Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Layanan bimbingan ditujukan untuk seluruh individu dengan

menggunakan berbagai strategi meliputi ragam dimensi (masalah, setting, metode dan lama waktu layanan). Bimbingan dan konseling bertujuan untuk

mengembangkan seluruh potensi individu secara optimal, mencegah terhadap masalah dan memecahkan masalah individu. Layanan bimbingan disesuaikan dengan tujuan dan sasaran serta perkembangan individu.
Dalam proses bimbingan dan konseling, konselor dan konseli membawa serta karakteristik-karakteristik psikologisnya, seperti kecerdasan, bakat, minat, sikap, motivasi, kehendak, dan tendensi kepribadian. Sejauh ini, teori-teori konseling banyak perhatian diberikan terhadap aspek-aspek psikologis, dan masih kurang perhatian terhadap latar belakang budaya yang ikut membentuk prilaku individu. Misalnya, etnik, afialiasi kelompok, keyakinan, nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan, bahasa baik verbal maupun nonverbal, dan termasuk bias-bias yang dibawa dari budayanya.

Kultur budaya yang dimiliki oleh suatu daerah berbeda datu dengan yang lainnya dan memiliki ciri khas tersendiri seperti salah satu budaya dari daerah kampung kuta Ciamis. Kampung adat satu-satunya di Kabupaten Ciamis ini memiliki kepercayaan, kebiasaan, dan ritual yang unik dan berbeda dari kampung adat yang lainnya. melihat dari ke unikan dan kekhasan budaya di kampung kuta ini dapat diimplikasikan kepada bentuk layanan bimbingan dan konseling berbasis budaya lokal yang sesuai dengan kondisi kampung kuta. Dari segi konselor,
ketepatan inferensi yang kemudian mendasari tindakannya dalam konseling tergantung pada kemampuan pemahaman secara utuh terhadap konseli di kampung kuta. Dari segi konseli yang merupakan masyarakat kampung adat, ketepatan inferensi merujuk pada pola-pola perilaku yang dimiliki sebelumnya. Masalah akan timbul manakala ada inkongruensi antara persepsi dan nilai-nilai yang menjadi referensi kedua belah pihak.

B. Tujuan Penulisan Makalah Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai bimbingan dan konseling berbasis budaya lokal. Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah: 1. Mengetahui budaya dan adat istiadat di kampung adat Kuta. 2. Mempelajari mengenai konseling berbasis budaya lokal 3. Mendeskripsikan gambaran mengenai pelaksanaan bimbingan dan konseling berbasis budaya dan adat istiadat di kampung adat Kuta.

BENER GAK SIH OR ADA TAMBAHAN?????^_^


C. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah ini dipaparkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah budaya di kampung adat Kuta? 2. Apa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling berbasis budaya lokal? 3. Bagaimana gambaran bimbingan dan konseling yang dapat dilaksanakan berbasis budaya kampung adat Kuta?

BENER GAK SIH OR ADA TAMBAHAN?????^_^


D. Sistematika Penulisan Makalah ini terdiri dari tiga Bab yaitu: Bab I merupakan Pendahuluan yang menjelaskan mengenai latar belakang masalah, tujuan penulisan makalah dan rumusan masalah. Bab II merupakan Pembahasan yang menjelaskan mengenai budaya kampung adat Kuta, tradisi-tradisi yang ada di kampung adat Kuta, Penjelasan mengenai bimbingan dan konseling berbasis budaya lokal, dan gambaran mengenai bimbingan dan konseling di kampung adat Kuta. Bab III merupakan Penutup yang berisi kesimpulan dari keseluruhan isi makalah.

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kampung Kuta Nama Kampung Kuta berasal dari kata kuta-kuta (bahasa Sunda) yang berarti tebing. Nama ini langsung menunjuk kepada wilayah Kampung Kuta yang letaknya dikelilingi tebing curam setinggi 75 m.Kampung yang terletak di Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, berbatasan dengan Jawa Tengah. Kampung memiliki luas area total 97 ha, terdiri dari 57 ha lahan pemukiman, pesawahan, dan tegalan serta 40 ha hutan keramat (karamat). Kampung Kuta berada di timur Ciamis dan berjarak 45 Km dari pusat kota kabupaten. Ada beberapa versi mengenai sejarah Kampung Kuta ini. Menurut cerita rakyat setempat, asal-usul Kampung Kuta berkaitan dengan berdirinya Kerajaan Galuh. Konon, pada zaman dahulu ketika Prabu Galuh yang bernama Ajar Sukaresi (dalam sumber lain, tokoh ini adalah seorang pandita sakti) hendak mendirikan Kerajaan Galuh, Kampung Kuta dipilih untuk pusat kerajaan karena letaknya strategis. Prabu Galuh memerintahkan kepada semua rakyatnya untuk

mengumpulkan semua keperluan pembangunan keraton seperti kapur bahan bangunan, semen merah dari tanah yang dibakar, pandai besi, dan tukang penyepuh perabot atau benda pusaka. Keraton pun akhirnya selesai dibuat. Namun, pada suatu ketika, Prabu Galuh menemukan lembah yang (Kuta) oleh tebing yang dalamnya sekitar 75 m di lokasi pembangunan pusat kerajaan itu. Atas musyawarah dengan para punggawa kerajaan lainnya, diputuskanlah bahwa daerah tersebut tidak cocok untuk dijadikan pusat kerajaan (menurut orang tua, tidak memenuhi Patang Ewu Domas). Selanjutnya, mereka berkelana mencari tempat lain yang memenuhi syarat. Prabu Galuh membawa sekepal tanah dari bekas keratonnya di Kuta sebagai kenang-kenangan. Setelah melakukan perjalanan beberapa hari, Prabu Galuh dan rombongannya sampai di suatu tempat yang tinggi, lalu melihat-lihat ke sekeliling tempat itu untuk meneliti apakah ada tempat yang cocok untuk membangun kerajaannya. Tempat ia melihat-lihat itu sekarang bernama Tenjolaya.

