebabkan karena warna tembok pada toilet tersebut tidak cerah sehingga kelihatannya kusam dan kurang bersih. Selama diskusi ini, semua partisipan aktif dalam menyampaikan pendapatnya masing-masing. Lembar Pembagian Kerja Anggota Kelompok Fasilitator 1. Theresia M. Purba (190110080024): Prolog (kata pembuka), notulen di papan tulis, observer, fasilitator.
2. Sekar Titisani S. (190110080112): Instruksi, observer, time keeper, fasilitator.

FOCUS GROUP DISCUSSION FGD mengenai PHBS sebagai salah satu sesi dalam rangkaian praktikum Meteksos kali ini dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 9 April 2011 bertempat di ruang E lantai 1 gedung 2 Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Jatinangor yang dimulai pada pukul (coba tanya isa) yang berakhir pada pukul 15.16 WIB dengan diikuti oleh tujuh orang peserta dari Fakultas Tekhnologi Industri Pertanian jurusan Tekhnik Pangan.

Keterangan : M O N P1 P2 P3 P4 P5 P6 P7 : moderator : observer : notulensi : partisipan 1 (Franz) : partisipan 2 (Eka) : partisipan 3 (Laura) : partisipan 4 (Julia) : partisipan 5 (Mimi) : partisipan 6 (Bowo) : partisipan 7 (Ala)

VERBATIM M: Selamat pagi teman-teman..Assalamualaikum Warohmatullah hi

Wabarokatuh (seluruh partisipan menjawab waalaikumsalam)..masih semangat kan setelah seharian bermain-main dengan gambar, kertas warna warni de el el ?? (all : tertawa kecil) Alhamdulillah, kita sampai di sesi terakhir rangkaian praktikum hari ini yaa..sesi terakhir ini adalah FGd yaitu focus group discussion dengan tema PHBS..aturannya, disini semua orang bebas dan harus menyampaikan pendapatnya mengenai topik diskusi kita hari inisemua tidak harus terpaku pada saya ya, jadi disini maksudnya bisa saling berdiskusi dengan teman di sebelahnya..selama tidak mengganggu jalannya praktikum ini..itu saja..nah sebelumnya saya minta ijin untuk menggunakan alat perekam dan mencatat semua hasil jawaban..(semua peserta mengangguk)..terima kasih..oiya, sebelum kita mulai sebaiknya kami dari tim FGD memperkenalkan diri dulu, saya Chachi, psikologi

2008..hari ini bertugas sebagai moderator..disana ada Shara, psikologi 2008 juga sebagai tukang mencatat alias notulensi..dan Rani sebagai observer..nah, kita sudah memperkenalkan diri, ada baiknya kalo dari teman-teman juga memperkenalkan diri yaaadimulai dariii..kak Ala aja dulu deh(menunjuk P7)heheh Perkenalakan nama, angkatan..karena semuanya se faskultas dan se jurusan jadi angkatan ajah..tinggalnya di manasama lamanya tinggal di jatinangornge kost semua di Jatinangor kanbaik..kita mulai yaa.. P7 : OkeeeAssalamualaikum, nama saya Ala..saya dari angkatan 2006 saya tinggal di Sayang..saya sudah tinggal lima tahun di Jatinangor(ada yang nyeletuk: udah tua ya kangdisambut tawa)hahahah..ga juga.. M: P6 : Oke, kak Alaselanjutnya yang di sebelahnya.. Nama saya Wibowo, biasa dipanggil Bowo dari angkatan 2008..berarti sudah tiga tahun disini..sebenarnya di Jatinangor itu di asrama dan satu minggu sekali pulang.. P5 : Nama saya Mimi, angkatan 2008 dari FTIP..kostnya di daerah Sayang dan disni kurang lebih sudah tiga tahun.. P4 : Saya Julia..FTIP.. angkatan 2007.. udah empat tahun juga

disini..tinggalnya di Little Ciseke..Ciseke kecil..(all:hahahaha) P3 : Saya Laura..angkatan 2006..kost annya di gang Mawarsudah di Jatinangor empat tahun juga.. P2 : Eh..nama saya Eka..ehm..saya angkatan 2007..(P7:..asli..asli)emmm, asli Bogor(all:hahahha)kost an di Cisekesudah empat tahun di Jatinangor.. P1 : M: Saya Frans..angkatan 2007..empat tahun di Nangor Oke..sekarang semua sudah menyebutkan nama masing-masing..yah masing-masing udah kenal yah..oke..emmtema hari ini itu adalah bagaimana pendapat teman-teman mengenai PHBS di Unpad..dari tadi kan udah disebut-sebut tuh..PHBS..PHBS..ehmm..mungkin dari temen-

temen sendiri..sejauh ini apa yang diketahui temen-temen mengenai PHBS itu sendiri..kita giliran aja ya ngomongnya..diurut aja kayanya yaaa (dari P1) P1 : Kalo menurut saya sih perilaku hidup bersih dan sehat itu, dimulai dari diri sendiri dulugimana kita nerapin di diri kita..baru setelah itu ke lingkungan..gimana kita mengajak lingkungan kita untuk menerapkan perilaku yang sesuai dengan PHBS itu sendiri..itu dilakukan tidak hanya di diri sendir tapi ke fasilitas umum yang ada di sekitar kita.. M: Berarti dimulai dari diri sendiri (P1 : iya..dari diri sendiri) ke orang lain (P1: iya) P1 : Tapi kita sendiri juga ga hanya mempengaruhi orang lain.. tapi biasanya kita juga diprngaruhi M: P1 : M: P2 : Timbal balik gitu? Iya timbal balik.. Oke..sekarang ke kak ekagimana nih menurut kak eka..? Ga boleh idem yak (M: ga lahhpasti punya pendapat sendiri kannn)..hahahahoke deh..(M: santai kak santai..hehehehe)..hahah..menurut saya, PHBS itu merupakan sikap yang apa..yang memang harus dilakukan sehari-hari..untuk mencapai suatu kehidupan yang bersih dan pada akhirnya nanti tercapai hidup yang sehatberdasarkan sarana dan prasaran yang memadai..dilaksanain bareng-bareng juga..dipengaruhin orang lain juga(M: timbal balik jug lah ya)..iyaaaa..hehehe P7 ; Berarti saya dapat giliran terakhir donkenak ahh, jawabannya udah diambil semuahahhahah (all:hhhaahha) P3 : Kalo PHBS itu ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan perilaku hidup bersih itu dan caranya itu bisa melalui diri sendiri..dari kebersihan diri sendiri..lalu kebersihan lingkungan..dengan banyak cara seperti itu.. M: Berarti selain timbal balik tapi juga memang terdapat banyak cara untuk

menerapkan PHBS itu sendiri yaa.. P3 : M: P4 : Ya seperti itu (mengangguk-angguk) Oke selanjutnya Kak Julia..yang dari tadi sudah senyum-snyum.. Heheeheh..seperti yang sudah dibilang Frans, Eka dan Teh Lolo..kalo aku sih..PHBS itu harus dilakukan secara rutin dan berkesinambungan tidak hanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu saja terus kesananyan tidak dilakukan lagi..karena kalo misalnya kita sudah biasa dengan hidup bersih nanti kesananya juga akan menciptakan lingkungan yang bersih gitu tidak hanya dengan batas waktu tertentu saja.. M: P5 : Oke..berkesinambungan ya..lanjut ke sebelahnya.. Sebenernya sih sama..dari itu hidup keempat sehat itu pendahulu kita harus saya ini..

