Anda di halaman 1dari 68

SKRIPSI PENGARUH PEMBERIAN AMELIORAN DREGS PADA MEDIUM GAMBUT TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA (CO2 DAN

CH4), PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa, L)

Oleh

ISNAINI FATIMAH
NIM. 0506111306

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010

SKRIPSI PENGARUH PEMBERIAN AMELIORAN DREGS PADA MEDIUM GAMBUT TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA (CO2 DAN CH4), PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa, L)
Oleh

ISNAINI FATIMAH
NIM. 0506111306

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pertanian

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI JURUSAN AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU PEKANBARU 2010

PENGARUH PEMBERIAN AMELIORAN DREGS PADA MEDIUM GAMBUT TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA (CO2 DAN CH4), PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa, L)

Oleh :

ISNAINI FATIMAH
NIM. 0506111306

Menyetujui

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Ir. Nelvia, MP NIP. 19591119 198603 2 002

Ir. Idwar, MS NIP. 19610531 198603 1 002

Mengetahui

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Riau

Ketua Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Usman Pato, M.Sc NIP. 19660120 199003 1 001

Ir. Armaini, MSi NIP. 19571120 198503 2 001

Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan tim penguji ujian Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Riau dan dinyatakan lulus pada tanggal 25 Mei 2010

No 1. 2. 3. 4. 5.

Nama Dr. Ir. Nelvia, MP Ir.Idwar, MS Dr. Ir. Wawan, MP Ir. Wardati, MSc Ir. Jurnawati Sofyan, MS

Jabatan KETUA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

RIWAYAT HIDUP

Isnaini Fatimah dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 27 Agustus 1987. Lahir dari pasangan Burhanuddin dan Yuliet, dan merupakan anak ke 2 dari 5 bersaudara. Pada Tahun 1993 masuk sekolah dasar (SD) di SD Negeri 10 Kampuang Nan Limo Kubang Putiah Kecamatan Banuhampu dan tamat pada tahun 1999. Pada tahun 1999 dilanjutkan pendidikan ke sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) di SLTP Negeri 1 Sungai Pua. Tamat pada tahun 2002 dan melanjutkan ke sekolah menengah umum (SMU). Pada tahun 2005 tamat dari SMU Negeri 1 Sungai Pua. Pada tahun 2005 melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB) diterima menjadi mahasiswa di Jurusan Ilmu Tanah/Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau. Selama perkuliahan penulis aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan seperti, Himpuanan Mahasiswa Jurusan Ilmu Tanah (Anggota). Bulan Juni September 2009, penulis melaksanakan Praktek Kerja Profesi (PKP) di Dinas Perkebunan Provinsi Riau. Pada tanggal 25 Mei 2010 penulis dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Pertanian melalui sidang terbuka Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Riau.

THE EFFECT OF GIVING DREGS AMELIORANT ON PEAT SOIL MEDIUM TO GLASS HOUSE GAS (CO2 AND CH4), GROWTH AND YIELD OF PADDY (Oryza sativa, L)

PENGARUH PEMBERIAN AMELIORAN DREGS PADA MEDIUM GAMBUT TERHADAP EMISI GAS RUMAH KACA (CO2 DAN CH4), PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PADI (Oryza sativa, L)

Isnaini Fatimah

Under Advisor: Dr. Ir. Nelvia, MP and Ir. Idwar, MS Agrotechnology Department, Agriculture Faculty, University of Riau

ABSTRACT The benefit of peat soil for agriculture on suffuse condition (rice field paddy) or do not be suffused (upland rice, and plantation) will produce glass house gas like CO2 and CH4. It cause of high availability of fresh organic matter that easy to tear down aerobic which is produce CO2 anaerobic which is produce CH4 and organic acid, will be disturbed although growth and yield paddy plant. Otherwise it needs to do effort that can press fastly decomposition organic matter, by giving ameliorant that have much cation polivalen (Ca, Fe, Cu, Zn, Al, and Mn) where the organic acid that compose complex with cation polivalen so the pet soil endure on decomposition. Otherwise, the purpose of this research is to learn the effect of giving some measurement dregs ameliorant on the peat soil in suffused and do not be suffused condition on emition decrease CO2 and CH4, growth and yiled paddy plant (Oryza sativa, L). This research was designed in split plot and Rendomize Complete Block Design, with water condition as main plot, and sub plot consist of D0= un giving dregs dregs, D1= 10 ton/ha, D2= 15 ton/ha, D3= 20 ton/ha and replicated three time. The research is done in the experimental plant of agriculture faculty at Riau University started from July until Desember 2009. The result of this research shows that giving dergs ameliorant was influence not significant on decrease emition CO2 and CH4 is compared of control to paddy in the pot that were 42 days on suffused and do not be suffused condition, however having an effect on positive to amount of maximum saplings and productive saplings, weight of hay dry, dry shell of rice weight mill, and also heavily 1000 good seed at condition suffused and do not be suffused.

Keyword: Dregs, ameliorant, peat soil, paddy.

Isnaini Fatimah (0506111306) telah melaksanakan penelitian tentang Pengaruh Pemberian Amelioran Dregs Pada Medium Gambut Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca (CO2 dan CH4), Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa. L) dibawah bimbingan Dr. Ir. Nelvia, MP sebagai pembimbing I dan Ir. Idwar, MS sebagai pembimbing II.

RINGKASAN

Lahan gambut di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan merupakan sumberdaya alam tropika yang semakin penting untuk perluasan lahan pertanian. Pengelolaan gambut untuk pertanian dalam kondisi anaerob maupun aerob menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2 dan CH4. Emisi CO2 tanah gambut pada kondisi aerob lebih besar dibandingkan pada kondisi anaerob, karena difusi oksigen yang tinggi ke dalam tanah gambut dapat memberikan kondisi yang cocok bagi mikroorganisme aerob untuk tumbuh dan berkembang. Sebaliknya emisi CH4 pada kondisi aerob lebih kecil dari pada kondisi anaerob karena pada kondisi anaerob difusi O2 sangat rendah akibatnya mikroorganisme (anaerob) yang berkembang akan memanfaatkan senyawa anorganik dan menggunakan senyawa organik sebagai sumber energi. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menekan emisi gas CO2 dan CH4 pada tanah gambut adalah dengan pemberian bahan amelioran yang mengandung kation polivalen tinggi. Pembentukan kompleks tersebut dapat menyebabkan gambut lebih tahan terhadap proses dekomposisi yang akhirnya dapat turut menekan pelepasan gas CO2 dan CH4 ke atmosfir.

Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Kampus Bina Widya km 12,5 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan Pekanbaru. Penelitian ini berlangsung selama 6 bulan, dari bulan Juli sampai Desember 2009. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh pemberian berbagai takaran amelioran dregs pada tanah gambut dalam kondisi digenangi dan tidak digenangi terhadap penurunan emisi CO2 dan CH4 serta pertumbuhan dan produksi tanman padi (Oriza sativa.L). Penelitian ini dilaksanakan secara eksperimen dengan menggunakan metode rancangan petak terbagi (split plot design) yang terdiri dari 2 petak utama dan 4 anak petak masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga terdapat 24 satuan percobaan. Adapun sebagai petak utama T = Kondisi tergenang dan TT = Kondisi tidak tergenang taraf perlakuannya sebagai berikut : D0 = tanpa pemberian dregs, D1 = 10 ton/ha (50 g dregs/pot), D2 = 15 ton/ha (100 g dregs/pot), dan D3 = 20 ton/ha (125 g dregs/pot). Hasil penelitian menunjukkan pemberian amelioran dregs berpengaruh tidak nyata terhadap penurunan emisi CO2 dan CH4 dibandingkan kontrol pada pertanaman padi dalam pot umur 42 hari pada kondisi tidak tergenang dan tergenang. Akan tetapi Pemberian amelioran dregs meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum dan anakan produktif, berat berangkasan kering, berat gabah kering giling serta berat 1000 biji tanaman baik padi yang digenangi maupun yang tidak digenangi.

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh Pemberian Amelioran Dregs Pada Medium Gambut Terhadap Emisi Gas Rumah Kaca (CO2 dan CH4), Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Padi (Oryza sativa. L). Penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. Nelvia, MP sebagai pembimbing I dan Ir. Idwar, MS sebagai dosen pembimbing II yang telah banyak memberi masukan pada penulis dalam pembuatan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya skripsi ini sangat diharapkan dapat bermanfaat bagi setiap pembaca.

Pekanbaru, Juni 2010

Isnaini Fatimah

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................

DAFTAR ISI .. ............................................................................................. ii DAFTAR TABEL ......................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR ..................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. v I. PENDAHALUAN 1.1. ...Latar Belakang ............................................................................1 1.2. II. Tujuan Penelitian ....................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. 2.2. 2.3. Tanah Gambut ......................................................................... 4 Amelioran Dregs ..................................................................... 8 Padi ...........................................................................................10

III.

BAHAN DAN METODE 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. 3.5. Waktu dan Tempat ................................................................... 13 Bahan dan Alat ........................................................................ 13 Metode Penelitian .................................................................... 13 Pelaksanaan penelitian ............................................................. 15 Pengamatan .............................................................................. 17

IV. V.

HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 19 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. 5.2. Kesimpulnan ............................................................................. 37 Saran ..........................................................................................37

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL Halaman 1. .. Ciri kimia tanah Gambut Desa Kerumutan .............................................. 19 2. .. Ciri kimia amelioran dregs ........................................................................21 3. .. Rerata emisi CO2 .......................................................................................22 4. .. Rerata emisi CH4 .......................................................................................24 5. .. Rerata tinggi tanaman padi IR-64 akibat pemberian berbagai takaran Dregs .........................................................................................................25 6. .. Rerata jumlah anakan maksimum dan anakan produktif tanaman padi IR64 akibat pemberian berbagai dregs .........................................................27 7. .. Rerata berat berangkasan kering tanaman padi IR-64 akibat pemberian berbagai takaran dregs ..............................................................................29 8. .. Rerata berat gabah kering giling tanaman padi IR-64 akibat pemberian berbagai takaran dregs ..............................................................................32 9. .. Rerata berat 1000 biji tanaman padi IR-64 akibat pemberian berabagai takaran dregs .............................................................................................35

DAFTAR GAMBAR Halaman 1. .. Padi IR-64 kondisi tidak tergenang ......................................................... 31 2. .. Padi IR-64 kondisi tergenang ....................................................................32 3. .. Chamber ....................................................................................................53

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Hasil pengamatan ...................................................................................... 42 2. Analisis sidik ragam ...................................................................................44 3. Deskripsi tanaman padi IR-64 ....................................................................47 4. Denah penelitian ........................................................................................48 5. Kriteria sifat kimia tanah gambut Desa Kerumutan ...................................49 6. Perhitungan dosis pupuk dan dosis dregs ..................................................50 7. Cara kerja pengambilan gas CO2 dan CH4 .................................................52