Prabu Galuh melihat ke arah barat, lalu terlihatlah ada daerah luas terhampar berupa hutan rimba yang menghijau. Ia kemudian melemparkan sekepal tanah yang dibawanya dari Kuta ke arah barat dan jatuh di suatu tempat yang sekarang bernama Kepel. Tanah yang dilemparkan tadi sekarang menjadi sebidang sawah yang datar dan tanahnya berwarna hitam seperti dengan tanah di Kuta, sedangkan tanah di sekitarnya berwarna merah. Prabu Galuh melanjutkan perjalanannya sampai di suatu pedataran yang subur di tepi Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy, lalu mendirikan kerajaan di sana atau tukang cerita, terdapat dua kemungkinan mengenai asal-usulnya. Pertama, tradisi lisan itu berdasarkan cerita naskah yang dibaca kemudian dituturkan kembali. Kedua, tradisi lisan itu memang belum pernah dituliskan dalam bentuk naskah, lalu dituturkan secara turun-temurun. Adanya perbedaan versi suatu cerita yang dituturkan dalam naskah dan tradisi lisan disebabkan oleh beberapa kemungkinan, yaitu perbedaan sumber cerita, distorsi cerita karena pewarisan cerita yang turun-temurun memungkinkan terjadinya penambahan ataupun pengurangan isi cerita, dan adanya keinginan dari penutur cerita untuk mengedepankan peranan seorang tokoh ataupun berapologia atas kesalahan tokoh tersebut. mengenai kebenaran isi cerita atau mitos tersebut bukanlah suatu permasalahan. Setidaknya, mitos-mitos tersebut dihormati dan dipelihara oleh masyarakatnya. B. Tradisi Adat Kampung Kuta Bagi warga kampung adat kuta adalah warisan leluhur yang begitu penting sehingga kemurniannya harus senantiasa dijaga. Bahkan menurut Ketua Adat, jika ada warga yang berniat untuk tinggal dan menetap di luar Kuta, yang bersangkutan juga akan tetap mempertahankannya. Mata pencaharian penduduk Kampung Kuta ialah bertani. Adapun kegiatan ekonomi yang menjadi andalan mereka cukup bervariasi antara lain sebagai perajin gula aren, perajin anyaman bambu, bertani, beternak dan jenis pekerjaan lain yang sesuai dengan keadaan lingkungannya. Pembuatan gula aren menjadi mata pencaharian sebagian besar penduduk sehingga produksi gula aren

dapat dianggap sebagai produk unggulan di Kampung Kuta. Pendidikan formal warga Kampung Kuta tidak begitu baik. Minat penduduk Kampung Kuta untuk menyekolahkan anak-anaknya relatif kurang, terutama minat untuk melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Rata-rata penduduk hanya menamatkan jenjang Sekolah Dasar (SD). Alasan utama keengganan menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang sekolah lanjutan disebabkan oleh kondisi ekonomi para orang tua, alasan lainnya jarak sekolah lanjutan yang jauh. Bersekolah ke SMP terdekat terletak di Kecamatan Tambaksari yang membutuhkan waktu sekitar dua jam dengan berjalan kaki. Tingkat SMA harus ditempuh dengan jarak yang lebih jauh lagi karena harus ke Kecamatan Rancah, Kota Ciamis atau ke Kota Banjar. Kampung ini dikatagorikan sebagai kampung adat, karena mempunyai kesamaan dalam bentuk dan bahan fisik bangunan rumah, adanya ketua adat, dan adanya adat istiadat yang mengikat masyarakatnya. Salah satu warisan ajaran leluhur yang mesti dipatuhi masyarakat Kuta adalah pembangunan rumah. Bila dilanggar, warga Kuta berkeyakinan, musibah atau marabahaya bakal melanda kampung mereka. Aturan adat menyebutkan rumah harus berbentuk panggung dengan ukuran persegi panjang. Atap rumah pun harus dari bahan rumbia atau ijuk. Rumah tersebut berbentuk panggung dengan tinggi 50-60 sentimeter di atas permukaan tanah. Bentuk rumah persegi panjang, rata-rata berukuran 6X10 meter. Warga kampung Kuta mempertahankan ini karena mematuhi leluhur yang melarang membangun rumah tembok beratap genteng.