(all:hehehe)..intinya

melakukan

kesadaran..kita tuh harus sadar kalo itu penting buat kita..kalo misalnya itu tuh ngga dijalanin bakal berimbas ke diri kita pribadi lalul ke orang lain dan kemudian lingkungan.. M: P6 : Sesuatu yang penting dan sadar ya..emmm..oke..selanjutnya.. Mungkin dari tadi udah lengkap ya..mungkin saya nambahinnya berarti PHBS itu kegiatan yang kalau dilakukan itu bukannya menghambat malah emang seharusnya dilakukan sehingga nantinya hidup kita itu lebih bermanfaat..mungkin ya itu..disertai dengan fasilitas yang memadai..dari diri sendiri.. M: Mungkin kak Ala menyimpulkan..oh salah ya..hahahmungkin punya oendapat sendiri melengkapi pendapat dari teman-temannya P7 : Oh..hahaha..ya..saya mungkin menanggapinya begini..emmm..PHBS ya..perilaku hidup bersih dan sehat..kalo saya melihatnya dari kebiasaan hidup sendiri..terbiasa untuk melakukan hal ini..dan kalo dari diri sudah terbiasa akan terbentuk sisi kenyamanan..nyaman atau tidaknya kita melakukan hal itusebenarnya merangkum juga sih..ehheheh..hanya dari saya melihatnya seperti itu..hidup bersih itu bisa berkelanjutan ketika hal tersbut udah biasa..maka kalo udah biasa itu berarti dari dalam dirinya

sudah merasa nyaman untuk melakukan hal itu..dimulai dari situ.. M: P7 : Berarti dimulai dari habit nya ya..dari diri sendiri..terbiasa Terbiasa( M : lalu jadi lingkungan nyaman?)..bukan..kalo sudah terbiasa itu menandakan kalo dari individu itu sendir memang nyaman untuk melakukannya..nayaman dengan hidup sehat itu.. M: Ohh..okekalo nyamannya sendiri itu hanya untuk diri sendiri atau bagaiman.a? P7 : Kalo namanya perilaku hidup bersih dan sehat itu dia menimbulakn dari diri sendiri dulu..kalo individunya udah nyaman maka antara lingkungan dan individu akan saling menimbulkan rasa nyaman M: Sekarang berarti minimal sudah ada gambaran mengenai PHBS sendiri itu seperti apamungkin dari teman-teman ada yang bisa menyebutkan yang termasuk perilaku hidup bersih dan sehat itu seperti apa sih? P6 : Yang pertama membersihkan diri sendiri seperti mandi..

(all:hahhahha..mandi..)..iay salah satunya dengan mandi..terus habis itu ..ehmm..mungkin buang sampah..dari apa yang sudah kita lakukan misalnya makan..buang sampah pada tempatnya(M: bukan pada temannya yah..all:hahaha).nah iya itu..pada tempatnya ya.. M: P2 : Ada lagi? Disamping membersihkan fisik diri sendiri juga..ehmm..pola makan juga harus diperhatikan..kan pola makan berhubungan dengan apa yang kita masukkan ke dalam tubuh..kan kalo misalnya apa yangkita masukkan tidak bersih maka tubuh juga akan bereaksi ke fisik.. M: P4 : Pola makan yaa..emm..oke..ada lagi? Mungin yang sering kita lupa tuh olahraga ya..kan kalo misalnya tidak pernah olahraga tapi sekalinya olah raga tuhaduhhhh..tapi kalo olahraganya sudah menjadi kebiasaan..kayanya enak dan daya tahan tubuh tuh lebih terjaga kayanya.. P5 : Kalo ini misalnya..menjaga lingkungan kita..kalo misalnya di diri kitanya

bersih tapi di lingkungan di sekitar kita nya ga bersih ya..misalnya gini lah ya..kita ngurusin yang di kampus..kost an kita nya jug ga tau lah ya gimana..jadi emang harus diperhatikan juga lingkungannya.. M: Berarti emang dari segi lingkungan sekitar juga harus diperhatikan mungkin ya..mendukung atau tidaknyadan ngajak orang lain sepertinya yaa..emm..oke ada lagi mungkin? P7 : Mungkin maksudnya giniemm..kalo..tadi tanya nya berarti bagaimana perilaku hidup bersih itu sendiri..(M: perilaku seperti apa..)..oke perilaku seperti apa..emm..perilaku seperti apa yaa..kalo menurut saya..perilaku yang memang dia konsisten dalam melaksanakan kegiatan harian..emm..ibarat kata gini..kalo kita di SD atau SMP mungkin ada waktu satu hari itu kita olahraga..rutin kita olahraga di hari itu..itu akan terbiasa kan..kita akan melakukan nya di hari itu..tapi kalo kita mahasiswa kita tahu sendiri lah jadwal kita tidak terprediksi tapi kalo kita konsisten..kita memposisikan ada waktu olahraga di setiap minggunya itu berarti kita harus melakukan kegiatan yang rutin sesuai dengan perilaku hidup sehat..intinya konsisten dengan pola-pola hidup sehat setiap harinya.. M: Berarti selain melakukan pola hidup bersih..konsistensinya perlu dijaga.. (P7 : iya)..ada lagi mungkin? P3 : Mungkin ini kali ya..kalo Bowo mandi..kalo saya lebih ke..emm..kalo misalnya saya pulang bepergian..yang saya lakukan pertama kali adalah mencuci tangan..dan mencuci kaki..karena kita ga tahu apa yang udah nempela di luar..jadi mencuci tangan dan mencuci kaki..dan mengganti pakaian karena pakaian itu jyga dari luar..nempel segala macem..kuman..gitu.. M: P1: Ganti pakaian..cuci tangan..cuci kaki..emmada lagi? Kalo menurut saya..setelah makan..segera dicuci alat-alat makannya..kan kita tahu sendiri kan..makanan itu sumber mikro organisme..ga Cuma di makanannya tapi juga di medianya..bisa jadi sumber ato sarang

