Anda di halaman 1dari 4

BADAN AKREDITASI NASIONAL SEKOLAH/MADRASAH

BADAN AKREDITASI PROVINSI SEKOLAH/MADRASAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA


Sekretariat : Jl. Jendral Gatot Subroto Kav. 40 41 Jakarta Selatan Telp. 021 5253358 Fax 021 5270781

Nomor Sifat Lampiran Hal

: 01/BAP-S/M/DKI/2012 : Penting :: Norma, Tata Krama dan Tata Tertib Pelaksanaan Akreditasi Sekolah/Madrasah

Februari 2012 Kepada Yth. 1. Asesor Akreditasi Sekolah/Madrasah 2. Kepala TK/RA, SD/MI, SMP/MTs SMA/MA, SMK dan PLB di Jakarta

SURAT EDARAN Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus berpedoman kepada norma-norma, tata krama dan tata tertib yang sesuai dengan tujuan dan fungsi akreditasi, sebagaimana tercantum dalam kebijakan dan pedoman akreditasi sekolah/madrasah yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Tahun 2010, yang menjadi pegangan dan komitmen bagi semua pihak yang terlibat di dalam proses akreditasi, Dengan ini diminta perhatian Saudara akan hal-hal sebagai berikut : A. Norma Pelaksanaan Akreditasi: 1. Kejujuran Dalam pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data administratif dan informasi pendukung : a. Pihak sekolah/madrasah harus secara jujur menyampaikan data dan informasi yang dibutuhkan. b. Sekolah/Madrasah harus menyediakan dan memberikan data yang diperlukan. c. Sekolah/Madrasah harus mengijinkan tim asesor untuk melakukan pengamatan, wawancara dengan warga sekolah/madrasah, dan pengkajian ulang data pendukung. d. Proses verifikasi dan validasi data serta penjaringan informasi lainnya oleh tim asesor harus dilaksanakan dengan jujur dan benar, sehingga data dan informasi yang diperoleh bermanfaat dan obyektif. 2. Independensi a. Pengisian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung Sekolah/Madrasah harus mandiri dan tidak terpengaruh oleh intervensi siapa pun dan dari pihak mana pun serta bebas dari pertentangan kepentingan (conflict of interest). b. Tim asesor dalam melakukan visitasi, harus mandiri dan tidak terpengaruh oleh intervensi siapa pun dan dari pihak mana pun. c. Asesor tidak diperbolehkan menerima layanan dan pemberian dalam bentuk apa pun sebelum, selama, dan sesudah proses visitasi yang mungkin akan berpengaruh terhadap hasil visitasi. d. Keputusan tim asesor harus bebas dari kepentingan, baik dari pihak sekolah maupun tim asesor itu sendiri.

3. Profesionalisme a. Asesor harus memahami ketentuan-ketentuan dan prosedur yang berlaku dalam pelaksanaan akreditasi. b. Asesor harus memiliki kecakapan dalam menggunakan perangkat akreditasi sekolah/madrasah dan dapat memberikan penilaian berdasarkan profesionalismenya. c. Asesor harus mampu memberikan saran-saran atau masukan yang membangun dalam rangka perbaikan, pengembangan, dan peningkatan kinerja sekolah/madrasah. d. Asesor harus bersedia menerima pernyataan puas dan/atau tidak puas dari sekolah/madrasah yang divisitasi. 4. Keadilan a. Semua sekolah/madrasah harus diberlakukan sama dengan tidak memandang apakah status sekolah/madrasah negeri atau swasta. b. Sekolah/Madrasah harus dilayani sesuai dengan norma, kriteria, standar, serta mekanisme dan prosedur kerja secara adil dan/atau tidak diskriminatif. c. Asesor tidak boleh dipengaruhi prakonsepsi maupun stigma terhadap sekolah/madrasah tertentu sehingga terbebas dari bias-bias yang mempengaruhi penilaian. 5. Kesejajaran a. Setiap responden harus dipandang sejajar dalam rangka pemberian data dan informasi. b. Dalam pelaksanaan visitasi, kedudukan antara asesor dengan warga sekolah/madrasah adalah sejajar. c. Asesor dilarang melakukan penekanan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 6. Keterbukaan a. Sekolah/Madrasah harus terbuka dalam menyampaikan data dan informasi tentang sekolahnya sesuai dengan kondisi nyata sekolah/madrasah. b. Asesor harus transparan dalam menyampaikan penjelasan norma, kriteria, standar, prosedur, atau mekanisme kerja, jadwal dan sistem penilaian akreditasi. c. Asesor harus menjaga kerahasiaan dokumen dan informasi yang disampaikan setiap warga sekolah/madrasah. 7. Akuntabilitas a. Hasil isian instrumen akreditasi dan instrumen pengumpulan data dan informasi pendukung menjadi sumber data dan informasi mengenai profil nyata sekolah/madrasah. b. Hasil visitasi, data dan informasi dalam instrumen akreditasi digunakan sebagai bahan dalam penetapan hasil dan peringkat akreditasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. c. Sekolah/Madrasah dan asesor harus bersama-sama menjaga akuntabilitas dari proses dan hasil akreditasi. d. Jika terjadi kesalahan dan penyimpangan dalam proses visitasi atau pelanggaran terhadap norma-norma visitasi, sekolah/madrasah dapat melaporkan hal tersebut kepada BAP-S/M.

