Anda di halaman 1dari 135

ANALISIS OVERREACTION HYPHOTHESIS, DAN PENGARUH FIRM SIZE, LIKUIDITAS & BID-ASK SPREAD TERHADAP FENOMENA PRICE REVERSAL

DI BURSA EFEK JAKARTA

Tesis

Disusun oleh :

Muhammad Rizkada Dinawan NIM. C4A006197

PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2007

PENGESAHAN TESIS
Yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa tesis berjudul :

ANALISIS OVERREACTION HYPOTHESIS, DAN PENGARUH FIRM SIZE, LIKUIDITAS & BID-ASK SPREAD TERHADAP FENOMENA PRICE REVERSAL DI BURSA EFEK JAKARTA
yang disusun oleh M. Rizkada Dinawan, NIM C4A006197 telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 22 November 2007 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Pembimbing utama

Pembimbing Anggota

Prof. Dr. H. Imam Ghozali, M.Com

Drs. Agus Purwanto, M.Si, Akt

Semarang 27 November 2007 Universitas Diponegoro Program Pascasarjana Program Studi Magister Manajemen Ketua Program

Prof. Dr. Suyudi Mangunwihardjo

ABSTRAKSI
Dalam melakukan investasi, khususnya investasi dalam bentuk saham ketersediaan informasi merupakan hal yang penting. Para investor memerlukan informasi yang dipublikasikan maupun yang tidak dipublikasikan untuk menganalisis suatu saham sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli atau menjual saham. Secara informasional, pasar modal dikatakan efisien bila harga sekuritas-sekuritasnya telah mencerminkan semua informasi yang tersedia dan relevan. Namun demikian banyak penelitian yang menyebutkan adanya beberapa fenomena yang tidak sesuai dengan hipotesis pasar efisien, salah satunya adalah fenomena pembalikan harga (price reversal). Fenomena ini berhubungan dengan anomali winner-loser yang menciptakan strategi investasi kontrarian. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberadaan reaksi berlebihan dari investor dalam fenomena pembalikan harga, menganalisis apakah terdapat pengaruh dari ukuran perusahaan, likuiditas dan bid-ask spread terhadap pembalikan harga. Penelitian ini menguji return saham yang mengikuti satu hari perubahan besar harga saham di Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 2005 - 2006. Sampel dari penelitian ini menggunakan 171 perusahaan yang terdaftar di BEJ. Sampel ini kemudian diklasifikasikan lagi menjadi 48 perusahaan yang menjadi sampel winner dan 33 perusahaan yang menjadi sampel loser. Penelitian ini menggunakan data harian, sedangkan perhitungan abnormal return menggunakan Market Adjusted Model. Periode pengamatan dalam penelitian ini adalah 5 hari sebelum t=0 dan 20 hari setelah t=0. Analisis yang digunakan adalah uji t, korelasi, dan regresi berganda. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah closing price, IHSG, kapitalisasi pasar,volume perdagangan saham, serta bid dan ask price. Hasil penelitian melalui uji t mengidentifikasikan bahwa pada saham winner maupun loser terjadi pembalikan harga. Dari analisis korelasi, didapatkan hasil korelasi yang bernilai negatif dan signifikan berbeda dengan nol. Hal ini menunjukkan terdapat reaksi berlebihan dari investor. Reaksi berlebihan ini kemudian disadari investor sehingga melakukan koreksi terhadap tindakan tersebut. Pada saham winner, periode koreksi yang dibutuhkan adalah selama 13 hari setelah hari peristiwa, sedangkan saham loser hanya memerlukan waktu selama 5 hari setelah hari perubahan besar harga saham. Terdapatnya reaksi berlebihan dari investor dalam pembalikan harga mengimplikasikan bahwa pasar belum efisien, karena harga saham dapat diprediksikan berdasarkan harga saham masa lalu. Persamaan regresi untuk saham winner dan loser menunjukkan bahwa ukuran perusahaan, likuiditas dan bidask spread berpengaruh secara signifikan terhadap pembalikan harga. Hal ini berarti investor dapat mempertimbangkan faktor ukuran perusahaan, likuiditas dan bid-ask spread dalam memprediksi harga saham yang akan datang sehingga dapat melakukan contrarian strategy (strategi berkebalikan) dengan tepat. Kata kunci : overreaction, firm size, likuiditas, bid-ask spread, abnormal return, dan pembalikan harga saham.

. Akt.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “ANALISIS OVERREACTION HYPHOTHESIS. Mcom. serta doa dari berbagai pihak selama penyusunan skripsi ini. 2. Bpk. dan semangat penulis sampai terselesaikannya skripsi ini. LIKUIDITAS & BID-ASK SPREAD TERHADAP FENOMENA PRICE REVERSAL DI BURSA EFEK JAKARTA. M. Pada kesempatan ini penulis hendak menyampaikan terima kasih pada : 1. Drs Agus Purwanto. Imam Ghozali. bimbingan. nasehat. Bpk. bantuan. sebagai Dosen pembimbing II yang selalu meluangkan waktu dengan sabar dan bijaksana dalam membimbing serta memberikan arahan. nasehat.Si. DAN PENGARUH FIRM SIZE. dan semangat penulis sampai terselesaikannya skripsi ini. Penulis menyadari bahwa Tesis ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik tanpa dukungan. H. Prof. Dr. Akt sebagai Dosen Pembimbing Utama yang telah meluangkan waktu dengan sabar dan bijaksana dalam membimbing serta memberikan arahan. yang disusun sebagai syarat akademis dalam menyelesaikan studi program pasca sarjana (S2) jurusan Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang.

ST (Nana) Thanks for your support. Spd (Tatik). It’s time to reach our dreams. atas doa restu. Bapak Budi setiyono dan Ibu Sri sudarti. happiness when we were in MM Undip. Bimo Satmoko N. 5. Para dosen dan seluruh staf pengajar Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah memberikan bekal ilmu yang bermanfaat bagi penulis. A new day has come. Para staf administrasi dan tata usaha Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan studi di Magister Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Nurlianti Chandra Dewi. Mbak Ari Meidiyanti (Ari). SE (Bimo). SIP (Leli). Mbak Tatik Lestari. M Haris Muhajir. Keep our friendship forever.. motivasi. 7.. SE (SE).3. Doni Arlanda Andromeda. 6. All my best friends. . dan adik M. serta kesabaran yang berlimpah pada penulis selama ini. Terima kasih atas perhatiannya selama ini. kasih sayang. Kedua orangtuaku tercinta. Rhendria Dinawan yang senantiasa memberi semangat dan dukungan. semangat. Rachma Dinawan beserta keluarga. dukungan. 8. dan I Gusti Ayu Kencana. Kakanda M. I will always remember our togetherness. yang selalu memberikan semangat. SIP (Haris). dan motivasi kepada penulis.. Raysa Sangsthita Adiantari. 4.

oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun guna tercapainya kesempurnaan Tesis ini. Rizkada Dinawan. Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu.9. Mas azis yang ikut memberikan dukungan. 27 November 2007 Penulis. Mengingat keterbatasan pengetahuan yang penulis peroleh sampai saat ini. Semarang. penulis berharap semoga Tesis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. ST . Akhir kata. dan teman satu angkatan XXVII MM UNDIP yang membuat suasana riang dan menyenangkan. yang telah membantu penulis memberikan data dan atas tambahan ilmu yang telah diberikan. dan nasehat kepada penulis. M. mas Yeyen. Dengan rendah hati penulis menyadari bahwa Tesis ini masih jauh dari sempurna. 11. 10. Pak Ekwan hadyanto yang memberikan bimbingan dan pengertiannya selama saya bekerja di PT. Hutama Karya (Persero). Pengurus Pojok BEJ Undip. mas Putra.

At share of winner. analysing that there are influence of firm size. This research use daily data. market capitalisation. This phenomenon relate to winner-loser anomaly creating investment of contrarian strategy. availability of information represent important matter. This research aim to analyse existence of overreaction of investor in price reversal phenomenon.2006. This research test share return following one day big change of share price in Bursa Efek Jakarta (BEJ) Period 2005 . There are overreactions of investor in price reversal of implication price that market not yet is efficient. correlation. commerce of share. Sample of this research use 171 company which enlist in BEJ. because share price earn predictable pursuant to past share price. and also bid-ask price. Period of perception in this research is 5 day before t=0 and 20 day after t=0. while abnormal calculation of return uses Market Adjusted Model. Investor needs publicized information and also which do not be publicized to analyse an share before finally set mind on to buy or sell share. corrective period the required is during 13 day after event day. Data which is used in this research is closing price. Analysis the used is t test. one of them is price reversal phenomenon. This Sample is later then classified again become 48 company winner sample and 33 company becoming loser. IHSG. . This 0verreaction then latter realized by investor so that correct to action.ABSTRACT In doing investment. and doubled regression. while share of loser only needing time during 5 day after big change day of share price. liquidities and bid-ask spread to price reversal. From correlation analysis. Results of research through t test identify that at share of winner and loser happened price reversal. Equation of regression for the share of winner and loser indicate that firm size. capital market told efficient if price of stock exchange have expressed all relevant and available information. especially investment in the form of share. the result of valuable correlation is negative and significant different from zero. But so many research mentioning the existence of some phenomenon which disagrees with efficient market hypothesis. This is show there is overreaction of investor. By informational.

firm size. This means investor can consider firm size. and price reversal . liquidities. liquidities and bid-ask spread in predict of share price so that can do contrarian strategy (strategy have reverse) accurately. Key word : overreaction. abnormal return.liquidities and bid-ask spread have an effect on significant to price reversal. bid-ask spread.

............................................1........................................................................................................1............................................1 Telaah Pustaka ........... Halaman Pengesahan Tesis ................................................................................................................... 2............. 2.....................2 Perumusan Masalah ................ 2......................................................................................................1.....4 Implikasi Overreaction .................. 1.......................... Daftar Tabel ........................... 2............ 1 1 9 10 BAB II TELAAH PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS .......1.....1.......1...........5 Overreaction Hypothesis dan Pembalikan Harga Saham .....2 Anomali Pasar Modal .... 2. 2........................................ i ii iv v vi BAB I PENDAHULUAN ............................3 Overreaction Hypothesis ....................................................... 1...............................1 Latar Belakang Masalah ............................... 2.....................7 Likuiditas dan Pembalikan Harga Saham ..1........................ 2. 2...................................... 20 21 22 23 24 12 12 12 15 16 19 .1.........................................................................DAFTAR ISI Halaman Judul ...............1.......... Daftar Gambar .................3 Tujuan dan Kegunaan Penelitian .. 1........8 Bid-ask Spread dan pembalikan harga saham ...... 2...............................1 Reaksi Harga Saham Terhadap Informasi Baru ..................................... Daftar Lampiran .............................................................................6 Firm Size dan Pembalikan Harga Saham .............................9 Studi Peristiwa .........

.. 4...............................................1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional .....................................3.................3 Jenis dan Sumber Data ......................5. 4............1 Kejadian Positif dan Kejadian Negatif ..........................1 Identifikasi Pembalikan Harga Saham ........................... 4................... 3..1.... 4.... 4.....................4 Metode Pengumpulan Data ...........2 Perubahan Harga Berdasarkan Kejadiannya dan Penentuan Hari Peristiwa (t = 0) . 3..................... 4.............2..... 4...................1..2 Analisis Data ..............................1 Analisis Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Winner .............................................................................5... 2......................3 Pengujian Statistik ......2 Penelitian Terdahulu ..............................................2.........................................................................1...............2 Sumber Data ....... 24 32 34 BAB III METODE PENELITIAN ........1 Gambaran Umum Objek Penelitian ....5..............................1............................................................................ 3...................... 3..............................3. ...... 3............2 Analisis Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Loser ..............2................................2 Gambaran Umum Sampel Winner dan Sampel Loser .......................................................................4 Hipotesis .................... 3..................2 Populasi dan Sampel ......... 3.......1 1 Gambaran Umum Sampel ...................................... 2......... 3......................... 35 35 38 39 39 40 40 41 41 44 45 48 54 54 54 54 58 61 61 61 62 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ......2....................................................5......................... 3..5 Metode Analisis Data ..............2................. 3....... 3.............3 Kerangka Pemikiran . 4.........1 Identifikasi Terjadinya Price Reversal ......1 Jenis Data .................................4 Uji Hipotesis .................

.........................................1 Kesimpulan ............................3 Pengujian Hipotesis 1 .............2..........3........................3.................................. 4.......................1 Hasil Uji Hipotesis 2.................................1 Pengujian Hipotesis 1 Untuk Saham Winner ..............................3 Pembahasan ....2 Hasil Uji Hipotesis 1 saham Loser ....3.......................................................................... 4......1.................. 4....2 Statistik Deskriptif ...2 Hasil Uji Hipotesis 2.......2..............................................3........... 4................... 4............................................................3..4.3....2....3..........2 Hasil Uji Hipotesis 1 ... 3 dan 4 ...........3............... 4.. 5....................................... 3 dan 4 saham Loser . LAMPIRAN ...........................................2....3......2...... 3 dan 4 saham Winner ...2................. 4...4 Pengujian Hipotesis 2.....LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP 64 69 69 70 85 87 87 89 91 91 93 94 94 98 102 102 103 106 4..3.3.. 3 dan 4 ......2 Pengujian Hipotesis 1 Untuk Saham Loser ..... 4.2................ 4...... 5............2 Saran .......... 4...... ...................... 87 ....................3.......1..........2 Pembalikan Harga saham loser ..........1 Hasil Uji Hipotesis 1 saham Winner ..1 Pembalikan Harga Saham Winner dan Loser ................................ 4.3........................ BAB V PENUTUP .3 Hasil Uji Hipotesis 2........... DAFTAR PUSTAKA ....... 4.... 4................................1 Pembalikan Harga saham Winner ..............

............... Uji Korelasi Sampel Winner dan Sampel Loser ........ I...................... H.......................................................................................... Uji Kolmogorov-Smirnov Saham Loser ............................................................. ............ Charts Saham Winner ...................................... Q...................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1 4 6 9 13 15 17 19 20 22 24 25 43 51 55 57 61 A...... M........................ Charts Saham Loser ........ F.. Uji Regresi Berganda Sampel Winner .... Uji t Sampel Loser ............... C........................... J................. Data Kapitalisasi Pasar Sampel Winner dan Loser Pada Hari Peristiwa ........................................................ Uji Kolmogorov-Smirnov Saham Winner............................. N............................................... Data Likuiditas Pasar Sampel Loser Selama Masa Pembalikan Harga ................ Data Likuiditas Pasar Sampel Winner Selama Masa Pembalikan Harga ............................................................................. Sampel Saham Winner dan Saham Loser..................... K................. L.............................................................................................................................................................. Data Abnormal Return Saham Loser ................................ Data Abnormal Return Saham Winner .. D.. B.... G..... Uji Regresi Berganda Sampel Loser ............... O.................... P........................................................... E.............................. Uji t Sampel Winner ............................................... Data IHSG dan Return IHSG ........... Saham-saham yang Menjadi Sampel Penelitian ............

.....3 4........ Statistik Deskriptif Saham Winner dan Loser .......................................5 4...................................................... Nilai DW Persamaan Regresi Saham Winner dan Saham Loser ..................................................................................................................................................................4 4..............10 4....................................................................... Hasil Uji Korelasi Saham Loser............... Hasil Uji Regresi Saham-saham Winner .............................. 84 86 82 74 63 64 70 71 72 73 74 61 4 27 37 55 57 58 59 .......DAFTAR TABEL Tabel 1.....13 4.............. Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Saham Winner ... Average Abnormal Return Winner dari t = -5 sampai dengan t = 20 ..... Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Saham Loser ...................................................11 4.........2 4.. Hasil Uji Korelasi Saham Winner ..................8 4.............. Definisi Operasional Variabel ............................1 4....................................16 Data Perubahan Harga Saham Secara Besar-besaran Halaman Selama Periode 2005 ..1 2................................... Nilai Tolerance dan VIF Saham Winner............................... Kejadian Positif ............................................14 4.........9 4...............................1 4.....................................................................................................................1 3............ Gambaran umum Saham Loser .......................6 4............ Nilai Tolerance dan VIF Saham Loser .......15 4.................................. Nilai DW Tabel ..............12 4................................................................................................................................................................ Gambaran umum Saham Winner ........ Kejadian Negatif ......................................... Average Abnormal Return Loser dari t = -5 sampai dengan t = 20 ........ Tabulasi Hasil Penelitian Terdahulu ........7 4..........................

.................................. Grafik Normalitas Untuk Saham Winner ......... 87 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.5 4.........1 2..........................2 4.........4.......................................................1 4...2 4.......... Kerangka Pemikiran Teoritis ............................................................................................................................................. Nilai Autokorelasi Saham Winner ............................... Nilai Autokorelasi Saham Loser ............................8 Grafik Reaksi Harga Saham Terhadap Halaman 13 33 75 75 76 78 80 83 88 90 Informasi Baru ............. CAAR Winner .......... Grafik Plot Untuk Saham Winner ................................................. CAAR Loser..........................6 4.............. Grafik Plot Untuk Saham Loser .................................................................................4 4................................................ Grafik Normalitas Untuk Saham Loser ..17 Hasil Uji Regresi Saham-saham Loser . .......................3 4....7 4.........................................

investasi tersebut juga menjanjikan keuntungan pada tingkat tertentu. Berdasarkan hal tersebut. 1995) menyatakan bahwa pasar modal efisien secara informasional. Investasi yang ditanamkan para investor ke perusahaan tertentu merupakan bentuk yang hampir dapat dipastikan mengandung resiko tertentu. Efficient Market Hypothesis (EMH) merupakan salah satu hipotesis pasar modal yang menjadi acuan para investor dalam melakukan pengambilan keputusan. Para investor memerlukan berbagai informasi sebelum memutuskan membeli atau menjual saham. Di sisi lain. (Elton dan Gruber. Informasi yang cepat dan benar tercermin dalam harga-harga sekuritas.1 Latar Belakang Masalah Pasar modal berfungsi sebagai sarana untuk memobilisasi dana yang bersumber dari masyarakat ke berbagai sektor usaha. .BAB I PENDAHULUAN 1. Informasi tersebut dapat berupa informasi yang dipublikasikan maupun informasi yang tidak dipublikasikan. Pasar modal diharapkan berperan aktif dalam menunjang keberhasilan pengerahan dana dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha. Selain itu investor juga membutuhkan informasi mengenai kondisi atau arah pergerakan pasar sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dalam melakukan pembelian atau penjualan saham.

Hipotesis tersebut menjelaskan bahwa harga suatu saham akan selalu tercermin secara penuh dari informasi yang tersedia di pasar. khususnya sehubungan dengan temuan pembalikan harga saham (price reversal) yang sistematis di pasar modal (Kamus Istilah Keuangan dan Investasi oleh Downes dan Goodman. 2002 menyatakan dalam fenomena pembalikan harga (price reversal) harga saham dapat berubah secara besar-besaran dan diikuti oleh perubahan kembali ke arah yang berlawanan. dimana penelitian-penelitian terakhir mempertanyakan keberadaan pasar efisien. Fenomena pembalikan ini berlawanan dengan karakteristik pasar modal yang efisien. mendefinisikan pembalikan sebagai perubahan arah harga dalam pasar saham). 1995) yang merupakan sebagian dari peneliti melaporkan bahwa saham-saham yang yang berkinerja buruk pada satu periode waktu cenderung untuk membaik pada periode berikutnya. Hal ini didasari oleh perilaku investor sebagai individu yang mengambil sikap atau tindakan yang berbeda dalam menyikapi suatu informasi baik dalam segi frekuensi. waktu. 1994: 482. yaitu kenaikan harga secara ekstrim akan diikuti dengan penurunan harga pada periode . Hal tersebut dirasa menjadi permasalahan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. (Fischer dan Jordan. Penelitian yang dilakukan oleh Iramani dan Umaiyanti. dan kuantitas pembelian saham. Hipotesis pasar efisien telah lama menjadi salah satu isu dominan dalam penelitian keuangan karena di pasar modal kerap terjadi gejala yang menentang konsep tersebut.

Data awal yang berhasil dikumpulkan menunjukkan bahwa menurut IHSG. Sears dan Trennpohl (1993) menyatakan bahwa DeBondt dan Thaler pernah menguji pembalikan di pasar modal dengan mengajukan hipotesis bahwa perubahan ekstrim pada suatu harga saham akan diikuti oleh pembalikan dengan arah yang berlawanan.5 % dan untuk penurunan lebih kecil dari –2. . Fakta tersebut dapat dilihat pada tabel 1.5 % (Iramani dan Umaiyanti. Ini berarti investor bereaksi secara berlebihan (overreaction) terhadap informasi mengenai saham tersebut sehingga harga saham cenderung ditetapkan secara keliru. 2002). demikian pula sebaliknya penurunan harga secara ekstrim akan diikuti oleh kenaikan harga pada periode selanjutnya. terjadinya perubahan harga saham besar-besaran umumnya diikuti oleh perubahan kembali harga kearah yang berlawanan pada hari berikutnya atau yang dikenal dengan fenomena pembalikan harga saham. Hal ini dapat diakibatkan oleh adanya informasi baru yang diterima investor dan dinilai oleh investor secara berlebihan. Mengenai ketentuan ini selanjutnya akan dipaparkan dalam metode penelitian pada bagian lain penelitian ini.selanjutnya.1 yang menampilkan hari-hari perdagangan yang mengalami kenaikan atau penurunan secara besar-besaran. Selanjutnya pasar mengoreksinya melalui pembalikan harga sampai tingkat keseimbangan tercapai. Perubahan indeks tersebut dikategorikan besar apabila (return IHSG – rata-rata return IHSG) untuk kenaikan adalah lebih besar dari 2.