penyakit..mungkin kotornya itu tidak kasat mata ya..seperti di baju..bisa aja dia keliatan besih tapi ternyata banyak banget kuman sama bakteri yang nempel..mungkin dia bersih secara kasat mata tapi banyak penyakitnya..nah selain baju dicuci juga strika baju itu penting..kan kalo udah dicuci menurut kita bersih tapi pas dijemur banyak banget apa-apa yang nempel..dengan setrika baju, bisa jadi hal-hal kaya gitu yang bikin penyakit uth bisa mati..jadi setrika baju juga penting sih..selain rapi..bersih..juga tapi sebenernya sih semua itu gampang kalo diliat dari teorinya aja..tapi realitasnya yaaasebenernya bali lagi dari diri sendiri..pelan-pelan..lama-lama juga jadi kebiasaan .. M: Berarti setrika baju juga penting ya kak(P1 : (mengangguk))..okeada lagi mungkin yang masih belum diungkapkan? Perilaku sehari-hari aja yang ada di sekitar temen-temen..ga usah jauh-jauh lah yaa.. P6 : P7 : P5 : Mandi dua hari sekalieh..dua kali sehari..(all:hahahha) Gosok gigi, cuci muka sebelum tidurabis bangun pagi tuh Kan menurut teori, jalur masuk atau jalur penghubung antara lingkungan luar dan tubuh kita itu kan mulut..lewat mulut..kalo kita ga bisa jaga ya..tau sendiri lah tar nya gimana M: Berarti menjaga kebersihan mulut juga masuk ke perilaku hidup bersih dan ssehat yaa.. P7 : Minum air dua liter sehari juga penting..walopun ga seberapa keras kan.. tapi sebenernya kalo menurut saya sangat berdampak banget..kalo dehidrasi gimana juga kan ya.. M: P6 : Ada lagi mungkin? Menggunting kuku juga bisa..dulu waktu SD kan suka diperiksa tapi kesini-sininya lumayan suka lupa kalo ga pas panjang banget.. P3 : P7 : Ada lagiganti sprei yaa( M: ganti spreioke) Bersih-bersih kost an..ya nyapu..beres-beres..ngepel..gitu lah..barangbarang yang ga perlu dikeluarin dari kost an..jadi apa ya..ruang gerak kita tuh lebih..lebih apa ya..lebiihhemm kalo saya gini..salah satu perilaku

hidup bersih itu kalo barang-barang yang ada di sekitar kita itu barangbarang yang emang penting buat kitayang ga perlu ya disimpen aja gitu di luar..karena kalo ada di sekitar kita dan itu kita biarkan maka itu akan menjadi seumber penyakit..ya seperti misalnya kaya sampah..makananmakanan yang ga kemakan..harus segera dikeluarkan dan dibuang..kalo hga gitu ya jadi sumber penyakit karena pola hidup sehat ya iutu..kembali lagi..dari lingkungan juga berpengaruh ke diri masing-masing individu..pokoknya barang-barang itu disortir lah..sekiranya mana yang sesuai dengan kebutuhan kita.. P6 : Ya mungkin kalo dilihat dari tadi..dari pribadi tadi..kalo kita melakukannya untuk dirir sendiri maka kita juga sama dengan melakukannya untuk masyarakat..sama saja ikut program bersih di masyarakat..seperti ikut gotong royong mungkin..yaaa..kalo menurut ita itu baik ya pasti di msayarakat juga baik..Bagus untuk kita nya dan masyarakat juga bilang itu bagus M: Ada lagi mungkin? Tampaknya udah cukup banyak yaa..mulai dari mandi, gosok gigi, cuci tangan sampai gotong royong yang menurut temen-temen merupakan perilaku yang sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat..okedari sekian banyak perilaku yang temen-temen sebutkan tadi..kira-kira nihmanfaat yang didapat kalo kita melakukan hal-hal yang sesuai dengan perilaku hidup bersih dan sehat seperti apa? P5 : Otomatis nyaman lah ya..dankita mendekati konsep sehat yang sesungguhnya..kita juga kan ngelakuin itu biar sehat ya kan..misalnya kaya tujuannya itu kan biar kita sehat..bersih..dan mislnya kalo kita ga ngelakuin itu kan kita bakalan jauh dari konsep sehat yang ada di masyarakat..kalo misalnya kita ngelakuin itu kan, kita lebih dekat kesana..soalnya kan konsep itu kan..ngga..nggaa apa yaa..ngga ada ukurannya kan..itu kan sifatnya kualitatif..jadi ngukurnya juga susah tapi minimal kita berjalan kea ah sana gitu.. M: Berarti mungkin berusaha untuk mendekati konsep sehat nya sendiri gitu

yaa (P5 (mengangguk)).. P7 : Mungkin juga untuk jangka panjang ya..siapa tahu dengan sehat umurnya bisa lebih panjang..ya kan?? (all:hahahah..iyaiya..) M: Ada lagi mungkin? Untuk diri sendiri aja..apa manfaat yang didapat teman-teman setelah mandi..gosok gigi..makan sehat..olahraga..kira-kira apa sih manfaat yang dirasain temen-temen? P6 : Mungkin salah satunya gampang bersosialisasi ya..lebih percaya diri..gitu lahlebih ngerasa bersih jadi pantes lah deket-deket orang lain M: P7 : Ada lagi mungkin? Kalo misalnya tuh..aku ter-insight nya kaya gini..kalo misalnya kita menciptakan suatu kondisi yang berantakan tapi kita nya sudah nyaman dengan perilaku kita yang sesuai dengan PHBS itu sendiri..biasanya kita akan termotivasi untuk menjadwalkan lagi..jadi misalnya gini..kalo misalnya kamar saya berantakan..saya di kamar ya..Cuma tidur mungkin..jadinya ga ngapa-ngapain..beda lagi kalo kamar saya rapi saya di kamar bisa(P5 :guling-guling?...all:hahhha)..jadi ya..hahah..saya bisa olahraga di kamar..kaya tadi..mungkin bisa masak juga(M:masak??? masak di kamar??)..iya kan misalnya jugahehehe..jadi aktivitas yang bisa saya lakuin di kamar itu jadi lebih banyak.. M: P6 : Oke..heheheh..ada lagi mungkin? Kalo tadi kembali ke kan banyaknya PHBS itu aktivitas yang bisa yang

dilakukukan..mungkin

kan..sesuatu

terkonsep..pastinya kan terorganisir..jadinya nanti kita bisa mengonsep apa-apa yang lebih baik gitu..kaya misalnya..oh, mandi..mandi tuh lebih baik pagi-pagijangan sampai siang-siang..jadi kita bisa mengonsep kalo apa yang mesti kita lakuin pagi tuh jangan sampe kita lakuin terlalu siang atau molor..kalo ngga semuanya bakalan jadi kacau gitu..berantakan.. M: Oke..itu mungkin di level kita sebagai individu..kalo disejajarkan pada fungsi kita sebagai masyarakat social.. seperti yang kita lihat disini..seperti yang kita lihat di definisi PHBS sendiri tuh salah satunya