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Lahan gambut di Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan merupakan sumberdaya alam tropika yang semakin penting untuk perluasan lahan pertanian, baik untuk budidaya pada kondisi digenangi (anaerob) seperti padi sawah, maupun untuk budidaya kondisi tidak digenangi (aerob) seperti padi gogo, palawija, dan perkebunan. Pengelolaan gambut untuk pertanian dalam kondisi anaerob maupun aerob menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2 dan CH4. Gas rumah kaca adalah gas yang memiliki kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang yang bersifat panas sehingga suhu bumi akan semakin panas jika jumlah gas-gas tersebut meningkat di atmosfer (Najiyati et al. 2005), yang mengakibatkan perubahan iklim seperti pemanasan global yang ditandai dengan meningkatnya suhu dan perubahan distribusi curah hujan. Emisi CO2 tanah gambut pada kondisi aerob lebih besar dibandingkan pada kondisi anaerob, karena difusi oksigen yang tinggi ke dalam tanah gambut dapat memberikan kondisi yang cocok bagi mikroorganisme aerob untuk tumbuh dan berkembang. Pada kondisi aerob bahan organik dioksidasi secara biologi oleh mikroorganisme aerob sehingga bahan organik terhidrolisis menjadi CO2, air dan energi. Sebaliknya emisi CH4 pada kondisi aerob lebih kecil dari pada kondisi anaerob karena pada kondisi anaerob difusi O2 sangat rendah akibatnya mikroorganisme (anaerob) yang berkembang akan memanfaatkan senyawa anorganik seperti NO3, Mn+4, Fe+3, SO4, dan CO2 dan menggunakan senyawa

organik sebagai sumber energi. Pada kondisi dimana semua NO3, Mn+4, Fe+3 dan SO4 telah direduksi dan keadaan menjadi sangat reduktif sehingga hanya bakteri metanogen yang berkembang dan mereduksi CO2 menjadi CH4. Bakteri methanogen dalam menghasilkan CH4 dan CO2 juga membutuhkan senyawa organik sederhana hasil dekomposisi bahan organik sebagai sumber C nya. Pada kondisi anaerob produksi CH4 akan terus berlangsung. Untuk itu perlu usaha untuk menekan produksi CH4 tersebut. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan jalan menurunkan ketersediaan senyawa organik sebagai sumber C bagi bakteri methanogen, ketersedian senyawa organik dapat dikurangi dengan cara pembentukan senyawa komplek (khelat) antara senyawa organik dengan kation polivalen. Senyawa-senyawa organik hasil dekomposisi bahan organik gambut kaya akan gugus fungsional seperti aldehid (C=O), hidroksi (-OH), karboksil ( COOH), serta fenolik OH merupakan tapak reaktif dalam pengikatan

kation terutama kation polivalen seperti Fe, Cu, Zn, Mn, serta Al, oleh karena itu pemberian kation tersebut dianggap efektif untuk menekan kelarutan senyawa organik agar pertumbuhan dan perkembangan bakteri methanogen dapat di hambat sehingga pelepasan gas CO2 dan CH4 dapat ditekan (Sabiham, 1997). Stevenson (1994) mengungkapkan bahwa kompleks yang terbentuk ini merupakan ikatan kovalen yang lebih kuat dan cenderung stabil, sehingga tapaktapak reaktif tersebut dapat membentuk senyawa kompleks (khelat) antara senyawa-senyawa organik yang dijembatani oleh kation polivalen tersebut.

Bentuk-bentuk senyawa kompleks logam organik adalah bentuk yang stabil tidak dapat didekomposisi oleh mikroorganisme. Adapun bahan berkadar kation polivalen tinggi yang jumlahnya berlimpah dan diproduksi setiap hari adalah limbah pabrik kertas berupa dregs. Dregs merupakan hasil sampingan dari bagian recaultciizing pabrik kertas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kation polivalen (amelioran), karena setiap kg dregs mengandung N-total 0,4 g, P-total 0,39 g, Mg 0,48 g, Fe 52,12 mg, Zn 20,14 mg, Cu 50,20 mg, Mo 3,14 mg dan Al 1,9 me/100 g (Rini, 2005). Oleh karena itu pemberian dregs diduga efektif untuk menekan emisi gas CO2 dan CH4 pada tanah gambut. Dalam rangka menguji hipotesis tersebut penulis telah melakukan penelitian dengan judul pemberian dregs pada medium gambut terhadap emisi gas rumah kaca (CO2 dan CH4) serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi IR-64 (Oryza sativa. L).

1.2 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian dregs pada medium gambut terhadap emisi gas rumah kaca (CO2 dan CH4) serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman padi IR-64 (Oryza sativa. L).

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah Gambut Gambut terbentuk dari timbunan sisa-sisa tanaman yang telah mati, baik yang sudah lapuk maupun belum. Timbunan terus bertambah karena proses dekomposisi terhambat oleh kondisi anaerob dan/atau kondisi lingkungan lainnya yang menyebabkan rendahnya tingkat perkembangan biota pengurai.

Pembentukan tanah gambut merupakan proses geogenik yaitu pembentukan tanah yang disebabkan oleh proses deposisi dan tranportasi, berbeda dengan proses pembentukan tanah mineral yang pada umumnya merupakan proses pedogenik (Hardjowigeno, 2007). Gambut terbentuk oleh lingkungan yang khas, yaitu rawa atau suasana genangan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kondisi anaerob akibat keadaan hidro-topografi berupa genangan, ayunan pasang surut atau keadaan yang selalu basah telah mencegah aktivitas mikroorganisme yang diperlukan dalam perombakan. Dengan kata lain, pada kondisi ini laju penimbunan bahan organik lebih besar dari pada mineralisasinya. Laju penimbunan gambut dipengaruhi oleh paduan antara keadaan topografi dan curah hujan dengan curahan perolehan air yang lebih besar dari pada kehilangan air serta didukung oleh sifat tanah dengan kandungan fraksi lanau (silt) yang rendah (Noor, 2001). Berdasarkan kondisi lingkungan akumulasinya, gambut terbagi atas: (1) gambut topogenous adalah gambut yang dibentuk pada depresi topografi dan diendapkan dari sisa tumbuhan yang hidupnya mengambil nutrisi tanah mineral dan air tanah (gambut ini disebut sebagai gambut eutropik atau gambut kaya

bahan nutrisi), (2) gambut ombrogenous adalah gambut yang terbentuk karena pengaruh curah hujan yang airnya tergenang atau gambut yang dibentuk dalam lingkungan pengendapan dimana tumbuhan pembentuk semasa hidupnya hanya tumbuh dari air hujan (gambut ini disebut sebagai gambut oligotrophic atau gambut miskin bahan nutrisi). Berdasarkan tingkat kematangan atau pelapukan, gambut dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu: 1) fibrik adalah gambut yang tingkat pelapukannya terendah, 2/3 volumenya terisi serat, 2) hemik adalah gambut yang tingkat kematangannya sedang, kandungan seratnya 1/3 2/3 volumenya, 3) gambut saprik adalah gambut yang paling lapuk, kurang dari 1/3 volumenya berupa serat. Tanah gambut yang masih kasar mempunyai porositas tinggi, sukar menahan air dan unsur hara serta dapat mengalami penyusutan (subsidence) yang besar (Setiadi, 1996). Noor (2001) membagi gambut dalam empat kategori berdasarkan ketebalan lapisan bahan organiknya, yaitu gambut dangkal (50-100 cm), gambut tengahan (100-200 cm), gambut dalam (200-300 cm), dan gambut sangat dalam (>300 cm). Widjaya-Adhi (1988), menyebutkan kedalaman gambut dan tanah mineral yang ada di bawahnya sangat menentukan komposisi kimia tanah-tanah gambut. Tingkat kesuburan lapisan atas dari gambut dalam adalah lebih miskin unsur hara essensial daripada lapisan atas dari gambut dangkal Noor (2001) menyatakan bahwa sifat dan ciri fisika tanah yang utama dari lahan gambut, antara lain ketebalan gambut, lapisan dibawahnya, penurunan muka tanah, kelengasan tanah, kerapatan lindak, daya antar hidrolik, dan kering tak balik. Setiadi (1996) menjelaskan bahwa tanah gambut mempunyai bulk density

yang sangat rendah yaitu sekitar 0,1 0,2 g/cc, sehingga mengakibatkan rendahnya kandungan unsur hara per satuan volume tanah. Sifat kering tak balik (irreversibel drying) menunjukkan bahwa bila gambut tidak mampu menyerap air kembali. Selain itu gambut juga mempunyai sifat yang terus menerus menyusut (subsidence) bila perbaikan drainase dilakukan. Kendala dari segi sifat kimia tanah gambut yang sering dijumpai adalah: (1) reaksi tanah tergolong sangat masam yang berasal dari berbagai asam organik yang terbentuk selama pelapukan, (2) kandungan hara makro dan mikro rendah, (3) kapasitas tukar kation yang tinggi, sedangkan kejenuhan basa rendah sehingga kation-kation Ca, Mg dan K sukar tersedia bagi tanaman (Halim dan Soepardi, 1987), (4) kandungan asam-asam organik tanah tinggi yang berpengaruh langsung dan dapat meracuni tanaman, terutama asam fenolat, (5) tata air yang buruk. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah asam-asam organik (Noor, 2001). Kemasaman pada tanah gambut berhubungan dengan konsentrasi ion H+ dan asam-asam organik (Prasetyo, 1996). Menurut Setiadi (1996), nilai pH tanah gambut ideal adalah sekitar 5,5; pH lebih tinggi menurunkan ketersediaan P, Mn, Bo dan Zn, sedangkan tanah-tanah yang sangat masam menyebabkan kekahatan N, P, Ca, Bo, Cu dan Mo. Menurut Tan (1993) dan Stevenson (1994), gambut banyak mengandung senyawa organik yang mampu membentuk senyawa kompleks dengan kationkation logam. Gugus fungsi yang mengandung oksigen seperti C=O, -OH, serta COOH merupakan tapak reaktif dalam pengikatan ion.

Untuk mengurangi pengaruh buruk asam-asam organik yang beracun dapat dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan yang banyak mengandung kation polivalen seperti Fe, Al, Cu dan Zn. Kation-kation tersebut membentuk ikatan koordinasi dengan ligan organik membentuk senyawa komplek/khelat. Oleh karenanya bahan-bahan yang mengandung kation polivalen tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan amelioran gambut (Sabiham et al., 1997; Saragih, 1996). Tipe reaksi yang terjadi antara asam-asam fenolat di tanah gambut dan ion logam sebagian besar antara gugus COOH dan gugus OH fenolat, dan sebagian kecil antara gugus COOH saja (Stevenson, 1982; Schnitzer, 1986; Mortland, 1986; Foth dan Ellis, 1988 cit Prasetyo, 1996). Beberapa contoh reaksi yang terjadi antara ion logam dengan senyawa tersebut diilustrasikan pada gambar 1. O 1. O C O+M O
-

CO M O

O 2. C O+M O
-

O CO M O

O OC O

Gambar 1. Contoh dua tipe reaksi pengkelatan (Tan 1998).