Gambar 1. Rumah Adat di Kampung Kuta

Kampung Kuta merupakan masyarakat adat yang masih teguh memegang dan menjalankan tradisi dengan pengawasan kuncen dan ketua adat. Kepercayaan terhadap larangan dan adanya mahluk halus atau kekuatan gaib masih tampak pada pandangan mereka terhadap tempat keramat berupa hutan keramat. Hutan keramat tersebut sering didatangi oleh orang-orang yang ingin mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup. Hanya saja, di hutan keramat tersebut tidak boleh meminta sesuatu yang menunjukkan ketamakan seperti kekayaan. Untuk memasuki wilayah hutan keramat tersebut diberlakukan sejumlah larangan, yakni larangan memanfaatkan dan merusak sumber hutan, memakai baju dinas, memakai perhiasan emas, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, meludah, dan berbuat gaduh. Bahkan untuk memasuki Hutan Keramat ini pun tidak boleh memakai alas kaki, Tujuannya agar hutan tersebut tidak tercemar dan tetap lestari. Oleh karena itu, kayu-kayu besar masih terlihat kokoh di Leuweung Gede. Selain itu, sumber air masih terjaga dengan baik. Di pinggir hutan banyak mata air yang bersih dan sering digunakan untuk mencuci muka. Masyarakat Kampung Kuta mengenal hutan karamat. Dipandang dari sudut etimologis, Kampung Kuta berarti kampung atau dusun yang dikelilingi kuta atau penghalang berupa tebing. Menurut cerita yang beredar pada masyarakat setempat, dahulu kala tebing itu berfungsi sebagai penghalang serangan musuh dari luar, ketika Kampung Kuta akan dijadikan sebuah kerajaan oleh Prabu Ajar Sukaresi. Kisah tentang sepak terjang sang Prabu yang menjadi penguasa di Kampung Kuta sangat berpengaruh kepada warganya di kemudian hari. Sikap sang Prabu yang peduli pada lingkungan itu diteruskan kemudian oleh Ki Bumi yaitu seorang utusan Kerajaan Cirebon yang ditugaskan untuk membantu masyarakat Kampung Kuta menjaga wilayah peninggalan Prabu Ajar Sukaresi. Konon, semula Prabu Ajar Sukaresi bermaksud membangun istana di wilayah tersebut, akan tetapi batal karena lokasi yang ditetapkan berada di tengah-tengah perbukitan. Sementara itu bahan-bahan material yang berupa kayu, semen, batu dan bata bahkan besi sudah terkumpul hingga akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil. Kini lokasi tersebut berubah menjadi hutan yang dipercaya warga setempat sangat keramat.

Kawasan hutan keramat boleh dikunjungi oleh orang-orang yang bermaksud mencapai keselamatan, ketenangan hati, kehamonisan rumah tangga, selain meminta harta kekayaan atau maksud-maksud lain dengan meminta bantuan kuncen sebagai pemangku adat yang dipercaya mampu berhubungan dengan leluhur yang tinggal di hutan keramat. Kuncen dianggap sebagai penjaga hutan keramat, dan dapat menjadi penghubung antara penunggu hutan keramat dengan orang-orang yang mempunyai maksud. Di wilayah hutan itu ditabukan untuk menyelenggarakan kegiatan duniawi dan dilarang untuk memanfaatkan segala sumber daya dari hutan. Segala sesuatu dibiarkan secara alami, masyarakat dilarang menebang pohon bahkan memungut ranting pun tidak diperkenankan. Jika melanggar tabu atau larangan itu, maka orang tersebut akan mendapatkan sanksi berupa malapetaka. Larangan-larangan lain yang berlaku di luar wilayah hutan keramat tapi masih termasuk wilayah Kampung Kuta pun wajib dipatuhi, seperti larangan membangun rumah dengan atap genting, larangan mengubur jenazah di Kampung Kuta, larangan memperlihatkan hal-hal yang bersifat memamerkan kekayaan yang bisa menimbulkan persaingan, larangan mementaskan kesenian yang mengandung lakon dan cerita, misalnya wayang. Larangan-larangan tersebut apabila dilanggar diyakini oleh masyarakat akan menyebabkan celaka bagi mereka yang melanggarnya. Norma adat dan agama memiliki intensitas dan kekuatan yang seimbang sebagai pedoman dalam melangsungkan kehidupan secara keseluruhan. Keunikan lainnya, warga Kampung Kuta sangat dilarang membuat sumur. Air untuk keperluan sehari-hari harus diambil dari mata air. Larangan para leluhur mungkin ada benarnya. Ini lantaran kondisi tanah yang labil di kampung ini dikhawatirkan dapat merusak kontur tanah. Terutama membuat sumur dengan cara menggali atau mengebor tanah. Kedekatan masyarakat kampung adat dengan alam tidak hanya itu saja setiap tahunnya masyarakat kampung Kuta mengadakan Upacara Adat nyuguh. Upacara Adat Nyuguh ini merupakan suatu upacara ritual tradisional Adat Kampung Kuta Kec. Tambaksari Kabupaten Ciamis yang selalu dilaksanakan pada tanggal 25 shapar pada setiap tahunnya. Upacara ini bertujuan sebagai

persembahan bentuk syukur kepada Tuhan dan bumi yang telah memberikan pangan bagi masyarakat kampung Kuta.