955 0.163 Rt-R (%) .069 0.382 -2.291 -3.700 -6.275 45.850 -36.529 2.734 -3.330 -27.069 0.820 1079.069 4.1 Data Perubahan Harga Saham Secara Besar-besaran Periode 2005 a.069 0.920 -35.069 0.050 30. diolah b.885 Rt-R (%) Sumber : Data sekunder.973 4.094 0.Tabel 1.270 -71.300 1060.880 1118.360 -3. Penurunan Tanggal IHSG ( Poin ) Perubahan ( Poin ) Return (Rt) (%) Rata-rata Return (R) (%) 29/03/05 18/04/05 25/04/05 15/08/05 1070.313 -2.46 2.190 1019. Kenaikan Tanggal IHSG ( Poin ) Perubahan ( Poin ) Return (Rt) (%) Rata-rata Return (R) (%) 30/08/05 30/09/05 1039.069 -6.665 -3.

Dari fenomena diatas.Sumber : Data sekunder. baik kenaikan maupun penurunan pada umumnya diikuti oleh perubahan kembali harga kearah yang berlawanan pada hari berikutnya atau yang dikenal dengan fenomena pembalikan harga saham. Hari-hari perdagangan yang ditampilkan dalam tabel diatas telah diseleksi dan hanya terdiri dari hari-hari perdagangan yang mengalami perubahan harga besar-besaran pada satu hari tertentu yang diikuti oleh perubahan harga ke arah yang berlawanan pada hari berikutnya. Sebaliknya pelaku pasar akan menetapkan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap informasi yang dinilai negatif. Kemudian fenomena ini berbalik ketika pelaku pasar menyadari . diolah Penentuan awal kenaikan dan penurunan harga saham ini ditentukan berdasarkan angka indeks harga saham gabungan (IHSG) dengan melihat selisih harga pembukaan dan penutupan pada satu hari perdagangan tertentu. Untuk menjelaskan fenomena pembalikan harga.1 diatas. banyak peneliti yang merujuk pada hipotesis reaksi berlebihan (overreaction hypothesis). pelaku pasar cenderung menetapkan harga terlalu tinggi sebagai reaksi terhadap informasi yang dinilai positif. Overreaction hypothesis menyatakan bahwa pada dasarnya investor lebih bereaksi secara berlebihan terhadap informasi. dan apakah didalamnya terdapat reaksi berlebihan dari investor yang memicu pembalikan harga suatu saham. terdapat suatu masalah yang menarik untuk diteliti mengenai faktor-faktor apa yang mempengaruhi pembalikan harga. Dalam hal ini. Perubahan harga saham secara besar-besaran seperti yang tampak pada Tabel 1.

Pembalikan harga juga dapat terjadi dalam jangka pendek yang menekankan bahwa pembalikan terjadi pada waktu segera. Mereka menemukan bahwa saham-saham yang sebelumnya mengalami penurunan besar pada harga atau tingkat return harian adalah negatif dan besar (loser) cenderung diikuti oleh return abnormal yang positif selama dua hari kemudian. Temuan ini mengarahkan mereka untuk mangindikasikan sebagai . atau satu bulan. (Sedangkan Susiyanto menemukan pembalikan 3 bulan. maka ini mungkin sebaiknya dikatakan sebagai pembalikan jangka menengah). Pembalikan ini ditunjukkan oleh turunnya harga (abnormal return yang negatif) setelah terjadi kenaikan secara ekstrem.telah bereaksi berlebihan. Ini penting dibedakan karena Zarowin (1990) mencatat bahwa pembalikan jangka pendek dan jangka panjang bisa saja tidak merefleksikan fenomena yang sama. dimana sekuritas yang biasanya memiliki return tinggi yang masuk kategori winner justru akan memperoleh abnormal return yang rendah. Salah satu fenomena pembalikan harga jangka pendek ditunjukkan oleh studi Bremer dan Sweeney (1991). Seperti halnya dengan pola winner-loser yang dikemukakan oleh DeBondt dan Thaler (1985) dalam Iswandari (2001). (Sedangkan Susiyanto menemukan pembalikan 3 bulan. Sedangkan sekuritas yang biasanya memiliki return rendah yang masuk kategori loser justru akan memperoleh abnormal return yang tinggi. Studi-studi terdahulu selanjutnya juga menunjukkan bahwa keberadaan pembalikan tidaklah khas pada periode waktu tertentu. misalnya satu hari. satu minggu. Ini berbeda dengan pembalikan jangka panjang oleh DeBondt dan Thaler yang menemukan pembalikan 3 tahun.

Pengaruh ketiga faktor terakhir terhadap harga saham merupakan akibat dari pengaruhnya terhadap penciptaan kondisi pasar saham yang dapat terjadi karena ketidak seimbangan bid dan ask. likuiditas seringkali dikaitkan dengan elastisitas harga yang ditunjukkan oleh volume perdagangan saham. 1998) juga menunjukkan fenomena pembalikan jangka pendek pada saham-saham yang sebelumnya mengalami peningkatan besar pada harga atau tingkat return harian adalah positif dan besar (winner). terutama berkaitan dengan informasi good news atau bad news sehingga selanjutnya akan mendorong investor bereaksi berlebihan yang pada akhirnya akan memicu fenomena pembalikan harga saham. dan Harikumar. Ukuran perusahaan menunjukkan nilai pasar dari ekuitas perusahaan. Beberapa penelitian lain (misalnya Atkins dan Dyl. Gosnell. . Akhigbe. Faktor-faktor lain yang diduga menjadi penyebab pembalikan harga saham selain overreaction hypothesis adalah ukuran perusahaan (firm size). Adapun ketiga faktor tersebut merupakan faktor yang dianggap penting oleh para investor dalam melakukan investasi. 1990.ketidakkonsistenan terhadap karakteristik harga pasar yang secara cepat merefleksikan informasi yang relevan. Park. perubahan volume perdagangan yang merupakan indikator dari likuiditas pasar maupun perubahan besarnya ekuitas perusahaan karena perubahan jumlah saham yang beredar. dan bid-ask spread. 1995. Temuan-temuan ini umumnya mengarahkan pada kesimpulan bahwa pasar bereaksi berlebihan. dan bid-ask spread mencerminkan biaya transaksi. likuiditas.

Penelitian yang dilakukan oleh Banz (1981) dalam Tandelilin (2001:125) menemukan bukti adanya size effect. Penelitian tentang karakteristik perusahaan juga dilakukan oleh Zarowin (1990). Hubungan antara ukuran perusahaan dengan abnormal return masing-masing saham dapat dinyatakan sebagai suatu anomali dalam pasar efisien karena dalam pasar efisien menganggap bahwa tidak ada seorang pun investor yang dapat memperoleh abnormal return dengan menggunakan informasi tentang karakteristik perusahaan. Zarowin (1990) menemukan bahwa pembalikan return tidak semata-mata karena market overreaction tetapi hal tersebut dipengaruhi oleh size effect. Salah satu karakteristik tersebut adalah ukuran perusahaan (size). Di Indonesia penelitian tentang karakteristik perusahaan dan reaksi pasar berlebih dilakukan oleh Agus wibowo dan agus sukarno. Penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990) ini adalah untuk menguji kembali penemuan DeBondt dan Thaler (1985) tentang keberadaan reaksi berlebihan. . Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat reaksi pasar berlebih pada saham loser di BEJ dan ukuran perusahaan tidak signifikan berpengaruh terhadap pembalikan loser. Size (didefinisikan sebagai nilai pasar dari ekuitas perusahaan) loser umumnya lebih kecil dari winner dan menyimpulkan bahwa fenomena winner dan loser yang ditemukan oleh DeBondt dan Thaler muncul karena pengaruh firm size dan bukanlah karena fenomena reaksi berlebihan. dimana return yang lebih tinggi ditemukan pada saham-saham perusahaan kecil.Beberapa penelitian terdahulu telah menemukan adanya hubungan antara karakteristik perusahaan dengan abnormal return.

selanjutnya akan dilakukan pengembangan penelitian lebih lanjut khususnya mengenai hipotesis reaksi berlebihan (overreaction hypothesis). dapat diketahui banyak pendapat yang berbeda mengenai faktor-faktor yang dimungkinkan berpengaruh . Fenomena price reversal ini kemungkinan dipengaruhi oleh reaksi investor yang berlebihan terhadap informasi atau faktorfaktor lain seperti firm size. 1. Mereka menemukan bahwa bid-ask spread dan derajat likuiditas pasar menjelaskan pembalikan harga (price reversal) dalam jangka pendek. Penelitian lain di Indonesia diantaranya dilakukan oleh Srihartati Kusumawardhani ( 2001 ).2 Perumusan Masalah Berdasarkan berbagai penelitian yang pernah ada. likuiditas dan bid-ask spread.Penelitian mengenai pembalikan harga saham juga dilakukan oleh Cox dan Peterson (1994). Berdasarkan hal tersebut diatas. Hasil penelitian menyatakan bahwa hanya terdapat sedikit bukti bagi faktor bid-ask spread dan likuiditas dalam pembalikan harga saham. Beberapa penelitian baik yang dilakukan di luar negeri maupun di Indonesia menunjukkan bahwa terdapat berbagai pendapat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena price reversal serta mengindikasikan bahwa fenomena tersebut juga terjadi di Indonesia. ukuran perusahaan (firm size).2006. Mereka tidak menemukan bukti yang konsisten dengan hipotesis reaksi berlebihan.likuiditas dan bid-ask spread yang dianggap berpengaruh terhadap fenomena price reversal pada Bursa Efek Jakarta dengan periode tahun 2005 .

1 Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Apakah bid-ask spread berpengaruh terhadap fenomena price reversal di Bursa Efek Jakarta ? 1.terhadap peristiwa price reversal. Apakah ukuran perusahaan (firm size) berpengaruh terhadap fenomena price reversal di Bursa Efek Jakarta? c. 2. 3. .3 1. Hal ini mengakibatkan munculnya suatu permasalahan yang menarik untuk diteliti berupa faktor-faktor apakah yang sesungguhnya berpengaruh terhadap fenomena price reversal yang terjadi di Bursa Efek Jakarta. Apakah terdapat reaksi berlebihan (overreaction) dari investor yang menyebabkan terjadinya fenomena price reversal di Bursa Efek Jakarta? b. Maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: a. Untuk menganalisis keberadaan likuiditas dalam fenomena price reversal di BEJ. Untuk menganalisis keberadaan firm size ( ukuran perusahaan ) dalam fenomena price reversal di BEJ. Untuk menganalisis keberadaan reaksi berlebihan (overreaction) dari investor dalam fenomena price reversal di BEJ.3. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap fenomena price reversal di Bursa Efek Jakarta? d.

hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi di pasar modal. 2. Bagi dunia akademik. diharapkan dapat mengetahui seberapa besar kemungkinan adanya pembalikan harga saham serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.4. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan referensi dan mampu memberikan kontribusi pada pengembangan studi mengenai pembalikan harga saham. 3. sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan penawaran saham. Untuk Menganalisis keberadaan bid-ask spread dalam fenomena price reversal di BEJ.3. Bagi pihak perusahaan. Bagi pelaku pasar khususnya investor. . 1.2 Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

BAB II TELAAH PUSTAKA

2.1 Telaah Pustaka 2.1.1 Reaksi Harga Saham Terhadap Informasi Baru Di dalam pasar yang kompetitif, harga ekuilibrium suatu aktiva ditentukan oleh penawaran yang tersedia dan permintaan agregat. Harga keseimbangan ini mencerminkan konsensus bersama antar semua partisipan pasar tentang nilai dari aktiva tersebut berdasarkan informasi yang tersedia. Jika informasi baru yang relevan masuk ke pasar yang berhubungan dengan suatu aktiva, informasi ini akan digunakan untuk menganalisis dan menginterpretasikan nilai dari aktiva yang bersangkutan. Akibatnya adalah pergeseran ke harga ekuilibrium yang baru. Harga ekuilibrium ini akan terus bertahan sampai suatu informasi baru lainnya merubahnya kembali ke harga ekuilibrium yang baru.

Bagaimana suatu pasar bereaksi terhadap suatu informasi untuk mencapai harga keseimbangan yang baru merupakan hal yang penting. Jika pasar bereaksi dengan cepat dan akurat untuk mencapai harga keseimbangan baru yang sepenuhnya mencerminkan informasi yang tersedia, maka kondisi pasar seperti ini disebut dengan pasar efisien. Menurut Ahmad dan Othman, reaksi harga saham terhadap informasi baru dapat digambarkan pada Grafik 2.1 sebagai berikut :

Grafik 2.1 Reaksi Harga Saham Terhadap Informasi Baru

Harga Saham (Rp) 5000 4000 3000 2000 1000
-6 -4 -2 0 +2 +4 +6 +8 +10 +12

Tindakan

Hari-hari Relatif Terhadap Pengumuman Sumber : Ahmad dan Othman (2002) Keterangan :

: Reaksi berlebihan dan penyesuaian : Reaksi dengan tenggang waktu : Pasar Efisien Ada tiga skenario yang mungkin terjadi dari reaksi harga pasar saham saat investor menerima informasi baru (Grafik 2.1). Skenario tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Keadaan ini mengasumsikan bahwa hanya satu informasi saja yang diterima dan relevan dengan penilaian saham tersebut. Diasumsikan juga informasi tersebut diterima pada hari berlabel “0”. Seterusnya diasumsikan juga informasi tersebut mempunyai pengaruh (+) dan akan meningkatkan harga saham ke tahap yang terbaik, yaitu dari Rp 3000 menjadi Rp 4000. Jika pasar modal adalah efisien, harga saham harus bereaksi terhadap informasi tersebut dengan secepat mungkin. Tenggang waktu yang terdapat antara waktu penerimaan informasi dan reaksi terhadap informasi yang diterima hanya mencerminkan kaidah dan teknik yang terbaik dalam menerima dan memproses informasi secara tidak berat sebelah. Reaksi ini juga menghasilkan penyerapan dan pencerminan semua implikasi informasi terhadap harga saham tersebut. Situasi pertama menggambarkan reaksi harga dalam pasar efisien dengan terdapat satu peningkatan yang sekaligus dalam harga saham dari Rp 3000 menjadi Rp 4000.- pada hari informasi tersebut diterima yaitu pada waktu “0”. Seterusnya tidak ada perubahan yang berlaku setelah itu karena diasumsikan tidak ada lagi informasi baru yang diterima oleh pasar setelah waktu “0”.

namun pada kenyataannya beberapa penelitian menunjukkan adanya kejadian yang bertentangan yang disebut anomali pasar. Sebagai kesimpulan. Pembelian mereka secara aktif menyebabkan harga naik lebih tinggi daripada yang seharusnya yaitu Rp 4000. dan mereka memperkirakan harga saham baru lebih tinggi dari Rp 4000.2 Anomali Pasar Modal Meskipun hipotesis pasar efisien telah menjadi konsep yang dapat diterima di bidang keuangan. yaitu tidak adanya tenggang waktu penerimaan dalam reaksi harga dan kecenderungan tanggapan berlebihan yang diikuti dengan penyesuaian juga tidak akan berlaku. mereka mulai menjual saham tersebut. Situasi kedua menggambarkan reaksi harga saham dalam pasar tidak efisien dengan wujudnya tenggang waktu selama 10 hari setelah informasi itu diterima untuk mengalir ke dalam pasar. 2. jika pasar ini benar-benar efisien. Menurut Jones (1996) anomali pasar adalah teknik-teknik atau strategi-strategi yang berlawanan atau .1. 3.2. maka situasi kedua dan ketiga tidak akan terjadi. Disini harga saham akan meningkat secara berangsur-angsur kepada harga saham yang baru yaitu Rp 4000. apakah disebabkan mereka mendapat informasi itu lebih awal ataupun disebabkan mereka bersedia bertindak lebih dahulu. Apabila reaksi mereka tidak terwujud. dan harga akan berbalik kepada harga yang seharusnya yaitu Rp 4000. Tindakan ini menyebabkan suatu penyesuaian berlaku. Situasi ketiga menggambarkan keadaan yang menunjukkan para investor begitu optimis tentang implikasi informasi terhadap harga saham.

c. Beberapa anomali yang terdapat di pasar modal antara lain : a. January effect merupakan anomali pasar yang menyatakan bahwa return sahamsaham di bulan Januari cenderung lebih tinggi dibanding bulan-bulan yang lalu (Kleim. b. Anomali ini pertama kali ditemukan oleh Basu pada tahun 1977 dan 1983. Anomali ini ditemukan oleh Profesor keuangan Avner Arbel pada tahun 1982 (Jones. 1996). Kurangnya informasi tersebut membuat perusahaan kecil menjadi lebih berisiko sehingga menimbulkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Neglected firm effect. Price earning (P/E) effect adalah anomali dimana saham dengan P/E rendah menunjukkan risk adjusted return yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham yang memiliki P/E tinggi (Jones.bertentangan dengan konsep pasar modal yang efisien dan penyebab kejadian tersebut tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Size effect adalah anomali dimana risk adjusted return dari perusahaan ukuran kecil lebih tinggi dari perusahaan dengan ukuran besar (Jones. merupakan suatu kecenderungan bahwa investasi pasar saham pada perusahaan yang kurang dikenal dapat memberi tingkat keuntungan abnormal. a. Anomali ini ditemukan oleh Banz (1981) dan Reinganum (1981). 1996). 1986 dalam Jones. Reversal effect adalah efek pembalikan rata-rata return yang merupakan sebutan lain untuk anomali winner-loser yaitu kecenderungan saham yang memiliki . b. 1982). 1996). karena perusahaan kecil cenderung diabaikan oleh investor besar maka informasi mengenai perusahaan ini cenderung tidak tersedia.

Untuk mendapat keuntungan dari berita-berita yang diinginkan atau untuk mengurangi hasil yang bertentangan dari berita-berita yang tidak diinginkan. peningkatan harga akan lebih besar daripada yang seharusnya diberikan informasi tersebut yang selanjutnya akan menghasilkan penurunan harga saham. Hipotesis reaksi yang berlebihan menyatakan agar ketika para investor bereaksi terhadap berita-berita yang tidak diantisipasi yang akan menguntungkan saham suatu perusahaan.1. . 2. Secara umum investor cenderung untuk bereaksi terlalu berlebihan terhadap peristiwa-peristiwa luar biasa dan informasi baru. 2003).3 Overreaction Hypothesis Market overreaction terjadi karena dalam pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual saham.kinerja buruk (loser) akan berbalik menjadi saham yang memiliki kinerja baik (winner) pada periode berikutnya dan begitu juga sebaliknya. dan intuisi mereka (Mutamimah. Anomali ini pertama kali ditemukan oleh DeBondt dan Thaler tahun 1983 (Yulianawati. dan mereka cenderung untuk mengabaikan informasi yang lebih lama (Jones: 250). reaksi yang berlebih terhadap berita-berita yang tidak diantisipasi yang diperkirakan berdampak merugikan keberadaan ekonomi perusahaan. diikuti koreksi yang selanjutnya akan menaikkan harga. para investor harus bereaksi secara cepat terhadap informasi baru. 2004). pengalaman. inveator mendasarkan pada emosi. akan memaksa harga turun terlalu jauh. Sebaliknya.

2001). 1998) menyatakan bahwa dalam overreaction hypothesis pada dasarnya pasar telah bereaksi secara berlebihan terhadap informasi. Anomali ini disebut dengan overreaction hypothesis. dan kuat (Dissanaike. bertentangan dengan pasar efisien yang menyatakan bahwa harga saham menyesuaikan secara cepat dan benar terhadap informasi baru. para pelaku pasar cenderung menetapkan harga terlalu tinggi sebagai reaksi terhadap berita yang dinilai “baik” (good news). Maka dapat dikatakan bahwa keberadaan reaksi berlebihan menunjukkan bahwa pasar tidak efisien dalam bentuk lemah. terutama informasi buruk (Kusumawardhani. Overreaction hypothesis diturunkan dari premis bahwa dalam merespon informasi baru. para pelaku pasar cenderung untuk memberikan bobot yang berlebihan pada informasi terakhir. DeBondt dan Thaler (1985) (dalam Titi dan Marwan. Kemudian fenomena ini berbalik ketika pasar menyadari telah bereaksi berlebihan. 1997) (dalam Kusumawardhani. Sebaliknya mereka akan memberikan harga terlalu rendah sebagai reaksi terhadap kabar buruk (bad news). Return jangka panjang yang dapat diprediksi untuk menunjukkan pasar bereaksi secara berlebihan terhadap informasi. Pembalikan ini ditunjukkan oleh turunnya (secara drastis) harga saham yang sebelumnya berpredikat winner dan/atau naiknya harga saham yang sebelumnya berpredikat loser. Dalam hal ini. 2001). . setengah kuat.Pasar pada umumnya menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap informasi baru. Hal ini dapat berarti para investor seharusnya membeli saham-saham yang mempunyai informasi pesimis dan yang mengalami penurunan harga.

Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa overreaction hypothesis dari investor dalam menilai suatu informasi menyebabkan saham dinilai terlalu tinggi atau rendah. Artinya. Hal ini juga berarti bahwa adanya keuntungan selama periode pembalikan juga memungkinkan diterapkannya suatu strategi investasi tertentu dalam perdagangan saham. bahwa investor tidak dapat menggunakan data masa lalu dalam hal ini fenomena pembalikan yang mengikuti perubahan besar harga saham untuk memanfaatkan abnormal return sebagai keuntungan. 2.Namun Atkin dan Dyl (1990) serta Park (1995) berpendapat bahwa bukti keberadaan reaksi berlebihan adalah belum cukup untuk mengatakan pasar tidak efisien. Sehingga dapat dikatakan bahwa overreaction hypothesis dapat diketahui melalui adanya pembalikan arah harga saham setelah munculnya suatu informasi baru. Uji efisiensi pasar hendaknya dilakukan dengan menguji lebih jauh apakah investor dapat memperoleh keuntungan selama periode pembalikan. Apabila investor tidak dapat memanfaatkan pembalikan untuk memperoleh keuntungan. kemudian pada saat investor menyadari kekeliruannya maka akan terjadi pergerakan harga saham yang berlawanan sebagai tindakan koreksi.1. yaitu : . maka pasar adalah efisien dalam bentuk lemah. Kondisi ini menggambarkan suatu pembalikan arah harga saham.4 Implikasi Overreaction Adanya overreaction di pasar modal menimbulkan beberapa implikasi bagi investor.