Pada kondisi aerob, mikroorganisme pelaku mineralisasi lebih aktif dibandingkan suasana anaerob. Dengan demikian hasil mineralisasi yaitu CO2

jadi lebih tinggi (Magnuson, 1993). Sebaliknya rendahnya CO2 pada kondisi anaerob disebabkan tidak tersedianya oksigen dalam lingkungan tersebut sehingga hanya golongan bakteri anaerob yang aktif, seperti bakteri penghasil methane/methanogen. Bakteri tersebut dapat bekerja secara aktif pada kondisi anaerob dengan redoks potensial - 200 mV (Tsutsuki & Ponnamperuma, 1987).

2.2 Amelioran Dregs Bahan amelioran tanah adalah bahan pembenah tanah untuk

memerperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum pemberian bahan ameliorasi ke dalam tanah di maksudkan untuk menetralkan asam-asam organik (asam fenolat dan asam karbosilat) yang bersifat meracun, dapat meningkatkan pH dan hara Kalsium (Ca), sehingga reaksi tanah mengarah ke netral, dilain pihak dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman (Halim,1989). Bahan ameliorasi yang ideal mempunyai sifat-sifat kejenuhan basa tinggi, dapat meningkatkan pH tanah, serta memiliki kandungan unsur hara yang lengkap, sehingga juga berfungsi sebagai pupuk dan mempunyai kemampuan memperbaiki struktur tanah gambut (Anonim, 2007). Dregs adalah endapan yang terbentuk dari proses klarifikasi cairan hasil produksi bagian recovery di pabrik pulp. Dregs merupakan hasil sampingan dari bagian recaultciizing pabrik kertas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ameliorasi (Rini, 2005). Hasil penelitian Rini (2005) menunjukkan bahwa setiap kg dregs mengandung N-total 0,4 g, P-total 0,39 g, Mg 0,48 g, Fe 52,12 mg, Zn 20,14 mg, Cu 50,20 mg, Mo 3,14 mg dan Al 1,9 me/100 g kation polifalen (Cu, Fe, Zn, dan

Al) yang tinggi dapat menekan kandungan asam organik yang beracun melalui pembentukan senyawa kompleks. Selain itu dregs dapat mengurangi kandungan aluminium dan asam-asam organik meracun dari asam-asam fenolat dan asam karboksilat melalui pembentukan komplek organo logam dan dapat meningkatkan aktivitas mikroba tanah gambut sehingga akan mempercepat proses dekomposisi gambut, sehingga dregs merupakan material yang sangat potensial digunakan sebagai amelioran yang relatif murah (ekonomis) untuk meningkatkan mutu dan produktifitas lahan gambut . Hasil penelitian Saragih 1996, kation Fe memiliki afinitas tertinggi dan paling stabil berinteraksi diantara kation yang dicoba dengan urutan Fe> Cu> Ca> Mn> Zn. Dengan demikian peningkatan kandungan Fe-dd, Al-dd, Cu-dd dan Zndd tanah gambut yang diinkubasi dengan amelioran dregs selama 3 minggu, 1,5 bulan, hingga panen sedikit. Menurut Salampak (1999), Rachim(2000), Saragih (1996) dalam Prasetyo (1996) kation polivalen: Cu, Zn, Ca, Al, Fe membentuk senyawa kompleks dengan asam-asam organik sehingga dapat mengurangi pengaruh buruk asamasam fenolat. Unsur Cu lebih reaktif terhadap asam-asam fenolat sederhana seperti p-hidroksibenzoat, sedangkan unsur Fe lebih rekatif terhadap asam-asam fenolat kompleks seperti asam ferulat, sinapat dan p-kumarat (Tadano et al., 1992 dalam Nelvia, 2004). Dengan demikian pemberian dregs dapat memperbaiki lingkungan perakaran dengan menekan kelarutan asam-asam fenolat sehingga tidak bersifat meracun bagi tanaman.

2.3 Padi Padi (Oryza Sativa. L) merupakan tanaman yang menghasilkan beras dan merupakan bahan makanan pokok rakyat Indonesia. Berdasarkan klasifikasinya tanaman padi termasuk kedalam Kingdom: plantae, Phylum: Spermatophyta, Kelas:Angiospermae, Subkelas: Monocotiledine, Ordo: Grainales, Famili: Graminae, Genus: Oriza, Spesies: Oriza Sativa. L (Anonimus, 1988). Padi merupakan golongan tanaman semusim. Akar padi adalah akar serabut, batang padi mempunyai rongga dan beruas-ruas. Pada awal

pertumbuhannya ruas berbentuk pendek, dari batang utama akan tumbuh anakan primer yang bersifat heterotrofik (bergantung pada batang utama) sampai anakan tersebut memiliki daun dengan 4-5 helai daun, dari anakan primer selanjutnya tumbuh anakan sekunder yang menghasilkan anakan tertier (Ismunadji dan Sismiyati, 1988). Daun padi tumbuh berselang seling pada batang. Daun yang paling atas memiliki ukuran terpendek disebut daun bendera. Padi terrmasuk tanaman berumah satu, yang memiliki 6 pasang sari dan 2 tangkai putik dan kepala putik (Sudirman dan Iwan, 2000). Buah padi bagian luar disebut sekam dan bagian dalam yang disebut kayopsis. Sekam terdiri dari lemma dan palea (Suparyono dan Setyanto, 1993). Tanaman padi merupakan tanaman setahun atau semusim yang dalam pertumbuhan dan perkembangannya melalui beberapa fase yaitu: 1) fase vegetatif cepat, mulai dari pertumbuhan bibit sampai dengan jumlah anakan maksimum, 2) fase vegetatif lambat, mulai dari jumlah anakan maksimum sampai keluarnya

anakan malai dan 3) fase reproduktif, mulai dari fase keluarnya bunga sampai saat panen. Tanaman padi dapat tumbuh dengan baik dan berproduktivitas tinggi akan sangat ditentukan oleh tingkat kesuburan tanah, dimana akan berkaitan dengan ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang optimal bagi pertumbuhannya (AAK, 1990). Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 meter di atas permukaan laut dengan temperatur 19-27C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4-7. Kunci keberhasilan budidaya padi sawah pada lahan gambut terletak pada keberhasilan dalam pengelolaan dan pengendalian air, penanganan sejumlah kendala fisik yang merupakan faktor pembatas, penanganan substansi toksik dan pemupukan unsur makro dan mikro (Radjagukguk, 1997). Pada tanah sawah dengan kandungan bahan organik tinggi, asam-asam organik menghambat pertumbuhan, terutama akar, mengakibatkan rendahnya produktivitas bahkan kegagalan panen. Leiwakabessy dan Wahjudin (1979), Radjagukguk (1990) dalam Boer (1997) menunjukkan hubungan erat antara ketebalan gambut dan produksi gabah padi sawah. Lahan gambut yang sesuai untuk padi sawah adalah gambut dengan ketebalan (20-50 cm gambut) dan gambut dangkal (0,5-1 m). Padi kurang sesuai pada gambut sedang (1-2 m) dan tidak sesuai pada gambut tebal (2-3 m) dan sangat tebal (lebih dari 3 m). Pada gambut tebal dan sangat tebal, tanaman padi tidak dapat membentuk gabah karena kahat unsur hara mikro (Subagyo et al, 1996).

Menurut Zaini et al (2002) dalam pertumbuhannya tanaman padi memerlukan hara dalam jumlah yang cukup. Ketersediaan hara di tanaman berbeda antar lokasi. Oleh karena itu pengelolaan hara secara spesifik lokasi merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Kebutuhan hara untuk tanaman padi dapat diperoleh dari: (1) tanah (2) bahan organik yang ditambahkan dan sisa tanaman (3)air irigasi (4) Fiksasi N2 . Menurut Setyanto (2004) Tanaman padi memegang peranan penting dalam emisi gas CH4 dari lahan sawah. Diduga 90% CH4 yang dilepas dari lahan sawah ke atmosfer dipancarkan melalui tanaman dan sisanya melalui gelembung air (ebullition). Ruang udara pada pembuluh aerenkima daun, batang dan akar yang berkembang dengan baik menyebabkan pertukaran gas pada tanah tergenang berlangsung cepat.

III. BAHAN DAN METODE

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Tanah dan Rumah Kaca Jurusan Budidaya, Fakultas Pertanian, Universitas Riau Jl. Bina Widya Km 12,5 Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru. Waktu penelitian selama 6 bulan, Juli sampai Desember 2009.

3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi IR-64, dregs dari PT. RAPP (Riau Pulp And Paper) kerinci, pupuk dasar dalam bentuk Urea, TSP, KCl. Tanah gambut diambil dari desa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan dengan kedalaman 30 cm. Alat yang digunakan oven listrik, timbangan digital, meteran, cangkul, ember, karung, sungkup (Chamber), siring, kipas angin, termometer,

selotip/lakband, stopwatch, alat suntik GC tipe 8A untuk emisi CH4 dan GC tipe 18A untuk emisi CO2 dan alat tulis.

3.3 Metode Penelitian Penelitian dilakukan mengikuti rancangan petak terbagi (split plot design), yang terdiri dari 2 petak utama dan 4 anak petak masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Adapun sebagai petak utama adalah: T TT = Kondisi tergenang = Kondisi tidak tergenang

Sedangkan anak petak terdiri atas dosis dregs yang digunakan:

D0 = Tanpa pemberian dregs D1 = 10 ton/ha (50 g dregs/pot) D2 = 15 ton/ha (100 g dregs/pot) D3= 20 ton/ha (125 g dregs/pot) Dari perlakuan tersebut diperoleh 24 satuan percobaan. Data hasil pengamatan selama penelitian dan masing-masing perlakuan dianalisis secara statistik dengan menggunakan Analisis Of Varian ( ANOVA) model linear sebagai berikut:

Dimana: Yijk = Hasil pengamatan dari perlakuan ke-i dan perlakuan ke-j pada ulangan ke-k Ui Pj ijk Dk Jvjk = Nilai rata-rata umum = Pengaruh ulangan ke i = Pengaruh simpangan dari kondisi air = Pengaruh eror untuk petak utama = Pengaruh simpangan dari dosis dregs taraf ke k = Pengaruh simpangan dari interaksi antara kondisi air ke j dan dosis taraf ke k ijk = Pengaruh eror dari perlakuan ke-i dan perlakuan ke-j pada ulangan ke-k Selanjutnya hasil analisis sidik ragam dilanjutkan dengan uji DNMRT taraf 5%.