Gambar 2. Upacara Adat Nyuguh

Kampung adat ini dihuni masyarakat yang hidup dilandasi kearifan lokal. Dengan memegang teguh budaya, dan pelestarian lingkungan dengan berpegang teguh kepada semboyan Leuweung ruksak, Cai Beak, Anak Incu Balangsak.

Gambar 3. Papan Pengumuman yang mengingatkan Pentingnya Menjaga Hutan Menganai permainan tradisional anak-anak di daerah tatar sunda termasuk ciamis selalu berkaitan dengan alam sekitar. Ini disebabkan keakraban manusia hidup bersama alam dalam kesehariannya. Hukum alam dipahami sebagai hukum Tuhan yang sangat dipatuhi, sehingga ketika manusia akan bersentuhan dengan alam, mereka akan sadar diri akan Tuhannya. Hubungan harmonis ini selalu dilestarikan melalui sikap hidup sehari-hari, termasuk dalam menyiapkan generasi

penerus. Kesadaran itu diterapkan dalam tata asuh anak yang mampu menjaga dan menghormati alamnya. Beberapa contoh permainan tradisional yang terdapat di daerah ciamis adalah oray-orayan, gatrik, utik, kasti, gobag, sondah, galah, jajangkungan, turih oncom, dan gebokan. Seni yang terdapat di Kampung Kuta ini adalah seni terebang, seni ronggeng gunung, seni dogdog, seni ngibing, serta terdapat kerajinan-kerajinan tangan seperti anyaman bilik, anyaman tas kamuti dari daun gebang, ulekan, sinduk, temapat nasi (boboko), nampan (baki), topi petani dll. 1. Seni terebang Kesenian Terebang tumbuh dilingkungan Masyarakat dan lingkungan masyarakat dan diakui sebagai kesenian Rakyat kesenian rakyat , kesenian terebang disebut juga dengan Terebang Gede, Terebang gebes, terebang ageung di Desa Karangpaninggal Kecamatan Tambaksari masih

mengadakan upacara untuk menghindari malapetaka dengan mengadakan kesenian terebang yang khas dan unik yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan bergesernya kesenian terebang menjadi hiburan yang lebih luas maka kesenian tersebut mengalami perubahan alat musik dan lagu-lagu nya, penambahan alat musik seperti kendang , terompet, goong bahkan alat musik modern seperti organ dan gitar lagu yang asalnya bernafaskan Islam bergeser menjadi lagu rakyat seperti lagu botol kecap, tepang sono, buah kawung, ayun ambing, kukupu hiber dll juga menjadi lagu pop Sunda seperti lagu botol kecap. 2. Ronggeng gunung Untuk kesenian ronggeng gunung ini untuk di desa Karapaninggal ini khususnya di kampung kuta sudah tidak ada, pada awalnya ada. Namun seiring waktu kesenian ronggeng gunung pun punah.

Kesenian ronggeng gunung berkembang di Banjarsari Ciamis, Ronggeng Gunung, sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yakni sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya, dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utama, seorang perempuan, dilengkapi sebuah

selendang. Fungsi selendang, kadang untuk kelengkapan dalam menari. Tapi juga bisa untuk "menggaet" lawan biasanya laki-laki untuk menari bersama dengan cara mengalungkannya. Untuk pola gerak Ronggeng Gunung, dipandang menjadi akar ronggeng pakidulan, nayaga yang mengiringinya (penabuh gamelan) cukup tiga orang. Hanya dengan bonang, gong, dan kendang, dan sejumlah lelaki yang mengelilingi penari, Ronggeng Gunung sudah bisa digelar. Biasanya, lelaki yang mengelilingi penari itu punya ciri khas, bagian kepala ditutup menggunakan sarung. Sehingga yang terlihat hanya bagian mukasaja. Lagu yang dilantunkan penari ronggeng pun sangat unik dan khas. Para pengamat seni menilai alunan suaranya sangat spesifik. Dan tidak ditemukan dalam kawih atau tembang Sunda lain. Bagi masyarakat Ciamis selatan, kesenian ronggeng gunung pada masa jayanya bukan hanya merupakan hiburan. Kesenian tersebut sekaligus menjadi pengantar upacara adat.

Gambar 4. Ronggeng Gunung 3. Seni dogdog Dogdog merupakan alat musik yang terbuat dari kayu bulat, tengahnya diberi rongga, namun pada kedua ujung ruasnya mempunyai bulatan diameter yang berbeda kurang lebih 12 -15cm, dengan panjang 90cm. pada ujung bulatan yang paling besar ditutup dengan kulit kambing yang telah dikeringkan dan diikat dengan bambu melingkar yang dipasangkan untuk menyetel suara atau bunyi. Suara yang dihasilkan berbunyi dog dog dog (dalam telinga orang sunda). Oleh karena iru alat ini diberi nama dog dog.

Seni dog dog di kampong kuta pernah mendapat penghargaan pada tahun 2002, memenagkan perlombaan seni, yang bertepatan diberikannya kalpataru kepada kampong kuta sebagai penghargaan atas kampung yang menjaga lingkungan nya dengan baik.