Lebih dari itu jika pasar overreact terhadap informasi baru. Menunjukkan bahwa pasar modal terdiri dari investor yang rasional maupun yang irrasional. karena dalam market overreaction investor dapat melakukan strategi membeli saham pada waktu menjadi loser dan menjualnya pada saat saham tersebut berbalik menjadi winner. c. b.a. maka harga dapat diprediksi berdasarkan harga masa lalu.5 Overreaction Hypothesis dan pembalikan harga saham Overreaction hypothesis merupakan reaksi yang berlawanan dengan kondisi normal. sehingga pasar tidak efisien dalam bentuk setengah kuat dan kuat (Sartono. 2003). . 2000). sekuritas yang biasanya mempunyai return tinggi yang masuk kategori winner justru akan memperoleh abnormal return yang rendah (Sukmawati dan Hermawan. Hipotesis ini meramalkan bahwa sekuritas yang masuk kategori loser yang biasanya mempunyai return rendah justru akan mempunyai abnormal return yang tinggi. Pasar yang terbukti overreact atau investor yang melakukan strategi kontrarian. Memungkinkan investor memperoleh abnormal return.1. Sebaliknya. 2. akan berdampak kepada investor yang akan memperoleh abnormal return melalui perdagangan dalam posisi yang tepat baik sebelum maupun sesudah event.

1997) dalam Kusumawardhani (2001). Kondisi ini menggambarkan suatu pembalikan arah harga saham. berdampak kepada pembalikan harga yang seharusnya dapat diprediksi dari kinerja masa lalu. Sehingga dapat dikatakan bahwa overreaction hypothesis dapat diketahui melalui adanya pembalikan arah harga saham setelah munculnya suatu informasi baru. Return dalam jangka panjang dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa pasar bereaksi secara berlebihan terhadap informasi. 1985) dalam Sukmawati dan Hermawan (2003). Perubahan harga sekuritas secara ekstrem akan diikuti dengan perubahan harga secara berlawanan. dan kuat (Dissanaike. kemudian pada saat investor menyadari kekeliruannya maka akan terjadi pergerakan saham yang berlawanan sebagai tindakan koreksi.Ada dua fenomena overreaction hypothesis (DeBondt dan Thaler.6 Firm Size dan Pembalikan Harga Saham . setengah kuat. hal ini bertentangan dengan pasar efisien yang menyatakan bahwa harga saham menyesuaikan secara cepat dan tepat terhadap informasi baru. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa overreaction hypothesis dari investor dalam menilai suatu informasi menyebabkan saham dinilai terlalu tinggi atau terlalu rendah. b. 2. Maka dapat dikatakan bahwa keberadaan reaksi berlebihan menunjukkan pasar tidak efisien dalam bentuk lemah. yaitu : a.1. Semakin besar pergerakan harga maka semakin besar pula penyesuaian yang dilakukan. Pasar yang bereaksi secara berlebihan.

maka akan memiliki efek yang luar biasa terhadap nilai pasar perusahaan tersebut (Banz. dimana return yang lebih tinggi ditemukan pada saham-saham perusahaan kecil. harga saham akan berubah dengan cepat naik atau turun (Robert Ang. Dengan mempertimbangkan jumlah saham yang beredar. seperti yang dilakukan oleh Zarowin (1990). 2. Hubungan antara ukuran perusahaan dengan abnormal return masing-masing saham dapat dinyatakan sebagai suatu anomali dalam pasar efisien karena dalam pasar efisien menganggap bahwa tidak ada seorangpun investor yang dapat memperoleh abnormal return dengan menggunakan informasi tentang karakteristik perusahaan. Alasan digunakan market value adalah karena market value merupakan perkalian antara harga saham dengan jumlah saham yang beredar. khususnya informasi akuntansi secara keseluruhan serta nama baik . 1997). Salah satu karakteristik tersebut adalah ukuran perusahaan (size). jika harga saham berubah satu poin saja.7 Likuiditas dan Pembalikan Harga Saham Dalam praktek. Menurut Lena Tan Chooi Yen (1999). Faktor internal berupa ketersediaan informasi. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan market value (nilai pasar).Beberapa penelitian terdahulu telah menemukan adanya hubungan antara karakteristik perusahaan dengan abnormal return. perubahan transaksi selalu dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal perusahaan. transaksi suatu saham selalu berfluktuasi dari hari ke hari.1. Penelitian yang dilakukan oleh Banz (1981) dalam Tandelilin (2001:125) menemukan bukti adanya size effect. Sehingga jika ada suatu informasi mengenai perusahaan tersebut. 1981).

Semakin elastis harga maka dikatakan bahwa pasar semakin likuid. salah satunya berupa likuiditas pada pasar modal. Likuiditas juga seringkali dikaitkan dengan elastisitas harga. Pemrosesan pesanan ( order processing ) . Pemilikan saham ( inventory holding ) 2. suatu hari penurunan harga besar-besaran mungkin dihubungkan dengan tekanan penjualan yang kuat para supplier likuiditas dalam merespon tekanan penjualan itu mungkin masuk ke pasar dan membeli saham yang biasanya tidak akan mereka beli. Stoll ( 1989 ) menyatakan bahwa bid-ask Spread merupakan fungsi dari tiga komponen biaya yang berasal dari : 1. 1994). Besarnya return pembalikan tergantung pada elastisitas harga jangka pendek. Dalam kaitannya dengan overreaction hypothesis. Peningkatan likuiditas dapat menurunkan derajat pembalikan (Cox dan Peterson. dimana semakin likuid maka transaksi pembelian atau penjualan suatu saham dapat dilaksanakan dengan cepat tanpa menimbulkan biaya transaksi yang tinggi. Sedangkan faktor eksternal. Mereka menanggung risiko dan mengadakan biaya transaksi dalam antisipasinya terhadap perolehan laba (earning profit) dari pembalikan harga saham.8 Bid-ask Spread dan pembalikan harga saham Bid-ask Spread merupakan selisih harga beli tertinggi yang trader ( pedagang saham ) bersedia membeli suatu saham dengan harga jual terendah yang trader bersedia menjual saham tersebut. 2.1.perusahaan tersebut. Pasar saham yang likuid adalah pasar yang secara komparatif mudah dalam transaksi jual beli saham.

terdapat suatu bentuk teknik analisis yang mempelajari berbagai kekuatan yang berpengaruh di pasar saham dan implikasi yang ditimbulkan pada harga pasar. Dalam kaitannya dengan hipotesis reaksi berlebihan. Asimetri informasi Harga saham di bursa ditentukan oleh kekuatan pasar. dalam arti penyebab pembalikan hari berikutnya diakibatkan bid-ask bounce. 2. Dalam tulisanya. meningkatkan probabilitas bahwa penutupan transaksi pada bid price ( harga penawaran / harga yang bersedia dibayar oleh pembeli ). yang berarti harga saham tergantung dari kekuatan penawaran ( bid ). suatu hari penurunan harga besar – besaran mungkin dihubungkan dengan tekanan penjualan yang kuat. Joel Hasbrouck. Analisis ini pada dasarnya berusaha mempelajari bagaimana pengaruh berbagai kekuatan seperti kekuatan supply / bid ( penawaran ) dan demand / ask ( permintaan ) dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan harga saham. dan Mulherin ( 1991 ) yang memfokuskan pada pemahaman terhadap informasi harga – harga sekuritas dan pelaksanaan ( berjalannya ) pasar saham menyatakan bahwa prilaku perdagangan sekuritas berdampak terhadap biaya transaksi ( antara lain bid-ask Spread ) yang secara bersamaan berakibat terhadap likuiditas pasar sekuritas dan efisiensi yang merupakan informasi dalam pembentukan harga saham. dan permintaan ( ask ).3. dalam Gorety.9 Studi Peristiwa (Event Study) Studi peristiwa adalah suatu pengamatan mengenai pergerakan harga saham di pasar modal untuk mengetahui apakah ada abnormal return yang diperoleh investor .1. McMillan. Dalam melakukan penilaian saham.

2 Penelitian Terdahulu 2. 2.dari suatu peristiwa tertentu (Peterson. Tanpa mengontrol size. 1989) dalam Asri dan Setiawan (1998).1 DeBondt dan Thaler (1985) Penelitian ini menguji mengenai reaksi berlebihan yang menyebabkan pembalikan harga dengan menggunakan data pasar modal Amerika (NYSE).2. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena winner dan loser muncul karena pengaruh firm size dan bukanlah karena fenomena reaksi berlebihan. dimana hal ini merupakan fenomena pembalikan (reversal) pada periode selanjutnya. 2.2. 2. Penelitian ini menemukan bahwa saham-saham yang sebelumnya berkinerja buruk (loser) pada periode selanjutnya berkinerja baik dengan abnormal return positif atau saham-saham yang tadinya berkinerja baik (winner) pada periode selanjutnya mengalami kinerja yang buruk dengan abnormal return negatif.2. Zarowin menemukan bahwa size (didefinisikan sebagai nilai pasar dari ekuitas perusahaan) loser umumnya lebih kecil dari winner.3 Atkins dan Dyl (1990) . Metodologi event study digunakan karena perubahan besar harga saham yang terjadi disebabkan adanya dramatic event yang mengejutkan pasar sehingga harga dapat berubah naik ataupun turun secara signifikan.2 Zarowin (1990) Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji hubungan antara firm size dan fenomena reaksi berlebihan. loser secara signifikan mengungguli winner.

Mereka tidak menemukan bukti yang konsisten dengan hipotesis reaksi berlebihan. AMEX.2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bid ask spread dan derajat likuiditas menjelaskan pembalikan harga dalam jangka pendek. 2.Atkins dan Dyl (1990) melakukan pengujian mengenai reaksi berlebihan jangka pendek dan perilaku return saham setelah satu hari perubahan besar harga saham. hanya satu peristiwa setiap pasar per hari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga yang terjadi merupakan suatu bentuk reaksi berlebihan. Penelitian ini menggunakan data harian seluruh perusahaan NYSE. hanya saham dengan harga minimal $10 per saham yang diikutsertakan dalam sample. Return saham yang lebih dari 10% dipilih sebagai sample untuk diuji. penelitian ini berusaha .5 Srihartati Kusumawardhani (2001) Penelitian ini menguji return saham yang mengikuti satu hari besar harga saham di BEJ mulai tahun 1998 sampai dengan tahun 2000. Untuk menghindari pengaruh efek bid ask. Menggunakan uji korelasi dan regresi. pengujian return didasarkan pada harga transaksi dan rata-rata bid ask. dengan data harga saham harian. sedangkan untuk meminimumkan korelasi antar sample. Untuk saham-saham NMS.2. dan NMS yang ada dalam CRSP mulai dari tahun 1963 sampai Juni 1991. 2.4 Cox dan Peterson (1994) Penelitian ini menguji perilaku return sekuritas yang mengikuti penurunan besar dalam satu hari.

Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti pengaruh reaksi berlebihan investor dalam fenomena price reversal dan hanya terdapat sedikit bukti yang signifikan bagi faktor-faktor bid-ask spread. penelitian ini juga berusaha mencari bukti bahwa investor dapat memperoleh keuntungan abnormal selama hari penyesuaian setelah satu hari besar perubahan harga saham. regresi.2. Konsisten dengan hasil penelitian terdahulu mengenai fenomena price reversal di BEJ. firm size. Lebih jauh. portofolio saham-saham loser mengalami pembalikan harga yang signifikan selama periode pengamatan. dan likuiditas. bid-ask spread. Sehingga dianjurkan kepada para investor untuk membeli saham-saham ketika harganya turun pada hari t0 dan t1 dan menjualnya pada saat harga meningkat selama hari penyesuaian. tetapi portofolio saham-saham winner tidak menunjukkan perilaku yang sama.menemukan bukti bahwa reaksi berlebihan.6 Agus Wibowo dan Agus Sukarno (2004) Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pergerakan harga saham dalam periode jangka pendek setelah perubahan besar dalam harga saham harian di Bursa Efek Jakarta tahun 2000. Penelitian ini juga menunjukkan bukti adanya keuntungan abnormal investor selama periode penyesuaian. Sampel penelitian ini diperoleh dengan menggunakan metode purposive sampling dan menghasilkan 48 saham winner dan 33 saham loser. 2. penelitian ini memberikan hasil bahwa reaksi berlebihan terjadi pada saham-saham loser (saham-saham yang mengalami penurunan harga secara besar-besaran). Menggunakan metode market adjusted model. dan uji t. firm size dan likuiditas berpengaruh terhadap fenomena price reversal. dan .

tetapi pembalikan disebabkan karena loser bereaksi berlebihan. Hasil penelitian diatas secara keseluruhan dapat dirangkum sebagaimana dapat dilihat pada tabel 2. Penelitian ini memberikan hasil bahwa ukuran perusahaan tidak signifikan berpengaruh terhadap pembalikan loser.1 Tabel 2.tidak pada saham winner (saham-saham yang mengalami kenaikan harga secara besar-besaran). Seasonality and Stock Market Overreaction Market Adjusted Return dan Regresi Abnormal Return dan Size Fenomena winnerloser muncul karena pengaruh firm size dan bukan karena .1 Tabulasi Hasil Penelitian Terdahulu Nama No Penulis 1 DeBondt dan Thaler (1985) Judul Penelitian Does the Stock Market Overreact ? Model Analisis Market Adjusted Return Variabel Hasil Penelitian Penelitian Cumulative Abnormal Return Terdapat reaksi berlebihan dar investor dalam fenomena pembalikan harga saham 2 Zarowin (1990) Size. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan/size tidak mempengaruhi tingkat abnormal return di Bursa Efek Jakarta.

Tidak ditemukan adanya korelasi antara hipotesis berlebihan dengan pembalikan harga saham. Bid-Ask Spread. TVA Cumulative Abnormal Return (CAR). firm size. 6 Srihartati Kusumawardh ani (2001) Analisis Reaksi Berlebihan. Adanya bukti pengaruh Overreaction Hypothesis . dan variabel dummy Bid ask spread dan likuiditas pasar modal berpengaruh terhadap derajat pembalikan. and Market Efficiency Mean Adjusted Return dan Market Adjusted Return Abnormal Return dan Bid Ask Spread Perubahan harga yang terjadi merupakan reaksi berlebihan 4 Cox dan Peterson (1994) Stock Returnn Following Large One-Day Declines:Eviden ce on Short Term Reversals and Longer Term Performance Mean Adjusted Return. bidask spread. Size. dan Regresi dan Korelasi Abnormal Return.fenomena reaksi berlebihan 3 Atkins dan Dyl (1990) Price Reversals. Abnormal Return. Market Adjusted Return. Efek Bid Ask. Selisih harga bid dan selisih harga ask. Firm Size.

Jika dalam penelitian DeBondt dan Thaler menggunakan periode formasi selama 3 tahun. yakni 5 hari sebelum dan 20 hari sesudah. pada penelitian ini terdapat perbedaan dalam menentukan pengamatan. dan likuiditas 7 Agus Wibowo dan Agus Sukarno (2004) Reaksi Pasar Berlebihan dan Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pembalikan Harga Saham di Bursa Efek Jakarta Market Adjusted Model dan Regresi Abnormal Return dan Size Terdapat reaksi berlebihan pada saham loser di BEJ dan ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar) tidak signifikan berpengaruh terhadap pembalikan loser. firm size. Sumber : Kumpulan penelitian terdahulu Dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh DeBondt dan Thaler (1985).Likuiditas dalam Fenomena Price Reversal di BEJ dan likuiditas Investor dalam fenomena price reversal dan hanya terdapat sedikit bukti bagi faktor bid-ask spread. dalam penelitian ini menghitungnya dengan event study selama 25 hari. Persamannya adalah sama-sama meneliti apakah .

terdapat hubungan antara reaksi berlebihan dari investor dengan fenomena pembalikan harga. tidak seperti Zarowin (1990) yang menggunakan periode formasi selama 3 tahun. Persamaannya adalah sama-sama menggunakan variabel penelitian abnormal return dan firm size dalam mengidentifikasi fenomena price reversal. Sampel winner ditetapkan berdasarkan besarnya perubahan harga rata-rata yang dialami oleh saham-saham yang masuk kategori winner pada setiap peristiwa kenaikan harga saham secara besar-besaran. . Sedangkan sampel loser ditetapkan berdasarkan besarnya perubahan harga rata-rata yang dialami oleh saham-saham yang masuk kategori loser pada setiap peristiwa penurunan harga secara besar-besaran selama periode penelitian. Perbedaan lainnya adalah cara menentukan sampel winner dan loser. Modifikasi yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan mengubah tahun pengamatan menjadi tahun 2005 .2006 Selain itu pada penelitian ini menggunakan hari pengamatan selama 5 hari sebelum dan 20 hari sesudah peristiwa. Perbedaannya adalah bahwa pada penelitian ini mencoba menguji apakah terdapat reaksi berlebihan dalam fenomena price reversal dengan metode market adjusted model. Penentuan sampel winner dan loser dalam penelitian ini mengikuti cara yang pernah dilakukan oleh Srihartati Kusumawardhani (2001). Penelitian ini juga mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990).

. Persamaan lainnya terletak pada metode dalam menghitung abnormal return. juga menguji apakah ukuran perusahaan (size). dan sama-sama meneliti apakah likuiditas berpengaruh terhadap pembalikan harga. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Srihartati Kusumawardhani (2001) adalah variabel penelitian yang digunakan. Penelitian ini menggunakan variabel bid-ask spread untuk melihat apakah terdapat pengaruh dalam fenomena pembalikan harga. pada penelitian ini hanya mencakup periode selama tahun 2005-2006. Penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cox dan Peterson mengenai variabel penelitian yang digunakan. Persamaan lainnya adalah sama-sama menggunakan metode rata-rata dalam menentukan sampel winner dan loser-nya Perbedaannya adalah periode penelitian yang digunakan. Perbedaannya terletak bahwa pada penelitian ini selain menguji reaksi berlebihan. yaitu sama-sama menggunakan Cumulative abnormal return (CAR) untuk mewakili pembalikan harga.Persamaan penelitian ini dengan penelitian Atkins dan Dyl (1990) diatas adalah sama-sama menggunakan variabel abnormal return. Jika dalam penelitian Srihartati Kusumawardhani (2001) menggunakan periode yahun 1998-2000.. Penelitian ini meneliti keberadaan reaksi berlebihan pengaruh firm size. likuiditas . Sedangkan perbedaanya dalam penelitian ini menggunakan market adjusted model dalam perhitungan abnormal return. dan bid-ask spread terhadap pembalikan harga. kuiditas dan bid-ask spread berpengaruh terhadap pembalikan harga.

penelitian ini sama-sama meneliti keberadaan reaksi berlebihan dan menguji pengaruh ukuran perusahaan terhadap fenomena pembalikan harga. Hal ini disebabkan adanya pengaruh perilaku investor yang memberikan bobot yang berlebihan untuk informasi terkini dalam memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Overreaction hypothesis memprediksikan sekuritas yang masuk kategori loser dan biasanya mempunyai return rendah justru akan mempunyai abnormal return yang tinggi (Sukmawati dan Daniel. Jika investor memberikan bobot yang berlebihan untuk informasi terbaru maka investor akan cenderung bereaksi berlebihan terhadap informasi. Apabila pemodal mendasarkan pada informasi terakhir. maka pemodal akan cenderung overreact . Overreaction hypothesis merupakan reaksi yang berlawanan dengan kondisi normal. Kebalikannya. sekuritas yang biasanya mempunyai return yang masuk kategori winner justru akan mempunyai abnormal return yang rendah. 2002). 2. 2000) mendefinisikan anomali pasar (market anomaly) sebagai teknik atau strategi yang tampaknya bertentangan dengan pasar efisien.Dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agus Wibowo dan Agus Sukarno (2004).3 Kerangka Pemikiran Jones (1996) (dalam Jogiyanto. Perbedannya adalah memodifikasi tahun pengamatan menjadi tahun 2005 – 2006. Hipotesis reaksi berlebihan bersandar pada asumsi perilaku pasar bereaksi berdasarkan penekanan pada informasi terakhir dalam melakukan koreksi pada periode berikut.

menetapkan suatu kerangka pemikiran teoritis yang menyatakan bahwa reaksi berlebihan (overreaction) merupakan faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya fenomena price reversal. pelaku pasar akan bereaksi lebih dramatis terhadap informasi yang jelek. yang antara lain terdiri dari ukuran perusahaan ( firm size).terhadap pengumuman.2 sebagai berikut : Gambar 2. Ketiga faktor terakhir yang disebutkan diatas merupakan faktorfaktor yang oleh beberapa peneliti sebelumnya justru dinyatakan sebagai penyebab terjadinya price reversal. Uraian diatas dapat disederhanakan sebagaimana yang dapat dilihat pada gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Overreaction H1 Price Reversal H2 Firm Size . likuiditas pasar dan bid-ask spread. Beberapa telaah pustaka yang mendukung dirumuskannya hipotesis-hipotesis penelitian. Secara psikologis. Sementara itu terdapat pula faktor-faktor lain yang dinyatakan sebagai faktor yang mempengaruhi terjadinya fenomena price reversal.

berikut ini hipotesis yang diajukan : Hipotesis 1 H1 : Terdapat hubungan antara reaksi berlebihan dari investor dengan fenomena pembalikan harga di BEJ. Hipotesis 2 H2 : Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap terjadinya fenomena pembalikan harga di BEJ.H3 Likuiditas H4 Bid-ask Spread 2.4 Hipotesis Berkaitan dengan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini. Hipotesis 3 H3 : Likuiditas berpengaruh signifikan terhadap terjadinya fenomena pembalikan harga di BEJ .