dalah mewujudkan kesehatan masyarakat..kalo menurut temen-temen sendiri..untuk masyarakat luas..ketika kita menerapkan PHBS apa yang akan di dapat lingkungan dari perilau kita itu? P5 : Kalo di lingkungan kita sendiri udah pasti lingkungan lebih asri..lebih nyaman.. P4 : Kalo misalnya gini sih..lingkungan itu ga nyaman..sampah dimanamana..itu kan bisa jadi kalo sewaktu-waktu ada ujan..trus banjir..nah salah satunya kan bencana alam tuh..jadi dengan perialku hidup sehat sendiri..kita bisa ikut mencegah gitu loh..( M : jadi lebih ke tindakan prevensi ya)..iya gitu sih.. M: P7 : Ada lagi? Kalo boleh nambahin sih saya bilang itu lebih ke etika..jadi akan timbul rasa malu ketika kita tidak menerapkan itu sementara orang lain menerapkan..jadinya ya bisa jadi malu sendiri..dan ke orang lain itu kaya misalnya..membawa dia untuk melakukan apa yang kita lakukan ya..walaupun mungkin awalnya dia terpaksa mungkin minimal dia akan mencoba gitu..karena bagaimanapun kalo lingkungan bersih, individu pasti akan terbawa gitu..jadi secara etika dia kan merasa malu..secara etika juga mungkin untuk orang yang sudah bersih..dia mungkin akan melakukan penuyuluhan gitu..kan mau ga mau pilihannya ka nada dua ya..orang yang ada di lingkungan bersih itu..dia akan tetap bersih atau mungkin dia akan terbawa orang lain untuk menjadi tidak bersih gitu..jadi dia masuk ke lingkungan itu atau mungkin dia akan keluar dari lingkungan karena ga nyaman kan dia dengan hal-hal yang pilihan ada di sekitarnya..secara etika punya..punya gitu..jadi

menimbulkan etika kayanya.. M: Jadi mungkin..dari kitanya juga sebagai model untuk orang lain lah yaa..secara ga langsung mengajak orang lain untuk menerpakan pola PHBS itu sendiri(P7:iya)..oke..ada lagi yang ingin berpendapat?..oke..tidak ada?..emm..berarti sekarang gini aja..sebenernya

PHBS itu sendiri singkatannya adalah perilaku hidup bersih dan sehat..jadi perilaku ini sendiri bisa dari kesadaran ya..jadi misalnya gini..ketika ada sampah..dengan kesadaran kita sendiri itu..wah..ada sampahh..lalu kita pungut dan kita buang..bukan ketika kita tidur..lalu kita jalan sambil tidur.kita mungutin sampah dan membuangnya ke tempat sampah, diliat dari definisi, itu bukan merupakan PHBS..jadi selain itu juga merupakan hasil pembelajaran..mungkin kalo dari SD, dari kecil mungkin lah yah diajarin buanglah sampah pada tempatnya, gimana caranya menjaga kebersihan..itu termasuk hasil pembelajaran..PHBS sendiri mungkin tujuannya adalah menolong diri sendiri baru setelah itu akan mewujudkan kesehatan di masyarakat..jadi seperti yang tadi mungkin timbal balik kita membantu masyarakat dan masyarakat membantu kita..kalo ruang lingkup PHBS sendiri itu ada lima rumah tangga, sekolah, tempat kerja, saran kesehatan dan tempat umum..cuman yang kita bahas dari tadi adalah di lingkungan sekolah dan untuk kasusu ini mungkin lebih tepat tidak disebut lingkungan sekolah tetapi lingkungan kampus..di lingkungan kampus..seperti yang juga sudah dibilag tadi yang mencerminkan yah banyak lah..mungkin tadi waktu menggambar fasilitas ada yang menunjukkan kantin..ato MCK..ato tadi ada PDAM dan kawan-kawannya..itu kan sedikit berkaitan dengan PHBS dalam lingkup kampus..yang ada di sekitar kampus temen-temen..berarti sekarang gini..ketika temen-temen ada di kampus berarti lingkungannya lingkungan kampus..menurut temen-temen sendiri di lingkungan kampus mendukung tidak untuk mahasiswanya melakukan perilaku hidup bersih dan sehat? P3 : Kalo di lingkungan kampus ya..kalo dari pihak kampus kita

sendiri..yaa..kita tadi sudah menggambarkannya..pihak kampus sendiri memang menganjurkan mahasiswanya untuk berperilaku hidup bersih dan sehat..jadi yaa..mereka memeang menyediakan dan mendukung sekali para mahasiswa untuk menampilkan perilaku itu loh.. P6 : Yamemang kampus mendukung dan menyediakan sarananya..cuman ya

itu..balik lagi ke orang-orangnya..banyak orang yang terlalu tidak bertanggung jawab gitu..jadi misalnya gini, pihak kampus sangat mempedulikan kebersihan lingkungan sampai mereka menyediakan para petugas kebersihan yang bertanggung jawab untuk membersihkan lingkungan kampus..sayangnya itu tidak direspon positif oleh temanteman..mereka pikir karena ada petugas kebersihan jadi ya sudalah..toh nanti juga akan ada yang membersihkan gitu loh..jadi bukan karena ya..da tergantung orang-orangnya gitu..tergantung kita nya sendiri.. untuk pihak kampus menurut saya sudah cukup memberikan fasilitas untuk mendukung PHBS mahasiswanya ya..namun ada beberapa hal yang mungkin masih belum terlaksana seperti misalnya..ya kita bisa lihat sendiri lah ya..di sekitar kita cukup sulit untuk menemukan tempat sampah..sekalipun ada tempat sampah tapi bawahnya bolong..jadi mungkin kalo ada yang perlu dimasukkan ke saran ya mungkin adain pengadaan tempat sampah ya..ya mungkin karen gad a tempat sampah itu juga jadinya sampah numpuk diman-mana..kalo mungkin yah..wajar ada yang buang sampah sembarangan tapi yaa ga wajar juga sih..mungkin ada beberapa yang menyimpan dulu sampahnya di tas..paling mereka akan membuang smpah itu kalo ketemu tempat sampah..tapi ga sedikit jug ayang males kaya gitu jadi akhirnya mereka buangnya ngasal banget. P1: Iya emang kaya gitu nah..sayangnya ada banyak dan ga sedikit orang yang buang sampah ga pada tempatnya..ga bisa bilang juga kalo mereka itu orang yang ga bertanggung jawab tapi emang mungkin dari lingkungannya emang ga nyediain sarana itu..seperti misalnya limbahlimbah bahan kimia gitu ya..mereka suka ngebuangnya di wastafel karena emang ga ada fasilitas yang memadai untuk membuangnya..balik lagi karena emang kadang mahasiswa suka mikir yaudah sih da ada petugas kebersihan ini tar juga pasti ada yang ngeberesin..emang tergantung pikirannya sendiri..untuk kampus secara keseluruhan ya..bagus lah..terutama untuk kampus kita ya..cuman yang pasti emang perlu diiat lagi ya tempat sampah..

P2 :

Yang emang disayangkan banget itu ya limbah bahan kimia tadi..nah yang ga disadari sama pihak kampus mungkin tempat penampungannya padahal seperti yang kita tahu bisa jadi bahan kimia tadi emang jadi toxic di lingkungan..ada yang sulit diuraikan..dan Unpad ini memang belum memiliki sarana pengolahan limbah bahan kimia itu sendiri..

P4 :

Menyambung dari Eka juga..ya obrolan petinggi-petinggi bahwasanya Unpad kan mau jadi world class university salah satu syaratnya itu harus punya kaya instalasi pembuangan limbah dan mereka menanyakan..Unpad, dimanakah instalasi pembuangan limbah anda..dan para petinggi-petinggi kita belum bisa menjawab itu karena memang masih belum tersedia..gitu

M:

Berarti mungkin kalo di sekitaran Unpad sendiri yah..tempat sampah mendukung Cuma ada beberapa yang perlu diperbaiki..seperti itu..dan memang harus ditambahnah kalo di FTIP nya sendiri? Di tekhnik pangan? Di gedung yang biasanya temen-temen pakai untuk kuliah seperti apa disana?