Gambar 5. Seni Dog Dog

4. Ngibing Seni ngibing merupakan seni tari yang biasa dilakukan oleh masyarakat sunda dan juga yang dilakukan oleh masyarakat kampong kuta. Biasanya dilakukan atau ditampilkan pada saat upacara adat, hajatan, pernikahan, acara perayaan atau pun memperingati sesuatu karena ungkapan rasa bahagia. 5. Tas kamuti Merupakan salah satu kerajinan tangan dari masyarakat kampung kuta. Biasanya dijadikan cendra mata yang merupakan cirri khas kampong kuta dan juga dijual di luar kampong kuta, biasanya mendapat pesanan dari luar kota bisa mencapai 100-200. Tas kamuti terbuat dari daun gebang yang diambil dari hutan di banjar. Tas ini memiliki keunikan karena dibuat dalam satu dahan dan hanya menjadi 1 tas saja setiap dahannya. Serta dalam pembuatannya dahan tidak terputus dengan daun dan menyambung terus hingga membentuk sebuah tas.

Gambar 6. Tas Kamuti dari Kampung Kuta

6. Bilik anyaman Bilik anyaman merupakan salah satu kerajinan tangan masyarakat kampung kuta. Pada awalnya pembuatan bilik anyaman ini digunakan ,untuk membangun rumah mereka, namun seiring waktu potensi masyarakat kampong kuta mulai terlihat sehingga kerajinan bilik anyaman menjadi salah satu mata pencaharian untuk dijual. Tidak ada arti khusus dari lajur anyamannya. Bilik anyaman ini digunakan untuk membangun rumah masyarakat kampung kuta, namun tidak menutup kemungkinan juga masyarakat membeli bilik anyaman dari pengrajin yang lain.

Gambar 7. Menganyam Bilik Anyaman

C. Bimbingan dan Konseling Berbasis Budaya Lokal Prayitno dan Erman Amti (2004:99) mengemukakan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sedangkan konseling menurut Prayitno dan Erman Amti (2004:105) adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli. Sejalan dengan itu, Winkel (2005:34) mendefinisikan konseling sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/konseli secara tatap muka dengan tujuan agar konseli dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus. Dalam pengertian konseling terdapat empat elemen pokok yaitu (adanya hubungan, (2) adanya dua individu atau lebih, (3) adanya proses, (4) membantu individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan. Sedangkan dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu (1) merupakan produk budidaya manusia, (2) menentukan ciri seseorang, (3) manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya. Dalam praktik sehari-hari, konselor pasti akan berhadapan dengan konseli yang berbeda latar belakang sosial budayanya. Dengan demikian, tidak akan mungkin disamakan dalam penanganannya (Prayitno,1994). Perbedaan perbedaan ini memungkinkan terjadinya pertentangan, saling mencurigai, atau perasaan perasaan negatif lainnya. Pertentangan, saling mencurigai atau perasaan yang negatif terhadap mereka yang berlainan budaya sifatnya adalah alamiah atau manusiawi. Sebab, individu akan selalu berusaha untuk bisa mempertahankan atau melestarikan nilai nilai yang selama ini dipegangnya. Jika hal ini muncul dalam pelaksanaan konseling, maka memungkinkan untuk timbul hambatan dalam konseling.

Memahami budaya spesifik mengandung pengertian bahwa konselor sebaiknya mengerti dan memahami budaya yang dibawa oleh konseli sebagai hasil dari sosialisasi dan adaptasi konseli dari lingkungannya. Hal ini sangat penting karena setiap konseli akan membawa budayanya sendiri-sendiri. Konseli yang berasal dari budaya barat, tentu akan berbeda dengan konseli yang berbudaya timur. Konseli yang berbudaya timur jauh akan berbeda dengan konseli yang berasal dari asia tenggara dan lain lain. Pemahaman mengenai budaya spesifik yang dimiliki oleh konseli tidak akan terjadi dengan mudah. Untuk hal ini, konselor perlu mempelajarinya dari berbagai Sumber yang menunjang seperti literatur atau pengamatan langsung terhadap budaya konseli. Konselor dituntut untuk dapat bertindak secara proaktif didalam usahanya memahami budaya konseli. Dengan demikian, sebagai individu yang bersosialisasi, selayaknyalah konselor sering turun untuk mengetahui budaya di sekitar konseli. Kemampuan konselor untuk dapat memahami kebudayaan di sekitarnya, secara tidak langsung akan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuannya yang pada akhirnya akan mempermudah konselor di dalam memahami konseli (Hunt, 1975; Herr, 1989 Lonner & ibrahim,1991). Memahami keunikan konseli mengandung pengertian bahwa konseli sebagai individu yang selalu berkembang akan membawa nilai nilai sendiri sesuai dengan tugas perkembangan-nya. Konseli selain membawa budaya yang berasal dari lingkungannya, pada akhirnya konseli juga membawa seperangkat nilai nilai yang sesuai dengan tugas perkembangan. Sebagai individu yang unik, maka konseli akan menentukan sendiri nilai nilai yang akan dipergunakannya. Bahkan bisa terjadi nilai nilai yang diyakini oleh konseli ini. bertolak belakang dengan nilai nilai atau budaya yang selama ini dikembangkan di lingkungannya. Hal ini perlu juga dipahami oleh konselor. Karena apapun yang dibicarakan dalam konseling, tidak bisa dilepaskan dari individu itu sendiri. Memahami manusia secara universal mengandung pengertian bahwa nilai nilai yang berlaku di masyarakat ada yang berlaku secara universal atau berlaku di mana saja kita berada. Nilai nilai ini diterima oleh semua masyarakat di dunia ini. Salah satu nilai yang sangat umum adalah penghargaan terhadap hidup.