Hipotesis 4 H4 : Bid-Ask Spread berpengaruh signifikan terhadap terjadinya fenomena pembalikan harga di BEJ. adalah variabel dependen yang merupakan fenomena perubahan arah harga saham setelah terjadinya suatu perubahan besar dalam harga saham dalam satu hari perdagangan tertentu baik berupa kenaikan maupun penurunan harga saham.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel-variabel utama yang digunakan pada penelitian ini dapat didefinisikan secara operasional sebagai berikut : a. maka variabel dependen ini diwakili oleh cumulative abnormal return . Dalam model penelitian untuk menentukan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya price reversal. Pembalikan harga selanjutnya dapat didefinisikan melalui adanya abnormal return baik melalui perubahan average abnormal return (AAR) maupun cumulative average abnormal return (CAAR). BAB III METODE PENELITIAN 3. Price Reversal.

d. Kondisi ini berlawanan dengan kondisi normal.(CAR) sebab pengujian akan dilakukan satu persatu untuk masing-masing saham (Kusumawardhani.1990). Likuiditas. 1989. 2001). e. didefinisikan sebagai nilai pasar dari ekuitas perusahaan (Zarowin. Bid-ask spread. Firm Size. Reaksi investor yang berlebihan terhadap harga saham dapat dikenali melalui besarnya arah price reversal terhadap perubahan harga yang terjadi sebelumnya pada satu hari perdagangan tertentu. didefinisikan sebagai volume perdagangan saham yang terjadi di pasar modal. b. didefinisikan sebagai reaksi yang berlebihan dari investor terhadap harga saham karena adanya informasi ( baik atau buruk ). Average relative bid-ask spread merupakan perbandingan antara absolute bidask price dengan mid point bid-ask price. Variabel yang akan digunakan untuk menguji pengaruh efek bid-ask terhadap fenomena price reversal yaitu average relative bid-ask spread. c. Korelasi antara abnormal return pada hari terjadinya price reversal dengan abnormal return pada hari kenaikan atau penurunan harga secara besar-besaran pada satu hari perdagangan akan menunjukkan hubungan keberadaan reaksi investor yang berlebihan dengan peristiwa price reversal. Absolute bid-ask price merupakan . merupakan selisih dari harga beli tertinggi dengan harga jual terendah dari suatu saham pada satu hari perdagangan saham. Overreaction.

karena adanya suatu Abnormal Return pada t = 0 (AR t=0) ARi. Cumulative Abnormal Return. Sedangkan mid point price adalah nilai tengah dari harga bid-ask. f. dihitung dengan menggunakan Market Adjusted Model. Tabel 3. g. merupakan penjumlahan atau akumulasi dari abnormal return selama periode pengamatan. yaitu merupakan selisih return saham individual dengan return pasar.o = Ri – Rm Rasio . Abnormal Return.a Definisi Indikator Skala Rasio Independen : • Overreaction Reaksi yang berlebihan dari investor terhadap harga saham. t = ∑ ARi.selisih dari closing bid price dengan closing ask price.1 Definisi Operasional Variabel Variabel Dependen : Price Reversal Perubahan arah harga saham setelah terjadinya perubahan besar dalam harga saham baik kenaikan maupun penurunan CAR ( Cumulative Abnormal Return ) CAR i.

informasi (baik atau buruk) • Firm Size Harga saham x volume saham Nilai pasar dari ekuitas perusahaan Volume jumlah lembar saham yang beredar di pasar • Bid-ask spread Average Relative Bid-ask spread = Absolute Bid-ask spread Mid Poin bid-ask Rasio yang beredar Volume perdagangan saham yang terjadi di pasar modal Rasio Rasio • Likuiditas selisih harga beli tertinggi dengan harga jual terendah dari suatu saham 3. yaitu selama tahun 2005 .2.2.2 Populasi dan Sampel 3.1 Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh saham perusahaan yang go publik dan tercatat di Bursa Efek Jakarta selama periode penelitian.2006.2 Sampel . 3. Dengan mendasarkan pada Indonesian Capital Market Directory tahun 2005 dan tahun 2006. diperoleh jumlah keseluruhan populasi yang terdiri dari 337 perusahaan.

Sampel winner ditetapkan berdasarkan besarnya perubahan harga rata-rata yang dialami oleh saham-saham yang masuk kategori winner pada setiap peristiwa kenaikan harga saham secara besar-besaran. didapat sampel winner sebanyak 48 perusahaan dan untuk sampel loser sebanyak 33 perusahaan.1997). BEJ No. jika ada data yang tidak tersedia maka saham itu dikeluarkan dari sampel. 4. 3. Adapun kriteria-kriteria tersebut adalah: 1.3 Jenis dan Sumber Data . dalam Susiyanto. 2. Berdasarkan saham-saham tersebut dipilih saham-saham yang aktif diperdagangkan di BEJ secara berturut-turut selama awal 2005 sampai dengan akhir 2006 dan tidak mengadakan aksi korporasi. Sampel loser ditetapkan berdasarkan besarnya perubahan harga rata-rata yang dialami oleh saham-saham yang masuk kategori loser pada setiap peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran. Saham tersebut termasuk aktif diperdagangkan bila frekuensi perdagangannya dalam 3 bulan lebih dari 75 kali (berdasarkan surat edaran PT. SE – 03/ BEJ II/1/1/94. Dasar yang digunakan untuk pengambilan sampel adalah populasi yang memenuhi kriteria tertentu. Berdasarkan kriteria diatas.Metode penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Data saham perusahaan yang termasuk sampel selama periode pengamatan harus tersedia. 3.

• Saham Winner. Data mengenai saham-saham yang terdaftar dan diperdagangkan di BEJ tahun 2005 . dikumpulkan dan diolah terlebih dahulu oleh pihak lain yang berupa : 1. yaitu harga penutupan tertinggi yang bersedia dibayar oleh calon pembeli. 3. BEJ No. Closing ask price. yaitu harga transaksi yang terjadi paling akhir sebelum BEJ ditutup pada satu hari perdagangan. Closing bid price. . 4.3. 5. yaitu harga penutupan terendah yang dapat diterima calon penjual. merupakan saham-saham yang mengalami kenaikan harga besar-besaran yang diikuti perubahan arah harga (price reversal) ke arah yang berlawanan. SE – 03/ BEJ II/1/1/94. 2.3. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). 6.2006 yang terdiri dari: • Saham-saham yang termasuk dalam kategori aktif diperdagangkan berdasarkan surat edaran PT. Nilai pasar ekuitas perusahaan (nilai pasar saham). • Saham Loser. merupakan saham-saham yang mengalami penurunan harga besar-besara yang diikuti perubahan arah harga (price reversal) ke arah yang berlawanan. Closing price.1 Jenis Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang diperoleh.

3. Fact Book. Identifikasi adanya perubahan arah harga saham setelah perubahan besar harga saham harian.co. 3.1 Metode Analisis Data Mengidentifikasi Terjadinya Price Reversal Identifikasi mengenai adanya fenomena price reversal dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 1. JSX Statistics 2005 .jsx.4 Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan data sekunder yakni menyalin data dari berbagai sumber informasi yaitu dari Harian Bisnis Indonesia. dan melalui Pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Diponegoro. 2. Identifikasi peristiwa perubahan besar harga saham harian (t = 0) untuk menentukan sampel saham winner dan loser.2006.3. Identifikasi ini dapat dilakukan dengan melihat average abnormal .7.5 3. 3. dan JSX Statistik melalui pojok Bursa Efek Jakarta Universitas Diponegoro dan dapat juga didapat dengan mengakses database Bursa Efek Jakarta yang dapat dilakukan melalui internet (www.id).5.2 Sumber Data Data yang digunakan merupakan data yang dapat diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory. Nilai likuiditas perusahaan yang tercermin dari volume perdagangan saham.

maka berarti terdapat pembalikan harga (Kusumawardhani. Digunakannya periode pengamatan (t = -5) sebelum peristiwa perubahan besar harga saham adalah untuk menghindari bias akibat dramatic event lain. 2001). Adapun proses teknik analisis datanya dapat dijelaskan sebagai berikut : • Perhitungan Daily Return Saham R i. t − Pi . Jika abnormal return setelah perubahan besar harga saham signifikan dan mengalami perubahan kearah yang berlawanan (naik/turun). Hal ini juga mempertimbangkan kondisi pasar modal yang masih dalam tahap berkembang. karena jika periode terlalu pendek akan sulit mengidentifikasi pembalikan. Adapun langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah dengan menghitung abnormal return masing-masing saham winner dan loser selama periode pengamatan. 2005). t − 1 Pi . t − 1 . Besarnya abnormal return dihitung dengan menggunakan Market Adjusted Model seperti yang dikemukakan oleh DeBondt dan Thaler (1985) dalam (Adler Haymans dan Pondra Nala. Periode pengamatan ini mengikuti periode pengamatan yang digunakan oleh Lucia Iswandari (2001) dan Agus Wibowo dan Agus Sukarno (2004).return saham winner dan loser pada periode pengamatan (t = -5) sampai dengan (t = 20). Sedangkan alasan digunakan periode (t = 20) setelah perubahan besar harga saham adalah untuk mengetahui adanya pembalikan yang terjadi.t = Dimana : Pi.

Dalam penelitian ini digunakan metode market adjusted model. t Pi.t – RM.t = Perbedaan antara return aktual dengan return yang diharapkan dari saham i pada periode t.t ARi.t = Ri.t RM.t Ri. Dimana : Ari.t = abnormal return dari saham i pada periode t = return saham i pada periode t = return pasar pada periode t • Perhitungan Cumulative Abnormal Return .Ri. t Pi. t-1 • = return saham i pada periode t = harga saham i pada periode t = harga saham i pada periode t-1 Perhitungan Daily Return Market RMt = Dimana : RMt IHSG t = return pasar pada periode t = Indeks Harga Saham Gabungan periode t IHSGt − IHSGt − 1 IHSGt − 1 IHSG t-1 = Indeks Harga Saham Gabungan periode t-1 • Perhitungan Abnormal Return ARi.

t i =1 n n = Average abnormal return saham pada hari t = Abnormal return saham i pada hari t = Jumlah saham yang diteliti • Perhitungan Cumulative Average Abnormal Return ⎡ n ⎤ ⎢ ∑ CARt ⎥ ⎥ CAARt = ⎢ n =1 n ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ ⎦ Dimana : CAARt = Cumulative average abnormal return (akumulasi rata rata return tidak normal) saham pada hari t AARt = Average abnormal return (rata-rata return tidak normal) saham pada hari t n = jumlah saham yang diteliti . t = ∑ ARi .t ARi.CARi . t i =1 n Dimana : CARi.t = Cumulative abnormal return saham i pada hari t = Abnormal return saham i pada hari t • Perhitungan Average Abnormal Return AARnt = Dimana : AARn.t n ∑ ARi.t ARi.

yaitu : a.5% − − Keterangan : Rt : return pada hari t .5 % − b.R ≥ 2.3.5.R < 2. Kejadian dibedakan menjadi tiga mengikuti metode yang dilakukan oleh Ajayi dan Mehdian (1994) dalam Iramani dan Umaiyanti (2002). Kejadian negatif adalah kejadian dimana: Rt .R ≤ -2.2 Perubahan Harga Berdasarkan Kejadiannya dan Penentuan Hari Peristiwa ( t = 0) Penentuan awal hari peristiwa terjadinya perubahan besar-besaran harga saham baik berupa penurunan maupun kenaikan harga saham dilakukan dengan mengacu pada perubahan IHSG sebagai indikator awal adanya perubahan harga secara besar-besaran yang diikuti oleh pembalikan harga kearah yang berlawanan (price reversal). Return IHSG yang telah dihitung tersebut kemudian digunakan untuk membedakan perubahan harga menurut kejadiannya.5% c. Bukan kejadian adalah perubahan harga dimana: -0.025 < Rt . Kejadian positif adalah kejadian dimana: Rt .

yaitu variabel independen. Unbiased. Pengujian statistik dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan regresi linier. 3. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk mengetahui apakah tiap-tiap variabel independen saling berhubungan secara linier. 3. hendaknya melakukan uji asumsi klasik terlebih dahulu agar memperoleh model regresi yang bisa dipertanggungjawabkan dan mempunyai hasil yang tidak bias atau disebut BLUE (Best. serta apa yang akan terjadi dengan suatu variabel apabila variabelvariabel yang lain berubah (Suad Husnan. Menurut Gujarati (1978).3 Pengujian Statistik Pengujian statistik dilakukan untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan.R − : rata-rata return selama periode penelitian Penentuan t = 0 untuk kejadian positif dilakukan dengan memilih kejadian positif yang bernilai paling besar. Sebelum melakukan uji regresi.1 Uji Multikolinearitas Salah satu asumsi model linier klasik adalah tidak ada multikolinearitas diantara variabel yang menjelaskan. Pengujian multikolinearitas dapat dilakukan dengan : .3. 2006). Regresi adalah hubungan fungsional antara suatu variabel dengan variabel yang lain.5. 1998). dan tidak terjadi autokorelasi. Linear.5. asumsi klasik yang dianggap penting berupa tidak terjadi multikolinearitas. Estimator) (Imam Ghozali. tidak terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan penentuan t = 0 untuk kejadian negatif dilakukan dengan memilih kejadian negatif yang bernilai paling rendah.

Menggunakan kolinearitas antar variabel independen yang akan digunakan dalam persamaan regresi.5.5.2 Uji Autokorelasi Uji autokorelasi bertujuan apakah dalam suatu model regresi linier ada korelasi antara penganggu periode t dengan kesalahan pada periode t-1 (sebelum). 3.3. maka dinamakan ada problem autokorelasi. apabila sebagian atau seluruh variabel independen berkorelasi kuat berarti terjadi multikolinearitas. Uji Durbin-Watson hanya digunakan untuk autokorelasi tingkat satu dan mensyaratkan adanya intercept (konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lag diantara variabel bebas. Jika ada korelasi. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah dengan uji Durbin-Watson (DW test).90). Melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF).1. maka hal ini merupakan indikasi adanya multikolinearitas.3 Uji Heteroskedastisitas . 3. 2. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari suatu observasi ke observasi lainnya. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel bebas. 3.3. Jika antar variabel bebas ada korelasi yang cukup tinggi (umumnya diatas 0.10 atau sama dengan nilai VIF >10. Nilai yang umum dipakai untuk menunjukkan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance <0. Autokorelasi muncul karena observasi berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.

maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap. Pendeteksian mengenai ada tidaknya heteroskedastisitas menggunakan grafik scatterplot dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y yang telah diprediksi. 3. Adapun dasar analisisnya sebagai berikut : a. seperti titik-titik yang yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang. b. Gejala heteroskedastisitas dalam penelitian ini dideteksi dengan menggunakan grafik scatterplot. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali.3. Jika tidak ada pola yang jelas. maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. dan sumbu X adalah residual yang telah di-studentized.Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y. variabel penganggu atau residual memiliki distribusi normal.4 Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. Salah satu cara termudah melihat normalitas residual adalah dengan melihat grafik histogram yang . Jika ada pola tertentu. maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. melebar kemudian menyempit). 2006).5.

Kriteria data yang digunakan disebut normal jika probabilitas signifikansinya lebih dari 0.5.1 Pengujian Terhadap Hipotesis 1 Pengujian terhadap hipotesis 1 yaitu tentang reaksi berlebihan di Bursa Efek Jakarta dilakukan dengan mengidentifikasi besarnya abnormal return yang mengakibatkan terjadinya pembalikan harga yang bersifat mengoreksi kondisi harga yang ada mencapai garis harga yang seharusnya. Arah perubahan pasar secara besar dan bergerak dari return positif yang besar pada hari tertentu ke return negatif yang relatif sama besar pada hari selanjutnya dan sebaliknya. 2006).membandingkan antara data observasi dengan distribusi yang mendekati distribusi normal (Ghozali.4. Menurut Ferri dan Min (1996) dalam Kusumawardhani (2001). kriteria pengukuran dan penjelasan masalah reaksi berlebihan dan penyesuaian (koreksi) dalam return pasar dalam dua hari perdagangan secara berturut-turut adalah : A.5. karena yang harus terdistribusi secara normal adalah persamaan regresinya (Ghozali. Secara statistik. uji normalitas dapat diuji menggunakan uji Kolmogorov – Smirnov. Uji ini dilakukan dengan analisis grafik yaitu dengan melihat grafik histogram dan grafik normal plot. Adapun data yang dimasukkan ke dalam uji normalitas adalah nilai residu dari persamaan regresinya.4 Uji Hipotesis 3.05. . 2006). 3.

2000) : a. Langkah-langkah untuk pengujiannya adalah dengan menghitung koefisien korelasi dengan rumus sebagai berikut (Supranto. Korelasi yang negatif diantara keduanya akan menunjukkan bahwa return positif yang makin besar pada hari tertentu akan diikuti return negatif yang besar pada hari berikutnya dan sebaliknya (Ariyanto. tetapi lebih merefleksikan reaksi terhadap perubahan sebelumnya. 2003). 2000) : n∑ XjYj − ∑ Xj ∑ Yj n n n r= n∑ Xj j =1 n j =1 j =1 j =1 2 ⎛ n ⎜ −⎜ ⎜ ⎝ j =1 ∑X ⎟ j⎟ ⎟ ⎠ 2 ⎞ n∑ Yj j =1 n 2 ⎛ n ⎞ − ⎜ ∑ Yj ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ j =1 ⎠ 2 Keterangan : r Xj Yj = koefisien korelasi = abnormal return saham kategori winner dan loser pada t = 0 = CAR saham winner dan loser setelah t = 0 Pengujian terhadap korelasi dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut (Djarwanto dan Subagyo. Perumusan hipotesis Ha : korelasi antara abnormal return saham kategori winner dan loser pada . Pengujian terhadap overreaction hypothesis dilakukan dengan melakukan korelasi terhadap abnormal return pada hari peristiwa dengan CAR pada hari-hari berikutnya. Perubahan arah pasar tidak dapat dijelaskan oleh informasi baru.B.

t = 0 dengan CAR saham winner dan loser setelah t = 0 signifikan berbeda dengan nol. b. Menentukan level of significant DF (degree of freedom) yang digunakan adalah 95 persen maka α = 5 persen. c. Perhitungan nilai t, yaitu : t= Keterangan : r = koefisien korelasi n = jumlah sampel d. Kriteria pengujian Syarat pengujian : Ho diterima bila –t(α/2; n-2) < t hitung < t(α/2; n-2) Ho ditolak bila t hitung > t(α/2; n-2) atau t hitung –t(α/2; n-2) e. Menarik kesimpulan dari hasil perhitungan statistik. 3.5.4.2 Pengujian Terhadap Hipotesis 2, 3, dan 4 Ketepatan fungsi regresi sampel dalam menaksir nilai aktual dapat diukur dari Goodness of fit-nya. Secara statistik, hal ini dapat diukur dari nilai koefisien determinasi (R2), nilai statistik F dan nilai statistik t. Perhitungan statistik disebut signifikan secara statistik apabila nilai uji statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah dimana Ho ditolak). Sebaliknya disebut tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho diterima (Ghozali, 2006).
r n−2 1− r2

3.5.4.2.1 Uji Determinasi (R2) Uji Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Secara umum koefisien determinasi untuk data silang (cross section) relatif rendah karena adanya variasi yang besar antara masing-masing pengamatan (Ghozali, 2006). Kelemahan mendasar penggunaan koefisien determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu variabel independen, maka R2 pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. Oleh karena itu banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai Adjusted R2 pada saat mengevaluasi mana model regresi terbaik. Tidak seperti R2, nilai Adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model (Ghozali, 2006). Kondisi nyata menunjukkan nilai Adjusted R2 dapat bernilai negatif, walaupun yang dikehendaki harus bernilai positif. Menurut Gujarati (2003) jika dalam uji empiris didapat nilai Adjusted R2 negatif, maka nilai Adjusted R2 dianggap bernilai nol. Secara matematis jika nilai R2 = 1, maka Adjusted R2 = R2 = 1

sedangkan jika nilai R2 = 0, maka Adjusted R2 = (i-k)/(n-k). Jika k>1, maka Adjusted R2 akan bernilai negatif. 3.5.4.2.2 Uji Signifikan Parameter Individual (Uji Statistik t) Pengujian terhadap hipotesis 2, 3 dan 4 dilakukan dengan menguji pengaruh ukuran perusahaan (size), likuiditas terhadap price reversal (CAR) dan pengaruh bid-

ask spread menggunakan model regresi berganda dengan variabel independen lebih
dari dua.

Persamaan regresinya adalah sebagai berikut :

CAR i,t = α + β1 Size + β2 Lik +β3 ARBA+∑ i,t

Dimana : CARi,t = Cumulative Abnormal Return saham harian perusahaan i mulai t = 1 α β = konstanta = koefisien regresi = ukuran perusahaan (logaritma dari kapitalisasi pasar) = likuiditas (logaritma dari volume perdagangan saham) = Bid-ask spread (average relative bid-ask spread) = faktor pengganggu

Size
Lik Bid-ask ∑ i,t

variabel yang digunakan dalam model regresi tidak dalam besaran yang sama. sehingga dapat mengakibatkan perbedaan nilai variabel yang sangat besar.Persamaan di atas.t = α + β1 LogSize + β2 LogLik +β3 ARBA+∑ i.t . model yang digunakan menjadi sebagai berikut : CAR i. sehingga variabel yang nilainya terlalu besar perlu ditransformasikan ke dalam nilai Logaritma (Algifari. 2000:78).

1 / 94 yaitu saham dikatakan aktif diperdagangkan bila dalam 3 bulan frekuensi transaksi perdagangan harus lebih dari 75 kali. Saham dikatakan aktif atau tidak aktif diperdagangkan berdasarkan pada surat edaran PT.1. 4. Yang dikategorikan sebagai winner adalah saham yang mengalami kenaikan harga yang . SE 03 / BEJ II.1 Gambaran Umum Sampel Saham perusahaan yang dijadikan obyek penelitian adalah saham perusahaan yang telah tercatat di Bursa Efek Jakarta selama periode 2005 . Kemudian saham yang menjadi sampel ini diklasifikasikan lagi menjadi sampel saham winner dan yang masuk saham loser.BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4. BEJ NO.2006.2 Gambaran Umum Sampel Winner dan Sampel Loser Dalam penelitian ini saham-saham yang termasuk sampel diklasifikasikan lagi ke dalam kelompok saham kategori winner dan kelompok saham kategori loser.1. Berdasarkan kriteria pemilihan sampel tersebut. maka terdapat 171 saham perusahaan yang menjadi sampel penelitian ini.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 4.1. Adapun saham-saham yang menjadi sampel dalam penelitian ini dapat dilihat dalam lampiran A. Saham perusahaan yang menjadi objek penelitian adalah yang aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta secara berturut-turut selama awal tahun 2005 sampai akhir tahun 2006.