3.4 Pelaksanaan Penelitian 3.4.1 Pengambilan Sampel dan Persiapan Tanah Contoh tanah gambut di ambil dari Desa Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau secara komposit dengan tingkat kematangan saprik pada kedalaman 30 cm. Tanah dikering anginkan dan tidak dilakukan penggilingan atau pengayakan tetapi hanya dibersihkan dari akar-akar tanaman dan kayu-kayuan (kecuali untuk analisis tanah di Laboratorium). Setelah itu tanah diaduk merata sampai keadaan homogen. Kemudian tanah ditimbang untuk masing-masing pot sebanyak 9,3 kg. 3.4.2 Pemberian Perlakuan dan inkubasi Tanah yang sudah ditimbang dicampurkan dengan dregs secara merata sesuai dosis perlakuan dan dimasukkan kedalam pot. Setelah itu tanah diinkubasi selama 2 minggu. 3.4.3 Persemaian Benih direndam selama 24 jam agar gabah dapat menyerap air yang cukup untuk proses perkecambahan. Setelah direndam, benih padi disemaikan pada sebuah wadah (seedbed) yang berisi tanah yang sama dengan tanah yang akan digunakan pada penelitian ini. 3.4.4 Penanaman dan Pemupukan Penanaman dilakukan dengan menanam bibit sebanyak 5 bibit/pot. Setelah tumbuh dan berumur 3 minggu setelah tanam (MST) maka dilakukan pemotongan dengan meninggalkan 3 tanaman / pot yang dipelihara hingga panen.

Pupuk dasar diberikan dalam bentuk Urea, TSP, KCl, dan masing-masing dengan dosis 350, 150, 150 kg/ha. Pupuk TSP dan KCl diberikan pada saat tanam, sedangkan Urea diberikan 3 tahap (1/3 saat tanam, 1/3 umur 4 MST, dan 1/3 umur 7 MST). Pemupukan dilakukan secara sebar rata pada permukaan tanah. 3.4.5 Pemeliharaan Pemeliharaan yang dilakukan meliputi: pengaturan tinggi genangan air, pemberantasan gulma dan pencegahan hama dan penyakit tanaman. Pada kondisi tergenang pemberian air dilakukan dengan membiarkan kondisi macak-macak selama 2 minggu setelah tanam, kemudian digenangi dengan tinggi air genangan adalah 5 cm dari muka tanah hingga 2 minggu menjelang panen. Sedangkan untuk kondisi tidak tergenang air tetap dipertahankan 5 cm dari dasar pot. Pengaturan tinggi genangan ini sangat penting di perhatikan setiap harinya. Penyiangan gulma dilakukan apabila tampak adanya gulma yang mengganggu dengan mencabut gulma tersebut dan membenamkannya kedalam tanah, sedangkan untuk pencegahan hama dan penyakit tanaman digunakan insektisida Curater 3G dan fungisida Beam 1 kg/ha untuk penyakit jika tampak pada tanaman. 3.4.6 Panen Pemanenan dilakukan setelah kriteria panen tercapai yaitu tanaman padi telah menguning, butir 90% telah masak dan biji bila ditekan terasa padat. Pemanenan bagian atas tanaman (batang dan daun) dilakukan dengan memotong pada batas leher akar ( 2 cm dari permukaan tanah). Kemudian bagian gabah dan jerami dipisahkan.

3.5 Pengamatan 3.5.1 Tinggi Tanaman Pengukuran tinggi tanaman dilakukan setelah tanaman berumur 21 hari setelah tanam dan 42 hari setelah tanam. Pengukuran dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman mulai dari ajir (5 cm dari permukaan tanah) sampai ujung daun tertinggi. Hasil pengukuran terakhir diolah secara statistik. 3.5.2 Jumlah Anakan Maksimum Jumlah anakan dihitung mulai 5 minggu setelah tanam. Pengamatan terus dilakukan sampai tidak terbentuk anakan baru rentang waktu pengamatan sekali seminggu. Data yang dianalisis adalah jumlah anakan terbanyak. 3.5.3 Jumlah Anakan Produktif Jumlah anakan yang menghasilkan malai dihitung pada waktu 2 minggu sebelum panen, dilakukan sekali saja dengan menghitung setiap anakan yang menghasilkan malai. 3.5.4 Berat Gabah Kering Giling Perpot (g) Perhitungan gabah kering giling dihitung dengan menimbang seluruh gabah yang dihasilkan tiap tanaman. Gabah terlebih dahulu dipisahkan dari tangkainya . Kemudian dijemur hingga kering, penimbangan dilakukan apabila biji padi ditekan sekamnya sudah bisa terlepas. 3.5.5 Berat 1000 Biji Gabah Berat 1000 biji gabah dihitung dengan menimbang 1000 biji yang berasal dari pengamatan berat gabah kering giling.

3.5.6 Berat Berangkasan Kering Berat berangkasan kering didapat dengan cara mengambil bagian tanaman mulai dari pangkal batang sampai dengan pangkal malai dari tanaman padi, kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven selama 2 x 24 jam dengan suhu 70C. 3.5.7 Pengambilan Emisi Gas CO2 dan CH4 Pengambilan emisi CO2 dan CH4 dilakukan dengan menggunakan sungkup (Chamber) yang terbuat dari flexiglass berukuran 0,75m x 0,20m x 0,20m (sesuai dengan luas permukaan pot) dan dilengkapi dengan termometer dan kipas angin (Gambar 2 hal 53). Pengambilan sampel dilakukan pada awal tanam (4 minggu setelah tanam ). Sampel udara dalam sungkup diambil dengan siring dengan interval pengambilan 5 menit, yaitu pada menit ke 0, 5, 10, 15 dan 20 menit. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada Lampiran 7.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Ciri kimia bahan tanah gambut dan dregs Hasil analisis pendahuluan tanah gambut yang digunakan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Ciri kimia tanah gambut Desa Kerumutan berdasarkan kriteria penilaian tanah Ciri Kimia pH (1:5) H2O KCl C organik (%) N total (%) C/N Ekstrak HCl 25 % P2O5 (mg/100 g) K2O (mg/100 g) P Bray I (ppm) KTK (me/100 g) Nilai tukar kation Ca (me/100 g) Mg (me/100 g) K (me/100 g) Na (me/100 g) Kejenuhan basa (%) Unsur mikro ekstrak DTPA Fe (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm) Unsur mikro total ekstrak HClO4dan HNO3 ( mg/100g) Fe (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Hasil analisis 3.2 3 35.73 2.12 17 32 14 135.4 72.45 2.27 0.68 0.22 0.26 5 Kriteria *) Sangat masam Sangat masam Sangat Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat tinggi Sangat tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Sangat rendah

475 1 2 2

Cukup Cukup Cukup Cukup

3608 12.3 3.1

Sangat tinggi Cukup Cukup

Zn (ppm) 4.8 Cukup Kadar abu 15.89 Cukup Tabel 1 ditunjukkan data hasil analisis pendahuluan kadar hara dan ciri *)
Sumber: Staf Pusat Penelitian Tanah 1983

kimia tanah gambut Desa Kerumutan Kabupaten Pelalawan. Sebagai acuan penilaian ciri kimia tanah ini digunakan kriteria menurut Staf Pusat Penelitian Tanah 1983 (dalam Hardjowigeno 2007) yang disajiakan dalam Lampiran 3. Tanah gambut Desa Kerumutan memiliki nilai pH H2O sangat masam yaitu 3.2, hal ini disebabkan oleh kandungan asam-asam organik yang terdapat pada koloid gambut. Dekomposisi bahan organik pada kondisi anaerob menyebabkan terbentuknya senyawa fenolat dan karboksilat yang menyebabkan tingginya kemasaman gambut. Kandungan N total dan C-organik tanah tergolong sangat tinggi yaitu masing-masing 2.12 % dan 35.73 %. Tingginya nisbah C/N yaitu 17 mengakibatkan kandungan N total yang tidak diikuti oleh tingginya ketersediaan N bagi tanaman. Kandungan posfor ekstrak Bray-1 tanah gambut Desa Krumutan tergolong sangat tinggi. Nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah gambut Desa Kerumutan yang diekstrak dengan 1 N NH4OAc pH 7.0 tergolong sangat tinggi yaitu 72.45 me/100g. KTK yang tinggi ini disebabkan oleh banyaknya kandungan asam-asam organik pada tanah tersebut. Nilai KTK tanah yang tinggi ini juga diikuti pula oleh rendahnya kejenuhan basa (KB) yaitu sebesar 5%. Nilai KB yang rendah akan menghambat pertumbuhan tanaman karena penyediaan hara bagi tanaman menjadi rendah. Kandungan basa-basa tersedia pada tanah gambut Desa Kerumutan terutama Ca-dd, Mg-dd, Na-dd dan K-dd tergolong rendah yaitu masing-masing 2.27 me/100 g, 0.68 me/100 g, 0.26 me/100 g, 0.22 me/100 g.

Kandungan hara mikro antara lain Cu, Zn dan Mn yang diekstrak dengan DTPA tergolong sangat rendah sedang untuk Fe tergolong cukup. Karakteristik tanah tersebut seperti yang tersebut di atas menyebabkan ketersediaan unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman rendah sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Oleh karena itu perlu diberikan bahan amelioran yang dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman salah satu amelioran yang bisa digunakan dregs karena dregs mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Hasil pengujian kandungan unsur hara di dalam amelioran dregs yang berkaitan dengan tingkat konsentrasinya sebagai pengkondisi tanah dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 2. Ciri kimia ameliorant dregs Ciri kimia Hasil analisis pH Unsur hara makro total P2O5 (%) K2O (%) CaO (%) MgO (%) Na (%) S (%) Unsur hara mikro total Fe (ppm) Mn (ppm) 5000 989 0.20 0.31 41.03 2.39 2.68 0.72 9.3

Cu (ppm) Zn (ppm) Unsur hara makro tersedia (asam sitrat 2%) P2O5 (%) K2O (%) CaO (%) MgO (%) Na (%) S (%) Unsur hara mikro tersedia Fe (ppm) Mn (ppm) Cu (ppm) Zn (ppm

127 224

0.18 0.31 40.97 2.32 2.59 0.64

3244 914 105 206

Data analisis memperlihatkan bahwa dregs sangat basa dengan pH 9.3 dan mengandung mineral-mineral hara yang dibutuhkan tanaman yaitu sebagai nutrisi makro dan nutrisi mikro yang cukup tinggi. Oleh karena itu karakteristik dregs tersebut potensial untuk mengkondisikan tanah gambut yang tingkat

kesuburannya rendah seperti dilihat dari data-data analisis yang menunjukkan sifat kimia tanah gambut yang ditunjukkan Tabel 1.