Manusia sangat menghargai hidup dan merdeka. Nilai nilai ini mutlak dimiliki oleh semua orang. Konselor perlu menyadari akan nilai-nilai yang berlaku secara umum. Kesadaran akan nilai-nilai yang berlaku bagi dirinya dan masyarakat pada umumnya akan membuat konselor mempunyai pandangan yang sama tentang sesuatu hal. Persamaan pandangan atau persepsi ini merupakan langkah awal bagi konselor untuk melaksanakan konseling. Berhubungan dengan konseling lintas budaya, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, menurut Pedersen (1980) dinyatakan bahwa konseling lintas budaya memiliki tiga elemen yaitu: 1. Konselor dan konseli berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan melakukan konseling dalam latar belakang budaya (tempat) konseli; 2. Konselor dankonseli berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan melakukan konseling dalamlatar belakang budaya (tempat) konselor; 3. Konselor dan konseli berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, melakukan konseling di tempat yang berbeda pula. Lebih lanjut, menurut Pedersesn, Lonner dan Draguns (dalam Carter, 1991) dinyatakan bahwa beberapa aspek dalam konseling lintas budaya adalah (1) latar belakang budaya yang dimiliki oleh konselor, (2) latar belakang budaya yang diimiliki oleh konseli, (3) asumsi-asumsi terhadap masalah yang akan dihadapi selama konseling, dan (4) nilai-nilai yang mempengaruhi hubungan konseling, yaitu adanya kesempatan dan hambatan yang berlatar belakang tempat di mana konseling itu dilaksanakan. Dalam pelaksanaan konseling lintas budaya konselor tidak saja dituntut untuk mempunyai kompetensi atau kemampuan seperti yang telah disajikan di atas. Tetapi dalam hal ini perlu pula disajikan karakteristik atau ciri ciri khusus dari konselor yang melaksanakan layanan konseling lintas budaya. Sue (Dalam George & Cristiani: 1990) menyatakan beberapa karakteristik konselor sebagai berikut: 1. Konselor lintas budaya sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya dan sumsi asumsi terbaru tentang perilaku manusia. Dalam hal ini, konselor yang melakukan praktik konseling lintas budaya, seharusnya sadar bahwa

dia memiliki nilai nilai sendiri yang harus dijunjung tinggi. Konselor harus sadar bahwa nilai nilai dan norma norma yang dimilikinya itu akan terus dipertahankan sampai kapanpun juga. Di sisi lain, konselor harus menyadari bahwa konseli yang akan dihadapinya adalah mereka yang mempunyai nilai nilai dan norma yang berbeda dengan dirinya. Untuk hal itu, maka konselor harus bisa menerima nilai nilai yang berbeda itu dan sekaligus mempelajarinya. 2. Konselor lintas budaya sadar terhadap karakteristik konseling secara umum. Konselor dalam melaksanakan konseling sebaiknya sadar terhadap pengertian dan kaidah dalam melaksanakan konseling. Hal ini sangat perlu karena pengertian terhadap kaidah kanseling yang terbaru akan membantu konselor dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh konseli. Terutama mengenai kekuatan baru dalam dunia konseling yaitu konseling !intas budaya. 3. Konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan, dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungannya. Konselor dalam melaksanakan tugasnya harus tanggap terhadap perbedaan yang berpotensi untuk menghambat proses konseling. Terutama yang berkaitan dengan nilai nilai atau norma norma yang dimiliki oleh suku suku tertentu. Terlebih lagi, jika konse!or melakukan praktek konseling di indonesia. Dia harus sadar bahwa Indonesia mempunyai kurang lebih 357 etnis, yang tentu saja membawa nilai nilai dan norma yang berbeda.

Untuk mencegah timbulnya hambatan tersebut, maka konselor harus mau belajar dan memperhatikan lingkungan di mana dia melakukan praktik. Dengan mengadakan perhatian atau observasi nilai-nilai lingkungan di sekitarnya, diharapkan konselor dapat mencegah terjadinya kemandegan atau pertentangan selama proses konseling. 4. Konselor lintas budaya tidak boleh mendorong seseorang (konseli) untuk dapat memahami budayanya (nilai-nilai yang dimiliki konselor)

Untuk hal ini, ada aturan main yang harus ditaati oleh setiap konselor. Konselor mempunyai kode etik konseling, yang secara tegas menyatakan

bahwa konselor tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada konseli. Hal ini mengimplikasikan bahwa sekecil apapun kamauan konselor tidak bolah dipaksakan kepada konseli. Konseli tidak boleh diintervensi oleh konselor tanpa persetujuan konseli. 5. Konselor lintas budaya dalam melaksanakan konseling harus

mempergunakan pendekaten eklektik. Pendekatan eklektik adalah suatu pendekatan dalam konseling yang mencoba untuk menggabungkan beberapa pendekatan dalam konseling untuk membantu memecahkan masalah konseli. Penggabungan ini dilakukan untuk membantu konseli yang mempunyai perbedaan gaya hidup. Selain itu, konseling eklektik dapat berupa penggabungan pendekatan konseling yang ada dengan pendekatan yang digali dari masyarakat pribumi (indegenous).