695.000 Rp.577.665 1. Barito Pasific PT.733 84.55.000 1.240.477.478.100 2.500 5. Dharmala Intiland PT. Astra Graphia PT.36.660.4.972.688.000 Rp.890.291.000 Rp. Dharmala Samudera PT.405. Tabel 4.1 Saham Winner No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 PT.000.000.000 14.000.206 15 16 17 18 19 PT. Bank Niaga PT.500 10.000 Rp.927 1. Adhi Karya PT.500 5.000 Rp.831.000.000.500 315.397.000 Rp.1. Bank Mandiri PT.439.429.711.324.000 173.178 32. Duta Pertiwi Nusantara PT.638.000. Gajah Tunggal Rp.3.714.257.1.000 Rp.1. Aneka Tambang PT.155.000.630.774.029.000 Rp.000.803 487.GT Petrochem Inds PT.080.000.707.000.6.190.408. Bayu Buana PT.000.60.790.494.000 Rp.159.185.950.268.161.584.192.32.870.285.000 Volume Saham ( Lembar ) 2.lebih besar pada peristiwa kenaikan kenaikan harga saham secara besar-besaran selama periode penelitian. Bimantara Citra PT.000 43.819.433.000 1.270.713.123.316. Delta Dunia Petroindo PT.000 Rp.198.595.404.2.623.851.806.000 Rp.31.171.271.000. Astra Otoparts PT.150 . Bank Rakyat Indonesia PT.272.000.296.888.000.500 107.000.408 13.000.999.761.866.603.646. Sedangkan yang termasuk loser adalah saham yang mengalami penurunan harga saham yang besar pada peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran selama periode penelitian (Kusumawardhani.000 Rp.000.000 Rp.1.000 Rp.000 4. Bank Kesawan PT. Bank Eksekutif PT.000.000.404. Ciputra Surya Saham Kapitalisasi Pasar Rp.000.908. 2001).688.186.000 Rp.000 Rp.000 Rp.

Tjiwi Kimia PT. Putra Surya Perkasa PT.857.000 Rp.472.037.000.632.801.000 Rp. Intikeramik Alamasri PT.000 Rp.907.400. Timah PT.308.906.010.086 151.000 Rp.600.10. Hexindo Adhiperkasa PT.000 Rp.031.068.000.510.216.000 Rp.000 Rp.943 339.000. Pyradam Farma PT.100.000.000.093.093 47.000.140.046 12. Indofarma PT.000.250 1.000 Rp. AGIS Rp. Surya Semesta PT.168.924.000 Rp.665.000.568.500 193.005.088.000.279.000.000.000.246.432.085.750 55.000 Rp. Tirta Mahakam PT.000 Rp.250 391.831.500 .054.000 Rp. Sarasa Nugraha PT.2. Prima Alloy Steel PT.378. APAC Centex PT. Japfa Comfeed PT.000 Rp.680.400.308.207.916.178.000 Rp.000.824.000 1.20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 PT.364.000 217.000.743 193.062.176.953.000. Suparma PT.1.000.36.160.006.025.000 Rp.30.722 26.159.000 Rp.696 4.000 Rp.24.925.366. Bank Artha Graha PT.822 714.374.736. Kridaperdana Indah PT.768 5.000.416.000 Rp.285.89.371.079.616.000 Rp.462.500 26.000.567 1.597.666. Intraco Penta PT.000.110.000 Rp.000 185. Internasional Nickel PT.000.500 1. Kalbe Farma PT.601.380.000.806.200.1.000.007.126.500 1.000.13.000 Rp.920.000.800 2. Perusahaan Gas Negara PT.000.500 2.000 Rp.000 15.001.754.496.100.000.240. Kawasan Industri PT.454. Matahari Putra PT.345.000 Rp.79. Mitra Rajasa PT.000 68. GT Kabel Indonesia PT. 356.000 Rp.283. Lautan Luas PT.287.000 Rp.000.620.000.035.13.308.13.054 655.000 Rp.000.748.893.845.4.066.093 310.150.000 158. Sierad Produce PT.

23.164.396. Bank CIC PT.000.000.468 796.397.000.836.293.000 Rp.000.102.000.000.054. Bakrie & Brothers PT.000 Rp.000 241. United Tractor Rp.000 445.433.500 .663.000.062.1.572.500 4.231.550.788.547.400.1.000 Rp. Tunas Ridean PT.000 60.396.000.790.400. Bayu Buana PT.901.374.000 Rp.000 Rp. Duta Pertiwi PT.034.875.500 4. Bumi Teknokultura PT.316.841.265.000.000 Rp.535.993.000.100 224.500 5.031.000 Rp.10.000.000 Rp.000.479. Cilipan Finance PT. Davomas Abadi PT. PT. Budi Acid Jaya PT.47 48 PT.550. Adhi Karya PT.000. Bank Victoria Interna’l PT.654.000.000 Rp.98.962.433 Sumber : JSX Statistics 2005 Tabel 4.268.2 Saham Loser No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Saham PT.468 178.950.3.10.000 Rp.248.000 Rp.042.910.500 1.000 Rp.000.236. Bhuwanatala Indah PT. Kalbe Farma PT.296.722 1.000 Rp.000.503 1.500 453.1.000.454.000.840 1.000 Rp.623.345.000 Rp.31.414.029. Lautan Luas Kapitalisasi Pasar Rp. Ades Alfindo P.714.624.703.000.005.116.000.050 823.806.000 12.265. GT Petrochem Inds PT.000.610.000.831. Bukit Sentul PT.532. Eterindo Wahanatama PT. Intikeramaik Alamasri PT.500 2.592.866.554 2.000 Rp.000 43.271.000 Volume Saham ( Lembar ) 30.000 Rp.025.556.36.739.159.208.000.000 Rp.546.378.776.000. Bakrieland PT.000.000 Rp.908.500 315. Apexindo Pratama Duta PT.000 193.148.995.1.496.000 Rp.

1 Kejadian Positif dan Kejadian Negatif Penentuan t = 0 untuk peristiwa kenaikan harga saham besar-besaran atau yang dapat disebut sebagai kejadian positif dilakukan dengan memilih kejadian positif yang bernilai paling besar hari itu kemudian dijadikan t = 0 bagi peristiwa kenaikan harga saham besar-besaran.000 Rp.000 425.583 14.000 Rp. Matahari Putra PT.500 714.21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PT. Modernland Realty PT.308.485 143.18.427.691.639.072.952.878. APAC Centex PT.500 4.054 Sumber : JSX Statistics 2005 4.093 310.000.000.000 Rp.289.801.908.756.3 dibawah ini : Tabel 4.000.1.062.000.732.754.2.110.000 Rp.000 Rp.1.000 Rp.000. Adapun hari-hari yang termasuk ke dalam kejadian positif dapat dilihat pada tabel 4.194.000 48.000.308. Sanex Qianjiang Motor PT.000 Rp.970.603. Panin Life PT.638.000 Rp.000.000 Rp.467.982.673.19. Surya Semesta Rp.393.500 6.74.000.337.972.925.665.000. Bank Pan Indonesia PT.000.597.433.617.500 4.620.3 . Prima Alloy Steel PT.500 1. hari itu kemudian dijadikan t = 0 bagi peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran. Ristia Bintang PT. Mas Murni Indonesia PT.000.800 34.908.52.2.000 Rp.000.216.228 12.929. Siswani Makmur PT.79.6.963.791.000.3.000 Rp.380.591 46.000. Bentoel Indonesia PT. Semen Cibinong PT. Untuk menentukan t = 0 bagi peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran atau dapat disebut sebagai kejadian negatif dilakukan dengan memilih kejadian negatif yang bernilai paling besar.000 Rp.

275 Return (Rt) 0.00069 Rt-R 0.00069 0. diolah. Sedangkan hari-hari yang termasuk ke dalam kejadian negatif dapat dilihat pada tabel 4.00069 Rt-R -0.02665 -0.820 1079.00069 0.03313 -0.00069 0. Sedangkan untuk kejadian negatif yang bernilai paling besar terjadi pada tanggal 29 Maret 2005 yang yang selanjutnya dipilih menjadi t = 0 untuk kejadian negatif.190 1019.06360 -0.02955 Rata-rata Return (R) 0.880 1118.00069 0.270 Return (Rt) -0.03382 -0.04529 0.02885 Sumber : JSX Statistics 2005.04460 0.03094 Rata-rata Return (R) 0.Kejadian Positif Tanggal 30/08/05 30/09/05 IHSG 1039.02734 -0. .4 Kejadian Negatif Tanggal 29/03/05 18/04/05 25/04/05 15/08/05 IHSG 1070. diolah. maka didapat hasil berupa 2 kejadian positif dan 4 kejadian negatif.03163 Sumber : JSX Statistics 2005.06291 -0.300 1060. Dari kejadian-kejadian itu kemudian dapat diketahui bahwa kejadian positif yang bernilai paling besar terjadi pada tanggal 30 Agustus 2005 yang selanjutnya dijadikan t = 0 untuk kejadian positif. Berdasarkan hasil perhitungan sesuai kriteria yang terdapat di Bab III.4 Tabel 4.

Berdasarkan kriteria tersebut suatu saham termasuk dalam sampel saham winner bila pada peristiwa kenaikan harga saham secara besar-besaran. Pada tanggal tersebut pula. Hal ini dilakukan antara lain sebagai langkah lanjutan kebijakan di bidang moneter untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah (http://www. Sedangkan saham .id).go.id). berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG).hukmas. moneter. fiscal dan kebijakan ekonomi lainnya terutama investasi. Sedangkan untuk kejadian negatif dengan nilai paling besar yaitu pada sekitar tanggal 29 Maret 2005 disebabkan karena pada sekitar tanggal tersebut beredar isu bahwa pemerintah akan menaikkan lagi harga BBM dikarenakan harga minyak dunia yang semakin melambung tinggi (http://www.84 persen.go. memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 9.Berdasarkan penelusuran terhadap informasi yang menyebabkan terjadinya kejadian positif dengan nilai paling besar yaitu pada tanggal 30 Agustus 2005. diketahui pada tanggal tersebut terjadi peristiwa dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan melonjaknya harga minyak dunia. Penentuan suatu saham termasuk sampel kategori winner ditentukan berdasarkan besarnya perubahan rata-rata yang dialami oleh saham pada peristiwa kenaikan harga saham besar-besaran.50%.depkeu. Sampel loser ditentukan berdasarkan perubahan harga rata-rata yang dialami oleh saham pada peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran. Kebijakan ekonomi tersebut adalah kebijakan energi.depkeu. saham tersebut mengalami kenaikan harga lebih dari 8.hukmas.

1. 4.termasuk sampel saham loser bila pada peristiwa penurunan harga saham secara besar-besaran. 2001).06 persen. 4.2.1 Analisis Data Identifikasi Pembalikan Harga Saham Identifikasi terjadinya pembalikan harga di BEJ dilakukan dengan melakukan uji t untuk mengetahui signifikansi dari average abnormal return masing-masing hari perdagangan selama periode pengamatan dari t = -5 sampai t = 20. Adapun saham yang termasuk winner atau loser ditunjukkan oleh Lampiran B. apakah average abnormal return signifikan berbeda dengan nol atau tidak.2 4. saham tersebut mengalami penurunan harga lebih dari 7.5 .2.1 Analisis Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Winner Fenomena pembalikan harga pada saham winner terjadi bila average abnormal return setelah t = 0 signifikan berbeda dengan nol dan mengalami penurunan. kondisi cumulative average abnormal return yang ditampilkan dalam sebuah grafik selama periode pengamatan juga dapat diketahui pergerakan abnormal return yang dapat menunjukkan terjadinya pembalikan harga atau tidak. Pembalikan harga diasumsikan sebagai perubahan arah harga yang pertama menuju ke arah yang berlawanan dengan peristiwa yang terjadi saat t = 0 (Kusumawardhani. Adapun hasil analisisnya dapat dilihat dalam tabel 4.5 berikut ini : Tabel 4. Di samping itu.

275 0.03290 0.02887 -0.00086 -0.00041 -0.183 0.03765 -0.01012 -0.000 0.00333 -0.241 0.198 0.00723 -0.00679 -0.00909 -0.04121 -0.883 0.189 0.506 0.04031 -0.000 0.03611 -0.00741 -0.164 0.000 0.00736 -0.01209 -0.02762 -0.172 0.498 0.07273 -0.00524 0.00109 0.00741 -0.02759 -0.155 0.06011 0.05454 0.026* 0.00502 -0.02389 -0.055 .06008 0.002782 -0.02014 -0.0651 -0.00358 0.00572 0.00763 -0.02978 -0.490 0.01786 -0.02754 -0.000 0.03128 -0.309 0.408 0.01272 -0.06466 -0.994 0.02086 -0.00688 0.07797 -0.146 0.00457 0.02768 -0.993 0.Average Abnormal Return Winner dari t = -5 sampai dengan t = 20 N=48 Hari Average Abnormal Return Market Adjusted Model Cumulative Average Abnormal Return signifikansi -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 -0.0205 -0.03698 -0.

00559 -0.05143 -0. diolah.037* 0.18 19 20 -0.06297 -0.04703 0.373 0.6 Average Abnormal Return Loser dari t = -5 sampai dengan t = 20 N=33 Hari Average Abnormal Return Market Adjusted Model Cumulative Average Abnormal Return signifikansi -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 0.01629 -0.458 0.04669 -0.00705 -0.07572 -0.000 0.343 0.6 berikut ini : Tabel 4.723 0.00687 -0.00195 0.238 .00493 -0.06715 -0.04455 -0.00236 -0.083 0.682 * Signifikan pada α = 0.000 0.00463 0.07837 -0.00269 0.332 0.2 Analisis Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Loser Identifikasi terjadinya pembalikan harga saham pada saham loser dapat diketahui bila average abnormal return hari-hari setelah peristiwa penurunan besar harga saham t = 0 signifikan berbeda dengan nol dan mengalami kenaikan.08073 0.459 0. Adapun hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 4.01022 0. 4.2.1.01275 0.00034 0.01121 -0.03117 0.01022 -0.05 Sumber : Output SPSS.

007* 0.00211 0. maksimum.04328 -0. dan minimum.02618 0. Gambaran deskriptif dari variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini tampak dalam Tabel 4.029* 0.2.01812 0.05 Sumber : Output SPSS.4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 -0.799 * Signifikan pada α = 0.02076 -0.05193 -0. diolah.01734 0.03231 -0. (Imam Ghozali. 4.7 Statistik Deskriptif Saham Winner dan Loser .03264 -0.00456 0. standar deviasi.000* 0.821 0.663 0.563 0.00486 -0.03072 -0. 2005).00430 0.04146 -0.02931 -0.676 0.00091 -0.000* 0.04210 -0.656 0.245 0.00298 -0.03575 -0.00734 -0.01740 -0.00184 -0.03393 0.2 Statistik Deskriptif Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean).00311 0.864 0.03039 -0.03129 -0.03003 -0.349 0.00868 0.360 0.00191 -0.023* 0.02772 -0.281 0.00214 0.00734 0.907 0.03956 -0.7 : Tabel 4.02636 -0.

0055 -0.0495 -0.0000 11.0159 0.Saham Winner Statistik Wkt Deskriptif Mean Std.7847 0.31579 -0.1528 -0.3572 Lik 6.0000 11.02054 0.0700 -0.0230 0.62797 4.3589 -0.0032 -0.1377 -0.2151 t=2 Minimum Maximum Mean Std.2510 1.1012 -0.62311 2.3572 8.1692 -0.06276 -0.1336 -0.2488 3.6989 8.2105 -0.0836 -0.0748 0.62311 2.2225 -0.8081 0.1493 -0.3643 2.3320 5.0683 1.28846 2.Deviation t=5 Minimum Maximum .0556 0.0055 CAR 0.53207 Bid-Ask -0.0557 5.2552 8.5647 5.4732 0.0056 -0.9280 2.0539 -0.3572 8.0000 11.7879 0.04337 0.94518 0.0696 0.3414 -0.Deviation t=4 Minimum Maximum Mean Std.0330 0.0000 11.00321 -0.04338 0.3572 8.Deviation Winner (N = 48) Size 8.Deviation t=1 Minimum Maximum Mean Std.0073 0.04338 0.0756 -0.04337 0.1348 0.0815 0.62311 2.Deviation t=3 Minimum Maximum Mean Std.3000 -0.7880 1.00000 7.62311 2.0654 0.0000 7.04338 0.0229 0.05315 0.62311 2.3572 8.1239 -0.0000 11.0000 7.

1814 -0.1621 -0.00000 8.00000 -0.7938 0.0267 0.3572 8.62311 2.77535 1.3572 8.0415 0.0061 -0.69897 7.52193 2.0315 0.91799 5.0000 11.3602 -0.92160 6.62311 2.2153 1.3572 8.0432 0.Mean Std.2000 -0.41583 2.04337 0.0000 5.62311 7.0000 11.1676 -0.1538 -0.83666 1.3572 8.08112 5.30173 -0.32951 -0.1846 -0.8461 0.94837 5.0000 11.3371 0.62311 2.1757 -0.8024 t=6 Minimum Maximum Mean Std.2917 -0.1814 0.1609 -0.62311 2.0488 -0.Deviation t=9 Minimum Maximum Mean 11.69577 1.Deviation Minimum Maximum t= Mean .38479 2.0000 11.3305 -0.0230 t= 10 Std.0000 -0.00227 1.62311 2.04337 0.31706 2.69897 7.Deviation t=7 Minimum Maximum Mean Std.3572 8.8328 0.0242 0.0490 0.86464 0.0388 -0.01519 0.2849 -2.0366 0.8392 0.3371 -0.04338 0.Deviation t=8 Minimum Maximum Mean Std.0062 -0.04337 0.2076 0.0415 -0.24721 5.9956 -0.0034 -0.69897 8.0053 -0.Deviation 8.20264 0.0869 0.04338 0.

07566 -0.3011 -0.06965 0.19071 Loser (N = 33) .05115 10.04337 0.15628 1.0231 0.3572 1.18161 1.00557 -0.30103 7.72839 1.42325 8.62311 2.37622 1.05078 4.Deviation t=1 Minimum Maximum Mean Std.1700 -0.0409 -0.9959 -0.30000 -0.03901 -0.11 Std.0000 1.8213 8.76945 1.04338 0.0555 -0.2222 0.Deviation t=2 Minimum Maximum Size 8.04338 0.19160 3.8142 0.76945 1.1719 -0.0000 11.0398 0.31364 Bid-Ask -0.1707 -0.0000 1.Deviation Minimum Maximum 2.10882 5.0000 11.8986 -2.74987 0.0513 0.0396 0.1818 -0.0155 0.62797 -0.Deviation t = 13 Minimum Maximum 8.26560 6.00000 7.9925 0.Deviation t = 12 Minimum Maximum Mean Std.3572 8.1944 0.8367 0.2874 Mean Std.2990 Sumber : Output SPSS.8486 0.0000 8.48912 0.3572 5.0222 0.2664 0.09619 3.0465 0.0000 -0.0774 -0.32954 6.0127 0.05115 10. diolah.69897 8.62311 2.05374 3.0097 CAR 0. Saham Loser Statistik Wkt Deskriptif Mean Std.8213 Lik 6.0000 11.26560 6.5018 -2.

Oleh karena itu.2519 0.05115 10.1818 -0.8213 8. nilai mean dari ukuran perusahaan (size) adalah 8.0093 -0.85401 1.04064 -0.0001 0.76945 1.22721 -0.0429 0. dapat diketahui bahwa total objek penelitian sebanyak 48 perusahaan untuk saham winner.0418 0.00000 dan nilai maksimum adalah .00000 8.26560 6.49893 0. dengan standar deviasi 2.76945 1. Berdasarkan Tabel 4.04600 4.20747 1.12981 -0.8213 8.11347 -0. Berdasarkan analisis sebelumnya dapat diketahui bahwa untuk saham winner.0247 0.26560 6. Nilai minimum ukuran perusahaan (size) adalah 0.12177 2.05115 10.04125 -0.0436 0.69897 8.62311.90500 1. sedangkan untuk saham loser pembalikan harga secara signifikan terjadi pada (t = 5).03806 -0. Pada hari (t = 13).Mean Std.0000 8.Deviation t=4 Minimum Maximum Mean Std.26560 6.22721 5.Deviation t=5 Minimum Maximum 8. pembalikan harga secara signifikan terjadi pada (t = 13).04338.45758 5.2285 0.2600 -0. pembahasan mengenai statistik deskriptif disini akan difokuskan pada hari tersebut diatas untuk masing-masing saham.2971 0.0094 0.09471 -0.Deviation t=3 Minimum Maximum Mean Std.8213 6.01135 0.23244 -0.18182 -0.1818 -0.76945 1.05115 10.0096 -0.25674 Sumber : Output SPSS. diolah.7 diatas.