4.2 Emisi CO2 dan Emisi CH4 4.2.1 Emisi CO2

Hasil Pengukuran emisi CO2 disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat Lampiran 2.1 memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air menunjukkan pengaruh nyata, sedangkan dosis dregs dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap emisi CO2. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Rerata emisi CO2 per pot padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang. (mg m-2 jam-1) Dosis Dregs (ton/ha) 0 10 15 20 Kondisi Air

Tidak Tergenang Tergenang 8115.31 ab 18721.75 ab 6637.19 c 20713.40 ab 8377.70 ab 52566.57 a 7311.24 c 15642.88 ab 24958.02 b 95912.44 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Pada Tabel 3 menujukkan perbedaan kondisi air berbeda nyata terhadap emisi CO2. Kondisi air tergenang mengemisikan CO2 lebih tinggi dibandingkan pada kondisi tidak tergenang hal ini dikarenakan pada permukaan tanah yang digenangi masih terdapat O2 yang memungkinkan bakteri aerob bisa berkembang yang mengakibatkan meningkatnya pelepasan gas CO2 ke atmosfer. Hal ini sesuai dengan pendapat Situmorang dan Sudadi (2001) bahwa pada tanah tergenang suplai O2 dari atmosfer mempertahankan lapisan tipis dipermukaan tanah sebagai suatu zona teroksidasi, sehingga tidak membatasi bakteri aerobik permukaan tanah. Tabel 3 pemberian dregs 10 hingga 20 ton/ha pada tanah gambut belum menunjukkan penurunan emisi gas CO2 secara nyata baik pada kondisi air

tergenang maupun tidak tergenang. Hal ini diduga karena pada saat pengambilan gas, tanaman berumur 42 hari yaitu pada fase awal pertumbuhan banyak eksudat akar yang dilepas ke rizosfir dimana eksudat akar merupakan sumber karbon bakteri sehingga dapat meningkatkan emisi CO2. Selain itu diduga pembebasan Ca dan P lebih dahulu terjadi dari pada pembentukan senyawa kompleks karena makin tinggi kekuatan ion makin rendah aktivitas ionnya. Kedua unsur tersebut dimanfaatkan oleh mikroorganisme sebagai pembentuk dinding sel dan sumber energi sehingga mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme meningkat dan laju dekomposisi meningkat yang berakibat meningkatnya pelepasan karbon ke udara baik dalam bentuk CO2 maupun CH4.

4.2 Pengukuran Emisi CH4 Hasil Pengukuran emisi CH4 disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.2 memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air, dosis dregs dan interaksi keduanya menunjukkan pengaruh tidak nyata. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Rerata emisi CH4 per pot padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang. (mg m-2 jam-1) Dosis Dregs (ton/ha) 0 10 15 20 Kondisi Air

Tidak Tergenang Tergenang 29702.03 bc 6693.26 abc 1867.11 c 7605.51 abc 3069.16 bc 19384.83 a 2678.46 bc 5776.76 ab 8578.92 b 35127.81 b Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan.

Tabel 4 menunjukkan pemberian dregs 10-20 ton/ha pada tanah gambut belum menunjukkan penurunan emisi CH4 secara nyata baik pada kondisi tergenang dan tidak tergenang. Pada Tabel 4 emisi CH4 pada kondisi tergenang lebih tinggi dibandingkan pada kondisi tidak tergenang. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyaknya berangkasan yang dihasilkan suatu tanaman, dimana pada kondisi tergenang berat berangkasannya lebih tinggi dari pada kondisi tidak tergenang sehingga mengakibatkan ruang udara pada pembuluh arenkima daun, batang dan akar juga ikut berkembang dengan baik dan menyebabkan pertukaran gas pada tanah tergenang berlangsung dengan cepat. Selain itu sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa masih belum terlihatnya penurunan emisi gas CO2 dan CH4 dikarenakan pada saat pengambilan gas tanaman berumur 42 hari yaitu pada fase awal pertumbuhan banyak eksudat akar yang dilepas ke rizosfir dimana eksudat akar merupakan sumber karbon bakteri sehingga dapat meningkatkan emisi CO2 dan CH4. 4.3 Tinggi Tanaman (cm) Hasil pengamatan tinggi tanaman pada umur 42 hari setelah tanam (HST) disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.3 memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air menunjukkan pengaruh tidak nyata, sedangkan dosis dregs menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Rerata tinggi tanaman padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang (cm).

Kondisi Air Tidak Tergenang Tergenang 52.23 b 47.20 c 64.00 a 66.16 a 68.33 a 67.23 a 65.83 a 67.16 a 62.60 a 61.94 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 5 menunjukkan bahwa pemberian dregs 10, 15, dan 20 ton/ha secara nyata meningkatkan tinggi tanaman padi dibandingkan tanpa pemberian dregs (kontrol) baik pada kondisi tidak tergenang dan tergenang. Peningkatan tinggi tanaman berbeda tidak nyata apabila takaran dregs ditingkatkan baik pada kondisi tidak tergenang dan tergenang. Dari kenyataan tersebut dapat dilihat pemberian dregs dapat memperbaiki medium tanam, sehingga mendukung terhadap perbaikan pertumbuhan tanaman padi. Terjadinya perbaikan medium tanam akibat pemberian dregs karena dregs dapat menurunkan kadar asam-asam fenolat sehingga sifat-sifat meracun asamasam tersebut akan berkurang dan akibatnya pertumbuhan tanaman menjadi baik. Sistem perakaran merupakan salah satu komponen pertanaman yang sangat penting dalam menopang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (Wilkin, 1969 cit Suastika dkk, 2006). Dengan baiknya daerah perakaran tanaman, akan mempengaruhi pernafasan akar sehingga translokasi air dan hara berjalan dengan baik. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumya dregs juga mengandung unsur hara makro (seperti P, K, Ca, Mg) dan mikro (seperti Mn, Cu, Zn). Hal ini ditunjukkan dari hasil analisis kandungan hara dregs. Tersedianya unsur hara bagi tanaman akan mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman karena hara tersebut

Dosis Dregs (ton/ha) 0 10 15 20

sangat penting dalam proses fotosintesis yang akhirnya mempengaruhi komponen hasil produksi tanaman padi. Sementara pada pemberian 20 ton dregs/ha cenderung menurun dibandingkan perlakuan 15 ton dregs/ha namun dapat meningkatkan tinggi

tanaman secara nyata bila dibandingkan tanpa pemberian dregs (kontrol). Hal ini diduga karena pada kisaran dosis tersebut justru proses metabolisme dan fisiologi yang terjadi pada tanaman terganggu karena dosis perlakuan terlalu tinggi. Tinggi tanaman padi terendah terdapat pada perlakuan tanpa pemberian dregs hal ini dikarenakan tingginya kandungan asam-asam organik. Patrick (1971) cit Suastika (2006) mengemukakan bahwa bahan-bahan fototoksik hasil

dekomposisi bahan organik berpengaruh terhadap permeabilitas sel tanaman, sehingga asam-asam amino dan bahan lain mengalir keluar sel. Disamping itu senyawa fitotoksik ini dapat menghambat pertumbuhan akar, menyebabkan tanaman menjadi kerdil, dan mengganggu serapan hara tanaman, sehingga secara keseluruhan menghambat perkembangan tanaman. 4.4 Jumlah Anakan Maksimum dan Jumlah Anakan Produktif Hasil pengamatan jumlah anakan maksimum dan anakan produktif tanaman disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.4 dan 2.5 memperlihatkan bahwa perbedaan

kondisi air, dan dosis dregs menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan maksimum dan anakan produktif. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Rerata jumlah anakan maksimum dan anakan produktif Padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang

Kondisi Air Tidak Tergenang Tergenang Jumlah Anakan Maksimun 0 20.33 d 20.00 d 10 35.66 abc 32.66 c 15 34.66 bc 45.00 ab 20 35.66 abc 47.00 a 31.58 a 36.16 a Jumlah Anakan Produktif 0 19.33 c 17.33 c 10 30.66 a 23.00 bc 15 28.33 ab 31.33 a 20 28.00 ab 30.33 a 26.58 a 25.50 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Tabel 6 peningkatan takaran dregs 10, 15, dan 20 ton/ha pada kondisi tidak tergenang cenderung meningkatkan jumlah anakan maksimum dan anakan produktif namun tidak konsisten. Sedangkan pada kondisi tergenang setiap peningkatan takaran dregs dari 10 ke 15, dan 15 ke 20 dapat meningkatkan jumlah anakan maksimum dan jumlah anakan produktif. Tanah gambut yang mendapat aplikasi dregs akan mendapat suplai unsur Ca, Mg, Na, dan K, yang berarti dapat menaikkan pH tanah juga nilai KB. Kondisi ini membuat tanah gambut memiliki kemampuan menyimpan dan melepaskan kation sehingga unsur hara esensial lebih tersedia dan mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Sehingga menyebabkan pupuk N dan K yang sudah diberikan selama pertanaman maupun yang terkandung di dalam dregs dapat diserap lebih baik dan efisien oleh tanaman. Unsur nitrogen dapat menghasilkan protein yang lebih banyak, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik diantaranya adalah semakin

Dosis Dregs (ton/ha)

meningkatnya pertambahan jumlah anakan maksimal . Unsur K berperan dalam pembentukan jumlah anakan maksimal dan anakan produktif. Semakin tinggi hara K yang dapat diserap tanaman akan meningkatkan kemampuan tanaman mentranslokasikan berbagai unsur hara dari akar ke daun. Menurut Hakim, dkk (1986) unsur K mempunyai fungsi penting dalam proses fisiologi tanaman. Kalium berperan dalam proses metabolisme dan mempunyai pengaruh khusus dalam adsorbsi hara, pengaturan respirasi, transpirasi, kerja enzim dan translokasi karbohidrat .

4.5 Berat Berangkasan (gram/pot) Hasil pengamatan berat berangkasan disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.6 memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air dan interaksi keduanya menunjukkan pengaruh tidak nyata, sedangkan dosis dregs berpengaruh nyata terhadap berat berangkasan tanaman. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rerata berat berangkasan per pot padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang (gram/pot). Kondisi Air Tidak tergenang Tergenang 26.99 c 20.40 c 42.51 b 42.27 b 45.56 b 61.28 a 52.30 b 61.79 a 41.84 a 46.44 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Dosis Dregs (ton/ha) 0 10 15 20