ADA TAMBAHAN KAH???^_^


D. Bimbingan dan Konseling Berbasis Budaya Kampung Kuta ?????? Bimbingan Berdasarkan Permainan Tradisional Salah satu budaya yang terdapat di kampng kuta adalah permainan tradisional yang sering dimainkan atau dilakukan oleh anak-anak. Permainan tradisional merupakan permainan yang berasal dari daerah. Walaupun bersifat tradisional dan terkesan ketinggalan jaman, tapi permainan tradisional mempunyai banyak manfaat dan kelebihan. Permainan tradisional membangun sikap sosial dimana anak mampu menjalin kerjasama, membangun sportivitas, saling percaya dan tolong-menolong. Selain itu juga mengembangkan sikap pribadi, seperti percaya diri dan menguatkan mental anak menghadapi tekanan sosial, termasuk mengelola emosi yang dapat diterima kelompok. Permainan tradisional juga mengembangkan moralitas, dimana

anak belajar menilai mana yang baik dan tidak baik. Misalnya, ada anak yang bermain curang pasti teman-temannya akan memberi hukuman moral dengan tidak mengikutkan anak yang curang dalam permainan. Sedangkan permainan tradisional yang musti dilakukan dalam tim, bisa membangun kemampuan anak untuk menganalisis suatu keadaan dan mengambil keputusan (kemampuan

berstrategi) . Anak belajar melihat bahwa setiap orang memiliki potensi sehingga setiap anak memiliki tugas sesuai dengan perannya. Misalnya anak yang mampu berlari cepat bertugas sebagai penyerang, sedangkan anak yang kuat dan besar menjadi penjaga pertahanan. Belajar bahwa kerjasama merupakan hal yang penting untuk mencapai suatu hasil dalam kelompok dan mengatur strategi agar tidak kalah dari lawan. Kurniati (2006) mengidentifikasi 30 permainan tradisional yang saat ini masih diketemukan di lapangan. Beberapa contoh permainan tradisional yang dilakukan oleh anak-anak adalah Anjang-anjangan, Sonlah, Congkak, Orayorayan, Tetemute, dan Sepdur. Di kampung kuta khususnya dan daerah Ciamis permainan tradisional yang masih ada adalah oray-orayan, gatrik, utik, kasti, gobag, sondah, galah, jajangkungan, turih oncom, dan gebokan. Permainan tradisional yang dikemukakan diatas dapat juga

diimplementasikan kepada pelaksanaan bimbingan baik bimbingan secara individu ataupun secara kelompok dengan berlandaskan budaya lokal/budaya masyarakat sekitar. Berdasarkan hasil penelitian Euis Kurniati dengan menggunakan permainan tradisional sebagai media dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar maka pelayanan bimbingan lebih efektif dan menyenangkan. 99.96% anak-anak mengatakan bahwa permainan (sepdur, congkak, oray-orayan, tetemute, anjang-anjangan, sonlah)

menarikkarena membuat senang, rame, bagus kreatif, sangat bagus, menarik, lucu, seru, banyakteman yang bermain, permainan asik, mengasikkan, ramai, sangat menyenangkan,banyak teman, belum pernah mencoba, banyak orang, aku suka permainan itu, lagunya bagus. Sementara 0.038% anak mengatakan bahwa permainan (sepdur, congkak, orayorayan, tetemute, anjang-anjangan, sonlah) tidak menyenangkan karena aneh, membuat bertengkar, dan tidak kebagian main. Sebagai contoh pelaksanaan bimbingan dan konseling yang menggunakan media permainan tradisional dijelaskan dalam satuan layanan bimbingan dan konseling terlampir.

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

????????

DAFTAR PUSTAKA Dina Tropika. (2010). Tradisi Khas Kampung Kuta Ciamis. [online]. Tersedia: http://dinatropika.wordpress.com/ Djumhar dan Moh. Surya. (1975). Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah (Guidance & Counseling). Bandung : CV Ilmu. Euis Kurniati dkk.(2010). Implementasi model bimbingan berbasis permainan di sekolah dasar.Tesis SPS Prodi BK UPI.Tidak Diterbitkan. Ifdil.(2011). konseling lintas budaya. [online]. Tersedia: www. Konseling indonesia.com Ifdil. (2008). Pengertian bimbingan dan konseling.[online]. Tersedia: http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view &id=3&Itemid=31

Lina Meilinawati. (2010). Gender, Kekuasaan, dan Resistensi pada Masyarakat Adat Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.Bandung: Laporan akhir penelitian Unpad. Setiaji Pamungkas.(2010). Tradisi kampung kuta.[online].Tersedia: http://setiajipamungkas.blogspot.com/2010/01/laporan-dan-observasi-kuliah lapangan.html _____.(2011). Sejuta manfaat permainan tradisional. [online]. Tersedia: http://myindismart.blogspot.com/2011/06/sejuta-manfaat-permainantradisional.html. _____.(2009). Tari Ronggeng Gunung (Ciamis, Jawa Barat).[online]. Tersedia : http://uun-halimah.blogspot.com/2008/03/ronggeng-gunung-ciamis-jawabarat.html