P5 :

Sama sih..untuk tempat sampah da kita juga banyak..untuk petugasnya juga..ehhh..bagus yaa..maksudnya ya kerjanya juga bagus ya..rajin jadi bikin kita malu lah kalo misalnya kita buang sampah sementara mereka setiap saat ngebersihin..gitu..efeknya ada..kalo misalnya untuk instalasi limbah juga di kita juga ga ada yadi kita juga belum ada instalasi pembuangan limbah..tapi dari kita nya sendiri kalo misalnya praktikum yah..dari praktikum-praktikum kita yah semaksimal mungkin tidak membuang limbah yang berbahaya kaya gitujadi misalnya..emmm ga sembarangan buang gitu..jadi ga ngasal buang di tempat sampah aja gitu

M:

Nah oke..itu kalo dari segi persampahan dan perlimbahan mungkin ya..nah kalo dari segi menjaga pola makan..apakahada kantin yah..(all: (mengangguk))..nah apakah kantinnya di tempat temen-temen melaksanakan kegiatan itu menyediakan tidak hal-hal yang berkaitan

dengan menjaga pola makan yang sehat? P6 : Kantin? Hahaha(P5: kasih tau ga yaaaaall:hahha)..mungkin untuk menyediakan makanan yang sesuai dengan pola makan sehat mungkin engga ya..tapi minimal ketika kita butuh, ada gitu loh..jadi memang kebetulan di gedung sekitaran kami kuliah itu banyak kantin-kantin gitu yah..jadi memang banyak pilihan kalo mau makan..dan kantin-kantin itu memang untuk menyediakan makan emang lengkap gitu..ada buah ada sayur.. M: Berarti memang untuk asupan nutrisi lumayan lah ya untuk ukuran mahasiswadan anak kost yahh..(P6 : tergantung kantong juga lah ya all:hahahah)..dan memang untuk mengakses kantinnya juga mudah kan yah..tidak perlu naik angkot gratis dulu kalo memang mau makan..nah..untuk masalah kebersihan di toiletnya mungkin? P4 : Emmm..kasih tau ga yaaa..hahahah.. ungkin untuk kebersihan di toiletnya kurag bagus sih ya..keadaannya mungkin yah..karena untuk jumlahnya udah cukup banyakdi tiap lantai ada..Cuma kayanya keadaannya yang perlu diperhatikan soalnya liat aja dehkaya warna cat nya gitu..burem banget..yahagak-agak gimana gitu ngeliatnya..terus gitu saluran airnya..ga tau kenapa tapi saluran airnya, entah yang dari depan atau belakang..merhatiin ga sih..ga tau juga sih yaa kao bukan saluran airnya atau apa tapi yang jelas baunya ga enak aja..ga tau juga itu asalnya yang jelas darimana.. M: Oke..itu dari toiletnya ya..kalo dari kantinnya sendiri, gimana keadaan di kantinnya? P3 : Sebenernya gedung yang kita pake itu ya..gedung yang kita gambar tadi..ga ada kantinnya..cuman dari fakultas sendiri memang menyediakan kantin tapi memang kebetulan tidak di gedung yang kita pakai..jadi gedung kita memang tidak ada kantinnya..di kantin itu sendiri memang menyediakan makanan empat sehat limempat sehat lah yaaga ada susunya (all: hahahahha)..tapi minimal disitu semuanya ada..mulai dari

nasi , sayur, buah, lauk pauk..lengkap pokoknya yah..kecuali tadi, susu hanya letaknya bukan di gedung yang sering kita pakai..makanannya sehat disitu..dan kemudian kamar mandi..secara keseluruhan fakultas juga menyediakan..tapi sekali lagi bukan di gedung yang sering kita pakai..jadi mungkin pendapat kami berkisar disitu..untuk gedung yang kita pakai sendiri memang kebetulan tidak memadai..fakultas menyediakan tapi sekali lagi bukan di gedung yang kita pakai tapi di gedung yang baru kamar mandi nya juga bersih disitu..tapi ga mungkin kan kalo kita kebelet kita lari dulu ke gedung yang baru..masalahnya kalo kaya gitu, kita mesti lompat-lompatin dulu fakultas lain, kaya peternakan, opertanian, baru ketemu gedung baru fakultas kita..gitu P1 : Karena ya..kita ini..gedung yang sering kita pakai itu..dulu kan kami masuk ke fakultas pertanian..kemudian memecah jadi fakultas sendiri..nah dulu gedung ini gedung pertanian dan lokasinya pun di fakultas pertanian..denahnya sendiri kan fakultas pertanian, peternakan baru FTIP..nah gedung FTIP sendri itu..yang baru..yang memadai itu memang terpisah dari gedung yang biasa kami pakaibegituu.. M: Berarti emang jauh yatapi basicly dari fakultasnya sendiri memang sudah ada usaha untuk menyediakan fasilitas yang mendukung mahasiswa untuk menerapkan PHBS..walaupun memang kebetulan dapet jatah gedungnya yang memang tidak sebanding dengan gedung yang baru oke..emmm..sekarang, PHBS atau tidak? P6 : Alhamdulillah mendukung sih..walaupun belum maksimal..minimal tempat sampah itu ada walaupun jaraknya lumayan jauh..jadi emang tong sampahnya di luar..palingan yai ituuu..banyak sampah-sampah bekas makanan sama minuman dimana-mana termasuk di kolong-kolong meja..tapi untungnya tiap kami menjalankan kuliah, kelas selalu dalam keadaan bersih..ada yang ngebersihinnya emang..alhamdulillah juga udah ada AC..(all:hahhahaha)..minimal blower juga ada lah..hahaha.. untuk gedung perkuliahannya sendiri..emm..menurut temen-temen..fasilitas di gedung itu mendukung

(P7:emang

AC

masuk

PHBS

gitu..hahahah)..masuk..kan

kenyamanan..hahahahha.. O: Kalo menurut temen-temen sendiri, walaupun ada AC, sirkulasi udaranya gimana? P6 : Bagus sih..yaitu tadi ..karena ad AC jadi ga engap(O:di setiap ruangan seperti itu?)..engga lah..di lab ga mungkin ada AC..diganti itu tadi blower..karena ga mungkin kita main-main pake bahan kimia di ruangan ber-AC.. M: Mungkin itu untuk lingkungannya ya..emmmkalo kita