040648. nilai mean.07566. 1.04361. Pada variable likuiditas (Lik).18182. standar deviasi. 0. standar deviasi.25674.12177. nilai mean dari ukuran perusahaan (size) adalah 8. dan 0.7. standar deviasi. dan 7. dan 8.01556.62797. nilai mean.72839. Sementara itu.2. nilai mean. -0. dengan standar deviasi 1. 4.3000.11. nilai minimum dan maksimum dari variabel CAR secara berturut-turut adalah -0. nilai minimum dan maksimum dari likuiditas (Lik) secara berturut-turut adalah 5. dan 0. Untuk variabel Bid-ask spread. Masih berdasarkan Tabel 4.00000. -0. 2.3 Pengujian Hipotesis 1 Pengujian hipotesis 1 ini dilakukan untuk menganalisis keberadaan reaksi berlebihan dari investor dalam fenomena pembalikan harga saham di BEJ. nilai mean.69897. standar deviasi.05115 serta nilai maksimum 10. nilai minimum dan maksimum secara berturut-turut adalah 6. terlihat bahwa total objek penelitian sebanyak 33 perusahaan.00012.22721.00557.29900. nilai mean.81425.25190.171901.09619. Pada hari (t = 5). 1. Untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis 1 ini digunakan persamaan hipotesis sebagai berikut : .02866. Untuk variabel CAR. Sementara itu. dan - 0. nilai minimum dan maksimum secara berturut-turut adalah -0. nilai minimum dan maksimum secara berturut-turut adalah -0. -0. 0. nilai mean. 0.8213.3572.00948.11347.06965. Untuk variabel Bid- ask spread. 3. dan -0. standar deviasi. nilai minimum dan maksimum secara berturut-turut adalah -0. 0. untuk saham loser.26560. dan mempunyai nilai minimum sebesar 6. standar deviasi.76945. -0.

Koefisien korelasi ini memiliki p-value sebesar 0.H1: Terdapat hubungan antara reaksi berlebihan dari investor dengan pembalikan harga saham di BEJ. yang berarti menerima Ha yaitu . Setelah itu diadakan pengujian lagi untuk mengetahui apakah koefisien korelasi antara abnormal return saham kategori winner dan loser pada t = 0 dengan CAR saham winner dan loser setelah t = 0 signifikan berbeda dengan nol atau tidak. Untuk menguji hipotesis 1 ini dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara abnormal return saham kategori winner dan loser pada t = 0 dengan CAR saham winner dan loser setelah t = 0 pada masa pembalikan. Pada pengujian hipotesis pertama ini Ho ditolak dan Ha diterima bila koefisien korelasi bernilai negatif dan signifikan berbeda dengan nol. penghitungan yang dilakukan dengan bantuan program SPSS 11. Pengujian ini dilakukan terhadap saham winner maupun terhadap saham loser sebab di saham winner dan loser ditemukan adanya pembalikan harga saham.5 menunjukkan terdapat korelasi negatif antara AR = 0 dengan CAR = 13 (masa pembalikan harga saham hanya pada t = 13) bernilai -0.3.2.1 Pengujian Hipotesis 1 Untuk Saham Winner Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara abnormal return masing-masing saham winner dengan CAR masing-masing saham winner pada masa pembalikan yaitu t = 13 dengan n berjumlah 48.049 yang signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen.286. Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat reaksi berlebihan oleh investor dalam fenomena pembalikan harga diterima sedangkan Ho ditolak. 4.

3.8 berikut ini : Tabel 4. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.346.2.05 level (2-tailed).9 berikut ini : Tabel 4. 48 CAR 13 *. Koefisien korelasi ini memiliki p-value sebesar 0. Hasil uji korelasi ini dapat dilihat pada Tabel 4. Sumber : Output SPSS.8 Hasil Uji Korelasi Saham Winner Correlations AR AR Pearson Correlation Sig.286* .049 48 CAR 13 -. (2-tailed) N 1 .5 menunjukkan terdapat korelasi negatif antara AR = 0 dengan CAR = 5 (masa pembalikan harga saham hanya pada t = 5) yang bernilai -0.2 Pengujian Hipotesis 1 Untuk Saham Loser Pengujian ini dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara abnormal return masing-masing saham loser dengan CAR masing-masing saham loser pada masa pembalikan yaitu t = 5 dengan n berjumlah 33.terdapat reaksi berlebihan dari investor yang menyebabkan terjadinya fenomena pembalikan harga di BEJ dan menolak Ho.9 .286* . yang berarti menerima Ha yaitu terdapat reaksi berlebihan dari investor yang menyebabkan terjadinya fenomena pembalikan harga di BEJ dan menolak Ho. diolah. Penghitungan yang dilakukan dengan bantuan program SPSS 11. Correlation is significant at the 0. 4.048 yang signifikan pada tingkat kepercayaan 5 persen. Hasil uji korelasi ini dapat dilihat pada Tabel 4.049 48 1 . 48 -.

diolah. Correlation is significant at the 0. tampak dalam Tabel 4.048 33 CAR 5 -. Berdasarkan penghitungan dengan bantuan program SPSS 11.10 Nilai Tolerance dan VIF Saham Winner . Untuk itu diadakan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu terhadap data yang ada. tidak terjadi heteroskedastisitas.10 : Tabel 4.346* . dan data berdistribusi normal. asumsi-asumsi pokok pada regresi yang harus dipenuhi adalah pada data tidak terjadi autokorelasi. Sebelum diadakan pengujian regresi. 33 -.05 level (2-tailed). likuiditas dan bidask spread selama hari pembalikan yakni mulai t = 1 sampai dengan t = 13. Sumber : Output SPSS. (2-tailed) N Pearson Correlation Sig.Hasil Uji Korelasi Saham Loser Correlations AR AR Pearson Correlation Sig.048 33 1 . 33 CAR 5 *.346* .5 diperoleh nilai tolerance dan nilai VIF pada saham winner untuk variabel size. (2-tailed) N 1 . Uji Multikolinearitas Menurut Ghozali (2006) uji ini bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan adanya korelasi antara variabel independen. Adapun hasil uji asumsi klasik adalah : a. Pada model regresi yang baik antar variabel independennya seharusnya tidak terdapat korelasi.

345 1.401 1.385 0.725 0.147 2. Sedangkan nilai tolerance dan nilai VIF pada saham loser untuk variabel size dan likuiditas selama hari pembalikan yakni mulai t = 1 sampai dengan t = 5.675 Lik 0.516 0.185 1.680 0.603 0.446 0.181 1.730 0.217 1.302 1.371 1.112 2.442 0.503 0.124 1.659 1.340 1.174 2.596 2.481 VIF Lik 1.746 0.710 0.847 0.233 1.825 2.548 0.624 0.517 0.Tolerance Hari Size t =1 t =2 t =3 t =4 t =5 t =6 t =7 t =8 t =9 t =10 t =11 t =12 t =13 0.474 0. tampak dalam Tabel 4.838 1.725 1.448 0.471 1.753 Bid-ask 0.703 0.942 0.423 1.460 0.261 1.603 2.772 2.939 1.934 1.324 Sumber : Output SPSS.564 0.061 1.844 0.760 1.434 0.714 0.471 0.966 0.645 0.329 Bid-ask 1.568 0.408 1.045 1.755 Size 2.821 0.957 0.380 0.426 0.632 0.544 0.035 0. diolah.987 1.571 0.11 : .550 2.386 1.721 0.629 1.751 2.583 1.

890 Lik 2.11 dapat diketahui bahwa seluruh nilai VIF saham winner meupun loser untuk variabel ukuran perusahaan.028 1. Sedangkan jika dilihat dari nilai tolerance pada saham winner maupun loser seluruhnya tidak ada yang lebih kecil dari 0. Dari tabel 4.819 2.881 3.105 1. Dalam kedua tabel tersebut juga menunjukkan bahwa nilai VIF terbesar adalah 5. likuiditas dan bid-ask spread menunjukkan tidak terjadi multikolinearitas dalam persamaan regresi tersebut.1.234 4.469 1.020 5.Tabel 4. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi dilakukan untuk mendeteksi apakah terjadi korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode sebelumnya.10 dan tabel 4.475 0.898 VIF Sumber: Output SPSS.489 0.170 yang lebih besar dari 0.544 0. Pada model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi . b.078 1.322 0.331 0.347 0.527 Size 2.890 yang jauh lebih kecil dari 10.215 Bid-ask 1.266 0.766 2.493 0.11 Nilai Tolerance dan VIF Saham Loser Tolerance Hari Size t =1 t =2 t =3 t =4 t =5 0.448 0.838 2.1.681 0.170 Lik 0.106 3.927 0.237 Bid-ask 0. diolah.550 0. sebab nilai VIF yang dihasilkan memiliki nilai lebih kecil dari 10. Sedangkan nilai terkecil dari tolerance value adalah 0. Dari angka-angka tersebut disimpulkan bahwa tidak terdapat multikolinearitas sehingga persamaan regresi layak digunakan.046 3.

13 Nilai DW Persamaan Regresi Saham Winner dan Saham Loser Nilai DWhitung Waktu Winner dengan N = 48 t=1 t=2 t=3 t=4 2.674 – 2.421 Loser dengan N = 33 1.13 di bawah ini : Tabel 4.651 – 1.994 2.(Ghozali.349 < 1.674 – 1.12.651– 2. Pengambilan keputusan tentang ada tidaknya autokorelasi dalam persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan berdasarkan Tabel 4.742 1.742 1.579 1.254 2.970 .349 – 2.248 1.421 > 2.110 2.12 Nilai DW Tabel Kesimpulan Winner dengan N = 48 Tidak ada autokorelasi Ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak dapat disimpulkan 2.186 1.258 Sumber: Ghozali (2001). diolah.060 2. Adapun nilai DW dari persamaan regresi baik saham winner maupun saham loser dapat dilihat pada Tabel 4.579 2. 2006). Tabel 4.142 Loser dengan N = 33 2.258 > 2. Dalam persamaan regresi ini baik pada saham winner maupun pada saham loser dilakukan dengan uji Durbin-Watson.326 < 1.326 – 2.

324 2.1 dan 4. Untuk lebih jelas mengetahui ada tidaknya autokorelasi dalam persamaan regresi ini.326 2.293 2.245 2.579 Gambar 4.309 1.204 2.t=5 t=6 t=7 t=8 t=9 t = 10 t = 11 t = 12 t = 13 2.184 2.326 2.13 diatas divisualisasikan melalui gambar 4.2 di bawah ini : Gambar 4. angka-angka DWhitung yang terdapat pada Tabel 4.421 1.139 2.1 Nilai Autokorelasi Saham Winner Positive Autocorrelations Indesition No Autocorrelations Indesition Negative Autocorrelations 0 dl du 4-du 4-dl 1.278 2.876 Sumber: Output SPSS.2 Nilai Autokorelasi Saham Loser .674 2. diolah.

Adapun grafik plot untuk saham winner adalah sebagai berikut : Gambar 4.349 yang berarti tidak terdapat autokorelasi pada persamaan regresi saham loser.3 Grafik Plot untuk Saham Winner .326 yang berarti tidak terdapat autokorelasi pada persamaan regresi saham winner.651– 2. c.674 – 2. Jadi untuk uji autokorelasi pada persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi.Positive Autocorrelations Indesition No Autocorrelations Indesition Negative Autocorrelations 0 dl du 4-du 4-dl 1.651 2. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas untuk penelitian ini dilakukan terhadap saham winner maupun saham loser.3 dan 4.258 1.4 diatas dapat dilihat bahwa nilai DWhitung untuk persamaan regresi winner terletak pada nilai DWtabel 1.349 2.742 Berdasarkan Tabel 4.13 serta gambar 4. untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variabel dependen (ZPRED) dengan nilai residualnya (SRESID). Menurut Ghozali (2006). Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode sebelumnya. Sedangkan untuk persamaan regresi pada saham loser nilai DWhitung terletak pada nilai DWtabel 1.

Regression Studentized Deleted (Press) Residual R e g re ssio n Stu d e n tize d D e le te d (Pre ss) R e sid u a l 4 5 Scatterplot Dependent Variable: CAR_1 3 2 1 0 -1 -2 -3 -4 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_2 2 0 -2 -4 -6 -8 -10 -12 -3 -2 -1 0 1 2 3 Scatterplot Dependent Variable: CAR_3 2 0 -2 -4 -6 -8 -10 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value R e g re ssio n Stud e n tized D e le te d (Press) R e sid u a l Regression Studentized Deleted (Press) Residual Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_4 2 0 Scatterplot Dependent Variable: CAR_5 2 0 Scatterplot Dependent Variable: CAR_6 4 2 -2 -2 0 -4 -4 -2 -6 -6 -4 -8 -10 -2 -1 0 1 2 3 4 -8 -10 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 -6 -8 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Regression Studentized Deleted (Press) Residual Regression Studentized Deleted (Press) Residual Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_7 4 2 Scatterplot Dependent Variable: CAR_8 4 Scatterplot Dependent Variable: CAR_9 4 2 2 0 0 0 -2 -2 -2 -4 -6 -8 -3 -2 -1 0 1 2 3 -4 -4 -6 -3 -2 -1 0 1 2 3 -6 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value .

Sedangkan grafik plot untuk saham loser dapat dilihat pada Gambar 4.R eg re ssio n Stu de n tize d D e le ted (Pre ss) R esidu a l R e g re ssio n Stu d e n tize d D e le te d (Pre ss) R e sid u a l R e g re s s io n S tu d e n tiz e d D e le te d ( P re s s ) R e s id u a l Scatterplot Dependent Variable: CAR_10 2 Scatterplot Dependent Variable: CAR_11 4 2 Scatterplot Dependent Variable: CAR_12 4 2 0 0 0 -2 -2 -2 -4 -4 -4 -6 -8 -3 -2 -1 0 1 2 3 -6 -8 -2 -1 0 1 2 3 4 5 -6 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value R e g re s sio n S tu d e n tiz e d D e le te d (P re ss ) R e s id u a l Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Scatterplot Dependent Variable: CAR_13 4 2 0 -2 -4 -6 -8 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 Regression Standardized Predicted Value Sumber : Output SPSS. diolah.4 Grafik Plot untuk Saham Loser Regression Studentized Deleted (Press) Residual Regression Studentized Deleted (Press) Residual 2 3 Scatterplot Dependent Variable: CAR_1 8 Scatterplot Dependent Variable: CAR_2 4 6 2 4 0 2 -2 0 -4 -2 -4 -3 -2 -1 0 1 -6 -2 -1 0 1 2 3 4 Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value .4. Gambar 4.

Dari grafik plot untuk saham loser dari CAR (pada t = 1) sampai dengan CAR (pada t = 5) yang terdapat di atas dapat dilihat bahwa titik-titik pada grafik plot tersebut menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini menunjukkan bahwa dalam persamaan regresi di atas variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap.Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_3 4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_4 3 2 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Regression Standardized Predicted Value Regression Studentized Deleted (Press) Residual Scatterplot Dependent Variable: CAR_5 3 2 1 0 -1 -2 -3 -3 -2 -1 0 1 2 3 Regression Standardized Predicted Value Sumber: Output SPSS. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada saham loser. Hal ini menunjukkan bahwa dalam persamaan regresi di atas . diolah. Dari grafik plot untuk saham winner dari CAR (pada t = 1) sampai dengan CAR (pada t = 13) yang terdapat diatas dapat dilihat bahwa titik-titik pada grafik plot tersebut menyebar di atas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada saham winner. Sehingga persamaan regresi tersebut layak untuk digunakan.

5 Grafik Normalitas Saham Winner .5. Sedangkan pada uji Kolmogorov-Smirnov. Gambar 4. Uji Normalitas Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik serta melalui uji Kolmogorov-Smirnov.05 berarti data tidak terdistribusi secara normal. 2006). Kesimpulan ini berarti bahwa model regresi di atas layak untuk digunakan.variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap. Pada uji normalitas dengan grafik. d. bila nilai Kolmogorov-Smirnov-nya signifikan pada 0. Adapun grafik untuk saham winner ditunjukkan oleh Gambar 4. bila data menyebar di sekitar garis diagonal maka menunjukkan pola distribusi normal (Ghozali.

3 .0 .0 0.0 .3 .8 .8 .0 .8 1.3 .5 .0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_4 1.0 0.5 .5 .5 .3 .5 .3 .8 Expected Cum Prob Expected Cum Prob .0 .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob .8 Expected Cum Prob Expected Cum Prob .3 .0 .0 0.0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_6 1.0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_5 1.8 Expected Cum Prob Expected Cum Prob .Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_1 1.0 .0 0.0 0.5 .8 1.0 0.5 .3 .0 .5 .0 .8 1.3 .5 .3 0.8 1.0 0.3 .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_3 1.0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_2 1.8 1.5 .8 .0 .5 .0 0.8 1.5 .3 0.3 0.0 0.

0 .3 0.0 1.8 Expected Cum Prob .0 1.5 .5 Expected Cum Prob .0 0.5 .8 1.0 0.0 0.3 .5 .8 1.3 .0 0.5 Expected Cum Prob .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_9 1.5 .8 .3 .0 0.5 .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_11 1.3 .5 .0 .5 .8 1.3 .0 .5 .0 0.0 .8 .5 .8 1.3 .0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_12 .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob .8 Expected Cum Prob Expected Cum Prob .8 1.3 0.0 0.8 .5 .8 1.Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_7 1.0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_10 1.0 .8 Expected Cum Prob .3 .0 .3 .0 0.3 .0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_8 .0 .0 0.3 0.

diolah.095 0.3 .082 0.095 0.0 0.467 0.Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_13 1.109 0.0 . Sedangkan untuk uji Kolmogorov-Smirnov masing-masing periode mulai dari hari (t = 1) sampai dengan (t = 13).076 0.8 1.14 berikut ini : Tabel 4.119 0. (2-tailed) Unstandardized Residual t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=7 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0.610 0.450 .0 Observed Cum Prob Sumber: Output SPSS.8 Expected Cum Prob .0 . Sig.428 0.3 0.084 0.14 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Saham Winner Waktu Asymp.5 . dapat dilihat pada Tabel 4.5 .

6 Grafik Normalitas Saham Loser .6 Gambar 4. Adapun grafik untuk saham loser ditunjukkan oleh Gambar 4.093 Sumber : Output SPSS.075 0. diolah.t = 12 t = 13 0.

0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_2 .3 .5 .8 1.0 .5 .3 .8 1.0 0.0 .0 0.5 .5 .8 Expected Cum Prob .8 .5 .15 berikut ini : .3 .5 .0 .3 0.8 1. dapat dilihat pada Tabel 4.0 .0 Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_4 1.0 0.8 1.8 1.0 .3 .3 .3 .0 0.0 1.0 .3 0.3 0.3 .0 .0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_3 1.8 .8 Expected Cum Prob Expected Cum Prob . diolah Sedangkan untuk uji Kolmogorov-Smirnov masing-masing periode mulai dari hari (t = 1) sampai dengan (t = 5).0 Observed Cum Prob Sumber: Output SPSS.5 .8 Expected Cum Prob .5 .0 0.5 .Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_1 1.0 0.0 Observed Cum Prob Observed Cum Prob Normal P-P Plot of Regression Dependent Variable: CAR_5 1.0 0.5 Expected Cum Prob .

965 Sumber : Output SPSS. tampak bahwa nilai unstandardized residual persamaan regresi pada tiap-tiap periode yakni mulai dari hari (t = 1) sampai dengan (t = 13). hasil uji Kolmogorov-Smirnov secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran P. diolah.235 0. probabilitas signifikansi nilai Kolmogorov-Smirnovnya semuanya lebih dari 0.14 diatas. Sig. Untuk lebih jelasnya.15 Hasil Uji Normalitas Kolmogorov-Smirnov Saham Loser Waktu Asymp.979 0.Tabel 4. Pada grafik normal probability plot titik-titik menyebar berhimpit di sekitar diagonal dan hal ini menunjukkan bahwa residual terdistribusi secara normal.05.273 0. Dari grafik normalitas untuk saham winner dari CAR (pada t = 1) sampai dengan CAR (pada t = 13) yang terdapat di atas dapat dilihat bahwa penyebaran data (titik) berada di sekitar garis diagonal dan arahnya sesuai dengan garis diagonal.146 0. (2-tailed) Unstandardized Residual t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi pada saham winner memenuhi asumsi normalitas. Dari grafik normalitas untuk saham loser dari CAR (pada t = 1) sampai dengan CAR (pada t = 5) yang terdapat di atas dapat dilihat bahwa penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik terdistribusi secara normal . Berdasarkan Tabel 4.

Pada grafik normal probability plot titik-titik menyebar berhimpit di sekitar diagonal dan hal ini menunjukkan bahwa residual terdistribusi secara normal.2.05. dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi tersebut layak untuk digunakan. 3 dan 4 diuji menggunakan analisis regresi berganda (multiple regression). 3 dan 4 dilakukan untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan. serta data terdistribusi normal. Berdasarkan seluruh hasil uji asumsi klasik terhadap seluruh persamaan regresi yang ada baik yang terdapat pada saham winner maupun pada saham loser bahwa tidak terdapat multikolinearitas. Hipotesis tersebut diuji dengan meregresikan kapitalisasi pasar. hasil uji Kolmogorov-Smirnov secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran N. probabilitas signifikansi nilai KolmogorovSmirnovnya semuanya lebih dari 0.4 Pengujian Hipotesis 2. Berdasarkan Tabel 4. Untuk lebih jelasnya. Setelah itu diadakan pengujian hipotesis 2. 3 dan 4 Pengujian hipotesis 2. 3 dan 4 untuk mengetahui apakah ukuran perusahaan.15 untuk saham loser diatas. likuiditas dan bid-ask spread berpengaruh atau tidak terhadap pembalikan harga di BEJ. likuiditas masing-masing saham serta bid-ask spread masing- .dan berbentuk simetris tidak menceng ke kanan atau ke kiri. autokorelasi ataupun heteroskedastisitas. 4. likuiditas dan bid-ask spread berpengaruh atau tidak terhadap pembalikan harga di BEJ. Hipotesis 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa persamaan regresi pada saham loser memenuhi asumsi normalitas. tampak bahwa nilai unstandardized residual persamaan regresi pada tiap-tiap periode yakni mulai dari hari (t = 1) sampai dengan (t = 5).