Tabel 7 menunjukkan pemberian dregs 10, 15, dan 20 ton/ha berbeda nyata meningkatkan berat berangkasan tanaman padi dibandingkan tanpa pemberian dregs pada kondisi tidak tergenang dan tergenang. Peningkatan takaran dregs 10, 15, dan 20 ton/ha secara berturut meningkatkan berat berangkasan 36.5%, 40,7%, dan 48,3% pada kondisi tidak tergenang dan 51,7%, 66,7%, dan 66,9 % pada kondisi tergenang, dibandingkan dengan tanpa pemberian dregs. Peningkatan tersebut akibat berkurangnya pengaruh buruk asam-asam fenolat dan peningkatan ketersediaan hara makro terutama P, K, Ca, dan Mg serta hara mikro seperti Fe, Cu, dan Zn melalui pemberian dregs karena dregs mengandung unsur-unsur tersebut (Tabel 2). Kation polivalen Fe, Cu, Zn, yang dibebaskan dari dregs bereaksi dengan asam-asam organik membentuk senyawa komplek dimana kation berfungsi sebagai jembatan dalam mengikat asam organik karena mempunyai gugus fungsional karboksil dan fenolik. Hal ini didukung oleh hasil penelitian Salampak (1993), Rachim (1995), Saragih (1996), Prasetyo (1996) dalam Nelvia (2009) yang menyatakan bahwa kation Cu+2, Zn+2, Ca+2, Al+3 dan Fe+3 dapat mengurangi pengaruh buruk asam-asam fenolat melalui pembentukan senyawa komplek (khelat). Kation Fe memiliki afinitas tertinggi dan paling stabil berinteraksi. Asam fenolat bersifat fotoksik bagi tanaman dan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, dimana asam-asam fenolat ini berpengaruh langsung terhadap proses biokimia dan fisiologis tanaman serta penyediaan hara di dalam tanah. Dengan penurunan konsentrasi asam-asam fenolat, berarti menyebabkan perbaikan lingkungan perakaran yang akan

memacu pertumbuhan dan perkembangan akar sehingga volume akar akan meningkat, akibatnya serapan hara terutama P, K, Cu, dan Zn oleh tanaman meningkat karena unsur tersebut berperan dalam proses fisologi seperti fotosintesis dan respirasi. Pertumbuhan yang membaik akibat perbaikan beberapa sifat tanah (sebelumnya telah dijelaskan) dengan pemberian dregs

memungkinkan serapan hara dan berat berangkasan kering tanaman meningkat sercara nyata. Rini (2005), menyatakan bahwa pemberian dregs yang berfungsi sebagai amelioran dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, dimana dregs telah dapat membuat tanah gambut menjadi produktif dengan cara meningkatkan pH dan ketersediaan unsur hara dalam tanah gambut. Lakitan (2004) menyatakan bahwa meningkatnya jumlah unsur hara yang dapat diserap tanaman secara tidak langsung akan meningkatkan proses fotosintesis yang akan menghasilkan fotosintat. Selanjutnya fotosintat yang dihasilkan disimpan dalam jaringan batang dan daun, hasil penumpukkan berat kering inilah yang kemudian dapat meningkatkan berat berangkasan kering tanaman. Dimana berat kering mencerminkan status nutrisi tanaman atau kemampuan tanaman untuk menyerap unsur hara. Sedangkan Jumin (2002) menyatakan pesatnya pertumbuhan tanaman tidak terlepas dari ketersediaan unsur hara di dalam tanah. Ketersediaan hara akan menentukan produksi berat berngkasan kering tanaman. Berat berangkasan kering tanaman padi yang terendah diperoleh pada perlakuan tanpa pemberian dregs (Gambar 2a dan 2b). Hal ini terjadi karena pada perlakuan tanpa pemberian dregs kebutuahn unsur hara tidak terpenuhi.

Akibatnya peran dregs dalam membantu menyediakan unsur hara kurang terlihat sehingga menghambat pertumbuhan tanaman yang akan menurunkan total berangkasan kering tanaman. Sementara pada pemberian dregs 10-20 ton/ha tanaman kurang tanggap, karena pada kisaran dosis tersebut justru proses fisiologis yang terjadi pada tanaman terganggu karena dosis tanaman terlalu rendah dan tinggi.

Umur 42 hari

Umur 95 hari

Gambar 2a. Kondisi tidak tergenang

Umur 42 hari

Umur 95 hari

Gambar 2b. Kondisi tergenang

4.6 Berat Gabah Kering Giling (gram/pot)

Hasil pengamatan berat gabah kering giling disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.7 2 memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air menunjukkan pengaruh tidak nyata, sedangkan dosis dregs dan interaksi keduanya berpengaruh nyata terhadap berat gabah kering giling tanaman. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Rerata berat gabah kering giling per pot padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang (gram/pot) Dosis Dregs Ton/ha 0 10 15 20 Kondisi Air

Tidak Tergenang Tergenang 30.01 cd 20.02 d 53.72 a 35.39bc 52.98 a 54.81 a 45.27 ab 54.94 a 45.49 a 41.29 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Data Tabel 8 menunjukkan bahwa kondisi air tidak berbeda nyata

terhadap berat gabah kering giling tanaman padi. Hal ini disebabkan karena padi IR-64 bisa digunakan pada padi sawah atau padi gogo. Sehingga kondisi air itu sendiri tidak mempengaruhi berat gabah kering giling tanaman secara nyata baik pada kondisi tergenang maupun kondisi tidak tergenang. Tabel 8 menunjukkan pemberian dregs 10, 15, dan 20 ton/ha secara nyata meningkatkan berat gabah kering giling tanaman padi dibandingkan tanpa pemberian dregs pada kondisi tidak tergenang dan tergenang. Berat gabah kering giling cenderung menurun pada peningkatan takaran dregs dari 10 ke 15, dan 15 ke 20 ton/ha pada kondisi tidak tergenang, sebaliknya meningkat secara nyata

akibat peningkatan takaran dregs dari 10 ke 15, dan 15 ke 20 pada kondisi tergenang. Pemberian dregs dengan takaran yang lebih besar (10, 15, dan 20 ton/ha) meningkatkan berat gabah kering giling sebesar 44,1%, 43,3%, dan 33,27% dibandingkan dengan tanpa pemberian dregs pada kondisi tidak tergenang dan 43,4%, 63,4%, dan 63,6% dibandingkan dengan tanpa pemberia dregs pada kondisi tergenang. Terjadinya peningkatan kuantitas dan kualitas produksi padi tersebut tidak terlepas dari peningkatan pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi pada fase vegetatif berupa peningkatan tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum dan anakan produktif, dan berat berangkasan kering, dimana peningkatan ini berdampak pada peningkatan luas areal fotosintesis. Peningkatan luas areal fotosintesis akan meningkatkan hasil fotosinteis (fotosintat). Fotosintat yang

dihasil dalam proses fotosintesis akan dimanfaatkan tanaman dalam proses fisiologi dan metabolisme seperti proses respirasi dan pembentukan berbagai senyawa organik. Fotosintat yang dihasilkan berperan sebagai sumber energi bagi setiap sel, bahan baku dalam pembentukan berbagai senyawa organik dalam jaringan tanaman. Dalam hal ini digunakan untuk pengisian biji yang pada akhirnya meningkatkan berat gabah tanaman padi. Peningkatan tersebut juga akibat berkurangnya pengaruh buruk asam-asam fenolat dan peningkatan ketersediaan hara makro terutama P, K, Ca, dan Mg serta hara mikro seperti Fe, Cu, dan Zn karena dengan penurunan konsentrasi asam-asam fenolat , berarti menyebabkan perbaikan lingkungan perakaran yang akan memacu pertumbuhan dan perkembangan akar sehingga volume akar akan

meningkat, akibatnya serapan hara terutama P, K, Cu, dan Zn oleh tanaman meningkat karena unsur tersebut berperan dalam proses fisologi seperti fotosintesis. Pada fase ini tanaman membutuhkan suplai hara P yang cukup. Hakim, dkk (1986) mengatakan bahwa fosfor merupakan salah satu unsur hara yang berfungsi untuk mempercepat pembungan serta pemasakan biji buah. Sehingga dengan ketersediaan hara P yang rendah, berpengaruh terhadap bobot buah yang dihasilkan. Lingga (2005), menambahkan bahwa unsur P sangat penting bagi tanaman, terutama pada bagian yang berhubungan dengan perkembangan generatif, seperti pembungaan dan pembentukan biji. P berguna untuk menyimpan energi dan transfer energi serta penyusun senyawa biokimia (asam nukleat, koenzim, nukleotida, foto protein, fosfolipid). P yang cukup dibutuhkan pada saat reproduksi. Hal diatas di dudukung oleh Setyamijaya (1986), yang menyatakan bahwa fungsi P adalah mempercepat pembungaan serta pemasakan buah dan biji. Pada pemberian dregs 20 ton/ha justru memberikan hasil terendah meskipun memiliki kandungan P yang tinggi bila dibandingkan dengan setiap perlakuan, hal ini disebabkan nilai pH pada takaran 20 ton/ha sudah termasuk tinggi untuk tanah gambut sehingga mengakibatkan masalah yang serius yaitu menurunnya komponen hasil produksi. Dimana bila pH tinggi, P menjadi kurang tersedia bagi tanaman karena diikat oleh Ca menjadi senyawa yang tidak larut.

4.7 Berat 1000 biji gabah per pot (gram) Hasil pengamatan berat 1000 biji gabah disajikan pada Lampiran 1.1 dan 1.2, sedangkan hasil sidik ragamnya dapat dilihat pada Lampiran 2.7 yang

memperlihatkan bahwa perbedaan kondisi air menunjukkan pengaruh yang nyata, sedangkan dosis dregs dan interaksi keduanya berpengaruh tidak nyata terhadap berat berat 1000 biji gabah. Untuk melihat lebih jelas pengaruh interaksi kondisi air dan takaran dregs dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Rerata berat 1000 biji per pot padi IR-64 pada kondisi tergenang dan tidak tergenang (gram/pot). Dosis Dregs (ton/ha) 0 10 15 20 Kondisi Air

Tidak tergenang Tergenang 24.17 a 22.76 a 23.40 a 23.09 a 24.25 a 23.71 a 24.26 a 24.82 a 24.02 a 23.59 a Keterangan; Angka-angka yang tidak diikuti huruf kecil yang sama berarti berbeda nyata pada taraf 5% menurut uji Duncan. Table 9 menunjukkan bahwa kondisi air, dosis dregs dan interaksi antara kondisi air dan dosis memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata terhadap berat 1000 biji tanaman padi. Sehingga kondisi air itu sendiri tidak mempengaruhi berat 1000 biji tanaman secara nyata baik pada kondisi tergenang maupun kondisi tidak tergenang. Tabel 9 menujukkan bahwa berat 1000 biji padi perpot terberat pada pemberian 20 ton dregs/ha dan terendah pada pemeberian 10 ton dregs/ha hal ini dikarenakan ukuran biji padi pada dosis ini lebih kecil dibandingkan dengan takaran 15 dan 20 ton dregs/ha sehingga berat biji perpotnya jadi semakin ringan. Hal ini dipengaruhi oleh pemberian dregs pada tanah gambut karena pemberian dregs pada tanah gambut yang mampu meningkatkan biji padi yang berarti mampu membantu serapan hara tanaman terutama P yang banyak terknadung

dalam biji. Ketersediaan P juga dipengaruhi oleh fungsi dregs yang dapat menekan asam-asam organik yang meracun bagi tanaman karena unsure Fe, Cu, Al, dan Zn yang terkandung dalam dregs dapat membentuk senyawa kompleks/khelat dengan asam-asam organik sehingga pengikatan P dapat dikurangi dan P akan lebih tersedia. Lubis (1993) menyatakan bahwa kekurangan P yang berat akan memperlambat proses pembungaan dan pematangan yang akibatnya biji yang dihasilkan akan berkerut, karena itu kekurangan P dapat menyebabkan turunnya hasil, kualitas dan kadar protein biji. Berat 1000 biji padi erat sekali hubungannya dengan dengan besarnya biji. Hal ini berarti semakin sempurna perkembangan biji, semakin tinggi pula berat 1000 biji. Menurut Goldway dan Fisher (1992) bahwa pertambahan biji (ukuran biji) tergantung pada faktor-faktor yang mengendalikan suplai asimilat untuk pengisian biji.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari hasil penelitian pengaruh pemberian amelioran dregs pada medium gambut terhadap emisi gas rumah kaca (CO2 dan CH4), pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Oryza sativa. L) diperoleh kesimpulan bahwa: 1. Pemberian amelioran dregs berpengaruh tidak nyata terhadap penurunan emisi CO2 dan CH4 dibandingkan kontrol pada pertanaman padi dalam pot umur 42 hari pada kondisi tidak digenangi dan digenangi.