otomatis..emm..ketika kita masuk di lingkungan social, kita pasti berinteraksi dengan orang-orang..menurut temen-temen sendiri..selama ini..ketika berinteraksi dengan orang lain..orang-orang yang berinteraksi dengan temen-temen ini mendukung untuk berperilaku hidup bersih dan sehat?..(all:em..hehehehe nih menurut temen-temen? P1 : Kalo menurut saya sih..temen-temen..untuk temen-temen kampus sih iya..tapi untuk temen-temen lainnya di luar kampus kalo menurut saya sih kurang yakebetulan sih saya asdos kan..jadi minimal saya sering ngasih tau ke temen-temen yang lain utnk ngejaga kebersihan terutama di lab sendiri yah..ngebuang bekas sampah-sampah makanan mereka..bekas praktikum..yah..minimal mereka setelah diberitahu akan menerapkan perilaku bersih..tapi kalo gaya lupa lagingotorin lagi M: P5 : Oke..emmiya kak Julia? Pada dasarnya sih sama..mungkin kalo se fakultas kan disiplin ilmunya sama..jadi ya minimal standar kita untuk menerapkan pola hidup bersih ya samakalo aku sih..sama mungkin kaya kang Frans..kalo di kost an mereka masih semau gue gitu..hal-hal yang tampak yahh..buang sampah sembarangan..padahal mereka tahu ada tong sampah tampak di depan mata segede gitu..masih aja suka buang sembarangan..di depan pintu (saling memandang ke temen di sebelahnya))..lho kok pada liatin yang di sebelahnya??hehehegimana

kamar..emang sih ada yang suka nyapuin gitusama aja sih..kalo menurut aku..kurang sadar sih P2 : Kalo saya sih jujurdi kampus juga temen-temen kurang sadar juga..misalnya nih..di lobby kampus..di bawah tangga ka nada kantin yahnah disitu kan ga ada tempat duduk..jadinya ya, kita suka duduk disitu terus mesen macem-macem gitu kan ya..mesen krupuk lah, mesen apa lah..nah, sampahnya disitu tuh yang suka ditumpuk gitu aja..jadi pas praktikum tuh suka pada lupa ngebuangnya di tempat sampah..nah kalo di kost an teh yang anak-anaknya tuh kebetulan pada rapi sama bersih gitu..alhamdulillah di kost an sih anknya pada gitu.. M: Ahh..okekebalik lah yah sama temen-temennya.. berarti mungkin emang beda pergaulan kali ya..(all:hahahha..iya tuh..)..ada lagi mungkin? P7 : Dari temen-temen di kampus itu yaemm..temen-temen itu kalo saya ngeliatnya..sudah menerapkan PHBS..diliat dari kalo praktikum ajah mereka itu kan suka diberi tahu untuk membereskan kembali peralatan praktikumnya..dikembalikan ke tempat semula..bahan-bahan juga diberesin..kalo saya melihatnya lebih terikat pada sistem yang ada..karena sistem yang ada mengaturnya seperti itu jadi mereka terbawa gitu..terikat banget..sedangkan kalau.itu yang menyebabkan mereka terbiasa untuk membiasakan PHBS itu sendiri..walaupun memang di beberapa bagian, seperti di kantin tadi..tidak ada peraturan dari kantinnya untuk merapikan atau segala macem gitu..sehingga mereka juga terlepas lah dari yang namanya sistem itu atao PHBS..tapi mungkin kalo di kampus itu rata-rata PHBS lebih mudah untuk diterapkan karena memang ada kebijakan dari kampus juga untuk memberikan tata tertib seperti tadi..tapi di luar kampus..ya itu kanbeda-beda tadi jadi kaya mungkin di kost an Eka anknya pada rapi sementara di kost an Frans dan Mimi lebih tidak rapi..seperti itu.. M: Emm oke..berrarti memang gara-gara sistemnya (P7:karena lagi

sistemnya)..iyap

karena

sistemnya..ada

yang

mengikatada

mungkin? Ada yang tidak sependapat mungkin? P6 : Mungkin kalo dari sayaemmm.dari saya..di kampus memang yang kurang peka gitu..karena memang seperti apa ya..bukannya melarang untuk merokok tapi biasanya orang yang suka merokok itu kan ga mungkin hanya ngebuang satu puntung terus dia bela-belain nyari tempat sampah gitu kan yaa..yaudah seenaknya aja buang di tempat dia berdiri gitu..asal lempar..yaa, walaupun kecil gitu tapi perilaku seperti itu data mengubah mindset kita..yang tadinya ya gitu..ketika dia melihat jadi oh,,ya udahlah..yang tadinya Cuma ngebuang putung rokok yang dia pegang, jadinya ngebuang apa aja yang dia pegang gitu..jadi asal ngelempar..seperti itu..cuman kalo misalkan di kost an giru, kebetulan kamar saya ditempati dua orang..dan walaupun sejurusan pola pikir saya dan temen saya itu berbeda gitu..jadi emang kita sih peka gitu..oh ini nih ada yang kotor..jadi langsung kita beresin ato mungkin pas hari Jumat malem sebelum kita pulang ke rumah, jadi kita beres-beres dulu gitu..jadi sebelum kita pergi, kamar udah rapi..bersih gitu..dan untungnya..di pinggir-pinggir kamar juga pola pikirnya sama gitu..yah walopun nanti ada yang membersihkan, tapi ya udahlah..toh ini nanti bakal kita pake sama-sama dan yaudah bakal lebih bagus kalo emang kita jaga samasama.. M: Berarti emang lebih ke kesadaran diri dulu..di kita nya gimana baru ke orang lain kan yah..oke..kalo giniemm..ada lagi ga?? engga?..oke..berarti kita tahu kan yah kondisi di sekitar kita seperti apa..dan yang kita inginkan itu PHBS seperti ini..ini..ini..dan ternyata kita lihat kondisi faktualnya seperti apa..oke..kalo dari temen-temen sendiri..selama ini..sejauh ini..yang pernah temen-temen lakukan untuk mengajak temen-temennya berperilaku hidup bersih dan sehat? Ada yang bisa diceritakan mungkin? P5 : Diajak..(M:diajak?)..emm paling mungkinkalo kata aku ya..aku pernah ada cerita..aku sama temen-temen aku kan suka jajan kan yah..nah bekas jajannya ini, kan suka gimana gitu nyari tempat sampah..tempat

sampahnya dimana..terus suka masukin ke tas gitu..tar kalo pulang terus ketemu tempat sampah dibuang..nah itu tuh pernah kejadian sama temen..dia tuh mau buang sampah tapi males gitu..buang sampah dong..buang sampah..siapa yang mau ngebuang sampah nitip dong..terus kan Mimi liat gitu..yaudah sini, masukkin ke tas Mimi aja..lho kok dimasukkin k e tas?..ya tar Mimi yang buang kalo pulang..akhirnya dia malu..o yaudah deh, masukkin tas sendiri aja..jadi ya..pengalamannya sih kaya gitu..itu kan hal kecil kaya gitu..pokoknya jangan buang sampahnya sembarangan..karen ayang da tas..yaudah manfaatin aja dulu itu tas.. M: Berarti mungkin awalnya tidak berniat model untuk tanpa mengajak sengaja kali