074 Koef 0.368 0.406 0.061 0.074 0.718 0.masing saham terhadap CAR masing-masing saham selama masa pembalikan dan juga dilihat koefisien regresinya signifikan berbeda dengan nol atau tidak.455 0.006 0.083 0.299 0.044 -0.635 2.020 0. Tabel 4.129 0.006 -0.009 -0.024 -0.16 memperlihatkan hasil analisis sebagai berikut : Tabel 4.036 -0.573 1.021 0.066 0.16 Hasil Uji Regresi Saham-saham Winner Intercept Hari Koef t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 t=6 t=7 t=8 t=9 t = 10 t = 11 0.030 0.026 0.891 0.063 -0.022 Sig 0. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi berikut : CAR i.078 0.143 0.551 0.258 0.041 -0.066 0.497 0.538 0.662 0.233 0.019 0.401 0.019 -0.006 -0.384 0.859 0.039 0.448 0.403 0.088 0.177 Uji F Sig 0.220 0.245 0.436 Koef 0.065 0.354 1.306 0.086 1.040 1.074 0.513 0.215 0.241 2.045 0.017 -0.799 -0.075 0.169 1.027 Sig 0.027 0.370 1.03 0.152 0.846 Koef -0.015 0.924 0.691 0.440 0.264 0.661 -0.071 0.007 -0.610 0.t Pengujian ini dilakukan terhadap saham winner maupun terhadap saham loser karena di saham winner maupun loser ditemukan adanya pembalikan harga saham.313 0.948 0.292 0.067 -0.069 0.124 0.010 0.051 Sig 0.130 -0.100 0.014 0.129 Size Lik Bid-Ask R2 Nilai 0.035 0.069 0.365 0.017 0.730 0.044 0.085 0.254 0.009 0.787 0.010 Sig 0.320 0.332 0.381 0.026 -0.024 0.489 0.107 -0.618 0.624 0.069 0.023 -0.t = α + β1 LogSize + β2 LogLik +β3 ARBA+∑ i.54 0.663 0.592 0.136 0.631 0.104 .425 0.324 0.

379 Sig 0. diolah.359 -0.17 Hasil Uji Regresi Saham-saham Loser Intercept Hari Koef t=1 t=2 t=3 t=4 t=5 0.147 Koef 0.645 2.145 0.612 0.280 0.028 -0.1 Pembalikan Harga Saham Winner dan Loser 4.031 0.380 1.039 0.3.006 -0.118 0.224 0.027* 0.t = 12 t = 13 -0.508 5.400 0.125 0.430 0.1.201 0.330 0.008 0.251 -0.3 Pembahasan 4.138 0.005* R2 Keterangan : * Signifikan pada α = 0.02 0.268 Sig 0.001* Koef -0.592 3. .157 0.142 Sig 0.744 0.053 0.206 0.01 0.041 0.016 -0.095 0.002* 0.285 0.938 0.246 0.5 dapat diketahui bahwa dengan menggunakan Market Adjusted Model untuk menghitung abnormal return diperoleh hasil bahwa average abnormal return signifikan berbeda dengan nol dan mengalami penurunan pada hari 13 dan 19 setelah hari peristiwa kenaikan besar harga saham.360 Sig 0.033 0.282 1.016 1.305 0.646 0. Average abnormal return setelah t = 0 signifikan berbeda dengan nol dan mengalami penurunan ini kemungkinan merupakan reaksi investor yang berlebihan dalam menilai saham. diolah.164 Sig 0.020 -0.014* Keterangan : * Signifikan pada α = 0.005* 0.977 0.230 0.013 0.1 Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Winner Berdasarkan tabel 4.05 Sumber : Output SPSS.904 0.891 0. 4.076 0.3.864 0.007 -0.662 -0.209 0.002* Koef -0.101 0. Tabel 4.949 0.391 Size Lik Bid-Ask Uji F Nilai 1.059 -0.0078 0.327 1.624 0.600 0.012 -0.010 -0.571 -0.031 0.01 -0.05 Sumber : Output SPSS.121 0.

7 CAAR Winner 0. Grafik ini menunjukkan bahwa mulai dari t = -5 sampai dengan t = -1 CAAR saham-saham winner bergerak secara fluktuatif dan tidak stabil. Pada gambar 4. CAAR . diolah.01 0 -1 0 -0.7 seperti di bawah ini : Gambar 4. yakni dengan melihat pergerakan Cumulative Average Abnormal Return (CAAR) saham-saham winner selama periode pengamatan (t = -5 sampai dengan t = 20).05 -0.07 -0.04 -0. Kemudian dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa CAAR meningkat tajam pada hari peristiwa (t = 0) yang menunjukkan peristiwa kenaikan besar harga saham.09 -5 -4 -3 -2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Sumber : Data Sekunder. Pergerakan CAAR saham winner tampak dalam gambar 4.06 -0.Untuk mengetahui apakah terjadi pembalikan harga saham atau tidak pada saham winner dapat juga dilakukan dengan analisis grafik.03 -0.08 -0. Dapat diketahui pula bahwa selama 20 hari setelah peristiwa kenaikan besar harga saham.7 diatas tampak pergerakan Cumulative Average Abnormal Return (CAAR) saham-saham winner selama periode pengamatan (t = -5 sampai dengan t = 20).02 -0.01 -0.

yakni dengan melihat pergerakan Cumulative Average Abnormal Return (CAAR) saham-saham loser selama periode pengamatan (t = -5 sampai . 4. Berdasarkan hasil gambar CAAR dan nilai average abnormal return serta signifikansinya disimpulkan bahwa pada saham-saham winner terjadi pembalikan harga saham.8. Hal ini berarti bahwa perubahan besar harga saham yang terjadi pada t = 0 kemungkinan merupakan reaksi investor yang berlebihan dalam menilai saham. untuk mengetahui apakah terjadi pembalikan harga saham atau tidak pada saham loser dapat juga dilakukan dengan analisis grafik. Sama seperti pada saham winner.17. Apabila ditinjau dari segi signifikansi average abnormal return yang ada. dan 18 setelah peristiwa penurunan besar harga saham.2 Pembalikan Harga Saham Untuk Saham Loser Berdasarkan tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa berdasarkan perhitungan abnormal return dengan menggunakan Market Adjusted Model didapat hasil bahwa average abnormal return signifikan berbeda dengan nol dan mengalami kenaikan pada hari ke 5. Berdasarkan perhitungan abnormal return. di peroleh hasil bahwa terdapat average abnormal return yang signifikan pada hari ke 13 yang kemudian pada hari ke 14 CAAR mengalami perubahan arah lagi yaitu mengalami kenaikan.bergerak ke arah yang berlawanan dengan yang terjadi pada saat t = 0 dan bergerak secara fluktuatif dan tidak stabil.1.14.3. pembalikan arah harga saham winner terjadi bila average abnormal return pada harihari perdagangan setelah hari peristiwa (t = 0) adalah signifikan dan mengalami penurunan.

8 seperti di bawah ini : Gambar 4. Kemudian .09 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Sumber : Data sekunder. Pergerakan CAAR saham loser tampak dalam gambar 4.07 -0.dengan t = 20).04 -0.05 -0. Gambar ini menunjukkan bahwa mulai dari t = -5 sampai dengan t = 3 CAAR saham-saham loser sedikit demi sedikit mengalami penurunan.8 diatas tampak kondisi Cumulative Average Abnormal Return (CAAR) saham-saham loser selama periode pengamatan (t = -5 sampai dengan t = 20).01 0 -1 -0. CAAR mengalami penurunan yang sangat tajam yang puncaknya terjadi pada waktu hari peristiwa (t = 0).02 -0. Mendekati hari peristiwa (t = -2 sampai dengan t = -1). Berdasarkan gambar 4.06 -0.01 0. diolah.00 -5 -4 -3 -2-0.8 CAAR Loser 0.03 -0.02 0.08 -0.

3. Kondisi ini sesuai dengan pendapat terdahulu yang mengemukakan bahwa apabila investor bereaksi secara berlebihan dalam menilai saham. Berdasarkan gambar CAAR tersebut dapat diketahui bahwa lama pembalikan harga pada saham loser berlangsung dalam waktu lima hari. Dari kedua hasil identifikasi sampel winner dan loser tersebut menunjukkan bahwa semakin naik atau turun harga pada t = 0. 1996) dalam Kusumawardhani (2001). (Ferri dan Min.2 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 1 . Apabila ditinjau dari segi signifikansi average abnormal return yang ada. 4. pembalikan arah harga saham loser terjadi bila average abnormal return pada harihari perdagangan setelah hari peristiwa (t = 0) adalah signifikan dan mengalami kenaikan. maka semakin besar perubahan harga pada t = 0 akan diikuti oleh perubahan harga menuju arah berlawanan yang semakin besar pula. Dari hasil gambar CAAR dan nilai average abnormal return serta signifikansinya disimpulkan bahwa pada sahamsaham loser terjadi pembalikan harga saham. di peroleh hasil bahwa terdapat average abnormal return yang signifikan berbeda dengan nol dan mengalami kenaikan pada hari ke lima yang kemudian pada hari ke 6 CAAR mengalami perubahan arah lagi yaitu mengalami penurunan.pada hari setelah peristiwa (t = 0) CAAR tampak bergerak naik lagi. Berdasarkan perhitungan abnormal return. maka akan semakin tinggi pembalikan harga selama hari penyesuaian. Dari CAAR yang bergerak naik setelah hari peristiwa tersebut dapat diketahui bahwa terjadi pembalikan harga pada saham-saham loser.

selanjutnya investor menyadari bahwa dia telah bereaksi berlebihan sehingga kemudian dia melakukan koreksi yang tercermin dari pembalikan harga setelah kenaikan harga saham secara besar-besaran (Kusumawardhani. . diketahui pada tanggal 30 Agustus 2005 terjadi peristiwa dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan melonjaknya harga minyak dunia.8 tersebut tampak bahwa terdapat korelasi yang bernilai negatif dan signifikan. Kebijakan ekonomi tersebut adalah kebijakan energi. moneter. Hal ini menunjukkan bahwa investor bereaksi berlebihan terhadap informasi positif. Pembalikan harga yang terjadi pada saham winner ini disebabkan reaksi investor yang terlalu berlebihan dalam menilai informasi. memutuskan menaikkan BI Rate sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 9. fiscal dan kebijakan ekonomi lainnya terutama investasi.4.50%.3.1 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 1 Untuk Saham Winner Dalam tabel 4. berdasarkan Rapat Dewan Gubernur (RDG). Kemudian investor menyadari bahwa telah bereaksi berlebihan dan selanjutnya melakukan koreksi terhadap tindakannya sehingga harga saham winner mengalami pembalikan harga. Hal ini dilakukan antara lain sebagai langkah lanjutan kebijakan di bidang moneter untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah. khususnya informasi baik (good news). 2001).2. Dengan adanya hal ini tampaknya dianggap oleh investor sebagai informasi positif sehingga mendorong bereaksi berlebihan terhadap informasi tersebut. Dari penelusuran yang dilakukan. Pada tanggal tersebut pula.

2. selanjutnya investor menyadari bahwa dia telah bereaksi berlebihan sehingga kemudian dia melakukan koreksi yang tercermin dari pembalikan harga setelah kenaikan harga saham secara besar-besaran (Kusumawardhani.depkeu.id).go. satu minggu. Hal ini menunjukkan bahwa investor bereaksi berlebihan terhadap informasi positif. misalnya satu hari. maka ini mungkin sebaiknya dikatakan sebagai pembalikan jangka menengah). beredar isu bahwa pemerintah akan menaikkan lagi harga BBM dikarenakan harga minyak dunia yang semakin melambung tinggi (http://www. Sedangkan dalam penelitian ini.9 tersebut tampak bahwa terdapat korelasi yang bernilai negatif dan signifikan. Pada saham loser pembalikan harga yang terjadi lebih disebabkan karena reaksi investor yang terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu informasi. Ini berbeda dengan pembalikan jangka panjang oleh DeBondt dan Thaler yang menemukan pembalikan 3 tahun. 2001). Hal ini dinilai investor sebagai suatu sinyal buruk dan beramai-ramai menjual saham karena takut bahwa perusahaan akan terkena dampaknya yang berimbas kepada penurunan pendapatan perusahaan sehingga . atau satu bulan.hukmas. Dari penelusuran yang dilakukan. dapat diketahui pada sekitar tanggal 29 Maret 2005. 4. khususnya informasi buruk (bad news). (Sedangkan Susiyanto menemukan pembalikan 3 bulan. investor memerlukan waktu penyesuaian dalam menilai harga saham selama 12 hari dan pembalikan harga terjadi pada hari ke 13 setelah hari peristiwa.2 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 1 Untuk Saham Loser Dalam tabel 4.3.Pembalikan harga dapat terjadi dalam jangka pendek dengan waktu segera.

3.346 ini lebih besar daripada koefisien korelasi dari saham winner yang bernilai -0. Sedangkan sisanya sebesar 76 persen dijelaskan oleh faktor lain di luar ukuran perusahaan. likuiditas. karena informasi mengenai kondisi makro secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham atau tidak melakukan perdagangan sama sekali.286. 3 dan 4 4. Koefisien korelasi dari saham loser yang bernilai -0. dan bid- ask spread. Adapun waktu yang diperlukan investor dalam melakukan koreksi terhadap saham loser ini lebih singkat dari saham winner. terlihat besarnya R2 adalah kurang dari 24persen. Menurut Kusumawardhani (2001).3. Kemudian dalam beberapa waktu para investor menyadari bahwa tindakannya terlalu berlebihan sehingga melakukan koreksi yang pada akhirnya harga saham mengalami pembalikan.3. 4. .menyebabkan harga saham mengalami penurunan. Hal ini berarti sekitar 24 persen variasi CAR dapat dijelaskan oleh variasi dari variabel ukuran perusahaan. 3 dan 4 Untuk Saham Winner Dari hasil regresi di atas. Hal ini manunjukkan bahwa investor lebih bereaksi berlebihan terhadap informasi negatif daripada informasi positif.1 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 2. likuiditas dan bid-ask spread. yakni hanya selama 5 hari. faktor-faktor lain yang dimungkinkan berpengaruh terhadap pembalikan harga saham berasal dari faktor makro seperti kurs dan kondisi pasar.3 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh DeBondt dan Thaler (1987) dalam Sukmawati dan Hermawan (2003).

005 untuk variabel size. otomatis volume perdagangannya pun meningkat yang berarti kapitalisasinya juga besar. koefisien regresinya bernilai positif. yaitu sebesar 0. bahwa saham winner adalah saham yang pada waktu hari peristiwa mengalami kenaikan harga secara besar-besaran.041 untuk variabel bid-ask spread. berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa pada hari (t = 13) tingkat signifikansi (ρ-value) adalah sebesar 0. H3 dan H3 disimpulkan bahwa hasil penelitian menolak Ho dan menerima Ha yaitu terdapat pengaruh ukuran perusahaan. Hal ini memberi arti bahwa semakin besar ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar). Sehingga untuk H2. Berdasarkan tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini. dan 0. Karena saham-saham ini mengalami kenaikan harga. Kemudian ketika terjadi pembalikan harga. Dalam Tabel 4. dalam . likuiditas dan bid- ask spread secara signifikan terhadap pembalikan harga yang terjadi pada saham winner. 0.002 untuk variabel likuiditas.16 tersebut juga tampak bahwa pada hari (t = 13) koefisien regresi size adalah bernilai negatif. yang berarti saham winner mengalami perubahan harga (penurunan). Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin likuid suatu saham. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. maka return saham perusahaan tersebut akan semakin kecil pada hari pembalikan harga (Zarowin.Dari ketiga variabel independen. Sedangkan untuk variabel likuiditas dan bid-ask spread. 1990). likuiditas dan bid-ask spread memiliki pengaruh nyata terhadap pembalikan harga saham. maka return saham tersebut akan semakin kecil.05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel size (ukuran perusahaan).

dimana harga menyesuaikan secara cepat terhadap informasi baru. maka disimpulkan bahwa hasil penelitian menolak Ho dan menerima Ha yaitu ukuran perusahaan. semakin kecil spread mencerminkan biaya transaksi menjadi semakin kecil resiko yang pada akhirnya akan meningkatkan minat investor pada saham tersebut. Dari Tabel 4. terlihat nilai F hitung sebesar 3. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa pada hari kenaikan besar harga saham dimana hampir seluruh saham yang diperdagangkan di BEJ mengalami kenaikan harga. maka rentang tawar menawar harga saham akan mengalami penurunan.arti mudah untuk ditransaksikan. Dalam kondisi pasar modal yang efisien. Hal tersebut selain . sehingga hal tersebut akan berpengaruh terhadap fluktuasi harga saham. likuiditas dan bid-ask spread secara bersama-sama berpengaruh terhadap pembalikan harga pada saham winner.014. pada hari berikutnya saham akan mengalami pembalikan harga dimana hampir seluruh saham akan mengalami kenaikan harga. Secara ringkas. Hal ini akan menyebabkan peningkatan likuiditas dan menurunkan persentase bid-ask spread. jika suatu peristiwa dianggap sebagai informasi positif dalam pasar modal yang efisien maka saham tersebut akan diminati investor.05. maka derajat pembalikan harga yang terjadi akan semakin cepat (Cox dan Peterson. Kusumawardhani (2001) menjelaskan bahwa besarnya bid-ask spread mencerminkan resiko sebuah saham.977 dengan probabilitas signifikansi 0. 1994).16 terlihat pula bahwa pada hari (t = 13). Karena probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebesar 0.

Dalam hal ini investor akan cenderung untuk memilih perusahaan yang memiliki size besar karena dianggap berkinerja baik. Dalam penelitiannya. Dalam penelitian ini juga ditemukan hasil serupa yaitu ukuran perusahaan (size) berpengaruh terhadap pembalikan saham winner. Saham-saham winner yang notabene adalah saham-saham yang mengalami kenaikan harga dalam peristiwa kenaikan secara besar-besaran.go.desebabkan oleh reaksi berlebihan investor dalam menilai suatu informasi positif. Pada suatu waktu ketika investor menyadari telah bereaksi berlebihan.hukmas. Pembelian besar-besaran ini akan menyebabkan harga saham mengalami kenaikan. maka investor akan cepat bereaksi dengan membeli saham perusahaan yang dinilainya akan memberikan prospek yang baik di masa mendatang. Jika terdapat suatu informasi yang dianggap positif (good news) oleh investor yakni dikeluarkannya paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah untuk menjaga kestabilan ekonomi akibat melemahnya nilai tukar rupiah dan melonjaknya harga minyak dunia. juga disebabkan oleh perilaku investor yang memanfaatkan bid-ask spread untuk mendapatkan keuntungan dalam perdagangan saham dan mempertimbangkan faktor ukuran perusahaan dalam mengambil suatu tindakan terhadap informasi yang diterimanya.depkeu. Zarowin (1990) mengemukakan bahwa ukuran perusahaan (size) adalah faktor yang berpengaruh terhadap pembalikan harga saham winner dan loser. kemudian melakukan koreksi dengan menjual saham-saham yang dimilikinya dan hal ini akan memicu pembalikan harga . adalah perusahaan yang memiliki size besar.id) . (http://www.

maka hal ini akan mempercepat terjadinya pembalikan harga. Bahwa jika terdapat suatu informasi positif mengenai perusahaan emiten.saham. faktor likuiditas juga memiliki peranan terhadap derajat pembalikan harga saham winner. maka investor akan melakukan tindakan membeli saham tersebut dan menjual saham lama yang telah dipegang sebelumnya. 4. Jika saham tersebut memiliki tingkat likuiditas yang tinggi.3.2 Pembahasan Hasil Uji Hipotesis 2. likuiditas dan bid-ask spread. kemudian terhadap informasi tersebut investor menanggapinya secara berlebihan. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990) serta Cox dan Peterson (1994) yang masing-masing meneliti mengenai pengaruh ukuran perusahaan dan likuiditas dalam pembalikan harga saham. terlihat besarnya R2 adalah kurang dari 40 persen. dalam arti mudah untuk diperjualbelikan. Hal ini berarti 40 persen variasi CAR dapat dijelaskan oleh variasi dari variabel ukuran perusahaan. 3 dan 4 Untuk Saham Loser Dari hasil regresi di atas. semakin likuid suatu saham akan mempercepat derajat pembalikan harga saham. karena informasi mengenai kondisi makro secara . Sama seperti saham winner.3. pada saham loser faktor-faktor lain yang dimungkinkan berpengaruh terhadap pembalikan saham berasal dari faktor makro seperti kurs dan kondisi pasar. Dengan kata lain. Hal ini mengimplikasikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap pembalikan harga saham. Sedangkan sisanya sebesar 60 persen dijelaskan oleh faktor lain di luar ukuran perusahaan. likuiditas dan bid-ask spread. Selain itu.

bahwa saham loser adalah saham yang pada waktu hari peristiwa mengalami penurunan harga secara besar-besaran. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.001 untuk variabel likuiditas dan 0. Berdasarkan tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini. . Kemudian ketika terjadi pembalikan harga. 0. 2001). 1990).05 maka dapat disimpulkan bahwa variabel size (ukuran perusahaan).17 tersebut juga tampak bahwa pada hari (t = 5) koefisien regresi size adalah bernilai negatif. yang berarti saham loser mengalami perubahan harga (kenaikan). likuiditas dan bid-ask spread secara signifikan terhadap pembalikan harga yang terjadi pada saham loser. H3 dan H4 disimpulkan bahwa hasil penelitian menolak Ho dan menerima Ha yaitu terdapat pengaruh ukuran perusahaan. maka return saham tersebut akan semakin besar. berdasarkan hasil pengujian menunjukkan bahwa pada hari (t = 5) tingkat signifikansi (ρ-value) adalah sebesar 0. Hal ini memberi arti bahwa semakin kecil ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar). likuiditas dan bid-ask spread memiliki pengaruh nyata terhadap pembalikan harga saham. Sehingga untuk H2.langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi investor dalam mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham atau tidak melakukan perdagangan sama sekali (Kusumawardhani. maka return saham perusahaan tersebut akan semakin besar pada hari pembalikan harga (Zarowin. Karena saham-saham ini mengalami penurunan harga.027 untuk variabel bid-ask spread. secara otomatis volume perdagangannya pun menurun yang berarti kapitalisasinya juga kecil. Dalam Tabel 4. Dari ketiga variabel independen. yaitu sebesar 0.002 untuk variabel size.