2. Pemberian amelioran dregs meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan maksimum dan anakan produktif, berat berangkasan kering, berat gabah kering giling serta berat 1000 biji tanaman. 5.2 Saran Untuk menilai pengaruh kemampuan dregs terhadap penurunan emisi CO2 dan CH4 perlu dilakukan pengukuran waktu yang lebih lama.

DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1990. Budidaya Tanaman Padi. Aksi Agraris kanisius. Yayasan Kanisius. Yogyakarta. 172 hal. Agus, F. 2009. Cadangan Karbon, Emisi Gas Rumah Kaca dan Konservasi Lahan Gambut. Prosiding Seminar Dies Natalis Universitas Brawidjaya ke 46, 31 Januari 2009, Malang. Agus, F., T. June, H. Komara, H. Syahbuddin, E. Runtunuwu, dan E. Susanti. 2008. Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dari Lahan Perkebunan. Laporan Tahunan 2008, Konsorsium Litbang Perubahan Iklim Sektor Pertanian. Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian, Bogor. Agus,F., dan Subiksa Made, 2008. Pembentukan dan Klasifikasi Gambut dalam Lahan Gambut: Potensi Untuk Pertanian dan Aspek

Lingkungan. Balai Penelitian Tanah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. Hakim, N., Y. Nyakpa,A. Lubis, S. Nugroho, M. Saul, M. A. Diha,G.B. Hongdan H. H. Baley. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung Halim, A dan G. Soepardi. 1987. Perbaikan Tanah Gambut Pedalaman dengan Peningkatan Kejenuhan Basa dalam Budidaya Tanaman Kedelai. Bahan Seminar Nasional Gambut I di Yogyakarta. 12 hal. Handayani, Iin, 2003. Studi Pemanfaatan Gambut Asal Sumatra :Tinjauan Fungsi Gambut Sebagai Bahan Ekstraktif, Media Budidaya Dan Peranannya Dalam Retensi Carbon. Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu, Bengkulu. Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta. 286 hal. Ismunadji, M dan Sismiyati, Roechan. 1988. Hara Mineral Tanaman Padi dalam Padi Buku I. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor. 319 hal Lubis, E., Z. Harahap, M. Direjo dan Suwarno. 1993. Seleksi Galur Padi Gogo Untuk Toleransi Terhadap Aluminium. Makalah Disampaikan Pada Kongres Perhimpunan Pemuliaan Indonesia. Jakarta Magnusson, T. 1993.Carbon Dioxcide and Methanogen Formation in Forest Mineral and Peatsoil During Aerobic and Anaerobic Incubation. Soil biol. Biochem., 25, 877-883. Mudiyarso, D., U. Rosalina., K. Hairiah., L. Muslihat., I.N.N. Suryadiputra., A. Jaya. 2004. Petunjuk Lapangan Pendugaan Cadangan Karbon pada Lahan Gambut. Proyek Climate Change, Forest and peatlands in Indonesia. Wetlands International-Indonesia Programme Dan Wildlife Habitat Canada. Bogor. Najiyati, S., A. Asmana., dan I.N.N. Suryadiputra. 2005. Pemberdayaan Masyarakat di Lahan Gambut. Proyek Climate Change, Forest and peatlands in Indonesia. Wetlands International-Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor.

Nelvia.2004. Penggunaan Amelioran Fe+ dan Fosfat Alam Pada Tanah Gambut Dengan Beberapa Kondisi Air Dalam Kaitannya Dengan Kandungan P Tanaman Dan Emisi Karbon. Disertasi. Noor, M. 2001. Pertanian Lahan Gambut : Potensi dan Kendala. Kanisius. Yogyakarta. 174 hal. Parish, F., A. Sirin, D. Charman, H. Joosten, T. Minayeva, M. Silvius, and L. Stringer (Eds.). 2007. Assessment on Peatlands, Biodiversity and Climate Change: Main Report. Global Environment Centre, Kuala Lumpur and Wetlands International, Wageningen. Prasetyo, T. B. 1996. Perilaku Asam-asam Organik Meracun Pada Tanah Gambut yang diberi Garam Na dan beberapa Unsur Mikro dalam Kaitannya dengan Hasil Padi [Disertasi]. Bogor. Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 190 hal. Pusat Penelitian Tanah. 1983. Jenis dan Macam Tanah di Indonesia untuk Keperluan Survey dan Pemetaan Tanah Daerah Transmigrasi. Terms of Reference Proyek Penelitian Pertanian Menunjang Transmirgasi. Pusat Penelitian Tanah Bogor. Rachim, Y. 2000. Penggunaan Logam-Logam Polivalen untuk Meningkatkan Ketersediaan Phospat dan Produksi Tanah gambut. IPB. Bogor Rini. 2005. Penggunaan Dregs (Limbah Bagian Recovery Pabrik Pulp) Dan Fly Ash (Abu Sisa Boiler Pembakaran Pabrik Pulp) Untuk Meningkatkan Mutu Dan Produktivitas Tanah Gambut. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Riau. Pekanbaru. Sabiham, S. 1997. Penggunaan kation terpilih untuk menurunkan asam-asam fenolat toksik dalam tanah. Salampak. 1999. Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut yang Disawahkan dengan Pemberian Bahan Amelioran Tanah Mineral Berkadar Besi Tinggi. Disertasi Program Pascasarjana-IPB. Bogor. Saragih, E.S. 1996. Pengendalian Asam-Asam Organik Meracun dengan Penambahan Fe (III) pada Tanah Gambut Jambi, Sumatera. Tesis S2. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Setiadi, B. 1996. Gambut: Tantangan dan Peluang. Editor. Himpunan Gambut Indonesia (HGI) Departemen Pekerjaan Umum. Situmorang, R. Sudadi, U. 2001. Bahan Kuliah Tanah Sawah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Soil Survey Staff. 2003. Key to Soil taxonomy. 9th Edition. United States Department of Agriculture. Natural Resources Conservation Service. Stevenson, F.J. 1994. Humus chemistry. Genesis, composition, reaction. A Wiley-Interscience Publ. John Wiley & Sons. 2nd ed. New York. hal 496. Subagyo, Marsoedi dan Karama, S., 1996. Prospek Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian dalam Seminar Pengembangan Teknologi Berwawasan Lingkungan untuk Pertanian pada Lahan Gambut, 26 September 1996. Bogor. Sudirman dan Iwan. S.A. 2000. Mina Padi. Penebar Swadaya. Jakarta. Suparyono dan Setiyanto, A. 1993. Padi. Penebar Swadaya. Jakarta. Tan, K.H. 1993. Principles of soil chemistry. Marcell Dekker, Inc. New York. Hal 362. Tsutsuki & F.N. Ponnamperuma. 1987. Behavior of anaerobic decomposition products in submerged soils. Soil Sci. Plant. Nutr. 33(1):13-33. Dalam Nelvia 2004. Wahyunto, H. Subagjo, S. Ritung, and H. Bekti. 2007. Map of Peatland Distribution Area and Carbon Content in Papua. Wetland International-Indonesia Program and Wildlife Habitat Canada (WHC). Dalam Fahmudin Agus Wahyunto, S. Ritung, and H. Subagjo. 2003. Map of Peatland Distribution Area and Carbon Content in Sumatra. Wetland InternationalIndonesia Program and Wildlife Habitat Canada (WHC). Dalam Fahmudin Agus Widjaya-Adhi, I. P. G. 1988. Physical and Chemical Characteristics of Peat Soil of Indonesia. IAARD Journ. 10 (3) : 59-64.

Zaini, Z. A., Sofyan. dan Kartaatmadja. 2002. Pengelolaan Hara P dan K pada Padi sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 168 hal.

Lampiran 1. Hasil Pengamatan 1.1. Kondisi Tidak Tergenang

% BERAT BERAT BERAT GABAH TINGGI TINGGI JUMLAH JUMLAH GABAH GABAH 1000 HAMPA BERAT ANAKAN ANAKAN / POT KERING PERLAKUAN TANAMAN TANAMAN BIJI / POT BERANGKASAN UMUR 21 UMUR 42 GILING HARI (cm) HARI (cm) MAKSIMUM PRODUKTIF /POT

EMISI CO2

EMISI CH4

DO I DO II DO III D1 I D1 II D1 III D2 I D2 II D2 III D3 I D3 II D3III

36 39 44 50 50 48 53 53 53 54 55 54

50.5 50.2 56 66 65 61 72 67 66 67 65 65.5

15 22 24 35 39 33 43 34 27 43 34 30

16 20 22 29 31 32 30 31 24 29 33 22

33.38 42.38 31.22 63.5 66.17 64.87 64.1 71.69 55.19 57.66 46.35 59.39

27.78 35.41 26.84 52.08 54.71 54.37 53.1 59.72 46.12 47.29 38.63 49.89

26.17 24.43 21.91 21.97 24.17 24.06 24.21 24.49 24.06 24.47 24.2 24.12

2.19 0.46 3.04 1.67 2.08 3.76 1.68 1.99 1.09 1.87 2.31 2.52

21.05 30.84 29.09 41.84 39.82 45.87 43.3 49.09 44.31 59.24 54.21 43.45

2278.37 2442.35 10183.8 2787.06 2411.75 4315.14 3598.01 2962.51 5451.55 3116.7 3321.06 2620.44

834.7 894.8 3731 1021 320.8 1576 1318 1085 1997 1142 1217 960

Lampiran 1.2 Kondisi Tergenang % BERAT BERAT BERAT GABAH GABAH GABAH 1000 HAMPA BERAT / POT KERING BIJI / POT BERANGKASAN

TINGGI TINGGI JUMLAH JUMLAH PERLAKUAN TANAMAN TANAMAN ANAKAN ANAKAN UMUR 21 UMUR 42 HARI (cm) HARI (cm) MAKSIMUM PRODUKTIF DO I DO II DO III D1 I D1 II D1 III D2 I D2 II D2 III D3 I D3 II D3III 32 38 34 47 49 49 51 50 51 50 50 46 44.9 48.7 48 68 64.9 65.6 63.5 68.1 70.1 68.4 69.4 63.7 20 25 15 41 21 36 52 44 39 45 46 50 16 24 12 23 20 26 34 32 28 33 31 27