LAMPIRAN

SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL 1. Nama Permainan 2. Tujuan Permainan sebaya. 3. Durasi waktu 4. Peserta 5. Alat dan bahan 6. Deskripsi : Tergantung permainan. : Minimal 3 orang. : Meja dan karet gelang. :Utik adalah permainan tradisional yang : Utik. : Mendekatkan/mengakrabkan diri dengan teman

menggunakan karet sebagai alat dalam permainannya. Setiap orang mendapatkan giliran untuk bermain (permainan ini tidak dilakukan secara serentak). 7. Langkah-langkah : Langkah pertama, tentukan siapa pemain pertama,

kedua dan seterusnya untuk giliran bermain. Setiap pemain meletakkan karet gelang di depannya. Pemain pertama mendapat giliran, setiap pemain harus bisa menumpukkan karet gelang miliknya di atas karet gelang lawannya. Bila berhasil, karet gelang lawannya menjadi milik pemain pertama, tapi bila gagal, pemain kedua mendapat giliran menumpukkan karet gelangnya. Begitu seterusnya sampai akhirnya para pemain memutuskan untuk menyudahi permainannya. 8. Evaluasi dan refleksi : Permainan ini merefleksikan bahwa setiap orang

harus memiliki tujuan. Selain itu, harus ada strategi untuk mencapainya. Dalam mencapai tujuan itu pun tidak hanya sekedar ingin memperoleh hal yang dinginkan, tapi harus ada makna yang terkandung di balik keinginan itu.

SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL 1. Nama permainan 2. Tujuan permainan pikiran. 3. Durasi Waktu 4. Peserta 5. Alat dan bahan : Tergantung permainan. : Minimal 3 orang. : Lapang, tali untuk garis, dua potong kayu, satu : Gatrik. : Mengkolaborasikan kekuatan fisik dan kekuatan

berukuran kurang lebih 30 cm, satu lagi berukuran kurang lebih 10 cm. 6. Deskripsi :Gatrik adalah permainan tradisional yang

menggunakan kayu (yang panjang) sebagai alat pemukul untuk menggeser kayu lain (yang pendek) aga sampai ke tujuan yang telah disepakati. 7. Langkah-langkah :Tentukan siapa pemain pertama, kedua dan

seterusnya untuk giliran bermain. Saat pemain pertama mulai untuk bermain, ada seorang penjaga di garis finish untuk melihat apakah kayu pendek benarbenar sampai. Pemain pertama harus memukul kayu pendek dengan kayu panjang agar sampai ke finish. Tapi syaratnya, pemain harus memukul dengan keadaan membelakangi garis finish sambil membungkuk, itupun harus sampai dengan dua kali pukulan. Jika pemain pertama tidak mampu melakukannya, pemain kedua mendapat giliran bermain, begitu seterusnya. 8. Evaluasi dan Refleksi :Permainan ini memiliki makna, bila kita

dihadapkan pada suatu masalah, keadaan kita tidak selamanya mendukung dan tidak selamanya menyenangkan dan mudah untuk dihadapi. Akan tetapi, ada saat-saat di mana kita harus menyelesaikan masalah bagaimanapun keadaan kia, siap atau tidak, bila datang suatu masalah, kita harus segera menuntaskannya.

SATUAN KEGIATAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL 1 Nama Permainan 2 Tujuan Permainan 3 Durasi waktu 4 Peserta 5 Alat dan bahan patok/bendera, tali. 6 Deskripsi : Kasti adalah permainan tradisonal adaptasi dari : Kasti. : Mengolahragakan badan agar lebih sehat. : Tergantung permainan. : Minimal10 orang. :Lapangan, bola tenis, kayu pemukul bola,

softball. Tetapi aturan bermainnya tak begitu jauh berbeda dengan softball. Hanya saja perlatannya tidak selengkap dan semodern softball. Tapi walaupun dengan alat yang sederhana, permainan ini tidak kalah menarik dengan softball. 7 Langkah-langkah : Permainan ini dibagi menjadi dua regu, misalnya

regu A dan regu B. Regu A mendapat giliran main, dan regu B berjaga. Satu orang dari regu B bertugas sebagai pelempar bola, satu orang sbagai striker, dan tiga orang lainnya tersebar untuk menangkap bola. Saat pelempar bola melempar bola ke arah pemain, pemain dari regu A itu harus memukul bola sekencang-kencangnya dan sejauh-jauhnya. Kemudian pemain berlari menuju patok-patok yang dipasang, dan harus menghindari bola (jangan sampai tersentuh bola). Lalu pemain kedua dari regu A mendapat giliran memukul, setelah pemain kedua itu memukul bolanya, pemain pertama yang berada di samping patok berlari agar bisa sampai ke tempat semula. Tapi bila ada salah satu pemain regu A yang terkena bola, maka regu B mendapat giliran bermain. 8 Evaluasi dan Refleksi : Dalam permainan ini, kita dilatih untuk bergerak

cepat untuk memperoleh apa yang menjadi tujuan kita. Selain itu, kita harus memiliki perhitungan dalam melangkah. Lalu permainan ini juga

merefleksikan agar kita bisa tetap bertindak dalam keadaan yang serba cepat.

Anda mungkin juga menyukai