ya..menjadikan

dirinya

sendiri

dengan

mencontohkan..dan tanpa sadar akhirnya berpengaruh ke orang lain untuk mengikuti PHBS yang kita lakukan..ada lagi mungkin..? P4 : Kalo aku sih rada ekstrim sih yaga ekstrim sih, lebay kayanya sih..kadang tuh..kaya yang..emm..kan kaya kost an tuh punya yang namany dapur umum..namanya juga dapur umum berarti kan makenya barengan kan yah..mungkin antara individual satu dengan individu yang lain tuh ada yang kalo misalnya masak tuh ada yang dirapihin semua gitu..jadi istilahnya tuh dia masak..kotor..dia cuci-cuci..balik rapih lagi..gitu..ada yang kaya gitu..tapi di tempat aku sendiri..ada orang yang..dia masak..dibiarin kotor gitu..nah kan akhirnya dia ngebuat yang lain pas mau mask..ahh males ahh..ngeliat dapurnya kotor gitu..nah akhirnya pas gitu..jadi ngebuat kayaa..apa ya..aturan..memo lah yah..memo..untuk temen-temen yang kalo misalnya ingin masak jadi harus tanggung jawab gitu..jadi kasian juga kan yah sama yang kamarnya deket situ..kecium bau-bauan yang tidak sedap gitu..padahal sebenernya dia..dia nyapu juga..bebers juga..kaya gitu..jadi emang itu untku mengingatkan gitu..aku sendiri kan kalo masak juga..eh iya ya..kan ada aturan itu..apalagi juga aku yang bikin sendiri..malu jug lah masa yang bikin aturan ga nepatin apa yang dia bikin gitu..heheheh.. M: Berarti kayak e..lebih memberikan himbauan gitu ya..tapi secara

tertulis..termasuk modeling juga yah..ga cuman buat orang lain tapi juga buat dirinya sendiri..masih ada lagi mungkin? P1 : Kaya aku sendir mungkin yah..kalo ada temen yang males beberes gitu..bilangnya nanti lah..kenapa harus dinanti-nanti?..gitu..jangan sampai untuk hal-hal kecil itu kita bilang nanti..jangan ditunda lah..kalo misalnya emang ditunda tuh..lama-lama numpuk juga kan yah..jadi kenapa harus ditunda?..beosk..besok..besoknya lagi juga bakal kamu kerjain kan..seharusnya kan kaya tadi..Eka..sehabis makan..kebetulan memang saya asdos di kampus..dan tiap abis praktikum..kalo anak-anak udah pada keluar gitu..tinggal saya yang di dalam..sering saya lihat bungkus makanan dan minuman bekas mereka tadi bergeletakan ajah gitu..jadi ya emang tiap abis praktikum, kita beri peringatan kan..kaya yang di kolong meja..itu banyak banget ..jadi kita beri peringatan..bisa engga dibuang gitu..setelah itu memang bersih..lagipula kalo hanya diberitahu aja ga salah juga..minimal itu bisa ngatur mereka..gitu.. M: Oke..jadi memang ada seperti peringatan yang tadi yang bersifat mengatur

ya..oke..emm..berarti

dibilan

temen-temen..ada

hubungan timbale balik kan yah antar individu dengan lingkungan dan lingkungan ke individu..mungkin yang disampaikan teman-teman tadi merupakan bentuk timbale balik dari diri teman-teman ke lingkungan..sekarang kalo dari lingkungan ke individu..apa yang dirasakan temen-temen tentang hubungan yang seperti itu..ada yang mau berbagi pengalaman?..misalnya ketika ada orang berperilaku A, kita ikut berperilaku A..mungkin bisa dirasakan ga, ketika temen-temen berusaha menerapkan PHBS sementara teman-teman kita yang ada di sekitar kita kurang sadar akan PHBS itu sendiri..bagaimana perasaan teman-teman? P3 : Mungkin kalo yang dirasakan yah..sebel juga ngeliatnya..da orang yang..ketika kita berusaha menerapkan perilaku itu seperti misalnya buang sampah di tempat sampah..dan dia tahu itu..atau ngeberesin lantai gitu..ada yang seenak-enaknya ajah..secara emosi ya berdampak..gitu mau ga mau secara psikologis..ga nyaman..kesel..ga enak..campur

sebel..tapi kalo untuk ikut-ikutan mungkin ga sampe lah yah..ga sampe yang ayo buang sampah sembarangan dan aku ikut-ikutan..ga kaya gitu juga..karena kita udah dewasa juga kan yakesel mungkin ada tapi untuk ikut-ikutan kayanya mah ga sampe deh.. M: Berarti berampak juga ke kondisi psikologisnya yah.. ya mungkin ada yang mau menyanggah atau menambahkan..iya Kak Julia mungkin..tampak seperti ingin berpendapat..hehehe.. P4 : Iyaa..kalo misalnya sampah yah..ga gitu juga sih..ya misalnya kan..tau lah yah..ab]nak FTIP, tangannya tuh suka gatel pengen bikin apa-apa gitu..abis dari kampus terus di kos an pengen bikin juga kan..kalo dapurnya bersih kan enak juga kan..nah kalo pas masuk dapur terus ngeliat dapurnya kotor..euhudah gimana gitu duluan..udah kebawa males gimana gitu..padahal juga yang ngotorin siapa juga kan ya kayanya tuh emang jadi ngehambat gotu..padahal kan kalo lagi bersih tuh..kayanya tuh kreatifitas muncul gituh..(all:aseekkhahahaha) M: Berarti bisa jadi kebersihan itu memicu kreatifitas juga

yah..hahaha..okeoke..mungkin balik lagi ke rasa nyaman tadi ya..karena nyaman jadi daya kreatifitasnya muncul begitu saja..ahhhh..oke..ada lagi mungkin..selain tadi? P6 : Kalo saya sih..lebih..eh..eh.. takutnya kalo misalnya kita orang yang bener tapi berada di satu lingkungan yang salah..takutnya malah jadi orang yang salah juga..gitu..karen akalo saya..pengalaman juga ya..waktu itu pas kita ramean..ke Pangandaran..kita bawa mobil dan itu pake mobil pribadi saya..nah terus waktu itu di tengah jalan..ahh, mau buang sampah nih kata temen saya..tapi pas mau buang sampah keluar, aduh ga enak juga nih,..takut kena orang ato malah kena denda..jadi akhirnya sampahnya disimpen di jok..boleh ya disimpern dulu di dalem..oh iya..boleh..simpen aja dulu..nah mungkin abis itu lupa kali yahmungkin da saya jug aduduk di depan gitu..jadi saya ga tau..yang belakang juga lupa..dibiarin gitu ajah..saya nya ga tau..nah akhirnya pas pulang..ni mobil dipake sama orang tua saya..ngeliat mobil kaya gitu kan..akhirnya..kamu tuh gimana