EMISI CO2

EMISI CH4

27.55 31.3 15.94 54.01 38.41 36.56 73.56 69.64 59.39 69.64 69.52 58.1

21.63 25.84 12.6 44.26 31.71 30.2 60.56 57.77 46.12 57.77 58.55 48.5

21.99 22.82 23.47 23.59 24.56 21.13 23.38 24.27 23.48 26.26 23.8 24.42

3.5 1.19 1.3 1.8 1.17 1.94 1.29 0.82 2.68 1.07 1.59 2.52

19.75 26.28 15.19 46.41 33.21 47.21 60.68 73.13 50.05 66 66.82 52.56

6641.49 7343.52 14210.2 11343.5 5334.25 12107.1 16624.9 30194.7 17240.8 2290.39 11037.3 6945.15

2416 2721 4669 4156 1954 4487 6091 11189 6316 845 40989 2515

Lampiran 2. Hasil Sidik Ragam 2.1 Tabel Sidik Ragam Emisi CO2 (transformasi log y) Sumber db Keragaman Kondisi air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 4.317502 % Jumlah Kuadrat 1.24849217 0.21202065 0.05277829 0.35594249 Kuadrat Tengah 1.24849217 0.10601032 0.02638914 0.11864750 F Hitung 47.31* 4.02ns 2.78ns 1.35ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

0.17301097 0.05767032 0.51278347 0.04273196 2.55502804 KK 2 = 5.494098 %

2.2 Tabel Sidik Ragam Emisi CH4 (transformasi log y) Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 13.861667 % Jumlah Kuadrat 1.97445359 0.19804212 0.43085686 0.28174526 Kuadrat Tengah 1.97445359 0.09902106 0.21542843 0.09391509 F Hitung 9.17ns 0.46ns 0.70ns 0.29ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

0.11583530 0.03861177 1.62006992 0.13500583 4.62100306 KK 2 = 10.97337 %

2.3 Tabel Sidik Ragam Tinggi Tanaman Padi Umur 42 hari (cm) Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 4.212715 % Jumlah Kuadrat 2.60041667 1.21333333 13.763333 1282.744583 Kuadrat Tengah 2.60041667 0.60666667 6.881667 427.581528 F Hitung 0.38ns 0.09ns 52.31* 1.91ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

46.924583 15.641528 98.083333 15.641528 1445.329583 KK 2 = 4.591159 %

2.4 Tabel Sidik Ragam Jumlah Anakan Maksimum Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 10.454381 % Jumlah Kuadrat 126.0416667 106.7500000 25.083333 1674.791667 Kuadrat Tengah 126.0416667 53.3750000 12.541667 558.263889 F Hitung 10.05ns 4.26ns 13.00* 1.87ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

240.458333 80.152778 515.500000 42.958333 2688.625000 KK 2 = 19.34837 %

2.5 Tabel Sidik Ragam Jumlah Anakan Produktif Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 7.477324 % Jumlah Kuadrat 7.04166667 53.08333333 7.5833333 505.1250000 Kuadrat Tengah 7.04166667 26.54166667 3.7916667 168.3750000 F Hitung 1.86ns 7.00ns 11.02* 2.37ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

108.7916667 36.2638889 183.3333333 15.2777778 864.9583333 KK 2 = 15.00933 %

2.6 Tabel Sidik Ragam Berat Berangkasan (gram) Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 11.196696 % KK 2 = 16.27693 Jumlah Kuadrat 126.8680167 135.3065583 48.854808 4042.011933 444.152583 619.475033 5416.668933 Kuadrat Tengah 126.8680167 67.6532792 24.427404 1347.337311 148.050861 51.622919 F Hitung 5.19ns 2.77ns 26.10* 2.87ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

2.7 Tabel Sidik Ragam Berat Gabah/pot (gram) Sumber db Keragaman Kondisi Air 1 Ulangan 2 Galat 1 2 Takaran 3 dregs Interaksi 3 Galat 2 12 Total 23 KK 1 = 15.765314 % Jumlah Kuadrat 113.8832667 291.7663000 136.906133 4346.807700 Kuadrat Tengah 113.8832667 145.8831500 68.453067 1448.935900 F Hitung 1.66ns 2.13ns 44.74* 10.18* F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

988.716967 329.572322 388.658633 32.388219 6266.739000 KK 2 = 10.84425 %

2.8 Tabel Sidik Ragam Berat 1000 biji (gram) Sumber db Jumlah Kuadrat Keragaman Kuadrat Tengah Kondisi Air 1 1.07950417 1.07950417 Ulangan 2 2.77625833 1.38812917 Galat 1 2 0.00400833 0.00200417 Takaran 3 6.03637917 2.01212639 dregs Interaksi 3 2.96254583 0.98751528 Galat 2 12 20.73320000 1.72776667 Total 23 33.59189583 KK 1 = 0.188024 % KK 2 = 5.520657 % Keterangan : * berbeda nyata, ns tidak berbeda nyata F Hitung 538.63* 692.62* 1.16ns 0.57ns F table (0.05) 18.51 19.00 3.49 3.49

47

Lampiran 3. Deskripsi Umum Tanaman Padi IR-64 Nama Varietas Kelompok Golongan Umur Tanaman Bentuk Tanaman Tinggi Tanaman Anakan Produktif Warna Kaki Warna Batang Warna Daun Telinga Warna Daun Warna Muka Daun Posisi Daun Daun Bendera Bentuk Gabah Bobot 1000 Butir Rata-Rata Produksi Ketahanan Terhadap Hama : IR 64 : Padi Sawah : Cere : 115 hari : Tegak : 85 cm : 25 batang : Hijau : Hijau : Tidak Berwarna : Hijau : Kasar : Tegak : Tegak : Ramping, Panjang : 24,1 g : 5 ton/ha :- Tahan wereng coklat biotip 1,2 dan Wereng hijau Ketahanan Terhadap Penyakit : - Agak tahan bakteri busuk hawar daun (Xanthomonas Oryzae) : - Tahan kerdil rumput Anjuran : -Baik ditanam untuk sawah irigasi dataran rendah di Jawa Timur : - Cukup baik untuk padi rawa/pasang surut Dilepas Tahun : 1986

48

Lampiran 4. Bagan Percobaan


25 cm
(D2) 1 (D2) 1 (D2) 1 (D2) 1

25 cm
(D2) 1 (D2) 1

25 cm
(D2) 1 (D2) 1 (D2) 1

25 cm
(D2) 1 (D2) 1 (D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

(D2) 1

KETERANGAN: T TT = Kondisi tergenang (Petak Utama) = Kondisi tidak tergenang (Petak Utama)

Do..D3= Perlakuan dosis dregs (Anak Petak) 1,2,3 = Ulangan

49

Lampiran 5. Kriteria penilaian sifat kimia tanah *) Nilai Sifat Kimia Tanah Sangat rendah C-organik N-total (%) P-Tersedia (Bray 2) Ca-dd (me/100gr) Mg-dd(me/100gr) K-dd (me/100gr) Na-dd (me/100gr) Ratio C/N <1 < 0,1 4 < 2,0 < 0,1 < 0,1 < 0,1 <5 Rendah 1 -2 0,1-0,2 5 - 14 2-5 0,4 1,0 0,1 0,3 0,1 0,3 5 - 10 Sedang 2,01-3 0,21- 0,5 15 - 29 6 - 10 1,1- 2,0 0,4- 0,5 0,4 0,7 11 - 15 Tinggi 3,01-5 0,51-0,75 40 - 60 11 - 20 2,1 5,0 0,6 1,0 0,8 1,0 16 - 25 Sangat tinggi >5 >0,75 > 60 > 20 > 5,0 > 1,0 >1,0 >25

Ciri kimia pH (H2O)


*

Sangat masam < 4,5

Masam

Agak masam 5,6 6,5

Netral

Agak basa 7,6- 8,4

Basa

4,5 5,5

6,6 7,5

> 8,5

) Sumber: Hardjowigeno, 2003 Nilai Sangat kurang < 39 Kurang 39-69 Cukup > 69

Sifat Tanah Si-tersedia (ppm)

50

Lampiran 6. Dosis Perhitungan Pupuk A. Perhitungan dosis dregs 1. Dosis dregs 10 ton/ha =

= 50 g dregs/pot

2. Dosis dregs 15 ton/ha =

= 75 g dregs/pot

3. Dosis dregs 20 ton/ha =

= 100 g dregs/ pot

51

B. Kebutuhan Dosis Pupuk Dasar 1. Dosis Pupuk Urea

= 1,75 g Urea/pot

2. Pupuk TSP

= 0,75 g TSP/pot

3. Pupuk KCL

= 0,75 g KCL/pot

52

Lampiran 7. Cara Kerja Pengukuran Emisi Gas CO2 Dan Gas CH4 Pengukuran emisi CO2 dan CH4 dilakukan dengan dengan menggunakan sungkup (Chamber) yang terbuat dari flexiglass berukuran 0,75 m x 0,20 m x 0,20 m (sesuai dengan luas permukaan pot) dan dilengkapi dengan termometer dan kipas angin (Gambar 3). Kipas angin berfungsi untuk mengaduk (sirkulasi) udara dalam sungkup agar homogen, sedangkan termometer untuk mengukur suhu udara dalam sungkup pada saat pengambilan sample udara. Alat lain seperti siring untuk pengambilan sampel udara dan tabung vacum (venojet) yang tutup karetnya dilak dengan selotip/lakband agar penutup tidak mudah lepas akibat tekanan udara dalam tabung. Selama periode pengambilan sampel, kipas angin diaktifkan dan suhu udara dalam sungkup di catat. Pengambilan sampel dilakukan pada awal tanam 4 minggu setelah tanam. Sampel udara dalam sungkup diambil dengan siring dengan interval pengambilan 5 menit, yaitu pada menit ke 0, 5, 10, 15 dan 20 menit. Selanjutnya sampel udara dalam siring dipindahkan segera ke dalam tabung vacum (venojet) dan untuk menghindari kebocoran udara, bekas suntikan pada tutup tabung diberi lem silikon. Untuk menghindari pengaruh kenaikan suhu dan mengecek kebocoran semua tabung sampel direndam dalam air. Analisis konsentrasi CO2 dan CH4 dilakukan dengan menggunakan Gas Kromatografi di Laboratorium Lingkunangan Pertanian Jakenan Jaken Pati Jawa Tengah. Penghitungan laju emisi CH4 dan CO2 menggunakan rumus (Boer et al. 1996), dalam (Nelvia, 2004)

53

dimana : M [CH4]/t = emisi CH4 atau CO2 (mg m-2 jam-1) = perubahan konsentrasi CH4 atau CO2 dalam sungkup setela periode t menit. Nilai 16,123 = berat molekul CH4; dan 44,01= berat molekul CO2 273,2 t H = suhu kalvin; 60 jumlah menit perjam; 22,41 volume gas = rata-rata suhu udara dalam sungkup. = tinggi sungkup

54

Gambar 3. Sungkup untuk pengambilan sample CO2 dan CH4. Termometer

Siring Plastik 10 ml
Kipas

Tinggi Sungkup

Batrai