8. Bertanggung jawab a. Asesor harus berpedoman pada aturan, prosedur, dan prinsip visitasi yang sudah ditetapkan BAN-S/M. b. Sekolah/Madrasah, dan asesor harus dapat mempertanggungjawabkan semua penilaian dan keputusannya sesuai dengan aturan, prosedur, norma, dan prinsip akreditasi yang telah ditetapkan. 9. Bebas Intimidasi a. Sekolah/Madrasah, responden, maupun asesor dalam melakukan tugas dan fungsinya dalam rangka pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus bebas dari intimidasi oleh pihak mana pun. b. Asesor dalam melaksanakan visitasi tidak diperkenankan melakukan intimidasi kepada pihak sekolah/madrasah yang dapat mempengaruhi objektivitas hasil akreditasi. 10. Menjaga Kerahasiaan a. Asesor harus menjaga kerahasiaan data dan informasi yang terjaring dalam proses akreditasi. b. Data dan informasi hasil visitasi hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelaksanaan akreditasi atau kepentingan lain yang sesuai dengan tujuan akreditasi. 11. Keunggulan Mutu a. Proses akreditasi harus mendorong sekolah/madrasah berorientasi pada usaha-usaha peningkatan mutu peserta didik dan bukan sekedar untuk memperoleh peringkat akreditasi. b. Hasil akreditasi harus dijadikan dasar untuk melakukan usaha-usaha pemberdayaan, pengembangan, dan peningkatan kinerja sekolah/madrasah dalam rangka mencapai keunggulan mutu. B. Tata Krama Pelaksanaan Visitasi Hal-hal yang perlu mendapat perhatian asesor berkaitan dalam pelaksanaan visitasi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Melakukan wawancara dalam suasana yang kondusif. Menghindari kesepakatan atau bargaining dalam arti negatif. Tidak mendebat argumentasi yang disampaikan responden. Tidak menggurui responden. Tidak merasa berkedudukan lebih tinggi. Bersahabat dan membantu secara profesional. Menghindari suasana menekan. Tidak meminta sesuatu di luar keperluan akreditasi. Menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Menunjukkan kekompakan tim.

C. Tata Tertib Pelaksanaan Visitasi Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian asesor terkait dengan tata tertib dalam melaksanakan visitasi diantaranya adalah : 1. Datang tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. 2. Menunjukkan surat tugas meskipun tidak diminta. 3. Menyampaikan secara jelas mengenai tujuan, mekanisme, dan jadwal visitasi. 4. Tidak menerima pemberian dalam bentuk apapun (uang atau barang) 5. Berpakaian rapi dan sopan. Demikian edaran ini dibuat, untuk dijadikan pedoman dalam melaksanakan akreditasi sekolah/madrasah.

BAP-S/M Provinsi DKI Jakarta Ketua,

Darwin Dachlan
Tembusan : 1. Ketua Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M). 2. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta. 3. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta. 4. Kepala Suku Dinas Dikdas 5 Wilayah Kota. 5. Kepala Suku Dinas Dikmen 5 Wilayah Kota. 6. Kepala Suku Dinas Pendidikan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. 7. Kepala Kantor Kementrian Agama Kota. 8. Kepala Kantor Kementrian Agama Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. 9. Para Korwas TK/SD, SMP, SMA, SMK, PLB dan PAI.