semakin besar spread mencerminkan biaya semaikin besar yang pada akhirnya akan menurunkan minat investor pada saham tersebut.Sedangkan untuk variabel likuiditas dan bid-ask spread.005. Dalam kondisi pasar modal yang efisien. Secara ringkas. dalam penelitiannya mengemukakan bahwa ukuran perusahaan (size) adalah faktor yang berpengaruh terhadap pembalikan harga saham . sehingga hal tersebut akan berpengaruh terhadap fluktuasi harga saham. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin likuid suatu saham. likuiditas dan bid-ask spread secara bersama-sama berpengaruh terhadap pembalikan harga pada saham loser. dalam arti mudah untuk ditransaksikan. terlihat nilai F hitung sebesar 5. maka disimpulkan bahwa hasil penelitian menolak Ho dan menerima Ha yaitu ukuran perusahaan. koefisien regresinya bernilai positif. 1994).05.17 dapat terlihat pula bahwa pada hari (t = 5). dimana harga menyesuaikan secara cepat terhadap informasi baru. maka derajat pembalikan harga yang terjadi akan semakin cepat (Cox dan Peterson. Karena probabilitas lebih kecil dari tingkat signifikansi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebesar 0. maka rentang tawar menawar harga saham akan mengalami penurunan.360 dengan probabilitas signifikansi 0. jika suatu peristiwa dianggap sebagai informasi positif dalam pasar modal yang efisien maka saham tersebut akan diminati investor. Zarowin (1990). Hal ini akan menyebabkan penurunan likuiditas dan menaikkan persentase bid-ask spread. Kusumawardhani (2001) menjelaskan bahwa besarnya bid-ask spread mencerminkan resiko sebuah saham. Dari tabel 4.

kemudian terhadap informasi tersebut investor menanggapinya secara berlebihan. maka investor akan cepat bereaksi dengan melakukan tindakan menjual saham yang dimilikinya. . semakin likuid suatu saham akan mempercepat derajat pembalikan harga saham. faktor likuiditas juga memiliki peranan terhadap derajat pembalikan harga saham loser. dalam arti mudah untuk diperjualbelikan. Jika terdapat suatu informasi yang dianggap negatif (bad news) oleh investor. Dampaknya adalah harga saham-saham perusahaan mengalami penurunan. Saham-saham loser yang notabene adalah saham-saham yang mengalami penurunan harga dalam peristiwa penurunan secara besar-besaran. adalah perusahaan yang memiliki size kecil. Dengan kata lain.winner dan loser. juga terdapat pengaruh dari ukuran perusahaan dimana selanjutnya akan memicu terjadinya pembalikan harga saham. khususnya perusahaan yang memiliki size kecil karena investor memiliki persepsi bahwa perusahaan akan terkena dampaknya yang akan berimbas pada penurunan kinerja perusahaan tersebut. Dalam penelitian ini juga ditemukan hasil serupa yaitu ukuran perusahaan (size) berpengaruh terhadap pembalikan saham loser. Selain itu. Bahwa jika terdapat suatu informasi positif mengenai perusahaan emiten. yang dalam hal ini adalah adanya isu yang beredar bahwa pemerintah akan menaikkan harga BBM. Hal ini mengimplikasikan bahwa reaksi berlebihan investor selain dipicu oleh adanya informasi yang beredar. Jika saham tersebut memiliki tingkat likuiditas yang tinggi. maka hal ini akan mempercepat terjadinya pembalikan harga. maka investor akan melakukan tindakan membeli saham tersebut dan menjual saham lama yang telah dipegang sebelumnya.

1 Kesimpulan Berdasarkan analisis dan pembahasan mengenai analisis Overreaction Hyphothesis dan pengaruh ukuran perusahaan. Pembalikan harga terjadi pada saham winner maupun loser. likuiditas dan bid-ask spread terhadap pembalikan harga saham. likuiditas & bid-ask spread terhadap fenomena pembalikan harga saham di BEJ. BAB V PENUTUP 5.Hasil penelitian uji regresi berganda saham winner dan loser tersebut cenderung mendukung penelitian Atkins dan Dyl (1990) yang mengembangkan hipotesis reaksi berlebihan sebagai faktor penyebab pembalikan harga saham. Pembalikan harga saham yang terjadi merupakan bentuk penyesuaian terhadap peristiwa kenaikan atau penurunan harga saham secara besar-besaran. Penelitian ini juga menunjukkan kesamaan hasil dengan penelitian yang dilakukan oleh Zarowin (1990) serta Cox dan Peterson (1994) yang masing-masing menguji faktor ukuran perusahaan. walaupun tidak sepenuhnya sesuai. karena Atkins dan Dyl (1990) mengemukakan bahwa pembalikan harga saham terjadi hanya karena reaksi investor yang berlebihan dan bukan karena pengaruh faktor-faktor lain. . dapat diambil kesimpulan bahwa : a.

likuiditas dan bid-ask spread seluruhnya signifikan berbeda dengan nol pada taraf signifikansi 5 persen. bid-ask spread berpengaruh secara signifikan terhadap pembalikan harga saham diterima. likuiditas dan bid-ask spread secara simultan menunjukkan bahwa nilai F signifikan. Begitu juga dengan faktor likuiditas dan bid-ask spread yang masing – masing berpengaruh secara signifikan di dalam fenomena pembalikan harga saham. 2) Pengujian regresi terhadap saham loser secara parsial menunjukkan hasil yang hampir sama dengan saham winner. likuiditas dan bid-ask spread diperoleh hasil sebagai berikut : 1) Pengujian regresi terhadap saham winner secara parsial menunjukkan hasil bahwa koefisien regresi ukuran perusahaan memiliki pengaruh di dalam fenomena pembalikan harga saham. yaitu bahwa koefisien regresi ukuran perusahaan. Pengujian regresi antara CAR pada t = 13 dan t = 5 dengan ukuran perusahaan. likuiditas dan bid-ask spread secara parsial berpengaruh terhadap . Hasil regresi terhadap faktor-faktor ukuran perusahaan. Berdasarkan signifikansi untuk koefisien regresi size dan likuiditas tersebut berarti pada hari (t = 5) ukuran perusahaan.b. Hal ini berarti faktor-faktor tersebut berpengaruh secara bersama-sama terhadap terjadinya fenomena price reversal pada saham winner. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada saham winner H2 yang menyatakan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap fenomena pembalikan harga saham diterima. Begitu juga dengan H3 dan H4 yang menyatakan bahwa likuiditas.

Kepada para praktisi. 5. Bagi investor yang menerapkan strategi berkebalikan dalam berinvestasi. Hal ini berarti faktor-faktor tersebut berpengaruh secara bersama-sama terhadap terjadinya fenomena pembalikan harga saham. a.2 Saran Saran yang dapat diberikan sehubungan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Hasil regresi secara simultan menunjukkan bahwa nilai F signifikan. hasil penelitian ini dapat memberikan tambahan informasi yang dapat digunakan oleh investor untuk melakukan strategi berkebalikan (contrarian strategic). c. b. Investor dapat memperhatikan faktor ukuran perusahaan (kapitalisasi pasar) sebagai dasar pertimbangan untuk melakukan contrarian strategic (straregi berkebalikan) dalam berinvestasi.pembalikan harga. Sehingga disimpulkan bahwa pada saham loser H2. H3 dan H4 diterima. Kepada investor. dapat memperhatikan faktor likuiditas dan bid-ask spread sehingga investor . yakni membeli suatu saham pada saat menjadi loser dan menjualnya pada saat mengalami pembalikan (pada waktu menjadi winner) sehingga investor dapat memperoleh abnormal return yang signifikan. seharusnya tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap informasi yang diterima.

Hendaknya menambahkan periode penelitian (lebih dari dua tahun). d. faktor ukuran perusahaan (firm size). hasil yang didapat akan lebih akurat dan dapat mewakili secara umum. Selain itu perusahaan juga dituntut untuk lebih cermat dan tanggap terhadap informasi yang beredar sebagai antisipasi terhadap strategi kontrarian yang akan digunakan investor dalam berinvestasi. . Untuk penelitian selanjutnya.dapat memberikan penilaian terhadap kinerja suatu saham dan pada akhirnya dapat melakukan perdagangan saham yang tepat. 2. Dengan demikian perusahaan dituntut untuk meningkatkan kinerjanya sebagai salah satu patokan bagi investor dalam menilai harga saham. a. Dalam penelitian ini hanya menggunakan reaksi berlebihan. Karena periode pengamatan yang lebih panjang. b. likuiditas dan bid-ask spread untuk mencari penyebab terjadinya pembalikan harga. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya memasukkan variabel seasonality sebagai variabel independen yang diduga dapat menyebabkan terjadinya fenomena pembalikan harga saham. Dari hasil analisis regresi menunjukkan R2 yang kecil yang berarti ada variabel independen lain yang belum dimasukkan dalam model. kesimpulan terdapatnya reaksi berlebihan dari investor menunjukkan bahwa harga saham belum menunjukkan harga sebenarnya. Kepada perusahaan emiten.

Analisis Regresi. Yogyakarta: BPFE . Algifari. Buku teks Ang.DAFTAR PUSTAKA a. Robert. 2000. Mediasoft Indonesia. Edisi Kedua. Buku Pintar Pasar Modal Indonesia. 1997.

J. Investment Analysis and Management. Alih Bahasa: Soesanto Budhiharmo. John Wiley & Sons Fabozzi. December. dan J. Don R dan David Peterson. Semarang. PT Elex Media Komputindo. Tjiptono dan Hendy M Fakhrudin. “The Reversal of Large Stock-price Decreases”. 2000. Cetakan Pertama.. BPFE. Yogyakarta Elton. Kamus Istilah Keuangan dan Investasi. 2006. M. 24. Imam. Artikel Jurnal Atkins. 1998. H. 1997. XLIL. John Wiley & Sons Inc b. 1. Jakarta Downes. M. R. Dasar – dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Salemba Empat. Stock Returns Following Large One Day Declines:Evidence on Short-Term Reversals and Longer-Term Performance. Journal of Finance. Alih Bahasa: Tim Penterjemah Salemba Empat. Price Reversal. Manajemen Investasi. Journal of Financial and Quantitative Analysis. Jakarta Djarwanto dan Pangestu Subagyo. 2000.J. BPFE Yogyakarta Jones. Jakarta. 535-547 Bremer. 1990. Suad. and R. Fifth Edition. 255-267 DeBondt. 4. Statistik Induktif.Darmadji. “Does the Stock Market Overreact?”. Journal of Business & Accounting. 1998. Goodman.. 739-805 Dissanaike. No. The Journal of Finance. Charles P. W. Modern Portfolio Theory and Investment Analysis. E. June: 747 – 751 Cox. Bid Ask Spreads and Market Efficiency. M. New Hamphshire. 1995. Thaler.J. Edisi 3. Penerbit Universitas Diponegoro Husnan. Allen B dan Edward A Dyl. Teori Portofolio dan Analisis Investasi.25. 1995.H. 40.. J. dan Sweeney. The Journal of Finance. Frank J. 1985. dan Gruber. Penerbit Salemba Empat Ghozali. Vol. March. Pasar Modal di Indonesia. 1991. 27-49 . “Do Stock Market Investors Overreact?”. UPP-AMP YKPN Jogiyanto. G. 2001. Vol. 1994. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS (Edisi Revisi IV). Yogyakarta. No.

Seasonality. 2004. “Overreaction of The Indonesian Capital Market : Is Market Rational?”. March. Chung-ki.Ferri. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. Februari. “Market’s Overreaction in Indonesian Stock Market”. 32. Februari. Spring: 7176 Hermawan. Gadjah Mada International Journal of Business. 1998. June. 2: 71 – 77 Wibowo. Journal of Financial and Quantitative Analysis. No. 2004. dan Ekonomi. 5. 13. Vol. 2: 201 – 206 Susiyanto. No. “Evidence that the Stock Market Overreact and Adjusts”. Kelola. Vol. Agus dan Agus Sukarno. “Dapatkah Strategi Kontrarian Diterapkan di Pasar Modal Indonesia? (Pengujian Anomali Winner – Loser di BEJ)”. 7. Vol. No. 2002. “Reaksi Pasar Berlebihan dan Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Pembalikan Harga Saham Di Bursa Efek Jakarta”. No. 2. 2: 163 – 184 Suhermini. 25. Agus. 2. 16: 88 – 100 Warninda. No. Vol. No. Jurnal Riset Akuntansi. May. “Size. “ Reaksi Berlebihan dan Antisipasi Berlawanan Di BEJ”. dan Muhammad F. 1: 113 – 125 c. No2: 241 – 256 Sartono. Vol. 1990. The Journal of Portofolio Management. 1997. No 1: 57-73 Zarowin. Michael G. Manajemen. Juli. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. Paul. and Stock Market Overreaction”. Titi Dewi dan Marwan Asri. Daniel dan Sukmawati. “Overreact Hypothesis dan Price Earning Ratio Anomaly Saham – Saham Sektor Manufaktur Di BEJ”. 2000. Jinwoo. “A Market Microstructure Explanation for Predictable Variations in Stock Returns Following Large Price Changes. 1995. Vol. Wahana. 1996. dan Min. Journal of Financial and Quantitative Analysis. 1: 57 – 76 Park. Tesis .

Kusumawardhani, Srihartati, 2001, Analisis Reaksi Berlebihan, Efek Bid Ask, Firm Size, dan Likuiditas dalam Fenomena Price Reversal di BEJ, Tesis yang tidak dipublikasikan dari Magister Manajemen, Universitas Diponegoro, Semarang d. Basis data tanpa penulis --------, (http://www.hukmas.depkeu.go.id). --------, 2005, JSX Statistics Jakarta Stock Exchange Research & Development Division

LAMPIRAN A
Saham-saham yang Menjadi Sampel Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kode AALI ADES ADHI ADMG AISA AKRA AKKU ALMI AMFG ANTA ANTM APEX APIC ARTI ASGR ASII AUTO BASS BAYU BBCA BBIA BBLD BBNI BBRI BCIC BDMN BEKS BFIN BHIT BIPP BKSL BKSW BLTA BMRI BMTR Nama Emiten Astra Agro Lestari Ades Alfindo Putrasetia Adhi Karya GT Petrochem Inds Asia Intiselera Aneka Kimia Raya Aneka Kemasindo Utama Alumindo Light Metal Asahimas Flat Anta Express Tour Aneka Tambang Apexindo Pratama Duta Artha Pasific Securities Arona Binasejati Astra Graphia Tbk Astra International Astra Otoparts Bahtera Adimina Bayu Buana Bank Central Asia Bank Buana Indonesia Bina Danatama Finance Bank Negara Indonesia Bank Rakyat Indonesia Bank CIC Bank Danamon Bank Eksekutif Int’l BFI Finance Indonesia Bhakti Investama Bhuwanatala Indah Bukit Sentul Bank Kesawan Berlian Laju Tanker Bank Mandiri Bimantara Citra No 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 Kode BRPT BUDI BUMI BTEK BVIC CEKA CFIN CMNP CPIN CTRA CTRS CTTH DAVO DILD DNKS DOID DPNS DSFI DSUC DUTI DVLA DYNA EKAD ELTY ENRG EPMT ETWA FASW GGRM GJTL HEXA HMSP IATG IDKM IGAR Nama Emiten Barito Pasific Budi Acid Jaya Bumi Resources Bumi Teknokultura Bank Victoria Int’l Cahaya Kalbar Cilipan Finance Citra Marga Charoen Pokphand Ciputra Ciputra Surya Citatah Industri Marmer Davomas Abadi Dharmala Intiland Dankos Laboratories Delta Dunia Petroindo Duta Pertiwi Nusantara Dharma Samudera Daya Sakti Unggul Duta Pertiwi Darya-Varia Dynaplast Ekadharma Tape Inds Bakrieland Energi Mega Persada Enseval Putra Eterindo Wahanatama Fajar Surya Wisesa Gudang Garam Gajah Tunggal Hexindo H M Sampoerna Infoasia Teknologi Indosiar Karya Media Igarjaya

36 37 38 39 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115

BNBR BNGA BNII BNLI INCO INDF INDR INKP INPC INTA INTP ISAT JIHD JKSW JPFA JPRS JRPT KAEF KBLI KIJA KLBF KOMI KPIG LMAS LMPI LPBN LPKR LPLI LPPS LSIP LTLS MAMI MDLN MEDC MIRA MLIA MLPL MPPA MRAT MTDL MYOR

Bakrie & Brothers Bank Niaga Bank International Ind Bank Permata International Nickel Indofood Sukses Indorama Indah Kiat Pulp Bank Artha Graha Int’l Intraco Penta Indocement Tunggal Indosat Jakarta Int’l Hotel Jakarta Kyoei Steel Japfa Comfeed ind Jaya Pari Steel Jaya Real Property Kimia Farma GT Kabel Indonesia Kawasan Industri Kalbe Farma Komatsu Indonesia Kridaperdana Indahgraha Limas Stokhomindo Langgeng Makmur Bank Lippo Lippo Karawaci Lippo E-Net Lippo Securities PP London Lautan Luas Mas Murni Indonesia Modernland Realty Ltd Medco Energi Mitra Rajasa Mulia Industrindo Multipolar Matahari Putra Mustika Ratu Metrodata Electronics Mayora Indah

75 76 77 78 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 159 160

IKAI INAF INAI INCI PNBN PNIN PNLF PRAS PTRA PTRO PYFA RALS RBMS RICY RIGS RIMO RMBA SDPC SHDA SIIP SIMA SIPD SMCB SMDR SMGR SMMA SMSM SOBI SPMA SQMI SRSN SSIA SSTM SUBA SUGI SULI TBLA TCID TINS TIRT TKIM

Intikeramik Alamasri Indofarma Indal Aluminium Inds Intan Wijaya Bank Pan Indonesia Panin Insurance Panin Life Prima Alloy Steel Putra Surya Perkasa Petrosa Pyridam Farma Ramayana Lestari Ristia Bintang Ricky Putra Rig Tenders Rimo Catur Bentoel Indonesia Millenium Pharmacon Sari Husada Suryainti Permata Van Der Horst Sierad Produce Semen Cibinong Samudera Indonesia Semen Gresik Sinar Mas Multiarta Selamat Sempurna Sorini Corporation Suparma Sanex Qianjiang Motor Sarasa Nugraha Surya Semesta Sunson Textile Suba Indah Sugi Samapersada Sumalindo Lestari Jaya Tunas Baru Tancho Indonesia Timah Tirta Mahakam
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia

116 117 118 119 120 121 122 168 169 170 171 MYRX MYTX NISP PBRX PGAS PJAA PLAS UNSP UNTR UNVR VOKS Hanson Industri APAC Centex Nipress Pan Brothers Tex Perusahaan Gas Negara Pemb Jaya Ancol Palm Asia Corpora Bakrie Sumatra Plant United Tractors Unilever Indonesia Voksel Electric 161 162 163 164 165 166 167 TLKM TMPI TRIM TRST TSPC TURI UNIT Telekomunikasi AGIS Trimegah Securities Trias Sentosa Tempo Scan Pasific Tunas Ridean United Capital Ind .

86 11.23 9.84 Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner .18 9.71 Kesimpulan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 ADHI ADMG ANTM ASGR AUTO BAYU BBRI BEKS BKSW BMRI BMTR BNGA BPRT CTRS 8.36 15.38 8.84 8.84 8.20 9.84 8.54 12.84 8.89 9.26 14.68 16.84 8.84 8.28 25 9.LAMPIRAN B Sampel Saham Winner No Saham Rata –rata kenaikan harga saham ( % ) Kenaikan harga saham ( % ) 11.84 8.84 8.84 8.84 8.84 8.84 8.84 8.67 18.

67 11.11 14.44 16.84 8.15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 DILD DOID DPNS DSFI GJTL HEXA IKAI INAF INCO INPC INTA JPFA KBLI KIJA KLBF KPIG LTLS MIRA MPPA MYTX PGAS PRAS PTRA PYFA SIPD SPMA SRSN 8.84 8.84 8.84 8.84 8.84 8.84 8.38 16.84 8.84 8.74 9.84 8.84 10 13.84 8.11 20 11.84 8.56 25 11.79 10 12.59 21.84 8.84 8.64 12.84 8.84 8.67 10.84 8.11 8.97 11.84 8.84 8.84 8.11 11.84 8.96 11.07 19.84 8.11 11.11 10 11.84 8.84 8.15 24.11 9.84 8.29 Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner .21 9.84 8.

06 -7.84 8.84 8.84 8.25 -7.06 -7.07 Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Saham winner Sampel Saham Loser No Saham Rata –rata penurunan harga saham ( % ) Penurunan harga saham (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 ADES ADHI ADMG APEX BAYU BCIC BIPP BKSL BNBR BUDI BTEK -7.84 -10.06 -7.06 -7.14 -16.77 -7.67 Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Kesimpulan .7 -7.42 43 44 45 46 47 48 SSIA TINS TIRT TKIM TMPI TURI UNTR 8.29 14.5 -8.84 8.06 -7.7 -8.06 -7.06 -7.06 -7.67 20 9.06 -7.06 -7.76 -12 -8.84 8.41 -11.47 13.33 10.06 -7.84 8.84 10 16.

09 -7.06 -7.06 -7.09 -7.32 -8.09 -18.06 -7.06 -7.06 -7.11 -7.06 -7.09 -8.96 -9.06 -7.06 -7.34 -7.06 -12.06 -7.06 -7.06 -7.06 -7.06 -7.32 -7.06 -7.14 -9.06 -7.41 -11.69 -7.17 -10.06 -7.55 -8.89 -9.16 -7.18 -7.06 -7.06 -7.06 -7.5 -10.06 -7.14 Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser Saham loser .64 -10.32 -9.12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 BVIC CFIN DAVO DUTI ELTI ETWA IKAI KLBF LTLS MAMI MDLN MPPA MYTX PNBN PNLF PRAS RBMS RMBA SIMA SMCB SQMI SSIA -7.06 -7.5 -9.