sih..udah dikasih mobil..dikasih kepercayaan gitu..tapi ga dijaga..ga dibersihin..akhirnya kita juga yang kena padahal bukan kita yang ngelakuin..nah terus yang kedua itu di kosan..jadi misalnya..ehh misalnya..dia ini kita beli makanan dari luar..abis itu kita makan di dalem nih. Makan di tempat saya..eh, Wo..boleh kan make piringnya.. ya sok boleh pake..nah abis selesai makan mungkin piringnya ditaroh gitu ajah gitu..ga dicuci..nah kalo kaya gitu kan..numpuk..jadi itu kan emang pas istirahat gitu kan..terus abis itu buru-buru mau kuliah lagi..eh, tar aja ya nyucinya pas pulang kuliah..dengan janji pas pulang praktikum mau nyuci..ga tau juga sih kalo tiba-tiba mereka lupa..dan dibiarin gitu aja cucian piringnya..pas uda pulang pada ga balik lagi..tunggu sampe besok juga ga nyamperin lagi kan..nah akhirnya kalo kaya gitu kan numpuk..kotor..bau..saya nyuci juga males..temen sekamar saya mungkin keganggu tapi dia mau nyuci juga dah males gitu..itu bukan bekas dia..saya juga mau disalahin juga bukan saya yang ngelakuin..nah kalo misalnya ad temen yang lain yang bukan dia nyamperin gitu..kan jatohnya jadi wao Bowo ga penah nyuci piring gitu..kayanya emang dia malesmalesan..padahal bukan saya pelakunya..jadi kita yang dicap ga bener gitu..da mau gimana lagi gitu..mau ngelak juga gimana..jadi emang harus ada kesadaran gitu..semoga aj, orang-orang seperti teman saya tuh cepet sadar kalo mereka tuh udah bikin susah orang lain juga gitu.. M: P7 : Ah..oke..kesadran ya..oya..mungkin Kak Ala mau bicara? Pertanyaannya apa tadi..hahaha..oh iya..berpengaruh..kalo berpengaruh sih iya..tapi secara apa namanya.. ga sampe saya nya keseret gitu mungkin kalo temen mendukung, di kitanya sendiri juga jadi bisa menikmati lingkungan yang nyaman gitu..saya juga pernah ikut ngalamin gitu..kalo saya lebih melihatnya dari dua sisi..jadi yang ngeliat kaya gitu juga gondok kan..melihat itu, saya ngerasanya..berarti teman-teman saya tidak mendukung perilaku bersih saya..berarti pilihannya dua..yang pertama saya tetap berusaha menerapkan perilaku hidup bersih say..walaupun melihat mereka tidak mendukung dan tidak sejalan, tapi

saya tetep gitu..istilahnya keukeuh sama apa

yang sedang saya

lakukan..pilihan keduanya ya saya tinggalin.. buat saya kalo memang saya mengambil pilihan yang pertama..saya mikirnya saya akan mendapatkan lingkungan yang jauh lebih bersih gitu..lingkungan yang jauh dari penyakit..dan buat saya itu menguntungkan..misalnya kaya lingkungan depan kamar saya..ketika say membersihkannya, mungkin saya akan ikut menikmati karena lingkungan itu juga setiap hari saya lewati..tapi pilihan kedua saya tinggalkan sama sekali..kalo emang egoisnya banget gitu ya..maen egois-egoisan..yaudah..saya selesaikan kewajiban dan tanggung jawab saya saja..gitu..selebihnya karena emang bukun urusan saya yaudah gitu..toh dia aja ga peduli kenapa saya harus peduli..gitu..ga terbawa juga sih..tapi ya itu tadi..tetap bersih akan lebih baik dibandingkan dengan kita tidak melakukannya gitu..ato kita membiarkannya sama sekali..ga diurusin.. M: Berarti pilihannya ada dua ya..antara kita tetep jalan dengan konsep hidup bersih yang kita punya atau kita tinggalin mereka-mereka yang tidak sadar akan pola hidup bersih tersebut..tidak ikut-ikutan yah.. P7 : Tergantung juga sih..memang haru bergantung pada sistem yang ada.. misalnya nih..kita ada dalam suatu kelompok..ya saya akan melebur dengan kelompok itu..apa yang ada dalam kelompok ya saya ikutin..gitu..jadi kalo saya berangkat sendir, ga mungkin juga yang ada tar malah kerja individu gtiu..jadi memang mau tidak mau senada dengan apa yang menjadi norma di kelompok kita tadi.. M: Berarti disini saya bisa menyimpulkan kalo temen-temen sudah bisa menilai apa saja dari lingkungan temen-temen yang menghambat atu mendukung PHBS itu sendiri..nah, sejauh yang temen-temen liat disini, apakah temen-temen bisa menyimpulkan perilaku yang ada di sekitar temen-temen mengenai PHBS sendiri perlu ditingkatkan atau tidak? Bisa diceritakan mungkin? Kesadaran mereka akan PHBS itu sendiri.. P4 : Perlu..(bisa diceritakan mungkin perlunya dimana kak?)..misalnya aja masalah sampah tadi..kita kan ga tau ya kalo misalnya ujan gitu..sampah-

sampah itu bakalan tertimbun banyak dan sadar ngga sih bakal nimbulin bau-bauan yang ga sedap banget..kalo misalnya terus-terusan kaya gitu mau gimana coba..kan ga mungkin kaya gitu terus kan ya..lima tahun ke depan mau jadi apa coba..ya emang mungkin harus ditingkatkan lagi..kalo kita stagnan disini-sini aja..mau jadi apa coba..ya kan M: P1 : Oke itu kalo dari segi sampah yaa.. Kalo saya yang emang bener kata Julia tadi..ga mungkin kita cumin diem ngeliat lingkungan kita dirusak sama hal-hal sepele kaya gitu..dari kita nya juga perlu banget ngajak lingkungan kita biar sadar..biar yang namanya PHBS itu ga jadi isu doank gitu.. M: Oke..berarti memang perlu juga mengajak orang lain ya

kak..emm..oke..kalo boleh asya menyimpulkan diskusi kita hari ini, bahwa PHBS itu memang dimulai dari level individu yang kemudian akan menuju ke lingkungan..disamping itu juga terdapat hubungan timbale balik dari individu ke lingkungan dan begitu juga sebaliknya..PHBS sedniri memang bisa tercermin dari banyak perilaku mulai dari mandi rutin, gosok gigi, olahraga, menjaga pola makan dan sebagainya ya..untuk lingkungan kampus sendiri memang sebagian sudah tersedia fasilitas yang mendukung akantetapi hal tersebut dikembalikan lagi ke individunya apakah mau memanfaatkan dengan baik sarana dan prasarana tersebut..dari pihak orang-orang yang ada di sekitar kita..sebagian besar sudah mendukung perilaku hidup bersih dan sehat yang kita lakukan dan kesadaran untuk itu hendaknya tidak hanya berhenti sampai disin tetapi akan lebih baik lagi jika ditingkatkan..ada yang mungkin terlewat belum saya simpulkan?(all:ga..)..oke..baiklah teman-teman..hari ini cukup sekian..saya dan teman-teman lainnya mengucapkan banyak terima kasih atas kesediaan teman-teman untuk meluangkan waktunya disini..hasil data yang terkumpul akan kami rahasiakan dan hanya akan dibahas dengan dosen pembimbing..terima kasih sekali lagi..mohon maaf jika terdapat kekurangan..selamat sore dan wassalamualaikum wr..wb..

Lembar Pembagian Kerja Anggota Kelompok Fasilitator


1. 2. 3.

Rr. Permata H (190110080094) Shara Fadhilla H (190110080103) Aisyah Maharani (190110080104)

: Fasilitator : Notulensi : Observer